Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Eddie!
Sedang apa kau ini, Eddie Gein?
- Mereka tahu. - Tahu apa? Kau melantur apa?
Mereka tahu tentangku.
Mereka tahu perbuatanku.
Aku ketahuan.
Mereka tahu perbuatanku!
Mereka akan meniruku. Membalasku dengan cara yang sama!
Kau sudah gila?
Tidak ada siapa-siapa!
Gein menderita skizofrenia, bukan?
Ya. Itu sering kali muncul saat awal dewasa.
Dalam kasus Eddie, tampaknya dipicu
foto-foto kekejaman Nazi ini.
Andai dia tidak melihat foto-foto itu…
Mungkin masih jadi pria desa yang polos.
Sedahsyat itulah kekuatan foto.
Ya. Orang tidak bisa lari dari gambar di foto.
Tidak bisa menyangkal dari apa pun yang ditunjukkan.
- Foto adalah kenyataan. - Ya.
Dan ketika Eddie melihat perbuatan Nazi,
dia sulit mencernanya. Hanya tertegun.
Tapi sepertinya dia tak pernah merasa ngeri.
Baginya, foto-foto itu sekadar kenyataan.
Dia menganggapnya perbuatan manusia pada umumnya.
Layaknya bersepeda atau menggambar.
Karena itu, Eddie pun jadi ingin mencoba.
Rasa penasaran yang menyimpang.
Dia bahkan tak paham letak kesalahannya.
Tentang menggali mayat?
Yah…
Itu salah satunya.
Permisi, Tn. Bloch.
Psycho buku yang luar biasa. Selamat atas kesuksesannya.
Tapi film ini tak mungkin diminati, Alfred.
Maaf, aku harus pergi sebelum ucapanku kebablasan.
Selamat malam, Joyce.
Dia benar.
Jenis sinema ini masih asing bagi penonton.
Genrenya benar-benar baru.
Tapi dia salah besar jika berpikir filmnya tidak akan diminati.
Kita hidup di zaman tanpa Tuhan.
Setiap hari dicekam ketakutan akan kiamat nuklir.
Orang-orang sudah merasakan gemetar dan tercengang
karena menyaksikan betapa kejinya Holokaus Nazi.
Orang melihat sendiri untuk pertama kalinya
betapa bejatnya manusia
saat tidak dituntun nilai-nilai moral.
Mereka akan tersesat.
Frankenstein,
Phantom of the Opera…
Sekarang itu kurang ngeri, Tn. Bloch.
Penonton telah menemukan monster baru.
Monster itu adalah kita.
Seperti apa masa kecilnya?
Kau harus ingat.
Dia lahir tahun 1906.
Di pelosok Wisconsin.
Masih belum lama dihuni manusia.
Jadi, sebagian tentara kita membalas perlakuan orang-orang biadab ini.
Menekan pedang ke dahi mereka yang dicat
lalu menguliti mereka
dari dahi ke belakang telinga.
Ini diajarkan ke anak-anak sekolah di negaramu, bukan?
- Ini negara bengis. - Hebat.
Kanibal artinya orang yang makan manusia.
Orang ini membunuhnya, lalu merampas perahunya.
Lalu dia terdampar di pulau, dan begini jadinya.
Tukar dengan ini.
Yang itu aku sudah punya.
Dia terobsesi pada cerita Pasifik Selatan. Soal tsantsa…
Kisahnya kerap muncul di komik.
Dijual di seluruh negeri dan laris.
Begitu beranjak remaja, dia keranjingan.
Ketagihan membaca majalah kriminal yang baru menjamur itu.
Begitu diramu dengan kekerasan dan seks, dia tak hanya tertarik.
Dia juga terangsang.
Itu menjadi bahan fantasinya.
Apa yang paling mencengangkan darinya?
Bagiku semuanya mencengangkan.
Yang paling mencengangkan?
Ada satu hal aneh yang baru terpikirkan sekarang.
