Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Apa yang kau lakukan, Diti?
Tuan.
Aku tak tahu mengapa,
tapi aku baru saja terluka parah
oleh panah asmara Kamadewa.
Apa kau begitu dikuasai nafsu
sampai-sampai kau tak bisa menahan diri untuk melakukan
kesalahan besar dengan mengganggu seorang resi saat sembahyang senja?
Tuan.
Ayahku, Daksa,
menikahkan 13 putrinya, termasuk aku, denganmu.
Kau telah memberkati semua saudariku dengan anak
dan dengan begitu, melengkapi hidup mereka.
Hanya akulah satu-satunya yang malang
yang masih belum punya anak.
Tuan, mengapa kau pilih kasih padaku?
Aku mendambakan seorang putra.
Apakah ada yang salah dengan keinginanku?
Tidak, tapi yang salah
adalah waktunya, yaitu senja hari,
karena pada jam ini,
hantu, roh jahat, dan para iblis, bersama tuan mereka, Dewa Siwa,
berkeliaran di langit.
Menurut kitab suci, jika seorang wanita bersetubuh
dengan suaminya pada waktu senja seperti ini,
ada kemungkinan besar jiwa iblis
akan masuk ke dalam rahimnya.
Itulah sebabnya...
Diti.
Aku pasti akan memenuhi keinginanmu.
Tolong tunggu sebentar.
Jika aku bisa menunggu,
aku tak akan pernah mengganggumu
saat kau sedang sembahyang senja.
Wanita keras kepala!
Tuan, apa ada yang salah?
Kau terlihat gelisah.
Kau wanita bodoh!
Aku sudah memperingatkanmu
bahwa ini waktu yang tidak baik untuk mengandung anak.
Tapi kau tak mengindahkan nasihatku.
Sekarang, rasakan akibatnya!
Akibatnya?
Apa maksudmu?
Kau menolak nasihatku
dan dengan demikian melanggar arahan dari kitab suci.
Akibatnya,
dua entitas yang sangat jahat telah memasuki rahimmu.
Kau ingin seorang putra, kan?
Sayang sekali!
Sekarang kau akan menjadi ibu dari dua iblis yang ganas!
Iblis sekaliber mereka belum pernah lahir sebelumnya
dan tak akan pernah terlahir kembali.
Mereka hanya akan punya dua tujuan.
Oh, Dewa Mahadewa!
-Membenci para dewa... -Bagaimana ini bisa terjadi?
...dan meneror para penyembahnya.
-Mereka akan menebar kekerasan yang tak tertandingi... -Tidak!
...di seluruh tiga dunia.
Dan ketika kekejaman mereka mencapai puncaknya...
Tidak, Tuan!
...mereka akan dibunuh oleh tiada lain
selain Dewa Wisnu sendiri!
Sungguh sebuah kemalangan besar!
Oh, Dewa Mahadewa!
Aku dibutakan oleh nafsu,
sehingga aku tak bisa membedakan mana yang benar dan salah.
Mohon jangan berikan aku hukuman yang begitu berat untuk itu.
Maafkan aku, Dewa Mahadewa!
Tolong maafkan aku.
Tak ada yang bisa lari dari akibat perbuatannya.
Guru kaum iblis, Sukracarya,
telah menantikan hari ini.
Silakan cepat masuk!
Dia sedang menunggu para ksatria
yang bisa mengalahkan musuh bebuyutannya,
dan memaksa para dewa untuk menyerah di hadapannya.
Dia mengajari kedua saudara kembar itu tentang ilmu hitam
dan penggunaan senjata kekuatan gelap yang membuat mereka sangat kuat.
Segera, kedua bersaudara itu
menguasai ilmu hitam
dan mendapatkan kekuatan gaib.
Kakak!
Dengan melepaskan kekuatan tak terbatas mereka,
mereka membuat kekacauan di dunia bawah
dan meneror semua orang.
Melawan mereka sama saja dengan mengundang kematian.
Guru iblis itu bisa menghidupkan kembali orang mati,
sebuah kekuatan yang menopang ras iblis.
Ini adalah awal dari sebuah revolusi,
dan sangat penting untuk belajar lebih banyak tentang musuh bebuyutan itu.
Hanya ada satu musuh kaum iblis!
Wisnu!
Dunia berada di ambang gejolak yang tak terhindarkan,
namun di tempat lain kehidupan sedang tumbuh subur.
Di sini, semua orang dipenuhi suka cita.
Mereka hidup selaras dengan alam
dan juga memujanya.
Mereka memahami esensi dari sapi, angin, alam, dan para dewa.
Dan melalui yoga,
-mereka memanfaatkannya dalam hidup secara efektif. -Ibu!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Untuk menyenangkan para dewa,
para raja melakukan yajna dan ritual.
Senang dengan penyucian oleh para pendeta dan yajna,
para dewa sendiri akan muncul
dan mengantarkan persembahan kepada Yang Mulia Dewa Wisnu,
yang kemudian akan memberkati semua orang dengan rahmat-Nya.
Tapi mereka tidak menyadari kekuatan dari kedua iblis bersaudara ini.
Tolong aku!
Lepaskan aku!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Orang-orang tak tahu malu macam apa mereka ini?
Mereka menyembah pohon, tanaman, sapi, dan kotoran sapi!
Dan dia itu rajanya?
Dasar lemah!
Makhluk-makhluk ini harus mati...
Hiranyaksa!
Jika kau ingin menguasai tiga dunia,
maka tinggalkan makhluk-makhluk ini.
Kita sekarang harus mengobarkan perang terhadap jiwa mereka!
Perjalanan masih panjang, adikku!
Kita akan mengambil semua yang mereka punya!
Semuanya!
Semuanya telah hancur!
Masyarakat kita.
Orang-orang kita.
Semua impian kita.
Karena kau menginginkan segalanya!
Oh, Dewa!
Di mana Engkau?
Kakak.
-Kita sudah merampas semua yang mereka punya! -Tidak mungkin!
Apa pun yang kau lakukan,
habiskan segalanya, rampas kami sepuasmu, atau hancurkan peradaban kami!
Kau tak akan pernah bisa merenggut satu hal dari kami.
Keyakinan kami pada Dewa Wisnu!
Hiranyakasipu, ingatlah.
Kau mungkin ingin menguasai semua orang,
tapi mulai saat ini,
kau akan menuju kehancuranmu.
Dan akan tiba saatnya
ketika kesombonganmu akan membawamu pada kejatuhanmu,
dan saat itu kau akan mengundang kematianmu sendiri.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Oh, Dewa!
Wisnu.
Apa hebatnya Wisnu?
Hebatnya Wisnu adalah
dia itu licik dan penipu
yang selalu ingin mempermalukan kaum iblis
dengan memihak para dewa.
Sejujurnya, saat ini, dia sedang bersembunyi, dan dia ketakutan.
Pengecut itu, munafik!
Melalui tipu muslihat, dia telah menyihir seluruh dunia sedemikian rupa
sampai-sampai orang-orang bodoh ini
melihat Wisnu dalam setiap makhluk hidup.
Mereka pikir Wisnu ada dalam segalanya!
Wisnu juga percaya
bahwa segalanya berputar di sekelilingnya,
dan kita semua tidak berarti!
Maka Hiranyaksa yang tak berarti ini
sekarang akan merampas segalanya, Kakak!
Kehancuran setiap makhluk hidup
akan dilakukan oleh tangan yang tak berarti ini.
Hiranyaksa.
Tak peduli berapa banyak kehancuran yang kau sebabkan,
pengecut itu akan terus bersembunyi dalam ketakutan.
Sepertinya Wisnu suka bersembunyi, kan?
Aku akan menyembunyikan seluruh bumi.
Maka dia akan terpaksa keluar.
Wisnu harus keluar!
Bukan untuk bumi,
tapi untuk menemukan Dewi Pertiwi!
