Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ibu, bisa kau percaya itu?
Rumah mirip kandang merpati itu
harganya lima untai koin.
Bukankah itu perampokan?
Jika hidup sangat sulit,
kita harus berkemas dan pulang.
Tanah kita sudah dijual.
Ibu menyombong pada tetangga.
Katanya mulai sekarang kita akan tinggal di sini.
Kembali untuk diejek?
Itu benar.
Sepupu tertua sangat kaget karenamu,
dia masih tergeletak meringkuk.
Bahkan tiang milik paman kedua dirobohkan.
Sementara waktu jangan menarik perhatian.
Mereka menguras kanal-kanal kita,
coba mengambil lahan kita.
Tanamannya rusak.
Aku hanya menakuti dia
sebagai peringatan.
Jika kau tak hentikan aku,
sekarang dia takkan begitu normal!
Lihat dirimu.
Tenang.
Dia sudah berubah.
Sekarang moralnya sudah baik.
Emosinya terkendali.
Jangan marah, Ibu.
Itu benar.
Ibu.
Pendekatanku pada kerabat yang buruk
mungkin agak ekstrem.
Sekarang sudah berakhir.
Begitu aku tiba di ibu kota,
aku berubah jadi wanita.
Jangan cemas, Ibu.
Jika seseorang meludahiku,
aku akan diam saja,
biarkan itu kering sendiri.
Masalah selesai.
Ibu.
Jangan cemas. Kau bisa tinggal di Rumah Besar Fan.
Aku akan merawatmu.
Itu akan membantu dengan perjodohan
untuk saudari lainnya.
Kebiasaan buruk Kakak Ipar
butuh waktu untuk berubah.
Lain kali saat dia berperilaku buruk,
apa yang harus Ibu lakukan?
Tinggal di bawah atap orang lain terasa salah.
Kau tidak bisa berbuat sesukamu.
Sewa tempat lebih baik.
Kita tidak bisa hidup dengan tabungan selamanya.
Dalam satu tahun,
uang yang kita dapat dari tanah kita akan habis.
Lalu, mengemis di jalan?
Karena tidak ada yang setuju,
kenapa tidak putuskan
seperti waktu kecil?
Kalau begitu, aku yang putuskan?
- Kami milikmu. - Semua milikmu.
Kerabat culas ada di belakang kita.
Dunia tidak pasti di depan kita.
Jadi, peluang terbaik kita
adalah memulai bisnis di sini.
Kerja bersama sebagai keluarga.
Kita akan aman dan nyaman.
Tapi pernikahan buat Ibu paling cemas.
Tidak peduli apa yang kita pikirkan,
kita harus menyenangkan dia.
Ayo.
Ibu, pernikahan itu tergantung takdir,
bukan kekayaan.
Kebanyakan orang habiskan banyak uang untuk mahar.
Kita tidak punya banyak,
tapi meski punya,
kita tidak akan mengejar tren itu.
Lihatlah kami.
Kami menawan
dan pintar.
Dengan mahar atau tidak,
kami akan temukan jodoh yang baik.
Sungguh?
Ya, kami sudah diskusikan itu.
Rumah yang kita lihat,
kita takkan menyewa itu.
Kita akan pilih area lebih ramai
dan memulai bisnis.
Kita bisa berbisnis di mana saja.
Kenapa harus di sini?
Ibu,
menyewa toko, menghasilkan uang,
hanyalah bagian dari itu.
Kuncinya…
Mak comblang selalu omong besar.
Mereka semua, 'kan?
Kakak Kedua menderita karena itu.
Ibu,
kau akan biarkan itu terjadi pada kami?
Kau benar.
Dengan membuka pintu, aku bisa memilih sendiri para pelamarnya.
Hebat.
Oh.
Potret. Di mana potretnya?
Potret?
Aku lupa mengambilnya.
Tidak, ini buruk.
- Kau… - Ibu.
- Potretku… - Ibu.
Ibu!
- Ibu, kau baik-baik saja? - Ibu.
- Ibu! - Ibu.
- Potret… - Air!
- Minumlah. - Air.
Ibu!
- Ibu. - Ibu.
Ini semua bagus.
Sungguh?
- Nona. - Tolong beri jalan.
Semua ini bagus.
- Ayo pergi. - Tuan, lewat sini.
Lama tidak jumpa.
Datang dan lihatlah.
Bagaimana?
Ini baru dibuat.
- Tentu saja. - Jangan buru-buru.
Sampai jumpa.
Baik.
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN
Datang lagi.
Kau mau coba?
Putri Ketiga Li?
Ibu, kau punya lima putri.
Kenapa tidak sebut Lima Keberuntungan?
Kau tahu apa?
Keberuntungan terakhir
masih belum tiba.
Air hanya melonjak untuk meluap.
Keberuntungan penuh mudah berbalik.
Menjadi terlalu beruntung
tidak terlalu bagus.
Ibu benar.
Kupikir empat keberuntungan itu cukup.
Begitu kalian semua menikah
aku akan menampilkan
kelima keberuntungan
untuk dilihat semua orang.
Aku suka ini.
Ibu, jangan cemas.
Tokonya akan laris di sini.