Gein kadang menguburkan kembali tulangnya setelah setelah bosan.
- Tapi ini berarti dia… - Apa?
Dia meluruhkan daging dari tubuh korban.
Bagaimana caranya?
Mungkin pakai asam borat di dalam bejana besar.
Ibu dengar?
Istirahat saja.
Karena ternyata bukan tulang yang dia inginkan.
Yang dia inginkan adalah kulitnya.
Dia menguliti korban.
Kapan dia belajar melakukan itu?
Ilse mengajarinya.
Ah, Jalang Buchenwald, ya.
Ilse memilih tahanan yang dia suka.
Lalu mengolah sesuatu dari kulitnya.
Selamat ulang tahun!
Membuat hal semacam…
Lampu.
Ya, lampu.
Karena sulit mencernanya, dia menjadikannya kewajaran.
Dan salah satu cara menjadikannya kewajaran…
Adalah menirunya.
Astaga.
Kau terlalu tergesa-gesa!
Maaf, Ibu.
Bukan main.
Pelan-pelan saja, tapi pasti.
Ulangi lagi. Jangan buru-buru, Nak.
Kerjakan dengan santai.
Baik, Ibu.
KOREK API CRITERION
DAGING BABI DAN KACANG
Di mana, ya?
Ibu, lihat mangkukku?
"Yang mana"?
Mangkuk istimewaku.
Ketemu juga.
Eddie, hidupmu berantakan.
- Ya, terserah. - Lihat keadaanmu.
Tak tahu caranya bertahan sendiri.
Ibu pikir aku tahu caranya?
Makanya aku butuh wanita.
Oh, tidak bisa.
- Jangan bawa wanita ke rumah ini. - Mana bisa terus melajang.
Jangan dengan Izebel itu. Dia itu Pandora.
Pandora yang membawa kotak berisi petaka.
Namanya Adeline.
Aku senang di dekatnya. Hanya saat bersamanya aku merasa waras.
Jangan bawa jalang ke rumah ini.
Terserah aku mau apa, Ibu.
Ibu juga tak bisa mencegahku.
Aku tetap sayang Ibu.
- Ayo bergandengan, Eddie. - Tidak perlu.
Ini sepatu roda pasangan. Harus bergandengan!
Pernah ingin keluar dari kota Wisconsin ini?
Tidak pernah sedikit pun.
Kalau kau?
Selalu. Rasanya terkungkung di kota ini.
Lantas, kau mau kabur ke mana?
Aku mau ke Kota New York.
Pernah dengar Weegee?
Maksudmu papan Ouija?
Bukan. Weegee.
Itu bukan nama asli, tapi nama samarannya.
Dia fotografer TKP.
Akan kucari dia dan minta magang dengannya.
- Mungkin aku bisa belajar. - Belajar memotret TKP?
Ya! Itu menarik. Dia sering ikut turun bersama unit pembunuhan.
Kadang dia dibagi informasi, "Baru ada laporan kasus.
Temui kami di sini. Bisa jadi kasus besar."
Kasus pembunuhan?
Kadang dia mengabadikan TKP pembunuhan yang baru terjadi.
Terlihat dari fotonya. Mayatnya masih hangat.
Entah kenapa terasa
begitu intim.
Itulah rencanaku kalau bisa.
Jadi asisten Tn. Weegee sampai bisa mandiri,
setelah menyerap semua ilmunya.
Sepertinya aku ada bakat.
Aku juga tak akan takut. Mungkin malah bisa melihat seninya.
Memang terdengar aneh.
Aku hanya berani cerita padamu.
Ingat asbak waktu itu?
- Yang mana? - Foto waktu itu.
Asbak dari tengkorak buatan Ilse.
Ingat, kenapa?
Aku baru mencoba mengembangkan ide itu lebih jauh.
Eddie Gein, kau bercanda?
Aku tak bercanda.
Saat melihat foto itu,
batinku, "Aku juga bisa buat."
