All language subtitles for last summer ep05 idcp

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Sekarang ini rumah kita. Lihat. Bagaimana menurutmu?

Delapan puluh persen insomniaku dimulai di rumah kacang ini.

Mau masuk? Ayo lihat.

Rumah kita yang sebelah mana?

Kau mau yang sebelah mana?

Meski mau menangis… Bukan. Biar kukoreksi.

Meski tanganku dingin, aku terus belajar…

"Kupikir, "Jika aku bisa jadi juara satu, nilaiku sempurna, dan melakukan tugasku…

Tanganku tak akan terasa dingin."

Ibu!

- Kak Ha-gyeong! - Ayo main!

Aku tak mau makan!

Jangan rewel. Makan saja!

Jangan begitu. Minggir.

RAPOR JUARA 1 DI KELAS

Aku akan pergi.

Bu, aku akan pergi saja dari rumah ini!

Ha-gyeong!

Aku bahkan tidak juara dua atau tiga.

Apa aku punya tempat di rumah ini?

Kata Baek Do-ha, rumah adalah tempat kita tinggal.

Itu cuma separuh ceritanya.

Binatang ini…

Karena ada banyak orang di sini.

…punya kantung.

Saat panas-panasnya musim panas pun, tanganku selalu dingin.

Saudara asuh yang menumpang di rumah kami…

Dah, Kak Ha-gyeong.

Aku pergi.

…dan Baek Do-young…

Dan Ayah…

Ibu pergi.

…dan Ibu…

Dan Baek Do-ha.

Mereka terus datang…

Dan pergi.

Hei, Su-bak.

Akhirnya, tinggal aku sendiri di rumah…

Dan dia kembali.

Kau kembali.

- Selamat pagi. - Selamat pagi.

JONG-MAN JR.

Pintar. Hai, Su-bak.

- Tidurmu nyenyak? - Ya, sangat nyenyak.

Rupanya kau pergi joging.

Gerak harus tetap lincah.

Hidup denganmu butuh stamina, mental yang kuat.

Kenapa?

Selamat pagi.

- Sepertinya kau sedang senang. - Ya, aku sangat senang.

Kalian benar-benar serumah.

Selamat pagi.

- Selamat pagi. - Pagi.

Senang melihatnya.

Di era angka kelahiran rendah ini, makin banyak pemuda di desa kita

jelas makin bagus.

Bagus sekali.

Apa rerata usia Patan-myeon akan turun?

Setidaknya tanda itu dibuat dengan baik.

Berkat itu, sekarang rumah Dr. Song terlihat lebih baik.

Selama beberapa hari membangun,

para tetanggamu bersabar dengan kebisingannya.

Kapan-kapan mampir ke tempat mereka.

Ide bagus.

- Pasti. - Ya.

Apa kalian punya dugyeonju lagi?

- Tidak. - Tidak ada.

Kenapa?

Nanti aku terlambat. Aku berangkat. Dah.

- Ya. - Baiklah.

- Kau tak naik mobilku? - Tidak.

Tak bisa beri salam tanpa dugyeonju.

Sebenarnya kami memecahkan dua botol.

Kalian pecahkan?

- Kalian mau? - Tentu saja.

Kami akan belikan seorang sebotol.

- Bagus. - Edisi khusus, 'kan?

BALAI KOTA PACHEON TEMPAT ALAM BERNAPAS

- Bagaimana dengan ini? - Apa?

Katanya proyek observatori merusak keluarganya.

Rusak bagaimana?

"Desa ini sudah gelap."

Apa benar hanya melupakan semua hal yang kelam?

Perbaiki sekarang atau…

Kupecahkan kepalamu dengan linggis…" Bagaimana ini?

Orang seperti itu tak akan muncul.

- Bu Song, ke mejaku. - Baik, Bu.

Ya.

Tolong cepat selesaikan gambar bestek SMA Patan,

lalu beri juga ke Pluto.

- Mungkin pekan ini… - Sudah kukirim.

Sudah?

Lalu jika kau menyetujui biaya materialnya sebelum pukul 13.00,

aku akan langsung memesannya.

Kenapa pesan secepat ini?

Bukankah waktu kita cukup?

Sekarang Pluto juga memeriksa material yang dipesan.

Agar selesai sesuai tenggat, 31 Agustus, tak boleh ada kesalahan sedikit pun.

Tunggu, 31 Agustus?

Kau berlebihan lagi.

Pluto tak akan terima.

Direktur Baek Do-ha sendiri yang menetapkan tenggatnya.

