All language subtitles for Perfect Match E01

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PEMERINTAHAN RENZONG DI DINASTI SONG UTARA

Bos, beri aku satu yang segar dan panas.

Baunya enak juga.

BIANJING

Sebentar.

- Baiklah, aku beli itu. - Baik.

Minyak wijen. Minyak wijen kualitas top.

- Roti kukus. - Minyak wijen.

Enak dan panas.

Kue kacang.

Mari lihatlah.

Ayo beli yang ini.

- Enak dan panas. - Ini.

‪RESTORAN PAN

- Selamat datang! - Sekarang mereka punya pemilik baru.

- Apa Restoran Pan menjual Penglai Chun? - Ya, benar.

Kalau soal anggur enak,

Meishou dari Restoran Baifan yang terbaik.

Ayo kita coba.

Ayo.

Pelayan, meja untuk tiga orang.

Tiga tuan, silakan masuk.

Lenganku mati rasa karena kau di pundakku.

Bangunlah.

NYONYA LI

PUTRI TERTUA, SHOUHUA

Ayo. Sikat gigimu.

Ibu pelit sekali.

Kenapa tidak sewa kursi sedan untuk pergi ke kota?

Itu nyaman dan terhormat.

Berisik sekali.

Kau menginjakku.

PUTRI KELIMA, LESHAN

- Hentikan. Kendaraannya berguncang. - Cepat.

Minyaknya tumpah.

- Baik. - Kau.

Ibu.

Berhenti main-main. Cepat. Masih ada sisa minyak rambut.

- Ayo. - Hanya diam waktu kau tidur.

- Dia menginjakku. - Jangan bergerak.

Jangan sebut orang-orang sialan itu lagi.

Di siang bolong,

mereka mulai melamun.

Mereka langsung minta 120 koin.

Seratus dua puluh koin, sungguh?

Nanti, waktu tiba di rumah kakak keduamu,

semua sedan bisa kau duduki kalau mau.

Tidak heran semua orang bilang

kemegahan Bianjing tidak tertandingi di dunia.

Adik,

lihat pintu itu. Mereka bahkan pasang lengkungan dekoratif.

Dan ada beberapa wanita dengan bunga di rambutnya di paviliun.

Di sebelah sana.

- Biar aku lihat. - Hati-hati dengan minyaknya.

- Rokmu. - Hati-hati.

Bisakah kau sedikit lebih dewasa?

Panekuk.

Ayo, Tamu Baik. Belilah satu.

NYONYA LIU, CHUNLAI

QIONGNU

RESTORAN PAN

Kak.

Lihat sebelah sana. Seseorang berpakaian bagus sekali.

Bukankah itu baru?

Bisa kita pakai baju begitu di masa depan?

- Tanya Ibu. - Ayo menetap dahulu di Bianjing.

Lalu, akan kucarikan suami yang baik untuk masing-masing dari kalian.

Setelah itu, aku tidak akan punya penyesalan.

CHAI AN

Tuanku.

Selamat menikmati makananmu, Tuanku.

Aku akan di luar. Panggil saja jika perlu apa pun.

Sekarang ini di kota ini,

hanya Master Chai yang punya kekayaan senilai 10.000 untai koin.

Dalam sekejap mata, dia mengambil alih toko sebesar itu.

Tapi, kudengar pemilik lama sudah rugi besar selama tiga tahun berturut-turut.

Kehilangan banyak kekayaan.

Kalian yang kurang berani.

Master Chai itu orang seperti apa?

Beritanya disebarkan dari Istana.

Siapa pun yang ambil pajak miras sebesar 20.000 emas dari Restoran Pan,

akan diberi wewenang untuk membuka 1.000 toko minuman keras.

Kau takkan perlu khawatirkan uang tunai

saat itu mengalir seperti air.

Itu akan fantastis.

Orang biasa mungkin tidak pernah dapat berita itu.

Meskipun mereka tahu,

siapa yang berani mengeksekusi?

Benar.

Katamu takut dingin, 'kan?

Semua jendelanya ditutup,

tapi kau tidak melepasnya.

Kau bukan perempuan.

Pria dewasa keluar memakai ini?

Kemarin aku disengat lebah

dan bengkak besar sekali.

Aku tak mau merusak pemandangan.

Aku malu.

Tadi malam aku terlalu banyak minum

dan terjatuh.

Takut ditertawakan karena ceroboh saat mabuk.

Kuharap kalian akan memaafkanku karena ini.

Jangan khawatir.

Semuanya, keluar.

Keluar!

Aku…

Letakkan.

Lebah yang besar sekali.

- Apa itu istrimu lagi? - Bukan.

Tadi malam aku mabuk

lalu agak intim dengan pelayan.

Istriku marah, dan jadi pertengkaran.

Aku jatuh dari ranjang. Tapi tidak apa.

Kau benar-benar tidak berguna.

- Ayo pergi. - Ke mana?

Aku harus temui istri cerewetmu.

Tidak boleh, jika kau memprovokasi dia,

dia mungkin akan memakanmu.

