All language subtitles for The.Doll.2016.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik latar menegangkan]

Minggu lalu,

kami bertiga habis pergi dari luar kota untuk mengantar mama dan papa.

Karena mereka ada pekerjaan selama seminggu,

kami pulang lebih dulu.

Gara-gara Rendi yang ingin pipis,

kami berputar-putar selama 20 menit untuk mencari toilet,

tapi kami tidak menemukannya.

Sampai akhirnya,

terpaksa kami berhenti di Jalan Siliwangi.

[Hanna] Di situ saja, dekat pohon.

- [Rendi] Iya, iya. - [Rani] Cepat, malu dilihat orang.

[musik latar menegangkan]

[Hanna] Sejak saat itu,

hal-hal aneh mulai terjadi.

[pintu diketuk]

[musik latar menegangkan]

Siapa?

Tidak tahu.

Tapi ada ini.

Oh, my God! Ini pasti dari Kevin.

[berdengus] Gebetan barumu itu?

Iya, jadi kemarin dia bilang mau kasih aku boneka

buat kado ulang tahun aku, lucu ya?

Boneka sejelek ini?

Biar, yang penting dia ingat aku.

Oke.

[musik latar]

[Hanna] Rani!

Bonekanya kenapa ditaruh di sini?

Aku tidak menaruhnya di situ.

Apa mungkin Rendi ya, yang memainkannya tadi?

Mungkin.

[Rani] Hai, Sayang! Terima kasih untuk bonekanya. Aku suka!

Huh?

Jangan pura-pura tidak tahu deh.

Lalu,

bonekanya dari siapa?

Rani.

Kamu kenapa?

Tidak tahu, Kak, tapi ada ini.

[pintu diketuk]

[pintu berderik dan terbuka]

Rendi!

Sedang apa, Kak?

Kamu yang melakukan ini?

Tidak, Kak.

Kakak kenapa bawa boneka itu ke dalam rumah?

Boneka itu

ada di atas pohon tempat aku pipis kemarin.

[berdengus] Pasti ada yang jahil.

[pintu diketuk]

Pak!

Pak! Pak, tunggu!

Ada apa ya, Non?

Bapak lihat orang yang menaruh kertas ini di depan rumah kami?

Tidak, Non, saya tidak lihat ada orang di sekitar sini.

Oke, terima kasih, Pak.

- Sama-sama, Non. Permisi. - Iya.

[Rendi berteriak]

[Rendi berteriak dan menangis]

[berteriak dan menangis]

- [berteriak] - [Rani] Rendi!

- [berteriak] - Kaki kamu kenapa?

[berteriak]

Saya sudah sering cerita pada semua teman-teman saya,

tapi tidak ada satu pun yang percaya.

Sampai akhirnya Rani bilang,

kalau temannya ada yang kenal dengan Bu Laras dan Pak Dedi.

Mungkin

Bu Laras dan Pak Dedi bisa bantu kami.

[Hanna] Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

[musik latar menegangkan]

[Ibu Daniel] Lima belas tahun kita menikah, Mas,

tapi keadaan belum berubah.

Masih tetap sama seperti ini.

[Ayah Daniel] Sayang,

tolong kamu sabar, ya.

Tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi.

Sebentar lagi tokoku buka.

[menangis] Tapi aku sudah tidak kuat, Mas.

Aku tidak bisa lagi hidup seperti ini.

Bagaimana kita bayar utang?

Bagaimana kita bayar kontrakan?

Dikejar-kejar tukang kredit...

Mas mau, 'kan,

aku punya kehidupan yang lebih baik dari ini?

Aku sayang sekali sama Mas.

Tolong jaga Daniel.

[terisak]

[kondektur] Bojong, Bojong!

[terengah-engah]

[kondektur] Bojong, Bojong!

Bojong, Bang?

[kondektur berseru]

- [pintu dibuka] - [Daniel] Sayang.

Sayang!

Kamu sedang apa?

Sedang masak.

Wanginya enak sekali.

Iya. Kamu tahu, 'kan,

kalau sedang senang, aku suka memasak.

- [tertawa kecil] - Kamu pasti dapat pesanan banyak, ya?

Iya, kamu tahu tidak,

aku baru saja dapat order sepuluh boneka untuk ulang tahun anak mereka.

- Serius? - Iya.

- Syukurlah. - [tertawa kecil]

- [Anya] Ayo, makan. - [Daniel] Ayo, ayo.

Aku membuatkan sup kesukaanmu.

Kamu harus menghabiskannya.

Ini.

Kenapa kamu senyum begitu?

Aku punya sesuatu untuk kamu.

Apa, Sayang?

Kamu tahu, selama ini aku bekerja di konstruksi,

jam kerjaku kacau, sampai terkadang aku tidak pulang.

Lalu gajiku tidak seberapa...

Sayang, tidak apa-apa, yang penting kita berjuang bersama.

Aku tahu.

Tapi berita baiknya, aku dapat promosi, Sayang.

Perusahaan beri aku kesempatan untuk jadi asisten Pak Haryanto.

Dia sekarang mengepalai semua proyek real estat di Bandung.

Gajiku sekarang bagus, Sayang.

Jadi, kita bisa ambil kredit untuk cicil rumah di sana.

Rumah?

[Daniel] Buka.

Sayang, kamu yakin kita bisa beli rumah?

[tertawa kecil] Cicilannya nanti dipotong dari gajiku tiap bulan.

Tapi kita masih punya cukup tabungan untuk hidup kita sehari-hari.

Lalu, karena jabatanku sekarang bagus,

kita diberi mobil kantor selama aku kerja di perusahaan itu.

Mobil? [tertawa]

[musik latar]

[Daniel] Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi

memikirkan besok kita makan apa,

bayar cicilan bagaimana dan lain-lain,

dan kamu tidak perlu lagi bekerja di mini market.

Kamu bisa fokus seratus persen dengan penjualan bonekamu.

Kita mulai bisa mewujudkan impian kita

dan membesarkan keluarga kita.

Sayang,

aku bahagia sekali.

terima kasih ya, kamu sudah bekerja keras untuk kita.

Aku bangga padamu.

[Daniel] Eh, truk barangnya sudah sampai!

- Pagi, Pak. - Pagi.

Ayo, Sayang.

Rumah baru kita, Sayang.

Rumahnya cantik.

Aku tak sabar mendekorasinya.

Tentu! Aku sudah menyiapkan satu kamar khusus untukmu.

Di sana kamu bisa susun rapi bonekamu.

Kamu bisa membuat boneka juga di sana.

[musik latar]

KAMERA

Sayang.