RENOVASI OBSERVATORI SMA PATAN

31 AGUSTUS - SELESAI

Kalian lihat jadwal yang kukirim, 'kan?

- Ya. - Ya.

Masalah proyek ini

lebih banyak yang tak terlihat daripada yang terlihat.

Aku sudah mengatur dan memeriksa potensi masalah di lokasi.

Mari ulas dengan teliti.

Kenapa kau memeriksa tingkat debu halus?

Untuk mengerjakan interior.

Menjaga kondisi kerja pekerja meningkatkan efisiensi.

Baiklah.

Tenggatnya tak boleh diperpanjang sehari pun.

Sama sekali tidak boleh. Demi mencapai itu,

selesaikan pembongkaran dan perbaikan akhir bulan ini,

lalu eksterior pertengahan Juli,

dan interior pada awal Agustus.

Lalu…

RESMI SELESAI

Selesai.

Kita tak boleh membuang waktu.

Masa orientasi Bu Song selesai.

Dia sudah kirim gambar besteknya.

Sepertinya sekarang dia siap mendukung proyek kita.

Tapi kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran?

Entahlah.

Musim Dua akhirnya dimulai.

Yu-jeong sudah kukabari. Jadwal pekan ini kukosongkan.

- Mulai hari ini aku bisa… - Tidak.

Aku pulang tepat waktu.

Aku tak suka lembur, jadi aku fokus merancang.

- Cuma hari ini? - Tidak. Setiap hari.

Setiap hari?

Astaga! Aku terkejut.

Kenapa kau berbaring di rumahku?

Camilan Su-bak ada di sini.

Jangan sembarangan keluar masuk rumahku.

Jangan sembarangan memberi makan.

Astaga.

Aku agak bingung dengan porsinya.

Seperti katamu, mengurus sisa makanan di rumah ini sulit.

Lebih baik berbagi ke tetangga.

Tinggal bersamamu membuat cara bicaraku mirip denganmu.

"Kubuatkan untukmu." Cuma itu yang perlu kukatakan.

Duduklah.

Sekarang apa?

Bisa bicara setelah kau selesai makan?

PERJANJIAN KOHABITASI

"Sampai 31 Agustus, apa pun situasi tak terduga yang terjadi,

Baek Do-ha dan Song Ha-gyeong serumah.

Jika pasal ini dilanggar,

"Song Ha-gyeong menyerahkan hak milik rumah kacang."

- Apa ini? - Perjanjian kohabitasi.

Agar kohabitasi kita nyaman dan aman,

kita butuh perjanjian yang jelas.

Tak ada jaminan kau tak akan kabur lagi.

Kabur?

Pikirkan perbuatanmu kepadaku sebelum kita tinggal bersama di sini.

Tiba-tiba kau menuntutku,

lalu mencabut tuntutanmu dan mengatakan melepaskan hak milikmu.

Sekarang, kau mau coba tinggal bersama.

Bagaimana jika terjadi sesuatu lagi

selama kita tinggal bersama?

Misalnya apa?

Kau pergi dari rumah lagi atau menghilang dariku,

atau mengajukan keluhan lagi.

Aku harus bersiap jika itu terjadi.

Selalu ada hal tak terduga di musim panas kita.

Kau tak tepercaya.

"Kontrak tinggal bersama di rumah kacang secara mendetail."

Jika syarat utama kontrak, tenggatnya, tak terpenuhi,

kepemilikan rumah kacang diberikan

"kepada Pihak A, Song Ha-gyeong."

Kurevisi jadi format kontrak dengan pasal yang mendetail.

Mulai hari ini, biaya listrik, air, gas, dan pemeliharaan dibagi rata.

Ruang bersama digunakan pada waktu yang ditentukan.

Jangan memasuki ruang orang lain.

Kau tak boleh datang dan pergi sesukanya.

Yang terpenting,

premisnya adalah kita bekerja secara profesional.

Mari pisahkan urusan pribadi dan pekerjaan,

serta saling menghormati ruang masing-masing. Paham?

Kau juga akan menghormati ruangku?

Sudah jelas.

Hei… Aku mau bertanya.

Kenapa kau jadi mau tinggal bersamaku?

Apa alasannya?

Untuk menghancurkan fantasimu.

Aku sudah pikirkan. Kau benar.

Kita harus tinggal bersama demi mengakhiri ini.

Fantasimu tentang rumah ini terlalu banyak.

Ini cuma rumah, tapi kau berfantasi karena tak tinggal di sini.

Sadarlah selama tinggal di sini.

Oh, ya. Aku juga mau bertanya.

