Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik sendu]
Sudahlah, Pak. Bapak pulang saja.
Biar aku sama Yudhis yang menyelesaikan.
Bapak masih kuat.
[menghela napas]
Sudahlah, Pak.
[Saras] Ya?
[Yudhis] Sudah, Pak. Pulang saja, Pak. Ayo. Biar Mbak Saras cuci sendiri.
Ya sudah, Bapak pulang.
Baju gantinya.
Yudhis.
Sengaja, ya?
- Tidak, Mbak. - Sengaja!
Hei!
[deru mobil]
[suara klakson]
[musik menegangkan]
[musik sendu]
[suara azan]
Allahu Akbar.
Sami Allahu liman hamidah.
[pintu digedor]
- Bangun! - [Yudhis terkejut]
Kau bau. Mandi.
Apa-apaan? Tidak kena, Bodoh!
[musik lembut]
Kopinya, Pak.
[Yudhis] Mbak! Ini mati lagi airnya.
[menghela napas]
Makan, Pak.
Bapak kok pucat?
Ke dokter saja, yuk.
[mengerang]
Bapak tidak apa-apa.
Lebih baik uangnya dipakai untuk memperbaiki pompa.
Lebih baik untuk kesehatan Bapak. Pompa masih bisa nanti.
Yuk, dicek.
Pak.
[mendesah]
Enduk,
Bapak membebani hidupmu tidak?
Tidak. Tidak, Pak.
Sejak Ibu tidak ada, Bapak kerja keras agar aku dan Yudhis bisa hidup enak.
Tapiโฆ
[menghela napas]
Restoran hilang,
toko bangunan tutup,
semua usaha Bapak bangkrut.
Tinggal sisa cucian mobil itu yang bisa Bapak wariskan.
Bapak sering berpikir
apa Bapak sudahโฆ
"Sudah jadi orang tua yang baik atau belum untuk anak-anaknya."
- Begitu? - Dhis!
Seminggu sekali diucapkan Mbak. Tentu jadi hafal.
Nanti kalau Bapak meninggalโฆ
[Saras bergumam]
Bapak minta dikubur di desa,
tempat Bapak lahir.
Bapak juga sudah titip pesan ke Lik Setyo,
dimakamkan ikut tuntunan Islam.
Tentu saja. Memang tuntunan apa lagi, Pak?
Sudah lupa Bapak Islam?
[menggeram]
Bercanda, Mbak.
Pak.
Itu wasiat bapak.
Memang Bapak tidak mau dimakamkan di sini, sebelahan dengan Ibu?
Nanti tidak ada yang mengajak Ibu mengobrol.
[terkekeh]
Mbak, gantian Yudhis yang serius.
Yudhis serius mau pergi.
Asalamualaikum, Pak.
- Alaikum salam - Dhis, sebentar.
Mbak naik bemo saja.
Bapak kalau tidak enak badan, istirahat saja.
Biar aku yang urus bersama Yudhis.
Bapak tidak apa-apa.
Dhis!
Yudhis, tunggu, tidak?
Pak.
Istirahat, ya.
[terkekeh]
Masih ada waktu.
[suara notifikasi ponsel]
[Yudhis] Mbak!
Apa?
Ini maksudnya apa?
Maksudnya kita disuruh pulang cepat.
Bapak masak.
Ayo tutup, pulang.
Tutup apanya?
Ini belum ada pelanggan, belum ada pemasukan.
[mendengus]
Pelanggan!
Sore, Mbak. Mau cuci saja atau sama wax?
Mau cuci, tapi ini bukanya masih lama tidak, Mbak?
Soalnya ada temanku tiga orang mau menyusul ke sini.
- Aman, aman. - Khusus hari ini 24 jam, Mbak.
- 24 jam? - Aman.
Aku kabari temanku dulu.
- Ya, Mbak. - Oke, kalau begitu.
- Tinggalkan saja kuncinya. Tidak apa-apa. - Ya.
[musik sendu]
[jam berdetak]
[pintu ditutup]
[musik menegangkan]
[musik mencekam]
[suara bisikan]
[musik menegangkan]
[terengah-engah]
[suara misterius] Waktumu sudah habis.
Apa ini?
[menghela napas]
Sudah, Bapak menunggu.
Ya, Mbak.
[musik sendu]
Asalamualaikum. Pak?
Asalamualaikum.
- Pak? - Makan!
[petir bergemuruh]
Bapak? Pak!
Yudhis!
Pak?
- Angkat dulu! - Bapak.
Sini, Mbak.
Bangun, Pak! Bapak kenapa, Pak?
Pak!
Mbak? Bagaimana, Mbak?
[musik sendu makin intens]
Pak.
Bapak, bangun!
Bapak! Bangun!
- Pak! - Pak!
- [meraung-raung] - Bapak!
- Jangan tinggalkan Saras, Pak! - Bapak!
[petir bergemuruh]
Yang sabar, ya, Enduk.
- Sabar ya, Lik. - Bapak di dalam.
