All language subtitles for Jo Pil-ho The Dawning Rage (2019)

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PERSEMBAHAN NETFLIX

ANSAN, KOTA BAHAGIA

TAHUN 2015

Ini Ansan 21. Masuk, 2464.

- Melihat 4-15 melintas, ganti. - Diterima.

BANK ANSAN NH ATM 365

Patroli 21, mengarah keluar.

18 sedang berpatroli di sekitar rumah kosong.

Mari kita mulai.

Apa yang... Kau perampok.

Berengsek.

Aku sudah menyuruhmu segera keluar begitu selesai, 'kan?

Maaf.

Ambil peralatannya.

Berapa jumlahnya?

Ada 28 juta Won.

Hei.

Ya?

Siapa yang kau bodohi?

Satu, dua.

Maaf.

Dasar berengsek.

Aku melihatmu menyembunyikannya. Keluarkan.

Aku tak bisa menoleh sedikit saja. Dasar berandal.

Serius. Kau selalu coba mencuri apa pun dari aku.

- Kumohon... - Bedebah.

GARAM LAUT ALAMI

Hilangkan semua energi buruk.

Bisakah kau tak lakukan itu?

Tidak lakukan apa? Bedebah.

Berputar.

Karena inilah kita tak pernah ditangkap. Kau sungguh bodoh.

Kalau tak jawab teleponku, kuhajar kau.

Astaga, baiklah.

Gi-cheol.

- Kemari. - Apa?

Makan ini, Berengsek.

Minggir, Berengsek.

Astaga, polisi itu.

SUP TULANG BABI SUK

Ya, halo?

Apakah Pak Wang ada?

Siapa ini?

Aku?

Namaku Stephanie. Aku bermain ski air bersamanya di Yangpyeong.

Lalu kenapa? Kau tidur dengan dia?

Kenapa kau bertanya?

Ya atau tidak?

Bukankah kau hanya pembantunya?

Aku istrinya, Jalang.

Dengar, Bu.

Aku tak peduli kau istrinya atau bukan,

kenapa kau tanya kami tidur bersama atau tidak?

Dengar pelacur gila ini.

- Kau harus belajar sopan santun. - Hei.

- Sial, wanita ini sungguh mengganggu. - Dasar jalang.

Baik, aku dengar kau.

Jika Pak Wang pulang, katakan aku sudah siapkan Viagra.

Bilang kepadanya untuk meneleponku kalau sempat.

Kau pikir ini lucu, ya?

Astaga.

Jangan paksa aku lakukan ini lagi.

Hei.

Kau seharusnya jadi aktris. Aktingmu sangat bagus.

Astaga. Itu lucu sekali.

Hei, ini aku.

Aku akan kirimkan kau satu nomor.

Cari riwayat panggilannya.

Apa?

Sudah kubilang. Si berengsek itu kabur dengan uangku.

Itu nomor istrinya.

Dia akan menelepon sekarang.

Ya.

Kabari aku kalau kau tahu lokasinya.

Baiklah.

Jaksa Penuntut menggeledah dan menyita

Perusahaan Taesung pagi ini,

dan akan perluas pencarian

dana taktis, yang disebutkan berjumlah 780 miliar Won.

Pimpinan Perusahaan Taesung, Jung Yi-hyang, yang mengumpulkan dana,

bersikeras dia sedang diincar oleh para politikus...

Sial, mereka mencuri dari perusahaan nomor satu di Korea.

Mereka membuat

tuduhan untuk sabotase firmaku.

- Kami, di Taesung, tak pernah lakukan... - Apa dia bilang "780 miliar Won"?

- Di depan kantor pusat Taesung... - Kalau kau beri aku 70 juta Won,

aku akan membebaskanmu, Bodoh.

Bersikeras Taesung adalah...

KANTOR POLISI ANSAN DANWON

BUKTI SATU, BELATI

Masuk.

Cepat, Bodoh!

- Sial, dasar bedebah. - Hei.

Mereka dibayar untuk membuat pintu, tapi malah sibuk membuat pisau.

- Kau mau bawa aku ke mana? - Siapa namamu?

- Berbaris untuk foto tahanan! - Siapa namamu?

Hei, Azim!

Kau kembali?

Dasar berandal, kau pengedar senjata atau apa?

Dasar bedebah.

- Keluarkan permenmu. Beraninya kau! - Hei, tenang.

Ayolah.

Bisakah kau tenang?

- Provos akan memecatku. - Jadi, kau akan punya anak lagi?

- Dasar berandal. - Tanggunganmu banyak, ya?

Makan kalau lapar. Jauhi sabu-sabu, dasar pemadat.

Dah. Jauhi narkoba.

Kemari.

Katamu kau sekarang bersih dan sudah bekerja di restoran mi,

tapi pakai sabu-sabu lagi dan tertangkap. Bikin malu aku saja...

Aku percaya pada sabda Tuhan.

KITAB SUCI

- Jaga dirimu. - Amin.

Si bodoh yang lucu.

Hei, Jo Pil-ho!

Astaga, si berengsek. Masa bodoh.

Jo! Jo Pil-ho. Johnson mungil, Jo Pil-ho!

Hei, mau ke mana?

Berhenti mengolok nama keluargaku.

Tidak.

- Astaga. - Astaga!

Astaga.

Jujur saja, bukankah setidaknya kau harus tunggu

sampai sore untuk mengambil sogokan?

Haruskan kau lakukan ini siang bolong?

Katakan pada para penipu di Yeouido.

Kenapa kau selalu ganggu aku seperti ini? Dasar pengacau.

Astaga, kau pandai berbicara.

Jo Pil-ho, dasar bedebah dengan kemaluan kecil.

Astaga, mulutmu sungguh kotor.

Apakah sekarang Provos mempekerjakan pengacau?

- Apa? - Tak apa-apa.

Pil-ho.

Kau beruntung kali terakhir bisa lolos. Tapi kali ini akan berbeda.

Aku akan menelusuri sampai ke pantatmu.

Aku bekerja keras agar bisa kirim kau ke penjara di Cheongsong.

- Begitukah? - Ya.

Kau tahu? Aku tak punya GPS di mobilku.

Aku tak yakin bisa tiba di Cheongsong.

Ingat Glass Bones?

Gangster dengan tulang yang rapuh?

Dia baru saja ambil alih gedung Pak Yeom,

dan sangat sibuk merenovasinya.

Terlihat mencurigakan, jadi, aku cari tahu.

Lalu aku temukan

bahwa ada bedebah yang bujuk dia untuk mencuri gedung itu.

Dia pegawai negeri sepertimu. Seorang polisi, astaga.

Polisi itu bahkan berikan 300 juta Won

agar dia bisa beli gedung itu.

Sebaiknya kita apakan dia?

Jawabannya mudah. Kita penjarakan dia.

Hei.

Ini sebenarnya bukan nasihat,

tapi bisakah kau belajar berpura-pura?

Tidak?

Sudahlah. Aku pergi.

Jaga dirimu, dasar penjahat.

Astaga.

Dasar berengsek, kalian suka makanannya?

Kau bisa cicipi.

Kemari dan duduklah.

Bedebah, apa-apaan ini?

Kau punya selera makan sekarang?

Bagaimana kau bisa makan? Sial.

Kawan, hentikan dia.

Makanannya baru tiba.

Bahkan sumpitku belum dibelah.

Segera setelah kau kirimkan uangnya,

mereka merazia kami seperti sudah menunggu.

Omong-omong, bedebah dari Provos itu.

Kenapa dia sangat mengincarmu?

Astaga.

Aku tak akan terima uangmu kalau tahu akan jadi begini.

Apa-apaan?

Mari kita singkirkan gangguan ini.

Kau juga akan berhenti bekerja.

Kita jual saja gedung ini sebelum Provos menggali lebih dalam

dan kita buka bar bersama.

Dengan jaringanmu dan kekuatanku,

tak perlu ada yang kita takuti.

Bagaimana?

Kau bisa dapatkan sekitar 200 juta Won?

Kita harus bayar utang.

Apa? 200 juta Won?

Apa?

Aku terbuat dari uang?

Aku tak punya uang sebanyak itu, Berengsek.

Lalu bagaimana?

Apa rencana kita?

Jika kita tak bayar,

semua uang yang kita keluarkan

akan sia-sia. Semua akan hilang.

Kau sadar itu?

Hei.

Apa kau model untuk Adidas atau semacamnya?

