Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mau foto? Silakan.
Satu, dua…
Halo.
Satu, dua…
- Ayo ke sana. - Ayo.
Itu, Ma!
Mama!
Selamat, Sayang. Anak Mama sudah jadi sarjana!
Terima kasih, Mama.
Pak.
Bapak bangga kepadamu, Nak.
Hebat!
Untungnya kau lulus pas delapan semester.
Kalau tidak, Bapak bisa tekor.
Sudah, cepat-cepat cari kerja.
Kalau bisa PNS, ya.
Pak…
Ya, PNS supaya nanti ada pensiunnya.
Amin.
- Dor! - Allahu Akbar!
Rifa.
Lulus!
- Selamat, ya, Nak. - Selamat ya.
- Ibu. - Bu Fatimah, apa kabar?
- Baik, Bu. - Tante.
Fad, selamat, ya.
- Bagaimana, Bapak? Sehat? - Selamat, Pak.
Hei.
Makin cantik saja.
Ibu yang selalu cantik.
Ya, 'kan, Pak?
Bisakah kita seperti mereka?
Aduh, gantengnya Bapak ini.
Foto, Fad?
Ayo.
Kau jadi lanjut S2 di Jogja?
Belum tahu. Tergantung.
Tergantung apa?
Ini untukmu.
Takutnya nanti rindu sama aku.
Percaya diri sekali.
- Siapa juga yang akan rindu? - Pasti rindu.
Rifa.
Ayo kita pulang.
- Ya. - Ya.
Hei, Fad.
Sudah lulus. Apa rencanamu?
Rencananya mau mencari kerja dulu, Tante.
Oh.
Ya sudah, Tante doakan semoga kau cepat dapat kerja.
- Amin. - Amin.
Tante dan Om juga sehat selalu.
- Ya. Kau juga, ya. - Ya.
Ibu, Bapak, permisi dulu ya.
Sampai bertemu lagi, Bu. Sehat selalu, Ibu, Bapak.
Pulang ya, Nak.
- Ya, Tante. Mari, Om. - Dah.
- Dah, Fad. - Dah.
- Ayo, Ma! - Ya.
- Perutku lapar. - Lapar? Sudah Mama siapkan, Nak.
Sebentar, ya.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hati-hati.
- Terima kasih, Nak. - Ya, Ma.
- Ayo masuk, Sayang. - Ya, Ma.
Fad, bagaimana Rifa?
Tidak ada apa-apa, Ma.
Jangan sampai menyesal didahului orang lain.
Belum terpikir ke arah sana, Pak.
Sepertinya dia juga akan S2.
Makin tinggi uang panaiknya!
Siap? Satu, dua, tiga.
Sekali lagi. Satu, dua, tiga.
- Oke. - Oke, ini.
Terima kasih ya.
- Aku ke dalam dulu. - Ya.
Wah.
- Bagus, ya. - Romantisnya.
Alhamdulillah.
SELAMAT ATAS PEMBUKAAN STUDIO MUSIK SINRILIK
Sayang.
Akhirnya cita-citamu terwujud.
Alhamdulillah.
Terima kasih, Sayang,
sudah mendukung aku dari awal sampai sekarang.
Nanti kita bisa bernyanyi dan latihan di sini.
Bisa bersama-sama terus?
Kau mau bersama terus?
Cie, mesranya.
Fad, tempat ini mantap.
Kallang bisa latihan di sini.
Fad, jangan lupa nanti malam makan di rumah sama Bapak dan Mama.
Pukul 19.00, 'kan?
- Jangan sampai lupa. - Aman.
- Dah, Nis. - Dah.
Kau sudah dibantu pakai mulut masih sumbang.
Jangan terlalu banyak gaya kalau hanya kunci C yang kau tahu.
Sok tahu kau, Ariping. Lihatlah!
Aku sudah tahu kunci E.
Lagi pula, aku hanya ingin menambah keahlian.
Karena kalau urusan perkabelan dan teknis alat,
bukannya sombong,
aku jagonya!
Ya, tapi kemarin kena setrum.
Namanya kabel telanjang terkena tangan berkeringat,
wajarlah.
- Halo, Nisa. - Halo.
Memangnya kau tahu apa?
Aku tahulah, kenapa kau ini?
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Selamat ya, Fad.
Alhamdulillah, Pak, hari ini acaranya berjalan lancar.
Sekali lagi, aku mau berterima kasih banyak
karena Bapak sudah mau bantu,
dan yang paling penting, sudah memperbolehkan aku
untuk membayar bulanan, Pak.
Sama-sama, Fad.
Aku juga pernah muda.
Aku juga pernah punya ego, jadi, sudah mengerti.
Dan tempat ini jadi tidak sepi.
Semoga usaha ini lancar dan sukses ya, Pak.
Lancar bayar juga.
Hei, Nisa.
- Ya, Pak. - Hei.
Fad. Laki-laki gagah, perempuan cantik.
Sudah, jangan lama-lama.
Kalau soal itu, doakan saja, Pak.
Ya. Amin.
Ya, 'kan, Sayang?
Ada siapa di dalam?
Marahi saja mereka, Pak. Berkelahi terus.
Lagu apa?
Tidak diragukan lagi, kau memang berbakat, Fad.
Aku yakin, kau akan menjadi penerus Ridwan Budiman.
Siapa itu?
Ada, omku. Suaranya bagus sekali.
Orang Kendari.
Mengapa tatapan kalian seperti meremehkanku?
Bukan "seperti", memang aku meremehkan kau.
Hei.
Mumpung aku ingat.
Sepertinya,
aku mau melamar Nisa.
Alhamdulillah, Ya Allah!
Alhamdulillah!
Coba lihat temanmu, Ariping, sudah mau menikah.
- Kau kapan? - Kau juga!
Percuma aplikasi kencanmu premium, tapi sampai sekarang masih jomlo.
Itu karena aplikasinya rusak.
Hei, tapi serius. Kapan, Fad?
Tapi…
Apa?
Menikah kembar, Pak?
Kifly sudah akan melamar pacarnya, Karin.
Jadi, Bapak pikir, sekalian saja kalian bertiga menikah kembar.
Bapak juga sudah berdiskusi dengan Mama.
Mama setuju.
Tapi… Ma.
Kenapa begitu?
Ya, kalian tahu,
Bapak sudah tidak produktif lagi untuk mencari uang,
sementara uang panaik dan biaya pernikahan makin tinggi.
Bapak ada tabungan 300 juta.
Seharusnya cukup untuk uang panaik kalian,
biaya lamaran, sampai resepsi.
Tapi, Pak,
tidak bisakah kami menikah masing-masing?
Aku bisa cari uangnya sendiri.
Aku pun sedang menabung.
Fadly, dengar.
Dalam tradisi kita,
orang tua berkewajiban menikahkan anaknya.
Kalau sampai Bapak tidak bisa
menikahkan anaknya sesuai kemampuan dan biayanya,
Bapak merasa gagal.
Kalau Bapak harus menunggu sampai kalian mapan, sampai kapan?
Sampai Bapak tidak ada?
- Astaghfirullahaladzim. - Bapak!
Mengapa bicara seperti itu?
Ya, Bapak.
Sudah, percaya sama Bapak.
Fadly, kau bicara sama Nisa.
Kifly, bicara sama Karin.
Ahmad, bicara sama Asha.
Kalian akan melamar bulan ini.
Apa?
Bapak sama Mama yakin?
Bapak sudah atur semuanya.
Minggu depan kita ke Solo untuk melamar Karin.
Setelah itu, ke Sengkang untuk melamar Nisa.
Dan terakhir ke Jakarta untuk melamar Asha.
Ma…
Tidak apa-apa, Nak.
Kalian bertiga pun sudah lama berpacaran.
Tidak ada salahnya kalian menikah sekarang.
Lalu, Ahmad dan pacarnya bagaimana? Pasti tidak mau, 'kan?
Kenapa kau yakin mereka tidak mau?
Dia belum selesai cerita.
Sudah, percaya saja!
Perasaanku tidak pernah salah.
- Mau taruhan? - Kau mau?
Ambil belimbing wuluhnya.
Kita taruhan. Yang kalah makan ini!
- Semuanya? - Satu kantung. Kenapa? Takut?
- Oke, sepakat. - Sepakat!
Tentu mau.
Oke, Sayang?
Ya, lah. Siapa yang tidak mau dilamar
sama dosen muda, ganteng, Ahmad Mustafa, sayangku, cintaku?
Sudah.
Yang penting, kalian doakan aku, ya.
Semoga Nisa dan keluarganya mau terima lamaranku.
Pasti kami doakan.
Semoga Nisa menerima lamaran Fadly. Amin.
Jadi, nanti konsepnya akan seperti ini.
