Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Perang.
Waktu kecil…
Aku tidak pernah mengerti kata ini.
Kenapa harus ada perang?
Kenapa harus ada yang mempertaruhkan nyawa?
TERINSPIRASI KISAH NYATA DARI BUKU BELIEVE - FAITH, DREAM AND COURAGE
Semua bermula pada hari itu.
Ketika pertempuran tragis dengan banyak korban jiwa di kedua belah pihak terjadi.
Dan bapakku ikut serta.
Ikut berperang.
Pertanyaannya…
Kenapa?
Sudah bikin wasiat, Ded?
Rencananya mau pulang.
Beri tahu rencanamu ke peluru musuh di bawah.
Aku percaya Tuhan sudah tahu apa isi hatiku.
Tidak ada ragu lagi.
Kita habisi mereka.
Persiapkan mental kalian!
Bersama Tuhan, kita menyerbu dari langit.
Bersama Tuhan, kita menyerbu dari langit.
Bersama Tuhan, kita menyerbu dari langit.
Bersama Tuhan, kita menyerbu dari langit.
Kita sudah melewati pulau Atauro.
Mendekati target.
Penerjun, berdiri!
Berdiri!
Kaitkan tali statis!
Kaitkan tali statis!
Pasang pin!
Pasang pin!
Cek tali statis!
Cek tali statis!
Laporan!
Tiga siap…
- Dua siap… - Satu siap…
Tiga puluh penerjun siap!
Maju!
Sabar!
Maju!
Terus!
Loncat!
Loncat!
Lompat! Maju!
Penerjun tertembak!
Loncat!
TIDAK ADA INTEGRASI! RAKYAT BERSAMA…
Ded…
Ded! Bangun!
Ded…
Ded! Bangun, Ded.
Di mana kita?
Di kantor gubernur.
Kita harus ke barak, ke garis pertahanan musuh.
Berlindung, Ded!
Ded!
Cepat!
Lindungi!
BEBASKAN TIMOR TIMUR
Maju per lompatan!
Maju!
Saya lindungi dari sini.
BEBASKAN TIMOR TIMUR
Ded!
Ded.
Maju per lompatan.
Siap!
Maju! Pertahankan, Ded!
Maju!
Ded! Lindungi saya!
Siap!
Maju!
Ded!
Maju!
Maju bersamaan!
- Siap! - Saya lindungi!
Ded!
Tembak!
Tembak!
Ada berapa orang?
Tiga orang.
Ayo, silakan.
Bagaimana, Ded?
Aman, tidak?
Aman.
Maju.
Ded!
Ded, jangan khawatirkan saya.
Maju saja terus.
Ya?
Komandan tak apa-apa?
Aman, Ded. Maju.
Saya lindungi dari sini.
Pergilah.
Mama!
Mama…
Jangan…
Pengkhianat!
Aku bukan pengkhianat.
Hei!
Ibu, ikut saya.
- Siapa namamu? - Felipe.
Ayo.
Sikat! Tembak mati semua!
Tunggu di sini.
Berengsek.
Mama, bangun! Jangan meninggal dulu!
Mama! Bangun!
Mama!
Ini orangnya. Namanya Miro Freitas.
Dia pimpinannya.
Banyak prajurit yang gugur di tangannya.
Kau beruntung masih hidup.
Saya gagal, Komandan.
Operasinya berhasil,
tak ada yang perlu kau sesali.
Saya pamit dulu.
Bapakku seorang tentara.
Dia pergi berperang, jauh dari rumah.
Meninggalkan keluarganya.
Aku tak mengerti kenapa dia harus melakukan itu.
Aku tak mengerti kenapa dia memilih perang daripada kami.
Aku tak mengerti Bapak.
Pasien sebelahmu mana, Pak?
Semalam, dijemput keluarganya.
Ke rumah atau kuburan?
Gus, bawa saudara-saudaramu keluar.
Sejak awal, aku sudah tidak setuju.
Sekarang malah seperti ini.
Aku tidak kuat, Pak.
Selama Bapak tak di rumah,
Ibu selalu senewen.
Marah-marah.
Kadang menangis sendirian.
Gus.
Ibu…
Ibu?
AKU MENGALAH. ANAK-ANAK BERSAMAMU. JANGAN TERLALU KERAS PADA MEREKA.
Ibu ke mana, Pak?
Sakit.
Sudah, jangan tanya-tanya lagi. Ya?
Aku tak mengerti apa yang terjadi.
Bapak hanya bilang Ibu sakit.
Namun, aku tahu dari wajahnya…
Ada sesuatu yang lebih dari sekadar sakit.
Ada luka yang dalam.
Luka yang tidak bisa disembuhkan.
Tono banci.
Permisi, kak.
Buka.
Ini apa?
Gorengan terus setiap hari?
Pantas lemas.
Ini.
Tak terurus.
Kakinya seperti bapaknya. Pincang.