RUMAH BESAR FAN

Waktunya tidak pas.

Tuan dan nyonya kami

pergi liburan musim panas.

Mereka tidak ada di rumah.

Tolong beri tahu tuanmu

keluarga istrinya melalui perjalanan jauh dari Luoyang untuk berkunjung.

Dia pergi bertemu beberapa teman.

Lalu, kapan dia akan kembali?

Pada siang hari,

biasanya dia ada di rumah Sang.

Setelah itu hiburan malam.

Kita takkan tahu kapan dia akan kembali.

- Ada apa? - Apa maksudnya?

Kalau begitu, tolong pergi lagi

dan beri tahu putri kedua kami untuk keluar dan menyapa.

Dia ke Kuil Xiangguo untuk acara amal.

Maaf sudah merepotkan, Nyonya.

Tolong datang lagi lain hari.

Baiklah. Kembali.

Singkirkan ini. Sangat tidak enak dilihat.

Nyonya, apa yang kau lakukan?

Tidak kemarin,

tidak juga besok.

Kebetulan sekali.

Kami baru tiba dan semua orang keluar.

Tampaknya suratku ditujukan pada anjing.

Nyonya,

tolong jangan marah. Mereka tidak di rumah, sungguh.

Kembalilah dan beri tahu tuanmu.

Saat putri keduaku masih di rumah,

kami selalu menyapa tamu jauh dengan sopan santun.

Kami tak pernah biarkan mereka berlama-lama di depan pintu,

menunggu bahkan tanpa secangkir teh. Ini omong kosong.

Putri kedua kami ikut keluarga Fan kurang dari dua tahun lalu.

Kini dia mengabaikan ibunya yang janda dan saudarinya.

Ini bukan pernikahan.

Ini merendahkan diri menjadi orang biadab.

Dan untuk orang itu,

yang berhati yang jahat dan rendah itu,

anggap saja aku buta dan sia-sia membesarkannya.

Kembalilah dan beri tahu dia.

Meski jika harus mengemis untuk makanan mulai sekarang,

aku takkan pernah ke sini, di pintu keluarga Fan.

Ayo pergi.

- Tapi… - Tidak perlu.

- Apa? - Ayo pergi.

RUMAH BESAR FAN

PUTRI KEDUA, FUHUI

Ibu.

Sayang sekali.

Sangat disayangkan untuk…

mahar 200 untaiku.

Dua ratus untai?

RUMAH BESAR FAN

Sudah mulai gelap.

Waktunya istirahat.

Kau mau menginap?

- Lepaskan bajumu. - Tuanku.

Maksudku, aku mau pinjam bajumu.

Ibu, jangan marah.

Kakak kedua mungkin punya kekhawatiran sendiri.

Ibu, ini rebusan untuk menenangkan sarafmu.

Minumlah sedikit saja.

Sia-sia membesarkannya.

Sungguh. Sia-sia.

Sangat tidak tahu terima kasih.

Binatang buas yang tak tahu terima kasih.

Kemari.

Ambil 200 koin ini.

Beli beberapa kue daging keledai,

sedikit sup kacang hijau,

dan cincau untuk mendinginkan.

Aku takut Ibu tidak punya selera makan.

Kompor itu terlihat cukup bersih bagiku.

Tolong pinjam beras juga.

Minta Chunlai membuat bubur beras.

Kami akan selesaikan biaya menyalakan api besok.

Apa kau tahu jalannya?

Ibu suka pilih-pilih.

Kau bisa pergi ke Zhang untuk kuenya, di seberang jalan.

Belok kanan dan terus jalan sampai tiba di Jalan Kedua.

Seratus langkah lagi, kau akan lihat kedai mi ikan Wang.

Di sisi timur kios, ada Toko Sepatu Lucky.

Di sebelahnya, cincau keluarga Lin ada antrean panjang. Beli dari sana.

Aku tidak bisa melihat dengan jelas selama perjalanan yang berguncang.

Tapi terima kasih, Putri Keempat. Ingatanmu bagus.

Kalau begitu aku akan pergi.

Ibu.

Ini dingin.

Di mana Putri Ketiga?

Mereka bilang Master Chai

mengundang beberapa orang,

bermain dan bernyanyi. Bising tiada henti.

Lalu, dia terlalu mabuk untuk berjalan.

Dia harus digendong pulang.

Bagaimana dengan suamiku?

Tuan muda tinggal bersama seorang gadis

di kamar samping.

Bajingan nakal itu.

Putri.

Putri.

Fan Lianghan, kau sudah bersumpah.

Tak bisa dipercaya istri kasar dari keluarga Li di Luoyang.

Almarhum ayahmu pasti gelisah di kuburnya.

Ada pepatah,

"Orang kejam tak punya hati.

Orang jelek itu iri."

Lima putri dari keluarga Luoyang Li semua terkenal dengan kecantikannya.

Kau tidak jelek atau kejam.

Kenapa begitu cemburu?

Harusnya ini antara kalian berdua.

Aku tak pernah berniat lakukan ini.

