Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
BERDASARKAN NOVEL LARIS "RASUK" OLEH RISA SARASWATI
[Langgir] Aku Langgir.
Langgir Janaka lengkapnya.
Nama yang aneh. Seaneh jalan hidupku.
Sial, seperti nasibku.
Ambu membenciku dari dahulu.
Selalu salah di matanya.
Sejak dia menganggap aku sebagai pembunuh Abah.
[pria] Terima kasih. Selamat siang.
[Abah] Terima kasih, Pak.
Langgir.
[suara piala tergores aspal]
-[deru mobil mendekat] -[Abah] Gir!
[bunyi tabrakan]
-Abah! -Abah!
Langgir! Abah!
-Abah! -Abah!
[teriakan berlanjut] Abah!
Abah!
[irama sedih berputar]
-[Ambu] Sayang. Bakula. -[tertawa kecil]
Buat susu dahulu, ya. Ambu buatkan. Sama Ambu dahulu, Sayang.
Sama Ambu, ya.
Sekalipun Ambu menikah lagi dengan Om Udin,
laki-laki baik yang mencintai Ambu dan berusaha merebut hatiku,
Ambu tetap tidak pernah mau memaafkan aku.
Langgir.
Kau kenapa dengan adikmu, Bakula Borneo?
Nama Bakula Borneo itu, untuk mengingatkan perjuangan Ayah dahulu.
Maksudnya, perjuangan Om Udin dahulu waktu di Kalimantan.
Sebelum bertemu dengan Ambu dan kau.
[menghela napas]
Aku benci Ambu.
Aku benci Om Udin.
Sekarang, kebencianku bertambah satu.
Bakula Borneo. Nama yang lebih aneh.
Tidak ada yang mengerti perasaanku.
Tidak juga teman-temanku.
Sekar Tanjung, Lintang Kasih, dan Francisca Inggrid.
Abah pernah bilang,
"Naik gunung
adalah cara yang tepat untuk melepaskan rasa kecewa dan marah."
[Langgir] "Di puncaknya,
kita bisa melepas rindu.
Seakan kita bisa bertemu lagi dengan orang yang kita sayang."
Abah...
aku rindu Abah.
[teriakan panjang menggema] Abah!
[tertawa kecil bersama]
-[Inggrid] Sekar. -[Lintang] Guys,
sebelum aku liburan ke Singapura, bagaimana kalau kita ke sini?
Karma Rinjani?
Namanya mirip pedepokan silat?
Mentang-mentang anak silat.
Ini kompleks vila proyek pamanku.
Dia beli tanah sepuluh hektare di sana.
-[mencibir] -Tunggu.
Berarti kita berkemah di sana?
[Lintang] Tentu tidak, Inggrid.
Contoh vilanya sudah jadi.
Kita menginap di sana.
Benar begitu.
[Langgir] Inilah Putri Sejagat.
Hidup mereka enak. Nasib mereka beruntung.
Berada di antara mereka, kadang terasa menyiksa.
Aku sayang mereka.
Tetapi aku juga benci.
Benci pada kesempurnaan yang mereka punya.
Gir, kau ikut, bukan?
Tidak. Tak menarik.
Aku balik, ya? Ada urusan penting.
Mau momong adik baru, ya?
[Langgir bernyanyi] ♪ Happy birthday, happy birthday ♪
♪ Happy birthday to you ♪
Ini, buat permohonan.
[Abimanyu] Oke.
[berdeham]
Mudah-mudahan Langgir diberi umur yang panjang,
dan setop berpikir mau mati.
-Kenapa begitu permohonannya? -Biar saja.
Ya.
Terima kasih.
-Ini, cobalah. -Baiklah.
Ya, tak apa-apa.
Sekali-sekali buat permohonan untuk teman baik.
Kalau hidupmu seperti aku, Bi, kau juga tak akan tahan.
Langgir.
Aku tak akan bosan mengatakan ini kepadamu.
Aku cuma mau kau bersyukur dengan semua anugerah yang kau miliki sekarang.
Anugerah apa? Putri sejagat?
Lama-lama aku tak yakin kalau kami benar-benar berteman.
[Abimanyu] Mereka semua menyayangimu.
Aku tak mau kau kehilangan semua itu karena kau tak pernah menghargai mereka.
[Lintang] Anugerah Tuhan dalam hidup itu seharusnya adalah kau, Abimanyu.
Bagaimana aku bisa berterima kasih?
Kalau aku tak pernah tahu apa perasaanmu juga sama seperti perasaanku.
Bi, ayo ikut liburan.
Liburan ke mana? Ke Singapura seperti Lintang?
Kalau aku seperti Lintang, bukan cuma kuajak ke Singapura.
Kalau bisa keliling dunia.
[tertawa kecil] Sensitif. Ya, sudah, mau liburan ke mana?
Ke Karma Rinjani. Katanya paman Lintang punya vila di sana.
[menarik napas panjang]
Sepertinya aku tak bisa. Soalnya tugas kampus masih banyak.
Yah...
