Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ira?
Ra?
Kamu lagi ngapain, Ra?
Ra?
Kenapa, ya…
Ibu merasa hari-hari panjang sekali?
Panjang?
Maksud Ibu apa?
Sehari terasa seperti seminggu.
Ibu merasa…
Kalau malam
ada yang ngelihatin Ibu.
Di rumah ini kan cuma ada Ira dan Ibu.
Jadi, Ibu enggak perlu khawatir.
Enggak ada siapa-siapa.
Tidak, Ira.
Ada.
Panas.
Ibu.
Panas…
Panas, Ira.
- Panas… - Ya, Ibu.
Ibu sudah tiga kali mandi hari ini.
- Panas… - Ibu, sudah, Bu.
Panas…
Ibu mending istirahat.
Kang Fial, izinkan aku untuk menceritakan keadaan ibuku.
Hanya kepada Kang Fial aku bisa mencurahkan isi hatiku.
Walaupun aku hanya kenal Kang Fial
sebagai sahabat surat-suratan yang aku kenal
lewat rubrik majalah yang Kang Fial kelola.
Bulan ini sudah bulan keempat Ibu sakit.
Dan belum ada kejelasan tentang penyakit Ibu.
Tapi saya yang menjadi saksi
bagaimana keanehan demi keanehan terjadi pada Ibu.
Bu.
Jangan melamun.
Ira…
Ara dan Ari sudah pulang sekolah?
Ibu makan, ya?
- Panas! - Bu?
Panas!
Panas!
Ibu!
Bu?
Ibu!
Ira mohon jangan, Bu!
Bu, jangan!
Jangan! Lepas!
Bu, jangan…
Ibu…
Ira, Teteh enggak bisa pulang begitu saja.
Banyak hal lain yang harus Teteh urus.
Kalau Ira butuh uang, nanti Teteh kirim.
Halo, Aa?
Kapan Aa Ari pulang?
Ira, ke kampung ongkosnya enggak sedikit.
Lagi pula, Aa baru pulang.
Ya.
Tapi itu sebelum Ibu sakit.
Nanti kalau ada rezeki
pasti Aa pulang.
Sudah ya, Ira.
Aa harus kerja.
Keadaan Ibu semakin parah.
Hari-hari diisi dengan Ibu marah-marah terus.
Dia sering berhalusinasi,
melihat tangan-tangan yang terus menghantuinya.
Bahkan sekarang dia mulai melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya
dan juga bahkan diriku.
Ira…
- Ibu kenapa? - Tolong Ibu! Panas!
Ibu?
Aa Ari,
Teh Ara…
Aku tahu ibu kita berbeda dari ibu-ibu lainnya.
Kita dibesarkan olehnya tanpa ayah.
Dari kecil pun, kita bingung akan kehadiran tamu laki-laki
yang datang dan pergi ke rumah kita.
Hanya saat remajalah kita baru paham
profesi Ibu sebenarnya.
Satu desa pun ternyata tahu
bahwa Ibu adalah wanita sundal.
Pramuria.
Lonte.
Saya tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi.
Saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada orang lain selain kepada Kang Fial.
Cepat, hujannya keburu deras.
Santai saja.
Kenapa kamu takut sama hujan?
Seharusnya hantu yang ditakuti!
Jaga ucapanmu. Jangan aneh-aneh.
Tidak ada.
Astagfirullah!
Permisi.
- Lapor Pak RT. - Ayo.
Ibu?
Bu?
Ibu?
Ibu mana, sih?
Ibu?
Astagfirullahaladzim!
Tenang, tenang.
Sabar.
Ibu!
Ibu ngapain?
Kita pulang yuk, Bu.
Dasar pelacur!
Sudah. Sudah!
Sudah cukup. Cukup, Semuanya.
Nanti akan diselesaikan secara baik-baik.
Dasar Pak Ustad.
Payah, Pak RT!
Pak Ustaz payah! Pak RT juga payah!
