All language subtitles for Gowok.Javanese.Kamasutra.2025.1080p.NF.WEB-DL.DDP5.1.H.264

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian Download
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean Download
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American) Download
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

FILM BERIKUT MENGANDUNG ADEGAN TAK PANTAS UNTUK PENONTON YANG LEBIH MUDA,

SEPERTI PEMERKOSAAN, KEKERASAN SEKSUAL, DAN ADEGAN BUNUH DIRI.

FILM INI BERDASARKAN KISAH NYATA.

NAMUN, DEMI KEPERLUAN DRAMATISASI, SEMUA ADEGAN DI FILM INI ADALAH FIKTIF.

GOWOK ADALAH WANITA YANG DIREKRUT UNTUK MEMBERI EDUKASI SEKSUAL SECARA PRIBADI,

KEPADA PEMUDA YANG DISUNAT PADA MASA PUBERTAS,

ATAU KEPADA MEREKA YANG AKAN SEGERA MENIKAH.

BUMIREJO, JAWA TENGAH, TAHUN 1933

Mas Lono…

Kamu memang luar biasa.

Nikahi aku, Mas.

Nanti.

Setelah istriku mati.

Nyai!

Nyai!

Nyai!

Tolong saya, Nyai!

- Nyai. Nyai, tolong saya. - Ndoro?

Cabut mantramu, Nyai!

Cabut mantramu! Istriku…

Istriku… Dia sudah…

Dia sudah gila!

Tolong saya!

Mas Lono!

Mas Lono!

Lonte!

Bajingan!

Mas Lono…

- Mati, Lonte! - Mas Lono!

Mati kau, Lonte!

Jaga Ratri, anak saya…

Jalang!

Mati kau, Lonte!

Lonte!

Bajingan!

Mati kau!

Mas Lono!

Kenapa kamu tega, Mas?

Kenapa kamu tega mengkhianati janji sucimu, Mas?

Jangan cemberut terus, Cah Bagus.

Jaya belum kepikiran menikah,

apa lagi belajar soal bersenggama.

Kakak-kakakmu dulu itu digowok jauh sebelum mereka menikah,

supaya mengerti bagaimana menjadi "lelaki sejati".

Menjadi laki-laki tidak cuma pandai melakukan itu, Romo.

Nanti juga ketagihan.

Ya, Bu?

BUMIREJO, JAWA TENGAH, TAHUN 1950

KITAB ATMAPRAWESA

Kembalikan!

Jangan sekali-sekali menyentuh kitab ini tanpa izin Nyai.

- Mengerti? - Ya, Nyai.

Sekarang, siapkan makanan dan minuman.

Sebentar lagi, tamu dari Kebumen tiba.

Bapak Wiro Atmojo dan Ibu Sri Rahayu Setyowati.

Beliau seorang wedana. Priayi.

Liyan, tamunya mau datang.

- Cepat! - Ya, Nyai.

Surip!

Tolong dibantu!

Selamat datang di pedepokan gowokan, Ndoro Wedana.

Silakan, silakan masuk.

Liyan! Surip!

Tolong semua barang-barangnya dibawa ke dalam!

- Ya. - Ya, Nyai!

Silakan, Ndoro Ayu.

Saya dengar kabar kalau anak sulungnya

Kangmas Harjolukito digowok di sini, Nyai?

Benar, Ndoro.

Kangmas Harjolukito yang menjadi kepala jawatan pos Bumirejo?

Ya, Ndoro Ayu.

Termasuk beliaunya juga, digowok di sini.

Nyai Lanting, guru saya, yang menggowok.

Jadi begini, Nyai.

Maksud kedatangan kami ke sini,

kami ingin menitipkan anak kami supaya bisa digowok di sini.

Baik.

Namanya Kamanjaya.

Besok ini, dia yang akan menggantikan bapaknya menjadi wedana.

Syukur-syukur menjadi bupati.

Wah.

Apa Mas Jaya sudah ada calonnya?

Tentu sudah disiapkan.

Saya masih ingin sekolah di Semarang dulu, Romo.

Itu sudah pasti, Cah Bagus.

Untuk menjadi bupati, tidak cukup hanya lulusan sekolah menengah.

Benar, 'kan, Mas?

Ya.

Saya terima kehormatan ini sebagai amanah

yang harus saya jaga.

Ini siapa?

Gadis ini…

Namanya Ratri, Mas Jaya.

Dia anak angkat saya.

Kelak dia yang akan menggantikan saya menggowok di sini.

Kamu cantik sekali.

Kebayamu bagus.

Dia sendiri yang menjahitnya, Ndoro Ayu.

Selain cantik,

juga pintar.

Pasti banyak laki-laki yang tertarik denganmu.

Jadi, besok, kalau Kamanjaya sudah punya anak laki-laki,

yang menggowok Ratri ini, Nyai?

Benar, Ndoro.

Silakan diminum.

Ya.

Mas Jaya tidak usah khawatir.

Tidak ada laki-laki yang bosan tinggal di sini.

Bahkan, sampai ada yang tidak mau pulang.

Ini kamar saya?

Ini kamar sementara, untuk istirahat saja.

Kamar utama ada di sebelah sini.

Sedang disiapkan.

Ini apa, ya?

Itu cenil dan lanthing.

Satu manis, satunya lagi gurih.

Oh, ya. Untuk keseimbangan tubuh, ya?

Manis, gurih. Siang dan malam.

Seperti yang tertulis di Kitab Wulangreh.

Mas Jaya juga membaca

Kitab Wulangreh?

Sebenarnya, saya akan diapakan di sini, Nyai?

Kalau hanya belajar cara bersenggama,

semua Kitab Centhini secara gamblang

menjelaskan itu.

Mas Jaya juga membaca serat termasyhur itu?

Benar-benar priayi terpelajar.

Ini lukisan apa, ya?

Itu "Sendang Purnaman".

Tempatnya ada di belakang sini.

Tempat semua leluhur gowok

melakukan mandi wajib sebelum memulai ritualnya.

Setiap bulan purnama.

Kebetulan, kedatangan Den Mas hari ini tepat bulan purnama.

Pertanyaan saya belum dijawab.

Saya akan belajar apa di sini?

Nanti, Mas Jaya akan tahu dengan sendirinya.

Sekarang, izinkan saya mengganti pakaian Den Mas terlebih dahulu.

Nyai. Saya buka sendiri saja.

Tak apa-apa.

Kenapa? Malu, ya?

Mas Jaya tidak usah khawatir.

Orang tua Mas Jaya sudah menitipkan Mas Jaya pada saya.

Itu artinya, sudah ada ijab kabul

antara orang tua Mas Jaya dengan saya.

Ya?

Aduh!

Mas Jaya, kenapa ada di sini?

Tidak pantas, Mas, kalau priayi ada di sini.

Tak apa-apa, Tri.

Saya sudah buatkan kopi jahe untuk Mas Jaya.

Silakan, akan saya antar ke kamar.

Bawa saja ke teras.

- Terima kasih, ya, Tri. - Ya.

- Silakan diminum, Mas. - Terima kasih, ya, Tri.

Permisi.

Tunggu, Tri!

Duduk di sini.

Temani aku.

Ayo, Tri.

Ke sini.

Tak apa-apa, Tri. Ayo.

Ayo, ke sini.

Tidak bisa, Mas.

Ayo, ke sini. Tak apa-apa. Ayo.

Ayo.

Ha?

Kenapa duduk di bawah sana?

Duduk di kursi itu.

Tidak pantas, Mas,

duduk setara dengan priayi.

Baiklah.

Aku ikut duduk di bawah.

Mas! Jangan duduk di sini!

Nanti Nyai lihat!

Kamu, tuan rumahnya, duduk di lantai. Kenapa saya duduk di kursi?

Tidak boleh!

Makanya, duduk di sana.

Kalau tidak,

aku duduk di bawah sini saja.

Ya.

Ya, duduk lagi di kursi.

- Ya. Saya ikut. - Ayo.

- Ya, Mas. - Ayo!

Duduk.

Nah.

Itu dia.

Enak, 'kan?

Sekarang

lihat mataku.

Lihat mataku, Tri.

Tidak enak mengobrol kalau menunduk.

- Maaf, Mas… - Apa?

Apa lagi yang tidak pantas?

Negara ini sudah merdeka, Tri.

Kenapa harus malu

duduk setara dengan bangsa sendiri?

Tapi masih banyak bangsawan dan priayi

yang membeda-bedakan.

Aku tak seperti itu, Tri.

Kalau Nyai melihat saya duduk begini, Nyai pasti marah, Mas!

Ya sudah. Ayo pergi ke tempat lain.