Untuk apa kamu memasang itu?

Di sini wajib, Sayang. Peraturan RT, semua harus pasang.

Oh.

[Daniel] Sayang, bisa tolong ambil paku? Ada di kardus, di garasi.

Oke, Sayang.

[Niken] Halo.

Halo.

[dalam bahasa Sunda] Baru pindah?

Dari mana?

Maaf, saya tidak mengerti.

Oh, pasti dari Jakarta, ya?

Iya.

Kenalkan, Niken.

Nah, rumah saya pas di depan rumahmu.

Oh, Anya.

Aduh, akhirnya rumah ini ada juga yang menempati.

Dari tadi saya lihat pada sibuk, makanya saya mampir ke sini.

Iya, baru saja pindah, masih berbenah.

- Pakunya ada, Sayang? - Ada di situ.

Sayang, kenalkan,

ini Mbak Niken, tetangga depan rumah kita.

- Niken. - Daniel.

Tapi panggil saya Teh Niken saja, saya asli orang Bandung.

Tapi ini berbenahnya masih lama?

Uh...

Tidak, tidak juga sih. Memang kenapa, Teh?

Jadi, kebetulan, di rumah ada arisan ibu-ibu di sekitar sini.

Nah, kalau mau, nanti ikut saja. Biar kukenalkan.

Biar cepat akrab.

Ya sudah, kamu ikut saja. Aku sebentar lagi harus ke proyek.

- Tidak apa-apa, bukan? - Silakan.

Ayo! Permisi.

[Ibu 1] Aku paling tidak tahan kalau suamiku mengorok.

- [Ibu-ibu berseru] - Pasti masih hangat-hangatnya.

Eh, omong-omong, berapa lama pacarannya?

Hmm, kurang lebih satu tahun.

Oh, baru sebentar ya.

[Ibu-ibu tertawa]

Rumah baru itu harus gelar selamatan.

Supaya tidak ada yang ganggu.

[pria 1] Bonekanya seram sekali.

[pria 2] Proyek juga...

pasti tersendat gara-gara ada pohon ini.

[suara mesin]

[musik latar menegangkan]

[pria 1] Jadi, bagaimana solusinya, Bang?

[pria 2] Ya, nanti kita cari solusinya.

Pak Usman, Pak Siregar.

Saya Daniel, asisten Pak Haryanto.

- Oh, selamat siang, Pak. - Oh.

Pak Haryanto akan telat, karena dia lagi ada proyek di sebelah.

Urusan di sini saya yang tanggung jawab sampai dia datang.

Iya, Pak.

Pohon ini kenapa belum ditebang, ya?

Di jadwal saya, kemarin harusnya sudah ditebang.

Ini area mau kita pakai untuk pembangunan ruko.

Masalahnya, tidak ada yang berani, Pak.

Masa tebang pohon saja tidak berani?

Izinnya, 'kan, sudah ada.

Bukan masalah izinnya, Pak,

tapi pohon ini punya cerita, Pak.

Beberapa bulan lalu, di rumah yang tidak jauh dari sini,

ada satu keluarga yang meninggal karena dibantai, Pak.

Termasuk anak perempuan kecil

yang suka bermain di bawah pohon bersama bonekanya, Pak.

Sejak kejadian itu,

bonekanya ditaruh di atas pohon

dan didoakan,

maksudnya agar arwah anak itu tenang. Begitu, Pak.

Benar, Pak Daniel.

Pohon ini sudah seperti rumah sendiri bagi anak perempuan itu.

Takutnya, kalau kita tebang pohon ini,

hal ini bisa mengganggu, Pak.

Terakhir kali saja, ada yang buang air di pohon ini,

lalu orang itu diganggu, Pak.

Begini, ya.

Kalau kita tidak ikuti kemauan Pak Haryanto,

kita semua bisa dipecat.

Kalau tidak ada yang berani, saya suruh orang tebang pohon ini.

- Tapi, Pak... - Pak.

[Niken] Kalau kamu baca buku itu,

pasti kamu tidak lagi menggampangkan keberadaan mereka.

Ya, memang, kalau doa langsung ke Tuhan.

Tapi ini juga cara untuk menghalau mereka.

Malas kalau rumah baru ada yang ganggu.

Oh, ini.

Memangnya, Teteh pernah lihat mereka langsung?

Ya, belum sih.

Kalau belum,

kenapa percaya, Teh?

Eh, Anya...

Ini salah satu hal yang bisa kamu percaya tanpa kamu harus lihat.

Maaf, Teh, jangan tersinggung ya,

tapi aku tidak percaya akan hal seperti ini.

Silakan, kalau tidak percaya,

tapi kalau kamu sampai mengalami kejadian aneh,

pasti kamu tidak akan berpikir seperti itu lagi.

Misalkan,

malam hari kamu mendengar suara,

kamu pikir itu suara angin, suara binatang,

padahal bukan.

Atau kamu cium bau busuk,

lalu kamu cari, tapi tidak ada sumbernya.

Lalu itu apa kalau bukan tanda-tanda kehadiran mereka, Nya?

[lonceng berdenting]

Apa itu, Teh?

Itu si Cilla, anakku, mengajak bermain petak umpat.

Si Cilla hobi main petak umpat.

Dia membunyikan bel...

[melenguh] lalu kita cari sampai ketemu.

[dalam bahasa Sunda] Ke mana dia, ya?

[dalam bahasa Indonesia] Di luar kali.

[lonceng berdenting]

- Ba! Tertangkap! - [Cilla tertawa]

Ayo, sini.

Kenalkan, Tante Anya. Salam dulu.

Halo, Tante Anya!

Hai, Cilla!

Tante Anya tinggal di depan rumah.

Cilla boleh main ke rumah Tante Anya?

[Niken dan Anya tertawa kecil]

Tante Anya baru pindah, masih lelah.

Tapi kapan-kapan boleh, Tante Anya?

Boleh.

Di rumah tante banyak boneka. Buatan tante sendiri.

Kapan-kapan, Cilla datang, ya?

Iya, Tante!

[suara gergaji listrik]

[musik latar menegangkan]

[suara mobil]

- [Anya] Sayang! - [Daniel] Halo, Sayang.

Kenapa pulangnya malam sekali?

Aduh, di proyek sedang banyak pekerjaan, Sayang.

Aku sudah lapar, ayo masuk.

Ayo.

Eh, Sayang, tunggu.

Itu bagasinya belum tertutup.

[Daniel] Oh, ya.

[Anya] Sayang, ini boneka siapa?

Entahlah.

Tadi ada di proyek, mungkin tidak sengaja terbawa.

Eh, mau diapakan?