Sejak kemarin, yang ini…

"Apa pun situasi tak terduga yang terjadi."

Ini membuatku resah.

Situasi seperti apa?

Tak tahu arti "tak terduga"?

Cuma orang bodoh yang beri tahu duluan.

Dipahami.

BAEK DO-HA

Siapa?

PENERIMA BAEK DO-HA

PENERIMA BAEK DO-HA

PENERIMA BAEK DO-HA

Dia keterlaluan.

Dia ke mana?

BAEK DO-HA

- Hei, Song. - Apa kau gila?

Kau pesan berapa paket?

Lalu kenapa terus dikirim ke rumahku?

Maaf. Boleh titip di kulkasmu dulu?

- Apa katamu? - Kulkasku penuh.

Itu bisa basi, cepat taruh.

- Aku sibuk. Dah. - Hei, tunggu…

Aku tahu kau dan Bu Song teman masa kecil, tapi ini unik.

Ayahmu yang membangunnya?

Ya.

Jadi, kalian tinggal bersama, tapi terpisah.

Tinggal bersama, tapi tak bersama.

- Benar. - Sebagai arsitek…

Aku mau lihat rumahnya juga.

Tapi dia tak akan senang, 'kan?

Kata Pak Direktur jangan lewati garis kuning ini.

- Mengantar piza. - Aku tidak pesan.

- Di sini. - Rupanya di sini.

- Ya. - Selamat makan.

Terima kasih.

Kau mau? Kau boleh ke sini.

Makan saja sendiri.

Ha-gyeong!

Aku masak panekuk kimci favoritmu.

Jangan lewati garisnya.

Tamuku cuma boleh sampai di sofa ini.

Pasti di rumah ada garis pemisah.

Kalian tinggal di DMZ.

Kau mau ke mana…

Hai!

Ada apa ini?

Aku mau masuk.

Astaga.

Ayo duduk.

Sudah puas? Sekarang aku tamu kalian berdua.

Ayo kita makan. Nanti dingin.

Ini.

Aku tak memikirkan itu. Kau sangat pintar.

Aku pakai otak. Berkat Ha-gyeong, aku jadi lebih pandai.

Dia sangat pintar dan serba bisa. Aku harus memanggilnya "Dr. Song."

Dia mengajari putriku sampai kuliah.

Putra kekanakan Jang menjadi pria baik

berkat dia. Dia gadis yang hebat.

Seratus doktor lain pun tak bisa menggantikan Dr. Song.

Cukup. Makanan.

Lagi?

Su-bak, kemarilah.

Bagaimana harimu? Sudah makan?

Song! Sudah pulang?

Kenapa kau di sini?

Dia datang.

Kau tahu arti rumah ini bagi Song Ha-gyeong.

Kenapa kau begini?

Potonganmu tidak rata.

Mau tukar pisau?

Kenapa kau masuk ke rumah ini?

Cuma berusaha tinggal dengan Song Ha-gyeong yang belum dewasa.

Saat ini aku mengikuti dia. Seperti ini.

Pelan-pelan.

Aku menyesuaikan semuanya untuk Ibu,

jadi kau tak akan kesulitan bergerak.

Hei, ganti topik,

apa yang dilakukan Baek Do-ha sampai kau izinkan tinggal di sini?

- Itu… - Dia memohon.

Kami tinggal bersama sampai 31 Agustus. Jika dia tak suka,

aku akan pergi selamanya.

Senjata terakhirmu kuat.

- Lihat ini. - Apa ini?

"Kontrak yang mendetail."

Begini cara kalian tinggal bersama?

Jika dilihat, kalian berdua sama-sama kekanak-kanakan.

- Jangan lihat. - Hei!

Kontrak yang mendetail ini

dibuat sendiri oleh Song Ha-gyeong. Tinggal bersamanya pasti sulit.

- Hei. - Hei, Baek Do.

Cuma aku yang bekerja.

Kau terus mondar-mandir.

Cepat kembali.

- Cepat. - Aku datang.

Dia cuma galak kepadaku, 'kan?

- Enak. - Enak, 'kan?

Enak sekali.

Kau cuma memotongnya. Sisanya aku. Aku juga menatanya.

Aku yang membumbuinya. Yang benar saja.

Semuanya kukerjakan.

Memotong dan membumbui yang terpenting.

Tapi kau tak pandai memotong.

Ini enak.

Tak apa, selama rasanya enak.

- Benar. - Ya, ini enak.

Lihat?

- Baiklah. Kututup pintunya. - Terima kasih.

