Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Dik, mundur. Jangan menonton terlalu dekat.
Dik.
Papa pulang.
- Papa! - Kamu ini.
Kamu sudah besar.
- Hai, Pa. - Boru.
Apa kabar sayang?
- Ayo, masuk. - Masuk, sana.
- Halo, Mbak. - Halo, Mbak.
Mbak, masih bisa potong sama Ibu?
Sebentar, ya.
Bu, ada tamu yang baru datang lagi.
Katanya mau minta potong sama Ibu.
Masih mau diterima?
Oke.
Bisa, Mbak. Silakan.
- Terima kasih. - Iya.
Jangan terlalu halus, nanti bumbunya jadi jamu.
Kuah asam jawanya.
Ikannya dikasih asam jawa supaya enggak amis.
Baru kamu kasih garam.
Kok Papa suka banget bikin ikan nila kuah kuning?
Ini masakan kesukaan Papa.
Dulu, opungmu suka bikin masakan ini untuk Papa.
Sekarang gantian kamu belajar. Nanti buatkan untuk Papa.
Pokoknya Vita janji, kalau Vita sudah besar,
giliran Vita masak ikan nila kuah kuning untuk Papa.
Janji, ya, Boru?
Janji.
Pa, kalau Mama masih lama, kita makan duluan saja.
Tunggu saja, sebentar lagi juga Mama pulang.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Maaf, ya, Mama pulang telat sekali.
Di salon ramai sekali pelanggan, sampai susah menolak.
Kamu masak apa?
Dik! Ayo, makan.
Hai, Sayang. Dik, kamu… Hei!
Kamu keramas, terus rambutnya enggak disisir?
Eh, eh!
Cuci tangan dulu.
Sudah, Pa. Sudah cuci.
Kapan?
Pas mandi 'kan dicuci.
Kebiasaan tuh, Pa.
Kamu mau cacingan?
Mana ada atlet bola cacingan. Ah, kamu ini.
Ada.
Siapa?
- Pokoknya ada. - Siapa? Jangan mengarang.
Adalah pokoknya.
Anak-anak sepertinya marah sama aku, ya?
Aku sebenarnya juga mau…
Jadi ibu rumah tangga saja.
Mengurus anak-anak saja.
Mengurus suami saja.
Oh, Sayangku.
Hei.
Kamu bekerja 'kan untuk rumah dan anak-anak juga.
Sudahlah, nanti aku bicara sama anak-anak.
Jangan kamu pikirkan.
Kalau mereka tidak mengerti juga,
kita berikan saja ke tetangga, biar mereka yang urus.
Eh…
Kamu capek, enggak?
- Kenapa? - Lihat aku dulu.
Pasti capek.
Ya sudahlah. Nasib.
Ayo.
Jagoan.
Adik, kalau misalnya kamu kalah nanti, jangan cengeng.
Berusaha lebih keras lagi.
Ingat, apa? Kesalahan adalah?
- Pelajaran. - Jagoan.
Sana, ambil bola kamu.
Kenapa sekarang jadi tugas aku mengantar Adik latihan bola?
Harusnya 'kan Papa.
Aku enggak betah. Di sana panas.
Ah, enggak apa apa, Boru.
Kita 'kan bagi-bagi tugas.
Papa membereskan rumah, kamu menjaga Adik.
Ya, Nak?
Ya? Ayo, dong.
Ya?
Nah.
Kenapa, sih, sekarang Mama setiap hari Minggu harus kerja terus?
Harusnya 'kan Mama yang urus rumah.
Tetangga lain justru mamanya lebih banyak di rumah.
Enggak begitu, Cantik.
Mama kerja untuk kalian juga.
Ya?
Kalau salon Mama maju, bagus.
Dah, Pa.
Hei, Dwi. Enggak peluk Papa? Sini.
Hati-hati, ya.
- Jaga Adik. - Iya. Dah, Pa.
Memang kamu bisa main bola?
Bisa.
Dah, Pa.
Dah!
Hari Minggu begini masih kerja, memangnya Pak Edi enggak marah, Mbak Jum?
Justru dia yang menyarankan ini.
Karena katanya kalau hari Minggu
suami libur kerja, giliran istri-istri ke salon.
Pak Edi tahu banget maunya para istri, ya.
Sudah panjang.
Mbak Jum.
Eh, Pak Burhan.
Mau jemput Ibu, ya? Sebentar lagi Ibu selesai.
Tenang saja, enggak usah buru-buru. Yang penting istri saya cantik.
Bapak!
Malu didengar orang.
Mbak Jum, salonnya semakin lama semakin laris.
Istri saya ini walaupun di luar banyak salon,
tetap saja balik lagi ke sini.
Salon itu cocok-cocokkan, ya, Pak. Seperti jodoh.
