Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Walaupun sudah ada autopilotnya,
kalau Om sedang mengantuk atau lelah,
Om tinggal bilang sama kopilotnya.
Kopilot, teman di sebelah Om.
Tidak boleh tidur dua-duanya.
Satu sampai dua jam
sebelum pesawatnya sampai,
Om harus sudah segar
biar pesawatnya mendaratnya mulus.
Lalu, kita sampai
dengan selamat.
Nah… Bagaimana, Anak-Anak?
- Pekerjaan ayah Tristan seru, 'kan? - Seru!
Kalau begitu, kita lanjut ke Mama Alin.
Silakan, Mama Alin.
- Giliran Mama ya. - Oke.
Selamat pagi,
- Teman-Teman, Bapak, dan Ibu. - Pagi.
Pagi.
Kalau lihat seragamku, sudah tahu, 'kan, profesiku apa?
- Suster! - Benar.
Aku adalah seorang suster rumah sakit.
Jadi, tugas utama dari seorang suster rumah sakit adalah
membantu para dokter mempersiapkan segala sesuatunya
- untuk merawat pasien dan memberi obat. - Sepertinya Papa tidak datang lagi, Ma.
Obat-obatannya macam-macam, ada yang diminum,
- ada juga yang disuntik. - Livi…
- Livi bicara sama siapa, Sayang? - Adik-Adik takut disuntik?
- Tidak! - Tidak, Miss.
- Tidak sama siapa-siapa. - Tidak usah takut.
Jangan khawatir ya.
Sebentar lagi Papa datang. Ya?
Bang!
Bang!
Aman, Bang, aman.
- Kau rupanya, Son. - Aman.
Abang minta dibangunkan tadi.
Astaga, pukul 09.00.
Sendiri bisa, 'kan?
Siap! Bisa, Bang.
Ini penontonnya anak-anak ya, Bang?
Lebih bagus ini, Bang.
Abang tenang sajalah, tidak usah gugup.
Pokoknya masuk, eksekusi, cabut.
Abang bisalah. Abang yang ajari aku.
- Duluan ya. - Siap, Bang! Hati-hati, Bang.
Sebagai seorang polisi, tugas kami adalah melindungi masyarakat
supaya masyarakat itu tetap
aman dan sejahtera.
Jadi, kalau… Astaghfirullahaladzim.
Goblok ini orang.
- Halo, Miss. - Pak Pandu sudah sampai mana ya?
Ya. Ya, sebentar lagi aku sampai.
Kau mau apa, Mbak?
- Mas, mau mawarnya tiga ya. - Boleh.
Ya, boleh itu, yang mawar putih saja.
- Terima kasih. - Terima kasih ya.
- Bagus, 'kan? - Bagus.
Ya, Mister?
Boleh, Bapak, silakan. Mau pesan apa?
Aku pesan kopi hitam.
- Kopi hitam. - Americano.
- Tanpa gula, ya. - Baik.
Minum di sini atau dibawa?
- Dibawa. - Dibawa.
Atas nama?
Abi.
Ini makanannya.
- Terima kasih, Mbak. - Sama-sama.
Pakai Y.
Pakai Y.
Tapi kalau Mbaknya senyum terus begitu, pakai perasaan.
Pesan satu ya, Pak.
- Baik. - Totalnya jadi 50 ribu.
Tunai?
- Tunai. - Oke.
- Uangnya diterima. - Baik.
Jadi, kalian harus rajin-rajin latihan ya.
Soalnya nanti ayah dan ibu kalian juga akan menonton.
Bapak Ibu sekalian juga diharapkan memberikan dukungan penuh
kepada anak-anaknya untuk bazar akhir tahun nanti.
Nah, ini Om Pandu. Ayahnya Olivia.
- Halo, Om Pandu. - Alhamdulillah.
Halo, Semuanya.
Baik, kalau begitu langsung saja, Pak Pandu. Silakan.
- Apa? Langsung? - Ya.
Terima kasih.
SELAMAT HARI ORANG TUA
Kami cari tahu cara kerja mereka.
Lalu, kami interogasi.
"Di mana markas kalian?"
Mereka menjawab.
Setelah salah satu pelaku menjawab,
kami tahu titik persembunyian mereka ada di mana.
Dengan pasukan yang hebat,
kami pelan-pelan,
dalam kesunyian…
Kami sergap mereka.
Polisi! Angkat tangan!
Angkat tangan!
Lalu, tiba-tiba…
Bom meledak.
Beberapa anggota ada yang terluka,
ada yang sampai tergorok lehernya,
darah di mana-mana.
Ada yang sobek di bagian kepala,
lalu a…
Ya…
Ya, jadi, pekerjaan Om adalah membuat masyarakat itu
aman dan damai.
Jadi, nanti kalau misalkan ketemu penjahat,
bisa langsung hubungi Om, ya.
- Untuk kopi dan teh ya? - Ya.
- Yang ini? - Ini untuk tumbler.
- Izin foto ya. - Ya. Silakan, Pak.
- Mbak! - Ya?
Ini tas siapa ya?
Siap, Ndan.
Siap.
Siap, Ndan.
Sayang, Papa tangkap penjahat dulu ya.
Banyak tidak?
Banyak.
Dor.
Papa menyayangimu.
Aku juga sayang Papa.
Aku titip Livi ya, Miss.
Om kerja dulu ya.
Ya, Om…
Pemirsa, Indonesia kembali berduka. Dunia kembali terluka.
Sekitar pukul 10.57 WIB pagi tadi
telah terjadi ledakan di Kedai Kopi Little Paris
di kawasan Kota Tua Jakarta Pusat.
Spekulasi yang beredar bahwa bom diduga berasal dari sebuah tas di dalam kafe
adalah jenis bom pipa
dan belum bisa dipastikan siapa dan jaringan mana
yang melakukan perbuatan keji ini.
Perkembangan terakhir yang kami terima,
diduga 16 orang tewas di TKP
dan belum dapat dipastikan kira-kira berapa jumlah orang yang terluka.
Izin, Ndan,
maaf aku baru gabung.
Ini semacam sambutan selamat datang untuk dia.
Siap.
- Halo, Ndan? - Bagaimana Leong?
Belum keluar, Ndan.
Pantau terus!
Siap, Ndan.
Anjing!
Hei.
Sejak kapan kau merokok?
Ini, Pak. Naik, Pak.
SERVIS ELEKTRONIK ASKAR
Jangan dilepas.
Kenapa?
- Pokoknya jangan. - Kar!
Pengering rambutku bagaimana?
Sudah selesai, pemanasnya saja itu.
Ya sudah, mana? Sini aku ambil.
Jangan, belum aku bersihkan. Aku bersihkan dulu ya. Duluan ya.
Ayo.
Pak, tolonglah.
Kalau aku bicara apa, dengarkan. Menurut.
Ini hidupku, Pak. Aku tidak mau semuanya rusak lagi.
Askar!
Coba lagi.
Siap, Ndan.
Dia ganti baju di toilet.
FR.
Dari Pengenalan Wajah masih terlalu sulit.
Hampir tidak kelihatan apa-apa, Bang.
