Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Lihat apa kau? Aku ada di sini!
Itulah masalahnya.
Kau tak menghargai dan mendengarkanku.
Aku mengatakan hal yang sama kepadamu berulang-ulang,
seperti pemutar kaset.
Belum lagi apartemenku baunya seperti kandang sapi,
gara-gara semua jaket kulitmu.
Lalu apa ini?
Kau pria dewasa.
Bukalah rekening bank.
Namamu Shaft, bukan Chase.
Aku tak mau terus berurusan dengan ini.
Aku sudah bilang, aku tak tahu
apa yang ada dalam pikiranmu. Dan kau tahu?
Kau pikir ini lucu?
Kau pikir aku suka mengoceh berulang-ulang?
Halo? Dengar, tidak, sih?
Tentu, Sayang.
Kemarilah.
Bisa tolong bantu aku?
Apa?
Tidak mau!
Tidak mau!
Kau pikir aku siapa?
Kau pikir aku mau menaruh bibir suciku di penismu yang tercemar itu?
Apa-apaan?
LAYARKACA21.red Support dengan like & share :)
- Permisi sebentar. - Mau ke mana?
- Aku segera kembali. - Tidak! Jangan pergi!
Sial!
- Sial! - Sini kau.
Gordito sialan.
Kumohon, jangan!
Jangan tembak! Kumohon!
Kau ini kenapa?
Tadi kau membahas rekening bank?
Ada apa barusan?
Katamu kita takkan dicelakai di Harlem.
- Bukan salahku, Maya. - Tidak! Kali ini berbeda, John.
Aku tidak bisa. Aku tidak mau...
- Aku harus menjauhkannya dari semua ini. - Tidak.
- Maya. - Aku harus menjauhkannya darimu!
Maya... jangan lakukan ini.
...oleh pemotongan lebih dari 255 juta dolar...
OJ Simpson telah mencoba...
PUKUL 8:45 PAGI 25 DESEMBER 1994
UNTUK JJ DARI SHAFT
Jangan khawatir.
KEPOLISIAN KOTA NEW YORK
INVESTIGASI JOHN SHAFT
Sembunyikan anak-istri kalian...
UNTUK JJ DARI SHAFT
KONDOM LATEX MAGNUS
UNTUK JR DARI SHAFT
Ambil saja.
Ya.
- Hati-hati. - Oke, ayo.
MAJALAH DEWASA CARA UNTUK MEMBUATNYA SENANG!
Yang benar saja?
MASA KINI
Hati-hati, Bodoh!
- Maaf Pak, ini area pejalan kaki. - Dasar milenial.
Yang benar saja!
Permisi. Maaf.
MARKAS FBI, NEW YORK
DEPARTEMEN KENDARAAN BERMOTOR
ARSIP DEPARTEMEN KENDARAAN BERMOTOR NEGARA BAGIAN NEW YORK
Mampus.
SIM DITAHAN AXMAN, JOSH
Kena kau.
Dari mana saja kau, Bung?
Aku baru kembali. Tapi ada yang perlu kita bicarakan.
Bisa ketemu?
Ketemu langsung?
Tentu saja bisa.
Ada apa di sana?
Ini ambulans. Aku sedang ke rumah sakit.
Rumah sakit? Kau baik-baik saja?
- Maksudmu, apa aku narkoba? - Tidak.
Tidak, bukan itu maksudku.
Aku tahu kau peduli padaku. Kuhargai itu. Maaf.
Aku hanya mau periksa rutin dengan dokter favoritmu.
- Siapa? Sasha? - Ya.
Wah, dia pasti cantik memakai seragam dokter.
Nanti kuberitahu kau berpikir begitu.
Jangan, ayolah.
Tidak J, kau tahu aku takkan mengadu.
Ditambah lagi, kau agen FBI yang keren.
Mungkin dia akan memberimu kesempatan.
Bukan agen yang sebenarnya. Aku ini analis data.
Analis data? Kau tidak bilang begitu 'kan ke orang-orang?
Tentu saja aku bilang begitu. Divisi Siber vital di sini.
Shaft, ke ruang konferensi. Sekarang.
Namaku John, Pak.
Oke, aku harus pergi.
Panik, deh.
Semuanya, dengar.
Sesuai perkiraan, Gedung Putih ingin meningkatkan pengawasan siber
atas potensi ancaman teroris.
Khususnya, kita ditugaskan mengawasi
Masjid Rashad Azzam di Harlem,
dan ulamanya, Farik Bahar...
...yang menarik perhatian akibat sering bolak-balik ke Afganistan.
Sekarang, jangan sampai info ini tercium awak media.
Jelas?
Aku tak mau wartawan sialan dari berita Channel Delapan
memberitakan yang tidak-tidak,
bahwa Islamofobia merajalela di dalam Biro.
Hati-hati.
Siapa yang mau memimpin?
Ada lagi?
Tunggu, serius? Aku bisa.
Kau tidak bisa.
Ikut sertakan aku...
Dengar, anak baru. Ini tak seperti latihan di Akademi.
Ini dunia nyata.
Ada hierarki tertentu di sini yang harus kau hormati.
Hormatilah kalau mau dihormati.
Maaf, aku tidak dengar. Apa katamu?
Kok kedengaran, sih?
Dengar, aku tak punya waktu menghadapi lulusan MIT
yang ingin pamer kebolehan.
Aku berurusan dengan ancaman teroris setiap hari,
epidemi heroin terparah yang pernah ada di kota ini,
dan putri berusia tujuh tahun yang maunya dipanggil Frank.
Kau ini anak baru.
Sadar diri.
Pasternack, kau yang pimpin.
Rapat selesai.
Mau tambah?
Jam Hemat hampir berakhir.
Ya, tentu. Kenapa tidak?
Lumayan, ada minuman harga $16.
Apa kau...
agen FBI atau semacamnya?
Bagaimana, ya...
Aku sebenarnya...
lebih kepada seorang analis data daripada agen yang sebenarnya.
Aku semacam ahli keamanan...
siber...
Dia pergi.
Makanya, kalau ada yang tanya apakah kau agen FBI,
bilang saja iya.
- Hai. - Senang bertemu denganmu.
Terutama jika dia secantik itu.
- Ada kejutan kecil. - Sasha!
Astaga!
- Hai! - Apa kabar?
Senang bertemu denganmu.
Saat kudengar kalian menongkrong,
aku mau ikut.
Tentu saja!
Aku sampai lupa kapan terakhir kali kita bertiga menongkrong.
Mau minum apa? Aku yang...
- Terima kasih. Aku soda saja. - Bisa minta wiski?
- Aku serius. - Ada urusan apa keluar kota?
Oh, iya. Aku harus menyiapkan beberapa hal untuk bisnis baruku.
- Bisnis baru? - Tunggu.
Dia belum cerita tentang Brothers Watching Brothers?
Belum.
Ya. Jadi...
Ini adalah program rehabilitasi
yang kudirikan bersama teman-temanku di AD.
Tujuannya membantu veteran yang baru pulang,
yang melalui masalah kecanduan, seperti yang kualami,
dan membantu mereka mandiri.
Ya ampun.
Itu keren sekali.
Juga ada hal lain.
Hal lain?
Hal apa?
KITA PERLU BERTEMU. SEKARANG.
Maaf, ternyata aku harus pergi.
- Pergi? - Benar.
Aku harus pergi. Ada kerjaan.
Katanya mau cerita sesuatu?
Ya, nanti saja lewat chat. Aku hanya…
Ada yang perlu kuurus.
Baiklah.
Hei! Karim.
- Kau baik-baik saja? - Apa? Tentu. Masuklah.
Katamu kau ingin bicara. Kenapa tidak sekarang?
Tidak. Soal itu...
Aku hanya ingin berterima kasih.
Terima kasih karena selalu ada untukku dan menjagaku.
Tentu.
- Masuk sana, bersenang-senanglah. - Baiklah, dah.
Doakan aku.
IBU
Hai, Bu. Ada apa?
Hei...
kau baik-baik saja?
Ya.
Ibu, ada apa?
JJ…
Karim ditemukan tewas.
Siap. Tembak!
Siap. Tembak!
Aku tak percaya dia narkoba lagi.
Tidak. Dia bersih.
Jangan cari-cari alasan untuk membelanya.
Polisi menemukannya.
Aku tak peduli bagaimana dia ditemukan.
Matanya kembali bercahaya. Kau lihat sendiri.
Kau memeriksanya, demi Tuhan.
Ya. Tapi pemeriksaanku tidak meniadakan temuan polisi.
Bagi polisi, dia sekadar veteran yang mati kecanduan.
Kita harus cari tahu apa yang terjadi padanya.
Kau orang FBI, 'kan?
KANTOR KEPALA PEMERIKSA MEDIS AKTA KEMATIAN
KEPOLISIAN NEW YORK LAPORAN PIDANA KARIM HASSAN
KEMATIAN YANG TIDAK DISENGAJA
Terima kasih.
Hei, yang manakah...
Serahkan dompetmu! Nah, begitu.
Aku akan duduk di sini seharian. Ini tempatku.
Hei.
Kau tersesat?
Tidak.
Tidak, aku hanya jalan santai.
Apa kau polisi?
Bukan.
Aku seorang agen FBI.
Itu lucu. Kau lucu.
Tapi sungguh, kau kerja di mana?
Misalnya Apple Store atau Panera?
Tunggu. Jangan-jangan kau pegawai yang membuat kopi mewah itu, ya?
Seorang barista?
Benar, 'kan! Kau ini barista!
Bagaimana caranya mengubah susu jadi taburan krim kocok?
Butuh latihan bertahun-tahun, paham?
- Terima kasih atas bantuanmu. - Waduh.
