Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
BENSIN
Syalom!
Selamat datang, Jenderal.
Selamat datang…
- …di rumah kebahagiaan. - Hei.
Masih kolonel.
Tenang.
Sebentar lagi akan menjadi jenderal.
Seorang panglima perang, bahkan.
Hmm.
Ini.
Ah.
Ah…
Sudah disiapkan?
Sedang… dipersiapkan.
Kelengkapan yang lain?
Nah. Itu.
Ah…
Mahar yang tepat untuk sebuah malam yang khidmat.
Niscaya, sebentar lagi Bung Bennto akan menjadi jenderal…
Bertabur bintang.
- Mari. - Ya.
Silakan, Jenderal.
Jangan surut, Jenderal.
Abaikan rasa takut.
Negeri ini memimpikan sosok seperti Jenderal.
Akan lebih baik untuk semuanya.
Untuk anak keturunan Jenderal
dan untuk anak keturunan kami.
Silakan duduk, Jenderal.
Wah!
Minyak dan darah.
Endak ada yang lebih nikmat dari ini.
EMAS
♪ Kutimang-timang, Anakku Sayang… ♪
- Kekuasaan panglima tertinggi… - ♪ Diamlah, jangan menangis terus ♪
…sudah di depan mata.
Sut…
Hmm.
GENOSIDA
Osman Iskandar, alias Otto,
diputuskan bebas hari ini, setelah dikurangi masa tahanan
yang tadinya 12 tahun penjara karena pembunuhan,
menjadi hanya enam tahun sepuluh bulan
karena berkelakukan baik.
Saudara Osman, Anda bebas.
Ayah.
Ayah.
Ini siapa bapaknya?
- Pagi, Pak. - Pagi.
Ini siapa bapaknya, bilang sama Ayah.
Hah?
Saya bapaknya, Pak. Ibrahim.
Sopir taksi?
Ya, emangnya kenapa, Yah?
Ya, enggak sopir taksi juga, dong.
Ini kecelakaan atau gimana?
Hmm…
Mobilnya, sih, masih mulus, Pak.
Enggak ada yang kecelakaan.
- Saya enggak percaya sama kamu… - Iya.
- …sebelum kenal baik. - Ayah. Ayah.
Kita udah nikah, Yah.
Siapa pun yang mengancam kebebasan negara-negara yang berdaulat
harus kita perangi,
apalagi teroris-teroris yang suka bermain Tuhan
dan mengatasnamakan golongan dan agama tertentu.
Dan kalau saya terpilih menjadi presiden nanti,
saya akan hancurkan kebatilan dan kemunafikan,
sebagaimana dulunya undang-undang di negara ini disahkan bersama-sama.
Enggak sah. Enggak bisa begini.
Yang namanya anak perempuan kalau menikah itu harus ada walinya.
Kalau enggak ada walinya. Enggak sah.
Ini jadi anak haram.
Enggak ada yang namanya anak haram, Yah.
Ada.
Ini kan udah diwakilin sama Om Reza.
Ayah kan berhalangan hadir waktu itu.
Iya, Om Reza itu enggak ada hubungan darah apa-apa sama Ayah.
Tapi dia kakaknya Ibu, Yah.
Orang kata ustaznya aman, kok.
Ustaz ngomong gitu? Ustaz mana?
Alamatnya di mana?
Nanti Ayah dateng ke situ, Ayah mau silaturahmi sama tu ustaz.
Tapi kata hadisnya itu, kita…
Lo denger enggak gua manggil nama lo?
Hah?
Kalau enggak diajak ngomong, enggak usah ikut bunyi. Bisa, dong?
- Bisa, enggak? - Bisa… Ayah, bisa. Maaf.
- Apa tadi terakhir ngomong? - Hmm?
Lo terakhir ngomong apa tadi?
Bisa, Ayah. Maaf.
Astagfirullahaladzim!
Gua bukan bapak lo, jadi jangan panggil gua ayah.
He eh.
Ayah, udah ah.
Baim ini banyak jasanya lo sama aku.
Jasanya apa tukang taksi ini sama kamu?
Dia drop kuliahnya di Jakarta demi aku di sini.
Biar bisa nafkahin aku, lo.
Om Reza ke mana? Om Reza enggak ngurusin kamu?
Om Reza.
Boro-boro ngurusin aku di sini,
orangnya aja ilang-ilangan.
Utangnya di mana-mana.
Ayah, saya pamit…
Ya dia panggil ayah.
Kan kamu liat sendiri masih manggil ayah.
Kan udah dibilang jangan panggil ayah.
Iya.
Ini kamu ngapain sih,
bacanya buku persalinan terus.
Ya biar aku ngerti, nanti kamu kan lahiran
seperti apa.
Tapi nanti aku cariin kamu dress,
yang pinky-pinky, terus kamu pake, yak?
Itu pasti lucu.
