All language subtitles for Mahavatar.Narsimha.2025.1080p.NF.WEB-DL.DDP5.1.H.264-PrimeFix.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Apa yang kau lakukan, Diti?

Tuan.

Aku tak tahu mengapa,

tapi aku baru saja terluka parah

oleh panah asmara Kamadewa.

Apa kau begitu dikuasai nafsu

sampai-sampai kau tak bisa menahan diri untuk melakukan

kesalahan besar dengan mengganggu seorang resi saat sembahyang senja?

Tuan.

Ayahku, Daksa,

menikahkan 13 putrinya, termasuk aku, denganmu.

Kau telah memberkati semua saudariku dengan anak

dan dengan begitu, melengkapi hidup mereka.

Hanya akulah satu-satunya yang malang

yang masih belum punya anak.

Tuan, mengapa kau pilih kasih padaku?

Aku mendambakan seorang putra.

Apakah ada yang salah dengan keinginanku?

Tidak, tapi yang salah

adalah waktunya, yaitu senja hari,

karena pada jam ini,

hantu, roh jahat, dan para iblis, bersama tuan mereka, Dewa Siwa,

berkeliaran di langit.

Menurut kitab suci, jika seorang wanita bersetubuh

dengan suaminya pada waktu senja seperti ini,

ada kemungkinan besar jiwa iblis

akan masuk ke dalam rahimnya.

Itulah sebabnya...

Diti.

Aku pasti akan memenuhi keinginanmu.

Tolong tunggu sebentar.

Jika aku bisa menunggu,

aku tak akan pernah mengganggumu

saat kau sedang sembahyang senja.

Wanita keras kepala!

Tuan, apa ada yang salah?

Kau terlihat gelisah.

Kau wanita bodoh!

Aku sudah memperingatkanmu

bahwa ini waktu yang tidak baik untuk mengandung anak.

Tapi kau tak mengindahkan nasihatku.

Sekarang, rasakan akibatnya!

Akibatnya?

Apa maksudmu?

Kau menolak nasihatku

dan dengan demikian melanggar arahan dari kitab suci.

Akibatnya,

dua entitas yang sangat jahat telah memasuki rahimmu.

Kau ingin seorang putra, kan?

Sayang sekali!

Sekarang kau akan menjadi ibu dari dua iblis yang ganas!

Iblis sekaliber mereka belum pernah lahir sebelumnya

dan tak akan pernah terlahir kembali.

Mereka hanya akan punya dua tujuan.

Oh, Dewa Mahadewa!

-Membenci para dewa... -Bagaimana ini bisa terjadi?

...dan meneror para penyembahnya.

-Mereka akan menebar kekerasan yang tak tertandingi... -Tidak!

...di seluruh tiga dunia.

Dan ketika kekejaman mereka mencapai puncaknya...

Tidak, Tuan!

...mereka akan dibunuh oleh tiada lain

selain Dewa Wisnu sendiri!

Sungguh sebuah kemalangan besar!

Oh, Dewa Mahadewa!

Aku dibutakan oleh nafsu,

sehingga aku tak bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Mohon jangan berikan aku hukuman yang begitu berat untuk itu.

Maafkan aku, Dewa Mahadewa!

Tolong maafkan aku.

Tak ada yang bisa lari dari akibat perbuatannya.

Guru kaum iblis, Sukracarya,

telah menantikan hari ini.

Silakan cepat masuk!

Dia sedang menunggu para ksatria

yang bisa mengalahkan musuh bebuyutannya,

dan memaksa para dewa untuk menyerah di hadapannya.

Dia mengajari kedua saudara kembar itu tentang ilmu hitam

dan penggunaan senjata kekuatan gelap yang membuat mereka sangat kuat.

Segera, kedua bersaudara itu

menguasai ilmu hitam

dan mendapatkan kekuatan gaib.

Kakak!

Dengan melepaskan kekuatan tak terbatas mereka,

mereka membuat kekacauan di dunia bawah

dan meneror semua orang.

Melawan mereka sama saja dengan mengundang kematian.

Guru iblis itu bisa menghidupkan kembali orang mati,

sebuah kekuatan yang menopang ras iblis.

Ini adalah awal dari sebuah revolusi,

dan sangat penting untuk belajar lebih banyak tentang musuh bebuyutan itu.

Hanya ada satu musuh kaum iblis!

Wisnu!

Dunia berada di ambang gejolak yang tak terhindarkan,

namun di tempat lain kehidupan sedang tumbuh subur.

Di sini, semua orang dipenuhi suka cita.

Mereka hidup selaras dengan alam

dan juga memujanya.

Mereka memahami esensi dari sapi, angin, alam, dan para dewa.

Dan melalui yoga,

-mereka memanfaatkannya dalam hidup secara efektif. -Ibu!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Untuk menyenangkan para dewa,

para raja melakukan yajna dan ritual.

Senang dengan penyucian oleh para pendeta dan yajna,

para dewa sendiri akan muncul

dan mengantarkan persembahan kepada Yang Mulia Dewa Wisnu,

yang kemudian akan memberkati semua orang dengan rahmat-Nya.

Tapi mereka tidak menyadari kekuatan dari kedua iblis bersaudara ini.

Tolong aku!

Lepaskan aku!

Ibu!

Ibu!

Ibu!

Orang-orang tak tahu malu macam apa mereka ini?

Mereka menyembah pohon, tanaman, sapi, dan kotoran sapi!

Dan dia itu rajanya?

Dasar lemah!

Makhluk-makhluk ini harus mati...

Hiranyaksa!

Jika kau ingin menguasai tiga dunia,

maka tinggalkan makhluk-makhluk ini.

Kita sekarang harus mengobarkan perang terhadap jiwa mereka!

Perjalanan masih panjang, adikku!

Kita akan mengambil semua yang mereka punya!

Semuanya!

Semuanya telah hancur!

Masyarakat kita.

Orang-orang kita.

Semua impian kita.

Karena kau menginginkan segalanya!

Oh, Dewa!

Di mana Engkau?

Kakak.

-Kita sudah merampas semua yang mereka punya! -Tidak mungkin!

Apa pun yang kau lakukan,

habiskan segalanya, rampas kami sepuasmu, atau hancurkan peradaban kami!

Kau tak akan pernah bisa merenggut satu hal dari kami.

Keyakinan kami pada Dewa Wisnu!

Hiranyakasipu, ingatlah.

Kau mungkin ingin menguasai semua orang,

tapi mulai saat ini,

kau akan menuju kehancuranmu.

Dan akan tiba saatnya

ketika kesombonganmu akan membawamu pada kejatuhanmu,

dan saat itu kau akan mengundang kematianmu sendiri.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Oh, Dewa!

Wisnu.

Apa hebatnya Wisnu?

Hebatnya Wisnu adalah

dia itu licik dan penipu

yang selalu ingin mempermalukan kaum iblis

dengan memihak para dewa.

Sejujurnya, saat ini, dia sedang bersembunyi, dan dia ketakutan.

Pengecut itu, munafik!

Melalui tipu muslihat, dia telah menyihir seluruh dunia sedemikian rupa

sampai-sampai orang-orang bodoh ini

melihat Wisnu dalam setiap makhluk hidup.

Mereka pikir Wisnu ada dalam segalanya!

Wisnu juga percaya

bahwa segalanya berputar di sekelilingnya,

dan kita semua tidak berarti!

Maka Hiranyaksa yang tak berarti ini

sekarang akan merampas segalanya, Kakak!

Kehancuran setiap makhluk hidup

akan dilakukan oleh tangan yang tak berarti ini.

Hiranyaksa.

Tak peduli berapa banyak kehancuran yang kau sebabkan,

pengecut itu akan terus bersembunyi dalam ketakutan.

Sepertinya Wisnu suka bersembunyi, kan?

Aku akan menyembunyikan seluruh bumi.

Maka dia akan terpaksa keluar.

