Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kakak, makanlah bubur.
Terima kasih. Maaf sudah merepotkan.
Tidak sama sekali.
Nyonya.
Tuan Du sudah kembali. Dia ada di luar.
Cepat. Undang dia masuk.
Astaga.
- Permisi. - Permisi.
Ibu, aku kembali.
Yangxi. Sayangku Yangxi.
- Di sini. - Yangxi.
- Ini aku. - Yangxi.
Ibu, kau bepergian jauh.
Maafkan aku tidak ada di sana. Aku gagal sebagai putra.
Baiklah. Duduklah.
Kalian akhirnya bersatu.
Usap air mata itu.
Aku akan buat dua hidangan lagi.
Ayo rayakan reuni kalian.
Tuan Du, sebelum membawa dia kembali,
makanlah dahulu.
Terima kasih atas usahamu.
Bukan apa-apa, sama sekali.
Maaf sudah merepotkan.
Ibu, bagaimana kau bisa datang ke sini?
Keluarga Liu mau mengambilmu sebagai putra menantu,
jadi mereka memaksaku ke sini.
Jika aku tidak bertemu orang baik,
aku mungkin takkan pernah bertemu kau lagi.
Qiongnu.
- Shouhua? - Keluarga Du sudah pergi?
Mereka baru pergi. Kau butuh sesuatu?
Setelah bertemu Bibi Du,
Kangning belum keluar kamar?
Kemari. Aku perlu bicara padamu.
Terjadi sesuatu!
Terjadi sesuatu.
Tentara mabuk mengagetkan kuda di depan Restoran Pan.
Kuda itu menabrak Tuan Chai.
Dia…
Ini sudah malam.
Kau mau ke mana?
Tampaknya
kuda itu tidak menakuti Tuan Chai.
Tapi menakuti adikku.
Shouhua, kau bohong padaku.
Kau terlalu cerdas untuk itu.
Bagaimana bisa kau percaya kebohongan seperti itu?
Orang yang melihat kalian berdua berdebat
mungkin benar-benar berpikir kalian sudah melupakan masa lalu.
Bagaimana aku tahu perasaanmu yang sebenarnya jika tak mengujimu?
Shouhua, aku…
Kangning,
Bibi Du ada di sini.
Jika kau mundur,
ini kesempatan terakhirmu.
Mulai sekarang, tidak ada jalan kembali.
Siapa orang yang kau pedulikan?
Pikirkan itu baik-baik.
Aku akan pergi.
Kangning.
Dia menunggu di luar. Pergilah.
Kenapa kau lakukan ini?
Kau mengacaukan pernikahanku,
tapi aku tak bisa menghalangi jalanmu?
Kau hanya coba menentangku?
Aku sudah memberimu kemudahan
dan kau benar-benar tidak tahu?
Bahkan orang tidak berperasaan pun
harusnya tersentuh oleh ketulusanku sekarang.
Kenapa kau berkonspirasi dengan Baniang?
Waktu aku tahu, aku hancur.
Kenapa tidak tanya aku tentang pernikahan?
Kau malah pakai paksaan.
Apa yang diperbuat Bibi Du padamu?
Kenapa melibatkan dia?
Jika mau bujuk ibumu,
tidak bisakah kau
buat dia tergugah dengan akal sehat dan emosi?
Kau harus berbohong, menipu, dan bersekongkol?
Apa keluargaku begitu memalukan?
Kau bisa bodohi dia sesaat, tapi bisakah bodohi dia selamanya?
Ibuku dan Nyonya Li saling menyimpan dendam.
Akan butuh waktu untuk memperbaikinya.
Aku akan coba menengahi secara perlahan.
Tapi sekarang, kau akan tunangan.
Apa kau bahkan memberiku pilihan?
Aku juga tidak mau bohong atau menipu.
Tapi kau.
Kau tidak memberiku pilihan selain bersekongkol.
Kenapa? Apa ini menyakiti harga dirimu?