Tapi, kau memukul dan memarahi suamimu, buat masalah rumah tangga diketahui orang.

Dia sepupuku. Aku tak bisa mengabaikannya.

Menikahi suami baik harusnya jadi hal hebat dalam hidup.

Aku nasihati, Adik Ipar.

Mulai sekarang, buang iri hati demi kebaikan dan kesombongan.

Jangan langgar tujuh aturan perceraian

karena marah dan cemburu.

Berakhir sebagai wanita bercerai dan terbuang

akan membawa aib bagi keluarga Li-mu.

Keluarlah.

Sepupu, itu saja?

Jika Bibi tak memintaku, aku tak mau repot dengan urusan sepelemu.

Kalian berdua tak pernah damai.

Jika dia buat satu kesalahan, kau buat sembilan.

Sifat galak dan cemburunya, aku yakin kau yang memicunya.

Fan Lianghan,

jika berani main-main di luar lagi

dan kabar itu sampai padaku,

Aku akan lebih dahulu beri kau seratus cambukan. Jika kau mati, biarlah.

Sepupu,

aku hanya melihat dan bicara soal itu.

Aku tak pernah serius soal itu.

Istriku terlalu galak.

Kapan pun nyamuk terbang mendekat,

dia harus tangkap itu untuk cek gendernya.

Sepupu.

Kau membuatku gila.

Aku akan jalan-jalan. Jangan mengikuti.

Kembalilah.

Mulai sekarang, buang iri hati demi kebaikan dan kesombongan.

Jangan langgar tujuh aturan perceraian

karena marah dan cemburu.

Berakhir jadi wanita bercerai dan terbuang

akan membawa aib bagi keluarga Li-mu.

Kakak Kedua.

Berlutut.

Di depan saudari-saudarimu,

sampaikan yang kau pikirkan.

Buatlah ini jelas.

Nyonya.

Putri Kedua sudah banyak menderita.

Adik Kedua.

Waktu pertama aku ikut keluarga Fan,

aku juga disukai Ibu Mertua.

Saat itu kami pasangan harmonis.

Tapi, seiring berjalannya waktu,

aku tahu putra sulung Fan berhati lemah.

Teman-teman di ruang tamu.

Gadis aneh main seruling dan kecapi.

Semua orang adalah favoritnya.

Siapa pun yang menangisi hidup di depannya,

dia akan menangis bersama mereka.

Sering dengan mata merah dan bengkak,

dia kembali dengan dompet kosong.

Orang tua kasihani putranya.

Beberapa kali memarahinya, dia tak pernah berubah.

Mereka menyerah padanya.

Apa ini?

Tapi tidak benar jika kau bilang dia perlakukan aku dengan buruk.

Harta bermanik-manik dan barang-barang aneh di kamarku,

gadis kerajaan mungkin tidak memilikinya.

Aku mau belajar main Dakyu.

Dia sangat membantuku

dengan mengatur tim dan klub.

Pada bulan Maret, dia mengajakku main ayunan air.

Dia jatuh dari tempat tinggi,

hampir kehilangan nyawanya,

semua demi aku dan senyumku.

Mungkin aku terlalu cemburu

untuk jadi istri yang baik.

Jangan beri aku alasan.

Aku bertanya padamu.

Apa ini?

Mengunyah kerikil untuk mengatasi rasa cemburu.

Ibu.

Aku tidak mau memakai kekerasan.

Reputasi buruk tersebar ke mana-mana.

Tapi aku…

tidak bisa mengubahnya.

Fuhui.

Adik Kedua takut kita menjadi beban bagi keluarga Li.

Makanya hari ini dia menolak bertemu kita.

Apa maksudmu?

Tidak, itu benar.

Enam wanita galak keluarga Li

menakuti semua mak comblang di Luoyang.

Jika berita tersebar di Bianjing tentang gadis pencemburu Keluarga Li,

itu akan sangat buruk.

Kupikir itu masalah besar,

seperti akhir dari dunia.

Di antara lima gadis ini,

kau paling mirip dengan ayahmu yang lemah dan linglung.

Ibu, kau tidak mau aku menahannya?

Bertahan itu pendekatan sementara.

Tapi sekarang kita di sini.

Kita akan buat dia berubah bukannya kau menoleransi semuanya.

Maksud Adik Ketiga, melihat ke belakang, keluarga sudah hancur

karena menuruti hawa nafsu, miras, kekayaan dan amarah.

Minum berlebihan dan nafsu

menyebabkan gosip dan pertengkaran,

bahkan sampai cedera fisik dan pembunuhan.

Ada banyak sekali kasus di dunia ini.

Adik Ipar masih muda dan tidak sabar.

Sebaiknya dia memupuk moral dan hindari perselisihan.

Jika kau takut pada gosip

dan menurutinya secara membabi buta,

itu akan sebabkan masalah di masa depan.

Itu sama sekali tidak baik.

Kalau begitu, Kakak, aku harus apa?

Menangani akar masalahnya tidaklah sulit.

Aku takut Kakak Kedua tidak mau melakukannya.

Aku mau.