Itu orang yang mati overdosis gara-gara obat Manny.
Tunggu. Siapa Manny?
Beraninya kau bertanya begitu!
Memangnya aku informan?
- Bukan, bukan. - Memang iya, sih.
Tapi tidak gratis.
Berani bayar berapa?
Apa kau…
Entahlah.
Biasanya aku pakai Apple Pay.
Coba kulihat.
- Ya ampun. - Manny penguasa blok ini.
Siapa pun yang mengganja di sini, pasti dapat dari dia.
Sarangnya di sana.
- Minggir, Bodoh. - Aduh!
Sempurna.
Oh! Permisi.
Sepuluh dolar.
Untuk apa?
Sepuluh dolar, kuisap kemaluanmu.
Lima dolar, boleh jilat payudaraku.
Tidak!
Itu harga yang wajar. Tapi masalahnya, aku...
Tapi apa, Bajingan?
- Kau tak suka payudara? - Aku suka.
Itu yang terenak, 'kan?
Tapi aku sudah sarapan berat.
Aku tak siap menjilati payudara hari ini.
Lalu mau apa ke sini?
Aku mencari seseorang.
Manny?
Ada yang menyebut namaku?
Hai, Manny.
Namaku Manuel. Cuma temanku yang memanggilku Manny.
Kau dan aku...
Kita bukan teman, 'kan?
Tidak. Bukan.
Kita bukan teman?
Tidak! Iya...
Tunggu sebentar. Aku hanya...
Aku datang untuk menanyakan teman yang sama.
Itu masih dianggap, 'kan?
Sebentar...
Waduh! Tenang, teman-teman.
Dia muncul dari mana?
Aku hanya mau mengambil ponsel.
Lihat, 'kan? Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu.
Aku mau menunjukkan foto.
Duh, bukan yang itu.
Tunggu. Sebentar. Ini…
Menyusahkan. Aku benci pembaruan ini.
Ini konyol.
Nah, ini dia.
Apa dia datang kemari, sekitar minggu lalu, untuk…
membeli sesuatu darimu?
Tidak, ya?
Tentu, itu tidak masuk akal.
Ya sudah, aku pergi saja. Ini benar-benar...
Aduh!
Syukurlah kau baik-baik saja,
dan ini tak berlanjut ke baku tembak.
Mana bisa jadi baku tembak kalau tak punya pistol?
Kayak tidak punya pistol saja. Lucu.
Sungguh. Aku tidak punya pistol.
Tidak punya? JJ, kau orang FBI.
Aku saja punya, padahal tinggal di area Brooklyn yang aman.
Apa kau tahu kebanyakan luka tembak disebabkan oleh diri sendiri?
Secara statistik, kau lebih aman tanpa pistol.
Lain cerita bila kau menyelidiki pembunuhan di sarang narkoba.
Ada petunjuk?
Ada, tapi tak terlalu berguna.
Baiklah.
Jadi, aku meretas pangkalan data pemeriksa medis
dan mengambil laporan toksikologi awal.
Mungkin polisi benar.
Sepertinya dia overdosis.
LAYANAN MEDIS SEBAB KEMATIAN - OVERDOSIS
Tunggu.
Mustahil ini perbuatan Karim sendiri.
Kandungannya terlalu tinggi. Dia bisa overdosis sebelum selesai memakai.
Siapa yang tega melakukannya?
Mau ke mana?
Membuat Manny buka mulut.
Jasad Karim ada di luar sarangnya. Dia pasti tahu sesuatu.
Jangan kembali ke sana. Paling tidak bawalah polisi.
Mana mau Manny bicara ke polisi?
Baiklah.
Jika dia tak mau bicara ke polisi atau kepadamu,
lalu ke siapa?
TIDAK BERFUNGSI
Halo!
Oh!
Hai...
Aku hanya…
Aku mencari...
Shaft?
- Dia ada? - Ada, Bajingan. Siapa kau?
Waduh!
Ini aku. JJ.
JJ siapa?
JJ! John Shaft, Junior.
- Anakmu! - Anakku?
Anak? Kukira kau selalu mencabutnya tepat waktu. Sial.
- Junior? - Ya.
Sedang apa di sini?
Mari.
Pakaian macam apa ini?
INVESTIGASI JOHN SHAFT
Kupikir "Irresistible" adalah nama penari striptis atau semacamnya.
Ketika kulihat SIM-mu, ternyata itu namamu betulan.
- Nanti kutelepon. - Tidak akan.
Iya...
Pasti.
Ada-ada saja guru Pilates.
Mau minum?
Tidak perlu.
Ada soda dengan irisan jeruk nipis,
kalau mau.
Ini jam sebelas pagi.
Kau mau meledekku?
Minum air putih tidak ada salahnya.
Soda ditambah jeruk nipis bisa berubah jadi basa, jadi...
Astaga. Ibumu membuatmu rusak.
Tidak, dia hanya membesarkanku.
Dia tak menelantarkanku 25 tahun lalu.
Tunggu, tunggu.
Aku tidak menelantarkanmu.
Masalahnya jauh lebih rumit.
Oh, baiklah. Aku tak sadar itu rumit.
Lagi pula, aku sudah ikhlas.
Kau bertingkah seolah aku tak ingat dirimu.
Seolah aku tak mengirim hadiah setiap ulang tahunmu,
seperti kondom yang kau kirim saat usiaku 10 tahun?
Ingat tahun itu aku mengirim tiket VIP ke kelab Honeybuns
dengan tambahan uang 500 dolar?
Tidak.
Oh! Ibumu tak memberikannya, ya?
Dia takut kau akan bertemu nenekmu di sana.
Teman penari striptisnya lebih banyak
daripada pelacur Arab di harem.
Bisakah kau tak membicarakan nenekku seperti itu?
Wah, wah.
Jadi, darah dagingku digaji oleh FBI?
Benar.
Bagaimana rasanya bekerja untuk kulit putih?
Maksudmu punya pekerjaan sungguhan?
Membayar pajak?
Tidak hidup mandiri di kamar sewa yang dibayar tunai? Enak, kok.
Jadi, kau tinggal di kota sekarang?
Tidak, jangan beri tahu.
Di SoHo, loteng bata terbuka,
dengan teman sekamar biseksual dan anjing kecil berbulu.
Dan...
wastafel rumah pertanian.
Kau menguntit Facebook-ku?
Apa kelihatannya aku punya Facebook?
Kau kemari memakai jins ketat, kemeja kotak-kotak yang dikancing,
dan tampaknya sepatu badminton Nike.
Siapa pun bisa membacamu dari jarak sejauh satu mil.
Ibumu berusaha keras mengubahmu jadi pria kulit putih yang bonafide.
Kenapa? Kalau aku pakai kemeja, punya gelar sarjana,
punya akun FICO, berarti aku bukan kulit hitam?
- Begitulah. - Tahu, tidak?
Aku tak mau meladenimu.
Aku datang bukan untuk berdebat soal baju, tempat kerja,
atau obrolan ayah-anak lainnya.
Aku kemari ada perlu.
Ada perlu apa kau sampai mendatangiku?
Aku butuh bantuan.
Sudah kuduga!
Aku tahu hari ini akan tiba.
Seberapa keras pun ibumu berusaha membunuh watak Shaft dalam dirimu,
ujung-ujungnya Gen Shaft pasti mahir menyelami vagina.
Sudah hamil berapa bulan? Butuh uang berapa?
Tidak ada yang hamil.
Aku perlu jasamu untuk menyelesaikan sebuah kasus.
Oh.
Kau tak mampu membayarku.
Kau berutang padaku.
Anggap saja bayaran atas figur ayah yang kau rampas.
Apa katamu?
Sudah, terima saja.
Baiklah.
Kasus apa?
- Sepertinya sahabatku dibunuh. - Sepertinya?
Ditulisnya overdosis, tapi ada alasan yang membuatku percaya...
Berhenti di situ. Aku pernah mendengar semua ini.
Dengar apa?
Teman dan keluarga pecandu selalu mencari-cari alasan,
tapi sekali pecandu tetaplah pecandu. Kasus ditutup.
Kau tak mengenalnya. Dia bersih.
Overdosis itu omong kosong.
Di tubuhnya terkandung heroin untuk membunuh 10 orang.
Mustahil dia bisa melakukan itu sendirian.
Aku melacak pengedarnya ke apartemen kumuh
di jalanan Harlem no.139.
No. 139?
Kau yakin?
Yakin.
Menarik.
Kenapa menarik?
DITANGKAP DI TENGAH BAKU TEMBAK
THE NEW BLACK VIEW HEROIN JUTAAN DOLAR DISITA
Siapa yang memukulmu, Nak?
Jangan sok peduli.
Tidak. Beri tahu aku,
siapa yang menghajarmu seakan kau anak bocah.
Katakan sekarang juga.
Baiklah, anteknya seseorang.
Namanya Manuel.
Apa?
Salah satu antek kekarnya Manny melakukannya?
Ya.
Bajingan itu sudah gila, ya?!
Sial.
Kau mau apa?
Ada yang harus kita urus. Ayo.
Hei!
- Kita mau ke mana? - Masuk, atau tidak sama sekali.
Kalau tidak, tidak selamanya.
Ya ampun. Setua apa mobil ini?
Kacau.
Sabuk pengamannya rusak. Duh!
Kau mau main masuk saja?
Katanya butuh bantuan?
Bantuan agar pembunuhnya ketemu, bukan agar aku dihajar lagi.
Ini di jalanan, Nak. Mau bagaimana lagi?
Entah. Mungkin kau punya nomor ponselnya.
Kirim SMS dulu.
Tidak, aku anti-pistol. Makanya aku jadi analis, bukan agen.
Itu ajaran ibumu?
