Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sepupu, Yuanming, dengar aku!
Jelaskan? Dasar pengkhianat!
- Aku… - Pengkhianat!
Aku mata-mata, sungguh!
Mata-mata?
Ya, dengar aku!
Aku menyamar. Percayalah!
Sepupu, dengar aku!
Sepupu, Yuanming!
Pikirkan soal wanita keluarga Li.
Tidak ada yang mudah dihadapi.
Aku ambil risiko untuk dapat gambaran besarnya.
Dan untuk siapa?
Untuk kalian berdua!
Dengan aku memata-matai, aku akan beri kalian info.
Kalian bisa tidur nyenyak.
Fan Lianghan!
Lalu kenapa?
Sekarang aku menantu favoritnya.
Kalian berdua sudah habis!
Fan Lianghan, kau!
Berhenti!
Dasar bodoh tak tahu malu!
Yuanming, dia selalu begini.
Jangan pedulikan dia.
Tn. Chai, bukan tentang itu.
Aku sedang memikirkan teka-teki Shouhua.
"Empat bertarung untuk dapat jalan."
Bukan puisi, bukan tebakan.
Apa itu ya?
Aku terus berpikir, tak dapat pencerahan.
Teka-teki ini? Aku tidak mengerti.
Aku tahu dia membuat jebakan.
Menjebak empat orang sekaligus.
Semua orang bisa melihatnya.
Mereka bukan mencari harta.
Mereka inginkan wanita!
Dia adil dan kejam.
Siapa berani main-main dengannya?
Rumor lama-lama akan tenggelam.
Kawan, dengan kecerdikan dan keberaniannya,
kau masih berani melawan dia?
Tunggu, Tn. Chai.
Kau bilang apa tadi?
Aku tanya apa kau akan menjawab teka-tekinya.
Belum terlambat untuk mundur.
Bukan, sebelum itu!
Kubilang dia menjebak empat orang sekaligus.
- Ya itu! - Ada apa?
Ya, persis itu!
Tn. Chai, terima kasih sudah membuatnya jadi jelas.
Aku balas kau di lain hari.
Yuanming! Yuanming!
Yuanming!
Aku baru bilang apa?
Shouhua, aku memecahkannya.
Huangfu Mei menulis di "Catatan Tiga Air"
tentang Queyao, pelayan dari Li Yu,
Gubernur Hunan.
Dia terlalu pintar dan cantik,
mengundang masalah dari putra-putra Li.
Suatu malam, dia panggil mereka berempat.
Dia tempatkan mereka di empat sudut.
Lalu dia mengungkap mereka
dan marahi mereka dengan kasar.
Karena malu, mereka kabur dan tak berani datang lagi.
Tanpa disadari, kau meniru kisah ini.
Shouhua, apa aku benar?
Kau benar sekali.
Di mana mereka berempat?
Apa yang kau lakukan?
Gantung dia di hutan hingga pagi.
Turunkan mereka saat dini hari.
Mengerti.
Tuan!
Ampuni kami, kumohon!
Tolong!
Karena kau suruh, bagaimana mungkin aku menolak?
Aku beri mereka wejangan soal memperbaiki sikap mereka.
Aku ada hadiah untukmu.
Shouhua. Aku menemukan kipas cendana langka.
Produk dari luar negeri, jarang ada di sini.
Aku tahu kau suka bunga pir,
jadi aku lukis di kipas ini.
Kumohon terimalah.
Tangan lembut memegang kipas.
Aroma wangi dari bunga mekar.
Semoga selalu ada di sisimu.
Dan semoga kau ingat
hati yang ada di baliknya.
Sanggupkah kau berpisah dari benda berharga ini?
Aku tunggu tantanganmu berikutnya.
Kalau begitu, ikuti aku.
Sungai Bian di depan kita ini mengalir
dari Jembatan Bian di Gerbang Air Barat
lewat Jembatan Mengambang,
Jinliang,
dan Jembatan Xingguo,
hingga tiba di sini.
Semakin ke timur,
sungai berkelok melewati Kuil Buddha Besi,
Pasar Chunming, dan Lumbung Guangji,
melewati Gerbang Besar,
hingga ke muara sungai.
Sungai mengalir ke arah timur,
seperti hari musim semi,
hilang selamanya.
Lihat deretan perahu tak berujung di hadapan kita,
hubungkan lautan dan daratan,
menjangkau seluruh kerajaan.
Berikan kehidupan dan kekayaan pada banyak orang.
Inilah urat nadi kehidupan di Song.