- Coba lagi. Ulangi. - Siap.
Izin, Ndan. Aku boleh minta ulang?
- Ulang. - Siap.
Pause!
Aku pernah papasan sama orang ini, Ndan. Di blok dekat TKP.
- Ingat cirinya? - Tinggi sekitar 160 sampai 165 cm.
Benar, dia bawa ransel yang serupa.
Kalau umur sulit untuk dicirikan, Ndan.
Alisnya tebal,
ada luka semacam keloid di sebelah sini.
Aku buat sketsa dari komposit CCTV dan catatan Bang Pandu dulu.
- Semoga mempan. - Cek DNA-nya juga.
Siap. DNA dari tim INAFIS sekitar empat hari.
Kok empat hari? Aku butuh satu hari!
Siap. Aku coba, Ndan.
- Diah, bom apa yang digunakan ya? - Bom pipa, Bang.
Ndan,
kita bisa mulai dari semua pembuat bom yang sudah tertangkap.
- Kerjakan. - Siap.
Ya sudah.
Hei, Pandu…
- Siap. - Bagaimana kabar adikmu?
Simson aman, Ndan. Masih memantau anaknya Leong.
Oke.
- Halo, Bu? - Anakmu ini lo, Ndu. Tidak mau tidur.
Ibu tidak bisa menidurkan dulu?
Kalau bisa, Ibu tidak telepon.
Kau tahu, dia suka bicara sendiri kalau kau tidak ada.
Tapi tidak kenapa-kenapa, 'kan, Bu?
Apa bisa pulang?
Sebentar saja, temani tidur.
Ya, Bu. Oke.
- Papa. - Ya ampun.
Ini anak Papa jam segini kok belum tidur? Sedang apa?
Livi belum bisa tidur, Pa…
Ampun deh itu anak. Tenaganya, Ndu.
Omanya diapain itu? Dikerjai ya?
- Kau tidur sama Papa ya. - Hore, asyik.
Kau jangan dibiasakan tidur malam terus ya.
Besok mau sekolah, Sayang… Nanti bangunnya kesiangan.
Terus kasihan juga itu Oma. Harus istirahat, 'kan?
Ya. Papa temani dulu ya, sini.
Hei, ayo tidur… Mau apa lagi, Sayang?
Tapi Livi mau latihan menyanyi, Pa.
Latihannya kan bisa besok, Sayang.
- Sekarang tidur dulu. Ayo tidur, ya. - Pa,
- Apa? - Ponsel.
Tidur.
Pa…
Ya sudah. Sekali saja, ya.
Habis latihannya, langsung tidur.
- Memangnya mau menyanyikan lagu apa? - Lagunya Mama.
Pada masa lalu
Pada pandang temu
Pada kenangan di hulu waktu
Senyuman lepas merekah-rekah
Kenapa, Pa?
Tidur dulu ya. Sudah malam.
Tapi belum selesai.
Besok lagi latihannya ya? Oke? Ayo.
Ayo, tidur.
Pa?
- Ya, Sayang? - Aku sayang Papa.
Papa menyayangimu.
Di tahun itu terjadi kerusuhan di dalam penjara Mako Brimob.
Yang menyebabkan… Lihat Bu. Lihat ini, Bu.
Benar, 'kan? Ini yang dibawa si Askar kemarin, Bu.
- Bapaknya atau Pamannya ya? - Ngeri sekali.
Insiden itu menewaskan lima anggota kepolisian.
Pemimpin penyerangan ini berinisial "L"
dan disinyalir tergabung dalam salah satu jaringan teroris, Ibu.
Mas, bagaimana? Enak kontrakan barunya?
Ya, lumayan, Bu. Aku baru satu malam di sana.
Dulu tidak ada yang mau tinggal di sana.
- Banyak hantu katanya. - Hantu takut sama aku, Bu.
Tim Humas Polri tadi malam telah melakukan siaran pers
dan dijelaskan bahwa pemboman di kafe tersebut
bukanlah sebuah aksi bom bunuh diri.
Namun pihak kepolisian belum bisa memberikan kepastian
bagaimana dan oleh siapa bom itu diletakkan di dalam kafe.
Info terkini yang paling pasti adalah
korban luka-luka akibat peristiwa itu sebanyak lima orang.
Apa?
Sejak dari keluar penjara sampai hari ini, Bapak bersamamu terus.
Hei, mau ke mana kau?
Bapak diam di sini.
Jangan tunjukkan muka Bapak ke siapa pun
sampai polisi bisa membuktikan kalau bukan Bapak pelakunya.
Dan kumohon, nurut Pak!
Askar!
Memang bukan Bapak pelakunya. Bapak harus bagaimana?
Pak, diam!
Bapak tidak pernah melakukan kontak sama jaringan mana pun
setelah Bapak masuk penjara.
- Ya buktikan, Pak! - Bagaimana caranya membuktikan?
Pak, sejujurnya Bapak bicara apa pun, aku tidak percaya!
Masalahnya, aku cuma punya satu Bapak.
Pada kenangan di hulu waktu
Rautan wajahmu
Mohon izin, Bang.
Ini pembuat bom yang sudah kusortir, spesialis bom pipa.
- Silakan, Bang. - Terima kasih.
Tiga sudah dihukum mati, Ndan.
Tinggal satu yang belum dieksekusi
karena termasuk elite dalam jaringan.
Susah. Mengajak kerja sama dengan Buroq ini susah.
Siap.
Orang ini tidak ada titik lemahnya.
Istri tidak punya, keluarga tidak ada, ideologinya kuat.
Cantik sekali Olivia.
Oma.
Kok sudah pulang saja? Bukannya masih nanti ya?
Ya, Oma. Hari ini kita pulang cepat.
Kemarin sudah dikabarkan di grup orang tua.
Pandu tidak bilang sama aku.
Maaf ya, Miss Suri, nanti Pandunya aku marahi.
- Ayo, silakan masuk, Miss Suri. - Ayo, Miss Suri main sama Livi.
Permisi ya, Oma.
Aku lagi bikin donat.
Cuma berdua saja, Oma? Tidak ada yang bantu-bantu?
Tidak boleh sama Pandu. Dia cuma percaya sama aku.
Tapi rumah polisi memang tidak bisa asal memasukkan sembarang orang, 'kan?
Oh, ya ampun.
Tapi Miss Suri tidak apa-apa. Ayo duduk, Miss.
Sebenarnya, aku ke sini juga ada yang mau aku sampaikan.
Cuma belum ketemu waktunya sama Pak Pandu.
Aku beberapa kali sering mendengar Livi bicara sendiri di kelas.
Bahkan,
dia sering menyebut mendiang ibunya.
Nah, itu dia.
Tidak cuma di sekolah, di rumah juga dia sering bicara sendiri.
Dulu Livi dekat sekali ya sama mamanya
karena papanya jarang ada di rumah.
Sekarang mamanya tidak ada,
papanya tetap saja jarang di rumah.
Tapi mungkin…
Ini hanya fase saja? Akan hilang sendiri, 'kan?
Akan lebih baik kalau Livi ada yang menemani terus, Oma.
Selama ini ya aku.
