Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Cendekiawan terbaik berparade di jalan!
Cendekiawan terbaik datang!
Apa dia sudah tiba?
Dia tiba.
Dia sangat tampan.
Dia pria muda yang elegan.
PERINTAH
Cendekiawan peringkat tiga tahun ini menakjubkan.
Penasaran apa dia sudah menikah.
- Mereka datang! - Pria muda berbakat dan tampan
mungkin sudah punya pacar.
Keberuntungan besar begitu pasti tidak akan dialami keluargamu.
Aku hanya bercanda.
Kenapa ada kemacetan di depan?
Para Jinshi sedang menuju ke Majelis Cendekiawan.
Rakyat biasa berkumpul untuk melihat keseruannya.
Dia sangat tampan.
Terimalah bungaku!
Aku sangat iri padanya.
Pasti menakjubkan kalau bisa menikahinya.
Hati-hati ambang pintunya saat melangkah.
Pengantin wanita keluar.
Aku sangat iri pada wanita itu.
Ibu Mertua.
Anak menantuku yang baik.
Ayo. Bangunlah.
Silakan.
- Silakan. - Mereka pasti bahagia.
Waktu yang baik sudah tiba.
Naikkan kursi sedan.
- Ada apa? - Nyonya Li.
Yah… Seserahan pernikahan.
Aku hampir lupa seserahan pernikahan. Ada uang untuk semuanya.
- Ada uang untuk semuanya. - Terimalah.
Angkat kursi sedannya!
Nyonya Li, kau pasti sangat bahagia
punya menantu cendekiawan peringkat tiga.
Itu benar. Katanya kau temukan dia
di jalanan.
Hentikan omong-kosong itu.
Ada banyak pengemis dan mayat kelaparan di salju.
Bagaimana bisa seseorang mendapat cendekiawan peringkat tiga dari sana?
Semua itu takdir.
Ayo pergi.
Nyonya Li jarang selamatkan orang.
Tapi saat dia lakukan itu,
langsung dapat berkat besar.
Mereka banyak omong.
Ayo ke sana.
- Jangan berlebihan padanya. - Benar.
Itu benar.
Teman sesama cendekiawan.
Demi aku, jangan berlebihan pada pengantin pria.
Tidak bisa.
Dia beruntung bisa langsung menikah
setelah jadi cendekiawan peringkat tiga.
- Kita tak boleh lepaskan dia. - Benar.
Sang si Batu, kami mencari pengantin pria.
Apa urusanmu?
Kalian mau minum, 'kan?
Aku akan minum bersamamu.
Aku juga akan tulis puisi bersama kalian hingga fajar.
Teman sesama cendekiawan, ayo pergi.
Kau temani kami? Baiklah.
Ayo pergi.
Kami mau minum bersama pengantin pria.
Ibu, aku di sini untuk memberi penghormatan.
Silakan minum teh.
Shouhua, ini rumah tangga yang sederhana.
Tidak perlu formalitas.
Bangun sekarang.
Ya.
Yangxi bersiap-siap pagi-pagi sekali
dan pergi ke Kuil Xingguo.
Aku dengar dia mengatakan akan hadiri suatu rapat.
Menurut tradisi,
semua Jinshi tahun ini
harus hadiri Majelis Cendekiawan di Kuil Xingguo
Tempat Penyimpanan Sutra Timur.
Ya, pertemuan cendekiawan.
Tidak apa-apa kalau itu orang lain.
Tapi tiga cendekiawan terbaik harus tinggal di dalam penginapan biro
dan tidak mudah dapat izin tinggal di tempat lain.
Kau baru menikah kemarin.
Pasti berat bagimu.
Apa dia sudah minta maaf padamu?
Ya.
Dia sudah menjelaskan.
Baiklah.
Baiklah.
Ibu, izinkan aku membantumu.
Kau tahu cara memintal benang?
Aku belum tahu, tapi bisa belajar.
Saat aku belum mengerti sesuatu,
aku minta kau ajari aku.
Baiklah. Kemarilah.
Bajingan yang tak tahu terima kasih,
tak tahu malu, dan terkutuk itu!
Beraninya sia-siakan putriku?
Kita harus ke Kuil Xingguo, menyeretnya keluar,
dan beri dua tamparan keras.
Ibu benar.
Lulus ujian kerajaan penting, tapi menikah juga sama penting.
Tidak pantas pengantin wanita pulang
pada hari ketiga pernikahan tanpa ditemani suaminya.