Omong-omong jodoh, Mbak Jum ini beruntung berjodoh sama Pak Edi yang pengertian.
Enggak semua suami mendukung istrinya untuk kerja.
Bu Burhan juga beruntung banget punya Pak Burhan.
Kayaknya yang enggak beruntung itu kita, ya, May.
Iya, nih.
Pokoknya Bu, Pak,
saya doakan semoga langgeng sampai maut memisahkan.
Amin.
Tapi Bu, kenalkan, saya mautnya.
Maaf Pak. Bercanda, kok.
- Dwi! - Sakit, enggak?
Sini.
Kakak sakit perut, mau balik ke rumah dulu.
Kamu jangan ke mana-mana sampai Kakak balik.
Hm.
Assalamualaikum…
Pa?
Vita?
Vita! Hei!
- Yang kamu lihat tadi… - Enggak mau.
- …jangan sampai Mama tahu, ya! - Enggak!
Dengar Papa?
Dengar Papa?
Awas, ya, kalau Mama sampai tahu.
Papa pergi lama, enggak?
Hei.
Papa dinasnya di Palangkaraya.
Enggak lama, kok. Hanya satu minggu. Papa janji.
Asal kamu janji jangan nakal di rumah. Belajar terus, ya.
Hati-hati, ya.
Aku jalan, ya. Kamu hati-hati.
Dah.
Ayo, Pak. Jalan.
- Kangkung satu ikat, Bang. - Oh iya, Bu.
- Sama telur satu kilo, ya. - Iya.
Kalau saya tomat sama labunya pilihkan yang segar, ya, Bang.
Oh, ya. Siap, Bu.
Eh, Dwi. Mau latihan bola, ya?
Iya, Bu.
Yang rajin, ya, latihannya.
Biar kampung kita bisa jadi juara tahun ini.
- Oke, Bu. - Permisi, Bu.
Nak Vita.
Bapak kok kayaknya sudah lama enggak kelihatan, ya?
Perasaan baru minggu lalu Bu, perginya.
Permisi, Bu.
Selamat, ya, Vita. Kamu masuk sepuluh besar di kelas.
Dan pastinya kamu naik kelas tiga.
- Terima kasih, Pak. - Sama-sama.
Ombaknya datang! Lari!
Vita! Dwi!
Wah.
Makanan sudah siap.
Dan ada kue buat Adik.
♪ Selamat ulang tahun, Adik ♪
♪ Selamat ulang tahun, Adik ♪
♪ Selamat ulang tahun ♪
♪ Selamat ulang tahun, Adik ♪
Doa dulu sebelum tiup.
Semoga aku jadi pemain bola yang hebat!
- Amin. - Tiup lilinnya, Sayang.
Hore.
Mama ada satu lagi buat Dwi.
Ini robot?
Wah!
Selamat ulang tahun, Sayang.
- Sayang. - Ikan…
Ikan apa yang enggak suka sendirian?
Ikan ekstrover.
- Salah. - Apa, dong?
Ikan gu-rame!
- Apa, sih. - Kalian mandi dulu, ya.
Langsung keramas dan pakai sabun dua kali biar pasirnya bersih.
Oke. Aku mandi duluan, ya.
Iya.
Mbak Jum.
Habis jalan-jalan?
Iya. Habis mengantar anak-anak liburan.
Oh.
Omong-omong, saya sudah lama enggak lihat Pak Edi.
Biasanya nonton bola bersama di komplek.
Pak Edi 'kan dinas di luar kota, Pak.
Oh, yang Palangkaraya itu?
Betul.
Belum pulang juga, ya?
Insya Allah minggu depan pulang.
Sudah lama saya tidak melihatnya.
Nanti, kalau Pak Edi sudah kembali,
saya sampaikan untuk mampir ke rumah Pak Burhan.
Mari Bu, Pak.
Memang kita mau apa ke salon?
Aku lupa minta uang sama Mama untuk beli minyak goreng.
Kamu mau seharian enggak makan?
Ya, enggak mau, lah. Pemain bola butuh gizi yang bagus.
Pemain bola kampung saja sok-sokan!
Itu 'kan Papa yang bilang.
- Mama! - Hei! Kalian sedang apa di sini?
Kak Vita katanya mau minta duit.
Terima kasih, ya, Mbak.
Sama-sama. Mampir lagi, ya, Rin.
Ayo, masuk.
Vita?
Awas ya, kalau Mama sampai tahu.
Ma?
Ma?
Mama?
Ma.
Ma.
Mama.
Ma.
Mama!
Mama!
Vit.
Tolong Mama, Vit.
Mama!
Mama!
Tolong!
Tolong!
Papa!
Papa!
- Assalamualaikum. - Walaikumsalam.
Selamat, ya, Bu, Pak, untuk pertunangannya.