Jangan lihat aku seperti itu. Beraninya.

Apa masalah gadis gila itu?

Hei, Gi-cheol.

Gi-cheol!

Sudah kubilang itu salah paham. Aku bersama Seong-jin hari itu.

- Tas punggungnya. - Tak mungkin.

Jika begini terus, kita putus.

Sungguh? Kita akhiri saja.

- Hei. - Lepaskan!

Jangan telepon aku, atau mati kau.

Hei, Mi-na.

Mi-na, tunggu.

Mi-na, berhenti!

Hei, astaga.

Ini salah paham.

Hei, Jang Mi-na!

Hei.

Dia anak sekolah yang kau ceritakan?

Astaga, dasar bodoh. Kau dihajar perempuan.

Bagus sekali.

Mi-na tak seperti itu.

Terserah, dasar pecundang.

Hei, berapa jumlahnya?

Ada 28 juta Won.

Itu 28 juta Won?

Jadi. Jumlah totalnya 59 juta?

Ya.

Jadi, 59 juta... Sial.

Kenapa kau tanya? Ada apa?

Hei.

Lakukan sekali lagi.

Satu pekerjaan besar.

Saluran ini aman.

Alarm aku matikan pukul 03.00, lalu kau masuk.

Pil-ho, kurasa ini tak benar.

Kau mau kita rampok barang sitaan di gudang polisi?

Ini tak seperti merampok mesin ATM.

Hukumannya lebih dari 10 tahun.

Kau takut?

Aku menjadi polisi karena polisi membuatku takut.

Jangan takut. Kita tak akan tertangkap.

Cepat.

Aku akan kembali, Bos.

Memangnya kau pergi jauh, Bodoh?

Jalan.

Hijau. Kabel hijau.

Apa?

Apa-apaan? Kenapa si bodoh itu lama sekali?

Sial.

PANGGILAN TERAKHIR

MEMANGGIL

Di sini Patroli 12. Jawab, ganti.

Patroli 12, 2-1 di Sungai 1.

Kau potong kabel hijau, 'kan?

Masalahnya, aku buta warna.

Lalu kenapa?

Aku tak bisa bedakan merah dan hijau.

Lalu bagaimana?

Apa katamu?

Itu...

Keduanya terlihat cokelat, jadi, aku potong keduanya.

Apa dia gila?

Ada apa?

Habislah kita.

Apa-apaan!

Dasar bodoh. Sekarang bagaimana?

Kenapa sangat sunyi?

Sial.

Berengsek.

Hei, Gi-cheol.

Han Gi-cheol!

Sial.

Hei!

Cepat, keluar.

Apa itu?

Apa-apaan?

Aku sudah sadar.

Siapa kau?

Tenang. Kau di rumah sakit.

Aku akan keluar dan cari walimu.

Jadi,

kau kebetulan lewat di TKP saat terjadi ledakan?

Dan kebetulan saja itu gudang polisi?

- Ya. - Bahkan anjing pun mentertawakanmu.

Maka, tak usah percaya.

Kami lihat mayat di sana. Mayat!

Petugas Provos sedang memeriksa daftar panggilanmu

dengan saksama.

Apa kau...

Aku tak akan tanyakan. Aku bahkan tak mau tahu.

Tapi, kau tahu?

Jika makan jjajangmyeon, dapat jjajangmyeon,

tapi apa kau akan bilang bahwa kau makan yang lain?

Bersihkan saja dan pura-pura kau tak makan apa pun.

Kembali bertugas segera dan bersihkan mulutmu.

Berengsek.

Kapten sudah periksa itu.

Apa?

Aku ambil ini sebelum dia temukan.

Apa kau membunuh dia?

- Apa? - Pria itu.

Apa yang kau bicarakan?

Kau suka makan apel?

Kenapa kau luapkan padaku?

Astaga.

Berengsek.

PEMADAM KEBAKARAN

Jangan sentuh itu!

Kami tak menemukannya, Pak.

Semua hangus. Bagaimana?

KANTOR JAKSA PENUNTUT DAERAH

Berdiri tegak.

Buat laporan tertulis, dasar bodoh.

Ya, ini aku.

Kau yakin semuanya hangus?

Ya.

Aku sudah pastikan.

Terima kasih, bagus.

Astaga.

Maaf.

Apa aku mengusikmu?

Itu terbakar total. Bisa kau perbaiki?

Tempat ini bagus.

Semuanya terlihat baru dan bersih, bukan begitu?

Kami rawat pegawai dengan baik,

masih saja ada laporan orang sakit.

Sungguh penipuan.

Benar?

Berapa lama lagi?

Aku sedang buru-buru.

Dua jam?

Dua hari?

Pernah dengar Augusto Pinochet? Presiden Chili.

Dia membunuh 3.000 orang dalam sepekan.

Di stadion.

Jika dibagi tujuh hasilnya 428.

Dengan kata lain, dia bunuh 428 orang dalam sehari. Menakjubkan, 'kan?

Laboratorium ini punya 414 pegawai,

jadi, dia bisa bunuh semua orang di lab ini dalam sehari.

Dalam sehari.

Tapi ada yang bilang butuh dua hari untuk perbaiki ponsel.

Teruslah bekerja.

Astaga. Jadi, seperti ini rupa orang terbakar.

Dia hanya mayat, bukan orang.

Mayat? Benar.

Aku tak pernah lihat orang terbakar. Ini agak aneh.

Kenapa Han Gi-cheol bisa mati di sana? Bodoh.

Astaga, bodoh.

Apa kau bilang? Hormatilah orang yang sudah meninggal.

Bisa?

Maafkan aku.

Jalur pernapasan bersih. Tak ada reaksi vital.

Mati sebelum kebakaran.

Apa?

Lihat di sini.

Penyebab kematian, retakan tengkorak.

Kepalanya hancur. Senjata tumpul.

- Mati terbakar? - Minggir.

Apa-apaan?

Dia mati terbakar. Kenapa tengkoraknya retak?

Bagaimana aku tahu? Kau cari penyebabnya.

Omong-omong, kau temukan ponselnya?

Teleponnya? Tidak.

Jika pernapasannya bagus, berarti dia tak mati lemas, 'kan?

- Sial. - Jadi, ini pembunuhan?

Benar, 'kan?

Apa-apaan?

Apa?

Ini rekaman hari ini.

Tunggu!

Berhenti.

Sandal itu...

Gadis ini...

Sial.

Dasar...

Dia menembak kepalanya sendiri.

AKU MINTA MAAF KEPADA KELUARGAKU DAN KORBAN

Hwang Jae-man. Dia pemilik gudang. Dia stres karena masalah uang.

Kita pernah lihat orang membakar gudangnya agar dapat asuransi.

Dia pasti tak tahu ada orang di dalam.

Dia memicu kebakaran

agar dibayar asuransi?

Ya, kupikir begitu.

Sini, aku ambil itu.

- Hei. - Aku temukan pemilik skuternya.

Sungguh?

Kabari aku lewat SMS.

Pak Hwang meninggal.

Semuanya jadi berantakan!

PRIA

Entahlah. Aku masuk ke tempat ramai yang ada.

Jemput aku sekarang.

Taesung menghabisi Pak Hwang.

Sial.

Coba kau pikir.

Pak Hwang mati seperti itu sehari setelah kebakaran.

Mereka pasti berniat membunuh semua orang.

Aku akan serahkan bukti dan berikan pernyataan saksi.

Ya, aku punya peledaknya.

Aku tunggu di sini, jadi, tolong telepon aku.

Sial, tamat riwayatku.

Sial.

- Astaga. - Apa ini?

Ini memalukan.

Halo? Ada orang di sebelah?

- Bisa kau oper ponselku? - Astaga.

Bukan main.

- Ini sungguh canggung. - Astaga.

AYAM HARAPAN

Halo.

Berengsek.

Bisa aku minta bir?

Bukankah kau punya pegawai paruh waktu?

Gadis dengan potongan rambut bob yang naik skuter.

Dia mengantar pesanan?

Kau Detektif Jo Pil-ho dari Kantor Polisi Danwon, 'kan?

Aku mengenalmu?

Kau tak ingat aku?

Apa?

Aku ayahnya Song Ji-won.

Song Ji-won?

Dahimu.

Bekas luka itu, ingat?

TAHUN 2014

SONG JI-WON

Berhenti menangis.

- Aku di kantor - Maaf.