- Jadi, kubuat mangkuk dari tengkorak. - Ibu, mana mangkukku?
Itu mangkuk favoritku.
Kau memang unik, Tn. Gein.
Kau memang berbeda dari yang lain.
Kau serius?
Tentu saja.
Aku bisa membuktikannya. Mau lihat?
Di rumahmu?
Ya, ingin kutunjukkan.
Jadi, kau mengundangku ke rumahmu? Sekarang?
Kenapa tidak?
Baiklah. Ya.
Ayo pergi.
Apa?
Apa?
Kau melambai ke siapa?
Ibu.
Ayo.
- Ayo. Hei. - Maaf.
Gelapnya.
Tak kelihatan apa-apa.
Tenang saja.
Eddie, tadi kau bercanda soal ibumu?
Kenapa kau selalu menganggapku bercanda?
Tak ada alasan khusus.
Terakhir kau bilang ibumu kena strok.
Ya.
Sekarang Ibu sering di kamar atas.
Kadang kugendong turun ke ruang duduk di belakang.
Eddie, bisa tolong nyalakan lampu?
Sabar dulu!
Tolong sabar dulu.
Eddie?
Aku di sini.
Aduh, Eddie.
Aku paham. Memang berantakan.
Sangat berantakan.
Jangan hidup begini, Eddie.
Aku juga bilang begitu.
Sejak Ibu jatuh sakit.
Astaga! Biar kubantu bereskan sedikit.
Kau butuh sentuhan wanita.
Terima kasih.
Tempat sampahnya di sana.
Kalau kau tahu letaknya, kenapa sampahnya dibuang di wastafel?
Apa ini?
Permen karet.
Permen karet?
- Untuk jaga-jaga. - Jaga-jaga apa?
Siapa tahu masih ada rasanya.
Mari kita menjalin hubungan.
Nanti kukenalkan ke ibuku.
Hanya kau yang bisa memahamiku.
Aku yakin Ibu akan sadar juga.
Bagaimana?
Baiklah.
Eddie, apa ini?
Gergaji besi.
Baru mau kubilas.
Seperti katamu, aku butuh sentuhan wanita.
Ayo.
Ayo ikut.
Ibu!
Ibu masih bangun?
Eddie, kau tak mengerjaiku, 'kan?
Mengerjai? Maksudmu?
Ayo ikut. Mungkin Ibu sudah tidur.
Eddie, bau apa itu? Harumnya menyengat.
Wangi parfum Ibu.
- Eddie, apa ini? - Apa?
Kursi ini. Buatanmu?
Baru kuperbaiki.
Apa yang…
Ada tandanya.
Ya, makanya aku memakainya.
Aku suka bentuknya.
Apa itu?
Puting susu.
Puting susu apa?
Semua binatang punya puting, 'kan?
Memang, tapi kau paham maksudmu.
Ini dari ambing, 'kan?
Bisa dibilang begitu.
Ayo ikut.
Ibu!
Ada kejutan untuk Ibu.
Halo, Ny. Gein.
Eddie bilang Anda sempat kurang sehat. Syukurlah Anda membaik.
Pendengarannya kurang baik. Keraskan suaramu.
Ibu!
Jangan merajuk. Ibu harus sopan.
Ini temanku. Aku ingin kalian bisa akrab.
Tadi saya menyapa, Ny. Gein.
Kami serius menjalin hubungan, Bu.
Tidak sopan duduk membelakangi.
Ibumu tidur?
Tidak, hanya keras kepala.
Ibu!
Jangan hanya diam saja.
- Mungkin lain kali saja. - Jangan, Ibu tak sopan. Aku tak suka.
Ibu!
Tidak… Aku mau pergi.
Jangan. Mau ke mana? Jangan!
Apa-apaan rumah ini, Eddie?
- Sudah kubilang Ibu memang begitu. - Aku tidak nyaman!
- Lain kali Ibu pasti ramah. - Tidak, aku harus pergi!