Sementara Livi makin hari makin lincah,
aku makin tua, gampang lelah.
Oma, mau Livi bonceng tidak?
Bom pipa.
Spesialisasinya Pak Buroq, 'kan?
Karyaku banyak yang mengikuti.
- Jadi, tahu siapa yang buat? - Kenapa aku harus tahu?
Yah, tadi kau bicara, "Karyaku banyak yang mengikuti."
Pak Sadikin,
orang yang punya kemampuan kayak aku ini,
pasti banyak pengikutnya.
Karena suatu hari nanti,
mereka ingin menjadi teladan.
Seperti aku.
Tapi bukan berarti aku harus kenal mereka semua, 'kan?
Bapak ini sedang menjalani hukuman mati.
Apa seperti ini
cita-cita Bapak ingin dikenang oleh orang lain?
Bapak harus bantu aku.
Bapak pikir,
kalau aku mati, semua ini akan selesai?
Lantas semua cita-cita besar kami putus begitu saja?
Cita-cita kami adalah kehendak dari langit!
Intelektualitas kalian tidak akan pernah bisa paham.
Tidak sampai.
Aku tidak pernah mengkhianati jaringanku.
Cukup, sudah selesai!
Ke mana buru-buru? Kebelet kau?
Ideologinya masih merah, Ndan.
Tapi sepertinya dia punya titik lemah.
Apa?
Aku rasa dia punya anak.
Tadi aku lihat dia menutup foto ini.
Nanti aku coba cari tahu rekam jejak tamu kunjungannya.
Sini!
Anakku belum pulang, Mas.
Abu Askar.
Masuk!
Kau…
Tahu dari mana kalau aku di sini?
Pejuangku ada di mana-mana.
Ini juga berkat Abu Askar
yang selama ini mengharumkan nama baik perjuangan.
Mau apa kau?
Kami punya rencana besar. Target berikutnya butuh pengantin.
Kita semua tahu,
tak ada pengukuh pengantin sekuat Abu Askar.
Oh, jadi, kau ya?
Kau sengaja meledakkan bom
di hari yang sama aku keluar penjara?
Anggap saja untuk mengecoh mereka.
Tapi gara-gara kau, anakku jadi menuduhku.
Tenang, Abu Askar.
Aku bisa bicara dengan anak Abu.
Aku paling tahu anakku.
Jangan, jangan bawa-bawa anakku.
Kita sudah disorot dunia.
Titik terang sudah kelihatan.
Penantian bertahun tahun
sudah masuk dalam hitungan hari.
Aku tahu pendirian Abu Askar ini tidak akan goyah cuma karena di penjara.
Mari
berjuang bersama, Saudaraku!
Aku pamit.
- Ya. - Askar.
- Siapa itu, Pak? - Orang mau perbaiki TV.
Katanya sudah tidak ada hubungan sama jaringan mana pun.
Memang tidak ada.
- Dia datang sendiri. - Kenapa dikasih masuk, Pak?
Oh, sekarang aku tidak boleh merokok di rumahku sendiri?
Ini…
Ini cuma menyakitkan diriku sendiri, Pak. Bukan orang lain!
Bapak boleh merasa hebat di luar sana.
Tapi di sini,
Bapak bukan siapa-siapa.
Kenapa, Pak?
Karena Bapak tidak pernah ada buat aku.
Bapak akui, Bapak pernah tidak ada untukmu.
- Tapi Bapak selalu memantaumu. - Siapa yang butuh dipantau, Pak?
Aku tidak butuh dipantau.
Aku butuhnya Bapak. Jadilah bapak yang baik!
Jadi bapak satu-satunya yang aku punya. Bisa tidak?
Tidak bisa, 'kan?
Kalau tidak bisa, diam. Jangan aneh-aneh. Jangan bikin rusuh.
Mungkin bagimu Bapak ini tukang rusuh.
Tapi ini jalan Bapak. Dan Bapak konsekuen.
Lalu, aku tidak konsekuen?
Bapak enak bisa memilih jalan Bapak.
Aku, Pak? Bapak tidak berpikir, 'kan?
Bagaimana aku dilihat orang-orang? Bagaimana aku dibicarakan orang-orang?
Bapak tidak akan merasakan dan tidak akan pernah merasakan juga, Pak!
Kasih apa tadi dia, Pak?
Tadi dia kasih apa?
Mana?
Mau ke sini?
Tidak.
Sungguh, tidak.
Bakar.
"Setelah melalui petualangan yang panjang dan menyenangkan,
Timi akhirnya pulang ke rumah, kembali ke pelukan ibunya."
- Sudah tidur dia? - Hampir tidur, Oma.
Apa dia bicara sendiri lagi?
Tadi waktu aku tinggal sebentar sudah tidak bicara sendiri lagi, Oma.
Aduh, lega aku mendengarnya.
Lututku juga lega, tidak usah mengejar dia seharian.
Miss Suri datang tiap hari saja.
Ya, nanti aku main-main ke sini lagi ya, Oma.
- Kalau begitu, aku permisi pulang dulu. - Hei, jangan.
Tolong temani Livi sampai dia tidur pulas dulu,
nanti aku main-main lagi.
Ya, Oma.
Pak Pandu.
Maaf, Pak Pandu. Aku cuma diminta Oma untuk menemani Livi tidur.
Kok sudah pulang, Ndu?
Mau menidurkan Livi, Ibu.
Sudah tidur itu, ditemani Miss Suri tadi.
Livi tidak bicara sendiri lagi, Ndu.
Ternyata Miss Suri tahu,
Livi tidak bicara di rumah saja, tapi di sekolah juga.
Ibu yang paksa Miss Suri tadi.
Maaf aku bertamu sampai kemalaman, Pak. Aku pulang sekarang. Mari, Oma.
Aku balik ke kantor lagi ya, Bu.
Ya ampun, Ndu.
Terima kasih banyak ya, Miss Suri.
Aku antar pulang sekalian?
- Tidak usah, Pak. Merepotkan. - Aku yang sudah merepotkan.
Permen, Pak?
Terima kasih.
Miss Suri…
Ambil saja, Pak.
Sekali lagi aku minta maaf ya, Miss Suri.
Waktunya Miss Suri jadi terbuang percuma di rumahku.
Sama sekali tidak terbuang kok, Pak.
Ya, tapi kalau keseringan, aku yang jadi tidak enak.
Baik, Pak.
Panggilnya Pandu saja. Tidak usah pakai "Pak".
Baik, Mas Pandu.
Kalau begitu panggil, aku Suri saja.
Ya.
Aku paham dengan apa yang dirasakan Olivia.
Bapakmu anggota juga?
Bukan. Maksudku, rasa kesepian.
- Maaf, Mas, aku tidak bermaksud untuk… - Tidak. Tidak apa-apa. Aku paham kok.
Bagaimanapun, mamanya Livi sudah tak ada.
Livi anak perempuan,
pasti butuh sosok ibunya.
Sosok bapak juga, Mas.
Ibunya Livi meninggal satu tahun yang lalu.
Sakit.
Aku cuma berharap
Livi masih terlalu kecil untuk merasakan…
Merasakan kehilangan.