- Danwon, Ansan. - Cepat.

- Sebentar lagi... - Baik.

- Ambilkan aku air minum. - Baik. segera.

Seragam polisi akan diberikan pada ayahnya Nona Song Ji-won.

Nona Song termasuk korban dari kecelakaan tragis.

Banyak yang ikut sedih mengetahui bahwa dia bercita-cita

menjadi opsir polisi.

Setelah mendengarnya, kepolisian menyiapkan

upacara khusus ini untuk menghibur yang berkabung

Komisaris Jenderal baru saja tiba.

Hei, senjata. Ayo!

- Hei. - Ya?

Selesaikan itu.

Kirim dua ke Jindo, kita pergi ke altar peringatan.

Mereka temukan dua mayat lagi di Paengmok. Tak ada waktu.

- Hei. - Minggir.

- Di sana kacau. - Kapten mencarimu. Cepat.

Apa?

Apa yang kau lakukan?

Astaga, yang benar saja!

- Hei, cepat. Ayo. - Ambil gambar!

Apa masalahmu?

Lepaskan!

Hei, keluar.

Tahan di belakang!

- Kenapa lama sekali? - Reporter gila.

Pak Song!

Lihat ke kamera di sini.

Pak Song, bisa kau menoleh ke sini?

Kumohon, sekali saja!

Tolong melihat ke kamera!

Pak Song!

Pak Song!

SONG JI-WON

Lebih dari 20.000 orang mendatangi

- altar peringatan - Semua bersedih.

- sampaikan dukacita. - Kulihat polisi menuju Jindo.

Kau tak perlu pergi?

Tak bisa karena jantungku lemah.

- Ini polisi. - Apa?

Kami harus periksa.

- Buka pintunya! - Apa yang kita lakukan?

Jangan takut, aku juga polisi.

Ada apa?

Pil-ho.

Sedang apa di sini?

Menurutmu apa?

Astaga.

Pil-ho.

Kapten.

Aku hanya... Kapten, ini bukan...

Tunggu. Aku mau berkemas dan pergi, tapi...

Melihat wajah muda, polos mereka, kita makin sedih.

Dia bawa pakaianku...

Dasar berengsek!

Temukan dia!

Ya, Pak!

Sial, kenapa tak telepon aku?

Ada apa ini?

Ingat ayah yang menerima seragam tadi pagi?

- Ya. - Dia buat catatan mati dan kabur.

- Apa? - Ada yang lihat dia masuk ke motel ini.

Jika terjadi hal buruk padanya,

- habislah kita. - Sial, tamatlah kita.

- Berengsek. - Sial!

- Pak Song, kumohon. - Pak Song.

- Pak Song. - Lepas!

Jangan lakukan ini.

Tenangkan dirimu.

- Siapa kau? - Tenang, jangan lukai dia!

- Aku tak boleh mati? - Tenang!

- Tolong tenang. - Tak boleh?

Kita ke rumah sakit dulu. Kami cemas.

- Mari bicara. - Tangkap dia!

- Ya. - Pak Song.

Astaga.

- Apa yang dia ambil? - Lihat? Kau harus ke rumah sakit.

Umurnya belum 20 tahun.

Dia baru 17 tahun, astaga.

Dia belum merasakan umur 20 tahun.

Baiklah. Kami dengar, letakkan itu...

Pak!

Kami mendengarmu.

Kami paham kau kehilangan putrimu,

kau tak bisa lakukan ini ke kami.

Apa yang kau tunggu? Tangkap dia.

Hei, ambil pemadam apinya dulu!

- Sial! - Apa yang terjadi?

- Berengsek. - Apa-apaan...

Pak, kau baik-baik saja?

- Apa yang terjadi? - Sial...

Antar dia keluar sekarang!

- Pak Song. - Kacau sekali.

- Kau terluka, Pil-ho? - Ayo.

- Berdirilah. - Berdiri. Biar kulihat.

Biar kulihat.

- Dasar berengsek! - Hei, hentikan.

- Pergi! Keluar! - Hei!

Ayah pulang.

Maaf. Tempatku berantakan.

Ayo masuk.

Tak apa-apa. Kakiku sangat bau.

Tak masalah. Ayo masuk.

Baiklah.

Ji-won, kau ingat dia?

Detektif yang bawakan seragam untukmu.

SONG JI-WON SEKOLAH MENENGAH DANWON

AKU INGIN MENJADI POLISI

Ini dia.

Gadis ini, Jang Mi-na.

Aku paham.

Dia teman baik Ji-won di SD,

tapi dia terlibat masalah.

- Masalah apa? - Dia tinggal dengan neneknya,

tapi setelah neneknya meninggal,

dia mulai berulah. Dia mulai merokok,

dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah.

Jadi, dia mencuri skuternya?

Ya. Juga barang-barang Ji-won. Baju, sepatu, tas dan lainnya.

Tapi kau tak laporkan dia?

Dia bukan anak nakal.

Kunasihati Ji-won agar menjauhinya karena dia pengaruh buruk,

lalu dia buat pesta ulang tahun rahasia

untuk Ji-won di basemen gedung ini.

Apakah Mi-na

dalam masalah?

Tidak juga.

Aku hanya ingin bertanya padanya.

Astaga.

Ini sudah lama sekali.

Kau sungguh merawatnya.

- Kenapa ada tali lompat di sini? - Maaf.

Untuk penurun berat badan.

Apa?

Mungkin karena ada restoran ayam goreng.

Ji-won sangat suka makanan Korea.

Porsi makannya dua mangkuk nasi

dan lompat tali untuk turunkan berat.

Dia tak bisa makan sedikit.

Dia tak tampak gemuk di foto.

Dia gadis yang cantik.

Kita gantung saja di sini.

Jadi, kau tak punya nomor telepon Mi-na?

Tidak, aku tak punya kontaknya.

Kau tak perlu melindungi dia.

Aku tak yakin...

Ini tak banyak, tapi berbagilah dengan opsir yang lain.

Astaga, ini tak perlu. Aku merasa bersalah.

Maaf,

tapi kawanku suka piza.

Terima kasih. Kami suka. Jaga dirimu.

Tunggu.

Ya?

Kalau kau temukan Mi-na,

bilang kepadanya untuk mengembalikan jaket Ji-won.

Ji-won kenakan itu saat mayatnya ditemukan sembilan hari setelah kecelakaan.

Aku mau bakar itu di acara peringatannya,

tapi diambil Mi-na.

Aku juga ingin kau bakar itu demi Ji-won.

Aku harus pergi.

Kadang orang berpikiran sempit.

Banyak pakai kata kunci sama untuk ponsel dan kartu kredit.

Jadi, kita bisa buka ponsel

lalu pakai kartu kredit dengan kata kuncinya.

Ini keren, 'kan?

Dasar bedebah.

Enak?

Aku tak tahu.

Kutukar itu dengan bekas luka di dahi.

Terima kasih padaku.

Baiklah.

Baik! Aku dapat.

Tunggu. Apa ini?

- Ini SMS yang tak terbaca. - "Song Jin-gyu"?

ADA ALAMAT MI-NA?

TIDAK TAHU, DIA BUKAN PACARKU.

Lihat semua SMS, unggahan Facebook dan lainnya

terkait dengan Jang Mi-na dan salin ke laptopmu.

Baik.

Siapa gadis ini?

Dia seksi sekali.

Astaga.

Singkirkan dari wajahku. Menjijikkan.

Ada suku di Afrika

yang percaya bahwa foto

mengambil jiwa seseorang.

Lain kali, ambil foto tangan atau hal yang tak menjijikkan.

Kau jelas tak menghormati yang sudah mati.

Maaf, Pak.

Aku rindu masa lalu.

Semua preman masa bodoh dan tak punya akal sehat.

Pak Kwon.

- Ya, Pak. - Perbaiki lain kali.

Satu kesalahan, dan kau tamat.

Astaga, ini enak sekali.

Berisik sekali. Apa? Kau mau apa?

Aku tinggal di atas.

Kudengar ada kebocoran air.

- Air apa... - Ayo masuk.

- Aku masuk. - Astaga, tunggu. Apa...

Song Jin-gyu.

Di mana Jang Mi-na?

POLISI FORENSIK

Kapten Damkar mati.

Dan peledaknya hilang.

Sekarang semua saksi mati,

para atasan mau kita melepaskan Jung Yi-hyang.

Bagaimana ini, Pak?

