Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Diterjemahkan oleh: Zain Selamat menonton
- Sudah sebulan...
...sejak mahasiswi Universitas Veldon, Britt Harris,
terakhir terlihat di sekitar kampus.
Pihak berwajib punya saksi mata
yang melihat pria tak dikenal menyeret korban
dan memasukkannya ke bagasi mobil.
Saksi tidak bisa melihat plat nomor
atau memberikan ciri-ciri wajah pelakunya.
Detektif masih menangani kasus tahun lalu,
saat dua mahasiswi VU lain diculik
dan salah satunya ditemukan tewas.
Mereka belum menyatakan ada kaitan antara kasus ini.
- Aku terus berlari,
tapi akhirnya aku menyerah.
Aku hanya...
kubiarkan dia menang.
Aku tahu, aku tahu dia ada di sana,
mengejarku,
tapi aku sudah tidak peduli lagi.
Aku tidak merasa damai.
Aku... aku tidak merasakan apa-apa.
Benar-benar mati rasa.
- Sepertinya mimpi-mimpimu itu
adalah caramu menulis ulang apa yang telah kau alami.
Kejadian traumatis itu,
kenyataannya sangat berbeda.
Kau melawan, kau selamat.
Benar, dia kabur. Tapi sudah setahun.
Kau menipu dirimu untuk percaya
bahwa kau hanya menyerah dan membiarkan penyerangmu menang.
Kau yang menang. Kau berhasil selamat.
- Aku tidak tahu kenapa ingatanku jadi berbeda.
Rasanya... terkadang semua terasa abu-abu.
- Kau terlalu menyalahkan dirimu.
Kau menyalahkan diri sendiri karena berada dalam situasi
yang membuat hal ini menimpamu.
Kau merasa bertanggung jawab.
Ini bukan salahmu.
Kau diculik dan diburu oleh seorang psikopat.
Kau bukan penyebabnya.
Itu bisa terjadi pada siapa saja.
Pria itu sudah mengambil banyak darimu.
Jangan biarkan dia mengambil lebih.
Ini peringatan satu tahun kejadiannya.
Mimpi-mimpi ini pasti akan berlanjut,
tapi akan segera memudar.
Ingat semua yang kau pelajari, itu tidak nyata.
Baiklah, waktu kita habis untuk hari ini.
Ayo, tersenyumlah.
Ingat, lebih baik fokus ke depan
daripada melihat ke belakang pada hal yang tak bisa kita kendalikan.
- Terima kasih, Dr. Richardson. - Tentu saja.
Rose.
- Berita duka malam ini,
satu lagi mahasiswi Universitas Velden
dilaporkan hilang pagi tadi.
Keluarga Perry Wesley, mahasiswi tingkat dua VU,
mengatakan ponselnya ditemukan di trotoar
tepat di tepi kampus.
Kali ini tidak ada saksi mata,
namun banyak yang berspekulasi
ini adalah penculikan serupa
dengan yang terjadi sebulan lalu.
- Aku merasa lebih baik setelah pertemuan terakhir kita.
Perkataanmu di sesi terakhir
benar-benar membantuku... untuk fokus ke depan.
- Bagus sekali.
- Tapi malamnya aku mimpi buruk lagi
tentang apa yang terjadi padaku.
- Saat kau terbangun di momen seperti itu
dan jantungmu berdebar kencang,
sadarkan dirimu dan katakan
itu hanya mimpi.
Ulangi terus-menerus.
Nanti akan meresap dan tubuhmu akan tenang.
- Itu hanya mimpi. - Tepat.
Apa kau kesulitan tidur
sepanjang malam?
- Tidak. Biasanya terjadi di pagi hari.
- Mungkin karena penculikanmu
terjadi di pagi hari.
Kau menghidupkan kembali trauma itu persis seperti kejadiannya.
- Andai saja ada tombol on/off-nya. Tahu kan?
- Kita semua berharap begitu.
- Aku hanya ingin normal lagi.
- Jadi kenapa kalau kau menderita PTSD?
Sekitar 5 dari 100 orang dewasa di AS juga mengalaminya.
Kau itu normal.
Kau akan melewati ini. Tetaplah kuat.
Aku ingin bertanya, apa kau melakukan sesuatu untuk menenangkan diri?
- Maksudmu? - Saat kau tertekan,
adakah sesuatu yang kau cari,
sesuatu yang membuatmu merasa lebih baik?
Maksudku, selain sesi kita.
- Aku suka lari.
- Bagus. - Membaca.
Intinya, segala bentuk pelarian.
- Apa kau pakai narkoba atau minum-minum lagi?
- Tidak. Aku sudah berhenti total.
- Itu bagus.
Aku hanya ingin memastikan caramu mengatasinya sehat.
- Ya, tentu saja. - Bagus. Aku senang mendengarnya.
Besok jam yang sama.
- Hmm.
- Kurasa setelah minggu peringatan ini berakhir,
kau akan merasa jauh lebih baik, kembali seperti dirimu yang dulu.
- Semoga ucapanmu jadi kenyataan.
- Masuk. Silakan masuk. - Hai, Dr. Richardson.
Syukurlah aku tiba sebelum badai.
- Ya.
Semoga sesi kita selesai
sebelum cuacanya memburuk.
- Maaf.
- Itu istriku.
Tenang saja. Dia tidak akan mengganggu sesi kita.
- Sejujurnya, aku tidak tahu kau menikah.
Aku belum pernah melihatnya.
Pantas saja kau memakai cincin.
- Aku punya aturan.
Dia tidak boleh terlihat saat aku sedang menangani pasien.
Aku pasti lupa memberitahunya kau akan datang lagi secepat ini.
Semoga malammu lebih baik.
- Aku melakukan hal bodoh tadi malam.
Sebelumnya aku tidak sulit untuk mulai tidur,
hanya sering terbangun karena mimpi buruk di pagi hari.
Tapi tadi malam jantungku berdebar
dan pikiranku sangat kacau.
Dan aku... hampir saja minum-minum lagi.