Aku masuk, ya.
Ayo.
Bapak sungguh sudah tidak ada, ya?
- Aku pikirโฆ - Bapak sudah tidak ada, Mbak.
- Sungguh, Yud? - Ya, Mbak.
Sudah, Mbak.
[musik sendu]
Biar Bapak tidak sesak.
Bapak itu sakit,
malah memasak segala.
Kalau saja kita ke dokter, pasti Bapak masih ada.
Mbak.
Ikhlaskan, Mbak.
Ya, Mbak?
Ikhlas.
Apa sebaiknya kita mengikuti wasiat Bapak saja, Mbak?
Sebulan sekali kita ke makam Ibu,
mendoakan Ibu, bersamamu dan Bapak.
Hanya sebulan sekali itu.
Hanya di titik itu kita sekeluarga berkumpul.
Tapi kalau Bapak dimakamkan di desa,
kebiasaan itu akan hilang, Yud.
Kapan kita bisa berkumpul lagi?
Sementara mereka sudah tidak ada.
Ya sudah, Mbak.
Ya sudah. Istirahat saja, ya.
Ya? Buat besok, ya?
[warga melantunkan Yasin]
[Setyo] Yudhis.
Paklik.
Yang kuat.
Terima kasih, Paklik.
Mbak di dalam.
Aku sudah bawa mobil jenazah. Nanti kau bantu, ya.
Paklik masuk dulu.
Ya, Paklik.
[kerumunan melantunkan doa]
Mas yang tenang, ya.
Saras dan Yudhis aman bersamaku, Mas.
Saras.
Enduk.
[terisak] Lik Setyo.
Yang kuat, ya.
Bulik Ambar dan Dyah tidak ke sini?
Mereka menunggu di rumah.
Menunggu?
Aku mengerti hal ini berat buatmu,
tapi kita mesti gerak cepat bawa jenazah bapakmu malam ini juga.
- Malam ini? - Ya.
Ke mana?
Aku tidak tahu bapakmu pernah wasiatkan atau tidak,
tapi dia pernah bilang, dia minta dikuburkan di desa.
Bapak memang pernah bilang, tapi akuโฆ
Mobil jenazah sudah siap, Sar.
- Supaya bisa berangkat cepatโฆ - Lik.
Aku berniat memakamkan Bapak di Surabaya, bersama Ibu.
Tapi, Sar, kasihan bapakmu.
Lik, aku dan Yudhis hidup di sini.
Tidak mungkin aku jauh dari Bapak.
Ini wasiat kakakku, bapakmu. Jangan sepelekan.
Apa mesti dimakamkan di desa?
- Kau harus mengerti, Sar. Bapakmuโฆ - Paklik.
Ini keputusanku, Lik.
Ini keluargaku, bapakku, keputusanku.
Sudah.
Aku ini keluargamu, Sar!
Paklikmu. Bapakmu itu kakakku, Sar!
Yud, beri tahu mbakmu.
Sudah, Paklik.
Aku ikut Mbak Saras.
[Yudhis] Kalau Paklik tidak setuju, Paklik pulang saja, tidak apa-apa.
Maaf, Paklik.
[musik sendu]
[terisak-isak]
[kerumunan melantunkan doa]
[musik mencekam]
[pria] Bergerak.
- Apa? - [wanita] Astagfirullah.
[pria] Astagfirullahaladzim.
- Hei! Astagfirullah. - Astagfirullahaladzim.
[bising kerumunan]
[Yudhis] Pak?
[Saras] Pak?
Ya Allah. Pakโฆ
[pria] Allahu Akbar.
[suara serak] Pulang.
Pak?
- Bapakku jemput. - Pak.
Satu hidup,
satu mati.
[wanita] Innalillahi!
- Pak. - [wanita] Masyaallah.
Bapak!
Bapak?
[musik mencekam]
- Ini salahmu. - [terkesiap]
[musik mencekam]
Bapak!
Bapak!
Yudhis!
Mbak!
Mbak?
- Bapak tidak ada! - Tenang, Mbak. Ini tidak mungkin, Mbak.
Bu!
Ibu!
Ibu!
- Kenapa, Enduk? - Pak!
Astagfirullahaladzim.
Pak!
[Setyo] Ya.
Pak, itu apa?
Masuk.
[Yudhis] Coba jelaskan lagi, Mbak?
[terisak] Benar, Yud.
Aku pikir cuma mimpi, tapi aku lihat Bapak jalan.
Itu pasti Bapak diambil orang.
- Aku lihat Bapak jalan. - Apa? Tidak mungkin!
Ya sudah, Yudhis cari bantuan. Mbak di sini saja.
Yudhis cari Bapak.
[terisak]
Halo, Lik.
[Dyah] Halo, Mas Yudhis.
Ini aku, Dyah.
Jenazahnya Pakde Hadi, Masโฆ
Jenazah Pakde Hadi ditemukan di teras, Mas.
Apa?
Maksudnya apa?
Sebentar.