Kita akan pakai ruang depan untuk bisnis.
Ada halaman tengah
untuk cuci baju.
Kita bisa tinggal di belakang.
Kita ganti semua perabotnya.
Ada pintu belakang untuk akses mudah.
Kau tidak perlu masuk lewat pintu depan.
Ayo kita lihat.
Baik.
Konter?
Membuka kedai teh?
Cepat.
- Masuklah ke dalam. - Mau mencuri?
Penampilan apa ini?
Istriku akan melihatku.
Kalau takut, kenapa datang? Lebih baik kembali.
Sobat.
- Kak. - Jangan sentuh aku.
Akhir-akhir ini, istriku makin keras.
Kedai minum, kedai teh, dan gedung opera.
Aku tidak bisa pergi ke sana.
Dia menahanku di rumah membuat pembukuan.
Manajer tua datang untuk berbisnis sepanjang hari.
Aku ditanyai setiap malam.
Jika tak bisa jawab, tak bisa tidur di ranjang.
Aku tidur di sofa selama tiga hari.
- Sepupu. - Lebih baik untukmu.
- Sepupu! - Jika kau terus mengacau,
kau takkan tahu di mana toko kainmu.
Sepupuku sayang.
Aku merasa buruk.
Tidak ada alkohol mulai kemarin.
Dia menghukumku selama dua hari.
Jika kau tidak bantu,
aku akan mati lemas.
Aku takkan ikut campur urusan keluargamu.
Jika kau tak mau berbuat apa pun,
orang lain akan melakukannya.
Kau tidak tahu
betapa kuat adik ipar ketigaku.
Aku merasa buruk.
- Berhenti merengek. - Tuan,
aku sudah bertanya.
Mereka tidak hanya jual teh.
Lebih mirip kedai minuman.
Mereka juga menjual mi dan sup.
Mereka tak tahu cara berdagang.
Tidak ada kedai teh bagus lakukan bisnis itu.
Benar-benar lelucon.
Kau tahu apa?
Ada lebih dari seribu kedai teh.
Karena biaya awalnya kecil,
hanya dengan satu pelayan,
siapa pun bisa jalankan kedai teh.
Tapi itu juga sulit karena ada pesaing di sekitar sini.
Itu bukan bisnis yang mudah.
Jalan Timur
mulai berdagang saat fajar.
Pekerja sif pagi butuh tempat untuk beristirahat.
Kedaiku berada di sini.
Memanfaatkan suasana dan pengunjung,
mereka bisa jual teh dan camilan murah.
Itu cara pintar jangka panjang.
Wow, apa yang ada di kepalamu?
Bagaimana kau jauh lebih pintar dariku?
Bantu aku cari tahu
bagaimana cara menghadapi istriku.
Bibi mungkin
dalam perjalanan pulang, ya?
Mengerti.
Minta ibuku membantuku.
Deqing,
mulai hari ini, beri tahu semuanya
bahwa pekerja sif pagi dipersilakan.
Tuan,
teh kualitas terbaik kita harganya lima untai
hanya beberapa seduhan dan teguk saja.
Teh kualitas rendah kita harganya 200 koin per kati.
Toko di seberang jalan
menjual teh tubruk.
Itu hanya 20-30 koin per kati.
Kita tidak sama.
Sepupu,
ini akan menghancurkan reputasi Pan.
Biarkan mereka punya tempat untuk istirahat dan bicara.
Kita sajikan 200 set teh sehari
masing-masing harganya lima hingga sepuluh koin.
Itu cukup.
Aku tidak akan menjual
teh murah.
Biarkan pedagang kaki lima masuk.
Aku tidak sengaja menyulitkannya.
Dia mau memanfaatkan lokasi ini.
Aku akan beri dia kesempatan
untuk mencuri pelangganku,
bisnisku di sini
akan sulit.
Tidak heran mereka buka tokonya di sini.
Itu tujuannya.
Itu semacam trik.
Bangun, cepat!
Jangan sia-siakan pagi hari.
Putri ketigaku, Kangning?
Putri sulungku, Shouhua?
Ya…
Ke mana perginya semua orang?
Ibu.
- Ibu. - Ibu.
Apinya terlalu kecil.
Kau datang awal pagi ini.
Cepat, Bu. Liu.
- Panas. Hati-hati. - Baik.
- Aku saja. - Chunlai, hati-hati.
Bangunkan Adik Keempat Haode dan Kelima Leshan.
Aku juga akan bantu.
Baik, Ibu.
Bakpao ini wanginya enak.
Haode, Leshan,
bangun.
Kalian sudah bangun?
Kakak.
Kau sedang apa?
Cuci mukamu. Ini air panas. Hati-hati.
Ayo pergi.
Hati-hati.
- Kena mataku. - Aku mau cuci muka.
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN, RESTORAN PAN
Kami baru buka.
Datang dan lihatlah.
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN
Kami buka. Datang dan lihatlah.
Kami buka.
Datanglah coba rasanya.
- Permisi. - Tuan, lewat sini.
Perhatikan langkahmu.
Tuan,
kami baru buka.
Kami punya teh dan camilan.
Silakan masuk.
- Selamat datang. - Baik.