- Tapi kau tidak melakukannya.
- Tidak. - Itu bagus.
- Aku minum beberapa pil.
Aku tahu apa yang kau pikirkan,
tapi aku tidak bisa menahannya.
Aku melakukannya agar bisa tidur.
- Jadi, bagaimana tidurmu?
- Aku tidak begitu ingat saat tertidur.
Sejujurnya aku bahkan tidak ingat bangun
dan menyetir ke sini hari ini.
Hari-hariku terasa...
agak kabur sekarang.
- Begini, minum pil hanya untuk bisa tidur
mungkin terasa hebat saat itu juga.
Tentu, berhasil kan? Tidur nyenyak.
Tidak ada mimpi buruk. Hanya solusi instan.
Tapi itu takkan memberimu hasil akhir
yang dibutuhkan untuk melangkah maju.
Dan bagimu, itu bisa menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.
- Rasanya enak sekali.
- Tentu saja.
Generasimu memang selalu suka
jalan pintas.
Tidak punya toleransi pada apa pun
selain kepuasan instan.
Namun, jika kau ingin sembuh
dan melakukannya dengan benar, jujur,
dan benar-benar kembali normal,
kau harus berjuang untuk itu.
Kau harus melawan lagi.
Kau ingat saat kita mencoba hipnoterapi sebelumnya?
- Iya.
- Aku tahu kau menolaknya,
tapi dalam kasus ini, kurasa itu bisa membantu.
- Aku tidak tahu.
- Kurasa kau harus mau mencobanya.
Berpikirlah terbuka.
Bersandarlah.
Ayo.
Sekarang, pejamkan matamu.
- Dr. Richardson. - Sst.
Biar aku yang memandu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Saat kau diculik, pikirkan momen
kau sadar nyawamu dalam bahaya.
Jangan lari. Tetap di hari itu.
Apa yang kau ingat?
- Aku sangat takut.
- Bagaimana dengan temanmu? - Jennifer.
- Jennifer? - Kami teman sekamar di asrama.
- Apa dia berhasil selamat?
- Tidak, tidak, tidak!
Tidak!
Tidak, jangan!
Tahu apa yang lebih baik dari sehari di pantai?
Sehari di neraka.
- Kau tidak apa-apa. Kau aman.
- Kenapa kau lakukan itu?
- Ini untuk mengingat kembali,
memandumu melewati kejadian hari itu
dan membawamu ke akhirnya
agar kau bisa melihat kau berhasil.
Bahwa kau melawan.
Dengan begitu, saat kau mimpi buruk,
kau bisa melihatnya sesuai kejadian nyata.
Kau menyebut nama Jennifer.
- Ya. Bagaimana kau tahu tentang dia?
- Aku juga menonton berita.
Aku tahu kau dan temanmu diculik,
diculik dan dibawa ke hutan.
Hanya saja temanmu tidak selamat.
Saat kita membahas kejadian itu, kau tak pernah menyebutnya.
Apa karena kau hanya melihat dirimu sendiri di sana
saat mengingatnya?
- Tidak.
Itu karena aku tidak mau memikirkannya lagi.
Aku tak mau melihat bayangan itu lagi di kepalaku.
- Maaf membuatmu kembali ke sana, tapi ini penting.
Kita hentikan dulu untuk sekarang, tapi kurasa kita perlu
membahas ini lagi nanti saat kau sudah siap.
Hujannya deras sekali ya di luar?
- Aku ditelepon Patrick.
Katanya jalan di bawah bukit
hanyut total karena longsor,
dan Danau Bailey meluap.
Tidak mungkin bisa dilewati.
- Yang benar? - Jadi tidak ada jalan keluar lain?
- Sayangnya tidak ada.
Kami punya kamar tamu.
- Tidak, kurasa jangan.
- Aku tahu ini mungkin tidak pantas,
tapi Rose, aku khawatir tidak ada pilihan lain.
Aku tidak mau kau pergi
lalu terjadi sesuatu.
- Kurasa aku akan baik-baik saja.
- Patrick tinggal dan bekerja di sini.
Dia tahu apa yang dia bicarakan.
- Uh.
Baiklah. Kurasa...
- Clara, tolong pastikan kamarnya siap
dan siapkan semua keperluannya.
Maaf aku harus pergi,
tapi ada telepon penting yang harus kuangkat.
- Uh, terima kasih sudah mengizinkanku menginap.
- Tentu saja. Keselamatanmu adalah yang terpenting.
- Aku akan segera kembali.
Siap?
- Ya. Terima kasih.
- Uh, ada handuk di bawah wastafel
kalau kau mau mandi atau semacamnya.
- Tidak. Tidak perlu, tapi terima kasih.
- Um, ada selimut di sini
kalau kau kedinginan di tengah malam.
- Um. - Terima kasih.
- Apa ada lagi yang kulupakan?
Uh, kau sudah makan? Lapar?
- Aku tidak apa-apa. Terima kasih.
Aku sangat menghargainya.
- Ngomong-ngomong, aku Clara Richardson.
- Rose. Rose Yardley.
- Rose. Nama yang indah.
- Terima kasih. Ibuku suka sekali
film tentang kapal yang tenggelam itu.
- Oke, selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak.
- Uh, kau juga. Terima kasih.
Enak sekali jadi bajingan kaya.
Handuk di bawah wastafel.
- Tolong!
Tolong!
Astaga.
- Maaf.
Kami... kami merawat Na...
maksudku, putri Dr. Richardson yang sakit
dan dia sering gelisah di malam hari.
Maaf. Seharusnya aku memberitahumu.
- Tidak apa-apa. Kukira ada yang terluka.
- Dia sangat kesakitan.
- Aku turut prihatin.
- Tolong jangan masuk ke kamarnya, ya?
Kalau kau masuk, dia akan bingung
dan itu bisa membuatnya sangat marah.
- Ya, tentu saja.
- Pagi. - Pagi.
- Bagaimana tidurmu? - Nyenyak sekali.
Aku minta maaf soal kejadian tadi malam.
