Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Siapa, ya?
Ya ampun. Astaghfirullah.
Selamat ulang tahun, Kenara Cahyaningrum.
Udah tahu gue, lo cuman alasan aja.
Ada acara di kampus, 'kan?
Padahal kan lo bukan panitia.
Ya, habis mau gimana lagi?
Kalo gue balik, Raka nyamper-nyamperin gue.
Dia udah nyelingkuhin lo, selingkuhnya sama sahabat lo sendiri,
masih aja gak tahu diri.
Kasihan sohib gue, jadi trauma mau ke Jakarta.
Trauma nari lagi.
Tapi, ya, Nar, tahun ini sepi, loh, kosan.
Tadi gue lewatin lorong,
beberapa kamar itu lampunya udah pada mati.
Lo gak mau ikut gue balik aja?
Harusnya lo tahu, sih, kampung gue. Namanya Desa Kelawangin.
Kayak pernah dengar.
Dulu itu banyak banget penari yang lahir di kampung gue.
Tapi sekarang makin jarang.
Daripada lo di sini, ngegalauin si Raka.
Apaan, sih?
Udah ah, gue mau masuk. Ngantuk.
Nar, tapi besok temenin gue beli oleh-oleh, ya?
- Iya, gampang. Dah. - Dah.
Ini dua. Sama bakpianya kali, yah, Bu.
- Bakpianya ada rasa apa aja, Bu? - Rasa cokelat ada.
Ini.
Boleh, cokelatnya satu.
- Ayu, aku ke sana dulu, ya? - Ya.
Cokelatnya satu, kejunya dua.
Buat kamu, Nak.
Selendang ini sudah memilih tuannya sendiri.
Siapa pun yang terpilih oleh selendang itu,
bakal terikat selamanya.
Begitu, Nak.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Ayo. - Lihat, deh.
- Masa gue dikasih ini. - Dari siapa?
Tuh, dari nenek-nenek yang jual di toko barang antik gitu.
Katanya ini selendang udah milih gue sebagai tuannya.
Gue juga dikasih ini, nih.
Nar, horor banget, sih.
Lo jangan asal nerima barang yang dikasih sama orang-orang gak dikenal.
- Lo gak percaya? Ayo ikut gue. - Udah. Gak usah. Udah, yuk.
Apa?
Kelawangin.
Ayo. Ayo, silakan.
Kelawangin.
- Ayo. Kelawangin. - Bu, ayo! Bu!
- Ayo! - Bu…
Sudah sampai Kelawangin.
Ayo, Nar. Aduh hujan deras gini, sih.
Ayo, Nar.
Iya.
- Ayo, neduh dulu, yuk. - Apa?
Neduh dulu. Ayo.
Duh.
Deras banget.
Nar, nanggung. Udah basah juga.
Dekat, kok, di situ. Ayo.
Nar, ayo.
Iya.
Ayo.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Anakku datang.
Bu.
Masuk, Nar.
Ini temannya Ayu, Bu.
Namanya Kenar.
Kenar.
Ini aku, Tante.
Namanya bagus.
Kamu ini, loh. Kok ujan-ujanan, sih?
Bukannya neduh dulu, loh.
Nanggung, sampe depan hujan soalnya.
Aduh.
Bu, aku bawain oleh-oleh untuk Bapak sama Ibu.
Ngerepotin, loh. Terima kasih.
- Nak. - Pak.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Basah-basahan kamu. - Iya, Pak.
Pak, ini Kenar, temannya Ayu.
Kenar, Om.
- Ya udah, mandi sana. - Iya, Pak.
Astaghfirullahal'adzim.
Udah, mandi dulu. Ibu buatkan air hangat, ya?
- Terima kasih, Bu. - Ayo, Pak.
Ayo, Nar.
Ayo, Nar.
Aduh.
Handuk, ya? Bentar.
Nar, sori, ya, soal sikap aneh bokap gue tadi.
Lo belum ngomong, ya, kalo mau bawa teman?
Udah. Udah bilang ke nyokap. Pasti juga udah disampein.
Tapi, ya…
Gue emang gak pernah bawa teman, sih, ke rumah.
Jadi, baru gue doang?
Iya.
Dulu teman SMA gue gak ada yang mau main ke rumah.
Kan gue juga udah pernah cerita,
gue gak punya banyak teman.
Iya.
Nak, mandi dulu.
Yuk, airnya udah siap.
Iya, Bu.
