All language subtitles for Susuk.Kutukan.Kecantikan.2023.INDONESIAN.WEBRip.NF.id[cc][1]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik mencekam diputar]

[musik mencekam terus diputar]

[ponsel bergetar]

[bunyi bip]

[nada dering]

[ponsel bergetar]

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

- [musik gamelan diputar] - [obrolan samar]

[ponsel bergetar]

Kalau mau diangkat, silakan, Kak.

Tidak apa-apa, nanti saja.

[musik gamelan terus diputar]

- Kau kelihatan sangat cantik. - Ini baru temanku!

- Kau terlihat sangat berbeda! - Cantiknya!

Kau kelihatan sangat cantik.

- Warna itu terlihat bagus untukmu. - Aku sampai terkejut!

Wah!

[sebagian dalam bahasa Jawa] Aku hampir tak mengenalimu!

Kau penata rias yang hebat.

Cantik seperti Ibu, 'kan?

Tentu saja cantik seperti ibunya.

[tertawa]

- Bu, aku permisi sebentar. - Ya. Silakan.

[obrolan samar]

[Laras] Yu.

Aku minta maaf soal obrolan kita semalam.

Tidak mudah bagiku untuk berhenti dari pekerjaanku.

Kau marah karena kau menyayangiku, 'kan?

Aku melakukan semua ini untuk alasan yang sama.

Karena aku menyayangimu.

Aku ingin kau menjalani kehidupan yang lebih baik.

[menghela napas]

Kenapa aku menjadi alasanmu?

- [musik meresahkan diputar] - [obrolan tak jelas]

Wah.

- Cantiknya! - Sudah selesai.

Terima kasih.

Lisa, sayang. Sudah selesai?

- [Lisa] Ya. - Ayo.

[Laras] Satu hal yang perlu kau ketahui.

Aku sangat bangga kepadamu.

Pokoknya,

aku akan selalu ada

sampai kau mendapatkan semua yang kau cita-citakan.

[musik meresahkan terus berlanjut]

Jam berapa mau dijemput?

Seharusnya tidak lama.

Nanti kukabari.

Ras.

Sudah.

Man.

Ya?

Terima kasih.

[musik dramatis diputar]

[musik lounge lembut diputar]

Hei.

Kau makin cantik.

[dalam bahasa Inggris] Terima kasih.

[dalam bahasa Inggris] Kau pasti lelah. Kau baik-baik saja?

[keduanya tertawa pelan]

[dalam bahasa Inggris] Ayo. Mari kita duduk.

Omong-omong, maaf karena aku terus meneleponmu.

[dalam bahasa Inggris] Ya...

[terkekeh]

[mendengus]

Aku punya kejutan untukmu.

Masih ingat dengan toko ini?

[dalam bahasa Inggris] Safir biru. Safir biru?

Desmond, kita tak bisa bertemu lagi.

[tergagap]

- Ini yang terakhir. - Apakah karena aku terus menelepon?

[dalam bahasa Inggris] Baiklah, tunggu. Dengarkan aku.

Aku tak tahu kesalahan apa yang kulakukan.

Apa aku membeli cincin yang salah?

Apa yang kau harapkan dariku?

Apakah kau serius?

Ras.

Aku tak peduli dengan reputasiku di depan teman atau keluargaku.

Bahkan istri dan anak-anakku.

- Aku tak peduli lagi dengan mereka. - Bukan itu yang kumau.

Aku mau pergi.

- Desmond! Lepaskan aku! - Kemarilah!

[berteriak, mendengus]

- [obrolan samar] - Jangan menakutiku!

- Cari dulu calonnya. - Aku mau.

- Ini, lihat! Ini tipeku. - Ya.

- [terengah-engah] - Ras. Laras.

- Halo? - Ras.

[berteriak]

- [mendengus] - [ponsel terjatuh]

[Lara terengah-engah]

[mendengus, gedebuk]

- [terengah-engah] - [mengerang marah]

- [mengerang marah] - [berteriak]

[terengah-engah]

- [mengerang marah] - [mengerang]

[mengerang, terengah-engah]

Pelacur!

[mengerang]

[terengah-engah, tercekat]

Jika aku tak bisa memilikimu,

tak ada seorang pun yang bisa!

- [Laras terengah-engah, merintih] - [Desmond mendengus marah]

- [alarm mobil berbunyi] - [tabrakan keras]

[musik menyeramkan diputar]

[wanita] Ada apa ini?

[wanita] Di sana.

[wanita] Tolong dia.

[musik meresahkan diputar]

- [dering telepon di kejauhan] - [obrolan samar]

Mas.

Di mana Mbak Laras?

- Bagaimana keadaannya? - Yu.

Laras masih di ruang operasi.

[musik muram diputar]

[isak tangis lembut]

Kau bilang kau akan menjaganya. Kenapa ini terjadi?

[pria] Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter,

selain 24 tulang patah,

batang otak pasien juga mati.

Dalam kondisi vegetatif ini,

hanya keajaiban yang membuat pasien tetap selamat.

Masih ada harapan, 'kan, Dok?

Kita lihat perkembangannya.

Terima kasih, Dok.

[Dokter] Sebentar.

Ada sesuatu yang perlu diketahui keluarganya.

Mas Arman.

Ayo ikut dengarkan.

[menghela napas]

[musik mencekam diputar]

[Ayu] Adakah penjelasan soal ini?

[Dokter] Aku tidak punya pengetahuan untuk ini.

[musik meresahkan makin intens]

[radio] Dua minggu sejak kasus percobaan...

- Sus. - Ya?

- Pasien atas nama Larasati Dewi. - Baik, tunggu sebentar.

...L, berprofesi sebagai PSK, telah menyeret nama seorang politisi.

[sirene berbunyi melalui ponsel]

Mbak Ayu, jadi, ini totalnya, dan ini hasil CT scan.

[reporter dari ponsel] Polisi menetapkan DS sebagai tersangka

dan sedang dalam proses...

Hei!

[perawat] Semuanya ada di sini.

Ya.

- Terima kasih, Mbak. - Terima kasih, Sus.

Ya, Mbak. Sama-sama.

[musik meresahkan diputar]

Makan dulu. Ya?

Seharian belum makan apa-apa, 'kan?