Aku mengerti, Kakak!
Aku butuh restumu untuk tugas ini.
Seluruh kaum iblis akan menantikan kepulanganmu.
Adikku sayang, jangan sampai kau tersesat saat mengejar Wisnu.
Sekarang bersiaplah untuk membunuh Wisnu dengan tangan kosongmu.
Hiranyakasipu, iblis agung, adalah kakakku.
Jadi untuk membunuh Wisnu,
yang kubutuhkan hanyalah tangan hina ini dan satu tamparan.
Setelah membunuh Wisnu,
aku akan meminum darahnya demi kehormatanmu.
Berilah aku perintah.
Semoga kau berjaya!
Bhume Bhumi pa saravsve
Bhumi pala prayane
Bhumi pa ahankara rupe
Bhumi devi cha Bhumi de
Bhumi pa ahankara rupe
Bhumi dehi cha Bhumi de
Om Vasundharaya vidmahe
Bhutadhatraya dhimahi
Tanno Bhumih prachodayat
Tanno Bhumih prachodayat
Oh, Dewa!
Lepaskan aku!
Tinggalkan aku!
Iblis jahat, tuanku akan menghancurkanmu!
Tinggalkan aku!
Oh, Dewa, lindungi aku!
Wahai Kakek Mulia!
Tolong jelaskan pada kami
tentang misteri ini.
Belum pernah ada iblis yang menyalahgunakan kekuatannya secara biadab seperti ini.
Kekerasan yang begitu parah terhadap Dewi Pertiwi!
Rasanya seperti mimpi buruk!
Wahai Pencipta alam semesta!
Mohon carikan jalan untuk menyelamatkan Dewi Pertiwi
dari kedalaman Samudra Kausal secepatnya.
Jika ada yang bisa menyelamatkan Dewi Pertiwi dari krisis besar ini,
itu hanyalah Dewa Wisnu.
Oh, Dewa,
mohon lindungi Dewi Pertiwi.
Lihat ke sana.
Apa ini?
Luar biasa!
Makhluk aneh apa ini?
Sulit dipercaya!
Dia baru saja muncul dari lubang hidungku.
Om Varahaya namah
Om Varahaya namah
Om!
Dhanur-dharaya vidmahe
Vakra-damstraya dhimahi
Tanno Varahah prachodayat
Oh, Dewa.
Tuan, apakah itu kau?
Akhirnya, kau datang menolongku!
Beraninya kau membawa Dewi Pertiwi pergi di hadapanku?
Berhenti di situ, babi hutan!
Kau babi hutan liar!
Aku merasa jijik hanya dengan melihatmu!
Ini adalah awatara Waraha dari Dewa Wisnu.
Salam bagi Dewa!
Salam bagi Dewa Waraha.
Om Varahaya namah
Bersiaplah untuk mati, Wisnu.
Kau...
Oh, Dewa Narayana!
Dewa Brahma!
Tidak mungkin!
Oh, Dewa Narayana,
bagimu, membunuh iblis ini
semudah meremukkan seekor semut.
Lalu mengapa kau mempermainkan iblis ini?
Mohon bunuh dia secepatnya
dan enyahkan rasa takut kami.
Selamat!
Kau telah sangat berjasa pada kami dengan membunuh iblis jahat ini.
Kami mengucapkan terima kasih padamu.
Oh, Dewa,
biasanya, babi hutan dianggap sebagai makhluk yang menjijikkan.
Namun, bahkan dalam wujud ini,
tubuhmu begitu megah,
suci,
dan agung.
Siapa pun yang merenungkan wujudmu yang menakjubkan ini,
atau mendengarkan kisahmu yang indah ini dengan keyakinan penuh
pasti akan mengundang keberuntungan ke dalam hidup mereka.
Jayalah Dewa Waraha!
Jayalah Dewa Waraha!
Putraku!
Jangan meratapi kesyahidan putramu.
Sebaliknya, biarkan dadamu membusung karena bangga.
Karena ksatria seperti dia tidak sering terlahir.
Dan kesyahidan adalah sebuah kehormatan.
Setelah membunuh Wisnu,
aku akan meminum darahnya demi kehormatanmu, Kakak!
Jangan sampai kau tersesat
saat kau mengejar Wisnu.
Dihasut oleh para dewa,
Wisnu telah berlaku sangat tidak adil pada kita.
Dia telah menipu kita.
Dia telah menipu kita!
Di atas tumpukan kayu bakar ini bukan hanya kakakku yang terbakar,
melainkan masa depan kaum iblis kita!
Masa depan kita dalam bahaya.
Jika kita tidak membalas,
kita akan menjadi korban penipuan demi penipuan.
Apa kau mau mewariskan warisan yang begitu suram
kepada generasi penerus kita?
Tidak!
Sekarang waktunya balas dendam!
Bantai semua orang yang memuja Wisnu.
Ayo kita buat kekacauan!
Ayo kita buat kekacauan!
Ayo kita buat kekacauan!
Kau memuja Wisnu!
Dalam waktu singkat,
kekejaman Hiranyakasipu
menebar teror kepada setiap pemuja Wisnu.
Ketakutan, para dewa menyembunyikan diri
dan mulai merencanakan perang.
Tapi Dewa Indra, raja para dewa,
mengkhawatirkan hal lain.
Dia khawatir tentang
calon pewaris
kaum iblis.
Baginda.
Aku telah menyebabkan pertumpahan darah di mana-mana
untuk membalaskan kematian Hiranyaksa.
Meskipun begitu, hatiku tidak tenang.
Dan itu karena pembunuh adikku masih hidup!
Kau tidak diragukan lagi sangat kuat.
Tapi kau bukan tandingan Wisnu.
Jika kau benar-benar ingin melawannya,
kau harus menjadi sekuat dirinya.
Bagaimana cara mencapainya?
Mulailah memuja Dewa Brahma.
Kau akan diberikan sebuah anugerah.
Baik, Tuan.
Seorang calon ibu membutuhkan suaminya di sisinya.
Mohon jangan tinggalkan aku pada saat seperti ini.
Balas dendam, tapa brata.
Mohon tinggalkan pikiran seperti itu.
Meskipun singa adalah raja hutan,
untuk memburu seekor rusa, ia harus bangun dari tidurnya.
Bagaimana bisa aku melepaskan pikiran ini, Kayadu?
Bagaimana?
Tidak akan!
Jika menjadi Dewa adalah syarat untuk membunuh Dewa Wisnu,
maka aku, Hiranyakasipu,
akan mengguncang langit dan bumi,
tapi aku pasti akan menjadi Dewa!
Jalan kebenaran ditentukan oleh kejujuran dan keadilan,
dan jalan ini sulit.
Banyak yang goyah saat menapaki jalan ini.
Baik itu kaum iblis
ataupun para dewa.
Iri dengki dan amarah
bisa membelokkan kita dari jalan kebenaran.
Tapi takdir bisa begitu aneh
sehingga seorang guru selalu muncul di saat yang tepat
sebagai cahaya penuntun.
Seperti Resi Narada, yang menyingkapkan jalan kebenaran kepada Dewa Indra
dan membimbingnya di jalan itu.
Oleh karena itu, semuanya bergantung pada
siapa yang kau pilih sebagai pemandu
dan apa niatnya yang sebenarnya.
Kayadu, sangat penting bagi seorang wanita yang sedang mengandung
untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Dewa Wisnu
dan mendengarkan kisah-kisah-Nya.
Ini berdampak positif pada anak yang tumbuh di dalam rahimnya.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Dewa Wisnu, sebagai jiwa yang agung,
bersemayam di hati setiap orang.
Sang Dewa adalah saksi atas segalanya,
dan cara termudah untuk mencapai bhakti kepada-Nya adalah...
Om, hormat pada Dewa Brahma.