Mau kubuang. Sudah kotor, sudah jelek juga.

Jangan, masih bagus kok.

Ini cukup dibersihkan, lalu kuperbaiki sedikit.

Masih cantik. Lihat.

Oke.

Tidak apa-apa, ini untuk inspirasiku. Nanti pasti laku.

- Ayo. - Ayo.

Awas kepalanya.

[musik latar menegangkan]

[Daniel] Si Niken itu percaya akan dunia lain?

Iya.

Orangnya sih, baik, lucu,

tapi kalau sudah membahas hal seperti itu, suka aneh.

Tapi memang iya, sih.

Rumah kita harus kita doakan, biar berkah, biar kita dilindungi.

Tapi bukan untuk usir-usir apalah itu. Mana ada, sih?

Iya, sih.

Sayang, kamu kentut ya?

Tidak.

- Kenapa bau? - Kamu kali.

Enak saja!

Mungkin aku kelepasan. [tertawa kecil]

Benar, bukan? Kamu kentut!

Sudah.

Ayo tidur. Sini.

Tidak mau, tunggu bau kentutnya hilang dulu.

[Daniel terkekeh]

[pintu terbuka]

[berdebum]

[Anya melenguh]

[berdebum]

[Anya terkesiap]

[terengah-engah]

Sayang. Sayang!

Sayang!

Ih, Sayang! Sayang!

Sayang!

Ih! Sayang!

- Sayang! - Aduh!

Apa? Apa?

[berbisik] Seperti ada suara.

[berbisik] Tidak ada apa-apa.

[berbisik] Tadi seperti ada orang masuk.

Kamu mimpi kali.

[suara barang pecah]

[musik latar menegangkan]

[berbisik] Sepertinya dari sini suaranya.

[musik latar menegangkan]

[musik latar menegangkan]

Itu, Sayang, gelas pecah.

Sepertinya ada tikus.

Mungkin, ya.

Besok beli perangkap tikus, ya.

[pintu berdecit]

[pintu berdecit]

[musik latar menegangkan]

[berbisik] Tadi kamu sudah tutup pintu kamar itu?

Rasanya aku sudah tutup pintunya.

[musik latar menegangkan]

Cuma angin.

Mungkin.

Sayang.

Kamu kentut, ya?

- Sayang, please. - Bau!

Kentutku baunya seperti ini tidak?

Pasti dari luar.

- Tapi baunya seperti kentutmu tadi! - Tapi sekarang aku tidak kentut!

Sudah. Ayo.

Bapak!

[terkesiap]

[terengah-engah]

Pagi, Sayang.

Pagi, Sayang.

Sayang.

Sorry, ya, semalam aku membangunkan tidurmu.

- Kukira ada orang. - Tidak apa-apa.

Sayang,

kamu masih sering mimpi itu, ya?

Sudah tidak sering, kebetulan saja semalam.

Mungkin karena rumah baru.

Belum terbiasa.

Sayang,

mungkin ada baiknya kalau kamu konsultasi dengan seorang...

Maksudmu, psikiater?

Tidak perlu, Sayang.

Sudah tidak sesering dulu.

Sekarang juga aku sudah tidak ingat.

Lama kelamaan juga lupa.

Aku jalan dulu, ya.

Bye, Sayang.

[Niken] Anya!

- [Cilla] Tante Anya! - Bantu, Neng.

Teh.

[Anya] Dari mana?

[Niken] Habis mengantar Cilla les piano.

Tante, perangkap tikusnya besar sekali.

Iya, biar menangkap tikusnya sekalian banyak.

Memangnya banyak tikus di rumahmu?

Di rumahku tidak ada.

Iya, Teh, ada suara-suara. Ada gelas pecah.

Yakin itu tikus?

Ada bau busuk juga, apalagi kalau bukan tikus?

[Anya] Di dapur tidak ada CCTV, Teh.

Jadi, gelas pecahnya tidak terlihat.

Kamu bilang, Kamu dengar suara pintu terbuka sendiri?

Pas kamu lihat, pintu kamar sudah terbuka?

Ya, di lantai dua.

Tapi itu karena jendelanya terbuka,

otomatis anginnya masuk, lalu pintunya terbuka.

Coba lihat.

Itu pintunya terbuka sendiri.

Tidak ada siapa-siapa. Jangan-jangan, itu...

Itu cuma angin, Teh.

[suara gemeretak]

Itu tikusnya di atas.

Itu pasti di ruang bonekaku, ayo.

Sayang, tunggu sebentar, ya.

Kamu siapa?

[musik latar menegangkan]

Kamu mau main denganku, ya?

Boleh, ayo!

[Niken dan Anya berteriak]

Benar, bukan? Cuma tikus!

[Niken dan Anya menghela napas]

[Niken dan Anya tertawa]

- Aduh. - [tertawa]

[Niken menghela napas]

Dari mana kamu dapat boneka itu?

Dari tempat kerja Daniel. Dari proyeknya.

Memang kenapa, Teh?

Boneka itu namanya Ghawiah.

Nama yang diberikan anak perempuan kecil yang punya boneka ini.

Dalam bahasa Arab,

Ghawiah artinya yang jahat dan mengikuti hawa nafsu.

Sekarang anak kecil itu sudah meninggal.

Dibunuh secara keji bersama keluarganya waktu ada perampokan dulu.

Arwahnya tidak tenang, Nya.

Sebaiknya kamu kembalikan boneka ini ke pohonnya, ya?

Ini bukan main-main.

Kamu mau percaya atau tidak, terserah kamu.

Tapi ini bukan boneka sembarangan.

Boneka milik arwah yang tidak tenang.

Gentayangan!

Tante, boleh pinjam bonekanya?

Buat apa, Sayang?

Temanku mau main sama bonekanya.

Teman siapa?

Itu, ada di luar.

[Anya] Mana?

Tidak ada siapa-siapa.

Teman Cilla tidak ada.

Sudah pulang, kali?

- Namanya siapa? - Tidak tahu, Ma.

Kita pulang sekarang, ya.

Teh, mungkin saja itu anak tetangga.

Lebih baik kamu segera kembalikan boneka itu ke pohonnya.

Ini bisa berbahaya untukmu dan Daniel.

Ayo, Sayang.

[musik latar menegangkan]

[Anya] Meeting besar?

Iya, besok aku meeting dengan kantor pusat.

Berangkat pagi.

Meeting-nya panjang, Sayang.

Berarti kamu akan pulang malam?

Ya, tidak apa-apa.

Aku harus bekerja keras untuk kita.

[terkekeh]

Kenapa?