Ye! Kenapa?
Aku tuh bangga jadi sopir buat kamu, apalagi jadi bidan.
- Alah, gombal! - Mer…
Iya, Yah? Baim ya, Yah?
- Sayang itu, ada telepon. - Oh. Yak ah.
- Halo. - Im.
- Ya, Bu. - Bapak kamu ini, lo.
Sudah semakin parah. Mbok ya kamu ke sini.
Iya, Bu. Baim sekarang ke sana, ya.
Bapak, ya?
Iya.
Ya, udahlah. Kamu selesaiin masalah kamu dulu sama dia, oke?
Ayah, saya pamit dulu.
- Bye. - Dah.
Kenapa bapaknya?
Sakit keras, Yah.
Udah lama, sih.
Tapi kayaknya sekarang…
Kritis.
Bapaknya kriminal.
Sama kayak Ayah.
Ayah itu cuman kasih hukuman yang setimpal untuk para pembunuh ibu kamu.
Dan Ayah juga udah dipenjara.
Emangnya bapaknya Baim pembunuh juga?
Bapaknya tuh pencuri.
Rampok.
Samalah kayak Ayah.
Bu.
Im.
Bapakmu iki menderita, Im.
Kata dokternya apa, Bu?
Organ-organnya sudah tidak ada lagi yang bisa berfungsi.
Mereka juga bilang,
enggak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
Dan mereka nyuruh kita untuk bawa pulang Bapak.
Karena biayanya makin tidak masuk akal
kalau Bapak tetap di sini…
Ayah! Ah!
- Kenapa? Hah? - Sakit. Sakit, Yah, sakit.
- Perutnya enggak enak. - Perut?
Sakit.
Ini bayinya sungsang atau bagaimana?
Enggak, enggak, enggak. Ini kontraksi, kontraksi. Sakit.
Operasi aja, ya?
- Hmm? - Enggak, jangan.
Mahal. Mana ada duit.
Ya, daripada kenapa-kenapa anak itu. Duit bisa dicari ini.
Enggak. Enggak usah.
Otto.
Tony?
Oh, iya.
Udah bebas kau, enggak ngasih kabar.
- Baru dua hari. - Udah enggak butuh duit atau gimana?
Kenapa? Lo mau ngasih kerjaan buat gua?
Rumah Nyai.
Siapa?
Betino.
Gundik dia.
Ya, enggak penting siapanya.
Yang penting, menurut informasi,
di rumah itu ada banyak emas batangan dan perhiasan.
Estimasi 100 kg.
Tapi aku mau kau kerjakan
sama tiga orang tim kau itu, ya.
Kalau endak, aku endak mau.
Siapa?
Yang biasa kerja dengan kaulah itu.
Si Saud, si Farsi, dan si Suryah.
Harus mereka banget?
Oh, harus! Kalau endak, aku endak mau.
Kenapa?
Ya, kau enggak perlu tahu lah.
Biar aku yang urus.
Yang jelas, pekerjaan ini langsung to the top.
Dan window eksekusinya itu harus besok malam.
Kalau endak, kita harus tunggu lagi satu bulan.
- Kenapa begitu? - Yah, kau enggak perlu tahu.
Alamatnya?
- Jangan lupa, ya. Harus besok malam. - Iya.
Kerjaan haram lagi, Yah?
Enggak kapok?
Kamu diem aja, tahu beres.
Nanti kan ada duit buat sesar.
Wah! Punya suami mokondo, enggak punya duit,
ya kayak begini nasibnya!
Berasnya habis, minyak enggak punya, susunya juga habis!
Ya, itu salahmu sendiri!
Ketagihan sama rudalku.
Kalau mau uang,
jangan nikah sama mantan kopral.
Sana, sama mantan jenderal.
Uangnya banyak.
Tapi ya, ngaceng belum tentu bisa.
Hah? Kamu mau? Hah? Enggak bisa ngaceng.
Hah! Ngawur kamu, Mas! Ngawur!
Ya enggak ada jenderal enggak bisa ngaceng.
- Ngawur! - Ya ada aja.
Ada aja jenderal yang enggak bisa ngaceng.
Yang dibahas masih soal selangkangan aja dari dulu.
Mas Otto!
Wah… Mas. Emang ganteng.
Gimana? Udah lulus S3-nya? Hmm?
S4.
Siapa itu, Mas?
Ini jenderalku. Jenderal.
Sersan Dua.
Jenderal… Pasti enggak bisa ngaceng, tuh.
Ya bisa! Mulutmu itu, lo!
Bisa ngaceng toh, Pak?
Bisa!
Udah sana masuk!
Bentar dulu.
Aduh. Senyumnya manis banget.
Pas kebetulan gula di dapur lagi habis, nih.
Apa sih kamu ngomongnya? Ayo masuk sana!
Enggak mau! Ya kalau gitu, cepetan dong dimasukin.