...dengan melantunkan nama-Nya dengan pengabdian tertinggi.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Jadi marilah kita semua berkata dengan sepenuh hati,
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Kekuatan tapa brata iblis ini
akan membakar seluruh alam semesta.
Bangkitlah,
wahai putra Resi Kasyapa,
Hiranyakasipu.
Wahai Pencipta alam semesta.
Wahai leluhur pencipta,
kau tak berawal dan tak berakhir.
Kau adalah penopang jagat raya.
Seluruh ciptaan, beserta semua spesiesnya
berada di dalam dirimu.
Aku, Hiranyakasipu, bersujud kepada sang pencipta agung.
Aku senang dengan tapa bratamu.
Katakan, anugerah apa yang kau inginkan?
Semuanya!
Wahai Dewa Brahma,
mohon berikan aku anugerah,
semoga kematian tak pernah menyentuhku oleh makhluk apa pun ciptaanmu,
baik itu Dewa, manusia, atau binatang apa pun.
Semoga kematianku datang tidak di waktu siang maupun malam.
Semoga aku tidak mati di dalam rumah, maupun di luarnya.
Semoga aku tidak terbunuh oleh senjata apa pun, baik oleh yang hidup maupun yang tak hidup.
Selain itu,
berikan aku semua kekuatan yang bisa dicapai melalui
latihan yoga mistik.
Semoga semua kemasyhuran dan kemewahan di tiga dunia menjadi milikku.
Semoga mulai sekarang aku menjadi penguasa mutlak atas semua makhluk hidup.
Berikan aku kekuatan tanpa batas
sehingga aku menjadi manusia terkuat di seluruh alam semesta ini.
Wahai Dewa Brahma!
Jadikan aku manusia terkuat!
Anugerah seperti ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sampai sekarang.
Namun, benar juga adanya
bahwa jenis tapa brata seberat yang telah kau lakukan
belum pernah dicoba di masa lalu,
juga tidak akan dicoba di masa depan.
Terjadilah!
Aku telah menjadi abadi!
Akhirnya, aku telah menjadi Dewa!
Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan bahwa Hiranyakasipu adalah Dewa!
Bahwa Hiranyakasipu adalah Dewa!
Bersiaplah, Indra!
Hiranyakasipu.
Kuulurkan tanganku untuk persahabatan.
Tangan yang telah berani menculik istriku
seharusnya dipotong tanpa ampun.
Jangan lupa
bahwa kau adalah pelayanku yang hina, dan pelayan tidak bisa menjadi teman.
Sekarang ingatlah,
Baik, ini adalah bagian terakhir dari terjemahan subtitle tersebut. mulai sekarang, akulah Raja Surga!
Roda waktu terus berputar!
Sesaat yang lalu, Indra adalah Raja Surga,
tapi sesaat kemudian, dia menjadi pelayan rendahan!
Sekarang, kalian semua,
dengarkan aku baik-baik.
Terus laksanakan tugas kita dengan tekun,
tapi hanya untukku
dan hanya sesuai dengan kehendakku.
Mulai sekarang, akulah satu-satunya Dewamu.
Hanya patung-patungku yang akan berada di semua kuil.
Semua persembahan kurban
hanya akan menjadi milikku.
Kitab suci untuk kalian hanyalah yang memuji kemuliaanku,
dan kalian akan melantunkan satu mantra saja.
Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan
bahwa Hiranyakasipu adalah Dewa!
Katakan!
Wisnu, lihatlah!
Aku akan menghancurkan pemuja-pemujamu satu per satu,
dan sebentar lagi putraku akan menebar teror pada mereka.
Itu pasti akan memaksamu untuk keluar!
Saat kegelapan mengambil alih,
muncullah secercah cahaya ilahi.
Takdir bekerja dengan caranya yang ajaib,
dan tepat di jantung kekaisaran yang gelap
berpijarlah api kebenaran.
Namanya adalah...
Prahlada.
Bunda.
Kau bersemayam di hatiku
Hidupku, kebanggaanku
Sebelum duka mencapaimu
Aku rela menjemput maut
Secerah sang surya
Setenang sang rembulan
Kaulah cahaya hidupku
Kaulah duniaku
-Semoga kau tak pernah goyah -Salam.
Semoga kau menggapai bintang
Semoga kau penuhi setiap hati dengan cinta
Semoga semua orang mencintaimu
Banyak cobaan dan ujian menantimu
Janganlah takut
Waktu akan menyembuhkan semua lukamu
Teruslah tersenyum
Biarkan taman hati kita merekah Dengan cahaya ilahimu
Hanya dengan cahaya ilahimu
Tebarkan kebaikan dan kebenaran Buatlah segalanya cerah
Inilah harapanku untukmu Kudoakan kemenanganmu
Dunia akan mengenang
Inilah doaku
Kau bersemayam di hatiku
Hidupku, kebanggaanku
Sebelum duka mencapaimu
Oh, Dewa.
Lihat apa yang kubawa untukmu.
Apa semua ini?
Wisnu?
Pangeran, ayahmu Hiranyakasipu adalah Dewa kita.
Dengan memuja Dewa Wisnu, kau menentang ayahmu.
Jika ayahmu tahu, bencana akan terjadi.
Wisnu tak akan pernah menemuimu, Pangeran.
Kau benar.
Aku ini seorang iblis.
Mungkin aku tidak pantas bertemu dengan-Nya.
Tapi pengabdian bukanlah soal kaum atau kasta.
Ini adalah soal hati.
Prahlada.
Kemarilah, putraku.
Salam, Ayah!
Menaklukkan jagat raya dan memerintah para dewa membawa suka cita besar,
tapi tak ada yang sebanding dengan cinta seorang putra.
Prahlada, hari ini kau duduk di pangkuanku,
tapi di masa depan, kau akan naik takhta.
Jadi aku usulkan kita adakan ujian kecil untuk melihat kemampuan
dan kebijaksanaan pangeran kecil kita di masa depan, bagaimana?
Tentu saja, Ayah.
Baiklah, Prahlada.
Berdasarkan apa yang telah kau pelajari di gurukul,
beri tahu kami apa yang diperlukan untuk menjadi seorang raja?
Ayah,
seorang raja adalah seseorang yang memberikan keadilan tanpa pilih kasih,
yang memperlakukan rakyatnya seperti anaknya sendiri,
dan mendampingi rakyatnya, baik dalam suka maupun duka.
Seorang raja tidak hanya memerintah kerajaan,
tapi juga memerintah di hati rakyatnya.
Bagus! Cemerlang!
Kata-kata bijakmu membuat hatiku sangat gembira.
Masa depan kaum iblis berada di tangan yang aman.
Jangan berhenti, lanjutkan.
Tugas utama seorang raja
adalah menginspirasi rakyatnya untuk mencari perlindungan pada sang makhluk agung,
memotivasi mereka untuk berbakti kepada sang pelindung agung, dan mahakuasa,
dan dia tidak lain adalah Dewa Wisnu!
Kecewa oleh kebodohan, kesombongan palsu, dan keterikatan palsu,
setiap makhluk hidup tenggelam dalam samudra luas keberadaan duniawi.
Tapi Dewa Wisnu datang sebagai sebuah kapal yang bisa menyelamatkan jiwa kita,
maka dia dapat dengan mudah berlayar melintasi samudra kebodohan...
Sudah cukup!
Cukup pemujaan terhadap Wisnu!
Kau memang berbicara seperti orang terpelajar.
Sayangnya, seseorang telah meracuni ilmumu.
Tapi kau tidak bisa disalahkan.
Sanda dan Amarka!
Tampaknya para pemuja Wisnu
telah menyusup ke gurukul kita dengan menyamar dan menyesatkan putraku.
Kalian berdua telah dipercaya dengan tanggung jawab besar.