Shouhua, musim semi yang lalu tak layak untuk disesali,
karena tahun depan akan lebih lembut lagi.
Kenapa tenggelam dalam kesedihan?
Benar sekali.
Perhatikan baik-baik.
Shouhua, kau…
Kau bilang
yang lalu tak layak untuk disesali,
tapi aku berpegang pada masa lalu.
Bukan hanya itu. Aku tak pernah lupa penghinaan.
Kau permalukan aku di malam pernikahan kita,
membuatku terlihat bodoh,
dan membuatku dapat masalah.
Jadi kini, aku lempar kipas ini ke sungai.
Jika kau bisa batalkan masa lalu dan kembalikan kipas ini,
kita mungkin bisa perbaiki pernikahan ini.
Kau memintaku untuk mengambilnya?
Tapi itu tidak mungkin!
Shouhua, tunggu!
Shouhua!
Bagaimana itu bisa dilakukan?
Shouhua!
Shouhua!
Lihatlah dia.
Dia kehilangan kemauan untuk hidup.
- Dia bukan mau lompat untuk… - Kau masih muda.
- Jangan sembrono! - Jangan gegabah!
Kau masih muda.
Semua masalah bisa diatasi.
- Ya. - Tunggu hingga tua dan beruban.
Yama pun takkan tumbang tanpa perlawanan.
Mereka harus jaga sungai ini.
Banyak orang bodoh di sungai.
Jika kau menyerah,
berikan sepatu dan jubahmu padaku.
Kenapa kau berkata begitu?
- Pergi kalian! - Hanya bercanda!
Pergi dari sini.
Berhenti buat masalah.
Memang benar Tn. Du.
Aku pikir berhalusinasi.
Ayo. Katakan apa masalahmu.
Shouhua menjatuhkan kipasnya.
Dia mau aku ambil itu.
Jika aku ambil, kami tetap menikah.
Jika tidak, aku diusir.
Kenapa tak bilang dari tadi?
Aku punya ide!
Benarkah?
Apa itu? Katakan padaku.
Aku ambilkan untukmu.
Cepat, pinjam jaring dari tukang perahu!
Cepat. Sana!
- Ayo sana! - Cepat!
Tunggu! Aku segera kembali.
Periksa dengan cermat!
Bagaimana di sana? Ketemu?
Tidak ada.
Lalu di sana! Ada?
Cepat, di sana! Di sini. Lihat!
Ya, di sana! Ya, itu!
Cari dengan saksama!
Pasti ketemu. Di sana!
Di sana! Ya, itu!
Hati-hati!
Tak mungkin bisa ketemu!
Di sana! Dengar aku.
Aku yang terbaik kedua dalam memancing,
dan tak ada orang di Bianjing berani mengeklaim jadi yang pertama!
Jangan cemas, akan kudapatkan sebelum senja.
Tn. Du,
aku benar-benar tulus!
Aliansi ini membutuhkanku.
Jangan biarkan sepupuku mengusirku!
Tn. Fan,
kipas itu jatuh satu jam lalu.
Mungkin sudah lama hilang bersama arus.
Benar. Kenapa aku bisa lupa?
Berkemaslah! Ayo bergerak!
Tuan, ke mana sekarang?
Bodoh, kau belum pernah dengar tentang menandai perahu?
Ke mana Sungai Bian mengalir?
Menuju ke Jembatan Bian.
Saat kipas itu lewat, aku akan ambil di sana!
Ya!
Ayo, berkemas!
Baik, berkemas!
Kau juga,
cepatlah! Berkemas. Kita ke rumah!
Ke rumah?
Tuan, kita tidak ke jembatan?
Hanya menggodanya.
Kau pikir aku sebodoh itu?
Shouhua,
apa pendapatmu tentang ini?
Pilihlah.
Untuk apa ini?
Bukankah kau meninggalkan Tn. Du?
Lebih baik aman daripada menyesal.
Para wanita yang sudah menikah saat ini,
kenapa, selalu ikut campur dan menjodoh-jodohkan.
Mungkin hidupnya baik, jadi mau berbagi dengan orang lain.
Orang yang tak bahagia menyeret orang lain ke kesengsaraannya.
Kangning, kau tampak cantik.
Kurasa suamimu sangat menyayangimu,
melayanimu dengan penuh perhatian.
Tidak perlu menggodaku.
Aku bercanda denganmu.
Jangan anggap serius.
Ini jodoh yang ditemukan Ibu untuk Qiongnu.