- Apa saja dibiarkan. - Ira.
Kalau kamu sudah enggak bisa menjaga ibu kamu,
panggil kakak-kakak kamu.
Kalau sampai kejadian ini terulang lagi,
kamu dan ibu kamu
terpaksa diusir dari kampung ini.
Permisi, assalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Ya Allah. Astagfirullahaladzim.
Ibu ngapain, sih,
ke makam Abah sama Nini kayak itu?
Kalau kita sampai diusir…
Kita mau tinggal di mana, Bu?
Maafkan Ibu ya, Ra…
Ibu nyusahin Ira terus.
Dari semua saudara Ira,
meskipun pada beda bapak…
Cuma Ira yang paling berbakti sama Ibu.
Maafkan aku ya, Nak.
Selama empat bulan,
kamu menceritakan tentang penyakit ibu kamu.
Saya baru berani mengatakan ini sekarang.
Membaca cerita kamu,
Ibu kamu bukan sakit biasa, Ira.
Saya curiga…
Kalau ibu kamu itu ditenung.
Lama amat bukanya?
Sudah dari tadi kita ngetok-ngetok.
Maaf ya, Aa, Teh.
Teh Nisa mana?
Sejak kejadian kemarin dengan warga,
Ibu kondisinya jadi kayak ini.
Lemas.
Ra…
Kita ngobrol di luar saja, yuk.
Ira juga sebenarnya enggak tahu, Aa.
Semenjak Ibu bangun dari pingsannya,
Ibu enggak kayak biasanya.
Ira sudah bawa Ibu ke dokter, mantri.
Tapi kata mereka,
Ibu baik-baik saja.
Normal.
Tapi…
Ira curiga
Ibu ditenung.
Tenung?
Apa itu?
Sihir, Aa.
Tujuannya untuk menyiksa orang yang dituju.
Ngaco kamu.
Ini alasannya kenapa Teteh mau bawa kamu ke kota.
Biar cara berpikir kamu enggak kayak ini.
Kampungan.
Ya, terus apa, Teh?
Teteh tahu
ada beling di mulutnya Ibu?
Teteh lihat ini?
Ibu hampir menusuk Ira.
Ira hampir mati, Teh.
Ra, orang sehat juga tinggal di rumah kayak ini pasti sakit.
Lihat barang-barang berantakan, menumpuk di mana-mana.
Lembap, debuan.
Teteh pikir
gampang mengurus rumah sambil mengurus Ibu?
Ibu marah kalau barang-barangnya dibuang, Teh.
Giliran buang anak-anaknya saja bisa.
Kita enggak pernah dibuang, Teh.
Teteh yang kabur.
Sudah, cukup.
Kamu kenapa masih bela dia terus?
Ya, karena dia Ibu kita, Teh.
Bapak kita memang beda-beda.
Tapi Ibu kita cuma satu.
Dan sekarang Ibu butuh kita.
Sekarang mau mati saja baru butuh.
- Ara, sudah. - Dari dulu ke mana saja?
Keterlaluan kamu, Teh.
Pokoknya Teteh enggak bisa lama-lama.
Paling lama lusa Teteh pulang.
Teteh egois.
Ibu?
Ibu?
Ibu?
Ibu!
Ibu…
Ibu…
Ibu…
Jangan tinggalin Ira, Bu.
Ibu?
Ibu?
Jangan tinggalin…
Ibu.
Ibu!
Ibu!
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal saudari kita, Ibu Linda Mufitasari binti Koswara
dalam usia 46 tahun.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam, Pak.
Ari.
- Bersabar, ya. - Terima kasih, Pak.
Salatin Ibu, Teh.
Lagi halangan.
Ra.
Maafin omongan Teteh semalam, ya.
Sudah.
Sudah, ya. Jangan ditangisi terus.
Kasihan.
Biar jalannya lancar.
Bapak-Bapak, tolong dirapikan safnya.
Salat akan kita mulai.