Ini.

Jadi...

apa rencanamu ke depannya?

Tidak tahu.

Tapi aku yakin Mbak Laras bisa sembuh.

Ini hanya masalah waktu.

Ya, tapi...

Jangan lupa untuk memikirkan cara membayar tagihannya.

[menghela napas]

Maukah kau mencoba alternatif lain?

Kita bawa Laras ke kampung,

lalu kita carikan orang pintar.

Mbak Laras sudah di tempat yang benar.

Bagaimana kau ini?

Benar.

Tapi kau harus lihat kenyataannya.

Tabunganmu sudah mau habis, 'kan?

[menghela napas]

Hei.

Makanlah dulu. Ya?

[bunyi bip monitor]

[musik melankolis mengalun]

[bunyi bip monitor cepat]

[bunyi bip monitor datar]

[Ayu dan Arman terisak-isak]

[musik suram diputar]

[Ayu dan Arman terisak-isak]

- Sus. - [perawat] Ada apa dengannya, Dok?

- [dokter] Buka. - [perawat] Kenapa, Dok?

[dokter] Ya Tuhan.

[perawat] Ada apa ini?

[merintih]

- [Dokter] Tenang. - [perawat] Tenang.

- Mbak Laras! - [perawat] Dok!

- Laras. - Apa yang terjadi?

[dokter] Baringkan dia. Pelan-pelan.

[Ayu] Mbak Laras.

Mbak.

[musik mencekam diputar]

- [bunyi bip monitor] - [petir bergemuruh]

[bergumam]

[ketukan cepat]

Suster?

[musik mencekam diputar]

Mbak.

[musik menegangkan diputar]

[mesin dinyalakan]

[Ayu] Kau benar.

Kita harus cari cara lain.

Kita bawa Mbak Laras pulang.

[musik termenung mengalun]

[Arman] Ya, Yu. Sudah tahu mau bertemu siapa?

[Ayu] Belum.

Tapi di kampung ada kenalan yang sering membantu kami.

Namanya Pak Damar.

Mungkin dia kenal seseorang yang bisa mengerti masalah ini.

[musik sendu diputar]

[obrolan samar]

[dalam bahasa Jawa] Siapa itu?

[dalam bahasa Jawa] Ini sangat menyebalkan.

Aduh.

[dalam bahasa Jawa] Mas Seno, siapa itu?

Baiklah.

- Bisa, Mas? - Bisa.

[Arman mendengus]

Masuk, Mas.

Di sini.

Ayo.

Baringkan di sini saja.

- Di sini saja? - Ya.

[Arman] Hati-hati.

[Arman menghela napas]

Apa lagi, Yu?

Sudah, itu saja.

Aku akan menurunkan barang-barang.

Ya.

[suara binatang-binatang hutan dari kejauhan]

[musik meresahkan diputar]

[musik meresahkan makin intens]

[deru mesin sepeda motor]

- [pintu mobil dibuka] - [Ayu] Pak?

Pak Damar?

Permisi, Pak.

Hei, Ayu?

Kapan kau pulang?

Baru tadi subuh, Pak.

Dengan Laras?

Maaf, Pak, aku mau tanya. Apa di sekitar sini ada orang pintar?

Untuk apa?

Mbak Laras sakit.

Sakit apa?

- Kecelakaan, Pak. - Aduh.

Biasanya kalau ada apa-apa, orang-orang mengunjungi Pak Rahmat.

Pak Rahmat tinggal di sebelah pasar.

Baik, Pak. Kalau begitu, aku langsung pamit.

- Ya. - Terima kasih banyak, Pak.

[obrolan pasar yang samar]

[penduduk desa bicara dalam bahasa Jawa]

[pria 1 dalam bahasa Jawa] Siapa itu?

[pria 2] Dia...

[dalam bahasa Jawa] Itu adiknya Laras.

- Benar. - Begitu rupanya.

[dalam bahasa Jawa] Beritanya menjadi viral.

[reporter melalui ponsel] Dua minggu setelah percobaan pembunuhan,

seorang wanita berinisial L

yang diduga berprofesi sebagai PSK,

telah menyeret nama seorang politisi.

- [Ayu] Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Apakah ini rumah Pak Ustaz Rahmat?

Benar.

Ini.

[dalam bahasa Jawa] Ada apa ini?

- [pria] Sakit? - [Ayu] Sakit, Pak.

[kelontang ember]

Sudah dapat orang pintarnya?

Pak Ustaz Rahmat.

Tapi katanya baru bisa kemari besok.

[Arman] Ibumu dulu juga penata rias?

Ya.

Tentu saja.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

[terkekeh]

Sudah berapa lama kau tak kemari?

Sekitar tiga atau empat tahun.

Sebenarnya aku ingin menjual rumah ini.

Tapi Mbak Laras selalu menolak.

Katanya setidaknya ini bisa menjadi tempat kami pulang.

Mungkin yang dimaksud Mbak Laras adalah saat-saat seperti ini.

Yu.

Aku mengerti hubunganmu dan Laras belakangan ini kurang baik.

Dan aku mengerti mungkin,

kau menganggapku sebagai bagian dari masalah ini.

Tapi, Yu,

aku ada di sini

untukmu dan Laras.

Jadi...

kita hadapi masalah ini bersama.

Aku yakin pasti ada cara untuk menyembuhkan Laras.

Berapa lama kau berencana untuk tinggal di sini?

Aku belum tahu.

- Bagaimana dengan pekerjaanmu? - Aman.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

- Yu, makanlah. - Ya, nanti saja.

Aku akan memandikan Mbak Laras.

[suara jangkrik]

[Laras] Bisakah membuat wajahku berbentuk segitiga?

Mbak Laras, aku sedang membuat video. Pergilah.

- [Laras tertawa] - Ini mau diunggah!

Kalau mau diubah, dioperasi saja.

Mahal, aku tak mau memakai riasan. Malas.

Lebih baik...

pasang susuk.

Untuk apa?

Semua orang melihatnya langsung cantik.

Cantik itu tidak harus dengan pasang susuk.

Cantik itu juga bisa dari dalam.

Jika hati kita cantik, orang akan melihat kita cantik.

Baiklah. Kau adalah penata rias terkenal.

Penata rias yang saleh.

