Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Mr. BAD]
[Episode 10]
Aku memanggilmu lagi?
Aku...
Aku tahu.
Aku tahu kamu tidak suka dipanggil.
Setiap kali aku memanggilmu,
akan mengganggu kegiatanmu.
Aku tahu ini sangat keterlaluan.
Tapi kali ini
aku sungguh ingin mengajakmu keluar.
Bukankah kamu bilang
ingin mencoba bermain
ruang pelarian?
Aku tidak menyangka kamu semarah ini.
Tahu begitu, aku tidak akan mengajakmu.
Aku tidak marah.
Di matamu,
aku begitu mudah marah?
Jelas-jelas kamu sudah marah
mulai dari kemarin.
Aku bukan marah,
aku...
Sudahlah, kamu tidak akan mengerti.
Ayo.
Bukankah mau main ruang pelarian?
Orangnya sudah lengkap.
Ha... halo.
Kenapa kamu datang?
Ayo.
Ayo, ayo.
Di depan, pintunya sudah dibuka.
Tidak ada orang.
Ayo jalan.
Sshh...
Sshh...
Tutup pintu.
Tutup pintu.
Cari petunjuk.
Cari petunjuk.
Di sana ada sebuah kotak.
Cepat tahan pintunya.
Tahan pintunya.
Sudah.
Sudah buka belum?
Sudah.
Bagi tim.
Bagi tim.
Bagi tim, aku satu tim dengan Sisi.
Aku dengan Xiao Wudi.
Ayo.
Ayo.
Xiao Wudi, ayo.
Ayo.
Kenapa gelap sekali?
Tidak apa-apa, 'kan?
Di sini?
Ikuti petunjuk dalam gambar,
buktikan kamu tidak terinfeksi
dalam kurun waktu yang ditentukan.
Jika bisa membuktikannya
dalam waktu yang ditentukan,
kamu akan dilepaskan.
Jika gagal,
kamu akan dibunuh.
Ikuti gerakan itu.
Pertama, mari.
Harus menekan tombol.
Lolos.
Kedua.
Tidak apa-apa, sekali lagi.
Yang ketiga sangat mudah.
Lututnya ditekuk.
Baik.
Yang terakhir.
Hanya perlu peluk saja.
Kenapa?
Peluk begitu saja?
Berpelukan sebentar, memangnya kenapa?
Peluk seperti ini.
Peluk begitu saja?
Kalau tidak, bagaimana?
Aku peluk sambil bernyanyi?
Bukan.
Maksudku, seorang pria dan wanita
berpelukan begitu saja
secara sembarangan?
Kamu biasanya
juga malu-malu, 'kan?
Kita sudah begitu akrab,
kenapa kalau berpelukan sebentar?
Kamu ingin keluar tidak?
Bukan.
Ada apa denganmu?
Kenapa aku merasa kamu
sangat aneh akhir-akhir ini?
Apanya yang aneh?
Aneh sekali.
Kamu sungguh
sangat canggung.
Kadang,
aku merasa sepertinya kamu sedang marah,
tapi kadang
juga tidak.
Kamu sungguh
tidak seperti kamu yang dulu.
Jika dulu,
kamu pasti akan...
Aku Tuan Muda Hehuan
bukan orang yang
memedulikan etiket yang sepele begitu.
Apanya yang pria dan wanita tidak boleh akrab?
Aku bersikeras mau akrab.
Ini baru kamu yang dulu.
Kamu mendeskripsikanku
seperti pria yang genit.
Bukan itu maksudku.
Maksudku, kamu dulu sangat santai.
Kenapa sekarang kamu mirip...
mirip seperti
anak SMP yang sedang jatuh cinta diam-diam?
Kamu sungguh menyukai seseorang?
Tidak mungkin.
Jangan-jangan ucapanku benar.
Siapa? Aku kenal dia tidak?
Tinggal daerah mana? Kelahiran tahun berapa?
Di mana rumahnya? Cantik tidak?
Bukan, jangan katakan lagi.
Aku mengerti.
Kamu takut dia cemburu,
jadi tidak berani memelukku?
Bercanda.
Aku Xiao Wudi,
takut pada seorang wanita?
Ucapanku benar.
Kamu punya wanita yang disukai.