Selama itu baik untuknya,

aku akan lakukan apa pun.

Maka, tidak masalah.

Jika ikuti saranku, dalam setengah tahun,

jika kau suruh ke timur, dia takkan pernah ke barat.

Jika kau suruh pegang bajak, dia takkan berani memanjat tangga.

Dia akan jadi suami yang patuh dan taat.

Tidak, dia akan jadi suami rendah hati

yang sungguh-sungguh memperbaiki jalannya.

Semua sama saja.

Kakak Kedua, dengan kecantikan dan kebaikanmu,

harusnya dia tak lakukan apa pun selain menyayangimu.

Jika aku jadi kau,

aku akan hajar dia dan lihat isi otaknya yang konyol.

Mulai hari ini,

dia akan lihat sihir putri ketiga kita.

RUMAH BESAR FAN

Tuanku.

Tuanku.

Putri meninggalkan pesan.

Ibu mertuamu dan saudarinya sudah tiba di Bianjing.

Hari ini mereka mau ke toko sutra untuk membeli kain.

Tuanku, tolong tinggal di rumah

dan menyiapkan jamuan makan lezat.

Apa katamu? Katakan lagi.

Fan Lianghan.

Sepupu, kau datang.

Bukankah kemarin kau bilang,

toko baru sutra Zhuang baru ambil banyak pelanggan tetapmu?

Hari ini aku ada waktu. Aku bisa ke sana denganmu.

Ayo lihat trik apa yang diam-diam mereka mainkan.

Bangun.

Bersikap baiklah. Kau lupa yang kukatakan beberapa hari lalu?

Sepupu.

Hari ini istriku tidak ada di rumah.

Hari ini istriku tidak ada di rumah.

Tuanku.

Putri sudah kembali.

Cepat. Pergi.

Cepat. Bergegaslah.

Pergi.

Tidak ada waktu.

Tidak ada waktu.

Sudah terlambat. Putri sudah kembali.

Di mana aku bisa sembunyi?

Di mana aku bisa sembunyi?

Putri sudah kembali.

Di sini.

Keluar.

Tidak.

Sepupu.

- Sepupu, selamatkan aku. - Bangun.

- Selamatkan aku, kumohon. - Bangun.

Jangan permalukan aku.

Sayangku,

ada hal penting yang mau kuberi tahu.

Ini gejala migrain.

Kenapa dokter belum sampai?

Dokter sudah diberi tahu dan segera ke sini.

Tuan, tolong tahan sebentar.

Cepat.

- Putri. - Apa yang terjadi?

Ini sangat parah, Istriku.

Tolong!

Ini sakit.

Nyeri.

Nyeri.

Putri.

Kau pasti terlalu banyak minum.

Kembali malam hari naik kuda dan masuk angin lagi.

Orang sering sakit karena melakukannya.

Untungnya, itu tidak sulit disembuhkan.

Tidak perlu dokter. Aku bisa mengobatinya.

Aku penasaran, Adik Ipar, obat macam apa yang kau siapkan?

Datang.

Putri, obatnya datang.

Ayo, Tuanku. Aku sendiri yang akan melayanimu.

Sepupu Chai, tenanglah.

Begitu obat ini diminum, semua penyakit akan sembuh.

Aku tak pernah dengar obat yang sembuhkan semua penyakit di dunia.

Apa obatnya benar?

Benar. Ayo. Minum ini dahulu.

Rasa apa ini?

Tuanku, ini obat lokal.

Air seni anak laki-laki. Khusus mengobati menggigil, demam, dan sakit kepala.

Tahan saja.

Cepatlah ke sini layani tuan.

Cepat.

Ayo.

Jika tuan menolak minum obat, aku penasaran, apa kau pura-pura sakit?

- Tidak. - Tidak minum?

Aku akan minum.

Ini.

Salahkan dirimu untuk itu.

Habiskan semuanya.

- Semua akan baik-baik saja. - Siapa di sana?

Baiklah, muntahkan dan kau akan baik-baik saja.

Air seni anak laki-laki?

Adik Ketiga, apa itu benar air seni anak laki-laki?

Tentu saja bukan.

Itu hanya cuka dengan air.

Ditambah lima sendok garam, enam sendok kecap, dan tiga gula.

Di antara lima bersaudari,

kau yang paling nakal. Hampir membuat adik iparku ketakutan setengah mati.

Kakak Ketiga selalu pintar dan licik.

Jika kau tanya aku,

masalah cabul paling mudah diperbaiki.

Patahkan saja kakinya.

Ikat dia ke tiang tempat tidur Kakak Kedua, dan dia akan bersikap baik.

Makan saja.

Di Bianjing, aku sendirian dan tanpa bantuan.

Sekarang, ibu dan saudariku datang.

Kalian orang paling penting dan dukungan bagiku.

Rasanya menyenangkan.

Dua Tuan-tuan.

Tuan muda di tempat belajar. Lewat sini.

Ayo pergi.

Tunggu.

Siapa yang di dalam paviliun ini?

- Keluarga Nyonya Muda datang berkunjung. - Biar aku lihat.

