All language subtitles for The.Woman.in.the.Line.La.Mujer.De.La.Fila.2025

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian Download
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Bu.

BUENOS AIRES , ARGENTINA 2004

Bu.

Bangun.

Bu.

Jam berapa ini?

Jam setengah delapan.

Aduh, telat banget. Tertidur pas kerja.

Tenang saja.

Anak-anak sudah siap.

- Biar aku antar. - Martina ada ujian.

- Dia sudah siap. - Ya ampun.

Boleh cium dulu?

Tidak, Bu! Sudah telat! Ayo, Gustavo.

- Jalan duluan. Aku nyusul. - Cium dulu. Ibu sayang kamu.

- Dadah, Bu. - Terima kasih, Sayang.

- Sudah, lepas. Ayo. - Anak gantengku.

- Dadah. - Ibu sayang kamu. Maaf ya.

- Gustavo! - Iya, sebentar!

Maaf! Ibu sayang kamu!

- Ibu tunggu kamu sarapan, Gus! - Oke.

KISAH INI TERINSPIRASI DARI PERISTIWA NYATA

Halo?

Hai, Andre.

Hai, Silvia. Apa kabar?

Baik. Dengarkan, klien sangat tertarik.

Kita siapkan dokumen deposit?

Aku tidak tahu apakah dokumennya ada di rumah. Biar aku cek dulu.

Itu akan sempurna. Sekali jalan, dua urusan selesai.

Kebetulan ada di sini.

Bagus. Nanti kubawa berkas dan salinan identitas mereka.

Baik.

Kamu menyelamatkanku. Hari ini sibuk sekali.

Kita bisa tentukan tanggal untuk tanda tangan kontrak.

Ya, sempurna. Kita ketemu di depan gedung jam 11, ya?

Polisi! Tiarap!

- Ada apa ini? - Tiarap!

- Ada apa? Jangan sakiti saya! - Tiarap ! Di mana Gustavo Marelo?

Diam! Jawab pertanyaan saya!

Ambil saja apa pun!

Di mana Gustavo Marelo?

Jangan sakiti saya! Ambil saja, tolong!

Saya tidak tahu dia di mana!

Ini salah paham.

Salah paham. Anak saya baik-baik. Kalian salah orang.

- Tolong. - Diam, Bu.

- Tolong. - Ya. Diterima.

- Ini salah paham. - Diam!

- Biarkan saya bicara dengannya. - Jangan bergerak.

- Jangan sentuh dia. - Tenang.

Keluar dari mobil!

- Gustavo! Jangan sakiti dia! - Jangan bergerak.

- Jangan bergerak! - Lepaskan saya!

- Lepas, bajingan! - Apa yang kau lakukan?!

- Cepat, cepat! - Gustavo!

- Bu! - Gustavo!

Tolong, jangan sakiti dia! Jangan bawa dia!

Jangan bawa dia, tolong.

Permisi, di mana pusat tahanan?

Permisi.

- Emilio. - Andrea.

- Di mana dia? - Baru saja diinterogasi.

- Dia takut, tapi sudah agak tenang. - Mereka menuduh apa?

- Pencurian. - Apa?!

Ya, aku tahu. Gila, kan.

Tapi kamu harus tenang dan dengarkan,

karena hakim tidak akan melepasnya.

Kenapa? Kok bisa?

- Andrea. - Lepas aku, Emilio.

Halo. Permisi, saya ibunya Gustavo Marelo.

Anak yang baru kalian bawa.

- Saya harus bicara dengannya. - Tidak bisa, Bu.

Kenapa tidak? Ini salah besar. Kembalikan anak saya.

- Jangan teriak. - Oh, begitu?

- Andrea, jangan. - Lepas aku!

Ada apa ribut-ribut ini? Bu, tolong kecilkan suara.

Pak Hakim, saya mohon.

Saya ibunya Gustavo Marelo. Anak yang baru kalian bawa.

- Tolong beri saya waktu bicara. - Biarkan dia masuk.

Terima kasih.

Ini salah paham besar.

Tidak mungkin anak saya berbuat salah. Saya kenal dia.

- Kalau begitu, dia akan baik-baik saja. - Biarkan dia pulang. Lepaskan dia.

Tidak bisa, Bu. Mustahil.

Apa Anda tidak dengar saya?

Lihat saya!

Saya orang jujur!

Masuk. Ayo. Masuk.

Gustavo!

- Apa yang kamu ketawakan? - Bu.

- Bu, apa yang Anda lakukan? Mundur. - Bu! Bu!

DINAS LEMBAGA PEMASYARAKATAN FEDERAL

- Halo, Bu. - Halo. Kamu telepon?

Iya. Tolong jemput anak-anak di sekolah.

Lagi?

Iya, Bu. Aku sibuk. Biar mereka di rumah Ibu, ya.

- Kamu baik-baik saja? Di mana-- - Nanti kujelaskan. Tutup dulu.

LEMBAGA PEMASYARAKATAN FEDERAL

- Permisi-- - Hei, antre dong.

- Sebentar saja. - Antre!

Anak saya baru dibawa masuk... sebentar.

- Tuli, ya? Antre! - Dia ada di sini, saya lihat.

- Baru saja dibawa masuk. - Sama saja buat kami.

- Tapi ini salah paham, Bu. - Datang lebih awal kalau mau cepat.

- Tolong! Cuma sebentar! - Tidak! Antre!

Saya baru lihat dia masuk.

Kami sudah di sini sejak subuh. Antre saja, Bu.

Minggir! Jalan!

PEREMPUAN DI ANTREAN

- Hari ini tidak bisa masuk. - Kenapa?

Harus tunggu sampai nama Anda ada di daftar.

Daftar apa?

Daftar apa?

Saya tidak tahu soal daftar, tapi saya harus lihat anak saya.

- Berikutnya! - Tidak dengar saya?

Anak saya ada di dalam dan saya tidak akan pergi sebelum bertemu!

Bu, bicara dengan pengacara Anda.

- Sudah! Saya di sini dua jam! - Sudah dengar, kan! Jalan!

- Saya sudah antre. Daftar apa? - Sudah dengar. Jalan!

- Tunggu! Anak saya ada di dalam! - Kalau begitu, minggir!

Halo?

Panggilan ini dari lembaga pemasyarakatan.

- Bu, ini aku. - Kamu gimana? Kenapa tidak telepon?

- Aku pinjam kartu telepon. Waktunya habis. - Ya Tuhan, aku—

- Sudah mau habis. - Iya. Cepat bicara.

Besok datang jam 9 sampai 1. Blok sel nomor empat.

- Aku catat! - Bawa jaket.

- Blok sel mana? - Dan selimut.

Nomor empat.

- Jam berapa? - Dari jam 9 sampai 1, ya?

- Iya, aku dengar. - Tolong bawa makanan.

Makanan di sini menjij—

Apa lagi yang kamu butuh?

Akhirnya! Matías bikin kesal.

- Dia sembunyikan kotak pensilku. - Hai, Sayang.

Matías, Ibu sudah datang. Kembalikan.

- Aku tidak tahu maksudmu. - Kembalikan, dasar bodoh!

Selamat pagi, Mati.