Silakan, lewat sini.
- Ayo. - Lewat sini.
Ya, tidak usah.
Jangan pergi.
Ayolah.
Pasar pagi baru selesai.
Cepat. Jualan.
Cepat.
Camilan dari Pan
dibuat oleh koki master.
Lima koin untuk dua hidangan.
Sepuluh koin untuk empat hidangan.
Semua orang mau mencobanya.
Penjual teh menjual teh sisa.
Satu koin untuk satu cangkir.
Dalam beberapa hari,
mereka akan ambil semua bisnis pagi kita.
Lakukan pekerjaanmu.
Sedikit,
hanya sedikit bisnis,
kau tak mau melepasnya.
Ini dunia macam apa?
Makan daging sendiri,
tidak berbagi sedikit sup.
Tuan, lewat sini.
Benar-benar pelit.
Berusahalah.
Kami baru buka.
Datanglah makan dengan kami di sini.
Kami baru buka.
Tuan, apa yang kau lihat?
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN
Bukankah dia dari keluarga Fan?
Pahit.
Pahit?
Ini teh putih Jianzhou kualitas top.
Satu kubus teh harganya satu untai.
Bagaimana bisa pahit?
Tehnya tidak pahit,
tapi seseorang merasa pahit.
Begitu mereka pergi,
kepahitan itu akan jadi dobel.
Dalam beberapa hari,
seseorang akan datang memohon.
Teh tubruk,15 koin.
Teh medium, 20 koin dan tiga sen.
Teh top, 43 koin dan empat sen.
Teh tablet,
enam puluh lima koin dan empat sen.
Cukup.
Hentikan.
Itu bikin sakit kepala.
Di mana Haode dan Leshan?
Mereka pergi keluar.
Mengecek kedai teh lain.
Coba ini.
Daging babi lapis gula itu mahal. Dijual saja.
Tidak ada yang membelinya.
Aku pergi ke pasar pagi.
Di Bianjing, orang makan makanan enak.
Hanya untuk bakpao kukus,
mereka punya bermacam isian, ayam, bebek, angsa, kelinci,
ikan, belut,
rebung, daging. Apa saja.
Bakpao Kristal dan bakpao Tujuh Isian.
Namanya terdengar hebat
dan tampilannya pun lebih baik.
Tidak peduli ini seenak apa,
kita tak bisa menandingi isian mereka.
Bagaimana ini bisa menonjol?
Ini selalu merugi.
Jika aku tak membayar
sewa enam bulan,
aku akan berkemas dan kembali pulang.
Kenapa repot dengan omong kosong ini di sini?
Tuan Chai yang kejam itu,
kita punya dendam apa?
Kenapa dia lakukan ini pada kita?
Fuhui,
bisakah kau minta suamimu
untuk bicara pada mereka?
Restoran besar seperti ini,
kenapa susah payah demi untung kecil?
Mereka takkan kelaparan, 'kan?
Fuhui.
Fuhui.
Kumohon?
Baik, nanti aku akan beri tahu dia.
Ibu.
Pan bersaing ketat dengan Baifan.
Wajar dia mau penghasilan lebih.
Kita mau manfaatkan kesuksesan mereka.
Mereka bisa potong dengan mudah.
Tapi kembali pada topik.
Dalam bisnis,
kau harus menghasilkan dengan keahlian dan trik.
Tak bisa tergantung Fuhui.
Jika sekarang mereka pegang lehermu,
meski mereka takkan mencekikmu,
akan sulit untuk bernapas.
Lalu kita harus apa?
Beri tahu aku.
Fuhui,
apa yang terjadi?
Kemarin mertuaku kembali.
Suamiku berbaring di ranjang, mengeluh
tentang baca buku laporan dan sakit kepala.
Ibu mertua memeluknya.
Dia kasihan padanya.
Dia bilang aku tidak cukup perhatian.
Dia mau mengambil
selir yang lembut untuknya.
Apa?
Jika aku tidak setuju,
dia akan membuatnya menceraikan aku.
Omong kosong!
Nenek tua itu coba menindas kita.
Dia pikir kau tidak punya bantuan, ya?
Aku pernah dengar tentang
keluarga seperti ini.
Mereka mengatakan
pria hanya bisa ambil satu selir jika tak ada keturunan pada usia 40 tahun.
Tapi, tindakan mereka berbeda. Banyak istri tinggal di satu rumah.
Semua orang mesum menjijikkan dan bajingan bejat.
Dia juga bukannya tidak bersalah.
Dia pikir putranya terlalu sukses?
Kalian baru menikah dua tahun.
Mereka menginginkan selir?
Omong kosong!
Aku akan memarahinya.
Wanita tua tidak tahu malu ini.
Jika dia berani berdebat,
akan kutampar dia
langsung masuk ke Sungai Bian
sebagai kuburannya.
Ibu, jangan buat masalah.
Lalu apa?
Meski jika aku membunuhnya,
aku akan menukar hidupku demi hidupnya.
Wanita yang banyak omong itu.
Biarkan dia terlahir kembali sebagai babi atau anjing.
Ibu, tenanglah.
Jika dia inginkan selir, biar dia lakukan.