Gila!
Udah! Ayo masuk!
Aduh!
Ayo masuk, masuk!
Kerja kita?
Kerja lah, masa enggak.
Yes!
Aduh!
Ya bunganya, Bang.
Kalau naik terus, kapan gua bisa kelarin utangnya?
Ya lu kabur-kaburan, sih.
Urusan bunga kan masih bisa kita bahas.
Ya, gak?
Kalau gua kagak kabur,
ya bakal digebukin terus nih, Bang, ama lu.
Lu tahu enggak sekarang masalah gua paling gede apa?
- Apa, Bang? - Mayat lu.
Hah? Aduh…
Mayat gue kenape, Bang?
Ya, mau gua buang di mana.
Serahin aja sama gua.
Nanti biar gua kasih ganjaran sama dia.
Mau jadi album lagi, nih!
Grup Pria Jenaka, ya enggak?
Ngomong sekali lagi. Hah?
Coba ngomong sekali lagi.
Sekali lagi.
Lu selamet lu hari ini.
Ayo cepet.
Abang-abang gue. Kangen gue sama lu, Bang.
Baim harus ngapain, Bu?
Nanti malam, kamu pergi ke rumah.
Kamu bawa kotaknya Bapak pulang.
Cuman kamu yang bisa nolong Bapak, Im.
Bapak enggak akan bisa meninggal
sebelum menurunkan ilmunya.
Fungsinya untuk melindungi diri
dari bahaya-bahaya yang diciptakan oleh manusia
maupun yang bukan manusia.
Terus Baim harus apain, Bu?
Ya, enggak harus diapa-apain.
Cukup diterima saja
bahwa ini sudah menjadi milik kamu.
Anggap ini warisan dari bapak kamu.
Kamu siap?
Baim terima kotak ini
dan Baim terima warisan ini
sebagai anak laki-laki satu-satunya Bapak.
Terima kasih, ya.
- Halo. - Halo, Bu.
Kami cuma mau mengabarkan kalau suami Ibu sudah pergi dengan tenang.
Innalillahi wainnailahi rajiuun.
Kacamata lu, To.
Bentar.
Buat apa?
Ya biar ganteng aje.
- Anjir… - Harus, ya,
kita kerja bareng sama dia lagi?
Ini tim impian gua, Ud.
Lu entar juga bakal liat kalau gue itu ada gunanya buat tim ini.
Sangking bergunanya, lu wakilin gua nikahin anak gua?
Ya elah, To, To. Baim itu anak baek, gua tahu banget.
Lagian juga mereka berdua udah saling cinta.
Cinta mati malah.
Mana percaya aku, Mas?
Masih ada satu orang lagi.
Iye, ye, satu orang lagi.
Bang Suryah!
Kangen banget gua tuh sama abang yang satu itu.
Walaupun udah aki-aki, dia tuh orangnya bijaksana banget.
Dan aji-ajiannya itu, lo.
Gua enggak pernah nemuin orang sesakti dia.
Eh, To. Lu tahu kan kalau dia itu kebal peluru?
Itu yang bikin gua curiga jangan-jangan Bang Suryah itu separo dewa.
Kagak bisa mati!
Ternyata bisa mati juga die.
Jadi, kamu anaknya Azhar?
Almarhum Bapak sudah cerita semuanya ke Ibu dan ke saya,
siapa Ayah…
Mas Salman, Pakde Reza…
Om.
Om Reza.
Om. Om Reza.
Dan apa saja yang…
Bapak, Ayah, Mas Salman, dan Om Reza ngelakuin untuk mencarikan nafkah.
Enggak apa-apa, tuh?
Kamu tahu selama ini bapak kamu cari nafkahnya dari uang haram.
Keadaan yang membuat kami enggak apa-apa.
Selama enggak menyakitin orang lain,
soal haram enggak haram, ya…
Bingung, ya.
Siapa maling yang sebenarnya. Ya, kan?
Kenal Merry di mana?
Sejak berita Ayah…
Masuk penjara.
Saya diminta Bapak untuk pantau
keadaan keluarga dari temen-temen Bapak.
Dan dari situ saya kenal Merry.
Saya liat kalo Merry butuh dijaga,
akhirnya kita kenal lebih dalem lagi.
Dan…
Saya jatuh cinta sama Merry.
Merry tahu itu?
Mas?
Kamu sif malem juga?
Iya.
Ibu lagi butuh buat…
Yah, semuanya.
Kamu enggak apa-apa, kan? Enggak kecapekan, kan?
Enggak. Aman.
Mas.
Hmm?
Apa?
Hmm…
Sebenarnya…
Ada yang belum aku ceritain ke kamu, Mas.
Tentang Ayah, Mas.
Ada apa tentang Ayah?
Ayah itu… dulunya…
Tentara, kan?