Kembalikan kotak pensil kakakmu. Cepat, kita terlambat sekolah.

- Nakal sekali dia. - Ambil barangmu. Sudah telat banget.

Aku siap.

Sini, Putri.

- Hai, Bu. - Hai.

Bilang ke Gustavito datang jenguk aku. Sepertinya dia lupa sama aku.

Iya, nanti. Dia remaja banget. Kamu tahu sendiri.

- Baiklah. - Tapi dia pergi. Belum bilang?

- Apa? Pergi? - Belum.

Dia mau ke Córdoba seminggu sama teman-temannya.

Bodoh! Katanya mau antar latihan bola.

ibu antar Sabtu. Ayo berangkat.

- Oke. - Aku duduk depan!

Bisa mereka menginap di rumahmu malam ini?

- Lagi? - Iya.

Ada apa? Kamu sembunyikan sesuatu?

Tidak seperti yang kamu pikir.

Ayo, bilang.

- Dadah, Bu. Kututup pintunya? - Tidak, biarkan. Dadah.

PROPERTI

- Pagi, Juli. - Pagi, Andrea.

Hai, Andrea.

Bárbara.

- Hai, Bárbara. - Kamu baik-baik saja?

Sekarang iya.

Kamu menghilang. Tidak telepon sama sekali.

Iya. Kamu tidak akan percaya yang terjadi.

Aku tidak tahu. Pasti serius sekali.

Iya.

Ibuku dilarikan ke rumah sakit.

- Kenapa? - Aku tidak tahu.

Kami belum tahu. Masih banyak tes.

Tapi itu mengerikan. Besok aku tidak bisa...

Aku tidak bisa datang. Harus temani dia untuk tes lanjutan.

Baik. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja.

Semoga cepat sembuh.

- Kapan bebaskan dia? - Tidak sebelum sidang.

Jangan bertele-tele. Saya butuh kepastian.

Paling cepat delapan, sembilan bulan.

Apa?! Gila! Bebaskan dia sekarang!

Sekarang juga! Cepat!

Pengacara macam apa kamu kalau tak bisa bantu? Sialan!

Maaf.

Maaf.

Tidak apa-apa.

Aku kenal emosimu itu.

Aku putus asa.

Aku mengerti.

Apa kata Gustavo?

Dia kedinginan setengah mati.

Dan lapar.

Besok aku menemuinya.

Dengar, Andre.

Aku harus tanya yang mungkin terdengar konyol,

tapi tetap perlu dipertimbangkan.

Mungkinkah Gustavo melakukan sesuatu yang tidak kamu ketahui?

Apa maksudmu?

Kita harus mempertimbangkannya, setidaknya melihat semua kemungkinan.

- Dia anakku. - Ya.

Bagaimana mungkin aku tidak tahu?

- Ya, tapi— - Pertanyaan macam apa ini?!

- Andre, dengar dulu. - Sadar apa yang kamu katakan?

- Itu bukan pilihan! - Tenanglah.

Sial! Itu bukan pilihan! dengar?! Bukan pilihan!

Ada yang lebih tebal?

- Ada. - Terlalu tipis.

Ada yang lebih kuat, dengan kunci klip di samping?

Kamu ibunya Preppy Kid, kan?

Siapa?

Preppy Kid.

- Aku tidak kenal. - Anak dari kampung.

Yang ini kedap udara, bagus juga untuk saus.

Hai, Andre!

- Marian! - Apa kabar?

Baik! Kamu ngapain di sini?

Dokter gigiku dua blok dari sini, jadi sekalian jalan-jalan.

Sudah lama aku tidak ke sini.

- Perlu bantuan? - Tidak.

Aku bisa sendiri. Terima kasih.

Aku masih jadi relawan di gereja. Ingat?

Tentu. Aku suka itu darimu.

Kita harus saling membantu.

Ya...

Mau aku ajak anak-anak buat ketemu?

Senang sekali. Sudah lama kita tidak minum teh bareng.

Bagus. Oke.

- Salam untuk ibumu. - Pasti. Terima kasih.

Berikutnya.

Berikutnya.

Ayo. Jalan. Ayo.

Berikutnya.

Taruh tasmu di sini.

Tas ini?

Tidak boleh.

Serahkan itu.

Berikutnya.

Taruh di sini.

Di sini.

Beri aku tas satunya.

Um...

Terlalu besar.

- Terlalu besar. - Itu selimut.

Berikutnya.

Jangan, jangan. Jangan tusukkan pisau berbusa sabun ke makanan.

Kamu baru, ya?

Ini nomor kamu.

Ke sana. Ayo.

Lepas mantel.

Berikutnya!

Angkat bajumu. Semuanya. Bra juga.

Turunkan.

Turunkan celanamu.

Bungkuk. Sedikit lagi, buka kakimu.

Bungkuk.

Batuk.

Lebih keras.

Berikutnya.

NAMA PENGUNJUNG

TRANSPORTASI PENGUNJUNG

Permisi, boleh?

Tidak, sudah ada orang.

Apa?

Sudah ada orang.

Tentu, ya.

Benar, ya.

Lihat? Saat aku bilang petugas meremehkanku...

Perlakuan mereka parah.

Mereka bilang, “Tidak boleh, tidak boleh, boleh.”

Hari ini penjaga super ketat untuk semua hal.

BAGIAN KUNJUNGAN DAN SURAT-MENYURAT

Ayo. Pelan-pelan.

Siap. Masuk. Ayo.

- Hei, ini mejaku. - Maaf.

- Mana yang kosong? - Tidak tahu. Tidak tahu.

Cek sendiri.

Ayah!

Sayangku.

Hai. Hai, Sayang. Hai, Sayang. Hai.

Kamu baik-baik saja? Baik-baik saja? Ya?

- Jangan nangis, Bu. - Oke. Maaf.

- Jangan nangis di sini. - Iya. Maaf. Senang sekali lihat kamu.

- Apa yang IBU bawa? - Macam-macam. Nih, lihat.

IBU bawakan makanan.

Katamu lapar. Ada schnitzel.

- Terima kasih. - IBU bawakan baju.

Ini. Dan lihat. IBU bawakan...

Keren

Iya, keren.

IBU belikan baru karena yang lama sudah rusak.

Terima kasih.

IBU bawakan jaket.

Emilio bilang kita harus menunggu hakim menyusun berkas kasusmu.

Berapa lama?

Ibu tidak tahu.

Kita harus sabar.

Keluarkan aku dari sini, Bu.

Iya, Sayang.

Kita akan keluarkan kamu.

Aku tidak kuat.

Kamu pasti kuat.

Lihat ibu.

Kamu pasti bisa.

Kamu harus bisa.

Dengar ibu?

Aku tidak tahu bisa atau tidak.

Hei.

Sayang, kenapa?

Ada apa?

Aku tidak tahan lagi, Bu.

Baik. Tenang dulu.

Ibu bohong. Dia bukan pergi liburan.

Maaf.

Maaf, ibu tidak tahu harus bilang bagaimana.

Ini parah sekali. Bagaimana kau biarkan mereka membawanya?

Mau ku bagaimana?

Polisi datang, mendobrak pintu, menyeret dia!

