Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Bibi Li, buka pintunya!
Bibi Li!
Siapa datang malam-malam?
Ini aku, Cui Rong.
Cepat, buka pintu.
Ada apa?
Di mana Bibi Li?
Siapa ketuk pintu malam-malam?
Ini Cui Rong.
- Bibi Li! - Rong?
Tolong bantu ibuku.
Dia berguling kesakitan di ranjang.
Dia kesakitan sepanjang malam.
Tolong periksa dia.
Aku? Aku bukan tabib. Tak bisa menolong.
Chunlai, panggil Nn. Liu.
Minta dia jemput Tabib Hu.
Dia hebat soal penyakit wanita.
Dia akan pastikan ibumu baik-baik saja.
Aku sudah coba, tapi Ibu tak mau keluarkan uang.
Dia menolak bertemu tabib.
Ayahku hanya bisa berbaring di ranjang.
Jika sesuatu terjadi pada ibuku, aku jadi sebatang kara!
Aku mohon padamu. Bantu dia.
Pilih uang daripada nyawa…
Baik, berhenti menangis.
Aku periksa dia untukmu.
Chunlai, kunci pintunya.
Lidah tajam ibumu membuat banyak tetangga kesal.
Aku terlalu berhati lembut.
Kau pintar.
Apa kau diadopsi?
Tidak apa. Semua baik-baik saja.
Bibi Li, dia ada di sana.
Di usiamu, kau tak punya malu.
Putrimu mengkhawatirkanmu.
Kau mengganggu tidurku.
Kasihan Rong. Aku kasihan padanya.
Jika tidak, aku takkan peduli.
Apa kau dengar aku?
Kau baik saja?
Pembunuhan! Ada orang mati.
Nyonya Cui, kau bunuh seseorang?
Omong kosong.
Kau yang membunuhnya.
Aku takkan berdebat denganmu.
Kamu wanita gila.
- Apa maumu? - Apa?
- Biar aku pergi. - Mau kabur?
Ke sini.
Lihat saja sendiri.
Bukannya ini Tuan Yan, yang dipukuli menantumu sampai mati?
Jangan cemas, Nyonya. Aku urus dia. Dia takkan tunjukkan batang hidungnya.
Ya, kita beri dia pelajaran.
Meski dia mati, dia layak dapatkan itu.
Ya.
Pembunuhan.
Tunggu di sini, Nyonya Cui.
Izinkan aku bicara dengan ibuku dulu.
Bodoh sekali.
Kita tetangga, semua orang ramah.
Jika ibumu tahu aku di sini, dia akan lari menyapaku.
Tidak perlu berlebihan.
- Kenapa kau menerobos begini? - Pakaian ini.
Begitu indah.
Lembut, ringan, benar-benar berkelas.
Ibu.
Bukankah sudah kubilang tunggu di luar?
Pakaian ini,
aku takkan pernah bosan dengan ini.
Kakak, kenapa tak berikan saja padaku?
Tidak.
Ini untuk Ibu. Bukan untuk diberikan.
Baik, ambillah.
Mari kita bicara di luar.
Ayo keluar.
Ibu?
Lakukan tugasmu. Jangan pedulikan aku.
Lewat sini.
Shouhua, Fuhui bahkan belum tampak hamil.
Yang kecil ini sangat lembut.
Bordirannya cantik sekali.
Kau suka itu?
Jika suka, aku buatkan untukmu, saat kabar baikmu datang.
Aku baru saja menikah.
Masih terlalu dini untuk itu.
Shouhua, tak sabar jadi seorang ibu, ya?
Shouhua! Sesuatu sudah terjadi!
Kangning!
Apa? Salju di bulan Juni? Atau Sifu tutup?
Apa yang membuat kalian histeris begini?
Ini mengerikan.
Lebih buruk dari dua hal yang kau sebutkan.
Apa yang terjadi?
Uang Ibu hilang.
Cepat. Kalau kau tak bisa temukan, aku yang akan melakukannya.
Di usia empat tahun, aku curi permen dari depan hidungnya.
Aku pasti bisa cari simpanan uangnya.
Aku pernah lihat dia menyelinap.
Lihat apa yang dia rencanakan.
Sudah ketemu?
Apa yang terjadi? Terakhir aku cek, ini penuh.
Lima batang perak, sepuluh tael,
set jepit rambut emas, dua cincin emas bungkus sutra merah muda. Semua hilang?
Qiongnu, jangan beri tahu Ibu.
Kami tak lakukan apa pun.
Lihat.
Hanya jepit rambut kayu ini.
Kami mengambilnya dari jalan.
Kenapa dia butuh begitu banyak uang?