Kau masih di Keluarga Du, dan jika aku pilih untukmu,
apa kau tak takut Tn. Du akan mengusirku?
Tak perlu buru-buru untuk Qiongnu juga.
Ibu tampaknya berpikir bahwa
dia atau Haode akan tetap tinggal untuk menjaga keluarga tetap bersama.
Mungkin menikahi seseorang dan bawa masuk ke keluarga ini.
Ini tampaknya tidak benar.
Menikah dan bawa masuk?
Itu tidak mudah.
Banyak yang jujur.
Jodoh yang baik itu langka.
Jangan terburu-buru.
Benar.
Restoran dapat ikan segar bagus hari ini,
beberapa dikirim ke rumah.
Suamiku bayar koki agar masak ikan untuk Ibu di rumah.
Bukankah kau bilang ikan mentah terlalu kuat?
Hari ini aku traktir.
Temui aku di Restoran Pan untuk coba hal baru.
Aku tak bisa tinggalkan ibu mertuaku sendirian.
Dia diundang oleh Ibu.
Sekarang mereka menikmati irisan ikan.
Ayo ikut nikmati makanannya.
Dengan kebaikanmu sebagai tuan rumah,
aku dengan senang penuhi ajakanmu.
Silakan.
Silakan duduk.
Shouhua, apa yang lucu?
Melihat suamimu begitu rendah hati
mengingatkanku pada lelucon dengan Kangning,
yang membuatnya semakin lucu.
Campur tanganmu sebabkan semua keributan ini.
Ya, kau benar.
Aku sudah katakan sebelumnya.
Sekarang dia suka menjodohkan.
Penyebabnya ada pada suaminya.
Kapan Kangning pernah menjodohkan?
Aku makin bingung sekarang.
Seseorang!
Shouhua, Fuhui,
pernikahanku dengan Kangning
memiliki lika-likunya.
Itu semua berkat kebaikan kalian.
Aku takkan pernah melupakannya.
Arak ini tak cukup untuk membalas budi kalian.
Tn. Chai, biar saya katakan yang sebenarnya.
Permasalahan keluarga Chai…
Kami menentangnya.
Kau harus berterima kasih pada istrimu.
Dihantam api dan air, dia tak bergeming.
Dia pilih mati daripada menikahi orang lain.
Persatuan kalian pastilah kehendak dewa.
Pengabdiannya jarang ada di dunia ini.
Perlakukan dia buruk, kami takkan biarkan begitu saja.
Kata-kata kalian akan kuingat.
Kangning, bersulang lagi untukmu.
Sudah cukup.
Aku mau minum bersama saudariku.
Jangan menghalangi.
- Baik. - Pergilah!
Tenang. Aku permisi dulu.
Dia harus berterima kasih pada Shouhua.
Jika kau tak ambil tempatnya,
bagaimana dia bisa punya istri yang begitu baik saat ini?
Itu sulit bagi Shouhua.
Tn. Du mungkin berbakat dan menjanjikan,
tapi dia bunga berduri, sulit dihadapi.
Kau tak tahan padanya juga tak bisa melepasnya.
Itu membuat gila.
Shouhua,
nelayan menangkap ikan seberat delapan kati dari Sungai Bian.
Karena tahu kau suka ikan, kami menyimpannya untukmu.
Cobalah.
Dagingnya paling enak.
Aneh. Bagaimana kipas bisa ada di dalam ikan, Shouhua?
Shouhua.
Benar-benar kebetulan!
Kipas di dalam ikan, mendarat di hadapanmu.
Tentu kehendak dewa, menyatukan kita kembali.
Shouhua, apa aku lulus?
Baik,
ketika Ibu sedang sibuk,
siapa yang merawatmu seperti seorang ibu?
Kalian kerja sama dengan orang luar untuk menipuku.
Kau…
Apa menurutmu itu adil?
Shouhua, aku tak tahu apa-apa!
Aku…
- Shouhua! - Shouhua!
Shouhua!
Shouhua!
Kangning, bagaimana?
Makanannya sesuai seleramu?
Sudah kubilang ini takkan berhasil!
Shouhua tak mau dengar, tapi kau lakukan ini.
Sekarang aku yang dimarahi.
Kangning! Kangning!
Um…
Apa…
Apa yang terjadi di sini?
Kau bilang
jika aku dapatkan kipas itu,
aku lulus.
Kuharap kau menepati janjimu.
Aku akan tepati,
tapi seseorang terlalu licik.
Aku ragu kipasnya sama.