- Apa yang bisa kulakukan? - Lindungi dia.

Diam! Sialan, Bu!

Cukup. Jangan teriak.

Maaf.

Maaf.

Terlalu berat.

Kamu baik-baik saja?

Aku tidak percaya.

Ibu bohong.

- Apa? Kamu gila? - Tidak! Kenapa bilang begitu?

Dia sudah mati.

- Mati? Tidak, dia tidak mati. - Lepaskan aku.

- Martina— - Dia mati, seperti Ayah.

- Jangan bilang begitu. - Jangan. Kakakmu tidak mati.

Tidak.

Dia hanya dipenjara. Percayalah.

Halo?

Panggilan dari lembaga pemasyarakatan.

Halo, Bu.

Halo, Sayang. Bagaimana? Tidurmu nyenyak?

Lebih baik. Sedikit lebih hangat.

Syukurlah. Ibu kangen kamu, Gustavo.

- Sudahlah, Bu. - Kamu tidak tahu rasanya.

- Jangan mulai. - Aku tidak menangis.

Sungguh.

Tadi malam ibu bilang.

Ibu bilang apa?

Ke adik-adikmu.

Kenapa lakukan itu?!

- Mau ibu bohongi mereka? - Ya, seharusnya.

Nih. Bicara.

Halo?

Halo?

- Siapa? - Kakakmu.

Halo.

Gus, itu kamu?

Tidak ada yang jawab.

- Halo, Babi Kecil. - Halo.

Halo, Babi Kecilku.

Kupikir kamu sudah mati.

Iya. Aku hantu dan meneleponmu dari Surga.

Diam, bodoh.

Benar kamu di penjara?

Iya.

Tapi aku baik-baik saja. Jangan khawatir.

- Aku kangen kamu. - Aku juga.

Berikutnya.

Tunjukkan kartu dan ID.

Bawa tas?

Ini tidak boleh.

Ricardo.

Tolong.

- Siapa berikutnya? - Taruh barang di sini.

- Ayo. - Berikutnya.

- Pengunjung. - Adiknya.

- Jeruk tidak boleh. - Tidak boleh? Kenapa?

Pokoknya tidak boleh.

Biru tidak boleh.

- Ini bukan biru. - Tetap. Lepas.

- Ravioli tidak boleh. - Ini sudah dimasak.

Kenapa? Apa-apaan sih, brengsek?

Apa katamu tadi?

Kenapa tidak boleh kalau sudah dimasak?

Apa katamu tadi?

Tidak, Pak.

Ke sana.

Berikutnya.

Anak itu yang mondar-mandir, dia sama siapa?

Ini juga biru. Harus dilepas?

Jangan sok pintar.

- Aku akan bawa mereka. - Tidak.

- Kataku tidak. - Mereka ingin ketemu kamu.

Lihat tempat ini.

Mereka adikmu.

- Jangan bikin tambah susah. - Susah? Serius?

- Menurutmu perasaan mereka gimana? - Aku yang dipenjara.

Kami juga ikut terpenjara.

Sudahlah, Bu.

Bagaimana bisa kamu tidak sadar?

Itu bukan sepatumu?

- Sudahlah. Memang begitu. - Begitu apa?

- Memang begitu. - Begitu apa?

- Ibu ngapain? - Hei.

- Hei! - Bu, sini.

- Anakmu pakai sepatu anakku. - Apa? Enyah! Enyah!

Dia curi sepatu anakku.

Anakku tidak mencuri apa pun, dasar jalang!

- Akan kucabik kepalamu, jalang! - Siapa yang kau sebut jalang?

- Hentikan! - Tenang.

- Berhenti! - Jalang, apa-apaan ini? Berhenti!

- Lepaskan aku! Pencuri! - Dengar aku—

Dasar pencuri! Lepaskan aku!

Berhenti. Lihat aku. Di sini. Tenang.

Ya. Tarik napas.

Kenapa ibu lakukan itu?!

Dengar dia. Dia mengerti. Lihat.

Kamu harus tetap tenang. Mengerti?

Kalau tidak, akan buruk buat mereka. Mengerti?

- Ya, begitu. - Sudah, lepaskan.

Mereka bisa cabut izin kunjunganmu kalau mau,

dan kamu tak bisa kembali berbulan-bulan.

- Kamu mau begitu? - Tidak.

Mengerti? Sudah, lepaskan.

Ya. Tenang. Begitu.

Ya.

- Anda harus pergi, Bu. Dengar? - Tidak, tapi—

- Anda harus pergi. Sekarang. - Ikuti saja. Pergilah.

- Pergi, Bu. - Ambil barangmu dan pergi.

- Pergi. - Ayo.

Hei.

Kamu ke arah mana?

Mau kuantar?

Terima kasih atas bantuanmu.

Jangan dipikirkan.

Lebih baik jangan ikut campur urusan di dalam, tahu?

Demi mereka.

Bisa bikin masalah buat mereka.

Juga buat kita.

Di luar saja sudah cukup masalah, kan?

Dia masih terlalu muda. Sakit rasanya tak bisa bantu.

Muda?

“Nak, nak, itu tandanya sudah dewasa,”

kata nenekku dulu.

Muda? Ah, sudahlah.

Kamu lucu.

Di sini saja. Cukup.

Di sini.

Baik.

Terima kasih.

Kamu menghemat 90 menit perjalananku. Aku bisa cepat sampai rumah.

Aku Andrea.

Kamu?

Aku Marta. Tapi mereka panggil Dua Dua.

- Dua Dua? - Ya, seperti si gila itu.

Pasang nomor itu hari ini. Siapa tahu.

Mungkin aku bawa hoki.

Hati-hati, ya?

Dadah.

Bu.

Bu. Bangun, Bu.

Kita sudah telat sekolah.

- Jam berapa? - Bu.

Jam berapa?

Bu, tolong.

- Bu. - Dia tidak telepon.

- Bu, kita sudah telat. - Kenapa dia tidak telepon?

- Bu, kalau mau— - Diam, Matías! Biar Ibu sedang mikir.

- Tolong, kalau mau— - Ada yang tidak beres.

- Martina. Martina, bangun. - Ada yang tidak beres.

- Halo? - Halo, Emilio.

- Andrea? - Gustavo tidak telepon.

Kok bisa? Tenanglah. Pasti dia—

Jangan suruh aku tenang! Dia selalu telepon jam tujuh!

- Hari ini tidak— - Andrea, tolong.

- Aku kacau kemarin. - Tunggu.

- Aku bunuh diri saja. - Tunggu!

- Aku bunuh diri kalau dia kenapa-kenapa. - Begini saja.

- Aku cek dan telepon balik. - Tolong cek, Emilio.

- Aku harus tahu anakku baik-baik saja. - Selamat pagi juga.

- Anakku, Gustavo Marelo, blok empat. - Hari ini bukan jadwal kunjungan.

Aku tahu. Aku tahu. Tapi anakku tidak telepon hari ini.

- Pasti ada yang terjadi— - Tidak. Dia pasti baik-baik saja.

Dia selalu telepon tiap hari, hari ini tidak. Tolong cek.