- Apa?
- Dia mendengar putrimu tadi malam.
- Oh, oke. Maaf kalau itu mengagetkanmu.
- Tidak apa-apa.
Um, baiklah, aku akan segera berangkat.
Terima kasih, Dr. Richardson. Uh, terima kasih untuk kalian berdua.
Aku sangat menghargai keramahan kalian.
- Sebelum kau pergi, mau bicara lagi?
Kau sudah di sini. Sayang kalau perjalanannya sia-sia.
- Seharusnya aku tidak apa-apa. - Baiklah.
- Senang bertemu denganmu, Ny. Richardson.
- Aku juga.
- Dr. Richardson.
- Hati-hati di jalan. - Tentu.
Tidak, tidak.
Tidak, tidak, tidak.
Tidak, Tuhan, ini tidak boleh terjadi.
- Kau bisa merusak mesinnya kalau begitu terus.
Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kaget.
- Kau pasti Patrick, si tukang serabutan?
- Ya. Benar.
Apa pun yang dibutuhkan Dr. Richardson hari ini.
- Kalau begitu, kau pasti tahu di mana semua mayat dikubur, ya?
- Uh, apa?
- Bercanda. - Oh.
- Itu lelucon. - Oke.
Uh, aku bisa memeriksanya kalau mau.
- Ya, tolong.
- Uh, jadi aku mau mengaku sedikit.
Sebenarnya aku tidak tahu apa-apa soal ini.
- Kau serius? - Aku... sejujurnya
pura-pura tahu pun tidak bisa.
- Bagus. Bagus sekali. - Ada masalah?
Perlu di-jumper?
- Tidak, tidak, mobilnya tidak mau nyala.
Entahlah.
- Apa kau punya layanan bantuan darurat?
- Uh, tidak. Memangnya kapan aku akan butuh itu?
- Aku bisa panggilkan mobil derek,
tapi mungkin akan butuh waktu sampai mereka tiba.
- Aku bisa membayarnya. - Tidak perlu.
- Tidak, serius. Kalian sudah banyak membantu.
Biar aku saja. - Kau yakin?
- Ya, tentu saja.
- Apa kau mau masuk ke dalam sambil menunggu derek?
- Uh.
Sepertinya aku mau jalan-jalan dulu, kalau boleh.
- Tentu, nanti kupanggilkan
kalau mereka sudah mau sampai.
- Apa itu ide yang bagus?
- Patrick.
- Maksudku, properti ini cukup luas.
Aku ragu dia bisa mendengarmu.
- Kurasa aku bisa menemukan jalan kembali.
- Oke.
- Kami akan di sini.
Masuk saja lewat garasi
kalau kau berubah pikiran dan mau menunggu di dalam.
- Tentu.
- Kau harus tutup mulutmu sekarang juga.
Apa yang kau lakukan?
- Aku hanya bersenang-senang sedikit.
- Sumpah demi Tuhan, kalau kau mengacaukannya.
- Aku tidak akan mengacaukannya. Oke?
Kapan kita akan menjemput psikopat yang satunya?
- Jaga bicaramu, Patrick.
- Maksudku,
aku hanya ingin memastikan semua berjalan lancar.
- Pergi awasi dia. Oke?
- Menurutmu haruskah kita pasang lagi pompa bensinnya
ke mobil itu?
Oh. Lucu sekali.
Whoa, whoa, whoa.
- Kau hampir menabrakku.
- Kenapa kau tidak dengar aku datang?
- Aku hanya melamun sebentar.
- Oke.
- Jadi, semua ini banjir tadi malam?
- Tidak, banjirnya lebih ke bawah.
Jalannya sedikit lebih rendah,
jadi sering banjir kalau, um,
sering banjir kalau ada badai besar seperti itu.
- Kau sedang apa di sini?
- Aku... aku mau menjemputmu
dan membawamu kembali ke rumah.
- Aku tidak apa-apa. Terima kasih. - Kau yakin?
Karena turun ke jalan ini mudah,
naiknya yang susah.
Kau yakin?
- Baiklah.
- Kau tidak apa-apa?
- Makasih.
- Jadi sudah berapa lama kau, uh, dengan Dr. Richardson?
- Kurasa itu bukan urusanmu.
- Maaf. Aku hanya penasaran.
- Ya. Rasa penasaran membunuh kucing.
- Begitu juga dengan kesombongan.
- Maksudmu? - Aku hanya bercanda.
Aku hanya menggodamu.
Tidak, aku hanya sudah melihat beberapa pasiennya datang dan pergi.
- Lucu sekali, aku sudah menemuinya hampir sebulan,
dan aku belum pernah melihatmu sekali pun.
- Sebulan. Kutebak kau akan percaya padaku dan memberitahuku.
- Apa urusannya denganmu?
- Seperti yang kubilang, aku hanya penasaran.
- Ya, kalau kau sudah melihat banyak pasien,
apa ada yang benar-benar gila?
- Uh.
Tentu saja. Ada banyak.
Ada yang mobilnya tidak mau menyala.
- Ada satu yang mobilnya tidak mau menyala.
Dia benar-benar sinting.
- Uh-huh.
- Baiklah, aku ada pekerjaan. - Silakan.
- Mau teh?
- Aku tipe orang yang minum teh di pagi hari.
Jarang minum di sore hari.
- Anggur?
- Uh, apa tidak terlalu pagi untuk minum?
- Kau pasti tidak punya anak.
- Kau hanya punya anak tiri?
- Tidak, aku punya anak laki-laki.
- Bukan tiri?
- Bukan, dia anakku dari pernikahan sebelumnya.
Ayahnya pergi saat anakku baru umur 10 tahun.
Aku melajang cukup lama
lalu aku mulai menemui seorang terapis
dan kebetulan jatuh cinta padanya.
- Dr. Richardson?
- Mm. Ya.
Dia punya seorang putri dari pernikahan sebelumnya,
tapi... mantan istrinya meninggal saat putrinya masih bayi.
Jujur saja, kurasa itulah yang membuatnya kacau
sejak awal.