Jika kau bisa buat satu, kau bisa buat satu lagi.
Kipas langka tidak ada duanya.
Belum tentu.
Utusan sering pulang-pergi.
Barang seperti itu menjadi hadiah biasa.
Kau punya satu.
Bagaimana dengan cendekiawan peringkat dua?
Cendekiawan terbaik?
Meski bukan dari mereka,
pengrajin tidak bisa buat lagi?
Banyak cara untuk menipuku.
Jadi, Shouhua,
bagaimana kau bisa buktikan itu tidak sama?
Kau!
Sekali ini kau kehabisan kata-kata.
Salahku.
Harusnya aku beri tanda.
Kini kau pegang kartu pemenang.
Baiklah.
Aku anggap ini sebagai lulus.
Terima kasih.
Kau marah padaku
tapi masih membuatkanku sepatu.
Sungguh istri yang baik yang sudah kunikahi.
Tapi aku gagal menghargaimu.
Aku pantas dipukul.
Pantas saja kau marah padaku.
Biar aku coba.
Ini…
Beberapa hari lagi,
peringatan kematian mendiang suamiku.
Sesuai adat, aku buat sepasang untuk dibakar.
Itu untuk dia.
Jika mau, aku buatkan kau juga.
Apa yang salah?
Kau sangat pintar
tapi tak tahu apa yang salah?
Pantas saja kau dingin belakangan ini.
Ternyata kau masih memikirkan dia.
Kenapa aku tak bisa labrak dia?
Dia bisa jual ikan, daging, obat,
atau arak, tapi tidak,
dia malah buka kedai teh di seberang kita.
Apa rencananya?
Baik, Ibu. Duduklah. Tenangkan dirimu.
Ibu, mereka jual makanan pokok.
Kita menjual teh.
Itu tidak sama.
Siapa bilang tidak sama?
Toko lain berbagi dagangan.
Cui menjual keduanya..
Aku melihatnya.
Mereka pakai teko teh perak!
Teh berharga murah, merusak harga!
Pergi marahi dia.
Takut padanya?
Jangan tambah kayu ke bara api.
Tuang air untuk matikan semangat kita?
Kau cuma ketakutan.
Ibu,
toko dia adalah bisnis dia.
Kehebohan itu takkan bertahan lebih dari tiga hari.
Dagang rugi tak bertahan lama.
Kita urus perdagangan kita sendiri.
Kenapa ributkan dia?
Tapi dia menjual barang yang kita jual.
Dia mencuri bisnis langsung di depan mata!
Bisakah aku biarkan saja?
Ibu sudah lama mengelola toko ini di Bianjing.
Rumah Sifu sudah dikenal.
Semua panggil kau Bos Li dengan hormat.
Jika marahi dia, bukankah orang akan bergosip?
Mereka akan bilang, "Cui buka usaha di jalan.
Bos Li dari Rumah Sifu tak bisa tenang!"
Benar sekali.
Setelah itu,
semua akan ke tempat Cui untuk melihat drama.
Aku tak izinkan kau ke sana
karena tak mau kau berbuat sesuatu yang untungkan mereka.
Itu masuk akal.
Aku hampir kena tipu dayanya!
Dasar rubah tua licik!
Wanita sialan itu, omong kosong!
Apa ini?
DILUKIS OLEH DU YUANMING
Ibu?
Ibu.
Apa ini?
Wang kaya menawarkan 300 untai untuk lukisan Yangxi.
Aku pikir, 300 untai.
Itu uang sungguhan!
Siapa mau menolak itu, 'kan?
Hanya orang bodoh yang menolak!
Ibu, berapa kali aku katakan hal ini?
Jika butuh uang, datanglah padaku.
Jangan ke Du Yangxi.
Jangan bicara seolah-olah dia orang asing.
Dia suamimu, menantuku, bukan?
Saat dia terpuruk dan putus asa,
aku selamatkan hidupnya.
Dan aku memberinya putriku sendiri.
Sekarang dia sudah kaya,
tak bisakah dia tunjukkan rasa hormat?
Aku tak mengemis untuk lukisan ini.
Dia berikan dengan sukarela.
Ibu,
bahkan pelukis istana Kuil Xiangguo
dijual seharga tak lebih dari seribu.
Mural Wu Daozi dari dinasti terakhir
hanya dihargai 300 untai.
Tak peduli seberapa bagus karyanya,
tak akan lebih dari Lukisan Orang Bijak.
Mereka tak mengincar lukisannya.