Kita jalan-jalan ke luar saja, ya?

Tidak bisa!

Saya harus mencuci baju di sungai.

Bagus! Pas!

Aku temani. Ayo.

Mana cuciannya?

- Jangan, Mas! - Itu?

- Ha? - Tidak!

Bajunya masih di sumur!

Sumur? Di sana?

- Tidak, Mas! - Tidak? Ayo!

Mas, nanti Nyai…

- Nanti Nyai marah, Mas! - Tak apa-apa.

Saya merasa tidak enak, Den Mas.

Tidak usah malu-malu, Tri.

Kita sudah keluar pedepokan.

Jadi,

Gowok pertama itu dari Tiongkok, ya?

Benar, Den Mas.

Diambil dari nama seorang perempuan Tionghoa

bernama Goo Wook Niang.

Dan Goo Wook sendiri datang ke tanah Jawa

bersama Laksamana Cheng Ho.

Panglima angkatan laut Tiongkok

yang sangat disegani saat itu.

Datang

untuk mengajari para bangsawan Jawa

bagaimana menjadi raja

yang bisa memuaskan istri dan selir-selirnya.

Apa? "Bisa memuaskan istri dan selir-selirnya?"

- Ya, Den Mas. - Ha?

Makanya, mereka disebut sebagai "Lelananging Jagad".

"Lelaki yang paling hebat di jagat raya."

Banyak, ya, pengetahuanmu, Tri.

Tidak.

Saya cuma belajar dari Nyai.

Kamu anaknya Nyai, ya?

Bukan, Mas. Kami saja tidak mirip.

Jauh lebih cantik Nyai daripada saya.

Ah, kata siapa?

Kamu juga cantik, Tri.

Mas Jaya bisa saja.

Sejak bayi, saya sudah tinggal bersama Nyai.

Ibumu ada di mana?

Sudah meninggal, Mas,

dari saya masih bayi.

Nyai Santi sendiri punya anak?

Menjadi gowok

berarti memilih melajang selamanya.

Selamanya?

Biasanya, seorang gowok memiliki anak dengan cara mengangkat anak.

Selain kamu dan Nyai,

cuma ada si tukang kebun…

Siapa namanya?

- Liyan? - Liyan.

- Bukan tukang kebun. - Oh…

Dia juga anak Nyai, seperti saya.

Oh…

Dia tidak mungkin, ya, menjadi gowok?

Gowok itu tugas yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan,

dan perempuan itu terpilih oleh seleksi alam.

Kamu akan menjadi penerus Nyai?

Begitu harapan semua murid Nyai, Mas,

termasuk saya.

Jadi, kamu tidak akan menikah?

Permisi, Mas.

Masuk.

Ini wedang secang untuk Mas Jaya,

untuk melancarkan peredaran darah sebelum tidur.

Terima kasih, ya.

Ya, Mas.

Besok, Mas Jaya sudah mulai menjalani gowok.

Saya sudah menyiapkan segala sesuatunya di kamar utama.

Mas Jaya, apa ada yang dibutuhkan lagi?

Biar saya persiapkan.

Nyai di mana?

Baru saja berjalan menuju telaga.

Kenapa ke telaga?

Bertapa, Mas.

Untuk bekal besok.

Saya pamit dulu, ya, Mas.

Tri, tunggu!

Ya, Mas?

Boleh lihat

apa yang dia lakukan di telaga?

Tidak bisa, Mas.

Pernah lihat dia di sana?

Saya dilarang ke sana.

Dari mana kamu tahu kalau Nyai benar-benar bertapa?

Anu…

Ah…

Kamu pasti mengintip, ya?

Tidak, Mas.

- Tidak? Ha? - Tidak.

- Saya… - Bawa aku ke sana. Ayo.

- Maaf, Mas. Tidak bisa. - Sudahlah. Ayo.

- Mas! Nanti Nyai marah, Mas! - Sudah!

Kita mengintip bersama-sama. Ayo.

Ayo, Mas…

Ayo.

- Mas, kembali saja, yuk. - Sudah, tidak apa-apa.

Ayo.

Aku memanggil Aji Asmaragama

untuk merasuki fisikku.

Wahai Dewa dan Dewi Asmara.

Rasuki tubuhku sekarang, Dewa Asmara.

Mas. Matikan, Mas.

Rasuki tubuhku sekarang, Dewa Asmara.

Nyai lagi apa, Tri?

Tidak tahu juga, Mas.

Apa itu, Tri?

Hyang Kamajaya dan Kamaratih.

Pasangan Dewa Asmara yang dipercaya masyarakat Jawa.

Izinkan aku menyerap roh suci kalian.

Buang semua nafsuku.

Tri.

Ratri…

Tri. Ha?

Ratri.

Ratri!

Ratri!

Ratri!

Ratri!

Tri! Ratri!

Kaki saya terkilir, Mas.

Ayo, aku bantu.

Pegang aku.

Awas, Mas.

Pelan-pelan, Mas.

Ayo, kamu duduk.

Ayo.

Aduh.

Mas! Jangan!

- Tak apa-apa, Ratri! - Tak boleh, Mas!

Sudahlah, Tri.

Aduh! Sakit! Pelan-pelan!

Mas, sakit.

Sudah, Tri. Tak apa-apa, Tri.

Mas, jangan! Tidak!

Pelan-pelan, Mas!

Mau apa, Mas?

- Mas, tak usah! - Sudahlah. Tri, sudah!

- Jangan, Mas! - Sudahlah, Tri!

Ini, ya?

Ya.

Pelan-pelan, Mas. Aduh.

Maafkan perlakuan saya tadi, Mas.

- Saya sudah lancang sekali. Itu semua… - Sudah, Tri.

…di luar kuasa saya, Mas.

- Mestinya kita tidak ke telaga itu! - Sudah, Tri.

Mestinya kita tidak ke telaga itu!

- Mas… - Sudah, Tri!

Tidak, Mas. Sekarang saya mengerti kenapa Nyai tidak pernah mengajak

- saya ke sana… - Ratri! Sudah, Tri!

Sudah terjadi, Tri!

Tenang, ya?

Mas Jaya

merasakan itu juga?

Mas Jaya pasti jijik, ya, dengan saya?

Aku sangat menikmatinya tadi.

Kamu cantik sekali, Tri.

Habis airnya ditinggal melamun. Lihat?

Aku sudah bilang, jangan pernah pergi ke telaga,

apa lagi mengajak Mas Jaya!

Nyai, maafkan saya. Maaf, Nyai.

Ratri sudah berbuat salah. Ratri…

Ratri pantas dihukum, Nyai.

Mohon maaf.

- Maaf, Nyai. - Ya sudah. Kemari.

Kemari!

Sekarang, aku izinkan kamu mengetahui isi kitab ini

agar rasa penasaranmu hilang.

Kitab ini dulunya berasal dari Tiongkok.

Namanya "Su Nu Jing".

Tapi oleh leluhur Nyai

disesuaikan ke dalam budaya Jawa.

Mereka menyebutnya "Atmaprawesa".

Artinya

"jiwa yang terikat".

Kitab ini mengajarkan cara mengikat pasangan

melalui kesucian cinta.

Itu sebabnya

harus dilakukan dalam keadaan bersih.

Tidak boleh sembarangan,

karena akan menyebabkan penyakit mematikan.

Jika pasangan tersebut

membaca mantra Atmaprawesa saat berhubungan,

keduanya akan terikat

kuat selamanya.

Liyan, kamu sedang apa?

Maafkan saya, Nyai. Maaf.

Liyan tidak sengaja, Nyai. Tidak sengaja.

- Maaf… - Ya sudah. Kemari.

Duduk.

Kalian harus mengerti.

Tidak boleh ada satu orang pun mendekat ke telaga

kalau Nyai sedang menjalani ritual,

merapal mantra berbahaya ini.

Membuat pasangan saling setia kok berbahaya, Nyai?

Berbahaya

jika lelaki tersebut mengingkari janji setianya.

Itu bisa membunuhnya,

juga pasangannya.

Lalu, kenapa Nyai terus melakukan ritual itu?

Melakukan ritual bukan sekadar merapal mantra,

tapi juga untuk meminta perlindungan kepada Hyang Kamajaya dan Kamaratih,

agar dalam menjalani prosesi gowok mendapat keselamatan.

Seluruh proses Atmaprawesa dilakukan di telaga?

Bisa di mana saja, asal jauh dari orang-orang.

Kenapa, Nyai?

Karena setiap energi positif yang datang

pasti akan selalu disertai energi negatif.

Energi ini dinamakan

"Nur Illahi".

Ini roh iblis.