- Hubungi pengacaramu. - Katakan dia baik-baik saja, jalang!

- Tenanglah. - Hei! Jaga mulutmu! Dia sudah bilang!

- Ini bukan penitipan anak. Hubungi pengacaramu. - Tolong. Katakan dia baik-baik saja. Aku mohon.

Halo.

Panggilan ini dari lembaga pemasyarakatan.

- Halo, Andrea? - Kamu siapa?

Aku Alejo. Kamu tidak kenal aku. Aku di Ezeiza, sama seperti anakmu.

- Ada apa? Apa yang kalian lakukan padanya? - Tenang, Bu.

Pak Emilio minta aku meneleponmu. Dia juga pengacaraku.

Bagaimana anakku? Ada apa?

Gustavo baik-baik saja, Bu. Tidak terjadi apa-apa.

Oh, terima kasih. Terima kasih.

Kenapa dia tidak telepon?

Tidak bisa.

Besok juga tidak bisa telepon. Kamu akan lihat dia hari Minggu.

Kenapa? Aku tidak mengerti. Dia benar-benar baik-baik saja?

Iya, iya. Sungguh.

Dia hanya ada masalah kecil. Berkelahi.

Dia dipukul? Dia terluka?

Tidak serius. Hal biasa di sini, Bu.

Percayalah.

Sumpah, putramu baik-baik saja.

Dia di sel isolasi.

Itu sebabnya dia tidak bisa telepon.

Jangan khawatir, Bu.

Teknisi bilang masalahnya mesinnya rusak.

Tidak. Masalahnya sinyal tidak sampai ke unit.

Mesinnya baik-baik saja.

- Bisa terbuka. - Jangan dipersulit.

Hei, bisa berhenti?

Kami muak tidak ada solusi.

Dewan pengelola tidak bisa lakukan sesuatu untuk atasi ini?

Semua komentar kalian saya catat.

Sepertinya kita harus panggil teknisi lagi.

Kenapa tidak diperbaiki sejak awal?

Tidak! Itu untuk kakakmu.

Satu saja, Bu. Aku lapar.

Tahan dulu. Sebentar lagi juga makan.

Kenapa cemberut?

Kamu tahu kan!

Baiklah...

Sedang apa, Bu?

- Sudah, sudah. Dia cemburu. - Jangan bela dia.

Dia masih bisa makan. Gustavo tidak.

Baiklah, nanti kubuatkan untuk Gustavo.

Kenapa ibu tidak jenguk?

Dia pasti senang melihatmu.

Tidak. Aku di sini sampai dia bebas. Aku tunggu di sini.

Kalau begitu, lakukan demi dia.

Aku tidak akan injakkan kaki ke sana.

“Tidak akan”?

Iya.

Maaf, Bu.

- Maaf. Aku lelah sekali. - Sudah, sudah.

Aku tahu apa yang kamu rasakan, Sayang.

Tapi jangan lampiaskan ke mereka.

Siapa yang kulampiaskan, Bu?

Kamu terus saja fokus ke Gustavo.

- Dan keras pada mereka. - Luar biasa.

- Kamu tidak peduli pada mereka. - Cukup!

Cukup! Kamu bilang begitu setelah semua yang kau lakukan padaku dulu?

- Aku akan besarkan anak-anakku dengan caraku! - Baik, baik. Aku mengerti.

- Anggap saja aku tidak bilang apa-apa. - Tapi kamu bilang! Kamu bilang.

Sialan.

- Pagi. - Berikutnya.

Ayo, berikutnya.

Siapkan kartu izin.

Hei.

- Ini. - Terima kasih.

- Ayo, Martina. - Silakan duduk.

- Hei, Coca. - Apa?

- Biarkan anak itu duduk. - Tidak.

- Tidak apa-apa. Ya. - Tidak perlu.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Ini Martina. Ini Dua Dua.

Apa kabar, Martina?

- Cantik sekali kamu. - Terima kasih.

Mau kuantar?

Mana mungkin aku menolak?

- Ada apa? - ibu membawa semua.

Ya, mereka ingin melihatmu. Lihat matamu.

Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.

- Hai, Babi Kecil. Apa kabar? - Apa kabar, Gus?

- Kamu lebam! Kenapa? - Ada apa dengan matamu?

Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.

- Senang sekali kalian di sini. - Gustavo, ada apa?

Sudahlah, Bu. Sudah beres.

Jangan bawa barang mewah lagi.

Jadi? Apa yang kamu bawa?

- Banyak. - Permisi.

- Ayo makan. Aku lapar. - Kamu pengunjungku?

- Aku Alejo. - Alejo.

Apa kabar?

Senang bertemu.

- Terima kasih atas bantuanmu. - Kalian sudah kenal?

Ibu putus asa ingin kabar darimu dan dia yang telepon.

Pak Emilio juga pengacaraku.

Dia minta aku tanyakan kabarmu, dan aku telepon ibumu. Alejo. Hai.

Kita belum pernah bicara, kan?

Ya.

Aku tahu siapa kamu.

Bagaimana matamu?

Baik.

Aku Gustavo.

Ini Mati dan Martu, adik-adikku.

Mantap! Bagus sekali kalian jenguk kakak.

Selamat, ya.

Bagaimana... Aduh, berhenti! Sakit, He-Man.

Kamu kuat sekali. Lepaskan.

Wow!

Bu, apa kabar? Tolong lebih lembut dari kakakmu. Halo.

Senang bertemu. Apa kabar? Baik? Senang?

- Iya. - Senang lihat dia?

Dia baik-baik saja. Jangan khawatir.

Jaket bagus. Itu awan?

Bukan, domba.

Domba! Oke. Senang bertemu.

Anak-anakmu kuat sekali, ya?

Ah! Aku...

Cuma...

sesuatu yang sepele untukmu sebagai terima kasih.

Wah, berat juga.

- Schnitzel. - Kamu vegetarian?

Tidak.

Tentu saja tidak.

Anak-anak pasti senang. Terima kasih.

- Akan kubagi. - Sama-sama.

Kamu tidak punya meja?

- Tidak. - Tidak, tapi di sini juga cukup.

Tidak, tunggu di sini. Aku cari meja.

- Tidak usah. - Santai saja.

- Tuco. Permisi. - Ya?

Aku ada tamu tapi tidak punya meja.

Bantu aku. Bisa pinjam salah satu?

- Sekolah bagaimana? - Baik. Benar.

- Nacho, geser sedikit. - Ya.

Nenek bagaimana?

- Baik. - Ya?

Nah, terima kasih, Bro.

- Permisi, kursi ini kosong? - pakai saja.

Makan panettone, yuk?

- Lihat wajahnya. - Baiklah.

Mereka izinkan aku bawa obat untuk Ibu. Dia harus minum.

Kadang obat sama sekali tidak boleh.

Ibumu kelelahan.

Semua kebutuhanmu

keluar dari kantong dan kerja keras kami.

Jadi kamu harus kuat dan bertahan.

Ini bukan yang kita sepakati. Kamu terus berubah-ubah.

- Tidak. - Aku berusaha membantumu.

- Kamu bisa pesta sampanye. - Tidak. Hentikan.