Jangan. Aku juga tidak ingin begini!
Bisakah kau menciumku sebelum pergi?
Tidak!
Mau kupangku sebentar?
Eddie, aku tidak nyaman.
Aku pergi.
Boleh kuantar?
Tidak!
Mau kencan denganku pekan depan?
Ibu!
Ibu tega sekali dengannya!
Dia wanita Izebel!
Ibu tak sudi bicara dengan pelacur. Jangan sampai putraku ternoda!
- Tidak! - Paham?
Tidak!
Jangan berani menghinanya!
Wanita seperti itu harus dihukum mati dan dirajam di jalanan!
Aku sayang dia!
Tidak! Aku sayang dia!
Tidak! Ibu! Aku sayang dia!
Ibu harus mulai berubah.
Saat aku mengenalkan temanku, Ibu harus menyambutnya!
Jangan mengatur Ibu.
Tidak!
Aku selalu patuh.
Aku sudah menuruti semua keinginan Ibu.
Aku juga sudah berbakti pada Ibu!
Aku pun bisa muak.
Kau mau ke mana?
Mau minum-minum.
- Tidak boleh! - Tentu saja boleh!
Aku berhak minum!
Harusnya aku tak kaget,
kau sama seperti ayahmu yang tak berguna
dan kerjanya ongkang-ongkang bersama pemabuk malas!
Bawa saja senapanmu.
Habisi para pemabuk itu!
Yehezkiel 18:20!
Jangan teriak-teriak, Bu!
"Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati!"
"Sebab upah dosa ialah maut!"
Halo, Eddie.
Mary.
Kenapa bawa senapan?
Mau coba memburu tupai kalau ada.
Sayang tidak ketemu.
Mau minum bir?
Bir Schlitz, ya.
Kau lama tidak kelihatan.
Yah…
Kenapa terlihat resah?
Oh, biasa,
soal perempuan.
Kukira kau berhubungan dengan Adeline.
Yang tinggal bersama ibunya.
Kami sudah berpisah.
Sayang sekali.
Kalau kau mencari perempuan, aku bisa membantumu.
Aku punya banyak teman wanita dari semasa tinggal di Chicago.
Sekadar informasi saja.
Mereka pasti tak keberatan datang jauh-jauh untuk menemui
pria tampan sepertimu.
Sungguh?
Sekadar bilang saja.
Asalmu Jerman, 'kan?
Ya, Bayern.
Sama seperti ibuku.
Suku bangsa Ibu.
Badanmu pun mirip Ibu.
Tak sopan bicara begitu pada wanita.
Aku tak bermaksud buruk.
Tapi kau pun bukan wanita baik-baik.
Karena menawariku wanita panggilan.
Mau habiskan minumanmu atau pindah bar lain?
Pilih.
Aku mau ke kamar kecil dulu.
Aku bermaksud memujimu, Mary.
Aku menyayangi ibuku.
Kalau Hess itu Obergruppenführer, mestinya kau Oberst-Gruppenführer!
Seperti Dietrich dan Hausser!
- Atasanmu hanya Himmler! - Jangan keras-keras!
Tidak! Sekali-kali jantanlah.
Karl, sebentar lagi semua Yahudi di Eropa akan musnah!
Akan kita basmi semuanya. Kau pun harus ikut serta!
Kau terima saja direndahkan?
Siapa kau ini?
Kau pikir kau siapa? Beraninya mengajak bicara suamiku!
Siapa namamu, Prajurit? Siapa komandanmu?
Ya. Baiklah.
Tangkap dia!
Tangkap orang ini!
Karl, atasanmu cukup Himmler seorang!
Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu.
Tidak apa-apa.
Kau tidak mirip dengan ibuku.
Ibuku orang suci.
Sedangkan kau muncikari, Mary.
Seorang Izebel.
Ta-da!
Astaga, Tony!
Nyaris saja aku mati jantungan.