Ini sebabnya kau tinggal bersamanya?

Rumah kacang banyak berubah dalam beberapa hari saja.

Sekarang seperti rumah.

JONG-MAN JR.

- Terima kasih makanannya! Dah! - Dah!

Dah. Terima kasih.

Dah!

Ayo, Su-bak. Kemari.

Aneh rasanya mereka tinggal bersama.

Tapi Ha-gyeong tampak senang, 'kan?

Ya, sudah lama aku tak melihatnya tersenyum setulus itu.

Aku juga akan menunggu sampai 31 Agustus,

tapi jika dia membuat Song menderita, aku tak akan diam.

Omong-omong, Seul, kurasa aku menang lagi.

Kataku Song Ha-gyeong akan menerima Baek Do-ha.

Astaga, Song Ha-gyeong.

Dia tampak kuat, tapi dia selalu mengalah.

- Sudah kukirim. - Bagus.

Omong-omong,

aku terkejut mendengar kau mau ke rumah kacang.

Kau tak pernah ke rumah orang lain, seakrab apa pun.

Do-ha mengundangku pertama kali.

Aku mencoba melawan kebiasaanku.

Lagi pula,

berapa lama lagi kita bisa bertemu seperti ini?

Kenapa kau diam saja?

Sudah waktunya kau bicara yang sinis.

Untuk apa bicara? Kau tetap akan berbuat sesukamu.

Tapi mengundang Kak Seung-taek itu tindakan yang baik.

Pujian pertama dari Song Ha-gyeong.

Kau benar-benar cuma mau makan bersamaku?

Memasakkan dan memberiku makan?

Kenapa "cuma"?

Itu penting.

Makan tiga kali sehari.

Suara sendok, sumpit, mengunyah, dan bicara.

Semua itu berharga.

Aku mau kau memikirkanku…

Setiap kau makan.

Sebenarnya,

aku mau kau memikirkanku di seluruh rumah ini.

Makan bersama, tidur bersama,

bekerja bersama, dan mengundang kenalan kita.

Aku mau kau selalu memikirkanku.

Sekarang seperti rumah.

Kau tak bisa tidur?

Bukan.

Benar.

Aku tak bisa tidur, jadi mau baca buku ini.

Perlengkapan tidur yang kubelikan tidak ampuh?

Jika itu ampuh,

aku tak akan ke klinik tidur mahal itu.

Lalu di rumah ini, suara rusa dan suara orang olahraga

membangunkanku tengah malam.

Kau pasti takut.

Jangan konyol. Siapa yang takut? Aku sudah dewasa.

Omong-omong,

kau sudah bicara dengan pengacara mengenai penundaan mediasi?

Kau menonton drama itu kemarin?

- Tidak. - Yang terkenal itu.

Ya.

- Belakangan ini bagus sekali. - Benar.

Aku mau kau memikirkanku setiap kau makan.

Makanmu sedikit.

Tidak.

Rasanya agak berbeda dari yang kuingat.

- Siapa? - Halo.

- Kuberi tahu jika lancar. - Sayang.

- Ya? - Kau tak apa-apa?

- Apa maksudmu? - Lihat ini.

PAPAN BULETIN BALAI KOTA PACHEON

JEON NAM-JIN KEMBALI

Permisi. Maaf.

JEON NAM-JIN

Sial.

Bersulang!

- Patan! - Patan!

Bersulang!

Berapa nilai proyek itu?

Anggaran 12 miliar won.

Wali kota memilih proyek ini agar terpilih kembali.

Kudengar akhirnya ditolak, tapi tetap dijalankan.

Siapa yang memenangkan itu?

Siapa yang lebih baik dari Kak Nam-jin?

- Apa ada? - Tak ada.

Jika bisa dapat dukungan masyarakat di bidang arsitektur umum,

kita bisa langsung ke Dewan Kota, bahkan menjadi gubernur dan wali kota.

- Halo. - Aku ada reservasi pukul 19.00.

Ruangan paling ujung.

Hei, siapa itu?

Pak Seo, kebetulan sekali.

Senang bertemu denganmu.

Tunggu.

Apa kau mau menemuiku?

Kemarilah.

Hei, beri salam.

Ini Pak Seo, pengacara dari Seo & Joo.

Halo.

Dia cuma menerima klien naratama kelas satu sepertiku.

Tepuk tangan.

- Seo & Joo! - Seo & Joo!

- Seo & Joo! Seo… - Seo & Joo! Seo…

Aku sudah ditunggu. Permisi.

Baik.

Kau sudah datang.