[Yudhis] Mbak, Bapak ada di Lamongan.
[Saras] Apa? Kenapa bisa di Lamongan, Yud?
Makanya dari tadi kita telepon
mau mengabari ini.
[Saras] Ya sudah, kami sekarang berangkat ke sana. Ayo, Yud.
[musik meresahkan]
Bapak bisa di rumah Lik Setyo itu aneh.
Bagaimana caranya coba?
Masa Lik Setyo tengah malam mengambil jenazah Bapak?
Kalau sudah sampai seperti ini,
artinyaโฆ
[menghela napas]
Ini salahku, Yud.
Karena aku tidak mendengar wasiatnya Bapak,
jadi, kualat.
Sekarang yang penting kita memenuhi permintaan terakhirnya.
Tidak harus di Surabaya,
di desa juga tidak apa-apa.
[musik menegangkan]
Aku cuma ingin memakamkan Bapak.
Mbak.
[warga melantunkan Yasin]
Saras, Yudhis.
Lik Setyo yang bawa jenazah Bapak ke sini?
Aku sudah bilang, Sar. Adat desa, dikubur di desa.
Jujur saja! Tidak mungkin tiba-tiba di sini.
Mbak.
Mbak Saras.
Aku yang menemukan Pakde Hadi, Mbak.
Bapakku habis pulang dari Surabaya menemani aku semalaman.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam, Ustaz Zuhri.
Saras, Yudhis, ini Ustaz Zuhri yang akan memimpin tahlilan.
[teredam] Ini putra-putri Hadiโฆ
[terengah-engah]
[riuh samar]
[teredam] Desa ini sebenarnya tidak jauh dari Surabaya,
tapi jalannya susah.
Ya, Bulik.
Yud.
- Mbak. - Saras.
Berbaring dulu saja, Mbak.
Aku mau bertemu Paklik.
Istirahat dulu, Enduk.
Bulik bantu siapkan tahlilan, ya.
Yud, temani mbakmu.
Mbak.
Istirahat, ya, Mbak.
Ini dulu kamarnya Mbak Saras, 'kan?
Sudah berubah sedikit,
tapi kasurnya masih sama.
Lemarinya juga.
Ya.
Dulu di sini Mbak tinggal sama Bapak dan Ibu, ya?
Kau bicara begitu aku jadi sadar
kalau kita sudah tidak punya Bapak dan Ibu, Yud.
Mas, Mbak.
Aku mau bantu Ibu sebentar.
Sudah dua malam, Yud.
Istirahat saja, Mbak.
Ini gambar siapa, Mbak?
Gambarku.
Dulu waktu Ibu hamil kau, kita rebutan mau kasih namamu.
Bapak maunya Arga,
aku maunya Sakti.
Tapi pas Ibu tidak ada,
kami memilih nama yang diinginkan Ibu.
[musik sendu]
Waktu pindah ke Surabaya, aku masih lima tahun, Yud.
Tapi aku ingat kita pernah bahagia di sini.
Paling tidak,
Mbak punya kenangan sama Ibu dan rumah ini.
Aku?
Kita ke Surabaya itu
karena Ibu banyak komplikasi waktu hamil kau.
Makanya Bapak mau memastikan
biar kau dan Ibu bisa tetap sehat waktu persalinan.
Tapi gagal, ya, Mbak?
Aku lahir, Ibu meninggal.
Sut.
Aku dan Bapak tidak pernah membicarakan ini
karena tidak mau kau menyalahkan diri sendiri. Ya?
Telat, Mbak.
Aku sudah terlanjur merasa begitu.
[menghela napas]
Ayo, malah berbaring. Ayo.
Seperti itu, galak. Itu baru mbakku.
Jangan lemas-lemas.
Mandi kau.
Nanti saja. Ini.
Mandi sekarang.
[kerumunan melantunkan doa]
Aneh, ya?
Tapi Bulik senang di dapur ramai orang masak.
Biasanya Bulik sendirian.
Ini Dyah ikut bantu.
Dyah sakit.
Sakit?
Sakit apa?
Apa nama penyakitnya? Leuโฆ apa?
Leukemia.
Kanker darah.
Kanker darah.
Jadi, tidak bisa banyak gerak.
Kalau lelah, istirahat saja, Enduk.
Tidak, Bu. Dyah tidak apa-apa.
Ini.
Bisa, 'kan?
- Benar? - Ya.
Jangan dipaksa.
Jangan dipaksa.
- Ya. - [Ambar terkekeh pelan]
Bulik tidak ingin
dapurnya ramai saat ada acara saja.
Setelah kalian pindah ke Surabaya,
tempat ini jadi sepi.
Saat bapakmu balik,
saat kayak begini.
Lalu kenapa tiba-tiba jenazahnya Bapak sampai sini?
[teko mendesis]
Zaman dulu,
desa ini tempatnya orang sakti.
Punya ilmu gaib,
ilmu yang memberi berkah.
Tapi
ilmu itu membawa kutukan.
Kutukan?