Apa Rumah Sifu kena masalah?
Ada masalah besar.
Panggil Fuhui kembali.
Apa?
Kedai penuh pelanggan. Aku ada pekerjaan.
- Sekarang apa? - Duduk di sini.
Ibu, stok daun teh belum ditambah.
Resep teh rahasia dibagikan.
Apa yang tersisa untuk dijual?
Ibu, di mana gelang giok yang kuberikan padamu?
Kau pakai itu setiap hari.
Sudah hilang.
Ada apa ini?
Apa yang kalian mau?
Putriku, aku besarkan kalian melalui susah dan senang.
Aku belum pernah dapat balasan kalian.
Kini, kalian menuduhku?
Bagaimana bisa?
Akan jadi apa dunia ini?
Besarkan anak adalah utang.
Utang.
Semua utang.
Ya ampun.
- Ibu. - Kenapa hidupku begitu pahit?
Begitu pahit.
Ibu, kau ajari kami, sejak kecil,
simpan air mata untuk saat yang paling dibutuhkan.
Gunakan kekuatanmu pada bilah pedang.
Jadi, di depan kami, hentikan air matamu.
Bicara jujur, dan menangis kemudian.
Fuhui.
Aku sudah tebus perhiasan yang digadaikan.
Ibu mendidik kami layaknya lelaki.
Putri Ibu adalah satu-satunya pendukung.
Kalau kehabisan uang, bilang padaku.
Kenapa gadaikan barang?
Orang lain bisa hina kami karena tidak mendukung Ibu.
Tidak.
Hanya saja…
Toko tidak dapat untung.
Utang daun teh menumpuk,
dan kita tak punya uang untuk bayar itu.
Ibu.
Jangan coba bohong pada kami saat ini.
Kau gadaikan banyak barang.
Ke mana semua uangnya?
Ya, beri tahu kami.
Yah…
Yah…
Yah…
Lebih baik aku menanggung ini daripada buat kalian cemas.
Kini lihat, kita semua terjebak di sini.
Tak ada yang bisa lepas.
Fuhui.
Fan, mau ke mana kau jam begini?
Nyonya, kau bilang darurat. Tentang apa ini?
Kita semua keluarga.
Kita dalam perahu yang sama dan di pihak yang sama.
Sudah minum setengah cangkir teh.
Apa masalah besarnya?
Kenapa tak bisa beri tahu aku?
Kita tunggu Chai.
Setelah itu aku beri tahu.
Fan, kenapa kau kembali?
Nyonya, jangan salahkan aku.
Kuda Kakak terlalu cepat. Dia ambil jalan pintas.
Kami bahkan belum tinggalkan kota sebelum dia menyusul kami.
Nyonya, keadilan selalu menang.
Jika dia pembunuhnya, pasti tertangkap pada akhirnya.
Dia tidak bisa lari selamanya.
Dia gegabah. Buat apa mengikutinya?
Pembunuh?
Apa yang terjadi?
Ini karena aku.
Biar aku jelaskan.
Hari itu di kuil, setelah ritual, Yan kembali untuk buat masalah.
Itu membuat saudari-saudariku takut.
Karena marah, Fan suruh seseorang memberi dia pelajaran.
Siapa yang tahu akhirnya begini?
Dia berakhir mati.
Cui gunakan itu untuk memeras kami, meminta uang lagi dan lagi.
Ibu menjual semuanya untuk membungkam wanita itu.
Kini, tak ada apa pun untuk diberikan.
Kami khawatir kebenaran akan segera terungkap.
Jadi, kami suruh mereka pergi ke Jiangning biar aman.
Pelajaran?
Seperti apa?
Dimarahi lisan atau dipukul fisik?
Hukuman ringan atau pukulan brutal?
Aku tidak tahu.
Saat kudengar dia mati, pikiranku kosong.
Aku tak bisa jelaskan.
Lalu, kau biarkan dia pergi?
Du, itu keadaan darurat.
Apa dia mabuk? Apa dia jatuh?
Apa dia dipukuli sampai mati? Apa dia menyinggung orang lain?
Apa ada yang menargetkannya? Siapa tahu?
Kini, tidak ada bukti.
Tetangga terus menuduh kami.
Haruskah Fan mati karena ini?
Itu bukan keadilan.
Kangning, keadilan bukan sekadar kata-kata.
Itu harus dipertimbangkan pengadilan.
Hanya autopsi bisa mengungkap kebenaran.
Yang kau lakukan, itu membantu buronan.
Kau juga bisa dihukum.
Shouhua.
Fuhui. Aku takkan pergi.
Aku tak membunuh siapa pun. Aku tak bersalah.