Mereka cuma mencari koneksi.
Itulah cara dunia bekerja.
Tak ada yang aneh dengan itu.
Aku tahu kau merasa ini memalukan.
Aku takkan meminta lagi.
Baiklah. Aku akan kembalikan ini juga.
- Ini. - Lewat sini.
Ibu, Shouhua.
Aku bawa dia ke sini.
Chou'er, sapalah Ny. Du.
Salam, Ny. Du.
Wanita yang cantik dan rapi.
Tapi, bagaimana kau dapat nama itu?
Aku korengan waktu masih kecil
dan rambutku rontok semua.
Jadi, aku dipanggil Chou'er, artinya jelek.
Tapi aku sudah terbiasa.
Ayahku bilang,
"Hatinya baik, namanya tidak.
Tangannya terampil, tapi tidak pintar bicara."
Aku akan patuh dan melayani Ny. Du.
Ibu pilih dia setelah pertimbangkan sepuluh orang.
Dia mahir dalam urusan rumah tangga.
Dan dia cerdik dan gesit.
Shouhua, dia juga bisa jadi pembantumu.
Ajak dia pulang hari ini.
Ibu, kau sudah kerja keras untukku.
Siapa lagi yang akan peduli padamu seperti aku?
Chou'er, kau sudah menyapanya.
Ayo, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu.
Shouhua,
aku tahu kau masih pikirkan yang sebelumnya.
Benar.
Tuan Shiyi sungguh luar biasa.
Karakter dan bakatnya,
sopan santunnya halus,
sikapnya luar biasa.
Dia memperlakukanmu dengan sangat baik.
Tapi dia punya satu kekurangan.
Hidupnya terlalu pendek!
Ibu!
Kau bilang akan berduka atas kepergiannya selama tiga tahun,
dan aku membiarkanmu.
Tuan Shiyi pria yang mulia,
tapi Tn. Du juga sama.
Apa yang kurang dari dia?
Shouhua,
mulai sekarang,
lupakan kesedihanmu,
buka hatimu,
dan hidup bahagia dengan suamimu.
Saat seusiaku, kau akan paham.
Masa lalu, tak peduli seberapa baiknya,
sekadar kenangan.
Yang penting adalah yang ada di hadapanmu sekarang.
Itu yang bertahan.
Ibu,
Tuan Shiyi baik pada keluarga kita.
Aku selalu merasa bersalah.
Tapi saat aku hadapi Tn. Du,
aku tak tahu harus bagaimana.
Aku tak pernah bertemu orang sepertinya.
- Sepupu. - Kenapa mereka kembali lagi?
Sepupu. Sepupu!
Aku sibuk. Aku punya urusan yang harus diselesaikan.
Sepupu, Tn. Du bermasalah.
Bantu dia. Ayolah.
Tidak. Demi dia, aku menyinggung Kangning!
Aku bersumpah tak ikut campur.
Sepupu,
karena masalah pernikahanmu
yang menyeret Tn. Du ke masalah ini.
Kini kau tinggalkan dia.
Di mana hati nuranimu?
Apa aku salah?
Ayo. Sini.
Duduk.
Duduklah.
Aku, Du Yangxi, mungkin rendah hati,
tapi aku punya harga diri.
Sejak aku kecil,
aku tak pernah rendah diri
dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Tapi untuk wanita itu, aku lakukan banyak,
melangkah dengan hati-hati,
takut buat dia tidak senang.
Tertawalah jika kau suka,
tapi sekarang aku lihat suasana hatinya sebelum bicara.
Kau tidak tahu betapa pahitnya itu.
Kalian semua tahu tentang suami pertamanya.
Aku dengar Fuhui menyebut pria itu.
Dia sudah tiada sekarang.
Kenapa bahas pria itu?
Tidak sepatah kata pun lagi.
Apa yang dia katakan?
Pujian tanpa akhir.
Betapa lembut, betapa berbakatnya.
Tanpa penyakitnya, pria itu sempurna.
Dia bahkan bilang,
ikat kita bertiga dan timbang,
kita masih kurang berat satu ons.
Itu membuatmu marah, 'kan?
- Sungguh? - Ya.
Aku belum pernah dengar Kangning menyebutkan hal ini.
Dia khawatir Shouhua kesepian
dan sering undang saudarinya.
Kangning belajar sitar dari ayahnya
tapi berhenti berlatih.
Dia lanjutkan setelah Shouhua bergabung dengan keluarga Wu.
Tn. Wu yang carikan guru untuknya.
