All language subtitles for Dasim 2025 1080p WEB.AAC.x264.MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish Download
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese Download
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya nikahkan kau, Arman Prihantoro bin Rahmat Pangestu,

dengan Salma Assyifaya binti Wahid Kusuma

dengan mas kawin berupa emas sepuluh gram, tunai.

Saya terima nikahnya Salma Assyifaya

binti Wahid Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.

Bagaimana, Para Saksi? Semuanya, bagaimana?

Sah.

Alhamdulillahi rabbil alamin.

Amin.

Alhamdulillahi rabbil alamin.

- Selamat ya, Anakku. - Mohon doanya, Kiai.

Terima kasih banyak.

Oke. Semuanya lihat kamera. Satu, dua…

Bagus. Satu, dua…

Ganti gaya, gaya bebas.

Oke. Selanjutnya, pengapit pengantin dan keluarga.

Bu.

- Kiai mana ya? - Bapak agak rapat lagi.

Oh!

- Oke? - Sebentar.

Kau teman sekampus Salma?

Ya, Pak Kiai.

Masih sendirian?

Apa?

Salma sudah duluan. Kapan kau mau menyusul?

Doakan saja, Pak Kiai. Semoga cepat menyusul Salma.

- Amin. - Ya.

Ya, Alhamdulillah, Pakde sudah bisa melaksanakan amanah orang tua Salma

untuk mengantarnya sampai ke pelaminan.

Kiai, ayo kita foto dulu.

Oh ya. Permisi dulu, Dika.

- Silakan Pak Kiai. - Sebentar ya.

Satu, dua, ti…

Salma jadi pindah hari ini?

Jadi, Pakde.

Sejak Salma hamil, tiap malam Salma selalu mimpi buruk.

Salat berjemaah masih rutin?

Makin jarang sejak Mas Arman sering lembur.

Air doa dari Pakde masih ada, 'kan?

Masih, Pakde.

Kalau ada apa-apa, hubungi Pakde ya.

Hei…

Indri? Ya Allah, astagfirullah.

Aku kira siapa.

Kenapa?

Lagi mengumpulkan mental, ya, buat tinggal sama mertua?

Untuk apa menyiapkan mental?

Ibunya Mas Arman baik kok.

Insyaallah, tidak drama.

Amin.

Lagi pula, kenapa tidak dari dulu saja, Sal?

Yah, kau seperti tidak tahu saja.

Dari awal memang ingin tinggal sendiri.

Tapi sejak resain,

lalu Mas Arman kerja,

aku suka merasa tidak enak sendirian di sini.

Apalagi, sekarang Mas Arman makin sibuk di kantor.

Kau resainnya terlalu cepat.

Yah, Mas Arman yang suruh.

Mungkin dia tidak mau aku terlalu lelah, pulang malam.

Namanya juga bumil.

Semoga di sana lebih nyaman ya, Sal.

Sayang, sudah semua?

Sudah, Mas.

Aku harus hamil dulu baru dibantu?

Ya.

- Hati-hati, kanan. - Oke.

Boleh sekali kalau mau hamil, tapi, 'kan, tidak ada cowoknya, ya?

Mas!

Jahat sekali.

Memang tidak ada, tapi "akan", ya.

- Amin. - Ikut ke rumah Ibu, 'kan?

Bayarannya mahal lo.

Memangnya mau dibayar murah?

- Tidak, ya. - Hati-hati, kiri.

Memang kantor sibuk sekali ya, Ndri?

Kliennya ribet.

Namanya juga klien.

Kalian yakin? Baru enam bulan bulan madu, sudah pindahan saja.

Tapi lebih dekat ke kantor.

Biar Bumil ini ada yang menemani kalau aku lagi lembur.

- Neng, Mas. - Bi.

- Sehat, Bi? - Alhamdulillah.

- Bi, apa kabar? - Baik.

Bi, mau minta tolong, tapi ini agak berat.

Ya.

Hati-hati ya, Bi.

Maaf, Bi.

- Hati-hati. - Bisa. Kuat.

Mas.