Ini tamparan bagi keluarga kita.
Kau mungkin tidak tahu ini.
Majelis Cendekiawan juga disebut biro cendekiawan terbaik.
Para Jinshi masuk ke biro di bulan Maret
dan sampaikan terima kasih pada Yang Mulia di bulan April.
Di bulan Mei, mereka beri penghormatan pada daftar Jinshi kelas pertama
dan mengenal rekan cendekiawan mereka.
Saat beri hormat ke orang bijak dan guru,
Yang Mulia adakan perjamuan besar,
membuat inskripsi nama, dan semacamnya, mereka butuh tanggal baik.
Semua perayaan itu habiskan waktu dua bulan.
Ibu, Yangxi tidak bisa datang.
Aku mohon maaf atas namanya.
Ibu, tenangkan dirimu.
Duduklah.
Baiklah.
Duduk saja.
Shouhua,
setelah menjadi seperti ini, jangan menutupi tingkahnya lagi.
Chunlai sudah beri tahu kita semua
tentang yang terjadi di malam pernikahan.
Chunlai, kuminta kau untuk tutup mulut.
Harusnya kau jahit saja mulutnya.
Ibu sudah siapkan pesta seperti ini,
dan kita menunggu di depan meja dengan makanan panas.
Tapi suamimu belum datang hingga kini.
Kau tak bisa sembunyikan itu.
Kini dia cendekiawan peringkat tiga.
Pasti dia merasa sangat hebat.
Kalau bukan karena keluarga kita menemukan dia, menerima dia,
beri obat dosis demi dosis ke tubuhnya,
dan buat dia sehat lagi dengan babi dan ayam,
dia pasti sudah lama jadi mayat kelaparan.
Shouhua, hatimu terlalu baik.
Andai aku di posisimu,
aku akan berpaling dan buat keributan
untuk merusak nama baiknya.
Saudariku, tenangkan dirimu.
Semua ini salahku.
Keluarga Du ajukan lamaran untukku, putri ketiga.
Tapi kemudian Shouhua, putri tertua, yang menikah.
Du Yangxi punya sifat sombong.
Aku berasumsi dia benci kita karena perjodohan yang gagal
dan lampiaskan kemarahan ke Shouhua.
Lalu kenapa kalau pengantin wanitanya diganti?
Ibunya sendiri yang menyetujui secara langsung.
Aku tidak menekan atau menipu dia.
Kalau dia tidak setuju, harusnya dia bilang saat itu.
Shouhua, sekarang terserah padamu.
Kalau mau keadilan, kita datangi rumah mereka sekarang.
Pria itu tidak jujur. Kita harus temui ibunya.
Benar sekali.
Tanya ibunya kenapa putranya menghina kita seperti ini.
Dengar cerita berlebihan dari pembantu soal masalah itu,
kau mau lakukan pembalasan.
Ini bagai air setitik dilautkan, tanah seketul digunungkan.
Karena aku memilih untuk menikahinya,
aku bisa terima ketidaknyamanan ini.
Tenangkan diri kalian.
Nanti aku beri dia pengertian secara perlahan.
Shouhua, jangan keras pada diri sendiri.
Kau sungguh punya rencana?
Tenang saja.
Shouhua.
Shouhua.
Kangning,
antara saudara perempuan, permintaan maaf tidak diperlukan.
Aku merasa sedih untukmu.
Kangning,
dengan buku, sitar, bunga, dan halaman kecil.
Aku merasa puas selama sisa hidupku.
Jika bukan karena Ibu dan para saudari,
tempat di dekat patung Buddha
di kuil pegunungan akan jadi perlindungan terakhirku.
Aku tidak inginkan cinta duniawi.
Jika suamiku bisa beri rasa hormat,
aku akan balas hormati dia
dan jalani hidup dengan damai.
Andai Ayah masih hidup
dan kau tak perlu menikah dengan anggota keluarga Wu.
Bajingan itu, Du Yangxi.
Dia tidak tahu betapa beruntungnya dia?
Berani sekali dia perlakukan kau begitu dingin?
Tidak perlu merasa sedih untukku.
Aku bukan gadis naif yang dulu lagi.
Cinta duniawi?
Aku tak mau itu sama sekali.
Kangning,
hatiku selalu tenang dan damai.
Ini adalah cara terbaik.
Keluarga Du perlakukanmu dengan buruk,
dan kau sanggup menanggungnya.
Kau bilang kau punya rencana.