Benar, 'kan?
Aku asal bicara sedikit,
rahasia kecilmu
langsung ketahuan.
Benar.
Aku memang menyukai seseorang.
Orang yang kusukai
adalah kamu.
Pintunya sudah dibuka.
Sungguh sangat seru.
Kuberi tahu kamu,
aku tidak pernah
bermain permainan yang begitu seru.
Kuberi tahu kamu,
tadi aku sangat ketakutan.
Benar,
di sudut itu
sungguh menakutkan.
Kalian lambat sekali.
Waktu sudah berlalu lama,
kalian baru sampai akhir?
Itu sulit sekali.
Aku tidak akan bermain ini lagi.
Ini karenamu.
Tidak sulit, Senior.
Lain kali kita...
Tidak terlihat?
Dia sungguh tidak melihatnya?
Pantas saja dia melajang begitu lama.
Cantik sekali.
Lihat sana.
Itu.
Xiao Wudi,
kamu sudah lebih senang hari ini?
Lumayan.
Baguslah.
Aku memang lumayan pintar.
Kendarai baik-baik.
Xiao Wudi, lihat siapa yang sampai rumah lebih dulu.
Ibu, aku pulang.
Sudah pulang?
Ibu.
Ada hal baik apa? Tersenyum seperti itu.
Aku bahagia, harus ada alasan?
Aku ingin tanya padamu,
kenapa kamu
tidak menulis novel lagi belakangan ini?
Aku bekerja sangat melelahkan,
mana ada waktu menulisnya?
Aku suka membacanya,
kamu sungguh tidak menulis lagi?
Tidak.
Aku juga sadar,
setelah akrab dengan Bosku,
aku tidak bisa lagi
berimajinasi tentangnya.
Jika bukan dia,
imajinasi tentang orang lain saja.
Aku bisa berimajinasi tentang siapa lagi?
Xiong di seberang itu.
Itu cukup realistis, 'kan?
Tidak bisa.
Kenapa tidak bisa?
Sungguh tidak bisa.
Bagaimana kamu tahu dia tidak bisa?
Menurutku dia bisa.
Kamu sungguh bodoh.
Kenapa merugikan diri sendiri?
Lagi pula, dia juga tidak sadar.
Bahagiakan dirimu dulu.
[Xiao Wudi]
Sikapmu hari ini cukup bagus. [Xiao Wudi]
Sikapmu hari ini cukup bagus.
[Xiao Wudi]
Kelak kegiatan ruang pelarian seperti ini [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
boleh diperbanyak. [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
[Nan Xing]
Baik, permintaanmu [Nan Xing]
[Nan Xing]
pasti akan kupenuhi. [Nan Xing]
[Nan Xing]
♫ Memutar beberapa belokan ♫
♫ Sinar mentari mendatangkan hari yang baru ♫
♫ Berlari bersamamu ♫
♫ Kamu adalah hadiah dari Tuhan ♫
♫ Melewati jembatan yang aku lewati sendiri ♫
♫ Menemaniku bercanda ♫
Tiga, dua, satu.
♫ Sesekali kehilangan akal ♫ Tiga, dua, satu.
♫ Dalam senyumanmu yang indah ♫ Tiga, dua, satu.
♫ Dalam senyumanmu yang indah ♫
Ibu, aku pergi dulu. ♫ Dalam senyumanmu yang indah ♫
♫ Mungkin saja suasana yang tepat ♫ Ibu, aku pergi dulu.
♫ Mungkin saja suasana yang tepat ♫
♫ Pahlawanku ♫
♫ Selalu saja datang tepat waktu mengusirku ♫
♫ Segala kerisauanku ♫
♫ Setiap sudut ♫
♫ Berubah menjadi tanah cinta ♫
♫ Sangat peduli, sedikit trik ♫
♫ Mungkin saja mewakili isi hatiku ♫
♫ Setiap terbenamnya matahari ♫
Pergi tanpa menyapaku? ♫ Setiap terbenamnya matahari ♫
Pergi tanpa menyapaku?