Lalu, saat keluarga Li kehilangan tanahnya,
keluarga Wu bantu menangkan kasus
dan dapatkan tanahnya kembali.
Pria itu sangat peduli.
Karena itu Shouhua tak bisa lupakan dia.
Tn. Du, hanya bercanda.
Dia sudah tiada.
Shouhua bisa puji pria itu sesukanya.
Benar, 'kan? Tak ada artinya sekarang.
Yuanming,
orang bilang pria suka hal baru, wanita terpaku pada masa lalu.
Dia menikah denganmu, tapi masih berpegang pada suami pertamanya.
Itu menunjukkan kesetiaan dan perasaan yang mendalam.
Kau harus kagumi itu.
Perlakukan dia dengan tulus dan dia akan membalasmu.
Pria itu sudah tiada.
Bagaimana dia melawanmu?
Jika dia masih hidup,
aku punya peluang melawan dia.
Tapi sekarang,
siapa bisa kalahkan mantan suami yang tiada?
Jika dia hidup, apa kau akan dapat giliran?
Sepupu!
Chou'er, siapa suruh kau bersih-bersih?
Itu Chunlai yang ikut campur.
Nyonya, Tuan terlalu banyak minum di Restoran Pan.
Tak ada yang bisa hentikan dia.
- Tuan. - Masuklah cepat!
Hati-hati.
Ayo, cepat!
Cepat, masukkan dia.
Beri bantuan.
Tuan?
Katakan padaku.
Bagaimana mungkin aku lebih buruk dari pria itu?
Katakan padaku.
Katakan padaku.
Tuan.
Apa kau membenciku?
Omong kosong apa ini.
Siapa benci cendekiawan peringkat tiga?
Aku bukan cendekiawan peringkat tiga.
Aku anak yatim-piatu.
Aku penyintas kapal tenggelam,
hanyut ke pantai di atas kayu.
Wanita tukang cuci yang baik hati menemukanku
dan menerimaku di rumahnya.
Orang desa bilang aku dikutuk sejak lahir.
Wanita itu menerima orang sial seperti aku.
Dia jadi bahan gosip dan cemoohan dari kerabatnya,
dan penolakan dari suaminya.
Tapi, dia membesarkanku hingga dewasa.
Aku tak bisa dibandingkan dengan Wu Shiyi.
Aku tak punya keluarga bangsawan, karakter yang luhur,
dan tak punya kemurahan hati seperti dia.
Aku egois, serakah, dan picik.
Aku mau unggul dalam ujian.
Aku mau dunia melihat
bahwa anak yatim-piatu sekalipun
juga bisa mencapai kesuksesan
dan dapat kehormatan untuk dirinya.
Aku mau mereka tahu
wanita pencuci yang mereka hina
suatu saat akan jadi Wanita Bangsawan.
Tapi dalam lakukan itu, aku gagal menjadi pria sejati.
Apa karena itu kau tak inginkan aku,
Shouhua?
Bagaimana mungkin aku tak inginkanmu?
Orang lain bilang kau cerdas dan mendalam,
tapi aku lihat semua kebaikanmu.
Mereka tak pernah mengalami kesulitanmu.
Dari mana mereka tahu kebijaksanaan dari kepedihan?
Tapi kau menghindariku.
Kapan aku begitu?
Aku pikir pasangan harus hidup saling hormat dan sopan
agar bertahan lama,
tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau mau.
Liang Hong dan Meng Guang sopan dan diplomatis dalam pernikahan.
Aku tak mau jadi suami yang berjarak.
Aku tak mau hormatmu terus-menerus,
berjarak denganmu. Aku mau…
ciumanmu.
Baiklah. Kau bisa lepaskan aku sekarang.
Kau bohong lagi.
Tapi sup untuk pening akan dingin.
Katakan satu hal tentangku yang lebih baik dari pria itu.
Kau lebih cerdas darinya,
bahkan pura-pura mabuk dan bertingkah bodoh.
Shouhua,
cintai aku setulus hati.
Jangan menghindariku.
Masuklah.
Tuan, Tuan Sang tidak mau menunggu
dan sudah pergi ke Majelis Cendekiawan.
Dia minta aku memberitahumu.
Baiklah.
Kau boleh pergi.
Kau bangun lebih pagi untuk melukis.
Apa itu?
Kapan kau menyembunyikannya?
Serahkan sebelum seseorang mentertawakannya.
Melukis pemandangan adalah seni tingkat tinggi.
Hanya orang yang tidak murni yang akan berpikir sebaliknya.