Wisnu harus keluar!

Bukan untuk bumi,

tapi untuk menemukan Dewi Pertiwi!

Aku mengerti, Kakak!

Aku butuh restumu untuk tugas ini.

Seluruh kaum iblis akan menantikan kepulanganmu.

Adikku sayang, jangan sampai kau tersesat saat mengejar Wisnu.

Sekarang bersiaplah untuk membunuh Wisnu dengan tangan kosongmu.

Hiranyakasipu, iblis agung, adalah kakakku.

Jadi untuk membunuh Wisnu,

yang kubutuhkan hanyalah tangan hina ini dan satu tamparan.

Setelah membunuh Wisnu,

aku akan meminum darahnya demi kehormatanmu.

Berilah aku perintah.

Semoga kau berjaya!

Bhume Bhumi pa saravsve

Bhumi pala prayane

Bhumi pa ahankara rupe

Bhumi devi cha Bhumi de

Bhumi pa ahankara rupe

Bhumi dehi cha Bhumi de

Om Vasundharaya vidmahe

Bhutadhatraya dhimahi

Tanno Bhumih prachodayat

Tanno Bhumih prachodayat

Oh, Dewa!

Lepaskan aku!

Tinggalkan aku!

Iblis jahat, tuanku akan menghancurkanmu!

Tinggalkan aku!

Oh, Dewa, lindungi aku!

Wahai Kakek Mulia!

Tolong jelaskan pada kami

tentang misteri ini.

Belum pernah ada iblis yang menyalahgunakan kekuatannya secara biadab seperti ini.

Kekerasan yang begitu parah terhadap Dewi Pertiwi!

Rasanya seperti mimpi buruk!

Wahai Pencipta alam semesta!

Mohon carikan jalan untuk menyelamatkan Dewi Pertiwi

dari kedalaman Samudra Kausal secepatnya.

Jika ada yang bisa menyelamatkan Dewi Pertiwi dari krisis besar ini,

itu hanyalah Dewa Wisnu.

Oh, Dewa,

mohon lindungi Dewi Pertiwi.

Lihat ke sana.

Apa ini?

Luar biasa!

Makhluk aneh apa ini?

Sulit dipercaya!

Dia baru saja muncul dari lubang hidungku.

Om Varahaya namah

Om Varahaya namah

Om!

Dhanur-dharaya vidmahe

Vakra-damstraya dhimahi

Tanno Varahah prachodayat

Oh, Dewa.

Tuan, apakah itu kau?

Akhirnya, kau datang menolongku!

Beraninya kau membawa Dewi Pertiwi pergi di hadapanku?

Berhenti di situ, babi hutan!

Kau babi hutan liar!

Aku merasa jijik hanya dengan melihatmu!

Ini adalah awatara Waraha dari Dewa Wisnu.

Salam bagi Dewa!

Salam bagi Dewa Waraha.

Om Varahaya namah

Bersiaplah untuk mati, Wisnu.

Kau...

Oh, Dewa Narayana!

Dewa Brahma!

Tidak mungkin!

Oh, Dewa Narayana,

bagimu, membunuh iblis ini

semudah meremukkan seekor semut.

Lalu mengapa kau mempermainkan iblis ini?

Mohon bunuh dia secepatnya

dan enyahkan rasa takut kami.

Selamat!

Kau telah sangat berjasa pada kami dengan membunuh iblis jahat ini.

Kami mengucapkan terima kasih padamu.

Oh, Dewa,

biasanya, babi hutan dianggap sebagai makhluk yang menjijikkan.

Namun, bahkan dalam wujud ini,

tubuhmu begitu megah,

suci,

dan agung.

Siapa pun yang merenungkan wujudmu yang menakjubkan ini,

atau mendengarkan kisahmu yang indah ini dengan keyakinan penuh

pasti akan mengundang keberuntungan ke dalam hidup mereka.

Jayalah Dewa Waraha!

Jayalah Dewa Waraha!

Putraku!

Jangan meratapi kesyahidan putramu.

Sebaliknya, biarkan dadamu membusung karena bangga.

Karena ksatria seperti dia tidak sering terlahir.

Dan kesyahidan adalah sebuah kehormatan.

Setelah membunuh Wisnu,

aku akan meminum darahnya demi kehormatanmu, Kakak!

Jangan sampai kau tersesat

saat kau mengejar Wisnu.

Dihasut oleh para dewa,

Wisnu telah berlaku sangat tidak adil pada kita.

Dia telah menipu kita.

Dia telah menipu kita!

Di atas tumpukan kayu bakar ini bukan hanya kakakku yang terbakar,

melainkan masa depan kaum iblis kita!

Masa depan kita dalam bahaya.

Jika kita tidak membalas,

kita akan menjadi korban penipuan demi penipuan.

Apa kau mau mewariskan warisan yang begitu suram

kepada generasi penerus kita?

Tidak!

Sekarang waktunya balas dendam!

Bantai semua orang yang memuja Wisnu.

Ayo kita buat kekacauan!

Ayo kita buat kekacauan!

Ayo kita buat kekacauan!

Kau memuja Wisnu!

Dalam waktu singkat,

kekejaman Hiranyakasipu

menebar teror kepada setiap pemuja Wisnu.

Ketakutan, para dewa menyembunyikan diri

dan mulai merencanakan perang.

Tapi Dewa Indra, raja para dewa,

mengkhawatirkan hal lain.

Dia khawatir tentang

calon pewaris

kaum iblis.

Baginda.

Aku telah menyebabkan pertumpahan darah di mana-mana

untuk membalaskan kematian Hiranyaksa.

Meskipun begitu, hatiku tidak tenang.

Dan itu karena pembunuh adikku masih hidup!

Kau tidak diragukan lagi sangat kuat.

Tapi kau bukan tandingan Wisnu.

Jika kau benar-benar ingin melawannya,

kau harus menjadi sekuat dirinya.

Bagaimana cara mencapainya?

Mulailah memuja Dewa Brahma.

Kau akan diberikan sebuah anugerah.

Baik, Tuan.

Seorang calon ibu membutuhkan suaminya di sisinya.

Mohon jangan tinggalkan aku pada saat seperti ini.

Balas dendam, tapa brata.

Mohon tinggalkan pikiran seperti itu.

Meskipun singa adalah raja hutan,

untuk memburu seekor rusa, ia harus bangun dari tidurnya.

Bagaimana bisa aku melepaskan pikiran ini, Kayadu?

Bagaimana?

Tidak akan!

Jika menjadi Dewa adalah syarat untuk membunuh Dewa Wisnu,

maka aku, Hiranyakasipu,

akan mengguncang langit dan bumi,

tapi aku pasti akan menjadi Dewa!

Jalan kebenaran ditentukan oleh kejujuran dan keadilan,

dan jalan ini sulit.

Banyak yang goyah saat menapaki jalan ini.

Baik itu kaum iblis

ataupun para dewa.

Iri dengki dan amarah

bisa membelokkan kita dari jalan kebenaran.

Tapi takdir bisa begitu aneh

sehingga seorang guru selalu muncul di saat yang tepat

sebagai cahaya penuntun.

Seperti Resi Narada, yang menyingkapkan jalan kebenaran kepada Dewa Indra

dan membimbingnya di jalan itu.

Oleh karena itu, semuanya bergantung pada

siapa yang kau pilih sebagai pemandu

dan apa niatnya yang sebenarnya.

Kayadu, sangat penting bagi seorang wanita yang sedang mengandung

untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Dewa Wisnu

dan mendengarkan kisah-kisah-Nya.

Ini berdampak positif pada anak yang tumbuh di dalam rahimnya.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Dewa Wisnu, sebagai jiwa yang agung,

bersemayam di hati setiap orang.

Sang Dewa adalah saksi atas segalanya,

dan cara termudah untuk mencapai bhakti kepada-Nya adalah...