Gara-gara kau ibuku trauma lalu mengajariku begitu.
Kupikir begitu.
Itu juga kebiasaan ibumu. Kebanyakan berpikir.
Kau tahu? Kurasa aku mau menunggu di mobil.
Ibumu pasti setuju.
Sulit dipercaya.
Ajaran ibuku.
Sial.
Ya sudah!
Apa kubilang terakhir kali?
Sial! Lenganku!
Sedang apa kau?
Kawanku.
Aku harusnya bertemu agen perumahan di sini.
Tapi, berdasarkan tur virtual yang dia berikan,
aku bersumpah harusnya tempat ini jauh lebih terang.
Apa? Dengar. Aku tak tahu apa yang...
Astaga. Kukira kau akan menembaknya betulan.
- Ambil pistol mereka. - Oke.
Aku bisa. Akan kuambil.
Mana dari mereka yang memukulmu?
- Yang itu. - Dia?
Oh, tidak! Aku menunjuk yang satunya!
Aku tahu, tapi karena kau akan menghajarnya,
kupastikan dia tak mengganggu.
Kau akan menghajarnya, 'kan?
Di mana Manny?
Bagaimana dia bisa jawab? Kemaluannya kau remukkan.
Tidak. Kalau aku membungkuk begini,
barulah aku meremukkannya.
Di mana Manny?
Hei, ada apa ini?
Manny!
Shaft?
Apa kabar, Bajingan?
Apa maumu?
Apa mauku?
Wow, sudah lama tak ada yang bertanya begitu.
Berhubung sudah ditanya,
aku ingin krim ereksi yang murah dan dijual bebas.
Aku ingin Jodeci dan Al Green merilis album Natal.
Aku ingin bersama Halle Berry 24 jam tanpa gangguan,
maka aku butuh krim ereksi.
Tapi yang paling ingin kuketahui adalah,
kenapa kau...
tak menghargai anakku...
sebagaimana harusnya keluarga Shaft dihormati?
Itu anakmu?
Kebanggaanku.
Dia lari.
- Ya. - Tembak dia.
- Mana pistol yang kau ambil? - Kubuang keluar jendela.
Jangan buang pistol keluar jendela!
- Di sini banyak anak-anak! - Oh!
Sial!
Minggir!
Gentrifikasi itu menyebalkan, ya?
Ini, pegang.
Pegang senjatanya!
Apa-apaan ini?
Ya ampun!
Kelingkingmu remuk.
Tunjukkan fotonya!
Jasad temanku ditemukan di luar gedungmu minggu lalu.
Apa dia membeli narkoba darimu?
- Aku tak bisa dengar. - Jangan.
Aku tak tahu sedang apa dia di sana. Dulu dia suka membeli dariku,
tapi aku tak pernah melihatnya sejak dia bergaul
dengan Brothers Watching Brothers.
Brothers Watching Brothers?
Waduh, sepertinya temanmu homo.
Ada penjelasan?
Apa?
- Tidak. - Kau yakin?
Karena itu pasti akan menjelaskan banyak hal.
Ya, aku yakin.
Jadi, kau suka vagina?
Ya, aku suka. Aku suka vagina.
Caramu menyebut "vagina" tidak meyakinkan.
Coba deskripsikan bentuknya.
Bentuknya... Masa bodoh. Dengar, Bung.
Brother Watching Brothers adalah pusat rehabilitasi untuk veteran AD.
- Sungguh? - Ya!
Sungguh?
Ya!
- Itu saja? - Itu saja yang kutahu.
Baiklah.
Sungguh, ya?
Mereka perlu ganti nama.
Tidak sulit 'kan, Manny?
Kau meremukkan tanganku!
Aku hanya meremukkan dua jari!
Ini…
baru namanya aku meremukkan tanganmu.
Aku benci saat ada orang melebih-lebihkan.
Dan kau mengotori mantelku. Ongkos cucinya 100 dolar.
- Astaga. - 100 dolar.
- Wah. - Baiklah.
- Itu... - Kita damai.
- Masuk ke mobil. - Gila...
Penyerangan dengan senjata,
penggunaan senjata api ilegal,
penyiksaan?
Bukan hanya melanggar hukum, tapi kau juga melanggar HAM.
Jadi?
Jadi?
Aku bekerja di FBI.
Aku dilarang berkomplot dengan sosiopat nomor satu di kota ini
selagi dia melibas pengedar narkoba di Harlem satu per satu.
Dengar, kau minta bantuanku, maka kubantu.
Kalau tak suka saat nasinya jadi bubur, tak usah dimakan.
Peribahasa macam apa itu?
Kurasa maksudmu adalah,
"Terima kasih".
Ya.
Benar. Terima kasih.
Bisa tolong turunkan aku?
Sepertinya aku salah mendatangimu.
- Biar kutangani sendiri. - Caranya?
Aku mau mencari petunjuk ke Brothers Watching Brothers.
Persetan! Kita yang akan ke Brothers Watching Brothers.
- Kita? - Ya, kita.
Kalau mau melanjutkan penyelidikan ini, aku harus menjagamu.
Kau ayah terburuk sepanjang masa.
Tidak, titel itu punya ayahku.
Aku tak bisa membiarkanmu berekeliaran di jalanan
dan mencoreng nama keluarga.
Halo.
Selamat datang di Brothers Watching Brothers.
Ada yang bisa kubantu?
Diam. Ya, hai.
- Kami hanya ingin bicara... - Yo!
Siapa pun pemimpinnya, bisa ke depan?
Kenapa... Kau gila, ya?
Bisa kubantu?
Maaf soal itu. Aku JJ.
- Ini. - Shaft. John Shaft.
Abaikan dia. Dia merasa seperti James Bond versi hitam.
Andai James Bond itu nyata, dia yang akan merasa sepertiku.
Kumohon... Hentikan.
Aku Mayor Gary Cutworth.
Kami cenderung santai. Panggil saja Cutty.
Apa yang bisa kubantu?
Aku ingin bicara denganmu tentang temanku, Karim.
Ya.
- Aku melihatmu di pemakaman. - Ada masalah?
Ya. Tuan-tuan...
ini Sersan Keith Williams, Staf Sersan Eddie Dominguez.
Orang-orang ini temannya Karim. Mereka ingin bicara.
- Mari masuk. Sambil minum kopi. - Ya, non-kafein.
- Apa? - Aku suka yang non-kafein.
Kami membuka fasilitas ini dua tahun lalu.
Kami melakukan terapi baik fisik maupun mental.
Mayoritas staf di sini adalah pensiunan tentara.
Kami bantu agar mereka nyaman beralih dari tentara ke tenaga kerja.
Sejak tahun lalu, kendaraan yang rusak saat misi di luar negeri
diangkut kemari, diperbarui, dijual,
dan labanya dimanfaatkan untuk operasi rehabilitasi kami.
Masih tak kusangka kami melalui tiga tur bersama,
- tiba-tiba Karim sudah tiada. - Ya, ini berat.
Sangat berat.
Kenapa dia tak menemui kita?
Mungkin dia takut.
Takut? Kau pernah berperang?
Garis depan, Harlem, tahun 80-an. Itu dihitung?
Maksud Dom adalah, perang sangat berat bagi banyak orang.
Alkohol, narkoba, dan…
Karim adalah yang paling terpuruk. Dia tak sanggup melaluinya.
Karena kurangnya dana dan rumitnya birokrasi,
Yayasan Veteran angkat tangan.
Makanya kami dirikan tempat ini.
Brothers Watching Brothers.
Dibangun oleh tentara, untuk tentara.
Nah, itu nama yang mendingan.
Tak heran, ini adalah ide Karim.
Makanya sangat aneh saat dia mulai menarik diri.
- Menarik apa? - Dia bilang, "menarik diri."
Sejak dia dekat dengan agama,
dia tak pernah datang lagi.
Karim? Agamis?
Dia tak pernah agamis.
Dia sering pergi ke masjid di kota setelah bertemu kekasihnya, Anam.
Masjid Rashad.
Ya, kurasa itu. Sejak mereka pacaran,
Karim selalu menghabiskan waktu dengannya.
Mungkin di situlah dia memakai narkoba lagi.
Aku tak mau membahas ini lagi.
Hei, tunggu.
Mohon maaf. Apa sebenarnya yang kalian cari?
- Kami hanya ingin... - Merasa lega.
Hanya ingin merasa lega, itu saja.
- Ya. Terima kasih, semua. - Sama-sama.
- Kuhargai bantuanmu. - Terima kasih.
Terima kasih atas bantuan kalian. Aku menghargainya.
Ada apa denganmu?
Ada yang tak beres dari Dominguez, dia tak membuat kontak mata.
Mungkin dia sedih karena baru kehilangan teman.
Aku lebih cemas soal Anam si gadis masjid.
FBI mencurigai di tempat itu ada aktivitas teroris.
Jadi menurutmu,
- temanmu mungkin teroris? - Apa? Tentu tidak!
Kedengarannya kau menduga temanmu teroris.
- Menurutku itu sangat kacau. - Kau gila?
Karim itu sahabatku.
Maksudku, pasti ada alasan kenapa dia merahasiakan ini.
Jelas! Karena bedebah itu teroris!
- Yesus. - Bukan, Allah.
Aduh. Orang kulit putih pun ogah mendengarkan ini.
Ayolah.
Oh...
Ini dia. Ini baru namanya musik.
Kau dibuat saat lagu ini sedang diputar.
Terima kasih informasinya.
Mau ke mana?
Rumahku berlawanan arah.
Aku lebih pintar dari GPS. Aku tahu itu.
- Kita mampir dulu. - Oh!
Kumohon, jangan. Aku lelah. Bisa antar aku pulang saja?
Tidak bisa.