Mudah-mudahan ananda lancar sampai pernikahan.
- Terima kasih, Mbak Jum. - Terima kasih, Mbak Jum.
Maaf banget Pak Edi tidak bisa hadir karena masih tugas di luar kota.
Oh.
Yang Palangkaraya itu?
Betul.
Masih di Palangkaraya?
Pak Edi ke mana, ya, kira-kira?
Ke mana, ya?
Ada apa?
Jadi, sebetulnya kami
dan tetangga-tetangga itu sudah lama curiga, Mbak.
Akhirnya, kami pikir ketiadaan Pak Edi selama ini
karena sudah pisah sama Mbak Jum.
Dan saya pikir, Mbak Jum juga malu untuk cerita pada kami.
Kami pun akhirnya sepakat untuk tidak mempertanyakan hal itu lagi.
Tapi, saya ingat sekali, Mbak.
Tahun lalu, waktu Pak Edi pergi itu 'kan…
Bulan Februari, ya?
Sekarang tahun 2003 bulan Agustus.
Berarti sudah 1,5 tahun Pak Edi enggak pulang, Mbak.
Enggak mungkin.
Rasanya baru… satu minggu lalu dia pergi.
Kok bisa Ma, kita enggak sadar?
Terus… sekarang Papa di mana, Ma?
Dwi.
Kamu Mama titip di rumahnya Bu Rahma dulu, ya.
Nanti kamu main sama Adi, ya, Sayang.
Mama sama Kakak mau ke kantor Papa sebentar.
- Nanti Mama jemput lagi. - Iya.
Vita, yuk.
Adik!
Papa!
Papa ke mana saja?
Papa kerja.
Kamu semakin jago saja main bolanya.
- Iya dong, Pa. - Hebat.
Jagoan.
Adik, makan sayurnya.
Supaya badan kamu kuat. Mana ada atlet bola lemah?
Nanti, kalau Adik sudah besar, mau jadi pemain bola yang hebat.
Kayak Ronaldo dari Brasil.
Tapi rambutmu dipotong botak.
Pa, tambah?
Nanti, kalau nilai sekolahmu bagus, Papa belikan seragam bola Ronaldo, mau?
Mau!
Tapi, tulisannya Ronaldo Raja Hasibuan.
Enggak jadi, deh.
Kok enggak jadi?
Ke mana kamu selama ini?
Kenapa baru pulang?
Memangnya aku ke mana?
Di sini saja.
Satu setengah tahun kamu enggak pulang, Ed.
Dan kamu kembali seakan tidak ada apa-apa.
Kok bisa kamu tidak ingat sama kami semua?
Edi.
Bisa enggak, kamu lihat aku dulu?
Apa yang sebenarnya terjadi padamu?
Terjadi apa?
Aku enggak tahu maksudmu.
Kamu 1,5 tahun enggak pulang, Ed!
Jelaskan padaku ada apa sebenarnya!
Enggak ada apa-apa.
Enggak ada apa-apa bagaimana?
Kalau aku bilang enggak ada apa-apa, ya, enggak ada apa-apa, lah!
Mengerti kamu?
Kamu cari apa?
Kamu taruh di mana sertifikat rumah dan tanah?
Mau aku pakai untuk modal usaha.
Usaha? Usaha apa?
Aku enggak tahu kamu punya usaha.
Hei.
Tanah ini diwariskan orang tuaku untukku.
Kamu tidak berhak untuk ambil seenaknya!
Sudahlah.
Sini! Mana sertifikatnya?
Di mana!
Enggak akan kuberi padamu sampai kamu kasih tahu dari mana kamu sebenarnya!
Kamu…
Pa. Papa mau ke mana lagi?
Ma, Papa mau ke mana?
Kalau Mama enggak kerja terus, Papa enggak mungkin kayak begini.
Mama lebih peduli sama salon Mama daripada sama keluarga sendiri.
Papa.
Aku bawa makanan kesukaan Papa untuk makan siang.
Ikan nila kuah kuning.
Aku tadi masak pagi-pagi.
Pak Edi pergi lagi, Mbak?
Menurut saya, sebaiknya Mbak cari tahu penyebabnya.
Pak Edi pergi, menghilang sekian lama, enggak ingat dengan keluarga.
Mbak Jum sama Vita juga, saya lihat, tidak merasa kehilangan.
Ini pasti ada sesuatu, Mbak.
Saya ada kenalan ustaz.
Namanya ustaz Ahmad.
Mungkin beliau bisa bantu Mbak.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Vit.
Kamu ikut Mama.
Setelah ini Mama mau ke Pak Ustaz.
Iya, Ma.
Assalamualaikum.
Assalamualaikum, Pak Ustaz.
Waalaikumsalam.