Dia baik saja saat itu.
Seseorang menjebakku.
Aku difitnah. Tolong bantu aku.
Sepupu, kau harus membantuku.
Tidak apa-apa. Aku percaya padamu. Jangan khawatir.
Chai, dia keluargamu, sepupumu.
Apa kau akan biarkan dia mati?
Bagaimana kau bisa biarkan orang tuanya mengubur dia langsung?
Chai, kau tahu hatinya lembut.
Lupakan penjara.
Satu persidangan sudah membuatnya takut.
Kau tak masalah dengan itu?
Aku yakin dia bukan pembunuh.
Aku tidak takut pengadilan.
Aku cemas mereka tak temukan pelakunya. Lalu menyalahkan dia.
Karena itu kami sembunyikan dia untuk lihat apa yang terjadi.
Terutama karena saudariku hamil.
Jika terjadi sesuatu padanya, istrinya juga akan celaka.
Chai, ini serius.
Pikirkan baik-baik.
Bagaimana?
Bagaimana?
Kau mau melaporkannya? Silakan.
Aku percaya kalian akan menjaga kami.
Tapi sekarang, itu seperti memotong tangan kita sendiri.
Kau pikir pengadilan tempat yang aman?
Mereka tangkap dahulu, lalu hajar,
paksa pengakuan dengan segala cara.
Fuhui, kau mengandung.
Fuhui.
- Ibu. - Kau tidak beruntung, seperti Ibumu.
Apa yang akan kau lakukan?
Janda, dengan satu anak.
Baiklah, Nyonya.
Kursi resmi utama Kaifeng kosong.
Yang menjabat sebagai hakim sekarang adalah Wakil Hakim Shen.
Dia dari Huzhou, keluarga terhormat.
Dia jujur dan bereputasi baik.
Dia tak pernah membuat tuduhan palsu.
Nyonya.
Aku sungguh sengsara.
Menantuku yang hebat. Ini menyakitkan bagiku.
Nyonya.
- Ini menyakitkan bagiku. - Nyonya.
- Ini sangat menyakitkanku. - Chai.
Sayang.
Chai.
- Sayang. - Ini menyakitkanku.
Nyonya.
Baiklah, cukup.
Perkelahian bisa akibatkan cedera atau lebih buruk.
Fan Lianghan, aku peringatkan kau berperilaku baik, jangan memicu masalah.
Kau tak mendengarkan.
Meski itu untuk Du, harusnya kau tak bertindak sendiri.
Kini, kau memberi kami masalah.
Apa yang harus dilakukan Nyonya?
Jika tak ada pelaku, mereka akan menuduh kita menyembunyikan dia.
Reputasi Li akan rusak.
Saat itu, semua akan terseret. Bahkan keluargamu dan aku.
Dan bahkan Du juga.
Tak ada yang bisa lepas dari ini.
Yuanming, bagaimana menurutmu?
Chai, setelah bicara banyak, kenapa mendadak jadi tentang aku?
Apa yang mungkin bisa aku lakukan?
Nyonya, jangan cemas.
Biar aku cari solusinya.
Apa Cui punya bukti?
Bukti?
Mayat orang itu.
Di mana mereka temukan mayatnya?
Cui bilang selamatkan dia, jadi dia bawa ke rumahnya.
Tapi mati sebelum dirawat. Cui bahkan tak bisa selamatkan dia.
Jalan ini penuh dengan tetangga.
Kubur mayatnya diam-diam?
Tidak mungkin.
Mana tubuhnya sekarang?
Masih di rumah Cui.
Aku tak mau, tapi jika kita tak penuhi…
Jika Cui melaporkannya, Fan tidak punya perlindungan.
Berapa uang yang Cui minta?
Sebelumnya dia minta 100 untai tunai.
Kini, dia minta seribu untai dalam tiga hari.
Lalu dia takkan mengganggu kita lagi.
Jika tidak, dia lapor ke pihak berwenang.
Aku bisa kumpulkan uang, tapi rasanya salah.
Itu pemerasan.
Yuanming, bagaimana menurutmu?
Aku harus bayar dia atau tidak?
Aku…
Ada apa?
Kapan kau tahu ini?
Sekitar tengah hari.
Fan terima pesan dari istrinya lalu bergegas keluar kota.
Dan Chai. Kurasa dia dengar dari Kangning.
Semua orang tahu kecuali aku.
Aku bahkan datang tanpa tahu apa pun.
Jadi, apa aku bukan bagian keluarga ini?
Atau itu karena istriku?
Lupa memberitahuku hal sepenting itu?
Terkait nyawa suaminya, Fuhui tak bisa menunda.