Kau tak katakan itu untuk menipu kami, 'kan?
Beberapa bulan lagi baru mereka ditempatkan secara resmi.
Sementara itu, Tuan Sang tinggal di sini.
Pakaian dan alas tidur di kamar barat
harus dijemur secara rutin.
Nanti, tanya Lingyao
apa Tuan Sang punya pantangan makanan tertentu.
Kau mengerti?
Ya.
Tenangkan dirimu.
Aku akan tinggal di sini lama.
Pertama, aku berencana mengganti furnitur di rumah.
Hati-hati, Nyonya.
Perhatikan dengan saksama.
Jangan sampai itu rusak.
Jangan cemas, Nyonya. Tidak akan terjadi.
Tuan Muda, pelan-pelan.
Tuan Du sudah kembali.
Pelan-pelan.
Angkat kakimu. Angkat.
Kita hampir sampai.
Nyonya,
Tuan Du diundang teman lamanya.
Tuan Sang mabuk.
Jadi, Tuan Du suruh aku bawa dia pulang dulu.
Dia…
- Cepat, bantu dia masuk. - Baik.
Chunlai, cepat panggil tabib.
Baik.
- Yuanming, lewat sini. - Yuanming, selamat datang.
Silakan duduk.
Ayo. Silakan duduk.
Ini tidak pantas.
Yuanming, sebelum kau jadi cendekiawan peringkat tiga,
aku tak pernah meremehkanmu sedikit pun.
Kalau tidak, aku takkan berani dengan kurang ajar mengundangmu hari ini.
Dengar. Kau menikahi Shouhua,
dan aku sudah jadikan Kangning istriku.
Persahabatan kita semakin diperkuat oleh hubungan pernikahan.
Sebagai saudara ipar, aku mau mentraktirmu minum.
Apa kau sungguh mau menolakku?
Benar. Duduklah.
Hari ini, Restoran Pan merilis arak.
Tenangkan diri dan nikmati beberapa cangkir.
Mungkin kau bisa tulis sesuatu untuk kami.
Kami sudah putuskan nama untuk arak itu.
Namanya adalah "Bertanya ke Cendekiawan Peringkat Tiga".
Bagaimana menurutmu? Itu pintar?
Ya, benar.
Tapi aku harus hadiri Majelis Cendekiawan.
Aku tak mau ada risiko rekan cendekiawan menungguku.
Aku permisi dulu.
Duduklah.
Aku mau jujur denganmu.
Aku tak undang kau untuk minum hari ini.
Aku sudah antisipasi hal ini.
Kalian berdua bertindak sebagai perantara
untuk Li Shouhua, 'kan?
Karena kau tahu situasinya, langsung setujui dan tak perlu banyak bicara.
Aku bisa mengerti kenapa Fan melakukan ini.
Tapi Chai, bagaimana bisa
pria bermartabat sepertimu
juga takut pada istri
hingga kau mau susah payah untuk mediasi?
Apa maksudmu?
Aku tidak cukup pintar atau hebat?
Bagaimana bisa aku bukan pria bermartabat?
- Kangning, Sayang. - Keluar.
Kangning. Kangning.
Biar aku jelaskan.
Ini salahmu sudah buat kakak perempuanku tidak bahagia.
Jangan harap semua bisa berjalan sesuai kemauanmu.
Kangning, dengar penjelasanku.
Tidur di tempat lain sana.
Kangning?
Kangning?
Apa yang kau tertawakan?
Yuanming.
Aku juga pengantin baru.
Kenapa kau tega melibatkan aku
dan biarkan aku diperlakukan dingin tiap hari?
Itu karena keluarga Li tidak penuhi janji.
Chai, aku tidak menyalahkanmu.
Jika keluarga Li mau nikahkan Kangning denganmu,
mereka bisa katakan yang sebenarnya padaku.
Aku takkan memaksa menikahinya.
Tapi keluarga Li tidak sanggup kehilangan kau, pria kaya,
atau aku, seorang Jinshi, sebagai menantunya.
Mereka bujuk ibuku agar setuju dengan rencana penggantian ini,
berharap semua pria muda baik di Bianjing akan jadi milik mereka.
- Bagaimana aku tak tersinggung? - Ya, kau benar.
Sebagai orang tua, Nyonya Li punya rencana sendiri
dan menyinggungmu.
Tapi Shouhua tak pernah menyinggungmu hingga layak menerima hinaan ini.
Benar.