Astagfirullah!
Astagfirullah!
Astagfirullah.
Hantu!
Apa yang terjadi sama Ibu, Pak?
Apa kejadian seperti ini wajar?
Sebenarnya ibu kalian mengalami mati suri.
Yang di dalam itu…
Benaran Ibu, Pak?
- Aa… - Ya, kalau bukan Ibu, siapa lagi, Aa?
Aneh.
Kejadian mati suri itu langka.
Ini kesempatan
untuk kalian berbakti.
Bu.
Ini Aa Ari dan Teh Ara sudah datang jauh-jauh dari Jakarta.
Mau ketemu Ibu.
Bu.
Ari.
Ara.
Mulai sekarang kita harus bersama.
Jangan berpisah lagi.
Apalagi Ibu sudah ada cucu.
Ara.
Kamu kapan balik ke Jakarta?
Paling lusa, Aa.
Kalau…
Aa ikut kamu?
Tidak mungkin dong, Aa.
Ara di sana kan cuma ngekos, bukan tinggal sendiri.
Tinggal di sini dulu saja sementara, Aa.
Kamu tahu sendiri Ibu…
Ra.
Ira!
Ra, bangun.
Ira!
Ayo, kamu harus lihat ini.
Ini Teh Ara semua yang beresin?
Ibu yang berberes.
Kalian lapar?
Ibu yakin sudah sehat?
Harusnya Ibu enggak perlu capek-capek,
biar Ira saja yang ngeberesin.
Ibu enggak apa-apa, Ira.
Ibu cuma lapar.
Ayo makan.
Kang Fial, betapa senangnya hatiku
setelah Ibu hidup kembali dari kematiannya,
dia berubah.
Berubah menjadi lebih baik.
Hilang sudah penyakit-penyakitnya.
Tidak ada lagi cerita mengenai tangan-tangan gaib
dan wajahnya jauh lebih segar.
Lebih bersih.
Bukan itu saja.
Keadaan rumah sekarang lebih sehat
karena Ibu membersihkannya.
Sesuatu yang Ibu tidak pernah melakukan sebelumnya.
Bisa dibilang
Ibu seperti menjadi orang lain.
Ini sedang main apa?
Kok, seru banget?
Adelia lagi belajar menulis nama Nenek.
Ibu sejak kapan menulis pakai tangan kiri?
Sejak Ibu bangun lagi.
Bi, lihat. Adelia bisa menulisnya, kan?
Teruntuk Kang Fial.
Banyak kejadian yang terjadi
dan belum sempat saya ceritakan kepada Kang Fial.
Bu?
Ibu ngapain nonton TV kayak itu?
Ibu sedang menagih janji.
Menagih janji?
Teh?
Teteh enggak apa-apa?
Memangnya suka kayak begini kalau lagi datang bulan, Teh?
Kadang.
Pulangnya bisa ditunda dulu tidak, Teh,
sampai minggu depan?
Sampai datang bulannya Teteh selesai.
Ira takut Teteh kenapa-kenapa di jalan.
Teteh ke kamar dulu, ya.
Ya, Teh.
Hati-hati, Teh.
Ini untuk Adelia, Nek?
Terima kasih, Nek.
Papa, lihat, deh.
Adelia dibelikan boneka baru oleh Nenek.
Adelia kenapa begitu, sih? Minta-minta mainan?
Bukan dia yang minta.
Ibu yang kasih.
Terima kasih, Nek.
Adelia, kamu main di kamar saja.
Bu.
Ari masih mampu
beliin Adelia mainan.
Wah, badan kamu panas banget.
Wah, badan kamu juga panas banget.
Kalau begitu, kalian harus disuntik, ya.
Enggak sakit, kok.
Rasanya kayak digigit semut.
Enggak sakit, kan?
Yah, jatuh.
Papa!
Papa!
Papa!
Papa!
- Papa! - Adelia?
Kenapa?
Papa…
Kenapa?
Bonekanya kenapa?