Mau cium, tapi bibirmu odol semua.

Ah, iya! Ya sudah, aku sikat gigi dulu, ya.

[bel berbunyi]

Sayang,

biar aku yang buka saja, aku mau ambil minum di bawah.

Oke.

[musik latar menegangkan]

Siapa, Sayang?

Ini...

Cilla mengajak bermain petak umpat.

Neng!

Sudah malam, masuk sini.

Malam-malam begini?

Biasa, namanya juga anak-anak.

Kenapa mukamu pucat sekali?

Tidak, aku cuma paranoid.

Habis mendengarkan cerita Niken.

Ayo masuk.

- [Daniel] Aku berangkat dulu, ya. - Hati-hati, ya, Sayang.

- Telepon aku kalau ada apa-apa. - Iya.

[bel berbunyi]

[musik latar menegangkan]

[telepon berdering]

Jadi basah!

[Niken dan Cilla tertawa]

Ada telepon, ya? Neng, tolong diangkat. Telepon.

[telepon berdering]

[Cilla tertawa]

[telepon berdering]

Halo?

Cilla.

Cilla ajak tante main petak umpat, ya?

[Cilla] Tidak.

Cilla taruh kertas lagi seperti semalam?

[Cilla] Tidak, Tante.

Kalau bukan Cilla yang ajak tante main petak umpat,

siapa lagi?

[Cilla] Teman Cilla, yang kemarin di rumah Tante.

[Cilla] Sudah dulu, ya, Tante.

[musik latar menegangkan]

[petir bergemuruh]

[bel berbunyi]

[petir bergemuruh]

[petir bergemuruh]

[petir bergemuruh]

Dik, kamu sedang apa di sini?

[anak kecil] Lapar.

Tante baru saja bikin sup, kamu mau?

Namamu siapa?

Uci.

Ayo masuk.

Uh, tante ambil sup dulu untukmu.

[petir bergemuruh]

[petir bergemuruh]

Dik,

kamu makan ya, supnya. Ayo.

[petir bergemuruh]

[telepon berdering]

Halo, Nya?

Ada anak perempuan.

Umurnya sekitar lima tahunan.

Siapa?

Anak kecil, perempuan, umur lima tahun, cuma si Cilla.

Si Vita anaknya masih bayi,

Fitri laki-laki semua,

Akina, Karin, and Mutia sudah besar.

Siapa?

Aku juga tidak tahu.

Anak ini sekarang lagi makan di rumahku.

Rencananya, habis hujan, aku mau antar anak ini ke Pak RT.

[Niken] Ya, siapa namanya?

- Uci. - [petir bergemuruh kencang]

Teh?

Teh Niken?

[Niken] Kamu belum kembalikan boneka itu ke pohonnya, ya?

Belum, memangnya kenapa, Teh?

[Niken] Kamu lihat mukanya tidak?

Tidak.

Anak itu menolak melepas jas hujannya.

- Tante. - Iya, Sayang?

- Boleh pakai kamar mandinya? - Oh.

Iya, iya, boleh. Di sebelah sana, ya.

[Niken] Kamu dengarkan aku baik-baik ya.

Uci itu nama anak perempuan yang punya boneka Ghawiah.

Dia korban perampokan yang dibunuh

dan meninggal dengan kepala bolong karena tembakan.

- [musik latar menegangkan] - [Anya terkesiap]

Teh? Teh Niken?

Teteh? Teh?

[musik latar menegangkan]

Dik?

[petir bergemuruh]

[petir bergemuruh]

[suara pintu terbuka]

[suara langkah kaki]

[petir bergemuruh]

[petir bergemuruh]

[musik latar menegangkan]

[petir bergemuruh]

[Anya berteriak]

[Anya berteriak]

- Anya? - [Anya berteriak]

[Anya berteriak]

[Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

[Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

[Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

- Anya, buka pintunya, Anya! - [Anya berteriak]

- Tunggu sebentar. - [Anya berteriak]

[Anya berteriak]

[Niken] Ah!

[Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

[Anya berteriak]

- Anya! - [Anya berteriak]

- Anya. - [Anya terisak]

Niken! Niken...

[Anya terisak]

[petir bergemuruh]

Anya! Sini!

Di mana pohonnya?

Di sini, seharusnya di sini.

Pohonnya sudah ditebang.

Kita harus telepon Ustaz Wahid.

KIta kubur boneka itu di situ, kita doakan, ya?

Ayo.

Pak Ustaz, terima kasih sudah mau datang.

- Mana bonekanya? - Ada, Pak.

Astagfirullahaladzim.

[Ustaz membaca doa]

[musik latar]

[Ustaz membaca doa]

Kamu yakin tidak mau di rumahku dulu sampai Daniel datang?

Tidak, Teh, tidak apa-apa.

Daniel katanya hampir sampai.

Ya sudah, semuanya juga sudah aman.

[musik latar menegangkan]

[menghela napas]

[ponsel berdering]

[ponsel berdering]

Iya, Teh?

[Niken] Anya, ini si Cilla ke mana, ya?

Sudah sejam tidak kelihatan.

Tadi main petak umpat dengan ayahnya,

tapi sampai sekarang belum kelihatan.

Sudah dicari di rumah sebelah, Teh?

[Niken] Sudah, tapi tidak ketemu.

Dia suka main ke rumahmu,

kalau kamu lihat, telepon ya.

Iya, Teh. Habis mandi, aku bantu cari dia ya.

[Niken] Iya, terima kasih ya.

[lonceng berdenting]

[musik latar menegangkan]

Cilla?

Cilla?

[musik latar menegangkan]

[lonceng berdenting]

Cilla?

[musik latar menegangkan]

Cilla.

Tante tangkap, ya?

[ponsel berdering]

Halo?

[Niken] Anya, sudah ketemu.

Tahu tidak, dari tadi dia bersembunyi di kolong tempat tidur.

Aduh, maaf ya, merepotkan!

[musik latar menegangkan]

[lonceng berdenting]

[Anya berteriak]

[Anya berteriak]

Sayang?

- Sayang! Sayang! - Ah!

- Anya! Ini aku. - [terengah-engah]

[Anya terisak]

[musik latar menegangkan]

[Niken] Semua ada di situ.

Semua orang selalu hati-hati dengan boneka dan pohon itu.

Tidak ada yang berani menyentuhnya.

Kalau lewat situ, pasti berdoa minta perlindungan.

Sekarang rumah dia sudah tidak ada lagi.

Kamu yang suruh tebang pohon itu, bukan?

Karena itu dia merasa terganggu dan mengikuti kamu sampai rumah.

Ini bisa berbahaya untuk kalian.