Berisi nafsu dan angkara.

Warnanya jingga.

Berarti

kemarin malam…

Ya.

Kamu telah diliputi nafsu, Tri.

Dan parahnya, kamu melakukan itu dengan putra priayi.

Saya sudah bersalah, Nyai! Saya bersalah!

Maafkan saya!

Saya minta maaf!

Sudah, tidak perlu khawatir.

Nyai sudah mendoakan kamu.

Sekarang…

Kemasi barang-barang Mas jaya

dan pindahkan ke kamar utama.

Nyai harus segera menggowok Mas Jaya

agar roh jahat yang menaunginya segera sirna.

Silakan.

Tri.

Tutup pintunya.

Soal kejadian di telaga

jangan salahkan Ratri, Nyai.

Tidak ada yang menyalahkan Mas Jaya.

Saya tahu…

Anu, Nyai…

Maaf.

Ini belum dinyalakan, Nyai.

Permisi, Nyai.

Maafkan murid saya itu, Mas Jaya.

Saya yang harus minta maaf, Nyai.

Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi.

Sekarang,

mari kita persiapan.

Saya akan mengajari Mas Jaya

Aji Asmaragama,

- yaitu inti kebahagiaan rumah tangga. - Silakan diminum.

Bagaimana lelaki memuaskan perempuan secara seksual.

Apa tidak terbalik, Nyai?

Tidak, Mas Jaya.

Perempuan adalah jiwanya rumah.

Para leluhur menyebutnya

"Kanca Wingking",

yang diberi kepercayaan berada di belakang

agar selalu memberikan dorongan

kepada "Kanca Ngajeng",

alias yang selalu menghadapi ancaman rumah tangga di depan.

Sebagai sosok yang selalu memberi dorongan bagi yang di depan,

jiwanya senantiasa dibahagiakan,

dipuaskan.

Jiwa yang tenang adalah langkah awal menyelami Aji Asmaragama.

Aji Asmaragama terdiri dari empat tahapan.

Tahap pertama adalah Asmaratura,

yaitu cinta yang terbit dari mata.

Ceritakan hal paling lucu kepada pasangan Mas Jaya,

apa saja.

Selipkan pujian-pujian untuk pasangan Mas Jaya

agar perasaannya makin melambung.

Setelah rasa nyaman didapat,

mulailah menyentuh dia.

Itulah yang disebut Asmaratantra,

yaitu cinta yang menyala akibat sentuhan.

Lakukan sentuhan itu dengan perlahan dan penuh perasaan cinta.

Setelah sama-sama merasakan cinta terdalam,

barulah Mas Jaya melakukan puncak bersatunya jiwa

dan tubuh manusia,

yaitu Asmaragama.

Bersatunya dua badan manusia.

Dalam Asmaragama,

roh berpuisi lewat tubuh.

Saat itu,

tidak ada lagi "aku"

ataupun "kamu".

Semuanya menjadi satu.

Manunggal…

Menyatu…

Menjadi satu.

Ketika perempuan terpuaskan,

tubuhnya makin kuat,

pikirannya makin terang,

dan ia akan menjalani hari-harinya dengan bahagia.

Kopi Purwaceng, Mas Jaya.

Ini kopi yang dicampur jahe dan sedikit garam,

untuk mengembalikan stamina Mas Jaya yang terkuras semalam.

Silakan diminum, Mas Jaya.

Permisi.

Bagaimana kabar Mas Jaya hari ini?

Baik, Nyai. Baik.

Ratri di mana, Nyai?

Biasanya kalau siang begini, Ratri ke sungai, mencuci baju.

Oh.

Silakan diminum.

Ya.

Tolong jangan dekat-dekat saya lagi, Mas.

Kamu marah

kita melakukan itu?

Mas Jaya sudah punya jodoh.

- Saya… - Semalam, hanya kamu di pikiranku, Tri.

Auramu…

Aromamu…

Terus ada di hadapanku, Tri.

Tidak bisa menolak, Tri.

Aku mencintai kamu.

Tolong jangan diteruskan, Mas.

Tri…

- Tri… - Tolong jangan diteruskan, Mas!

Saya… Saya tidak tahu apa yang telah merasuki saya.

Saya tidak pernah mengalami perasaan seperti ini,

- dan rasanya membingungkan. - Perasaan apa, Tri?

- Ratri, perasaan apa? - Ratri juga cinta…

Ratri!

Ratri!

Tri! Kenapa, Tri?

Saya anak pelacur, Mas!

Ratri.

Mas Jaya?

Mau ke mana, Mas?

Sudah, ikut saja.

Simpan ini.

Selesai sekolah,

akan aku ambil kembali buku ini

untuk melanjutkan kisah kita.

Kisah kita?

Semua perasaanku pada kamu

ada di buku ini, Tri.

"JIKA PERASAAN CINTA HARUS KUAKUI SEBAGAI DOSA,

MAKA AKU RELA MASUK NERAKA

HANYA DEMI BISA MENCINTAIMU, RATRI-KU…"

Aku benar-benar mencintaimu.

Tidak tahu, Tri,

kenapa perasaan ini begitu kuat sampai aku harus tuliskan di buku harianku.

Lupakan perasaan Mas Jaya pada saya.

Lagi pula, saya harus menjadi gowok.

Apa itu yang benar-benar kamu inginkan, Tri?

Saya hanya bisa terima nasib, Mas.

Apalah arti anak pungut,

dari seorang ibu pendosa pula?

Sudahlah.

Ini.

Ini untukmu.

"Perempuan Indonesia?"

"Berdikari?"

Berdiri di kaki sendiri.

Slogan ciptaan bung Karno, sengaja diambil untuk memotivasi perempuan sepertimu, Tri.

Agar punya mimpinya sendiri.

Caranya?

Mengajari perempuan memahami huruf.

Agar bisa baca berita di koran,

majalah,

pamflet.

Mereka juga mengajari keterampilan,

seperti membatik, menyulam, dan sebagainya.

Bahkan, Tri,

mereka punya mimpi

membangun sekolah perempuan di kota-kota, termasuk di sini.

Tapi anggota mereka pasti putri-putri priayi seperti Mas Jaya.

Tidak, Tri.

Ini.

Ini namanya Ningsih.

Teman baik kakakku.

Aku memanggilnya dengan sebutan Mbak Ning.

Tri.

Dia dulu anak perampok, Tri.

Bapaknya sering keluar masuk penjara.

Di umur 15 tahun, dia hampir dinikahkan karena tekanan ekonomi.

Tapi apa?

Mbak Ning menolak itu.

Dia justru bergabung dengan Roepindo dan mengubah takdirnya.

Temui dia, Tri.

Dia pasti mau membantumu.

Ini alamat kantornya.

Kenapa Mas Jaya melakukan ini pada saya?

Karena aku tahu…

kamu bisa tentukan masa depanmu sendiri.

Kecuali

kalau kamu benar-benar hanya ingin menjadi penerus Nyai Santi.

Tri.

Wujudkan mimpimu, Tri.

Mas Jaya yakin aku bisa mewujudkan mimpiku sendiri?

Hanya kamu yang bisa jawab.

Aku ingin menjadi seperti Mbak Ning.

Ya, ayo!

Ayo, Tri!

Aku pasti membantumu. Aku mau membantumu, Tri.

Mas Jaya sungguh-sungguh?

Demi Hyang Kamajaya dan Kamaratih.

Aku sungguh-sungguh, Tri.

Aku mencintai kamu.

Aku benar-benar mencintai kamu, Tri.

Demi apa pun yang aku miliki, Tri,

aku akan menjemputmu di sini untuk menjadi istriku.

Kita sama-sama tuliskan kisah kita di buku ini,

agar dibaca oleh anak-anak kita nanti.

Percaya padaku, Tri.

Terima kasih, Nyai.

Ya, Ndoro.

Semoga Jaya bisa menjadi Lelananging Jagad,

sesuai harapan ayahnya.

Amin, Ndoro Ayu.

Pamit, Nyai.

Silakan.

Cah Bagus.

Kamu sudah keterlaluan, Tri.

Aku sudah tahu semuanya.

Pergi!

Lupakan Jaya,

karena dia tidak akan pernah menepati janjinya!

Dari mana Nyai tahu?

Priayi hanya akan menikahi priayi.

Begitu pun bangsawan.

Di luar itu,

bukan urusan mereka.

Mas Jaya bukan pria yang seperti itu, Nyai.

Bocah ini tak bisa diberi tahu!

Dengarkan aku, ya.

Kamu harus mewarisi ilmuku.

Hyang Kamajaya dan Kamaratih sudah merestuinya

saat aku berdoa di telaga. Mengerti?