Dahulu, Shouhua punya reputasi
di Luoyang atas karakter dan kecantikannya
dan diperebutkan banyak orang.
Bagaimana kalau kau bertemu dia dahulu?
Seperti pepatah lama,
tak ada hal yang dilakukan secara paksa akan menyenangkan.
Meskipun dia bidadari yang turun ke bumi,
hatiku tetap teguh seperti batu.
- Ikat dia. - Apa yang kau lakukan?
- Bangun. - Apa-apaan ini?
Berani sekali kau menyentuhku, cendekiawan peringkat tiga?
- Deqing. - Datang.
- Cepat. Bangunkan dia. - Hentikan.
- Jalan. - Dengar aku.
- Yang kau lakukan… - Jalan.
- Jalan. - Ini tidak pantas.
Kau tak lihat kau di mana?
Dan kau bilang padaku ini tak pantas? Jalan.
Sebelum fajar besok, jangan biarkan Tuan Du keluar,
- meski dia panjat dinding. - Mengerti.
Ibu, aku kembali.
Akulah yang pilihkan istri untukmu.
Aku pikir dia baik dalam segala aspek.
Jika kau tak puas, kau bisa salahkan aku.
Kau tidak berhak
perlakukan istrimu secara dingin.
Jika kau berani tak kembali lagi, jangan pernah kembali ke sini.
Sana temui istrimu dahulu.
Ya, Ibu.
Itu memang lukisannya.
Ternyata aku meremehkan dia.
AWAN BERSAMBUNG KE JURANG WU JAUH DI SANA CAHAYA BULAN UBAH PUNCAK SALJU JADI PUTIH
PUISI CEMARA KUNO CEMARA TINGGI TEGAK DAN TUA
Sudah kubilang jangan terlalu jujur.
Saat orang lain bersulang, kau langsung minum
semua arak yang disajikan padamu.
Kini kau tahu betapa itu tidak nyaman, bukan?
Itu semua karenamu, Du si Belut.
Kau begitu licin dan sulit dipegang.
Mereka semua mendatangiku.
Kau batu yang keras kepala.
Jika bukan karena kata-katamu
terlalu blak-blakan di depan Yang Mulia di Aula Chongzheng,
peringkatmu takkan mendadak jatuh dari pertama jadi keenam.
Tidak memecatmu di tempat
merupakan kemurahan hati Yang Mulia.
Aku panaskan air untukmu.
Andao,
kapan kau menikahi wanita secara diam-diam?
Segala sesuatu di sini diatur dengan cermat.
Ini membuatku, sebagai orang luar, tak punya tempat untuk mengerahkan usaha.
Dia memang istri yang sangat baik.
Tuan, kau sudah kembali.
Ibu tahu bahwa Tuan Sang sakit karena minum.
Jadi, Ibu memintaku bawakan sup untuk redakan pening.
Segarkan dirimu sebelum makan.
Makan setelah mabuk akan meredakannya.
Aku tidak berani siapkan arak dan daging untuk makan siang.
Hanya ada bubur tawar dan beberapa lauk.
Semua sederhana, masakan rumahan.
Tuan Sang, silakan makan.
Jika butuh hal lain, katakan padaku.
Terima kasih.
Ucapkan terima kasih ke Ibu Angkat untukku.
Apa dia istriku?
Lagi pula, dia bukan istriku.
Apa istriku yang buat ini?
Bagaimana aku tahu?
Aku sama sepertimu,
habiskan tiap hari di Majelis Cendekiawan.
Bagaimana aku tahu kalau dia memasak ini?
Pakaian yang kau pakai
dan sepatu di kakimu, semuanya baru.
Itu pasti juga disiapkan oleh istriku.
Tidak mungkin salah.
Ibuku buta dan tidak bisa lakukan itu.
Semua di ruangan ini pasti disiapkan oleh istriku.
Aku, sebagai suaminya, belum menikmati semua ini.
Tapi kau, saudara angkatku, sudah menikmati semuanya.
Sang si Batu, jadi aku menikahi istriku demi kebaikanmu?
Ya, ampun!
Seseorang punya rumah tapi tidak mau kembali,
bersenang-senang di Majelis Cendekiawan tiap hari.
Tapi aku tak punya rumah untuk kembali pulang,
sangat menderita di antara tumpukan pria tiap hari.
Ini sangat tidak adil.
Bagaimana bisa kau salahkan aku untuk itu?
Kapan kau pernah lihat batu keras kepala berbunga?
