Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Buka talinya.
Ayo, cepat!
Halo?
Ibu secepatnya kemari.
Mereka mulai bergerak.
Itu dia.
Apa itu tadi?
Mungkin cuma ikan lewat.
Kita ke sana.
Kau bawa artefak ini ke perahu.
Aku mau cari yang lainnya. Oke?
Tidak. Kita harus ke perahu sekarang juga.
Cepat, pergi sana.
Kita pergi dari sini! Ayo, cepat kita pergi!
Oke, lihat. Selang inflater-nya dimasukkan ke sini,
Kalian masukkan seperti ini, ya, sampai bunyi klik.
Itu bisa.
Oke, sudah semua ya?
Kalau sudah siap semua, siapkan fin kalian ya.
- Anak baru susah ya diajari. - Ya.
- Untung aku orangnya sabar. - Ada cewek.
- Bohong kau. - Ini cewek.
- Hai. - Lihat, 'kan?
Hai.
- Vania. - Ojan.
Jangan lama-lama.
- Martin. - Vania.
Sudah!
Omong-omong, mau gabung di klub ini ya?
Ya.
Kalau mau gabung di klub ini, kita harus belajar diving dulu.
Bukan. Belajar napas.
Biar tidak mati.
Santai, Pak.
Jadi, begini, Van.
Kalau mau menyelam, kau harus tenang. Harus santai.
- Rileks. - Hei.
Bagaimana anak orang mau tenang jika ada dugong kayak kau?
Kau memang begitu ya. Kampret.
Kau harus kenal sama dia. Juru kuncinya. Ya?
Sembilan belas tahun hidup, sembilan belas tahun jomlo.
Apa kau?
Vania?
Galih, ya?
- Maaf, ya, basah. - Ya, tidak apa-apa.
Kok kalian sudah kenal?
Makanya baca formulir pendaftaran.
- Memangnya ada? - Ada! Baca makanya.
Jadi, aku sudah bisa mulai latihannya?
Kalau sudah siap, boleh.
- Sudah, tinggal ganti baju saja. - Ya sudah.
- Kau tangani dulu ya, Jan. - Oke.
- Aku ganti baju dulu. - Ya.
Sudah siap.
- Hai, Bos. - Hei.
Masuk saja.
- Hei! - Hei.
Apa lagi yang diedit?
Ini, foto, biasa.
Yang ini cakep, Gal.
Ya. Ini hasil minggu lalu.
- Bagus yang ini. Ya? - Bagus.
Hai, Teman-Teman!
- Hai, Van. - Hai, Princess.
Apaan, Ojan?
Hei, aku mau pesan minum. Mau pesan tidak?
Americano.
- Kayak biasa, ya. - Ya.
Vania mau apa? Biar aku yang pesan.
Aku nanti saja, tidak apa-apa. Bisa pesan sendiri.
Satu americano untuk Galih. Aku pesan…
- Es teh saja. - Manis?
- Gulanya bisa dipisah? - Bisa.
Tapi jangan jauh-jauh, ya. Nanti kangen.
- Giuseppe, satu americano panas… - Jomlo jangan kelamaan,
- Gula dipisah, terima kasih. - Kasir kau sikat juga? Norak!
Kau kenapa? Sirik saja sama aku.
Buat kakaknya?
Aku pesan moccatela satu,
gulanya dipisah.
Ya.
Terima kasih, ya, Mbak.
KOMPETISI TAHUNAN FOTOGRAFI BAWAH LAUT INDONESIA
Gal!
Apa?
Lihat ini.
- Apaan? - Ini.
Ini, kau harus ikut.
BERPARTISIPASILAH SEKARANG!
- Apa ini? - Kau tidak bisa baca?
Kompetisi Fotografi Bawah Laut!
Tidak, aku tidak mau.
Kenapa tidak mau?
Ya, kenapa tidak ikut saja?
Foto-foto kau itu bagus-bagus banget.
Ojan…
- Tapi 'kan… - Sudah! Tidak usah tapi-tapian.
Kau butuh apa?
- Aku butuh foto yang lebih banyak lagi… - Sepakat! Besok kita berangkat.