Dengar. Orang pulang perang naik pangkat,
ini kakinya malah terangkat.
- Apa? - Kau berani?
Kau berani?
Sana.
Berdiri.
Berdiri!
Bisa berdiri, tidak?
Gus.
Berkelahi?
Kau yang salah?
Jadi, kau benar?
Lalu kenapa pulang?
Seperti itulah ajaran bapakku.
Kepahitan hidupnya…
Dia tularkan padaku.
Lari!
Sehingga aku tumbuh terbiasa menyelesaikan masalah
dengan kekerasan.
Gus.
- Mau ke mana? - Ke anak-anak sebelah.
Kita beri mereka pelajaran
supaya tidak belagu dengan anak Cimindi.
Aku kumpulkan anak-anak.
♪ Jarum-jarum setan menghunjam urat nadi ♪
♪ Wajahmu memucat darah membeku lagi ♪
♪ Kini 'ku terpaksa namun 'ku tak kuasa ♪
♪ Dirimu terancam dalam bahaya ♪
♪ Jiwamu selalu dalam bahaya ♪
♪ Terancam setan jarum neraka ♪
♪ Jiwamu terancam dalam bahaya ♪
♪ Terancam setan jarum neraka ♪
♪ Jarum neraka ♪
♪ Jarum neraka ♪
Gus.
Bakatmu itu di musik, bukan jadi tukang berkelahi.
Bakat Neng Nita bernyanyi, bukan banyak omong.
Kenapa judes sekali?
Padahal aku bilang baik-baik.
Apa maumu? Dasar kau ini.
Kalau aku tidak bicara nanti tidak seru, jadi sepi.
Ya, 'kan?
Tidak tahu.
Berkelahi lagi?
Katanya kalau benar harus dilawan.
Bukan berarti semua harus diselesaikan dengan berkelahi.
Setidaknya aku membereskan masalahku sendiri.
Tidak lari begitu saja dari masalah.
Kadang, Bapak berpikir…
Seandainya nasib kita berbeda…
Apa kau tetap seperti ini, Gus?
Maksud Bapak?
Tidak, Bapak hanya berpikir.
Bapak bangga padamu.
Kau akan menjadi orang hebat.
Yakini itu.
Cukur rambutmu. Ya?
Agus, anak Serka Dedy?
Iya, kenapa?
Kau harus tabah, Gus.
Iya.
Hati-hati, ya.
Gus.
Turut berduka cita.
Setiap perpisahan, bukan salah siapa pun.
Jangan salahkan dirimu sendiri.
Dan jangan salahkan bapakmu.
Lalu salah siapa?
Perang gagal, keluarga gagal.
Sekarang hidup juga gagal.
Aku tidak tahu tentang yang lain.
Namun, kalau Dedy gagal dalam perang…
Pemakaman ini takkan cukup
untuk menampung yang gugur.
Dia banyak menyelamatkan orang saat itu.
Bapak tak pernah cerita.
Bapakmu memang seperti itu.
Sekali waktu, dia pernah bilang begini…
"Aku tidak ingin anak-anakku mengikuti jejakku."
"Aku ingin mereka melampauiku".
Itu katanya.
Tabah, ya, Gus.
Dulu, aku selalu melihat Bapak sebagai sosok yang keras dan jauh.
Namun, di sini, di depan pusaranya,
aku baru menyadari betapa besar pengorbanannya.
Dia bukan hanya prajurit bagi negara…
…tapi juga pahlawan…
Bagi keluarganya.
Aku ingin mengikuti jejak Bapak.
Aku ingin memahami perjalanan hidupnya.
Aku mencoba mendaftar jadi bintara,
bahkan satpam.
Namun, tidak diterima.
Kegagalan tidak menyurutkan tekadku.
Justru aku terus mencoba sampai berhasil…
Menjadi seorang tentara.
Kopral.
- Kopral. - Siap!
Lebih kencang, Kopral!
Siap!
Turun satu… Turun.
Tahan di tengah.
Yang benar tangannya. Naik!
Di akademi militer, setiap hari adalah ujian.
Ujian fisik, mental, dan emosi.
Ini punya siapa?
Tidak ada yang mengaku?
Monyong kalian, Kopral! Tidak jelas! Naik!
Kadang aku merasa sudah di ambang batas kemampuanku.
Tapi bagaimana Bapak akan bangga kalau aku menyerah?
Saya melihat bibit-bibit unggul.
Yang akan terus bertumbuh dengan kuat.
Kalian semua…
Perwira muda harapan bangsa.
Berjuanglah.
Bukan untuk mati, tapi untuk berhasil.
Perhatikan anak buah kalian.
Perlakukan mereka seperti anakmu sendiri.
Siapa pun yang dikirim ke Timor dan berhasil,
akan mendapat kesempatan untuk ikut pelatihan komando.
- Mengerti? - Siap, mengerti!
Paskibraka?