Kita tidak apa-apa bawa barang sebanyak ini?

Tidak apa-apa. Aku sudah bilang sama Ibu.

Jangan, biar aku saja.

Ayo.

- Ayo, Ndri. - Ya.

Arman.

- Bu. - Kok tidak bilang sudah sampai?

- Ibu sehat? - Alhamdulillah, sehat.

- Salma. - Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Bu, maaf ya jadi merepotkan.

Sama sekali tidak ada yang direpotkan.

Ibu malah suka Arman pulang lagi.

Jadi, tidak berdua saja sama Sumi.

Ibu juga mau jaga cucu pertama Ibu.

Oh ya, Bu, perkenalkan. Ini Indri, sahabatku.

Dulu teman di pesantren juga.

- Indri, Tante. - Silakan masuk.

Bisa, Sumi?

Bisa, Bu.

Hei, sudah, biar Sumi saja.

Tidak apa-apa, Bu, cuma satu.

- Bisa, Bi? Hati-hati. - Ya.

Sumi jangan di sana, dibawa ke belakang saja.

Ya.

Ibu tidak suka buka gorden.

Oh.

Tetangga di sini banyak yang ingin tahu rahasia dan urusan orang lain.

Oh. Begitu, Bu? Maaf, ya.

Sayang, mau lihat kamar kita? Sudah dirapikan sama Ibu. Ayo.

Ya.

Sebentar ya, Bu.

Sal, aku ambil barang-barang yang lain ya.

Oh, ya.

Semoga kau betah ya di sini.

Kau juga ya.

Semoga kau betah di sini.

Semoga ibumu tidak bermimpi buruk lagi.

Permisi.

Diinterupsi mesra-mesraannya.

- Tante mengajak makan katanya. - Ya.

Kau juga ikut.

- Tante sudah ajak, masa aku menolak? - Ya sudah, ayo.

- Ayo. - Ayo, Mas.

Aku tidur ya.

Shadaqallahul adzim.

Mas.

Sudah isya, belum? Kalau belum…

Jangan…

Asalamualaikum.

Mas.

Mas baru datang?

Ya.

Kau kenapa, Sayang?

Ayo kita salat berjemaah. Aku takut kejadian di kontrakan terjadi lagi.

Sayang, kau bicara apa?

Selama aku tinggal di sini tidak ada apa-apa kok.

Tapi tetap saja, Mas.

Ya?

Allahu Akbar.

Sami'allahu liman hamidah.

Allahu Akbar.

Assalamualaikum warahmatullah.

Assalamualaikum warahmatullah.

Sayang.

Kenapa?

- Tenang dulu. - Mas…

- Tenang dulu. - Mas…

Istigfar.

Tenang, tidak ada apa-apa.

Astagfirullahaladzim.

Alaikum salam, Pakde.

Mas.

Kata Pakde, dia mau bantu syukuran dan pengajian empat bulanan kita.

Oh?

Alhamdulillah.

Ibu bagaimana?

Memang harus, ya, mengundang semua tetangga?

Ibu juga sudah banyak tidak kenal.

Justru karena itu, Bu.

Biar tetangga-tetangga itu pada kenal

sama Salma.

Kenal cucu pertama Ibu.

Ya tidak, Bu?

Silakan masuk.

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Hari ini, kita berkumpul di rumah yang dimuliakan Allah ini

untuk memanjatkan doa dan syukur kepada…

Tumben Bu Lastri mengadakan pengajian seperti begini.

- Tobat mungkin. - Hei!

…sedang hamil empat bulan.

Semoga diberikan kesehatan, kekuatan,

akan melahirkan anak yang salih dan salihah.

Amin.

Untuk itu, mari kita…

Ibu kurang sehat, jadi, ke kamar duluan ya.

Oh ya, Bi, tidak apa-apa.

Terima kasih ya, Bi.

Aku berlindung kepada Allah

dari godaan setan yang terkutuk.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dan orang orang yang berkata,

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami…"

Sumi!

Barang-barangku! Itu sofa jangan sampai basah!

Semoga berjalan lancar segalanya.