Kepalanya.
Kenapa, Aa?
Kepalanya.
Sudah, ya. Sudah.
Adelia, sudah, ya? Kamu tenang.
Sudah Papa simpan bonekanya.
Sudah Papa tutup dan kunci lemarinya.
Ayo.
Ayo.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Adelia?
Adelia, ngumpet di mana?
Adelia?
Lusa Teteh pulang ya, Ra?
Memangnya sudah enggak sakit perutnya, Teh?
Sudah mendingan.
Teteh enggak bisa di sini sampai minggu depan?
Ra, pekerjaan Teteh banyak.
Nanti kalau urusan di sini sudah selesai, kamu menyusul ke kota, ya?
Teteh masuk duluan.
Adelia?
Adelia, ngumpet di mana?
Adelia?
Cilukba!
Papa.
Papa ngapain di situ?
Biar Ibu bantu.
Bu?
Kamu merasa ada yang aneh enggak sama Ibu?
- Ya, kan Ibu… - Enggak.
Bukan aneh sakit.
Tapi sejak Ibu bangun lagi,
Ibu makin lama kelakuannya makin aneh.
Apa…
Itu pengaruh dari mati suri?
Bi Ira, lapar.
Permisi. Mau beli rokok satu.
Bu?
Ibu ngapain di situ?
Ari?
- Terima kasih, Bu. - Sama-sama.
Ayo pulang.
Adelia, kenapa enggak makan?
Adelia enggak lapar.
Cucu Ibu harus makan.
Biar dia tumbuh besar.
Adelia, kita ke kamar sekarang.
Harusnya…
Cucu Ibu…
Tambah satu lagi.
Tapi sayang…
Sudah dibunuh.
Maksud Ibu apa?
Kamu yang paling kasihan, Ara.
Jalan hidup kamu persis kayak Ibu.
Bedanya…
Kamu lebih buruk daripada Ibu.
Kamu tega membunuh bayi kamu sendiri.
Tega, kata Ibu?
Tega itu, Ibu yang selalu kasar, selalu ngerendahin anak-anak Ibu.
Ibu tega mukulin kita dari kecil.
Sekarang Ibu bilang Ara yang tega?
Teh, cukup.
Kamu juga.
Memangnya kamu tahu siapa bapak kamu?
Ara juga enggak tahu siapa bapak Ara, Bu.
Dari kecil,
tiap hari kita melihat laki-laki keluar masuk rumah.
Ibu pernah enggak mikir bagaimana sakitnya menjadi anak Ibu
yang harus terbiasa melihat itu?
Ibu tahu apa alasan Ara balik ke sini sekarang?
Ara mau kasih tahu langsung ke muka Ibu
kalau Ara tidak sama kayak Ibu.
Kalau Ara punya anak
yang Ara enggak mau…
Ara enggak akan biarin anak itu hidup, Bu.
Itu bedanya Ara sama Ibu.
Teh Ara.
Ira juga tahu kalau Ibu enggak sempurna.
Tapi setidaknya Ibu sudah berusaha.
Kita masih bisa makan.
Kita masih punya rumah.
Kita disekolahin.
Kita enggak pernah ditelantarin.
Ibu.
Ibu, maafin Teh Ara, ya?
Teh Ara enggak bermaksud ngomong begitu, Bu.
Maafin ya, Bu?
Kamu polos sekali, Ra.
Kamu belum tahu
dosa-dosa besar kakak kamu yang masih ditutupi.
Teh Ara.
Ira kalau boleh…
Teh Ara enggak butuh dihakimi lagi.
Teteh mau sendiri!
Ara…
Ra.
Ira.
Soal tenung yang kamu bilang…
Itu apa mungkin, ya?
Papa, cari Adelia?
Papa, cari Adelia?
Adelia!
Papa, cari Adel?
Aku di sini, lo.
Aa Ari.
Aa.
Aa!
Papa kenapa?
Saya curiga
kalau ibu kamu itu ditenung.