Teh Niken, saya tahu Teh Niken suka baca buku fiksi,

buku tentang dunia lain yang Teh Niken percaya.

Tapi kalau menurut saya, semua itu tidak ada.

Teh Niken tidak perlu mengarang cerita-cerita aneh,

Anya hanya tambah ketakutan.

Ini siapa yang bikin cerita? Kenyataannya memang begitu.

Kamu sendiri bilang orang proyek cerita masalah boneka dan anak kecil itu.

- Ya. Tapi belum... - Sayang!

Memang benar.

Aku alami sendiri, aku lihat.

Sayang, dulu aku juga sama sepertimu.

Berpikir segala sesuatu pakai logika.

Tapi aku lihat sendiri boneka itu bisa pindah,

dan aku lihat anak itu.

[ponsel berdering]

[ponsel berdering]

Ya, halo?

Nya.

Bonekanya masih ada di gudang?

Masih.

Aku sudah kunci dari kemarin, belum aku buka.

Kita harus hubungi Ustaz Wahid lagi.

- Eh... - Sayang.

Ada masalah di proyek, aku ganti baju dulu, ya.

Teh.

Temani aku ya, sampai Daniel pulang.

[warga berteriak]

[warga berteriak]

Pak Haryanto.

Lihat kekacauan yang kamu buat, orang-orang jadi tidak bisa bekerja.

Ini ada apa, Pak?

Ini masih ada hubungannya dengan penebangan pohon, Pak.

Kenapa lagi?

Orang yang menebang pohon ini semalam meninggal, Pak.

Katanya diganggu anak kecil dan bonekanya.

Tetangganya juga tidak ada yang tenang, Pak.

Apa lagi saat mereka tahu kalau pohon ini sudah ditebang.

Mereka takut kalau anak kecil itu akan mengganggu mereka juga, Pak.

Lihat, Pak.

Mereka tidak mau pergi dari sini, Pak.

Sampai ada jaminan kalau anak kecil itu tidak akan mengganggu siapa-siapa lagi.

Pak, dengar ya, ini konyol.

Ya, saya mengerti, Pak, saya paham.

Pak Daniel pasti tidak percaya.

Tapi warga di sini percaya betul, Pak.

Benar, Pak.

Oke, mereka sekarang maunya bagaimana, kita ikuti.

Mereka minta kita mencarikan orang pintar

yang benar-benar bisa mengatasi anak kecil ini, Pak.

Katanya kalau yang tidak benar-benar bisa, percuma, Pak.

Anak kecil ini sudah sangat marah karena rumahnya sudah tidak ada sekarang.

Ini tanggung jawabmu, Daniel.

Tapi Pak, saya cuma mengikuti perintah Bapak.

Kamu tidak bisa hanya ikuti perintah kalau ada warga yang marah.

Pembangunan ini bisa dihentikan dan kita bisa rugi.

Kamu bisa telepon saya dan minta saran!

Tapi Pak...

Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan hal ini,

kamu saya pecat!

- Ke sana. - Baik, Pak.

[warga berteriak]

Kenapa bisa begitu?

Ya sudah, kami tunggu kabarnya ya, Pak.

Bagaimana, Teh? Apa katanya?

Ustaz Wahid tidak bisa menghadapi ini.

Tapi dia akan minta tolong orang yang pernah menghadapi boneka ini.

[pintu ditutup]

Aku pulang dulu, ya.

Sayang.

Mungkin besok ada kabar baik dari Ustaz Wahid.

Kita bicarakan besok saja ya.

Aku lelah sekali.

[musik latar]

[pintu berderik]

[Anya terkesiap]

[suara gemeretak]

[Anya terengah-engah]

- [suara gemeretak] - [Anya terengah-engah]

- [suara gemeretak] - [Anya terengah-engah]

- [suara gemeretak] - [Anya terengah-engah]

[Anya menghela napas]

[Anya berteriak]

- Anya, Anya! - [Anya berteriak]

Ini aku. Ini aku.

- Ini aku. - [Anya terengah-engah]

[Anya terisak]

[suara pintu dibanting]

Sayang, jangan, Sayang.

[pintu dibanting berulang kali]

[pintu dibanting berulang kali]

[Ustaz Wahid] Apa yang selama ini Ibu lakukan,

- sudah banyak membantu orang. - Shera, jangan lari-lari.

Memang, dalam hal ini, selalu ada perdebatan antar ulama.

Selalu ada pro dan kontra.

Tapi saya pribadi, juga dari majelis,

mengucapkan banyak terima kasih atas kontribusi Ibu selama ini.

Saya tidak pernah terlalu memikirkan pro dan kontra atas apa yang saya lakukan.

Tugas saya hanya menjalankan kelebihan yang saya punya

untuk menolong orang lain.

Sesederhana itu.

Ini tugas yang saya emban

dari yang memberikan kelebihan ini kepada saya.

Termasuk menjaga benda-benda ini

yang telah menjadi medium dunia lain.

Menjaga agar apa yang tidak bisa kembali ke alamnya

tetap terikat pada benda yang dimasukinya, selamanya.

[pintu berderik]

[tertawa kecil] Shera.

Shera.

Ibu sudah pernah bilang, jangan main ke sini.

Shera ke atas ya, main sama Bi Sumi.

Iya, Bu.

Apa semua ini yang mengganggu kehidupan Bu Laras?

Eh, maaf.

Sejak suami Ibu meninggal, sepertinya Bu Laras

tidak ada waktu untuk diri sendiri.

Ibu selalu fokus dengan pekerjaan, dengan Shera.

Saya fokus pada pekerjaan ini,

supaya apa yang terjadi pada suami saya tidak terjadi pada orang lain.

Dengan membantu orang dan menjaga Shera,

sudah cukup buat saya.

Oh.

Begini, Bu Laras.

Saya kemari karena ada satu kasus

yang saya harap Bu Laras bisa selesaikan.

Tapi kalau Ibu keberatan,

saya juga mengerti.

[musik latar]

Ibu sepertinya banyak pikiran.

Sumi.

Tadi pagi Ustaz Wahid datang ke sini,

minta bantuan saya untuk menghadapi boneka yang pernah saya hadapi dulu.

[terkesiap]

- Tapi, Bu... - Saya tahu.

Dulu ketika kita melakukan pembersihan dan doa terhadap boneka itu,

sulit.

Kita kurang hati-hati.

Dan saya kehilangan suami saya.

Tapi akhirnya setelah didoakan dan dikembalikan ke pohonnya,

tidak lagi ada masalah.

Arwahnya tenang.