- Sisain. Jangan dihabisin, ya. - Iya.
Ada apa, Pak?
Ayu?
Ayu?
Ayu?
Itu bukan kamarnya Ayu.
Om, tadi…
Iya, Om.
Maaf.
Bokap gue tuh emang ngeselin.
Jangankan sama lo, sama gue juga begitu.
Dulu waktu gue SMA tuh,
gue gak boleh pacaran.
Katanya masih kecil.
Sekarang udah kuliah pun tetap gak boleh tuh.
Ya, kalo itu, sih, ada benarnya juga, Yu.
Gue juga nyesel pernah pacaran.
Ujung-ujungnya malah sakit hati.
Ya, setidaknya kan lo pernah senang-senang,
bahagia karena lo udah ngerasain jatuh cinta.
Ya, tapi mana ada, sih, Yu, orang yang siap kehilangan,
apalagi dengan cara yang nyakitin.
Jadi, ya, mungkin bokap lo tuh gak pengen lo sakit hati nanti kayak gue.
Ya, gak usah pacar-pacaran.
Lagian,
gue bisa lihat, kok, sebenarnya bokap lo tuh orang baik.
Ya, 'kan?
Yu.
Malah tidur.
Yah… Baterai lemah.
Siapa pun yang terpilih oleh selendang itu,
bakal terikat selamanya.
Aduh.
Astaghfirullah.
Om…
Habis dari dapur, ambil ember.
Kamarnya Ayu bocor, Om.
Permisi, Om.
Sampai mati dipisahkan.
Bu.
Aku mau ngajak Kenar jalan-jalan sebentar, ya.
Ya udah.
- Hati-hati. - Iya.
Hei.
Lo kan penari.
Jadi, gue mau ngajak lo ke sanggar tari di sini.
- Kenapa, sih? - Nak…
Iya, Pak.
Lo kan bermasalahnya sama cowok selingkuh, bukan sama yang nari.
Ya, tapi kan tetap aja, selingkuhnya kan sama penari juga.
Gak ada hubungannya.
- Mbak Ayu. - Iya, Bu.
Nar, ayolah.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Hai. - Mbak Ayu.
Mbah sehat?
Baik, 'kan, kabarnya, Yu?
Ini temanku dari Jakarta.
Namanya Kenar.
Mbah.
Kenar.
Ini Mbah Sarti, pengajar di sanggar tari sini.
Kalo ini Mas Dirja, pemain Saron, idolanya cewek-cewek di sini.
- Dirja. - Kenar.
Kangen, gak?
Ya?
- Kenapa? - Kangen nari, gak?
Ke depan.
Mas Dirja ngeliatin lo mulu tuh.
Dia senyum.
Ayo.
Mbah, ini… Temanku ini penari, loh. Diajak.
Ayu.
Mbah…
- Penari. - Ayu.
- Nar, ayo nari. - Iya, Mbak, ajari aku.
- Ayo, Mbak. - Ayo.
Ayo nari lagi.
- Iya… - Iya, Mbak, ayo ajari kita nari lagi.
Mbak Kenar udah lama gak nari.
Udah lupa. Maaf, yah.
Yah…
Ya udah. Yuk, joget, yuk.
Sini.
Tuh.
Aku dapat firasat
Banyu ada di sini sekarang.
Kali ini siapa yang akan jadi korbannya?
Bu…
Aku itu masih gak yakin…
Bahwa Banyu ada hubungannya
dengan kematian Mayang sepuluh tahun yang lalu.
Maksud Bapak?
Banyu gak punya dendam sama anak itu.
Bu…
Kamu paham Banyu, 'kan?
Jadi, omnya Mas Dirja itu orang terpandang di sini.
Soalnya dia itu udah bikin kampung ini jadi maju.
Tapi kasihan, sih, sama Mas Dirja.
Kenar?
Ngelamun, 'kan?
Kenapa?
Tadi kenapa?
Mas Dirja itu orang tuanya udah meninggal.
Adiknya juga hilang.
Sampai sekarang belum ketemu.
Kok bisa?
Aku mau tidur.
Siapa kamu?
Berhenti! Tolong!
Pergi!
Ikutlah aku.
Ayu.
Yu. Bangun, Yu.
Yu, bangun.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya gue ngeliat sosok itu.
Gue juga udah pernah dimimpiin sama dia.
Dan
ada satu sosok hitam
yang nyeremin banget.