Apa dia menyimpan dendam?
Atau apa dia menganggap keluargaku tidak layak?
Tuan Chai, apa kau sungguh berpikir
hanya ibumu yang memandang rendah aku?
Karena kita sedang bicara jujur,
ada hal kasar yang harus kutanyakan,
meski itu akan membuatmu membenciku.
Apa keluargamu memiliki garis keturunan bangsawan?
Rumah tangga cendekiawan?
Atau apa ibumu tak pernah cari ketenaran dan kekayaan?
Tak pernah mencari koneksi dengan orang kaya?
- Apa? - Jika Yuanming bukan cendekiawan,
akankah Nyonya Li melihatnya?
Orang melihat pelayan di rumahmu,
hampir dipermalukan oleh bajingan.
Mereka berbicara di belakang ibumu
tentang bagaimana dia perlakukan pelayannya.
Gosip itu sampai pada ibuku. Dia, tentu saja khawatir.
Apa kau berharap dia
memohon untuk pernikahan ini?
Apa itu yang kau mau?
Tapi keluargamu adalah keluargamu,
dan kau adalah kau.
Aku menikahimu, bukan keluargamu.
Aku tidak peduli tentang masalah ini.
Lalu, kenapa kau peduli?
Kata-kata bagus.
Katamu kau tidak memandang rendah kami,
tapi memandang rendah ke mana pun.
Kau suka kemurnian bunga teratai,
tapi lupa bahwa itu berakar di lumpur di bawahnya.
Tanpa lumpur yang mencintai dan melindunginya,
itu tidak akan bertahan dari hujan dan angin.
Ibuku punya banyak cela,
tapi dia tidak merampok atau mencuri dan berdiri di atas kakinya sendiri.
Dia membesarkan lima putri sendirian.
Bagiku, dia berharga lebih dari emas.
Aku tidak akan biarkan siapa pun menghinanya.
- Aku… - Tuan Chai,
pergilah
dan cari pengantin perempuan dari keluarga bangsawan.
Kenapa aku harus biarkan diriku dipermalukan?
Gadis sederhana dari keluarga kecil sepertiku
akan menetap di tempatku yang seharusnya.
Hari ini aku bersumpah.
Meski aku menua tidak menikah,
aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di keluargamu!
Kangning. Kangning!
Kangning.
Saljunya turun.
Nyonya kami bilang,
biarkan Tuan Du berbagi kamar dengan Sang untuk satu malam.
Besok, kami akan siapkan kamar yang layak.
Lalu Bibi Du bisa pindah ke sana.
Terima kasih.
Ibu,
kau pasti lelah setelah perjalanan.
- Biar aku siapkan rendaman kaki untukmu. - Kain katun ini terasa sangat tebal.
Yangxi,
keluarga Li perlakukan kau dengan baik.
Bagaimana kau akan membalas mereka?
Berlutut.
Aku dengar banyak cendekiawan
berpikir mereka harta yang langka
selalu coba menguji keberuntungan.
Menunggu untuk menjual diri mereka dengan harga tinggi.
Kupikir, orang seperti itu tidak layak dihormati.
Aku mengajarimu untuk bersyukur,
tapi, apa kau sudah lupa semuanya?
Ibu,
aku mengerti.
Aku akan melamar pernikahan besok.
Tolong, dua mangkuk.
Terima kasih.
TITIK BALIK MUSIM DINGIN
Ini.
- Baik. - Terima kasih.
Ini. Terima kasih. Hati-hati. Panas.
Tak bisa kutangkap.
Dapat.
- Dapat. - Pelan-pelan.
Mainan.
Kincir angin.
Lihatlah.
Tunggu aku.
Terima kasih banyak, Tuan.
Sepupu,
kenapa menolak
kecantikan seperti itu?
Tuan Fan,
apa kau takut dimarahi istrimu?
Jangan takut.
Lagi pula, dia sedang tidur siang.
Itu benar.
Keluar.
Kalian semua!
Ayo pergi.
