Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Diterjemahkan oleh: Zain Selamat menonton
- Sayang, jangan sampai tertinggal.
- Kakimu kan jauh lebih panjang dariku, - jadi sadar diri saja.
Satu langkahmu itu dua langkahku,
jadi maklumi oke. - Iya, maaf.
- Aku bingung harus gimana.
- Tidak usah. Aku tidak apa-apa, kok.
Aku cuma perlu pelan-pelan sebentar.
Semuanya beres, kok.
- Sayang.
Oh lihat, ada air.
Ayo ke sana.
Wow, Sayang, lemparanmu bagus juga.
Aku kagum banget.
- Makasih.
Waktu umur lima, aku ikut tim T-ball.
Jadi, ya gitu, deh. - Ah.
Mau duduk di sini sebentar?
- Boleh.
- Oh, enak banget.
Oh wow, ya.
Ya, seperti itu.
Astaga.
Enak banget rasanya.
Jared, kamu mau ngapain?
- Nikmati saja.
- Tidak mau.
Kita tidak akan melakukannya di hutan.
- Ayolah, Tina.
Pasti seru.
- Nanti kalau ada yang lihat gimana?
- Tina, lihat sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa di sini.
Kita di tengah hutan.
- Suara apa itu?
- Aku tidak dengar apa-apa.
- Jared, berhenti.
Aku dengar sesuatu.
- Sayang, tidak ada apa-apa di sini.
Kita aman.
- Astaga, Jared!
Astaga, jangan!
Tolong!
- Hei, bung.
- Hei. - Minta satu botol, ya.
- Siap. - Makasih.
- Ini dia. - Makasih banyak.
- Sama-sama.
- Hei, sob. Apa kabar?
- Wih, sobatku.
Senang ketemu kau, bro.
- Sama, senang ketemu kau juga.
Jadi, gimana nih?
Gimana kabarmu?
- Ya tahu, lah, gitu-gitu saja.
Kerja, tagihan.
- Aku paham banget rasanya.
- Astaga. - Pasanganmu gimana?
- Oh, dia hebat, bro.
- Bagus, bagus. - Dia hebat banget, bro.
Aku beruntung banget dapat dia, paham kan?
- Oh, jelas. Pertahankan itu.
- Tapi, Kelly gimana?
- Tahu, kan, dia itu agak liar.
Harus selalu diawasi, tahu kan?
- Tapi dia baik juga, kan?
- Ya, dia baik-baik saja.
Dia suka pesta dan semacamnya.
Sifat gilanya lagi keluar.
Kadang enak juga diam di rumah dan santai,
kau paham, kan? - Aku paham.
Kau harus jinakkan macan itu, ya?
- Itu bahkan belum ada apa-apanya.
Tapi dia gadis yang baik.
Dia gadis yang baik.
Dia baik.
Aku akui itu, tapi ya gitu, deh.
- Jadi, kapan kau seriusin dia?
- Oo, baru enam bulan?
Tidak mungkin, lah.
Belum sejauh itu.
- Ya, ya, aku paham.
- Dan Oreo Lapis Ganda-nya lengkap sudah.
- Astaga. - Oh.
- Apa kabar, sob?
Gimana kabarmu?
- Perlu potong rambut, - tapi aku baik-baik saja.
- Tidak perlu potong rambut, kok.
- Abby gimana?
- Dia baik.
Ya, ya, dia baik-baik saja.
Hubungan kami lagi agak renggang,
tapi kami akan baik-baik saja.
- Oo. - Akan baik-baik saja.
- Kau tidak apa-apa, sob?
- Akan baik-baik saja. - Uh huh.
- Maksudku, ada masalah, - tapi sedang kami selesaikan.
Tapi, kalian gimana?
- Oh, kami tadi lagi bicarakan
soal Jack yang mau nikahi Kelly.
- Whoa, whoa, enak saja, ralat itu.
Kami bicara soal Jack yang tidak akan nikahi Kelly dalam waktu dekat.
- Astaga. - Bukan.
- Whoa, whoa, whoa, whoa.
- Kenapa tidak?
- Terima kasih. - Ayolah, jangan salah paham.
Dia gadis yang baik.
Gadis yang hebat.
Aku akan langsung menikahinya,
tapi sifat gilanya lagi keluar sekarang
dan dia harus tenang dulu
sebelum kami bisa lebih serius, tahu kan?
- Bro, dengar, pegang tanganku.
Sini, ayo. - Baiklah.
Tanganmu harus pakai pelembap.
- Kau dapat yang hebat. - Aku tahu.
- Kau dengar aku? - Mm hm.
- Oke?
Dan kau sangat beruntung dapat dia.
- Kami juga baru bilang begitu.
- Uh huh.
- Ya, lucu kita sepemikiran, kan?
- Oh ya, amit-amit, deh. - Astaga, bro.
- Dengar, kalian mau minum?
- Ya, sob, aku mau bir.
Terserah kau saja. - Sama.
- Oke, tunggu ya. - Sip, bro.
- Aku masih ada. - Bung, tambah dua lagi, ya.
- Siap.
- Ah, makasih, sob. - Sama-sama.
Kawan-kawan.
- Hei.
Aku bawa hadiah. - Oh, makasih, sob.
- Satu untukmu, satu untukmu.
- Hei, makasih. - Ya.
- Penuh banget, ya?
- Benar, ya, sampai penuh
ke bibir gelas. - Hampir.
- Jangan bilang keras-keras.
- Ya.
Oke, jangan sampai ada yang tumpah, ya.
- Cole sudah melakukannya. - Jadi, ya, gawat.
- Aduh.
- Kau menyalahkanku.
- Oh ya, tentu. - Mm hm.
Tunggu, tahan, tahan, tahan.
Bukan.
Bersulang, oke?