Kau harus ikut.
Tidak.
Sudah cukup aku melihat sisi gelap Harlem hari ini.
- Aku tidak ikut. - Kau mau memecahkan kasus, 'kan?
Tapi…
Apa kaitannya tempat ini dengan penyelesaian kasus?
Percayalah padaku, oke?
Percaya padamu?
Kurasa kau tak paham arti kata itu.
Kau pasti bercanda.
Percaya padamu, sungguh?
Aku traktir minuman pertama.
Katanya mau menyelesaikan kasus?
Memang. Kita ke sini untuk menjernihkan pikiran.
Itu kunci untuk memecahkan kasus apa pun.
Aku tak mau clubbing denganmu.
Kenapa tidak?
Kau pria umur 60 tahun, dan ini hari Selasa.
Aturan nomor satu. Wanita mana pun
yang keluar rumah pada Selasa malam adalah seleraku.
Memangnya aku bertemu ibumu di mana?
Aku sudah muak dengan aturanmu. Aku mau keluar dari sini.
Permisi, Tuan-tuan. Ini dari kedua wanita itu.
Nah! Aturan kedua.
Jangan menolak minuman gratis dari wanita cantik.
Hei, Shaft! Tampan sekali.
Ya, kapan kami boleh memberimu hadiah dua-untuk-satu?
- Siapa ini? - Gadis-gadis,
Ini anakku, Junior.
- Astaga, kau punya anak? - Aku selalu tertukar.
- Baby. - Dan Sugar.
- Sugar! - Kemarilah.
Oh, oke. Tunggu, itu pasti bukan nama asli kalian.
Aku yakin anak ini tidak 'junior'.
Sayangnya kau takkan punya kesempatan untuk mencari tahu,
karena dia baru mau pergi.
Apa? Jangan. Tinggallah dan minum lagi bersama kami.
- Mungkin satu gelas lagi. - Oke, asyik!
Ayo!
Kubilang jalan.
Minggir. Terima kasih.
Andre, kita punya teman baru.
Tiga gelas favorit kita, Puting Mentega.
- Pernah coba Puting Mentega? - Masukkan ke mulutmu.
Bersulang!
- Oke. - Masukkan ke mulutmu.
Ya, lalu telan.
Sudah 20 tahun kau pergi dari kehidupannya.
Tiba-tiba berlagak jadi ayah?
- Itu kacau, tahu? - Berlagak jadi ayah?
Jangan sok bego, Shaft.
Kau pikir kau bisa mengejar Manny di Harlem dengan anakmu
tanpa sepengetahuanku?
Aku tahu semua yang terjadi di jalanan ini.
Ya, untuk itulah aku kemari.
Junior punya petunjuk yang bisa membawaku langsung ke Gordito.
Kini, bajingan itu akan menunjukkan batang hidungnya,
dan aku akan menghajarnya.
Aku butuh informasi tentang seseorang.
Namanya Eddie Dominguez. Pensiunan tentara.
Menurutku dia terlibat dengan Gordito,
bekerja di Brother Watching Brothers.
Nama yang jelek.
Ya, perlu diganti.
Akan kuusahakan.
Jadi, maksudmu dengan gelar D3,
aku bisa mendaftar S1 kelas malam?
- Lalu dapat gelar sarjana? - Benar sekali.
Punya cita-cita dan perencanaan itu sangat seksi.
- Oh, ayo menari! - Ini lagu favoritku.
Astaga! Kalian kuat sekali.
Jelas, kalau Maya sampai tahu...
Maya tak tahu apa-apa.
- Jangan sampai dia tahu, ya? - Oke.
Masalahnya…
Gordito sudah mengincarku dari sebelum anak ini lahir.
Ini masalah pribadi.
Jadi, jika Junior adalah jalanku untuk menangkapnya...
itulah keadilan jalanan yang puitis.
Kau mengerti?
Lagi pula, aku menjaganya.
- Aku menitipkannya pada Baby-Sugar. - Kau cari masalah?
Ya, kelihatannya aman-aman saja.
Kau pikir kau seksi?
- Oh, sial! - Aku tidak...
Bawakan aku minum, Shaft!
Cepat, gih.
Lepaskan aku!
Sedang apa kau di sini bersamanya?
Siapa yang suruh ke kelab? Apa yang kau lakukan?
Tunggu. Jangan cari masalah.
Tidak, serahkan padaku. Percayalah.
Dia cuma kesal karena dia memakai sutra.
Jangan sentuh aku, Bajingan!
Kuhajar kau habis-habisan!
Mau apa kau?
Mengelaklah!
Kok malah menari?
Dasar...
Waduh!
Lihat aksinya barusan?
Lihat? Ayah dan anak sama saja.
Waduh!
Tidurlah, Kawan.
Satu!
Dua! Tiga!
Apa-apaan itu?
Itu capoeira.
Apa?
Itu seni tari bela diri Brazil.
Ibu menyuruhku belajar waktu kecil, jadi…
saat aku mabuk, terkadang keluar.
Aku nyaris bangga padamu.
Apa?
Aku bisa mengajarimu. Ayo, lakukan ini. Yuk.
- Hei! - Sugar! Baby!
Tadi sampai mana kita?
Apa-apaan kau?!
Aturan ketiga.
Jangan pernah memuntahi gadis seksi yang menyukaimu.
Ya ampun.
Aku merasa seperti masuk ke pameran apartemen atau semacamnya.
Oh, tidak.
Itu menara lemon?
Kau tahu apa artinya itu?
"Aku benci vagina."
Tidak, itu membuat rumah jadi kerasan.
Tidak, itu membuat rumahmu seperti rumah homo.
Hei...
Itu tidak baik. Kau tak boleh memakai kata "homo" lagi.
Begitukah? Lalu siapa kau?
Seorang metroseksual?
Seorang heteronormatif? Cisgender?
Berubah-ubah? Kalau benar setop aku, ya.
Aku tak enak badan.
Mau wedang jahe?
Aku butuh obat.
Ada di mejaku.
Baiklah.
Kalau mau muntah, muntah di situ.
Ada chat dari Sasha.
Panggilan malam. Mungkin aku meremehkanmu.
Tidak, kami hanya berteman.
Ternyata bukan.
Aku mengacau.
Kubilang tadi kita ke masjid.
Sekarang dia mau ikut.
"Tidak.
Berbahaya. Bagaimana kalau ada apa-apa?"
Perhatian sekali sama teman?
Dengar, aku dan Sasha…
tidak ada hubungan apa-apa.
Ah! Tapi kau ingin memacarinya, 'kan?
Benar?
Benar.
Pasti ada yang istimewa di hati.
Bisa tolong ambilkan air kelapa?
Ya, air kelapa, siap.
Elektrolitnya berguna.
Oh! Kau masih menyimpan ini?
Oh!
Yo! Kau tahu ini cincin Super Bowl asli, 'kan?
Aku dapat ini dari LT.
Aku pernah membantunya dulu.
Sial!
Astaga! Kepalaku sakit.
Jangan jadi orang mabuk yang cengeng, Nak.
Tidak ada orang yang suka.
Pegang saja kepalamu dan katakan,
"Sial, aku kebanyakan berpesta semalam. Aku mengacau."
Itulah orang yang disukai.
- Sial. Sasha. - Katanya dia takkan datang?
Memang tidak, tapi dia orangnya tidak suka ditolak.
Wah, wah.
Kau pasti Sasha.
Ya, baru saja kuberitahu.
Ya, benar. Kau siapa?
Ini detektif swasta yang kuajak bekerja sama.
Kebetulan, dia juga ayahku.
Shaft.
John Shaft.
Wah.
Maaf, aku hanya…
Aku tak tahu kau seperti apa,
karena kau tidak muncul selama 25 tahun terakhir.
Wah, cantik-cantik sinis.
Sedang apa dia di sini?
Membantu kita.
Sungguh?
Aku meragukannya.
Oke.
Sekarang kita sudah berkenalan,
- Kurasa itu pertanyaan bagus. - Ya. Aku yakin.
Kau baik-baik saja?
Aku hanya…
Aku rada tak enak ba…
"Sial, aku kebanyakan berpesta semalam. Aku mengacau."
Dia mengajakku keluar semalam. Melepas stres.
Andai saja kau melihat dia di kelab.
Dia membuat heboh.
Seorang JJ berpesta di hari Selasa?
Di hari Selasa. Percaya, tidak?
Tidak.
Gen Shaft-nya lebih kuat dari dugaanku.
Ya, semoga ada obatnya. Ayo.
Benar.
Cari saja resep untuk jins ketat
yang membuatmu melongo.
Ini tak terasa seperti sarang teroris.
Aku belum yakin.
Apa itu gadis yang di pemakaman?
- Itu pasti Anam. - Benar.
Ada yang bisa dibantu?
Kami ingin bicara dengan Anam.
Kita belum pernah bertemu, tapi kami teman masa kecil Karim
dan kami ingin menanyakan sesuatu.
Aku bertemu Karim tak lama setelah dia kembali dari perang.
Kami baru mulai berpacaran awal tahun lalu.
Yaitu saat dia bersih.
Semuanya sempurna.
Apa Karim punya musuh?
Adakah yang ingin mencelakainya?
Tidak.
Impiannya masih banyak.
Dia membangun pusat kepemudaan baru.
Oh!
Ya, itu bagus.
- Boleh kami melihat ke dalam? - Tidak!
Tidak boleh. Ini sangat tidak sopan.
- Kau tak boleh bicara dengan putriku. - Maafkan ayahku.
Ayahmu imam masjid?
Ya.
- Permisi, Pak. - Tidak. Pergi sekarang juga.
Jadi...
Kau menganut Islam sejak lahir,
atau ketika berada di dalam tahanan?