[musik lembut berputar]
[Langgir] Tanpa Abah, kurasa tak ada lagi yang istimewa, tiap pulang ke rumah ini.
[Langgir kecil] Abah, aku pulang!
-Abah! -[Abah] Langgir!
[berseru gembira]
Ayo!
[bunyi langkah menapak]
[suara bayi menangis]
[bayi terus menangis]
[mendengus marah]
[pintu dibuka]
[pintu dibanting perlahan]
UNTUK SANG PENCINTA ALAM OM UDIN
[mendengus]
[membuang napas]
[irama seram dimulai]
[bunyi kaki melangkah]
[langkah kaki berlanjut]
[irama seram meningkat]
Abah!
Abah!
[sambil terisak] Abah.
Abah.
Langgir rindu dengan Abah.
[bunyi tetesan darah]
[terisak-isak]
[bunyi tetesan darah]
[mengerang perlahan]
[irama seram meningkat]
[bunyi sesuatu merayap]
-[terengah-engah] -[suara bayi merengek]
Bakula berisik sekali.
[pintu dibuka]
[bayi terus merengek]
Bakula!
Aku itu bukan kakakmu! Aku tak akan pernah menyayangimu!
[suara ocehan bayi]
Aku serius, Bakula! Aku tak menyayangimu.
Aku tak akan pernah jadi kakakmu! Mengerti?
Malah meledek.
[orang bicara di kejauhan] Bagus rumahnya.
-[menggerutu] -[Ambu] Terima kasih, Pak.
Semoga Bapak cocok dengan rumah ini. Untuk masalah harga, masih bisa turun.
-Ya, bukan? -Ya, Bu.
Baiklah, kalau begitu saya pamit dahulu.
-Terima kasih, Bapak. -Sama-sama. Terima kasih.
-Juga terima kasih, Ibu. -Terima kasih, Pak.
-Sampai ketemu lagi. -Ya.
[menghela napas]
Bu,
sebaiknya Ibu bicara dahulu dengan Langgir.
Soal niat Ibu ingin menjual rumah ini.
[membuang napas, berdecak] Percuma, Pak.
Dia tak akan mengerti. Kita punya banyak keperluan untuk Bakula.
-[suara pintu menutup] -[bayi merengek]
-Bakula, Bu. -Bakula.
-Bakula! -Bakula!
Ya, Allah! Sayang!
-Kau tak apa-apa, Nak? -Kenapa bisa jatuh?
-Ibu lupa mengunci pembatas ranjangnya? -Tidak.
Langgir.
Kau di sini?
Apa kau sengaja membiarkan adikmu jatuh?
Ambu tak boleh jual rumah ini.
Rumah ini rumahku dan Abah.
Kau jangan mengalihkan pembicaraan.
Jadi, kau sengaja menjatuhkan adikmu?
Ambu jangan alihkan pembicaraan!
Ambu lupa ini rumah siapa?
[Langgir] Rumah ini rumah mantan suami Ambu.
Tempat aku dilahirkan.
[Ambu] Ini bukan masalah kenangan.
Ini masalah kebutuhan hidup.
Kau juga harus mengerti persoalan di rumah ini.
[Om Udin] Sudah, cukup.
Kita bisa bicara baik-baik.
-Kita ini keluarga. -Bukan!
Lebih baik aku mati, daripada punya keluarga yang penuh kebencian seperti ini!
[pintu dibanting]
[Inggrid] Sudah rapi?
Barangnya sudah semua?
-Sudah. -Yakin tak ada yang ketinggalan?
-Ya, Pa, yakin. -Begitu kau sampai,
langsung kabari Papa, ya?
-Oke. -Jangan buat Papa khawatir.
-Ya, Pa. -Obat-obatanmu sudah semua?
-Sudah, Papa. -Inhaler?
-[Lintang] Aman. -[Ayah Lintang] Oke.
Ayo.
-Love you, Sayang. -Love you too, Pa.
-Baik-baik, ya? -Dah.
-Kami pergi dahulu, Om. -[Ayah Lintang] Oke. Om titip Lintang.
Suruh dia jangan terlalu cape. Perjalanan kalian masih jauh.
Loh, katanya dekat.
Papa berlebihan. Perjalanannya cuma dua jam.
Tenang, Om. Lintang aman dengan kita.
Jalan dahulu, Om.
-Jalan dahulu, Om. -Dah.
[irama bersemangat berputar]
[Lintang] Yang dapat Joker, lulus kuliah lebih dahulu.
Tak seru sekali.
Kenapa tidak, "Yang dapat Joker bakal mati lebih dahulu?"
Seram sekali, tak mau!
Itu baru seru!
Nanti tak usah dilihat kita dapat kartu apa.
Simpan saja buat diri sendiri. Ya?
Ya, sudahlah.
Ini.
-[menggerutu] -Ini.
Aku tak mau mati dahulu!
Aku juga dapat Joker!
-Aku juga! -Ya.
Kita dikerjai Langgir.
Langgir, kau mengesalkan. Aku kira benar.
Loh, kan memang benar kita akan mati.