Nanti semua balon-balon…
Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi,
nanti malam aku akan kirim draf final untuk semuanya.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Dah.
Adi, Aldhy. Semuanya aman?
- Aman terkendali, Pak. - Oke.
Pokoknya, jangan sampai ada yang terlewat.
Ini penting sekali untuk portofolio kita dan untuk klien.
Tapi Bapak yakin tidak mau pakai pawang hujan di hari H?
Tidak usah.
Hanya saran, siapa tahu Bapak mau pakai pawang hujan
karena kebetulan omku pawang hujan.
Kukira ommu penjual es kelapa muda di Pantai Losari.
Ya, itu pekerjaan utamanya.
Tapi kalau ada tawaran jadi pawang hujan, omku bisa.
Apalagi dia banyak keahlian.
Kadang jadi tukang servis AC, servis kipas,
dan kadang menjadi kontraktor juga.
- Kontraktor? - Ya, Pak.
Pernah juga diterima menjadi pemadam kebakaran.
- Pemadam kebakaran? - Ya.
Dia terima juga panggilan mandi jenazah.
Terima juga jasa pasang plafon.
Benar, pasang plafon juga!
- Ommu hebat. - Ya. Hebat sekali.
Sudah. Ini hanya perlu mengurus makanan dan tenda.
- Ya. - Siap, Pak.
Nanti tinggal mengukur lagi makanan…
Coba, ya.
Ini…
Selamat siang.
Kau benaran jadi datang?
Ini searah dengan jalan pulangku, jadi, aku mampir.
Bagaimana? Aman?
Aman, Bu.
Mari, Bu Dokter.
Duduk, Sayang.
Halo. Aku bawakan kopi.
Agar semangat kerja.
Terima kasih, Sayang.
Ini apa?
Kenapa kau senyum-senyum?
Mas mau tahu saja atau sangat mau tahu?
Sangat.
- Sangat? - Sangat.
Apa, Sayang?
Jadi,
aku tidak jadi penempatan di Bali.
Oke.
Jadinya aku penempatan di…
Makassar!
- Di Makassar? Kau serius? - Di Makassar!
Hore!
Kok bisa? Cerita, Sayang.
Ya, siapa suruh kau punya pacar yang rajin,
yang tidak pernah terlambat,
dan tidak pernah menolak saat diminta mengganti jam jaga?
Hebatnya pacarku.
Nah.
Karena aku tidak jadi penempatan di Bali,
nanti setelah kita menikah,
kita bulan madunya ke Bali ya.
Sayang, kita tidak ke Bali. Kita ke Eropa.
- Benar? - Bercanda.
- Bercanda. - Kalau begitu, aku kabari Ibu, Bapak,
- Adik… Kopermu… - Bercanda.
Menabung dulu, ya?
Tapi janji ya?
- Janji. - Janji?
- Ya. - Ya sudah.
♪ Aku akan dicintai dengan tulus Tanpa ragu ♪
Sebentar.
♪ Bersamaku kamu tak akan sendu ♪
Ini smoothie spesial
untuk Tuan Putri yang sudah jauh-jauh datang dari Sengkang.
Terima kasih, Sayang.
Silakan.
Jadi, sudah ada kabar dari Bapak dan Mama tentang rencana nikah kembar?
Terus?
Mama sama Bapak setuju saja.
Alhamdulillah, Ya Allah.
Serius?
Alhamdulillah.
Mama harus tahu.
Kau kenapa?
Tidak ada apa-apa.
- Benar? - Ya.
♪ Bersamaku kamu tak akan sendu ♪
Kifly, ayo, Nak. Mama sama Bapak sudah siap.
- Ma. - Apa?
Banyak sekali. Akan bawa semua?
Ya.
Ini coto.
Hati-hati, Nak. Jangan sampai tumpah.
Ini jalangkote dan ini barongko.
Ini semua Mama buat untuk calon mertuamu.
Kita hanya satu malam di Solo, Ma.
Kuah coto pun pasti akan ditahan di bandara, Ma.
Sudah, tenang saja. Biar Mama yang atur itu.
Tapi, maksudku…
Kopernya banyak sekali. Untuk apa?
Kifly.
Nanti kalau calon mertuamu memberi bingkisan untuk kita,
kita bawa, masukkan ke dalam sini. Selesai, 'kan?
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Apa kabar?
- Ibu. - Pak.
Pak…
Ada sedikit oleh-oleh untuk Ibu. Coto.
Aduh, merepotkan, tapi terima kasih.
- Silakan masuk. - Ya.
Pak, aku senang atas kedatangan Bapak sekeluarga.
Bisa bahasa Indonesia saja? Kami tidak mengerti.
Oh ya, maaf. Bercanda, Pak.
Masa sudah besar tidak bisa berbahasa Jawa?
Mungkin dia kira semua orang bisa berbahasa Jawa.
Di mana-mana memang ada orang Jawa,
tapi tidak semuanya harus bisa berbahasa Jawa.
Oh ya, bahasa Indonesia saja.
Kok langsung dibalas begitu, Pak?
Masih di sana.
Ayo masuk, Pak. Panas!
Ayo masuk. Silakan.
Maaf, Pak.
Ini sekadar menekankan dan meyakinkan.
Memastikan bahwa Bapak tidak keberatan
kalau anak kita dinikahkan sekaligus bersama.
Tidak apa-apa, Pak.
- Kami menurut saja. - Alhamdulillah.
Yang penting adalah niat baik Nak Kifly yang ingin menikah dengan Karin.
Ya.
- Yang penting itu akadnya, Pak. - Ya.
Kalau pesta, itu hanya perayaan saja.
Setuju, Pak.
Oh, ya. Resepsinya kurang lebih tidak sampai dua bulan lagi ya, Pak?
Ya. Insyaallah.
Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Semoga kita semua sudah siap, Pak. - Ya.
Ada laki-laki mau datang melamar Andi Nisa.
Tapi hanya sanggup membayar uang panaik 50 juta rupiah.
Tidak jelas pekerjaannya.
PNS bukan, polisi juga bukan.
- Lalu apa? - Anak grup musik Makassar.
Tidak ada uangnya.
Kalau menurutku, Puang,
minta naikkan yang panaiknya, baru aku akan setujui.
Karena kalau hanya 50 juta,
bagaimana mau atur uang untuk mengadakan acara?
Apalagi kita tahu sekarang, Puang, semua harga bahan dapur serba mahal.
Ini kalau tetangga tahu, mau simpan di mana muka keluarga kita?
Anaknya Daeng Erang, janda, 80 juta jumlah uang panaiknya.
Sebenarnya, anaknya Haji Tauhid sudah lama ingin melamar Nisa.
Aku sudah sampaikan kepada Nisa, tapi dia tidak gubris.
Soal uang panaik, tidak usah diragukan.
Tapi, Pak, maaf.
Biarkan anak kita memilih calon suaminya sendiri.
- Orang tua juga harus punya andil. - Benar.
Aku tak mau anak perempuanku satu-satunya masa depannya sengsara.
Aku juga tidak ingin anakku tidak bahagia
karena menikah dengan orang yang dia tidak suka.
Jadi, selama ini kau merasa tidak bahagia dengan aku?
Karena kita dijodohkan, begitu?
Hei.
Aku lebih bisa membahagiakan keluargaku dibandingkan pacarmu dulu
yang sekarang melarat itu!
Justru itu pentingnya uang panaik!
Untuk menjaga kehormatan, kebangsawanan, dan keluarga kita!
Juga untuk seleksi laki-laki yang serius!
Semoga lagunya banyak yang dengar dan viral.
Ya, nanti buat lagi di tempat aku lagi.
Ya, terima kasih.
- Tunggu, Bapak jangan turun. - Ya.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam. Mama!
- Kasihan kehujanan. - Ya.
Bantu adikmu!
- Pak. - Ya.
Itu Bapak.
Pak, nanti sakit.
- Alhamdulillah. - Alhamdulillah.
- Akhirnya sampai. - Aduh.
Kenapa tidak kasih kabar? Bisa aku jemput.
Mau kau jemput pakai apa? Pakai motormu?
- Mobil kita sedang di bengkel. - Sini.
Yang penting urusan adikmu sudah selesai.
Tinggal acaramu dan Ahmad.
Lihat, Mama dapat banyak oleh-oleh.
- Di koper juga ada, dari calon besanku. - Ada banyak.
Yang penting Fadly, kau harus fokus pada acara pernikahanmu.
Ya.
- Mana cincinmu? - Mana Ahmad?
Masuklah.
Aku es kopi gula aren.
Kau?
Bebas saja.
Ada rekomendasi, Kak?
Bebas, Kak.
Bercanda, Kak.
Mungkin mau coba teh hijaunya?