Berangkat ke mana?
Besok kau siapkan mobil.
Berangkat kita.
Princess mau ikut, juga boleh.
- Serius? - Serius.
- Tapi di sana aku boleh buat vlog, 'kan? - Boleh.
Kau bikin vlog?
Kau tidak tahu? Vania ini seleb!
Viewers YouTube-nya sejutaan.
Selebritas.
Maaf ya aku jarang buka YouTube, jadi, tidak tahu.
Tapi kalau mau ikut, boleh kok.
- Buat bantu promomu. - Ya sudah.
Bagaimana, Bro, fotonya?
- Sejauh ini, aman. - Aman, ya.
Tapi aku butuh bahan lebih banyak lagi.
Jangan kayak si Ojan. Yang difoto cewek saja.
Ini semua demi life goal, Tin.
Koleksi, seleksi, resepsi!
Tidak, kau itu koleksi, seleksi, eliminasi! Lupa?
Jahat sekali kau, Gal.
- Hai, Van. - Hai.
Hai, Princess.
Jadi, Lih, kau sudah siap ikut lomba?
Ya, siap. Tapi aku harus mengedit dulu.
Yang penting sudah siap.
- Harus siap! - Ya.
- Ya sudah, yuk. Panas. - Panas.
Ayo.
Kenapa, Bro?
- Bagaimana pantainya? - Kau bisa?
- Keren. - Seru, ya?
Keren, tapi masih harus banyak latihan.
- Tapi banyak, ya? - Sebelah sini.
Makin banyak latihan, makin bisa.
Satu, dua, tiga!
Sini! Mau putar-putar lagi tidak?
Sini. Aku bisa putar kau, ya.
Galih!
Galih.
Galih.
Galih?
Galih.
Galih…
Galih?
Mama?
Sekarang giliran kau menjaganya.
Di Tanjung Biru.
Ma!
Mama!
Kenapa lagi ini anak?
- Kau kenapa sedih sekali? - Ya, Lih?
Kayak habis patah hati.
Aku sedang merindukan ibuku, Jan.
Sori ya, Bro.
Memang ibumu ke mana, Gal?
Aku tidak tahu, Van.
Sori.
Daripada kau sedih, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?
- Benar. - Anggap saja liburan. Asyik tidak?
- Asyik. - Pintar ini anak.
Mau ke mana?
Sebentar.
Oke.
Lihat.
Aku punya spot baru.
Kalau kau sampai foto di sini, aku jamin, kau yang juara satu.
Aku pikir-pikir dulu. Soalnya kita baru pulang diving.
Terus di klub juga masih banyak kegiatan latihan.
Padat banget jadwalnya.
Kau liburan dulu.
Kau butuh yang namanya liburan.
Memangnya mau ke mana?
Tanjung Biru!
Tunggu.
Ke mana?
Tanjung Biru.
Kapan kita berangkat?
Hai, Teman-Teman, jadi, kita akan berangkat ke Tanjung Biru,
semua karena temanku, Martin!
- Hai! - Hai.
Itu Galih,
- Ojan. - Hai.
- Jadi, kami akan menjelajahi… - Pergi itu seperti ini.
- Jangan batal terus! - Hei!
- Jangan ke mana-mana. - Ucapanmu itu.
- Benar, tapi, 'kan? - Ya.
Ayo, jalan.
- Yuk. - Tadi membuat vlog, ya?
Teman-Teman, aku mulai membuat vlog dari sekarang, ya?
Kalian harus ikut semua di vlog aku.
Ya, nanti aku kasih tahu spotnya, ya. Tanjung Biru!
Ya, kita mau ke Tanjung Biru.
Ini di depan ada Galih dan Martin.
Tapi karena lagi menyetir, tidak bisa dikasih lihat.
Mau tahu keseruan kami akan kayak bagaimana nanti?
Jangan ke mana-mana.
Gal, itu…
Spot di sana kayaknya bagus. Boleh berhenti dulu?
Aku mau foto-foto di sana sama bikin konten.
- Edan! - Bagus banget!