Apa katamu?
Bisakah kita tenang dulu, kumohon?
Zakat?
Ya. Ya. Zakat. Bagaimana kalau...
donasi, sebagai itikad baik?
Punya kembalian 10 dolar?
Apa itu? FBI?
Kau orang FBI.
Apa? Dari mana bisa menebak begitu?
Apa kelihatannya aku dari FBI?
Keluar sekarang juga!
Astaga.
Padahal aku sudah mencoba mengesampingkan kecurigaan,
tapi ulama itu menjengkelkan.
Aku penasaran berapa banyak zakat yang dibutuhkan untuk membangun itu.
Wah, pastinya banyak.
Masalahnya, laptopku terdaftar di Biro.
Aku butuh komputer yang tak bisa dilacak.
Di kantorku ada komputer yang bisa kau pakai.
Wah! Di mana kau mendapatkannya?
Aku memenangkannya di acara "Habisi si Pengedar, Rampas Uangnya."
Bagus.
Aku ada sif di rumah sakit. Nanti kita bicara lagi, ya?
Oke. Nanti kutelepon.
- Baiklah. - Lewat chat juga bisa.
Karena kita punya sejarah chat berhari-hari, jadi aku bisa…
Mengetik yang banyak.
Kenapa anak muda tak bisa bicara saja, sih?
Persetan dengan chat! Ada ponsel. Telepon dia.
Kenapa tak sekalian mengajaknya makan malam sambil berdiskusi?
Makan malam? Kedengarannya asyik juga.
Memang.
Iya.
- Nanti kutelepon soal makan malam. - Siap.
- Sampai nanti. - Oke.
Dah.
Baiklah, terima kasih.
Jangan terlalu takut pada wanita, Nak.
Wanita itu...
suka pria yang jantan.
Mereka tak suka pria lembek.
Ada sih, yang begitu.
Ada juga yang suka dua-duanya.
Itu seleraku. Tapi…
secara umum, wanita suka pria yang jantan.
Aku yakin wanita tak suka kalau preferensinya disamaratakan.
Nah, itu dia maksudku.
Dulu, pria itu jantan.
Kini, kalian para milenial
berkoar-koar mempermasalahkan pikiran dan perasaan wanita,
dan kebanyakan meminta maaf. Itu memalukan.
Meminta maaf itu memalukan?
Ya. Pria tidak usah minta maaf.
Itu jebakan untuk kita.
Pria sejati punya harga diri.
Tidak. Pria sejati bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
Pria sejati mampu mengakui kesalahan.
Pria sejati mampu menghajar orang lain saat marah.
Apa itu? Moto keluarga Shaft?
Itu aturan tak tertulis.
Sial.
- Siapa itu? - Ini Ibu.
Jangan bilang-bilang kau bersamaku.
Oh!
Lihat siapa yang pengecut sekarang.
Kau akan menjadi korban aturan tak tertulis.
- Jangan main-main. - Aha.
Hei, Bu.
Hei, Sayang. Ibu hanya mau tahu kabarmu.
Tahu, tidak? Aku sangat senang Ibu menelepon.
Bu, kau takkan percaya aku sedang main dengan siapa.
Siapa?
Sasha.
Oh, Sasha. Ibu sayang padanya.
Aku senang kalian berdua bisa melewati ini.
- Sampaikan salamku. - Pasti.
Ibu ingin bertemu akhir pekan ini. Ada kencan di kota.
Dengan siapa?
Sejak kapan kau peduli soal itu?
Tidak, kau benar. Maaf, Bu.
Lupakan ucapanku.
Dia menjemputku
dari hotel dan membawaku ke tempat bernama Trista's.
Oh.
Baguslah.
Telepon aku sesampainya di kota, ya?
- Aku sayang Ibu. Sampai nanti. - Ibu juga menyayangimu, Nak.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Berapa kali ibumu pacaran setelah bersamaku?
Sembilan atau sepuluh mungkin.
Oh! Berarti tidak serius.
Keren.
MASJID RASHAD AZZAM
Tanpa komputer, bagaimana caramu melacak semua berkas kasus?
Aku punya sistem.
Sulit dipercaya.
Lautan informasi tersedia dalam hitungan detik,
alat-alat untuk menyimpan dan menyusun semua berkasmu.
Grafik, musik, film porno, belum lagi...
Wah, film porno?
Bisa disambungkan ke TV?
Musik juga.
Wah.
Semua berkas mesjid sudah dienkripsi, luar biasa ketat.
- Bukankah harusnya begitu? - Iya, jika terlibat masalah serius.
Mantap sekali kalau aku bisa mengelabui jaringan kuantum
dan memusatkan titik akhir platform pelindung
untuk membuka datanya.
Kau sehat?
Lakukan saja yang kau bisa.
Berhasil.
Lihat ini.
500.000 dolar disetor langsung
ke akun pribadi ulama oleh El Supemercado Fantastico.
Aku sudah lama tinggal di sini, tapi belum pernah mendengarnya.
Sepertinya tempatnya baru dibuka.
Supermarket...
memberi dana setengah juta dolar kepada ulama, langsung.
VIETTI
Siapa itu?
Bosku.
Agen Vietti.
Kenapa mejamu kosong?
Maaf. Ingat masjid itu? Aku mendapat informasi.
Yang jelas-jelas kusuruh kau jauhi?
Aku tahu, tapi...
Kau melanggar perintah langsung.
Kau membahayakan operasi yang sangat rahasia.
Kau diskors terhitung dari hari ini.
Apa?
- Sampai kapan? - Sampai kau tahu diri!
Diskors.
"Tahu diri"? Aku analis terbaik di sana.
Begitulah jadinya kalau bekerja untuk kulit putih.
Jadi, mau tetap kerja di FBI...
atau mau kerja sendiri?
Ayo kita ke supermarket.
Maaf.
Siapa kau?
Siapa aku?
Puto ku karacha...
Oh! Maaf. Dia tak tahu cara bicara yang benar kepada wanita.
Kami di sini hanya...
mencari pemiliknya, Bennie.
Aku Bennie.
Kuulangi,
siapa kalian?
Boleh minta waktu sebentar?
Kau ini kenapa, sih?
Dia memegang pemukul.
Lalu apa? Jarinya mau dipatahkan juga?
Jangan pukul wanita.
- Kenapa tidak? - Karena dia wanita.
Itu namanya misoginis.
Kau yang misoginis. Aku tak menyebut gendernya.
Kau yang mencapnya wanita dan apalah.
- Masa bodoh gendernya apa. - Oke.
Aku memukul siapa pun, sama rata.
Baiklah... bolehkah aku menanganinya?
Terima kasih.
Hai, Bennie.
Kami tak mau cari masalah,
hanya mau menanyakan beberapa hal.
- Aduh! - Buset!
Aku hanya mencoba bicara baik-baik.
Anakku bilang, aku tak boleh memukulmu
karena kau seorang wanita.
Karena aku tak bisa memukulmu,
aku akan membasmi sumber...
dari masalahmu.
Apa-apaan?
Apa semua warga Harlem memakai kekerasan?
Junior.
Gila, dia kuat.
Menurutku dia siap bicara.
Aduh, aku berdarah.
Kenal pria ini?
Se parece a un mierda...
Pakai Bahasa Inggris saja.
Dia bisa Bahasa Meksiko, bukan Puerto Rico.
- Tidak kenal. - Bagaimana dengan pria bernama Farik?
Oh! Jadi, kau kenal siapa Farik.
Mari bahas 500 ribu dolar yang kau transfer ke Farik
dan teman-temannya di masjid.
Cepat cari jawaban baru, karena dia kehabisan barang untuk ditembak.
Masjid adalah kebutuhan pokok masyarakat.
Supermercado dengan bangga mendukung semua kelompok.
- Sungguh? - Sungguh.
Kau mengingatkanku...
Bennie.
Apa kau dan aku pernah...
berhubungan intim?
Tidak, Sayang.
Aku pernah meniduri pria kulit hitam yang berkostum Morpheus dari Matrix.
Sialan! Itu tas kulit unta!
Masa bodoh.
Kenapa ditembak?
Aku muak dibanding-bandingkan dengan Morpheus. Sudah basi.
Oh.
Ya sudah. Kami takkan mengganggumu.
Hore.
Hasta la vista, Bennie.
Padahal aku ingin nadanya seperti Schwarzenegger.
Harus lebih nge-bass.
Hasta la vista.
Aku yakin pernah melihatnya sebelumnya.
Aku tak yakin dia jujur soal hubungan intim.
Sudahlah. Berkasnya takkan ketemu di ruangan kapal pecah begini.
Tada!
Luar biasa.
- Kok bisa? - Sudah kubilang, aku punya sistem.
Ini berkas "Orang Puerto Rico yang tidak kupercaya."
Kau punya sistem katalog berbasis rasisme?
Bukankah FBI juga sama?
Iya, sih.
Akhirnya!
Dapat!
Ya ampun. Ini Bennie!
Siapa pria di sampingnya?
Itu Pierro "Gordito" Carrera.
Dia pemimpin geng Las Caras,
geng terkuat di Harlem,
sejak dahulu kala.
Para bajingan ini
terpidana membawa narkoba ke lingkungan ini tahun 80-an.
Merekalah alasan di balik ocehan Trump tentang "epidemi opioid."
Yang membuatku heran adalah,
ada urusan apa dia sampai melibatkan masjid?
Mungkin Supermercado Fantastico cuma kedok
untuk mentransfer uang narkoba Las Caras.
Bisa jadi mereka memanfaatkan perjalanan ulama tersebut
ke Afganistan untuk membawa heroin.
Mungkin Karim mengetahuinya, dan dia dibunuh
karena dia akan melapor ke pihak berwajib.