Om, hormat pada Dewa Brahma.

...dengan melantunkan nama-Nya dengan pengabdian tertinggi.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Jadi marilah kita semua berkata dengan sepenuh hati,

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Kekuatan tapa brata iblis ini

akan membakar seluruh alam semesta.

Bangkitlah,

wahai putra Resi Kasyapa,

Hiranyakasipu.

Wahai Pencipta alam semesta.

Wahai leluhur pencipta,

kau tak berawal dan tak berakhir.

Kau adalah penopang jagat raya.

Seluruh ciptaan, beserta semua spesiesnya

berada di dalam dirimu.

Aku, Hiranyakasipu, bersujud kepada sang pencipta agung.

Aku senang dengan tapa bratamu.

Katakan, anugerah apa yang kau inginkan?

Semuanya!

Wahai Dewa Brahma,

mohon berikan aku anugerah,

semoga kematian tak pernah menyentuhku oleh makhluk apa pun ciptaanmu,

baik itu Dewa, manusia, atau binatang apa pun.

Semoga kematianku datang tidak di waktu siang maupun malam.

Semoga aku tidak mati di dalam rumah, maupun di luarnya.

Semoga aku tidak terbunuh oleh senjata apa pun, baik oleh yang hidup maupun yang tak hidup.

Selain itu,

berikan aku semua kekuatan yang bisa dicapai melalui

latihan yoga mistik.

Semoga semua kemasyhuran dan kemewahan di tiga dunia menjadi milikku.

Semoga mulai sekarang aku menjadi penguasa mutlak atas semua makhluk hidup.

Berikan aku kekuatan tanpa batas

sehingga aku menjadi manusia terkuat di seluruh alam semesta ini.

Wahai Dewa Brahma!

Jadikan aku manusia terkuat!

Anugerah seperti ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sampai sekarang.

Namun, benar juga adanya

bahwa jenis tapa brata seberat yang telah kau lakukan

belum pernah dicoba di masa lalu,

juga tidak akan dicoba di masa depan.

Terjadilah!

Aku telah menjadi abadi!

Akhirnya, aku telah menjadi Dewa!

Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan bahwa Hiranyakasipu adalah Dewa!

Bahwa Hiranyakasipu adalah Dewa!

Bersiaplah, Indra!

Hiranyakasipu.

Kuulurkan tanganku untuk persahabatan.

Tangan yang telah berani menculik istriku

seharusnya dipotong tanpa ampun.

Jangan lupa

bahwa kau adalah pelayanku yang hina, dan pelayan tidak bisa menjadi teman.

Sekarang ingatlah,

Baik, ini adalah bagian terakhir dari terjemahan subtitle tersebut. mulai sekarang, akulah Raja Surga!

Roda waktu terus berputar!

Sesaat yang lalu, Indra adalah Raja Surga,

tapi sesaat kemudian, dia menjadi pelayan rendahan!

Sekarang, kalian semua,

dengarkan aku baik-baik.

Terus laksanakan tugas kita dengan tekun,

tapi hanya untukku

dan hanya sesuai dengan kehendakku.

Mulai sekarang, akulah satu-satunya Dewamu.

Hanya patung-patungku yang akan berada di semua kuil.

Semua persembahan kurban

hanya akan menjadi milikku.

Kitab suci untuk kalian hanyalah yang memuji kemuliaanku,

dan kalian akan melantunkan satu mantra saja.

Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan

bahwa Hiranyakasipu adalah Dewa!

Katakan!

Wisnu, lihatlah!

Aku akan menghancurkan pemuja-pemujamu satu per satu,

dan sebentar lagi putraku akan menebar teror pada mereka.

Itu pasti akan memaksamu untuk keluar!

Saat kegelapan mengambil alih,

muncullah secercah cahaya ilahi.

Takdir bekerja dengan caranya yang ajaib,

dan tepat di jantung kekaisaran yang gelap

berpijarlah api kebenaran.

Namanya adalah...

Prahlada.

Bunda.

Kau bersemayam di hatiku

Hidupku, kebanggaanku

Sebelum duka mencapaimu

Aku rela menjemput maut

Secerah sang surya

Setenang sang rembulan

Kaulah cahaya hidupku

Kaulah duniaku

-Semoga kau tak pernah goyah -Salam.

Semoga kau menggapai bintang

Semoga kau penuhi setiap hati dengan cinta

Semoga semua orang mencintaimu

Banyak cobaan dan ujian menantimu

Janganlah takut

Waktu akan menyembuhkan semua lukamu

Teruslah tersenyum

Biarkan taman hati kita merekah Dengan cahaya ilahimu

Hanya dengan cahaya ilahimu

Tebarkan kebaikan dan kebenaran Buatlah segalanya cerah

Inilah harapanku untukmu Kudoakan kemenanganmu

Dunia akan mengenang

Inilah doaku

Kau bersemayam di hatiku

Hidupku, kebanggaanku

Sebelum duka mencapaimu

Oh, Dewa.

Lihat apa yang kubawa untukmu.

Apa semua ini?

Wisnu?

Pangeran, ayahmu Hiranyakasipu adalah Dewa kita.

Dengan memuja Dewa Wisnu, kau menentang ayahmu.

Jika ayahmu tahu, bencana akan terjadi.

Wisnu tak akan pernah menemuimu, Pangeran.

Kau benar.

Aku ini seorang iblis.

Mungkin aku tidak pantas bertemu dengan-Nya.

Tapi pengabdian bukanlah soal kaum atau kasta.

Ini adalah soal hati.

Prahlada.

Kemarilah, putraku.

Salam, Ayah!

Menaklukkan jagat raya dan memerintah para dewa membawa suka cita besar,

tapi tak ada yang sebanding dengan cinta seorang putra.

Prahlada, hari ini kau duduk di pangkuanku,

tapi di masa depan, kau akan naik takhta.

Jadi aku usulkan kita adakan ujian kecil untuk melihat kemampuan

dan kebijaksanaan pangeran kecil kita di masa depan, bagaimana?

Tentu saja, Ayah.

Baiklah, Prahlada.

Berdasarkan apa yang telah kau pelajari di gurukul,

beri tahu kami apa yang diperlukan untuk menjadi seorang raja?

Ayah,

seorang raja adalah seseorang yang memberikan keadilan tanpa pilih kasih,

yang memperlakukan rakyatnya seperti anaknya sendiri,

dan mendampingi rakyatnya, baik dalam suka maupun duka.

Seorang raja tidak hanya memerintah kerajaan,

tapi juga memerintah di hati rakyatnya.

Bagus! Cemerlang!

Kata-kata bijakmu membuat hatiku sangat gembira.

Masa depan kaum iblis berada di tangan yang aman.

Jangan berhenti, lanjutkan.

Tugas utama seorang raja

adalah menginspirasi rakyatnya untuk mencari perlindungan pada sang makhluk agung,

memotivasi mereka untuk berbakti kepada sang pelindung agung, dan mahakuasa,

dan dia tidak lain adalah Dewa Wisnu!

Kecewa oleh kebodohan, kesombongan palsu, dan keterikatan palsu,

setiap makhluk hidup tenggelam dalam samudra luas keberadaan duniawi.

Tapi Dewa Wisnu datang sebagai sebuah kapal yang bisa menyelamatkan jiwa kita,

maka dia dapat dengan mudah berlayar melintasi samudra kebodohan...

Sudah cukup!

Cukup pemujaan terhadap Wisnu!

Kau memang berbicara seperti orang terpelajar.

Sayangnya, seseorang telah meracuni ilmumu.

Tapi kau tidak bisa disalahkan.

Sanda dan Amarka!

Tampaknya para pemuja Wisnu

telah menyusup ke gurukul kita dengan menyamar dan menyesatkan putraku.

Kalian berdua telah dipercaya dengan tanggung jawab besar.