- Chai An! - Aku tadi sedang bersenang-senang.
Kenapa kau kacaukan?
Ibu mertuaku menikahkan Kangning dengan Du Yangxi.
Apa kau dengar? Kangning akan menikah!
Lalu apa?
Itu tak ada hubungannya denganku.
Baiklah. Kurasa aku seharusnya tidak ikut campur.
Bukan masalahku lagi.
Ibu, ini titik balik musim dingin.
Aku buat sepatu untukmu. Lihatlah apa ini pas.
- Nanti cobalah, ya? - Tentu.
Aku juga buat.
- Ibu. - Lihat. Aku juga.
- Lihat punyaku. - Aku buat gelang perdamaian.
Ini, pakailah.
Aku buat sendiri.
Artinya kedamaian dan keselamatan.
- Tolong pakailah, ya? - Gadis baik.
Wonton sudah siap.
Ini.
Itu warna-warni.
Aku mau ini.
- Ini. - Beri aku satu.
Ini.
Ini terlihat bagus.
Ibu, apa benar kau setuju dengan lamarannya?
Ya, dia jinshi masa depan.
Keluarga Liu tak bisa dapat pasangan seperti itu. Tentu, aku setuju.
Ibu menetapkan itu dengan keluarga Du.
Pernikahannya setelah hasilnya dirilis pada bulan kedua.
Apa Kangning mau menikahinya?
Aku akan ikuti kata Ibu.
Itu baru semangat.
Makanlah.
Aku dapat isian ikan gulamah kuning.
- Yang merah muda ini… - Aku coba.
Jangan makan punyaku. Makan punyamu sendiri.
- Kalau begitu kucoba punyamu. - Aku mau ikan gulamah kuning.
- Aku mau ini. - Tidak.
Apa itu enak?
- Punyaku lebih enak. - Tidak, punyaku lebih enak.
Sepupu,
kau berusaha menikahinya.
Bagaimana bisa katakan hal menyakitkan begitu?
Waktu itu Kangning siap berkata ya.
Andai saja kau berkata-kata lembut,
dia akan batalkan pertunangan demi kau.
Tapi kata-kata kasarmu
membuatnya marah dan dia berubah pikiran lagi.
Sepupu,
kau itu pintar.
Bagaimana bisa kau mengacaukan ini?
Bukankah aku berkata benar?
Belakangan ini,
aku lakukan banyak hal untuknya.
Dia merasa dipermalukan,
jadi dia mau memutuskan hubungan.
Dia sangat tidak berperasaan.
Kenapa aku harus memohon padanya lagi.
Takkan pernah.
Sepupu,
keluarga Li tidak seperti yang lain.
Bagaimana mereka berbeda?
Ibuku juga janda. Dia membesarkan anaknya dengan kesulitan,
tapi dia masih menghargai kebajikan.
Tidak semua orang seperti keluarga Li,
selalu menghitung profit,
mengajari putri-putrinya seperti ini,
mengubah pernikahan jadi kesepakatan.
Sepupu, kali ini, kau salah.
Masuklah.
Dia sangat muda dan cantik.
Dia akan segera menikah lagi, 'kan?
Semua properti ini
akan jadi milik orang lain.
Tentu saja!
Semua ini milik keluarga Li.
Pindahkan semua keluar. Jangan tinggalkan apa pun.
Ambil semuanya.
- Ayo pindahkan keluar. - Baik.
Pindahkan semua barangnya. Ayo lakukan.
Yang ini bagus.
Kau…
Barang bagus.
Ambil barang ini.
Dan ini.
Ambil ini juga.
- Baiklah. - Dan yang ini.
- Itu dari ayahku! - Kangning.
Bisakah kau memegangnya?
- Kubilang jangan… - Kau tidak boleh ambil ini.
- Kembalikan! - Tidak.
Nak.
Kau bajingan.
- Bangun. - Pergi dari sini.
Keluar dari sini.
Perampok! Bajingan!