Iya…
Tapi…
Tapi bukan cuma tentara, Mas.
Sayang.
Kamu fokus ke buah cinta kita.
Kita…
Saling jaga.
Jadi, kamu udah siap
ngegantiin bapakmu?
Siap, Mas.
Nanti malem…
Siap?
Siap.
♪ Wahai manusia penghancur dunia ♪
- ♪ Ha, ha, ha, ha ♪ - ♪ Keserakahan hati jiwa ♪
♪ Yang keji dan meronta ♪
Anjing!
Mulai sekarang, jangan panggil nama sebenarnya.
Kalian panggil gua Otto…
Ya kan nama lu emang Otto, Bang.
Nama gua Osman Iskandar!
Lu 22 tahun kenal sama gua enggak tahu nama asli gua?
Anjing banget, sih.
Ya kan selama 22 tahun
kagak ada yang manggil lu Osman, Bang.
Semua juga panggil lu Otto.
Mana gua tahu?
Salman, Saud.
Elu Farsi.
Baim, Suryah.
- Lah terus kenapa die pake nama bapaknye? - Siapa?
Nih, si Baim, ngapa pake nama Suryah?
Nama bapaknya Baim, Azhar! Suryah panggilannya!
Aku bunuh aja orang ini ya, Mas.
Boleh, enggak?
Di mana, Mas, rumah si Nyai ini?
Pesisir.
Laut Kidul?
Mana lagi?
Kalau kita pake nama-nama gini,
bukannya nanti ketahuan, ya…
Kita malingnya?
Ini kode.
Kamu enggak usah pake.
Kamu enggak ikut ke dalem. Kamu di mobil.
Ini yang bikin job kita jadinya sah, karena dibeking sama orang atas.
Hmm.
Kita bertiga masuk ke dalem…
Cari emasnya, dapet, langsung keluar.
Suryah, seperti juga tugas papa kamu.
Kamu jaga keadaan di luar.
Gunakan jampi-jampi kamu, sirep semua orang yang ada di dalem.
Nah, itu tuh, Yah.
Saya enggak pernah coba jampi-jampi seperti itu, Yah.
Itu jadi belum tahu gimana caranya.
Loh, tadi katanya udah siap.
Ya… Siap jadi sopir.
Kan, itu yang bapak saya lakuin, kan, dulu?
Bapak kamu tugasnya lebih daripada itu. Bapak kamu itu penjaga kami.
Penjaga dari orang-orang di luar ataupun yang bukan orang.
Ah, terus kita jadinya gimana nih, To?
Dia bilang kagak bisa.
Sebentar, sebentar.
Pasti ada sesuatu di sini.
Wih, keren.
Bapak kamu sih enggak pernah nih ngelakuin hal kayak gini, nih.
Oh, ya? Hmm.
Yowis, lah. Yang penting ada yang jaga.
Eh…
Kalau ada ancaman dari mana pun, klakson tiga kali.
Ngerti, ya? Tiga kali.
Siap, Mas. Tiga kali.
Kok tumben?
Yang jaga kita masih magang.
Anjing!
Kenapa, sih?
Ayo.
Blok, goblok. Ini.
Keren, Saud.
Enggak "gedo". Enggak gede doang.
Badak banget, emang kuat diye.
Ba!
Enggak ade.
Anjing! Ih! Lu ngagetin aja.
Wah!
♪ Jalan untuk jadi orang ♪
♪ Yang berguna dan sakti ♪
♪ Saktinya ♪
♪ Harus dengan bersikap ♪
♪ Rendah hati ♪
Selamat datang, Kanjeng Sinuwun.
Raja Agung.
Raja?
Kamu mabuk? Hah?
Bukankah ini…
Santapan para raja?
Kuncup yang sedang mekar.
Puncak dari bunga keperawanan.
Edan! Ini anak kecil! Masih di bawah umur! Orang gila!
Tujuh puluh tahun.
Masih di bawah umur? Hah?
Kamu yang gila.
Dia ayah yang baik buatku. Aku sayang banget sama Ayah.
Kita…
Saling jaga.
Hah. Ya udah.
Ayo!
Lu tahu kagak emasnya di mane?
Hmm. Ditanyain diem aja.
Anjing!
Apaan, tuh?
Om! Om!
- Hah? - Om Reza!
Farsi! Di sini nama gua Farsi.
Ah…
Aduh! Apaan si lu?
Eh, jadi enteng badan gua. Lu apain, sih?
Ayah sama Mas Saud mana?
Ah!
Ayo!
Hei!
Ah… Nemu pedofil, Mas.
Anak kecil, Mas. Masih di bawah umur.
Mau disikat sama dia, nih.
Kita ke sini cari emas,
bukan cari om-om kelainan orientasi seksual kayak gini.
Ya, kita tanya aja sama dia. Gampang, kan?
Tadi saya minta sedikit ini.