Sebenarnya aku gak mau, sih, cerita ini.
Cerita apa?
Gue gak tahu ini ada hubungannya atau enggak.
Gue juga dengar ceritanya dari orang-orang.
Bokap sama nyokap gak pernah cerita apa-apa.
Kamar yang ada di rumahku itu
kamar om gue.
Adiknya bokap.
Banyu namanya.
Bokap gak pernah ngebiarin siapa pun masuk ke kamar itu.
Bahkan nyokap juga gak boleh.
Dulu
dia itu punya pacar.
Seorang penari.
Namanya Ratih Mahyu.
Dia tinggal di desa ini juga.
Om gue itu meninggal
karena dibakar hidup-hidup sama warga.
Bokap juga cukup ngebatasin gue untuk bergaul sama warga di sini.
Makanya dari SMA, gue merantau.
Tapi warga percaya
kalau setiap sepuluh tahun sekali…
Dia akan minta korban.
Seorang penari juga.
Dan waktu gue masih kecil,
udah ada satu korbannya.
Dia hilang sampai sekarang.
Adiknya Dirja.
Mayang pernah cerita, dia sering didatangi sosok Ratih Mahyu.
Ratih Mahyu itu perpanjangan tangan
untuk Mas Banyu balas dendam ke warga sini.
Makanya setiap sepuluh tahun sekali,
pakde aku selalu mengadakan ritual tertutup
untuk menenangkan arwah Mas Banyu.
Tunggu sebentar.
Jadi, maksud kamu,
Kenar harus ketemu sama Pakde Adi untuk membicarakan masalah ini?
Gak usah, gak apa-apa. Jadi ngerepotin.
Sebenarnya gue gak apa-apa kok.
Cuma, gue tuh bingung aja, hubungannya semua ini sama gue tuh apa?
Ayu.
Kamu pasti kepikiran permusuhan bapakmu sama pakde aku, ya?
Ya, Bapak pasti gak mau berhubungan sama Pakde Adi.
Iya, aku tahu.
Untuk sementara…
Hanya ini yang bisa aku kasih tahu ke kamu.
Kalo dia minta kamu untuk nari,
jangan mau.
Kamu lawan.
Silakan diminum, Pak.
Mana?
Penari.
Bapak?
Pak?
Ada apa?
Gak apa-apa.
Buka.
Di mana nih?
Kok dikunci, sih?
Buka!
- Buka! - Tenang.
Menari.
Enggak.
Enggak!
Berhenti!
Tolong!
Menari.
Kenar?
Kenar!
Kenar?
Bu, Kenar…
Kenar?
Kenar?
Kenar?
Ayo cepat buka, Pak!
- Nar. Buka, Kenar! - Kenar!
Kenar.
Kenar.
Kenar?
Pak. Ayo cepat, Pak.
Kenar. Pak, ayo, dong. Cepat, Pak.
- Apa pun yang sudah dikuburkan… - Kenar.
Kenar.
- …akan bangkit. - Kenar.
Kenar.
Kenar.
- Kenar. - Buka, Kenar.
Tolong!
Kenar!
Sukma yang digadaikan
- mau minta… - Kenar!
…tebusan.
- Cinta, mati… - Kenar!
- …akan menuntut… - Kenar!
…di salah satu malam.
- Kenar! - Gedor saja, Pak.
Tidak ada bunga.
Kenar!
- Kenar! - Nak!
- Nak. - Nar!
Nak.
Ayu!
Ini udah jam berapa?
Ayu!
Bapak itu takut kamu kenapa-kenapa, Yu.
Kenapa-kenapa apa, Pak?
Emangnya ada apa?
Pak. Sebenarnya ada apa sama keluarga kita, sih, Pak?
Bapak gak pernah cerita apa-apa sama Ayu.
Tiba-tiba temanku itu terbang kayak gitu.
Bapak juga gak ngerti!
Bapak bohong!
Sudah!
Ayu!
Loh, Yu… Kenar ke mana?
Katamu pakle aku sama Ratih Mahyu itu dendamnya sama warga desa, 'kan?
Terus kenapa Kenar yang kena? Dia bahkan bukan warga desa.
Kenapa?
Ada apa, sih, sebenarnya, Yu?
Aku mau ngajak Kenar aja balik ke Yogya.
Di sini udah gak aman.
Gak aman gimana?
Aku gak mau nasibnya Kenar sama kayak Mayang.
Bu…
Makasih, ya, Bu, Pak.