Kau tidak apa-apa? Kau kelihatan agak tegang.
- Tidak, hanya saja, aku belum pernah
dalam situasi seperti ini sebelumnya.
Uh, menginap di rumah terapismu,
terjebak di sini karena mobilku.
Ini... ini agak aneh.
- Ya, aku bisa membayangkan bagaimana rasanya,
menjadi orang asing, harus menginap di rumah orang lain.
- Ya, apalagi saat kau bangun
dan tidak tahu di mana kau berada.
Ini... ini sangat aneh.
- Apa kau masih sering mimpi buruk?
- Maaf?
Apa Dr. Richardson memberitahumu?
- Kami baru mendapat kabar seorang mahasiswi VU ketiga
telah diculik. Itu berarti tiga penculikan
hanya dalam sebulan.
Karena hal ini, pihak kampus
menangguhkan semua kelas...
- Apa yang kau lakukan?
- Uh, ini... ini hanya anggur.
Dia... dia yang menawari, jadi aku tidak mau bersikap kasar.
- Bisa tolong aku?
Tolong tunggu sebentar di ruanganku?
Aku perlu bicara dengan istriku.
Aku sudah menelepon mobil derek. Mereka akan segera tiba.
Ada apa denganmu?
- Caramu jelas tidak berhasil.
- Clara, kau tidak tahu apa yang kau lakukan.
- Dan kau tahu?
Sebaiknya kau suruh dia duduk.
- Kenapa? Apa yang kau lakukan?
Rose.
- Apa yang ada di dalam anggur itu?
- Tolong!
Tolong!
Tolong!
Sst, sst. - Siapa kau? Siapa?
- Sst, sst. Tenang.
Aku Rose.
Aku akan membawa kita keluar dari sini.
Oke? Sst, tenang.
Kau harus tenang.
Apa kau... apa kau mahasiswi
yang diculik tadi malam?
Sst!
Ayo.
- Nanti dia melihat kita kabur. - Dia? Siapa yang menculikmu?
- Kejadiannya cepat sekali.
Ada seorang pria, dia lebih muda,
mungkin sedikit lebih tua dariku.
Kau diculik juga?
- Aku... aku dibius.
Sekarang, saat kau keluar jendela,
kau harus lari sekencang mungkin, oke?
- Oke.
- Lari sekarang.
Sial!
- Ini konyol. Bagaimana bisa kau lakukan ini?
- Sst. Diam. - Apa?!
- Bisa diam tidak? Aku tidak bisa berpikir.
- Ini semua salahmu.
Kenapa kau membiusnya sekarang?
Itu bukan bagian dari rencana.
Kau akan merusak segalanya.
- Oh, beraninya kau bicara soal merusak segalanya.
Apa kau sempat mengikatnya
saat kau menaruhnya di sana?
- Darah ini akan ada di tanganmu.
- Ini tidak mungkin terjadi.
- Kita tidak bisa berhenti. - Sial!
- Kita tidak boleh berhenti.
Ayo. - Kurasa
aku tidak bisa berlari. - Tolong dicoba?
- Tahu tidak apa yang lucu?
Aku selalu menertawakan orang-orang bodoh.
- Bersandarlah padaku. Kita harus pergi.
- Kita harus berhenti. - Kita tidak bisa berhenti.
- Kita harus! - Sialan.
- Kakiku rasanya seperti mau copot.
Aku sudah tidak mendengar mereka lagi.
- Kita harus keluar dari hutan ini. Percaya padaku.
- Bagaimana kau tahu arahnya?
Aku tidak melihat apa-apa.
Aku ingat pria itu menyeretku dan memasukkanku ke bagasi.
Tahu-tahu aku sudah di tempat tidur itu, terikat.
Pasti aku dibius juga, entahlah.
- Di bagasi? - Ya.
- Ini rumah terapismu.
- Apa? - Dr. Richardson.
Kau kenal dia?
- Sepertinya tidak.
- Ini tidak mungkin terjadi lagi.
- Maksudmu?
- Ini bukan pertama kalinya aku diculik.
- Apa?
- Tahun lalu, seorang pria membawa aku dan temanku
ke tengah hutan
dan memburu kami seperti binatang jalang.
- Astaga. Aku tahu wajahmu tidak asing.
Aku pernah melihatmu di berita. Kau kuliah di VU juga.
- Mereka tidak pernah menangkapnya.
Itulah kenapa aku jadi sekacau ini.
Makanya aku mulai menemui terapisku.
Aku menginap karena badai sialan itu.
Dan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
- Kau ada di sana tadi malam?
Aku dengar seseorang bicara di luar pintu.
- Apa itu kau? - Ya.
- Tunggu, apa kau yang menangis tadi malam?
- Aku sangat takut. Aku tidak mau berkata apa-apa.
Tapi setelah terdiam di sana semalaman,
aku merasa harus mencoba.
- Apa kau pindah kamar? - Tidak. Kenapa?
- Istri Dr. Richardson jelas-jelas
tidak mau aku masuk ke salah satu kamar itu.
- Ada gadis lain diculik minggu ini.
- Benar juga.
- Jadi mereka tidak pernah menangkap pria
yang melakukan ini padamu sebelumnya?
Apa dia yang mengejar kita, atau terapismu?
- Bukan.
Aku takkan pernah lupa wajah pria itu,
tapi aku menemukan berkas tentangnya di kantor terapismu.
- Tentang siapa?
- Pria yang membunuh temanku.
- Penculik pertamamu adalah pasien terapismu?
- Ya.
- Ini tidak masuk akal. Semua ini tidak masuk akal.
Aku tidak tahu kenapa ini terjadi.
Aku tidak tahu kenapa kita di sini.
Dan bisa saja mereka bekerja sama
untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai.
Yang kutahu, kita harus enyah dari sini.
Oke?
- Ya?
Jangan khawatir.
Menurutmu apa yang kulakukan di sini?
Aku tahu itu.
Jangan.
Oh.
- Aku akan segera kembali, oke?