Ini bagus banget.
Aku harus buat vlog di sini.
Bagaimana, Van? Keren tidak?
Senang, ini bagus banget!
Tumben ini anak pintar.
Lihatlah. Begitu kerennya, sinyalnya tidak ada.
Kau meledek ya?
Tidak bisa. Ini demi kehidupan medsosku, Tin!
Tentu saja tidak ada sinyal, Jan.
- Foto, yuk! - Yuk.
- Ayo, Tin, foto. - Ayo, foto.
- Foto, yuk. - Aku di tengah.
Ayo.
Tin, jalannya kok sepi banget? Aku jadi merinding.
Masih jauh ya tempatnya?
Ya. Kok lama banget?
Sabar. Sebentar lagi sampai kok.
- Gal! - Apa?
- Berhenti di kiri! - Mau apa kau?
- Mau apa? - Sudah, berhenti kiri dulu.
Mau ke mana, Jan? Hei!
- Jan, jangan sembarangan! - Masa bodoh!
Kesambet kau!
- Mau ke mana dia? - Tidak tahu.
Aduh…
- Aduh. - Nah, 'kan?
Aku sudah bilang!
Bau pesing!
Jan, kau mengompol?
Aduh, Ojan.
- Jorok banget… - Tadi ada yang mengejarku, Gal.
Duduknya jangan dekat-dekat.
Bagus, ya?
- Combro, kau. Dapat saja spot kayak gini. - Tentu saja.
Gal, kau mengerti soal kamera,
aku boleh minta tolong lihat video aku yang ini?
Boleh.
Sudah oke, kok.
Tinggal framing-nya saja.
Framing, ya?
Oke.
Kapan-kapan kalau aku lagi buat video, aku boleh minta tolong kau tidak?
Boleh.
- Kalau lagi kosong saja. - Ya, boleh.
Gal.
Lihat, tidak?
Banyak spot, Gal.
Sebelah sana.
Hai, Van.
Hai.
- Bagaimana? - Apanya?
Videonya.
Begini saja. Tidak bagaimana-bagaimana.
Aku boleh lihat tidak?
Lihatnya langsung di YouTube saja. Lumayan, 'kan, tambah views aku.
Tapi aku sudah download lo.
Jadi, aku lihat lagi.
Balik lagi sama aku, Vania.
Jadi, hari ini, aku sudah di kedai kopi…
Omong-omong, kau sudah pernah night dive belum?
- Belum, kenapa? - Kau harus coba itu.
Kalau malam hari, pemandangan bawah laut cantik banget!
Kayak kau.
Hei, Princess!
Princess!
Ada spot bagus!
Wah! Ya, keren banget!
Jangan iseng, Jan.
Jail kau.
Sumpah ini bagus banget.
Dapat saja kau, Tin, tempat kayak begini.
Tempat ini bagus,
tapi kok sepi amat, ya?
Ya, sampai aku tidak dapat sinyal.
Kau memuji atau meledek? Masuk, yuk.
Tapi ini tempat tidak ada penghuninya. Sepi atau bagaimana, ya?
- Asalamualaikum! - Selamat pagi.
Siapa kalian?
Pak, aku Martin yang menyewa kamar kemarin.
Oh, ya. Aku Rama.
Pengelola tempat ini.
Mari ikut aku.
Cottage-nya kok masih sepi, Pak?
Karena baru dibangun setahun yang lalu.
Itu juga belum berfungsi secara penuh.
Jadi, tidak banyak orang yang tahu.
Kalian yang pertama.
Kalau begitu, aku bisa bantu promosikan?
Jadi, Bapak tinggal endorse kita saja.
Endorse?
Apa itu endorse?
Aku rekam di video,
lalu aku masukkan ke YouTube.
Nanti Bapak tinggal kasih potongan harga saja.
Tidak perlu penuh! Setengahnya saja juga tidak apa-apa.
Ini unitnya.
Jadi, jika ada yang dibutuhkan,
aku ada di belakang.
Tapi, Pak Rama, ini endorse…
- Pak Rama? - Van.
Sudah, Van.