Kau sungguh sudah coba segala cara.

Kau bunuh yang terlibat.

Kantor Kejaksaan Tinggi menunggumu. Mari kita makan malam segera.

Pagi ini,

kejaksaan menarik surat penahanan Pimpinan Jung Yi-hyang

dan umumkan dia akan diperiksa sebagai saksi.

Dengan perubahan ini, sepertinya investigasi

hilangnya dana taktis 780 miliar Won belum terpecahkan.

Astaga, lihatlah para tikus mencoba bertahan hidup.

Coba lihat. "Hadirin sekalian."

"Hadirin sekalian."

Ini tak akan mudah.

- Pak Jung! - Bicaralah sedikit!

Apa pendapatmu tentang masalah ini?

Bagaimana perasaanmu?

Apakah kau bersih dari tuduhan?

Apakah Taesung akan bertanggung jawab akan hilangnya 780 miliar Won?

Tolong jawab kami, Pak.

Hadirin sekalian.

Taesung adalah perusahaan nomor satu di Korea.

Tapi, dewan pimpinan perusahaan

telah dipermalukan dengan tuduhan ini.

Perusahaanku, Taesung,

sudah berikan beasiswa tahunan

pada siswa yang butuh bantuan finansial.

Pada upacara tahun ini,

bagaimana aku bisa berdiri,

di hadapan siswa dan bilang bahwa Korea adalah negara hukum dan demokratis?

Sebagai ayah dan rakyat Korea,

aku sangat malu menghadapi para siswa.

- Pak Jung. - Bicaralah sedikit lagi.

Sedikit lagi, kumohon Pak Jung.

Lihatlah, Pak Kwon.

Kau tampan.

Tampak bagus di kamera.

Astaga, itu meledak?

Ya, Pak.

Jadi, kau sudah urus pria yang rekam itu,

tapi ada masalah lain?

Maaf, Pak.

Ini ponsel pria yang mati di gudang,

dan dia kirim video ke seseorang dari ponsel ini?

Ke siapa?

Ada dua, Pak.

Ada Song Jin-gyu.

Tiga kali ditangkap atas penculikan dan penyerangan anak.

- Ada gadis bernama So-hui. - Baik.

Dia antek Mi-na.

- Aku paham. - Aku yakin dia bersamanya.

Siapa satu lagi?

Itu...

Dia polisi.

Astaga, ini lelucon.

Pak Kwon.

Ya, Pak.

Habislah kau.

Kau harus menanggungnya sendiri dan masuk penjara.

"Pertemanan"? Yang benar saja.

Jangan bohongi aku, Jalang.

Pertemanan, apanya.

Aku naik sekarang.

Dia bilang Kamar 6008.

Dia bersama pria?

Tak tahu. Hanya ada suara TV.

Ayo naik.

Apa?

Tidak. Ayo.

AYAM HARAPAN AYAM DAN BIR

Hei, Mi-na.

- Hei! - Pintunya terbuka.

Kenapa? Ada apa?

- Apakah "pertemanan" kodemu? - Apa?

"Pertemanan, apanya" pasti artinya, "Ada polisi di sini."

Astaga, tidak.

Jangan bohongi aku.

Hei! Berengsek.

Berengsek. Hentikan.

- Siapa kau? - Hei! Aku...

- Kemari. - Ini aku!

- Sial! - Hei!

Lepaskan! Keluar.

Keluar!

Hei, kalian berdua. Ke sini.

Kalian, ke sini. Hei.

- Kau ingat aku? - Siapa kau?

Sakit!

- Kubilang, sakit. - Hei, lepaskan. Hei.

Apa masalahmu?

Jangan bergerak! Lepaskan.

- Lepaskan. - Berengsek.

Bedebah!

Lepaskan!

Lari! Pergi!

Tidak. Aku tak pergi tanpamu!

Hei, lepaskan. Kubilang lepaskan.

Apa maumu?

Lepaskan!

- Berengsek. - Lepaskan!

Sial, hei!

Hei, apa yang kau lakukan?

- Hei! - Hei, ada apa ini?

Lepaskan wanita ini dariku.

Aku akan panggil polisi.

Nyonya, aku polisi.

Kubilang, aku polisi!

Aku pergi, ya?

Ya, terima kasih atas bantuanmu.

- Dasar pengkhianat. - Pengkhianat? Sial kau.

Aku pergi.

Singkat saja.

Mari selesaikan ini.

Pak.

Dia sakit. Bisa dia duduk saja?

Bagaimana bisa sakit?

Dia sungguh sakit.

Duduk di kasur.

Di mana uangnya?

Uang apa?

Aku tanya lagi.

Di mana uangnya?

Itu bukan uang Gi-cheol.

Di mana 59 juta Won milikku?

Aku tak tahu. Bagaimana aku tahu?

Mi-na...

Kau tak apa-apa?

Kau tersangka pencurian. Kau mau masuk penjara remaja?

Aku tanya sekali lagi.

Di mana uangku?

- Kau tak akan jawab? - Di rumah. Aku sembunyikan di rumah.

Kau yakin?

Ya, ada di sana.

Ambil barang-barangmu.

Kau pasti polisi korup yang Gi-cheol bilang padaku.

- Apa? - Katanya ada polisi yang paksa dia

lakukan pekerjaan kotor.

- Mi-na. - Gi-cheol bilang itu?

Aku tak akan biarkan ini.

Dasar penjahat, aku akan melaporkanmu.

Benarkah?

Bagaimana kau akan lakukan itu? Tak ada saksi.

Si bodoh sudah mati.

Gi-cheol bodoh.

Bagaimana dia mati?

Apa?

Gi-cheol.

Apa pentingnya?

Lagi pula dia sudah mati.

Aku punya video.

- Berikan tasku. - Apa yang kau lakukan?

Gi-cheol kirimi aku video.

Video apa? Diam saja.

- Kutunjukkan... - Astaga!

Duduk saja.

Duduk saja.

- Akan kutunjukkan... - Sial!

Kubilang kau duduk saja, dasar bodoh.

Aku tahu semua trikmu.

Kenapa? Kau akan telepon orang dan pindahkan uangnya?

- Aku sungguh punya videonya. Kutunjukkan! - Kubilang duduk!

Sial!

Sudah kubilang duduk saja.

Tak mau duduk? Kau sungguh sangat menggangguku.

Kau mau mati?

Hei, Mi-na!

Bangun. Mi-na, ada apa?

- Ada apa dengannya? - Buka matamu!

Dia punya epilepsi. Dia sedang kejang.

Mi-na. Astaga, dia harus berbaring.

Berengsek. Ini konyol.

Mi-na.

- Mi-na, bangun. - Hei.

Buka borgol dan baringkan dia.

Astaga, Mi-na...

Buka matamu. Bangun, kumohon.

Bangun, Mi-na. Lihat aku, kumohon.

- Ini kacau. - Mi-na.

Mi-na.

Bagaimana dia?

Mi-na.

- Ayo pergi, Mina. - Ponselku.

Ayo pergi saja.

Kita harus pergi. Mi-na, kumohon!

- Mi-na, ayo pergi! - Sial.

Sial...

Berengsek.

Berengsek!

Sialan, dasar jalang.

KAPTEN

Kurasa kita hampir tiba.

Cepat.

Hei, ayo!

Ada apa?

Apa masalahnya?

Perutku...

Astaga, perutku sakit.

Kurasa ini dampak yang sebelumnya.

Sakit sekali.

Tenang. Bertahanlah.

- Bertahan. - Mi-na.

Halo?

Apakah ada orang?

Siapa pun?

Tolong! Kami butuh bantuan!

KANTOR POLISI ANSAN DANWON

Hei, lihat foto ini.

Katamu kau sendirian saat kebakaran.

Lalu siapa yang di sampingmu?

LAPORAN REKAMAN CCTV GAMBAR DI DALAM

Ini?

Saat aku menyetir,

aku lihat pekerja asing berjalan.

Aku kasihan, dan kuberi tumpangan.

Begitu? Lalu di mana kau naikkan dan turunkan dia?

Bagaimana bisa ingat?

Kudengar ada 300 orang yang tinggal di Banwol-dong.

- Kenapa tak kau cari saja sendiri? - Astaga, kau sungguh penjahat.

Akui saja kau bakar tempat itu setelah bunuh Han Gi-cheol.

Berhenti menulis novel detektif. Bawa bukti kalau mau menuduhku.