- Apa yang kau lakukan? - Ayolah.
Jika kau berani pamer padaku lagi,
- aku pukul kau tiap kali bertemu. - Sang si Batu.
Sang si Batu?
Buka pintunya.
Sang si Batu?
Sang Andao.
Sejak kapan tamu mengambil alih peran tuan rumah?
Buka pintunya.
Aku masih lapar.
Buka pintunya.
Apa kau dengar aku?
Buka pintunya.
Tuan Du pasti belum makan.
Sana lihat ke dapur.
Ya.
Biarkan saja dia kelaparan.
Aku ingat ajaranmu, Ibu.
Aku akan kembali dan minta maaf padanya sekarang.
Saat orang lain lukis bunga hujan giok, mereka menekankan keindahan lembutnya.
Dengan beberapa usapan kuasmu,
kau menangkap keindahan lembutnya yang juga sangat tangguh.
Lukisan ini menunjukkan semangat pertapa di pegunungan,
yang sungguh luar biasa,
sesuai dengan nama bunga "makhluk yang acuh tak acuh".
Maafkan aku, Tuan.
Nyonya rumah tak izinkan makanan disimpan.
Tak ada sisa makanan di dapur.
Harap tunggu.
Aku akan nyalakan api dan langsung masak.
Masalahnya…
kayu kiriman hari ini masih basah.
Asapnya akan tebal.
Sepertinya api takkan menyala hingga tengah malam nanti.
Tidak usah repot.
Menghadiri jamuan makan belakangan ini membuatku bosan makanan mewah.
Aku suka makan ini.
Ringan.
Dan masih hangat.
Ini lezat.
Ini sudah larut malam.
Kau pasti lelah menghadiri jamuan makan belakangan ini.
Kau sebaiknya istirahat lebih awal.
Tuan, ranjang siap.
Kau harus istirahat lebih awal.
Shouhua?
Shouhua?
Shouhua. Shou…
Shouhua, memang beberapa hari ini berat bagimu.
Aku mau katakan sesuatu secara tulus.
Shouhua, kau baik saja?
Chunlai. Chunlai.
Kau mau apa, Shouhua?
Aku bisa lakukan untukmu.
Aku tak berani merepotkanmu.
Chunlai. Chunlai.
Aku datang.
Dingin saat malam. Aku tahu kau batuk saat malam.
Aku sudah siapkan jus lobak.
Nyonya, kau punya gejala aneh sejak kau kecil.
Kau baik saja saat siang hari,
tapi dadamu jadi sesak dan batuk saat malam tiba.
Obat tampaknya tidak membantu.
Tiap tahun, setelah musim ini berlalu kau baru bisa merasa lega.
Aku khawatir malam ini akan berat juga bagimu.
Aku khawatir aku bisa ganggu istirahatmu, Tuan.
Shouhua. Shouhua, kau…
Tuan, kau harus berterima kasih pada Yang Mulia di istana.
Tidak baik jika kau ikut sakit.
Sebaiknya kau ke kamar timur
dan berbagi kamar dengan Tuan Sang.
Yuanming…
Apa, Yuanming?
Setelah melihat istrimu secara langsung,
hasrat duniawimu tergugah?
Chai,
bicara tentang kecintaan atas keindahan, setiap orang memilikinya.
Tapi kecantikan istriku tidak terletak pada penampilannya
tapi dalam keanggunan jiwanya.
Sebelum aku melihat dia langsung, aku melihat tulisannya dahulu.
Dia meniru tulisan tanganku,
namun dia ubah secara menyeluruh, ubah besi menjadi emas.
Ketika aku tidak di rumah,
dia tunjukkan baktinya pada ibuku dan merawat temanku dengan baik
tanpa sepatah kata pun keluhan.
Kesabaran dan keanggunan seperti itu memang langka di dunia ini.
Aku sudah berpikiran sempit.
Aku berutang maaf padanya.
Tapi jika aku sudah menyinggung perasaannya,
aku tak tahu cara meminta maaf padanya.
Du,
aku sarankan kau bersujud padanya dan meminta maaf.
Kita berlutut pada dewa, bumi, dan orang tua.
Bagaimana aku bisa berlutut di hadapan istriku?
Jika ini terungkap di masa depan,
bagaimana aku bisa hadapi masyarakat
jika aku jadi pejabat?
Berlutut mungkin mudah,
tapi berdiri kembali setelahnya mungkin terbukti sulit.