Ada cara yang bisa kamu lakukan agar kamu mengetahuinya.
Tetapi…
Kamu harus memantapkan hati kamu untuk melakukannya.
Siapkan secangkir air
dan sebutir telur ayam kampung.
Baca ini…
Dan embuskan napas kamu tiga kali
sebelum kamu meletakkannya di bawah kasur ibu kamu.
"Demi dia yang memiliki segala kehidupan…"
Bukakan mata ini terhadap segala makhluk…
Juga dari segala tipu daya.
Bukakan mata ini.
"Tunjukkan aku yang tidak terlihat."
Bi Ira ngapain?
Adelia?
Kamu ngapain di sini?
Adelia mau tidur di sini.
Enggak mau sama Papa.
Bi Ira mau tidur di sini juga?
Ibu benaran ditenung.
Pantas Teteh ngalamin hal-hal aneh terus.
Ira juga, Teh.
Ngalamin hal yang aneh soal Ibu.
Itu bukan Ibu.
Pokoknya kita harus pergi dari sini.
Soreang-Kalapa.
Kang Fial,
sesuai dengan saran Kang Fial untuk mencari tahu apa Ibu benar ditenung,
jawabannya adalah iya.
Telur yang Ira taruh di bawah Ibu
berdiri dan dalamnya berwarna hitam kelam.
Kami semua juga diganggu terus oleh sebuah sosok yang menyerupai Ibu.
Tolong, Kang.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Soreang-Kalapa!
Terus kita bagaimana, Aa?
Kayaknya…
Kita harus menginap di sini sehari lagi.
Aa, tapi kita kan…
Ara, lihat itu.
Aa enggak mungkin bawa Adelia keluar lagi hujan badai begini.
Besok.
Subuh kita pergi.
Enggak bisa, Aa.
Ira enggak bisa ninggalin Ibu sendirian.
Memangnya enggak ada cara lain selain ninggalin Ibu?
Kamu enggak mengerti, Ira.
Ira…
Kita pergi dulu.
Cari cara buat nyembuhin Ibu.
Sekarang kita sebaiknya tidur.
Jangan ada yang keluar kamar.
Diam!
Diam!
Diam!
Buka!
Buka!
Teh Ara!
Teh Ara?
Teh Ara!
Teh Ara!
Ari, diikhlaskan, ya?
Sudah mau hujan.
Pulang.
Adelia.
Ira.
Duluan saja, Aa.
Ira masih mau di sini.
Asalamualaikum.
Ira?
Waalaikumsalam.
Bapak siapa, ya?
Saya Fial.
Kang Fial.
Maaf, Ira, saya harus bilang ini sama kamu.
Yang ada di dalam diri Ibu kamu sekarang bukan dirinya lagi.
Tapi…
Iblis.
Saat seseorang kena tenung,
si pengirim tenung itu harus memastikan korbannya meninggal dan dikubur
sebagai persembahan kepada iblis.
Jadi,
kalau sekarang keluarga kamu mengalami teror ini,
si pengirim tenung itu berasal dari keluargamu sendiri.
Dan yang pasti
bukan almarhumah kakak kamu.
Maksud Kang Fial…
Ayo. Mau kabur ke mana kalian?
Pada enggak tahu diri!
Bu, sudahlah.
Diam kamu!
Teh Ara! Aa Ari!
Jangan pergi!
Halah, paling seminggu juga sudah balik!
Bu, minta tolong.
Kalau Ari enggak bayar kontrakan…
Ari bakal diusir.
Kenapa harus jadi saya yang mikirin?
Kamu mau tinggal di mana bukan urusan saya lagi, Ari.
Kalau Ari enggak kepepet,
Ari enggak bakal minta tolong sama Ibu.
Apa sih susahnya kasih duit ke anak sendiri?
Ibu tinggal menjual diri.
Kalau kamu pikir jual diri itu gampang,
sana!
Suruh istri kamu jual diri!