- Jangan. - Sst.
Tidak lagi.
- Tolong, jangan panik.
- Tolong, tolong biarkan aku pergi.
- Kau harus berhenti.
Dengar, aku di sini hanya untuk membantumu.
- Apa ini?
- Trauma yang kau derita itu nyata.
- Kau pikir aku tidak tahu itu?
Aku mengalaminya langsung.
Sekarang apa? Kau mencoba menghukumku lagi?
Aku tahu pria yang mencoba membunuhku
adalah salah satu pasienmu.
- Aku tidak tahu itu sebelumnya.
Aku baru sadar setelah sesi kita tadi malam.
- Apa?
Bagaimana?
- Aku ingin kau menonton sesuatu.
Sebaiknya pikirkan sesuatu yang positif, yang membahagiakan.
Seperti sehari di pantai.
- Tahu apa yang lebih baik dari sehari di pantai?
Sehari di neraka.
- Aku tidak mengerti.
- Kau mengucapkan hal yang sama persis tadi malam.
Pembunuh itu mengatakannya padamu. Arthur Moore.
Itulah kenapa aku mengeluarkan berkasnya.
Aku harus menemukannya.
Fase terakhir.
- Fase terakhir? Apa maksudmu?
- Ini, tonton ini.
Dari sesi pertama kita.
- Aku... aku minta maaf.
Ini canggung bagiku.
- Tidak apa-apa. Aku di sini hanya untuk membantu.
- Aku sudah mencoba mengatasi ini dengan cara lain.
Al... alkohol, narkoba, apa pun yang bisa kudapatkan.
Aku hanya ingin membuatnya mati rasa.
- Aku mengerti.
- Andai saja ada cara
untuk bisa mengatasinya.
Benar-benar melanjutkan hidup dan menyelesaikannya.
Aku merasa... aku merasa siap untuk melepaskannya, tapi
pikiranku, tidak mengizinkanku.
- Bagaimana caramu mengatasinya
dan melanjutkannya?
- Aku tidak tahu.
Aku hanya berharap bisa melakukannya secara berbeda
tapi lebih buruk,
Andai saja aku yang membunuhnya.
Dia masih di luar sana.
Itu tidak membuatku tenang sama sekali.
Meskipun aku selamat,
aku terus menunggu... - Tolong, tolong!
- Lepaskan aku. - ...menunggunya kembali menjemputku.
- Apa ini sering kau pikirkan?
- Aku tidak mengerti!
- Kau ingin cara untuk merasa sembuh.
- Apa? - Jika diberi kesempatan
untuk menyakiti Arthur, seperti yang kau katakan,
apa kau akan melakukannya?
Apa itu akan membantumu?
- Kau gila.
- Tolong. - Seseorang tolong aku!
- Tolong aku! - Tidak ada yang bisa mendengarmu.
- Aku akan lepas dari ikatan ini
lalu akan kuhajar kau,
dan setelah itu aku akan merasa sembuh!
Tolong! Seseorang tolong aku!
Tolong aku!
- Ini akan berhasil. Ini akan berhasil.
Kau hanya akan duduk di sana?
- Oh, aku menyerah.
Nathaniel. - Kau akan lama di sini.
- kau akan lama di sini.
- Tidak, aku tidak sanggup lagi.
- Seharusnya aku tahu akan seperti ini.
Sst, sst.
Sst, sst.
Hei, aku mencoba membantumu, oke?
Tapi kau harus janji akan diam, oke?
Sst, sst.
Kalau aku mau membunuhmu, apa aku akan melepaskanmu?
Tidak. Sst.
- Tadi kau mengejar kami.
Gadis itu, Tawny, bilang kau yang menculiknya!
- Itu karena dia yang menyuruhku.
- Omong kosong. - Tidak.
- Kau sekongkol dengan Dr. Richardson.
- Tidak.
Kau harus percaya padaku. Oke?
Aku takkan melakukan ini kalau bukan karenamu.
- Karenaku? - Ya.
- Dr. Richardson adalah ayah tiriku, dan Clara adalah ibuku.
- Apa?
- Di mana kesetiaanmu pada keluarga ini?
Bagaimana dengan mencintaiku dalam suka dan duka?
- Oh, apa kau sudah menepatinya? Bagaimana dengan anakku?
Anakku, Nathaniel.
Apa kau sudah memberinya rasa hormat yang layak?
Kau pikir aku suka melihatmu memperlakukannya seolah dia tak berharga?
- Anakmu tidak tahu apa-apa soal rasa hormat!
- Oh, hormat! Kau pasti bercanda, Nathaniel.
Lihat perbuatanmu sendiri.
- Mereka menikah beberapa tahun lalu.
Dia tidak pernah menginginkan anak tiri. Dia tidak pernah menyukaiku.
Semuanya hanya tentang putrinya yang berharga.
- Apa benar ada seorang putri di kamar sebelah itu?
Atau itu hanya gadis yang kau culik?
- Dia orang jahat. Oke?
Dia harus dihentikan.
Tolong, jangan.
- Di mana Tawny?
- Dia...
Dia sudah tewas.
Dia tewas.
Maafkan aku. - Tidak.
Kaulah yang membunuh para wanita ini, kan?
- Bukan.
- Apa kau membunuh gadis-gadis itu? - Bukan.
Bukan. Aku hanya membawa mereka ke sini.
Aku tidak... aku tidak membunuh mereka.
Aku tidak membunuh mereka.
- Apa itu Arthur?
Apa dia yang memburuku dan membunuh temanku?
Kau bilang sudah melihat banyak pasien.
Apa kau pernah melihatnya di hutan itu?
- Oke. Aku mau membantumu, oke?
Dokter...
Tolong. Dr. Richardson sangat hebat dalam pekerjaannya, oke?
Caranya masuk ke dalam pikiranmu
dan mengacaukannya
seperti mengaduk-aduk otakmu, oke?
Hipnoterapi sialan itu, berhasil.
- Kau bukan pria yang kunikahi.
Ini bukan keluarga yang kunikahi!