Itu sangat mungkin.
Aku tak sabar mencekokkan semua ini ke mulut Vietti.
Jangan.
Kita selesaikan saja sendiri.
Nanti, kuberitahu cara membalas bosmu
dengan gaya Shaft.
- Itu yang kumaksud. - Tapi pertama,
kita harus memantau Bennie.
Supaya bisa dapat bukti.
Aku mau keluar beli kopi, cemilan, dan melakukan pengintaian klasik.
Bagaimana jika kita tinggalkan saja cara yang "klasik"?
Aku telah memasang kamera mikro di atas meja Bennie.
Kita bisa menonton ulang rekamannya esok pagi.
Istirahatlah malam ini.
Aku mau siap-siap makan malam dengan Sasha, lalu bertemu Ibu.
Untuk apa pulangnya bertemu Ibu
kalau bisa meniduri gadis itu?
Meniduri?
Aku bahkan tak tahu ke mana arah…
Sudahlah, lupakan. Kau benar.
Bisa apa aku tanpa nasihat bijakmu?
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Buat dia tergila-gila, Nak.
Mau pakai mobilku?
Tidak, aku tak punya SIM.
Aku juga tidak.
Dan, Nak, ingatlah.
Sudah tugasmu untuk membuatnya senang.
Lahap dia, Jagoan.
Ini gila.
Maksudmu si ulama dan geng ini bekerja sama?
Awalnya aku pun sulit percaya.
Kalau memang ini benar, kenapa Karim jadi terlibat?
Entah, tapi aku akan cari tahu.
Saat itu, siapa pun yang membunuhnya akan menyesal.
Kau mulai terdengar seperti ayahmu.
Apa?
Masa, sih?
Kau pikir aku terdengar seperti bajingan itu?
Sebenarnya dia orangnya lucu.
Kau harus lihat reaksi warga Harlem di hadapannya. Dia bagaikan...
seorang legenda.
Yah, aku senang ayahmu lucu,
tapi itu tak menutupi fakta
bahwa dia meninggalkanmu waktu bayi dan tak mau berhubungan denganmu.
Baiklah. Dengar.
Dia jelas-jelas...
bobrok.
Di atas ambang batas gila.
Tapi di lubuk hatiku, aku merasa dia pria yang baik.
Jangan salah paham.
Tidak mungkin aku lupa dia meninggalkanku saat kecil.
Baiklah.
Hai.
- Mau kusimpankan mantelnya? - Boleh. Terima kasih.
Lihat dirimu! Adakah yang akan memanggil Ripley's,
karena wanita ini cantiknya di luar normal.
Terima kasih banyak.
Kau juga lumayan.
Aku bisa bersolek.
....pakai celana. Kau, L.T.
Pahlawan Super Bowl.
Bukan LD yang bintang porno.
Yang benar saja.
Kau kenal dia?
Sayangnya iya.
Memangnya dia siapa?
Orang yang menghancurkan semua yang disentuhnya dan tak pernah enyah.
Oh, dia kontraktor?
Maaf, aku…
aku mau…
- Aku perlu ke kamar kecil. - Oki-doki.
Apa?
Oki-doki.
Oki-doki.
Itu rupanya.
Kutunggu, ya.
Wah, ada siapa ini?
Maya!
Kembang Ghetto. Menyinari Harlem dengan kehadiranmu.
Ya ampun. Kau cantik. Sudah berapa lama?
Tidak cukup lama.
Nampaknya kau bersenang-senang seperti biasanya.
Nona Sifilis.
Nyonya Klamidia.
Senang bertemu kalian.
Sekarang, aku permisi dulu. Aku sedang berkencan.
Pria akan mentraktirmu makan malam sebelum kau bercinta dengannya,
dan tidak bertiga.
Cobalah.
- Senang bertemu. - Aku tidak senang.
Itu ibunya Junior. Dia agak jutek.
Jangan dipikirkan. Mari.
Bagaimana bisa bedebah ini tahu di mana aku?
Apa dia menguntitku?
Dia berusaha mendapatkanku kembali.
Aku tak mau kau kembali! Aku sudah bahagia sekarang.
Aku akan jadi wanita paling bahagia.
Gadis-gadis itu bahkan tak cantik.
Apa mereka kelihatan sedih? Bagiku sih, iya.
Aku tak suka pria tebar pesona.
Aku suka pria culun tapi kaya.
Mentang-mentang parfummu wangi...
Aku tak kesal. Mentang-mentang penismu besar...
Jujur saja.
Dasar.
Bersulang.
Apa-apaan?
Pesan tiga konyak VSOP.
Satu lagi Chardonnay saja.
Chardonnay!
Sedang apa kau?
Mengambil hati pacarmu.
Kudengar sebelumnya mantanmu ada 10. Ini pasti yang ke-11.
Tidak. Itu tidak benar.
Paling banyak lima.
Tetap tak bisa menggantikan tongkat sihirku, ya?
Tongkat sihir apaan...
Maaf, jangan tersinggung. Tapi ini meja untuk dua orang.
- Benar. - Dua orang. Satu, dua.
Begitu, ya?
Iya.
Ron, ayo pergi. Sudah kubilang dia berengsek.
Ayolah, Maya. Kau tahu itu tak benar.
Aku bukan biang masalah.
Aku pemecah masalah.
Pecahkan ini.
- Maya? - Apa?
Merunduk.
- Apa-apaan? - Seperti masa lalu, 'kan?
John!
Berguling, Sayang. Jangan berhenti.
- Tangkap mereka, Shaft! - Apa itu?
Tenanglah, Ron!
Jangan teriak seperti pengecut, Ron!
LAYARKACA21.red Support dengan like & share :)
Kenapa setiap kau muncul selalu ada baku tembak?
Jadi, kau bersikap seolah baku tembak tak membuatmu bergairah?
Bergairah dari mananya?
Putingmu mengeras.
Ini tidak lucu, John.
Ini sebabnya aku dan JJ harus meninggalkanmu, ingat?
Sial. Junior.
Junior? Apa maksudmu?
Jangan bilang kau menyeretnya ke dalam masalahmu.
- Bisa menyetir? - Tidak.
- Permisi, Maya... - Bisa menyetir?
Bagus. Ayo.
- Maaf, tapi ini mobilku. - Kencannya belum selesai. Ayo!
Ini pinjaman. Bisa lebih hati-hati?
Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi jika kau tak mengeluarkannya
- dari masalah yang kau buat... - Aku tak membuat masalah...
Kau ayahnya! Dia putramu!
Bukannya aku berharap kau mengerti apa artinya itu,
- tapi ada satu aturan penting. Jaga dia! - Sedang kucoba.
Tidak, John Shaft.
Kau gagal lagi!
Aku masih tak percaya kau kerja di FBI.
Apa?
Dulu kau sering dirundung saat kecil.
Siapa nama anak itu?
- Mike Mitchell. - Ya.
Dia suka mencuri pudingmu saat makan siang, setiap hari.
Sampai akhirnya Karim menghajarnya
di depan satu sekolah. Ingat?
Mike harus memberiku puding setiap hari setelah itu.
Seingatku begitu.
Selamat ulang tahun!
Berlindung!
Kupikir kau bercanda saat cerita punya pistol.
- Itu amandemen pertama! - Bukan, itu kebebasan berpendapat.
Sini pistolnya.
Sini kau!
Tolong!
Aku benci senjata.
Sash! Kau baik-baik saja?
Ya.
Gila! Kau belajar dari mana?
Tak suka senjata bukan berarti tak bisa menembak.
BENNIE
Benar.
Kena kau.
- Wah, kacau. - Astaga.
- Ibu? - JJ!
Syukurlah kau baik- baik saja.
Kau tak apa-apa?
Kerja baik, Nak.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jangan diulangi lagi.
Ibu lebih seram dari penembaknya.
Ayah, lihat ini..
Ini kudapat dari salah satu penembak,
dan semua mengarah kembali ke Bennie.
Bukan itu saja. Ada segudang pesan tentang pengiriman gelap.
Bisa dilacak ke penyedia layanan. Tak ada yang sepenuhnya hilang.
- Kecuali kalau dihapus. - Tidak. Justru itu.
Kita tak bisa menghapus apa pun.
Foto yang dikirim pun tidak?
- Ya, masih ada di penyedia. - Sungguh?
- Benar. - Gawat.
Jangan.
Tak apa. Ini milikku. JJ menggunakannya.
- Cantik. Aku suka warna ungu. - Dia harus membelikanku peluru.
Tunggu. Lihat ini.
Ada pengiriman lain dari Afganistan.
Ada tanda-tanda Gordito?
Tidak.
Tapi laporan bank ini lebih dari cukup
untuk mengaitkan geng Las Caras dengan si ulama, 'kan?
Lalu apa?
Kita kembali ke Supermercado Fantastico
dan melakukan penyerangan?
Mungkin...
ini saat yang tepat untuk menyerahkan kasus ini kepada FBI.
Apa?
Katanya mau diselesaikan sendiri?
Sudah selesai, kok!
Sekarang kau bisa unjuk gigi di depan bosmu. Setuju?
Ya.
Aku...
Aku setuju, sepertinya.
Kau yakin?
Yakin.
Aku sepenuhnya yakin.
JJ. Kau baik-baik saja?
Jadi, Maya punya anak dengan John Shaft.
Kata orang, keluarga Shaft itu...
Diamlah.
Tersebar rekaman meresahkan dan menakutkan dari Harlem
di mana tim agen FBI menggerebek Masjid Rashad Azzam siang ini.
Belum jelas apa yang sebenarnya mereka cari,
tapi Biro telah menyatakan tidak diitemukan bukti kejahatan
maupun kaitan terhadap terorisme.