Justru dari yang kulihat,
Livi itu sangat kehilangan, Mas.
Dia berusaha menutupi itu lewat keceriaannya.
Aku tumbuh tanpa orang tua.
Demi mengisi kekosongan itu,
aku harus selalu ceria.
Kapan terakhir kali Mas Pandu kasih hadiah untuk Livi?
Aku tidak pernah kasih hadiah buat Livi.
Dari dulu selalu ibunya yang kasih.
Kurasa tidak ada salahnya
kalau mulai sekarang Mas Pandu juga kasih hadiah untuk Livi.
Boneka misalnya?
Ya.
Askar!
Aku dapat info ada yang tinggal di sini.
Kau tahu, 'kan,
- kalau ada tamu harus lapor dulu. - Ya, benar.
Ya. Maaf, Pak RT. Itu saudaraku dari kampung cari kerjaan.
Itu bohong!
Tamunya dilaporkan dulu, sekalian sama KTP-nya.
Biasanya tidak perlu lapor kalau ada tamu, Pak RT.
- Itu karena kau menyembunyikan teroris! - Benar.
Itu saudaraku dari kampung, cari kerjaan.
Cuma sebentar. Tidak berbahaya dan tidak akan ganggu Bapak dan Ibu.
Aku sendiri yang jamin.
Ya sudah. KTP-nya, biar terdata.
Pas nasi padangku baru datang.
Bagaimana, Ndu?
Tentang Buroq, Ndan.
Setiap sebulan sekali,
Buroq selalu didatangi temannya yang berbeda-beda.
Ada tiga nama. Pembahasannya selalu sama.
Tentang bola.
Dan Buroq selalu minta diceritakan jalannya pertandingan klub favorit dia.
Tapi ada yang aneh menurutku, Ndan.
Ada satu pemain yang selalu mereka sebut,
namanya Gonzales.
Mau dia main atau jadi cadangan, selalu dibahas.
Aku rasa ini kode.
- Anaknya. - Bisa jadi, Ndan.
Karena yang dibicarakan selalu tentang sekolahnya Gonzales,
makanannya, uang jajannya.
Cek terus, Ndu.
- Bagus. - Siap, Ndan.
Ikut makan?
- Silakan, Ndan. - Ini.
Komandan saja.
Wah, Papa ini lucu sekali.
Livi suka tidak?
Suka sekali. Terima kasih, Pa. Aku sayang Papa.
Papa lebih menyayangimu, Sayang.
Tidak bisa begitu!
- Kau seharusnya tidak lepas darinya. - Bagaimana, Bu?
Kenapa, Bu?
Ya sudah, kabari aku terus.
Ndu, kenapa tidak kasih sendiri?
- Bu… - Ibu cuma bertanya. Ibu mengerti kok.
Ya, tapi tidak usah bicara begitu, Bu.
Ibu mengerti ka…
Livi senang sekali. Ayo, Pa, pulang…
- Kita main ini bersama. - Papa masih banyak kerjaannya, Sayang.
Kau main sama boneka baru dulu tidak apa-apa ya?
Yah, Papa…
Padahal Livi mau main sama Papa.
Ya. Nanti kalau misalkan kerjaan Papa sudah selesai,
Papa nanti usahakan pulang cepat ya.
Dah, Sayang… Papa kerja dulu ya.
- Siap, Ndan. - Bagaimana Olivia?
Baik, Ndan.
Simson kehilangan Leong.
Kita harus segera ke kontrakannya, geledah!
Interogasi anaknya. Kalau dia melawan, bawa ke sini.
- Siap. - Ya.
Polisi! Angkat tangan!
Angkat tangan!
Aduh!
- Ikat! - Siap.
- Lepas. - Periksa semua!
Periksa ruangan.
Periksa area belakang, periksa!
Buka laci.
Dapur aman.
Ke mana bapakmu?
- Aku tidak tahu. - Ke mana bapakmu?
- Aku tidak tahu! - Kamar aman.
- Aman, Ndan. - Aman.
Bawa.
Pemunduran!
Bangun!
Siaga pemunduran.
Apa ada lagi yang di luar kebiasaannya?
Anggota Bapak itu main masuk sembarangan ke rumahku.
Mas Askar,
aku itu sudah tidak punya waktu untuk sindiran-sindiran yang tak penting.
Yang aku butuh itu kerja samamu.
Atau aku bikin kau lebih sulit hidupnya.
Informasi apa pun itu bisa menyelamatkan banyak nyawa. Mengerti?
Bapakku sempat kedatangan tamu.
Dia panggil bapakku "saudaraku".
Lalu, dia kasih
kertas ke bapakku.
Isinya alamat.
Tapi aku tidak mau bapakku berurusan sama orang itu.
Jadi, aku suruh bakar kertasnya.
Terus dibakar?
Kau ketemu orangnya tidak? Lihat mukanya tidak?
Dia bahkan tahu namaku.
Panggil analis, suruh bikin sketsa.
Siap, Ndan.
Alamatnya ingat?
Hei, coba diingat-ingat.
Hei!
Diingat-ingat lagi.
Cibata.
Aku cuma ingat Cibata.
Aku tidak ingat nomor, jalan, rumah, atau apa pun itu.
Kau sedang mencoba menyembunyikan teroris?
Mencoba menyembunyikan teroris?
Ya?
Atau
kau sedang…
Belajar menjadi teroris
dengan bapakmu.
Kalau aku tahu,
aku pasti kasih tahu.
Aku juga tidak suka bapakku tinggal sama aku.
Lebih bagus dia di penjara lagi.
Sana! Tangkap bapakku!
Siapa pun dia,
dia tetap bapakku!
Abu Askar.
Mari.
Itu mereka.
Sudah diberi arahan secara intensif, tinggal dikukuhkan.
Di antara mereka, siapa yang paling siap?
Isfan.
Aku.
Sudah dicocokkan dengan rekaman CCTV, FR, dan DNA.
Identitas asli bernama Agus Sukarton, dikenal juga sebagai Wabil,
Alam Putra, Ibam, dan Zaenal Putra.
Tempat tinggalnya?
Tidak sesuai alamat KTP, Bang.
Tempat operasi tidak diketahui.
Kalau orang ini datang ke tempat Leong,
artinya mereka satu komplotan.
Atau
dia sedang mencari bantuan Leong.
Karena Leong piawai dalam melakukan agitasi kepada para calon pengantin.
Berarti tujuan orang ini adalah target operasi yang lebih besar
yang membutuhkan pengantin untuk bisa menyusup ke dalam, Ndan.
Ya.
Izin, Ndan. Ini sketsa tersangkanya, Ndan.
Izin, Ndan.
Mereka memang bertemu di rumah Askar.
Sekarang, Leong ke tempatnya Wabil.
Kemungkinan dia lagi menyiapkan calon pengantin.
- Di mana tempatnya? - Cibata.
Tempat terakhir Simson dan Leong.
Kalau tujuannya adalah pengantin,
berarti Wabil sudah beredar cukup lama di sana.
Aku mau semua pengintaian fokus ke Cibata.
- Siap. - Siap, Ndan.
Kirim ini juga ke Simson.