Jadi susah mati.
Terjebak sakratulmaut maut.
Ditolak matinya.
Itu makanya jenazahnya Bapak balik ke sini sendiri, Bulik? Begitu?
Paklikmu yang lebih paham.
Sudah, bantu aku saja.
[kerumunan melantunkan doa]
[berdenging]
- Lihat akibatmu tidak menuruti wasiat. - [Saras tersengal-sengal]
Tolong.
Tolong. Tolong!
Tolong!
Tolong aku!
Astagfirullahaladzim!
Ya Allah, ada darah.
Ya Allah.
[pria] Astagfirullahaladzim.
Paklik.
[kerumunan berbisik]
Tenang.
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu,
kita berhenti dulu tahlilannya.
Kita mandikan lagi jenazahnya.
[warga tersedak]
- [tersedak, terbatuk] - Pak, kenapa?
[pria 1] Aku tidak kuat.
Ini juga terjadi pas Mbah Rajiman dikubur, 'kan?
[pria 2] Mbahnya Dyah? Jenazahnya juga sulit dikubur.
Sama seperti Mbah Rajiman. Mbah Warsito juga.
[pria 3] Hei, itu sudah 50 tahun yang lalu.
[Setyo] Bapak-Bapak, maaf.
Tolong jangan dibicarakan di sini. Tolong hormati kakakku. Ya?
[pria 3] Maaf, Pak.
Bapakโฆ
[terisak-isak]
[bunyi keretak]
[musik meresahkan]
Sudah. Tidak usah dipikirkan.
[Setyo] Aku cuma minta tolong dibantu saja dengan doa.
Jangan menuduh yang tidak-tidak.
- Bukannya menuduh yang tidak-tidak. - Sebentar.
- Bulik lihat ada apa. - Sudah cukup.
Kita sedang membantu Pak Hadi.
[Hadi] Saras.
[musik mencekam]
Saras.
[napas berat]
[terengah-engah]
Endukโฆ
[berteriak]
[bunyi keretak]
[terengah-engah]
[teriakan teredam]
[terengah-engah]
- [Saras] Yudhis! - [Yudhis] Mbak!
[berseru]
Ada yang tidak beres.
[terengah-engah] Kau tidak apa-apa, Yud?
[mengerang]
Kenapa ini?
Apa Mbak mengalami sesuatu juga?
[musik mencekam]
Lik, ini ada apa?
[Setyo] Bulikmu sudah cerita?
Bapakmu itu diwarisi ilmu turunan keluarga.
Tapi ada yang kalian harus tahu,
orang yang diwarisi ilmu, meninggalnya susah,
kalau ilmunya itu belum dilepas.
Makanya sebelum dimakamkan secara Islam,
ada yang harus dilakukan supaya ilmunya putus.
Dikuburnya hari Jumat Kliwon.
Aku tidak mengerti kau bicara apa, tapi tidak mungkin.
Kalau aku menunda pemakamannya Bapak ke Jumatโฆ
Jumat itu dua hari lagi, Lik!
Ini terjadi dari buyutmu ke mbahmu,
dari mbahmu ke bapakmu.
Ini membicarakan apa?
Tidak jelas.
Yudhis!
Saras!
Kalian harus mengerti.
Kalau tidak diputus, dia bisa pindah ke salah satu dari kalian.
Bisa ke Yudhis, bisa ke Saras.
Bapakmu tahu waktunya sudah dekat.
Bisnis kalian satu-satu bangkrut, 'kan?
Itu artinya dia itu butuh pewaris baru.
Wasiat bapakmu itu untuk memutus ilmu.
Memang kenapa kalau tidak putus ilmu?
Satu hidup,
satu mati.
Berkat yang diterima harus dibayar.
Bapakmu terpaksa mewariskan ilmu itu
untuk menyelamatkanmu, Yudhis,
yang hampir mati saat dilahirkan.
Tidak.
Tidak.
- Jadi, Ibuโฆ - Tidak! Sudah. Bulik.
- Saras. - Ibu meninggal itu karena sakit.
Bukan karena ilmunya Bapak atau apa.
Sudah, kita ke kamar saja.
Sar, kita harus makamkan ayahmu hari Jumat Kliwon.
Buat kalian!
[Saras melalui rekaman video] Ayo bilang "Ibu" ya.
Sudah.
- Satu, duaโฆ Bapak. Bilang "Ibu" ya. - Bapak, itu lo.
Satu, dua, tiga.
- Kalau cerita Lik Setyo benarโฆ - "Ibu!"
โฆberarti aku yang bunuh Ibu.
Hei.
Kenapa kau berpikir begitu? Tidak, Yud.
Jadi jelas, 'kan, Mbak.
Ucapan Lik Setyo itu menjawab semua kejadian aneh sejak Bapak tidak ada.
Sekarang kita pegang wasiat Bapak.
Makamkan secara Islam, tidak usah lepas ilmu
atau mengubur di Jumat Kliwon.