Itu para sepupu cantik Fan. Mereka datang ke ibu kota.

Aku dengar Fan sering memuji bahwa kecantikan mereka tak tertandingi.

Seolah mereka dewi yang hidup diasingkan.

Ini, lihatlah.

Itu langka.

Kupikir kita harus mengunjungi mereka.

Mengunjungi.

Tidak bisa, Tuan.

Kami takkan menyulitkanmu. Hanya melihat.

Hanya melihat sekilas.

Tidak, kumohon. Tidak boleh.

Ini, biar aku tuang sedikit lagi.

Dari kejauhan,

tak bisa lihat wajah mereka dengan jelas.

Siapa yang tahu mereka cantik atau tidak?

Ya, Tuan-tuan.

Kalian tidak bisa mendekat.

Jika tertangkap mengintip para wanita,

bukan hanya kita,

Tuan Muda akan dapat masalah.

Diamlah.

Aku punya ide.

Ini tidak bisa diterima.

Aku sering ke sini. Cepat atau lambat, akan bertemu para gadis itu.

Jika kau ribut, aku akan bilang kau yang menghasut.

Aku…

Aku sudah siapkan kamar.

Kenapa kalian tidak menginap?

Bantu bicara pada Ibu?

Di sini, ini Rumah Besar Fan, bukan milik Li.

Tidak pantas untuk saudarimu yang belum menikah

tinggal lama dan anggap ini rumah sendiri.

Itu akan jadi lelucon semua orang.

Selain itu,

jika keluarga dari rumah Ibu tinggal lama di tempatmu,

nanti keluarga Fan akan

memandang rendah dirimu.

Apa?

Kenapa kau tertawa tanpa alasan?

Beberapa hari lalu, aku lihat lelucon di buku.

Itu lucu tapi vulgar.

Aku takut menyinggung saudariku.

Aku akan simpan dan menikmatinya sendiri.

Aku mengenalmu.

Jika tidak mengatakannya, kau akan murung. Ceritakan.

- Bagilah sekarang. - Katakan.

Baiklah. Aku akan mulai.

Dalam gambaran besar, tak ada yang lebih remeh dari semut dan lalat.

Tapi, suatu hari, mereka mulai berdebat.

Semut bilang, "Meski aku kecil,

ada kekuasaan dan perbudakan dalam perilakuku.

Waktu menemukan makanan,

aku pasti akan berbagi dengan yang lain.

Soal kesetiaan dan bakti pada orang tua, aku yang memimpin."

Lalat itu tidak yakin.

"Itu semua bagus, tapi tak ada yang menikmati sepertiku.

Di istana dan taman kekaisaran,

rumah besar orang kaya,

dan saat pesta besar,

aku bisa masuk dan berkeliaran sesukaku

dan menikmati dengan bebas.

Aku harus memimpin."

Mendengar hal itu, nyamuk menyatakan ketidaksetujuannya.

"Meski kalian berdua bicara kesetiaan, bakti pada orang tua, dan kekayaan,

tidak satu pun dari kalian yang hidup sebahagia dan sebebas aku."

Bagaimana bisa?

"Di tengah malam, ketika semuanya sunyi,

di dalam kamar harum wanita,

aku bebas datang dan pergi.

Terlepas dari statusnya sebagai putri atau wanita bangsawan,

pahlawan wanita atau dewi,

aku hanya pilih tempat termanis dan terlezat untuk dinikmati

dan hanya berhenti ketika aku puas."

Mendengar ini, semut dan lalat marah.

"Lihat dirimu, dengan moncong tajammu. Sungguh bejat."

Beraninya kau?

Kau tahu siapa pamanku?

Jangankan memandang sekilas,

bahkan jika kau jadi selirku, itu keajaiban bagi keluargamu.

Mengacau denganku,

kau dan keluarga Li akan dalam masalah.

Bajingan.

- Terima sekopku. - Adik kelima.

Kau.

Tolong.

Kau hedonis buta, binatang tak tahu malu!

Beraninya kau bermimpi jadikan kakakku selir.

Tamak dengan kemakmuran untuk keluargaku,

kenapa kau tak datang dan sujud padaku?

Jika kau tidak tutup mulut kotormu dan menarik kembali ucapan tak pentingmu,

awas kena sekopku. Ini akan hancurkan hati serigalamu.

Aku akan cabut keluar usus kotormu

dan memberimu makan petasan.

Kau takkan pernah reinkarnasi di akhirat.

Adik kelima, tolong tenang.

- Kau… - Apa?

Ingat.

Putri Ketiga Li yang mengalahkan kalian hari ini.

Tak ada hubungan dengan orang lain.

Kalian menyamar jadi pelayan di siang bolong,

mengintip wanita.

Merundung orang dengan kekuatan pinjaman, bagai rubah menyamar jadi harimau.

Tercela dan hina, tak tahu malu dan tak berperasaan.

Jika tidak terima ini, pergilah ke Biro Surat untuk membicarakannya.

Meski pamanmu raja naga atau dewa di gunung,

Hukum Song masih berlaku.