[tertawa]

[terkesiap]

Mbak Laras, sudah. Aku mau membuat video!

Semuanya, jangan lupa tonton video adikku!

Harus berlangganan!

[musik emosional diputar]

[listrik berdengung]

[berhenti berdengung]

[lalat berdengung]

[lalat terus berdengung]

[terengah-engah]

[musik horor diputar]

[berteriak]

[Arman] Hei. Kenapa, Yu?

Mas Arman, itu! Manekennya wajah Mbak Laras!

[Ayu terengah-engah]

Kenapa manekennya?

[Ayu bernapas dengan gemetar]

Kembalilah tidur.

Hei.

Istirahat, Yu.

Sudah malam.

[musik meresahkan diputar]

Mari, Pak.

Laras ada di kamar.

Silakan.

[dengan lembut] Ayu.

Astagfirullahaladzim.

Astagfirullahaladzim.

Kalian tahu sejak kapan Mbak Laras memakai susuk?

Biasanya orang yang memakai susuk,

jika mereka jatuh sakit atau kecelakaan,

mereka menderita lebih lama

karena tubuh mereka masih terikat.

Tapi Mbak Laras masih bisa sembuh, 'kan, Pak Ustaz?

Hanya Allah yang tahu.

Soal sembuh atau tidak, tergantung kepada dirinya.

Kita hanya bisa menyerahkannya kepada Allah.

Tapi bantu kami, ya, Pak.

Insyaallah.

Aku akan mencabut susuk-susuknya.

Semoga tubuhnya kuat.

[Laras mendengus pelan]

[berdoa dalam bahasa Arab]

[Laras menarik napas tajam sambil mendengus]

- [Laras mengerang] - Mbak Laras?

- [doa berlanjut] - [Ayu] Mbak Laras.

- [Ayu] Mbak. - [Laras bergumam]

- [doa berlanjut] - [musik meresahkan diputar]

[Laras mengerang]

[Rahmat] Allah Mahabesar!

[Rahmat terus berdoa]

[Laras menggeram parau]

Laras.

[Rahmat terus berdoa]

[menggeram]

Mbak Laras!

- [doa berlanjut] - Ras! Laras!

- [Laras menggeram] - Laras!

- [Rahmat mengerang] - Mbak Laras.

- [Arman] Laras! - [Rahmat mengerang]

- [Arman] Laras! - [Rahmat terengah-engah]

Pak?

Mbak.

- Pak! Laras! - Laras!

- Pak, sudah cukup. - Pegangi dia.

[Arman] Laras.

- Laras. - Laras!

[menggeram]

- [Rahmat berdoa] - Laras!

[menggeram dengan marah]

- [terengah-engah] - [Ayu] Mbak Laras?

Tenang, ya, Mbak.

Mbak?

Mbak Laras?

[Ayu] Pak Rahmat, kenapa wajahnya menjadi begini?

Pak?

[Arman] Pak.

Pak Rahmat.

Dalam Islam,

susuk tak hanya haram, tapi juga kufur.

Itu termasuk sihir tilawah.

Susuk di tubuhnya itu berbeda.

Tapi pasti ada cara lain.

Kalian harus bersiap untuk merelakan.

Ikhlas adalah bagian dari ikhtiar.

Maksudnya apa, Pak? Kakakku belum meninggal.

[Arman] Ayu.

Asalamualaikum.

[Arman] Ayo masuk.

[musik meresahkan diputar]

[musik mencekam diputar]

[pria] Mas Seno.

[dalam bahasa Jawa] Ada apa?

[dalam bahasa Jawa] Ada apa? Beri tahu aku.

- [dalam bahasa Jawa] Begini... - [bergumam]

[dalam bahasa Jawa] Aku bisa mendapatkan uang dan gadis dengan mudah.

Ya.

[dalam bahasa Jawa] Tapi...

[dalam bahasa Jawa] Laras baru saja kembali dari Jakarta.

- Ya. - Dia jual mahal.

[dalam bahasa Jawa] Di Jakarta, dia menjadi pelacur!

[tertawa]

Jadi, rumor tentang kau ditolak oleh seorang pelacur itu benar?

[tertawa]

[dalam bahasa Jawa] Apakah uangmu kurang?

[tertawa]

Teruskan. Teruslah tertawa.

Mas, ampun.

[dalam bahasa Jawa] Jangan, Mas. Ampun, Mas.

[dalam bahasa Jawa] Mas, jangan.

[dalam bahasa Jawa] Maaf, Mas. Jangan, Mas.

[merintih]

[dalam bahasa Jawa] Tolong, Mas. Ampun.

[merintih]

[suara jangkrik]

JIKA SUSUK DIANGKAT, AKANKAH PEMAKAINYA MATI?

[musik horor diputar]

[petir bergemuruh]

[terkesiap]

Malas. Lebih baik pasang susuk.

Untuk apa?

Semua orang melihatnya langsung cantik.

Cantik itu tidak harus dengan pasang susuk.

Cantik itu juga bisa dari dalam.

Jika hati kita cantik, orang akan melihat kita cantik.

Baiklah. Kau adalah penata rias terkenal. Penata rias yang saleh.

[tertawa dalam video]

Mbak Laras, sudah. Aku mau membuat video!

Semuanya, jangan lupa tonton video adikku!

Harus berlangganan!

[tertawa dalam video]

- [Ayu] Sudah, makan dulu! - [Laras] Aku sudah selesai.

[petir bergemuruh]

Aduh.

- [terengah-engah] - [suara berderit]

[musik meresahkan diputar]

[terengah-engah]

[terengah-engah]

Ada apa, Mbak Laras?

[petir bergemuruh]

[suara ketukan]

[bernapas dengan gemetar]

[Laras terengah-engah]

[Ayu berteriak]

- [wanita muda menangis] - [kerumunan bergumam]

Ayah!

Sabar. Istigfar.

Saat kita memandikannya, apakah kau melihat wajahnya?

[pria 1] Wajahnya busuk.

- [pria 2] Itu benar. - [pria 1] Aneh sekali.

[dalam bahasa Jawa] Tapi aku melihatnya kemarin subuh.

[dalam bahasa Jawa] Dia tampak baik-baik saja.

[dalam bahasa Jawa] Tapi setelah itu, dia bilang dia akan pergi...