Memangnya bakal hidup abadi? Tidak, bukan?
Minimal Putri Sejagat sama-sama sampai tua.
-Ya. -Langgir!
Ayo. Putri Sejagat harus sama-sama sampai tua.
Berlebihan.
-Gir, sudah, ayo. -Langgir.
-Yey! -Sampai tua!
Sampai tua. Smile!
-Pak Rudi, kenapa berhenti? -Jembatannya putus, Non.
Tak bisa lewat.
Waduh.
Turun saja.
-Ya, sudah, ayo turun. -Ya, sudah.
[pintu mobil dibuka]
Aduh. Bagaimana ini?
Masa kita pulang lagi?
Apa masih jauh, Pak?
Sudah dekat. Sekitar sepuluh menit naik mobil dari sini.
Aku tak mau pulang. Mood aku sudah mau liburan.
Ya, sudah, cari hotel losmen saja di dekat sini.
-Ayo, Pak, -Kita masih bisa ke vila.
Itu.
-Ayo, cepat. -Ayo.
Aduh.
Tunggu.
[papan kayu berderak]
[suara burung dan serangga di hutan]
Nyamuknya besar-besar amat.
Nyamuk hutan suka dengan yang manis-manis, Grid.
Ajak kenalan saja, Grid. Siapa tahu bisa jadi pacar.
Apa-apaan kalian?
[kicau burung]
Putri Sejagat lebih baik foto dahulu.
Pakai HP-mu saja. Punyaku low batt.
Oke.
Senyum.
Satu, dua...
Smile. Duck face.
-Oke. -Sudah, ayo.
Coba lihat.
[irama seram]
Menurut kompasku, kita ke arah utara.
Sebentar. Tetapi menurutku...
ke selatan.
Bagaimana?
Menurut kompas ke utara.
Feeling-ku ke selatan. Kita coba saja, ya?
Ya, sudah, ayo.
Cepat jalan.
Sebentar, ya.
Ya ampun, Inggrid.
Nanti nyamuknya makin cinta kepadamu.
Poles saja terus.
Sebentar saja.
Tunggu dahulu.
Sebentar!
[suara daun terinjak kaki]
Inggrid, kau kenapa?
-Kau kenapa? -Kau tak apa-apa, Grid?
Ayo bangun.
Ayo bangun.
-Ayo. -Ayo berpegangan.
Ayo.
[Sekar] Apa ini?
[Lintang] Itu sajen.
Persembahan penduduk sekitar buat setan.
Bunganya masih segar.
Berarti tempat ini sering dikunjungi.
Tunggu. Kalau di sini ada sajen,
-berarti di sini ada... -Bisa tak dibahas?
Lebih baik jalan terus saja. Lebih cepat sampai vila, lebih baik.
Ayo.
Kenapa, Tang?
Tak apa-apa.
[irama seram berputar]
Permisi.
[suara air sungai mengalir]
-[Lintang berteriak] -Lintang!
Lintang, ayo bangun.
Ayo.
[sayup suara jangkrik di kejauhan]
[Lintang] Istirahat sebentar. Aku minum obat dahulu.
Guys.
Sebentar.
-Mana botol minumku? -Guys?
Ini sajen tadi atau bukan?
Kenapa botol minumku ada di situ?
Berarti kita cuma berputar-putar.
Mungkin ada orang yang ambil, lalu taruh di situ.
Ini.
Sudah. Kita jalan saja.
Ayo.
Aduh...
Tak ada sinyal di sini.
Kenapa? Kau mau cek Instagram? Sudah berapa banyak yang "like"?
Mau minta bantuan. Andai kita benar tersesat.
Kalau kita tersesat, ini semua karena kau.
Dari awal aku bilang,
-seharusnya kita ke arah utara saja. -Sudahlah.
Kenapa kalian berdua malah bertengkar?
Ayo jalan lagi.
Jangan bawel. Ayo jalan.
-Pelan-pelan. -Hati-hati, licin.
Guys.
Ke mana?
-Ke sana saja. -Sana?
Oke.
[Lintang batuk kecil]
[batuk kecil]
Sebentar.
Sepertinya di situ ada pondok.
-Benar, bukan? -Ayo.
-Ayo, ke sana. -Ayo.
Hati-hati.
Pelan-pelan.
Awas.
-Awas. -Aduh.
Ya.
Sudah gelap. Ada yang bawa senter?
-Aku bawa. -Aku juga bawa.
Sebentar. Cobalah.
[gembok digoyangkan]
Ya, sudah, kita istirahat dahulu di sini.
Mungkin nanti ada yang datang ke pondok ini.
Jorok. Masa tidur di sini?
Sudahlah, Inggrid.
Ayo, duduk sini.
Ada apa di dalam?
Gelap. Tak ada orang.
[teriakan wanita]
[Langgir menjerit ketakutan]
-Ayo! -Cepat!
[batuk-batuk]
Aduh. Memangnya tadi ada apa, Gir?
Aku tak tahu. Seram sekali!
Guys.