Dia akan menyesalinya.
Kangning, maksudmu…
Tidak bisa hentikan dia lakukan itu.
Anggap saja prosesnya butuh waktu.
Mereka perlu melakukan riset di kota
untuk menemukan gadis baik dan lembut.
Kita perlu menjaga situasinya tetap di bawah kendali
dan urus kedai teh dengan mantap.
Shouhua, ayo ikuti rencana.
Tutup kedainya selama dua hari.
Apa?
Tutup kedainya?
Ya.
Kita terburu-buru buka kedai teh.
Kita perlu strategi baru.
Kita baru buka beberapa hari.
Ibu.
Apa kau masih punya uang tersisa?
Uang?
Tidak sama sekali.
- Tentu, kau punya. - Tidak.
Punya.
Tidak punya…
Mereka juga menjual bakpao.
- Silakan. - Segera datang.
Bakpao yang baru dibuat.
Akan aku taruh di sini.
Wonton.
Sampai jumpa lagi.
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN
Jadi, itu rencana mereka.
Tapi masih berjuang.
Mendekorasi fasad takkan banyak membantu.
Tuan.
Tuan Chai.
Keluarga Jin dengan payung biru
menyajikan rebung dan jamur yang lembut
untuk Tiga Kaldu Renyah.
Roti pipih di dekatnya juga terkenal.
Ke timur, permen milik keluarga Xia yang terbaik.
Selain itu, keju Nenek Zhang
dan permen ukir berlapis madu Bai.
Tunggu.
Kau mau periksa semua tempat ini?
Hanya dengan tahu apa yang suka dimakan orang lokal
kita bisa berbisnis dengan benar.
Ayo pergi.
Tuan.
Ada tamu mabuk membuat masalah.
Kami tak bisa singkirkan mereka.
Sampaikan perintahku.
Penyanyi kita takkan berkumpul
di koridor aula utama.
Jika mereka diminta masuk aula, itu hanya untuk musik
dan menemani.
Jika tamu bersikap buruk,
kau dapat izinku
untuk mengurusnya.
Ini tempat terhormat.
Bernyanyi dan berjoget diperbolehkan.
Prostitusi?
Cari itu di tempat lain.
Baik.
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN
Sudah lama sekali.
Masih tidak ada berita.
Berita?
Maksudmu Sifu?
Restoran Baifan.
Kita dapat banyak pelanggan dari pasar pagi.
Mereka mainkan permainan itu pada tanggal satu dan 15 setiap bulan.
Tamu yang belanja terbanyak dalam dua hari ini
bahkan dapat bendera emas sebagai hadiah.
Itu murah hati.
Pekerjaan berlangsung di Sifu
selama beberapa hari.
Diam-diam aku memeriksa.
Aula terbukanya terang dan luas.
Mereka buat itu jadi lebih kecil.
Aku tidak yakin apa rencana mereka.
Oh?
Tuan,
tuanku mengirimku
dengan sebuah pesan.
Katanya ini urusan mendesak.
Tolong beri aku waktu sebentar.
Apa yang bisa sangat mendesak?
Tuanku bilang
ini masalah hidup dan mati.
RUMAH BESAR FAN
Mereka semua gadis baik,
hanya dari keluarga miskin.
Sulit menjalani hidup mereka.
Dia sukarela menjadi selir.
Orang tuanya tidak minta mahar.
Mereka mau dia aman dan hidup berlimpah.
Sekarung beras bagus tiap bulan,
selama dua tahun. Ada satu aturan.
Mereka butuh perjanjian tertulis.
Gadis ini tidak bisa jadi pelayan
atau lakukan kerja kasar.
Menurutku,
dengan kecantikannya,
siapa yang akan buat dia lakukan kerja kasar?
Betul?
Untuk yang dua ini,
mereka tidak secantik dia.
Tapi harganya hanya 100 untai.
Berapa umurmu?
Bisa bernyanyi? Bisa kau menyetel siter?
Ya,
jika mereka bisa main musik,
harganya akan lebih mahal, 'kan?
Kalian berdua, mendekatlah.
Biar dia melihat baik-baik.
Tuangkan aku secangkir teh.
Ini yang kau sebut
masalah hidup dan mati?
Sepupu!
- Sepupu. - Jangan sentuh aku.
Ayahku bilang
aku harus tanya kau dahulu sebelum lakukan apa pun.
Kau tidak bisa tinggalkan aku seperti ini.
Sepupu.
Belakangan ini,
pikiranku terganggu.
Makin aku memikirkannya, aku makin takut.
Sepupu,
sepupuku sayang.
Sepupu, duduklah.
Duduk di sini.
Sepupu,
tolong bantu aku memutuskan.
Haruskah aku
mengambil selir atau tidak?
Mana yang kau suka?
Mereka tidak secantik istriku.
Tapi ibu bilang
ini tentang harga diri pria.
Tak ada rasa hormat dari istri, suami jadi lelucon.
Kali ini dia bertekad
untuk menghancurkan kesombongannya
dan membuatnya patuh.
Aku takut…
Kau juga takut?
Aku takut ini jebakan.
Yang mematikan.
Tidak mungkin.
Itu tidak mungkin.