Mulai sekarang, waspadalah dan pastikan
bahwa tidak ada pemuja Wisnu yang bisa menyusup ke gurukul.
Kalau tidak...
Simbol keberanian, auman kekuatan,
kekerasan adalah kebanggaan kaum iblis.
Menghancurkan yang lemah adalah satu-satunya tugas bagi yang kuat.
Hiranyakasipu secara khusus memuji mereka yang turut dalam kekerasan.
Baginda.
Ya, Prahlada?
Bukankah tugas seorang individu yang kuat adalah untuk melindungi yang lemah?
Tentu saja, kalau tidak, bagaimana yang lemah bisa bertahan?
Tidak ada tempat untuk yang lemah di sini!
Dan itulah satu-satunya kebenaran hidup.
Svasty astu visvasya khalah prasidatam
Dhyayantu bhutani sivam mitho dhiya
Indah sekali!
Prahlada, tolong beritahu kami juga arti dari sloka ini.
Manah ca bhadram bhajatad adhoksaje
Avesyatam no matih apy ahaituki
Luar biasa.
-Bagaimana itu mungkin? -Prahlada.
Apa kau yang melakukannya atau...
-Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa. -Siapa itu Basudewa?
Apa rahasianya?
Basudewa adalah Hari Narayana.
Siapa itu Hari?
Aku tidak bisa mengerti apa pun.
Mari, dengarkan kisah ini Tentang anugerah Sang Ilahi
Tempat kebahagiaan dan harapan berada
Semua makhluk bergantung pada-Nya Besar dan kecil
Dia-lah yang membuat dunia berputar
Apa itu pengabdian?
Apakah ini nyata atau hanya mitos?
Di mana kita akan menemukan kekuatan?
Di mana kau menemukan kekuatanmu?
Lihatlah lebih dekat, jangan bersembunyi
Mari kita ungkap kebenarannya hari ini
Kau bilang Sang Ilahi selalu dekat
Tapi jika kita tak bisa melihat-Nya Apakah Dia benar-benar ada?
Seperti bayu yang kita rasa, tapi tak terlihat
Atau mentari yang menghangatkanmu dan aku
Bukankah begitu?
Seperti bayu yang kita rasa, tapi tak terlihat
Atau mentari yang menghangatkanmu dan aku
Bukankah begitu?
Begitulah Sang Ilahi
Sang Ilahi ada di mana-mana
Di setiap saat, kebenaran hakiki
Segala yang lain hanyalah ilusi
Ikan butuh air untuk berenang dan bermain
Kupu-kupu butuh bunga Untuk mencerahkan harinya
Daun butuh dahan untuk menopangnya
Dan hujan butuh awan untuk membawa kesegaran
Apa arti ikatan ilahi ini?
Tanpanya, segalanya terasa salah
Kita menjadi utuh Saat kita selaras dengan Sang Ilahi
Mari kita lantunkan bersama Dengan hati yang menyatu
Namah, om namah, namah Narayana
Namah, om namah, namah Narayana
Namah, om namah, namah Narayana
Namah, om namah, namah Narayana
Di setiap saat, Sang Ilahi bersamaku
Di setiap jiwa, di setiap tempat
Ada dekapan kasih Sang Ilahi
Di setiap saat, Sang Ilahi bersamaku
Di setiap jiwa, di setiap tempat
Ada dekapan kasih Sang Ilahi
Lindungi kami, Oh Madawa
Kami berdoa padamu, pelindung kami
Lindungi kami, Oh Madawa
Jangan pernah tinggalkan kami, selalu ada di sana
Lindungi kami, Oh Madawa
Kami berdoa padamu, pelindung kami
Lindungi kami, Oh Madawa
Jangan pernah tinggalkan kami, selalu ada di sana
Namah, om namah, namah Narayana
Namah, om namah, namah Narayana
Namah, om namah, namah Narayana
Namah, om namah, namah Narayana
Akhanda, apa yang kau lakukan?
Kita ini kaum iblis.
Permainan remeh seperti ini tidak membawa kemuliaan bagi gurukul kita.
Tapi aku tidak mengerti
apa yang telah kulakukan hingga membuatmu marah.
Prahlada!
Seorang pangeran harusnya kuat dan cemerlang.
Bukan orang yang penuh kasih dan empati sepertimu
yang percaya pada takhayul seperti Wisnu.
Apa salahnya menjadi orang yang penuh kasih dan empati?
Lagi pula, pengabdian kepada Wisnu bukanlah takhayul.
Mereka memuja Wisnu!
Mereka makan rumput, bunga, dan buah!
Kawanku, apa yang salah dengan makan buah?
Bahkan giginya berbeda dari kita!
Sungguh memalukan bagi kaum iblis.
Meskipun kau seorang pangeran,
kau tidak tahu cara melakukan unjuk kekuatan.
Bagaimana merenggut nyawa makhluk tak berdaya bisa menjadi unjuk kekuatan?
Aku tidak akan mati kelaparan.
Bagaimanapun juga, kita semua adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh kekuatan ilahi yang sama.
Kekuatan! Kekuatan siapa?
Oh, ya!
Rajanya para pengecut, kekasihnya kaum lemah.
Kekuatan imajiner dari pangeran kita tersayang.
Yang Mulia Dewa Wisnu?
Seluruh alam semesta takut pada kita.
Kau juga harus mengerti alasan ketakutan ini, Pangeranku!
Kekerasan adalah tugasku, dan Hiranyakasipu adalah Dewaku!
Ini adalah kehormatanku...
-Bukan, kawanku-- -...untuk memenuhi tugas ini.
Dinna!
Bagaimana dia masih bisa berdiri?
Dia benar-benar kuat.
Kau menahan rasa sakit ini untuk menyelamatkanku?
Sudah menjadi tugas yang kuat untuk melindungi yang lemah!
Tugas seorang pangeran adalah melindungi rakyatnya.
Kau penuh kasih, tapi tidak lemah.
Pangeran Prahlada!
Jayalah Pangeran Prahlada!
Cinta dan pengabdian adalah satu-satunya bahasa
yang dimengerti oleh setiap makhluk di seluruh alam semesta ini.
Namun, untuk memahami cinta dan pengabdian,
kita harus berserah diri sepenuhnya.
Satu nama adalah solusi untuk semua masalah kehidupan.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Dan perahu kita akan berlayar
di jalan cinta dan pengabdian,
yaitu jalan kebenaran.
Itu sangat indah.
Andai saja semua itu benar.
Ada apa, Baksia?
Apa ada yang salah? Tolong beritahu kami.
Kisah Wisnu mungkin terdengar indah dalam khayalanmu,
tapi pada kenyataannya...
Pada kenyataannya? Apa maksudmu?
Di sini gelap sekali!
Kita berada di tempat yang sangat tinggi.
Kalian pantas mendapatkan ini, para pemuja Wisnu!
Buka mata kalian dan lihatlah.
Cepat atau lambat, kita akan menempuh jalan yang sama.
Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan...
Dewa Wisnu adalah Dewa kita.
Kau melantunkan nama Wisnu.
Kau melantunkan nama musuh kita.
Kau pengkhianat!
Individu yang kuat memaksakan kekerasan pada yang lemah.
Dia menghancurkan mereka!
Jika kau ingin menyelamatkan dirimu dari penderitaan api,
maka pelajarilah prinsip ini.
Beginilah cara dunia bekerja karena kekerasan tidak bisa dihindari.
Ibu, ayah.
Mengorbankan orang yang kita cintai
ke dalam neraka yang berkobar ini
kini menjadi takdir utama kita.
Itu tidak benar!
-Ya, semua orang ini adalah pembunuh. -Pembunuh?
Kau pikir semua anak-anak itu adalah pembunuh?
Hanya ada satu solusi.
Tinggalkan Dewamu
dan terimalah ajaran gurukul,
pangeranku!
Oh Tuhanku tersayang!