Warga jadi bertanya-tanya, apakah FBI memiliki bias Islamofobia rasis?
Sial.
Dengan dia berasumsi bahwa kita Islamofobia,
- justru dia yang rasis. - Diam.
Bisa-bisanya aku mendengarkanmu.
Bagaimana dengan semua buktinya?
Kau pikir kau bisa mengacaukan semuanya tanpa konsekuensi dipecat?
Belum lagi baku tembak kecilmu dan penyelidikan catatan bank yang ilegal.
Kita sudah selesai.
Tinggalkan lencana, tanda pengenal, dan kosongkan mejamu.
BIRO INVESTIGASI FEDERAL
JOHN SHAFT JR. ANALIS DATA
Hei, siapa ini?
Aku punya informasi yang kau minta tentang Dominguez.
Bicaralah.
Bersih, sejauh yang kutahu. Prajurit bertanda jasa.
Disukai orang-orang di sekitarnya.
Masalahnya...
Keluarganya.
- Kenapa? - Sepupunya.
Bergabung dengan Las Caras. Dengar-dengar dia mencuci uangnya.
Kau tahu namanya?
Tentu.
Bennie Rodriguez.
Bagus, Bung. Kau selalu membantuku.
Benar sekali.
Berhubung kau sudah punya petunjuk atas kasus Gordito,
kau bisa berhenti mengganggu anak Maya?
- Begitulah. - Kuhubungi lagi nanti.
Wah.
Selama ini, kupikir kau tulus membantuku.
Ini tak seperti yang...
Kau memanfaatkanku untuk memecahkan kasusmu sendiri.
Saat aku pertama datang minta bantuan soal Karim,
bukankah kau langsung berpikir itu bisa mengarah ke Gordito?
Sudah kuduga. Kini kau mendapatkan yang kau butuhkan.
Kau bisa menelantarkanku lagi dan mengejarnya sekarang, 'kan?
Aku harus bagaimana?
Dominguez adalah prajurit terlatih yang bisa membunuh tanpa pikir panjang.
Dan Gordito adalah bajingan paling berbahaya di kota ini.
Sudah cukup aku melibatkanmu.
Aku hanya mau melindungimu.
Jadi, untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kau ingin berlagak jadi ayahku?
Aku memang ayahmu.
Tidak, kau punya pilihan antara menjadi ayahku atau menjadi Shaft.
Dan kau telah memilih.
Aku tak mau terus berurusan dengan ini.
Aku sudah bilang,
aku tak tahu siapa atau apa yang kau pikirkan.
Gawat.
- Aku harus menjauhkannya dari semua ini. - Maya.
Aku harus menjauhkannya darimu!
- Siapa itu? - Maya.
- Ini aku, John. - John?
Bagaimana kau...
- Apa maumu? - Aku tidak diajak masuk?
Aku bisa mendengarmu.
Buka pintunya. Izinkan aku melihat wajahmu.
Tidak mau, dan kau tak perlu melihat wajahku.
- Apa maumu? - Ayolah, jangan...
Dengar.
Aku kembali karena...
Aku ingin memberitahumu bahwa...
Aku minta maaf.
Apa dia mabuk?
Baru kali ini aku mendengarnya.
Ya, baru kali ini aku mengatakannya.
Tapi aku serius.
Maaf telah membahayakanmu semalam.
Maaf telah membahayakan anak kita.
John, kau sudah lama berjanji padaku.
Selama kau memilih jalan hidup ini, kau akan menjauh dari JJ.
Kita sudah sepakat.
Aku tahu, tapi dia juga anakku, jadi...
Dia juga anakku, Maya.
Dia datang padaku, mememinta bantuan.
Kini setelah aku mengenalnya,
semuanya tak bisa kembali seperti semula.
Tunggu.
- Dia mendatangimu? - Benar.
Wah...
Bertahun-tahun aku berusaha menjauhkannya dari kekacauan ini.
Tapi pada akhirnya, dia tetap seorang Shaft.
Benar.
Yah...
Jika JJ bersedia terjun dalam bahaya,
setidaknya aku tahu kau akan melindunginya.
Benar. Pasti.
Ya, aku tahu.
Jadi...
Jadi?
Mau berhubungan intim?
Kau menghancurkan suasana, tahu?
Ya, dia memikirkannya.
Dugaan kita salah.
Pemasok untuk Las Caras bukan ulama itu, tapi Dominguez.
Bennie adalah sepupu Dominguez.
Jadi Bennie yang menyerang kita di restoran?
Benar. Coba pikir. Itu sangat masuk akal.
Dominguez pergi ke luar negeri bersama anggota Brothers
untuk mengunjungi pasukan.
Mereka membawa kendaraan rusak berisi narkoba kembali ke Amerika.
Aku harus mendekat. Tunggu di sini.
- Apa-apaan ini? - Percaya padaku.
Bukannya aku berpikir kau tidak bisa melakukannya. Hanya saja…
Aku membutuhkanmu.
Awasi aku.
Kumohon?
Chat aku jika Dominguez bergerak.
Baiklah.
- Ayo! Sana. - Oh, iya.
Semuanya berantakan!
- Sudah kubilang jangan bunuh Karim. - Tenang.
Apa rencanamu sekarang? Kau selalu punya rencana.
- Cukup. - Ada apa?
Sungguh. Sekarang mereka makin dekat, Bennie ditangkap,
dan mereka tahu si ulama bersih.
Tinggal masalah waktu sampai mereka ke sini.
Kau paranoid.
Ya, itu aku.
Kita hanya perlu melanjutkan sesuai rencana.
- Kita bawa barang ini ke Gordito. - Gordito?
Tidak. Masa bodoh.
Penyelundupan obat ini harusnya hanya sementara.
Ini salahmu. Kau melibatkan kami. Sekarang, bantu kami lolos.
Tidak. Aku bukan perempuan dungu.
Jangan jadi dungu.
Ironis, karena kau tidak keberatan
saat menerima bayarannya.
Ini sudah di luar kendali. Kita harus menyerahkan diri sekarang.
Kau mulai terdengar seperti Karim.
Lihat bagaimana nasibnya.
Bennie pasti terpukul kalau tahu sepupunya pengadu.
Apa maksudmu, Cutty?
Artinya, takkan kubiarkan bisnis ini berantakan.
Itu artinya.
Apa menurutmu kita harus menyerahkan diri?
Benarkah?
Sial! Ponselku!
Sial!
Itu anaknya Shaft! Dia melihat semuanya.
Tangkap dia!
JJ!
Ponselnya.
Sekarang!
Aku takkan meminta lagi!
Jangan berikan, JJ!
Hei, diam.
Ayo.
Letakkan di tanah.
Sekarang!
Junior! Masuk ke mobil!
Ya ampun!
Oh!
JJ!
Sasha!
Ayo! Cepat!
Aku sudah naik. Jalan!
JJ!
Bajingan itu harus mati.
Kita harus mencari Sasha.
Tak bisakah FBI menanganinya?
Kau pikir aku tak bisa melakukannya?
Aku tahu satu-satunya yang kau pedulikan adalah Gordito.
Tapi aku tak bisa kehilangannya.
Dan aku tak bisa kehilanganmu.
Mau tahu kenapa aku sangat ingin menangkap Gordito?
Bajingan itu adalah sebab keluarga kita hancur sejak awal.
Dia menyerangku, saat itu ibumu ada di mobil. Kau juga.
Kau masih bayi.
Aku tak bisa membiarkannya begitu saja.
Tapi kau tahu?
Masa bodoh dengan Gordito, jika aku harus kehilangan anakku lagi.
Aku datang ke sini bukan untuk mencarinya, tapi mencarimu.
Terima kasih.
Aku senang kau datang.
Aku kagum kau tahu di mana aku.
Sudah kubilang, aku lebih hafal kota ini dibanding GPS.
Mungkin aku bisa melacak ponsel Sasha.
- Tapi aku butuh komputer. - Biar kuurus.
Opsir Thomas! Aku mau bicara.
Ada apa, Shaft?
Ada yang ingin kau ceritakan mengenai kekacauan di sini?
Tidak.
Tapi anakku perlu memesan tiket pesawat.
Boleh pinjam komputermu?
Pesan tiket pesawat?
Jadi, Cutty memasok narkoba.
Gordito yang menjualnya.
Bennie mencuci uangnya.
Permisi...
Maaf. Kalian mau permen?
Mengisi daya ponsel?
- Mau menyalakan musik... - Tidak, terima kasih.
Kalau butuh apa-apa, beri tahu aku.
- Semua ada di sini. - Terima kasih.
Jadi, yang kupahami,
Dominguez memanfaatkan Cutty sebagai pion,
untuk bergabung ke dalam geng dengan Bennie dan Gordito.
Kau bilang "Gordito"?
Bukankah itu burrito besar atau semacamnya?
- Apa? - Rasanya sangat enak.
Saat para Brothers lain tahu,
Cutty berusaha mengajaknya ikut, tapi Karim tidak mau.
Omong-omong Keluarga Kareem,
kenapa Jabbar tak mendapat pujian yang sepantasnya ia terima?
Dia mencetak lebih banyak poin dari Jordan,
- LeBron... - Nona.
- Mm? - Mungkin kau belum sadar,
kami sedang mencari jalan keluar di sini.
Kalian mengobrol keras-keras, kukira aku diajak.
Maaf.
Itu masih belum menjelaskan keterkaitan masjid.
Mungkin saat Karim tak mau mengambil uangnya,
mereka mencoba membujuknya
dengan meminta Bennie mentransfer uangnya ke si ulama.
Benar. Dengan begitu, ulama takkan tahu itu uang kotor.