[dalam bahasa Jawa] ke rumah Laras! Rumah Laras!

[dalam bahasa Jawa] Yang mengalami kecelakaan.

- Begitu rupanya. - Ya.

- Jangan-jangan... - Hei!

[dalam bahasa Jawa] Kita sedang melayat.

- Jangan membuat gosip. - Ya, Pak.

[dalam bahasa Jawa] Itu tak pantas.

Ya, Pak.

[dalam bahasa Jawa] Biar kuberi tahu.

[dalam bahasa Jawa] Pak Rahmat dari rumah Laras.

- [dalam bahasa Jawa] Dia pakai susuk. - Benar, 'kan?

[dalam bahasa Jawa] Dia pergi untuk mengeluarkan susuknya.

[dalam bahasa Jawa] Laras kejang saat susuknya dikeluarkan.

[dalam bahasa Jawa] Itu pasti susuknya.

[dalam bahasa Jawa] Kalian tahu berita yang viral itu?

[dalam bahasa Jawa] PSK yang dilempar dari gedung oleh pejabat?

- Itu Laras. - Pantas saja.

[dalam bahasa Jawa] Adiknya Laras tinggal bersama seorang pria di rumah.

Keduanya sama.

[dalam bahasa Jawa] Cukup!

[dalam bahasa Jawa] Kita ini sedang melayat.

[dalam bahasa Jawa] Kenapa kalian bicara omong kosong?

[dalam bahasa Jawa] Jika tak percaya, lihat baik-baik.

- [pelayat menggumamkan doa] - [musik yang meresahkan diputar]

[Arman] Apakah kau yakin orang ini bisa membantu?

Kita tunggu saja Pak Rahmat.

Aku tak terlalu menyukainya.

Ucapannya tentang Mbak Laras tidak baik.

Mas.

Aku hanya ingin Mbak Laras cepat sembuh.

- [pria dari pelantang] Asalamualaikum. - Baiklah, kita coba orang ini.

Aku pergi dulu.

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali.

Telah meninggal dunia saudara kita, Pak Rahmat Adi Utomo bin Purwanto,

pada pukul 04.20 di kediamannya.

Jenazah akan dimakamkan hari ini di Pemakaman Rejosari pukul 10.00 WIB.

Mas, bukankah itu Pak Rahmat yang kemarin?

Apa karena Mbak Laras?

Tenang, Yu.

Itu tak ada hubungannya dengan Laras.

Mari kita fokus kepada Laras. Jangan berpikir macam-macam.

- [musik meresahkan diputar] - [pria berdoa dalam bahasa Arab]

[mesin taksi dinyalakan]

[pria dari pelantang masjid] Terima kasih. Asalamualaikum.

[ketukan di pintu]

[Damar dalam bahasa Jawa] Permisi, Ayu?

Ya?

[ketukan di pintu]

[Damar dalam bahasa Jawa] Permisi.

- Pak Damar. - Ayu.

- Ayo masuk. - Ya.

- Maaf berantakan. - Tidak apa-apa.

Ini ada bingkisan.

- Terima kasih banyak, Pak. - Sama-sama.

- Silakan, Pak. - Ya.

Bagaimana kabar Laras?

Mbak Laras ada di kamarnya jika kau ingin melihatnya.

Sejauh ini, tak ada yang berubah.

Sudah sebulan tidak ada perkembangan.

[air dituang]

[keletak cangkir]

- Diminum dulu, Pak. - Ya.

Kemarin Pak Rahmat datang, ya?

Ya, Pak.

Benarkah Pak Rahmat meninggal?

Aku belum sempat melayat.

Ya.

Aku baru saja dari sana.

[musik meresahkan diputar]

[denting cangkir]

Baiklah. Jika semuanya baik-baik saja, sudah dulu, ya.

Kalau ada apa-apa, katakan saja.

Ya, Pak.

Benar juga, Ayu.

Katanya ada orang lain yang ikut merawat Laras di sini.

Benarkah itu?

Benar, Pak.

Mas Arman, temannya Mbak Laras.

Begini.

Berita tentang adanya orang lain yang ikut merawat Laras

sudah menjadi perbincangan warga.

Kalau bisa, mintalah temanmu untuk lapor.

Baik, Pak.

Ya sudah.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

[bunyi gedebuk keras]

[musik emosional diputar]

Mbak Laras?

Mbak?

Mbak Laras! Mbak.

Ya ampun.

Mbak.

[Ayu mendengus]

[Ayu terengah-engah]

[Ayu mendengus]

- [musik emosional memudar] - [kicauan burung]

[pintu taksi dibuka]

[Pras mendengus]

Jadi, setelah dibawa pulang, temanmu belum bangun?

Ya, Mas.

Kemarin ada ustaz yang mendoakannya.

- [bergumam] - Dia bangun.

Tapi dia belum sadar lagi sejak itu.

Begini saja.

Aku sedang banyak pasien,

bawalah dia ke sini, dan aku akan menanganinya.

Aku sibuk.

[bergumam]

Kukira kau bisa datang ke rumah kami untuk melihat keadaannya.

Masalah itu gampang, tergantung seberapa banyak kau membayar.

[Pras bergumam]

Jangan terlalu memikirkannya.

Susuk adalah hal yang kuhadapi sehari-hari.

Masalah kecil.

Itu saja. Bawa saja dia kemari dan aku akan menanganinya.

Aku bisa memberikan susuk kepadamu jika kau mau.

[mendengus]

Tidak perlu.

- Kau yakin? - Ya.

Aku bisa memberimu harga promo jika mau.

Tidak, Mas, aman.

Kalau begitu, aku pamit.

Diminum dulu.

Ya.

Bismillahirrahmanirrahim.

[geraman]

[musik emosional diputar]

Mbak,

maafkan aku.

Aku menyesal tak mengangkat telepon darimu saat itu.

Mbak harus segera sembuh.

Aku sangat rindu mengobrol denganmu.

Selama ini aku hanya menjadi bebanmu.

Bisakah kau mendengarku?

[Laras bergumam lemah]

[Ayu terisak-isak]

Ada apa, Mbak?

Sakit, ya?