Tapi sekarang kita tidak bisa menebak

apa yang akan terjadi setelah pohonnya ditebang.

Sumi.

Kalau sampai sesuatu terjadi pada saya, tolong jaga Shera.

Jangan sampai ada apa pun terjadi dengannya.

[musik latar menegangkan]

[bel berbunyi]

Eh, Bu Laras.

Saya Niken.

Ini Anya sama Daniel.

Silakan masuk.

[musik latar menegangkan]

- Di mana bonekanya? - Di atas.

[musik latar menegangkan]

[Laras] Saya akan melakukan pembersihan di rumah ini.

Dan mendoakan bonekanya supaya anak itu tenang.

Tapi sebelum pembersihan bisa dilakukan, kita harus komunikasi dulu dengan dia.

Saya akan menenangkan dia.

Dan setelah dia setuju, kita akan lakukan ritual pembersihan secara baik-baik.

Kita akan mencarikan pohon baru,

letakkan bonekanya di sana dan kita doakan.

Untuk Niken, maaf, selama proses ini, saya tak mau kamu ada di sini.

Dia tak suka sama kamu, karena melalui kamu saya bisa ke sini.

Proses ini bahaya untuk kamu.

[musik latar menegangkan]

[petir bergemuruh]

[petir bergemuruh]

Biar saya yang bicara dengan dia.

Kalian cukup menyaksikan dan silakan bicara saat diperlukan.

[petir bergemuruh]

[Laras menarik napas]

- Uci? - [petir bergemuruh]

Anak manis.

Bu Laras memanggilmu.

Uci dengar?

[musik latar menegangkan]

Uci.

[petir bergemuruh]

Bu Laras tahu Uci ada di sini.

Kamu dengar Bu Laras, Nak?

Uci.

Kita ketemu lagi.

Bu Laras tahu Uci suka main petak umpat.

Tapi maaf, Sayang.

Uci tak bisa main di sini.

Karena ini bukan rumah Uci.

Ini rumahnya Tante Anya dan Om Daniel.

Kalau Uci main di sini, nanti mereka akan terganggu.

Jadi, Uci pulang ke rumahnya, ya?

Yang tenang di sana.

Bu Laras tahu,

pohonnya sudah tak ada.

Tapi nanti Bu Laras akan carikan Uci pohon yang baru.

Yang lebih besar.

Kenapa tak mau?

[petir bergemuruh]

Bu Laras tahu pohonnya sudah tak ada.

Tapi tolong Uci juga harus mengerti keadaannya di sini sekarang.

Kita semua menyesal ini terjadi.

Om Daniel juga sangat menyesal sekali.

Uci.

Jangan seperti itu.

Dendam itu tak baik.

Dendam itu jahat.

Uci bukan anak seperti itu, bukan?

Om Daniel juga mau minta maaf sama Uci.

Saya...

Saya minta maaf.

Jangan bicara seperti itu, Uci.

Tenang, ya.

Uci, tenang.

Uci, tenang, ya.

Uci.

Uci, tenang, ya.

Uci, tenang ya!

Jangan bicara seperti itu.

[Anya berteriak]

- Anya! Anya! - [Anya berteriak]

[Daniel] Anya!

Terlalu kuat!

[membaca doa]

Atas kuasa dari Yang Maha Pencipta. Lepaskan!

Lepaskan!

[Daniel dan Anya terengah-engah]

[Anya terisak]

Kalian sedang berhadapan dengan apa yang disebut dengan dunia lain.

Di dunia lain sama dengan dunia kita.

Ada yang baik, ada yang jahat.

Dan sekarang arwah anak ini jauh lebih jahat

dan buruk dari waktu saya tangani dulu.

[petir bergemuruh]

Jiwa anak ini penuh amarah karena kematiannya yang keji.

Sehingga dia memilih untuk bersatu dengan iblis.

Iblis senang dengan segala sesuatu yang bisa merusak jiwa seseorang.

Dan dengan jiwa yang telah rusak ini, dia selalu melakukan tiga hal

untuk mengganggu manusia.

Mengenal.

Menakuti.

Merasuki.

Yang pertama, dia akan bermain dengan kalian untuk mengenal kalian.

Yang kedua,

dia akan mengganggu kalian sampai kalian merasa takut.

Karena orang yang merasa takut akan mudah untuk dirasuki.

Yang ketiga,

setelah dia berhasil mengendalikan rasa takut kalian,

dia akan merasuki

dan mengambil nyawa kalian untuk kepuasan pelampiasan amarahnya.

[petir bergemuruh]

Dia mau merasuki kamu.

Kamu akan dia kendalikan untuk membunuh Daniel yang telah menebang pohonnya.

Karena ketakutanmu lebih mudah untuk dia kendalikan.

Dan setelah itu, dia akan mengambil nyawamu juga.

Tidak ada negosiasi lagi dengan anak ini.

Iblis sudah terlalu menguasainya.

Saya tak lagi bisa melakukan pembersihan secara baik-baik.

Kita tak lagi bisa mencarikannya pohon baru

dan meletakkan boneka ini di sana.

Terus sekarang kita harus bagaimana?

Ritual pengikatan secara paksa.

[Laras] Saya akan ikat anak ini di dalam bonekanya.

Tapi untuk melakukan itu, kita butuh bantuan dari majelis.

Garam mempersempit wilayah siapa pun dari dunia lain.

- [Ustaz] Astagfirullah. - [Laras] Kita akan terlindungi.

Air suci, air yang sudah didoakan oleh para ustaz ulama,

akan membantu melemahkan dia.

Didukung dengan doa yang akan mereka lakukan nanti.

Dia akan semakin lemah,

berhenti di satu titik,

dan kita akan memaksanya masuk ke dalam bonekanya,

dan menguncinya.

[membaca doa]

[pintu berderik]

[suara bisikan]

- [suara bisikan berlanjut] - [musik latar menegangkan]

[kucing mengeong]

Ada yang aneh di sini.

Saya bisa merasakan dia tak lagi ada di dalam rumah ini.

Tapi masih ada di sekitar kita.

Dia sedang coba main-main dengan kita.

Dia tahu apa yang kita lakukan.

[Niken menjerit]

Niken!

[Anya] Niken! Niken!

Niken, turun, Niken!

Teh Niken, jangan!

Dia sudah dirasuki, dia akan lompat!

- Niken! - Teh, turun!

[Anya] Teh, jangan, Teh. Teh, turun!

- [Daniel] Teh Niken! - [Anya] Niken, jangan, Niken!

- [Anya] Niken! - [Daniel] Jangan, Teh Niken!

[Anya] Niken, jangan!

- [Daniel] Teh! - [Anya] Niken!