- Siapa tahu. - Ya, tidak apa-apa. Sudah.
Lumayan kalau dapat potongan setengahnya.
Ya sudah. Sudah jalan orangnya.
Masih mau dirayu.
Pemandangannya keren banget.
- Kau sedang apa, Jan? - Cek kamar.
Oke, Teman-Teman!
- Aku dapat kamar-kamarnya. Ya? - Ya?
- Sini kamar aku, itu kamar Galih. - Ya.
- Itu kamarnya Princess. - Oke.
Martin.
- Kamar kau sini, Tin. - Bercanda.
Oke? Sudah dapat kamarnya masing-masing?
- Oke. - Jan, Tin, duluan ya.
- Dah. - Dah, Martin.
Dah, Vania.
- Ini kamar Vania! Mari kita lihat. - Keren ini tempat ini.
Keren.
Semuanya!
Makan, yuk! Sudah disiapkan, ini!
Ya, sebentar! Aku lagi beres-beres!
Makan sudah, minum sudah, sekarang waktunya buat vlog!
Memang gratisan?
Ya, tidak apa-apa, meskipun kita tak di-endorsecottage ini,
tapi kalau sebagus ini tempatnya, aduh,
subscribers aku pasti nambah.
Di sini tidak ada sinyal. Memang bisa buat vlog?
Aku rekam dulu videonya,
nanti kalau kita balik ke peradaban, baru aku upload.
Selebritas.
Hai, Teman-Teman!
Aku baru saja selesai makan malam, dan berkat Martin…
- Martin, sapalah. - Hai.
Aku berasa menemukan spot hidden gem di sini.
Dan Martin, sebagai penemunya, mau antar aku tur keliling-keliling.
- Yuk! - Kok ragu-ragu begitu jawabnya? Ayo!
Nah, Martin, jelaskan, kau…
Lih.
Kau tidak kepikiran sama anak itu?
Kepikiran apa?
Selayaknya manusia normal,
naksir.
Pacaran. Nikah.
- Tidaklah. - Kenapa tidak?
Memangnya apa yang kurang darinya?
Cantik, ya.
Pintar,
rada koplak.
Ya, kurangnya bukan di dia, tapi kurangnya di aku.
Kau homo?
Apa jangan-jangan selama ini kau naksir sama aku?
Botak,
kalau aku homo, aku juga tidak sama kau.
Memang aku kenapa?
Yah… Apa ya? Aku lagi banyak pikiran.
Aku memikirkan ibuku.
Ibuku pergi ke mana?
Aku merindukannya.
Memangnya kau tak merindukan ibumu?
Ibuku sudah tenang, Lih.
Itu sebabnya, tidak perlu mempersulit hidupku.
- Belum tentu juga dia suka sama aku. - Mau!
- Tahu dari mana? - Aku berani taruhan.
Gal, aku ini memang jomlo, tapi tidak bodoh!
Kau memang tidak bodoh, tapi sok tahu!
Anak ini. Sudah, begini saja.
Kalau dalam hitungan ketiga, cewek ini nengok,
berarti dia ada respons untukmu.
Mau coba?
Oke.
Satu,
dua…
Hei, baru mau tiga, sudah nengok.
Lihat, 'kan? Aku seperti dukun.
Teman-Teman, di depan ada dermaga instagrammable banget.
Ayo, temani aku membuat vlog.
Kalian saja berdua. Aku lagi makan jeruk.
Aku ikut.
Memang kalian sudah pernah diving ke mana saja?
Yah, sudah lumayan banyak.
Wilayah pesisir timur sudah lumayan.
Ayo, kau naik duluan.
Tidak ada yang bawa gear?
Kita lihat-lihat dulu saja, Tin.
Nanti kalau di tengah laut ada masalah, bagaimana?
Oke.
- Yuk. - Nanti kau mulai vlog saja.
- Saat di jalan. - Nanti.
- Bagaimana? - Bisa.
Kalau bawa yang ini bagaimana?
Masalahmu cuma di framing,
jadi, seperti ini.
- Aku contohkan ya? - Ya.