[mengerang lemah]

[Ayu terkesiap]

[Laras mengerang pelan]

[Laras merintih pelan]

[suara benyai]

[musik horor]

[Ayu terkesiap, terengah-engah]

[pintu berderit]

[terengah-engah, merintih]

[suara serak mendesis, dalam bahasa Jawa]

[terengah-engah dengan panik]

[musik horor makin intens]

[berteriak]

Hei! Ayu! Hei!

- Ada apa? - Mas Arman.

Tadi ada orang.

Di dalam lemari. [terengah-engah]

Di lemari?

[musik meresahkan diputar]

Kosong, Yu.

[Ayu] Apa?

Ya.

[Ayu menghela napas]

[Laras merintih pelan]

- [Arman] Laras. - [Ayu] Mbak?

Mbak Laras!

[Ayu] Ya ampun.

Yu, kita harus membawanya sekarang.

[musik menegangkan diputar]

- Mas, tolong. - Ya.

Pak, tolong kakakku.

- [Laras mengerang] - Laras.

Susuknya sangat banyak.

Energinya saling bertabrakan di tubuhnya.

Aku akan coba mengeluarkan semuanya.

Sebaiknya kalian menunggu di luar.

- [Laras merintih] - Ayo, Yu.

Ayu!

[Laras mengerang keras]

[Laras terus mengerang]

[Laras merintih]

[nyanyian dalam bahasa Jawa]

[nyanyian terus berlanjut]

[Laras mengerang]

[nyanyian berakhir]

[Laras mengerang]

[batuk]

[Laras terbatuk-batuk]

[teriakan menyeramkan]

[kelelawar memekik]

[Arman dan Ayu berteriak]

- [kelelawar terus memekik] - [Laras berteriak]

[suara benyai]

[suara wanita yang kasar] Siapa yang menggangguku?

- Siapa yang mengganggu? - [ular mendesis, berderak]

[racauan bahasa Jawa berakhir]

[musik menakutkan diputar]

Mbak Laras?

[Laras bersenandung]

[Pras bernyanyi dalam bahasa Jawa]

- [berteriak] - Mbak!

[Ayu] Mbak!

[terengah-engah]

[terisak] Mbak Laras!

[musik menakutkan makin intens]

- Siapa kau? - [suara wanita tua] Ini tubuhku.

[Pras dalam bahasa Jawa] Kau harus pergi.

- Ini bukan tempatmu. - Mbak.

- [dalam bahasa Jawa] Aku tak ingin pergi. - Kau harus pergi.

[dalam bahasa Jawa] Tidak!

[dalam bahasa Jawa] Tidak!

[dalam bahasa Jawa] Tidak!

- Mbak Laras! - [wanita tua berteriak dengan marah]

[teriakan berhenti]

[merintih]

Mbak Laras! Mbak!

[Ayu terisak-isak] Mbak...

[geraman parau]

[mendengus]

- [geraman menyeramkan] - Mundur, Ayu!

[geraman menyeramkan terus berlanjut]

[musik horor diputar]

- [Pras terengah-engah] - Mbak.

[Pras] Mas Arman.

Barang ini bentuknya memang kecil,

tapi isinya jin.

Makhluk halus.

Tidak perlu takut.

Mereka menjanjikan jalan pintas menuju kebahagiaan.

Jika tak bisa merawatnya, akan berubah menjadi kutukan.

- Ini, simpan dulu. - Apa?

Ini masalahnya, Mas Arman.

[mendengus, ragu-ragu]

Dari semua susuk yang kucabut,

ada satu yang belum sempat kucabut.

Itu susuk pertama yang dipasang.

Lalu, yang memasang itu ilmunya lebih besar dari yang lainnya.

Aku takut jika aku mengeluarkannya,

dia tak akan kuat, dan...

itu bisa merenggut nyawanya.

Begitu, ya.

- Sudah. - Terima kasih.

Ya.

[musik lembut diputar]

[Ayu tertawa pelan]

Minum lagi, Mbak.

Minum, Mbak.

[Arman] Yu?

Mbak Laras sudah mau minum, Mas.

Mungkin kita bisa memberinya bubur besok.

Cepat sembuh, Mbak.

Sekarang saatnya kita makan.

Nanti makanannya dingin.

Baiklah, aku akan menyusul.

Jangan lama-lama.

[Arman] Aku membuat telur ceplok dan tempe.

[musik sendu diputar]

Terima kasih.

Ini.

Maaf, Mas.

Dulu aku tak suka melihatmu mengantar dan menjemputnya.

Karena

aku merasa Mas Arman yang membawa Mbak Laras ke tempat kerjanya.

Ternyata,

hanya Mas Arman yang peduli kepadanya.

[tertawa lembut]

Mengapa kalian tak pacaran saja?

[terkekeh pelan]

Siapalah aku ini, Yu?

Aku hanya seorang sopir taksi.

Aku tak punya tabungan.

Aku tak layak untuk kakakmu.

Jangan katakan itu.

Apa pun bisa terwujud jika kita mau berusaha.

Akan lebih baik lagi jika berusaha bersama.

Lagi pula, Mas Arman tahu Mbak Laras adalah seorang pekerja keras.

Dulu sempat aku berkhayal.

Andai saja

aku punya banyak uang

dan kekayaan...

pasti aku bisa memberikan kehidupan yang lebih layak untuknya.

Tapi sayang sekali.

Berkhayalnya di dalam taksi.

Ketika penumpang masuk, kembali ke dunia nyata.

[tawa mengejek]

Kenapa kau tak mengaku saja?

Asal kau tahu,

waktu itu, Mbak Laras sempat membicarakanmu.

Sungguh?

Tidak percaya.

Apa yang dia katakan?

Dia bilang dia tahu kalau kau menyukainya.

Tapi dia merasa

bahwa kau tak bisa menerimanya.

[musik sendu terus berlanjut]

Dah.

[obrolan samar]

Permisi, Bu. Daun kelornya ada?

Ada.

[celotehan Jawa yang tak jelas]

Ternyata benar mbakmu itu memakai susuk.

Bawa saja ke ustaz.

Jangan memakai cara dukun.

- [pria 1] Mempermalukan desa saja! - [pria 2] Usir saja!

- [pria 2] Mempermalukan sekali itu! - [wanita] Usir saja!

Sudahlah, kasihan.