Kau…
Keluar!
Keluar, kalian semua!
Keluar.
Kuberi tahu. Jika kau tidak beri kami seratus atau lebih,
kami akan kembali besok dan setelahnya.
Bisakah kau bunuh kami semua?
- Ayo pergi. - Itu benar.
Ayo pergi.
Tidak apa.
Yang ini untukmu.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Aku juga mau satu. - Ini cantik.
Aku mau ini.
Ini untukku.
Hentikan. Aku suka itu.
Kenapa kau di sini sendiri?
Yang ini tampak hebat.
Aku mau yang itu.
Tahun ini, Fuhui di rumah bersama kita.
- Akan kubantu Ibu pilih satu. - Ini bagus.
Saat keluarga bisa bersama dan semua aman dan selamat,
itu hidup yang paling bahagia.
Lihat dirimu, berantakan seperti anak kucing.
Aset mendiang suami diberikan pada janda dan putrinya menurut aturan Song.
Penjarahan yang begitu mencolok.
Tak ada yang hentikan mereka?
Tentu saja, ada seseorang.
Hakim menjatuhkan hukuman penjara pada mereka.
Bahkan tetangga coba menengahi,
tapi pertengkaran tak pernah usai.
Saat yang lain gembira merayakan Titik Balik Musim Dingin dan Tahun Baru,
keluarga mereka takut dengan setiap festival.
Takut bandit akan datang.
Sepupu, jika kau adalah Nyonya Li,
akankah kau berbuat lebih baik?
Kenapa terlambat sekali beri tahu ini?
Fuhui melarangku beri tahu kau.
Jangan salahkan Kangning.
Dia tidak serakah.
Dia hanya mau hidup damai.
Mereka tahu dari kecil
bahwa mereka harus tetap bersama
untuk bertahan di dunia ini.
Coba menipu ibumu dengan orang luar?
Pikirmu kau bisa membodohiku?
Kuberi tahu,
aku takkan pernah setuju kau menikahi dia.
Ibu, Kangning akan menikah dengan orang lain.
Kau tidak perlu khawatir lagi.
Apa kau senang sekarang?
Nak,
Ibu hanya mau yang terbaik untukmu.
BULAN PERTAMA TAHUN BERIKUTNYA
Cantik sekali.
Dilarang menggigit diam-diam.
Itu banyak sekali.
Aku cuma mau ambil satu.
Kue-kue ini tidak mudah dibuat.
Ibu membangunkanku
sebelum fajar
- hanya untuk membantunya. - Hari ini ujian provinsi.
Ibu bilang Kangning harus buat kuenya sendiri.
Hanya dengan begitu, itu tulus,
betul?
Kirimkan ini. Cepat.
Sekarang aku boleh bertemu dia?
Aku tahu. Kita akan jadi keluarga.
Aku pergi antar ini ke calon kakak iparku.
Hati-hati. Jangan sampai rusak.
Jangan cemas, tidak akan.
Ibu.
Pergi siapkan barang untuk altar.
Cepat.
- Bangun. Ayo pergi. - Kenapa harus aku lagi?
GEDUNG UJIAN
Berkati kami, Buddha.
Berkati calon putra menantuku.
Biarkan dia lulus, meraih kejayaan,
dan menjadi jinshi.
Kumohon.
Kangning,
jika Du Yangxi lulus, kau harus menikahinya.
Dengan Ibu berdoa sungguh-sungguh,
apa kau berharap dia lulus atau tidak?
Hasilnya keluar.
Hasilnya keluar. Ayo lihat.
Ini terlalu cepat.
Kembalilah tidur.
Hasilnya keluar.
Kangning, ayo pergi.
Ayo berburu harta karun.
Festival Lampion sudah berakhir.
Kembalilah tidur.
Hari ini, Yang Mulia mengunjungi Kuil Puncak.
Dia akan pulang malam.
Jalanan padat.
Semua orang bergegas untuk melihatnya di Gerbang Xuande.