♫ Pernah berjanji akan terbit lagi esok ♫
♫ Tidak mudah didekati, foto bersama yang kompak ♫
♫ Suka, sehingga menjadi pahlawanmu/pahlawanku ♫
♫ Sekarang berangkat ♫
Klausa-klausa yang bermasalah itu,
kita bicarakan
setelah aku sampai kantor, oke?
Tidak masalah.
Baik.
[Sesi Tanda Tangan "Hari Ketujuh Setelah Membunuh Malaikat"]
[Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
[Berita pernikahan Pendekar Lu dan Nan Xiaoxing dengan cepat menyebar ke seluruh dunia persilatan]
[Junior Nan paling lambat bergabung, tapi keahliannya yang terhebat sekarang]
Saat ini, kondisi pemilihan peran,
perusahaan kami
tidak mungkin akan setuju.
Kemungkin besar
akan menjalani proses litigasi.
Kalau begitu,
berapa lama gugatan akan berlangsung?
Tergantung
pada situasi litigasi kasus.
Baik, aku tahu.
Masuk.
CEO Ye, kamu mencariku?
Ada sesuatu yang mau kupastikan denganmu.
Masalah apa?
Ada yang kamu rahasiakan dariku?
Gawat.
Apakah soal aku membantu Bos,
menjadi asisten cintanya,
lalu ketahuan oleh CEO Ye?
Nan Xiaoxing yang ada di forum,
apakah itu kamu?
Itu aku.
Bagaimana kamu bisa tahu?
Fanfiction Pasangan Pendekar Xing Chen ini
ditulis olehmu?
Kenapa ini masih ada?
[Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
Artikel ini [Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
[Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
pernah dihapus seseorang. [Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
[Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
Lalu, ada netizen [Membagikan sebuah karya yang telah lama tidak diperbarui - Pasangan Pendekar Xing Chen]
Lalu, ada netizen
yang melakukan tangkapan layar dan mengunggahnya,
barulah aku melihatnya.
Pendekar Lu dalam cerita
adalah Zichen, 'kan?
Nama tokoh utama wanita sama denganmu,
Nan Xiaoxing.
Penjahat Xiao Wudi,
juga adalah tetanggamu.
Tidak mungkin begitu kebetulan, 'kan?
Ini... iya.
Kenapa bisa begitu kebetulan?
Jadi, kamu mengakuinya?
Maaf, CEO Ye.
Aku bukan sengaja
berimajinasi tentang Bos.
Waktu itu aku hanya asal menulisnya.
Itu... Selain itu, juga tidak berarti
aku suka pada Bos.
Lihat, Bos menulis begitu banyak
novel misteri yang menegangkan,
tidak berarti dia pernah membunuh,
benar?
Aku sudah menghapusnya.
Setelah bekerja,
aku tidak pernah menulis lagi.
Sungguh.
Bagaimana kalau sekarang aku akan menghubungi
orang yang mengunggah
untuk menghapusnya.
Aku takut
berpengaruh buruk pada perusahaan.
Aku bersumpah
tidak akan menulisnya lagi.
Tidak akan menulisnya lagi.
Karanganmu begitu bagus,
kenapa tidak menulis lagi?
Pertandingan menulis
Proyek Bintang Baru,
menurutku
kamu harus mengikutinya.
Tentu saja, tidak boleh memakai naskah ini.
Aku ikut Proyek Bintang Baru?
Apa aku bisa?
Kenapa tidak?
Menurutku, meski Pendekar Lu
yang kamu tulis
tidak ambisius,
tapi cintanya dengan Nan Xiaoxing
sangat tulus.
Aku sangat suka melihat
interaksi antara mereka berdua.
Aku sangat menantikan
kamu punya cerita baru
apa lagi selanjutnya?
Tapi aku tidak pernah menulis
novel orisinil.
Pertandingan ini begitu resmi.
Komentar di bawah unggahanku sebelumnya
semuanya memarahiku.
Jangan buru-buru
berpikir negatif tentang dirimu.
Lihatlah dulu
semua komentar
di bawah unggahan ini,
baru membuat keputusan, oke?
Menurutku kamu harus ikut pertandingan ini.
Pertimbangkan baik-baik.
Pergilah.
[Pertandingan Menulis Penghargaan Bintang Utara]
[Penulis menulisnya dengan sangat manis, aku suka membacanya]
[Penulis sangat imut, tokoh utama wanita menggunakan nama penanya sendiri, apakah dia memasukkan dirinya ke cerita?]