- Lihat aku!
- Bunuh aku.
- Clara. Letakkan itu.
Maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu.
- Aku tidak sanggup lagi.
Aku tidak bisa hidup seperti ini, Nathaniel!
Kau telah menghancurkan hidup kita.
Kau telah menghancurkan keluarga kita.
Lihat perbuatanmu pada Patrick.
Lihat kau telah mengubahnya jadi apa!
- Aku hampir berhasil mengakhiri ini.
- Aku tidak sanggup hidup seperti ini sedetik pun lagi!
- Tidak. Seharusnya tidak seperti ini!
- Ibu.
Di mana... di mana ibuku?
- Patrick, menyingkir.
- Di mana dia?
- Patrick, menyingkir.
- Tidak. - Patrick.
Satu.
Dua. Tiga.
- Ibu! Apa yang kau lakukan padanya?
- Aku tidak sengaja, dia mencoba menusukku.
Kalian berdua, tolong berhenti.
- Astaga. Kita harus membawamu ke RS.
- Tidak, Patrick, kita harus selesaikan ini sekarang.
- Ada yang mau memberitahuku
apa yang sebenarnya terjadi?
- Ya. Dia takkan berhenti sampai dia membawa Jennifer kembali.
- Jennifer? Temanku?
- Ya.
Kita semua tahu dia sudah tiada dan takkan kembali,
tapi dia tidak bisa menerimanya.
- Diam. Jangan dengarkan dia.
- Bagaimana kau tahu tentang Jennifer?
Apa dia yang memberitahumu?
- Jennifer adalah putrinya.
- Apa?
- Itu benar.
Dia tidak bisa merelakan apa yang terjadi padanya.
- Jadi ini tentang itu?
Kau pikir aku ada hubungannya dengan itu?
Kau pikir aku membantunya membunuh putrimu?
- Tidak. Aku tahu Arthur beraksi sendirian.
- Lalu apa maumu dariku?
Apa karena aku selamat dan dia tidak?
Apa karena itu kau mau membunuhku?
- Kita harus selesaikan ini sekarang.
- Ibu, tolong.
- Tidak, Patrick, aku sudah mencoba segalanya.
Tidak ada cara lain.
- Kami tidak mau melakukan ini, tapi kurasa...
...tidak ada pilihan lain.
Semua sudah terlalu kacau
dan tidak ada jalan untuk kembali.
- Tidak.
- Patrick, tolong.
Kau bilang kau mau membantuku.
- Ini akan membantumu. Percayalah.
- Patrick, tolong.
- Lepaskan dia!
- Kau yang lepaskan dia.
- Aku tidak ingin berakhir seperti ini, Clara!
- Tolong lepaskan dia.
- Apa yang sudah dia lakukan dengan hidupnya?
Saat aku bertemu denganmu, dia bajingan 20 tahun
yang masih tinggal bersamamu.
Jennifer berusaha meraih cita-citanya.
- Jennifer sudah tiada.
Kau... kau mencoba membawanya kembali, tapi kau gagal.
- Tidak.
- Kau bisa masuk ke pikiran kami dan mengacaukan kami semua
tapi kau tak bisa membawanya kembali karena itu mustahil.
- Jatuhkan pisaunya.
- Jatuhkan pistolnya.
- Lakukan sekarang!
- Patrick!
Anakku!
Tidak, anakku! Tidak!
Patrick.
- Dia masih hidup, Clara.
Tolong biarkan aku selesaikan apa yang harus kulakukan.
- Ya Tuhan. Ya Tuhan.
Apa maumu dariku?
Kau tidak membiarkan mereka membunuhku. Kenapa?
- Kenapa? - Akan kujelaskan semuanya.
Ikutlah denganku.
- Tidak, tidak, tidak.
- Buka pintunya. - Tidak.
- Kau ingin masuk ke sana, kan?
- Tidak, kau bajingan sakit!
- Masuk. Lihat apa yang ada di dalam. - Hentikan!
Tidak!
Apa-apaan ini?
- Apa? Kenapa dia di sini? - Lihatlah sekeliling.
- Apa? Apa ini? - Lihat sekelilingmu.
Di mana kita?
- Bagaimana kau melakukan ini?
- Kau adalah Jennifer Richardson.
Bukan Rose Yardley. Kau adalah putriku.
- Aku bukan putrimu. - Clara adalah ibu tirimu.
Patrick adalah saudara tirimu.
- Aku bukan putrimu. - Kau putriku, Jennifer.
Kau putriku. - Tidak, tidak, kau salah.
Jennifer sudah mati. - Tidak, dia...
- Dia sudah mati.
Aku... aku memeluknya sampai napas terakhirnya. Dia sudah mati.
- Ini semua salahku. Maafkan Ayah, Sayang.
Seharusnya Ayah memberimu bantuan
saat kau pulang hari itu.
Kau mengalami syok.
Kau adalah Jennifer di hutan itu,
dan dia mengejarmu.
Kau adalah Jennifer saat dia membunuh teman sekamarmu.
Saat kau bangun, kau adalah Rose.
Kau tidak tahu di mana kau berada, atau siapa aku.
Kau panik ketakutan.
Itu berlangsung selama berhari-hari.
Akhirnya, aku putuskan untuk merawatmu sebagai Rose.
Aku sudah mencoba segalanya.
Aku ingin putriku kembali.
Aku menelepon keluarga Yardley untuk menanyakan
apakah mereka mau barang-barang Rose dari apartemen.
Mereka menolak. Terlalu menyakitkan bagi mereka.
Jadi kubawa semuanya ke sini,
dan aku menata ulang kamarnya untukmu agar kau merasa nyaman.
Dunia tahu Rose Yardley yang tewas hari itu.
Tapi di kepalamu, ceritanya berbeda.
Kau, Jennifer, adalah yang selamat,
tapi...
Kau pikir Jennifer yang tewas.
Di pikiranmu, memang begitu sejak saat itu.
- Jadi kau mau bilang bahwa aku sudah berpura-pura
menjadi orang lain selama setahun?