- Siap, Ndan. - Bagus.
Permisi, mau bertanya.
Aku janjian sama temanku di sini, tapi dia belum datang.
Dia kira-kira tingginya 160 cm.
Punya bekas luka di sini.
Lalu, agak berjanggut.
Katanya tinggal di dekat sini.
- Lihat tidak? - Tidak.
- Tidak lihat, Bang. - Tidak.
- Tidak ya? - Tidak.
- Terima kasih, Pak. - Ya.
- Pak, permisi. - Ya.
Aku sedang mencari temanku, katanya tinggal di daerah sini.
Orangnya tidak terlalu tinggi.
Dia agak berjanggut dan punya bekas luka di sini.
Nah, aku tahu.
- Oh ya? - Dia beberapa kali belanja telur di sini.
- Oh ya, Pak? - Ya.
Sini.
Jadi, Mas lurus,
ada pertigaan, ikuti jalan itu saja, ada jalan rusak.
Sebelah kanan ada pembakaran bata, nomor tiga. Biasanya di sana.
Kau yang terpilih.
Sudah ditentukan.
Sudah takdir.
Ini adalah maharmu untuk mendapatkan surga.
Buat siapa kau melakukan ini?
Bapak.
Aku mau buat Bapak bangga.
Bapakmu pasti bangga.
Lihat, gagahnya prajurit Bapak ini.
Aku mau ambil mobil dulu di rental.
Habis subuh di sini lagi, jemput mereka.
Mereka semua sudah siap.
Buat jaga-jaga.
Semua sesuai rencana.
Kita beberapa langkah, jauh di depan.
Saudaraku, Wabil,
tetap mesti hati-hati ya.
Jaringan kami
punya cita-cita yang besar
dan strategi yang kukuh.
Kami tidak akan tertangkap.
Kami belajar
dari kesalahan Abu Askar.
Izin, Ndan. Saksi minta dibebaskan.
- Oke. - Siap.
Bu, aku sedang bekerja. Tolong jangan diganggu dulu ya.
Pa, dengarkan Donat bicara dulu.
Jangan "halo-halo" saja, dengarkan.
Oh… Halo, Donat…
Main apa saja sama Livi hari ini?
Oh, seru sekali pasti ya?
Livi pasti senang ada Donat yang menemani.
Donat,
tolong kasih tahu Livi ya,
Papanya pulang malam hari ini.
Jadi, Livi ditemani sama Donat dulu ya.
Papa bisa bicara sama Oma?
Oh, boleh.
Halo. Halo, Bu?
Bu…
Halo?
Ada apa, Ndu?
- Ibu lagi buat donat di dapur. - Halo?
Halo, Bu?
Pa, Donat tanya, Papa menangkap penjahat lagi ya?
Ya, Sayang.
Oma di mana?
Kata Donat, tangkap yang banyak.
- Kita sudah temukan titiknya! - Siap.
- Tim A, tim B bergerak! - Siap, Ndan.
Pa? Papa?
Pa?
Halo, Pa? Halo? Pa?
Abu.
Abu punya anak?
Ada.
Anak Abu seperti apa?
Dia sedikit lebih tua darimu.
Pantas jadi kakakmu.
Anaknya punya prinsip,
pendiriannya keras.
Kalau ada hal yang diyakini,
sampai mati itu hal dia pegang.
Kalau ada yang diincar,
pasti dia kejar.
Tidak berhenti
sampai dapat.
Abu bangga sama anak Abu?
Bangga sekali.
Ini, Oma.
"Burung Hantu Jambul Putih dan Tikus Hitam."
Seekor burung hantu jambul putih
- melesat terbang." - Bravo, bergerak!
"Lalu, hinggap di sebuah atap rumah yang tampak lengang."
Suaranya yang aneh…
Bergema bagaikan tangisan yang pilu.
Di dalam rumah yang terasa panas,
seekor tikus hitam tampak sibuk berkemas.
Burung hantu itu dengan cepat menyerang si tikus hitam
"dengan kecepatan yang penuh dendam."
- Bantuan akses depan. - Mereka datang!
"Tikus hitam berteriak,"
mencoba berlari,
karena dia tak kuasa sendiri.
Tikus hitam itu tak menyadari
bahwa si burung hantu juga tidak sendiri.
Sekelompok burung hantu lainnya
terbang menyebar
dengan semangat yang berkobar.
Kawanan tikus hitam
kocar-kacir.
Seiring hati mereka
"yang ketar-ketir."
Maju.
Tembak!
Abu.
Ini saatnya, Isfan.
Jadilah pemenang di surga.
Bapak bangga sama aku, 'kan, Abu?
Wah, Bapakmu pasti bangga.
Semua warga kembali ke rumah masing-masing,
jangan ada yang keluar.
Ayo, Bu. Balik, Bu.
Bang. Ada apa, Bang?
Penggerebekan katanya.
Tidak tahu narkoba atau apa itu.
Bang!
Ada jalan lain ke sana tidak?
Ke belakang. Ayo kembali, Bu.
Lewat terus, nanti ada tepi sawah,
- nanti lewati pinggir sungai. - Ayo kembali, Bu.
Terima kasih, Bang.
Tekan tombol ini
saat kau dekat mereka.
- Ini! - Abu.
"Tikus-tikus hitam kotor,"
musuh para petani,
dimusnahkan
"dengan gagah berani."
Simson!
- Simson! - Ndu!
Ndan.
Ada berapa kekuatan?
Tiga lumpuh, dua masih menyerang, Ndan.
- Leong? - Belum terlihat.
Untuk bapakmu.
Ayo!
Jangan bergerak! Polisi!
Jangan bergerak!
Jangan bergerak!
Simson!
Simson!
Bangsat!
Maju!
Bom!
Kirim bantuan!
Sadikin!
Sadikin…
Tahan tembakan.
Pak Leong,
sedang apa kau di sana?
Anak buahku sudah siap menembak kepalamu.
Mau apa anak buahmu?
Bikin aku mati?
Aku tidak takut mati.
Yang mulia itu berani hidup, Pak Leong.
Berani mati itu sudah biasa.
Alah, alasan!
Kau itu komandan,
mestinya jalan di depan.
Bukan malah bikin anak buahmu
jadi korban.
Seperti selama ini.
Hei, Sadikin,
sebagai komandan,
kau itu tidak becus!
Izin, Ndan. Biar kami saja.
Komandan.
Kita negosiasi.
Ndan?
Ini perintah!
Aku tidak ingin kehilangan anak buah lagi.
- Lepaskan anak buahku, Pak. - Alah, Sadikin.
Sedang apa kau di sini?
Ini bukan wilayahmu.
Ini juga bukan wilayahmu, Pak Leong.
- Kau turis di sini. - Nah, itu benar.
Tumben kau benar.
Memang
aku turis, tapi kau juga turis!
Ini hidup.
Tidak ada yang menetap di sini.
Semuanya turis.
Bedanya, kau itu turis tersasar.
Sesat!
Salah jalan.
Hei.
Kau itu masih hidup di dunia fiktifmu sendiri, Pak Leong.
Kalau jalanmu benar,
lalu untuk apa kau menabrak orang di jalan?