Aku lelah.
Kangning.
Tolong ikut kami.
Ini pemandangan sekali seumur hidup.
Penemuan terbaik setelah kerumunan menghilang.
Jika kita tak pergi sekarang, yang lain akan ambil semuanya.
Aku tidak mau pergi.
- Kangning. - Waktunya tidur.
Pergilah.
- Ayo pergi. - Hei, Kau.
Ayo pergi.
Jika kalian pergi tanpaku, aku akan beri tahu Ibu.
Cepat.
Jangan bersuara, atau Ibu takkan izinkan siapa pun pergi.
Jangan berisik.
Lepas sepatumu.
Kangning, lihat ini.
Bagaimana menurutmu?
Semuanya terinjak-injak.
Ada yang besar di sini.
- Bawa ini kembali untuk Ibu. - Tidak.
Lihat ini.
Apa itu?
Pakaikan padaku.
- Bagaimana? Cantik? - Cantik.
Tapi hanya satu.
Lihat aku.
Apa?
Kita lihat jika ada yang lain.
Mungkinkah itu dia?
Kangning, apa yang kau temukan?
Aku sudah mencari lama dan hanya temukan ini.
- Adik, kemari. - Ya.
Apa ini?
Jepit rambut. Cocok untuk Ibu.
Itu tidak sebagus punyaku.
Apa yang kau lihat?
Tidak ada. Matahari akan segera terbit.
Jika tidak kembali sekarang. Ibu bisa menangkap basah kita.
- Ayo pergi. - Ayo kembali.
Ayo kembali.
Dari mana asalnya barang bagus ini?
Semua yang kita ambil hari ini bagus.
Mungkinkah itu dia?
Ini sudah pas?
Ya.
- Aku saja. - Tidak apa.
Entah berapa hari lagi aku bisa melayani di sisi Ibu.
Pergi. Cari di sebelah sana.
Apa yang terjadi? Ayo lihat.
Leshan, itu kehebohan apa?
Ibu.
Penjaga istana menanyai orang.
Mereka bilang kereta Yang Mulia
lewat jalan ini.
Sesuatu yang berharga sudah dicuri. Aku akan cek.
Leshan, tunggu aku.
- Barang berharga? - Aku menunggu.
Barang berharga macam apa?
Cek itu lalu beri tahu aku. Aku menunggu untuk mendengarnya.
Apa yang kau sembunyikan.
Kemarilah.
Mutiara yang sangat indah
pasti bukan dari rumah biasa.
Mungkinkah dari istana?
Biar aku serahkan.
Bukankah Leshan bilang?
Itu dicuri!
Jika kita serahkan sekarang, kita akan dianggap pencuri.
Kita hanya berburu.
Siapa yang melihatnya mendapatkannya.
Bagaimana ini jadi masalah?
Ayo kita buang saja.
Jika seseorang tak sengaja mengambilnya,
mereka akan dapat masalah. Aku akan merasa buruk.
Itu juga tidak bisa.
Bagaimana kalau kita kembalikan lalu sembunyi untuk mengawasi?
Saat fajar, penjaga akan menemukannya.
Itu akan kembali ke pemiliknya.
Baik, begitu caranya.
Lakukan sekarang. Aku akan awasi untukmu.
Istana kehilangan mutiara berkilau.
Kenapa kau takut sekali?
Itu kau. Ambil kembali, cepat.
Jangan cemas, Kangning.
Ingat waktu pertama kali kita bertemu?
Aku tak sengaja patahkan sisirmu.
Ini hanya untuk menebusnya.
Aku menyimpannya karena keegoisan.
Aku bahkan buat replikanya untukmu.
Aku berencana mengejutkanmu
waktu melamar.
Aku tidak cukup beruntung
untuk menikahimu.
Dahulu aku bodoh
dan mengatakan hal yang menyakitimu.
Tolong maafkan aku
karena emosiku.
Dengan hasil ujian segera keluar,
pernikahan tidak lama lagi.