Istriku selalu menepati janjinya.
Dia tidak pernah mengingkari janjinya.
Fan Lianghan,
lihatlah baik-baik.
Apa istrimu
sama dengan kemarin?
Di balik ini,
mungkin ada beberapa iblis wanita.
Kau baru menyingkirkan harimau,
kini menghadapi serigala.
Sepupu, pikirkan baik-baik.
Berpikirlah jernih.
Jika kau mau berumur panjang,
jangan ambil seorang selir.
Tak ada lagi drama kamar tidur.
- Kau anggap aku apa? - Apa?
Bohong padaku lagi
akan kupatahkan kakimu, Fan Lianghan.
Menjauh dariku.
Sepupu.
Sepupuku sayang!
Sayang,
hanya kau yang kuinginkan.
Aku tidak bisa meminta lebih.
Kirim mereka kembali.
Mereka semua.
Hei! Tapi aku bawa mereka ke sini untukmu.
Bagaimana bisa kau tolak mereka begitu saja?
Tuan!
Pria macam apa cepat sekali berubah pikiran?
Dia jelas tidak tertarik.
Xiu,
beri mereka hadiahnya.
Antar mereka pergi.
- Tentu. - Terima kasih , Nyonya.
Pria Chai itu sangat menyebalkan.
Dia hampir mengacaukan segalanya.
Itu sudah selesai. Kenapa masih menggangguku?
Sepupu, kau belum beri tahu aku
itu jebakan apa?
Jantungku
masih berdebar kencang.
Dengan pikiran lugumu,
itu akan buat kau stres.
Kau masih belum menolak
ide punya selir.
Kuberi tahu, buang ide itu sekarang.
Jangan ganggu aku.
Siapa dia?
Bisnis sudah berkembang.
Banyak wajah tidak familier.
Haruskah aku bantu tanya sekitar?
Pergi, cepat.
Sepupu,
kau datang dan pergi tiap hari.
Apa kau tidak menyadari
matanya sama seperti mata istriku?
Jika aku punya waktu memeriksa gadis,
lebih baik aku baca bukuku.
Bangun.
Sepupu, dengan temperamenmu
kau akan membuat istrimu takut dengan satu kata.
Sepuluh peti mati takkan cukup.
- Bangun. - Aku belum selesai melihat.
Tuan, aku punya detailnya.
Wanita itu tinggal di Jalan Miring Selatan.
Tadinya dia menuju ke Guangzhou.
Dia terpisah
dan ditipu pria jahat.
Dia ke sini sebagai pemain musik.
Setelah mendengar ini,
Tuan Fan bergegas membayar kebebasannya.
Dia bahkan menentukan tanggal
untuk menikahinya dalam lima hari.
Ada yang aneh.
Apa kau ragu?
Aku tidak tahu kenapa.
Ada yang tidak benar.
Orang bodoh itu tidak tahu
kesalahan yang dia buat.
Aku akan gali lebih dalam?
KEDAI TEH SIFU EMPAT KEBERUNTUNGAN
Tidak.
Akan kuselidiki sendiri.
Camilan dari Pan, diminta oleh Kakak Ketiga.
Hanya piring kecil ini.
Manis, gurih,
berdaging, lembut, semua jadi satu.
Manisan plum mille-feuille ini saja
pasti butuh usaha yang besar.
Aku mahir membuat camilan.
Tidak banyak hidangan penutup
yang terlalu sulit bagiku.
Tapi kini aku tidak percaya diri.
Empat buah harganya sepuluh koin?
Pengunjung pasar dini hari
atau pekerja malam
mungkin iseng membelinya,
tapi tidak tiap hari.
Camilan berukuran satu gigitan takkan buat kenyang.
Menurutku,
coba roti pipih panggang khas Qiongnu.
Iris roti pipih jadi potongan tipis.
Lapisi dengan madu.
Panggang jadi renyah.
Harum dan mengenyangkan.
Aku takut orang di Bianjing
akan anggap ini murahan.
Kita tidak pakai bahan baku mahal.
Rasanya harus berkelas.
Beri ini nama lain.
Potong-potong jadi bentuk daun.
Waktu mengunyahnya, itu buat suara renyah.
Ayo kita sebut Daun Renyah.
Kangning, bagaimana menurutmu?
Betul.
Aku saja.
Pakai pintu belakang.
Ganti ke minyak wijen.
Lebih sedikit asap.
Tidak yakin jika rencanamu akan berhasil.
Ayo hemat uang untuk pencahayaan.
Sejujurnya,
semua ini salah pengganggu itu.
Suatu hari,
aku akan beri dia pelajaran.
Lihat dirimu.
Tuan Zhang, tamu yang langka!
Ayo. Aku akan antar ke dalam.
- Lewat sini. - Kau kembali, Tuan.
Keluargamu sudah menanyakanmu.
Beri tahu mereka aku baik.
Aku ada urusan.
Aku akan kembali saat senja.
Bilang ibuku jangan cemas.
Dia bergegas pergi ke mana?
Selamatkan seseorang.
Ayo pergi.
Tuan Chai, ke sini untuk merayakan?
Perayaan apa?
Tuanku mengambil selir baru.