- Jaga Komandan. - Siap, Ndan.
Yang aku tabrak itu orang-orang kayak kalian.
Bodoh!
Sudah tahu di jalan satu arah, tapi kok malah melawan arah?
Yah, wajar kalau aku tabrak.
"Wajar"?
Bisa jadi wajar kalau menurutmu itu
orang-orang yang melawan arahmu.
Tapi ini orang yang sudah sejalan denganmu.
Orang yang lagi di pinggir jalan, ya kau tabrak.
Orang yang lagi nongkrong sama keluarganya, kau tabrak.
Sedang cari nafkah, kau tabrak dan kau lindas.
Bahkan anakmu sendiri lo, Pak.
Aku tidak akan pernah menabrak anakku.
Kau tidak perlu sok tahu.
Kau tidak tahu apa-apa.
Kau tahu?
Oh, kau tahu?
Kau paham apa soal anakmu?
Kau tahu keinginannya?
Kau tahu apa yang dialaminya?
Kau tahu apa yang dirasakan oleh anakmu?
Kau itu sudah jadi bapak yang gagal, Pak.
Sadikin…
Kau sok tahu lagi.
Hei…
Jangan pernah coba menakar rasa cinta seorang ayah ke anaknya!
Bapak!
Sudah, Pak, stop!
- Hei, diam! - Askar?
Pak, sudah! Lepas.
Dengarkan itu anakmu.
Pak, sudah!
Itu anakmu, Pak Leong.
Jangan biarkan dia melihat bapaknya gagal lagi.
Pak! Sudah!
- Lepas! - Diam!
Alah…
Bangsat.
Bapak!
Bapak!
Pak!
Pak…
Halo?
Papa!
- Papa. - Ibu maaf ya.
- Biar pasiennya istirahat dulu ya, Bu. - Papa!
Papa.
Papa…
Papa…
Papa…
Papa…
Papa baik-baik saja, Sayang.
Papamu kuat.
Aku
mengikuti pasukan Bapak.
Kenapa?
Aku pikir,
aku bisa hentikan bapakku,
Oke, Askar. Terima kasih.
Dari kami semua akan bantu urus pemakaman Bapak.
Bagaimana menurutmu?
Dia tidak punya ideologi yang melenceng.
Dia tidak agresif,
tidak melawan.
Askar itu anak baik,
tapi kebetulan dia punya bapak yang buruk.
Donat, jangan bikin suara ya. Sut…
Aman, Olivia.
Belum boleh masuk ya, Adik.
Jangan.
- Antarkan saja ke neneknya. - Biarkan saja.
Siap, Ndan.
Itu Papa.
Hei, Sayang.
Hei, Donat.
Papa…
Papa tidak apa-apa?
Papa tidak apa-apa, Sayang.
Penjahatnya sudah tertangkap.
Sudah tertangkap?
Berarti Papa tidak perlu kerja malam-malam lagi?
Penjahatnya masih banyak sekali, Sayang.
Oke. Karena di dunia ini banyak penjahat,
kayaknya Papa butuh Donat buat menjaga Papa.
Terus nanti yang menjaga Livi siapa kalau Donatnya sama Papa?
Tenang aja, Pa. Livi punya Oma.
Lalu, ada Miss Suri dan ada Papa juga.
Kadang-kadang.
Tapi Papa tidak ada yang menjaga.
Donat, mulai sekarang kau jaga Papa, ya, lawan penjahat. Oke?
Oke, Livi.
Terima kasih, Sayang.
Aku sayang Papa.
Papa lebih menyayangimu, Sayang.
Oh, ini dia anaknya teroris?
Teroris!
Teroris!
- Teroris! - Anaknya teroris!
Teroris.
Ini sudah menjadi keresahan warga di sini.
Untuk kebaikan bersama,
sebaiknya Askar pindah dari sini.
- Nah, betul itu. - Usir saja…
- Usir dia. - Usir saja…
WABIL, DPO TERORIS BOM KAFE LITTLE PARIS DI JAKARTA KOTA
- Selamat malam, Encik. - Ya?
Tadi kau kasih kabar soal penyerbuan kemarin malam itu?
Ceritakan kepadaku,
siapa pria yang kau maksud?
Dia anak buah Sadikin,
namanya Pandu.
Dia yang…
Dia yang bunuh Leong.
Sekarang kita jadi susah bergerak.
Rencana pengantin lain mungkin butuh…
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Semua akan berjalan sesuai rencana kalau Pandu mati.
Kasih harga yang besar untuk kepala si Pandu ini.
Aku yakin kau bisa pilih orang yang tepat.
Selamat malam, Pemirsa.
Saat ini kami masih berada di Rumah Sakit Dokter Iman Sentosa
untuk mengikuti perkembangan terkini dari dua anggota Densus yang tertembak
dalam aksi penyergapan terduga teroris
di sebuah tempat pembakaran bata di Cibata kemarin malam.
Leong, seorang anggota jaringan teroris,
yang sudah dibebaskan tanggal 6 Mei 2024
menembakkan pistolnya hingga mengenai AKP. PP
dan mengakibatkan AKP. PP terluka parah di bagian perut.
Korban lainnya adalah IPDA. ST
yang terluka akibat tiga peluru dalam aksi tembak antara teroris
dan juga anggota Densus tersebut.
Satu korban dari pihak teroris adalah Ahmad Isfan,
yang merupakan salah satu calon pengantin yang disinyalir
sudah disiapkan oleh Leong dan juga kaki tangannya,
untuk melakukan pemboman di tiga Hotel Internasional di Jakarta.
Dalam aksi tersebut juga diringkus seorang pemuda
yang bernama Askar Arha Wahidin,
yang tidak lain adalah putra satu-satunya dari Leong.
Sampai saat ini kami masih menunggu penjelasan lebih lanjut
dari pihak kepolisian,
mengapa Askar dibebaskan,
dan kenapa di malam itu Askar berada di TKP.
Jenderal,
Izin.
- Soal yang kemarin bagaimana? - Jangan terlalu khawatir.
Kita sudah sangat berhati-hati dengan redaksi siaran persnya.
Tapi ini bukan saat yang tepat untuk perayaan, Jenderal.
Masih banyak orang-orang kunci yang belum kita tangkap.
Kapan saat yang tepat?
Sebulan lagi?
Dua bulan lagi?
Setelah pengeboman kafe,
rakyat makin resah,
takut keluar rumah.
Jadi, ini harus segera.
Ini bukan perayaan.
Ini keputusan strategis.
- Izin, Ndan. - Ya.
Kita sudah menemukan titik terang Gonzales.
- Anaknya Buroq? - Siap.
Siapa namanya?
Isfan Ismail.
Permisi, Ndan.
Permisi, Pak,
bisa ikut aku sebentar ke ruang administrasi?
Ada apa ya, Mbak?
Urusan administrasinya Pak Pandu.
Oh, oke.
Suri!
Berisik ya, Mas?
Padahal aku tadi sudah berusaha pelan-pelan sekali masuknya.
Oh, tidak. Tidak berisik kok.
Aku lihat berita di TV,
aku tanya Oma.