[wanita] Pelacur itu!

Sebaiknya tak dibawa pulang! Mati saja di Jakarta!

[wanita dalam bahasa Jawa] Ibu dan anak sama saja! Usir saja!

Sudahlah.

[pria] Aib bagi desa!

[musik suram diputar]

[suara mesin sepeda motor]

Ayu!

Hei.

Aku memanggil, tapi kau diam saja.

- Biarkan aku membantumu. - Tidak perlu, Mas.

Aku sedang terburu-buru.

Karena itu, sekalian kuantar.

Tidak perlu, aku bisa sendiri.

Bagaimana kabar mbakmu?

Apa benar dia memasang susuk?

Jangan asal percaya.

Begitu, ya?

Aku dapat membantumu.

Aku bisa merawatnya sendiri.

Kau tahu

bahwa aku pernah menyukai mbakmu.

Itu sebabnya aku ingin membantu.

Akulah yang menjaga wilayah ini.

Tidak ada yang berani denganku.

Orang-orang di pasar...

Jika aku menyuruh mereka diam,

mereka akan menurut.

Mas,

aku hanya ingin pulang.

Mbak Laras sedang sakit.

[dalam bahasa Jawa] Ada apa dengan mbakmu? Apa karena dia pelacur?

[dalam bahasa Jawa] Anak dan ibu, semuanya pelacur!

[dalam bahasa Jawa] Ibumu tidur dengan banyak pria!

Keluarga kalian sejak dulu hanya membuat rusuh di kampung.

Soal susuk dan meninggalnya ibumu

yang membuat heboh kampung, kau pasti tidak tahu.

Benar?

[dalam bahasa Jawa] Apa? Kau tak percaya? Tanya Pak Damar!

Dia pria yang punya hubungan dengan ibumu!

Jangan-jangan kalian tidak tahu kalau ayah kalian berbeda!

[dalam bahasa Jawa] Tanyakan kepadanya! Tanya!

[musik dramatis intens]

[musik perlahan memudar]

Bu, mau ke mana?

Pergi.

Aku akan tinggal bersama anak-anak.

Aku lelah dengan omongan orang!

[dalam bahasa Jawa] Apa maksudmu?

Kau tahu sendiri.

Keluarga itu telah menjadi perbincangan di desa!

Jika mereka mengetahui tentang wanita itu,

mau ditaruh di mana mukaku ini?

Masalah dengan Ratri sudah berakhir. Itu sudah lama sekali.

Mengapa kau mengungkit hal itu?

Jangan pernah menyebut nama itu lagi.

Selesaikan saja urusanmu dengan gadis itu.

Pak Damar.

Kau mungkin pernah mendengar ini.

Ratri, ibumu, dulu

wanita tercantik di desa.

Banyak pria yang jatuh cinta

dan menjalin hubungan dengannya.

Mereka kemudian patah hati karena akhirnya ibumu

memutuskan untuk menikahi

Pak Kresno.

Setelah itu,

Laras lahir.

Masalahnya, ibumu masih menjalin hubungan rahasia dengan pria lain.

Dari sanalah kau dilahirkan.

Setelah mengetahui bahwa putri yang dibesarkan selama tiga tahun

bukan dari benihnya,

Kresno sangat marah.

Dia tak bisa menerimanya.

Upaya untuk membunuh ibumu membuat marah penduduk desa.

Semuanya menjadi berantakan.

[musik muram diputar]

[suara Damar] Ayahmu tewas dikeroyok massa.

Tapi ceritanya belum selesai sampai di sana.

- [Ratri berteriak] - Ibumu berhasil selamat.

Tapi keadaannya seperti mayat hidup.

Tubuhnya membusuk, sama seperti Laras.

Rupanya ibumu juga memakai susuk.

Orang pintar yang berusaha membantunya

tak berhasil mencabut semua susuk ibumu.

Akhirnya, kami bersepakat.

[suara Damar] Menguburnya dengan suatu ritual.

[musik suram diputar]

[terisak-isak]

[musik suram terus berlanjut]

[napas tertahan]

[terisak-isak pelan]

Kenapa?

Kenapa keluarga kita seperti ini?

Dulu Ibu.

Sekarang Mbak.

[terisak-isak]

Aku tak ingin sendirian.

Aku masih membutuhkanmu.

[terisak-isak]

Jangan tinggalkan aku.

[musik sendu diputar]

[musik memudar]

[derit logam]

[suara dari kejauhan]

[musik horor]

[terengah-engah pelan]

[derit logam]

[musik meresahkan diputar]

[wanita bersenandung menakutkan]

[air menetes]

[senandung terus berlanjut]

[suara seseorang sedang mencuci]

[musik horor makin intens]

Ibu?

[musik meresahkan]

[Ayu terengah-engah]

Yu!

[Ayu terkesiap]

Sedang apa di sini?

[Ayu terengah-engah]

Astagfirullahaladzim, Laras!

- Laras! - Laras!

[lalat berdengung]

[Ayu] Kenapa menjadi begini?

Jangan-jangan

memang sudah tidak ada lagi cara.

Mungkin,

Pak Rahmat...

Mas Pras...

mereka benar.

Mungkin semua usaha kita sia-sia.

Mungkin...

[bernapas dengan gemetar]

...kita harus merelakan Laras, Yu.

Mas Arman mau menyerah?

[Ayu terisak-isak]

Tidak apa-apa, menyerah saja.

Tapi aku tak akan menyerah.

Yu.

Mungkin semua usaha kita membuat Laras lebih menderita.

Lihatlah Laras, Yu.

Kasihan.

[Ayu terisak-isak]

Terserah.

Jika kau tak ingin membantuku,

jika tak ada yang mau membantuku, tak apa-apa!

Tapi aku akan menemukan cara agar Mbak Laras bisa sembuh.

Bagaimana lagi caranya, Yu?

Semua orang bilang bisa membantu dan menyembuhkan, tapi mana hasilnya?

Siapa lagi yang bisa membantu kita, Yu? Siapa?

Aku tahu orang yang dapat membantu.

Ikuti aku.

[Damar] Suwardi yang membantu ibumu.

Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa membantu Laras.