Ya sudah. Satu kopi gula aren dan satu teh hijau.
- Mohon tunggu, Kak. - Ya.
Jadi, bagaimana Bapakmu?
Sudah adakah tanggal baik yang ditentukan untuk…
Aku dan keluarga datang melamar?
Nisa.
Ya?
Kau kenapa?
Kau bilang apa tadi?
Jadi, kapan keluargaku bisa datang ke rumahmu?
- Oh. - Tanggal berapa?
Belum tahu.
Belum ada jawabannya.
Katanya tidak baik melamar di bulan ini.
Memang ini tahun berapa?
Masa masih percaya hal seperti itu?
Kau menghina keluargaku?
Kau ini kenapa?
Tidak apa-apa.
Ma, cincin ini mahal sekali.
Jangan bicara soal uang dengan Mama dan Papa.
Yang terpenting, hati anak Mama tersenyum.
- Terima kasih. - Silakan.
- Ma. - Ya, Nak?
Mau kopi?
Tidak, Ma. Aku suka cincin ini.
Ya sudah.
Yang ini, ya.
Kenapa lagi motor ini?
Kenapa motornya harus mogok di sini?
Hei, jawab!
Kalau orang berbicara itu harus direspons.
Jangan didiamkan!
Memang aku mau motorku mogok?
Kau ini kenapa?
Kak, tisu.
Sut.
Fadly kenapa lagi?
Sedang bertengkar dengan Nisa?
Sut!
Sut, Fad.
Sori, bukannya aku ingin ikut campur,
tapi kau sebenarnya kenapa?
Sebenarnya,
tidak ada masalah apa-apa.
Mungkin karena hubungan aku dan Nisa makin serius,
masalah sekecil apa pun bisa jadi besar.
Nah, benar, Fad.
Jangankan sebelum menikah,
setelah menikah saja banyak pasutri cerai karena masalah sepele.
Apa? Masa? Apa contohnya?
Kau minta contoh?
Dari mana saja, Sobat? Mainmu kurang jauh.
Pir, beri tahu dia.
Di Makassar Info waktu itu,
ada suami ceraikan istrinya karena apa?
Hitam pantatnya.
Padahal memang itu warna dasarnya.
Kalau mau putih, sapi.
Sudah dengar, 'kan?
Perkara suhu AC, suami dan istri bisa cerai.
Itu pentingnya komunikasi.
Komunikasi saja.
Asalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Fad, duduk dulu di sini.
Ada yang mamamu ingin katakan.
Sudah, Mama saja yang bilang.
Ada apa, Ma?
Bajumu basah, Nak.
Ya. Hujan di luar besar sekali.
Bagaimana kabarmu dengan Nisa?
Nisa baru pulang ke Sengkang.
Dia mau bicara lagi dengan orang tuanya.
Kalau begitu, bagus.
Seharusnya kau menyusul Nisa.
Sekalian tunjukkan niat baikmu.
Keseriusanmu kepada Nisa.
Kalau aku berangkat sekarang,
lima jam perjalanan naik motor.
Malam baru sampai.
Untuk Nisa?
Itu tidak masalah.
Sudah benar mamamu itu.
Sudah. Kau berangkat besok pagi.
Baiklah, Bapak dan Ibu, hadirin yang kami hormati.
Di hari yang bahagia ini,
kami selaku perwakilan dari keluarga besar Nisa,
menerima lamaran Ananda Agus
dengan uang panaik 500 juta rupiah.
Alhamdulillah.
Lalu, kita sudah sepakati bersama,
akad nikah dan resepsi akan dilangsungkan pada hari Rabu,
tanggal 22 Mei 2019.
Tolong diatur.
Bukan, yang bagian kanan.
- Permisi, Pak. - Lor!
Pak, permisi.
Ada acara apa?
Oh, acara lamaran.
Besok akan heboh. Uang panaiknya 500 juta.
Apa?
Tapi aku dengar, Andi Nisa sudah punya pacar.
Silakan masuk.
Kurang ajar sekali orang itu!
Sabar, Pak.
Sabar?
Kalau sudah terjadi seperti ini, siapa yang malu, Ma?
Bapak!
Maaf, Pak.
Aku juga tidak tahu kalau begini kejadiannya.
Sepertinya aku tidak bisa ikut nikah kembar, Pak.
Kau harus tetap ikut nikah kembar! Cari penggantinya!
Bapak!
Bagaimana caranya, Pak?
Bagaimana caranya? Waktunya tinggal sebentar lagi.
Bapak tidak mau tahu! Pokoknya cari!
Dan mereka harus tahu kalau anak Bapak akan dapat yang lebih baik dari si Nisa!
Bukan begitu caranya!
- Kak. - Fadly!
Kenapa diam saja? Kejar kakakmu!
Kak.
Kak.
Bagaimana Kak Fadly?
Tidak tahu.
Bagaimana, ya?
Kalau Kak Fadly batal, masa kita berdua juga harus batal?
Tidak apa-apa.
Jangan dipaksakan, kasihan Kak Fadly.
Kau enak, aku sudah lamaran.
Benar juga.
Ke mana dia pergi?
Paling ke studio.
♪ Saat ini ku ragu ♪
♪ Bisakah kunikmati semua tanpamu? ♪
♪ Selamanya… ♪
Biarkan saja.
Sayang, sini.
Kenapa, Sayang?
Aku telepon kenapa tidak angkat?
Maaf, Sayang.
Aku tidak pegang ponsel dari tadi.
Simpan dulu gitarmu.
Ayo.
Kau selalu begitu. Setiap main band, lupa kalau punya pacar.
Maaf, Cantikku.
Lalu, bagaimana masalah nikah kembar?
Bapak tetap mau bertiga.
Sayang, tolong bantu ya.
Siapa tahu ada calon untuk Kak Fadly.
Baiklah.
Sayang, besok aku ke Jakarta dulu, ya.
Mau siapkan lamaran, 'kan?
Hei, ke Jakarta kita.
Kasihan, kau tidak diajak.
Pamit dulu dengan Kak Fadly.
Kak Fadly, Asha pamit pulang ke Jakarta besok.
Mau persiapkan lamaran.
Kak Fadly tidak mau ikut?
- Siapa tahu bisa bertemu calon jodohnya. - Apa?
Apa?
Dari mana kau tahu?
Dari Ahmad.
Bagaimana tidak tahu, Fad? Setiap malam teleponan sampai ketiduran.
Air galon habis, pula!
- Mau pamit Kakak dulu. - Maaf, Sobat!
Jadi, Nak…
Bapak minta
kau cepat cari calon istrimu.
Semua keluarga besar kita tahu kalian akan menikah bersama.
Soal…
Nisa?
Jangan kau sebut lagi nama itu.
Kita sebagai orang Makassar-Bugis,
kalau sudah bilang "A" ya "A".
Jangan mau mengemis.
Membuat malu keluarga.
Hei, Fadly! Mau ke mana?
Orang tua lagi bicara, main pergi.
Apa lagi?
Bawa aku pergi, Fadly.
Aku sudah tidak tahan di rumah.
Kau tega aku menderita seperti ini?
Dengar, Nisa.
Masalah kita sudah menjadi masalah keluarga sekarang.
Aku mau silariang.
- Astaghfirullahaladzim, kawin lari? - Hei!
Tidak!
Sampai kapan pun, kau tidak boleh lagi sama dia.
Ini soal harga diri!
Ya, Pak.
Semangat, Fad.
Kehidupan memang begitu…
Seperti roda. Bisa di bawah, tapi kadang di bawah sekali.
Berisik!
Butuh apa, Bosku?
Apa yang bisa kami bantu?
Bagus! Seharusnya kau dari dulu begitu!
Main aplikasi kencan.
Sini, aku bantu carikan. Serahkan sama jagoan swipe.
Kau seperti tidak tahu tipeku saja.
Pasti yang terbaik.
Ternyata cantik-cantik perempuan di sekitar sini.
Mending cari pakai aplikasiku sendiri.
Kembalikan ponselku.
Dasar anak setan.
Sini. Tenang, Kawan. Aku paham seleramu.
Sore nanti, aku buat janji dengan perempuan ini.
Ini "barang" oke.
Fotonya dari kepala sampai kaki, asyik diajak bicara.
Aku harus bagaimana?
Sut!
Dewi?
- Ya. - Aku Fadly.
Silakan duduk.
Apa kabar, Dewi?
Baik.
Bapak sehat?
Sudah meninggal.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun.
Maksudku…
Ibu sehat?
Aku yatim piatu. Tinggal sama adik saja.
Oh.
Begitu.
Maafkan aku.
Adik sehat, 'kan?
Adik sedang rawat inap di rumah sakit.
Mau menjenguk?
Kak. Tolong, Kak.