Tapi sepupuku…
Jadi, Yuanming,
kau mau cari cara yang memuaskan kedua belah pihak.
Apa maksudmu dengan memuaskan kedua belah pihak?
Artinya kau inginkan kecantikan dan juga martabatmu.
Inginkan kecantikan dan juga martabat?
Tolong jelaskan padaku, Chai.
Aku dengar dari istriku
Shouhua suka sekali dengan sastra.
Yuanming, apa kau sudah lupa
kau hebat dalam bidang apa?
Aku hebat di bidang apa?
Shouhua.
Taruh di sini.
Tak boleh ada api saat Hari Makanan Dingin.
Ibu takut keluarga Du tidak bisa tangani itu.
Dia memimpin kami menyiapkan ini sepanjang hari.
Kami masak bubur gandum,
kue zitui kukus, dan daging rebus.
Kau takkan kelaparan meski tak ada api tiga atau empat hari.
Mereka goreng sanzi di dapur sekarang.
Nanti aku bawakan beberapa.
Makanlah bubur dulu.
Kenapa kau datang lagi?
Aku mencemaskanmu di sini.
Nyonya, Tuan mengirim sepucuk surat.
Berikan padaku.
PADA SHOUHUA
Lihatlah.
Cahaya bulan begitu benderang,
menerangi tirai ranjangku yang tipis.
Cemas membuatku terjaga.
Aku bangun dan berjalan, memegang bajuku.
Meski Majelis Cendekiawan menyenangkan,
tiap hari aku merindukan pulang cepat.
Aku ragu lagi dan lagi.
Pada siapa aku harus curahkan pikiranku?
Du Yangxi tahu dia salah
dan coba berbaikan dengan Shouhua?
Nyonya, Tuan menunggu balasanmu.
Dia bukan satu-satunya yang bisa menulis.
Shouhua juga punya keterampilan sastra yang baik.
Shouhua, ayo.
Beri dia balasan,
sehingga dia tahu
ada juga orang yang suka membaca di keluarga kita.
Seolah kita peduli. Jika tahu kesalahannya,
kenapa tak minta maaf langsung?
Apa martabatnya lebih berharga daripada yang lain?
Ibu bilang dia cendekiawan peringkat tiga.
Yang Mulia pun memuji dia sebagai pria yang berbakat dan tampan
dengan prospek masa depan tak terbatas.
Shouhua akan jadi istri pejabat tinggi.
Apa masalahnya mengalah sesekali?
Wanita juga bisa murah hati.
Apa artinya ini?
Lingyao?
Aku mengerti. Lihat.
Apa ini?
Apa lagi? Itu selembar kertas kosong.
Kau salah. Yuanming di sini, berkeluh kesah ke bulan terang,
sementara Shouhua di rumah, menangis seperti hujan.
Yuanming tanya, "Pada siapa aku harus curahkan pikiranku?"
Apa balasan Shouhua?
Shouhua balas, "Rasa sayang mendalam diungkapkan tanpa kata-kata."
Ini tepat sekali, 'kan?
Apa benar itu maksudnya?
Baiklah, benar.
Chai,
setelah membaca ribuan buku,
aku yakin sulit sekali memahami hati wanita.
Dia mau bilang, "Rasa sayang mendalam diungkapkan tanpa kata-kata."
Jadi, dia tak tulis satu kata pun?
Benar. Bukankah itu sangat cocok dengan suratmu?
Di bawah jendela kasa hijau, aku membuka suratmu.
Aku hanya melihat selembar kertas kosong.
Aku pikir kau tak punya niat lain
selain bilang padaku tentang kerinduanmu yang tak terucap.
Baiklah.
Menurut legenda
pada zaman dahulu di Fuzhou, ada seorang cendekiawan
yang menulis surat pada istrinya yang jauh di kampung halaman.
Dia tak sengaja masukkan kertas kosong di amplop.
Hasilnya, dia dapat balasan surat
dengan balasan kata penuh kasih yang sangat panjang.
Kini, aku mengikuti contoh itu.
Aku harap dia juga bisa memahami perasaanku.
Kasih sayang yang mendalam sungguh menyentuh.
Lingyao.
Ya?
Kirim surat ini segera.
Baik.
Yuanming, setelah Shouhua lihat surat ini,
kau pasti boleh masuk kamar malam ini.
Kalau begitu aku harus berterima kasih, Chai.
Sama-sama.
Chai, kau menyesatkanku.