Pelakunya mati, dan dia tinggalkan catatan bunuh diri. Apa masalahmu?

- Ada saksi. - Apa?

Kami temukan dia sembunyi di motel.

- Hei, Pil-ho. - Kau senang?

Jo Pil-ho, si bedebah Dengan kemaluan kecil

Penjarakan dia.

Lepaskan. Apa yang si bodoh bilang?

Bedebah, apa... Lepaskan.

- Hei. - Bedebah. Lepaskan. Berengsek!

- Tenang! - Berengsek.

- Ayo. - Hei.

Lepaskan!

Apa kau bilang?

Ada apa denganmu?

Astaga. Pukul aku.

Perhatian!

Izinkan aku interupsi sebentar.

Si bedebah dengan kemaluan kecil yang kau sebutkan.

Kami mau bicara dengannya, Sersan Jo Pil-ho?

Sersan Jo.

Kami sedang investigasi kasus kebakaran gudang.

Kebakaran, berawal dari gedung A menyebar dan membakar gedung B.

Hanya dua jam, bahkan saat tak ada angin.

- Tidakkah itu mencurigakan? - Ada catatan bunuh diri pemilik.

Menurutmu pemiliknya sengaja membakar agar dapat asuransi?

Kau seorang detektif.

Apakah kau percaya itu?

Baiklah.

Apa yang disimpan di gedung B?

Bagaimana aku tahu?

Ada 400.000 dokumen akun saham yang dipakai Taesung manipulasi harga

dan 12 kardus bukti menunjukkan bahwa itu dana ilegal.

Apa kau mengikuti?

Itu adalah bukti kunci melawan Taesung dalam kasus dana ilegal.

Tapi ada bedebah yang membakarnya.

Lalu ada telepon dari seseorang.

Dia kapten regu damkar yang di TKP.

Dia sekongkol dengan Taesung dan buat kebakaran.

Dia juga bilang

ada orang lain di gudang.

Kau mau tahu siapa pria misterius itu?

Dia adalah Han Gi-cheol.

Berengsek!

Ada apa?

Ini bagian menariknya.

Melihat dari panggilan keluar

di ponsel Gi-cheol, dia pakai data untuk kirim pesan video.

Dia kirim video sebelum mati.

Ke dua orang.

Dan kami sudah melacak salah satunya.

Penjual ponsel bilang siapa yang beli telepon darinya.

Dan nama belakang bedebah itu adalah Jo.

Coba tebak.

Itu kau. Jo Pil-ho, dasar berengsek!

Baiklah. Kau beli ponselnya.

Tapi kenapa kau pergi ke gudang?

Mencuri sesuatu?

Atau kau juga bekerja untuk Taesung?

Kenapa wajahnya?

Ada apa? Apa kau malu?

Si idiot tak bisa berpura-pura.

Apa yang kau lakukan?

Gi-cheol mengirimi aku video.

Boleh minta rokok?

Kau benar.

Ponsel itu memang ada padaku. Kuakui itu.

Kim Min-jae dari Provos kau dengar?

Jaksa ini bilang

bahwa aku tak membakar atau membunuh Han Gi-cheol.

Apakah ini direkam? Ya?

Maaf tentang itu.

Aku yakin kau tahu.

Detektif pembunuhan tak bergaji besar.

Aku memang ke gudang.

Setelah Gi-cheol masuk ke dalam,

gudangnya meledak.

Aku takut,

lalu pergi menjauh.

Aku tak tahu apakah itu video yang kau maksud,

tapi ponselku terus berdering,

jadi, aku lempar ponselku dan pergi dari sana.

Itu yang aku tahu.

Berengsek, apa aku lempar saat menyetir? Atau sebelum aku pergi?

Aku tak tahu itu video yang penting. Sial.

Aku minta maaf.

Apa? Kau menyetir?

Bedebah.

Kau dibawa ke rumah sakit dari sana. Jangan berani bohongi kami!

Benarkah?

Aku gegar otak.

MATI

TAK ADA SINYAL

Tunggu giliran. Tahu diri.

Astaga, kurasa

kau bukan orang idiot.

Benar?

Dengarkan, Jo Pil-ho.

Orang-orang ini punya cukup bukti untuk memenjarakanmu selama 10 tahun.

Berikan saja surat perintahnya.

Akan kubersihkan namamu,

serahkan lencanamu dan berhenti.

Berikan videonya padaku.

Sial.

Alamat Jang Mi-na...

Sial. Dikunci.

MASUKKAN KATA KUNCI

Tunggu...

Pak, kumohon?

Pak, aku hanya pinjamkan dia KTP.

Ponselnya punya gadis itu, Mi-na.

Sial.

Berengsek, aku masih kesakitan dari pengejut listrik itu.

Apa ini?

Baiklah!

Apa? Mana sisanya?

Astaga, apa-apaan...

Apa yang kau mau?

Jang Mi-na tinggal di sini?

Apa yang kau mau?

Aku wali kelasnya.

Dia ada janji konseling denganku.

Begitu...

Aku paham.

Silakan masuk.

Terima kasih.

Masuklah.

Di sini berantakan, ya?

Sebenarnya, aku polisi.

Mi-na terlibat masalah.

Kurasa kau tahu karena kau gurunya.

Aku sudah selesai di sini.

Kau bisa tunggu kalau mau.

Ya?

Apa ini?

Bisa kau berikan ponsel itu?

Itu ponsel Mi-na.

Apa?

Bukankah kau gurunya?

Siapa kau? Kenapa...

Sial.

Berengsek!

Sial.

Di mana Jang Mi-na?

Tunggu sebentar.

Kurasa kau salah paham.

Aku polisi, dasar berengsek!

Hei!

Dasar rendahan.

Berengsek.

Berengsek, akan kuingat wajahmu.

Kau Jang Mi-na?

Kau harus jawab jika orang dewasa bertanya.

Siapa kau?

Aku tanya siapa kau?

Kau mau apa dariku?

Anak zaman sekarang...

kurang ajar.

Kumohon, jangan bunuh aku.

Maaf. Hidupmu adalah gangguan bagiku.

Ya?

Tidak!

Pisau itu... Jangan jatuhkan padaku.

Astaga.

Apa-apaan.

Berengsek, ini gila. Tunggu.

Tahan. Astaga, tunggu.

Astaga, apa yang kalian lakukan di tamanku?

Ada apa?

Apa kalian babi hutan?

Kenapa berguling di tamanku...

Nyonya!

- Telepon polisi! - Astaga.

Astaga, seladaku rusak semua.

Akan kubayar! Telepon polisi, kumohon!

Hei, kau mau ke mana?

Bayar kerusakannya!

Bayar seladaku yang kau rusak!

Masuk. Cepat!

Pria itu berbahaya. Masuk cepat!

Hei, siapa bedebah itu?

- Aku tak tahu. - Kau mau aku percaya itu?

Berengsek, aku hampir mati selamatkan kau.

Aku tak tahu. Apa yang kalian lakukan di rumahku?

Dan kau ingat untuk ambil uangnya?

Kau sungguh luar biasa.

Hei, apa kau tadi mau melemparku dengan pot?

Tidak, aku tak mengincarmu.

Bohong. Kau incar aku agar kau bisa simpan uangnya!

Kemarin kau juga setrum aku.

Kau tertangkap basah.

Kau bersalah atas pencurian, penipuan, dan upaya pembunuhan...

Intinya kau sudah tamat.

Kau berdarah.

Apa?

- Ada darah... - Persetan!

Jangan sentuh. Turunkan tanganmu.

Sial.

Hei.

Di mana sisa uangnya?

Sudah kupakai.

Apa? Kau habiskan 30 juta Won lebih untuk dirimu?

- Anak sekolahan? - Kami punya keperluan.

Ini konyol. Berengsek.

Sial.

Lagi pula, siapa bedebah itu?

Benar, ponselnya.

Ponselmu tadi di lantai.

Ponsel itu. Kau bawa?

Ini dia. Kenapa kau butuh ini?

Berengsek, untung saja.

Gi-cheol berengsek, dia membuat kekacauan.

Apa pria itu...

yang membunuh Gi-cheol?

Tenang.

Kalau yang jaksa bilang benar,

- maka ini kasus besar. - Dia mati karena aku?

Kenapa kau teriak padaku? Dasar pencuri.

- Berikan ponselnya. - Tidak.

Serahkan.