Pengacara yang cuma menerima klien naratama.

Ruangannya tidak kedap suara.

Berkat itu, aku juga jadi naratama.

Menunda mediasi tidak sulit sama sekali,

tapi aku penasaran bagaimana kalian jadi tinggal bersama.

Aku mau belajar.

Belajar apa?

Bu Song Ha-gyeong cukup keras kepala

saat bermain bingo bersamaku.

Bingo?

Kalian bertemu berdua saja?

Ya.

Penggugat Song Ha-gyeong makin lama makin menarik.

Benar. Sulit menghadapinya.

Tunggu. Sebentar.

Ya?

Tentu saja. Material dan konstruksinya

harus melibatkan orang lokal. Apa maksudmu?

Aku tak tahu. Ayo segera bertemu dan bicara, ya?

Kudengar kau akan bergabung di proyek kami.

Sebagai arsitek umum, kau akan memandu dan mengelola lokasi.

Ya.

Oh, ya. Terakhir bertemu, aku tidak sopan.

Karena kau dari luar negeri, kau tak paham konteks lokal.

Karena ini konteks lokal,

kami harus bekerja dengan arsitek lokal.

Mohon kerja samanya.

Aku…

Apa? Baiklah.

Bagus.

Kau pasti bisa.

Ya.

Pertama…

Dadaku serasa terbakar.

Pertama, Direktur Baek harus tahu

bahwa opini Departemen Arsitektur Umum

adalah opini kota.

Seribu warga Suhyeon-ri

dan 13.000 warga Patan-myeon,

serta 170.000 warga Pacheon-si.

Kami mewakili itu.

Si gila ini…

Baek Do-ha bisa menghabisi Jeon Nam-jin karena pohonnya ditebang.

Tolong bantu kekuranganku.

Aku tak sabar bekerja bersama orang yang memahami

konteks lokal.

- Apa? - Dalam arsitektur…

Yang terpenting adalah lokalitas.

Di lokasi, percaya saja kepadaku…

Dia meremehkannya secara profesional.

Aku juga mengamati proyek renovasi gudang

yang dilakukan mantan direktur.

- Kenapa dia begitu? - Astaga.

Itu juga dilakukan bersama Bu Song. Kami bekerja bersama.

Sekian dulu hari ini.

Kalian akan menemukan ritme pelan-pelan.

Baik.

Baiklah.

Jika kau mendengar sesuatu yang aneh,

salah paham, atau salah mengartikan selama bekerja di Balai Kota,

aku bisa jelaskan.

Orang kutuntut karena Jong-man.

Jeon Nam-jin terlibat. Aku tak mau bahas detailnya.

Pokoknya, itu pernah terjadi,

aku menang gugatannya dan dia didenda tujuh juta won.

Itu pernah terjadi.

Itu beres dengan damai,

jadi jangan libatkan perasaan pribadi dalam pekerjaan profesional.

Sepertinya itu belum beres sama sekali.

Ceritakan lebih lanjut.

Jangan tanya lagi. Traumaku jadi kembali.

Kau benar-benar pernah memacari Jeon Nam-jin?

Kenapa kau penasaran soal itu?

Itu salahmu!

Salahmu, jadi jangan tanya lagi, paham?

Semuanya salahmu!

Kualitas udara buruk hari ini salahmu,

dia cuma BAB sekali hari ini salahmu,

dan yang paling kubenci, tangsuyuk dituangi saus…

Semua itu juga salahmu!

Kau yakin punya waktu untuk ini?

Apa kau siap untuk rapat besok?

Orientasi di sana keras.

Jangan mempermalukanku nanti, paham?

Dia kenapa?

Su-bak. Kau cuma BAB sekali hari ini?

RENOVASI OBSERVATORI

Terima kasih atas kerja keras kalian.

Halo, ya. Halo.

Halo.

- Terima kasih kerja kerasnya. - Astaga.

Hei, Kak! Kita bertemu lagi di sini.

Kau tampak sehat.

Yang benar!

Kenapa kau tak ikut klub sepak bola pagi lagi?

Melihat Direktur Jeon Nam-jin membuatku tenang.

Cetak biru proyek ini membuatku khawatir.

Cetak birunya sangat kreatif.

Bahkan ada spesifikasi mesin per area.

Aku belum pernah melihat itu selama 30 tahun jadi tukang kayu.

Dia dari mana?

Sepertinya bukan orang lokal.

Dia…

Dia besar di New York bersama ibunya, dosen arsitektur.

Arsitektur umum berat bagi orang luar.