Sebenarnya, selama ini suami Ibu pulang,
tapi pulangnya bukan ke rumah Ibu.
Melainkan, ke rumah seseorang yang menyerupai Ibu.
Maksud Pak Ustaz menyerupai saya?
Dari buku yang saya baca…
Laa ilaaha illallah.
Sepertinya suami Ibu terkena gendam,
Sabda Pandita Ratu,
dari seorang wanita yang sedang bersamanya.
Ilmu Sabda Pandita Ratu sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita.
Ilmu itu memiliki kekuatan yang dahsyat.
Dulu, di masa penjajahan,
banyak pemimpin menggunakannya untuk menaklukkan musuh.
Tapi di masa sekarang, ilmu itu disalahgunakan.
Dan digunakan untuk kepentingan yang sesat.
Selama tiga hari tiga malam, kamu harus bersemedi.
Tidak boleh makan.
Tidak boleh minum.
Tidak boleh bicara.
Jika nanti ada binatang-binatang berbisa dan buas mendatangimu,
kamu harus bertahan
dan tidak boleh merasa takut.
Sekarang,
apa yang kamu harapkan akan terwujud.
Laki-laki yang kamu inginkan akan mencintaimu.
Dia akan tunduk,
takluk,
dan patuh padamu.
Perempuan itu sangat menginginkan suami Ibu.
Makanya, dia buat mata dan hati suami Ibu tertutup.
Keluargamu dibuat menjadi jauh dan asing baginya.
Dan dia membuat dirinya menyerupaimu di mata suamimu.
Jadi, ketika suamimu bersamanya,
dia akan merasakan seperti sedang bersamamu.
Apa yang harus kami lakukan, Pak Ustaz?
Bagaimana agar suami saya lepas dari gendam itu?
Hasbunallah wa ni'mal wakil
ni'mal maula wa ni'man nasir.
Cukuplah Allah
sebagai sebaik-baik pemberi pertolongan.
Dan cukuplah Allah
sebagai sebaik-baik tempat untuk kita bersandar.
Laa ilaaha illallah.
Allahuakbar.
Salat tengah malam, zikir,
mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Zat yang Maha segalanya.
Assalamualaikum.
Kayaknya hari ini udaranya panas sekali.
Padahal kipas anginnya sudah saya arahkan pada Ibu.
Mbak… Mbak Jum.
- Ya? - Mbak Jum lagi sakit?
Enggak kok, Mbak. Enggak apa-apa.
Mbak, kok tumben salonnya sepi sekarang?
Ya, memang beberapa minggu ini salon kami agak sepi.
Mbak!
Itu… hidungnya berdarah!
Bu. Ibu enggak apa-apa?
Tadi ada kalajengking.
Biar saya bereskan, Bu.
Maaf, ya, Bu, kalau saya lancang,
tapi, saya perhatikan belakangan ini, Ibu sering banget sakit-sakitan begini.
Saya dengan yang lain merasa, kayaknya memang benar Bu,
ada yang enggak beres sama salon kita.
Enggak beres bagaimana?
Salon kita pengunjungnya makin sepi, Bu.
Kita curiganya…
Ada apa?
Ibu, saya sudah lama curiga.
Kenapa di depan salon kita suka ada tanah merah begini?
Soalnya, tiap saya bersihkan, enggak lama kemudian datang lagi.
Bagaimana saya enggak curiga? Terus saya cari tahu.
Ternyata ada Bu, ritual untuk menghancurkan usaha orang
dengan cara melempar tanah kuburan
di depan usaha orang yang dituju.
Kayaknya di sekitar sini ada yang iri sama salon kita, Bu.
Iya.
Benar. Ini tanah kuburan.
Biasanya digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab
dengan menggunakan ilmu hitam
untuk menghancurkan usaha atau bisnis orang lain.
Kak Vita. Mama ke mana?
Kok Mama pulangnya larut terus?
Memang salonnya buka sampai jam segini?
Allah Mahatahu.
Tapi…
Saya rasa
tanah kuburan ini bukan berasal dari pesaing bisnis Ibu.
Ini perbuatan suami Ibu sendiri.
Edi!
Edi.
Edi, berhenti!
Edi, aku tahu apa yang kamu lakukan!
Edi!
- Pagi, Ibu. - Pagi.
Saya mau bertemu dengan Pak Edi Hasibuan.
Pak Edi Hasibuannya sedang ada rapat di luar, Bu.
Kalau begitu, saya mau bertemu dengan atasannya. Penting.
Oke. Kalau begitu saya antar.
Sebelah sini, Bu.
Jadi, nama Ibu Jumiati?
Betul, Pak. Saya istri dari Bapak Edi Hasibuan.
Saya datang ke sini karena…
Pak Edi sudah lama tidak pulang, Pak.