Bukankah kami kirim undangan ke keluargamu?
Tuan Fan bilang
dia mau berbagi sukacita denganmu.
Apa? Kau tidak menerimanya?
Bukankah itu besok?
Tanggalnya diganti.
Tuan.
Lihat dia.
Cantik sekali
dan lembut.
NYONYA FAN
Putraku sangat beruntung.
Cukup. Pergi sajikan teh pada nyonyamu.
Begitu dia meminumnya,
kau akan secara resmi masuk keluarga ini.
Kau salah satu dari kami.
Kenapa kau menangis?
Nona Zhen,
kenapa kau menangis
pada hari yang baik?
Apa kau dipaksa melakukan ini?
- Fan Lianghan? - Ayah.
Aku takkan berani!
Nona Zhen, tolong bicaralah!
Aku berasal dari keluarga sarjana di Jianzhou.
Keluargaku punya karier di pemerintahan.
Enam tahun lalu,
dia meninggal
dalam posisinya.
Ibu dan aku lakukan perjalanan mencari kerabatku.
Dalam perjalanan, aku ditipu penjahat
dan dipaksa melakukan prostitusi.
Hari ini, keluarga Fan menyelamatkan aku.
Akhirnya, aku punya tempat berlindung.
Melihat kebaikan kalian mengingatkanku
pada mendiang orang tuaku.
Aku merasa malu
untuk tidak menghormati leluhurku.
Aku tak bisa menahan air mataku.
Apa?
Kau…
Jadi, begitu ceritanya.
Menyedihkan sekali.
Ambilkan aku beberapa perak.
Ini…
Semua ini salah putraku.
Kami hanya pedagang.
Putri sarjana terhormat sepertimu bukan orang yang bisa kami raih.
Ini konyol. Maaf melibatkanmu dalam hal ini.
Terima uang ini
sebagai kompensasi.
Tenang saja, Nona Muda,
aku akan kirim seseorang untuk mengirimmu pulang.
Kau bisa temukan ibumu dan bersamanya dengan aman.
Ayah?
Terima kasih, Tuanku.
Aku tidak akan pernah lupa.
Tuan berjanji untuk mengirimmu pulang.
Dia akan tepati janjinya.
Cerialah. Ini berita bagus.
Usap air matamu.
Sudah selesai.
Apa?
Tuan Chai.
Seorang pedagang
menikahi putri sarjana?
Apa kau gila?
Apa yang kau pikirkan?
Jika berita tersebar,
seluruh keluarga kita akan menderita.
Aku akan hancur!
Kau orang bodoh tidak tahu terima kasih!
Berhenti! Jangan pukul dia!
Dendam apa yang kumiliki di kehidupan sebelumnya?
Putra tidak berguna dan istri memalukan.
Kau menekan dia untuk mengambil selir.
Kau akar kesialan ini!
Aku akan menanganimu nanti!
Minggir, Bodoh.
- Ayah Mertua, kumohon! - Jangan lari!
- Sayang! - Aku tak tahu apa-apa!
Aku tidak bersalah!
Berhenti! Tolong tenanglah.
Semua ini salahku
karena tidak menghentikannya.
Jika dia bersalah,
aku akan berbagi tanggung jawab.
Hukum saja aku.
Jangan ikut campur! Jangan ada yang ikut campur!
- Anak nakal. - Paman.
- Paman… - Sepupu!
Ayahku akan membunuhku.
Paman, di luar masih panas.
Jangan biarkan panasnya
dan kemarahan menguasaimu. Hati-hati.
Pukul aku dahulu sebelum memukul dia.
Keponakan An, mohon ampun untuknya.
Paman,
pemain musik itu punya hidup tragis.
Dia dijual dan ditipu masuk ke kehidupan ini.
Pemiliknya punya cara menutupi semua.
Kita tak bisa pastikan semuanya.
Nona Zhen diam saja
demi kehormatan keluarganya.
Kau sangat mengenal putramu.
Kepribadiannya
baik dan berhati lembut.
Jadi, dia masuk jebakan itu.
Sekarang dia sudah ambil pelajaran.
- Dia takkan melakukannya lagi. - Tak apa.
Jadi,
demi aku,
kali ini ampuni dia.
Aib bagi keluarga.
Aib bagi keluarga!
Ayah Mertua.
Ibu.
Tidak apa, aku di sini. Jangan takut.
Sayang, kau baik-baik saja?
Sayang,
hanya kau yang mencintaiku!
Baik. Tak apa.
Ini sakit sekali.
Aku tahu. Kemari.
Aduh!
Dia memukulmu sangat keras.
Akan butuh berapa lama untuk pulih?
Nona Zhen.
Dia menjebakku.
Kau benar soal ini.
Kecantikan adalah jebakan.
Para wanita jalang itu
akan menguliti aku hidup-hidup.
Aku takkan pernah ambil selir lagi.
Tidak pernah lagi, tidak di kehidupan ini.
Jika kulakukan,
aku akan terbelah jadi dua bagian oleh petir.
- Satu bagian untukmu. - Tentu.
Sebagai payungmu.
Setengahnya lagi akan jadi pijakan kakimu.