Mulai sekarang, waspadalah dan pastikan

bahwa tidak ada pemuja Wisnu yang bisa menyusup ke gurukul.

Kalau tidak...

Simbol keberanian, auman kekuatan,

kekerasan adalah kebanggaan kaum iblis.

Menghancurkan yang lemah adalah satu-satunya tugas bagi yang kuat.

Hiranyakasipu secara khusus memuji mereka yang turut dalam kekerasan.

Baginda.

Ya, Prahlada?

Bukankah tugas seorang individu yang kuat adalah untuk melindungi yang lemah?

Tentu saja, kalau tidak, bagaimana yang lemah bisa bertahan?

Tidak ada tempat untuk yang lemah di sini!

Dan itulah satu-satunya kebenaran hidup.

Svasty astu visvasya khalah prasidatam

Dhyayantu bhutani sivam mitho dhiya

Indah sekali!

Prahlada, tolong beritahu kami juga arti dari sloka ini.

Manah ca bhadram bhajatad adhoksaje

Avesyatam no matih apy ahaituki

Luar biasa.

-Bagaimana itu mungkin? -Prahlada.

Apa kau yang melakukannya atau...

-Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa. -Siapa itu Basudewa?

Apa rahasianya?

Basudewa adalah Hari Narayana.

Siapa itu Hari?

Aku tidak bisa mengerti apa pun.

Mari, dengarkan kisah ini Tentang anugerah Sang Ilahi

Tempat kebahagiaan dan harapan berada

Semua makhluk bergantung pada-Nya Besar dan kecil

Dia-lah yang membuat dunia berputar

Apa itu pengabdian?

Apakah ini nyata atau hanya mitos?

Di mana kita akan menemukan kekuatan?

Di mana kau menemukan kekuatanmu?

Lihatlah lebih dekat, jangan bersembunyi

Mari kita ungkap kebenarannya hari ini

Kau bilang Sang Ilahi selalu dekat

Tapi jika kita tak bisa melihat-Nya Apakah Dia benar-benar ada?

Seperti bayu yang kita rasa, tapi tak terlihat

Atau mentari yang menghangatkanmu dan aku

Bukankah begitu?

Seperti bayu yang kita rasa, tapi tak terlihat

Atau mentari yang menghangatkanmu dan aku

Bukankah begitu?

Begitulah Sang Ilahi

Sang Ilahi ada di mana-mana

Di setiap saat, kebenaran hakiki

Segala yang lain hanyalah ilusi

Ikan butuh air untuk berenang dan bermain

Kupu-kupu butuh bunga Untuk mencerahkan harinya

Daun butuh dahan untuk menopangnya

Dan hujan butuh awan untuk membawa kesegaran

Apa arti ikatan ilahi ini?

Tanpanya, segalanya terasa salah

Kita menjadi utuh Saat kita selaras dengan Sang Ilahi

Mari kita lantunkan bersama Dengan hati yang menyatu

Namah, om namah, namah Narayana

Namah, om namah, namah Narayana

Namah, om namah, namah Narayana

Namah, om namah, namah Narayana

Di setiap saat, Sang Ilahi bersamaku

Di setiap jiwa, di setiap tempat

Ada dekapan kasih Sang Ilahi

Di setiap saat, Sang Ilahi bersamaku

Di setiap jiwa, di setiap tempat

Ada dekapan kasih Sang Ilahi

Lindungi kami, Oh Madawa

Kami berdoa padamu, pelindung kami

Lindungi kami, Oh Madawa

Jangan pernah tinggalkan kami, selalu ada di sana

Lindungi kami, Oh Madawa

Kami berdoa padamu, pelindung kami

Lindungi kami, Oh Madawa

Jangan pernah tinggalkan kami, selalu ada di sana

Namah, om namah, namah Narayana

Namah, om namah, namah Narayana

Namah, om namah, namah Narayana

Namah, om namah, namah Narayana

Akhanda, apa yang kau lakukan?

Kita ini kaum iblis.

Permainan remeh seperti ini tidak membawa kemuliaan bagi gurukul kita.

Tapi aku tidak mengerti

apa yang telah kulakukan hingga membuatmu marah.

Prahlada!

Seorang pangeran harusnya kuat dan cemerlang.

Bukan orang yang penuh kasih dan empati sepertimu

yang percaya pada takhayul seperti Wisnu.

Apa salahnya menjadi orang yang penuh kasih dan empati?

Lagi pula, pengabdian kepada Wisnu bukanlah takhayul.

Mereka memuja Wisnu!

Mereka makan rumput, bunga, dan buah!

Kawanku, apa yang salah dengan makan buah?

Bahkan giginya berbeda dari kita!

Sungguh memalukan bagi kaum iblis.

Meskipun kau seorang pangeran,

kau tidak tahu cara melakukan unjuk kekuatan.

Bagaimana merenggut nyawa makhluk tak berdaya bisa menjadi unjuk kekuatan?

Aku tidak akan mati kelaparan.

Bagaimanapun juga, kita semua adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh kekuatan ilahi yang sama.

Kekuatan! Kekuatan siapa?

Oh, ya!

Rajanya para pengecut, kekasihnya kaum lemah.

Kekuatan imajiner dari pangeran kita tersayang.

Yang Mulia Dewa Wisnu?

Seluruh alam semesta takut pada kita.

Kau juga harus mengerti alasan ketakutan ini, Pangeranku!

Kekerasan adalah tugasku, dan Hiranyakasipu adalah Dewaku!

Ini adalah kehormatanku...

-Bukan, kawanku-- -...untuk memenuhi tugas ini.

Dinna!

Bagaimana dia masih bisa berdiri?

Dia benar-benar kuat.

Kau menahan rasa sakit ini untuk menyelamatkanku?

Sudah menjadi tugas yang kuat untuk melindungi yang lemah!

Tugas seorang pangeran adalah melindungi rakyatnya.

Kau penuh kasih, tapi tidak lemah.

Pangeran Prahlada!

Jayalah Pangeran Prahlada!

Cinta dan pengabdian adalah satu-satunya bahasa

yang dimengerti oleh setiap makhluk di seluruh alam semesta ini.

Namun, untuk memahami cinta dan pengabdian,

kita harus berserah diri sepenuhnya.

Satu nama adalah solusi untuk semua masalah kehidupan.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Dan perahu kita akan berlayar

di jalan cinta dan pengabdian,

yaitu jalan kebenaran.

Itu sangat indah.

Andai saja semua itu benar.

Ada apa, Baksia?

Apa ada yang salah? Tolong beritahu kami.

Kisah Wisnu mungkin terdengar indah dalam khayalanmu,

tapi pada kenyataannya...

Pada kenyataannya? Apa maksudmu?

Di sini gelap sekali!

Kita berada di tempat yang sangat tinggi.

Kalian pantas mendapatkan ini, para pemuja Wisnu!

Buka mata kalian dan lihatlah.

Cepat atau lambat, kita akan menempuh jalan yang sama.

Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan...

Dewa Wisnu adalah Dewa kita.

Kau melantunkan nama Wisnu.

Kau melantunkan nama musuh kita.

Kau pengkhianat!

Individu yang kuat memaksakan kekerasan pada yang lemah.

Dia menghancurkan mereka!

Jika kau ingin menyelamatkan dirimu dari penderitaan api,

maka pelajarilah prinsip ini.

Beginilah cara dunia bekerja karena kekerasan tidak bisa dihindari.

Ibu, ayah.

Mengorbankan orang yang kita cintai

ke dalam neraka yang berkobar ini

kini menjadi takdir utama kita.

Itu tidak benar!

-Ya, semua orang ini adalah pembunuh. -Pembunuh?

Kau pikir semua anak-anak itu adalah pembunuh?

Hanya ada satu solusi.

Tinggalkan Dewamu

dan terimalah ajaran gurukul,

pangeranku!

Oh Tuhanku tersayang!

Bagaimana cara aku membebaskan semua pemuja ini?