Untuk kita yang dapat pasangan di luar liga.
- Hei, oke, boleh juga.
- Boleh juga.
Mm.
- Enak. - Oh, ya?
- Ini bir kesukaanku.
- Oke, ambil saja. - Astaga.
- Siapa yang main duluan?
- Jadi, ya.
Kau dan aku main duluan karena dia menumpahkan minumannya,
jadi Cole melawan pemenangnya.
- Oke, sip.
- Baiklah. - Kau yang mulai.
- Siap.
- Sudah siap? - Oke, mm hm.
- Mm.
- Ayo, kita mulai.
- Ayo, Chris.
- Cole, tolong hari ini jangan aneh-aneh.
- Pemandu sorak. - Ya Tuhan, Lee.
- Sempurna. - Mulus, keren.
- Jadi, kerjaan gimana, Cole?
- Aku dapat promosi, sob,
artinya bebanku jadi dua kali lipat,
tapi gajinya mantap banget.
- Hei, itu bagus, sob.
Selamat, ya.
- Ya, bagus untuk rekening bank,
tapi itu alasan kenapa ada masalah
dalam hubunganku.
Lembur terus itu menyebalkan.
- Sob, Abby harus tahu kalau kau mau maju
di dunia ini, harus ada pengorbanan, kan?
- Ya, dia paham.
Bukan berarti dia suka.
- Ya, aku paham itu.
- Ya, tapi dia ingin jalan-jalan,
dan aku juga, hanya saja kita belum mampu
dan belum ada waktu untuk jalan-jalan untuk sementara ini.
- Oh hei, kau masih ikut
acara kemah minggu depan, kan?
- Ya, ya, tentu kami ikut...
Maksudku liburan yang lama, mingguan.
Kami belum bisa melakukannya sekarang,
tapi itu membuat kami berdua frustrasi.
- Nanti juga membaik, sob. Santai saja.
- Ya, aku tahu, sob,
dan kami sangat antusias untuk pergi kemah.
Kurasa itu akan baik untuk kami berdua
untuk pergi dan habiskan waktu berkualitas bersama.
- Sabar saja, kawan.
- Ya, ya, tentu, sob.
Dan semuanya akan baik-baik saja, tahu maksudku, kan?
Semua orang pasti alami masa sulit.
Semua pernikahan dan hubungan juga begitu.
- Meski begitu, kami mendukungmu, oke?
- Sebenarnya, kawan...
Kayaknya ada yang mau kusampaikan.
- Apa?
- Astaga, tapi kalian harus
jaga rahasia ini baik-baik.
- Oke, apa?
- Bukan, bukan, aku serius sekali.
Maksudku, nanti kalian harus pura-pura sangat terkejut
saat mendengarnya, oke?
- Oke, kami paham.
Ya, ayo, katakan saja.
Memangnya apa?
- Cole, apaan sih, bung?
Maksudku...
- Oke... - Katakan.
- Ya, kalian siap? - Ya, katakan, mm hm.
- Abby hamil.
- Oh, sial.
- Cuma itu?
- Oke, itu keren banget, bung.
Itu kabar baik, kan?
- Ya, maksudku, kami memang agak mencoba.
- Agak?
- Kami berhenti pakai alat kontrasepsi,
dan kami pikir kalau terjadi ya terjadilah
dan itu terjadi.
- Wah, hebat.
Selamat, ya, kan?
Harus kuakui itu mungkin akan menambah
banyak beban pada hubungan, tapi...
- Menurutmu?
- Maksudku, ya, sob.
Kau pernah lihat orang punya anak?
Maksudku, kau beri makan, ganti popok, dan segala macamnya,
lalu bagaimana kalau dia tidak tidur?
Lalu kau kerja, lembur,
dan tidak ada waktu luang selama tiga tahun, sob.
- Um, ya, kedengarannya melelahkan,
dan ya, kurasa aku tak memikirkan itu.
- Dengar, oke, ini akan sulit,
tapi akan sepadan, oke?
Aku yakin.
- Aku hanya berpikir ini akan membuat
kami lebih dekat, tahu kan?
- Cole, jangan terlalu dipikirkan, oke?
Ini hal yang baik, oke?
- Ya, ya, benar.
Kau benar.
Tapi kalau kalian bilang soal bayi ini,
akan kubunuh kalian.
- Jadi, kemah.
- Jangan bilang ke cewek-cewek, aku serius.
- Cole, tenang, santai, oke?
Tak akan ada yang bilang pada siapa pun, oke?
Dan soal kemah, kita pasti jadi, tentu.
- Ya, ya, sangat antusias.
Tapi soal Kelly, aku tak tahu.
Dia belum pernah kemah sebelumnya.
- Serius, belum pernah sama sekali?
- Tidak, sob.
Kau tahu kan cewek kota.
Mereka tak suka tangannya kotor.
- Kalau begitu, dia akan bersenang-senang bersama kita.
- Ya, aku yakin dia akan bersenang-senang,
tapi dengar, kuncinya dukungan, oke?
Aku senang dia mau ikut.
- Dengar, aku yakin dia akan
bersenang-senang, oke?
Dia akan bersama kita, jadi...
- Aku akan ambil van hari Kamis, oke?
Mampir jemput kalian pagi-pagi,
lalu kita berangkat dari sana.
Bagaimana?
- Ya, sob. - Oke.
- Baiklah, ayo kita lanjutkan permainannya.
Oh.
- Oh, halo, uh... - Hai.
- Ada yang bisa kubantu?
- Aku yakin kau bisa.
Namaku Lisa.
- Jack.
- Jadi, aku sudah memperhatikanmu
dan aku sudah putuskan bahwa aku akan
membawamu pulang malam ini.
- Aku sangat tersanjung mendengarnya.
Tapi, aku punya pacar yang cantik dan sangat setia
dan keren di rumah,
jadi dengan hormat harus kutolak.