[Kisah cinta Pendekar Lu sangat manis, ingin membaca kelanjutannya]
Bos.
Kemari sebentar.
[Tuan Muda Xiao]
Kenapa kamu tidak mengirim pesan Wechat padaku? [Tuan Muda Xiao]
[Tuan Muda Xiao]
CEO Ye mencarimu?
Baguslah sekarang.
Bahkan tidak mencari alasan lagi.
Iya.
Membahas pekerjaan?
Dia melarangku menulis fanfiction tentangmu.
Membicarakan topik tentang wanita.
Pekerjaan dan cinta
harus dipisah dan semacamnya.
Tidak mungkin.
Dia tidak bisa membedakannya.
Tidak mungkin.
Aku membicarakan temanku.
Waktu itu dia mengajaknya keluar,
lalu secara alami CEO Ye
mulai membahas pekerjaan.
Maksudmu tentang ini?
Benar.
Pada waktu bekerja
menggunakan asisten untuk mengajak orang keluar,
siapa tahu apa yang akan kamu lakukan?
Menurutmu, temanku ini
harus bagaimana selanjutnya,
agar dia
menyadari masalah ini?
Bos,
jangan tanya aku lagi.
Aku tidak tahu apa-apa.
Kalau aku tahu,
aku tidak akan
melajang begitu lama.
Setidaknya kamu seorang wanita.
Pasti lebih mengerti daripada seorang pria.
Begini saja,
kamu harus terus bertahan.
Ciptakan pertemuan tak disengaja.
Suatu hari nanti,
dia pasti akan sadar.
Jadi, pada umumnya
orang akan berbuat seperti ini?
Aku tidak tahu praktik di kehidupan nyata,
tapi itu yang ditulis di buku.
Aku tahu.
Aku tidak akan memberi tahu orang lain.
Aku pergi dulu.
Terima kasih, Bos.
Menciptakan pertemuan tak disengaja?
Rahasia yang harus kujaga
sudah terlalu banyak.
Rahasia apa?
Tidak ada.
Begitu mencurigakan,
masih bilang tidak ada?
Nan Xing,
kamu sudah mencocokkan
topik wawancara dengan Bos?
Sudah.
Dia juga sangat setuju
dengan pertanyaan yang mau kita koreksi.
Dia menyuruhku
mengubah sedikit jawabannya.
Setelah kuperbaiki, akan memberitahumu.
Baik, lumayan bagus.
Artinya dia sudah sangat
mengakui kemampuanmu.
Semangat terus, Nan Xing.
Baik, Kak Jiao.
[Xiao Wudi]
Kenapa tidak membalas pesan Wechat-ku? [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
Kamu sedang apa? [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
Ada apa dengannya?
Dipanggil oleh Bos.
[Nan Xing]
[Xiao Wudi]
Aku ingin makan steak sapi. [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
Jangan pesan steak sapi secara online. [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
Bukalah aplikasi Dian Ping, [Xiao Wudi]
[Xiao Wudi]
cari restoran dengan ulasan terbaik. [Xiao Wudi]
[Nan Xing] cari restoran dengan ulasan terbaik.
[Nan Xing]
Aku... [Nan Xing]
Aku...
Halo.
Kamu di mana?
Perusahaan.
Sudah waktunya makan siang, turunlah.
Bukankah kamu ingin makan steak sapi?
Tiga menit.
Jika kamu tidak turun, aku akan naik.
Halo.
Siapa?
Teman.
Lumayan.
Cepat juga datangnya.
Makanannya masih panas.
Begitu buru-buru,
ada apa mencariku?
Aku tidak mau minum.
Aku menyuruhmu membantuku membukanya.
Tuan Muda Xiao,
aku datang dengan berlari,
kamu menyuruhku melakukan ini?
Aku ingin menikmati
makan siang denganmu.
Sudah dipesan, makanlah.
Aku tidak makan daging sapi.
Tidak apa-apa, cobalah yang lain.
Sebenarnya ada apa kamu mencariku?
Aku masih harus kembali ke perusahaan.
Bahkan waktu untuk menemaniku
makan siang saja pun tidak ada.