Dia tidak lagi menafkahi keluarga dan anak-anaknya.
Dia…
Selingkuh.
Setahu saya, sebagai Pegawai Negeri Sipil,
jika dia berselingkuh, dia akan mendapatkan sanksi yang berat.
Tapi di sini tertulis,
kalau Ibu Jumiati, istri pertama dari Pak Edi itu
sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.
Dan sekarang, Pak Edi sudah menikah lagi,
setahun yang lalu, dengan istrinya yang bernama Rini Hartati.
Saya masih hidup, Pak.
Saya belum mati.
Dan sampai detik ini,
saya masih istri sah dari Edi Hasibuan.
Ma, kenapa Ma?
Edi!
Hei.
Mau apa kalian ke sini?
Kok bisa kamu bilang aku sudah meninggal dua tahun yang lalu?
Kok bisa kamu sejahat itu sama aku?
Biar kamu bisa menikah sama perempuan itu?
Rini. Iya?
Di mana hati kamu sekarang?
Kamu sudah dibutakan oleh perempuan itu.
Edi! Tunggu, hei!
Aku kerja banting tulang untuk keluarga.
Sampai aku harus meninggalkan anak-anak.
Sampai mereka pikir aku enggak peduli sama mereka.
Padahal aku kerja karena kamu nyaris enggak pernah kasih gajimu padaku.
Sekarang, aku tahu buat siapa kamu habiskan uangmu.
Pergi!
Aku enggak habis pikir.
Kamu sudah sama dia, tapi kamu masih tega hancurkan usahaku?
Kenapa?
Itu tempatku kasih makan anak-anakmu!
Diam!
Pergi kalian dari sini! Tidak mau lagi aku lihat muka kalian.
Suka, enggak?
Suka. Bagus.
Biasa, suami baru pulang dinas.
Iya.
Cantik.
Terima kasih.
Siapa yang memanggilku?
Ini Edi, Kanjeng Ratu.
Dia membutuhkan bantuanmu.
Apa yang kamu inginkan?
Saya ingin harta dan rumah istri saya menjadi milik saya.
Dan uang yang banyak
serta kedudukan di kantor saya.
Aku bisa memberikanmu semua itu,
tapi kamu harus memberikanku tumbal nyawa orang terdekatmu dulu.
Apa kamu siap melakukan semua itu?
Saya siap.
Abang.
Masih panas.
Apa yang Abang lakukan memang sudah sepantasnya.
Mereka memang benalu di kehidupan Abang.
Mereka bukan keluarga Abang lagi.
Mereka cuma bikin hidup Abang susah.
Percaya sama aku, Bang.
Setelah ini, kita akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Abang akan naik pangkat
dan semua orang di kantor akan menghormati Abang.
Kita akan memiliki segala yang kita impikan.
Dan Abang akan hidup bahagia selamanya bersamaku.
Ya, Bang?
Mbak Vita, lihat kaus bolaku, enggak?
Enggak tahu. Cari pakai mata, jangan pakai mulut.
Sudah aku cari dari minggu lalu.
Enggak ada.
Aduh. Enggak tahu.
Coba kamu cari di belakang. Siapa tahu terselip.
- Vit. - Ya?
Kamu mencium bau busuk enggak?
Enggak.
Vit!
Ada apa, Ma?
Ma! Mama!
Mama!
Mama! Kenapa, Ma?
Mama!
Ma!
Mama!
Ma!
Padahal suami saya sudah menikah lagi, Pak Ustaz.
Tapi kenapa saya masih diteror terus?
Saya khawatir dengan keselamatan keluarga saya.
Hafalkan doa ini.
Setiap habis Maghrib,
taburkan air beras dicampur garam kasar dan bawang di sekeliling rumah Ibu
sambil membaca doa yang saya berikan.
Lakukan salat malam,
setelah itu baca doanya.
Lakukan terus menerus selama 40 hari berturut-turut.
Assalamualaikum warahmatullah.
- Assalamualaikum warahmatullah. - Assalamualaikum warahmatullah.
Ma, ada apa?
Aku takut, Ma!
Hus!
Vit, baca doanya.
Bismillahirrahmanirrahim.
Aduh, Ma. Kok rumahnya panas banget, sih?
Mama buka saja pintunya, ya. Biar enggak terlalu panas.
Buka saja, Ma.
Kalau Ibu lihat hewan apa pun di depan rumah Ibu,
lempar dengan garam.
Vita, kamu ambil garam.
Cepat!
Kamu jangan ke sini. Masuk.
Vit, cepat!
Itu apa?
Berdoa.
Allahuakbar.
Allahuakbar.
Vita!
Astaghfirullahaladzim.
- Perut Mama… - Kenapa, Ma?
Sakit!
Kok bisa begini?