- Sayang sekali.
Padahal aku mau ajak temanku Samantha untuk ikut.
- Oh.
Oh, wow.
- Ya.
- Oke... - Kalau kau berubah pikiran,
telepon aku.
- Bro, apa-apaan itu?
Apa itu tadi benar-benar terjadi?
- Bro, itu gila.
Dia tadi bohong atau serius?
- Siapa tahu?
Siapa peduli?
Lumayan untuk naikin ego dan kita lanjut lagi, ya?
Ayo main.
- Ya, mereka semua sangat antusias soal kemah ini,
tapi aku tidak terlalu tertarik.
- Kau tak akan tahu kalau tak mencobanya.
- Aku tahu.
Aku melakukannya hanya demi Jack.
Dia suka, dan aku tahu sudah lama sekali.
Aku hanya takut berada di alam liar saat malam.
- Aku mengerti.
Tapi, apa hal terburuk yang bisa terjadi?
- Aku tidak tahu.
- Kurasa itu hanya
ketakutan tak beralasan, Sayang.
- Menurutmu?
- Ya, menurutku begitu.
Orang sering melakukannya.
Bahkan ada orang yang benar-benar tinggal
di hutan sepanjang waktu.
- Kurasa kau benar.
Seperti kubilang, aku melakukannya demi Jack.
- Jadi, ada apa lagi?
- Tahu kan, hanya tagihan dan pekerjaan.
- Bagaimana pekerjaanmu?
- Baik-baik saja.
Bukan yang benar-benar kuinginkan,
tapi tak apa-apa, kurasa.
- Bertahanlah
sampai kau dapat kesempatan besarmu.
- Tentu.
Bagaimana kabar Ayah?
- Kadang dia baik-baik saja,
kadang juga tidak.
Hari ini kurang baik, tapi kami bertahan.
Tadi dia menatapku lekat-lekat
dan tak tahu siapa aku.
Menyedihkan sekali melihatnya seperti itu.
- Ya, menyedihkan.
Kuharap aku bisa di sana untuk lebih membantumu.
- Tak apa-apa, Sayang.
Kau pindah ke sana agar bisa
membangun kariermu, dan Ibu mengerti.
Kami baik-baik saja di sini.
- Ibu merasa kesepian? - Ya.
- Maafkan aku, Bu.
Aku tahu seharusnya aku lebih sering menelepon.
Di sini selalu sibuk sekali.
- Kau tak perlu minta maaf.
Akan lebih baik jika kau lebih sering menelepon, tapi Ibu mengerti.
Dengar, Sayang, Ibu harus menyuapi ayahmu.
Nanti kita bicara lagi.
- Ya, Bu.
- Cobalah bersenang-senang di perjalananmu.
- Tentu, Bu.
Aku sayang Ibu. - Ibu juga sayang kau.
Dah.
- Dah.
Jadi, coba jelaskan lagi, apa yang terjadi saat kita kemah?
- Menyenangkan.
- Ya, kita bakar marshmallow,
cerita seram, mendaki di hutan.
- Kedengarannya mengerikan.
Teman-teman, kurasa aku tak akan suka ini.
- Ayolah, Sayang.
Beri kesempatan, oke?
Mencoba hal baru itu menyenangkan.
Selain itu, kau mungkin akan menyukainya.
- Ya, tapi aku punya tempat tidur yang hangat dan nyaman di rumah.
Kau mau aku tidur di tenda di atas tanah.
Aku tak mengerti daya tariknya.
Dan bagaimana kalau ada hewan, seperti beruang, mencoba menyerang kita?
- Ini namanya menyatu dengan alam, oke?
Seperti hidup di zaman dahulu kala.
Menangkap dan memasak makanan sendiri, hidup dari alam.
Itu membantu kita menghargai apa yang kita miliki sekarang.
Dan Kelly, tak ada beruang di hutan ini.
- Kurasa.
- Hei, kalau itu membuatmu lebih baik,
dulu aku merasakan hal yang sama sepertimu,
lalu aku mencobanya dan aku suka.
Ini membantumu sedikit lebih dekat
dengan alam tanpa gangguan dari luar.
- Ya.
Tunggu sampai kau lihat langit di malam hari.
Luar biasa.
Kau tak akan sadar betapa banyak bintang
sampai kau melihatnya di hutan
tanpa lampu kota yang mengganggu.
- Kedengarannya menyenangkan juga.
- Lihat, kan?
Dengar, kurasa kau akan menyukainya.
Ngomong-ngomong, makasih sudah melakukan ini bersamaku.
- Sama-sama.
- Hei, berapa lama lagi kita sampai?
- Umurmu delapan tahun?
- Jangan galak. - Sekitar 20 menit.
- Oke, maaf.
Aku hanya bersemangat, kawan.
- Kau lucu sekali.
- Oke, tapi bagaimana dengan Jason?
Bagaimana kalau Jason ada di hutan ini dan mencoba membunuh kita semua?
- Sayang, Jason itu tidak nyata.
- Aku tahu Jason tidak nyata, Jack,
tapi bagaimana kalau ada orang seperti Jason
yang tinggal di hutan yang kita tuju ini.
- Sayang, tidak ada Jason atau siapa pun
seperti Jason di sini atau di mana pun, oke?
Aku janji. - Oke.
- Kita sampai, teman-teman.
Astaga, akhirnya.
- Woo! - Ugh.
- Kita sampai. - Makasih, Sayang.
- Tentu, Sayang.
Oo.
Dengar, tolong pegangi ini.
- Tentu.
- Oke.
- Oke, hei, hei.
Ingat, semuanya,
kita di sini untuk bersantai akhir pekan ini
dan bersantai ria, jadi serahkan ponselnya.
- Bersantai ria?