Untuk kau injak
sepanjang sisa hidupku.
Ini sakit sekali.
Baik, aku tahu.
Tuan Chai,
bukankah ada yang mau kau katakan
padanya?
Aku akan pergi beri tahu dia.
Tidak perlu.
- Tuanmu tak bisa diselamatkan. - Aku akan lembut.
Tak ada obat yang bisa menolongnya.
Apa dia dipukul sangat keras?
Jika aku melakukannya lagi…
- Dia sangat sakit… - Aku tahu.
tidak ada yang bisa sembuhkan dia.
- Kau akan baik-baik saja. - Bodoh.
Tahan sebentar lagi.
Kau akan segera membaik.
Terima kasih.
Aku pikir,
seluruh hidupku akan sia-sia di tempat mesum itu.
Aku tak pernah bermimpi bisa keluar dari sana.
Sekarang aku bisa kembali ke rumah.
Aku harus berterima kasih atas bantuan kalian berdua.
Kumohon, biar aku membungkuk berterima kasih.
Tidak, aku tak bisa terima itu.
Kami membantumu,
tapi kau juga membantu kami.
Nona Zhen,
temukan ibumu.
Hidup baik bersama.
Pergilah. Jangan sampai ada yang lihat.
Pergilah.
Hati-hati.
Ambil ini untuk dimakan.
Terima kasih.
Putri Ketiga, ayo pulang juga.
Berhenti.
Aku baru saja lihat semuanya.
Sekarang dia sudah pergi.
Tidak ada bukti apa pun.
Lalu apa?
Tuan Chai,
ini sudah malam.
Aku tidak bisa tinggal untuk mengobrol basa-basi.
Izinkan aku undur diri.
Aku ucapkan selamat tinggal, Chunlai.
Ayo pergi.
Berhenti.
Bakpao dari Kedai Teh Dong Mei, terkenal di Bianjing.
Aku bawa ini untuk kau cicipi.
Jika kau tidak mau berdamai,
laporkan padaku jika kau suka.
Aku pergi.
Sayang sekali.
Dua bakpao dengan isian daging kepiting.
Aku bawa itu untuk riset.
Seperti melempar bakpao pada anjing!
Dia menghinamu.
Maksudnya, jangan ikut campur seperti anjing usil.
Dasar wanita muda yang susah diatur.
Tuan,
haruskah kita beri tahu Tuan Fan?
Pengecut gila itu ada di pelukan istrinya,
menangis tersedu-sedu.
Apa gunanya beri tahu dia?
Ayo kembali.
RESTORAN PAN
Baik, pergilah.
- Para tamu terhormat. - Lihatlah ke sebelah sini.
Kedai Sifu sekarang dibuka.
TOKO WEWANGIAN
Toko Baru.
Ini buka.
Terlihat hebat.
Para Tamu, masuklah!
Lihatlah.
Sifu kembali berbisnis.
- Semuanya. - Cepat datang.
- Toko kami… - Sudah mulai.
mungkin kecil,
- tapi bergaya elegan. - Apa di dalamnya?
Teh dan dupa, bunga dan barang berharga,
kami punya semua, seperti yang disukai kalian para sarjana.
Entah kalian cari tempat istirahat
setelah berjalan menyusuri jalanan
atau kalian baru selesai belanja barang berharga
di menara timur, kalian mungkin mau
barangnya diperiksa dan dievaluasi
atau hanya tempat nyaman
untuk mengobrol sambil minum teh.
Ini tempat sempurna untuk kalian.
Toko kecil dengan keempat seni elegan.
Bukankah ini langka?
Tentu.
Toko kami
punya buku, seni, dupa, dan teh.
Masuklah dan lihat sendiri.
Ayo kita lihat.
Selamat datang, Para Tamu terhormat.
Masuklah.
- Masuklah. - Lewat sini.
Masuklah.
- Lewat sini. - Tuan.
- Ayo pergi. - Ayo coba.
Tuan.
- Lewat sini. - Gantung lebih tinggi.
Gantung…
Lewat sini.
Selamat datang.
Masuklah ke dalam.
Ayo pergi.
Gantung lebih tinggi.
TOKO WEWANGIAN
Baik. Cukup.
Kita lihat sekarang mana yang lebih tinggi.
- Lihat. - Glasir botol ini sempurna.
- Pewarnaan sempurna. - Terlihat hebat.
- Aku suka. - Ini sangat langka.
Kerajinannya sangat indah.
Apa botol ini menarik perhatianmu?
Matamu jeli sekali.
Menurut pendapatku,
kata kekosongan
dalam puisi Zhang itu genius.
Tidak lebih, tidak kurang.
Tempat ini unik.
Sayang ini agak kecil
dibandingkan Restoran Pan.
Kau benar.
Tapi pengeluaranmu setiap hari di sana
cukup untuk teh sebulan penuh di sini.
- Sungguh? - Itu norak sekali.
Kau lihat.
Teh dan puisi.
Instrumen dan lagu.
Semua itu tentang kedamaian pikiran.
Kecil, tapi menawan.
Benar,
tapi kecil juga bisa elegan.
Tempat menarik juga bisa membosankan.