- Bukan berpura-pura.
Itu bukan salahmu. Itu adalah respons trauma.
Kau menciptakan kepribadian lain ini untuk lari dari rasa sakit
atas apa yang terjadi pada kalian.
- Jadi... jadi aku hidup di dunia ini
sebagai... sebagai orang yang sudah mati, dan tidak ada yang bilang apa-apa?
Itu tidak masuk akal sama sekali.
- Kami mengeluarkanmu dari kampus.
Kau tidak pernah meninggalkan properti ini lagi, Jennifer.
Terlalu berisiko. Orang akan menganggapmu gila.
Mereka akan mengambilmu dariku.
- Tidak.
Tidak. Kau... kau bohong.
Ini...
Menurutmu bagaimana aku bisa ke sini untuk sesi terapi?
Tidak mungkin.
Ini... ini bukan kamarku.
Kau sedang mempermainkanku. Itu saja.
Ini semua omong kosong hipnoterapi.
Kau tidak bisa terima dia sudah tiada.
Jadi kau mencoba meyakinkanku bahwa aku adalah dia.
Benar begitu?
- Kau menghabiskan waktumu di kamar ini.
Kau menonton film. Menulis di jurnalmu.
Kami membawa dunia Rose kepadamu.
Dialah yang punya masalah kecanduan, bukan kau.
Kau memberitahuku soal ini setelah kalian tinggal bersama,
menyembunyikan alkohol di bawah kasur.
Kami pastikan semuanya akurat.
Aku harus melakukannya, kalau tidak, kau akan panik.
Kau akan tahu perbedaannya.
Untuk sementara, kau baik-baik saja di dalam sini setiap hari.
Lalu kau mulai gelisah.
Aku tahu kau perlu keluar.
Jadi setiap pagi sebelum kau bangun,
Clara akan membawakan secangkir teh,
dan menaruhnya di mejamu.
Saat kau meminumnya, kami menaruh sesuatu di dalamnya
untuk membuatmu pingsan sebentar
agar kami bisa membawamu ke ujung jalan
supaya kau bisa lari pagi.
Itu salah satu hal favoritmu dulu.
Hanya itu yang menghubungkanmu
dengan dirimu sendiri, Jennifer.
Tubuhmu tahu siapa dirimu, tapi pikiranmu tidak.
- Bukan, teman sekamarku yang membawakan teh.
- Siapa nama teman sekamar barumu?
Pernah kau dengar suaranya, atau melihat wajahnya?
- Tidak.
- Berapa kali kau ingat pernah terbangun
di rerumputan sebelum lari pagi?
Kau hanya menerimanya saja, kan?
Menganggap kau sangat lelah, jadi mungkin kau pingsan.
- Oh, lalu, lalu bagaimana...
- ...pulang ke rumah?
Setelah selesai, aku akan mencarimu dan membiusmu.
Membawamu kembali ke rumah dan menaruhmu di kamar ini
supaya kau tidak tahu perbedaannya.
Aku tahu ini ekstrem.
Clara tidak menyukainya.
Ini menyita hidup kami, tapi hanya itu caranya.
Aku tidak bisa membiarkanmu melihat rumah ini di luar kamar ini.
Di kepalamu, kau adalah Rose.
Menjalankan hal yang berbeda
di saat kau belum siap,
akan menyebabkan kerusakan parah pada otakmu.
- Dan bagaimana dengan tadi malam? Badai itu.
Aku menginap di sini?
Kenapa? - Kau melompat
terlalu jauh.
Kau tidak hanya mengambil satu kepribadian lain.
- Astaga! Jennifer!
Hai.
Apa kabar? Sudah setahun aku tidak melihatmu.
Kami semua sangat sedih saat kau harus keluar dari kampus.
Bagaimana keadaanmu?
- Kau memanggilku apa?
- Uh.
Jennifer.
Kau tidak apa-apa?
Jennifer? Jennifer, berhenti.
Jennifer, berhenti.
Jennifer.
Jennifer, berhenti.
- Tangkap dia!
Ayo.
- Ayo, ayo, ayo.
- Kami tidak punya pilihan selain membawa gadis itu.
Dia mengenalimu.
Jika dia memberitahu orang lain, mereka bisa saja datang mencarimu.
Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Kami hanya akan membawanya kembali.
Aku akan mencoba hipnoterapi padanya
agar dia lupa apa yang terjadi hari itu.
Aku belum pernah berhasil hanya dalam satu sesi.
Tapi aku akan mencobanya.
Apa pun untuk melindungimu, Sayang.
Tapi kau,
kau melakukan sesuatu yang mengerikan.
- Lari.
- Kau memburu dan membunuhnya persis seperti yang dilakukan Arthur.
Kau menjadi Rose, tapi sekarang,
kau juga menjadi Arthur.
Aku tahu aku harus segera merawatmu saat itu juga.
Aku tidak bisa membiarkan ini menguasaimu. Jadi itulah yang kami lakukan.
Memasukkanmu ke mobil dan mengantarmu ke rumah
saat kau mulai bangun.
Aku membiarkanmu keluar sendiri.
Kami pikir kau akan terpicu jika melihatku.
Aku berhasil melakukannya di malam pertama.
Kau tidak tahu apa-apa.
- Halo, saya Dr. Richardson.
Senang bertemu dengan Anda.
- Dok, Dr. Richardson.
- Anda menelepon saya, ingin membuat janji temu,
dan bilang Anda kesulitan tidur.
- Ya. - Silakan masuk.
Aku akan melakukan ini lagi dan lagi.
Rutinitas yang sama berulang-ulang.
Kau adalah Rose Yardley yang menemui terapis
atas kejadian traumatis yang menimpamu
dan temanmu Jennifer.
Aku mencoba segalanya bulan itu
untuk mencoba menyembuhkanmu dari ini.
Lalu aku sadar satu-satunya hal yang membuat Rose menghilang
adalah saat kau melihat gadis itu.