- Kalau kamu baik-baik saja, aku juga, Bu. - Aku tahu, Nak. Terima kasih.

Ayo, dong.

Pengadilan lambat, tapi mereka bilang akan beri kita kesempatan.

Mereka akan beri kamu kesempatan.

Dia tanya kamu setiap hari, tahu?

- Aku tidak tahu harus bilang apa. - Baiklah.

- Maksudmu “baiklah”? - Aku coba. Aku tidak tahu, Bu.

Aku jagakan dia untukmu, bertahan...

Kenapa kamu menangis?

Aku tidak bisa bolos sekolah tiap hari.

- Tapi kamu bisa jenguk aku. - Aku tidak bisa ke sini.

Dua hari. Satu hari.

Aku tidak bisa... Baik, begini saja.

Akan kubelikan kartu telepon,

kamu telepon ibumu

dan minta dia bantu aku jemput Clarita dari sekolah.

- Tolong. - Aku tidak tahu Ibu bisa jaga dia.

- Dia sudah tua. - Aku tidak bisa lakukan semua sendiri.

Aku harus kerja.

Kenapa kamu di sini?

- Martu. - Apa?

- Jangan tanya itu di sini. - Kenapa?

Hei, si penasaran. Jangan sekarang.

Maaf.

Tidak apa-apa.

Tahu tidak, Martu?

Ada hal-hal yang tidak suka kami bicarakan.

Tapi kita bisa bicara hal-hal indah.

Kamu kerja?

Hah?

- Tidak. - Kamu kelas berapa?

- Kelas tiga. - Kelas tiga, bagus. Kamu?

- Aku? Kelas tujuh. - Wah, sudah besar!

Mau schnitzel?

Dia sudah besar sekali.

Ayo, Sayangku.

Kamu perming rambut!

Hanya dia yang sadar!

- Siapa mau yang lebih kuat? - Aku!

- Baileys? - Tidak...

Terima kasih.

- Sudah setahun aku tak lihat mereka. - Kamu, Andre?

- Bagaimana? Anak-anak? - Sudah besar.

Kamu tidak akan percaya apa kata Martina kemarin.

"Aku tidak mau sekamar lagi, aku butuh privasi."

- Umurnya delapan! - Serius?

Cepat sekali mereka besar.

- Bersulang! - Untuk masa lalu!

- Bersulang!

Habiskan? Tidak, aku harus nyetir.

Bagaimana Gustavo?

Baik. Ya, sedikit malas. Kamu tahu...

- Umur segitu memang begitu. - Semua begitu.

- Ya. - Biasa remaja.

Kamu?

Andre.

Kami tahu.

Apa?

Kamu bisa percaya kami.

Serius. Kami di sini untukmu.

Baik, ya.

Kalau kalian tahu, aku akui.

Gustavo di penjara.

- Tuduhannya apa? - Tidak, jangan.

Aku tidak mau bahas itu.

Jangan salah paham. Kami tahu betapa sulitnya.

Membesarkan anak sendirian, tanpa sosok ayah.

Pasti berat sekali mengawasinya.

Kenapa kamu tidak mau cerita?

- Ini alasan kalian mengundang ku? - Tidak, tidak.

Tidak, Andre.

Mari bilang kalian bertemu dan kami dengar kabarnya.

Tapi tak satu pun dari kalian telepon aku.

Tidak ada.

Andre, itu tidak penting. Ceritakan keadaanmu.

Kami pikir baik kalau tahu, kan?

- Tentu. - Ya.

Untuk apa?

Aku merasa seperti diadili.

- Tidak, Andre, jangan begitu. - Tidak. Kami ingin bantu. Lihat.

Kami patungan dengan ibu-ibu sekolah

yang marah dengan apa yang terjadi padamu.

- “Ibu-ibu sekolah”? - Ya.

Dari sekolah? Bagaimana...

Ini daftar ibu-ibu dan jumlah yang mereka sumbang.

Kalian pikir siapa?

kalian buka aib anakku tanpa telepon aku dulu?

- Tidak mudah bagi kami. - Apa maksudnya?

- Ini, Andrea. - Maksudmu aku?

Aku?

Kalian pikir hal ini tak mungkin terjadi pada kalian?

Halo?

Panggilan ini dari lembaga pemasyarakatan.

Halo, Andrea. Aku Alejo.

Alejo, ada apa dengan Gustavo?

Tidak ada. Dia baik-baik saja. Tenang, semua baik.

Aduh, aku takut.

Dasar penakut.

Mau bagaimana? Aku memang penakut

Aku telepon karena... ingin bicara.

Bicara?

Ya.

Bicara.

Kamu punya anak perempuan, kan?

Ya. Kok tahu?

Kemarin kamu bersumpah demi dia.

Ah. Ya, ya. Benar.

Iya.

Umurnya 12.

- Namanya siapa? - Yamila.

Kamu sering ketemu?

Tidak. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak lihat.

Serius?

Ibunya tidak izinkan?

Neneknya. Ibunya sudah lama meninggal.

Kamu yang bunuh?

Tidak, tidak!

Tunggu.

Tunggu. Tidak, tidak.

Dia meninggal karena gaya hidup kami.

Kami saling mencintai, tapi dia kecanduan narkoba.

Aku selamat, dia tidak.

Turut sedih.

Tidak, jangan khawatir.

Aku bukan pembunuh, oke?

Aku pencuri.

Tapi hanya pekerjaan.

Syukurlah.

Iya. Betul.

Bagaimana mereka tahu?

- Tidak kelihatan apa-apa. - Putar lagi.

Pause.

Tidak kelihatan apa-apa!

Kosong.

Aneh, ya.

Itu tidak bisa jadi bukti

kalau dibandingkan dengan satu kesaksian.

Jaksa pakai hasil pengenalan polisi,

di mana ada yang mengenali Gustavo.

Lihat, salah satu saksi yang mengenali dia

bilang, dia yang menyetir mobil.

Dia bilang,

"Geng Eusebio Elías Santillán terdiri dari Florencio Jiménez..."

Bla, bla, bla. Ini.

"Anak muda yang menyetir mobil adalah Gustavo Marelo, alias Preppy Kid."

- Apa?! - "Dia di kursi pengemudi."

Saya sarankan beli ini, karena lebih awet

dan tidak cepat pudar.

Berapa?

Ambil tiga, bayar dua.

- Baiklah. Akan kupikirkan. - Oke. Bagus.

- Hai, apa kabar? - Selamat siang.

Kamu ingat aku?

Ya, sepertinya.

Waktu itu kamu tanya apakah aku ibunya Preppy Kid.

Aku cari Santillán.

Aku tidak kenal Santillán.

Aku tahu kamu kenal.

Dan aku harus bicara dengannya.

Di mana bisa kutemui?

- Namamu siapa? - Andrea.

Dengar, Andrea.

Saran saja.

Jangan sembarangan tanya soal orang itu.

Katakan di mana bisa kutemui.

Halo.

di mana Carlos?

Di dekat jendela.

Carlos?

Aku ibunya Preppy Kid.

Aku cari Santillán.

Ini soal anakku.

Untuk apa?

Anakku dipenjara gara-gara dia.