♪ Aku kesal dengan jarak ♪
♪ Yang sering memisahkan kita ♪
♪ Hingga aku hanya bisa ♪
♪ Berbincang denganmu di WhatsApp ♪
Fadly!
Ya, Bu?
Kok "ibu"?
Perkenalkan, aku Niken.
Anak Tunder.
- Oh, Niken. Maaf. - Niken.
Kenapa?
Beda sama yang di foto?
♪ Aku kesal dengan waktu ♪
Kau haus?
Panas. Gerah.
Fadly.
Kau kerja apa?
Aku kerja jadi musisi freelance.
Kita sama, aku juga kerja di bidang musik.
- Oh, ya? Di label? - Ya.
Tidak, di rumah saja.
Mendengarkan musik sambil membuat jalangkote.
Aku bawakan untukmu.
Siapa tahu kau suka dan mau pesan banyak.
♪ Dan tunggulah aku di sana ♪
♪ Memecahkan celengan rinduku ♪
♪ Berboncengan denganmu Mengelilingi kota ♪
♪ Menikmati surya… ♪
Aku kapok main aplikasi begitu.
Ini.
Ada apa, Sobat?
Datang langsung marah-marah.
Santai dulu saja.
Kau lupa ada yang terjadi di kafe kemarin?
Orang yang tadi kau buatkan janji, beda sekali dengan di foto.
Di aplikasi kencan, ekspektasimu harus diturunkan sedikit.
Ya, 10% sampai 60% lah.
Ini turun 2.000%, Kawan! Beda sekali.
Lagi pula, orang itu tak enak diajak bicara.
Pirre memang seleranya aneh-aneh.
Tadi kita cari bersama, bukan hanya aku.
Tenang, Bosku. Nanti kita bantu carikan.
Oke?
Sut.
Mamamu.
Mamaku.
Ayo, Nak. Ayo, Sayang.
Ada apa Mama ke sini?
Tidak ada. Mama hanya lewat, lalu mampir sebentar.
Kenalkan ini Alisa, anak temannya Mama.
Alisa ini baik anaknya,
baik hatinya, pintar mengaji, rajin, dan tidak sombong.
- Fadly. - Alisa.
Kau masih sekolah?
Sebentar lagi terima rapor, bukan?
- Ya, Tante. - Ya.
Kau tidak mau lanjut kuliah dulu?
Kenapa tidak tukar nomor ponsel saja?
Agar bisa saling cerita setiap hari.
Untuk apa, Ma?
Mengobrol, 'kan?
Mama saja yang kasih nomorku ke Alisa.
Aku juga tidak hafal nomorku.
Nomor siapa yang kau hafal, Nak?
Berdosa.
Tidak, Ma. Aku masih harus bekerja.
Nanti ketemu di rumah ya.
Mari.
- Ya, Kak. - Halo?
Biasanya tidak begitu. Dia hanya sedang sibuk.
Maaf ya, hanya sebentar perkenalannya.
- Sibuk, bukan? - Bisa.
Nanti kita main lagi ke sini, ya.
Ayo kita pulang.
Bagaimana, Fad?
Apanya yang bagaimana?
Panas.
- Sini. - Awas!
Alisa.
Dia anak yang baik.
Mama kenal dekat dengan mamanya,
jadi, lebih mudah berbicara dengan mereka.
Alisa masih bisa melanjutkan kuliah.
Masih panjang perjalanannya.
Lagi pula, dia bukan tipeku.
Kau ini seperti mau beli rumah saja.
Kalau pilih pasangan itu harus ada tipenya, Ma.
- Nah. - Harus cocok.
Sudahlah, Fadly. Waktunya sudah makin dekat.
Mamamu benar.
Daripada pusing mencari yang lain.
Aku belum sreg dengan Alisa, Pak.
Belum ada energinya, tidak ada ketertarikan sama Alisa.
Tidak usah kau cari klik, getaran, ketertarikan.
Mama dan Bapak dulu tidak ada seperti itu.
Tidak serumit itu.
Cari jodoh zaman sekarang harus seperti itu.
Bilang saja kau tidak suka.
Aku sudah bilang.
Ini boleh aku makan?
Ya, makan saja.
Makan ikannya.
Ahmad, aman?
Aman, Pak. Besok, pesawat kita pukul 17.00.
- Bapak. - Ya?
Kira-kira yang mana untuk dipakai ke Jakarta?
Yang ini atau yang ini, Pak?
Yang mana?
Yang putih.
Ini bukan putih.
Ini kuning gading, Bapak. Kuning gading gajah.
Ya sudah.
Tapi rasanya Mama mau pakai yang ini.
Ini lebih elegan. Lebih cocok, 'kan?
- Cocok, Ma. - Cocok, 'kan?
- Ya. - Ya.
Masukkan koper.
Kak.
Nah, ini. Aku pinjam untuk dibawa ke Jakarta, ya.
Bawa saja.
Pusing?
Namanya memilih pasangan, tidak bisa dipaksa.
Sabar, pelan-pelan, yang penting pasti.
Aku bimbang.
Bias perasaanku, Mad.
Di satu sisi,
hubunganku dan Nisa itu sudah lama.
Aku sudah mengenal dia dan keluarganya.
Aku tahu ini pasti bukan keinginannya.
Ini pasti keinginan keluarganya.
Aku lelah kalau harus menjalin hubungan baru dengan orang baru.
Di sisi lain,
aku tidak mau melihat Bapak dan Mama kecewa.
Ya sudah kalau begitu,
besok kau ikut dengan aku ke Jakarta untuk lamaran.
Ada sepupunya Asha datang dari Aceh.
Bisa dikenalkan kepadamu.
- Tidak usahlah. - Hei.
Aku lelah.
Aceh saja terkenal dengan rempah yang mantap,
apalagi wanitanya, Sobat.
Ya, tapi keluarga Asha itu sudah lama di Jakarta, bukan di Aceh.
Mi Aceh mau buka di mana pun tetap enak, Bosku.
Rasanya asli, tidak bohong.
Sudah, percaya sama aku.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Alhamdulillah. Apa kabar? - Baik, alhamdulillah.
Alhamdulillah. Mari masuk.
Mana sepupu Asha?
Oh, ya.
Sayang, mana sepupumu?
Terlambat katanya, tapi hampir sampai.
Terlambat katanya. Sabar.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
♪ Assalamualaikum ♪
Kaya akan rempah, Sobat.
- Ini sepupunya Asha. - Oh.
- Subhanallah. - Kau makin cantik saja.
Kau kapan menyusul?
Doakan aku segera menyusul Asha, Om, Tante.
- Amin. - Amin.
Aku sedang taaruf.
Masyaallah. Taaruf?
Sudah taaruf sepupumu? Kenapa tidak bilang, Sayang?
Aku juga baru tahu, Sayang.
Maaf, Sobat.
- Hai. - Asha.
Selamat, ya.
- Terima kasih. - Maaf aku terlambat datang.
Tidak apa-apa. Kenalkan, ini tunanganku, Ahmad.
- Asalamualaikum. - Halo.
Sebelahnya ada kakaknya Ahmad.
- Kak Fadly. - Fadly.
Oh, ini Fadly yang katanya mau berkenalan, ya?
♪ Menggenggam erat jari-jarimu ♪
♪ Mendengarkan lagu Sheila on 7 ♪
♪ Seperti waktu itu ♪
♪ Saat kau di sisiku ♪
♪ Dan tunggulah aku di sana ♪
♪ Memecahkan celengan rinduku ♪
♪ Berboncengan denganmu Mengelilingi kota ♪
♪ Menikmati surya perlahan menghilang ♪
♪ Hingga kejamnya waktu ♪
♪ Menarik paksa kau dari pelukku ♪
Hei, Rifa.
Sayang, jangan lihat. Orang gila.
Asalamualaikum, Rifa.
Bukan.
Hei? Rifa?
Kau sudah lama di sini?
♪ Jangan matikan HP-mu ♪
♪ Kau tahu aku benci khawatir ♪
♪ Saat kau tak mengabari ♪
♪ Aku tak suka bertanya-tanya ♪
♪ Ingin kubakar dia yang sering ♪
Hei, Rifa!
Bisa-bisanya kita bertemu di sini.
Tidak.
Asalamualaikum, Rifa.
Fadly?
- Fadly! - Rifa.
Kau sudah lama di sini?
Baru saja. Kau sendirian?
Di mana istrimu? Tidak diajak?
Aku?
Istri?
- Aku belum laku. Kasihan. - Oh.
Kau?
Di mana suamimu?
Belum laku juga.
Oh.
Kau sedang apa di sini?
Pertanyaanmu basa-basi sekali.
Menurutmu di toko buku untuk apa?
Benar juga.
Fad.
Buku apa itu?