Arman, Salma, rukun-rukun ya.

- Amin, insyaallah. - Amin.

Kiai, langsung pulang ke pesantren?

Ya, aku akan ke pesantren.

Nanti kalau kau ke pesantren, Arman diajak ya.

Ikut ya, Man?

Insyaallah, pasti.

Pasti Kiai, insyaallah.

- Mohon doanya, Kiai. - Ya.

Aku bantu Ibu sebentar, ya.

Ya, Mas.

Salma.

Selamat datang ya, di lingkungan kami.

Terima kasih.

Ibu…

Panggil saja Diah.

Oh, ya.

Teh Diah.

Terima kasih sudah datang.

Ya, sama-sama. Salma baik-baik ya di sini.

Dijaga bayinya, jangan terlalu lelah.

Sama jangan banyak pikiran.

Insyaallah.

Ibunya tidak apa-apa?

Barang-barangnya jadi kena hujan.

Tidak apa-apa, Teh.

Sudah dipindahkan juga.

Lain kali tidak usah membuat acara-acara begini.

Rusak semua barang-barang Ibu!

Benar, 'kan, aku bilang juga apa.

Yah, namanya juga orang tua.

Aku pamit dulu ya, Salma.

- Ya, Teh. - Ya.

- Permisi. - Ya.

Buat Arman?

Ya, Bu.

Tumben dia suka rebus-rebusan begini.

Bukannya biasanya suka rawon atau sop kaki, begitu?

Ya, Bu, memang suka, tapi tidak boleh sering-sering.

Takut kolesterolnya tinggi, Bu.

Baru nikah sudah banyak mengatur.

Ibu saja tidak pernah kok.

Maksudnya, Bu?

Ini Sumi, beli petainya kok jarang-jarang seperti begini ya?

Tidak ada yang lebih bagus, apa?

Oh.

Ibu mau masak apa? Salma bantu, ya?

Sambal goreng petai dengan ati ampela.

Arman pasti suka.

Ya, benar.

Aku bantu ya, Bu.

Tapi percuma Ibu masak, kalau kau larang makan jeroan!

- Siang, Bu. - Siang.

- Selamat siang, Bu Salma. - Siang.

- Siang, Bu. - Siang.

- Siang, Bu. - Siang.

- Oke. Dah, Sayang. - Dah.

Kalau seperti itu revisinya, aku perlu tinjau ulang desainnya, Pak,

karena itu berkaitan dengan struktur.

Kesalahan sekecil apa pun itu, bisa berimbas negatif

dan bahaya untuk calon penggunanya.

Oh, atau begini saja Pak.

Bagaimana kalau aku dahulukan beberapa visualisasi 3D dari rendernya?

Atau nanti kita bicarakan lagi, kita rapat lagi terkait…

Gila ini orang.

Aku akan atur waktu untuk rapat secepatnya dengan tim teknisi, ya.

- Atur saja. - Oke.

Sal.

Nanti aku ke sana.

Mas.

- Sayang. - Hai.

Bagaimana ini? Kok mengantar makanannya sendiri?

Kenapa tidak dititipkan saja atau dikirim?

Jadi, kau lebih ingin ketemu kurir daripada bertemu denganku?

Tergantung.

Kecuali kau mau jadi kurirnya.

Enak saja!

- Sini. - Apa itu?

Aku buka, ya?

Ya.

Wah, ini kok…

Agak kontradiktif ya menunya?

Ya, Mas.

Ibumu itu sudah masak.

Tidak enak kalau tidak langsung dimakan.

Tapi kalau menunggumu, takut sudah tidak enak nanti.

Ya, ini sudah kelihatan menu mana yang bakal aku habiskan duluan.

Yang mana?

Jelas sayur tanpa garam dan tanpa minyak ini!

Tidak, aku bercanda.

Kau tenang saja, menu makanan ini akan aku habiskan semuanya.

Lagi pula, hari ini aku akan rapat sampai malam.

Sal.

Terima kasih ya, Ndri.

Sama-sama.

Bagaimana tinggal di Pondok Mertua Indah? Betah?