Aku tidak mau, Nyai.

Ratri akan menentukan masa depan Ratri sendiri.

Ayo, lihat jualannya. Beli buah.

Akan aku buktikan pada Nyai,

aku bisa menentukan takdirku sendiri.

Tolong aku, Mas Jaya.

Becak? Mbak, becak?

Tidak, Pak.

- Pak. Permisi, Pak. - Ya?

Alamat ini di mana, ya, Pak?

- Oh, ini? - Ya.

Di sana.

- A… - A…

- B… - B…

- C… - C…

- D… - D…

- E… - E…

- F… - F…

- G… - G…

- H… - H…

- I… - I…

- J… - J…

Biasanya Ibu dan keluarga sehari makan berapa kali?

Sekali sehari, atau sekali setiap dua hari.

- Mencari Roepindo, Mbak? - Ya.

Saya mencari Mbak Ningsih. Ada?

Ada di dalam.

Biar saya antar.

Mbak Ning, ada yang mau ketemu.

- Oh, ya. Ya. - Saya tinggal, ya?

- Terima kasih, ya. - Ya.

Silakan.

Ada yang bisa saya bantu?

- Seperti katamu, Mas Jaya. - Saya diberi ini oleh Mas Jaya…

Mbak Ning adalah perempuan yang luar biasa.

Karena saya punya tekad dan mau mengubah hidup saya.

Itu yang penting, Tri.

Saya mau, Mbak.

Selamat datang.

Ayo, aku kenalkan.

Selama hidup,

aku hanya mengenal perempuan seperti Nyai Santi.

Aku tidak pernah tahu

bahwa dunia di luar pendopo sangatlah menyenangkan.

Aku makin yakin

masa depanku akan kugapai dari sini.

Pos!

- Pak! - Kamaratih-ku.

Dari Mbak Ning, aku mendengar kabarmu dan mimpimu.

Nah.

Ingin rasanya aku hadir menemanimu.

Tapi tugas sekolahku makin menumpuk.

Jangan pernah menyerah mewujudkan impianmu, Tri.

Mas Jaya-ku tersayang.

Terima kasih sudah menjadi cahayaku.

Ini, ya?

- Roepindo menjadi rumah keduaku. - "Merdeka." Ayo, coba.

Tidak pernah aku merasa sebahagia ini, Mas.

Bisa menjadi perempuan yang punya mimpinya sendiri.

Menggapai kehormatannya sendiri

tanpa berstatus bangsawan ataupun priayi.

Begini rasanya punya mimpi sendiri?

Tri!

Tri!

Tri! Yan.

Ratri di mana?

Di kamar, Nyai.

Bocah ini…

Tri!

Kemari!

- Kenapa, Nyai? - Kemari!

Ambil kebayamu!

Sekarang! Ada tamu!

Rumah ini sudah seperti neraka untukku, Mas Jaya.

Rasanya ingin aku keluar dari sini

dan menyusulmu ke Semarang, Mas.

- Pak. - Ya.

Pak!

Ada surat untuk saya?

- Tidak ada, Nak! - Sebentar, Pak!

Biasanya di tanggal-tanggal ini ada, Pak, surat untuk saya.

Aduh, tapi nyatanya tidak ada.

- Permisi, ya! Harus buru-buru! - Pak!

Mas Jaya, di mana kamu?

Tidak biasanya kamu abai

membalas suratku, Mas.

Pak! Sebentar, Pak!

Pak!

Pak, ada surat untuk saya, tidak?

Tidak ada, Nak.

Tidak mungkin, Pak! Pasti terselip!

Terselip bagaimana? Tidak mungkin! Sudah, ya!

Tolong carikan, Pak!

- Tak ada! Sudah! - Pak!

Hei!

Bukannya ini Raden Ayu Nilawati, ya?

Putrinya Pangeran Kartanegara yang itu.

Wah.

Sudah menikah?

Hei, dengan siapa?

- Keluarganya bangsawan juga? - Bukan.

Dengan anaknya Bupati Temanggung.

Ha?

Bukannya Nila punya pacar kader partai di Surakarta, ya?

Sudah bubar.

Hubungannya tak disetujui keluarganya Nila.

Ha?

Kok bisa?

Tidak tahu.

Ada apa, Tri?

Ini pasti bohong, Mbak.

Bapaknya Kamanjaya bukan bupati, Mbak.

Korannya kacau, Mbak! Korannya kacau!

- Tri! Korannya, Tri! - Aku pinjam!

Nyai di mana?

Tri!

Tri!

Kenapa Nyai tidak cerita?

Soal apa?

Tidak usah ditutup-tutupi, Nyai!

Bagaimana mungkin seorang wedana

bisa menjadi bupati dan bisa menikah secepat itu, Nyai?

Jika manusia punya jabatan,

harta,

segalanya mungkin.

Mas Jaya tidak mungkin, Nyai.

Mas Jaya tidak mungkin seperti itu, Nyai.

Mas Jaya bukan priayi seperti itu, Nyai!

Tri.

Aku sudah ingatkan.

Tidak mungkin.

Tidak…

Demi Hyang Kamajaya dan Kamaratih,

aku akan menjemputmu di sini untuk menjadi istriku.

Kita sama-sama tuliskan kisah kita di buku ini.

Kamu telah diliputi nafsu, Tri. Lupakan Jaya,

karena dia tidak akan pernah menepati janjinya.

Makan dulu, Tri.

Biar badanmu kuat lagi.

Hidupku

sudah tidak ada artinya lagi.

Aku tidak mau terima nasibku begitu saja, Jaya.

Rasa sakit yang kamu berikan

akan selalu terpatri di dadaku…

sampai kapan pun.

- Tak bisa diganggu. - Minggir!

- Tri, Nyai lagi tidak bisa… - Tidak usah menghalangi!

- Minggir! - Jangan, Tri!

Ada apa ini?

Nyai ingin saya mewarisi ilmunya Nyai, 'kan?

Berikan semuanya, Nyai.

Saya bersumpah saya akan menjaganya.

Tidak untuk yang satu ini.

Ajari ilmu itu, Nyai.

Atau aku akan mengakhiri hidupku lagi!

- Jangan, Tri! - Diam kamu!

Jika Nyai menolak,

aku akan menusuk kerongkonganku.

Sudah cukup ibumu yang menjadi korban.

Aku bukan lonte seperti ibuku!

Aku akan menjadi gowok terhormat, Nyai.

Semua lelaki

akan menjadi Lelananging Jagad di tanganku.

Warisi seluruh ilmumu, Nyai.

Maka akan aku besarkan tempat ini.

Saya bersumpah.

Ganjarannya.

BUMIREJO, JAWA TENGAH, TAHUN 1965

LIMA BELAS TAHUN KEMUDIAN

Ini dari Bupati Pemalang.

Bapaknya berterima kasih

atas jasanya Ratri untuk prosesi putranya.

Baiklah. Tolong sampaikan kepada Pak Bupati, saya berterima kasih.

Baik.

Saya pulang dulu.

Silakan.

Liyan!

Tolong bawa ini ke dapur!

Ya, Nyai!

Den Mas.

Silakan, Den Mas.

Bagaimana kabarnya, Ndoro Harjolukito?

Baik.

Bagaimana?

- Lancar, 'kan? - Ya, Romo.

Terima kasih, ya, Dik Ratri.

Sri!

- Sri, bantu ini! - Ya?

- Banyak sekali. - Terima kasih, ya,

sudah menggowok anakku.

Sama-sama, Ndoro Ayu.

Aduh, Tri.

Sudah hampir setahun.

Lebih dari tiga murid, setiap bulannya digowok Ratri.

Sepertinya tempat ini tidak cukup, ya?

Banyak penis.

Sialan!

Liyan.

Dengkulku mau copot ini!

Pijat itu.

Sudah.

Bulan ini, kita istirahat, ya.

Ya, Nyai.

Liyan, tolong siapkan makanan.

Ya, Tri.

- Ya? - Permisi, Nyai.

Saya Laras,

- asistennya Mbak Ningsih yang baru. - Oh!

- Ya! Silakan masuk. - Ya.

- Permisi. - Bagaimana kabar Mbak Ningsih?

Baik, Nyai.

Saya ke sini diminta menyampaikan sesuatu pada Nyai.

Ya?

Ningsih.

Saya senang sekali dengan gerakan ini.

Dan kamu jangan khawatir.

Partai pasti akan selalu mendukung gerakan kalian.

Begini, Tri, organisasi kita

sekarang namanya Gerwani,

- Gerakan Wanita Indonesia. - Saya pamit.