Jadi kupikir, bagaimana jika aku membawa satu lagi ke sini
dan kau tidak mengetahuinya sampai kau di ruangan ini sebagai Rose.
Aku ingin melihat apakah itu akan berhasil.
Jadi aku menyusun rencana dan menyuruh Patrick mencari
gadis lain yang mirip dengan Rose,
seseorang yang bisa mewujudkan dirinya.
Tapi itu juga tidak berhasil. Kau membunuh lagi.
Jadi saat itulah aku punya ide
untuk membuatmu tetap di luar ruangan sebagai Rose.
Aku harus menemukan cara agar ini berhasil, Sayang.
Badai itu sempurna.
Kami membuatnya seolah-olah kau tidak punya tempat tujuan.
Keesokan harinya, kami pastikan mobilnya tidak mau menyala.
Aku 'mengerjai' Patrick dan Clara sedikit.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tapi itu tidak berhasil.
- Menurutmu haruskah kita pasang lagi pompa bensinnya
ke mobil itu?
- Apa kau masih sering mimpi buruk?
- Maaf?
- Memang tidak mudah melakukannya hanya dalam satu sesi.
Lalu kita sampai pada Arthur.
Dia melihatmu di sini setelah salah satu sesinya.
Saat itu juga, dia menjadi terobsesi padamu.
Dia memberitahuku tentang fantasinya akan mahasiswi ini,
tapi aku tidak pernah sadar dia merujuk pada putriku.
Aku tahu seharusnya aku melaporkannya.
Apa yang dia katakan benar-benar mengganggu, tapi aku tidak melakukannya.
Dia berhenti menemuiku beberapa minggu
sebelum dia menculik kalian berdua.
Aku tidak pernah menghubungkannya.
Aku tidak pernah sadar dialah yang menculikmu tahun lalu.
Tapi kemarin saat kau mengucapkan kalimat itu,
aku langsung tahu.
- Tahu apa yang lebih baik dari sehari di pantai?
Sehari di neraka.
- Lalu aku langsung mengerti.
Kau bilang kau ingin melakukan padanya apa yang dia lakukan padamu.
Jadi aku pergi menemuinya.
Psikopat itu masih meringkuk di rumah ibunya.
Alamat yang kucatat.
Dia bahkan tidak pernah meninggalkan kota setelah perbuatannya padamu.
Jika kau membunuhnya, kurasa kau akan membawa Jennifer kembali
dan menyingkirkan Rose dan Arthur dari pikiranmu selamanya.
Setidaknya itu teoriku.
Aku tahu aku mengacaukan semua ini, Sayang.
Aku bertanggung jawab atas kematian para wanita itu di tanganmu.
- Dr. Richardson.
- Aku hanya ingin putriku kembali.
- Tidak, tidak. Hentikan, hentikan!
Tidak, jangan!
Aku tidak percaya padamu. Hentikan.
- Lihat, Jennifer.
Lihat saja.
Ingat apa yang kau katakan?
Kau ingin melakukan padanya apa yang dia lakukan padamu.
Hanya saja kali ini, dia tidak akan lolos.
- Tidak. - Kau harus melakukannya, Sayang.
- Tidak, tidak, aku tidak bisa.
- Lihat pisaunya, Jennifer.
- Aku...
Aku Rose.
- Bukan, kau bukan Rose. Inilah yang membunuh Rose.
Inilah yang menghancurkanmu, Sayang.
- Tidak, tidak!
Aku... aku... aku melakukannya, Ayah.
Aku selamat.
- Kenapa tidak salahkan saja dia atas segalanya?
- Coba jelaskan semua luka tusuk ini sebagai bela diri.
Lagi pula, orang mati tidak bisa mengakui kejahatan.
Dunia suka segalanya disajikan dengan rapi.
- Kepuasan instan. - Tepat.
- Tapi Patrick. - Jangan khawatir, Sayang.
Ayah punya sesuatu yang akan membantumu melupakan semua itu.
Oke?
Aku sangat menyayangimu. Ayah merindukanmu.
- Aku juga sayang Ayah.
- Kenapa kau menculik saudari tirimu
tahun lalu, Patrick?
Dan membunuh teman sekamarnya, Rose?
- Karena aku membencinya.
Dia adalah putri emas
dan aku adalah anak tiri sialan yang tak pernah kau inginkan.
- Dan kenapa kau membunuh semua wanita ini sekarang?
- Hasrat membunuh setelah Rose,
rasanya... semakin kuat.
- Kenapa kau membunuh ibumu?
- Karena dia... dia tahu
dan dia akan melaporkanku.
Jadi... jadi aku menembaknya di dapur dan mengambil pistolnya
dan mengejarmu dan Jennifer,
dan kau melawanku dan merebut pistolnya
dan menembakku untuk membela diri.
- Bagus, Patrick.
Tunggu di situ, oke?
Anak tiriku, dia sudah gila.
Dia... dia membunuh semua wanita yang dilaporkan hilang.
Dia membunuh istriku. Tolong kirim bantuan.
Cepat!
- Kenapa kita di sini, Ayah?
- Ayah tahu kau punya banyak pertanyaan.
Ayah tahu ada banyak celah di ingatanmu.
Ayah akan membuatmu merasa lebih baik.
Satu.
Dua.
Tiga.
- Dor. - Hei.
- Lari paginya lancar? - Ya. Menyegarkan.
- Keren. - Makan malam apa?
- Ayah baru pesan makanan untuk kita.
- Ooh, enak.
- Seharusnya sebentar lagi sampai.
- Baiklah.
- Permisi? - Ya.
- Ketemu juga, ya? - Ya.
- Oke. - Sip.
- Jadi, aku tahu mereka tidak memberitahumu,
tapi kalau kau mau memberiku tip di aplikasi bisa atau...
- Nanti kuberikan di aplikasi. Terima kasih.
- Oke, bagus. Makasih.
- Hei!
Kau tidak berpikir bisa menyingkirkanku semudah itu, kan?
Diterjemahkan oleh: Zain Jakarta, 20 September 2025 Support at : https://trakteer.id/ZainSubs
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.