Tunjukkan aku jalan.

Prahlada!

Ada apa?

Sama seperti Prahlada menjelaskan kepada kita tentang Dewa Wisnu,

dia juga bisa meyakinkan raja kita.

Jika raja kita mengakhiri konfliknya dengan Dewa Wisnu, kita semua akan selamat.

Mulai hari ini dan seterusnya, hidupmu akan

terjerat hanya dalam penderitaan dan duri.

Karena bahkan Wisnu menginginkan hal yang sama.

Dia tidak pernah mencoba menyelamatkan para pemujanya dan dewa-dewa lainnya.

Jadi mengapa Dia akan datang untuk seorang anak iblis berumur lima tahun?

Kau akan sendirian!

Pemuja Prahlada!

Aku akan terus melantunkan kemuliaan Dewa Wisnu

sampai semua orang terbebaskan!

Aku hanya perlu melantunkan satu nama dan berserah diri dengan sepenuh hati.

Pembebasan hanya melalui satu nama itu.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Prahlada.

Aku harap kau tidak akan mengecewakanku seperti yang terakhir kali.

Jadi, ulangi apa pun yang telah kau pelajari dari guru-gurumu.

Guru-guruku telah mengajariku

bahwa Dewa Wisnu kebetulan adalah musuh terbesar kita.

Luar biasa, Prahlada! Luar biasa!

Jadi, akhirnya kau berhasil mengeluarkan Wisnu dari kepalamu!

Pendidikanmu akhirnya membuahkan hasil, Nak.

Sanda.

Amarka.

Aku hadiahi kalian berdua masing-masing seratus koin emas.

Untuk apa kemurahan hati seperti ini, Yang Mulia?

Kami tidak melakukan ini untuk mendapatkan hadiah.

Kita selamat dari dipanggang hidup-hidup!

Dengan menyatakan Wisnu sebagai musuhmu,

kau telah sangat menyenangkanku, Nak.

Maafkan aku, Ayah.

Kau memintaku untuk mengulangi ajaran guru-guruku,

jadi aku memberitahumu.

Tapi aku belum menerima ajaran mereka.

Aku jelas tidak menganggap Dewa Wisnu sebagai musuhku.

Ayah, jika kau memang ingin menganggap seseorang sebagai musuh,

tolong lihatlah ke dalam hatimu, carilah

nafsu, amarah, keserakahan, keterikatan, kesombongan, dan iri hati, dan anggaplah mereka sebagai musuh.

Masih lebih mudah untuk menaklukkan alam semesta,

tapi untuk menaklukkan keenam musuh mematikan ini

jauh lebih sulit.

Diam!

Bahkan dewa-dewa agung pun gemetar untuk berbicara di hadapanku.

Tapi bocah kecil ini berani menceramahiku!

Mohon jangan marah, Ayah.

Aku mohon padamu

untuk meninggalkan permusuhanmu terhadap Dewa Wisnu

dan carilah perlindungan-Nya.

Mencari perlindungan pada Wisnu si pengecut?

Aku Hiranyakasipu! Mahakuasa dan penakluk tiga dunia!

Tidak ada yang bisa membunuh Hiranyakasipu!

Bagaimana bisa kau menyanyikan pujian untuk seseorang

yang telah membunuh pamanmu, Hiranyaksa?

Apa kau tidak punya rasa setia kawan pada pamanmu?

Pamanku bersalah telah melakukan dosa

dengan menenggelamkan Bumi ke dalam dasar Samudra Kausal.

Dewa Waraha sangat pantas membunuhnya.

Pengkhianat!

Kau laksana ular penipu

yang tidak akan ragu untuk menggigit orang yang kau sayangi.

Sanda, Amarka! Kalian berdua telah gagal dalam tugas kalian.

Aku menghukum kalian berdua dengan masing-masing seratus cambukan.

Ampun, Yang Mulia. Ampuni kami.

Kami mohon padamu jangan hukum kami sekeras ini.

Kami tidak bersalah, Yang Mulia.

Kami sudah berusaha sekuat tenaga,

tapi putramu Prahlada sangat keras kepala

sampai-sampai dia tidak mau mendengarkan kami.

Lebih parah lagi, dia menghasut anak-anak lain

di gurukul untuk memberontak melawanmu.

Yang Mulia, putramu Prahlada sifatnya sangat licik.

Apa lagi yang bisa kami lakukan?

Hiranyakasipu.

Apa kau sekarang mengerti permainan licik Wisnu?

Menggunakan putramu seperti kapak perang,

dia ingin menebang pohon raksasa dari ras iblis!

Kau benar, Baginda!

Tapi sebelum Wisnu berhasil dalam rencana jahatnya,

Aku akan menjatuhkan hukuman pada Prahlada

-hukuman mati! -Tidak!

Tidak, Tuan!

Dosa besar apa yang akan kau lakukan?

Sejarah belum pernah menyaksikan

seorang ayah menjatuhkan hukuman mati

pada putranya.

Jangan pikir aku senang mengambil keputusan ini!

Tapi ketahuilah bahwa selain menjadi seorang ayah,

aku juga adalah pelindung kaum iblis.

Perlindungan kaumku adalah tanggung jawabku!

Jika aku mengampuni Prahlada hari ini,

cepat atau lambat, dia akan menyebabkan kehancuran seluruh ras iblis.

Prahlada baru bocah berumur lima tahun.

Dia putramu!

Di kaum iblis kita, tidak boleh ada tempat

untuk sentimen yang melemahkan hati seseorang, Kayadu.

-Tolong ampuni dia! -Prajurit!

Gunakan senjata kalian dan potong-potong Prahlada!

Tidak!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Kenapa kalian berhenti?

Para iblis, serang!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om!

Narayanaya Vidmahe

Vasudevaya Dhimahi

Tanno

Vishnuh

Prachodayat

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Fe-fenomena apa ini, Baginda?

Ini bukan fenomena,

melainkan sebuah tantangan terbuka dari Wisnu.

Kau ingin membunuh putramu,

sementara dia ingin melindungi pemujanya.

Ini bukan lagi sekadar perselisihan sederhana antara seorang ayah dan putranya.

Sekarang ini tentang siapa yang lebih unggul.

Prahlada hanyalah boneka

di tangan dua kekuatan besar.

Jika ini tentang keunggulan,

siapa di antara kita yang terhebat,

maka aku, Hiranyakasipu,

bisa melakukan apa pun untuk membuktikan keunggulanku atas Wisnu.

Bahkan jika itu berarti mengorbankan putraku sendiri dalam prosesnya.

Prajurit!

Aku perintahkan agar Prahlada diinjak-injak di depan umum

di bawah kaki gajah-gajah gila.

Bawa dia pergi!

Tuan!

Aku jamin aku akan membujuk Prahlada

dan mengubahnya menjadi anak yang penurut.

Mohon beri aku kesempatan.

Kayadu.

Di satu sisi, ada martabat suamimu

dan di sisi lain, nyawa putramu.

Seorang istri yang ideal akan selalu memilih martabat suaminya di atas nyawa putranya.

Yang dipertaruhkan di sini bukanlah martabatmu!

Tapi egomu!

Kayadu!

Bukankah dia putra raja kita?

Bukan.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Biarkan semua orang berkata dan semua orang melantunkan...

Hiranyakasipu adalah Dewa kita.

Hiranyakasipu adalah Dewa kita.

Hiranyakasipu adalah Dewa kita.

Prahlada, masih ada waktu.

Berhentilah begitu terobsesi dengan Wisnu.

Kau tidak akan dihukum.

Gajah-gajah ini memang gila,

tapi kegilaanmu tidak ada tandingannya.

Ya. Aku gila! Gila karena berbakti kepada Dewa Wisnu.

Tapi mau bagaimana lagi? Baktiku pada-Nya sudah seperti mabuk kepayang!