Fan lari, tak bisa bersembunyi. Jadi, Chai tahu.
Bukan berarti Kangning beri tahu dia.
Saat aku ke sana, tak bisakah kau beri isyarat.
Akhirnya kau juga tahu.
Apa bedanya?
Kenapa kau jadi marah?
Kau tak peduli padaku.
Aku sama sekali tak penting bagimu.
Aku hanya pelengkap dalam hidupmu.
Suami? Apa itu suami?
Suami harusnya ada dalam jangkauanmu.
Kau utamakan orang lain.
Lalu di mana posisiku?
Kau menipuku untuk menikah.
Aku tidur di sini malam ini.
Chou'er.
Siapkan alas tidur untuknya.
Tambahkan tirai biru di ranjang.
Baik.
Ada orang tipe pencemburu.
Kau ini tipe monster pencemburu.
Hal kecil saja membuatmu marah.
Terima ini. Terimalah.
Kami hampir tak bisa kumpulkan perak.
Kini kau minta seribu lagi dalam beberapa hari.
Brankas besar pun bisa habis.
Ini bukan menagih utang. Kau meminta nyawaku.
Jika kau minta lagi, kuliti saja aku hidup-hidup.
Jual aku di pasar.
Itu yang kau minta.
Aku tidak seserakah itu.
Ini yang terakhir kali.
Nanti, aku tak minta lagi.
Saudariku, jaga dirimu.
Sampai jumpa.
Banyak sekali barang berharga.
Langit cerah.
Langit cerah.
Langit cerah.
Cepat, jalan.
Langit cerah.
Ayo pergi.
Tangkap dua pencuri ini.
- Ya. - Pencuri? Pencuri apa?
- Aku bukan pencuri. - Ibu.
- Bukan pencuri. - Ibu.
Pencuri?
Pencuri?
Bukankah seribu untai cukup untuk akhiri ini?
Kenapa mendadak ganti kesepakatan?
Nyonya, keserakahan manusia tiada akhir, mirip kekosongan.
Bayar dia sekarang, nanti dia minta lagi.
Jadi, Chai dan aku buat rencana.
Kita beri dia umpan dan buat jebakan.
Umpan dan jebakan.
Pura-pura kecurian dan menangkap basah dia.
Apa?
- Ini artinya… - Ya.
Penegak hukum Kaifeng sudah di rumahnya.
Ini sudah berakhir.
- Berakhir. - Lianghan.
Sudah berakhir, Fuhui.
Tenangkan dirimu. Jangan cemas.
- Ayo. Lihat mayatnya. - Bantu aku, Fuhui.
- Bantu aku. - Nyonya.
Lewat sini.
Apa aku harus pergi?
Aku harus bagaimana?
Tentu saja.
Jangan takut.
Kangning, tetap di rumah bersama Fuhui. Aku bersama Ibu.
Kangning.
Tuan, barang curiannya diperiksa.
Giok ini sesuai dengan deskripsi Tuan Chai.
Barang yang sama.
Tentu saja, Tuan.
Bahkan ada lambang keluarga Chai.
Ini untuk ibu mertuaku, tapi berakhir di tangan pencuri.
Bukan itu saja.
Dia pasti sembunyikan yang lain.
- Terus cari. - Baik.
Aku tidak mencurinya.
Dia memberikannya padaku.
Petugas, pencuri aslinya orang lain.
Jangan tuduh orang tak bersalah.
Ibu, ini terlalu panas.
Ayo istirahat di tempat teduh.
Petugas, bolehkah?
Nyonya, silakan.
- Ayo. - Nyonya.
Kau mau lari ke mana?
Pembohong.
Kini kau meninggalkan aku?
Baiklah.
Jangan salahkan aku jika tak penuhi janji.
Tuan.
Tuan, kamar sudah digeledah.
Hanya pria tua sakit di ranjang, bicara ngawur.
Ada makanan dan air dekat ranjang.
Tak ada barang curian.
Nyonya Cui, kau abaikan suamimu yang sakit?
Mau ke mana kau?
Rumah keluargaku 20 kilometer dari kota.
Pamanku rayakan minggu pertama cucunya. Kami akan menginap beberapa hari.
Apa itu melanggar hukum?
Tuan.
Bantu dia.
Apa yang terjadi?
Aku tidak tahu.
Ayo angkat.
Ada orang di situ.
Ada mayat!
Kenapa ada mayat di sumur Cui?
Aku tinggal di sini 20 tahun lebih.
Belum pernah lihat kasus mengerikan begini.
Kasus pembunuhan!
Dosa besar.
Dia pelakunya.
Dia suruh menantunya membunuh.