Buku…
Buku apa ini, ya?
Ini…
Ini buku titipan mamaku.
Oh, kukira kau masak sekarang.
Oh, tidak.
Sampaikan salam buat Mama, ya.
Ya.
Rifa.
Nomormu masih yang dulu atau sudah ganti?
Masih sama.
Ya sudah. Kalau begitu, aku duluan.
Fad.
- Dah. - Dah.
Sudah, Kawan. Kau fokus ke depan saja.
Benar.
Dan aku yakin, Nisa belum tentu memikirkanmu lagi.
Hei, Bosku.
Bagaimana aplikasi kencannya? Sudah dapat yang bagus?
Belum?
Kau mau aku kenalkan dengan temanku?
Jangan!
Kau tahu selera dia aneh-aneh.
Tapi serius aku, lihat dulu orangnya.
Ini dia.
Oh, Pirre? Dia teman SMA-ku.
Oh, teman SMA.
Ya.
Jadi, Pirre sekarang kerja dengan aku.
Kami buka studio kecil.
Kedengarannya seru.
Kau sakit?
Tidak.
Tukang kentut kau kenalkan kepadaku?
Begini, aku pernah dekat dengannya,
tapi entah kenapa, dia sangat suka makan telur asin.
Makanya dia sering kentut.
Terserah! Kepalaku pusing!
Teman jahat. Itu namanya menjebak teman.
Hei.
Siapa nama mantanmu?
Rifa?
Dia bukan mantanku.
Hanya teman.
Tidak setinggi itu percaya diriku.
Memangnya kenapa?
Orang tuanya Nisa saja tidak sudi punya menantu seperti aku,
Apalagi orang tuanya Rifa.
Kau tahu pabrik beras terbesar yang ada di Sidrap?
Ya.
Omnya yang punya.
Ada lagi, perumahan Mutiara City
yang ada di Makassar,
Kendari, Pare-Pare, Manado,
dan baru buka juga di Bali.
Bapaknya yang punya.
Apa nama akun media sosialnya?
Kau mau apa?
Kita tidak pernah tahu, bisa saja dia suka sama aku.
Fadly saja jelas lebih keren dari kau,
sedangkan kau model tengkorak begini!
Kalau tidak dicoba, kemungkinannya hanya satu,
gagal.
Tapi kalau dicoba, kemungkinannya dua,
berhasil atau gagal.
Ucapan Pirre benar.
Pak Malik.
Hebat, ya.
Pak.
Ya.
Apa salahnya mencoba?
Kau sudah makin dekat dengan ujung.
Mau tidak mau harus bergerak.
Ya, Pak.
Tapi…
Perasaanku masih berat. Masih trauma.
Kau tahu tidak,
ilmu apa yang paling penting?
Apa, Pak?
Ilmu yang paling penting
adalah ilmu memahami diri sendiri.
Sejauh mana kau bisa mengerti kemampuan diri.
Apa kekuranganmu
dan apa kelebihanmu.
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT,
dan kita sendiri yang memaksimalkannya.
Agar kebaikan kita makin besar.
Sejahat-jahatnya manusia,
tetap saja manusia mencari orang baik.
Dan menjadi orang baik
adalah kelebihanmu, Nak Fadly.
Pak, bagaimana ini?
Kita sudah harus menyebarkan undangan. Waktunya tinggal sedikit.
Yah, mau bagaimana lagi, Ma?
Fadly belum ada jodohnya.
Bagaimana
kalau pernikahan Fadly kita tunda saja?
Tidak!
Tidak bisa!
Mau ditaruh di mana muka Bapak?
Belum lagi keluarga Nisa akan makin besar kepala.
Mama tahu
uang Bapak hanya cukup untuk satu kali pernikahan.
Tapi, Pak, siapa tahu anak kita masih sakit hatinya.
Masih ada luka.
Luka bisa disembuhkan kalau dipaksa.
Jangan dimanja.
"Luka bisa disembuhkan kalau dipaksa".
Ma!
Jangan dimanja.
Hai, apa kabar?
Hei, Fadly.
Sini dulu, Bapak mau bicara.
Kenapa, Pak?
Bagaimana?
Bagaimana apanya?
Oh.
Studioku?
Lancar, Pak. Alhamdulillah berprogres.
Ya, studiomu berprogres, tapi jodohmu jalan di tempat.
Menikah itu satu kali seumur hidup.
Aku tidak mau salah pilih pasangan.
Ya, tapi kau harus ingat waktunya tinggal sedikit.
Sudah. Bapak mau kenalkan kau
dengan anaknya Tante Ina.
Masa dikasih jodoh lagi, Pak?
Ini bukan dijodohkan.
Berkenalan saja dulu, siapa tahu memang jodohmu.
Siapa tahu, 'kan?
Ya, Nak.
Saling kenal saja dulu.
Tante Ina itu teman dekat Mama.
Ya, Ma,
tapi yang Mama kenal Tante Ina, bukan anaknya.
Benar, tapi…
Sebentar, ya.
Lihat dulu, Nak.
Yang mana, Ma?
Yang ini. Nah…
Kecutnya wajahmu, asam sekali seperti sambal jalangkote.
Sepertinya analoginya tidak cocok.
Di mana-mana sambal jalangkote pasti kecut, 'kan?
Sudahlah, Fad, jangan terlalu stres.
Aku lelah dijodohkan terus.
Bukan dijodohkan, berkenalan saja dulu.
Siapa tahu memang jodohmu, tidak ada yang tahu.
Sepertinya aku pernah dengar kalimat itu dari bapakku.
Ini bukan dijodohkan, berkenalan saja dulu.
Siapa tahu memang jodohmu, tidak ada yang tahu.
Mirip tidak dengan Pak Mustafa?
Hei, Fadly!
Ada apa ini?
Mengapa kau masih menghubungi Nisa?
Nisa sudah dijodohkan!
Aku tidak pernah hubungi Nisa lagi, Kak.
Sekali lagi kau hubungi Nisa, aku hancurkan tempat ini!
Hei! Kau pegang kata-kataku.
Hei, Gondrong!
Aku lebih gondrong dari kau! Hanya saja aku kribo.
Kau aman?
Fadly, kau tidak dipukul, 'kan?
Sepertinya tidak, 'kan?
Aku emosi!
Coba lihat kalau aku emosi…
Gemetar!
Fatimah, apa kabar?
Sudah lama kita tidak bertemu.
Benar sekali. Kabarku baik.
Kalau tidak salah, sudah lima tahun sejak kau pindah.
Begitulah sejak aku ikut suami lima tahun yang lalu.
- Ya. - Sebentar, ya.
Sri! Buatkan dua minuman untuk Tante, Nak.
Ya.
Bagaimana kabar Mustafa? Sehat, 'kan?
Alhamdulillah, sehat. Mohon maaf dia tidak bisa ikut.
Makanya titip salam saja.
Tidak apa-apa, sudah lama kita tidak bertemu.
Ya! Makanya nanti kita harus sering berjumpa.
Pastinya.
Mana anakmu yang ingin dikenalkan dengan Fadly?
Astaga, aku sampai lupa.
- Ini, Sri. - Oh, ini?
- Ya. - Oh.
Cantiknya. Sini, Nak.
Ya. Duduk.
Fadly. Ini anak Tante.
- Itu dia. - Fadly.
Sri.
- Ya. - Kenapa? Kalian bingung?
Minta maaf ya. Yang aku kirim kemarin, itu foto sepuluh tahun lalu.
- Oh… - Ini Sri, anak sambungku.
Dia memang sedikit pemalu, makanya tidak ada foto terbarunya.
- Fatimah, ayo kita pergi ke belakang. - Ke mana?
Biar Fadly dan Sri mengobrol.
- Pasti malu, ya? - Tidak apa-apa. Di sini saja.
Sudahlah, Fadly. Mengobrol saja berdua.
Jangan lama-lama, Ma. Bapak belum minum obat.
Ya.
Silakan minum.
Rasanya klasik sekali.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Sedang membuat apa?
- Undangan, Ma. Coba lihat. - Oh…
- Bagus warnanya. - Hei, bagaimana?
Bagaimana tadi? Lancar, Sobat?
Tanya Mama.
Jangan marah sama mamamu.
Senyum dulu.
Mama.
Bagaimana, Ma?
Jadi, dari segi usia, sudah jauh.
Yang kedua, foto yang dikirimkan Tante Ina kemarin
adalah foto sepuluh tahun yang lalu.
Lalu, bagaimana, Ma? Tidak jadi?
- Tidak jadi, lah. - "Tidak jadi, lah".
Kenapa?
- Jangan bicara sembarangan. - Apa?
Kau pikir kami tidak pusing kalau kau belum bertemu jodohmu?
Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, Fad.