Ini adalah kemalanganmu

bahwa kau tidak bisa merasakan kebahagiaan ilahi ini.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

...Dewa Basudewa.

Pasti, ada kekuatan ilahi yang melindungi anak ini.

Oh, Dewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Oh, astaga!

Aku merasa pusing hanya dengan melihat ke bawah.

Wow.

Keindahan yang luar biasa!

Dan kenapa tidak?

Bagaimanapun juga, Dewa Narayana adalah senimannya.

Kau anak yang naif.

Kami tidak membawamu ke sini untuk bertamasya.

Kami di sini untuk membunuhmu dengan mendorongmu dari tebing ini.

Oh! Tapi ketahuilah bahwa kalian tidak bisa membunuhku.

Jadi kau benar-benar berpikir

bahwa kau tidak akan mati jika dilempar dari tebing?

Yang mati adalah jasad,

bukan jiwa.

Aku lebih dari sekadar jasad fana ini.

Tentu saja, jasadku akan hancur

jika aku dilempar dari tebing ini.

Tapi aku akan terlahir kembali nanti

di keluarga lain atau dalam wujud lain

dengan jasad yang baru.

Jiwaku akan selalu ada

tak peduli apakah jasadku ada atau tidak.

Apa kau masih percaya

bahwa kau bisa membunuhku?

Setelah mendengar kata-kata bijaknya,

aku sekarang bingung.

Jika memang tidak mungkin membunuhnya dalam arti sebenarnya,

lalu mengapa kita harus mendorongnya dari tebing?

Tidak.

Kalian harus mendorongku,

karena mematuhi perintah Rajamu adalah tugasmu.

Meskipun ayahmu melakukan kekejaman seperti itu padamu,

kau masih tidak membencinya?

Ayah patut dihormati.

Apa kau tidak takut sama sekali?

Bagaimana bisa ada kegelapan

Di tempat mentari bersinar terang benderang?

Begitu kau bersujud di kaki Tuhan

Bagaimana kau bisa merasa takut?

Dia yang telah melindungiku selama ini

akan melindungiku di masa depan juga.

Bagaimana jika Dia tidak datang menolongmu kali ini?

Memangnya kenapa jika tidak?

Dia bisa memperlakukanku sesuka-Nya.

Karena dalam segala keadaan,

Dia adalah tuan dan junjunganku.

Mohon jangan bersedih untukku.

Silakan laksanakan tugas yang diamanatkan padamu.

Nak, kau benar-benar sebuah teka-teki.

Setelah mendengar pencerahan yang begitu dalam darimu,

kami sekarang gemetar untuk melakukan dosa ini.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Ayo, kawanku.

Ayo kita ambil mayat Prahlada.

Hei!

-Apa ini? -Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Oh, Dewa Narayana!

Mukjizat ini sepenuhnya adalah perbuatan-Mu!

Dengan melindungi pemuja-Mu,

Kau telah membuktikan untuk selama-lamanya

bahwa Kau adalah pelindung para pemuja-Mu.

Hari ini, Kau telah menaklukkan hati orang-orang bodoh yang hina!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Mendidih karena amarah, Hiranyakasipu

mencoba membunuh Prahlada berkali-kali.

Tapi Dewa Wisnu terus melindunginya dari setiap serangan.

Cahaya baktinya menyebar jauh dan luas.

Dia tahu betul bahwa rakyatnya mulai terpengaruh

setelah menyaksikan kekuatan ilahi Dewa Wisnu

dan akan segera berbalik melawannya.

Kini dia hanya punya satu pilihan.

Holika.

Di bawah bimbingan Guru Sukracarya,

Hiranyaksa dan aku telah memperoleh berbagai kekuatan mistik.

Pada saat yang sama, kau juga diberkati dengan kekuatan yang cukup unik.

Bahwa kau bisa membakar menjadi abu siapa pun yang kau inginkan,

tapi pada saat yang sama, kau akan tetap kebal terhadap api.

Aku ingin kau menggunakan anugerah ini untuk melawan Prahlada.

Biar kuingatkan,

anugerah itu diberikan kepadaku dengan syarat

bahwa aku akan menggunakannya hanya untuk membela diri

dan aku tidak akan pernah menyalahgunakannya.

Holika.

Jantung Prahlada berdetak untuk musuh kita.

Dia adalah pemuja Wisnu!

Jika kita mengampuni nyawanya,

dia pasti akan menghancurkan kaum iblis kita.

Dengan membunuh Prahlada, kau tidak hanya akan melindungi kaum kita,

tapi juga melindungi dirimu sendiri.

Oleh karena itu, ini adalah penggunaan mulia dari anugerahmu.

Bukan penyalahgunaan!

Holika.

Aku menganggapmu sebagai saudariku.

Aku memintamu,

di saat-saat sulit ini, untuk mendampingiku.

Tentu saja, Kakak!

Sebenarnya, kau benar.

Prahlada harus mati!

Dengan melibatkanku dalam tujuan yang begitu berharga bagi kaum kita,

kau telah sangat menghormatiku, Kakak.

Saat setiap bagian dari tubuh ringkih Prahlada dilahap api,

saat jeritannya bergema di telingaku,

aku akan benar-benar merasa bahwa hidupku memang berharga!

Tapi mengapa kau perlu Holika untuk tugas sesederhana ini?

Lemparkan saja Prahlada ke dalam api, dan dia akan terbakar sampai mati.

Api saja tidak akan bisa mencelakai Prahlada.

Karena Wisnu yang ilusi itu selalu ada di sisinya untuk melindunginya!

Aku ingin kau duduk di atas tumpukan kayu bakar dan memeluk Prahlada erat-erat

sehingga dalam keadaan apa pun dia tidak bisa melarikan diri.

Prahlada, putraku tersayang.

Jangan khawatir.

Bibimu sekarang ada di sini untukmu!

Di pangkuannya, kau akan tidur dengan sangat damai!

Ngomong-ngomong,

aku telah mengundang seorang pendeta malam ini yang akan melaksanakan

upacara terakhirmu bahkan sebelum kami bisa mengambil

abumu dari tumpukan kayu bakar!

Ibu.

Apa ada yang meninggal?

Untuk siapa tumpukan kayu bakar ini disiapkan?

Tolong beritahu aku.

Prahlada!

Anakku!

Prahlada,

aku akan duduk di tumpukan kayu bakar ini denganmu di pangkuanku,

dan kemudian aku akan membakarmu hingga menjadi abu.

Tumpukan kayu bakar ini dibuat untukmu, Nak!

Kalian berdua seharusnya malu.

Jika kalian tidak bisa menghentikan ketidakadilan kejam terhadap seorang anak yang tak berdaya,

setidaknya yang bisa kalian lakukan adalah tidak mengejeknya.

Ibu, tolong jangan menangis.

Melihatmu menangis membuatku sedih.

Oh, Prahlada!

Oh! Sepertinya Prahlada akhirnya takut akan nyawanya

setelah melihat tumpukan kayu bakar yang megah ini.

Aku tidak khawatir pada diriku sendiri.

Justru kau yang kukhawatirkan, Bibiku tersayang.

Aku yang dihukum, bukan kau.

Aku mohon padamu untuk tidak masuk ke tumpukan kayu bakar bersamaku,

atau kau akan terbakar menjadi abu.

Kita akan segera tahu siapa yang akan terbakar

dan siapa yang akan keluar hidup-hidup!

Ayah,

mohon bujuk dia,

atau kau akan menyesal.

Baiklah.

Jika kau menghentikan baktimu pada Wisnu, aku pasti akan

menghentikannya masuk ke tumpukan kayu bakar

dan juga mengampunimu.

Lupakan dia, Prahlada.

-Lupakan Wisnu! -Ibu.

Bagaimana bisa kau memberiku nasihat buruk seperti itu, padahal kau adalah ibuku?

Ayah.

Dewa Wisnu menarikku

seperti magnet menarik serbuk besi.