Aku tidak punya yang lain untukmu.
Sisir ini hadiah pernikahanku untukmu.
Kangning, ada yang datang.
Waktu yang paling kurindukan
adalah saat kita biasa berdebat.
Sayangnya,
kurasa aku tidak akan
punya peluang lagi dalam hidup ini
untuk ditipu olehmu lagi.
Kembalilah sekarang.
Kangning, ayo pergi.
Ambil ini kembali.
Meski kau tidak mau, harusnya jangan dibuang.
Aku menggambar itu dari ingatan. Takkan ada yang kedua di bumi ini.
Apa kau masih merindukan
hari-hari aku menipumu?
Tuan Chai,
terima kasih atas kebaikanmu,
tapi aku akan menikah.
Aku tidak bisa menerima hadiah dari pria lain.
Barang berharga itu. Simpanlah sendiri.
Berikan pada istri masa depanmu.
Jaga dirimu.
Aku juga tak tahu yang ini.
- Ayo. - Siapa yang lulus?
HARI KEDUA BULAN KEDUA
Permisi. Beri jalan.
- Aku lulus! - Di sana.
- Lulus. - Selamat!
Selamat untukmu.
Kenapa aku tidak berhasil?
Kau salah lihat.
Itu namaku.
Aku juga ada di daftar!
- Aku peringkat enam! - Aku lulus!
Kau dapat skor tertinggi provinsi!
Skor tertinggi provinsi!
- Ayo, Tuan. - Cepat.
Kau yang teratas.
- Tuan. - Tuan.
- Yuanming. - Tuan.
- Tuan, ikut kami. - Yuanming.
Yuanming.
Yuanming.
- Tuan. - Suamiku…
Jangan biarkan mereka pergi. Bawa mereka pulang.
Tunggu, tidak.
Aku tidak ingat. Salah lagi.
Akankah ada yang datang?
Pada hari kedua bulan kedua, jalanan padat.
Tidak semua orang keluar.
Datanglah ke tempat kami, tebak nama sayuran liar.
Siapa yang tebakannya benar bisa memenangkan alat tulis,
sutra, atau set teh sebagai hadiah.
Jika salah tebak, anggap saja senang-senang.
Nanti, kita akan adakan pesta petik sayur.
Kita juga bisa menjual arak musim semi. Untuk dapat sedikit uang tambahan.
Lulus!
Apa yang dia menangkan?
Dia peringkat pertama dalam ujian!
Skor tertinggi provinsi!
Apa?
Kak,
putra menantuku, putramu, peringkat pertama!
Skor tertinggi provinsi!
Baiklah, aku mendengarnya.
Aku tahu kau senang. Aku juga sangat senang.
Terima kasih, Buddha.
Di mana Tuan Du?
Aku belum lihat. Dia mungkin sembunyi.
Sembunyi?
Orang kaya dan pejabat
berkemah di luar Kementerian Ritus sejak tengah malam,
menunggu hasilnya. Seperti gerombolan lebah.
Itu pemandangan yang lebih gila dari rumah jagal.
Bodoh! Pergi kirim orang untuk jemput dia.
Pergi.
- Minta bantuan dari toko depan. - Baik.
Chunlai, kembang api.
Tidak. Aku perlu selamatkan putra menantuku dulu.
- Putra menantuku. - Ibu.
- Jangan buru-buru. - Apa…
Aduh, bicara terlalu dini.
Maaf, Kak.
Melihat dia adalah kebahagiaan sejati.
Aku tidak mengira akan memanggilnya terlalu dini.
Tidak dini. Dia pasti putra menantumu.
Sekarang, kita perlu segera rencanakan pernikahannya.
Ayo lakukan. Segera.
Ayo. Bantu aku putuskan.
Keduanya hebat.
Dia putri dari Petugas Istana.
Umurnya 17 tahun, menulis puisi yang luar biasa,
dan pembawaannya anggun.
Tapi matanya agak kecil.