Dan anggotanya sudah sampai satu setengah juta

di seluruh Indonesia.

Wah.

Senang sekali, Mbak Ning, organisasi ini berkembang dengan pesat.

Ini semua karena kerja keras kita.

Kerja keras kita semua.

Tapi yang paling utama, ya, karena kamu.

- Cuma menyumbang sedikit. - Jangan bicara seperti itu.

Sekarang, karena organisasi kita sudah semakin besar, ya, Tri,

aku ingin mewujudkan apa yang menjadi impianmu.

Ikut aku.

Ayo, Mbak.

Ini, Tri.

Rancangan sekolah perempuan.

Wah. Bagus ini, Mbak.

Rasa ingin buru-buru sekolah ini jadi.

Sebetulnya,

sudah ada beberapa penyokong dana.

Tapi, ya, karena sekarang ini sedang resesi ekonomi, Tri,

banyak yang mengundurkan diri.

Oh…

Karenanya,

aku ingin minta bantuan dari kamu, Tri.

Iya, Mbak. Tenang. Kebetulan, beberapa muridku putra priayi kaya.

Aku bisa minta bantuan mereka.

Benar, Tri?

Ya, Mbak.

Aduh, Tri.

Terima kasih.

Terima kasih, ya.

Sama-sama, Mbak.

Tadi sore ada tamu? Siapa?

Ha? Kamu kok tahu?

Berpapasan di jalan.

Siapa mereka, Nyai?

Sebenarnya, aku tidak mau cerita dulu.

Karena kita sepakat bahwa bulan ini mau istirahat dulu.

Sepertinya tamu penting, ya?

Penting sekali.

Karena ini tamu yang dari dulu Nyai nantikan.

Siapa?

Keluarga bangsawan Surakarta, Tri.

Ha?

Benar, Nyai?

Terima kasih, Cah Ayu.

Kok…

Tiba-tiba ada bangsawan menyasar kemari?

Ini bukan sekadar menyasar.

Liyan, ceritakan.

Tamu kita sore ini ajudan Gusti Kanjeng Ario Kartanegara dari Surakarta.

Kabarnya, dua hari lagi,

dia akan datang bersama cucunya. Mau menjadi murid di sini.

Wah!

- Makan dulu. - Ya.

Ya.

Stop.

Ti.

Wah…

Cucu saya, Pangeran Bagas Dewangga,

akan menikah dengan Fatimah,

putri Sultan Omar Ali dari Brunei.

Kenapa bisa begitu? Karena kakeknya mereka

teman kuliah di Belanda.

Jadi, tidak berlebihan kalau saya bilang

si Bagas ini harus menjadi Lelananging Jagad untuk Fatimah.

Nah, untuk itu,

aku minta bantuan kalian.

Bagaimana?

Maaf, Kanjeng Gusti, kalau saya lancang berbicara.

Suatu kehormatan gubuk kami

kehadiran tamu agung.

Tapi apa pantas

putra bangsawan agung digowok oleh kami?

Bukannya kadipaten punya gowok sendiri?

Saya dengarnya dari besan saya.

Dari teman-teman bupati.

Mereka itu membicarakan kalian.

Wah…

Tidak percaya pada awalnya.

Tapi… Nah, ini.

Setelah anakku yang cantik ini berterus terang

menceritakan pengalaman dia dengan suaminya

di malam pertama… Wah!

Luar biasa!

Katanya, itu hasil gowok Nyai Santi.

Apa benar?

Mohon maaf, Kanjeng Gusti.

Kalau boleh tahu,

siapakah bangsawan agung tersebut?

Oh…

Bangsawan itu?

Sebentar.

Nah.

Mobilnya sudah terdengar.

Silakan, Ndoro.

Den Mas Jaya?

Nah.

Ini menantu saya.

Ya. Aku merestuimu.

Apa kabar, Nyai Santi?

Ratri?

Jaya, apa benar kamu digowok oleh mereka?

Lebih tepatnya

dengan Nyai Santi.

Jadi, bagaimana hasilnya?

Maaf, Romo.

Saya cuma dengar rumornya.

Bahwa laki-laki yang pernah menjalani gowok

akan menjadi laki-laki yang memuaskan perempuan.

Namun, Mas Jaya

lebih dari itu.

Dia benar-benar menjadi suami yang luar biasa untuk saya.

Kalau begitu, si Bagas harus seperti bapaknya.

Bagaimana, kalian berdua? Bisa menolong saya? Ha?

Mungkin Nyai Ratri masih butuh waktu memikirkannya.

Mohon maaf, Kanjeng Gusti.

Tapi ada syaratnya.

Syarat? Apa? Syarat apa?

Saya sedang mewujudkan mimpi saya untuk membangun sekolah perempuan di kota saya.

Dan saat ini, sekolah tersebut sedang dalam tahap pembangunan.

Dan uang gowok saya

akan saya gunakan untuk membangun sekolah tersebut.

Jika saya bersedia menggowok,

apa saya dapat menerima upah saya di depan?

Saya tidak mengira

manusia seperti kamu punya pikiran mulia.

Itu bagus!

Kagum aku!

Hei!

Amplopnya! Amplop! Cepat!

Kenapa kamu tidak bilang pada Nyai kalau punya rencana buat sekolah?

Kenapa Nyai juga tidak bilang kalau saya akan menggowok anaknya Jaya?

Aku tak mengerti apa-apa.

Bohong semua.

Aku benar tak mengerti! Lagi pula, untuk apa aku bohong?

Apa untungnya?

Terima kasih, ya, Tri. Terima kasih.

Selamat datang di pedepokan gowokan, Ndoro Ayu Nilawati.

Silakan masuk.

Pernikahan Bagas sudah disiapkan.

Sehabis lulus sekolah di Semarang.

Yang menggowok saya siapa?

Nyai Santi atau Nyai Ratri?

Bagas, jaga omonganmu.

Tenang saja, Ndoro Ayu.

Nanti sepulang dari sini,

sikap Den Mas Bagas akan lebih baik.

Kebetulan, saya yang akan menggowok Den Mas Bagas.

Silakan, Den Mas.

Kita ke kamar.

Ya.

Ini kamar saya?

Ya, Den Mas.

Apa dulu kamar ayah saya juga yang ini?

Memang Den Mas maunya bagaimana?

Saya mau beda dari ayah saya.

Baik.

Kalau begitu, Den Mas akan mendapatkan sesuatu yang beda dari ayah Den Mas.

Sri.

Kenapa kamu tidak bantu nyai kamu mandi wajib?

Maaf, Mbok Nyai. Nyai Ratri maunya seperti itu.

Awasi terus nyai kamu.

Catat kalau ada yang aneh.

Lapor pada Nyai.

Nyai mau pergi ke kota.

Ada keperluan penting.

Ya.

Dingin.

Tenang, Den Mas.

Nanti saya yang akan menghangatkan.

Ya?

Bu, tidak tidur?

Masih sakit?

Ibu tidak apa-apa.

Besok, Ibu mau ke Bumirejo, menengok Bagas.

Tolong siapkan mobil untuk Ibu.

Biarkan saja, Bu.

Serahkan saja kepada mereka.

Ingat, Jaya.

Ini kesempatanmu untuk menunjukkan ke Kanjeng Gusti Adipati

bahwa kau menantu istimewa.

Bagas harus menjadi penerus Kadipaten Surakarta.

Dengan begitu,

keluarga kita akan terangkat menjadi bangsawan.

Liyan, Mbok Nyai di mana?

Di kota, belum pulang.

Sri?

Di dapur.

Sri.

- Sri. - Ya, Nyai?

Tolong siapkan dua jarik.

Untuk ritual di telaga malam ini.

Kok jariknya dua, Nyai?

Sudah, tidak usah cerewet.

Siapkan saja, ya?

Aku dengar kau bertemu ibunya Den Mas Jaya sore ini.

Benarkah?

Belum rampung urusannya

Den Mas Jaya dan Ratri?

Rahayu hanya memastikan

kalau Jaya tidak menemui Ratri lagi.

Aku penasaran.

Rahayu kok berambisi sekali

menggowokkan Bagas pada Ratri?

Sebenarnya bukan Ratri.

Tapi kamu.

Kok aku?

Iya.

Kamu yang sudah membuat Den Mas Jaya

menjadi menantu kesayangannya Kanjeng Gusti.

Kangmas ini.

Jadi, sebenarnya,

awalnya itu karena ada hubungan asmara

antara Rahayu dengan Kanjeng Gusti.

Bisa menapak?

Rahayu dengan Kanjeng Gusti pernah punya hubungan asmara?

Iya.

Kok Kangmas tahu?