Sejauh ini, tidak ada masalah yang besar.

Tapi…

Tapi…

Aku merasa, Ndri,

ibunya Mas Arman itu seperti

menyimpan sesuatu.

Selain barang-barang, maksudnya?

Kau ini!

Tapi benar, barang-barangnya banyak sekali.

- Ya juga. - Kenapa?

Ya…

Aku cuma tidak ingin ada salah paham saja.

Mungkin ibunya Mas Arman mau bilang apa,

tapi aku menerimanya beda.

Salah paham, ya?

Ya.

Aku cuma tidak mau ada konflik saja,

apalagi kalau masalah sepele.

Sudah, Sal, tidak usah dipikirkan.

Niatmu pindah ke sana juga baik.

Sabar saja dulu.

Nanti kalau bayinya sudah lahir,

kau juga pindah ke rumah yang Arman lagi bangun.

Ya, Ndri.

Semoga ke depannya tidak ada masalah yang besar.

Kasihan juga Mas Arman kalau harus terbawa-bawa.

Niat kami pindah ini

supaya dia tidak kepikiran kalau aku sendirian.

Aku juga lagi mencoba menenangkan Arman yang jadi sering emosi

gara-gara kliennya banyak mengubah konsep terus.

Indri.

Maaf ya, jadi kau yang repot.

Tidak apa-apa.

Bi Sumi.

Bu…

Bu, maaf, aku tidak sengaja.

Tadi aku di atas seperti melihat sesuatu.

Tikus?

Bukan, Bu.

Nanti Ibu akan minta Arman untuk periksa.

Sebentar, Bu.

Halo. Sudah di depan ya?

Ya sudah, sebentar ya.

Ya sudah, kau ke sana saja.

Bu, nanti aku bereskan ya.

Ya.

- Ya ampun, Dika. - Sal.

Kenapa kau yang antar? Kenapa tidak pakai paket saja?

Tidak apa-apa. Lagi pula, dekat juga sama tokoku.

Aku juga lagi tidak sibuk.

Hei, jangan. Aku saja, berat. Taruh di mana?

Ya sudah, tunggu ya.

Bi, tolong aku sebentar ya!

Ya, Neng!

Minta tolong.

Ini, Bi, tolong antar ini ke ruang kerja aku ya.

Oh, ya.

Bi, berat, biar aku saja.

Tidak apa-apa, Bibi juga kuat.

Ini tidak sekalian?

- Itu aku saja, Bi. - Baiklah.

- Terima kasih ya, Bi. - Ya.

- Terima kasih, Bi, hati-hati. - Ya.

Sal, jarimu kenapa?

Sebentar, aku sepertinya ada…

Sini.

Makanya hati-hati.

Kena apa?

Tadi, di ruang kerja aku…

Ada…

Mas Arman.

Man, maaf mobilku menghalangi.

Hei, tidak apa-apa.

Tumben mengantar sendiri? Kurir ke mana?

Kalau pakai kurir kena biaya tambahan.

Ya sudah, aku balik dulu ya.

Sal, balik ya.

- Terima kasih ya, Dika. - Ya.

Hati-hati.

- Sayang. - Mas.

Perhatian sekali sepertinya dia sama kau.

Tidak usah menyindir begitu, Mas.

Dia memang selalu baik sama aku dari dulu.

Dia cuma mau bantu bisnis aku.

Mas? Bagaimana?

Sebentar, Sayang.

Mas! Kenapa, Mas?

Mas? Mas Arman?

- Tikus. - Mas!

Ya ampun.

Ya ampun, Sayang.

Kau itu, ya.

Mudah panik.

Besok aku belikan pembasmi tikusnya.

Sudah, ayo.

Tidak ada apa-apa. Sudah, ayo.

Ayo.

Mas, tidak sarapan dulu?

Tidak usah. Nanti saja, gampang.

Ya sudah, nanti aku antar makan siang ke kantor.

Tidak usah.

Aku bisa pesan atau titip ke OB.

Jalan dulu ya. Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Salma.

Teh Diah.

- Salma. - Teh.