Dia sudah cukup cantik.
Lihat yang ini.
Putri dari Perwira Kavaleri. Umurnya 19 tahun.
Dia cantik sekali.
Tapi yang menyedihkan, ibunya meninggal cepat,
dan ibu tirinya mungkin tak terlalu peduli dengan etiketnya.
Ibu.
Ibu, Bibi, ada berita besar.
Apa ada hal yang belum kuhadapi?
Bahkan di tengah kekacauan, aku tetap tenang.
Kenapa kau panik begitu?
Itu bisa seburuk apa? Lihat dirimu.
Bibi, Sepupu akan pergi berlayar.
Selamat, Nyonya Li.
Matamu yang jeli
menemukan putra menantu hebat.
Ini pasti takdir.
Selamat.
Selamat.
Mereka sungguh pasangan sempurna.
Nak, kau mau berlayar ke mana?
Bibi, kenapa tidak biarkan aku selesai?
Bulan depan, dia pergi ke Quanzhou.
Dia berlayar dengan pedagang asing
ke tanah Arab
menjual sutra dan porselen.
Nak, kenapa kau tinggalkan bisnis keluarga besarmu
dan malah berbisnis di laut?
Apa maumu?
Bibi, tidak adil bilang begitu.
Jika dia membawa sutra dan porselen Song kita
ke luar negeri,
dia bisa membawa pulang banyak wewangian.
Itu sangat menguntungkan.
Katanya, pedangang Quanzhou
bahkan memanen minyak dari paus yang terdampar.
Itu perdagangan yang menguntungkan.
Itu layak dicoba.
Meski lautnya bisa berombak.
Tepat sekali. Angin kuat dan ombak.
Bagaimana jika kapalnya terbalik?
Bibi, jangan terlalu cemas.
Kudengar kapal Quanzhou
setinggi rumah-rumah besar, dengan layar menjulang tinggi ke awan.
Itu bisa membawa 2.000 gantang beras.
Itu tidak mudah terbalik, kecuali terkena badai besar.
Tapi siapa yang bisa prediksi itu?
Bagaimana jika dia terkena badai besar?
Apa kau coba menakutiku?
Bibi, tolong jangan stres.
Kau sudah melihat banyak hal dalam hidup.
Dia tidak akan sesial itu. Dia akan baik-baik saja.
Tapi tanah Arab itu jauh.
Tiga sampai lima tahun tanpa kabar.
Kau harus bersiap.
Tutup mulutmu.
Kau putraku satu-satunya,
kebanggaanku.
Jika kau pergi,
kau akan mematahkan hatiku.
Ini hari apa?
Hari kedua bulan kedua.
Ini hari untuk hasil Kementerian.
Hari kedua bulan kedua.
Ini harusnya hari pernikahanku.
Nak, aku…
Ibu, rute perdaganganku
sudah mencakup seluruh Song,
tapi, aku tidak pernah berlayar ke luar negeri.
Aku selalu dengar pedagang asing
bicara tentang tanah Arab dan Murabit.
Kali ini, aku mau melihatnya sendiri.
Aku berjanji padamu,
aku akan kembali dengan selamat
secepat mungkin.
Jangan cemaskan aku.
Jaga dirimu.
Aku pergi besok lusa.
Masih ada banyak hal yang harus kuatur.
Aku pergi sekarang.
Sepupu.
Bibi.
Dia sudah memutuskan.
Tak ada yang bisa hentikan dia.
Kau mungkin harus menerimanya.
Pergi, siapkan banyak hadiah.
Aku mau ke keluarga Li.
Kedua keluarga setuju dengan perjodohan ini.
Surat pertunangan sudah ditukar,
dan berdasarkan hukum, pernikahan ini harusnya disetujui.
Tapi Dewa Perjodohan
melupakan benang merahnya.
Dan beberapa kata dari kami menghancurkannya.
Nyonya Chai, jadi itu hanya beberapa kata?
Itu salahku, semua salahku.