Memang kurang ajar.
- Hmm? - Mas, emasnya di mana?
Aduh, aduh, aduh.
Kalian memang lucu-lucu.
Akh!
Maling yang salah masuk rumah.
Salah ruang, salah waktu.
Kalian akan menerima nasib buruk lebih ngeri dari kematian!
- ♪ Perhatikan pesanku ♪ - Bagaimana, Mas?
♪ Anak cucu jangan terlena ♪
Sokab?
Ini pedofil… Asu…
Keempat raja di sini!
Bocor alus nih orang.
Nyainya di mana, Mas?
Nyai? Hmm. Nyai siapa?
Gundik!
Simpenannya para penjahat! Pejabat!
Di mana?
Dia sedang tidur.
Tiga hari, tiga malam.
Enggak boleh diganggu, ya. Dia akan…
Marah besar.
Tidurnya di mana?
- Tidur? Tidur apa? - He eh.
Di atas?
- Kagak ada ape-ape. - Ada anak kecil, tapi kepalanya…
Ada pola pada lukisan ini.
Pola yang enggak lazim.
Mungkin enggak Nyai tidur di sini?
- Jangan ganggu! - Eh!
Hei!
Aduh!
Bajingan!
Saud, Saud!
Jangan
Perban!
Kita masuk.
To! Ini sih tempat jin buang anak, sih, To!
- Wah! Mana baunya anyir banget lagi. - Sut!
- Lu kagak nyium, Im? - Hmm.
To! To!
Kagak mau cari tempat lain aja, To?
Apa iye tempat ginian ada emasnye?
Hah! Bau anyirnya anjing ni, To! Makin nyengat!
Lu emang kagak nyium ya, Im?
- Tahan napas aja, Om. - Ye, gua juga tahu kalau itu.
To! Itu yang kita cari, To!
Sut!
Anjing, itu apaan tuh, To?
Sut!
Dunia memang benar-benar sudah terbalik.
Ngapain kamu ikut ke dalem? Harusnya kamu di mobil.
Yah. Tempat ini enggak beres. Jadi, saya dateng…
Itu tugas kamu. Seperti juga tugas bapak kamu jaga kami.
Ya udah kalau gitu, saya ke depan, ya.
Oke.
Kita kaya, Sur.
♪ Perhatikan pesanku ♪
♪ Anak cucu jangan ♪
♪ Terlena ♪
To, bener kata lu, To. To, banyak emasnya di sini, To!
- To… Yah, jatuh lagi. - Sut.
- Bisa diem, enggak? - He'em.
Jika hidup menemui karma.
Jika hidup menemui karma.
Jika hidup menemui…
Karma.
Eh, eh!
Kaya kita! Iya. Yah…
Yah, anjing, pada jatoh lagi.
- Tinggal. - Iya, iya, iya. Iya, iya, iya.
Mas, Mas. Nanti dulu, Mas.
Emm, aku bawa anak itu ya, Mas? Kasihan dia.
Kita ke sini untuk ambil emas, bukan untuk ambil anak kecil, oke?
- Oke? - Hm?
Nanti aku nyusul. Bawa.
Saud! Saud! Saud!
- Kamu langsung ke mobil. - Oke, Ayah.
Kamu cari penghulu.
Kamu nikah ulang sama anak saya, ya? Yang kemarin enggak sah.
Loh?
Kok ilang?
Babi! Ruangan apaan ini?
- Mana? Anak kecilnya mana? - Hah? Tadi dia di sini, Mas.
Kasihan. Mukanya penuh jahitan, Mas. Terus tangannya itu diiket.
- Nih. - Ud, Ud, Ud.
- Hah? - Anak kecilnya sekarang enggak ada.
Kita ke sini demi emas dan kita sekarang harus segera pergi dari rumah ini.
Ud… Ayo.
Emas!
- Om. - Hah?
Saya jemput mereka, ya? Saya masuk lagi.
Om tunggu sini, ya?
Iya deh, iya deh. Oke, oke, oke.
Sori ya, Im.
Urusan beginian nih, apa lagi emas nih berkilo-kilo,
kagak kenal saudara!
Si anjing Baim! Segala setirnya diumpetin!
Ah…
Sur?
Suryah?
- Si anjing! Apaan sih, Sur? - Sut!
Eh! Bisa copot jantung gua tahu! Gua pecahin kepala lu entar!
- Sut. - Apaan?
Hah?
Hampir aja mati mantumu ini, Mas.
Kalian denger itu, kan?
Kita pergi dari sini.
- Si anjing! Pake mati ini PLN! - Bukan.
Bukan ini, bukan PLN.
- Senter, senter. Di tas lo. - Hah?
Ya elah, pake disamperin lagi. To, pulang aja yuk, To.
Sut.
Sur, bilangin ayah lu, pulang!
- Ud, tolong, Ud. Ajak pulang. - Aish!