Ini, Salma, Teteh dapat oleh-oleh dari keluarga,

cuma sepertinya agak kebanyakan kalau harus dihabiskan sendiri.

Ini buat Salma saja ya.

Ya ampun, Teh, repot-repot.

Terima kasih ya, Teh.

Salma suka pedas?

Ayo, dicoba dulu.

Dicoba ya, Teh.

Bismillah.

Enak sekali, Teh.

Kebetulan aku sama suami suka sekali masakan pedas seperti begini.

- Terima kasih, Teh. - Sama-sama.

Masuk dulu, Teh.

Teteh ke sini cuma mau kasih ini saja ke Salma.

Salma kapan-kapan mampir ya ke rumah.

Rumah Teteh di mana?

Di pojok kompleks, yang ada pohon besarnya.

Oh.

Ya, Teh. Insyaallah.

Ya.

- Bi. - Ya?

Ini saja ya, Bi. Ada tetangga kasih makanan.

Yang Ibu masak, biar bisa buat sampai malam.

Oh, begitu. Ya.

- Bi Sumi. - Ya?

Selama Bibi tinggal di sini, Bibi pernah merasa

ada yang aneh, tidak?

Aneh bagaimana, Neng?

Neng, kalau hamil muda suka begitu.

Dulu Bu Lastri waktu hamil Arman juga sensitif.

Jadi, kalau Neng di sini tidak enak, merasa tidak nyaman,

banyak salat, banyak doa.

Insyaallah tidak diganggu lagi.

Oh ya, Bi, tolong siapkan satu bekal lagi ya.

Mau aku bawa.

Sal.

Makanan dari mana?

Dari Teh Diah, Bu.

Diah mana ya?

Sumi, kau tahu?

Tetangga kita yang rumahnya di ujung kompleks, Bu.

Terima kasih ya, Bi.

Bu aku pamit ya, mau ke pesantren ketemu Pakde.

Aku hari ini titip dulu buat Mas Arman makanannya.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Alaikum salam.

Asalamualaikum, Kiai.

Alaikum salam.

Niat Salma ke sini

karena Salma merasa masih ada gangguan, Kiai.

Salma tidak tahu ini karena Salma lagi hamil,

karena rumah, atau yang lainnya.

Kau sudah bilang sama Arman?

Salma tidak mau menambah beban dia, Kiai.

Kerjaan dia masih banyak sekali di kantor.

Salma tidak mau hubungan Salma sama Mas Arman jadi tidak enak.

Apalagi, sekarang ada dia.

Memang, cobaan di awal pernikahan itu

biasa, lumrah.

Arman sedang membangun kariernya,

kau juga sedang hamil pertama.

Saran Pakde,

Arman mesti tahu apa yang sedang terjadi kepadamu.

Ya, Kiai.

Salma kangen sekali sama Ibu dan Bapak.

Mungkin kalau ada mereka, Salma bisa lebih kuat.

Kirim doa

buat almarhum dan almarhumah kedua orang tuamu.

Dan minta perlindungan kepada Allah SWT.

Nanti Pakde bantu dengan air doa dan juga bacaannya.

Ya, Kiai.

Oh ya, Kiai.

Ini.

Salma bawa dari rumah untuk Kiai.

Ada ini dan ini.

Subhanallah, kok jadi repot-repot membawa ini?

Kau ikut makan ya.

- Ya. - Kita makan sama-sama ya.

Bismillahirrahmanirrahim.

Astagfirullah.

Astagfirullah.

Astagfirullah.

Kiai, maaf ya.

Ini tidak mungkin, Bu.

Ini pasti ada yang menukar!

Mas, tadi aku sudah mencicipi dan tidak kenapa-kenapa.

Masa belum setengah hari sudah busuk?

Tapi tidak mungkin juga Ibu yang menukar, Sal. Buat apa?

Apalagi Sumi, tidak mungkin.

Ya, Bu, tapi pas disiapkan tidak apa-apa, 'kan?

Bi Sumi lihat, 'kan?

Sal, sudahlah.

Lagi pula, belum ada yang makan, 'kan?