Sudah menjadi rahasia umum.

Semua bangsawan dan priayi sudah tahu.

Di samping itu, Nyai,

Wiro, suaminya Rahayu, adalah teman aku sejak HBS.

Aku dekat sekali dengan dia.

Terus, kenapa hubungan mereka tidak berlanjut?

Ayo!

Rahayu itu tidak punya darah bangsawan.

Bibit, bobot,

bebetnya tidak pas.

Kanjeng Gusti terancam kehilangan kesempatan

menjadi raja kalau menikah dengan Rahayu. Lalu, bagaimana?

Akhirnya, Rahayu dijodohkan dengan Wiro.

Kalau tidak salah, Wiro waktu itu berpangkat wedana.

Rahayu setuju?

Yah, awalnya tidak mau,

tapi diterima dengan syarat.

Apa syaratnya?

Kalau Kanjeng Gusti dinobatkan jadi raja,

Wiro harus diangkat menjadi bupati.

Kanjeng Gusti mau menuruti keinginan Rahayu?

Iya.

Bagaimana mungkin seorang wedana

bisa menjadi bupati dan bisa menikah secepat itu, Nyai?

Aku rasa

Rahayu pasti pakai susuk yang kuat.

Buktinya, bangsawan sekelas Kartanegara bisa takluk padanya.

Kamu tak pakai susuk, 'kan?

- Tidak! - Ya.

Aku merasakan apa, ya? Auranya sangat terasa.

Yang lebih gila lagi,

Rahayu sangat berambisi

dipanggil dengan sebutan "Gusti Raden Ayu". Gila, 'kan?

Ha?

Itu gelar yang hanya pantas untuk perempuan bangsawan, Mas.

Iya.

Aneh sekali itu, Mas.

Yang ini dirahasiakan, ya.

Iya.

Jangan ada yang tahu.

- Ya, Mas. - Janji?

- Janji? Benar? - Iya, benar.

Cium dulu.

Yang satu lagi.

Bagaimana?

Jadi, begini.

Waktu itu, keraton sedang dilanda aib besar.

Nila hamil di luar nikah dengan seorang pemuda komunis.

Keraton jelas menolak hubungan itu.

Lalu, untuk menutupi rasa malu,

Rahayu membujuk Kanjeng Gusti supaya Nila dinikahkan dengan Den Mas Jaya.

Dengan satu syarat.

Kalau Kanjeng Gusti dinobatkan jadi raja,

Jaya mendapat gelar bangsawan,

dan Rahayu dapat gelar "Gusti Raden Ayu".

Begitu.

Jadi, Bagas

bukan putra kandungnya Jaya?

Iya.

Jaya tahu soal itu, Mas?

Tidak.

Aduh.

Pernikahannya saja dilakukan dengan cepat.

Anehnya, setelah menikah,

Nila sangat cinta Jaya.

Semua priayi dan bangsawan mengira

pasti Rahayu yang menyantet.

Tapi aku tidak percaya hal seperti itu.

Ini pasti hasil dari gowokanmu, ya? Ya, 'kan?

Tadi malam pas di telaga, kamu memberi saya apa?

Rasanya hebat!

Itu dari gowokan saya, Den Mas.

Bekal Den Mas pernikahan nanti.

Tidak!

Aku tidak mau menikah!

Aku ingin di sini saja. Ratri, aku mencintaimu.

Den Mas, jangan.

Jangan, Den Mas. Den Mas, jangan di sini.

- Baiklah, ayo! Ayo! - Den Mas!

- Jangan, Den Mas. - Ayo!

- Asal dari mana? - Mau ke mana?

Saya mau ke arah sana.

Urusan apa?

Saya mau pulang ke rumah.

Ada apa ini, ramai-ramai?

- Pemeriksaan, Ndoro. - Pemeriksaan apa?

Di Jakarta itu baru ada gegeran.

Tujuh jenderal diculik, lalu dibunuh.

- Kau komunis, ya? - Apa maksudnya?

Itu komunis, Ndoro, yang memakai baju merah.

Kamu Gerwani!

Kamu pasti Gerwani!

- Gerwani! Bawa dia! Ayo! - Tolong! Mas, tolong!

Jalan…

Sebentar!

Mau ke mana?

Kanjeng Bupati.

Bupati! Buka!

Buka!

Silakan, Ndoro.

Ibu melindur terus, Mas.

Bagas…

Bagas…

Ya.

Ya.

Bagas…

Jantung Ibu mendadak lemah, tapi sudah bisa ditangani.

Penyebabnya?

- Stres yang berlebihan. - Hmm.

Tadi juga sudah saya berikan suntikan penenang.

Tolong Pak Bupati jaga Ibu, supaya jangan terlalu banyak aktivitas dulu.

Sampai keadaannya benar-benar pulih.

Begitu, Pak.

- Terima kasih, Pak Dokter. - Ya.

Seharian ini, Ibu menanyakan Bagas.

Ada apa, Mas?

Bagas…

Bagas…

Ya…

Bu?

Bu?

Ini Jaya.

Jaya…

Kamu harus cepat menikahkan Bagas.

Harus, ya, Nak.

Bu, sudahlah. Tidak usah khawatir.

Semua sudah diurus Jaya dan Kanjeng Gusti.

Cepat, Bagas. Cepat.

Jangan sampai lewat batas dan mencintai anak lonte itu!

Jaya!

- Bu… - Jaya…

Apa maksud Ibu?

Ratri…

Ratri, gowok perayu itu!

Bagaimana Ibu tahu Ratri itu anaknya lonte?

Ibu tahu…

- Bu. - Sudah.

Jemput Bagas dan kawinkan dia dengan Putri Fatimah.

Sekarang juga…

Baik…

- Baik. - Sekarang, Jaya.

Tolong Ibu.

Enak, Den Mas, rawonnya?

Enak.

Den Mas.

Besok, ibu Den Mas mau jemput.

Bukannya masih pekan depan, ya, Nyai?

Kabar dari Kanjeng Bupati mengabarkan seperti itu.

Aku tidak mau pulang.

Den Mas.

Sebaiknya turuti perintah Ibu.

Dari kecil, aku patuh pada Romo dan Ibu!

Bahkan Eyang Putri sangat mengatur aku. Aku tidak mau diatur-atur lagi!

Lepas!

- Lepas! Ratri! - Ayo, Den!

Lepas!

- Aku tak mau pulang! - Bagas!

Ratri!

Jangan biarkan mereka bawa aku!

Bagas!

Bagas!

Rat! Ratri!

Gusti! Laras!

- Laras, ada apa ini? - Nyai! Aduh!

Mbak Ning di mana?

- Mbak Ning anu… - Laras! Ke sini! Ayo!

- Ini, Mbak… - Tidak ada waktu lagi!

- Ayo! - Tapi itu belum…

Mereka sudah menunggu di perbatasan!

Ayo! Pergi, cepat!

Cepat, ayo! Kita pergi, cepat!

Cepat!

Ayo! Cepat!

Ayo!

Mbak Ning?

Mbak Ning?

Mbak Ning?

Mbak?

Mbak Ning?

Den Mas Jaya!

Baru saja dapat kabar rumah Gerwani digerebek massa.

Kalau aku tidak selamatkan kamu,

pasti kamu sudah menjadi korban.

Digerebek massa?

Salah apa mereka?

Terus, Mbak Ning bagaimana?

Dia menuju Sragen.

Tapi anggotanya lagi diawasi.

Kok bisa begini?

Tentara menuduh partai yang menaungi Gerwani terlibat pembunuhan.

Gerwani tidak pernah dinaungi partai mana pun.

- Semuanya fitnah! - Sudahlah, Tri!

Ini politik!

Kamu tidak paham persoalannya.

Jauhi Ningsih! Itu saja!

Kok Den Mas tahu aku akan ke sana?

Ningsih menemui aku semalam.

Keadaannya mengenaskan.

Dia meminta aku untuk melindungi sekolah, aku setuju.

Dan dia cerita

kamu sering membantu organisasinya.

Sayangnya, dia sedang dalam pelarian bersama anggotanya.

Ratri.

Aku minta maaf, ya,

harus pergi.

Keadaan organisasi sedang sulit.

Aku menitipkan sekolah itu ke dimasku, Kamanjaya.

Dia sahabat terbaikku, dan penyokong organisasi kita secara diam-diam.

Dia sering mengutarakan perasaannya soal kamu, Tri,

termasuk surat terakhirmu yang mengatakan

bahwa kamu memutuskan hubungan dengannya.

Dia sedih sekali.

Aku harap dengan pertemuan ini,

kalian bisa kembali rukun

sebagai sahabat sejati

yang kelak akan mewujudkan sekolah kita dengan baik.