Ada, ada.
Bantu aku mengambil sayur.
Itu juga. Kentang.
Ini?
Apa yang sedang dia lakukan?
Mau ini tidak?
Boleh dicoba.
Ini?
Mari, ini.
Baik.
Jangan urus aku lagi.
Makanlah.
Jangan selalu merasa
aku menindasmu.
Sebenarnya aku lumayan baik padamu.
Restoran ini cukup mahal,
tahu?
Halo.
Tuan Xiao, apa kabar?
Namaku Jiaojiao.
Aku rekan kerja Nan Xing.
Halo.
Ada apa ini?
Dia mengajak begitu banyak orang.
Sudah kubilang, jangan datang.
Tuan Xiao.
Itu...
Kamu kelahiran tahun berapa?
Dia
masih muda.
Muda dan berbakat.
Kamu orang lokal?
Aku dari luar kota.
Kamu dari kota mana?
Gu... gunung.
Pedesaan juga bagus.
Sekarang sedang digalakkan pembangunan baru pedesaan.
Udara segar, tanah subur, masyarakat akrab.
Bagus.
Kak Jiao, makanlah pizza.
Pizza ini
bisa dimakan kapan saja.
Tapi obrolan ini,
hanya bisa dibicarakan hari ini.
Ada lagi,
Nan Xing pernah memberitahuku,
hubungan kalian adalah tetangga.
Tapi melihatmu hari ini
secara khusus datang untuk makan siang dengannya.
Aku hanya ingin memastikan,
apa hubungan kalian
masih tetap tetangga biasa?
Hubungan ini
tidak ada perubahan, 'kan?
Tentu saja tidak ada perubahan.
Dia adalah tetanggaku.
Dia hanya kebetulan lewat.
Bagus kalau kebetulan lewat.
Itu artinya
yang lain masih punya kesempatan.
Kak Jiao, makan udang.
Apa yang sedang kamu bicarakan?
Aku sedikit
berpikir kejauhan, ya?
Sebenarnya akhir-akhir ini Nan Xing
mengalami banyak kemajuan.
Saat aku mengantar
dokumen ke Bos hari ini,
dia sengaja bertanya padaku,
kenapa Nan Xing belum datang.
Jarang sekali
Bos memperhatikan seseorang.
Benar.
Tadi aku sampai bingung.
Nan Xing, kamu sungguh hebat.
Baru beberapa hari,
hubunganmu dengan Bos
berubah cepat sekali.
Kak Jiao, hati-hati.
Kamu tidak kepanasan, 'kan?
- Tumpah. - Jangan terkena tubuh.
Tidak apa-apa.
Kaki, kaki.
Begitu banyak air, tidak bisa diduduki lagi.
Aku tersedak.
Mari, mari.
Cepat, lap sebentar.
Ini juga.
Di bagian kaki.
Kaki.
Ambilkan tisu lagi, Chu.
Baik.
Hati-hati, panas sekali.
Bajumu tidak masalah, 'kan?
Tidak masalah.
Astaga, airnya masih mengalir.
Saat jam makan siang
bukannya berada di kantor,
malah keluar
mengganggu rekan.
Masyarakat ini diatur oleh hukum.
Jika aku di Istana Hehuan,
aku akan membakar mereka.
Galak sekali.
Galak apanya?
Aku begitu lapang dada,
mana mungkin aku galak?
Tuan Xiao,
kami kembali bekerja dulu.
Kita makan bersama lain kali.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Jalan, jalan.
Aku juga kembali bekerja.
Tunggu.
Malam ini aku ada waktu,
ayo kita main
ruang pelarian waktu itu.
Malam ini?
Sebenarnya siang ini
aku punya urusan,
akhirnya makan bersama denganmu.
Jadi, kupikir malam ini ada waktu
untuk memikirkannya.
Kamu lupa
apa yang kamu katakan semalam?
[Nan Xing]
Baik, [Nan Xing]
[Nan Xing]
permintaanmu pasti akan kupenuhi. [Nan Xing]
permintaanmu pasti akan kupenuhi.
Kali ini saja.
Baik, aku setuju.
Lagi pula, meski aku tak setuju,
kamu akan ribut hingga aku setuju.