- Terserah kita yang memutuskan, ya? - Tentu.
Jadi, mereka menarik masuk
orang yang tidak mampu bayar ruang santai kita?
Bahkan menggabungkan berdagang buah dan dupa?
Tidak tahu malu.
Sepupu, kau di sini.
Lukisan itu terlihat familier.
Lukamu sudah sembuh?
Berkat perawatan istriku.
Aku harus berterima kasih
kau selamatkan nyawaku hari itu.
Siapa yang menjalankan toko di sini?
Pemahaman baik tentang teh dan dupa.
Putri bangsawan mungkin tidak tahu lebih dari itu.
Keluarga bangsawan kecil seperti Li
pasti punya harapan tinggi pada putri-putrinya.
Manajer di gerai barang berharga bukan orang biasa.
Lewat sini. Tokonya mungkin kecil.
- Manajernya bukan orang lain. - Ambil sendiri.
Ibu Mertua tidak bisa temukan manajer yang tepat.
Jadi, aku merekomendasikan Manajer Liao.
Kau yang kenalkan dia padaku.
Maafkan aku, Sepupu.
Istriku memintaku.
Aku tidak punya pilihan.
Ini hari apa?
Tuan Chai memberkati kita dengan kehadirannya.
Malunya.
Toko sederhana kami terlalu kecil
untuk kehadiranmu yang berharga.
Jadi, tolong,
mohon minggir.
Kami ada bisnis untuk dijalankan.
Hei, Ibu Mertua.
Ibu.
Lukisan itu karya asli Wu Daozi.
Aku meminjamnya dari keluarga Chai.
Tolong bersikap hormat.
Glasir gradien ini,
ini sangat sulit dikuasai.
Sepupu, hanya beberapa hari untuk dipamerkan.
Aku akan kembalikan itu bulan depan.
Nyonya,
aku mau duel teh.
Pembuat tehnya mengesankan.
Teh di sini punya pusaran krim yang bertahan lama.
Cukup berbakat.
Bisakah aku bertemu master teh ini?
Kau terlalu baik, Tuan.
Putri yang belum menikah
tidak bisa menemui tamu.
Tidak terduga.
Master tehnya
adalah wanita muda?
Ruang kerjanya menyembunyikan banyak bakat.
Bahkan melati di pot ini
sungguh indah.
Apa dia juga membuat ini?
Aku di sini menjalankan bisnis untuk mencari nafkah.
Aku tidak mau bicarakan putri-putriku seolah itu topik percakapan.
Jadi, maafkan aku.
Nikmati teh kalian.
Silakan ambil sendiri.
Lupakan saja.
Kita bisa ke sini lagi.
Banyak kesempatan bertemu dia.
Sepupu, tunggu aku.
Sepupu.
Apa yang begitu lucu?
Aku senang kita punya banyak pelanggan.
Hati-hati, ini panas!
Apa Tuan Chai menyinggungmu?
Kau minta Tuan Fan pinjam lukisan itu.
Sengaja buat dia marah?
Dia itu tukang ikut campur.
Biar tahu rasa.
Apa kue ini sudah siap?
Sepupu, kenapa tidak beri tahu aku lebih awal?
Aku cek sumbernya dari rumah mesum.
Aku melacak pria itu
yang menipu Nona Zhen.
Aku paksa dia ungkap ceritanya yang sebenarnya.
Aku bergegas kembali
untuk beri tahu kau.
Hentikan.
Masalah itu sudah selesai.
Mau ungkit ini lagi? Berhenti bermimpi.
Kalau kau mau dihajar lagi,
aku takkan menghentikanmu.
Tapi bagaimana mereka tahu
aku akan memilih Nona Zhen?
Kau itu gila.
Waktu itu di Luoyang, kau pergi mengumpulkan sewa,
kau bertemu Fuhui pertama kali
waktu dia keluar jalan-jalan.
Apa itu juga direncanakan?
Lupakan, kau takkan dengarkan.
Deqing, bawa dia pergi.
Sepupu, kau harus bantu aku di sini!
Aku tidak punya sepupu bodoh.
Kau hanya lebih tua setengah jam,
dan aku memanggilmu sepupu
selama bertahun-tahun.
Ya. Selain itu, ingat waktu kau jatuh ke sumur itu?
Aku menangis cari bantuan dan selamatkan kau.
Sebenarnya kau mengompol ketakutan.
Berhenti memuji diri sendiri.
Deqing, bawa dia pergi.
Kalau begitu aku akan dengar kau.
- Menjauh. - Akan patuh.
- Bangun. - Aku bersumpah.
Aku takkan lakukan sesuatu di belakangmu.
Sungguh?
Jika kau bersikap lemah dan kacaukan rencanaku lagi,
aku sendiri yang akan lempar kau ke sumur.
Deqing.
- Panggil Manajer Liao ke sini. - Tentu.
Ya. Bawa dia
dan lukisannya kembali.
Menjauhlah.
Tuan, silakan masuk.
- Lewat sini. - Selamat datang.
Kau punya keberanian pakai manajerku
dan meminjam lukisanku?
Membayar bunga terdengar masuk akal.
Terjemahan subtitle oleh Dwi Retno Wati
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.