Apa yang dimaksud Mbak Ning "surat terakhirku"?

- Ini bukan suratku. - Tidak mungkin.

- Ini bukan tulisanku. - Terus, apa?

Ya, aku tidak tahu!

Bisa saja Den Mas yang menulis surat ini

untuk alasan meninggalkanku.

Kamu yang meninggalkan aku!

- Bisanya menuduh aku? - Den Mas yang tidak menepati janji!

Den Mas tidak pernah membalas surat-suratku!

Aku selalu balas surat-suratmu, Tri!

Tiap bulan, Tri!

Tiap bulan!

Jaga mulutmu!

Temui aku besok di sini.

Aku akan buktikan ucapanku kepadamu,

Den Mas Jaya.

Sri. Mbok Nyai di mana?

Ke kota.

Katanya malam baru pulang.

- Saya siapkan makan malam untuk Nyai. - Kamu saja yang makan. Saya tak lapar.

Nyai mencari ini?

Saya selalu diberi kunci kamar Mbok Nyai

untuk membersihkan kamar beliau.

- Aku boleh pinjam? - Untuk apa, Nyai?

Cuma ingin baca beberapa Serat Centhini

yang disimpan di kamarnya Mbok Nyai.

Mohon maaf, Nyai.

Saya tahu Nyai punya sesuatu yang disembunyikan

dengan Mas Bagas dari Mbok Nyai.

Sri boleh tahu?

Ada yang disembunyikan Mbok Nyai di rumah ini.

Ada hubungannya dengan Mas Bagas?

Dengan bapaknya.

Apa dulu ayahnya Mas Bagas orang yang Nyai cintai?

Bukan hanya saling cinta,

tapi saling mengikat janji.

Lalu, kenapa tidak jadi?

Itu yang ingin Nyai tahu.

Barangkali

jawabannya ada di balik pintu itu.

Kenapa mau bantu aku?

Nyai sudah banyak bantu Sri.

Sayang pada Sri.

Seperti kakak.

Terima kasih, Sri.

Ratri-ku sayang.

Bagaimana kabarmu?

Aku sedang banyak tugas kuliah,

tapi aku masih sempatkan menulis surat untukmu.

Ratri-ku.

Apa kamu menerima suratku?

Aku sangat menantikan balasan surat darimu, Tri.

Ratri-ku…

Apa kamu masih ingat janjiku yang akan menjemputmu?

Menjadi istri terkasihku

dan mewujudkan mimpi kita bersama.

Ratri.

Di mana kamu?

Aku sangat merindukanmu, Tri.

Mbok Nyai pulang.

Sri!

Kenapa Nyai tega melakukan ini?

Aku bisa jelaskan, Tri.

Menjelaskan apa?

Mau bilang aku tak boleh menikah karena harus bayar asuhanmu dengan menjadi gowok?

- Bukan, Tri. Bukan. - Terus apa? Apa, Nyai?

Sudah cukup urusanku denganmu.

Tunggu!

Ini semua karena Djenar.

Ibumu.

Meski seorang pelacur…

Mas Lono…

…ibumu punya hubungan asmara dengan seorang lelaki beristri bernama Lono.

Lono lupa bahwa dalam dirinya bersemayam mantra Atmaprawesa yang ia minta padaku.

Yang benar saja.

Mas. Kencani aku.

Jangan sekarang.

- Silakan mampir, Mas. - Ndoro.

Nyai Santi?

Ndoro kenapa tak setia dengan istri Ndoro?

Kenapa kamu di sini?

Bukan urusan kamu.

Saya tidak mau Ndoro celaka.

Diam!

- Tolong dengarkan saya, Ndoro. - Kamu bukan siapa-siapa aku.

- Pergi! - Tolong…

Hyang Kamajaya dan Kamaratih.

Nyai!

Tolong saya, Nyai!

- Nyai, tolong saya. - Ndoro?

Cabut mantramu, Nyai.

Cabut mantramu! Istriku…

Ningrum, istriku…

Dia sudah gila!

Tolong saya!

Aku sudah memperingatkan Ndoro.

Cabut!

Cabut mantramu!

Sekali janji itu terucap,

hanya maut yang bisa mengakhiri.

Bukankah "sehidup semati" yang Ndoro minta?

Mas Lono!

Lonte!

Mas Lono!

- Jaga Ratri, anak saya… - Lonte!

Untuk pertama kalinya,

aku melihat akibat mantra itu bagi lelaki yang tidak setia dengan janjinya.

Kenapa kamu tega mengkhianati janji sucimu, Mas?

- Ning, jangan… Ning… - Janjimu bersamaku sampai mati.

- Mas harus membayar. - Ning, ampun…

Jangan di rumahku!

Ampun, Ning…

Sekarang aku sendirian, Mas.

Kamu mati.

Aku juga mati, Mas.

Ternyata, tanpa sepengetahuanku,

Ningrum punya hubungan saudara dengan Rahayu.

Aku tidak menyangka

kamu penyebab kematian adikku.

Ampun, Ndoro Ayu.

Ndoro Lurah sendiri yang minta sehidup semati dengan Ningrum.

Sehidup semati?

Jadi, itu yang kamu gunakan pada Jaya?

Agar terikat cinta dengan anak angkatmu?

Tidak, Ndoro.

Terus, kenapa Jaya bisa jatuh cinta kepada anak lonte itu?

Saya tidak tahu, Ndoro Ayu.

Sumpah, demi Kamajaya dan Kamaratih, saya tidak tahu.

Ingat, Santi.

Aku akan menghancurkanmu.

Aku sudah mengumpulkan semua bukti-bukti ilmumu.

Kamu akan ditahan di penjara.

- Mati kamu! - Saya salah.

Jangan dihukum, Ndoro Ayu. Ampun.

Kalau begitu, pisahkan Ratri dari anakku.

Baik.

Mulai saat itu,

aku berusaha memisahkan hubunganmu dengan Jaya.

Ada apa?

Kalau misalnya bisa dibantu,

pasti aku bantu.

Mau minta tolong apa?

Surat-surat atas nama Kamanjaya,

yang bersekolah di sekolah kejuruan teknik Semarang,

- jangan dikirim ke alamat rumah saya. - Ya.

Simpan saja di sini.

Saya yang akan ambil.

Ha?

Itu tidak gampang, Nyai.

Aku harus berdiskusi dengan para penyortir surat.

Aku harus berdiskusi dengan tukang pos yang mengantarkan surat.

Banyak yang harus dilakukan.

Tolong dibuat menjadi mudah, Kangmas.

Ya.

Aku melihat Jaya mencintaimu dengan tulus,

tapi aku tidak bisa membiarkan hubungan kalian.

Dengan susah payah,

aku meniru tulisanmu untuk membalas surat Jaya.

Pak, tolong berikan ini ke Pak Kepala.

Beliau pasti paham.

Siap, Nyai.

Pak! Sebentar!

Pak, ada surat untuk saya, tidak?

Tidak ada, Nak!

Tidak mungkin, Pak! Pasti terselip!

Terselip bagaimana? Tidak mungkin!

- Sudah, ya! - Tolong

carikan, Pak!

Tidak ada! Sudah, ya!

Aku sangat menghargai upayamu.

Tiga bulan lagi, Jaya akan menikah dengan

putri bangsawan Surakarta.

Ini untukmu.

Mohon maaf, Ndoro Ayu.

Saya tidak bisa menerima itu.

Maksudmu apa?

Dari dulu, saya selalu bermimpi bisa menggowok putra bangsawan.

Jika nanti Mas Jaya berputra, izinkan saya menggowok putra beliau.

Ini pesanannya.

Silakan diminum.

Mimpiku menjadi gowok bangsawan itu

demi menyelamatkanmu, Tri.

Sekarang, lihat dirimu.

Kamu sudah menjadi gowok bangsawan,

dan sebentar lagi kamu akan terpandang.

Tidak semudah itu, Nyai.

- Sri, siapkan dua jarik. - Ya, Nyai?

Untuk ritual di telaga malam ini.

Kok jariknya dua?

Tidak usah cerewet.

Siapkan saja, ya?

Kita mau apa di sini?

Ikut saja perintah saya. Ya, Den Mas?

Kita mau mandi di sini?

Pejamkan mata.

Bernapas dengan tenang.

Tenangkan diri.

Aku sudah membacakan mantra Atmaprawesa pada Bagas.

Kamu gila, Tri!

Allah, Gusti!

Mohon maaf, Gusti.

Kenapa bisa seperti ini?

Saya dendam, Nyai. Saya dendam.

- Bagas! - Ratri!