Subjeknya juga kau harus pilih dulu.
Kayak gini, kurang lebih.
Lih! Arus bawah aman?
Sebentar, aku cek.
Aman!
Oke, Gal.
Pak, langsung balik ke cottage, ya Pak.
- Selamat pagi. - Pagi, Pak.
Sepertinya pada senang bisa di sini.
Ya, Pak. Tempatnya bagus, lalu sepi dan tenang.
Ya, Pak. Meskipun tidak dapat internet, kami tetap senang.
Bagus kalau begitu.
Tapi ada satu hal yang ingin aku ingatkan.
Ada satu aturan adat di pulau ini. Kalian harus patuhi.
Aturan seperti apa ya?
Ada satu tempat yang disakralkan oleh warga sekitar.
Yaitu yang berada di balik pulau itu.
Jadi, aku ingatkan untuk tidak pergi ke sana,
terutama pada malam hari.
Baik, Pak.
- Ayo. - Ayo.
- Pak. - Mari, Pak Rama.
Mari, Pak.
Teman-Teman, aku punya guyonan receh.
Ada benda yang suka dimainin sama anak laki,
bisa panjang, bisa pendek, depannya K, belakangnya L.
Wah, jorok kau.
Jan, ada perempuan.
Otak kalian saja berdua pada jorok! Bisa tebak tidak?
- Vania tahu tidak? - Memang apaan?
Katapel!
Sumpah, receh banget. Ada yang lebih receh lagi tidak?
Katapel.
Aduh.
Karang Hiu.
Gal.
Sendirian saja.
Ya.
Aku suka menikmati alam sendirian kayak gini.
Lebih damai.
Berarti aku ganggu, ya.
Oh, tidak! Tidak.
Tetaplah di sini.
Kalau lihat laut kayak gini
jadi ingat sama Mama.
Mamamu kayak apa, Gal?
Aku belum pernah cerita, ya?
Aku sempat tanya Ojan, tapi katanya, aku harus tanya langsung kepadamu.
Ya, aku sendiri juga tidak begitu ingat sebab waktu itu masih berumur empat tahun.
Yang aku ingat itu cuma
aku diajak Mama main ke pantai.
Main air sampai sore.
Terus, kalau sudah malam, Mama ajak aku melihat laut.
Galih.
Kau harus bisa berkorban apa pun
untuk orang yang kau sayang.
Entah berapa purnama lagi Mama bisa menjagamu.
Persis kayak sekarang.
Persis kayak sekarang.
- Kau menguping? - Tidak.
- Aku ke sana dulu ya. - Ya.
Hangat ya.
Apanya yang hangat? Dingin!
Kodok, aku juga tahu ini dingin.
- Kau sama Vania! - Kenapa?
Sudah, Gal. Kenapa tidak terbuka saja?
Ya ampun, Jan.
Aku belum mau pacaran. Malas drama-dramanya.
Aku harus begini buat kau, kau harus begini buat aku,
nanti kalau aku tidak begini, kau marah.
Aku marah…
Hei.
Mau ikut?
- Kau mau menyebur ke mana? - Ke sana.
- Kau tidak dengar apa kata Pak Rama? - Mitos.
Memangnya di sana ada apa?
Katanya, ada ikan bercahaya kayak kunang-kunang.
Dan dilihatnya cuma malam hari. Langka lo itu.
Itu bagus untuk bahan-bahanmu. Ya tidak?
Daripada kau melewatkan itu semua cuma gara-gara mitos warga lokal,
kayaknya tidak masuk akal.
Benar tidak?
- Benar juga. - Tentu saja..
Ya sudah. Kalau begitu, aku ambil gear dulu sama Ojan.
- Kau tunggu, ya. - Ya.
Princess!
- Kenapa? - Mau ikut tidak?
Mau ke mana? Aku ikut! Sebentar.
Yuk. Aku ke sana, ya?
- Ya. - Tunggu kami ya. Jangan duluan.
- Aku ke sana ini. - Ya!
Teman-Teman, jangan lupa alat komunikasi.
Lurus saja, Gal.
Teman-Teman, ini kita mau ke mana?