Itu sebabnya aku mendampinginya.

Pantas saja. Dia jelas-jelas orang yang hanya menggambar di mejanya.

Terakhir kali, aku bahkan disuruh merobohkan dinding penopang.

Aku sangat syok.

Tak akan kugubris. Kudengarkan saranmu saja. Begitu saja.

Kak, percayalah kepadaku.

Tanpa saranku, tak akan selesai tepat waktu.

Lalu hari ini…

Direktur Baek, kau di mana?

Semua orang di sini…

Apa?

Direktur Baek, seharusnya kau di kantor sekarang.

Ini…

Kenapa ini masih ada?

Itu menopang beban.

Jika dihancurkan, gedungnya akan roboh.

Aku sudah tandai dinding yang bukan penopang.

Kau tak lihat cetak birunya?

Astaga!

Itu cetak birumu.

SMA Patan sudah tua, jadi tidak punya gambar teknis. Benar, 'kan?

Kemarilah.

Lihat.

Dengar suara itu?

Dinding penopang dan bukan penopang

kepadatannya berbeda, jadi suaranya agak berbeda.

Itu mungkin terlalu sulit untukmu.

Apa…

Kau sependapat, Pak?

Dia benar. Semuanya terhubung.

Kau selalu di kantor. Di lokasi tidak paham.

Sudahlah.

Hari ini, kita…

Hari terakhir. Jangan buang-buang tenaga. Ini hari yang indah.

Mau mulai di palang dan pilarnya sekarang?

Apa dia akan puas?

Nanti kita juga disuruh menghancurkan plafon dan dinding.

Apa dindingnya sudah dihancurkan?

Hancurkan saja semuanya, seperti yang dia suruh, pakai martil.

Biar tempat ini hancur.

Ayo kita ke kantor dulu. Kita bisa bicarakan di sana…

Kau sedang apa?

Kau sudah gila?

Tunggu. Jangan.

Apa? Jangan!

Kumohon jangan!

Jangan, kumohon!

Yang itu perlu kuhancurkan juga?

Akan kukerjakan.

Pak, kau harus memercayai…

Cetak biruku.

Baiklah.

Aku sudah ukur ketinggiannya

lebih dari sebulan.

Kudengar

kalian mau selesaikan hari ini. Bukankah sebaiknya cepat dikerjakan?

Kalian sudah tahu jadwal kita ketat.

Jika ada salah, itu bisa jadi masalah besar.

Kenapa tadi aku menghindari tatapannya?

Ini bukan Baek Do-ha yang kukenal.

Mungkin aku tak terlalu mengenalnya.

Dia cuma tinggal selama 21 hari, lalu pergi sebelum musim panas berakhir.

Tentu saja aku tak mengenalnya.

Sudahlah.

Cuma kambing hitam.

Kenapa kau turun ke wilayah manusia?

Kak Chang-su?

Astaga, aku terkejut.

Kenapa kau kemari?

Apa ada orang lain yang tinggal di sini?

Putra Pak Baek tinggal di sini sebentar.

Begitu rupanya.

Kenapa?

Apa…

Apa-apaan itu?

Apa yang terjadi?

Astaga, lagi-lagi!

- Halo. - Baek Do-ha, kau di mana?

Aku terkurung di rumah. Pintunya tak bisa dibuka.

Kau di mana?

- Kamar mandi. - Baik. Aku segera ke sana.

- Song Ha-gyeong. - Sudah datang?

Ya. Menjauh dari pintunya.

Astaga.

Terima kasih.

Mungkin aku harus pindah dari rumah bobrok ini. Lokasinya buruk.

Kenapa Ayah membangun rumah kayu

yang bermasalah tiap hujan?

Tadi aku lihat kambing hitam di depan rumah.

Seharusnya kau segera memanggilku.

Jangan remehkan rumah ini.

Benar.

Harus kukatakan sekarang…

Karena kau menetap cukup lama.

Terkadang di kamar kosong lampunya menyala.

Tak bisa dibuka lagi?

Ada pintu yang baik lagi sendiri.

Ini kenapa?

Wastafel yang rusak tiba-tiba berfungsi lagi.

MASTER BAEK

- Hei, Ha-gyeong. - Hai, Pak Baek.

Apa kau mampir ke rumahku?

Apa? Aku belum sempat ke sana.

Aku akan datang pekan ini.

Mungkin ada hantu di sini.

- Jadi, jangan… - Aku yang perbaiki.

Maksudku, itu semua terjadi sebelum kau datang ke sini.

- Tahun lalu… - Ya. Aku yang perbaiki.