Jaga diri baik-baik, ya?
Udah, gak apa-apa.
Yuk.
Kamu gak apa-apa, 'kan, Nar?
Gak apa-apa.
Sori, ya. Kalo gue gak bawa lo ke sini, pasti…
Enggak. Gak apa-apa, Yu.
Udah. Ini udah salah lo juga kok.
Kena!
Kenar. Tenang dulu, ya.
- Enggak. Diam. Ayu mana? - Gue bisa jelasin.
Ayu mana?
Kamu dibuang sama orang-orangnya Pak Prastomo.
Makanya aku bawa kamu ke sini sekarang.
Gak mungkin. Bohong!
- Enggak. - Aku gak mungkin…
- Ngapain aku bohongin kamu? - Ya, terus Ayu di mana?
Aku gak tahu Ayu ada di mana.
Mungkin dia dipengaruhi sama cerita bapaknya.
Tahu dari mana itu orang-orang suruhan bapaknya Ayu?
Aku orang sini, Kenar.
Wajar aku tahu.
Di Dewa Kelawangin, terbagi dua kelompok.
Kelompoknya Pak Prastomo dan kelompok pakde aku.
Ini kamar adikku, Mayang.
Kamu sekarang tenang dulu, ya.
Nanti malam,
aku antar kamu ke terminal buat pulang ke Yogya.
Jo…
Kamu harus bisa meyakinkan anak itu.
Kenar, 'kan, ya?
Sudah terlanjur sampai sini.
Jangan sampai gagal.
Iya, Pakde.
Tapi Ayu gimana, Pakde?
Kalau Ayu itu urusanku.
Setelah Kenar sadar, bangun…
Segera laksanakan ritual.
Jaga dia agar tidak kabur.
Bisa, ya?
Minum dulu, Yu.
Bu…
Aku mau cari Kenar, Bu, ya?
Nanti dululah.
Bu…
Kenar-nya di mana?
Nanti dulu. Kamu masih lemas begini.
Semoga Kenar baik-baik saja.
Bu…
Pak. Kenar gimana? Ketemu?
Belum, Nak.
Gak ada yang lihat.
Tapi Bapak sudah minta orang-orang Bapak untuk cari dia sampai ketemu, ya?
Ya sudah.
Pergi!
Tolong! Pergi!
- Ayu. Ini Bapak. - Tolong!
Ayu, ini Bapak!
Bapak.
Bapak.
Ada sosok hitam, Pak.
- Ayu lihat sosok hitam, Pak. - Sudah, kamu tenang, ya. Kamu tenang.
Kamu tenang.
Kamu tenang.
Ayu.
Udah, Nak. Ayu.
Kamu tenang, ya.
Ya?
Ada Ibu, Yu. Ada Ibu.
Kamu siapa?
Apa mau kamu, Dek?
Apa ini masih masalah dendam kamu 20 tahun yang lalu?
Kasih tahu ke aku.
Kakakmu.
Biarkan aku yang membalasnya.
Tapi…
Jangan sakiti Ayu.
Jangan Ayu.
Dia anakmu juga, Dek.
Keponakanmu.
Tolong.
Pulang.
Banyu.
Pulang.
Kalian keluar semua.
Ini aku.
Berdirilah!
Malam ini, kita laksanakan ritual.
Aku sudah menemukan penarinya.
Berhenti, jangan ganggu aku. Berhenti!
Lepas.
Lepas!
Tiba waktunya.
Enggak.
Enggak.
Kenar?
Kamu gak apa-apa?
Bawa ke sini penarinya.
Baik, Pak.
Dulu Kelawangin itu makmur
semenjak ada keluarga Pak Prastomo dan Mas Banyu.
Pak Prastomo dan Mas Banyu
sering bagi-bagi hasil panen ke warga.
Tapi suatu hari, warga pada jatuh sakit.
Bahkan ada yang meninggal.
Setelah ditelusuri,
ternyata itu hasil panen yang diberikan oleh Pak Prastomo dan Mas Banyu.
Warga yang marah
ngarak Mas Banyu ke lapangan.
Ayo!
- Ayo, jalan! - Bawa!
Lepasin!
- Bukan saya pelakunya! - Ayo!
Bawa!
Pakde aku cuma mencegah.
Tapi tidak dihiraukan.
Bukan saya pelakunya! Bukan saya!
- Jangan! - Ayo, bawa!
- Pegang dia! - Ayo!