Semua petugas kekaisaran di kota takkan membiarkan itu.

Pasti, mereka akan menanyakan kelakuan buruk keponakan yang dibiarkan.

Aku mau lihat bagaimana kalian lolos dari itu.

Aku tidak akan berani.

Ini salahku.

Maaf atas ganguan ini, Nona.

Siapa biarkan mereka masuk? Tangkap mereka!

Mereka suka dandan jadi wanita, ya? Kita punya waktu untuk itu.

- Benar sekali. - Penjaga, bawa mereka pergi.

Ibu.

- Bagus sekali. - Ibu.

Ibu, lihat dia, buat masalah lagi.

Kakak.

Jangan omong kosong.

Jika tuan rumah kenal mereka, mereka tamu.

Jika tidak, mereka pencuri bejat.

Kau hajar sampai mati pun, takkan diminta bertanggung jawab.

Baiklah. Ayo kembali.

Segera kembali ke penginapan.

Sepupu.

- Sepupu. - Bicara yang benar.

Kau mengoceh apa?

Itu menjijikkan.

Sepupu.

Ibu mertuaku dan putri-putrinya

semua datang ke Bianjing.

Bagaimana aku bisa bertahan di masa depan?

Keluarga Li semuanya wanita.

Rawat mereka dengan baik. Apa maksudmu?

Sepupu, kau tidak tahu.

Selamatkan aku, Fan.

- Selamatkan aku. - Selamatkan aku, Fan.

Di taman.

Kalian menyinggung istriku?

Istriku memukul kalian?

Kalian akan buat aku dibunuh.

Tidak, kami takkan berani.

- Bukan istrimu. - Itu wanita muda bersuara merdu.

Sangat galak, agak menakutkan.

Ada momok juga.

Dia muncul dan pukul aku begini.

- Menghajarku tanpa peringatan. - Ya.

Kutukannya mengerikan.

Sangat mengerikan.

Kupikir wanita muda itu pemalu

dan takkan melakukan apa pun jika mereka lihat kita.

Siapa yang mengira?

Ini tidak mengejutkan.

Keluarga Li di Luoyang punya ratusan hektar lahan pertanian bagus.

Sayangnya, ayah mertuaku meninggal lebih awal.

Putranya juga mati prematur.

Di rumah tangga ini, dimana maskulinitas berakhir, jika wanita lemah,

mereka takkan bisa melindungi poperti keluarganya.

Itu benar.

Mereka juga bilang

- orang yang kamu ajak bergaul juga jahat. - Benar.

Mulai sekarang, mereka akan memukul ketika melihatnya.

- Tidak peduli itu dua atau selusin. - Ya.

- Khususnya Tn. Chai. - Ya.

Masih coba memprovokasi aku dengan kebohongan?

Aku bahkan tak kenal dia. Untuk apa memukulku tanpa alasan?

Dia bilang kau yang menghasut Fan untuk memperkuat otoritas laki-laki.

Pada hari biasa, terlalu bangga untuk melihat debu di bawah.

Orang paling sombong dan kasar.

Tn. Chai, kau harus hati-hati.

Wanita yang menghajar pasti Putri Kelima.

Wanita yang bicara pasti Putri Ketiga.

Putri Kelima tersenyum pada siapa pun yang dia temui.

Tapi ibu dan kakak-kakaknya tak boleh dipermalukan di didepannya.

Ini salahmu bersikap tak senonoh.

- Aku membuat kesalahan. - Putri Ketiga yang memberimu cuka.

Dia mau balas dendam padaku.

Bagus.

Aku menantikan tantangan itu.

Sepupu, jangan pergi. Itu bunuh diri.

- Jangan pergi. - Tn. Chai.

- Tn. Chai. - Hentikan dia.

Cepat, hentikan dia.

Ibu.

Tinggallah lebih lama.

Aku bisa datang lagi lain kali.

Tinggallah beberapa hari lagi.

Ibu.

Kakak ketiga.

Kau…

Tidak, Kak, jangan lakukan.

Tn. Liang.

Tn. Liang.

Apa kau baik-baik saja?

Aku melihat banyak burung.

Kau konyol sekali.Kenapa tak menghindar?

Siapa yang main cuju di sana?

Cepat bangun.

Namaku Chai An.

Aku teman pemilik rumah ini.

Tadi bolanya lepas dari tanganku. Aku harus lebih hati-hati.

Aku meminta maaf dari Nyonya Li dan wanita yang lain.

Jika aku mematahkan apa pun,

aku akan bayar dobel harganya.

- Siapa pria yang main cuju - Ibu Mertua.

- dengan Adik Ketiga? - Istriku.

- Saudari Ipar. - Entahlah.

Tn. Chai adalah sepupuku.

Dia tak tahu ada wanita di taman.

Dia coba pamer keterampilan, tapi orang terluka.

Salahku tak jelaskan di awal.

Itu benar-benar tidak disengaja.

Salahkan aku. Itu semua salahku.

Ibu.

Keluarga Chai dan Fan berteman baik.