[mesin dimatikan]

- [dalam bahasa Jawa] Permisi. - [ketukan]

[Damar berdeham]

- [dalam bahasa Jawa] Permisi. - [ketukan]

[suara wanita dalam bahasa Jawa] Tunggu. Ada apa?

- [dalam bahasa Jawa] Permisi. - Bisa kubantu?

[dalam bahasa Jawa] Aku mencari Mbah Suwardi.

[dalam bahasa Jawa] Maaf, Pak, Mbah Suwardi meninggal setahun yang lalu.

[dalam bahasa Jawa] Ada apa? Ada yang bisa kubantu?

[pintu mobil dibuka]

Seharusnya tidak begini.

[musik muram diputar]

[kunci berdenting]

[mobil dinyalakan]

Laras?

Laras.

Kau sudah sembuh?

Aku sangat senang melihatmu sudah sehat. [tertawa]

Ras.

Maaf.

Maaf, aku belum bisa menjagamu.

Maaf, kau harus melalui semua ini. Aku minta maaf.

[bernapas dengan gemetar]

Ayu.

Ada alasan kenapa aku tahu banyak tentang Ratri, ibumu.

Ada alasan kenapa aku tahu semua yang terjadi.

Pria yang menjalin hubungan dengan ibumu...

yang membuatmu ada...

adalah aku.

Ayu! Tunggu, Nak! Ayu!

Nak!

Ayu!

[musik dramatis diputar]

Ras.

Ada apa denganmu?

[Arman terengah-engah gemetar]

[musik meresahkan diputar]

Mas Arman?

[Arman terkesiap]

[berteriak ketakutan]

[terengah-engah]

[dengan gemetar] Yu...

Yu, tadi Laras sudah bangun!

Yu! Ini salah paham!

Yu, ini...

Pergi dari sini.

Pergi!

Ini salah paham.

Pergi!

[Ayu terisak-isak] Pergi!

Pergilah!

Pergi sekarang!

[terisak-isak]

[musik sendu diputar]

[musik sendu memudar]

[ketukan]

Siapa?

[keletak]

Aku

mau minta tolong, Pak.

Aku harus kembali ke Jakarta.

[kendaraan mendekat]

[teriakan teredam]

[menyalakan mobil]

- [pria 1] Ayo, cepat! - [pria 2] Ayo, Mas Seno!

- Rasakan ini! - [sengatan listrik]

[dalam bahasa Jawa] Gelap!

[pria 1 dalam bahasa Jawa] Kita buat mereka tidak betah.

[pria 2 dalam bahasa Jawa] Kenapa tak panggil warga?

- [pria 2 dalam bahasa Jawa] Kita usir. - [pria 1] Ayo!

[pria 2] Ayo.

[Seno] Ayo pergi.

[burung hantu bersahut]

[pria 1] Ayo.

- [mobil mendekat] - [pria 1] Apa?

Hei!

Mau apa kalian?

[pria 1 tertawa]

[Seno dalam bahasa Jawa] Ini muncikari Laras.

- [pria 1 berbahasa Jawa] Bunuh dia. - [pria 2] Bunuh! Matilah kau!

- [musik dramatis diputar] - [semua mendengus, mengerang]

[Arman mengerang]

[pria 1 dalam bahasa Jawa] Matilah kau!

Mati kau!

- Pergi! - Maju!

[mesin menyala]

[Arman mengerang]

[Arman terengah-engah]

[mengerang lemah]

[terengah-engah, merintih pelan]

[petir bergemuruh]

[Laras kecil] Ayu?

- [musik meresahkan diputar] - [petir bergemuruh]

[anak kecil tertawa]

[desis menakutkan]

[Laras kecil] Di sini.

[musik misterius diputar]

[tawa dari jauh]

[Laras kecil] Yu!

[suara keletak]

[musik horor]

[Ayu terkesiap]

[anak kecil menangis]

Ibu.

Ibu!

[petir menyambar dengan keras]

[Laras berbisik] Ayu.

Mbak Laras?

- [geraman parau] - [Ayu mengerang]

[Laras menggeram]

[Damar] Mas!

[Ayu mengerang sambil terbatuk-batuk]

Keluar dari sini. Aku harus melakukan ruwatan.

Mas, tolong mbakku.

Dia bukan mbakmu lagi.

Laras sudah tak ada.

Ini isian susuk mbakmu yang menguasai tubuhnya.

Keluar dari sini sekarang!

Jangan masuk sebelum selesai.

Ayo, Nak.

[Ayu terisak-isak]

[Ayu terisak-isak]

Ayu.

Ayu. Nak...

Dengarkan aku.

Aku belum memberitahumu soal kemiripan yang terjadi

antara Ratri, ibumu, dengan Laras.

Maksudnya?

[mantra dalam bahasa Jawa]

- [Laras merintih] - [mantra berlanjut]

Ayu, apakah kau ingat

saat kita ke rumah Mbah Suwardi?

Dialah yang mengeluarkan susuk ibumu.

Meskipun dia tak bisa mengeluarkan semuanya,

dia menanam sesuatu di makam ibumu,

yaitu pagar bala.

Jika Mas Pras tidak berhasil dengan semua ini,

kita harus membawa Laras ke makam ibumu.

[mengerang lemah, terengah-engah]

[musik meresahkan makin intens]

[geraman]

[berteriak]

[Pras mengerang]

[Laras menggeram]

[Pras mengerang]

[wanita tua tertawa]

[gertakan]

[keduanya mengaum, menggeram]

[musik perlahan memudar]

Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu,

jangan sampai tragedi kematian ibunya Laras terulang kembali.

[dalam bahasa Jawa] Ibunya biasa memakai susuk.

[dalam bahasa Jawa] Itu aib bagi desa kita!

[dalam bahasa Jawa] Sekarang putrinya juga memakainya! Usir!

[penduduk desa] Benar sekali! Tangkap dia!

Ayo!

[terengah-engah]

[Laras] Sakit.

[terengah-engah]

[mantra dalam bahasa Jawa]

Mas.

[musik meresahkan diputar]

[Pras berteriak]

[Ayu] Mbak?

- [berteriak] - [menggeram]

- [Pras merintih] - [tertawa menyeramkan]

[Ayu] Mbak!

[Pras mengerang]

[geraman yang intens]

[geraman]

- [Ayu] Mbak Laras! - [Damar] Mas Pras!