Dia pembunuhnya.
Kau pembohong.
Bagaimana bisa mayat ada di sumurmu?
Sumurmu ada lubangnya, ya?
Terhubung ke gudangku?
Dasar wanita tua,
penuh kebohongan.
Kata-katamu tidak ada yang benar. Jangan percaya dia.
Jangan percaya dia. Baik!
Petugas.
Dia pembunuhnya.
Dia bunuh pria itu dan suruh aku rahasiakan itu.
Dia bahkan janji beri aku perak.
Selain barang berharga itu…
Ini, lihatlah!
Semua ini buktinya.
Lihat ini.
Ini suap darinya untukku.
Buktinya jelas, Petugas.
Aku akui, aku buta oleh keserakahan.
Memalukan. Sungguh.
Jangan terburu-buru. Lihat apa yang terjadi.
Tn. Du, kasus pencurian berubah jadi pembunuhan.
Ini bukan masalah kecil lagi.
Saat kami tangani ini nanti,
itu mungkin mengusik keluargamu.
Maaf atas ketidaknyamanan ini.
Urus saja dengan adil.
Asalkan adil,
aku tidak keberatan.
Nyonya Cui, wajah mayat ini tidak bisa dikenali.
Apa dia Yan Zimei, orang hilang itu?
Yan Zimei siapa?
Aku tidak kenal dia.
Dia bunuh orang, aku tidak tahu siapa.
Harusnya kau tanya pembunuhnya.
Yan Zimei seorang Jinshi. Dia punya tanda pengenal.
Jika dia mati, kembali pulang,
atau sembunyi, kita bisa cek nanti.
Untuk mayat ini, apa dia dipukuli atau dibunuh.
Belum bisa kita pastikan.
Pembunuhan?
Jangan memfitnah kami.
Kami tidak bersalah.
Petugas, ada luka di tubuhnya.
Ada luka kepala dan tusukan di rusuk.
Kau bajingan.
- Saudariku, biar aku coba. - Lepaskan aku.
Lepaskan aku!
Cui Wu.
- Cui Wu. Kau bajingan. - Ibu.
- Lepaskan dia! - Ibu!
- Ibu! - Berhenti melawan.
Cui Wu.
Lepaskan aku.
Rong, apa kau mengenali mayat ini?
Petugas, ada luka lebam?
Tidak jelas.
Kami harus bawa dia dan lakukan autopsi.
Kaki kiri pria ini lebih pendek.
Dia jelas orang yang pincang.
Orang pincang?
Itu jelas. Orang pincang tak boleh ikut ujian.
Jika dia pincang, dia pasti bukan Yan Zimei.
Nyonya, jangan cemas.
Putra yang dia adopsi, Cui Wu, pincang.
Benar, cedera dari berjudi.
Ini pasti Cui Wu.
Cui Wu? Dia anggota keluarganya, 'kan?
Sepertinya. Bajunya cocok.
Benar.
Keluargamulah yang bunuh orang.
Kau menjebak dan memerasku.
- Kau tak punya hati! - Nyonya.
- Nyonya. - Nyonya.
- Hukum akan tangani mereka. Tenang. - Ibu.
- Jangan pukul. - Tenanglah.
Kau ular berbisa.
Kau lebih buruk dari racun.
Ludahmu bisa bunuh seseorang.
Iblis pun tunduk padamu.
- Nyonya. - Kau iblis!
- Tenanglah. - Nyonya.
Pelakunya bukan ibuku.
Aku pelakunya.
Dia coba perkosa aku, jadi aku bunuh.
Dengan kepala dingin, Ibu curi uang untukku.
Jika mau pembunuhnya, tangkap aku.
Ibuku tidak membunuh.
- Diam! - Dia bukan pembunuh.
Pencuri itu mencuri tabunganku, habiskan untuk judi dan wanita.
Aku berani mati agar dia mati.
Di neraka pun, aku takkan ampuni dia.
Ikat aku.
Aku pelakunya.
Aku membunuhnya. Tangkap aku sekarang!
Bawa aku sekarang!
Tangkap dia.
Ya.
Tidak, Ibu.
Ibu.
Shouhua, aku tahu kau orang baik.
Aku mohon. Tangkap aku saja.
Shouhua, kumohon.
Shouhua.
Kumohon.
Shouhua.
Jangan. Dia dan ibunya merencanakan pembunuhan.
Mereka bahkan buat rencana jahat. Keluarga kita jadi menderita.
Keadilan menang. Kejahatan temui ajalnya.
Jangan biarkan hatimu melunak.
Pertama kali melihatmu berjuang lawan kejahatan.
Kurung mereka.