Kenapa aku?
Karin sudah jengkel karena undangan belum disebar.
Kami juga belum foto pranikah.
Bisa-bisanya kau bicara seperti itu.
Ini bukan salah aku.
Aku sudah menuruti keinginan Bapak.
Bapak yang bilang untuk berkenalan dulu.
Belum tentu jadi.
Masih aku yang salah?
Kau mau foto pranikah? Silakan saja.
Tidak usah tunggu aku.
Sudahlah.
Kau juga, Ahmad. Urus urusanmu sendiri.
Tidak perlu menunggu.
Hei, kenapa kau marah kepadaku? Aku dari tadi diam saja.
Ya. Semua di sini salah aku.
Siapa yang menyalahkan diri…
Bisa-bisanya kau bicara seperti itu ke kakakmu.
Tidak baik, Nak.
Ma, dari tadi aku diam saja. Kasihan.
Papaku sudah bertanya terus.
Waktunya makin sempit,
undangannya sudah harus disebar.
Fadly.
Aku merindukanmu.
Aku juga tidak mau ada di posisi ini.
Bisa tidak jangan hubungi aku lagi?
Kakakmu kemarin datang ke studioku.
Aku minta maaf.
Aku sudah larang dia untuk datangi kau.
Kita ketemu dulu ya untuk bicara?
Cerita di sini saja.
Aku mau bicara langsung.
Sebentar saja.
Besok aku akan ke Makassar.
Aku merindukanmu.
Kau mau bicara apa?
Aku tidak bisa lama-lama.
Bawa aku pergi, Fadly.
Aku bisa apa?
Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa jika kau tidak ikut berusaha.
Sudah terlambat, Nisa.
Tidak, Fad.
Belum terlambat.
Aku tahu aku salah, tapi bukan semuanya salahku.
Aku ingin memperjuangkan hubungan kita.
Aku tidak ingin menyerah dengan keadaan.
Tidak bisa.
Banyak keluarga akan bertengkar kalau kita melakukan itu.
Mengapa sekarang kau jadi penakut?
Begini saja?
Kau bilang cinta.
Tapi kondisi seperti ini saja kau tidak bisa perjuangkan cinta kita.
Jadi, ternyata tiga tahun ini tidak ada artinya?
Ternyata benar apa yang orang bilang.
Lama bersama, belum tentu dia cinta sejati kita.
Cinta macam apa kalau tidak diperjuangkan?
Ternyata kau hanya lelaki palsu.
♪ Siang-siang kau melamun ♪
♪ Membuat langit tertegun ♪
♪ Nada sendu pun mengalun ♪
Tidak apa, Pak.
Pikiranku sedang buntu.
Bingung menulis lagu kalau tidak ada inspirasi.
Coba kau lihat itu.
Jatuh cinta itu pilihan, Fadly.
Tapi bukan hanya soal pilihan.
Melainkan tanggung jawab atas pilihan yang kita ambil.
Takdir Tuhan
tidak pernah salah.
Dan yang bikin kita kecewa
bukan karena kita salah mengambil pilihan,
tapi keterlambatan kita mengambil hikmahnya.
Jatuh cinta itu dari mata turun ke hati.
Masuk saja, Bi.
Aku letakkan di sini ya, Non.
- Terima kasih. - Ya.
Bi.
Mau ke mana?
Mau ke dapur.
Jangan. Temani aku di sini, bosan.
Oh, ya.
Sini.
Kenapa hanya berdiri? Di sini saja.
Permisi, ya.
Tidak apa-apa. Di sini.
Lucunya.
Lo itu tidak usah merasa insesoh.
"Insecoh". Padahal in-se-cu-re.
Insecure?
Insecure.
Hebatnya anak bosku, jago sekali bahasa Inggris.
Maaf, aku kelepasan.
Minum saja, tidak apa-apa.
Aku hilang kendali.
Enaknya.
- Lihat, Bi. Viral. - Ya.
Viral sekali ini.
Sampai berjuta-juta penontonnya.
…karena uang panaiknya selangit.
Anak orang kaya dan anak satu-satunya.
Jadi, wajar kalau sampai satu uang panaiknya.
Maksudnya Bapak satu…
Satu miliar. Masa satu juta?
- Satu miliar. - Satu miliar.
- Bi. - Ya?
Bagaimana dengan aku?
Kalau kau…
Sudah S2, sudah pernah umrah,
anak perempuan satu-satunya,
pewaris tunggal perumahan Bapak.
Kau itu minimal tiga miliar.
Apa? Tiga miliar? Mahal sekali.
Wajar saja kalau tiga miliar.
Ibarat pemain bola… Kau tahu Messi?
Masa Messi dibayar pakai UMR Ngawi?
Tidak mungkin, 'kan?
Benar juga.
Kecuali kalau Messinya mau.
Beda cerita kalau begitu.
Tapi aku baru sadar ternyata banyak yang kau tahu, Bi.
Bola tahu, UMR tahu.
Bukannya mau bermaksud sombong,
tapi aku memang begini.
Jadi, walaupun aku dari kampung, pengetahuan harus selalu kita update.
Apalagi kalau soal kesehatan mental.
Itu harus dijaga, banyak yang bahas di televisi soal kesehatan mental.
Oh ya. Aku juga punya saran untukmu
soal jodoh.
Jangan tersinggung, ya.
Tapi kalau menurutku…
Apa istilahnya? Bahasa Jakselnya itu…
Jangan terlalu pilih-pilih.
Yang penting laki-laki itu tidak ada tanda-tanda negatif.
Pilih saja orang itu, menikah. Nanti kau jadi susah dapat jodoh.
Kalau aku, aku terima semuanya. Ada yang datang, aku sambut.
Masalahnya, tidak ada yang datang.
Dik.
Ya, Bu?
Bagaimana undangannya?
Apa sudah bisa disebar
sebelum kau pergi foto pranikah ke Makassar, Nak?
Karena tetangga, keluarga, semua sudah bertanya, Nak.
Sayang.
Aku mau tanya. Kapan undangan bisa disebar?
Sabar, Sayang.
Kita tunggu sampai…
Kak Fadly bertemu dengan calon penggantinya.
Sampai kapan?
Orang tuaku terus bertanya.
Mau kita batal menikah?
Kak Fadly, kapan kepastiannya?
Ya, Fad.
Calon mertuaku juga sudah menanyakan terus.
Sudah habis alasanku.
Kulihat kau santai sekali.
Sabar.
Sampai kapan?
Kenapa kau tidak terima saja jodoh dari Mama?
Jangan terlalu pilih-pilih calon istri.
Jangan sampai gara-gara kau,
adik-adikmu ini batal menikah.
Mengapa kau salahkan aku?
Memang ini mauku?
Kira-kira kalian bisa kuat kalau ada di posisiku?
Kau yang salah, Fad!
Kenapa kau bilang mengiyakan Bapak, padahal ternyata Nisa tidak bisa?
Kenapa kau menyudutkan aku terus, Ahmad?
Kenapa kau tidak salahkan Bapak?
Bapak yang mau menikah kembar, bukan aku!
- Jaga mulutmu, Fad. - Hei.
Hei, Mad.
- Kau mau salahkan Bapak? - Mad.
Apa?
Kau mau membela dia sekarang?
Kau mau batal menikah?
Kalian pikir aku tidak kepikiran?
Ini masalah kita semua.
Hei, dengar kau.
Satu orang batal, kita semua batal.
Kau saja yang batal. Aku tidak mau!
- Hei, egois kau, Ahmad. - Apa kau?
- Jaga mulutmu! - Pukul aku! Ayo!
Fad, pergi!
Urusan pernikahan saja belum selesai,
lalu masih harus urus dia?
Aku yakin dia pasti usaha.
Tapi kalau belum ketemu jodohnya, mau bagaimana?
Kita tidak bisa menunggu terus.
Waktunya sudah makin dekat.
Ya, aku mengerti.
Kau tidak mau ada di posisi ini, aku dan Kak Fadly pun tidak mau.
Mad.
Kita harus dukung Kak Fadly.
Rifa, bagaimana soal S3-mu?
Mau melanjutkan ke mana?
Tidak usah, Ma, tidak apa-apa.
Lo?
Banyak teman-temanmu mau melanjutkan ke luar negeri.
Masa kau tidak ikut?
Tidak semua hal yang orang lakukan harus kita ikuti.
Dia takut kalau uang panaiknya naik, Bu.
Surti.
Kalau anakku, tiga miliar!
Aduh, jus Ibu terminum.
Aduh, kayaknya aku butuh healing.
Tunggu, Bu. Aku ganti minumannya.
Nanti kau jadi temani Mama ke rumah Tante Rika?
Semua tantemu ada di sana.
Tidak mau, Ma.