Maaf, aku bilang mau menunjukkan sesuatu, 'kan?
Ya, tapi tak terpikir kau akan berdandan seperti mendiang nenekku.
Maaf. Aku sudah minta maaf, 'kan?
Jadi, apa maksud dandanan ini?
Kau pikir itu menggairahkan?
Ini untuk filmnya, Tab.
Aku mendalami karakterku di Psycho.
Ini peran terbesar sepanjang karierku.
Ya, aku ingat karena itu melulu yang kau ungkit.
Tokohnya berlintas-busana, aku harus paham nuansa
dan gestur tubuhnya.
Oke, silakan teruskan tanpaku.
Aku mau turun ke bar hotel,
mencari orang biasa
dan mengobrol seperti orang umumnya.
Kau iri.
Ini tidak adil.
Kau iri dengan peranku, jadi kau ingin menjegalku, 'kan?
Oke, kata siapa, Tony?
Siapa? Terapismu itu?
Yang kau temui agar kelak bisa berumah tangga
dengan wanita baik-baik, bukan kumpul kebo denganku di hotel?
Itu keterlaluan.
Tapi terapismu benar.
Kau tidak waras, Perkins.
Coba saja berkaca.
Jadi, maaf saja kalau aku tidak suka
kau menyelami pikiran pembantai yang berlintas-busana.
Kalau diminta Alfred Hitchcock, tentu harus dituruti.
Ya.
Itu sikap yang benar.
Hei…
Begini. Itu bukan urusanku. Itu kariermu.
Terserah dijalani bagaimana.
Tapi kalau menerima peran ini, kau akan menyesal.
Camkan itu.
Saking semangatnya, aku sampai tidak bisa tidur.
Semoga tak apa kuungkapkan.
Aku antusias sekali bisa bertemu Janet Leigh.
Aku tertegun saat kubaca lagi adegan
membunuh tokoh utama wanita di menit ke-30… Penonton pasti histeris.
Sayangnya, latihan dengan Janet hari ini kubatalkan.
Ada agenda lain yang harus kulakukan dan tunjukkan padamu.
Baiklah.
Ini…
- Ini setnya? - Ini rumah karaktermu.
Persis dengan kondisi saat ditemukan oleh polisi, sampai detail terkecilnya.
Apakah itu…
Tsantsa, kepala yang disusutkan.
Ya.
Dia tergila-gila pada kisah Pasifik Selatan
tentang pemburu kepala dan kanibal.
Yang ini…
Ini tengkorak.
Ya, benar.
Dijadikan mangkuk olehnya.
Selalu makan dari situ.
Nah, akan kuperlihatkan sesuatu yang lebih mengerikan.
Buka lemari esnya.
Apa itu?
Itu
sembilan vulva yang diawetkan.
Tn. Hitchcock?
Jangan!
Hentikan.
Baik, Bu. Sebentar lagi aku ke sana.
Hentikan itu.
Jangan begitu.
Tak ada orang waras yang begitu.
Ibu yang menyuruhku memperbaiki kursi, 'kan?
Ya sudah, biar kuselesaikan.
Kau… Tak boleh… Benda seperti ini tak boleh dibuat.
Tapi ini khusus untuk Ibu.
Jangan paksa orang menatap hal sekeji ini. Ini salah.
Tapi kaulah yang tak bisa berpaling.
Tolong!
Ibu!
Hentikan itu.
Tolong!
Tolong!
Tn. Hitchcock, mustahil film ini lolos sensor.
Kau tidak perlu mencemaskan itu, Tn. Perkins.
Soal sensor biar jadi urusanku.
Aku ingin merevolusi sinema
agar mencerminkan siapa kita, bukan versi ideal kita.
Dorongan sebagian orang memang ada yang lebih rendah,
tapi adab menuntut kita untuk berpura-pura
bahwa dorongan itu tak pernah ada.
Dorongan itu malah menjadi rahasia yang harus kita tutupi,
hingga akhirnya meracuni pikiran kita.