Rasanya kita sudah tersesat jauh.
Tolong!
Kenapa kau teriak-teriak?
Siapa tahu ada yang dengar?
Inggrid benar juga. Ya, sudah.
Tolong!
-Tolong! -Tolong!
Sudah, hentikan! Berisik!
Ayo jalan saja.
Kalian pasti tersesat.
[terkesiap]
[Kumala] Kalian cari vila, bukan?
[terkesiap]
Aku Kumalasari.
Aku tinggal dekat sini.
Hai, Kumala.
Saya Sekar.
Ini Inggrid, Lintang,
dan ini Langgir.
Kami empat sahabat.
Putri Sejagat.
Aku tidak punya sahabat.
Aku sendiri di sini.
Mari saya antar.
Di sana vila kalian.
Ya, benar. Itu vilanya.
Ternyata tak jauh dari tempat kita.
-Akhirnya kita sampai. -Oh, God.
Terima kasih banyak, Kumala.
-Sudah, ya. -Ayo.
[Pak Cecep] Aduh, Non Lintang.
Saya Pak Cecep. Yang jaga vila ini.
Ya.
Sudah sejak sore tadi saya khawatir kenapa Neng belum sampai juga di sini.
Tadi kami tersesat, Pak. Untung kami ditolong oleh dia.
Mungkin dia sudah pulang dahulu tanpa pamit ke kita.
-Ya. -Ya.
Ya, sudah, Neng. Silakan. Istirahat di vila.
-Teman kalian sudah sampai sejak tadi. -Teman?
Memangnya kita ajak siapa lagi?
Sudahlah, ayo.
Silakan.
Langgir!
Ayo.
-Terima kasih, Pak. -Ya.
Bi!
Hei!
Kau ke sini?
Katanya tak bisa?
Mau kasih surprise ke aku, ya?
Ya, terpaksa. Kukebut semua tugasnya, biar bisa ke sini.
Bapak mau permisi.
Nanti kalau ada apa-apa...
rumah Bapak tidak jauh dari sini.
Terima kasih, Pak.
Baik, kalau begitu. Bapak permisi dahulu.
-Ya, terima kasih, Pak. -Terima kasih, Pak.
Silakan.
Jadi, kau tamu misteriusnya, Bi.
Tak misterius sekali. Aku sudah tahu dia bakal datang.
-Inggrid sudah minta izin denganku. -Teman-teman, kenalkan...
ini pacar baruku.
[suara kecupan]
By the way, di sini kamarnya cuma ada dua. Jadi, aku dan Inggrid,
Sekar dan Langgir.
Abi tidur di sofa tak masalah, bukan?
Ya, tak masalah.
-Nyaman di sini. -Nanti aku temani, ya.
-Oke. -[tertawa kecil]
Aku ke kamar ya, Guys.
Langgir, tunggu. Aku mau lihat kamarnya.
Aku ikut.
[menghela napas] Capek sekali.
Grid, kau bilang ke aku,
sudah mengaku tentang hubungan kita.
Sudah, bukan?
Bagaimana Langgir tak tahu?
Kau berisik sekali?
Aku sangat merindukanmu.
[pintu dibuka]
[pintu ditutup]
Kau kenapa, Gir?
Inggrid itu berengsek. Kenapa dia harus jadian dengan Abi?
Kenapa tak bisa? Kau tahu Inggrid paling tak tahan sendiri.
Kenapa tak bisa?
Dia bisa dapatkan cowok mana saja selain Abi.
Memangnya Abi tak bilang sebelumnya bahwa dia menaksir Inggrid?
Kau menyukai Abi?
[menghela napas] Ya ampun, Langgir.
Jangankan Inggrid,
aku dan Lintang pun tak tahu kalau kau punya perasaan dengan Abi.
Karena...
Karena apa?
Karena kau tertutup sekali soal perasaan macam ini ke laki-laki.
Lalu itu salahku?
Ya, semuanya salahku.
Dan bodohnya, kalian semua kuanggap sebagai teman.
Bukan begitu maksudku. Dengar dahulu.
Aku malas di sini.
Aku menyesal ikut ke sini.
Kalian semua bukan sahabatku.
-Termasuk kau. -Langgir.
[pintu dibuka] Langgir!
Langgir, buka pintunya!
Langgir, dengar aku dahulu!
Langgir!
Lintang! Buka pintunya!
Langgir.
[mengeluh]
Sekar, ada apa dari tadi teriak-teriak?
Lintang, Langgir baru saja pergi. Dia marah sekali.
-Pergi ke mana? -Keluar!
Ayo, cepat. Kita cari dia!
[pintu ditutup]
Bi, kau lihat Langgir?
Ya, tadi dia keluar.
Kenapa tak kau tahan?
Ada apa?
Langgir marah. Dia mau pulang.
Kenapa?
Langgir itu...
Bi, cepat susul dia pakai motor sekarang. Cuma kau yang bisa tahan dia.
-Oke. -Cepat, Bi.
-Aku ikut. -Tak usah, Grid.
Tetapi...