Bagaimana cara aku membebaskan semua pemuja ini?
Tunjukkan aku jalan.
Prahlada!
Ada apa?
Sama seperti Prahlada menjelaskan kepada kita tentang Dewa Wisnu,
dia juga bisa meyakinkan raja kita.
Jika raja kita mengakhiri konfliknya dengan Dewa Wisnu, kita semua akan selamat.
Mulai hari ini dan seterusnya, hidupmu akan
terjerat hanya dalam penderitaan dan duri.
Karena bahkan Wisnu menginginkan hal yang sama.
Dia tidak pernah mencoba menyelamatkan para pemujanya dan dewa-dewa lainnya.
Jadi mengapa Dia akan datang untuk seorang anak iblis berumur lima tahun?
Kau akan sendirian!
Pemuja Prahlada!
Aku akan terus melantunkan kemuliaan Dewa Wisnu
sampai semua orang terbebaskan!
Aku hanya perlu melantunkan satu nama dan berserah diri dengan sepenuh hati.
Pembebasan hanya melalui satu nama itu.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Prahlada.
Aku harap kau tidak akan mengecewakanku seperti yang terakhir kali.
Jadi, ulangi apa pun yang telah kau pelajari dari guru-gurumu.
Guru-guruku telah mengajariku
bahwa Dewa Wisnu kebetulan adalah musuh terbesar kita.
Luar biasa, Prahlada! Luar biasa!
Jadi, akhirnya kau berhasil mengeluarkan Wisnu dari kepalamu!
Pendidikanmu akhirnya membuahkan hasil, Nak.
Sanda.
Amarka.
Aku hadiahi kalian berdua masing-masing seratus koin emas.
Untuk apa kemurahan hati seperti ini, Yang Mulia?
Kami tidak melakukan ini untuk mendapatkan hadiah.
Kita selamat dari dipanggang hidup-hidup!
Dengan menyatakan Wisnu sebagai musuhmu,
kau telah sangat menyenangkanku, Nak.
Maafkan aku, Ayah.
Kau memintaku untuk mengulangi ajaran guru-guruku,
jadi aku memberitahumu.
Tapi aku belum menerima ajaran mereka.
Aku jelas tidak menganggap Dewa Wisnu sebagai musuhku.
Ayah, jika kau memang ingin menganggap seseorang sebagai musuh,
tolong lihatlah ke dalam hatimu, carilah
nafsu, amarah, keserakahan, keterikatan, kesombongan, dan iri hati, dan anggaplah mereka sebagai musuh.
Masih lebih mudah untuk menaklukkan alam semesta,
tapi untuk menaklukkan keenam musuh mematikan ini
jauh lebih sulit.
Diam!
Bahkan dewa-dewa agung pun gemetar untuk berbicara di hadapanku.
Tapi bocah kecil ini berani menceramahiku!
Mohon jangan marah, Ayah.
Aku mohon padamu
untuk meninggalkan permusuhanmu terhadap Dewa Wisnu
dan carilah perlindungan-Nya.
Mencari perlindungan pada Wisnu si pengecut?
Aku Hiranyakasipu! Mahakuasa dan penakluk tiga dunia!
Tidak ada yang bisa membunuh Hiranyakasipu!
Bagaimana bisa kau menyanyikan pujian untuk seseorang
yang telah membunuh pamanmu, Hiranyaksa?
Apa kau tidak punya rasa setia kawan pada pamanmu?
Pamanku bersalah telah melakukan dosa
dengan menenggelamkan Bumi ke dalam dasar Samudra Kausal.
Dewa Waraha sangat pantas membunuhnya.
Pengkhianat!
Kau laksana ular penipu
yang tidak akan ragu untuk menggigit orang yang kau sayangi.
Sanda, Amarka! Kalian berdua telah gagal dalam tugas kalian.
Aku menghukum kalian berdua dengan masing-masing seratus cambukan.
Ampun, Yang Mulia. Ampuni kami.
Kami mohon padamu jangan hukum kami sekeras ini.
Kami tidak bersalah, Yang Mulia.
Kami sudah berusaha sekuat tenaga,
tapi putramu Prahlada sangat keras kepala
sampai-sampai dia tidak mau mendengarkan kami.
Lebih parah lagi, dia menghasut anak-anak lain
di gurukul untuk memberontak melawanmu.
Yang Mulia, putramu Prahlada sifatnya sangat licik.
Apa lagi yang bisa kami lakukan?
Hiranyakasipu.
Apa kau sekarang mengerti permainan licik Wisnu?
Menggunakan putramu seperti kapak perang,
dia ingin menebang pohon raksasa dari ras iblis!
Kau benar, Baginda!
Tapi sebelum Wisnu berhasil dalam rencana jahatnya,
Aku akan menjatuhkan hukuman pada Prahlada
-hukuman mati! -Tidak!
Tidak, Tuan!
Dosa besar apa yang akan kau lakukan?
Sejarah belum pernah menyaksikan
seorang ayah menjatuhkan hukuman mati
pada putranya.
Jangan pikir aku senang mengambil keputusan ini!
Tapi ketahuilah bahwa selain menjadi seorang ayah,
aku juga adalah pelindung kaum iblis.
Perlindungan kaumku adalah tanggung jawabku!
Jika aku mengampuni Prahlada hari ini,
cepat atau lambat, dia akan menyebabkan kehancuran seluruh ras iblis.
Prahlada baru bocah berumur lima tahun.
Dia putramu!
Di kaum iblis kita, tidak boleh ada tempat
untuk sentimen yang melemahkan hati seseorang, Kayadu.
-Tolong ampuni dia! -Prajurit!
Gunakan senjata kalian dan potong-potong Prahlada!
Tidak!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Kenapa kalian berhenti?
Para iblis, serang!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om!
Narayanaya Vidmahe
Vasudevaya Dhimahi
Tanno
Vishnuh
Prachodayat
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Fe-fenomena apa ini, Baginda?
Ini bukan fenomena,
melainkan sebuah tantangan terbuka dari Wisnu.
Kau ingin membunuh putramu,
sementara dia ingin melindungi pemujanya.
Ini bukan lagi sekadar perselisihan sederhana antara seorang ayah dan putranya.
Sekarang ini tentang siapa yang lebih unggul.
Prahlada hanyalah boneka
di tangan dua kekuatan besar.
Jika ini tentang keunggulan,
siapa di antara kita yang terhebat,
maka aku, Hiranyakasipu,
bisa melakukan apa pun untuk membuktikan keunggulanku atas Wisnu.
Bahkan jika itu berarti mengorbankan putraku sendiri dalam prosesnya.
Prajurit!
Aku perintahkan agar Prahlada diinjak-injak di depan umum
di bawah kaki gajah-gajah gila.
Bawa dia pergi!
Tuan!
Aku jamin aku akan membujuk Prahlada
dan mengubahnya menjadi anak yang penurut.
Mohon beri aku kesempatan.
Kayadu.
Di satu sisi, ada martabat suamimu
dan di sisi lain, nyawa putramu.
Seorang istri yang ideal akan selalu memilih martabat suaminya di atas nyawa putranya.
Yang dipertaruhkan di sini bukanlah martabatmu!
Tapi egomu!
Kayadu!
Bukankah dia putra raja kita?
Bukan.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan...
Hiranyakasipu adalah Dewa kita.
Hiranyakasipu adalah Dewa kita.
Hiranyakasipu adalah Dewa kita.
Prahlada, masih ada waktu.
Berhentilah begitu terobsesi dengan Wisnu.
Kau tidak akan dihukum.
Gajah-gajah ini memang gila,
tapi kegilaanmu tidak ada tandingannya.
Ya. Aku gila! Gila karena berbakti kepada Dewa Wisnu.
Tapi mau bagaimana lagi? Baktiku pada-Nya sudah seperti mabuk kepayang!