[geraman menyeramkan]

Mbak Laras!

[dalam bahasa Jawa] Sekarang ikutilah aku!

[semua berteriak] Ayo!

[Ayu terisak-isak]

[Laras merintih] Yu...

Sakit...

- [merintih] - [Ayu terisak-isak]

- [merintih] - [Damar] Ayu.

Kita harus segera membawanya ke makam ibumu.

[Ayu terus menangis]

[Damar mendengus]

[massa yang marah berteriak-teriak]

[Damar] Ayu.

Ingatlah, makam ibumu terletak di bawah pohon beringin.

Begitu kita sampai di sana, kita harus mulai menggali.

[Seno] Ayo! Berangkat! Usir mereka!

[pria 1] Hei.

- [Seno] Hei! - [marah menggedor pintu]

Buka!

[berteriak tak jelas di luar]

Dengar. Makamkan Laras satu liang dengan ibumu.

[Seno] Laras!

Mengerti?

Ayo.

Ayu?

- Arman. - Mas.

[Ayu terisak-isak]

Arman!

[Seno] Bajingan! Keluar!

[Arman mengerang]

Arman.

Aku titip anakku

dan Laras.

[Arman merintih]

[terisak-isak]

Ayah.

Cepat!

[marah menggedor pintu]

[Arman mengerang]

[penduduk desa] Hei!

Berengsek kalian! Mau apa?

[dalam bahasa Jawa] Kau menyembunyikan Ayu dan Laras.

- Mereka di sini, 'kan? - Kau mau apa?

[dalam bahasa Jawa] Berhentilah membuat alasan!

[dalam bahasa Jawa] Aku akan membeberkanmu.

[dalam bahasa Jawa] Munafik! Tangkap dia!

[penduduk desa berteriak]

Keluar!

Ada mayat!

Cari!

Bajingan!

Ada mayat.

- Ada mayat. - Ada mayat!

[Arman mengerang]

[Seno dalam bahasa Jawa] Bunuh dia!

[pria] Ayo.

- Ayo pergi. - Ayo.

Ayo.

Ayo.

[Arman] Buka pintunya!

[keributan di kejauhan]

Hei.

- [suara pukulan yang keras] - [Ayu terisak-isak]

[gerombolan yang marah] Ayo temukan mereka!

[gerombolan yang marah] Hei!

[mengerang]

[pria 1] Bunuh dia!

[pria 2] Ayo!

[Arman] Ayu! Cepat!

- [pria 1] Pak. - [pria 2] Damar!

[kerumunan berteriak] Hei! Ayo!

- [pria 1] Hei! - [pria 2] Kelewatan kau!

- [pria 1] Kenapa kau membunuhnya? - [pria 2] Kau gila!

[pria 1] Dia akan mati!

[pria 2] Mau ke mana?

[dalam bahasa Jawa] Bajingan! Aku tak terlibat!

[pria 1] Seno!

[pria 2] Kau harus bertanggung jawab!

[deru mesin sepeda motor]

[musik horor diputar]

Turun!

- Tabrak, Mas! - Apa?

[Arman menggeram]

[batuk]

[petir bergemuruh]

[musik meresahkan diputar]

[Arman] Tunggu, Yu.

[Arman mengerang]

- Bisa, Mas? - Ayo.

Ayo.

[seruan gagak]

[Arman mengerang]

[musik meresahkan terus berlanjut]

Yang mana, Yu?

Mari kita coba menggali yang ini.

Ayo.

[jeritan binatang di kejauhan]

[Arman mengerang]

Yu.

Bagaimana ini?

Kita harus kubur Laras sekarang.

Ayo, Yu.

[musik meresahkan diputar]

[Arman terengah-engah]

[hewan-hewan di kejauhan memekik]

Mas Arman, kita harus menggali yang ini.

Apa kau yakin?

Ya, cepatlah!

[keduanya terengah-engah, mengerang]

[musik horor]

- [musik meresahkan diputar] - [Ayu terisak-isak]

[Ayu terisak-isak]

Ayu.

[Ayu terisak-isak]

[Arman terengah-engah]

[Ayu mendengus]

- [tawa tanpa tubuh yang menakutkan] - [musik intens dan meresahkan]

Mbak Laras?

[tercekat]

Ayu!

[Laras mengerang]

[Arman berteriak]

- [geraman parau] - [Arman berteriak]

[Arman berteriak]

Cukup!

Menjauhlah!

[Laras menggeram]

[Ayu] Mbak Laras!

[geraman marah]

- [Ayu berteriak] - [Arman mengerang]

[Ayu] Arman!

[rintihan terisak]

- [suara mengoyak daging] - [Laras menggeram]

[terisak-isak]

[Laras] Ayu?

[petir bergemuruh]

[geraman]

[musik sendu diputar]

[Laras setengah menggeram, setengah merengek]

Ini aku, Yu.

[menahan gertakan, geraman]

[musik sendu terus diputar]

[Laras] Sekarang, Yu.

Maafkan aku, Mbak.

[gedebuk]

[musik sendu terus diputar]

[Ayu mendengus sambil terisak-isak]

[kicauan burung]

[musik lembut diputar]

[pintu mobil dibuka]

["Rangkum" diputar]

♪ Tersingkap bila ♪

♪ Menatap cah'ya ♪

♪ Di dalam ♪

♪ Bahaya ♪

♪ Terjamah ♪

♪ Bersila diam ♪

♪ Menuju terang ♪

♪ Deras bulir ♪

♪ Meresapi ♪

♪ Lara ♪

♪ Malam musim semi ♪

♪ Raja alam rasa ♪

♪ Berakhir di sana ♪

♪ Kata rangkumkan udara ♪

♪ Ratusan debu ♪

♪ Bisu ♪

♪ Di ruang raga ♪

♪ Pabila ♪

♪ Ku bertanya ♪

♪ Rahasia ♪

♪ Malam musim semi ♪

♪ Raja alam rasa ♪

♪ Berakhir di sana ♪

♪ Kata rangkumkan udara ♪

♪ Dalam lirih perih ♪

♪ Berganti harapan ♪

♪ Berakhir di salam ♪

♪ Kata rangkumkan udara ♪

[musik berakhir]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.