Chunlai,
pergi ke kamar barat dan ajak Sang makan bersama kita.
Baik.
Ibu Angkat.
Tidak perlu formalitas. Duduk saja.
Sebelum lulus ujian, kalian berbagi segalanya,
baik itu selimut, jubah, atau panekuk.
Itu yang dimaksud dengan saudara angkat dan teman dekat dalam kesusahan.
Nanti, saat jadi pejabat,
kalian juga harus bekerja sama
dan bertukar hal yang kalian pelajari.
Mulai sekarang, jangan makan di kamar sendirian.
Keluar dan makanlah bersama kami.
Sudah kubilang sejak lama, tapi kau berpegang teguh pada tradisi.
Sekarang Ibu sudah bicara, kau harus dengarkan.
Baiklah, aku akan mendengarmu.
Shouhua, kau bangun pagi-pagi untuk siapkan makanan.
Terima kasih.
Silakan.
Silakan, Ibu.
Kompor takkan dinyalakan selama tiga hari ke depan di rumah.
Jika mau makan sesuatu, minta Chunlai untuk membelinya.
Kue keju Restoran Wang
dan olahan jahe dan kacang hitam beku sangat enak.
Kalau begitu, jangan lagi nyalakan kompor di pagi hari.
Jadi, kita bisa hemat kayu bakar dan kau tak perlu repot.
Terima kasih. Aku lakukan sendiri.
Beberapa hari lagi kau diangkat jadi pejabat, 'kan?
Ya, dan secara resmi diangkat sekitar bulan Juni.
Kenapa kau minum banyak sekali?
Aku belum minum banyak.
Jelas sudah banyak.
Jangan bicara.
Pelan-pelan.
Pelan saja.
Duduklah.
Duduk, Tuan.
AWAN TERSEMBUNYI
Kenapa cendekiawan terbaik dan cendekiawan peringkat dua
datang berkompetisi di bidang puisi?
Dan saat mereka kalah,
mereka memaksa pemenangnya minum.
Jelas, mereka tidak tenang saat melihat
kau difavoritkan Yang Mulia.
Sedikit iri itu biasa bagi semua orang.
Kini, setelah aku bantu mereka meluapkan amarah,
kita masih dekat dengan teman cendekiawan
yang bisa saling bantu
setelah mendapat jabatan resmi.
Ini adalah kepegawaian.
Kau sudah selesaikan tugas yang kuberikan?
Tuan,
set buku kuno yang kau minta untuk jual
sudah ditahan oleh Nyonya.
Nyonya bilang
meski pengeluaran Majelis Cendekiawan semua dari Yang Mulia,
para anggota juga harus patungan.
Menurut praktik lama,
tiga cendekiawan terbaik kelas satu
harus berikan uang terbanyak.
Jinshi dari wilayah lain tidak tahu aturan
dan sering buat lelucon bagi mereka sendiri.
Nyonya sudah siapkan uangnya untukmu.
Dan obat untuk pening juga.
Ini.
Siapkan teh.
Du bisa menulis puisi di antara percakapan dan tawa
dan jawab dengan lancar.
Bukan hanya Yang Mulia yang favoritkan dia.
Bahkan Menteri Yu secara pribadi ajak dia untuk naik kereta bersama.
Katanya Menteri Lu juga meminta untuk nikahkan dia
dengan cucu perempuannya.
Kariernya di masa depan jauh dari yang bisa kita jangkau.
Dia punya karakter bagus dan bakat di bidang sastra.
Sayang dia terlalu terburu nafsu.
Dia bertunangan bahkan sebelum lulus ujian.
Siapa sangka dia menikahi gadis dari kedai teh?
- Keluarga penjual teh? - Ya.
Sayang sekali.
Siapa yang berkomentar tak berdasar dan sebarkan omong kosong?
Apa orang bijak mengajarimu bergosip tentang orang lain
di belakang orangnya?
Kau ucapkan keadilan. Terima kasih.
Kebajikanmu mengagumkan.
Sama-sama.
Aku Yan Zimei dari Luoyang.
Kedua pria itu baru saja bicara omong kosong,
dan itu tidak pantas.
Hal itu dorong aku untuk tegur mereka langsung.
Tuan Du, tak perlu berterima kasih padaku.
Silakan.
Silakan.
Kau bilang apa?
Aku lihat dia bicara dengan elegan,
temperamen mudah bergaul dan sopan,
jadi aku mau berteman dengannya.