Inggrid, kau tak usah ikut. Percayalah.
Kau orang yang dibenci Langgir saat ini.
Langgir!
Aku di mana?
Utara.
Selatan.
Kumala, tolong saya. Saya mau ke kota.
Tunjukkan jalan arah ke kota.
Langgir...
Kumala?
Aduh!
KUMALASARI
Dua tahun lalu?
[berteriak] Tolong!
Tolong!
Tolong!
[berteriak]
[terisak-isak]
[terus terisak-isak]
Langgir anggap kita bertiga bukan sahabat dia.
Mungkin Langgir sedang emosional saja.
Dia biasa seperti itu, bukan?
Kali ini beda, Lintang.
Aku lihat sorot matanya. Dia marah sekali dengan kita.
Gara-gara aku dan Abimanyu?
-[menghela napas] -Habis bagaimana?
Aku tak tahu kalau...
Kau dan Abimanyu cuma pemicu.
Langgir sudah merasa sejak lama kalau hidupnya tak bahagia.
Dan dia selalu merasa hidup kita terlalu sempurna di matanya.
[pintu terbanting menutup]
[suara mesin motor] Langgir!
Langgir!
Langgir!
Langgir!
[suara derum motor berlanjut] Langgir!
[mesin motor dimatikan]
[suara serangga malam berlanjut]
Langgir.
Langgir.
Langgir!
Ayo pulang ke vila sekarang.
Teman-temanmu khawatir!
Langgir.
Langgir.
Langgir.
Langgir.
Langgir?
Langgir?
Kau sudah pulang?
Gir?
Lintang.
Kau buat kaget.
Cari siapa?
Kukira Langgir sudah pulang.
Kau sedang apa?
[menghela napas]
Sekar, mau tidak?
Sekar?
Sekar!
Aku khawatir soal Langgir.
Dia anak gunung. Dia pasti survive.
Mungkin sekarang dia sedang balik ke rumahnya.
Yang aku pikirkan soal kecemburuan Langgir terhadap kita.
Tak seharusnya dia iri denganku.
Dia iri denganmu karena keluargamu lengkap.
Harmonis.
Itu saja.
Aku anak yang dibuang.
Maksudnya?
Orang tuaku yang sekarang bukan orang tua kandung.
Mereka menemukan aku di tong sampah.
Dan waktu itu, mereka belum punya anak.
Jadi, mereka memutuskan untuk merawatku.
Sampai sekarang.
Ya ampun, Sekar.
Aku tak pernah tahu kalau...
Aku tak pernah tahu...
orang tua kandungku siapa.
Dan kenapa mereka membuangku?
Jangan menangis. Kau anak yang kuat, bukan?
Ayo, jangan menangis.
Oke?
Kuat.
[suara jeritan]
Inggrid!
Inggrid, kau sedang apa?
Lintang, ambil guntingnya!
Ambil guntingnya!
-Aduh! -Inggrid!
Inggrid! Lepaskan!
Jangan sentuh aku!
Inggrid, lepaskan.
-[Iblis terus menjerit] -[Sekar] Inggrid!
[Inggrid mengerang]
[terengah-engah]
Rambutku.
Sudah, tak apa-apa. Kita rapikan rambutmu.
-Ayo. -Sekar.
Ya. Kita rapikan rambutmu.
[batuk kecil]
Aku keluar dahulu, ya.
[menghela napas dalam]
[menghela napas, batuk-batuk]
[irama seram]
[terus terengah-engah]
[Pak Ustaz dalam bahasa Sunda]
[orang-orang dalam bahasa Sunda]
-Pak Ustaz! -Astaghfirullah hal adzim.
-Ada apa? -Itu siapa?
[bersama-sama] Astaghfirullah hal adzim!
Ayo!
Astagfirullah!
[terengah-engah sambil kesakitan]
[megap-megap sambil batuk]
[merintih, batuk-batuk]
[bunyi inhaler]
[bernapas lega]
[megap-megap]
[irama seram meningkat]
[langkah menuruni tangga]
Lintang?
[bunyi gedebuk]
Lintang? Kau di mana?
[terengah-engah]
[menjerit]
Lintang!
[terus menjerit ketakutan]
Lepaskan Sekar!
[keduanya terisak-isak]
[Inggrid] Sekar, kau tak apa-apa?
-[tersedu-sedu] -[mengerang] Ya Allah!
Ya Allah!
[suara Iblis mendesah]
[desah Iblis berlanjut] [gemeretak leher]
-[menangis ketakutan] Lintang! -Lintang!
[Iblis menjerit]
Tinggalkan Lintang!
Lintang!
[terengah-engah]
[Inggrid menjerit kesakitan]
-[Sekar megap-megap] -[Iblis menggeram]
-Inggrid! -Hentikan, Lintang!
Inggrid!
Ini bukan Lintang, Grid!
-[Iblis terus menjerit] -Lepaskan!
[Pak Cecep] Lepas!
Ini bukan yang kau inginkan!
[Iblis terus menjerit]
Ambilkan air putih.
-Cepat, Neng. -Ya.