Apa? Benarkah? Kau menyelinap masuk ke rumahku?

Bagaimana hantu bisa memperbaiki semua itu?

- Jangan kekanak-kanakan. - Hei.

Setiap kau minta bantuan ke ayahku, dia menyuruhku ke sini.

Aku tahu kau akan marah jika melihatku, jadi aku datang saat kau pergi.

Kau yang menyuruhku pergi.

Jadi, agar kau tidak marah, aku datang saat kau bekerja.

Song Ha-gyeong.

Hantu? Apa kau sakit jiwa?

Kalau perlu ada perbaikan, panggil aku.

Astaga, aku terkejut.

Hei, aku baru periksa.

Kau tahu lorong dari lobi ke kantor.

Akan ada struktur baru.

Jadi, mungkin lewat garis.

RUANG BERSAMA TELEPON DI LUAR

Hei, aku akan telepon lagi.

Ayo. Kau pasti sedang gembira.

Ayo.

Ayo.

- Gosok yang benar. - Sudah.

Anak pintar.

Kau sangat pintar hari ini.

- Bu Ketua. - Hai.

Halo.

Halo.

Ini.

Dari tadi pegang itu?

Ayolah.

Hei, berikan.

Ambil.

- Hei. - Gimbap sudah dimakan?

Sedang kumakan.

Aku juga buat smoothie.

Sedang kuminum.

Nikmatilah.

Ya. Terima kasih.

Ya, sebentar.

Kau siapa?

Ini rumah Baek Do-ha?

Itu di sebelah.

Kecepatanmu bergerak menyeramkan.

Kau terima suratku kurang dari sehari lalu.

Aku tahu setelah konferensi dan langsung terbang kemari.

Yang paling cepat cuma kelas bisnis,

jadi uang sewa bulananku habis.

Kau pasti sakit hati.

Kau tiba-tiba berhenti dan pergi ke Korea. Aku tak keberatan.

Setidaknya kau masih bekerja dari jarak jauh.

Itu juga tak apa-apa. Awalnya, panggilan video.

Lalu surel.

Lalu katamu kau mau berhenti.

Aku punya proyek sendiri.

Kau membuang Proyek Hermann?

Itu desainmu.

Selama perjalanan kemari, aku terus berpikir.

"Itu pasti Baek Do-young."

Baik, entah bagaimana, aku akan meyakinkannya.

"Akan kuseret kembali meski harus kupukuli."

Ini karena Song Ha-gyeong?

- Tinggal bersama. - Bekerja bersama juga.

Biasanya kau tak melakukan ini.

Kau pasti putus asa dan mempertaruhkan segalanya.

Melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaan?

Kau tak kenal Bu Song.

Dia kompeten.

Dia yang paling jago.

Aku pergi dulu.

Aku juga harus merevisi strategiku.

Kau sudah jelaskan semuanya?

Kau datang untuk menjelaskan semuanya. Sudah?

Kau bahkan tak bisa tidur tanpa obat.

Alasan aku terus mengganggumu.

Alasan aku harus terbang ke rumah ini.

Kau sudah jelaskan?

Aku benar-benar harus membawamu kembali.

Aku pergi dulu.

Hei.

Wanita yang datang dengan mengejutkan tadi

teman kuliahku di New York…

Kenapa kau menjelaskan itu?

Itu bukan hal yang aneh.

Tapi berikan alamat yang benar.

Kenapa selalu belku yang dipencet?

Aku…

Kau perlu bicara?

Aku harus bekerja.

Tidak. Bekerjalah.

Ini rumah Baek Do-ha?

Aku Yoon So-hee.

Aku Song Ha-gyeong.

Kau teman Baek Do-ha dan Do-young?

Kau kenal Baek Do-young?

Dia datang setiap musim dingin.

Ibu Baek Do-ha dulu dosenku. Profesor Nam Ae-min.

Baik.

Kau tak mengenalku, tapi aku mengenalmu.

Mereka berdua selalu menceritakanmu.

Teman masa kecil di Korea yang tinggal di sebelah mereka di rumah kacang.

Tapi kenapa kau menemuiku?

Song Ha-gyeong.

Kau suka Baek Do-ha?

Kau benar-benar menyukainya?

- Aku… - Aku menyukainya.

Tapi aku suka Baek Do-ha yang arsitek dua kali lipat…

Tidak, sepuluh kali lipat.

Jika harus memilih, aku tanpa ragu memilih

Baek Do-ha yang arsitek.

Aku sesuka itu dengan rancangan Baek Do-ha.