Aku harus bicara dengannya.

Duduk. Tunggu.

Berikan aku telepon.

Ibunya Preppy Kid ada di sini.

Dia mau ketemu.

Baik.

Ikut aku.

Ayo.

Cepat.

Ayo. Ikut aku.

Masuk.

Masuk.

Kubilang masuk!

- Mau dibawa ke mana aku? - Tundukkan kepala.

- Kenapa? - Kataku merunduk!

Apa ini? Kita ke mana?

Kenapa kau cari Santillán?

Sudah kubilang, soal anakku.

Sekarang merunduk dan diam.

- Jangan sakiti aku! Aku punya tiga anak. - Diam, jalang!

Jangan angkat kepala.

Mengerti? Kami mengawasimu.

Jangan lihat aku.

Apa yang mau kau bicarakan?

Anakku terjebak dalam sesuatu yang kau lakukan.

Dan aku tahu dia tidak bersalah.

Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku mau dia bebas sekarang.

Bu,

Preppy Kid anak baik.

Dia dari keluarga baik-baik.

- Dari mana kau tahu anakku? - Tenanglah!

Lebih baik kita bicara dengan tenang.

Kamu ibu yang baik.

- Jangan khawatir. Akan kuurus. - Tidak! jangan!

Bu.

Aku hanya akan bilang sekali.

Jadi dengarkan baik-baik.

Kamu dengar?

Kalau kamu begini, tidak akan menyelesaikan apa pun.

Kamu harus sabar.

Anakmu paham betul situasinya. Percayalah padanya seperti kami percaya.

Dia berkelakuan baik, jadi tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa padanya.

Apa maksudmu?

Anakmu akan dapat kesempatan lagi, tapi kita harus selesaikan ini dulu.

- Kamu tidak akan lihat anakku lagi! - Bu!

Kita harus selesaikan ini dulu, mengerti?

Sekarang keluar.

- Apa? - Keluar!

Bebaskan anakku.

- Bebaskan dia. Aku mati kalau tidak. - Keluar dari mobil!

Baiklah.

Halo, Andrea. Ini Bárbara.

Aku tidak tahu apa yang terjadi,

kamu menghilang tanpa kabar, tidak angkat telepon,

melewatkan janji dengan klien.

Aku tidak bisa menutupimu lagi.

Aku tidak tahu cerita soal ibumu benar atau tidak, tapi aku turut prihatin.

Pesan ini untuk memberitahumu

besok kamu akan menerima surat pemutusan kerja.

Kuharap beruntung. Dadah.

Halo, Andre. Aku sudah bicara dengan jaksa.

Dia bilang kita bisa hindari sidang

kalau Gustavo beri informasi tentang Santillán.

Kamu harus bicara dengannya. Telepon aku kalau bisa, ya?

Kamu punya satu kesempatan untuk jujur.

Tentang apa?

Berhenti bohong, Gustavo.

Katakan kenapa kamu di sini.

- Mau aku bilang apa? - Yang sebenarnya.

- Ibu tahu. Serius? - Berhenti bohong!

Ibu bertemu Santillán kemarin.

Preppy Kid.

Mati saja di penjara.

Mati sendirian di sini, bajingan.

Maaf, Bu, dari lubuk hatiku.

Ibu berhak marah, tapi jangan ikut campur.

Siapa kamu?

Siapa kamu, Gustavo?

Aku sayang Ibu.

Jangan pergi.

Hei, jangan sedih.

Ke rumahku saja, jangan sendirian.

Tidak bisa. Aku harus lihat anak-anakku.

Aku tahu rasanya.

Kamu pulang...

kamu akan depresi.

Tahu berapa kali aku begitu?

Ayahku dipenjara.

Begitu juga mantanku.

Sekarang anakku.

Riwayat hidup yang hebat, ya?

Ayo ke rumah. Bisa bantu aku.

Dia juga diundang ke ulang tahunmu?

Itu bagus untukmu.

- Aku? - Bagus juga untuk kita semua.

Yang ini? Atau yang ini?

Itu dia. Tepuk tangan untuk Lautaro. Ucapkan salam ke penonton.

Beberapa detik saja.

Ya! Tepuk tangan untukmu.

- Aku harus nyetir nanti. - Ah, siapa peduli?

Bersulang.

Habiskan. Begitu.

Selamat ulang tahun untukmu!

Nah, begitu! Bagus!

Dengar, Nak. Dengar baik-baik.

Rasa sakitmu sudah selesai. Kamu baik-baik saja. Kamu tak bisa ubah itu. Sudah lewat.

Tapi penderitaan...

itu pilihan.

- Bagus tuh. - Bagus?

Itu moto hidupku. Bersulang.

Lihat.

Sandro! Aku cinta dia. Aku suka banget.

Lihat? Dia memang jago.

Sudah bangun?

Apa yang terjadi?

Kamu minum dan menari.

- Aku tidak ingat apa-apa. - Sudahlah.

Kamu bahagia. Gigimu bagus saat tertawa.

Coba tunjukkan. Bagus sekali.

Aku menari segila itu?

Kepalaku sakit sekali.

Kamu muntah-muntah.

Tapi sudah dicuci. Sebentar lagi kering.

- Maaf. Aku tak seharusnya minum. - Kenapa bilang begitu? Tak apa.

Sudahlah.

Kita semua bisa kacau sesekali. Duduklah.

Selamat datang di klub.

- Mate? - Tidak, ah.

- Air saja. - Oke.

Bagus. Air bagus untuk menghilangkan mabuk.

Nih, minum.

- Kamu kenapa? Jangan. - Tidak. Santai.

Tidak. Ini.

Lampu sudah nyala. Siap.

Halo, selamat malam. Maaf kami datang begini.

Kamu Vanina?

- Siapa kalian? - Halo, senang bertemu.

Kami ingin bicara denganmu tentang cucumu, Yamila.

Kami ingin bantu agar dia bisa bertemu ayahnya.

- Dia masih di penjara? - Ya.

Itulah kenapa kami ingin membantu. Agar si kecil bisa lihat ayahnya.

- Dia yang suruh kalian? - Tidak. Dia tidak tahu kami di sini.

Kami datang sendiri. Kami ingin beri kejutan.

Cucuku bukan “kejutan.”

Tidak, Bu, Anda... Anda salah paham.

- Maaf. - Sudahlah.

- Tunggu. Dia salah paham. - Jangan dipaksa.

Bu! Maafkan saya...

Dua Dua.

Apa yang kau lakukan?

Bu, saya minta maaf. Anda salah paham.

Bu, saya mengalami hal yang sama dengan Anda.

Saya paham Anda marah. Dan mungkin Anda benar.

Yang di dalam, dan kami di luar,

butuh bertemu keluarga.

Pergi! Kami tidak mau berurusan dengan dia!

- Nek, aku ikut. - Ke mana?

- Aku dengar mereka. - Anak itu.

- Mau ke mana? - Mereka bicara soal Ayah.

- Itu dia datang. - Tidak, aku harus pergi.

Nek, jangan larang aku!

Itu bukan ayahmu, itu ayahku. Sudah, Nek!

Yami. Hai. Apa kabar? Aku Andrea. Ini Dua Dua.