Karya besar dipajang di aula besar.
Kenapa tidak dengan istriku?
Siapa yang berani hina dia?
Jangan sembunyikan terus.
Sering-seringlah dipakai.
Agar upaya tengah malamku tak sia-sia.
- Itu tidak patut. - Aku tidak mau kau patut.
Jangan pikir aku tidak tahu.
Kau salin kitab suci setiap hari
untuk doakan pria itu.
Shouhua,
Aku tak mau kau hidup di masa lalu.
Aku mau kau tahu bahwa kau adalah istriku,
bukan janda pria lain.
Kau mengerti?
Mengerti.
Saat aku jauh,
pikirkan aku saat melukis.
Ingat aku saat menyulam.
Jika marah, maki aku, marahi aku. Aku tetap senang.
Baiklah.
Aku lakukan apa yang kau katakan.
Sekarang, bisa berikan padaku?
Jika begitu, jika menikahi orang lain,
kau akan patuhi dia seperti ini?
Bagaimana jika Sang Yanrang pingsan di depan sedanmu,
kau juga akan menikahi dia?
Itu tak masuk akal.
Jangan katakan hal semacam itu!
Meski ada dia,
aku masih akan memenangkanmu!
Biar dia terus bermimpi.
Kenapa kau bertingkah gila pagi ini?
Hentikan! Serahkan itu.
Ayo. Berikan padaku!
Tuan.
Ada apa lagi?
Nyonya bilang matahari hampir terbit,
waktunya sarapan.
Aku segera datang.
Sana siapkanlah.
Mengerti.
Kau senang sekarang?
Ini sungguh memalukan!
Shouhua, apa kau marah?
Aku salah, Shouhua!
Para Tamu, lihatlah.
Ini silakan!
Tuan Liu,
kami punya stok Teh Jian bagus.
- Mampir dan cobalah. - Besok.
- Aku datang besok! - Satu cangkir.
Tidak butuh waktu lama.
Besok, aku janji!
Nona, lihat bunga ini!
Tuan Wang.
Tuan Liu, coba teh herbal!
Satu teguk akan segarkan tubuhmu
dan membuatmu berenergi seharian.
Tuan Liu, mau satu cangkir?
Ayo silakan!
Sini. Silakan!
Ayo cepat masuk!
Pelan-pelan. Hati-hati!
Besok!
Dua tamu,
masuklah dan coba teh herbal!
- Itu dia. - Cepat masuk, ayo!
Semua di dalam, kerja cepat!
Layani dengan baik!
Ibu, di sebelah sana.
Daging kambing yang lembut dengan mi dinginnya, tak tertandingi!
Mereka mencuri banyak pelanggan kita!
Semua itu, cuma untuk mi?
Lihat pria itu. Matanya
seperti mau jatuh ke sup! Sekalian saja dimasak!
Ibu,
mungkin aku tak sajikan teh sebaik Kangning,
tapi aku cukup bagus.
- Kenapa aku tak gabung? - Omong-kosong!
Kedai sedang kesulitan.
Aku cuma minta bantuanmu beberapa hari.
Kita belum seputus asa itu!
Kenapa melempar dirimu ke banyak pria bau tengik?
Kau tak mau dapat suami yang layak suatu hari?
Rupanya kau di sana.
Lihat wanita tak tahu malu itu!
- Silakan. - Lihat berapa lama bisa sombong.
Benar sekali.
Baik, kembalilah.
Kau masuk dulu.
Yang ini cantik,
- warnanya begitu cerah! - Ya.
Yang ini juga bagus.
Aku ambil ini!
MI DINGIN UNIK
Kenapa kau di sini?
Aku ke sini untukmu, Rong Sayang.
Ibu!
Kau!
Tunjukkan rasa hormat! Apa yang kau lakukan?
Sudah cukup lama, Rong Sayang.
Kau makin cantik saja.
Gadis baik, kau merindukanku?
Ayo, kemarilah!
Kami sedang berbisnis di sini.
Bawa uangmu dan berjudi sana!
Jangan ganggu dia lagi!
Pergi sekarang!
Aku akan kembali malam ini jika menang.
Pergi sana!
Tunggu aku!
Kau harusnya tak adopsi si bodoh itu.
Dia buat Ayah marah hingga sakit,
dan dia ganggu kita tiap hari.
Salahmu karena kurang kemampuan.
Kenapa kau tak carikan aku menantu cendekiawan peringkat tiga?
Apa aku harus terus terima rasa malu ini?