Betul. Para prajurit lain sedang ditugaskan ke Kamboja.
Di sini tinggal personel kuorum saja.
Apalagi, ada permintaan melatih Paskibraka.
Siapa lagi yang mau mengajar?
Kenapa cemberut?
Izin, Komandan. Apa tidak sebaiknya saya ikut latihan saja?
Saya mengerti, Gus.
Setelah semangat dari Letkol Prabowo kemarin,
siapa yang tak mau masuk Komando
dan membuat keluarganya bangga?
Namun, anggap ini juga latihan.
Kita, prajurit, bisa belajar dari tugas apa pun yang diberikan.
Lumayan, supaya kau bisa tarik napas sedikit.
Siap!
Buka barisan.
Gerak!
- Lencang depan! - Jalan!
Gerak!
Tiga langkah ke depan.
Fokus.
Hadap…
Kiri!
Jalan ke depan!
Teh Evi cantik, ya, Pak?
Gerak!
Tiga langkah ke depan, jalan!
Buka tutup barisan.
Sudah dari tadi, Pak.
Buka hatinya Evi yang belum, Pak.
Setelah kejadian itu,
aku memberanikan diri berkenalan dengan Evi.
Setiap istirahat atau cuti…
Aku berkunjung ke rumahnya untuk mengenalnya lebih jauh.
Atau mungkin…
Iebih dekat.
Kita bertemu…
Gus, sebentar, ya.
Neng, juragan dodol itu katanya mau datang lagi.
Padahal Ibu sudah bilang kau sedang tidak enak badan.
Bagaimana, ya?
Memaksa sekali dia.
Ibu, Evi, masuk saja ke dalam. Biar aku yang urus.
Ayo.
Masuk.
Di hadapan pria militer,
biasanya ada beberapa jenis pria lain.
Yang respek dan hormat pada pengabdian kami,
yang takut karena pernah atau sedang melanggar hukum,
dan pengecut yang beraninya menghina dari belakang.
Untuk hal seperti ini…
Hebat.
Apa Bapak juga pernah merasakan hal yang sama?
Wajahmu, Fi.
Wajah-wajah orang yang kalah sebelum berperang.
Siap izin, Komandan. Adik saya kena DBD.
Cuti saja sebentar.
Siap, maaf, Komandan…
Dia tidak butuh kakaknya.
Dia lebih butuh biaya pengobatan.
Perjuangan kita belum selesai.
Di gunung-gunung, di hutan-hutan, dan di desa-desa.
Semangat harus tetap menyala. Kerahkan segalanya.
Kita harus terus melawan dan melawan.
Kita akan terus berjuang sampai tetes darah penghabisan.
Sampai bendera kita berkibar.
Biar kami yang membantu.
Kami akan menjaga desa ini.
Kami akan melatih anak-anak muda.
Namun, masa depan mereka masih panjang.
Kau pikir akan ada masa depan,
bila tidak ada yang berjuang saat ini?
Abel!
Siapa dia?
Ini anakku.
Dari umur berapa kau ikut berjuang?
Aku sudah ikut berjuang sejak umur 11 tahun, Pak.
Untuk perjuangan, aku tidak setengah-setengah.
Paman, kemarilah.
Kumpulkan para pemuda. Kita akan bantu perjuangan sepenuhnya.
Baik, Tuan.
Terima kasih.
Kau akan ditugaskan menjadi Danton di Batalion 323.
Persiapan untuk dikirim ke Timor.
Siap!
Lakukan penyesuaian dengan anggota peleton barumu.
Laksanakan sekaligus.
Ingat.
Jangan ada janji tidak penting dengan orang-orang terdekatmu.
Kita, prajurit, tak pernah tahu bisa memenuhinya atau tidak.
Jangan buat mereka berharap. Sukses, Gus.
Siap, laksanakan!
Aduh, kau mengajak kencan Evi dengan sayur bayam?
Tidak, Bu.
Nanti setelah pulang, insyaallah kucarikan yang lebih pantas.
Banyak sekali. Ya, ampun.
Si Evi itu, banyak yang mengajak, Gus.
Pendekatannya sama sepertimu, langsung menemuiku.
Namun, cuma kau yang membawa sayur.
Itu datang satu orang lagi.
Ya, sudah. Aku pamit pulang.
Baiklah.
Jadi, kau mau berangkat ke mana?
Timor, Bu.
Gus…
Evi punya banyak impian untuk masa depannya.
Kalau kau berangkat berperang tanpa ada jaminan pulang,
siapa yang bisa menemani Evi menjaga masa depannya?
Kalau Ibu berkenan aku yang menjaganya,
tolong doakan aku.
Memang kau serius dengan Evi?
Evi sudah jadi alasanku untuk kembali pulang.
Ya, sudah.
Ibu doakan
semoga kau selamat.
Bisa pulang kembali ke Evi.
Itu saja dulu.
Ibu akan bilang nanti ke mereka. Biar Ibu yang menahan.