Tapi kali ini
jangan mengajak Xiong Sisi dan yang lain lagi.
Mereka bodoh sekali,
tidak bisa bermain dengan kita.
Cukup kita berdua saja.
Baik.
Aku bekerja dulu.
Ciptakan pertemuan tak disengaja.
Suatu hari nanti, dia pasti akan sadar.
Aku menulis beberapa slogan baru,
lihatlah.
Baik.
Nanti kita bicarakan lagi.
Bos, lihatlah ini.
Bos.
Kebetulan sekali, ini adalah...
Nanti kita bahas lagi.
Bos.
Bos, bisa membahas
dokumen ini dengan Anda?
CEO Ye, pagi.
Pagi.
Kenapa begitu terengah-engah?
Oh ya,
ada yang ingin kutanyakan padamu.
Pelukis yang waktu itu,
dia bilang padaku dia tidak mengenalmu.
Karena penerbangannya dibatalkan,
makanya dia muncul di toko pop-up.
Tapi, bukannya kamu yang ingin
mengenalkan kami?
Tidak.
Lalu, untuk apa kamu mengajakku keluar?
Melihat lukisan.
Kamu suka melihat lukisan, jadi mengajakmu.
Begitu saja?
Iya.
Jika kamu tertarik,
aku akan sinkronkan
informasi selanjutnya padamu.
Aku mau beli kopi.
Kamu mau minum apa?
Hai, tampan.
Kebetulan sekali.
Tidak.
Aku sudah janjian makan malam dengan teman.
Aku buru-buru,
tidak bisa
makan bersama kalian.
Aku pergi dulu.
- Sampai jumpa, Kak Jiao. - Baik.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa, tampan.
Aku suka membaca buku.
[Duduk di Sampingmu Melihat Awan]
[Duduk di Sampingmu Melihat Awan]
Kebetulan lewat. [Duduk di Sampingmu Melihat Awan]
Kebetulan lewat.
Kamu senggang sekali hari ini.
Ayo.
[Rumah Bordil Lian]
Aku datang. [Rumah Bordil Lian]
Aku datang.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Ternyata kalian.
Para Tuan sudah lama
tidak datang ke Rumah Bordil Lian.
Mari, duduklah.
Para Tuan, duduk dan istirahat sebentar.
Aku akan ke belakang
memanggil Nona Qiu Ji.
Babak ini
ada kesempatan untuk berpelukan, 'kan?
Hari ini Tuan-Tuan
ada waktu datang ke Rumah Bordil Lian,
Tuan mana yang akan
bermain di babak ini?
- Dia. - Dia.
Dia.
Marganya Xiao, Tuan Muda Xiao.
Ti... tidak perlu.
Pergilah.
Tidak perlu berbuat begini.
Tuan Muda Xiao.
Ayo menari bersama
satu lagu bersamaku.
Harus menari?
Tuan Muda Xiao.
Ayo, Tuan Muda.
Tuan Muda.
Ayo menari, Tuan Muda.
Seharusnya bukan begini, 'kan?
Kenapa jadi begini?
Di mana kuncinya?
Sana.
Ayam, domba, tikus, monyet, babi.
Ini benar.
Bukalah.
Sudah.
Kesempatan datang.
Tidak apa-apa.
Jangan takut, itu palsu.
Jangan takut.
Itu palsu.
Itu palsu.
Kartu.
Diletakkan di sini?
Silakan wanita pakai penutup mata,
pria memberi petunjuk
untuk bisa lolos babak ini.
Setelah menyelesaikan tugas,
akan ada hadiah besar.
Hadiah besar?
Apa sama seperti waktu itu,
berpelukan lagi baru bisa lolos?
Ada kesempatan lagi.
Mari.
Tuan Muda benar-benar antusias.
Biarkan aku
menemanimu bermain.
Xiao Wudi, aku ke mana?
Dia mundur ke belakang.
Tangkap.
Mereka berganti orang.
Dari mana, Xiao Wudi?
Kananmu.
De... depanmu.
Belakang, belakang.
Bawah, bawah.
Tendang dia.
Berbalik, berbalik.
- Sudah tertangkap. - Maju ke depan.
Tertangkap! Aku menangkapnya.
Sudah lolos.