Tidak!
Lepasin!
Ayo kita hukum dia.
- Bunuh dia! - Bunuh dia!
Hajar!
Ayo hajar!
Ayo!
Ayo, hajar!
Tolong!
- Aku tidak lihat kejadian itu… - Tolong!
…tapi katanya Mas Banyu dibakar.
Ayo!
Sejak saat itu, keluarga Pak Prastomo menarik diri dari warga.
Dan kejadian-kejadian aneh mulai terjadi di desa.
Ada makhluk gaib…
Yang katanya itu adalah Mas Banyu.
Termasuk adik kamu?
Terus…
Kalau Ratih Mahyu…
Dia pacarnya, 'kan?
Sejak saat itu, Ratih Mahyu menghilang dari desa.
Dia ditemukan gantung diri.
Pakde aku sempat patah hati.
Karena katanya pakde aku mencintai Ratih Mahyu.
- Ayu. - Ayu.
- Pak! - Ayu. Bu. Air, Bu.
Ayu.
Ayu.
Ayu!
Pergi kamu.
Pergi kamu, Banyu!
- Ayu. - Nak.
Ayu.
- Nak. - Ayu.
Sudah.
Sudah.
Bu.
Apa mau kamu, Dek?
Apa?
Apa ini ulahmu?
Ratih Mahyu?
Dua puluh tahun aku diam.
Kita sama-sama tahu apa yang terjadi
dan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini.
Ratih memintaku untuk diam, tanpa harus membalas apa pun,
aku nurut!
Aku nurut!
Tapi ini apa?
Ini apa?
Ayu…
Anakku satu-satunya,
kamu celakai!
Tega kamu, Dek!
Tega!
Ayo keluar! Keluar!
Tega.
Gerhana kembar.
Dua jiwa.
Satu cinta.
Satu pembalasan.
Narik Sukmo.
Penari.
Ada apa?
Pakde aku mengadakan ritual
untuk menenangkan arwah Mas Banyu dan Ratih Mahyu.
Kita harus ke sanggar tari sekarang.
Aku juga?
Iya.
Terus, Ayu mana?
Ayu…
Seharusnya Ayu ada di sana.
Dia menunggu kamu.
Pak.
Mau pergi ke mana?
Bu.
Bapak tahu Kenar di mana.
Di mana?
Ibu di rumah saja, ya?
Tutup pintu dan jendela rapat-rapat.
Tunggu sampai Bapak pulang.
- Ada apa, sih? - Sudah.
Bukan Banyu pelakunya, Bu.
Bukan adikku.
Justru Banyu dan Ratih Mahyu
menggunakan anak itu untuk membalas dendamnya.
Bu. Ini waktunya, Bu.
Ini waktunya.
Bu…
Aku titip Ayu, ya?
- Apa, sih, Pak? - Udah, ya.
Sudah.
Ya?
Tolong bilang sama Ayu…
Bapak minta maaf, ya?
Bapak…
- Hati-hati. - Iya.
Ya? Ayo, Bu.
Dirja?
Tolong!
Tolong!
- Tolong! Lepasin! - Bawa!
- Ayo! - Seret dia!
Bukan saya pelakunya.
Ayo!
- Tolong! - Ayo!
Lepasin!
Tolong!
- Ayo! - Tolong!
- Lepasin! - Ayo!
Dasar perempuan tidak tahu malu…
Sini kamu. Sini.
Ampun, Mas.
Jangan diulangi.
Kamu bajingan.
Ampun, Mas.
Ampuni aku, Mas.
Bukan aku.
Bukan salah kami, Pak.
Mati kau.
- Bakar! - Ayo!
- Ayo! - Bakar!
- Tolong! - Bakar!
- Jangan dibakar! - Bakar!
- Dibakar! - Sialan!
- Kubakar kau! - Bakar!
- Ayo! - Bakar!
- Jangan dibakar. - Bakar.
- Bakar! Dibunuh saja! Bakar! - Bakar!
- Sialan! Dia pengkhianat! - Pengkhianat!
- Bakar! - Tolong!
- Tolong! - Biar dibakar!
Mati kau!
Rasakan!
- Ayo! - Bakar!
- Bakar! - Ayo!
Kenar.
Kenar.
Ayo.
Sudah siap?
Siap…
Siap apa, Pak?
Iya.
Nanti kamu tiduran di situ.
Saya?
Iya.
Tenang, ya. Ayo.