Maaf aku sudah masuk ke sini tanpa izin, Mas.
Oh, tidak apa-apa. Aku senang kok.
Maksudnya…
Aku
senang jadi ada teman buat mengobrol.
Pelan-pelan, Mas.
- Tidak apa-apa. - Mas Pandu mau apa?
- Mau dipanggilkan suster? - Tak usah.
Mas Pandu mau buah?
Siap.
Boleh maksudnya.
- Aku bantu kupas ya, Mas. - Ya.
Terima kasih ya.
Kau sudah luangkan waktumu
untuk jenguk
aku.
Terima kasih juga karena Mas sudah izinkan
aku untuk masuk ke sini, Mas.
Mas?
Manis, 'kan, Mas? Manis, 'kan, jeruknya?
Manis.
- Saudaraku. - Mau apa kau?
Aku turut berduka cita yang dalam ya.
Hei, bukan aku, tapi Pandu.
Polisi muda itu yang membunuh ayahmu.
Aku tahu. Aku ada di sana.
Aku yakin
kau juga tahu aku ada di sana.
Sebaiknya kau pergi.
Tapi sebelum aku pergi,
aku yakin kau butuh ini.
- Pagi, Ndan. - Hei, pagi.
- Sudah makan belum? - Siap, sudah.
Jangan kenyang-kenyang, nanti kau mengantuk.
Siap, Ndan.
Wah, jagoanku sudah lengkap.
- Pagi, Ndan. - Pagi, Ndan.
Bagaimana adikmu, Ndu?
Sudah makin sehat, Ndan.
Terima kasih ya, Ndan, sudah menyempatkan datang.
Sudahlah, tenang. Kau sekarang istirahat.
Total. Lumayan…
Bisa cuti dua bulan.
- Siap, Ndan. - Kita makan dulu.
Mau pesan apa?
Se'i? Mau tidak?
Kalau tidak merepotkan, se'i yang spesial enak, Ndan.
Spesial?
Babi, Ndan.
- Babi? - Siap.
Aku tidak bisa makan, Son.
- Ngawur Son. - Siap salah, Ndan.
Permisi, Pak Simson. Kita periksa kondisinya dulu ya.
Silakan, Suster. Ndu.
Kita sudah dapat petunjuk tentang anaknya Buroq.
Yang ternyata pengantin yang kita ringkus kemarin.
Kita bisa tangkap Wabil dan jaringannya lewat Buroq.
Siap, laksanakan.
Laksanakan apa?
Ini informasi, bukan tugasmu.
Tugasmu itu pulang buat pemulihan.
Namamu dan Simson sudah kayak aku.
Sudah diincar sama jaringan.
Tiarap dulu.
- Izin berpendapat, Ndan. - Hei…
Ini perintah.
Kau pulang, temani Olivia.
Ya?
- Siap, terima kasih banyak, Ndan. - Ya.
Kau ini buang-buang waktuku terus.
Aku sudah bilang, aku tidak kenal siapa orang ini.
Mahakaryaku itu jauh lebih dahsyat dan mematikan
dibandingkan dengan bom di kafe tempo hari.
Yakin Pak Buroq tidak mau bantu aku?
Kalau aku dibantu Pak Buroq, ya aku juga bantu Pak Buroq.
Pak!
- Bapak… - Isfan?
- Isfan minta maaf, Pak. - Isfan.
Sadikin! Sadikin, kalian apakan anakku?
Begini cara main kalian?
Pengecut.
- Kok kami yang pengecut? - Kenapa Isfan?
Aku tadi sudah bilang, aku mau bantu Pak Buroq.
Isfan ini sudah dijadikan pengantin
sama Wabil.
Posisi kita sudah sama sekarang, Pak.
Aku harus tangkap orang ini.
Dia itu pemimpin baru jaringan yang memanfaatkan anaknya Pak Buroq.
Ayo,
kita bicara sekarang.
Bilaku yang pertama
Berjumpa muka
Nyatanyalah pengasingan juga
Engkau gemilang
Papa.
Papa tadi lihat Livi bernyanyi?
Tidak, Papa tidak lihat. Papa merem matanya.
Papa lihat, Sayang. Hebat anak Papa ini.
Ini latihan tambahan.
Livi suaranya sudah bagus,
cuma memang anaknya saja yang belum puas.
Memang tidak pernah puas ini ya?
Terima kasih banyak, Miss Suri, atas waktunya ya.
Papa kenapa datang ke sekolah?
Oh…
Ini Papa mau antar Donat, tugasnya sudah selesai.
Papa sudah sehat.
Mau antar Donat atau mau ketemu Miss Suri?
Tidak boleh begitu, Livi.
Donat.
Ini tiket apa, Pa?
Coba Livi baca.
Ke-bun bi-na-tang.
Kebun binatang?
- Ayo, Pa, ayo! - Ya, Sayang.
Pelan-pelan pakai tasnya ya.
Lagi bebas tugas.
Ajak Miss Suri.
Jalan bersama.
Tidak usah, aku masih ada kerjaan yang belum selesai.
Bohong… Tadi katanya bosan dan bingung mau apa di rumah?
Tidak apa-apa, Miss. Ikut saja.
Masih ada satu.
Papa diam-diam menyiapkan tiket buat Miss Suri?
Hei, kita langsung berangkat saja, nanti binatangnya kabur.
Mana mungkin? Mereka ada di kebun binatang.
- Memangnya penjahat Papa bisa kabur? - Tidak cuma binatang, Sayang.
Manusia kalau misalkan terlambat juga bisa kabur.
Oh, ya sudah… Ayo, Pa. Ayo, Miss Suri.
Ayo.
- Baik. - Mari, silakan.
Apa?
Kiri.
- Ke kiri, Pak. - Terima kasih, Pak.
Oke, terima kasih.
- Biar aku bantu, Mas. - Ya, Mas.
- Terima kasih, Mas. - Ya.
Ada apa, Mas?
Selamat malam, Pak.
Malam.
Mau antar sepiker.
Bukannya tadi sudah semua?
Ini surat jalannya.
Yang di dalam rusak.
Ini ganti barunya, Pak.
Ayo, bawa masuk.
Ya.
Izin, Ndan.
Info terkini, Ndan.
Wabil ternyata pernah membeli bahan di toko Yoen Kimia
dengan nama samaran Zaenal Putra.
Dari penelusuran selanjutnya, kita mendapatkan info sebuah tempat.
Yang mana?
- Sudah dipantau, Jay? - A1, Ndan.
Polisi! Angkat tangan!
Polisi! Angkat tangan!
Angkat tangan!
- Maju. - Berdiri.
- Menghadap dinding. Ayo! - Menghadap dinding.
Polisi! Angkat tangan!
Izin. Empat anggota binaan sudah dibekuk, target utama nihil, tidak ada jejak.
Tapi kami mendapatkan info sebuah lokasi baru, Ndan.
Ayo, cepat! Kita sudah terlambat!
Papa!
Livi, tunggu. Tunggu, Sayang. Sini.
Masih lama, Sayang.
Tapi Livi mau cepat latihan, Oma!
Ya.
Cantiknya anak Papa.