Ayolah, bung.
Kau lebih baik dari itu. - Ya, ya.
Ponsel, ponsel. - Astaga.
- Percayalah, kau akan selamat tanpa mengecek
ponselmu setiap 30 detik.
- Aku tidak bawa ponsel.
- 100% benar, kawan-kawan. - Mm.
- Kau hampir menipuku.
- Kuterima. - Oh, kau dapat, Sayang?
- Ya. - Oke.
- Oke, ayo.
- Hei, kau yakin vannya aman parkir di sana?
- Di sana? Ya, aman.
Paling hanya dua mobil yang lewat sini.
Kita di tempat terpencil, jangan khawatir.
- Oke. - Oke?
- Hei, teman-teman, tunggu!
- Ayo! - Dasar lamban!
- Oke,
sepertinya ini tempat yang bagus, bagaimana menurutmu?
- Ya, bung, lihat.
Kita tak perlu jauh-jauh untuk memancing.
- Benar, kan? - Uh huh.
- Oke, kita berkemah di sini saja.
- Oke, ayo kita mulai.
Bisa, Sayang? - Ya.
- Aku masih tak percaya kalian membawaku ke sini.
- Kau akan baik-baik saja.
- Ini punyamu. - Astaga.
- Oh, makasih. - Tahu tidak?
- Ya, selagi kalian mendirikan tenda,
aku akan duduk di sini saja.
- Oh, makasih. - Aku akan menonton.
- Kok kita bisa apes begini?
- Oke, teman-teman.
- Kalian benar-benar akan duduk di sana, ya?
Oh, oke.
Paham.
- Apa itu... - Tentu saja.
- Apa itu...
- Oh, sial.
- Oh.
- Tahu tidak, ini sebenarnya cukup damai.
- Mm hm.
Kubilang juga kau akan bersenang-senang.
Lihat saja nanti.
- Oh, tunggu, teman-teman,
siapa yang mau Voodoo vodka?
- Aku! - Nah, kan.
- Oke, aku dulu, aku dulu.
Antre. - Baiklah.
Silakan, Sayang.
Oke, Sayang, ini dia.
Woo!
- Enak, lho.
- Yo! - Siapa itu?
- Kau tahu aku pasti mau.
- Tentu saja. - Woo!
- Hei Cole, bro?
Hei, kau bawa makanan apa untuk dimasak malam ini?
- Kita akan makan
burger nabati kacang hitam.
Nanti kita panggang di atas api.
- Kau serius, bro?
- Apa? Rasanya enak, kok.
Kami suka.
- Kami?
Bukan, bukan.
Kami siapa? Bukan.
- Abby dan aku.
- Bro, kita ini sedang susah payah di hutan
di tengah hutan
dan kau bawa burger sayuran konyol?
- Rasanya enak, kok.
Kau hanya belum mencobanya.
- Ya iyalah karena aku makan daging, Cole.
Begini saja.
Bagaimana dengan besok?
- Hot dog sayuran.
- Astaga... - Ya Tuhan.
- Dengar, lebih baik kita dapat ikan besok.
- Tunggu, apa itu hot dog sayuran?
Kedengarannya aneh sekali.
- Tidak, rasa dan bentuknya seperti hot dog.
Enak banget!
- Entah kenapa aku meragukannya.
- Mm hm.
- Dengar, kalian tak menghargai makananku,
tapi, oke, ayo kita cari kayu bakar
dan batu, oke?
Sayang, mau ikut denganku?
- Silakan saja. - Oke?
- Ayo.
- Satu-satunya idemu yang bagus.
- Hot dog sayuran sialan.
Apa-apaan, sih?
- Sampai nanti.
- Dapat satu.
Aku dapat satu.
- Oh, ini bagus.
- Oh, sial, benar sekali.
- Oh, ini akan jadi akhir pekan yang seru
dan santai bersama sahabat kita.
- Mm.
Aku harap Kelly baik-baik saja.
- Aku yakin dia akan baik-baik saja.
Kita hanya perlu mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal indah.
- Dan kita harus terus memberinya makan.
- Itu juga.
- Menurutku lucu dia berpikir
akan diserang hewan buas
atau orang aneh di hutan, tahu kan?
- Astaga, kau ini bodoh atau apa?
- Apa?
- Kau tak boleh bilang wanita lain lucu,
apalagi di depan pacarmu.
- Dengar, aku tidak bermaksud apa-apa.
- Oh, hentikan saja!
Dasar bodoh.
- Astaga.
Mulai lagi.
- Astaga!
- Oke, ngomong-ngomong, - Apa?
aku akan naik ke punggungmu
biar aku tak perlu jalan lagi.
- Astaga, untung aku sayang padamu,
tahu tidak?
- Tapi kau tahu kan,
akhirnya kita harus benar-benar mulai mencari kayu.
- Oke.
Dan seperti kubilang, kau yang akan
melakukannya, jadi lihat.
Seperti kubilang, satu, dua, turun, ayo.
- Oh, oke, secepat itu.
- Ayo.
- Baiklah, kurasa kita berpencar.
Kau ke sana. - Banyak sekali rumput ini.
- Oh. - Hm.
- Oke, ada sesuatu di sini.
Hei, Lori? - Hm?
- Sini.
Lihat ini.
- Apa itu peluru? - Ya.
Kutemukan di tanah ini.
- Menurutmu ini asli?
- Oh, ini jelas asli.
Pertanyaan besarnya, bagaimana
bisa ada di sini dan di mana pemiliknya?
- Ya, pertanyaan bagus.
Ini benar-benar menyeramkan.
- Ya, tapi hei, ayo, Sayang.
Kita cari yang lain.
- Hei!
- Jack.
Ada apa?
- Tidak ada apa-apa, Sayang.
- Kau membuatku takut.
- Ya.