- Astaga, dasar kau... - Awas tanganmu!

Jangan sentuh aku, dasar bedebah.

Sial. Berikan padaku.

Berengsek, ini terkunci.

Buka kuncinya.

Kenapa?

Katamu Gi-cheol kirim video.

Karena itu dia meninggal?

Hei, tadi...

Lupakan saja.

Dengar.

Kau tak pernah lihat video ini.

Kalau kau buka kuncinya,

akan kumaafkan perbuatanmu.

Jadi, buka sekarang.

Kenapa? Kau tak mau?

Buka borgolku dulu.

Astaga, bocah ini berusaha bernegosiasi.

Baiklah.

Dasar berandal, siapa yang mengajarimu tipuan ini?

Bisa kita pergi dulu?

Aku buka kuncinya di sana.

Kita harus keluarkan. Bayinya tak akan hidup.

Siapa ayahnya?

PERSETUJUAN WALI OPERASI

Dia hanya orang berengsek.

Kita harus laporkan kepada orang tuanya?

Kenapa mendadak kau seperti guru? Tanda tangani saja.

Berengsek, bocah tolol.

Ini.

Berikan ponselnya.

Kuncinya 2586? Sial, kurasa sudah kucoba.

Pak Nam.

Kalau tersebar, video ini akan jadi skandal besar.

Ingat janjimu dan bersihkan catatanku kalau aku berikan ini.

Apakah kau buat keributan di Ansan tadi?

Apa?

Kami terima laporan.

Kami mencari anak sekolah bernama Jang Mi-na.

Kau tahu tentang dia? Jang Mi-na.

Kenapa bertanya?

Dia saksi penting.

Jika kau temukan dia, kau akan pegang janjiku,

bahkan berikan kau promosi.

Aku bersama dia sekarang.

Bawa dia padaku. Rahasiakan ini.

Hitung jumlahnya.

Jadi, kau pamannya?

Paman seperti apa? Seperti muncikarinya?

Apa?

Bagus untukmu.

- Pasti dia hasilkan uang banyak. - Persetan.

Ini.

Bagaimana? Kuberikan 100.000 Won kalau kau

biarkan aku tiduri dia.

Gadis itu, Mi-na.

Aku tawarkan aborsi sebagai gantinya,

tapi dia menolak.

Gadis itu membuatku terangsang.

Bisa kutiduri.

Tapi dia bawa "pamannya". Sayang sekali.

Baiklah. Astaga!

Kau sulit sekali. Baiklah, kuberi 100.000 Won lagi.

Tapi, dia milikku semalam penuh.

Kalau begitu, setuju.

Aku akan cepat.

Setuju?

Hei, aku polisi. Keluar.

- Polisi. - Keluar sekarang.

- Polisi! - Polisi.

- Astaga! - Polisi!

Apa? Kenapa kau usir mereka?

Astaga! Ada apa?

Astaga, kenapa kau seperti ini?

Kumohon jangan bunuh aku.

Makan ini.

Satu gigitan saja.

Aku tak mau makan.

Ayolah.

Bagaimana? Tak terlalu asin?

Terima kasih.

Tak masalah. Ayo makan.

Rasanya enak?

Apa...

Yang benar saja, sup tulang babi? Seharusnya kau buat bubur.

Mereka suka. Apa masalahmu?

Rasanya tak enak?

- Hei. - Ya?

Berikan dia pakaian.

Baik.

Hei, buka jaket itu.

Kenapa?

Menurutmu kenapa?

Itu milik temanmu, Ji-won.

Bagaimana kau kenal Ji-won?

Kau terkejut?

Kami punya sejarah panjang.

Ayahnya bilang kau bisa ambil semuanya

kecuali jaket itu.

Kudengar dia kawan baikmu, tapi kenapa pakai pakaian orang mati?

Bagus, berikan itu kepadanya.

- Ini bagus. - Ganti bajumu.

Ini.

Aku tak mau.

Apa yang kau lakukan?

- Hei. - Astaga.

Hei, biarkan.

- Ambil. - Aku tak mau.

Kubilang, tak mau.

Jaket ini milikku. Ji-won memberikannya padaku!

Siapa kau suruh aku lepaskan?

- Berengsek. Lihat apa kau? - Hei!

Sial.

Astaga, seram sekali.

Aku paham kalian berdua sedang marah,

tapi tak baik mengumpat saat makan.

Aku benar, 'kan?

Hei, kau sudah nonton The Throne?

Ada Song Kang-ho.

"Hapus telingamu."

Anggap kau tak dengar itu, ya?

Baik.

Sudahlah. Buat apa kita urusi bocah ini. Bersihkan ini.

- Astaga. - Persetan.

Makan saja. Tak apa-apa.

- Geser. - Apa?

- Ini. - Astaga.

Kenapa kau duduk di situ?

Apa ini, Sayang?

Jangan senang dulu. Bukan untukmu.

Lalu untuk siapa?

Masaklah kaldu untuknya. Beli tulang yang bagus.

Astaga.

Masak dengan tulang sapi, jangan tulang babi.

Kau harus awasi dia.

- Apa? - Gadis itu.

Aku bisa lihat wajahnya teriak minta tolong.

Apa?

Kenapa kau terus melirikku?

Kau mau katakan sesuatu?

Sejak kapan kau punya bekas luka di dahi?

Kenapa kau tanya?

Kita pernah bertemu sebelumnya?

"Kita"?

Hei, kau merayuku?

Astaga, bukan main bocah ini.

Hei.

Berbaik hatilah. Jaket itu.

Kembalikan ke ayahnya Ji-won.

Bayangkan betapa hancurnya dia.

Katanya dia mau bakar jaket itu setelah upacara peringatan.

Aku tahu yang kau rasakan, Nak.

Kau kehilangan kawanmu,

dan kau remaja. Aku pernah lalui itu.

Dan di pergelanganmu.

Seumurmu, aku pernah berdiri di jembatan

dan naik motor saat mabuk. Kulakukan semua.

Tahu apa kau?

Apa?

Apa yang kau tahu?

Apa yang kau lakukan? Kita baik-baik saja.

Jangan gurui aku karena kau lebih tua. Itu menjijikkan.

Kau yang menjijikkan. Astaga!

Temperamenmu sungguh buruk.

Mau jadi apa kau dewasa nanti?

Attack on Titan.

Apa?

Aku mau jadi Titan di film itu.

Lalu aku pergi ke Blue House dan lindas semua dari atap.

Kau mengisap lem?

Benar?

Astaga.

Astaga.

- Dasar bodoh. - Tendang perlahan.

Ada apa?

- Mau curi sepeda? Dasar bodoh. - Hei, apa yang kau lakukan? Hentikan.

- Caranya bukan menendang boks. - Hei.

- Copot pengapiannya. Amatir. - Berengsek, kau mengganggu.

- Astaga. - Apa? Dasar bodoh.

Kau mau mati?

Apa... Hei, lari!

Kau sungguh polisi.

Apa? Aku melindungi dan melayani rakyat negara ini.

Astaga.

Aku bisa minta itu?

Baiklah, simpan saja.

Bagus.

Ada apa?

Kau tak mau pergi?

Sudah kubilang ini bukan apa-apa.

Kau hanya bilang ke mereka kapan kau menerima

video dari Gi-cheol dan kau apakan itu.

Paham?

Ayo pergi ke restoran ayahnya Ji-won.

Apa?

Jaket ini.

Akan kukembalikan padanya, jadi, ikutlah denganku.

Kau malu pergi sendiri?

Belikan aku ayam.

Aku belum makan ayam sejak terakhir makan dengan Ji-won.

Apakah ayamnya enak?

Sangat enak.

Baik, setuju.

Kenapa dia mau bertemu di tempat ini?

Halo?

Aku di sini!

Apa yang dia lakukan?

Pak Nam?

Hai.

Astaga.

Sial.

Berengsek.

Hai, kau pasti Jang Mi-na.

Coba kita lihat.

Satu, dua, satu, dua.

Kami bukan penjahat.

Hei, Jo Pil-ho.

Lihat? Sudah kubilang dia tahu sesuatu.

Dasar bedebah.

Kau seorang jaksa, berengsek.

Benar, dasar bedebah. Aku adalah jaksa.

Aku ikut program beasiswa Taesung.

Tak perlu kau bilang itu padanya.

Astaga, aku perlu sedikit bernapas.

Cukup melelahkan berakting melindungi Taesung.