Hati-hati, Gus.
Terima kasih, Bu.
Gerilyawan, GPK.
Sudah bertahun-tahun mereka mempersulit kita.
Tugas pertamamu, temukan jejaknya.
Ada apa, Gus?
Izin, Komandan.
Saya tidak kenal peleton yang akan saya pimpin.
Kepemimpinan itu teladan, Gus.
Bukan masalah kenal, tidak kenal.
Yang mereka lihat adalah tindakan dan kata-katamu.
Kau harus tegas dan berikan solusi.
Kau adalah jenderal di lapangan
yang bisa menentukan keberhasilan tugas kita.
Hidup atau mati.
Saya mau kalian bekerja sebagai satu tim.
Tanpa keraguan, tanpa kesalahan. Mengerti?
Siap, mengerti!
Mengerti?
Siap, Komandan!
Anak kemarin sore mau memimpin kita.
Misi ini sudah tak jelas nasibnya.
Ingat,
yang kau pimpin bukan hanya prajurit.
Yang kau pimpin adalah orang-orang yang memiliki keluarga.
Punya harapan, punya mimpi.
Sabar…
Pengalamanku juga jauh di atasnya.
- Sabar. - Jaga mereka,
dan mereka pasti akan menjagamu.
Siap.
Bendera…
Hapus ini!
Komandan!
Ada kabar dari pesisir. Mereka mengirim pasukan tambahan.
Mereka mencari Komandan.
Mencariku?
Mereka mencariku?
Kau juga ikut-ikutan ayahmu yang menjadi milisi.
Mati kau.
- Ada apa? - Izin, Komandan, depan medan kritis.
Siap.
Baton, apa saranmu?
Melambung, Komandan.
Banyak pasukan disergap karena terburu-buru.
- Regu Satu. - Siap.
Bergerak di sektor kanan.
- Baton. - Siap.
Pimpin regu tiga ke sektor kiri.
Siap.
Saya dan regu dua bergerak di sektor tengah.
Kerjakan!
- Siap, kerjakan. - Siap, kerjakan.
Hei!
Kau kenapa?
Siap, Danru.
Aman.
Bohong. Kau demam.
Siap. Masih kuat.
Kita ambil jalur yang aman
agar cepat sampai.
Siap.
- Kalau sakit, bilang. - Siap.
Djarwo…
Ikuti saya!
Tiarap!
Medis! Tembakan perlindungan!
Dardu, kita terkunci!
Berlindung!
Kontak kanan!
Izin, Danton.
Bagaimana kondisi anggotamu?
Izin, satu luka tembak di tangan.
Bawa regumu ke titik temu akhir.
Tetap waspada. Kita belum aman sepenuhnya.
Siap.
Kerjakan.
Siap, kerjakan!
Informasi yang saya dapat ceritanya berbeda.
Djarwo melewati rute yang tidak sesuai dengan perintah.
Siap!
Saya gagal mengantisipasi pergerakan musuh.
Tidak ada masalah, Gus.
Kalau kau beri tahu apa penyebabnya.
Ini seperti penyakit. Bisa diobati.
Siap. Kejadian ini sepenuhnya tanggung jawab saya, Komandan.
Ke depannya, saya akan lebih waspada.
Kenapa kau begitu keras kepala, Gus?
Siap. Kepemimpinan adalah teladan, Komandan.
Sudah, kalian 'nges' saja dulu.
Kita masih banyak tugas besok.
- Siap! - Siap!
Siap!
Apa itu 'nges'?
Makanya kalau Bang Djarwo bicara didengarkan.
Mas Beni, disimak. Maksudnya kita disuruh makan lagi.
Makan terus isi kepalamu.
- Istirahat, Semua. - Siap salah.
Tadi maksudnya makan.
Istirahat, Alam.
Makan, 'kan?
Tidur.
Kemarin maksudnya makan.
Izin, Komandan.
Ini senjata yang mereka curi dari kita.
Apa area musuh bisa diperkirakan dari sini?
Siap.
Sulit, Komandan. Bisa dari mana saja.
Saya dapat kabar baru-baru ini ada pasukan yang disergap di pedalaman.
Di utara dari sini, Komandan.
Izin, kita bisa coba ke sana.
Persiapkan diri dan pasukan.
Siap!
Makan dulu, Komandan.
Terima kasih.
- Kawan atau lawan? - Tergantung.
Kalian kalah jumlah.
Cukup untuk menghabisi kalian.
- Galuh. - Nanggala.
Pasukan kawan, Komandan.
Aku tahu siapa yang kalian cari.
Mereka sudah bergerak ke barat laut.
Kurang lebih tiga kilometer dari sini.
Cari kampung di dekat sini.
Akan ada ladang kosong di sana untuk berkebun.
Hati-hati. Lawanmu licin seperti belut.
Dan tetap waspada, karena ini wilayah mereka.
Selamat bertugas.