Aku sama sekali tidak punya kendali atas daya tarik ini.

Kau bodoh yang keras kepala!

Kau pantas mati!

Holika, bawa dia ke atas tumpukan kayu bakar!

Ayo, Prahlada!

Ibu...

Menyaksikan anakku sendiri terbakar hidup-hidup

Aku tahu kobaran api di hati seorang ibu

membakar lebih hebat daripada tumpukan kayu bakar mana pun.

Jika bukan demi putramu,

setidaknya demi istrimu,

tolong ampuni Prahlada!

Aku juga akan masuk ke tumpukan kayu bakar. Aku akan masuk ke tumpukan kayu bakar.

Bawa dia ke istana.

Selamat tinggal, Prahlada.

Bibi.

Ayo.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Ini terbakar.

Aku tidak bisa bergerak!

Kakak!

Selamatkan aku, Kakak!

Kakak, aku terbakar!

Selamatkan aku!

Holika!

Selamatkan aku, Kakak!

-Aku terbakar! -Seseorang padamkan apinya.

Kakak!

Cepat!

Holika!

Lakukan sesuatu, cepat!

Keluarkan aku dari api ini!

Kakak!

Selamatkan aku!

Lakukan sesuatu! Holika!

-Bawa air! Cepat! -Selamatkan aku!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Tunggu, aku akan lakukan sesuatu.

Padamkan apinya! Cepat!

Ambil air!

Padamkan apinya!

Tentu, ini adalah kelanjutan terjemahannya. Semuanya, berkumpul dan padamkan apinya.

Holika!

...Dewa Basudewa!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Ayah,

-Aku sudah memohon padamu. -Holika.

Untuk tidak mengirim Bibi ke tumpukan kayu bakar,

atau kau akan menyesal.

Pembunuh saudariku!

Enyah dari hadapanku!

Bawa dia pergi

dan lemparkan dia ke lautan.

Holika!

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa.

Bangunlah, Prahlada.

Aku adalah penguasa perairan dan lautan.

Aku Dewa Baruna.

Saat melantunkan nama Dewa Narayana, kau telah melupakan segalanya,

dan kau bahkan tidak sadar

bahwa beberapa saat yang lalu, kau tenggelam di lautan yang dalam ini.

Seorang pemuja sepertimu

hanya lahir sekali dalam ribuan tahun.

Aku bersujud padamu.

Aku merasa beruntung berada di hadapanmu yang diberkati.

Tapi mataku sangat ingin menatap permata itu

yang bersemayam dengan agung di Lautan Susu

di atas ular suci Sesa,

dan dia menerangi seluruh ciptaan dengan cahayanya yang gemilang.

Jika kau bisa menunjukkan jalan untuk mendapatkan permata itu,

aku akan berutang budi padamu seumur hidup.

Apa kau pikir keinginan untuk bertemu ini hanya milikmu

dan bukan milik-Nya?

Dia juga sangat merindukanmu.

Panggil saja Dia sekali!

Semoga kemenangan menyertaimu!

Bahkan dewa-dewa terhebat pun

tidak bisa melihat-Nya sekilas,

bagaimana bisa makhluk rendahan sepertiku,

yang terlahir di keluarga iblis, bermimpi melihat Dewa Agung itu?

Keinginanku ini kekanakan seperti

keinginan seekor semut tak berarti

yang ingin menelan seluruh air lautan ini.

Oh, Dewa, apa yang harus kulakukan?

Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Engkau.

Saat aku ditinggalkan oleh keluarga dan kerabatku sendiri,

hanya Engkaulah yang mendampingiku.

Sama seperti seorang anak yang merasa takut setelah terpisah

dari ibunya di tempat yang ramai,

aku juga merasa takut

karena aku terpisah dari-Mu

sendirian di dunia yang luas ini.

Oh, Dewa, datanglah dan genggam tanganku.

Aku tidak cukup pantas untuk melihat-Mu secara langsung.

Namun aku ingin melihat-Mu.

Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.

Oh, Dewa, mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.

Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.

Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.

Mohon tampakkan diri-Mu di hadapanku.

Kau memanggilku, dan inilah aku!

Ada apa?

Kau tidak akan mengatakan sesuatu?

Aku berada di hadapan Tuhan!

Bukan Tuhan.

Sebaliknya, aku adalah pelayanmu!

Untuk seorang pemuja agung sepertimu, aku hanyalah seorang pelayan.

Dan akan tetap begitu.

Karena kau telah memenangkanku melalui

cintamu yang tulus tanpa pamrih!

Oh, Dewa, Engkau adalah Tuhan yang agung!

Mohon jangan membuatku malu dengan menyebut diri-Mu sebagai pelayanku.

Katakan padaku, Prahlada.

Apa yang bisa kulakukan untukmu?

Setelah aku mencapai-Mu,

apa lagi yang tersisa untuk dicapai?

Semua keinginanku telah terpenuhi hari ini.

Aku tidak menginginkan apa pun dari-Mu.

Dan jika Engkau masih bersikeras untuk memberiku sesuatu,

maka, oh, Dewa,

aku ingin Engkau memberkatiku

dengan api bakti yang akan

selamanya menyala terang di hatiku untuk-Mu

dan agar aku tidak pernah melupakan-Mu, bahkan untuk sesaat.

Prahlada,

Aku memberkatimu

bahwa mulai sekarang kau akan

merasakan kehadiran-Ku di mana pun dan dalam segala hal.

Terjadilah!

Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Narayana!

Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Basudewa

Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Narayana!

Aku bersujud pada Yang Mulia Dewa Basudewa

Hari ini, kau menampakkan diri, oh, kekasihku

Kini, setiap saat, setiap arah Kutemukan kau di dekatku

Aku telah kehilangan semua inderaku

Kaulah satu-satunya sandaranku

Kudambakan kau dengan sepenuh hati

Akhirnya, kutemukan dirimu

Menyelam di awan, aku melambung

Terbang di atas lautan, aku menjelajah

Aku tak bisa menahan diri lagi

Pegang aku erat, selamanya

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Govinda Madawa, jaya untuk-Mu

Oh, kekasih, aku milik-Mu, sungguh

Memanggil nama-Mu, ada cahaya

Hidupku kini menjadi cerah

Dengan setiap langkah yang kuambil

Kuserukan nama-Mu dari hatiku

Nama-Mu, kurayakan

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Om, aku bersujud kepada Yang Mulia Dewa Basudewa

Kau pengkhianat hina dan kotor!

Kau selamat lagi!

Apa kau tidak malu menunjukkan dirimu di hadapanku lagi dan lagi?

Aku bersumpah akan menghukum Wisnu yang munafik dan pengecut itu.

Ayah,

aku mohon padamu

untuk tidak menyebut ayah kita yang tercinta, dan maha pengasih,

Dewa Narayana dengan kata-kata yang begitu menghina.

Wah, wah!

Hinaan terhadap ayah yang tercinta dan maha pengasih itu menyakitimu!

Tapi kau dengan kurang ajar menghina ayahmu sendiri,

dan itu tidak mengganggumu sama sekali!

Apa kasih sayangmu hanya untuk Wisnu dan tidak ada untukku?

Tidak begitu, Ayah.

Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.

Benarkah? Sepertinya tidak!

Hubungan ayah-anak kita hanya terbatas pada kehidupan ini saja.

Tapi Sang Dewa...

Dia telah menjadi ayahku di semua kelahiran sebelumnya.

Dia adalah ayahku di kehidupan ini

dan akan tetap begitu di kelahiranku yang akan datang juga.

Bukan hanya ayahku,

dia juga adalah ayahmu.

Dia adalah ayah semua orang!

Kau mungkin menganggapnya sebagai musuhmu,

tapi Tuhan mencintai musuh-musuh-Nya

sejuta kali lebih besar

daripada seorang ibu bisa mencintai anaknya!

Seluruh dunia bersujud kepada Hiranyakasipu!