Astaga, foto yang bagus.

Berengsek.

Pak Jo.

Ini adalah ponsel kloning.

Mana ponsel sekali pakai dari malam itu?

Mana aku tahu? Dasar bedebah.

Mari kita lihat.

Berengsek.

Biar aku tanya lagi.

Han Gi-cheol kirim video ke dua orang.

Di mana fail aslinya?

Aku tak tahu, dasar berengsek.

Taruh tangan di sini.

Lepaskan aku.

Kubilang, lepaskan. Berengsek.

Seharusnya kau jawab saat aku tanya.

Pak Jo.

Kutanya sekali lagi.

Ini ponsel gadis ini,

dan ini ponsel kloningmu.

Di mana ponsel aslimu?

Mati saja, Berengsek.

Pria ini sungguh tangguh.

Ayo kita keluar.

Aku akan tutup kasus gudang sebagai kecelakaan sederhana,

dan bereskan urusan dengan media.

Hei, Jo Pil-ho.

Terima kasih bantuanmu.

Belajar keras, atau kau akan seperti dia.

Kau mau hidup, 'kan? Kuliah, ikut karya wisata,

dan pacaran dengan pria.

Katakan saja di mana videonya.

Kalau tidak, kau akan mati seperti Song Jin-gyu.

Kurasa kau tak tahu.

Dia mati karena dia tutup mulut.

Kenapa kau lihat aku seperti itu?

Aku tak membunuhnya.

Pak.

Ya?

Mati saja kau.

Hentikan, dasar bedebah.

Jangan pengecut. Kau ancam anak kecil?

Lepaskan dan hadapi aku.

Astaga, ini menyeramkan.

Hei, sebaiknya kau berpegangan erat.

Kalau aku jatuh,

aku akan bawa kalian semua.

- Ya, Pak! - Ya, Pak!

Dengar Pak Jo. Kalau kau terus bohong, tanganku akan melemah.

Baik. Berengsek, aku mendengarmu!

Kubilang aku dengar, dasar bedebah.

Barangnya ada.

Aku punya video asli. Kau puas?

- Di mana itu? - Di tempat aman.

Akan kukirimkan kepadamu,

jadi, lepaskan dia.

Sial! Rak fail.

Aku sembunyikan di kantor.

Kusembunyikan dengan rapi. Kau tak akan temukan.

Aku akan ke sana dan bawa untukmu,

jadi, lepaskan anak itu, Berengsek.

Tak ada salinan lain. Itu aslinya, dasar bedebah!

Apa? "Mati saja kau"?

"Mati saja kau"?

Cukup.

- "Mati saja kau"? - Hentikan, dasar bedebah!

Sial!

Hei, pulanglah.

Kau bisa pulang sekarang.

Pulanglah. Tak apa-apa.

Ya, ini ponselmu.

Hei, ambil dompetku.

Berapa?

Ini.

Kuberi tambahan.

Ambil uang ini dan beli ponsel baru.

Pak Jo.

Kami antar kau ke kantor,

jadi, serahkan videonya.

Tepati janjimu.

Aku dengar, Bedebah.

Siapkan mobil.

Ada apa?

Mau katakan sesuatu?

Tak ada.

Katakan saja.

Kalian semua bodoh.

Kau sebut dirimu "dewasa"?

Bagaimana kau bisa sebut dirimu "dewasa"?

Bilang So-hui aku minta maaf.

Sial.

Hei, apa dia gila?

Lemparkan bedebah ini.

Kubilang, lempar dia!

Berengsek, ayo pergi.

Ayo pergi.

Hei, kubilang aku punya videonya. Hanya aku yang tahu di mana tempatnya.

Habislah kalian kalau aku mati.

Si berengsek di Provos mendengar semua

saat Pak Nam dan aku bersepakat!

Mereka dengar tentang video...

Hei, geser. Minggir.

Hei, kalau Provos temukan teleponnya,

kalian semua habis.

Kenapa kau selalu buat semuanya rumit?

Bayar aku,

dan akan kuserahkan.

Kalian punya uang banyak, 'kan?

Tidak?

Bawa bedebah ini ke mobil.

Ya, Pak.

Berengsek.

Kurangi kudapan malammu,

atau perutmu jadi gembul.

Aku makin gemuk, 'kan?

Teman dan kawan golfku mau keluar makan malam.

Hei, Jo Pil-ho!

Kudengar kau pernah di Marinir?

Aku kelas ke-389.

Di mana penghormatanku?

- Hormat, Pak. - Kau sungguh bodoh.

Keluargaku sudah bebas selama empat generasi.

Si bodoh ini lebih bodoh dari yang kukira.

Aku suka kau, Sersan Jo Pil-ho.

Pasti kau tahu ini.

"Hukum hanya adil pada 10.000 orang."

Kehidupan manusia

adalah tentang pertarungan agar bisa masuk ke kelompok itu.

Kudengar kau suka uang.

Itu 78 juta Won.

Kenapa?

Video milikmu berharga 780 miliar Won,

jadi, aku bagi 10.000.

Video itu.

Berapa harganya ini?

Kudengar gadis itu jalang.

Dia hanya lakukan kerja rendahan

dan tiduri pria tua untuk uang.

Nyawa pelacur itu 780 Won.

Kecoak seperti dia merusak masyarakat.

Dibandingkan dia, bagianmu lebih banyak.

Jo Pil-ho! Kau akan sering bertemu aku.

Ceritakan yang baik pada bosmu tentang kami.

Pak Jo.

Kau di sini karena gadis itu.

Bersyukurlah.

Halo?

Siapa?

Nama dia Mo Heung-jin. Dia sopir sipil

yang lihat Ji-won di laut.

Otot dan tulang belakangnya rusak

saat mencari siswa di Pelabuhan Paengmok.

Tapi dia tak dapat layanan medis.

Beberapa hari lalu...

MO HEUNG-JIN

ada orang kirim 30 juta Won atas namaku.

Untuk biaya perawatan dia.

Aku tak pernah kirim uang.

Mungkin itu Mi-na.

Dia juga pernah menyelamatkanku.

Hei, Pil-ho!

Ya?

Jangan buat masalah. Periksa lukamu dan cepat kembali.

Ya, Pak!

AMBULANS

Berengsek, hari yang menakjubkan.

Terima kasih.

Apa?

Kau bisa pakai ini.

Aku telepon polisi dan bilang ayahnya Ji-won ada di sini.

Terima kasih.

Apa artinya itu?

Ada apa?

Kau tak mau pergi?

Sudah kubilang itu bukan masalah.

Katakan pada mereka kapan kau terima

video dari Gi-cheol dan kau apakan.

Baik.

Balasannya, belikan aku ayam.

Aku belum makan ayam sejak terakhir makan dengan Ji-won.

Baik, setuju.

SONG JI-WON SEKOLAH MENENGAH DANWON

Hei, Ji-won.

Apa kabar?

Ini aku, Mi-na.

Sekarang hari ulang tahunmu.

Apakah ada pesta ulang tahun?

Kau tahu aku telepon nomormu saat aku bangun tadi pagi?

Aku gila, 'kan?

Aku pergi ke Bupyeong dan beli gaun untukmu.

Menurutku gaunnya indah.

Tapi, masalahnya,

aku tak tahu cara mengirimnya kepadamu.

Ayahmu baik-baik saja.

Baik-baiklah dengan teman sekelasmu di sana.

Sampaikan salam ke Hui-jin dan Mi-ji.

Seong-u and Jin-seong juga.

Lalu...

Sampaikan salam pada wali kelas juga.

Aku sangat rindu padamu

sampai kupakai sepatu dan tasmu berjam-jam.

Aku bisa cium baumu, sepertinya kau mengikutiku.

Aku berbalik, tapi kau tak ada.

Lalu aku marahi mataku lagi.

Ji-won.

Aku sangat rindu padamu.

Kalau kau tak kenaliku saat bertemu nanti, kuhajar kau.

Dari Mi-na yang mencintai Ji-won untuk Ji-won yang mencintai Mi-na.

Sial...

SUKA

Kupikir kau benci sup tulang babi.

Apa yang merasukimu?

Hui-suk.

Yang Hui-suk!

Ya?

Aku mencintaimu.

Astaga, konyol.

Ada apa? Kau akan pergi jauh?

Apa-apaan...

YAYASAN BERBAGI HARAPAN TAESUNG UPACARA BEASISWA

- Halo. - Astaga!