Niken!

Niken, Niken!

Niken! Lihat saya, Niken.

Niken, jangan dengarkan dia.

Niken, pegang tangan saya.

Niken!

Niken!

[Anya terisak]

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

[Shera] Ini minuman yang baru aku beli.

Enak dan sehat pula.

Putri, Putri.

Aku pulang. Kamu mau minum apa?

Oh, teh hangat. Ini.

Minum ya.

Mau makan apa?

Oh, mau makan cupcakes? Ini, makan ya.

[pintu berderik]

Kamu siapa?

Mau main sama aku?

Ayo?

Putri, Putri. Shera punya teman baru loh.

[Shera] Iya, ibu lagi pergi. Makanya aku main sendirian.

Tapi sekarang ada kamu.

Aku tak sendirian lagi.

Non Shera, lagi bicara sama siapa?

- Non Shera. - [Shera menjerit]

Kalau sasarannya adalah orang-orang yang menebang pohonnya,

kenapa jadi Niken?

Sekarang siapa pun yang menghalangi tujuannya bisa dia celakai.

Dia tak suka pada Niken karena Niken yang bawa kita ke sini.

Apa kita tak bisa doa ulang?

Persiapkan semuanya dari awal.

Percuma.

Kita sekarang tak tahu dia di mana.

Kalau dia tak ada di sini, kita tak bisa berbuat apa-apa.

- [Anya terisak] - [ponsel berdering]

[ponsel berdering]

- Sumi? - [Sumi] Bu.

Shera terkunci di kamar.

Dia teriak-teriak. Ada suara orang lain di kamarnya, Bu.

Ustaz, doakan rumah ini.

Jangan sampai ada yang bisa masuk, saya akan kembali.

[Sumi] Non! Non Shera! Non!

Shera! Shera!

- Bi, ambil kapak. - Iya.

Shera! Shera!

Shera! Shera!

Bu.

Mundur, Bi.

[suara jeritan di televisi]

Shera...

Shera!

Shera tak apa-apa?

Tidak apa-apa, Bu.

- Tadi mengobrol dengan siapa? - Uci.

Tapi sekarang dia sudah pergi.

[Laras menghela napas]

Ini perangkap.

- [petir bergemuruh] - [ustaz membaca doa]

Astaga.

Astaga, apa itu?

[ustaz berteriak]

[Daniel] Ayo kita ke kamar boneka.

Ayo.

[Anya berteriak]

Anya, kamu masuk lebih dulu!

Ah!

[Anya] Daniel!

Anya!

Pintunya terkunci!

Aku masuk lewat jendela kamar sebelah!

Cepat!

Ah!

[terengah-engah]

[terengah-engah]

Daniel, cepat!

[terisak]

[terkesiap]

[Anya menjerit]

Anya!

[Anya terisak]

[Anya menjerit]

[Anya menjerit]

Anya!

- Sayang? - [petir bergemuruh]

Sayang.

[petir bergemuruh]

Sayang.

Sayang.

Masih mau panggil Tante Anya "sayang", Om?

[Daniel menjerit]

[Daniel berteriak]

[terengah-engah]

[merintih]

[Daniel merintih]

[Anya terisak] Sayang...

Sayang.

Anya?

[Anya terisak]

[Anya terisak]

Kena!

- [Daniel merintih] - [Anya tertawa]

[Daniel merintih]

[tertawa]

[ustaz berteriak]

[terengah-engah]

[petir bergemuruh]

[pintu berderik]

[terengah-engah]

[suara pintu berderit]

[petir bergemuruh]

[derap kaki]

[Daniel berteriak]

[Daniel berteriak]

[Daniel berteriak]

[terengah-engah]

[terengah-engah]

[Laras berteriak]

[Anya berteriak]

- Uci, keluar kamu! - Tidak!

Anya, tolong dengar saya.

Saya tidak bisa keluarkan dia dari tubuhmu kalau tidak kamu bantu.

[Anya berteriak]

Anya, saya tidak bisa keluarkan dia dari tubuhmu kalau tidak kamu bantu.

Kurang ajar! Berengsek!

Kamu sama saja seperti dia!

Habis Uci selesai, Uci akan mengganggu Shera!

- Ah! - Diam kamu!

Anya, jangan biarkan diri kamu kalah dari anak ini.

Jangan biarkan dirimu lemah.

Anya.

Ingat semua kebahagiaanmu.

Ingat semua impianmu.

Ingat apa saja yang bisa membuat kamu tetap ada di dunia ini, Anya!

[Anya berteriak]

Kamu sama saja seperti dia! Kamu juga akan mati!

Daniel, bantu saya.

Anya, Sayang, ini aku.

Bangkitkan memorinya, Daniel.

Ingat kali pertama kita bertemu?

Pertemuan yang tidak disengaja itu

membuat kita menemukan satu sama lain.

Teruskan, Daniel.

Anya, dengar Daniel.

Ingat pernikahan kita?

Janji kita untuk sehidup semati.

Menjalani hidup selamanya.

Kamu mau jadi istri aku, sahabat aku, teman hidup aku.

Ingat aku.

- Sayang. - Ah!

Sayang, ingat kita.

Ah!

Ingat mimpi kita.

Ingat mimpi kita untuk punya anak.

Untuk membesarkan anak kita.

Hidup berkecukupan.

Hidup penuh tawa, bahagia,

di rumah ini.

Anya.

Saya minta kamu lawan anak ini.

Keluarkan dia dari tubuhmu.

Kamu bisa, Anya. Saya akan bantu kamu.

Uci!

Saya perintahkan kamu keluar dari tubuh Anya!

[membaca doa]

Dengan nama sang Pencipta,

saya perintahkan kamu keluar dari tubuh Anya!

[berteriak]

[berteriak]

Daniel. Daniel! Daniel!

[berteriak]

[terengah-engah]

Sayang.

Sayang.

Anya?

Daniel.

[musik latar]

Terima kasih.

Bu Laras.

Ternyata saya salah.

Arwah anak itu mengincar kamu bukan hanya karena pohonnya ditebang, Daniel.

Saya lihat semuanya.

Dan saya rasa, kamu juga tahu kenapa dia begitu dendam.

Rasa takutmu akan masa lalumu yang membutakanmu.

Saya...

Saya tidak mau...

hidup saya dan istri saya miskin.

Saya tidak mau hidup susah.

[Daniel] Saya mau Anya bahagia.

Bisa punya rumah layak,

dan punya kehidupan yang sama-sama kami impikan.

- Kenapa, Sayang? - Tidak apa-apa.