- Kukira Jason di belakangku siap memenggal kepalaku.
- Ayolah.
Kalau Jason di sini, akan kuhajar dia demi kau.
- Oke, jadi ada apa?
- Tidak ada.
Aku hanya mencintaimu.
- Ya? - Ya.
- Kenapa kau mencintaiku?
- Mulai dari mana, ya?
- Maksudku, pertama, kau sangat seksi.
Kedua, kau agak lucu, kan?
Kuakui itu.
Ketiga, kau orang yang sangat baik.
Dan keempat, kau setuju ikut perjalanan ini denganku.
- Ya, aku masih tak yakin soal nomor satu atau empat.
- Oh, ayolah.
Masa kau tidak sadar kau seksi?
- Jack, sudahlah.
- Mau 'begituan'?
- Melakukan apa, Sayang?
- Oh, kurasa kau tahu.
Hm? - Tidak mau.
Nanti kalau ada yang lihat gimana?
- Oh, ayolah.
- Tidak. - Mereka semua...
- Tidak. - Mereka semua
sedang mencari kayu bakar.
Ayolah, cuma sebentar.
- Tidak. - Ayolah.
- Hei, yo, bung, lihat ini.
- Whoa.
Di mana kau menemukannya?
- Bung, kami menemukannya di tanah
saat sedang mencari kayu.
- Aneh sekali.
Kira-kira dari mana asalnya.
- Aku juga memikirkan hal yang sama.
Kurasa kita tidak sendirian di sini
seperti yang kita kira.
- Hei, di mana Abby? - Dia marah
dan pergi begitu saja.
- Kali ini apa yang kau lakukan?
- Aku tidak mau membahasnya.
- Oh, oke, bung.
- Tapi aku heran dia belum kembali ke sini.
- Cole, kenapa kau membiarkannya sendirian di hutan?
- Dengar, dia marah-marah
dan aku muak, jadi kubiarkan saja dia pergi ke hutan.
- Oke, seharusnya kau mengikutinya.
- Kenapa aku harus mengikutinya?
Nanti dia akan tenang dan kembali
kalau dia mau.
Percayalah, dia selalu begitu.
- Aku akan mencarinya. - Tidak Lori,
kau tak perlu melakukannya.
- Tidak, aku akan mencarinya.
- Lori, tunggu.
Aku akan ikut denganmu, oke?
- Kalau saja dia lebih sepertimu,
Abby tak akan sering marah.
- Dengar, aku tak tahu soal itu,
tapi ayo kita cari dia, oke?
- Hei. - Ada apa?
- Di mana Abby?
- Dengar, aku mengatakan hal bodoh,
dia marah padaku.
Dia pergi ke hutan
dan aku tak tahu di mana dia dan aku tak begitu peduli.
- Oke, tenanglah.
Ada apa?
- Dia jadi sangat kekanakan
setiap kali aku mengatakan hal yang salah atau bodoh
dan dia langsung marah
dan aku sudah tak suka lagi.
- Maafkan aku, Cole.
Aku tak tahu keadaannya seperti itu.
Apa kau lihat Lori dan Chris?
- Ya, mereka pergi mencarinya.
- Apa-apaan ini?
- Abby!
- Abby!
- Abby!
- Yo, Abby!
Abby!
- Abby!
- Abby, ayolah!
Abby!
- Menurutmu dia pergi ke mana?
- Tahu tidak?
Dia mungkin kembali ke van.
- Ya, kau benar.
Ayo kita periksa ke sana.
- Abby!
- Abby!
- Abby!
- Di mana vannya?
- Oh, kau lucu.
- Hei, teman-teman? - Ya?
- Aku mau ke tenda sebentar.
- Baiklah.
- Aku sayang kau.
- Aku juga sayang kau.
Jadi, apa yang kau lakukan, hah?
- Ayolah, bung. - Apa yang kau lakukan?
- Ayolah, beritahu aku.
Aku mau mendengarnya.
Hm?
- Aku hanya bilang lucu
saat Kelly berpikir Jason
akan menangkapnya di hutan,
dan dia marah karena aku bilang Kelly lucu.
- Hanya itu?
- Hanya itu.
- Ya Tuhan, bung.
Tunggu, tunggu, jadi, kau pikir pacarku lucu?
- Oh bukan, maksudku bukan begitu.
- Jadi, kau pikir dia tidak lucu?
Itu keterlaluan, bung.
- Kau tahu aku pikir dia hebat.
Kau pria yang beruntung.
- Ya?
- Tahu tidak, biasanya saat seseorang bilang
kau pria beruntung atau semacamnya,
itu biasanya berarti mereka mau meniduri pacarmu,
jadi bagaimana denganmu, Cole?
Kau mau meniduri pacarku?
Apa kau mau meniduri pacarku, Cole?
- Tidak.
Tidak.
- Hm.
Lihat wajahmu itu.
Aku hanya bercanda, bung.
Tapi aku tahu kau mau.
- Semua orang juga mau, brengsek.
- Hm.
Dengar, aku tahu aku pria beruntung.
Faktanya, aku akan membuktikan
betapa beruntungnya aku sekarang.
- Oh, Tuhan.
- Jangan tunggu aku.
- Hei. - Hei, kau baik-baik saja?
- Bukankah di sini kita meninggalkan van?
- Ya, aku yakin, tapi di mana vannya?
- Tidak tahu.
- Menurutmu ada yang mencurinya?
- Siapa yang akan mencurinya?
Tak ada siapa pun di dekat sini.
- Apa kau yakin?
- Yah, tidak, tapi kemungkinannya kecil, kurasa.
- Lalu di mana vannya?
- Abby, aku juga tidak tahu, oke?
- Tahu tidak, aku dengar kau dan Cole bicara.
- Astaga, apa yang kau dengar?
- Semuanya.