Gedung ini sangat besar.

Halo.

Halo.

Silakan lewat sini.

- Aku tak pernah begini. - Ayo.

Silakan lewat sini. Satu per satu.

Dia pakai kawat gigi.

Aku boleh lewat?

Astaga.

Kenapa sulit sekali?

Ayo cepat. Para siswa sudah menunggu.

Hei, Kawan.

Astaga, berhenti membelaiku.

Aku punya pin metal di bokongku.

Aku terluka saat hadapi gangster.

Kau tak percaya?

Bawa dia ke atas dengan tenang.

Maaf yang tadi.

Aku tak tahu ada acara hari ini.

Berikan aku ponselnya dan pergi.

Aku harus bicara dengan Pimpinan tentang sesuatu.

Ini tentang dana taktis.

Aku dapat intel dari Badan Kepolisian Nasional.

Bisa aku berikan langsung padanya sambil bicara?

Ayolah. Kita satu tim sekarang.

Astaga. Sekarang aku bisa lihat dia punya kantor yang bagus.

Acaranya dua jam. Tunggu di sini.

Tentu saja. Bersenang-senanglah.

Berengsek, apa itu?

Apakah itu mahal?

Boleh aku coba?

Kalian menghajarku sampai semua badanku sakit.

Astaga.

Aku sangat kesakitan.

Bagaimana caranya?

Hei.

Kenapa kau memelototi?

Aku hanya mau coba.

"Pengalaman astronaut"? Apa itu?

Aku akan jadi astronaut?

YAYASAN TAESUNG BERBAGI HARAPAN UPACARA BEASISWA

Sial.

Hei, di mana toiletnya?

Mendadak aku harus buang air.

Sial, apa ini?

Stimulan untuk perut atau apa?

Senang berjumpa.

Astaga, halo.

Terima kasih.

Halo. Senang bertemu.

Senang bertemu semuanya.

Apa yang kau mau?

Dasar berengsek.

Kenapa kau tak pernah hubungi aku lagi? Kau tak cinta aku lagi?

Sudah lelah mengincarku?

Pil-ho, suaramu membuatku...

Astaga, aku sudah lelah.

Dengar, Kawan. Ini sesuatu yang sangat penting.

Kau tahu video yang Gi-cheol kirimkan kepadaku?

Hei, Korea akan mengamuk jika video itu beredar.

Aku bertransaksi dengan Taesung tentang video.

Kau mau ikut?

Di mana kau sekarang?

Kantor Taesung, lantai 15.

Cepat datang.

Kalau terlambat, aku akan lari ke Filipina dengan uangnya.

Apa?

Putar balik.

Putar balik. Sekarang!

Pertama, mari lihat video tentang Perusahaan Taesung.

Mari sambut pimpinan Perusahaan Taesung dan yayasannya,

Pak Jung Yi-hyang, ke panggung.

Halo, aku Jung Yi-hyang, pimpinan Yayasan Berbagi Harapan.

Ada kamera di dinding.

Maaf.

Tugas kami mengawasi sudut dan celah.

Untuk temui kalian semua,

aku rapikan rambutku tadi pagi, pakai parfum bagus,

dan kendarai mobil 5.000 cc milikku. Kalian cemburu?

Katakan padaku.

Pasti kau tak punya video itu.

Astaga, bedebah ini.

Lempar dia ke bak mandi dan buang setelah acara.

Orang-orang melihat. Hati-hati.

- Ya, Pak. - Ya, Pak.

Berengsek, ayo!

Kubilang, ayo pergi!

Lepaskan aku!

Lepaskan.

Ini bisa menembak?

Kau mau coba?

Dan dia kehilangan semua miliknya.

Apa yang bisa kulakukan? Aku merawat semua saudaraku

dan belajar keras walaupun sulit...

Berkat guru baik yang memberiku ongkos bus hari itu,

aku bisa berdiri di hadapan kalian.

Lalu aku dapat pekerjaan, dan punya penghasilan...

MINYAK PIJAT

Setelah itu, keadaan kacau.

Lalu bagaimana aku bisa sampai di sini?

Dasar berengsek!

Berengsek kau!

Bedebah!

Dasar kau...

Ayo ke sini.

Berikan padaku. Berengsek!

Ayo.

Lalu kenapa?

Kemari, Bedebah.

Kemari.

Kemari, Bedebah.

Ayo. Kemari, Bedebah!

Ayo kita mulai!

Terlalu licin, ya?

Ayo!

Dasar kau...

Lepaskan!

Lepaskan, dasar berengsek!

Dasar kau...

Apa inti ceritaku?

- Jangan malu... - Bisa kubantu?

Aku mencari seseorang.

...akan lingkungan dan situasi finansial kalian.

Sungguh bisa menembak.

Teratai mekar di kotoran, mutiara lahir dari derita...

dan berlian lahir dari kepunahan.

Kalian adalah masa depan dan harapan negara ini.

Tersenyumlah tiap bangun pagi.

Tegarlah dan terus melangkah.

Taesung akan selalu bersama kalian.

Perusahaanku, Taesung, akan kerahkan segenap kekuatan

untuk membantu dan mendukung kalian, para pemuda negara.

Dan itulah alasan...

- Ada apa? - Dia jadi gila?

Apakah ini acara kejutan?

Apakah waktunya salah?

Turunkan dia.

- Hei! - Pak.

Kau tak boleh di sini.

Ayo. Turun dari panggung.

Jo Pil-ho! Apa-apaan!

Apa yang kau lakukan?

Jo Pil-ho, kau gila!

Hei, Pil-ho!

Letakkan senjatanya!

Dengar baik-baik.

Tak ada nyawa di dunia ini

yang hanya berharga 780 Won.

Kau paham?

Jangan kabur.

Jangan pergi. Tak apa. Jangan...

Jangan pergi.

Maaf.

Aku tak mau buat kalian takut seperti ini. Sial.

Aku...

Aku janji belikan dia ayam, tapi...

Tapi para bedebah ini...

Karena pembunuhan Jung Yi-hyang, pimpinan Perusahaan Taesung,

investigasi dana taktis berubah di luar dugaan.

Mantan pegawai wanita tim keamanan Taesung bilang

bahwa Pak Jung perintahkan untuk hancurkan semua barang bukti

yang berkaitan dengan dana taktis, yang disita kejaksaan.

Diketahui

bahwa jaksa Nam Seong-sik terlibat dalam proses ini,

dan banyak yang terkejut akan hal ini.

Kenapa kau bunuh dia? Kalian punya hubungan buruk?

Sementara, Pak Jo, yang membunuh Pak Jung, ditahan polisi.

DIketahui alasan pembunuhan itu adalah dendam pribadi,

dia juga lakukan kejahatan lain

dan menyalahgunakan kekuasaan polisi untuk menerima sogokan.

Maka, sudah pasti dijatuhi hukuman berat.

Aku tahu dia akan mengacau.

Lihatlah matanya.

Aku menyesal kerja dengannya.

Semua polisi di kota ini korup.

Dasar kau bedebah.

Kenapa begitu?

Silakan keluar.

Apa?

Kau tak perlu bayar, keluar saja.

Kau sudah gila?

Kami belum selesai. Kenapa kau merapikan?

Kalian para bedebah asal bicara tanpa tahu fakta.

Seharusnya kugergaji lidah kalian untuk beri pelajaran.

Kau lihat apa? Kau seperti ikan teri.

Astaga, kau seperti babi hangus.

Astaga.

Kalian bisa jadi bahan tulang babi, ya?

Berengsek.

Apa yang kalian lihat? Berengsek, pergi!

Di mana kau? Sekolah sudah selesai?

Langsung ke sini setelah baca pesan ini.

Aku buatkan kesukaanmu, kepiting saus kecap.

Dah.

Sekolah sudah selesai?

Langsung ke sini setelah baca pesan ini.

Aku buatkan kesukaanmu, kepiting saus kecap.

Dah.

ALUN-ALUN BUDAYA ANSAN

Hei, Kawan!

- Hai! - Hai!

Hei.

Hei, kau!

Hei, duduk saja!

Sebentar saja.

Hei! Kau baik-baik saja, 'kan?

Berengsek, lepaskan aku sebentar. Aku mau bicara.

Hei, Nak!

Baik-baiklah.

Jaga dirimu di sana.

Terjemahan subtitle oleh Thedorus Sule

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.