Nanti kau juga tahu sendiri.
Teman-Teman, hati-hati arus!
- Teman-Teman. - Ada apa, Van?
Aku di sini saja, ya. Aku takut. Aku tidak mau ke sana.
Ya sudah. Aku ke sana dulu.
Aku juga di sini kok. Menemanimu, Van.
Aku ke sana, ya. Susul Martin.
Ada cewek.
Jan? Ojan? Kau di mana?
Jan?
Martin, tunggu aku.
Cewek itu kok menghilang?
Ke mana, ya?
Jan, kok kau sendirian? Yang lain mana?
Tidak tahu. Aku juga kehilangan mereka.
Ayo, kita cari mereka.
Kenapa kau, Tin?
Tidak apa-apa, Jan. Yuk, kita cabut dari sini.
Martin, masuk.
Martin, kau di mana?
Ojan, Vania, masuk.
Martin, Ojan, Vania, masuk.
Teman-Teman, kalian di mana?
Lih?
- Vania mana? - Belum naik, Gal!
Harusnya kalian berdua menjaga Vania!
Tin, cek sana.
Vania, monitor.
Vania, monitor.
Vania, monitor.
Vania, monitor.
Vania, monitor.
Teman-Teman! Martin, Galih, Ojan, kalian pada di mana?
Teman-Teman, kalian pada di mana? Aku takut!
Martin, Galih, Ojan, kalian pada di mana?
Gal!
Ini, Gal.
Yuk, pelan-pelan.
Vania.
Ya, oke.
Ada apa tadi di bawah sana, Bro?
Aku tidak lihat apa-apa.
Kalian semua ke mana tadi?
Apa yang kalian lakukan di karang itu?
Tidak ada apa-apa, Pak. Cuma foto-foto saja.
Kalian masuk ke kapalnya?
Kapal?
Kapal apa ya, Pak?
Kapal yang karam.
Kalian ambil sesuatu dari sana?
Tidak, Pak. Tidak ambil apa-apa.
Ingat baik-baik,
hati-hatilah kalau tidak mau celaka.
Tin, itu kapal apa? Kapal setan, Tin?
Kenapa? Kau takut setan?
Tidak ada sejarahnya orang mati gara-gara makhluk halus.
Ini apa, Tin?
Ya ampun, Jan. Ya paling itu tadi tersangkut.
Kau tadi juga tak tahu kalau di bawah ada benda atau besi yang bisa buat kau luka?
Lagi pula, kalau di sana memang ada setan…
Kau tak lihat apa yang kulihat saat kalian sudah naik ke kapal tadi.
Apa pun itu, besok kita pulang.
Aku setuju sama Ojan.
Besok kita pulang supaya Pak Rama tidak curiga sama kita.
Dan kalau kau masih mau diving di sana, silakan saja.
- Tapi tanpa kita. - Tapi aku…
Ayo.
Aku senang kau bisa selamat tadi.
Aku juga senang bisa selamat.
Kau takut, ya?
Menurut kau sajalah.
Tenang saja, aku akan menjagamu.
Perasaan tadi yang menyelamatkanku bukan kau, Tin.
Ya, tapi aku yang perhatian kepadamu.
Aku tidak butuh ucapan saja.
Sudah ya, aku mau mandi.
Terus saja mengharapkan cowok dingin yang tak pernah perhatian kepadamu!
Lapar perut ini. Di dapur ada apa ya?
Makanan apa gitu?
Cakep.
Apa itu?
Kenapa, Jan?
Setan, Tin.
Mana ada gitu-gituan?
Ada, Tin.
Gal?
Gal?
Itu Vania, Tin!
Galih?
Galih.
Galih?
Galih.
Ma? Mama ke mana saja?
Galih yakin Mama masih hidup.
Mama kenapa tidak pernah mengabari Galih?
Ma, jawab.
Sudah waktunya, Galih.
Giliranmu untuk menjaganya.
Menjaga apa?
Karang Hiu.
Ma? Mama mau ke mana?
Jangan tinggalkan Galih, Ma!
Masih basah ini darahnya.