Nanti Rifa ditanya-tanya lagi.
Kapan menikah? Kenapa belum punya pacar?
Kenapa tidak mau sama anak Puang ini, Puang itu?
Ya sudah.
Tidak usah ikut, kalau begitu.
Non…
Jangan terlalu pilih-pilih.
Tenang, Fadly. Tenang.
Jodoh itu di tangan Tuhan.
Ini masalah waktu saja.
Ini masalah waktu saja.
Ini masalah waktu saja.
Halo, Sobat?
Ayo kita ke Malino. Ada konser Kallang di sana.
Kapan? Sekarang?
Ya, sekarang. Ayo jemput aku.
Ayo.
- Tunggu aku. - Aku tunggu kau.
Ini masalah waktu saja.
Mad.
Coba cari alasan yang lain lagi.
Semua alasan sudah keluar.
Coba…
Percetakannya kebakaran?
Sudah minggu lalu itu.
Tukang cetaknya sedang cetak undangan untuk pernikahannya sendiri?
Itu tiga hari lalu.
Tukang cetaknya sedang naik haji sudah?
Hebat.
Ini bukan bulan haji.
- Naik gunung? - Naik gunung?
Bisa saja.
Aku coba.
Rajin sekali.
Sekalian motorku, ya.
Kenapa dengan kakakmu itu?
Dia kakakmu juga.
Mungkin sudah dapat jodohnya.
Masa? Tahu dari mana?
Kau tidak lihat? Itu senyuman orang sedang jatuh cinta.
Memangnya beda?
Bedalah!
Coba, Kif, kalau senyum dapat uang banyak.
Kalau senyum mencapai target?
Sudah kuduga.
Sama saja.
Ya, sama.
Capai target pasti dapat uang, 'kan?
Uang, Mad. Uang!
Ya.
Jika kurapikan penampilanku,
aku akan terlihat keren.
Semuanya ini…
Karena Allah Ta'ala.
Ini masalah waktu saja.
Ini masalah waktu saja.
Ini masalah waktu saja.
Kalau itu senyum apa, Kif?
Senyuman pakai jaket baru.
Kenapa lama sekali?
Hei, sabar.
Pegang tasku.
Banyak pula permintaannya.
Mampir sebentar, aku kebelet kencing.
Rifa?
Halo?
Apa? Sekarang?
Bisa.
Tunggu aku.
Fadly!
Fad.
- Hei. - Hai.
Bismillahirrahmanirrahim.
- Hai. - Hai.
Maaf lama.
Tidak.
Bagaimana kabarmu?
Baik. Kau?
Kenapa, Fad?
Rifa.
Aku mau melamarmu.
Fadly.
Nisa?
Oh.
Jadi, ini alasanmu tidak mau perjuangkan hubungan kita?
Hei, perjuangkan apa lagi?
Nisa, sudah cukup.
Jangan ganggu aku lagi.
Kita sudah selesai.
Fad, aku minta maaf.
Aku tahu aku salah, tapi kita bisa cari jalan keluarnya.
Apa lagi, Nisa? Sudah, hentikan.
- Ini juga bukan mauku. - Maaf, sepertinya sudah berlebihan.
Maaf, kau siapa?
Jangan ikut campur ya!
Kau yang siapa?
Aku sedang bicara dengan Fadly.
Jadi, ini alasannya?
Alasan apa lagi?
Kau tidak pernah cerita soal dia.
Kau. Sudah aku bilang, jangan berhubungan lagi dengan Nisa.
Kau juga, Nisa.
Sudah tahu kau akan menikah. Masih berkeliaran?
Maaf, bisa jangan berteriak?
Kau siapa?
Aku pacarnya.
Aku merasa terganggu dan kalian mengganggu kami.
Tidak usah ikut campur.
Jaga saja pacarmu.
Hei! Kau boleh ganggu aku, tapi jangan ganggu pacarku.
Apa?
Ayo duduk.
- Maaf. - Maaf.
Maaf.
Maafkan aku.
Aku yang minta maaf.
Maaf karena
kau harus terlibat kejadian tadi.
Maaf juga tadi aku mengaku jadi pacarmu.
Habisnya aku risi.
Aku ingin minta maaf sekali lagi.
Kenapa?
Maaf karena selama ini
aku selalu menjadi pengecut.
Dari dulu aku selalu takut dengan strata sosial kita.
Itu yang membuat aku tidak berani jujur dengan diri sendiri.
Kau bicara begini
bukan karena kau mau menjadikan aku pelampiasan, 'kan?
Tidak, Rifa. Sumpah demi Tuhan…
Ini tidak…
Tidak seperti yang kita bicarakan barusan.
Ini benar-benar soal aku.
Aku tidak ingin mengulang kesalahanku yang dulu.
Aku pikirkan dulu.
Fad, ayo kita pulang.
Apa?
Pulang.
Oh. Aku bayar dulu, ya.
Sebentar.
Malam, Kak.
Berapa total di meja itu?
Rp120.000, Kak.
Rp120.000?
Rifa.
Boleh aku minta tolong sekali?
Kenapa?
Pembayaran harus pakai tunai, tapi dompetku tidak ada.
Dompetku tertinggal di tas…
- Tasku dibawa… - Ya.
Tapi ini bukan sama sekali… Aku tidak maksud…
- Tidak apa-apa. - Bukan maksud tidak modal…
Ya, aku percaya kepadamu.
Kau bawa mobil?
Tidak.
Kalau begitu, aku antar pulang ya.
Tidak usah.
- Tidak apa-apa, Rifa. - Tidak usah.
Bahaya perempuan malam-malam pulang sendirian.
Aku antar, ya.
Sudah, tidak apa-apa.
♪ Hanya kaulah Yang benar-benar memahamiku ♪
♪ Kau pergi dan hilang Ke mana pun kau suka ♪
♪ Celakanya hanya kaulah Yang pantas untuk kubanggakan ♪
♪ Hanya kaulah yang sanggup Untuk aku andalkan ♪
♪ Di antara pedih aku selalu menantimu ♪
Kenapa, Fad?
Habis bensinnya.
Oh.
Ya sudah. Dorong saja?
Aduh…
Minta maaf ya, Rifa.
Bikin malu saja motor ini.
Tidak apa-apa.
Kenapa malah salah motornya?
Bukannya disayang-sayang?
Motor ini bagus, jadi, bisa jalan lebih lama.
- Maaf, ya. - Tidak apa-apa.
Di depan sepertinya ada bensin eceran.
Kenapa tahu?
Tahu.
Bagaimana ini?
Waktunya sudah makin dekat.
Ya, Pak.
Masa karena Kak Fadly, acaranya jadi berantakan?
Dijodohkan tidak mau. Disuruh cari sendiri, tidak ketemu.
Ahmad, jangan bicara seperti itu tentang kakakmu, Nak.
Tidakkah kau lihat usahanya?
Bagaimana
kalau urusan
nikah kembar ini
hanya dilakukan untuk Kifly dan Ahmad saja?
Tidak bisa begitu, Ma.
Di mana Bapak mau taruh muka Bapak?
Malu Bapak kepada keluarga Karin dan Asha.
Malu aku sebagai bapaknya…
Kalau Fadly tidak bisa ikut bahagia di acara pernikahan ini.
Bapak macam apa aku?
Sejak kecil,
Fadly yang selalu merasakan pahitnya.
Mama tahu sendiri Bapak ini hanya guru biasa.
Mama sendiri yang minta
untuk menunda kita punya anak lagi.
Bapak menyesal tidak ikut saran Mama.
Fadly, sebagai anak pertama,
tidak pernah merasakan bahagianya selama ini.
Betapa hancurnya hati Bapak
jika kedua adiknya menikah lebih dahulu,
sedangkan Fadly tidak.
Maaf, Pak.
Tapi bukankah…
Harga diri Bapak juga dipertaruhkan
kalau acara aku dan Kifly juga harus batal?
Ahmad.
Ada masalah apa sebenarnya
antara kau dengan kakakmu?
Tidak ada masalah, Ma.
Aku hanya
mencoba cari solusi…
Bukan itu solusinya!
Sembarangan kau, ya.
Tidak ada masalah, Ma.
Jangan kau pojokkan kakakmu terus.
Anak ini minta dimarahi.
Pak.
Sudah, Pak.
Kau sudah pulang, Nak.
Jangan dipikirkan lagi, Pak.
Aku sudah ada calon.
Astagfirullah.
Siapa, Nak?
Mama ingat teman kuliahku?
Rifa.
- Rifa. - Ya.
Rifa, anak orang kaya itu?
Ya.
Tidak.
Bapak…
Bapak tidak akan sanggup membayar uang panaiknya.
- Tidak. - Bapak.
Bapak.
Bapak ini bagaimana?