Gak apa-apa.
Kamu duduk dulu di sini.
Kenar. Kenar, lari, Kenar.
Diam kamu! Kamu mau ngapain?
Kenar. Kenar, lari, Kenar.
- Lari! - Hei, Kenar!
Kenar!
Jangan sampai kabur!
Berhenti!
Lari!
Lepas.
Hei! Berhenti!
Hei, berhenti!
Hei, berhenti!
Loh?
- Ke mana orangnya? - Aku enggak tahu.
Di mana kamu, Nak?
Di mana kamu, Nak?
Mas…
Firasatku di sana.
Masa, sih?
Iya.
Malam ini adalah malam kematian.
Satu nyawa siap dipersembahkan.
Malam ini adalah malam kehidupan.
Seribu nyawa untuk diselamatkan.
Malam ini adalah malam kematian.
Satu nyawa siap dipersembahkan.
Malam ini adalah malam kehidupan.
Seribu nyawa untuk diselamatkan.
Malam ini adalah malam kematian.
- Satu nyawa siap dipersembahkan. - Lepas. Lepasin.
- Malam ini adalah malam kehidupan. - Tolong!
- Kenar. Kenar! - Seribu nyawa untuk diselamatkan.
Lepas.
Kenar. Lari, Nak.
Tolong.
Keterlaluan kamu, Adi.
Enggak…
Selama ini, aku diam.
Kamu pikir aku tidak tahu
bahwa kamu yang sudah fitnah Banyu,
fitnah saya?
Banyu bukan orang jahat!
Dia yang sudah melindungi warga sini.
Dia yang selalu perhatian kepada anak-anak kalian.
Banyu tidak salah!
Dia yang pantas mati.
Dia yang sudah meracuni warga.
Dan kamu, Dirja.
Iya, kamu!
Tega kamu, Dirja.
Kamu biarkan semua ini terjadi.
Gak punya hati kamu.
Kamu biarkan adikmu mati karena ritual laknat ini.
Prastomo!
Cukup.
Sialan!
Kamu bakal ketemu arwah adikmu.
Enggak.
Lepas.
Enggak.
Lanjutkan.
- Malam ini adalah malam kematian. - Lepas, tolong.
- Satu nyawa siap dipersembahkan. - Tolong lepasin.
Malam ini adalah malam kehidupan.
Seribu nyawa untuk diselamatkan.
Malam ini adalah malam kematian.
Kami haturkan kepada leluhur.
Saatnya sudah tiba.
Hadirlah
berpesta-pora denganku.
Aku mohon perlindungan
dan aku akan mengabdi kepadamu.
Di malam kematian ini,
satu nyawa sudah dipersiapkan.
Malam ini adalah malam kehidupan.
Seribu nyawa untuk diselamatkan.
Kenar.
Kenar.
Menari!
Kenar!
Aku mohon!
Menari!
Menari.
Stop.
Narik sukmo.
Berhenti nari!
Berhenti nari!
Berhenti menarinya!
Berani sama saya?
Ayo!
Tolong!
Terima kasih, Kenar.
Kamu sudah membantu kami.
Menarilah, jangan berhenti.
Kenar.
Hei, bangun.
Kenar.
Kenar.
Bangun, Kenar.
Bangun.
Kenar.
Kamu…
Om…
Om…
Om. Tahan, Om.
Hei…
- Om… - Om titip Ayu, ya.
Enggak, Om.
Om, aku mohon.
- Tidak ada… - Om…
…yang perlu dia takuti sekarang.
Tidak…
Sudah…
Enggak!
Enggak.
Om. Enggak, Om.
Enggak!
Iya, Bu.
Benci lahir
karena Pak Adicandra diam-diam menyukai Ratih Mahyu.
Para warga sampai tega ngarak Mas Banyu.
Dendam selama 20 tahun.
Karena mereka, Ratih Mahyu dan Banyu…
Dipisahkan tanpa mereka sempat bersatu.
Kenar, ayo buruan.
Iya bentar.
Loh, Mas Dirja.
Mau ke mana?
Ditanyain, Mas. Deketan dikit kali, Mas.
Rencananya aku mau ke Yogya.
Udah gak ada siapa-siapa lagi aku di sini. Jadi, buat apa aku di sini?
Emang
ada siapa, Mas, di Yogya?
Ada masa depan yang aku cari.
Yailah, masa depan, toh. Masa depan.
Hei, ayo.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.