Segini saja kamu enggak mampu!
Bagaimana, Aa?
Papa, kok Mama pergi jauh?
Adelia enggak diajak.
Tanam tenung itu di tanah rumahnya.
Jika kamu berubah pikiran,
ambil kembali apa yang ditanam,
lalu bakar.
Kita harus segera balik ke rumah kamu.
Kamu dan keluarga kamu harus segera pergi dari rumah itu.
Iblis tidak akan menunggu lama untuk melampiaskan amarahnya.
Papa, ayo masuk! Hujan!
Adelia, kamu tunggu di situ! Jangan ke mana-mana!
Mama?
Aa Ari!
Aa Ari!
Aa Ari!
Ternyata kamu yang tenung Ibu!
- Tega kamu! Sudah gila kamu? - Kamu enggak mengerti, Ira!
Kamu sudah mau membunuh Ibu!
Sudah, Ira!
Kita semua harus segera pergi dari sini!
- Ini bahaya! - Enggak bisa!
Aku harus bakar tenung ini biar semua selesai!
Kalian tunggu di sini, jaga Adelia!
Adelia ke mana?
- Adelia! - Adelia!
- Adelia! - Adelia!
- Adelia! - Adelia!
- Adelia! - Adelia!
Buka!
Aa Ari, kamu cari dan musnahin tenungnya!
Aa harus selamatin Adelia!
- Adelia! - Aa Ari.
Aa Ari!
Cuma kamu yang bisa musnahin tenungnya.
Biar Ira yang selamatin Adelia.
Apa pun yang terjadi,
tolong selamatin Adelia.
Ya? Maafin Aa.
Ira!
Bi Ira…
Tolongin Adelia…
Bi Ira, tolong!
Adelia.
Kamu enggak apa-apa?
Kita pergi sekarang, ya. Ayo.
Adelia?
Bi, Nenek jahat.
Jahat? Maksudnya?
Nenek suruh Adelia begini.
Adelia!
Adelia!
Adelia, jangan!
Adelia, jangan!
Adelia!
Ibu…
Tolong Adelia, Bu.
Ibu…
Kamu siapa?
Kamu tahu, Ira?
Janji dibuat untuk ditepati.
Janji?
Janji apa?
Janji untuk aku mengambil jiwa Ibu kamu.
Tapi manusia memang paling susah kalau ditagih janji.
Tenung.
Tenung yang dikirim untuk membunuh Ibu…
Dan janji itu tidak ditepati!
Sebagai gantinya, aku akan ambil semua jiwa keluarga kamu.
Dan itu dimulai dari kakak kamu.
Dan selanjutnya…
Si kecil Adelia.
Adelia!
Ira!
Kang Fial.
Kang Fial!
Adelia!
Papa!
Adelia. Ira.
Sudah, Aa.
Semuanya sudah selesai.
Papa, ayo pulang.
Ya, sebentar.
- Aa Ari! - Ira!
- Papa! - Ira, jangan ke sini!
- Papa! - Aa Ari!
Ira!
- Papa! - Adelia, maafin Papa.
- Aa Ari! - Papa!
- Aa Ari! - Papa!
- Aa Ari! - Papa!
Aa Ari!
Ira?
Saya boleh…
Tanya sesuatu sama kamu?
Nama panjang kamu…
Andira…
Kusumadewi?
Kang Fial tahu dari mana?
Teruntuk Kang Fial.
Maaf aku harus pamit dari hidupmu dengan cara seperti ini.
Satu yang harus kamu tahu.
Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang pernah aku cintai.
Tak pernah aku berpikir
bahwa perempuan sepertiku layak untuk menerima cinta dari orang sepertimu.
Tapi, Kang Fial,
kamu berhak bersama perempuan yang lebih baik daripada aku.
Maka izinkan aku pamit
dan membawa sebagian dari dirimu dalam kandunganku.
Nantinya akan kuberi nama dia
Andira Kusumadewi.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.