[tertawa kecil]

[Daniel] Saya takut pernikahan kami

jadi seperti pernikahan orang tua saya.

[Daniel] Waktu itu di pikiran saya dan teman saya

yang juga punya masalah sama seperti saya,

hanya bagaimana bisa dapat uang cepat.

Supaya semuanya bisa beres.

Agar kehidupan kami lebih baik.

Malam itu,

kami pikir tidak akan ada orang di rumah itu.

[pistol dikokang]

[perampok 1] Diam.

Ikuti perintah kami.

Mana berangkasnya?

Uci!

Uci!

Uci, ayo bangun.

Bangun, Sayang. Bangun.

Bangun, Sayang.

Kita main petak umpat. Sekarang kamu sembunyi dulu di sini.

Tunggu, Sayang.

Jangan ke mana-mana, ya.

[menjerit]

Diam!

[Uci menangis]

[Ayah Uci berteriak]

[suara tembakan]

Papa!

[berteriak]

[suara tembakan]

[Laras] Sekarang semuanya masuk akal.

Dia tidak mau mengambil nyawa Anya.

Dia merasukinya untuk mengambil nyawamu.

Jadi, rumah ini bukan dari hasil kredit kantor?

Mobil juga bukan?

Semua yang kita miliki

hasil dari rampokanmu?

Walaupun jabatan aku naik,

tapi gajiku tetap tidak seberapa.

Aku cuma mau kamu bahagia.

Aku tidak mau

tidak bisa membahagiakanmu,

[menangis]

dan kamu meninggalkanku.

Aku tak akan meninggalkanmu

sekalipun kita tinggal di jalan, Daniel.

Hidup sama kamu

walaupun susah dan berkekurangan aku tetap bahagia.

Yang penting kita berjuang bersama,

meraih impian kita.

Tapi bukan dengan cara seperti ini.

Kamu membunuh keluarga orang demi uang.

Bagaimana kita bisa bahagia kalau kamu merusak kehidupan keluarga lain?

Maafkan aku.

Anya.

Maafkan aku.

Mereka yang tidak tenang

tidak akan pergi dari dunia ini sebelum urusannya terselesaikan.

Dan jika mereka bertemu orang yang bertanggung jawab

atas ketidakadilan mereka,

mereka akan balas dendam.

Karena itu satu-satunya cara mereka

untuk bisa ke alam berikutnya

dan tidak lagi ada di dunia lain.

Daniel.

Kamu harus menyerahkan diri ke yang berwajib.

Supaya anak itu tenang.

Aku akan serahkan diriku.

Aku salah.

Kamu lebih baik daripada aku.

Kamu berbeda dari keluargaku.

Aku harus ke kantor polisi.

[suara gemeretak]

Kita harus pergi sekarang.

Kamu harus cepat menyerahkan diri atau kamu akan mati.

[suara gemeretak]

Kalian dulu.

Cepat! Ayo!

[suara gemeretak]

[anak kecil tertawa]

Daniel!

Daniel!

Daniel!

Pintunya terkunci!

Coba pintu lain! Ayo!

Terkunci juga!

[mengerang]

[anak kecil tertawa]

[musik latar menegangkan]

Daniel!

Cepat keluar!

Tolong maafkan dia. Tolong maafkan dia.

Tolong maafkan dia. Tolong maafkan dia.

[Anya] Daniel! Cepat keluar!

Ah!

Daniel!

[terisak] Daniel...

[suara ketukan]

[Anya] Daniel! Cepat keluar!

[terisak]

I love... you.

[terisak]

[terisak] Daniel...

Uci.

Maafkan saya.

Saya menyesal!

Saya bersedia menyerahkan diri saya.

Saya siap dipenjara dan bertanggung jawab atas perbuatan saya!

Tapi tolong kasih saya kesempatan untuk hidup, tolong!

[musik latar menegangkan]

[suara mesin]

[mengerang]

[suara mesin]

[berteriak]

[berteriak]

[berteriak]

[berdesis]

Jangan...

Jangan...

[berteriak]

Daniel!

Daniel!

Tuhan, maafkan mereka. Maafkan mereka.

Maafkan Daniel, maafkan Uci.

Tolonglah kami bukakan pintu ini. Tolonglah kami bukakan pintu ini.

Tolonglah kami bukakan pintu ini.

[musik latar menegangkan]

Daniel?

Daniel?

Daniel!

Daniel!

[terisak]

Daniel!

[terisak] Daniel...

[Laras] Maafkan kesalahan-kesalahannya.

Segala keburukan, segala kekhilafan. Hapuslah semua dendam.

Tolonglah kami bukakan pintu ini.

[terisak]

Daniel...

Daniel, tidak.

[terisak] Jangan.

Daniel!

- Anya. - Tidak.

Anya.

Daniel!

Daniel.

[terisak]

[Laras] Ketika kita melihat urusan mereka telah selesai di dunia ini,

tapi ternyata mereka tetap tinggal,

itu artinya masih ada hal lain yang belum terselesaikan.

[Anya terisak]

[Laras] Hal yang tidak kita ketahui.

- Dan hanya mereka yang tahu. - [Anya] Daniel...

[suara kamera]

[Anya] Daniel!

Daniel!

[Anya] Daniel!

[Laras] Dan selama urusannya belum selesai,

mereka akan memilih tempat tinggal yang mereka sukai.

Tempat tinggal yang tidak selalu sama dengan sebelumnya.

Ketika mereka sudah memilih,

kita hanya bisa mendoakannya supaya mereka tenang di tempat yang baru,

yang membuat kita pun harus memilih

untuk tidak mengganggu tempat itu,

jika kita tidak ingin diganggu.

Bagaimana keadaanmu?

Sekarang saya harus apa?

Tidak ada suami,

tidak ada keluarga,

tidak ada teman.

Anya.

Kita ada di dunia ini untuk sebuah alasan.

Sama seperti mereka yang selalu punya alasan

untuk ada di dunia ini.

Kamu harus cari alasanmu.

Kenapa kamu tidak tinggal sama saya untuk sementara waktu?

Terima kasih, Bu Laras.

Tapi saya tidak mau merepotkan.

Saya bisa dan mampu menjaga diri saya sendiri.

Anya.

Saya tahu kamu mandiri,

tapi saya juga tahu sakitnya kehilangan seorang suami.

Kamu perlu teman yang bisa kamu percaya.

Kamu harus kasih diri kamu waktu untuk mengobati luka hatimu.

Nanti kalau kamu sudah siap,

kamu bisa cari lagi kebahagiaanmu.

[musik latar menegangkan]

Terjemahan subtitle oleh Adinda Tafany

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.