Aku sudah menemukan calon, masa ditolak?
Fad, kau tidak dengar apa kata Bapak?
Mad.
Kita maju saja dulu.
Kalau memang niat kita baik,
dan Rifa itu jodohku,
insyaallah akan dilancarkan.
Ya, 'kan, Ma?
Insyaallah, Nak.
Ini masalah waktu saja.
Ya.
Tapi…
Tapi apa?
Dia belum jawab.
Apa?
- Semoga diterima. - Bagaimana ini?
Aku sudah bilang kepada Rifa soal ajakan menikah,
tapi dia belum menjawab.
Ada teman kuliahku, Pak.
Rifa namanya.
Aku sempat ada rasa.
Aku coba dekati dia lagi.
Tapi
karena waktu sudah mau habis,
aku bilang semua keadaan dan niat baikku.
Lalu?
Sampai sekarang dia belum memberi jawaban.
Aku telepon saja dia?
- Hei. - Minta kepastian.
Sudah, cukup.
Kau sudah berusaha.
Sisanya, semesta yang bekerja.
Jika semesta ingin kalian bersama,
kalian akan bersama, bukan?
Terima kasih. Ini dia.
Oke, lihat ke sana.
Ke sini. Satu, dua…
Ini dia.
Baru kali ini ada yang menikah kembar tiga.
Kemarin ada yang kembar lima, tapi aku tolak.
Tidak muat pelaminannya.
Pengantinnya sepuluh orang. Belum lagi orang tuanya, jadi, 20.
Belum lagi pendampingnya, jadi, 30!
Kau masih main aplikasi kencan, Fad?
Sepertinya sudah terlambat.
Acaranya dua minggu lagi.
Aduh.
Halo.
Sekarang?
Bisa. Di mana?
Nisa?
Fadly.
Aku menyayangimu.
Aku rela pergi dari rumah demi perjuangkan cintaku.
Maukah kau berjuang sama-sama?
Fadly.
Nisa.
Bagiku,
cinta bukan soal kita berdua.
Ada keluarga kita yang punya cinta yang tidak kalah kuatnya
dan harus kita perjuangkan.
Pulanglah.
Kita lanjutkan hidup masing-masing.
Siapa yang mampu membunuh masa lalu begitu cepat?
Tapi terkadang memang itu yang harus kita lakukan
untuk kebaikan orang yang kita cintai.
Maaf.
Kau
suka baca juga, Fad?
Aku jarang.
Tapi kalau sedang ingin, aku pasti baca.
Aku…
Sejak kecil
selalu dipaksa orang tua untuk membaca.
Jadi, aku setiap hari membaca.
Kalau
kau dihadapkan pada keadaan di mana kau harus
meninggalkan musik
untuk mendapatkan dunia yang baru,
apa kau mau?
Susah sekali pertanyaanmu.
Sampai bingung aku mau jawab apa
karena memang aku sangat cinta dengan musik.
Rifa.
Kukira
kau mengajak aku bertemu
karena mau menjawab ajakan aku yang kemarin.
Maaf ya, Fad.
Aku belum bisa menjawab pertanyaanmu.
Fadly.
Ya?
Kau mengajakku menikah
karena memang kau ingin
atau karena keadaan?
Rifa.
Aku paham apa yang kau pikirkan.
Tapi memang sulit bagiku untuk menjelaskan kalau…
Aku memang ingin menikah denganmu dalam situasi seperti ini.
Bagaimana aku bisa yakin
kalau kau sudah move on dari mantanmu?
Tidak ada alasan,
tidak ada pembuktian yang tepat untuk meyakinkanmu,
kecuali kesempatan yang kau berikan.
Siapa yang sangka bahwa aku
dan kau bisa ada di dalam situasi yang runyam seperti ini?
Rifa, ini semua di luar kuasaku.
Jujur,
aku sudah memiliki perasaan kepadamu.
Tapi, jujur…
Aku belum melihat kau berubah.
Kau masih penakut seperti dulu.
Mama tahu ini berat untukmu, Nak.
Tapi
situasinya memang sudah seperti ini.
Maafkan Mama dan Bapak ya, Nak.
Fad.
Mau ya sama anaknya Tante Ina?
Bapak…
Ternyata
tidak enak hidup jadi dewasa ya, Pak.
Lebih enak hidup saat masih kecil.
Tidak ada beban.
Hanya tahu belajar dan main saja.
Tidak kusangka sekarang aku harus menghadapi masalah begini, Pak.
Kau mau kecil terus? Tidak bisa, Fad.
Pak.
Bagaimana kalau Rifa menolak ajakan menikahku?
Jalani hidup semaksimal mungkin yang kau bisa.
Ciptakan peluang.
Kau belum bertemu orang tua Rifa, 'kan?
Kau sendiri yang bilang tidak mau jadi pengecut.
Benar?
Ada pepatah Makassar mengatakan,
"Kualleangi tallanga na toalia."
Lebih baik tenggelam daripada putar haluan.
Kalau Allah sudah berkehendak, maka akan terjadi.
Ya, Pak.
Terima kasih, Pak.
Ya.
Maksud kami kemari adalah mengantar anak kami
untuk meminang anak Bapak, Rifa.
Jadi, begini, Pak.
Kami, sebagai orang tua, menyerahkan saja kepada anak kami.
Bagaimana, Ma?
Kalau aku…
Terserah Rifa saja.
Maafkan aku.
Gara-gara aku
semua rencana jadi berantakan.
Sudahlah, tidak apa-apa.
Jangan dipikirkan lagi.
Aku sudah memutuskan juga.
Sepertinya
aku ikut pilihan Bapak dan Mama.
Ma.
Besok kita ke rumahnya Tante Ina, ya.
Fad.
Jangan kau paksa menikah kalau terpaksa.
Aku tidak terpaksa.
Sudah.
Pokoknya sekarang kalian fokus pada persiapan pernikahan.
Kau yakin?
Yakin.
Halo?
Terima kasih, Fad.
Aku bersedia menikah denganmu.
Alhamdulillah.
Terima kasih, Rifa.
Apa?
- Rifa, Ma. - Kenapa?
Alhamdulillah. Terima kasih, Rifa.
Rifa.
♪ Hingga kejamnya waktu ♪
♪ Menarik paksa kau dari pelukku ♪
♪ Lalu kita kembali menabung rasa rindu ♪
♪ Saling mengirim doa ♪
♪ Sampai nanti, Sayangku ♪
Hai.
Aku tidak menyangka.
Ternyata kau menerima ajakan nikahku.
Karena kau sudah berubah.
Tidak penakut lagi seperti dulu.
♪ Hingga kita bertemu ♪
Tapi lama sekali kau datang ke rumah orang tuaku.
Lelah ditanya, "Kapan menikah?"
Siap-siap, setelah ini akan lelah ditanya, "Kapan punya anak?"
♪ Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu? ♪
Terima kasih.
Selamat!
Akhirnya kau menikah juga.
- Halo. - Alhamdulillah.
- Terima kasih. - Pak.
Fad.
Semesta sudah bekerja, bukan?
Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak.
Rifa, tahan napasmu ya.
- Kenapa? - Sudahlah.
Terlambat terus.
Sori.
Selamat.
- Terima kasih. - Selamat ya, Fad.
Doakan, semoga kami bisa cepat menyusul.
Amin, "Entutku".
Tercium tidak?
♪ Celakanya hanya kaulah Yang benar-benar aku tunggu ♪
♪ Hanya kaulah Yang benar-benar memahamiku ♪
♪ Kau pergi dan hilang Ke mana pun kau suka ♪
♪ Celakanya hanya kaulah Yang pantas untuk kubanggakan ♪
♪ Hanya kaulah yang sanggup Untuk aku andalkan ♪
Satu, dua, tiga!
♪ Seberapa hebat kau untuk kubanggakan? ♪
♪ Cukup tangguhkah dirimu Untuk selalu kuandalkan? ♪
♪ Mampukah kau bertahan Dengan hidupku yang malang? ♪
♪ Sanggupkah kau meyakinkan Di saat aku bimbang? ♪
♪ Mungkin kini Kau telah menghilang tanpa jejak ♪
♪ Mengubur semua indah kenangan ♪
♪ Tapi aku selalu menunggumu di sini ♪
♪ Bila saja kau berubah pikiran ♪
♪ Celakanya hanya kaulah Yang benar-benar aku tunggu ♪
♪ Hanya kaulah Yang benar-benar memahamiku ♪
♪ Kau pergi dan hilang Ke mana pun kau suka ♪
♪ Celakanya hanya kaulah Yang pantas untuk kubanggakan ♪
♪ Hanya kaulah Yang sanggup untuk aku andalkan ♪
♪ Di antara pedih aku selalu menantimu ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.