[Sekar] Pak, ini sebenarnya ada apa?
Neng Lintang itu
kemasukan roh yang penasaran.
Istilahnya, "kerasukan".
Sebabnya apa, ya?
Jadi, begini, Neng.
Kalau roh penasaran selalu mencari tubuh yang bisa ditinggali.
Sebab mereka juga ingin hidup seperti kita.
Seperti manusia biasa.
Rasuk sukma?
Tetapi sekarang sudah tak perlu khawatir.
Roh itu sekarang sudah tak ada.
-Terima kasih, Pak Cecep. -Ya.
-Bapak permisi dahulu. -Ya, Pak.
Pak, sebelum Bapak pulang, minta tolong dibereskan mejanya.
-Baik, Neng. -Ya.
-Permisi. -Ya, terima kasih.
Lintang.
Kenapa, Tang?
Obat.
Mana obatku?
Aku ambilkan obatmu. Sebentar, ya.
Obat kanker?
Jadi, selama ini...
Lintang.
Lintang.
Sekar.
Kau kenapa, Inggrid?
Surat ini...
Lintang sudah siapkan surat ini untuk kita bertiga.
Dan obat ini...
bukan obat untuk asmanya.
Tetapi obat untuk tumor yang menyerang otaknya.
Otak Lintang sekarat.
Jadi, dia ke Singapura bukan untuk jalan-jalan seperti katanya?
Tetapi dia mau operasi?
Dan... dia takut kalau...
Ya ampun, Lintang.
Ternyata kita semua punya rahasia yang kita simpan rapat-rapat.
Kalau seperti ini...
Putri Sejagat tak akan ada lagi.
Tak ada.
Tidak.
Aku tak mau persahabatan kita hancur.
Lebih baik kita pulang malam ini.
Tetapi bagaimana caranya?
Aku akan minta tolong Pak Cecep untuk carikan mobil.
Kau di sini jaga Lintang.
Hati-hati, ya.
Aku di mana?
Abah! Orangnya bangun, Bah!
Abah!
Alhamdulillah.
Pelan-pelan.
Didi,
tolong ambilkan minum untuk Aa, ya?
Ya, Bah.
Namamu siapa?
Abimanyu, Pak.
Saran Bapak,
secepatnya Nak Abimanyu ajak teman-temannya meninggalkan vila itu.
Banyak masalah yang muncul semenjak vila itu dibangun.
Masalah seperti apa?
Apakah Nak Abi pernah mendengar tentang
mitos Karma Rinjani sebelumnya?
Ya.
Saya pernah mendengar mitos itu.
Tetapi itu cuma sebuah mitos.
Sebagian mitos itu benar.
Ini termasuk ilmu kelabang hitam?
Kumalasari?
Sekar.
Dukun itu namanya Mas Rudi.
Anaknya, Kumalasari, menjadi tumbal.
Dia tumbuh...
menjadi anak gadis yang aneh.
Penyendiri.
Dijauhkan dari semua orang di kampung ini.
Terima kasih.
-Silakan diminum. -Terima kasih.
Konon kabarnya, salah satu pekerja bangunan itu tertarik pada Kumalasari
dan memerkosanya di tengah hutan.
Lalu tak lama kemudian, Kumalasari dikabarkan bunuh diri,
dan melompat di jembatan.
Mas Rudi sangat terpukul.
Akhirnya dia menghilang ke puncak gunung untuk mempelajari ilmu hitam
yang namanya "rasuk sukma".
Rasuk sukma?
Dia hidupkan kembali sukma anak gadisnya.
Dan mencari raga yang tepat untuk kemudian dirasuki selama-lamanya.
Lalu bagaimana dengan istrinya?
Rosita, istrinya, sempat melarang dia untuk mempelajari ilmu itu,
dan minta bantuan kepada kami.
Tetapi tidak lama setelah itu,
kami sudah tak pernah lagi mendengar berita tentang Rosita.
Sebulan yang lalu,
sudah ada korban di vila itu.
Anak gadis saya,
Anissa.
[Iblis cekikikan]
[menggeram]
[terus menggeram]
[pria berdoa dalam bahasa Arab]
[doa dalam bahasa Arab]
[Pak Ustaz] Untung sebelum kerasukan bertambah parah, Pak Cecep muncul.
Dan berhasil menolong anak saya pada waktu itu.
[menghela napas]
[bernyanyi dalam bahasa Sunda]
[suara tercekik]
[Pak Ustaz] Dugaan kami,
Pak Cecep dihabisi nyawanya oleh Mas Rudi.
[Abi] Jadi, Pak Cecep sudah meninggal?
Ya.
Mayatnya ditemukan di sungai seminggu kemudian.
Sudah membusuk.
Lalu yang jemput kami di vila kemarin siapa?
[membuang napas]
Anissa?
Tolong bawa foto Mas Rudi ke sini, Nak.
Ya, Bah.
-Ini fotonya. -Ya.
Ini foto Mas Rudi dengan keluarganya.
Maaf, Pak. Sekarang juga saya harus kembali ke vila.