Ini adalah kemalanganmu
bahwa kau tidak bisa merasakan kebahagiaan ilahi ini.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
...Dewa Basudewa.
Pasti, ada kekuatan ilahi yang melindungi anak ini.
Oh, Dewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Oh, astaga!
Aku merasa pusing hanya dengan melihat ke bawah.
Wow.
Keindahan yang luar biasa!
Dan kenapa tidak?
Bagaimanapun juga, Dewa Narayana adalah senimannya.
Kau anak yang naif.
Kami tidak membawamu ke sini untuk bertamasya.
Kami di sini untuk membunuhmu dengan mendorongmu dari tebing ini.
Oh! Tapi ketahuilah bahwa kalian tidak bisa membunuhku.
Jadi kau benar-benar berpikir
bahwa kau tidak akan mati jika dilempar dari tebing?
Yang mati adalah jasad,
bukan jiwa.
Aku lebih dari sekadar jasad fana ini.
Tentu saja, jasadku akan hancur
jika aku dilempar dari tebing ini.
Tapi aku akan terlahir kembali nanti
di keluarga lain atau dalam wujud lain
dengan jasad yang baru.
Jiwaku akan selalu ada
tak peduli apakah jasadku ada atau tidak.
Apa kau masih percaya
bahwa kau bisa membunuhku?
Setelah mendengar kata-kata bijaknya,
aku sekarang bingung.
Jika memang tidak mungkin membunuhnya dalam arti sebenarnya,
lalu mengapa kita harus mendorongnya dari tebing?
Tidak.
Kalian harus mendorongku,
karena mematuhi perintah Rajamu adalah tugasmu.
Meskipun ayahmu melakukan kekejaman seperti itu padamu,
kau masih tidak membencinya?
Ayah patut dihormati.
Apa kau tidak takut sama sekali?
Bagaimana bisa ada kegelapan
Di tempat mentari bersinar terang benderang?
Begitu kau bersujud di kaki Tuhan
Bagaimana kau bisa merasa takut?
Dia yang telah melindungiku selama ini
akan melindungiku di masa depan juga.
Bagaimana jika Dia tidak datang menolongmu kali ini?
Memangnya kenapa jika tidak?
Dia bisa memperlakukanku sesuka-Nya.
Karena dalam segala keadaan,
Dia adalah tuan dan junjunganku.
Mohon jangan bersedih untukku.
Silakan laksanakan tugas yang diamanatkan padamu.
Nak, kau benar-benar sebuah teka-teki.
Setelah mendengar pencerahan yang begitu dalam darimu,
kami sekarang gemetar untuk melakukan dosa ini.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Ayo, kawanku.
Ayo kita ambil mayat Prahlada.
Hei!
-Apa ini? -Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Oh, Dewa Narayana!
Mukjizat ini sepenuhnya adalah perbuatan-Mu!
Dengan melindungi pemuja-Mu,
Kau telah membuktikan untuk selama-lamanya
bahwa Kau adalah pelindung para pemuja-Mu.
Hari ini, Kau telah menaklukkan hati orang-orang bodoh yang hina!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Mendidih karena amarah, Hiranyakasipu
mencoba membunuh Prahlada berkali-kali.
Tapi Dewa Wisnu terus melindunginya dari setiap serangan.
Cahaya baktinya menyebar jauh dan luas.
Dia tahu betul bahwa rakyatnya mulai terpengaruh
setelah menyaksikan kekuatan ilahi Dewa Wisnu
dan akan segera berbalik melawannya.
Kini dia hanya punya satu pilihan.
Holika.
Di bawah bimbingan Guru Sukracarya,
Hiranyaksa dan aku telah memperoleh berbagai kekuatan mistik.
Pada saat yang sama, kau juga diberkati dengan kekuatan yang cukup unik.
Bahwa kau bisa membakar menjadi abu siapa pun yang kau inginkan,
tapi pada saat yang sama, kau akan tetap kebal terhadap api.
Aku ingin kau menggunakan anugerah ini untuk melawan Prahlada.
Biar kuingatkan,
anugerah itu diberikan kepadaku dengan syarat
bahwa aku akan menggunakannya hanya untuk membela diri
dan aku tidak akan pernah menyalahgunakannya.
Holika.
Jantung Prahlada berdetak untuk musuh kita.
Dia adalah pemuja Wisnu!
Jika kita mengampuni nyawanya,
dia pasti akan menghancurkan kaum iblis kita.
Dengan membunuh Prahlada, kau tidak hanya akan melindungi kaum kita,
tapi juga melindungi dirimu sendiri.
Oleh karena itu, ini adalah penggunaan mulia dari anugerahmu.
Bukan penyalahgunaan!
Holika.
Aku menganggapmu sebagai saudariku.
Aku memintamu,
di saat-saat sulit ini, untuk mendampingiku.
Tentu saja, Kakak!
Sebenarnya, kau benar.
Prahlada harus mati!
Dengan melibatkanku dalam tujuan yang begitu berharga bagi kaum kita,
kau telah sangat menghormatiku, Kakak.
Saat setiap bagian dari tubuh ringkih Prahlada dilahap api,
saat jeritannya bergema di telingaku,
aku akan benar-benar merasa bahwa hidupku memang berharga!
Tapi mengapa kau perlu Holika untuk tugas sesederhana ini?
Lemparkan saja Prahlada ke dalam api, dan dia akan terbakar sampai mati.
Api saja tidak akan bisa mencelakai Prahlada.
Karena Wisnu yang ilusi itu selalu ada di sisinya untuk melindunginya!
Aku ingin kau duduk di atas tumpukan kayu bakar dan memeluk Prahlada erat-erat
sehingga dalam keadaan apa pun dia tidak bisa melarikan diri.
Prahlada, putraku tersayang.
Jangan khawatir.
Bibimu sekarang ada di sini untukmu!
Di pangkuannya, kau akan tidur dengan sangat damai!
Ngomong-ngomong,
aku telah mengundang seorang pendeta malam ini yang akan melaksanakan
upacara terakhirmu bahkan sebelum kami bisa mengambil
abumu dari tumpukan kayu bakar!
Ibu.
Apa ada yang meninggal?
Untuk siapa tumpukan kayu bakar ini disiapkan?
Tolong beritahu aku.
Prahlada!
Anakku!
Prahlada,
aku akan duduk di tumpukan kayu bakar ini denganmu di pangkuanku,
dan kemudian aku akan membakarmu hingga menjadi abu.
Tumpukan kayu bakar ini dibuat untukmu, Nak!
Kalian berdua seharusnya malu.
Jika kalian tidak bisa menghentikan ketidakadilan kejam terhadap seorang anak yang tak berdaya,
setidaknya yang bisa kalian lakukan adalah tidak mengejeknya.
Ibu, tolong jangan menangis.
Melihatmu menangis membuatku sedih.
Oh, Prahlada!
Oh! Sepertinya Prahlada akhirnya takut akan nyawanya
setelah melihat tumpukan kayu bakar yang megah ini.
Aku tidak khawatir pada diriku sendiri.
Justru kau yang kukhawatirkan, Bibiku tersayang.
Aku yang dihukum, bukan kau.
Aku mohon padamu untuk tidak masuk ke tumpukan kayu bakar bersamaku,
atau kau akan terbakar menjadi abu.
Kita akan segera tahu siapa yang akan terbakar
dan siapa yang akan keluar hidup-hidup!
Ayah,
mohon bujuk dia,
atau kau akan menyesal.
Baiklah.
Jika kau menghentikan baktimu pada Wisnu, aku pasti akan
menghentikannya masuk ke tumpukan kayu bakar
dan juga mengampunimu.
Lupakan dia, Prahlada.
-Lupakan Wisnu! -Ibu.
Bagaimana bisa kau memberiku nasihat buruk seperti itu, padahal kau adalah ibuku?