Kalian gila.
- Astaga, ya.
Ya.
- Apa itu benar?
- Apanya yang benar?
- Bahwa semua temanmu mau berhubungan seks denganku?
- Tidak, ayolah, Sayang.
Apa kita harus bicara... - Ya, harus.
- Oke.
Mengingat keadaan saat ini,
akan kujawab ya.
- Astaga.
Pria memang konyol.
Apa hanya itu yang kalian pikirkan?
- Tidak.
Bukan, bukan segalanya.
Tahu kan?
- Lalu apa lagi yang dipikirkan pria?
- Coba kita lihat.
Film.
Ya.
Olahraga.
Kami suka olahraga.
Dan coba lihat, film, olahraga.
Ya.
Ya, hanya itu.
- Tepat sekali.
Sudah kuduga.
- Oh, ayolah.
- Astaga, bung.
Ada yang bisa kubantu?
- Apa yang kalian lakukan di sini?
- Aku di sini
dengan beberapa teman berkemah untuk akhir pekan.
Kau siapa?
- Wyatt.
- Ada masalah, Wyatt?
- Bisa dibilang.
Begini, ini adalah tanah suci.
- Oke.
Wow, aku tidak tahu itu.
Kukira ini hanya hutan biasa, bung.
- Bukan, bukan, begini,
aku melindungi tanah ini dari orang
sepertimu yang datang dan merusaknya.
- Orang sepertiku?
Apa maksudmu?
- Orang yang datang ke sini dan membuang sampah,
membuat api, membunuh satwa liar kami.
- Whoa, aku jamin, bung,
bukan itu yang kami lakukan di sini.
Sial.
- Coba katakan itu lagi, Nak?
- Dengar, kami pasti akan membersihkan
sampah kami dan menghormati satwa liar dan tanah ini.
Kau bisa pegang kata-kataku.
- Bukan, bukan.
Kurasa kau dan teman-temanmu,
sebaiknya berkemas dan pergi.
- Dengar, Pak, kami hanya ingin akhir pekan yang tenang
di sini selama beberapa hari.
Jika Bapak sudi...
untuk mengizinkan kami tinggal di sini?
- Ya, baiklah.
Ya, kalian boleh tinggal.
Tapi aku tidak bertanggung jawab
atas apa yang terjadi pada kalian di sini.
Paham?
- Ya.
Terima kasih banyak.
- Oh, ngomong-ngomong,
apa itu van kalian yang parkir di bawah sana?
- Ya, benar.
Kenapa?
- Yah, sudah tidak ada lagi di sana.
- Apa maksudmu sudah tidak ada?
- Seperti yang kukatakan, sudah tidak ada.
- Hei, bung, apa yang kau lakukan pada van kami?
- Hei, whoa.
- Sial.
Oke.
- Seharusnya tidak di sana,
jadi kupindahkan.
- Oke.
Aku mengerti, dan kami akan berkemas hari ini
jika kau bisa kembalikan van kami.
- Apa kau memberiku ultimatum, Nak?
- Bukan, bukan, bukan.
- Tidak, bung, aku hanya ingin bisa
berkemas dan pergi dengan van itu, oke?
- Kalau begitu, semoga harimu menyenangkan.
- Astaga.
Astaga, sekarang kita tahu dari mana peluru itu berasal.
Jack?
Jack, aku butuh kau keluar sekarang juga.
- Apa? Bung, aku sedang sibuk.
- Tidak, aku butuh kau keluar sekarang juga, bung.
- Astaga.
Tunggu sebentar.
Ada apa, sih?
- Bung, ada seorang pria di sini bawa pistol.
Namanya Wyatt, dan dia baru saja mencuri van kita.
- Whoa, whoa, whoa, tunggu.
Hei, hei, hei.
Apa yang kau bicarakan?
- Bung, aku baru saja di sini.
Ada pria muncul entah dari mana,
bertanya apa yang kita lakukan di sini.
Lalu dia bilang tanah ini keramat atau apalah, kan?
Lalu dia bilang van kita dicuri
dan dia menodongkan pistol ke wajahku.
- Tunggu, kau menakuti Kelly, bung.
- Ya, tapi... - Tenang.
- Kurasa kalian perlu tahu
apa yang terjadi di luar sini
selagi kalian berdua bercinta di tenda.
- Di mana van ini sebenarnya?
- Teman-teman, aku mulai sangat takut.
- Aku tahu pasti di situlah kita meninggalkannya.
- Menurutmu Cole mengerjai kita?
- Tidak mungkin.
Maksudku, dia memang brengsek.
Tapi tidak sebrengsek itu.
Selain itu, dia bersamaku sepanjang waktu saat membuatku kesal.
- Memangnya apa yang terjadi dengan kalian?
- Dia itu bodoh, itu yang terjadi.
Aku tidak mau membahasnya.
Ayo kita beritahu yang lain apa yang terjadi.
- Teman-teman?
- Apa? - Hm?
- Apa itu?
- Apa-apaan itu?
- Siapa itu?
- Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu.
- Yo, permisi, ada yang bisa kubantu?
Hei, bung.
Pergi sana, bung.
Kau hanya menakuti teman-temanku.
Bisa kau pergi? - Chris, hentikan.
- Tidak, orang ini aneh, bung.
Dia harus pergi.
- Sayang, kurasa orang itu aneh.
Sebaiknya kita lewat jalan lain.
- Baiklah, ayo lewat sini.
Ada apa dengan orang itu?
- Kuharap kita berada di jalan yang benar.
- Ya, kurasa kita aman.
- Teman-teman, dia sudah pergi.
- Apa kau lihat ke mana dia pergi?
- Tidak, aku tidak melihatnya.
- Ayo kita terus jalan.
Sayang, ayo.
- Kurasa kita harusnya lewat sini.