Tunggu dahulu, Nak.
Jangan terburu-buru.
Bapak akan antar Nak Abi ke sana.
Oke. Ya, sudah.
Aku di mana?
Inilah raga yang terbaik untukmu, anakku.
Raga yang dipenuhi dengan dendam dan kebencian.
Panaskan dendam dan kebenciannya.
Setelah itu...
sukmamu akan hidup selamanya.
Kau akan kembali menjadi anakku, Kumala.
Inggrid.
Lintang.
Aduh.
Kenapa berantakan begini?
Nanti kita cerita, ya.
Sekarang yang penting kau sudah sadar.
Lintang, kau kenapa?
Tak apa-apa.
Grid, kita mau ke mana?
Kita mau pulang, Lintang.
Sekar sedang cari mobil di rumah Pak Cecep.
Putri Sejagat harus kumpul dan bicara satu sama lain.
Karena sudah banyak hal yang saling ditutup-tutupi.
Kau sudah tahu tentang...
Ya.
Langgir?
Langgir.
Kau ke mana saja, Gir? Kau membuat kami khawatir.
Aku sungguh minta maaf kepadamu.
Aku tak mau hancurkan persahabatan kita karena hubunganku dengan Abimanyu.
Maafkan aku, ya.
Bajumu kotor sekali, Gir.
Pakai bajuku dahulu, ya? Sebentar.
Langgir. Aku ambilkan air dahulu, ya.
Langgir. Ayo duduk.
Kau tahu? Sejak kau pergi, banyak sekali kejadian yang kami alami.
Aku tahu.
Bagaimana kau tahu?
Karena aku tahu!
Langgir, ini aku, Lintang!
[berteriak melawan]
[suara lampu jatuh]
Langgir, ini aku Inggrid.
[Iblis menggeram]
-[terus menggeram] -Langgir.
Langgir.
[suara menimpa meja]
Langgir.
Langgir.
Sadar, Langgir.
Kami temanmu, Langgir.
Langgir.
[Iblis berteriak]
[wanita berteriak lirih]
[wanita] Suamiku!
[teriakan lirih]
[teriakan lirih berlanjut]
Kau siapa?
Saya Sekar, Bu. Ibu siapa?
Saya ibunya Kumalasari.
Awas!
Mas Rudi!
Mas Rudi!
Jangan, Mas Rudi!
[suara pukulan berlanjut]
[Sekar berteriak]
Ya Allah!
Bu, kita harus keluar dari sini! Kuncinya mana?
-Kuncinya? -Ada di...
Ada di balik celana.
[terengah-engah]
Langgir.
Astaghfirullah hal adzim.
Kumala, lepaskan dia.
Pergi kau, Iblis, dari anak yang tidak bersalah itu.
[doa dalam bahasa Arab] Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi.
Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi.
Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi.
Ayo, Bu. Ibu pasti bisa. Ibu kuat.
Ibu kuat.
Kita harus balik ke vila, Bu.
Ibu pasti kuat.
Jangan...
Bangun!
Jangan, Mas...
Jangan...
Jangan kau halangi.
Sebentar lagi Kumala akan hidup seperti orang biasa.
Kang Mas sudah gila.
Kumala sudah mati.
Ya! Semua ini karena kau!
Kau tidak bisa merawat Kumala dengan baik.
Kang Mas tidak akan bisa menghidupkan Kumala.
Diam!
Kumala!
Kumala sudah tak ada.
Ya Allah.
[Rosita] Ya ampun, Gusti.
Ampun.
[Rosita terus mengerang]
[teriakan lirih]
[teriakan lirih]
[teriakan lirih]
[Sekar berteriak kencang]
[suara pukulan kayu]
[Rudi mengerang] [Sekar berteriak geram]
[berteriak geram]
[berteriak kesakitan]
[terengah-engah]
[berteriak melawan]
[Rudi menjerit kesakitan]
[mendengus geram]
[bunyi tikaman pisau]
[tikaman berlanjut]
[terengah-engah]
[Sekar] Kita pergi dari sini, Bu.
Ayo, Bu.
Satu...
Ayo, Bu.
[Iblis mendengus]
[Pak Ustaz] Kita kejar Langgir. Dia akan meluapkan dendam dan kebenciannya.
[Inggrid] Tetapi Sekar masih di luar.
Kita cari sekarang, ya. Ayo, Pak.
[mesin mobil menderu]
[tikaman pisau berulang]
[pria batuk-batuk]
[gergaji mesin dinyalakan]
[gergaji mesin menderu]
[Langgir] Ambu tak boleh jual rumah ini.
Rumah ini rumah aku dan Abah.
[suara gergaji mesin]
[petir menggelegar]
[Ambu] Langgir.
Langgir.
Kau ke mana saja, Nak?
Langgir! Ini Ambu, Langgir!
-Ini Ambu! -[Iblis berteriak keras]
Apa yang kau lakukan?
Tolong!
[Ambu] Mas!
Langgir! Langgir, lepaskan!
Langgir, apa yang kau lakukan?