Aku dengar gosip omong kosong dan tidak pikirkan baik-baik.
Aku berbuat salah pada besan yang baik.
Hari ini, aku datang meminta maaf.
Besanku sayang,
kau sangat baik dan pemaaf. Tolong maafkan aku.
Jangan biarkan kebodohanku
merusak perjodohan yang dikirim surga.
Tidak, jangan bilang begitu.
Aku hanya penjual teh sederhana.
Aku tidak sebanding dengan keluarga Chai yang bergengsi.
Menjadi besanmu
di luar jangkauanku.
Tapi kau tahu,
keluarga miskin pun diberkati oleh surga.
Lihat orang-orang itu
berbaris di luar dengan surat pertunangan?
Mereka di sini untuk bertemu pemilik skor tertinggi provinsi yang baru.
Apa kau tahu itu apa?
Pemilik skor tertinggi ujian sipil.
Di ibu kota, di mana kekayaan berlimpah,
pemilik skor tertinggi itu satu di antara sejuta.
Bakat seperti itu
bisa menikahi keluarga bangsawan.
Apa aku benar?
Tapi dia memilih Kangning karena karakter dan penampilannya.
Dia tidak sabar menikahi keluarga kami.
Ini jauh lebih baik daripada mengintip orang melalui celah pintu.
- Benar? - Kau benar.
Dahulu aku buta dan sombong.
Aku menyinggungmu.
Aku sangat menyesali tindakanku.
Tapi kau sudah membakar jembatannya.
Bagaimana mungkin ada jalan kembali?
Jangan membungkuk padaku.
Meski kau berlutut padaku, aku tidak bisa…
Jangan lakukan ini.
Jika berlutut bisa membuatmu setuju,
aku akan melakukannya.
Harusnya kau memikirkan ini lebih awal.
Besan,
membatalkan pertunangan itu adalah ideku.
Putraku sama sekali tak mau batalkan itu.
Waktu putraku dengar dia dijanjikan dengan orang lain,
dia sangat patah hati sampai memutuskan pergi berlayar.
Kumohon.
Kita berdua menjanda di usia muda.
Kau punya lima putri untuk diandalkan,
tapi aku hanya punya satu putra ini.
Jika kau selamatkan dia, kau selamatkan seluruh keluargaku.
Nyonya,
seseorang dari keluarga Du
datang untuk membahas pertunangan.
Nyonya Chai,
bukannya aku tidak mau,
tapi aku hanya punya satu Kangning,
dan dia sudah dijanjikan pada keluarga Du.
Pertunangan resminya dalam tiga hari.
Tidak ada jalan kembali.
- Silakan pergi. - Aku…
Kumohon pergilah.
Setelah aku pergi,
terus beri ia makan jerami kualitas tinggi ini.
Pilihlah yang berdaun segar.
Ia tidak sabaran, jadi jangan pelit beri gandum.
- Jangan sampai ia merasa dijahati. - Mengerti.
Sepupu!
Apa kau sungguh akan pergi?
Kangning belum melangsungkan pernikahan.
Jadi, dia belum menikah.
Pergilah bicara padanya.
Omongan "pria tidak berlutut" itu. Itu hanya untuk pertunjukan.
Di rumah, kita berlutut pada surga, bumi, dan orang tua.
Berlutut sekali lagi demi orang cantik akan merusaknya?
Itu bukti mereka rapuh.
Kangning dapat pasangan yang baik.
Kita harus berbahagia untuknya.
Aku tak mau pergi, dan kau jangan buat masalah.
Cukup. Aku sibuk.
Jangan ganggu aku.
Pergi beri tahu ibuku aku baik-baik saja.
Sepupu.
Kau sangat mulia dan murah hati,
menyerahkan wanita baik.
Kita lihat jika kau akan menyesalinya.
Persis seperti pemiliknya.
Tuan Fan.
Tuan Fan, Nyonya memanggil.
Terjemahan subtitle oleh Nur Cholis
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.