Siapa yang butuh cinta tak berharga dan hampa dari si penipu itu?

Kau adalah antek Wisnu itu, kan?

Kalau begitu panggil dia!

Mungkin pengecut itu akan menghadapiku setelah mendengar permohonanmu.

Biarlah hari ini menjadi hari yang menentukan siapa di antara kita

yang seekor serigala, dan siapa yang seekor singa!

Kita perlu memanggil seseorang yang tidak hadir.

Dia yang ingin kau panggil

itu mahahadir.

Dia ada di mana-mana.

Dia meliputi segalanya.

Dia hadir

di setiap makhluk hidup dan benda mati di dalam majelis ini.

Diam, kau bocah konyol.

Kau bicara omong kosong.

Tunjukkan padaku di mana dia?

Aku tidak melihatnya di sekitar sini.

Prahlada!

Wisnumu itu mahahadir, kan?

Kalau begitu, dia pasti ada di dalam pilar ini, kan?

Tanpa ragu!

Kalau begitu berdoalah agar kata-katamu itu benar, Prahlada!

Karena jika dia tidak ditemukan di dalam pilar ini,

maka hari ini aku, Hiranyakasipu,

tepat di sini di hadapan seluruh majelis ini,

akan memenggal kepalamu dari tubuhmu!

Hari ini, aku menantang Wisnumu

untuk menyelamatkanmu dari murkaku.

Mari kita semua cari tahu

sejauh mana Wisnu akan bertindak untuk melindungi pemujanya.

Ugram Viram Maha-Vishnum Jvalantam Sarvato Mukham

Nrsimham Bhisanam Bhadram Mrtyur Mrtyum Namamy Aham

Om!

Jayalah Dewa Narsimha!

Dia adalah Wisnu!

Tidak ada yang boleh menyentuhnya.

Dia mangsaku.

Akhirnya! Di sanalah kau!

Karena kau telah memanggil kematianmu,

aku harus datang untuk menghabisimu.

Kau penipu yang kikuk!

Kau melawan musuh-musuhmu terkadang, sebagai babi hutan

terkadang sebagai singa!

Apa kau tidak bosan dengan tingkah seperti itu?

Apa pun wujudku,

yakinlah

bahwa hari ini kau akan mati dengan cara yang sangat mengerikan!

Sama seperti kakakmu, Hiranyaksa,

yang mati di tanganku.

Kau seharusnya mengancam

hanya jika kau punya kekuatan untuk mewujudkannya.

Jayalah Dewa Narsimha!

Sekarang pertarungan ini akan menjadi seru.

Kalau begitu kenapa menunggu?

Angkat senjatamu dan serang aku!

Tentu saja!

Om, hormat pada Dewa Brahma.

Bunuh dia!

Akulah matahari yang menerangi kegelapan terdalam dengan ketakutan.

Akulah badai yang menghancurkan segalanya di jalurnya

dan api yang membakar segalanya.

Para dewa ketakutan hanya dengan mendengar namaku!

Aku adalah raja segala penjuru, dan kekuatanku adalah yang tertinggi!

Langit dan bumi menerimaku sebagai yang utama!

Karena akulah kegelapan tertinggi!

Vanamali gadi

Sarngi sankhi cakri ca nandaki

Sriman Narayano Vishnur

Vasudevo bhiraksatu

Om! Aku haturkan sembah hormat

Kepada Dewa Narayana!

Waktumu...

habis!

...Dewa Basudewa!

Kematian tidak bisa menyentuhku, baik di dalam empat dinding

maupun di luarnya.

Tidak di atas bumi...

tidak pula di langit.

Tidak oleh senjata apa pun, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa

tidak bisa membunuhku.

Kau punya sesuatu untuk dikatakan sekarang, kan?

Hiranyakasipu,

kapan kau akan mengerti?

Akulah ayah yang agung!

Dewa Brahma adalah ciptaanku.

Akulah sang pencipta agung.

Akulah Tuhan!

Kau bodoh!

Lihat aku!

Aku bukan manusia, bukan pula binatang.

Aku Narsimha!

Lihatlah matahari terbenam.

Ini bukan siang,

bukan pula malam.

Lagi pula, kau tidak berada di dalam rumahmu

tidak pula di luar rumahmu.

Liat, kau berada di ambang pintu.

Kau juga tidak berada di tanah

tidak pula di langit.

Kau ada di pangkuanku!

Dan bicara soal senjata,

lihatlah cakarku.

Cakar ini bukan milik yang hidup, bukan pula milik yang mati!

Jayalah Dewa Narayana!

Kita semua harus pergi dan mengucapkan terima kasih kepada Dewa Wisnu.

Lakukan sesuatu, Dewa Indra!

Aku setuju, kita para dewa gagal menyelamatkan Prahlada.

Tapi tolong jangan buat aku menghadapi amukan Dewa kita.

Aku baik-baik saja menjadi Penguasa surga.

Aku tidak mau menjadi almarhum.

Tentu, ini adalah bagian terakhir dari terjemahan subtitle tersebut. Ibu, mungkin kau tahu

cara menenangkan suamimu!

Dia adalah suamiku,

tapi setelah menyaksikan murka dan awatara-Nya yang geram,

aku takut mendekati-Nya.

Wahai Kakek Mulia, mohon sarankan jalan keluar dari kesulitan ini.

Satu-satunya yang bisa menenangkan kemarahan Sang Dewa

adalah jiwa yang menjadi alasan kemarahan itu terbangun.

Prahlada, anakku sayang,

mohon tenangkan Dewamu!

Mohon tinggalkan amarah-Mu, oh, Dewa.

Tolong lihatlah ke sekeliling.

Semua orang sangat ketakutan.

Oh, Dewa.

Tolong tenanglah.

Aku haturkan sembah hormatku pada Dewa Narsimha!

Tolong tenanglah.

Prahlada-hlada-dayine

Hiranyakasipoh Vaksah

Sila-tanka-nakhalaye

Engkau membuatku duduk di pangkuan-Mu,

dan sekarang Engkau mengelusku dengan penuh kasih sayang.

Jangan ragu bahwa kau

lebih kusayangi daripada Brahma, Siwa, dan bahkan Dewi Laksmi.

Oh, Dewa!

Engkau telah berinkarnasi berkali-kali di masa lalu.

Namun, dengan berinkarnasi demi melindungi

hanya satu pemuja-Mu yang tak berarti ini,

Engkau telah menganugerahiku kehormatan yang begitu besar,

sehingga aku tidak bisa cukup mengungkapkan rasa terima kasihku

bahkan jika aku harus menyanyikan pujian untuk-Mu

selama sejuta tahun sebagai balasannya.

Aku tidak punya apa-apa untuk kupersembahkan pada-Mu,

kecuali hatiku, yang hanya memiliki kasih sayang untuk-Mu.

Satu-satunya penyesalan adalah ayahku, tanpa alasan,

memendam perasaan permusuhan terhadap-Mu.

Mohon ampuni dia!

Prahlada.

Hiranyakasipu telah disucikan dari segala dosanya oleh sentuhanku.

Jangan khawatir!

Aku nyatakan hari ini,

bahwa untuk sepanjang zaman yang akan datang,

kau akan dirayakan sebagai salah satu pemuja-Ku yang paling agung,

dan siapa pun yang memujamu

niscaya akan menjadi penerima rahmat-Ku.

Jayalah Dewa Narayana!

Ada apa ini, Dewa Indra?

Kau tampak cukup senang.

Memangnya kenapa?

Rintangannya telah disingkirkan.

Tapi biar kuingatkan,

Jaya dan Wijaya akan dilahirkan kembali dua kali lagi sebelum kembali kepada Sang Dewa.

Jayalah Dewa Narayana!

DEWA SIWA

Diterjemahkan oleh HIKARU Dukung saya https://trakteer.id/misomeru/tip

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.