Lepaskan, Langgir!
[bunyi gedebuk, mengerang kesakitan]
[derit pintu dibuka]
[Iblis menggeram]
[terengah-engah]
-[Iblis terus menggeram] -Hei, Iblis!
Jangan kau sentuh anak itu.
Keluar kau dari jasad Langgir!
[doa dalam bahasa Arab] Bismillahirrahmanirrahim.
-[Iblis menjerit] -[doa berlanjut samar]
Lepaskan dia, Iblis!
Keluar!
Jangan!
[Iblis terus menjerit]
[Pak Ustaz] Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya.
[doa dalam bahasa Arab]
-[Iblis menjerit kesakitan] -[doa dalam bahasa Arab]
Ibu!
-[doa berlanjut] -[Kumala] Ibu, tolong Kumala, Bu!
[Rosita] Ibu...
Ibu selalu merindukanmu, Nak.
Kau sudah bisa pergi dengan tenang.
Pergilah sekarang.
Ibu sudah rela, Nak.
-[guntur bergemuruh] -Kumala takut, Bu.
Jangan takut, Nak.
Ibu selalu mencintaimu.
-Kau sudah boleh pergi dengan tenang. -[doa dalam bahasa Arab berlanjut]
[doa berlanjut]
Pergilah.
Ibu!
Ibu!
Langgir!
-Langgir! -Langgir!
Langgir!
Langgir!
[doa dalam bahasa Arab] Alhamdulillahirobbil Alamin.
[suara petir berlanjut]
[terisak-isak]
[Inggrid] Bunyi napas Langgir sudah tak ada.
[Lintang] Tidak.
Tak mungkin. Langgir.
-[Inggrid] Langgir. -[Lintang] Bangun, Gir.
-Bangunlah. -Langgir.
Langgir.
[Sekar] Kita harus tolong Langgir.
[Lintang] Tetapi tubuhnya Langgir sudah dirasuki, Sekar.
Belum. Semua ini belum terlambat.
Sukma teman kalian masih ada.
Cuma raganya yang habis dikuasai oleh sukma Kumala.
Jadi, segera, cepat panggil temanmu itu.
Belum terlambat, Neng.
Segera dipanggil.
Dia hanya bisa merasuki raga Langgir selamanya
jika dia berhasil menyelesaikan kebenciannya.
Maksudnya kebencian pada aku?
Pada kita semua.
Tidak.
Kebencian terbesar Langgir adalah pada keluarganya.
[tersedu-sedu] Bangun, Nak.
Jangan tinggalkan Ambu dengan cara seperti ini.
[terus terisak-isak] Ambu tak rela.
Kalau kau benci sama Ambu,
bilang sekarang, Sayang.
Ambu minta maaf.
Bangun, Langgir.
-[Ambu] Bangun, Langgir. -[Inggrid] Langgir.
-[Abi] Bangun. -[Lintang] Langgir.
Bangun, Langgir.
[bersama-sama] Langgir, bangun.
[Abi] Kau harus bangun.
Langgir, bangun.
Langgir!
Langgir, bangun!
Bangun, Langgir!
Bangun!
Langgir!
[suara Abah] Langgir, ini Abah.
Bangun. Semua sudah menunggumu di sini.
[tersengal-sengal]
-Langgir. -Bangun, Gir!
-Langgir! -Alhamdulillah!
[Ambu] Ayah!
-Ambu. -Ya, Sayang.
Maafkan Langgir, Ambu.
Ya. Ambu juga minta maaf, Nak.
[terisak-isak] Ambu juga minta maaf.
Abah.
Kau panggil apa, Nak?
Abah.
Terima kasih, Sayang.
Abah sangat menyayangimu, Langgir.
Lintang, Sekar, Inggrid.
Langgir.
Maafkan aku, ya.
Kau tak salah.
Aku yang salah, Inggrid.
Aku minta maaf, ya.
[musik lembut berlanjut]
Ambu,
Langgir rindu sama Bakula.
Ya, Sayang.
Bakula juga ingin bertemu denganmu.
[terisak]
Langgir.
Ini adikmu, Bakula.
Bakula.
Teteh rindu sama Bakula. Ini Teteh.
Sudah bangun.
Teteh sayang sekali sama Bakula.
[langkah kaki menaiki tangga]
Aku pergi dahulu, ya.
Kalian semua jaga baik-baik markas Putri Sejagat.
Operasinya pasti lancar.
Pokoknya kau harus pulang lagi, dan bawa oleh-oleh banyak dari Singapura.
-Kami tunggu di sini. -[tertawa kecil]
Ingat, kau janji kepadaku,
kalau kita bakal tua bersama-sama.
-Benar. -Oke? Jadi, kau pulang.
[Lintang] Siap.
-Kami jalan dahulu, ya. -Dah.
-[Sekar] Hati-hati, Om. -Ya.
Bye, Lintang!
-Dah. -Dadah.
Bye.
[lagu menyenangkan berputar]
-[bunyi mesin mobil] -[lagu menyenangkan berlanjut]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.