Ya.
Nyonya.
Tn. Du, apa solusi ini adil?
- Terima kasih. - Ini tugasku. Tak perlu terima kasih.
Interogasi formal harus dilakukan.
Keluarga Li, harap jadi saksi.
Tn. Du, maaf ketidaksopanan kami.
Kami akan bersenang hati.
Kau ibu angkatnya.
Dia putra yang kau adopsi.
Anak yang bunuh ibunya pantas dihukum mati.
Kau tidak salah.
Itu kecelakaan dan tanpa rencana.
Hukuman akan dikurangi.
Jujur saja di pengadilan agar dapat belas kasih.
- Terima kasih, Tn. Chai. - Terima kasih.
Bawa mereka.
- Jalan. - Jalan.
Mereka punya rencana cadangan.
Awasi keluarga Cui diam-diam.
Dia ambil seribu untai untuk tutup mulut,
lalu kabur dengan putri dan uangnya,
tinggalkan suami dan rumahnya.
Dia jelas sembunyikan sesuatu.
Tindakan berisiko tapi tepat.
Tapi itu seperti menyerang kelemahan ular.
Selalu bersikap sembrono.
Tak heran Fan alami kesialan.
Cui baru membunuh seseorang.
Tak tahu cara mengurusnya.
Lalu dia pukulli Yan Zimei.
Masalah mengikuti dan Yan Zimei jadi lebih benci.
Pulanglah dan berduka. Tak apa.
Tinggalkan Bianjing dan selesai masalah.
Kenapa mata-matai rumah keluarga Li?
Jelas, nafsunya masih tinggi.
Dia dapat hukuman, tapi diselamatkan Nyonya Cui.
Saat pergi, dia tinggalkan jubah berdarah.
Bisa kau percaya ini?
Siapa bisa lakukan hal seaneh itu?
Itu tak sengaja atau sengaja?
Apa dia diam-diam ada di balik rencana Nyonya Cui?
Keluarga Cui dipenjara, tapi dia bersih?
Jangan terlalu dipikirkan.
Bagaimana dia bisa tahu Cui bunuh seseorang?
Kenapa bisa kebetulan seperti itu?
Setidaknya situasi sudah baik sekarang.
Syukurlah.
Di mana Fan?
Si bodoh itu pergi beli petasan.
Katanya mau dinyalakan sepanjang malam untuk mengusir sial.
Dia begitu bodoh dan tanpa penyesalan.
Dia akan dapat masalah besar suatu hari.
Dia mungkin manja, tapi hatinya bersih.
Dia sungguh pedulikan kau dan keluarga Li.
Jika dia tak anggap kita sebagai keluarga,
dia takkan ambil tindakan.
Chai itu cerdas.
Sebelumnya aku pikir dia terlalu licik.
Aku cemas dia menipu saudariku, tapi hari ini, dia atasi masalah Cui.
Hatinya tidak sedingin itu.
Kau benar tentang dia.
Kau bicara begitu bijak.
Bukannya suamimu juga baik?
Aku dengar dari Leshan.
Para petugas itu biasanya juga arogan,
dan bos mereka hanya sosok kecil.
Tapi saat bertemu Du, mereka menghormati dia.
Kali ini, kita selesaikan masalah ini.
Dan kita tak boleh abaikan bantuannya.
Dengan suami seperti itu, kau juga sangat beruntung.
Berbakat tapi keras kepala, strategis tapi tak sabaran.
Nanti aku pasti kewalahan.
Shouhua, memandunya dengan lebih lembut.
Jangan.
Jika dia dengar Shouhua memuji pria lain, dia pasti sangat cemburu.
Para prajurit dalam pertarungan air semuanya tampak sangat hidup.
Bahkan jika belum pernah ke Kolam Jinming, rasanya kau sudah lihat semuanya hari ini.
Untung bisa lihat lemparan Yang Mulia.
Menurutku, tambahkan perenang akan lebih baik.
Itu akan buat lomba perahu ini lebih mendebarkan.
Itu semua hanya sanjungan dan pamer belaka.
Trik remeh, hampir tak layak disebutkan.
- Komandan Zhang. - Komandan Zhang.
- Komandan Zhang. - Komandan.
Yang Mulia berkata, perdamaian di seluruh negeri.
Menikmati taman tanpa formalitas untuk semua orang.
Bersantailah dan rayakan masa damai ini.
- Yang Mulia murah hati. - Yang Mulia murah hati.
Di Kolam Jinming sebelumnya, Yang Mulia beri tantangan puisi.
Dia minta Sekretariat untuk menilainya.
Yang Mulia bilang, pemenang terbaik dapat tusuk konde bunga kerajaan.