Tak peduli secakap apa, mereka bukan dari rahimmu.
Meskipun aku bukan yang terbaik,
kau akan bergantung padaku saat kau tua.
Jika terus marahi aku, aku menyerah!
Kurang ajar, kau buatku gila!
KEDAI TEH CUI
Tuan Wang,
baru minum lagi, ya?
Kau menebaknya!
- Mana Rong Sayang? - Tentu di dalam.
Silakan, nikmati Sup Er Chen.
Waktunya tepat.
- Baiklah! - Silakan.
Masuklah!
Ritual Taoisme dilakukan hari ini.
Kau sudah penuhi tugasmu.
Tn. Du lampiaskan kesedihannya di Restoran Pan.
Jika Fan Lianghan kembali,
dia akan klaim bahwa Shouhua menindasnya.
Jika kau tanya aku,
Shouhua harus kembali dan membujuknya sedikit.
Lagi pula dia cendekiawan peringkat tiga,
suami yang didambakan semua wanita!
Dia pria konyol.
Mantan suami itu sudah tiada bertahun-tahun!
Dia masih cemburu pada orang yang mati muda.
Dan Shouhua harus tenangkan dia.
Dasar pria picik.
Aku dulu berpikir pernikahan
hanya sekadar untuk teman hidup
jalani hari dengan damai.
Siapa yang mengira dia akan begitu lembut,
begitu penuh kasih sayang,
begitu setia?
Semua pikirannya tertuju padaku.
Jujur, kadang aku takut ketika melihatnya.
Takut apa?
Takut nanti dia jadi dingin,
takut dia akan kecewa.
Takut aku tidak sebaik yang dia pikir.
Shouhua, kau wanita terbaik.
Tapi jujur,
ketiga saudara ipar itu terlalu dekat.
Kita harus pisahkan mereka
atau mereka akan buat masalah.
Shouhua, kau setuju?
Ya, kau benar.
Ada apa? Apa yang kau lihat?
Jangan lihat.
Nyonya, kau kepanasan?
Aku baik saja. Jangan cemas.
Lianghan, Fuhui sedang mengandung.
Mulai saat ini, kurangi minum dan berjudi
dan lebih sering bersamanya di rumah.
Buat dia bahagia.
- Baik. - Pasangan muda memang begitu.
Siapa yang tak alami masa sulit dan bahagia?
Kenapa marahi dirimu dan bukan orang lain?
Karena dia peduli padamu.
Ya.
Jangan khawatir, Nyonya.
Aku tahu istriku sangat mencintaiku.
Ya, dia memarahimu karena dia sayang.
Dia mau yang terbaik bagimu, ya?
Mereka sudah tiba.
- Nyonya, mereka kembali. - Aku sambut.
Chunlai, sajikan dua melon.
Baik!
- Kangning. - Jemput istrimu.
Baik.
- Fuhui, hati-hati, aku bantu. - Baiklah.
Ayo, pelan-pelan.
Sini.
Ayo cepat masuk!
Mataharinya terlalu panas. Masuk cepat.
Lianghan mengirimkan
buah prem dan persik putih.
Masuk dan makanlah.
Chunlai, potong dua yang besar dan manis.
Bukan yang dingin!
Yang didinginkan tidak enak.
Fuhui tak boleh memakannya.
Nyonya.
Bajingan itu tidak mau pergi.
Entah siapa yang jadi targetnya sekarang?
Tn. Du cendekiawan, bukan petarung.
Bagaimana dia bisa menakuti seseorang?
Jangan cemas, Nyonya.
Aku akan urus dia.
Aku pastikan dia tak berani tunjukkan batang hidungnya lagi.
Ya, beri dia pelajaran.
Jangan lunak padanya.
Meski dia mati, itu layak.
Ya!
- Ayo. - Baik, Nyonya.
Memang kenapa kalau dia punya gelar?
Kejahatanmu akan diekspos di pengadilan.
Lupakan jadi pejabat.
Kau akan kehilangan segalanya, bahkan nyawamu.
Aku ampuni kau sekali, dan masih berani ganggu keluarga Li?
Pertaruhkan nyawamu demi nafsu?
Aku pulang untuk berkabung.
Aku sudah pamit pada Shouhua. Aku takkan datang lagi.
Omong kosong! Bajingan, masih saja berbohong!
Pergi sekarang!
Sampai kulihat lagi, aku hajar kau!
Ayo pergi!
Terjemahan subtitle oleh Nur Cholis
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.