Ayah.
Dewa Wisnu menarikku
seperti magnet menarik serbuk besi.
Aku sama sekali tidak punya kendali atas daya tarik ini.
Kau bodoh yang keras kepala!
Kau pantas mati!
Holika, bawa dia ke atas tumpukan kayu bakar!
Ayo, Prahlada!
Ibu...
Menyaksikan anakku sendiri terbakar hidup-hidup
Aku tahu kobaran api di hati seorang ibu
membakar lebih hebat daripada tumpukan kayu bakar mana pun.
Jika bukan demi putramu,
setidaknya demi istrimu,
tolong ampuni Prahlada!
Aku juga akan masuk ke tumpukan kayu bakar. Aku akan masuk ke tumpukan kayu bakar.
Bawa dia ke istana.
Selamat tinggal, Prahlada.
Bibi.
Ayo.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Ini terbakar.
Aku tidak bisa bergerak!
Kakak!
Selamatkan aku, Kakak!
Kakak, aku terbakar!
Selamatkan aku!
Holika!
Selamatkan aku, Kakak!
-Aku terbakar! -Seseorang padamkan apinya.
Kakak!
Cepat!
Holika!
Lakukan sesuatu, cepat!
Keluarkan aku dari api ini!
Kakak!
Selamatkan aku!
Lakukan sesuatu! Holika!
-Bawa air! Cepat! -Selamatkan aku!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Tunggu, aku akan lakukan sesuatu.
Padamkan apinya! Cepat!
Ambil air!
Padamkan apinya!
Tentu, ini adalah kelanjutan terjemahannya. Semuanya, berkumpul dan padamkan apinya.
Holika!
...Dewa Basudewa!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Ayah,
-Aku sudah memohon padamu. -Holika.
Untuk tidak mengirim Bibi ke tumpukan kayu bakar,
atau kau akan menyesal.
Pembunuh saudariku!
Enyah dari hadapanku!
Bawa dia pergi
dan lemparkan dia ke lautan.
Holika!
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.
Bangunlah, Prahlada.
Aku adalah penguasa perairan dan lautan.
Aku Dewa Baruna.
Saat melantunkan nama Dewa Narayana, kau telah melupakan segalanya,
dan kau bahkan tidak sadar
bahwa beberapa saat yang lalu, kau tenggelam di lautan yang dalam ini.
Seorang pemuja sepertimu
hanya lahir sekali dalam ribuan tahun.
Aku bersujud padamu.
Aku merasa beruntung berada di hadapanmu yang diberkati.
Tapi mataku sangat ingin menatap permata itu
yang bersemayam dengan agung di Lautan Susu
di atas ular suci Sesa,
dan dia menerangi seluruh ciptaan dengan cahayanya yang gemilang.
Jika kau bisa menunjukkan jalan untuk mendapatkan permata itu,
aku akan berutang budi padamu seumur hidup.
Apa kau pikir keinginan untuk bertemu ini hanya milikmu
dan bukan milik-Nya?
Dia juga sangat merindukanmu.
Panggil saja Dia sekali!
Semoga kemenangan menyertaimu!
Bahkan dewa-dewa terhebat pun
tidak bisa melihat-Nya sekilas,
bagaimana bisa makhluk rendahan sepertiku,
yang terlahir di keluarga iblis, bermimpi melihat Dewa Agung itu?
Keinginanku ini kekanakan seperti
keinginan seekor semut tak berarti
yang ingin menelan seluruh air lautan ini.
Oh, Dewa, apa yang harus kulakukan?
Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Engkau.
Saat aku ditinggalkan oleh keluarga dan kerabatku sendiri,
hanya Engkaulah yang mendampingiku.
Sama seperti seorang anak yang merasa takut setelah terpisah
dari ibunya di tempat yang ramai,
aku juga merasa takut
karena aku terpisah dari-Mu
sendirian di dunia yang luas ini.
Oh, Dewa, datanglah dan genggam tanganku.
Aku tidak cukup pantas untuk melihat-Mu secara langsung.
Namun aku ingin melihat-Mu.
Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.
Oh, Dewa, mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.
Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.
Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.
Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.
Kau memanggilku, dan inilah aku!
Ada apa?
Kau tidak akan mengatakan sesuatu?
Aku berada di hadapan Tuhan!
Bukan Tuhan.
Sebaliknya, aku adalah pelayanmu!
Untuk seorang pemuja agung sepertimu, aku hanyalah seorang pelayan.
Dan akan tetap begitu.
Karena kau telah memenangkanku melalui
cintamu yang tulus tanpa pamrih!
Oh, Dewa, Engkau adalah Tuhan yang agung!
Mohon jangan membuatku malu dengan menyebut diri-Mu sebagai pelayanku.
Katakan padaku, Prahlada.
Apa yang bisa kulakukan untukmu?
Setelah aku mencapai-Mu,
apa lagi yang tersisa untuk dicapai?
Semua keinginanku telah terpenuhi hari ini.
Aku tidak menginginkan apa pun dari-Mu.
Dan jika Engkau masih bersikeras untuk memberiku sesuatu,
maka, oh, Dewa,
aku ingin Engkau memberkatiku
dengan api bakti yang akan
selamanya menyala terang di hatiku untuk-Mu
dan agar aku tidak pernah melupakan-Mu, bahkan untuk sesaat.
Prahlada,
Aku memberkatimu
bahwa mulai sekarang kau akan
merasakan kehadiran-Ku di mana pun dan dalam segala hal.
Terjadilah!
Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Narayana!
Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Basudewa
Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Narayana!
Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Basudewa
Hari ini, kau menampakkan diri, oh, kekasihku
Kini, setiap saat, setiap arah Kutemukan kau di dekatku
Aku telah kehilangan semua inderaku
Kaulah satu-satunya sandaranku
Kudambakan kau dengan sepenuh hati
Akhirnya, kutemukan dirimu
Menyelam di awan, aku melambung
Terbang di atas lautan, aku menjelajah
Aku tak bisa menahan diri lagi
Pegang aku erat, selamanya
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Govinda Madawa, jaya untuk-Mu
Oh, kekasih, aku milik-Mu, sungguh
Memanggil nama-Mu, ada cahaya
Hidupku kini menjadi cerah
Dengan setiap langkah yang kuambil
Kuserukan nama-Mu dari hatiku
Nama-Mu, kurayakan
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa
Kau pengkhianat hina dan kotor!
Kau selamat lagi!
Apa kau tidak malu menunjukkan dirimu di hadapanku lagi dan lagi?
Aku bersumpah akan menghukum Wisnu yang munafik dan pengecut itu.
Ayah,
aku mohon padamu
untuk tidak menyebut ayah kita yang tercinta, dan maha pengasih,
Dewa Narayana dengan kata-kata yang begitu menghina.
Wah, wah!
Hinaan terhadap ayah yang tercinta dan maha pengasih itu menyakitimu!
Tapi kau dengan kurang ajar menghina ayahmu sendiri,
dan itu tidak mengganggumu sama sekali!
Apa kasih sayangmu hanya untuk Wisnu dan tidak ada untukku?
Tidak begitu, Ayah.
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.
Benarkah? Sepertinya tidak!
Hubungan ayah-anak kita hanya terbatas pada kehidupan ini saja.
Tapi Sang Dewa...
Dia telah menjadi ayahku di semua kelahiran sebelumnya.
Dia adalah ayahku di kehidupan ini
dan akan tetap begitu di kelahiranku yang akan datang juga.
Bukan hanya ayahku,
dia juga adalah ayahmu.
Dia adalah ayah semua orang!
Kau mungkin menganggapnya sebagai musuhmu,
tapi Tuhan mencintai musuh-musuh-Nya
sejuta kali lebih besar
daripada seorang ibu bisa mencintai anaknya!
Seluruh dunia bersujud kepada Hiranyakasipu!