Kiai juga tidak makan, 'kan?

Ya, Mas, tapi aku malu sekali!

Masa aku siapkan makanan busuk?

Aku yakin pasti ada yang menukar.

Sal!

Aku bilang sudah.

Bukannya kau sudah berhenti?

Sudah berhenti, Bu.

Salma lagi kenapa?

Kayaknya dia tidak nyaman sekali di sini.

Ketakutan terus.

Kau sendiri bagaimana?

Stres pekerjaan di kantor?

Sibuk saja, Bu.

Biasa, namanya juga kerja.

Kalau ada apa-apa, dibicarakan, Arman.

Rumah tangga kuncinya adalah komunikasi.

Jangan seperti Ibu yang banyak diam.

Masa?

Tidak seperti itu seharusnya.

Lucu kok.

Lucu sekali.

Bi.

Mas Arman di belakang, ya?

Tidak, Neng, tadi sepertinya sudah masuk.

Sal?

Kau sedang apa?

Itu ponselmu bunyi terus, Mas.

Besok saja aku ceknya, ya.

Paling juga cuma pekerjaan.

Sayang.

Aku lelah sekali.

Kita istirahat saja ya.

Bu.

Bi Sumi takut apa yang dirasakan Neng Salma benar.

Tidak usah berpikir yang aneh-aneh.

Mending kau cari tahu siapa yang namanya Diah itu.

Ya, Bu.

Bismillah.

Astagfirullah!

Selain itu, kami juga sudah mengubah tata letaknya sesuai yang Bapak inginkan.

Mungkin bisa dilihat langsung di bagian denahnya.

Untuk area dapur, pembatasnya sudah kulepas,

jadi, ruangannya terasa lebih luas.

Selanjutnya.

Ya. Di sebelah kanan, Pak, ada tembok…

Sebentar.

Di area tersebut juga sudah kuubah tembok dan juga pintunya

menjadi pintu geser kaca, jadi, terasa lebih luas Pak.

Dan memang di sana…

Maaf, Pak, aku harus angkat telepon sebentar.

Pak, Bu, maaf sepertinya penting.

Halo, Sayang. Kau kenapa?

Mas Arman. Mas.

Mas, aku takut sekali.

Ada sesuatu yang aneh di rumah.

Aku tidak bisa jelaskan, Mas,

tapi yang jelas rumah-rumahanku hancur, Mas.

Salma, aku sudah bilang sama kau, hari ini aku rapat sama Pak Deni.

Dan itu penting.

Tapi, Mas…

- Halo? - Mas Arman?

Mas.

Salma? Halo?

Kau memang tidak pernah peduli.

Semoga proyekmu gagal.

Kok kau bicara begitu?

Sal!

Pak Arman.

Maaf ya, Pak, sudah ditunggu.

Sal,

kau lagi baik-baik saja, 'kan, sama Arman?

Hei, sudah.

Biar aku saja.

- Dika. - Ya?

Kau dengar sesuatu tidak?

Aku cek ya.

Dika!

Sal!

- Kau tidak apa-apa? - Neng!

Kenapa lagi?

Sekali-sekali tidak apa-apa.

Daripada ditahan jadinya uring-uringan.

Tadi Salma telepon ya? Kenapa?

Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa,

tapi kalau kau lagi ingin cerita,

ada aku ya.

Aku tidak tahu semua pernikahan itu mengalami yang aku alami atau tidak.

Kenapa?

Aku bisa balik nanti, sebelum Arman pulang.

Tidak usah. Terima kasih ya.

Benar tidak apa-apa?

Sudah tidak apa-apa.

Teh Diah?

Salma.

Arman belum pulang?

Masih sibuk, Teh, di kantor.

Sudah, Salma jangan merasa diabaikan

kalau sekarang suami sudah mulai sering pulang larut

atau sudah tidak perhatian lagi seperti dulu.

Atau mungkin

sekarang Salma merasa kalau Salma jadi pengganggu buat dia.

Salma lagi hamil,

jadi, wajar kalau memang lebih sensitif merasakan hal-hal seperti begitu.