Baru.
Ini semua gara-gara kau, 'kan, Tin?
Tidak kok, aku di depan.
Ini pasti kerjaan Bapak itu. Gara-gara kita melanggar aturan dia.
Ojan benar.
Harusnya kita tidak masuk ke kapal.
- Oh, kau menyalahkan aku? - Tidak.
Bangsat! Tadi kau yang mau ikut.
Sekarang kau menyalahkanku?
- Dasar anak mami! - Bicara apa kau?
- Hei… - Jaga mulutmu!
Kumohon. Sudah, ayo berkemas sekarang.
Ayo kita berkemas.
Hei!
Mau ke mana kalian?
Kami mau pulang, Pak.
- Pasti kalian ambil sesuatu dari sana. - Mengambil apa, Pak?
Sekarang ini tidak cuma nyawa kalian saja yang terancam bahaya.
Tapi nyawa seluruh penduduk sini!
- Kami minta maaf, Pak! - Minta maaf saja tidak cukup.
- Terus kami harus bagaimana, Pak? - Kalian harus bertanggung jawab.
Galih, kau harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kakek dan ibumu.
Bapak kenal mamaku?
Ibumu adalah juru kunci pulau ini.
Lima belas tahun yang lalu,
kedamaian pulau ini terusik oleh kehadiran dua orang perampok.
Mereka ke Karang Hiu untuk mengambil sesuatu yang keramat.
Sebagai juru kunci,
ibumu melakukan segala upaya untuk menjaganya.
Lalu, ibumu segera menyusul ke Karang Hiu untuk mencegahnya
agar mereka tidak menyelam ke kapal karam.
Tapi dia sudah terlambat
karena mereka sudah menyelam.
Tak ada yang bisa dilakukan,
selain meredam amarah siluman penjaga Karang Hiu.
Aku mohon!
Aku mohon!
Jangan ambil barang itu! Cepat pergi dari sini!
- Pak Rama? - Pak Rama?
Ojan! Martin!
- Ayo cepat! Kalian mau mati? - Mulutmu!
Kenapa?
Kenapa, Anak Mami?
Sudah tidak kuat?
Tidak usah meledek.
Kalau memang kau sudah tidak kuat,
balik ke cottage biar ketemu sama ibumu!
- Bicara apa kau? - Galih! Galih…
- Galih. Gal! - Bicara apa kau?
Sudah!
Tin,
Kita istirahat dulu.
Aku ada air.
Kita jalan, ya. Yuk.
Jan! Ojan!
- Jan! - Jan…
Jan! Ojan!
Jan! Ojan!
Ojan…
Ojan…
- Lih, mau apa kau? - Ojan.
- Lih, mau apa kau? - Mengubur Ojan.
Makhluk itu masih ada. Kita harus cepat, Lih!
Lalu, aku harus meninggalkan Ojan?
Daripada kita berikutnya? Kau jangan bodoh, Lih!
Galih!
- Bangsat kau! - Galih!
- Galih! - Bangsat kau!
- Gara-gara kau, temanku mati! - Ya, Lih…
Sudah!
Dengar, Lih.
Kita harus selamat dulu dari sini, setelah itu kita cari bantuan, oke?
Van!
Van, kau tidak apa-apa? Ayo, Van.
Ayo.
Kita berhenti di sini.
- Kita harus jalan, Lih. - Kaki Vania sakit, dia tidak bisa jalan.
Aduh.
Sudah, tidak apa-apa. Tinggalkan saja aku di sini.
Tidak.
Kita semua harus sama-sama.
Kita semua harus selamat.
Harus saling jaga, ya.
Tidak ada yang boleh ditinggalkan. Oke?
Lih…
Aku minta maaf atas kejadian ini.
Aduh… Minta maafnya nanti saja.
Tidak, Lih. Benar, Lih.
Waktu itu aku ajak kau ke sini,
tujuan utamaku bukan cuma diving, Lih.
Bicara apa kau?
Kau ingat kapal itu, 'kan?
Kapal itu dulunya adalah kapal penjajah yang pernah singgah di pulau ini.