- Hai. - Apa kabar?

- Kamu kenal Ayahku? - Ya.

Kamu beruntung. Aku tidak ingat apa-apa tentang dia.

- Mau jenguk dia? - Tidak akan!

Nek, sudahlah! Cukup!

- Dia mau lihat aku? - Tentu.

Dia bicara tentangmu tiap hari.

Pembohong besar.

Dia bahkan tidak kenal aku. Tidak tahu siapa aku.

Yah... dia penasaran...

Dia penasaran seperti apa rambutmu.

Seperti apa dirimu.

Aku tidak tahu... Kalau suatu hari kamu mau panggil dia Ayah.

- Atau apa pun. - Jadi dia bodoh.

- Hai. - Apa kabar?

Apa kabar, Yami? Aku Alejo.

Kamu ingat aku?

Hai, Bu.

Ini untukmu. Berikan punyamu.

Ibu masih marah?

Terima kasih, Bu.

- Sampaikan salamku ke Adik-adik. - Baik.

Waktu kunjungan habis. Masuk lagi.

Dadah, Yami.

Andre!

Hei, terima kasih bantuanmu.

Hatiku lega sekali.

Setelah semua yang kau lakukan untukku, itu hal paling kecil yang bisa kulakukan.

Tidak, itu hal terbesar yang kau lakukan.

Kalau kamu sendiri?

Aku belum bisa terima.

Dia juga hancur.

Hei, jawab satu hal.

Apa yang membuatmu marah? Karena dia bohong atau karena dia penjahat?

- Karena dia pencuri. - Kalau aku?

- Aku juga di sini karena mencuri. - Tapi aku bukan ibumu.

Ya, benar. Tapi kenapa kamu di sini?

Karena dia anakku.

Tuh kan? Jawabannya di situ. Kamu tidak akan memaafkannya?

Ayo. Waktu kunjungan habis. Selesai.

Dia melindungimu.

Kalian saling menjaga. Memang begitu jalannya.

Terima kasih.

29 November, mereka memindahkannya ke penjara terburuk.

Dan di situlah ujianku dimulai.

Aku tidur di bangku semen di luar penjara.

Aku bertahan karena mau, karena dia butuh beberapa barang.

Aku ingat jam enam sore ada gadis lewat, habis belanja.

Mereka bilang, “Bu, ngapain di sini?”

“Aku tidak kenal siapa pun,” kataku. “Aku tidak kenal siapa pun. Mau ke mana?”

Mereka bilang, “Tidak, ikut kami.”

Mereka masak semur banyak sekali.

semur terenak yang pernah kumakan. Di luar dingin sekali.

Aku tidak bicara dengan siapa pun.

- Kenapa? - Tidak tahu.

Karena aku marah harus pergi ke penjara.

Aku tidak percaya lagi pada keadilan.

Keadilan itu tidak ada.

Hari itu badai besar.

Jam empat pagi. Aku tidak tahu ke mana ambil nomor antrean.

Aku masuk dan melihat keluarga tergeletak di lantai, basah kuyup.

Aku seret tasku karena terlalu banyak.

Aku masuk dengan bayiku, dan suamiku membuat...

Dia membuat ranjang dari selimut, dan si kecil tidur sepanjang kunjungan.

Mereka ingin jadi penentu apakah kamu bisa lihat keluargamu,

dan apakah mereka boleh lihat kamu.

Lalu kamu merasa bersalah dan berpikir, “Apakah aku salah?”

Rasanya seperti hukuman ganda.

Kerabatmu dipenjara,

dan kamu harus menanggung pemeriksaan dan kunjungan.

Permisi.

Aku mau bilang sesuatu.

Terima kasih bantuan kalian.

Dan terima kasih, Nek, sudah izinkan aku datang.

Iya, Sayang. Tentu.

Melihat Ayah bikin aku senang.

Sekarang dia punya wajah.

Kamu tahu?

Tentu, Sayang.

Dia juga senang melihat kamu.

Benarkah?

Iya.

Aku tidak tahu...

Terima kasih, kalian.

Terima kasih banyak.

Ngobrol dan mendengar kalian...

Aku ingat ada yang bertanya

apa yang penjara ambil dariku.

Wah, pertanyaan berat, ya?

Masing-masing pasti punya jawabannya

untuk pertanyaan itu.

Aku berpikir

penjara mengambil setengah hidupku.

Hari-hari, aku bangun dan berkata,

“Kita kuat. kumpulkan tenaga. Semua akan baik.”

“Aku harus menjadi sandaran Damián di sana

dan Fausto, yang masih kecil,

tidak pantas punya Ibu yang terus menangis."

Kadang itu sangat berat.

Halo.

Panggilan ini dari lembaga pemasyarakatan.

Halo, Andrea. Aku Alejo.

Halo, Alejo. Aku tahu itu kamu.

Bagaimana Gustavo?

Dia baik-baik saja. Dia takut meneleponmu.

Dia bodoh. Bodoh sekali.

- Kamu masih di sana? - Iya.

Iya. Aku di sini.

Sepertinya hari ini tak banyak yang bisa dibicarakan.

Aku punya banyak hal untukmu,

tapi aku takut.

Takut apa? Kamu bercanda?

Tidak, sungguh. Entahlah. Kata-kata mudah keluar saat bercanda.

Untuk bilang apa yang kurasakan...

Aku juga begitu.

Tapi aku suka.

Apa?

Tahu kamu ada di sana.

Boleh kita tetap begini?

Terima kasih, Bu.

- Selamat pagi. - Hai.

Selamat datang! Apa kabar?

Sayang, lihat ruang tamunya besar sekali.

Iya.

Rumahnya cantik sekali. Luas.

Banyak cahaya juga.

Kayunya bagus sekali.

Aku dan suamiku yang buat. Sama meja dapur.

Ada kamar dengan kamar mandi dalam, dan halaman belakang.

Lantainya baru saja direnovasi.

- CD lagi? Di mana? - Di atas!

Nanti saja ambilnya.

- Jangan, itu berat. Taruh saja. - Tapi nanti aku—

- Andre, enak sekali ini. - Benar?

- Makan satu-satu. - Baik.

Aku cukup dengan ini. Sisanya biarkan.

Bagaimana cara keluarkan ini?

- Ayo. - Hati-hati tangganya.

Hati-hati tangganya.

- Dorong. - Tidak muat lewat sini.

- Putar. - Hati-hati kainnya. Jangan sobek.

Bisa lewat?

- Bisa. - Ya, ayo.

- Ayo. - Hati-hati. Ada furnitur di belakang.

Jaga lantai kayu, kalau tidak ibuku marah.

Nah.

Bagus sekali! Berhasil!

- Ayo, Girls. - Kami lihat-lihat dulu.

Lihat. Dekornya cantik sekali. Kami datang.

Andrea, di mana teko?

Mari minum mate.

Hai.

Hai.

Aku bawa kue tart.

Terima kasih.

Maaf. Ini tidak seperti yang direncanakan.

Tidak, aku tahu.lakukan ini saja.

Bicarakan dengannya. Mungkin bisa kita selesaikan sekarang.