- Ratri! - Bagas!

Tri!

Kamu apakan Bagas sebenarnya? Jawab, Tri!

Tolong, Nyai. Bagaimana ini?

- Kenapa bisa begini? - Nyai.

Hati saya dendam, Nyai. Tolong, Nyai.

Bukannya kita harus buat Bagas jadi Lelananging Jagad?

Seperti bapaknya?

Jangan bilang

kamu gunakan mantra Atmaprawesa kepada bocah itu.

Memangnya kenapa?

Nyai takut

Bagas tidak setia seperti bapaknya?

- Jangan sembarangan! - Sembarangan apa, Nyai?

Bagas harus belajar menjaga janji sucinya,

tidak seperti bapaknya.

Tolong, Nyai.

Tolong.

Tolong…

Gusti…

Tidak ada jalan lain.

Kamu harus pergi.

Jangan sampai Bagas menemukanmu.

Bagas!

Bagas!

Bagas!

Bagas!

Bu? Mau ke mana?

Ibu mau menyusul Bagas!

Bagas ada di kamar, Bu.

Bu. Bagas ada di kamar.

- Sudah… - Bagas tidak di kamar!

- Bagas tidak ada di kamar! - Bu.

Hilang!

- Hilang! Bagas tidak ada di kamar! - Sudah.

Tenang, Bu! Tenang!

Bagas!

- Sudah… - Nikahkan Bagas!

Nikahkan!

Kenapa Ibu sangat ingin Bagas menikahi Putri Fatimah?

Ada apa sebenarnya?

Ada apa?

Ibu ingin membuat Kanjeng Gusti Kartanegara senang, Jaya.

Ibu sangat cinta.

- Ibu cinta. - Sudah.

Sudah, Bu.

Ibu rela melakukan apa pun

demi Kanjeng Gusti,

termasuk menikahkan kamu dengan Nila,

yang waktu itu sudah hamil Bagas.

Bu…

Bu? Ibu?

Terima kasih, Nyai.

Nyai Ratri!

Nyai!

Nyai Ratri!

Nyai!

Sri…

Nyai!

Sri.

Sri mau ikut. Sri mau ikut!

Tidak, Sri. Tidak.

Tolong…

Jaga Mbok Nyai.

Kelak, kamu akan menjadi gowok yang hebat, lebih hebat dariku.

- Ya? - Nyai…

- Bawa Sri. - Pergilah.

Nyai!

Nyai!

Nyai Ratri!

Berhenti!

Jangan!

- Jangan. - Mau ke mana, Tri?

Bingung

kok aku bisa di sini?

Aku tahu semua daerah sini, Tri.

Minggir.

Minggir!

Minggir kamu!

- Aku tembak kamu, Banci! - Jangan!

- Jangan… - Jangan panggil aku "Den Mas Tri".

Sekarang, aku manusia bebas.

Jangan. Nanti Romo sedih, Den Mas.

- Jangan, Den Mas. Ampun… - Jaya bukan bapakku, Tri.

Aku anak haram, Tri.

- Sudah, Den Mas… - Diam kamu, Ban…

- Liyan! - Ratri!

Liyan!

Ampun, Den Mas. Saya mau dibawa ke mana, Den Mas?

- Kamu ikut saja! - Ampun!

- Den Mas. Den Mas, ampun. - Sudah, Ratri!

Ampun. Den Mas, saya di sini saja.

Tidak! Tidak boleh!

Kalau kamu tidak mau,

kamu dan aku akan mati!

Kamu mau mati?

- Baik, Den Mas… - Ha? Ayo!

Ikut saja!

Allah, Gusti…

Diam!

Kemari.

- Lepas! - Kemari!

Kemari! Balik.

- Balik! - Kamu bukan bapakku!

Bangsawan palsu!

Ini palsu? Ha?

Gara-gara kamu, hidupku menjadi sengsara!

Mengerti, tidak?

Berenti, Den Mas Jaya! Berhenti!

Bawa balik. Bawa balik!

Bawa balik! Ayo!

Bawa dia.

Balik!

Balik.

Tri.

Tri…

Tri…

Sekarang sudah aman, Tri.

Ibuku yang mendalangi semua ini.

Kembalilah bersamaku. Aku masih mencintaimu.

Ayo pergi.

Pergi bersamaku, Tri.

- Ayo. - Den Mas. Cukup, Den Mas.

- Ayo, Tri. - Cukup, Den Mas.

- Den Mas! - Ayolah!

Apa?

Relakan saja, Den Mas. Ini sudah takdir.

Aku tidak rela, Tri!

- Takdir apa? Kau tidak percaya padaku? - Bukan…

- Tidak percaya? Tidak percaya, Tri? - Bukan begitu, Den Mas…

Ayolah!

Bukan begitu, Den Mas. Ini sudah takdir.

Takdir bahwa kita…

Kita bukan jodoh, Den Mas.

Tolong, sekali ini…

- Relakan… - Tri…

Den Mas?

Den Mas Jaya?

Den Mas? Den Mas!

- Den Mas! - Tri…

Den Mas Jaya!

Den Mas Jaya!

- Ayo! - Tidak!

Tri!

Ratri!

Ratri!

Ratri!

- Mau lari ke mana? - Lepas!

Hei!

Kenapa kamu lari, Tri? Kamu tidak cinta lagi kepadaku?

Ha?

Kenapa kamu menolak, Tri? Kenapa?

Kenapa?

Jangan!

Jangan!

Jangan!

Nyai…

- Nyai Ratri… - Sri…

- Sri! - Nyai tidak apa-apa?

Sri…

Ayo.

Ayo, kita pergi! Nyai, ayo!

Nyai! Nyai, pergi! Pergi, Nyai!

Nyai, pergi!

Nyai!

Sri!

Sri!

Sri!

Sri?

Sri…

Hei!

Siapa kamu?

Saya… Saya warga sini, Kang!

Dia komunis!

Dia perkosa kakakku! Aku tak terima! Terus, kubunuh!

Komunis-komunis kafir!

Seret komunis-komunis itu! Turun!

Ayo!

Ayo!

Ayo!

Ayo, Semuanya!

- Mbak Ning… - Sudah!

- Sudah… - Mbak Ning!

Mbak Ning…

Sudah, Nyai. Jalan. Sudah, Nyai.

Mereka melakukan apa ini?

Tangkap!

Nyai, ayo!

Jangan… Den Mas Jaya…

Den Mas Jaya!

Den Mas Jaya!

Den Mas!

Den Mas Jaya!

Den Mas!

Den Mas, maafkan aku.

Den Mas, maafkan aku.

Aku masih terus mencintaimu, Den Mas.

Terus mencintaimu.

Maafkan aku, Den Mas.

Den Mas Jaya…

Den Mas Jaya…

Den Mas…

- Den Mas Jaya! - Nyai, ayo pergi!

Sebentar lagi subuh, nanti banyak orang. Sudah, Nyai.

Ayo!

Ayo!

Ayo!

Ayo, Nyai!

Sudah!

BUMIREJO, JAWA TENGAH, TAHUN 1985

DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN.

Seram juga, ya, tempatnya.

Ya.

- Mas Iwan? - Ya.

Putranya Bapak Brigjen Soetarjo?

Ya, betul

Saya Karim,

kepala desa di sini.

Tadi, Bapak juga sudah menelepon kalau Mas Iwan mau ke sini.

Makanya, saya buru-buru ke sini.

Ya.

Ya, beginilah, Mas, kondisi rumahnya.

Sejak geger tahun 1965 dulu,

rumah ini menjadi sepi dan angker.

Dahulu

pemiliknya seorang gowok.

Mati bunuh diri karena kesepian.

Yah, sejak saat itu, rumah ini dikelola oleh desa.

Ya.

Bagaimana, Mas?

Jadi mau dibeli?

Kalau itu, saya tidak bisa memutuskan, Pak.

Nanti biar ibu saya saja.

Din, tolong panggilkan Mami.

Sudah, Mi.

Masih mau beli rumah ini, Mi?

Untuk apa?

Tidak mau dipikir-pikir lagi?

Mami ambil bangunan ini.

Mami mau buat sekolah perempuan di desa ini.

Iwan.

Tolong urus segera, Ya.

Ya, Mi.

SETELAH TRAGEDI 1965, GOWOK TIDAK LAGI DIANGGAP SEBAGAI PROFESI,

BERSAMAAN DENGAN PERKEMBANGAN AJARAN ISLAM DAN PENDIDIKAN MODERN.

GOWOK KINI TELAH MENJADI KISAH TERLUPAKAN DAN TERHAPUSKAN DARI SEJARAH.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.