Papa, ayo cepat, kita sudah terlambat.
Ya, Sayang.
Jangan lari.
- Jalan ya, Bu. - Ya, Nak.
Bu.
Kok senyum-senyum begitu?
Mengobrolnya sambil duduk ya.
Suri, ya?
Ya.
Kok anak Ibu jadi tidak tegas begini?
Ibu dan Livi rasanya sudah siap.
Kau bagaimana?
Ayolah, Nak. Ibu rasa Olivia memang sudah butuh sosok mama baru.
Kau kalau stres pulang kerja malam-malam, jadi ada teman mengobrol.
Di kamar.
Ibu.
Ya sudah, nanti…
Selesai acara, aku ajak Suri ke sini ya.
Biasanya juga main ke sini.
Ya, maksudnya…
Ibu tolong masak sesuatu.
Mau Ibu masakkan apa?
Terserah Ibu aja.
Kalau terserah Ibu,
gulai torpedo bagaimana?
Bu…
Papa, ayo cepat!
Ya, Sayang.
Pagi! Lancar semuanya ya.
- Pagi, wah enak sekali itu hotdog. - Pagi, Bu.
- Pagi. - Mari aku antar ke tempat duduk.
- Ya. - Kebetulan sudah disiapkan.
Terima kasih ya.
Ruangan aman.
Izin, Ndan.
Selamat pagi, Ibu.
- Pagi, Ibu. - Pagi, Juni.
- Silakan duduk, Ibu. - Ya.
Bu, kayaknya bisa langsung kita mulai saja ya setelah ini.
Mas, ini minus one penampil pertama ya.
Silakan, Pak. Mau pilih yang mana?
- Putra! - Siap, Komandan.
Aku coba hubungi Pandu.
Kau hubungi markas, kirim pasukan ke TK Taman Pelita
dan juga Jibom.
Siap, Komandan.
Ya Allah…
- Bagaimana proyeknya? - Proyeknya?
- Masih diurus ya? - Sabar ya, Pak.
- Jadi… - Benar.
- Masih diurus ya? - Sabar ya, Pak.
Roy, sekolah jawab teleponnya tidak?
Siap. Belum, Ndan.
Pandu!
Selamat pagi.
Selamat pagi, Bu.
Selamat datang kepada para orang tua murid.
Terima kasih kepada orang tua yang sudah mau meluangkan waktu
untuk datang ke bazar tahunan TK Taman Pelita.
Tanpa dukungan yang luar biasa dari Bapak dan Ibu,
aku rasa acara ini tidak dapat terlaksana.
- Siap, Ndan. - Ndu, kau diincar!
- …semoga di tahun-tahun depan… - Askar mengincarmu!
Ndan.
Ndan, maaf suaranya tidak kedengaran.
- Halo? - Langsung saja kita mulai acaranya.
Silakan, Miss Suri.
Ndu.
Baiklah, Bapak dan Ibu.
Tanpa berlama-lama lagi, kita sambut penampilan pertama, Intan Olivia.
Semangat ya, Sayang.
Kau pasti bisa. Semoga berhasil.
- Selamat pagi, Semua… - Pagi!
Olivia!
Ayo dimulai, Nak.
Sudah mulai itu musiknya.
Donat… Aku mau sama Donat saja.
Pandu…
Donatmu, Pandu.
Siap, Ndan.
Pandu, Askar mengincarmu!
Olivia!
Olivia!
Jangan naik!
Olivia!
Olivia, turun!
Papa!
Olivia!
Turun!
Olivia!
Bu… Ibu.
Bu…
Ibu…
Livi!
Livi!
Olivia!
Olivia!
Olivia!
Nak!
Sayang!
Diam, bertahan…
Bertahan ya, Sayang, bertahan.
Bertahan ya… Kita ke rumah sakit, Sayang.
Kita ke rumah sakit, Sayang.
Dunia ini lucu, Pandu.
Yang putih kelak akan hitam,
yang suci pun habis dilahap api, Pandu.
Polisi, tiarap!
Ya, Sayang.
Tenang, ya. Sabar sedikit.
Sabar, Sayang.
Pandu.
Donatmu hangus, Pandu.
Bapak macam apa tidak bisa menyelamatkan anaknya?
Ndu!
Tembak, Ndu. Kayak kau tembak bapakku.
Anjing!
Sudah, Ndu!
Ndu.
Kalau kau seperti ini, kau sama kayak dia.
Sudah.
Sudah.
Cukup.
Cukup.
Kita tidak ada bedanya, Ndu.
Ndu.
- Sudah, cukup. - Pandu!
Pandu…
Kita berdua ini sama.
Dua sampah yang tidak punya siapa-siapa di dunia.
- Ndu! - Anjing!
Bagaimana kau, Pandu?
Pengecut!
Miss Suri
tidak apa-apa?
Miss Suri tidak apa-apa, Sayang.
Olivia bagaimana kabarnya?
Livi
tidak
kuat, Miss…
Perih.
Pa…
Papa…
Sini…
Ya, Sayang.
Papa, tidak apa-apa?
Papa tidak apa-apa, Sayang.
Papa
tidak
menangis, 'kan?
Jangan
sedih ya…
Papa tidak menangis, Sayang.
Livi
tidak
mau
lihat
Papa
sedih.
Livi
sayang
Papa.
Ma… Mama…
Ma…
Livi kangen, Ma.
Mama, sakit…
Mau ikut Mama…
Sayang,
Livi di sini saja sama Papa, ya.
Tidak usah ke mana-mana ya?
Pa…
Livi?
Livi, Nak?
Sayang?
Livi, ini Papa, Sayang.
Nanti kita ke kebun binatang bersama lagi ya.
Livi bangun ya, Sayang…
Livi!
Dengar Papa, 'kan, Nak?
Bu.
Bu. Ibu.
Ibu kenapa menangis, Bu? Livi tidak apa-apa kok, Bu.
Livi tidak apa-apa. Livi cuma tidur. Setelah ini, Livi bangun kok, Bu.
Livi. Nak…
Nak… Livi dengar Papa, 'kan, Sayang?
Livi!
Livi sayang…
Nak, ini Papa, Nak.
Sayang…
Papa janji Papa tidak akan pulang malam-malam lagi.
Papa tidak akan kerja malam-malam lagi, Sayang.
Pak, sudah.
Papa tidak akan kerja pulang malam-malam lagi, Sayang.
- Pak, sudah. - Livi, bangun, Nak…
Bapak, sudah. Sudah, Pak.
Hei! Ini anakku! Olivia anakku!
- Ya, aku paham. - Paham, 'kan?
Dari tadi kulihat, kau diam saja!
- Bantu anakku. - Mas…
- Anakku butuh pertolongan! - Mas Pandu…
Livi sudah tenang…
Livi sudah tenang, Mas.
Livi…
Livi…
Papa.
Terima kasih, Pa.
Papa…
Aku sayang Papa.
Tunggu aku tiba di Indonesia.
Mereka semua akan melihat sebuah mahakarya yang akan menghapus ketidakadilan.
Kita buat yang lebih bagus.
Kita buat yang lebih
meriah.
Baik, Encik Azahari.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.