Baton, siapa Nanggala?
Kepiting, Komandan. Pasukan Komando.
Mereka menganggap hutan ini istananya.
Salah sedikit, mereka semua bisa habis oleh kita.
Salah sedikit, kita yang dihabisi.
Izin, Komandan. Kita harus lebih waspada.
Kembali ke barisan. Lanjutkan perjalanan.
- Siap! - Siap!
Izin, Komandan.
Persis seperti kata Nanggala.
Sementara, pantau dulu mereka dari sini.
Saya akan hubungi peleton terdekat
untuk mengawasi keadaan sekitar.
Kakak, tunggu.
Ayo cepat jalan, sudah hampir malam.
Galuh 1, komandan peleton satu memanggil.
Masuk, buka informasi.
Izin melaporkan koordinat peleton satu.
Anggota peleton satu dalam keadaan baik.
Melaksanakan pengintaian. Selanjutnya, izin petunjuk.
Dimonitor. Kalau ada hal aneh, segera laporkan.
- Galuh. - Galuh.
Makanan kita kering melulu.
Sekali-kali basah.
Supmu datang. Langsung dikirim.
Izin, Komandan. Tidak ada hal yang aneh.
Izin melaporkan situasi hari kelima.
Peleton Satu belum menemukan hal-hal yang aneh.
Demikian dilaporkan.
Aku bingung, Bu.
Di satu sisi, ada Agus yang baik sekali.
Namun, di satu sisi, ada cita-citaku yang sudah lama kupikirkan.
Kemarin waktu Agus ke sini, dia bilang sesuatu.
Beri tahu tidak, ya?
Beri tahu aku, Bu. Dia bilang apa?
Dia bilang…
"Evi adalah alasanku untuk kembali."
Begitu katanya.
Yang benar, Bu?
Benar.
Kalau keluar dari mulut tentara pasti benar. Di atas serius.
Bapak selalu membawa buku Yasin ini ke mana pun.
Dulu, kupikir itu hanya kebiasaan.
Sekarang, aku mengerti.
Di medan perang, di tengah hidup dan mati, hanya keyakinan yang menguatkan.
Izin, Komandan.
Apa beliau yang menyuruh Komandan masuk tentara?
Ceritanya panjang.
Sudah tujuh hari kita di hutan.
Kalau cerita dari kemarin, sudah selesai.
Komandan dipaksa masuk
atau ingin mengikuti jejaknya?
Saya baru sadar
betapa dia ingin kembali ke medan perang.
Betapa ingin dia lebih bermanfaat.
Mungkin dia ingin gugur sebagai pahlawan, tapi nasib berkata lain.
Dia meninggal karena kecelakaan.
Lalu sekarang, anaknya ingin mengikuti jejaknya?
Gugur sebagai pahlawan.
Apa pun yang ada di depan…
Itu yang terbaik.
Izin, Komandan.
Lari! Tembak yang diatas!
Tembak! Berlindung!
Laksanakan pembersihan.
Maju per lompatan, saling melindungi! Ayo!
Siap, kerjakan!
Ayo ikut saya.
Maju.
Konsolidasi!
Ada yang kabur!
Kau, maju!
Maju!
Komandan.
Lambung kanan. Kerjakan.
Bangun!
Mati kau!
Aku sudah berburu di hutan ini sejak masih kecil.
Kau paham?
Izin, Komandan.
Ada pergerakan dari arah desa.
Pasukan bantuan musuh mendekat. Perintah?
Kita kembali ke titik penghadangan. Tetap waspada.
Siap, laksanakan!
Aku minta…
Nama yang membunuh anakku.
Dengar?
Dengar?
Siap, Komandan!
Abraham Freitas, biasa dipanggil Abel.
Dia anaknya Miro Freitas.
Dia dalangnya.
Dia mengatur semuanya dari balik layar.
Izin, Komandan.
Miro Freitas.
Sudah bertahun-tahun belum tertangkap.
Dia ahli perang gerilya.
Dia cerdik dan kejam.
Dulu, dia cuma gerilyawan biasa.
Namun, sekarang banyak pengikutnya.
Menurut informasi…
Dia berhubungan dengan kelompok pemberontak di luar negeri.
Izin kembali ke tempat.
- Maaf. - Ya?
Ini milik Komandan?
Ya, ini milikku.
Siapa orang di foto itu?
Almarhum bapak saya.
Padahal saya ingin bertemu beliau.
Saya belum berterima kasih.
Dulu, kalau dia tidak menolong saya…
…bukan hanya kaki saya yang hilang,
saya pasti sudah mati.
Bapak itu baik sekali.
Siapa namamu?
Felipe.
Felipe.
Saya juga ingin bertemu beliau sekali lagi lagi.
Bisa kau ceritakan sedikit?
Pengalamanmu bersama bapakku?
Bisa.
Di remang senja itu,
kulihat bayangan semangat Bapak yang tidak pernah padam.