Teh Diah sudah pernah menikah?

Pernah.

Dulu suami Teteh juga begitu.

Teteh pikir Teteh yang salah,

ternyata ada perempuan lain.

- Kenapa, Sal? - Halo, Ndri.

Hari ini Mas Arman sama tim lembur lagi ya?

Ya.

Sudah pada mau pulang,

tapi sepertinya Mas Arman bakal lanjut di sini sampai malam.

Sendiri?

Ada beberapa yang menemani.

Kenapa, Sal?

Oh.

Ndri.

Si ambasador, yang fotonya ada di pamflet itu, sering datang ya?

Tidak pernah.

Mbak.

Mbak!

Mbak!

Mbak! Tunggu, Mbak!

Mbak!

Salma.

Sal?

Kau tidak apa-apa?

Kau sedang apa di sini jam segini?

Kenapa, Ndri, kau menutupi soal ini?

- Soal apa Sal? - Soal perempuan tadi!

Kenapa harus kau rahasiakan segala?

Oh, disuruh Mas Arman ya?

Aku kira kita teman, Indri.

Sayang.

- Mas. - Kau ke sini kok tidak bilang sama aku?

Perempuan yang pakai baju merah itu siapa, Mas?

Perempuan yang mana?

Yang keluar dari ruanganmu!

Mas!

Kenapa kau tidak pernah cerita sama aku soal perempuan itu?

Dia, 'kan, orangnya?

Sal.

Kau sadar tidak, makin ke sini kau bicara makin yang tidak-tidak?

Tiba-tiba rumah roboh.

Kita sudah pindah ke rumah Ibu, tapi kau tidak betah.

Kita mengontrak juga salah, jadi, maumu kita…

Mas! Sudah cukup!

Tidak usah membahas yang lain!

Dia perempuan yang teleponan denganmu kemarin malam, 'kan?

- Aku tidak telepon siapa pun… - Aku lihat sendiri Mas!

Kita bicara di mobil.

Kau mau kita pindah rumah? Atau kau mau aku berhenti kerja?

Tidak, Mas.

Terus apa maumu?

Aku mau kau dengar aku, Mas.

Percaya sama aku.

Ya, ini aku mendengarkanmu!

Makanya aku tanya aku harus apa, aku harus bagaimana.

Aku mau kau tidak kabur-kaburan Mas.

Tidak cari alasan, tidak cari orang lain…

Orang lain apa?

Orang lain yang mana?

Berkali-kali aku bilang tidak ada orang lain!

Sayang?

Sal.

Sal! Sal…

Salma!

Sal!

Cari siapa, Bi?

Astagfirullahaladzim!

Arman tidur di depan?

Bertengkar lagi?

Kalau lagi ada masalah, dibicarakan dulu. Jangan terbawa emosi.

Mas Armannya tidak mau dengar, Bu.

Arman lelah, Sal.

Kau tahu proyek dia sekarang, 'kan?

Ya, lelah selingkuh, Bu.

Kok kau bicara begitu?

Sudahlah, Bu, percuma.

Ibu pasti lebih dengar Mas Arman daripada aku, 'kan?

Menantu Ibu ini?

Ibu tidak pernah begitu.

Sal.

Aku saja, Bi.

Bu, aku datang ke rumah yang di ujung jalan itu.

Rumah Bu Diah, rumahnya kosong.

Maksudnya?

Tidak ada yang pernah tinggal di sana.

Teh Diah. Ada apa, Teh?

Ingin berbincang saja sama Salma.

Aku juga tanya-tanya sama satpam dan tetangga kompleks.

Tidak ada yang namanya Bu Diah.

Jadi, Neng Salma harus dikasih tahu.

- Bi. - Ya?

Tolong buatkan minuman ya.

Ada tamu, Teh Diah.

Terima kasih, Bi.

Aduh…

Buatkan teh.

Ada apa, Teh, pagi-pagi ke sini?

Teh, menurut Teteh, aku harus bagaimana?

Jangan ikut campur!

Astagfirullahaladzim! Aduh.