Tn. Chai sering berkunjung ke rumah kami.

Biasanya, dia yang paling sopan.

Dia pasti tidak bermaksud menyinggung para wanita.

Bisa kita lupakan saja, demi aku?

Pria ini cukup tampan.

Dia membawa kebahagiaan pada pandangan pertama.

Apa kau…

Jangan dipikirkan.

Tentu, semua baik.

Kalau begitu, kita pergi sekarang.

Biar aku antar.

Ayo pergi.

Hampir saja. Berhasil menghindar.

Kau layak mendapatkannya. Omong kosong selirmu.

Jika kau tulus minta maaf,

dia tidak akan semarah itu.

Itu dia.

Wanita yang menyegarkan dan menakjubkan.

Dia satu-satunya di Bianjing.

Kau layak terkena bola itu.

Tolong kembalikan sirkam tuan putriku.

Ayo cobalah.

Pria yang main cuju itu punya sikap yang baik.

Dia sangat berbeda dari dua sebelumnya dengan penampilan licik mereka.

Dia sudah menikah?

Waktu kau mendekati kota,

apa kau lihat taman di pinggiran timur kota?

Ya.

Satu demi satu, membentang sejauh mata memandang.

Semua itu milik keluarganya?

Keluarga Chai membeli banyak tanah

di pinggiran kota sejak awal.

Mereka pekerjakan orang terampil untuk tanam sayuran secara luas.

Bahkan pada bulan-bulan musim dingin,

tunas kucai segar dan krokot tidak pernah kekurangan persediaan.

Satu ekar kebun itu setara sepuluh ekar lahan pertanian.

Orang bisa tahu kekayaan keluarganya tanpa bertanya.

Punya lahan itu tidak spesial.

Kita juga punya lahan di Luoyang.

Ibu, pikirkan ini.

Bianjing punya semua pangeran, adipati, menteri, dan pejabat tinggi.

Bagaimana bisa izinkan orang biasa menikmati manfaat sebaik itu?

Yang mau kuceritakan hari ini,

Kakak, Adik, anggap ini lelucon.

Jangan ada yang anggap serius.

Katanya Kaisar Taizu, pada awal hidupnya yang sederhana,

menerima kebaikan besar dari Kaisar Shizong dari Zhou Agung.

Pada akhirnya, keluarga Zhao mengambil alih kerajaan mereka.

Pasti mereka merasa bersalah pada keturunan keluarga Chai.

Menurut rumor Kaisar Shizong dari Zhou punya tujuh putra.

Beberapa meninggal lebih awal. Beberapa tak diketahui keberadaannya.

Beberapa diadopsi pejabat terkemuka di bawah instruksi Kaisar Taizu.

Nama keluarga mereka diubah jadi Pan dan Lu.

Kembali ke sekarang, setelah beberapa generasi keluarganya,

sulit untuk mengatakan kebenarannya.

Aku cuma pernah dengar dia bicara sembarangan setelah minum.

Keluarga mereka masih persembahkan dupa

pada dekrit sinabar yang diberikan kaisar.

- Sungguh? - Ya, ampun.

Nenek sering bilang

keluarga Fan dianggap kaya.

Tapi itu bukan apa-apa dibanding keluarga mereka.

Berkat pertimbangan keluarga Chai atas sentimen lama, mereka menjaga kami.

Meski dia cenderung terlalu ikut campur,

hanya dia yang tulus membantu suamiku

dalam karier dan hidupnya.

Kalau begitu,

Master Chai pasti sudah dijodohkan.

Dia pria dengan idenya sendiri.

Wanita biasa tidak menarik perhatiannya.

Kupikir, cepat atau lambat, dia akan menikahi wanita bangsawan.

Semua omong kosong itu.

Jika dia tak menikahi putri kesayanganku,

siapa yang peduli pengantin wanita masa depannya.

Itu tidak ada hubungan dengan keluarga kita, 'kan?

Seandainya aku tahu hal ini,

harusnya tadi aku beri dia pelajaran.

Minta dia membayar sirkamnya.

Niat baik yang sia-sia.

Ibu, aku menemukan agen rumah yang bagus

untuk sewa tempat tinggal yang tenang di dekat Rumah Besar Fan.

Haruskah kita pergi lihat rumahnya?

Aku masih ada urusan penting untuk diurus.

Putri Ketiga, kau ikut aku.

Baik.

Putri tertua, Shouhua.

Ini putri ketigaku, Kangning.

Yang ini

putri keempatku, Haode.

Dan ini

putri kelimaku yang paling muda, Leshan.

Baiklah.

Bu Liu,

tolong jangan lupa nanti ingatkan aku.

Setelah mempersembahkan dupa, kemas semua potret untuk dibawa pulang.

‪Baik.

Bodhisattva, aku persembahkan dupa padamu.

Bodhisattva.

Wanita taat beragama di sini, berdoa dengan tulus.

Semoga pernikahan putriku berjalan lancar.

Putri keempat dan kelima bisa menunggu.