Felipe.
Anak laki-laki yang dulu dia selamatkan,
kini telah dewasa.
Dia menjadi simbol ketahanan dan keberanian.
Dia mengingatkanku, warisan prajurit bukan hanya terukir di medan perang,
tapi juga di kehidupan yang mereka sentuh.
Di harapan yang mereka nyalakan.
Di mana kau tinggal, Felipe?
Tutuleia.
Tutuleia.
Kapan-kapan, saya main ke sana.
Saya bawakan oleh-oleh dari ibu kota.
Baik, Komandan.
- Bagaimana adikmu? - Siap.
Dia sudah sehat.
Izin, Komandan.
Maaf, saudara saya kecelakaan.
- Agus. - Evi.
Ibu ke mana?
Kau mencari Ibu?
Bukan aku?
Kalau mau bertemu Ibu, kembali saja nanti siang.
- Pasti sudah pulang. - Kau mau menikah denganku?
Aku baru terpilih mengikuti latihan Kopassus.
Semua prajurit bermimpi ingin bergabung di sana.
Aku jadi lebih percaya diri untuk…
Memulai hidup baru denganmu, Vi.
Artinya kau akan lebih sering…
Ikut perang?
Tergantung perintah.
Vi, kalau memang ada yang membuatmu tidak nyaman,
tolong beri tahu aku.
Aku akan coba perbaiki.
Kau sudah tahu.
Kondisimu, pekerjaanmu.
Bukan sesuatu yang harus diperbaiki.
Mungkin hanya tidak sejalan.
Beri aku waktu untuk menjawabnya.
Ya.
Sampai titik ini, aku sudah melebihi pencapaian bapakku.
Peletonku mendapat penghargaan kenaikan pangkat luar biasa dan hadiah materi.
Aman.
Tentu saja aku bangga.
Namun, masih ada yang menggantung.
Apa yang bapakku cari dari perang?
Ini artinya
Agus lulus dan mengundang kita?
Bukan Agus yang mengirimnya.
Ini dari sekolahnya.
Mau datang?
Tunggu, bukan itu pertanyaannya.
Sudah ada Agus di masa depanmu?
Maju!
Baris! Maju jalan!
Haluan kanan, lari ke depan!
Berhenti, gerak!
Luruskan!
Lurus!
Lapor! Perwakilan penyematan baret siap!
- Selamat. - Siap!
Buka barisan!
Komando!
Jalan!
Komando!
Komando!
Komando!
Komando!
Kau tahu Agus yang mana?
Di mana, ya?
Permisi, Pak.
Ayo, cari yang mana Agus.
Iya, ini sedang dicari.
Wajahnya sama semua buat Ibu.
Ibu!
Gus.
Bagaimana pelatihan komandonya? Baru tujuh bulan sudah kurus.
Ibu yang pasang?
- Komando! - Komando!
Komando!
- Komando! - Komando!
Komando!
Selamat, Gus. Kau hebat!
Terima kasih, Bu.
Terima kasih sudah datang.
Soal lamaran waktu itu…
Aku ingin memberi jawaban.
Aku mau.
Ibu titip Evi, ya, Nak.
Namun, yang paling penting, kau juga harus jaga diri.
Ibu percayakan semuanya padamu.
Siap, Bu.
Terima kasih.
Kau gagah sekali.
♪ Para komando prajurit perkasa ♪
♪ Menempuh segala derita ♪
♪ Musuh yang datang Lari tunggang-langgang ♪
♪ Takut disodok merpati putih ♪
♪ Buanglah napasmu, tariklah yang dalam ♪
♪ Hancurkan sasaran di depanmu ♪
♪ Pasukan para komando ♪
♪ Raja medan pertempuran ♪
Kemarin dari Jakarta?
Sekarang mau ke mana?
Evi hamil.
Selamat, Komandan.
Komando!
- Komando! - Komando!
Izin petunjuk, Pak.
Perhatian.
Perintah baru. Kita akan kembali ke Timor.
Semua berkumpul.
Sepertinya ini kelompok Miro.
Siap!
Percikan yang dulu kecil, sekarang berubah menjadi besar dan melahap hutan.
Ditambah lagi angin dari dunia internasional.
Musuh makin menunjukkan jati diri mereka.
Berbaur dengan rakyat, mereka menyerang kita dan para prointegrasi.
Tugas kita saat ini adalah menyelamatkan pengungsi sebanyak mungkin.
Kita tak tahu kawan bisa menjadi lawan.
Bisa saja musuh berada di antara para pengungsi.
Kita tidak tahu siapa musuh kita.
Namun, mereka kenal betul pasukan kita.
Anggap ini misi sekali jalan.
Tulislah apa yang kalian miliki, apa yang kalian inginkan,
apa yang kalian harapkan, kalian titipkan.
Pesan untuk orang yang kalian cintai, lalu tanda tangani.
Kita sudah disuruh menulis surat wasiat.