Siapa yang butuh cinta tak berharga dan hampa dari si penipu itu?
Kau adalah antek Wisnu itu, kan?
Kalau begitu panggil dia!
Mungkin pengecut itu akan menghadapiku setelah mendengar permohonanmu.
Biarlah hari ini menjadi hari yang menentukan siapa di antara kita
yang seekor serigala, dan siapa yang seekor singa!
Kita perlu memanggil seseorang yang tidak hadir.
Dia yang ingin kau panggil
itu mahahadir.
Dia ada di mana-mana.
Dia meliputi segalanya.
Dia hadir
di setiap makhluk hidup dan benda mati di dalam majelis ini.
Diam, kau bocah konyol.
Kau bicara omong kosong.
Tunjukkan padaku di mana dia?
Aku tidak melihatnya di sekitar sini.
Prahlada!
Wisnumu itu mahahadir, kan?
Kalau begitu, dia pasti ada di dalam pilar ini, kan?
Tanpa ragu!
Kalau begitu berdoalah agar kata-katamu itu benar, Prahlada!
Karena jika dia tidak ditemukan di dalam pilar ini,
maka hari ini aku, Hiranyakasipu,
tepat di sini di hadapan seluruh majelis ini,
akan memenggal kepalamu dari tubuhmu!
Hari ini, aku menantang Wisnumu
untuk menyelamatkanmu dari murkaku.
Mari kita semua cari tahu
sejauh mana Wisnu akan bertindak untuk melindungi pemujanya.
Ugram Viram Maha-Vishnum Jvalantam Sarvato Mukham
Nrsimham Bhisanam Bhadram Mrtyur Mrtyum Namamy Aham
Om!
Jayalah Dewa Narsimha!
Dia adalah Wisnu!
Tidak ada yang boleh menyentuhnya.
Dia mangsaku.
Akhirnya! Di sanalah kau!
Karena kau telah memanggil kematianmu,
aku harus datang untuk menghabisimu.
Kau penipu yang kikuk!
Kau melawan musuh-musuhmu terkadang, sebagai babi hutan
terkadang sebagai singa!
Apa kau tidak bosan dengan tingkah seperti itu?
Apa pun wujudku,
yakinlah
bahwa hari ini kau akan mati dengan cara yang sangat mengerikan!
Sama seperti kakakmu, Hiranyaksa,
yang mati di tanganku.
Kau seharusnya mengancam
hanya jika kau punya kekuatan untuk mewujudkannya.
Jayalah Dewa Narsimha!
Sekarang pertarungan ini akan menjadi seru.
Kalau begitu kenapa menunggu?
Angkat senjatamu dan serang aku!
Tentu saja!
Om, hormat pada Dewa Brahma.
Bunuh dia!
Akulah matahari yang menerangi kegelapan terdalam dengan ketakutan.
Akulah badai yang menghancurkan segalanya di jalurnya
dan api yang membakar segalanya.
Para dewa ketakutan hanya dengan mendengar namaku!
Aku adalah raja segala penjuru, dan kekuatanku adalah yang tertinggi!
Langit dan bumi menerimaku sebagai yang utama!
Karena akulah kegelapan tertinggi!
Vanamali gadi
Sarngi sankhi cakri ca nandaki
Sriman Narayano Vishnur
Vasudevo bhiraksatu
Om! Aku haturkan sembah hormat
Kepada Dewa Narayana!
Waktumu...
habis!
...Dewa Basudewa!
Kematian tidak bisa menyentuhku, baik di dalam empat dinding
maupun di luarnya.
Tidak di atas bumi...
tidak pula di langit.
Tidak oleh senjata apa pun, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa
tidak bisa membunuhku.
Kau punya sesuatu untuk dikatakan sekarang, kan?
Hiranyakasipu,
kapan kau akan mengerti?
Akulah ayah yang agung!
Dewa Brahma adalah ciptaanku.
Akulah sang pencipta agung.
Akulah Tuhan!
Kau bodoh!
Lihat aku!
Aku bukan manusia, bukan pula binatang.
Aku Narsimha!
Lihatlah matahari terbenam.
Ini bukan siang,
bukan pula malam.
Lagi pula, kau tidak berada di dalam rumahmu
tidak pula di luar rumahmu.
Liat, kau berada di ambang pintu.
Kau juga tidak berada di tanah
tidak pula di langit.
Kau ada di pangkuanku!
Dan bicara soal senjata,
lihatlah cakarku.
Cakar ini bukan milik yang hidup, bukan pula milik yang mati!
Jayalah Dewa Narayana!
Kita semua harus pergi dan mengucapkan terima kasih kepada Dewa Wisnu.
Lakukan sesuatu, Dewa Indra!
Aku setuju, kita para dewa gagal menyelamatkan Prahlada.
Tapi tolong jangan buat aku menghadapi amukan Dewa kita.
Aku baik-baik saja menjadi Penguasa surga.
Aku tidak mau menjadi almarhum.
Tentu, ini adalah bagian terakhir dari terjemahan subtitle tersebut. Ibu, mungkin kau tahu
cara menenangkan suamimu!
Dia adalah suamiku,
tapi setelah menyaksikan murka dan awatara-Nya yang geram,
aku takut mendekati-Nya.
Wahai Kakek Mulia, mohon sarankan jalan keluar dari kesulitan ini.
Satu-satunya yang bisa menenangkan kemarahan Sang Dewa
adalah jiwa yang menjadi alasan kemarahan itu terbangun.
Prahlada, anakku sayang,
mohon tenangkan Dewamu!
Mohon tinggalkan amarah-Mu, oh, Dewa.
Tolong lihatlah ke sekeliling.
Semua orang sangat ketakutan.
Oh, Dewa.
Tolong tenanglah.
Aku haturkan sembah hormatku pada Dewa Narsimha!
Tolong tenanglah.
Prahlada-hlada-dayine
Hiranyakasipoh Vaksah
Sila-tanka-nakhalaye
Engkau membuatku duduk di pangkuan-Mu,
dan sekarang Engkau mengelusku dengan penuh kasih sayang.
Jangan ragu bahwa kau
lebih kusayangi daripada Brahma, Siwa, dan bahkan Dewi Laksmi.
Oh, Dewa!
Engkau telah berinkarnasi berkali-kali di masa lalu.
Namun, dengan berinkarnasi demi melindungi
hanya satu pemuja-Mu yang tak berarti ini,
Engkau telah menganugerahiku kehormatan yang begitu besar,
sehingga aku tidak bisa cukup mengungkapkan rasa terima kasihku
bahkan jika aku harus menyanyikan pujian untuk-Mu
selama sejuta tahun sebagai balasannya.
Aku tidak punya apa-apa untuk kupersembahkan pada-Mu,
kecuali hatiku, yang hanya memiliki kasih sayang untuk-Mu.
Satu-satunya penyesalan adalah ayahku, tanpa alasan,
memendam perasaan permusuhan terhadap-Mu.
Mohon ampuni dia!
Prahlada.
Hiranyakasipu telah disucikan dari segala dosanya oleh sentuhanku.
Jangan khawatir!
Aku nyatakan hari ini,
bahwa untuk sepanjang zaman yang akan datang,
kau akan dirayakan sebagai salah satu pemuja-Ku yang paling agung,
dan siapa pun yang memujamu
niscaya akan menjadi penerima rahmat-Ku.
Jayalah Dewa Narayana!
Ada apa ini, Dewa Indra?
Kau tampak cukup senang.
Memangnya kenapa?
Rintangannya telah disingkirkan.
Tapi biar kuingatkan,
Jaya dan Wijaya akan dilahirkan kembali dua kali lagi sebelum kembali kepada Sang Dewa.
Jayalah Dewa Narayana!
DEWA SIWA
Diterjemahkan oleh HIKARU Dukung saya https://trakteer.id/misomeru/tip
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.