- Jangan buang waktuku lagi. - Ya. Beri aku sepuluh menit.

Apa yang terjadi?

- Dia tidak ambil kesepakatan. - Kenapa?

Kamu diam saja?

Kenapa tidak mau tanda tangan?

Kalau iya, mereka akan mengejar Santillán dan kita melewati sidang.

- Ibu tidak mengerti. - Aku tidak mengerti?

Gustavo, kita tidak akan dapat kesempatan seperti ini.

Sudah kubilang, aku urus dengan caraku.

Tolong keluar.

Jangan lihat dia! Kubunuh kau!

Tanda tangan sekarang, akhiri ini, demi Tuhan!

Berhenti cerewet, Bu!

Sudah kubilang, aku lakukan dengan caraku. Jelas sekali.

Aku siap.

Siapa lagi di ruangan ini yang terlibat?

Catat dalam berita acara

bahwa Tuan Sebastián Paredes mengangkat tangan.

Kamu kenal Gustavo Marelo.

Preppy Kid itu bukan siapa-siapa.

Dia tidak pernah tahu apa yang kami lakukan.

Dia hanya mengantar kami seperti sopir taksi. Mengantar dan menjemput.

Seperti sopir taksi.

Sopir taksi. Bagus itu.

Dia bagian dari geng. Kamu tidak bisa menyangkal.

Ada rekaman yang membuktikan.

Ya. Seperti kubilang, dia hanya mengemudi. Dia tidak tahu apa yang kami lakukan.

Dia bukan siapa-siapa.

Kamu menyatakan bahwa Gustavo Marelo

tidak ikut dalam kegiatan kalian.

Jadi dia tidak pernah tahu apa yang kalian lakukan?

Tidak sama sekali.

Dia hanya ambil bagiannya.

Karena, maaf, Yang Mulia,

dia pasti ketakutan setengah mati.

Aku tidak akan percaya pada anak polos dan mempertaruhkan kelompok.

Tuan Pérez, apakah Anda kenal seseorang bernama Santillán?

Siapa?

Apakah Anda kenal Eusebio Elías Santillán?

Tidak. Belum pernah dengar.

Pernahkah Anda melihat yang mencurigakan saat mereka masuk mobil?

Tidak.

Tidak pernah, jujur.

Mereka selalu terburu-buru. Aku tidak berpikir mereka kabur.

Tidak sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa berakhir di penjara.

Tuan Marelo, apakah Anda kenal Eusebio Elías Santillán?

Tidak.

Aku belum pernah dengar nama itu.

Setelah musyawarah, pengadilan memutuskan.

Pertama,

menjatuhkan hukuman pada Florencio Jiménez, alias Pecho,

sesuai identitas dalam berkas perkara,

tujuh tahun penjara, serta membayar biaya pengacara dan biaya pengadilan,

atas keterlibatan komplotan perampokan, dengan senjata,

di area penduduk sebagai bagian dari geng.

Kedua,

menjatuhkan hukuman pada Sebastián Montes, alias Chino,

dan Ignacio Matildo Pérez,

sesuai identitas dalam berkas perkara,

lima tahun penjara, serta membayar biaya pengacara dan biaya pengadilan,

atas keterlibatan perampokan, dengan senjata,

di area penduduk sebagai bagian dari geng.

Ketiga,

menjatuhkan hukuman pada Gustavo Marelo, alias Preppy Kid,

sesuai identitas dalam berkas perkara,

dua tahun penjara bersyarat serta membayar biaya pengadilan

atas keterlibatan sebagai kaki tangan perampokan bersenjata

di area penduduk dan bagian dari geng.

Mohon izin, Yang Mulia.

Karena klien saya mendapat hukuman bersyarat dan tidak punya catatan kriminal,

saya mohon pembebasan dirinya.

Segera.

Pembela benar adanya,

maka pengadilan menyetujui pembebasan segera Gustavo Marelo,

efektif setelah sidang ini berakhir.

Catat dalam berita acara, Panitera.

Cukup.

Gustavo, kamu bisa pulang sekarang.

Terima kasih.

Sudah selesai!

Sudah selesai, Sayang.

- Sudah selesai. - Semua akan baik-baik saja.

Sudah selesai. Sudah. Sudah.

Aku rindu kamu.

Aku juga rindu.

Gus!

Hai.

- Hai! - Babi Kecil.

Hai, Pendek.

- Apa kabar? - Baik.

Hai.

Panggilan ini dari lembaga pemasyarakatan.

Halo.

- Halo, Ale. Kamu dengar? - Ya, tentu. Itu sebabnya aku telepon.

Selamat, ya.

Terima kasih banyak.

terima kasih atas semua yang kau lakukan untuknya.

Tidak perlu begitu.

Kamu sudah banyak lakukan untukku, aku berutang padamu.

Kamu gila.

Andre, aku telepon untuk pamit.

Apa?

Iya. Kita akhiri di sini. Jangan kembali.

Oke? Lebih baik begini. Percayalah.

Kamu harus lepaskan ini.

Sudah waktunya kamu kembali ke hidup normalmu.

Aku tidak mengerti. Lepaskan apa?

Aku bebaskan kamu.

Oke?

Terima kasih yang kau lakukan untuk putriku.

Semoga hidupmu indah. Dadah.

Tunggu. Tunggu.

Enak sekali, Bu.

- Enak, Nek. - Terima kasih.

Besok Andrea yang masak.

Tidak. Gustavo saja. Kami sudah buat schnitzel untuknya

ANDREA TERUS MENGUNJUNGI ALEJO SELAMA 14 TAHUN. MEREKA MENIKAH DAN PUNYA SEORANG ANAK.

PADA 2019, ALEJO BEBAS, DAN MEREKA MASIH BERSAMA HINGGA KINI.

ANDREA TERUS MEMPERJUANGKAN HAK KELUARGA PARA TAHANAN.

BERSAMA CLAUDIA CESARONI DAN PEREMPUAN LAIN,

IA MENDIRIKAN ORGANISASI ARGENTINA KELUARGA TAHANAN (ACIFAD),

DAN TURUT MEMBENTUK JARINGAN LATIN AMERIKA DENGAN TUJUAN YANG SAMA (RIMUF).

KELUARGA PARA TAHANAN

HINGGA DESEMBER 2024,

ANDREA MENJADI SALAH SATU ANGGOTA LATIN AMERIKA

DI KOMITE PBB UNTUK PENCEGAHAN PENYIKSAAN.

UNTUK KEPERLUAN DRAMATIS, KARAKTER GUSTAVO DIGAMBARKAN TERHUKUM.

DALAM KEHIDUPAN NYATA, PUTRA ANDREA CASAMENTO TIDAK BERSALAH.

PARA PEREMPUAN YANG BERPERAN SEBAGAI "PEREMPUAN DALAM ANTREAN"

ADALAH "PEREMPUAN DALAM ANTREAN" DI KEHIDUPAN SEBENARNYA.

Rasa sakitmu sudah selesai. Kamu baik-baik saja. Kamu tak bisa ubah itu. Sudah lewat.

Tapi penderitaan

adalah pilihan.

- Bagus itu. - Bagus?

Itu moto hidupku. Bersulang.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.