- To, pulang, yuk. - Sut.
Ah elah, Sur.
Pulang aja dah kita. Ayo!
Sut…
Nah, mumpung ilang, nih.
- Pulang yuk, Ud, Sur. Yuk. - Sut!
Hah?
- Uler, Ud! - Uler, uler!
Uler! Uler!
Ibrahim.
- Lari! - Kenapa pada lari, nih?
Eh, tungguin gua! Eh, eh, bentaran! Aduh!
Lah. Perasaan muter-muter di sini aja, dah.
Yuk!
Kok kita di sini lagi?
Ada tamu yang endak diundang.
Mau dibawa ke mana emas-emasku?
Koe mau bunuh aku?
Selesai!
Pulang semuanya!
Suatu kehormatan dikunjungi raja-raja malam hari ini.
Ya. Kecuali kamu.
Kamu bukan raja
dan kamu endak pantes bersama mereka.
Koe yang sabar, Sayang.
Sebentar lagi kamu.
Sa, Saud…
Saud! Saud!
Ah, lari!
Wah… Jendelanya mana?
Bang.
Tadi kita lewat sini kan, Bang? Jendelanya mana, Bang?
Bang.
Gimana ini, Bang?
Bang, jawab dong, Bang. Panik nih gue.
Hah? Apaan, Bang?
Yah! Bang, tunggu, Bang!
Bang, gue ikut, Bang.
Mobil di mana?
Ya, di sana, Bang. Tapi itu dia masalahnya.
Setirnya diumpetin sama si anjing.
Almarhum.
Lu ngapain, sih?
Mantu lu.
- Balik badan kayak tadi enggak? - Kenapa, Bang?
- Balik badan kayak tadi. - Enggak mau, ah.
Gua tuh tenang kalau lihat muka lu, Bang.
Kepala lu gua penggal kalau enggak balik badan.
Iya, Bang.
Eh…
- Tahan napas. - Kenapa tahan napas, Bang?
Nanti kecium. Tahan napas!
Bang… Bang…
Bangsat! Enggak mertua, enggak menantu, sama anjingnya.
To! Lu ngapain bawa kita ke sini, sih?
Ini tempat apaan?
Mana gua tahu ini tempat apaan! Gua tahunya ini tempatnya gundik!
Ah elah.
Kita tuh kena dikadalin, To. Kita mau diumpanin ke dia.
Itu yang tadi bukan orang. Memedi!
Ibrahim.
Hmm?
Ibrahim?
Ibrahim?
Mas? Mas?
Halo, selamat malam.
Selamat malam. Kantor pusat taksi Presidenku.
Ada yang bisa saya bantu?
Iya, Mbak. Saya istri dari Ibrahim Husein, nomor anggota ISM 998,
ingin menanyakan keberadaan suami saya, Mbak.
- Baik. Ditunggu. - Iya.
- Halo. - Halo, Mbak.
Maaf, Bu. Anggota kami yang bernamakan Ibrahim Husein tidak masuk malam ini.
Sudah izin kepada supervisornya sore tadi.
Iya, Mbak. Makasih, Mbak.
- Om Reza. - Kok dia tahu nama asli gue?
- Kan kita pake nama samaran di sini, To. - Ngumpet, ngumpet.
Hah?
Om Reza.
Om…
Eh, gue ikut dong, To! Eh, eh, eh…
- Lu ngapain? Keluar. - To, tolong, To.
Gue itu kan kakak ipar lu satu-satunya, ya.
Plis, kali ini aja. Izinin gue ngumpet sama lu ya, To?
Lu mau mati sama gua atau mati sama perempuan itu? Keluar!
Iya. Terusannya, gue ngumpet di mana?
Itu kan ada peti satu lagi!
Iya, deh.
- Eh, To… - Apa?
Bentaran liatin. Gua masih keliatan kagak, nih?
- Masih. - Hah?
- Tasnya, tasnya. - Duh.
Ah, gua… Eh… Ya elah!
Om!
Aku bisa mencium baumu.
Hmm, kalian pikir…
Bisa masuk ke rumahku
dan mengambil emasku,
dan pergi begitu saja?
Bakekok!
Bakekok? Kan ada cilukba. Aduh! Maaf, Tante.
Ampun, ampun.
- Ampun. - Kamu bilang apa?
Ampun, Tante, ampun.
Kamu bilang "tante"?
Eh. Maaf, Kakak. Eh…
Anjing, anjing, anjing!
Selamat tidur.
Selamat pagi, yang terkasih.
- Mau apa kamu? - Hmm?
Aromamu beda dengan yang lain.
Dek.
Kamu enggak apa-apa?
Keluargaku dibunuh, Mas.
Aku diculik di sini.
Semuanya benci aku.
Semuanya nyiksa aku di mana pun aku berada.
Oke. Kamu tenang, ya.