[musik meresahkan]
Tapi kalau sampai ucapan Lik Setyo benar,
berarti Bapak punya dosa musyrik.
Dosa yang tidak bisa diampuni sama Allah.
Kalau benar,
harus ada yang jadi waris.
Aku atau kau, Mbak.
Bagaimana?
Ikut Lik Setyo atau wasiat Bapak?
Mbak.
Aku mau menemani Bapak, Yud.
Doakan Bapak.
Waktu Bapak meninggal, aku tidak ada.
[berdoa dalam bahasa Arab]
[Ambar] Sabar ya, Enduk.
Kita semua yakin kau bakal sehat, bakal sembuh.
Lebih baik periksa Mbak Saras dan Mas Yudhis.
Kasihan, Pak, Bu.
Mereka harus mengalami seperti ini.
[Setyo] Aku rindu saat kau banyak bertingkah.
[Ambar] Anakku, kau akan sembuh. Sehat lagi.
Tidur, Mbak, sudah malam.
Ya, Yud.
[petir bergemuruh]
[berderak]
[Saras terkesiap]
[suara langkah kaki di plafon]
[pintu berderit]
[Saras terengah-engah]
[musik mencekam]
Yudhis.
Yudhis!
Yudhis!
Yudhis!
Bulik!
Bulik!
Bulik!
Dhis!
Yudhis!
- Kau tidak apa-apa? - Kenapa, Mbak?
- Yudhis. - Tidur, Mbak.
[terengah-engah]
Jangan tinggalkan Mbak Saras, ya, Yud.
Mbak.
Mbak, tidur. Tidur.
[musik mencekam]
[Hadi] Yudhisโฆ
Pulang bersama Bapak.
[terkesiap]
Kenapa kau tidak dengarkan permintaan Bapak?
Bulik!
Bulik!
[terengah-engah]
Mbak Saras?
Kenapa teriak-teriak?
Kenapa, Mbak?
Dhis.
- Kau tidak apa-apa? - Memang kenapa?
[musik mencekam]
Ada apa?
Mbak.
Jadinya bagaimana, Mbak?
Ikut Lik Setyo atau ikut wasiat Bapak?
Mbak?
[pria] Ini tidak wajar.
Jangan-jangan ada azab lagi?
- Bukannya sudah diberkati Sunan? - [ustaz] Asalamualaikum.
Alaikum salam.
[ustaz] Sudah.
[Saras] Paklik juga sudah lihat semalam?
[Saras] Aku tidak mau nanti sampai ada kejadian lagi dengan Yudhis, Paklik.
Aku cuma mau makamkan Bapak.
Ini sudah hampir tiga hari, Lik!
Masih hujan, Sar! Aku sudah bilang!
Tidak bisa! Kasihan Bapak kalau ditunda-tunda terus!
- Mbak. - Harus hari ini!
Tenang, Mbak.
Kita mesti makamkan bapakmu malam Jumat Kliwon.
Itu caranya.
Pak Ustaz!
Di Islam bukannya harus menguburkan secepatnya, Pak? Hari ini!
Tidak bisa ditunda-tunda lagi!
[warga melantunkan tahlil]
[musik menegangkan]
Darah, Pak Ustaz!
- Bagaimana? - Ustaz!
- Astagfirullah. - Di mana?
Lihat, itu ada darahnya!
- Bagaimana, Pak Ustaz? - Bagaimana?
Mas, teruskan! Teruskan!
Saras.
- Teruskan! - Saras!
- Ayo, terus, Pak. - Mbak Saras!
Ayo, Pak.
La ilaha illallah.
[warga melantunkan tahlil]
Pak, itu airnya tolong dikeluarkan.
Pak Ustaz, ayo dimulai.
- Ayo, Mas! - Sudah.
- Astagfirullah. - [bising kerumunan]
- Bagaimana ini? - Ya Allah.
- Tidak bisa diteruskan lagi, Pak! - Tenang.
- Ini tidak bisa digali lagi! - Tenang.
- Nanti longsor, Pak. Tidak wajar! - Ya, tenang.
Tidak bisa, Mbak.
Mbak Saras, sepertinya kita harus tunda dulu.
- Mbakโฆ - Bu.
Sudah tiga hari, Paklik!
Sudah tiga hari. Kasihan Bapak.
Terus gagal, Yud.
Bagaimana Bapak bisa tenang? Bagaimana?
Sudah, pasti ketemu caranya.
Makan dulu, Mbak.
Kalau Mbak Saras sakit, nanti repot.
Besok mau memakamkan Bapak.
Bagaimana kalau besok ada apa-apa,
lalu kita gagal lagi memakamkan Bapak?
Jangan bicara begitu, Mbak.
Habis bagaimana lagi?
Aku mau menjalani wasiat Bapak saja selalu gagal.
Aku juga, Mbak.
Aku juga gagal jadi anak.
[keluarga melantunkan Yasin]
Tidak ada yang datang melayat.
Mungkin para warga sedang lelah.
Tadi hujan, 'kan?
Semoga, Pak Ustaz.