Gein punya rahasia.
Disfungsi seksual yang tak mampu ia ungkapkan.
Dorongan seksual yang tak tersalurkan itu berbalik ke dalam diri
dan akhirnya jadi penyakit.
Skizofrenia.
Ginefilia.
Nekrofilia.
Banyak aktor mengincar peran ini, Tn. Perkins.
Montgomery Clift, Roddy McDowell, Lawrence Harvey.
Tapi aku memilihmu
karena hanya kau yang memahami penyakit ini.
Kau punya rahasia, bukan, Tn. Perkins?
Seperti katamu, kita semua punya.
Kau punya, bukan?
Ya.
Rahasia itu menggerogotimu.
Karena itu aku memilihmu, Anthony.
Kau sama sepertinya.
Cut.
Adegan itu belum pas.
Kita ulangi lagi usai makan siang.
Makan siangnya di mana?
Kami sudah siapkan meja di kantin, Tn. Hitchcock. Silakan ikut saya.
Waktuku…
- Kita harus kembali pukul berapa? - Pukul 16.45.
Aku jatuh cinta padanya.
Aku tahu ini tidak pantas, tapi…
Aku mencintainya.
Masalahnya, saat kami…
Berzina.
Ya. Saat kami berzina…
Sesudahnya, aku
jadi sakit.
Selalu.
Kau pernah bilang sodomi itu
terasa…
Bagai monster.
Lantas, apakah kau monster?
Bukan.
Anggaplah perubahan suasana hatimu ini sebagai peringatan, Anthony.
Kau bintang utama film Alfred Hitchcock.
Ini kesempatan langka, bukan?
Ya.
Perilaku sodomi bisa merusak kariermu.
Maka dari itu, harus diakhiri.
Caranya?
Metode terapinya beragam.
Ada terapi kejut listrik atau ECT.
Lalu meski lobotomi mulai ditinggalkan,
metode ini sangat efektif.
Begini, Anthony, pilihan pengobatan beragam,
tapi pertanyaan terpentingnya,
kau sungguh ingin sembuh?
Aku…
Aku ingin sembuh.
Aku sungguh ingin sembuh.
Sungguh.
Sempat kutawarkan menemaninya.
Juga bantu berberes.
Tapi Mary menyuruhku pulang. Itu terakhir kali aku melihatnya.
Lalu, dia ditinggal sendirian?
Ya, tapi…
Mary bisa jaga diri. Dia…
Dia menyuruhku pulang.
Aku lihat ada truk baru parkir saat aku pergi,
tapi aku tidak curiga.
Kau tahu itu truk siapa?
Sepertinya milik Eddie Gein.
Dia ditembak?
- Dia ditembak? - Truk Eddie diparkir di sini?
Bukan, di depan. Mustahil dia pelakunya. Dia tak mungkin setega ini.
Orangnya polos.
Apa Mary ditembak?
Baik, terima kasih.
Kini aku harus apa?
Tunggu di sini. Akan kami utus petugas ke rumah Mary.
Kukira aku mencintainya. Dia alasanku meninggalkan Randy.
Segera rujuk dengan Randy.
Coba memohon, "Maaf sudah selingkuh dengan lelaki itu.
Tolong maafkan aku."
Aku tidak sudi minta maaf!
Aku tidak serius dengannya! Dengan Eddie juga tidak!
Cepat minta maaf…
Tidak mau!
- Aku tak mau lama-lama di sini, Alfred. - Aku suka jeritan mereka.
Kutunggu di mobil. Lekas menyusul.
Baik, Bu.
Minta air putih! Putriku pingsan!
Panggilkan ambulans! Istriku mulai kontraksi!
Silakan.
Tak usah dikembalikan.
WAJIB MENONTON PSYCHO DARI MENIT PERTAMA!
PENGALAMAN SINEMA YANG SEPENUHNYA BARU DARI ALFRED HITCHCOCK
Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.