Tuan Muda sungguh hebat.
Cepat sekali menangkapku.
Aku mau memberikan
sebuah hadiah misterius padamu.
Terimalah ciumanku.
Ci... cium apanya?
Ayo.
Xiao Wudi,
ada apa?
Ini lumayan seru.
Menurutmu ini seru?
Ruang pelarian ini sungguh membosankan.
Tidak seseru yang waktu itu.
Kita ganti yang lain.
Mau ganti lagi?
Aku ada urusan hari ini.
Kita main lagi lain kali.
Atau kamu bermain sendiri?
Aku main sendiri,
tidak seru.
Kamu main denganku,
kamu juga merasa tidak seru.
Ini tidak ada pelukan,
tentu saja tidak seru.
Sudahlah.
Main saja sendiri.
Aku akan menggesek kartu.
Aku yang traktir.
Karya orisinil?
Bahkan harus penerbitan pertama.
Aku bisa tidak?
Komentar di bawah unggahanku sebelumnya
semuanya memarahiku.
Jangan buru-buru
berpikir negatif tentang dirimu.
Menurutku, meski Pendekar Lu
yang kamu tulis
tidak ambisius,
tapi cintanya dengan Nan Xiaoxing
sangat tulus.
Aku sangat suka melihat
interaksi antara mereka berdua.
Aku sangat menantikan
kamu punya cerita baru
apa lagi selanjutnya?
Menurutku kamu harus ikut pertandingan ini.
Baik, aku akan mencobanya.
Tapi, aku harus menulis apa?
Menulis apa?
Keluar jalan-jalan saja.
Siapa tahu setelah jalan-jalan
akan ada inspirasi.
Ada cerita apa yang bisa ditulis?
Aku hanya pernah menulis fanfiction.
Salahmu.
Salahkan panggilanmu itu.
Bahkan cinta yang tak terlupakan.
Aku
sudah cinta sampai tak terlupakan.
Dia seolah tak terjadi apa-apa.
Cinta macam apa ini?
Jika dia punya permintaan, aku harus mendengarnya.
Aku punya permintaan,
dia tak bisa mendengarnya?
Apa ini adil?
Apa ini adil?
Atas dasar apa?
Xiao Wudi?
Kenapa kamu di sini?
Apanya yang adil atau tidak?
Apa yang kamu katakan?
Bukannya kamu bilang
kamu ada urusan?
Aku memang ada urusan.
Aku sedang memikirkannya di otakku.
Otakmu ini
tidak akan pernah bisa memecahkannya.
Ada masalah apa?
Ceritakan padaku.
Apa gunanya menceritakannya padamu?
Aku menghirup udara segar sejenak,
seharusnya sudah bisa terpikirkan.
Apa maksudmu
apa gunanya menceritakan padaku?
Cepat katakan, ada masalah apa?
Ada apa denganmu hari ini?
Hari ini kamu bertemu secara kebetulan,
dan kebetulan lewat.
Pesan Wechat-mu masuk terus.
Lalu ruang pelarian,
dan makan bersama.
Lalu sekarang...
Apa semua ini kebetulan?
Tentu saja kebetulan.
Kamu kira aku bodoh?
Apa yang ingin kamu lakukan?
Cepat katakan.
Jangan terus
membuatku menebak-nebak.
Katakanlah.
Jika kamu mengatakannya,
aku akan bekerja sama denganmu.
Bagaimana?
Apa yang kamu lakukan?
Kamu sudah mulai sejak kemarin, 'kan?
Sudah mulai sejak kemarin pagi,
benar, 'kan?
Ada apa ini?
Kenapa IQ-nya
tiba-tiba melonjak?
Kenapa tidak berani
melihat mataku?
Lihat mataku dan berbicaralah.
Ada apa?
Apa yang ingin kamu lakukan?
Xiao Wudi.
Kenapa kamu berkeringat begitu banyak?
Kamu demam?
Kenapa jantungmu
berdetak begitu cepat?
Ada apa denganmu? Kamu tidak enak badan?
Nan Xing.
Sebenarnya aku...
Kamu apa?
Xiao Wudi.
Xiao Wudi.
Xiao Wudi, ada apa denganmu?
Kamu... kamu...
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.