Dan salah satu komandan kapal itu adalah
kakek buyutku.
Kakek?
Ya, kakek buyutku.
Malam itu, aku ke gudang bawah rumah.
Waktu ambil sesuatu dari sana,
aku menemukan sebuah kotak.
Ternyata isinya foto dan memoar kakek buyutku.
Aku langsung buka dan baca.
Isinya tentang pulau Tanjung Biru
dan di sana ada tempat keramat yang bernama Karang Hiu.
Di Karang Hiu ada sebuah kuil kecil.
Di dalamnya ada sebuah artefak yang terbuat dari emas.
Siapa pun yang memilikinya akan mempunyai sebuah kekuatan.
Tapi ada sebuah kekuatan besar menjaga artefak itu.
Kapal penjajah diterjang badai besar waktu meninggalkan pulau Tanjung Biru
karena berusaha membawa pergi artefak dari Karang Hiu.
Jadi, kapal itu…
Ya.
Karena mau mencari kapal itu, aku mengajak kalian kemari
dan aku telah mengambil sesuatu dari sana.
Barang ini.
Jadi, kau yang ambil?
Ojan mati gara-gara itu.
Kau mengorbankanku dan teman-temanku gara-gara itu?
Ojan temanku, Tin.
Teman aku.
Temanmu juga.
Pikiranmu ke mana, Tin?
Aku harus tebus semua ini.
Aku akan mengalihkan perhatian siluman itu.
- Oke? - Tidak.
- Martin! - Cepat!
Martin!
Hei, Siluman!
Ini yang kau cari, 'kan?
Martin!
Van, sudah.
Jangan lihat.
- Martin… - Van, kita harus pergi dari sini.
- Martin… - Kita harus pergi.
Ayo.
Martin…
Van, kakinya bagaimana?
- Masih sakit? - Masih, tapi…
Masih bisa jalan?
Tapi pelan-pelan.
Maaf, ya, Van.
Harusnya tidak ada yang perlu mati kayak gini.
Galih…
Martin…
Ojan…
Kalau saja aku berpikir dua kali buat ke sini.
Harusnya aku menolak.
Kau cocok sama Martin.
Galih.
Kau sadar, 'kan, Martin menyukaimu?
Ya, tapi aku sama Martin…
Kami tidak…
Van! Maaf, Van. Coba kita lihat, Van.
Lihat ukirannya!
Coba kau lihat, Van.
Ukirannya mirip semua sama yang di buku.
Terakhir kali
aku memimpikan Mama.
Mamaku bilang,
aku harus menjaga Karang Hiu.
Tidak sadar saja.
Berarti selama ini mamaku menjaga tempat ini.
Galih, kau ingat kata Pak Rama?
Aku harus melakukan apa yang mamaku pernah lakukan di sini.
Jangan-jangan kapal itu tenggelam bukan karena badai besar,
- tapi karena penguasa Karang Hiu. - Karang Hiu.
Dan yang membunuh Ojan,
Martin,
dan Pak Rama itu…
Gal, kumohon, kita harus tinggalkan tempat ini sekarang.
- Gal, kumohon. - Ya, ayo.
Ayo, sini.
Ayo.
Ayo.
- Gal, tidak ada jalan… - Van, kau harus lompat.
- Lompat? - Vania, kau harus lompat sekarang.
- Tidak, Gal. Kita harus bersama… - Vania.
Kau harus lompat.
Aku mau kau tetap hidup.
Maafkan aku, ya.
Galih!
Mama…
Selamat sore, Mbak. Mau pesan apa?
Sore. Ada yang bisa aku bantu pesanannya?
- Red Velvet Latte, satu. - Red Velvet Latte satu, ya.
Red Velvet Latte, satu. Terima kasih.
Ada tambahan lainnya?
Ditunggu pesanannya, terima kasih.
KOMPETISI TAHUNAN FOTOGRAFI BAWAH LAUT INDONESIA
SELAMAT KEPADA PEMENANG JUARA 1 FOTOGRAFI MAKRO
Selamat ya, Galih.
Kau menang.
Red Velvet, Bu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.