Ini.
Terima kasih.
Tidak usah berangkat.
Di sini saja.
Ini tugas penting.
Kalau kau pulang dengan tangan tinggal satu,
aku akan belajar main gitar.
Kalau kau pulang tidak punya kaki…
…aku akan belajar naik motor.
Kau akan kubonceng.
Yang penting pulang.
Iya.
Rencananya seperti itu.
Hei.
Hei!
Komandan,
anak cacat ini mencoba memberi tahu musuh tentang rencana kita.
Siapa namamu?
Felipe.
Dari desa mana?
Tutuleia.
Tutuleia…
Di mulut, mereka bilang selalu membantu pergerakan kita.
Namun, kenyataannya?
Kau kenal orang ini?
Bawa dia.
Berdiri!
Kita ubah rencana.
Sebelum menyerang kota,
ada desa yang harus kita kunjungi.
Tenang…
Bajingan!
Banyak pengungsi mengira
kita yang membakar kampung mereka.
Kita harus segera mengendalikan opini.
Sektor timur juga begitu.
Banyak korban dengan sisa penggalan tubuh.
Pelakunya menggunakan atribut kita.
Selain harus mengawal pengungsi yang termakan isu,
kita juga harus menahan serangan musuh.
Sementara itu, kita diperintah mundur dari pos secara bertahap.
KEBEBASAN
Memang tidak semua berpihak pada kita.
Bahkan ada satu keluarga yang berbeda suara.
Mereka menekan kita secara agresif di pos pertahanan.
Dampak internasional harus kita perhitungkan.
Hati-hati.
Di antara pengungsi, ada yang tidak menyukai kita.
Biarkan saja!
Kalian yang merusak tanah kami.
- Tahan dia. - Siap.
Tingkatkan kewaspadaan.
Kalau salah tembak, habis kita.
Izin lapor, Komandan.
Kampung prointegrasi di timur laut sedang diserang.
Kirim pasukan dari pos terdekat.
Izin, Komandan. Semua pos di timur laut
sedang bertahan dari serangan.
Kemungkinan besar itu kelompok Miro.
Peleton satu sedang menahan musuh,
sementara peleton dua butuh waktu karena melalui jalur darat.
Dalam kondisi ini, menolong satu desa dan mengorbankan satu pasukan
bukan tindakan bijak, Komandan.
Lalu sekarang, anaknya ingin mengikuti jejaknya?
Gugur sebagai pahlawan.
Tim Komando bisa menanganinya.
Kau yakin?
Siap, Komandan.
Kami siap menahan serangan agar pasukan bisa mundur secara bertahap.
Izin, Komandan.
Kami siap menjadi pasukan terakhir yang meninggalkan daerah operasi.
Siapkan heli untuk tim Agus.
Siap!
Para Danki,
segera tarik mundur pasukan kalian dari pos-pos.
Tetap waspada.
Kita bertemu di titik perbatasan.
Selamat bertugas!
- Siap! - Siap!
Persiapan!
Siap!
Lompat!
Roni, amankan ketinggian.
Ketinggian aman.
Maju.
Aman.
Apa nama desa ini?
Tutuleia.
Rencanaku datang ke desamu bukan seperti ini, Kawan.
Kita ke pos terdekat!
Siap!
Sebisa mungkin tetap dekat dengan saya.
- Siap! - Siap!
Tetap semangat! Lawan terus!
Merunduk!
Berapa sisa pelurumu?
Sepuluh.
Usir mereka! Tembak!
Komandan!
Beni, Alam, bagaimana situasinya?
Kita terkepung dari segala penjuru.
Dari tujuh anggota, tiga terluka.
Ada juga pengungsi suami istri.
Kita masih punya banyak mortir, Komandan.
Namun, senjatanya rusak.
Kita tidak bisa bertahan lama di sini.
Kau! Gantikan posisi saya!
Siap, Komandan!
Cepat!
Maju.
Evakuasi, cepat!
Apri! Bantu kami!
Senapan mesin!
Komandan!
Granat!
Kita tak bisa bertahan lama di sini. Pasang ranjau darat!
Siap!
Berlindung!
Bapak, Ibu, geser dulu!
MENGHADAP MUSUH
Ranjau siap!
Mundur per lompatan!
Roni, lindungi!
Ikuti saya.
Ayo!
Komandan!
- Anakku masih di dalam sana. - Iya.
Beni,
- bawa pasukan sesuai rencana. - Siap!
Anakku!
Tenang.
Ibu, Ayah…
Serang! Tembak! Ambil semua senjata dan peluru yang ada!
Bawa semuanya! Tembak!
AWAS MELEDAK, AMUNISI MORTAR
Ayo turun.
Ayo lari. Cepat.
Tetap waspada. Senjata menghadap depan.
Komandan, kami dengar sebentar lagi kau akan punya anak?
Selamat.
Oh, ya. Terima kasih.