Nanti kamu ikut saya saja, ya?
Saya akan jaga kamu sebisa saya.
Semua orang bilang gitu.
Tapi enggak ada yang nepatin janjinya.
Kamu laki-laki atau…
Satu-satunya aku bisa bebas,
merdeka di dunia ini,
ya dengan cara ini, Mas.
Cara apa?
Mengatur perampokan ini.
Mengatur empat orang yang punya weton Jumat Kliwon
untuk datang ke sini.
Supaya aku bisa membunuh Nyai.
Bung Samir,
sepertinya sudah waktunya
jenderal kita naik ke posisi yang lebih tinggi.
Benar sekali. Sekarang…
Sudah waktunya Jenderal Bennto
menjadi presiden bangsa ini.
Jadi apa
yang harus kami siapkan kali ini?
Cukup membawa empat orang ke sini
dengan weton Jumat Kliwon.
Alamatnya?
Saat puncak bulan purnama merah,
satu-satunya jendela di samping rumah
akan saya biarkan tidak terkunci.
Kamu yang ngatur perampokan ini?
Aku diperdaya sama Nyai.
Dan Jumat Kliwon adalah titisan dari raja-raja itu.
Bukan untuk membunuh Nyai,
tapi ternyata untuk bisa membuat Nyai awet muda
selama-lamanya.
To…
Ampun, Tante, jangan bunuh saya. Ampun.
To! Tolong gua, To!
To… Tolong…
- Itu Saud? - Iya, Saud.
- Hah? - Saud, To.
Anjing, anjing, anjing banget.
Semua… Semua bisa dibicarakan baik-baik.
Ada yang bisa saya bantu? Saya bisa bantu apa?
Apa yang bisa kamu bantu buat aku?
Sedangkan darahmu itu mujarab.
Tapi weton saya itu bukan Jumat Kliwon.
Di situlah takdir bicara. Kamu seharusnya enggak ada di sini.
Akhirnya saya harus memilih. Menang dengan cara saya sendiri
atau dengan tunduk pada kekuatan tertinggi?
Maksud kamu?
Tunduk pada Bapak. Bapak bertanduk dua.
Untuk bisa terlahir sebagai fitnah,
pengkhianatan, dan sebuah kehancuran.
Mas, kalau kamu mau bunuh Nyai, kamu harus bawa aku.
Taruh aku di dalam lingkaran.
Oke. Oke.
Bukannya mau bertemu istrimu di surga, To?
Anjing, anjing, anjing.
Kenapa harus kami?
Kenapa harus kami?
Weton kalian bertiga Jumat Kliwon.
Darah titisan para raja.
Sayang disayang, satu raja menghilang.
Nak…
Nak Ibrahim.
Nak, kemari.
Ini malam yang istimewa, tidak ada duanya.
Nenek siapa? Terus…
Ini kenapa ditusuk-tusuk begini?
Saya adalah Nyai yang sebenarnya.
Dia mengkhianatiku.
Seperti anak itu mau mengkhianatinya.
Sejarah akan berulang.
Sampai kapan pun,
Nyai tetap akan membutuhkan saya.
- Ampun! - Samir.
- Saya patuh, Nyai. - Kita mulai.
- Jangan! Jangan! - Kita mulai dari…
Kaki…
- …tangan, dan… - Tolong! Tolong gue, To!
Jangan!
Eh, eh! Ah, To!
♪ Mari kutimang-timang, Anakku sayang ♪
Hah? Yah!
Jangan! Ah, To! To!
Jangan!
♪ Mari kutimang-timang Anakku sayang ♪
♪ Cup, diamlah Jangan menangis terus ♪
♪ Mari kutimang-timang, Anakku sayang ♪
Kematian yang sempurna!
Nyai ilmunya belum cukup tinggi seperti ilmuku.
Nyai membutuhkan darah saya untuk bisa hidup abadi.
Darah-darah tumbal-tumbal itu
mengalir lewat darahku
untuk dipergunakan olehnya.
Sekarang giliranmu.
Gila. Gila!
Gila! Gila!
Samir!
Samir!
Osman!
Buka tuas itu.
Ayo buka.
Osman.
Osman!
Kamu bakal mati dengan sangat sakit, Osman.
Osman! Keluar koe.
Osman, Osman.
Kamu bilang kan istrimu ada di surga?
Buktikan. Istrimu ada di surga
atau neraka?
Mas Osman.
Maafkan aku.
Maafin aku juga ya, Sayang.
- Sini ya, Mbak? - Iya, Mas.
Mas? Mas tunggu di sini sebentar, ya, Mas?
Suami saya sopir taksi juga, kok.
- Lama enggak? - Enggak, enggak. Bentar.
Saya cuma mau ngecek doang, Mas. Bentar, ya?
Iya. Cepat, ya.
Anjing lu!