Perut Mama sakit, kayak ada yang bergerak! Kamu baca doanya!
Bismillahirrahmanirrahim.
Mbak! Mama kenapa?
Masuk kamarmu!
- Mbak… - Masuk!
Ma! Mau ke mana? Mama!
Vit! Baca doa, Vit!
Bismillahirrahmanirrahim.
Ma.
Mama!
Mama!
Bagaimana, Pak Ustaz? Keadaan Mama jadi begini.
Enggak bisa bergerak. Enggak bisa ngomong.
Tolong Mama, Pak Ustaz.
Insya Allah.
Sekarang, tolong pindahkan Ibu ke kamarmu.
Atas izin Allah,
biar saya bersihkan rumah ini.
Baik, Pak Ustaz.
Dik, kamu jaga Mama dulu, ya.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Allahuakbar.
Apa itu, Pak Ustaz?
Astaghfirullahaladzim.
Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.
Astaghfirullahaladzim.
- Astaghfirullahaladzim. - Astaghfirullahaladzim.
Ini buhul yang dikirim untuk menyakiti ibumu.
Ikhlaskan semuanya. Maafkan dia.
Jangan ada dendam.
Sucikan hati, mulai lagi dengan hidup yang baru.
Sesungguhnya Allah menginginkan kemudahan untuk kalian.
Bagaimana caranya?
Ikhlaskan.
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
Vita. Bisa ke sini?
Maaf, Vita. Kamu tidak bisa ikut ulangan.
Kamu masih ada tunggakan uang sekolah.
Kamu 'kan sudah diberi tahu,
besok, kalau kamu belum melunasi uang sekolah,
kamu tidak bisa ikut ulangan lagi. Ya?
Keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk
saya melanjutkan salon ini.
Saya sudah tidak bisa membayar kalian semua.
Jadi, terpaksa saya harus menutup sementara salon ini.
Saya minta maaf.
Enggak apa-apa, Bu.
Kami mengerti, Bu.
Sebenarnya, siapa yang menjahati Ibu?
Saya masih enggak terima.
Vita.
Oh, jadi, mantan istrimu bohong?
Iya, pak.
Untunglah kalau sudah beres.
Oh, ya. Selamat Pak, atas kenaikan pangkatnya.
Terima kasih, ya.
- Sampai ketemu besok. - Siap.
Mau apa kamu mengikutiku?
Aku mau minta uang sekolah.
Mama sudah enggak sanggup bayar karena Papa menghancurkan usaha Mama.
Pergi kamu.
Enggak.
Sebagai seorang bapak,
Papa punya tanggung jawab untuk menafkahi anak-anak Papa.
Kamu bukan anakku.
Kamu anak anjing!
Seperti biasa, Bu.
- Terima kasih, Bu Endah. - Ya, sama-sama, Mbak.
Bapak gue yang membangun salon ini buat lo?
Vita, kamu sedang apa di sini?
Perlu uang? Sana, minta sama papamu.
Apa yang sudah lo lakukan pada keluarga gue, Bedebah!
Jangan marah-marah, Vita.
Aku 'kan Mamamu juga.
Jangan menyakiti hati Mama, ya, Sayang.
Mama ini tulus, sayang sekali sama papamu.
Enggak ada niat jahat.
Enggak pernah mengganggu keluargamu.
Kamu masih sehat, 'kan?
Oh, terus, Ibu gimana? Sehat?
Masih hidup, 'kan?
Dasar bedebah!
Bedebah!
Tolong!
Rini? Rini!
- Abang. - Sayang, kamu enggak apa-apa?
Kenapa? Di mana yang sakit?
Yang mana yang sakit?
Anak Abang.
Mereka enggak mau kita hidup bahagia.
Pergi kamu!
Anak setan!
Anak anjing, kamu. Pergi kamu!
Kalau Papa mau memutuskan hubungan anak dan bapak, silakan.
Tapi, jangan harap Papa bisa mati dengan tenang
sebelum minta maaf dan sujud di kaki aku.
Abang. Kakiku sakit.
Iya, ayo kita obati.
Tolong.
Kamu dari mana?
Kenapa tanganmu?
Maafkan Vita, Ma.
Enggak usah lagi cari papamu, ya, Nak.
Kita bisa hidup tanpa Papa.
Kita mulai lagi hidup yang baru.
Ikhlaskan, Nak.
Ikhlaskan, Nak.
Saya timbang dulu, Bu.
Pak, kambing hitamnya sudah ada?
Ada, Bu, di belakang. Sudah kusiapkan untuk Ibu.
Ya.
Ternyata, bakat Vita membuntuti orang menurun dari ibunya, ya.
Jangan pernah bawa-bawa anak saya.
Harusnya kamu itu berkaca, bukannya kamu yang selama ini berusaha membuntuti saya?