Darah dibayar darah.
Darah dibayar darah.
Mati kau!
Jangan mati dulu.
Aku ingin melihatmu menderita.
Berdiri!
Ayo kita bertarung.
Setelah evakuasi selesai,
hancurkan.
Gus, ada surat.
Terima kasih.
Sulit untuk menulis surat ini.
Air mataku tak berhenti mengalir.
Janin kita…
Dia pergi.
Rasanya seperti mimpi buruk yang tak ingin aku bangunkan.
Aku merindukanmu.
Aku merasa begitu rapuh dan sendiri.
Aku tahu kau sedang berjuang di medan perang.
Aku bangga padamu.
Kau pahlawanku.
Namun, kumohon. Jaga dirimu baik-baik.
Doaku selalu menyertaimu.
Dengan cinta, Evi.
Dalam perang, bukan hanya yang berangkat yang berkorban.
Namun, juga mereka yang ditinggalkan.
Mereka yang menunggu di rumah.
Mereka juga berkorban.
Evi kini seperti ibuku dulu.
Dan aku tidak ingin mengecewakannya.
Terima kasih atas pengorbananmu.
Terima kasih karena selalu percaya padaku.
Aku pulang
Waspada.
Waspada.
Orang bersenjata di depan!
Maju!
Setelah mengikuti jejak Bapak,
aku jadi mengerti makna perang.
Dalam hidup, konflik selalu ada dan tidak semua bisa dihindari.
Jiwa-jiwa pemberani akan berangkat dan berjuang.
Bapak tidak meninggalkan keluarga demi perang.
Dia berperang demi keluarga.
Bapak bangga padamu.
Cukur rambutmu.
Ya?
Pak.
♪ Segala cinta yang kau beri ♪
♪ Kau buatku mengerti ♪
♪ Arti pengorbanan yang sesungguhnya ♪
♪ Andai waktu dapat ♪
♪ Kuputar kembali ♪
♪ Senyum banggamu takkan ♪
♪ Pernah pudar segenap hatiku menjagamu ♪
♪ Meski tak mampu menyamai tulus ♪
Terima kasih, Pak.
♪ Cintamu ♪
♪ Kini kau telah pergi ♪
♪ Saat semua mimpi besarku tercapai ♪
♪ Air mata haru mengalir ♪
♪ Hilang kata ♪
♪ Yang ada hanya doa ♪
♪ Bahagia di sana, Ayah ♪
♪ Kuyakini cinta sejati ♪
♪ Takkan mati ♪
♪ Andai waktu dapat ♪
♪ Kuputar kembali ♪
♪ Senyum banggamu takkan ♪
♪ Pernah pudar ♪
♪ Segenap hatiku menjagamu ♪
♪ Meski tak mampu ♪
♪ Menyamai tulus ♪
♪ Cintamu ♪
♪ Kini kau telah pergi ♪
♪ Saat semua mimpi besarku tercapai ♪
♪ Air mata haru mengalir ♪
♪ Hilang kata ♪
♪ Yang ada hanya doa ♪
♪ Bahagia di sana, Ayah, kuyakini ♪
♪ Cinta sejati takkan mati ♪
♪ Kini kau telah pergi ♪
♪ Saat semua mimpi ♪
♪ Besarku tercapai ♪
♪ Air mata haru mengalir ♪
♪ Hilang kata ♪
♪ Yang ada hanya doa ♪
♪ Bahagia di sana, Ayah, kuyakini ♪
♪ Cinta sejati takkan mati ♪
♪ Bahagia di sana, Ayah ♪
♪ Kuyakini cinta sejati ♪
♪ Takkan mati ♪
♪ Saat senyummu mencuri ♪
♪ Hatiku terbang ♪
♪ Kala tatapmu menghunjam ♪
♪ Jantungku berdebar ♪
♪ Setiap langkah yang kuambil ♪
♪ Dari restu kamu ♪
♪ Lari ku berlari ♪
♪ Mengejar Matahari ♪
♪ Berlari ku berlari ♪
♪ Kesetiaan ♪
♪ Kubawa jauh ♪
♪ Meninggalkan jejak untuk nasib ♪
♪ Akankah kembali esok ♪
♪ Atau hanya mimpi ♪
♪ Kala tatapmu menghunjam ♪
♪ Jantungku berdebar ♪
♪ Setiap langkah yang kuambil Dari restu kamu ♪
♪ Lari ku berlari mengejar Matahari ♪
♪ Berlari ku berlari ♪
♪ Kesetiaan kubawa jauh ♪
♪ Meninggalkan jejak untuk nasib ♪
♪ Akankah kembali esok ♪
♪ Atau ♪
♪ Kesetiaan kubawa jauh ♪
♪ Meninggalkan jejak untuk nasib ♪
♪ Akankah kembali esok ♪
♪ Atau hanya ♪
♪ Atau hanya mimpi, atau ♪
♪ Hanya mimpi ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.