Tapi yang tertua, Shouhua,

janda pada usia muda,

menyia-nyiakan masa mudanya.

Dan putri ketiga, Kangning,

dengan temperamen galak,

mencarikan dia pasangan tidaklah mudah.

Mereka tak bisa menunggu lebih lama lagi.

Aku tidak minta putra menantu sangat kaya atau bangsawan.

Tapi kuharap putriku

akan menemukan pria baik

untuk mendukungnya sepanjang hidupnya.

Aku berdoa untuk berkat Bodhisattva untuk kesehatan Ibu, Kakak dan Adik

agar keluarga kami punya atap di atas kepala kami

dan tempat untuk berpijak.

Hidup damai dengan teh dan makanan sederhana.

Ini semua doaku.

Hanya memikirkan putrinya sendiri,

di dunia ini, siapa yang akan kasihani aku?

Mereka sudah banyak menderita sejak kecil.

Jadi, kuharap selama sisa hidupnya, mereka bisa menemukan suami yang baik

dan menjalani hidup sederhana dan harmoni.

- Pencuri! Ibu. - Jangan lari.

- Dia ambil barang kita. - Jangan lari.

- Pencuri. - Hentikan pencuri itu.

Tangkap pencuri itu!

Pelan-pelan, Ibu.

- Ibu. - Pelan-pelan.

Apa ini karena kau tahu putriku tak bisa menikah?

- Jangan bergerak. - Aku bertemu banyak keluarga terhormat.

- Akan kupukul kau. - Ibu.

- Baiklah. - Jangan marah padanya.

Ibu, tolong tenang.

Bagaimana bisa ada wanita vulgar begitu di dunia ini?

Tempat macam apa ini membiarkan omong kosongnya?

Dia terus bilang akan menikahkan putrinya.

Putri dari keluarga seperti itu,

siapa yang berani melamar dia?

Aku tidak tahan di sini.

Ini penuh kebisingan menjijikkan.

- Ayo ke dalam. - Baik.

Santai saja.

Putriku tidak bisa menikah.

- Itu salahmu. - Ibu, hentikan.

Nyonya, tolong ampuni aku.

Aku punya putri yang patuh dan bijaksana.

Dia belum menikah karena kami miskin.

Aku takut dia akan menua dan mati di rumah.

Karena putus asa, aku terpaksa mencuri.

Kumohon, Nyonya, berbaik hatilah.

Ampuni aku untuk sekali ini.

Takkan pernah kulakukan lagi.

- Kumohon padamu. - Gadis dari keluarga miskin.

Untuk jadi tua dan tidak menikah, itu memang menyedihkan.

Nyonya yang baik, tolong berbelas kasihan dan ampuni dia.

Tolong ampuni dia sekali saja.

Tolong ampuni dia.

Baiklah. Aku takkan masalahkan lebih jauh.

- Aku akan melepasmu. - Sungguh berbelas kasih.

- Lepaskan dia. - Terima kasih, Nyonya.

- Tunggu sebentar. - Orang baik pasti diberi hadiah.

Ini, kuberikan ini padamu.

Anggap ini perbuatan baik untuk diriku sendiri.

Juga kontribusi untuk mahar putrimu.

Terima kasih.

- Tidak perlu berterima kasih padaku. - Terima kasih.

Terima kasih.

Urusannya selesai.

Semua baik. Ayo pergi.

Ayo pergi.

Kalian boleh pergi.

Terima kasih.

Terima kasih.

Bagaimana praktik mahar mahal di Bianjing berkembang hingga titik ini?

Putri orang miskin tak bisa menikah.

Kalian bukan orang lokal, ya?

- Ya. - Kau mungkin tidak tahu.

Di Bianjing, aset finansial paling penting saat memilih istri.

Keluarga yang punya anak perempuan

semua mulai menabung mahar sejak dini.

Berharap persiapan dini itu akan membantu

waktu putrinya mencapai usia menikah.

Tadi kau bilang punya putri. Aku penasaran kau punya berapa wanita muda.

Ada lima.

Empat.

Hanya satu yang sudah menikah.

Maaf, aku terus terang, tapi izinkan aku menambahkan.

Orang bilang "Pencuri takkan mendatangi rumah dengan lima putri."

Karena kau punya lima putri,

mahar yang dibutuhkan untuk pernikahan mereka

pasti berjumlah ratusan juta.

Aku takut waktu harinya tiba,

bahkan pencuri akan mencari-cari.

Ratusan juta?

Hanya dengan aset biasa begini,

Bodhisattva pun takkan peduli.

Dengan sifat kikir begitu, Nyonya,

aku takut putrimu akan sulit menikah.

Sebaiknya kau simpan saja ini.

Kau bajingan.

Kau peti mati tua.

Buta atas niat baik, menyebalkan!

- Siapa yang kau bicarakan? - Ibu, sudah tak apa-apa.

- Apa kau tak punya… - Ibu.

- Ibu. - Nyonya.

- Cepat. Cubit. - Baik.

- Cubit. - Tekan titik akupuntur.

Terjemahan subtitle oleh Nur Cholis

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.