Ya, tapi nampaknya Karim tak bisa tinggal diam mengenai ini,
dan Cutty tak bisa membiarkan bisnisnya kacau,
jadi satu-satunya pilihan mereka...
Membunuh Karim.
- Kalian mau bunuh Kareem Abdul-Jabbar? - Tidak!
Tapi kubunuh kau kalau terus ikut campur. Kemudikan saja mobilnya.
Kalau mau melawan Las Caras, kita butuh lebih banyak senjata.
Aku tahu di mana mencarinya.
Begini, Nona. Aku mau mengubah alamat tujuan.
Kau bicara padaku sekarang?
Aku tak perlu tahu. Masukkan saja ke aplikasi.
Masukkan ke... apa?
- Biar kuurus. - Kenapa tak bilang saja mau ke mana?
- Tak ada bel pintu? - Dia tak percaya dengan bel.
- Gedor saja pintu di sebelah kirimu. - Oke.
Dipikir-pikir, masa bodoh, lah.
Bajingan ini tak pernah mengunci pintu.
Yo, di mana kau?
Tapi aku bukan pecandu alkohol. Aku pemabuk.
Alkoholik harus menghadiri rapat.
Cukup sampai di sini saja.
Ayah.
Ayah?
Ini aku.
Nak?
Tunggu. Kakek?
Tidak, itu mustahil.
Kau tampak kacau.
Kok bisa kau terlihat 20 tahun lebih tua dariku?
Ya, senang bertemu denganmu.
Ya.
Wah.
Kau cucuku?
Aku tak pernah bisa menemuimu sejak ayahmu memindahkanmu ke utara.
Kau ayah yang lebih buruk dariku.
Kau ayah yang hebat.
Setelah kau berhenti pura-pura jadi pamanku.
Tunggu, apa?
Jangan hiraukan dia.
Kemarilah dan peluk kakekmu.
Kalian lapar?
- Mau bubur jagung? - Boleh.
Bubur jagung. Apa itu?
Ceritanya panjang.
- Aku butuh bantuanmu. - Kau butuh apa?
Masih menimbun?
"Masih menimbun".
Zaman dulu, kami tak butuh senjata.
Kami hanya perlu kepalan tangan.
Klasik.
Oke.
Tapi tak ada salahnya berjaga-jaga.
Mantap.
Apa-apaan?
Gila!
Kakek!
Apa yang tidak Kakek punya?
Kasus apa ini?
Oh, gembong narkoba, skandal militer,
gebetan Junior disandera penjahat.
Seperti biasa.
Biasa. Ya.
Ingat saat orang tuamu dulu membantumu mengerjakan PR?
Sampai sekolah, ternyata salah semua. Ingat?
Terima kasih, Ayah. Nanti kukembalikan.
Tunggu dulu.
Kau pikir aku meminjamkannya tanpa minta diajak?
Enak saja. Aku mau ikut.
Yakin?
Tentu saja, aku yakin. Aku bosan di sini.
Baiklah. Ayo selamatkan gadismu.
Ya. Ayo tangkap Gordito.
Aku tak tenang melihatnya duduk di situ tanpa diikat.
Memangnya dia bisa pergi ke mana, Cutty?
Hei!
Harusnya kalian menangani tamu kita dengan lebih baik.
- Ada yang bisa kubantu? - Ya.
Aku mau menunjukkan ke anak-cucuku, bahwa di usiaku pun…
- Aku bisa mengalahkanmu. - Ayolah. Kau tak ada kerjaan lain?
Dia menantangmu berduel, Bung.
Kecuali kau takut.
Takut?
- Oke. - Ayo.
Oke.
Sudah minum vitamin?
Pakai tenaga tidak, sih?
Mau ke mana?
Aku masih kuat.
Andai kita bergulat memperebutkan kentang goreng,
bisa saja dia menang.
Bukan kentang goreng biasa. Kalau pakai sambal, dia bisa mengalahkanmu.
Kita sedang beruntung.
Apartemen itu menggunakan umpan yang sama persis dengan lobi dan lift.
Aku akan membuat putaran ulang, bisa pakai ponsel.
Jadi mereka tak bisa melihat kita saat kita di lift?
- Tepat sekali. Kau cepat belajar. - Cara itu tak pernah berhasil di film.
Apa bedebah itu mendengkur?
APARTEMEN
Apa kabar?
Kualitasnya sempurna.
Seperti biasa, senang berbisnis denganmu.
Transfer uangnya.
- Jadi mereka tak bisa melihat kita? - 100 persen.
Yang mereka lihat hanyalah umpan yang telah kuunggah.
Kita tak terlihat.
Jago juga kau.
Waduh.
Apa "waduh" berarti masalah di film-film sedang terjadi?
Bagaimana ya, tanpa Wi-Fi...
Apa kita tersambung ke Wi-Fi?
TIDAK ADA SINYAL MENCARI WI-FI
Tidak.
Jadi, kita kelihatan?
Masih ada kemungkinan ini berhasil. Tunggu. Akan kucoba...
akan kucoba sesuatu.
Pak, coba lihat ini.
Shaft?
Cepat! Tangkap mereka!
Bunuh mereka!
Ayo ke lift! Jaga gadis itu!
Apa-apaan?
Jangan bergerak!
- Apa yang kau lakukan? - Sial!
Masuk!
Sial!
Masuk, JJ! Ayo!
Mereka bukan main.
Gordito!
Sudah lama sekali.
Tak ada telepon,
tak ada surat.
Aku rindu padamu!
Berengsek!
JJ!
Sasha!
Sial!
Kau memukul gadisku?
Sial!
Sial.
Pelurumu habis juga, ya?
Ya.
Begini saja.
Kenapa tak pakai cara klasik?
Lumayan. Lumayan.
Jadi itu maumu? Kuambil dulu punyaku.
Dasar pengecut.
Untuk mobilku, berengsek.
Lihat ini.
- Kau berkelahi dengan pisau? - Tidak, pakai pistol.
Hei.
Hei.
Titip salam pada Karim.
Berengsek!
Seperti kataku...
jago juga dia.
Aku masih benci pistol.
Hei.
Hei. Kau baik-baik saja?
- Ya. Kau? - Ya.
Kau berdarah?
Bukan, ini darahnya.
Astaga.
Ayo.
Duh, ya ampun.
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Bajingan itu membantingku ke meja.
Kenapa tertawa?
Aku tertawa karena kalian mengira bisa mengurus ini sendiri.
Shaft.
Jangan lakukan itu.
Baik, arahkan senjatamu padaku.
Akulah targetmu.
Menurutmu begitu?
Itu yang kutahu.
Aku polisi yang menghancurkan kartel narkobamu,
dan membuatmu sengsara selama 20 tahun terakhir,
layaknya sampah.
Aku tidak mengincarmu.
Tidak, kau mengincarku.
Percobaan pembunuhanmu hanya berhasil menghancurkan keluargaku.
Penyerangan itu bukan ditujukan padamu.
Aku ingin merenggut satu-satunya hal yang paling berharga bagimu.
Sekarang kau benar-benar akan kehilangan segalanya.
Bagaimana rasanya?
Aku merasa baik-baik saja.
Bajingan.
Ayah!
- Bagaimana ini? - Terus tekan lukanya!
Tetaplah sadar, Ayah! Jangan mati, kumohon!
Itukah kau, Malaikat Maut?
Oh, Ayah. Hei.
Aduh.
Jangan cengeng seperti perempuan, Nak.
Apa katamu?
Kau membawakanku perempuan?
Gila. Aku tak percaya kau tertembak demi aku.
Semuanya terjadi begitu cepat. Rasanya...
Tidak, aku tersandung. Itu kecelakaan.
Benarkah? Begitukah seingatmu?
Maya!
Kau membawakanku perempuan.
Bisakah jangan bicara begitu mengenai ibuku?
Kau masih juga mau menghancurkan momen ini?
Baiklah.
Bajingan itu mengincar Junior.
Aku berjanji akan memberinya pelajaran.
Jadi, aku...
- Ya. - Sekarang mau beruhubungan intim?
Momen hancur.
Bagaimana perasaanmu, Tn. Shaft?
- Asyik. - Bagus.
Aku baik-baik saja.
Sasha, bisa tolong buatkan resep untuk menurunkan ego pria ini?
Kerjamu bagus.
Aku senang kau di sana.
Kita bicara lagi nanti.
Hei, Sasha, tunggu.
Cium dia!
Itu baru anakku.
Anak kita. Aku yang melahirkannya.
Aku yang memasukannya ke tubuhmu.
Kau tak pernah mau kalah.
Boleh minta dicium juga?
Tidak, aku tak tahu bibirmu bekas apa.
Dalam berita lain, pemilik jaringan supermarket terkemuka di Harlem
ditangkap hari ini.
Benita Rodriguez dituntut atas percobaan pembunuhan
yang terkait dengan kasus pencucian uang
untuk kartel narkoba.
Bagus sekali. Bagus!
Kerja bagus, John.
Ini dia.
Agen lapangan alias analis komputer favoritku
yang baru diangkat dan ditugaskan kembali.
Selamat datang kembali.
Aku takkan kembali.
Sudah cukup bekerja untuk kulit putih.
Dan namaku adalah Shaft.
John Shaft.
Jadi, bagaimana?
- Persis seperti katamu. - Benar, 'kan?
Lalu apa?
Ada telepon dari beberapa negara bagian utara.
Kemungkinan penculikan dan penggelapan.
Tidak bisa memanggil polisi.
Seperti biasa.
Ayo beraksi.
LAYARKACA21.red Support dengan like & share :)
FILM INI DIDEDIKASIKAN UNTUK TEMAN DAN GURU KITA, TODD BOZUNG
Terjemahan subtitle oleh: Haura Callista
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.