Pura-pura menjadi pelanggan saya.
Kalau kamu mau bekas saya,
ambil, saya sudah rela.
Tapi tolong kasih tahu dia untuk ceraikan saya dulu.
Dan jangan pernah ganggu keluarga saya lagi.
Sudah terlambat.
- Maksudmu? - Ini kambing hitamnya, Bu.
Terima kasih, Pak.
Ayo.
Dik, ayo ikut.
Ikuti Kakak. Ayo, sini.
Ayo, adik sayang.
Ayo pulang.
Vita…
Vita…
Satu, dua, tiga, empat,
lima, enam, tujuh, delapan.
Vita, ayo, jangan malas.
Andi, pimpin.
- Satu, dua, tiga… - Vit.
- …empat, lima, enam… - Vita.
Vita! Vit!
- Panas! - Vit!
- Panas! - Vita!
Vita! Kamu kenapa, Vit?
Panas!
Pak Ustaz!
- Assalamualaikum! - Waalaikumsalam.
Pak Ustaz, tolong Vita. Sekarang!
Vita?
Panas! Tolong!
- Istighfar, Vita! - Panas, Ma! Panas!
- Vita! - Vita!
Bu.
Mandikan dengan garam.
Baik.
Panas!
- Vit! - Vit!
Astaghfirullahaladzim.
Balur sebar rata.
Ibu.
Ingat, tugas kita cuma ikhtiar.
Dan doa paling mustajab adalah doa seorang Ibu.
Ibu harus kuat.
Kamu kenapa, Vita? Vita!
Vit! Astaghfirullahaladzim, Pak Ustaz!
Vit! Pak Ustaz! Astaghfirullahaladzim, Vit!
Vit… Astaghfirullahaladzim!
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Vita.
Vita.
Waktunya kamu pulang, Vit.
Ke sini, Vita.
Setiap malam kliwon,
kalian harus memotong kepala kambing hitam
sebagai persembahan bagi setan
yang akan membantumu membunuh keluargamu.
Vit.
Vit.
Astaghfirullah. Vita!
Vit!
Vita, ke sini nak.
Astaghfirullah.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya kepada Engkau kami menyembah dan memohon pertolongan.
Tunjukkan kami jalan yang lurus.
Vit, sadar Vit!
Sebut Allah!
Aku berlindung kepada Allah.
Sadar!
Kamu harus ikut saya.
Ya Allah. Astaghfirullahaladzim.
Allahuakbar!
Allahuakbar.
Allahuakbar.
Allahuakbar.
Allahuakbar.
Vita, bangun!
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
- Mama! - Astaghfirullah! Ya Allah!
- Mama! - Alhamdulillah, ya Allah.
Mama!
Sayang? Syukurlah kamu bangun.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada keluarga kami, Pak Ustaz?
Sepertinya, suami Ibu
telah membuat perjanjian dengan iblis.
Laa ilaaha illallah.
Atas izin Allah,
mereka tidak bisa menyelesaikan apa yang mereka telah mulai.
Dan apa yang mereka tebar,
akan mereka tuai.
Tidak ada tuhan selain Allah.
Tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik Allah segala kekuasaan dan baginya segala pujian.
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Laa ilaaha illallah.
Eh?
Mati lampu?
Hei! Mati lampu, ya?
Mana tumbal yang kamu janjikan padaku?
- Di mana kamu? - Pak Edi?
Hei! Di mana kamu?
Pak Edi?
Mana tumbal yang kamu janjikan padaku?
Aku enggak bisa tepati janjiku.
Tolong jangan sakiti aku.
Tolong jangan sakiti aku.
Pak Edi?
Pak Edi!
Astaga, tolongin!
- Apa, Mbak? - Kenapa?
- Mbak Rini! - Bu!
Bu!
- Bu! - Mbak!
Tolong!
Tolong!
Astaga! Pak Edi!
Saya, Bu Vita!
Aku juga.
Lagi? Ada yang tahu bunyi binatang yang lain?
- Aku! - Meong!
Hore!
- Mama. - Eh, Dwi.
Sebentar, ya.
Ma, Dwi tanding hari ini. Doakan menang, ya.
Oh, hari ini? Kamu sudah makan?
- Sudah. - Vitaminnya sudah?
- Sudah. - Sukses, ya, Sayang,
dan hati-hati. Insya Allah menang.
- Amin. - Sukses, ya, Dwi.
- Ini Tante kasih sedikit. - Ini apa?
Biar semangat, Bu. Enggak apa-apa. Dwi, ambil.
Gol, gol, gol!
Terima kasih, Tante.
- Sama-sama, Dwi. - Sukses, ya, Sayang.
- Terima kasih, ya, Ma. - Hati-hati, ya.