Aku tak menyangka dia akan mabuk
dan bicara tentang hal yang aneh.
Pelan-pelan.
Yan, kau bilang akan habiskan minuman untukku.
Ternyata kau juga mudah mabuk.
Aku malu.
Yan,
orang yang hargai keindahan akan kagumi pemuda berprospek baik.
Itu sudah sifat manusia.
Meski kita kebetulan bertemu, kita langsung nyambung
dan temukan banyak kesamaan.
Tidak perlu malu-malu soal itu.
Kau takut aku tertawakan kau?
Aku anggap kau saudara susuan dari kehidupan lain.
Aku menyesal tidak bertemu kau lebih cepat.
Baiklah.
Kalau begitu aku takkan sembunyikan darimu lebih lama lagi.
Saputangan ini hadiah dari orang terkasih di masa lalu.
Aku tak mau pisah dengan ini sedetik pun.
Gadis itu dan aku diam-diam bersumpah menua bersama.
Namun ayahku bersikap tegas dan tidak setuju,
jadi kami berpisah, membuat hatiku hancur.
Lalu, dia menikahi pria lain dan jadi janda tak lama kemudian.
Lalu dia ikut keluarganya ke Bianjing.
Selain ikut ujian, aku ke sini juga untuk mencarinya.
Kau punya lingkaran pertemanan yang luas.
Tolong carikan info untukku.
Yan, keluarga apa yang kau maksud?
Dia bilang keluarga Li
di kaki Gunung Phoenix di Luoyang.
Keluarga itu punya lima anak perempuan.
Dan putri tertua adalah yang dia cari.
Itu sepenuhnya tak mungkin.
Tenanglah dan jangan terburu-buru.
Fuhui menikahimu dan ke Bianjing untukmu.
Kau tak tahu betul latar belakang keluarga Li.
Atas dasar apa kau menjamin mereka?
Duduklah.
Yuanming, hal ini sangat penting.
Apa rencanamu?
Aku tak percaya pria itu.
Tapi mereka sendiri yang dekati kita.
Aku berencana balas skema mereka dan ungkap kebenarannya.
Tapi aku harus nyatakan sebelumnya, istriku adalah orang
yang akan menua bersamaku, hingga kematian memisahkan kami.
Jika dia selingkuh dengan pria lain
atau kembali bersama mantannya,
maka bukan dia wanita yang kuinginkan.
Kata-katamu terlalu jauh.
Pasangan paling sempurna pun, berakhir saat satu mati.
Tidak ada yang namanya takkan berpisah, meski dalam kematian.
Untuk suami dan istri,
saat istri mati, suami juga sebaiknya tidak hidup sendiri.
Itulah cinta sejati.
Jika salah satu pihak mudah pergi, lepaskan, atau campakkan,
maka sebaiknya dari awal mereka tidak jadi pasangan.
Sepupu,
hal yang Shouhua mau adalah pasangan untuk hidup bersama.
Bagaimana dia berakhir dengan pria itu?
Aku pikir ini akan jadi buruk.
Tuan-tuan,
aku sudah jelaskan semuanya
karena, pertama, ada beberapa hal
yang tidak pantas jika aku urus sendiri.
Aku mau minta bantuanmu, Chai.
Dan kedua, aku mau kalian berdua jadi saksiku,
andai suatu hari,
di masa mendatang, orang menuduhku
tak tahu terima kasih dan tak berperasaan.
Aku khawatir
kalian berdua tidak bisa jaga rahasia
dan bocorkan info apa pun.
Kau…
Kau bisa selidiki semaumu, tapi kau anggap apa kami?
Meski belati ada di leher kami, kami pilih mati daripada bicara.
Dia benar.
Jika wanita-wanita itu bisa bersatu,
kenapa kita tak bisa bentuk aliansi menantu laki-laki?
Jika aku bocorkan rahasiamu, bagaimana aku bisa hadapi
siapa pun setelahnya, atau terus jalankan Restoran Pan?
Bagus.
Sepakat kalau begitu.
- Sepakat. - Sepakat.
Fuhui, ini kue gandum gula yang kau mau.
Aku sudah ke seluruh penjuru kota
dan akhirnya ketemu di dekat Kuil Empat Raja.
Hari ini, di restoran,
Ibu lihat kau dan Tuan Du
memasuki Restoran Pan satu demi satu.
Kau tak buat rencana membentuk aliansi dan memberontak, 'kan?
Terjemahan subtitle oleh Nur Cholis
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.