Mbak, Mbak! Maaf, Mbak! Udah ada orderan masuk.
Mas, Mas! Yah, aduh! Mas, bentar, Mas!
Mas!
Mas!
Sekarang kamu berikan darahmu.
Darah weton Sabtu Kliwon.
Darah Sabdo Dadi, titisan para brahmana.
Bangkit, Zio.
Bangkit, makhluk yang sudah kami tunggu.
Datanglah, yang bermata satu.
Bayi dari mana ini?
Bayi?
Mas?
Mas?
Zio?
Anakku.
Cantik sekali kamu.
Cantik sekali kamu, Zio.
Ini di luar batas ajianmu.
Aku ini ibumu.
Menyatunya jiwa dan ragamu, Nyai.
Kamu… Zio… Lepaskan.
Takdir yang mengambil alih.
Zio…
Mas? Ayah?
- Mas? - Mer?
Mas?
Mer!
- Mas? Mas, itu apa? Itu tuh! - Ngapain kamu ke sini?
Kalau Zio berhasil memakan jabang bayi pertamanya malam ini,
dia langsung sempurna
dan bisa hidup abadi.
Sakti mandraguna.
- Ayah? Ayah. Ayah. - Mer…
- Bukan, bukan ayah kamu. Dia udah mati. - Itu Ayah!
- Ini kalian ngapain di sini? - Kamu ngapain ke sini? Hah?
- Itu Ayah. Ayah! Ayah! - Enggak, bukan.
Ayah! Ayah. Ayah. Ayah.
Mer!
- Ayah. - Mer.
Mer! Mer, Mer, Mer!
Ayah.
Merry!
Ayah…
Ayah…
Ayah, ini Merry.
Ini Merry.
Merry. Merry.
- Ayah. Ayah. - Dia udah mati, Merry.
- Ayah! Enggak. - Mer! Dia udah mati.
- Ayah! Ayah! Ayah! Ayah! - Ayo kita pergi.
- Mer… - Ayah! Ayah! Ayah!
Mas, Mas! Ayah, Mas. Mas, Ayah, Mas!
Mer, Mer…
Ayah sudah enggak ada, tapi kita harus keluar dari sini, ya? Kamu harus tenang.
Oke. Kita ke atas. Ayo.
Lari!
Mas, cepet!
- Mas, Mas… - Apa?
Iya. Iya, iya, oke. Babi! Oke, oke, oke.
Oke. Pintunya…
Oke, oke. Mer… Lepas, lepas, lepas. Oke.
Mer, Mer…
- Kamu sekarang harus masuk ke bathtub. - Enggak, enggak.
- Kenapa? - Ini kamu yakin?
Iya, yakin! Kita akan keluarin bayinya sekarang.
- Udah enggak ada waktu, Mer. - Enggak bisa.
Ayo, Sayang.
- Oke, oke, oke. - Oke, oke.
Ini kamu yakin? Ini kamu yakin?
Yakin. Sayang, percaya sama aku.
Oke?
Oke.
Oh, oh, oh, oh. Tunggu dulu.
Bayi ini bukan sembarangan!
Bayi dari Maryam.
Bapaknya Ibrahim.
Yang punya khodam Sabdo Dadi.
Wetonnya Sabtu Kliwon.
Ada apa ini?
Oke. Udah keluar, udah keluar. Oke.
Tenang ya, anakku. Kamu akan selamat.
Kamu akan baik-baik saja.
Apa kamu pikir
dengan mantra-mantra yang tidak kau mengerti
dan tidak kau imani itu bisa menolongmu?
Mas!
Mas!
Mas!
Jang… Mas!
Mas!
- Jangan! Jangan! - Zio!
Zio, jangan!
Zio!
Zio!
Zio, jangan. Aku mohon, aku mohon.
- Zio, jangan! - Jangan! Jangan!
- Mas! Mas! - Jangan, Zio! Jangan.
- Zio. - Jangan! Jangan ambil anak saya!
Mas! Mas!
Jangan!
Zio!
Jangan. Jangan anakku.
Enggak. Enggak!
Enggak!
Zio!
Terlalu kuat buat makhluk bermata satu.
Apalagi anaknya dari Maryam.
Namanya…
Ya, Mahdi.
Mas?
Itu tas apa?
Tas Ayah.
Isinya apa?
Isinya…
Kita pulang, ya?
Oh!
Wetonmu apa, Nak?
♪ Ku akan berikan semua ♪
♪ Yang kau ingin di dunia ini ♪
♪ Ramuannya sekilas nyawa ♪
♪ Kenang-kenangan terdalam Anda ♪
♪ Ku akan kabulkan semua ♪
♪ Hasrat yang terkubur ♪
♪ Kuberikan semua ♪
♪ Emas, jiwa, darah ♪
♪ Semua yang ada ♪
♪ Selamanya hampa ♪
♪ Kuberikan semua ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.