Kasihan Bapak kalau tidak ada yang tahlilan.
Yang harus mendoakan itu kalian berdua.
Maksudnya?
Untuk orang yang sudah meninggal,
dosa akhiratnya bisa dilebur dengan amal jariyah
dan doa anak saleh.
Sudah, tidak usah berpikir macam-macam. Ya?
Ya, Pak Ustaz.
Kalau begitu, aku pamit.
Ya, Pak Ustaz.
Pak Ustaz.
Terima kasih sudah datang.
- Aduh, repot-repot. - Salam buat Ibu.
Aku pamit, ya.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Aku curiga
warga tahu bapakmu masih punya ilmu.
Makanya tidak ada yang datang tahlil.
[musik sendu]
[Saras] Memangnya harus memakamkan Bapak di Jumat kliwon?
[Setyo] Ya, Sar.
Tapi sebelum itu, ada yang harus kita lakukan.
[Saras] Apa itu, Lik?
Jadiโฆ
agar kita bisa memutus ilmuโฆ
[suara pria misterius] Satu hidup,
satu mati.
Darah keluarga kalian sudah mengikat janji.
Kemauan bapakmu sudah kupenuhi.
Sekarang giliran kalian menepati.
Salah satu harus ikut aku.
Mati.
Di neraka bersamaku, dibakar api.
Aku datang menagih nyawa.
[Dyah memekik]
Waktu kita tinggal sedikit.
[musik menegangkan]
Tidak apa-apa, Enduk.
- [pria 1] Mau langsung ke masjid? - [pria 2] Ya. Ayo cepat.
[pria 3] Hei. Sudah, santai saja.
- Nanti mau langsung pulang. - Jangan buru-buru.
[suara keletak]
Suara apa itu?
Entahlah. Seperti suara kresek-kresek.
Awas.
Jangan disenter ke sana. Aku takut.
- Astaga. - Astagfirullahaladzim.
Astagfirullah.
Apa itu?
[berteriak]
[Ambar] Kita tetap memberi berkat ke tetangga supaya tidak ada yang curiga.
Paklik.
Apa benar
ritual itu cara satu-satunya?
Sar, daripada kemalaman, berpencar saja, bagaimana?
- Apa? - Ya?
- Aku ke sana, ya, Pak. - Ya, Bu.
Sudah.
Aku ke sini.
Itu ditumbuk buat disebar ke Pakde, Mas?
Hei.
Tidak usah.
Nanti kau sakit.
Aku sakit, Mas. Bukan sekarat.
Sini, aku bantu.
Tunggu.
Aku jadi berpikir,
yang dimakamkan tertunda seperti ini, apa hanya bapakku?
Kalau warga desa, tidak ada, Mas.
Hanya Mbah Rajiman yang seperti ini.
[musik meresahkan]
Kenapa, Mas?
Kenapa, Mas?
Mas Yudhis.
Dyah.
Buku Yasin Mbah Rajiman masih disimpan?
Ada, di gudang.
Sama buku Yasin buyut-buyut lainnya.
[musik mencekam]
Kenapa, Mas?
Aku mau lihat.
[suara geraman]
- [musik mencekam intens] - [terkesiap]
Tanggalnya 14 Suro semua.
[keletak]
- [bunyi pintu ditutup] - [terkesiap]
[berteriak]
[terengah-engah]
[musik menegangkan]
Pakโฆ
Buka! Hei! Buka!
[terengah-engah]
[Yudhis berteriak]
Buka!
Buka!
[bahasa Jawa] Di mana kau waktu aku mati?
Di mana kau waktu aku mati?
Aku lahir dari api.
Kau dari tanah.
Maumu aku turuti.
- Moyangmu jadi budakku. - [mengerang]
Sekarang giliranmu!
Dyah, tolong!
Tolong!
[terengah-engah] Dyah, tolongโฆ
[teriakan dibungkam] Tolong!
Lepas!
Buka! Dyah tolong!
Buka! Dyah!
- Kenapa, Mas? - [teriak]
[terkesiap]
Bulik!
- Enduk! - Enduk. Hei.
[terengah-engah]
Enduk?
Enduk.
Kenapa, Paklik?
Kau dipilih jadi waris.
Mas Yudhis kenapa?
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa, tapi teriak-teriak di gudang?
Sudahlah.
Mbak.
Yudhis.
Mbak Saras?
Empat belas Suro.
Semuanya 14 Suro.
Ini tidak pernah diceritakan Paklik.
Ini aneh, Mbak.
Kita makamkan Bapak di Jumat Kliwon.
Mbak.
Kita ikuti wasiat Bapak. Mbak sendiri yang bilang.
Kita akan memakamkan Bapak secara tuntunan Islam.
Kita sudah coba, tapi gagal terus, Yud.
- Tidak, Mbak. - Terus aku harus bagaimana?
Tidak, Mbak. Tidak!
Aku tidak percaya.
[suara seram] Ini semua salahmu, Yud.
Kau bicara apa?