Tn. Du, kau dikenal atas kerendahan hati,
tapi hadiah ini merupakan kehormatan besar.
Harap tidak menolak ini.
Biar aku pasangkan di rambutmu.
Aku tak berani menolak kebaikan ini, terima kasih, Komandan Zhang.
Tuan, bukankah hari ini panas?
Kau penuh keringat.
Jangan lepas itu.
Kasim sudah peringatkannya tadi.
Tradisinya, tusuk konde bunga kerajaan harus dibawa pulang sebagaimana adanya.
Langgar aturan ini dianggap tak hormat.
Pasang sekarang.
Tidak apa-apa.
Pakai ini bisa berbahaya.
Bunga sutra dan kertas aman.
Tapi Yang Mulia beri bunga langka ini.
Ini tidak tahan guncangan atau goyangan.
Dipegang saja lebih aman.
Kau dari keluarga mana?
Kau tahu di mana kau? Berani sekali kau berlarian?
Maafkan aku, Tuan.
Majikanku tidak suka panas. Dia menyuruhku ambil es.
Jika telat, aku dicambuk.
Maafkan aku.
Terima kasih banyak.
Tunggu di situ.
- Lingyao. - Hei.
Lupakan. Ini masalah kecil.
Ini bukan masalah kecil.
Kau lihat tatapan orang di taman.
Beberapa iri dengan hadiah kerajaanmu.
Keberuntungan mereka tak cukup untuk mendapatkannya.
Kepala mereka mendidih karena iri saat ini.
Semua tahu kau dapat tusuk konde bunga ini.
Jika pulang tanpa itu, seseorang akan melaporkannya.
Tunggu saja.
Aku panggil si pembuat onar itu sekarang.
Lingyao.
Sudah terlambat.
Bajingan.
Kurang ajar dia.
Majikanku melihat semuanya.
Atas kebaikan hatinya, dia tawarkan tusuk konde bunga ini untuk membantu.
Ini sangat cocok. Kau bisa pakai ini.
Terima kasih atas bantuannya.
Tapi, kita tidak saling kenal.
Meski situasiku sulit, aku tak bisa terima bantuan ini.
Mohon bawa kembali.
Saat pertama kau ke rumah kami, kau meninggalkan puisi.
Tuanku tidur siang saat itu.
Jika Nyonyaku tidak menerimanya,
memintamu menunggu di ruang belajar, kau masih akan menunggu di luar.
Dan kini, kau bertingkah tidak kenal dia?
Siapa wanita itu?
Banyak yang bawa bunga dan buah di sini.
Tidak kenal dia? Cuma orang lewat.
Siapa peduli? Ayo pergi.
Lingyao.
YU XIU'E
Taruh itu di sana.
Nyonya.
Mereka lakukan perbaikan dengan cepat.
Semua akan selesai besok siang.
Shouhua.
Kau pulang cepat.
Bukankah bunga di sini tumbuh dengan baik?
Apa yang terjadi sekarang?
Nyonya Besar bilang harga makanan kota naik tajam.
Tidak senyaman di desa.
Nyonya mau buat ruang kebun sayur untuk Nyonya Besar.
Itu akan membuatnya senang.
Sedangkan bunga-bunga ini, yah,
akan ditanam di rak.
Bunga-bunga ini.
Ibu Mertua pindahkan khusus ke sini.
Untuk ibuku, kau bahkan mencabut bunga favoritnya hingga ke akarnya.
- Dan yang itu. - Runyue.
Runyue?
Nyonya bilang, gadis sepertiku sebaiknya tak dipanggil Chou'er.
Itu tidak tepat.
Aku lahir di bulan kabisat.
Aku akan dipanggil Runyue.
Benar, 'kan, Nyonya?
Kau tampak bahagia.
Aku belum pernah punya nama sebelumnya.
Ayahku tak pernah peduli padaku.
Sekarang, akhirnya aku punya nama.
Dan namanya sangat cantik.
Nyonya, bisa panggil aku lagi?
Runyue.
Runyue.
Apa yang kalian tertawakan?
Kembali bekerja.
Ibuku terbiasa dengan kehidupan di desa.
Usahamu dengan bunga-bunga ini menunjukkan perhatian yang besar.
Aku sangat berterima kasih.
Jangan berkata begitu.
Kita keluarga. Tak perlu begitu.
Jika harus berterima kasih ke Nyonya,
kenapa tak beri saja bunga di rambutmu?
Bukankah itu lebih baik?
Lain kali aku belikan bunga yang lebih baik.
Jangan pedulikan dia.
Dia hanya bercanda.
Di luar panas. Ayo masuk.