- Aku yakin lewat sini.
- Kurasa tidak.
- Apa kau 100% yakin?
- Tidak.
- Apa kau 100% yakin, Sayang?
- Tidak, aku tidak yakin.
- Bagus, jadi kita tersesat?
- Tidak, kita tidak tersesat, Sayang, oke?
Kita akan baik-baik saja.
- Ayo kita terus lurus saja.
- Baiklah.
- Sial, apa yang akan kita lakukan?
- Kita harus temukan yang lain.
Kita harus ambil van dan pergi dari sini.
- Apa pria itu memberitahumu di mana dia meninggalkannya?
- Tidak, dia hanya bilang sudah tidak ada di sana lagi.
- Ini kacau sekali, bung.
- Sayang, aku takut sekarang.
- Aku tak akan membiarkan apa pun terjadi padamu, oke Sayang?
- Ya, kami menjagamu, Kelly.
- Ada apa dengan kalian berdua?
- Tidak ada.
- Oke, jadi apa rencananya?
- Dengar, aku akan mencari yang lain.
Kalian berdua tetap di sini kalau mereka kembali.
- Kau mau pergi ke mana?
- Aku akan pergi ke tempat kita meninggalkan van.
- Dengar, kalau mereka kembali, kami akan tetap di sini.
Kami akan menunggumu, oke?
- Ya, tapi bagaimana aku tahu kalau mereka kembali sebelum aku?
- 20 menit, oke?
Kalau tak bisa temukan mereka dalam 20 menit.
Kau langsung kembali ke sini, oke?
- Sekarang jam 12:20.
Aku akan kembali jam 12:40, oke?
- Oke, sip.
Sini.
Semua akan baik-baik saja, oke?
- Kurasa kita tersesat.
- Ya, semua ini tidak kukenali.
- Tidak, teman-teman, kurasa sedikit lebih jauh lagi.
- Tidak, Lori, kurasa kita salah jalan.
- Kurasa dia benar, Sayang.
Hei, hei, lihat.
Oke, lihat.
Tak apa-apa, oke?
Kita kembali ke jalan lain dan akan baik-baik saja, oke?
Oke?
Aku menjagamu, oke?
- Chris, kau pria yang hebat.
- Makasih.
Kenapa tiba-tiba bilang begitu?
- Caramu memperlakukan Lori.
Aku tahu kau sangat mencintainya.
- Oh, ya.
Dan dia juga tahu aku akan melakukan apa pun untuknya.
- Cole tidak melakukan semua itu.
- Dengar, Cole itu pria yang baik dengan caranya sendiri.
- Dia hanya tidak tahu cara menunjukkannya padaku,
dan aku butuh itu, tahu kan?
- Ya, ya, aku mengerti.
- Ditambah lagi, dia selalu melakukan hal bodoh.
- Kau pikir Chris tidak melakukan hal bodoh?
Kau hanya perlu belajar untuk tidak memikirkannya.
- Sulit.
Dia sangat menyebalkan.
Tapi aku memang mencintainya.
- Aku mengerti.
Ingat saja, pria selalu melakukan hal bodoh.
Itu sudah ada di DNA mereka.
Aku juga mencintaimu, Sayang.
- Mm hm, mm hm.
- Oke, ayo kita kembali ke jalan lain.
- Tapi bagaimana kalau pria itu ada di sana?
- Dengar, kita bertiga melawannya.
Kurasa dia tak akan mencoba apa-apa.
Lagi pula, kurasa dia hanya mencoba menakuti kita.
- Yah, berhasil.
Ayo pergi.
- Abby?
Chris?
Oh, apa-apaan lagi sekarang?
Sial.
Sial.
Sial, bung.
- Bagaimana rasanya, Nak?
- Itu tadi suara tembakan, kan?
- Ya, itu jelas suara tembakan.
- Apa Chris atau Cole punya pistol?
- Tidak.
Tidak, tak ada dari kita yang bawa.
- Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?
- Oke, dengar, rencananya
kita tunggu di sini 20 menit, kan?
Lalu jika dia tak kembali,
kita mencarinya, itu saja.
- Jack, aku takut.
Hei, hei, hei, tidak apa-apa.
Hei.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa, beri waktu sebentar, oke?
- Aku lihat air.
Mereka pasti di sana.
- Pasti.
- Astaga.
- Apa-apaan ini?
- Oh, baunya.
- Siapa yang bisa melakukan hal seperti ini?
- Menurutmu pria bertopeng itu yang melakukannya?
- Kurasa itu kemungkinan besar.
- Oke, dengar.
Ayo kita lupakan ini dan pergi dari sini, oke?
- Oke. - Apa-apaan ini?
Hei.
- Oke, oke.
- Apa...?
Apa yang kalian lakukan?
- Ada KTP.
Tina Jensen, dia dari Boursville.
- Kasihan sekali, dia sangat cantik.
- Ya, ya, ini mengerikan sekali, oke?
Ayo kita pergi dari sini dan cari perkemahan, oke?
- Kita harus terus jalan atau kita akan mati, oke?
- Lihat, dia di belakang kita!
- Kita akan mati!
Kita akan mati!
- Kita tidak akan mati, terus bergerak!
- Oke, sudah 20 menit.
- Kita akan pergi ke mana?
- Kurasa kita kembali
ke tempat kita pertama kali parkir van.
- Oke, biar kuambil ranselku dulu.
- Ide bagus.
Biar kuambil punyaku.
- Cole!
- Cole, di mana kau?
- Cole?
Di mana kau?
- Cole!
- Cole?
Cole?
- Cole!
- Jack! Kelly!
Di mana semua orang?
Apa yang terjadi?
Cari senjata!
Ayo, ayo.
- Hei!
- Astaga! - Hei, hei, hei,
ada apa, ada apa?
- Ada pria bertopeng mengejar kami.