[Hadi] Bagaimana rasanya jadi alasan matinya ibumu?
Mbak.
Kau mengerti
kalau kau tidak lahirโฆ
Mbak Saras.
โฆibumu, bapakmu,
mbakmu bisa hidup enak tanpamu?
Sudah ratusan tahun keluargamu jadi rumahku.
Desa ini,
darah di tubuh mbakmu ini,
waris keluargamu ini bakal jadi kutuk
untuk keluargamu seterusnya!
Semua orang
akan mati.
Bapakmu, ibumu, kau.
Mbak Saras!
Mbak! Mbak Saras!
[napas tersengal] Mbakโฆ
- Mbak Saras! - Mbak!
Mbak!
[menjerit]
Mbak!
Lepas!
Tidak! Lepas! Mbak!
Mbak Saras!
Mbak!
- Mbak, lepas! - Mbak!
[terbatuk]
Bapak!
Saras.
Enduk.
Yudhis.
Enduk.
[mengerang]
[musik menegangkan]
[warga berbincang]
- Permisi, Bu. - Iniโฆ
- Bu, maaf mengganggu. - Apa?
Mau minta tolong, Bu.
Tidak!
Pak, Bu. Tunggu.
Apa? Keluarga musyrik!
Ayo masuk ke dalam, Bu.
- Bu. - Jangan dekat-dekat.
Apa ini, Lik?
Aku mau diapakan, Lik?
Maaf, Enduk. Aku terpaksa.
Dulu bapakmu melakukan ini buat menolong Yudhis.
Sekarang aku lakukan untuk Dyah.
Dyah kritis, tidak punya harapan.
Yudhis.
Yudhis.
Mas, tunggu. Mas, aku mau minta tolong.
- [menggeram] - Mas!
Lepas, Lik.
Aku tidak bisa jadi bapak yang menguburkan anaknya sendiri.
Lepas, Lik!
[terengah-engah]
Maaf, Enduk.
Dyah!
Tolong Mbak Saras, Dyah!
Dyah!
Tolong, Dyah!
[Saras] Tolong Mbak Saras, Dyah!
[Ambar] Maaf, Enduk.
- Maafkan Ibu, Nak. - Kenapa, Bu? Bu!
Ibu dan Bapak terpaksa melakukan ini.
Ibu sama Bapak hanya ingin kau sehat.
[Saras] Tolong, Dyah!
Mas Yudhis.
- Mau ke mana? - Pak Ustaz!
Ada apa?
Pak Ustaz, tolong. Mbakku.
- Mbakku ikut ritual. - Ritual?
- Tolong, Pak Ustaz. - Ayo.
Zaman dulu, warga sini pernah membuat perjanjian dengan setan.
Akhirnya Sunan datang untuk memberkati dan tidak ada lagi yang aneh-aneh.
Kecuali ada yang mewariskan ilmunya.
Waktu pemakaman mbahku? Mbah Rajiman?
Pernah ada kejadian aneh, tapi warga tidak ada bukti.
Ya sudah, jadi desas-desus saja.
- Ayo. - Pak Ustaz, tunggu.
Ini apa?
Ada di dekat jenazah Bapak.
Ini kembang kantil.
Ini biasa untuk memanggil makhluk gaib.
Ada yang memainkan jenazah bapakmu.
Ayo.
Tidak begini caranya, Lik!
Aku mau bantu Lik Setyo kalau memang itu maunya Lik Setyo,
tapi tidak begini, Lik!
Kita cari caranya bersama, Lik!
Aku terpaksa
membuat Mas Hadi pulang.
Ilmu hitam yang ada di bapakmu sengaja kupanggil dengan kembang kantil
agar jenazah Mas Hadi tidak bisa langsung dikubur
dan kau tidak langsung menerima ilmunya.
Aku perlu waktu untuk mencoba melakukan ritual ini.
Walaupun belum pernah dilakukan keluarga kita,
aku terpaksa membuat jenazah Mas Hadi kotor oleh darah.
Tapi apa pun harus aku coba, Enduk,
agar pemakaman ini tertunda.
Agar kau bisa jadi pewaris.
Agar aku bisa melakukan ritual ini.
[musik meresahkan]
- Dyah! - Mas!
- Mas Yudhis! - Kau kenapa?
Tolong Mbak Saras, Mas.
- Ya, ini sama Pak Ustaz. - Bapak dan Ibuโฆ
- Tenang, Dyah. - Ya.
โฆmau menyakiti Mbak Saras.
- Ayo, Pak Ustaz. - Ayo, Mas.
[terisak]
[pria 1] Hei, Keluarga Musyrik!
[bising kerumunan]
[pria 2] Munafik!
- Tenang, Semua. - Keluargamu masih pakai ilmu, 'kan?
Pak, warga sini bisa kena azab.
- Tenang. - Benar itu.
- Hei, Yudhis! - Tenang dulu!
Jangan, Lik.
Aku mau memutus ilmu waris darimuโฆ
Tidak!