Dah, Ma.
Tadi duit dari mana?
Dari dompet lo.
Buat apa lo ambil uang gue, Gondrong?
Tenang, tenang. Ada pelanggan.
Ada pelanggan? Tenang? Tenang nenek lo atlet.
Terima kasih. Hati-hati di jalan.
Terima kasih, Bu Guru Vita.
Sama-sama. Sampai ketemu besok, ya.
Mari, Bu.
Pulang duluan, ya, Bu Vita.
Hati-hati, ya, Bu Laras.
Assalamualaikum.
Assalamualaikum.
Assalamualaikum.
Assalamualaikum.
Papa.
Pa?
Pa, ini Vita.
Anaknya Papa.
Papa apa kabar?
Ini Vita bawakan nila kuah kuning.
Vita tepat janji 'kan, Pa?
Ya?
Vita.
Iya.
Ini Vita.
Ini masakan kesukaan Papa.
Dulu, opungmu suka bikin masakan ini untuk Papa.
Sekarang giliran kamu belajar. Nanti buatkan untuk Papa.
Pokoknya Vita janji, kalau Vita sudah besar,
giliran Vita masak ikan nila kuah kuning untuk Papa.
Janji, ya, Boru?
Janji.
Pa.
Titip papa saya, ya.
Saya Vita Indriani. Setelah saya mengunjungi Papa,
dan melihat kondisinya yang buruk dan memprihatinkan,
saya mulai berdamai dengan masa lalu saya.
Pada saat film sedang diproduksi, Rini mengabarkan
bahwa kondisi Papa memburuk, dan saya menjenguk Papa yang sedang sakit.
Dan membisikkan bahwa saya sudah ikhlas.
Dan memaafkan beliau.
Ini masakan kesukaan Papa.
Dulu, opungmu suka bikin masakan ini untuk Papa.
Beberapa hari kemudian,
tepatnya tanggal 12 Februari 2025,
Rini mengabarkan bahwa Papa meninggal dunia.
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Papa wafat dengan tenang.
Semoga apa yang saya dan keluarga saya alami tidak dialami oleh siapa pun.
Papa itu sosok yang baik.
Dia perhatian dengan keluarga, dengan anak-anak.
Dia peduli dengan anak-anaknya.
Saya buka pintu kamar, ternyata
Papa sedang melakukan hubungan biologis dengan perempuan lain di kamar Mama.
"Apa yang kamu lihat jangan sampai kamu sampaikan ke Mama."
…Mama sampai tahu!
Kejadian Papa pulang, Agustus 2003.
Dan kami tidak sadar. Malah lingkungan kami yang sadar.
Berarti sudah 1,5 tahun Pak Edi enggak pulang, Mbak.
Perjanjian itu sudah dilaksanakan, mengorbankan ayam Cemani.
Tiba-tiba Mama melihat bola api.
Yang biasa orang bilang banaspati.
Malam ketujuh, ada kalajengking di depan pintu.
Mama muntah darah lagi di kamar, cuma kalau ditarik, rambut yang keluar.
"Memang suamimu pulang. Tapi bukan ke rumahmu."
"Ke rumah orang yang mirip denganmu."
Selama ini suami Ibu pulang, tapi pulangnya bukan ke rumah Ibu.
Melainkan, ke rumah seseorang yang menyerupai Ibu.
Papa tertangkap basah menaburkan tanah kuburan
di depan usaha Mama.
Mama enggak bisa bangun. Enggak bisa bereaksi apa pun.
Hanya bisa tidur dan mengedipkan mata. Aku sampai memanggil Pak Ustaz ke rumah.
Kain mori ukuran kotak.
Begitu dibuka, isinya ada paku, benda-benda tajam, beling.
Kuntilanak itu lewat. Wajahnya merah semua, berdarah.
Matanya ada di sini. Aku benar-benar melihatnya.
Bolos sekolah, aku ikuti dari kantor Papa.
Dia naik apa, sampai akhirnya aku benar-benar ketemu Papa.
Aku mendekatinya. "Aku mau ujian, Pa. Minta uang."
Papa emosi. "Untuk apa kamu minta uang sama saya?"
"Memang kamu anak saya? Kamu itu anak anjing!"
Anak anjing, kamu.
Aku teriak "panas". Mama lari sama Pak Ustaz ke kamar mandi.
"Kamu kenapa?" Kujawab, "Panas, pokoknya panas!"
Aku cuma bisa teriak panas.
Sampai akhirnya garam itu dibalurkan ke tubuhku, baru aku merasa dingin.
Aku samar-samar mendengar, jauh sekali.
"Vit, bangun."
Vita, bangun!
Begitu aku sadar, posisi aku sudah terbujur kaku,
dibungkus kain kafan. Hanya mataku yang bergerak.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.