Baiklah.

Tapi kenapa kau memberitahuku ini?

Kalian tinggal bersama sampai 31 Agustus, 'kan?

Tapi aku mau membawa Baek Do-ha kembali sekarang.

Aku mau kau membiarkannya kembali ke tempat asalnya.

Biarkan dia pergi.

Di awal proyek, kami mengadakan lomba tim internal.

Cuma desain Baek Do-ha yang langsung disukai semua orang.

Dia mendedikasikan dua tahun untuk itu

dan dia membuang semuanya…

Demi tinggal bersamamu.

Tapi aku akan membawanya kembali dalam sepekan.

Peluang itu terlalu penting baginya.

Jika dia memang mau pergi…

Untuk apa dia mengganti itu?

Tekadku

lenyap saat itu juga.

Semua tekad bajaku langsung meleleh.

Karena lampu terang yang mendadak menyala di rumah ini.

Jangan biarkan siapa pun masuk. Jangan terlalu cepat terbawa perasaan.

Jangan mencoba percaya lagi.

Su-bak.

Su-bak?

Hei, Su-bak.

Su-bak.

Su-bak, bangun. Su-bak.

Rumah sakit.

BAEK DO-HA

Nomor yang Anda tuju tidak…

SONG HA-GYEONG

Ya, aku sudah kecilkan AC-nya.

Juga mengelapnya dengan handuk basah untuk menurunkan demamnya.

Lidahnya agak bengkak dan dia masih lemas.

Akan kuberi elektrolit.

Ya, terima kasih.

Kenapa? Su-bak sakit?

- Tak bawa ke rumah sakit saja? - Tidak perlu. Ini sudah biasa.

Kau pasti takut.

Kenapa kau memperbaiki rak sepatu?

Itu cara Su-bak tahu aku sudah pulang.

Aku tak membiarkannya rusak. Itu kode kami.

Tugasmu mendesain dan mengatur fantasi,

jadi kau kira aku suka itu kau perbaiki?

Ini rumah.

Bukan cetak biru atau rumah 3D, tapi rumah sungguhan.

Kau tak menghuninya, jadi tak tahu.

Jangan sentuh apa pun.

Apa terjadi sesuatu?

Apa yang terjadi? Aku selalu melakukan ini sendiri.

Meninggalkan jejakmu di sini

sangat konyol.

Pergi saja ke kamarmu.

Tak apa. Aku bisa sendiri.

Aku sudah tahu sejak awal.

Sejak Baek Do-ha kembali

dan lampu di dekat kamarku menyala lagi malam itu.

Tanganku…

Akan dingin lagi.

Kalian jangan pilih-pilih makanan

dan berhenti bergadang. Nanti tak tinggi-tinggi.

Hei, Anak-Anak Nakal!

Jangan kembali lagi!

Cepat. Tolong cepat datang.

Kumohon.

Ibu.

Kenapa Ayah pergi saat Ibu begitu?

Ha-gyeong, Ayah bukan kabur.

- Ayah mencari uang. - Ayah kabur.

Tidak.

Jaga Ibu sampai Ayah kembali, ya?

Ayah.

Jangan kembali lagi!

Rumah yang cuma menunjukkan orang yang pergi.

Rumah yang membuat insomnia.

Di dalam rumah ini…

Kenangan tangan yang dingin…

Ada di mana-mana.

Tak apa-apa.

Rumah adalah tempat

orang datang dan pergi.

Itulah…

Seperti itulah rumah ini.

Kau…

Kau terlihat sangat dingin.

Ini musim panas.

Apa maksudmu?

Aku tahu.

Itu…

Yang kau katakan sekarang.

Yoon So-hee?

Rekan resmi Arsitek Baek Do-ha.

Arsitek mumpuni, berpenampilan menarik, dan pandai bicara. Itu jarang.

Kau bisa apa soal itu?

Apa kau akan melakukan ini jika itu So-hee?

Pergilah ke tempat asalmu.

Song Ha-gyeong, kau benar-benar mau aku pergi dari hidupmu?

Lebih dari 20 telepon tak kau angkat?

Jika tak kuangkat, harusnya sadar.

Kenapa kau menjadi bocah 18 tahun saat bersamaku?

Jangan tunjukkan ekspresi seperti mau menangis itu.

- Sudah selesai bicara? - Belum.

Ada lagi. Aku sangat malu gara-gara kau!

Ke sini mau mengejekku?

Kurasa aku menyukaimu.

Ayo berpacaran.

Terjemahan subtitle oleh Sudirman Lius

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.