โฆuntuk selamatkan Dyah.
Tapi tidak begini caranya, Lik!
Kita cari caranya bersama, Lik!
Lepaskan!
Artinya, kau sebagai wadah harus mati
agar aku bisa ambil ilmu darimu.
Tolong.
Ampun, Lik.
[mantra dalam bahasa Jawa]
Berhenti! Diam!
Yudhis ini datang untuk minta tolong.
Masalah ini tidak akan selesai kalau kalian semua masih seperti ini.
Sekarang aku minta tolong
kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu untuk ke musala.
Jalankan salat gaib untuk Almarhum Bapak Hadi.
[warga meracau] Maksudnya apa, Pak Ustaz?
Ayo, sekarang.
- Tolong, Pak, Bu. - Ya.
Sekarang.
[mengerang]
[mengerang]
Pak.
Pak.
Pak.
Pak.
- [Setyo menggeram] - [Ambar memekik]
[mengerang]
Pak.
- [Setyo menggeram] - Pak!
[Setyo menggeram]
[mengerang]
[Ambar terbatuk]
Maaf.
[musik mengerikan]
Maaf.
Maaf.
Semua ini salahku.
[mengerang]
[bahasa Arab] Aku niat salat atas jenazah Hadi Warsito bin Rajiman Warsito
empat kali takbir sebagai imam karena Allah Ta'ala.
Allahu Akbar.
[makmum] Allahu Akbar.
Mbak!
Mbak Saras.
Orang yang berani minta jadi budakku
harus berani mati karena api.
- [mengerang] - Pak!
[terbatuk]
Bapak.
- Ibu! - Dyah, jangan!
- Ibu! - Dyah!
[terkesiap]
Baca doa yang kalian bisa.
Jangan!
Audzubillahiminasyaitanirrajim.
Bismillahirrahmanirrahim.
[Ustaz melantunkan Al-Fatihah]
Mbak Saras.
Tunggu di sini.
Mbak Saras.
- Mbak! Mbak Saras! - Bismillahirrahmanirrahim.
[Ustaz melantunkan Ayat Kursi]
Sadar, Mbak.
Mas, tolong.
Mas, tolong.
[warga melantunkan Yasin]
Astagfirullahaladzim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Mas, tolong!
Mbak, sadar!
- Istigfar, Mbak! - [Ustaz melantunkan Al-Ikhlas]
Mbak!
[warga] La ilaha illallah.
[bahasa Jawa] Sudah lupa
dengan sejarah leluhurmu.
[Ustaz melantunkan Al-Falaq]
Bismillahirrahmanirrahim.
[Ustaz melantunkan An-Nas]
La ilaha illallah.
Mbak Saras. Mbak, sadar.
Mbak!
Mbak Saras.
Bismillahirrahmanirrahim.
- [Ustaz melafalkan doa] - Mbak Saras!
La ilaha illallah.
- [Dyah menangis] Mbak Saras. - [doa-doa dibacakan]
Sudah waktunya kau mati!
Jangan, Mbak! Itu Yudhis, adikmu!
La ilaha illallah.
La ilaha illallah.
[Saras mengerang]
La ilaha illallah.
La ilaha illallah.
[mengerang]
Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
[terengah-engah]
Astagfirullah.
Mbak Saras.
Mbak Saras.
[tersedak]
Mbak Saras.
Mbakโฆ
Mbak Saras. Bangun, Mbak.
Bangun.
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar
dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku mengingkarinya.
Tidak ada kekuasaan bagiku sedikit pun terhadapmu,
kecuali aku sekadar menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku.
Oleh karena itu, janganlah kamu mencercaku,
tetapi cercalah dirimu sendiri.
Turun, Pakโฆ
Aku tidak dapat menjadi penolongmu
dan kamu pun tidak dapat menjadi penolongku.
Sesungguhnya, aku tidak membenarkan perbuatanmu
mempersekutukan aku dengan Allah sejak dahulu."
Sesungguhnya orang-orang zalim
akan mendapat siksaan yang sangat pedih.
Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna
dari kejahatan ciptaan-Nya.
Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna
dari kejahatan ciptaan-Nya.
Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna
dari kejahatan ciptaan-Nya.
Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Allahu Akbar!
- Bapak. - Pak!
Pak.
[terisak]
Mbak Saras, Mas Yudhis.
Bawa bapakmu dengan syahadat.
Ibu.
[terisak] Ibu.
[menangis]
Aku bersaksi
bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan aku bersaksi
bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
[menangis]
[musik sendu]
Yudhis ikhlas, Pak.
Istirahat ya.
[Saras] Dyah.
[terisak]
Aku tidak tahu harus bagaimana, Mbak.
Aku tidak punya siapa-siapa.
Dyah.
Kau masih punya aku sama Yudhis.
Ya?
Sudah ya, Mbak.
Yuk.
Sini, Mbak. Biar aku bawa.
[musik sendu berlanjut]
[musik sendu berakhir]
[musik meresahkan]
[musik berakhir]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.