Dia membunuh Chris.
- Whoa, whoa, whoa, whoa.
Apa maksudmu dia membunuh Chris?
- Dia menusuknya dengan pisau...
- Astaga. - Ya Tuhan!
Di mana dia?
- Dia di belakang sana.
Dia mengejar kami.
Kita harus pergi. Di mana Cole?
- Aku tidak tahu.
- Kami sudah mencari Cole.
Dia pergi mencarimu, tapi kami belum melihatnya sejak itu.
- Oke, oke, kita harus pergi.
- Ayo, ayo, ayo.
Ayo pergi.
- Ayo!
- Cole!
- Cole!
- Teman-teman, - Cole!
- kurasa kita jangan berteriak.
- Orang aneh itu masih mengikuti kita, dia mendengarnya.
- Kau benar.
Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?
- Aku tidak tahu.
- Hei, kesulitan mencari van kalian?
- Dengar, bung, apa yang kau lakukan padanya?
Hah?
- Kalau kuberitahu, jadi tidak seru lagi, kan?
- Dengar, Pak, kami hanya ingin masuk ke van kami dan pulang.
Oke?
- Yah, itu tidak akan mungkin.
- Apa maumu dari kami?
- Begini, aku dan anakku di sana,
kami lapar, dan kami suka bermain dengan makanan kami.
- Ya Tuhan, kau bajingan sakit.
- Mungkin saja.
- Pergi, pergi!
- Hei, berhenti.
- Oke. - Tahan di situ.
- Santai.
Tenang.
Tak ada yang akan pergi ke mana-mana, oke?
- Aku ambil ransel itu.
- Tenang saja, ini punyamu.
Ini punyamu, oke?
Ini punyamu.
Oke?
Dengar, aku bukan ancaman bagimu, oke?
Biarkan mereka pergi.
Kami akan pergi, oke?
- Tutup mulutmu. - Oke, oke, oke.
- Oo.
Kau akan terasa lezat di supku, Nak.
Mm hm.
- Hei, hei, hei, lihat aku.
Hei.
Sudah berakhir, oke?
Kau berhasil.
Sudah selesai.
Sudah selesai.
Sini.
Kau menyelamatkan...
- Jack!
- Astaga! - Kita harus pergi,
kita harus pergi! - Jack!
- Ayo!
- Ayo, teman-teman.
Kita harus lebih cepat.
- Aku tidak kuat lagi.
Kurasa aku akan...
- Lori, Lori, kita harus terus bergerak, oke?
Atau kita akan mati, ayo.
- Tidak, dia akan menangkap kita.
- Biarkan saja dia membunuhku.
Kita berlari berputar-putar tanpa jalan keluar.
- Kita harus terus bergerak.
Ada orang gila mengejar kita. - Ya, ayo.
- Abby, kita di antah berantah.
Tak ada tempat untuk pergi.
Dia akhirnya akan menangkap kita.
- Lori, perbaiki sikapmu, oke?
Kita akan selamat.
Kita hanya perlu sampai ke van dan pergi dari sini.
- Oh, sial!
- Ayo.
Ayo, kita harus terus berjalan.
- Kelly, tunggu, tolong berhenti.
- Tidak! - Aku tidak bisa, tolong.
- Dengar, kita harus terus berjalan.
- Tidak, aku sudah berlari selamanya...
- Aku tahu kau lelah. - Aku tak kuat lagi.
- Ada orang gila mengejar kita
dan dia membunuh semua teman kita.
Kita harus terus berjalan.
- Aku tak bisa. - Ayo, kau bisa bangun.
Ayo lakukan.
Tolong.
Oke, oke.
Aku punya ide.
Kita harus menyembunyikanmu.
Kita harus menyembunyikanmu di suatu tempat
lalu aku akan mencari van, oke?
Ayo.
- Oke.
Oke, tolong, jangan sakiti aku.
Tidak, tolong, pergi.
- Mati!
Ayo.
Ayo, sedikit lagi.
Ayo, kau bisa.
Ayo.
Kita hampir sampai.
Kau baik-baik saja?
Sedikit lebih cepat, ayo.
Ayo, kita bisa.
Kau baik-baik saja?
- Kakiku sakit sekali. - Astaga.
- Sakit sekali.
- Bisa kau gerakkan?
- Tidak bisa. - Coba gerakkan.
- Tidak bisa.
Kelly, ini parah sekali.
- Sial.
Oke, kau harus bangun dan coba berjalan.
- Oke.
- Pegangan padaku.
Pegang leherku.
Oke.
- Tidak, aku akan mati, Kelly!
- Tidak, jangan bilang begitu.
Dengar, aku akan ambil van dan segera kembali.
Sial!
Sial.
Tidak.
Sial.
Astaga, vannya!
Sial!
Oke, Bu, akan kulakukan.
Aku janji.
Oke, sampai jumpa besok.
Dah.
Oh, sial.
Sial.
Tidak!
Tidak!
Tolong, berhenti!
Kenapa kau melakukan ini?
Tidak, tidak!
Teman-temanku!
Oh, berhenti!
Kenapa kau mengejarku?
Tolong!
Tolong!
Tolong aku!
Tolong aku!
Sial!
Hei!
Tolong!
Tolong aku!
Tolong aku, berhenti!
Anda harus menolongku!
- Demi Tuhan, apa yang terjadi, Nak?
- Jalan!
Ada orang gila mengejarku.
Dan dia membunuh semua temanku.
Terima kasih banyak sudah berhenti.
- Tentu saja, Manis.
Siapa namamu?
- Kelly.
- Namaku Daryl.
Sepertinya kau sudah bertemu saudaraku, Wyatt.
Diterjemahkan oleh: Zain Jakarta, 19 September 2025 Support at : https://trakteer.id/ZainSubs
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.