Di dapur, teh herbal dan jeli leci dingin sudah siap.
Aku akan ambilkan beberapa.
Terima kasih.
Memberi dengan pemberian orang lain? Cocok untukmu.
Kau tak takut memicu masalah?
Aku hanya punya satu istri.
Apa masalah yang bisa timbul?
Sang Yanrang.
Sang Yanrang.
Kau tak mau main Go?
Simpanlah.
- Nyonya. - Ada apa?
Lihat, putik emas bunga ini.
Semua pakai bunga di pasar, tapi kualitasnya rendah.
Aku belum pernah lihat yang sebagus ini.
Barang istana tak tertandingi.
Lihat.
Nyonya.
Aku dengar Yang Mulia
biasa mengunjungi Kolam Jinming dan Taman Qionglin.
Bunga yang diberikan ke pejabat sering kali merupakan bunga istana.
Umumnya dari sutra atau kain.
Pria pakai bunga untuk keberuntungan.
Bunga ini seperti teratai asli.
Detailnya luar biasa.
Bayangkan upaya untuk membuat ini.
Ini lebih cocok untuk rambut wanita.
Nyonya, kita simpan saja.
Tunggu sebentar.
Aku sudah tanya Lingyao.
Itu bukan siapa-siapa,
kibarkan benderanya di depan Shouhua.
Du benar-benar kurang ajar.
Tidak adil berkata begitu.
Semua cendekiawan terkenal.
Bukankah mereka selalu mengejar kecantikan?
Seolah tampil memukau adalah tugas mereka.
Kenapa cemburu karena ini?
Kau tenggelam dalam kecemburuan sepanjang hidupmu.
Apa?
Dia mau ambil selir?
Bagaimana bisa? Fan dan Chai, punya tanah dan kekayaan.
Mereka berani lakukan itu.
Dia tidak terkendali.
Lebih banyak toko parfum muncul.
Kita tak bisa jual barang.
Ibu mau menutup toko kita.
Sayang sekali.
Bunga di pasar sangat kasar dan norak.
Tak ada yang seindah tusuk konde bunga ini.
Kenapa kau tak desain sebuah sampel?
Pakai sutra atau satin yang lebih murah.
Beri aroma dengan parfum kita.
Kangning, kau selalu memahami aku.
Tusuk konde teratai dengan aroma teratai,
osmanthus dengan osmanthus manis.
Peoni tidak berbau?
Bagaimana dengan mawar atau bunga abadi?
Benang emas harganya terlalu mahal.
Ganti dengan debu emas, perak, atau manik-manik.
Buat yang elegan pasti mudah dijual.
Agar bisnis ini berhasil, sepuluh saja tidak akan cukup.
Sortir berdasarkan bahan dan pengerjaan ke dalam beberapa tingkatan.
Dengan begitu, pembeli tingkat rendah akan berniat beli yang lebih tinggi.
Bahaslah dengan Fuhui.
Yang premium dijual ke wanita di keluarga kaya.
Pasar punya bunga sutra dan satin.
Buatlah desain yang unik dan detail.
Tak lama, pasti semua mau beli.
Biar menonjol, kita butuh nama bagus.
Karena pakai emas dan perak,
kita sebut ini
Tetesan Emas.
Ya, Bunga Tetesan Emas.
Itu sempurna.
Apa? Berapa katamu?
TOKO PARFUM PREMIUM
Tusuk konde mutiaraku cuma 600 koin.
Apa tusuk konde emasmu dari emas?
- Biar kulihat. - Harganya
cukup mahal.
Punyamu pakai biji mutiara.
Lihat punyaku.
Emas dan perak asli, buatan tangan, tertanam sangat rapi.
Lihat kualitas kerajinan ini.
Delapan ratus koin itu wajar.
Aku tawar satu untai untuk itu.
Tidak mungkin.
Kami hanya buat satu bunga Tetesan Emas dalam satu hari.
Ini yang lebih murah.
Sutra, satin, atau brokat.
Semuanya cantik. Lihat yang ini.
Yang ini bagus juga.
Tidak sebanding dengan yang itu.
Beri aku satu.
- Ya. - Aku satu juga.
- Aku juga. - Ya.
Tidak.
Ini hanya satu per hari.
Tapi kau bisa pesan dahulu.
Aku pesan satu kalau begitu.
- Aku juga. - Aku mau satu.
Baik.
- Aku satu juga. - Aku satu.
Beri aku satu.
- Aku pesan satu juga. - Ya.
- Ini juga bagus. - Ini bagus.
- Yang itu indah. - Itu cantik.
Terjemahan subtitle oleh Nur Cholis
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.