Maaf, Bu Lastri.

Sumi.

Coba kau lihat air yang ditaruh Salma di ruangan-ruangan lain.

Ya.

Dilihat, ya.

Ya.

Terima kasih, Teh, sudah mampir.

Salma.

Salma?

Sumi!

Aduh!

- Ya Allah! Ibu! - Sumi!

- Ibu, ada apa? - Sakit.

- Sakit! - Aduh. Bagaimana ini, Bu?

Panas…

Ya Allah, Ibu! Astagfirullah!

Bibi! Tolong P3K!

- Ya. - Sekarang, Bi!

Ya Allah, Ibu kenapa? Kok bisa?

Ya Allah.

Bi, cepat! Bi!

Bu! Ya Allah.

Aku tidak habis pikir.

Kok bisa kompor menyala ditinggalkan?

Salma dan Bi Sumi ke mana?

Masa urusan seperti begini saja aku harus meninggalkan pekerjaan?

Aku tadi lagi terima tamu, Mas.

Tamu siapa?

Dika lagi? Antar barang?

Kau ada hubungan apa sama Dika?

Mas, maksudmu itu apa?

Dika itu penyuplai bahan rumah bonekaku, Mas!

Yang namanya penyuplai itu di toko.

Kalau dia mengantar ke sini, berarti ada maunya.

Arman… Sudah, Nak.

Aku tidak pernah minta dia datang ke sini.

Kau tidak pernah menolak juga, 'kan?

Sudah, Mas.

Yang salah Bi Sumi, Mbak, Mas.

Tidak, Sumi. Tidak ada yang salah.

Ini murni kecelakaan. Yang penting Ibu tidak apa-apa, 'kan?

Dapur itu tanggung jawab Bi Sumi.

Bi Sumi kurang teliti, jadi, Ibu celaka.

Maaf, Bu.

Aku sudah teleponan sama Pakdenya Salma.

Beliau tidak bisa datang karena masih ada acara di pesantren.

Tapi beliau akan titip air doa buat perlindungan kita.

Tolong kau ambil ya, Sumi.

Ini alamat pesantrennya,

ini ongkosnya.

Kabari kalau sudah sampai ya.

Astagfirullah!

- Pelan-pelan, Bu. - Sumi.

Sumi.

Ini semua salah Ibu, Man. Ibu yang salah.

Tidak. Ibu sama sekali tidak salah. Tidak ada kaitannya sama Ibu.

Apa yang terjadi sama Bi Sumi, itu semua terjadi karena kehendak Allah.

Tapi Ibu yang minta dia ke pesantren pakdenya Salma.

Ibu yang minta.

Sudah, Bu.

Kau harus dengarkan Ibu ya, Man.

Tolong kau dengarkan Ibu ya.

Awalnya Ibu juga tidak percaya, Man, tapi kau harus percaya.

Ibu takut kematian Sumi

dan apa yang sering Salma alami di rumah itu,

ada hubungannya sama tetangga yang sering Salma temui.

Ibu.

Tolong dengarkan Ibu.

Ini formulirnya sudah diisi. Silakan, Pak.

Salma.

Ibu mau minta maaf kepadamu.

Ibu sekarang percaya apa yang kau dengar dan alami itu nyata.

Tapi Ibu juga mau bicara sesuatu tentang temanmu, Diah.

Ibu sempat minta Sumi datang ke rumah dia dan rumah itu kosong.

Bu,

kenapa tiba-tiba jadi membahas Teh Diah?

Coba… Coba kau dengarkan Ibu dulu.

Setiap kali kau bilang Diah datang,

yang Ibu lihat, kau bicara sendiri, Nak.

- Bu. - Salma.

Maksud Ibu bagaimana?

Ibu mau bilang aku gila? Begitu?

Tidak.

Tolong dengarkan Ibu.

- Ibu tidak mengada-ada. Dengar… - Ibu. Sudah, Bu!

Cukup, Bu!

Salma.

Bu.

Teh Diah.

Salma.

Akhirnya kau main ke sini juga.

Sumi?

Sumi?

Benar 'kan?

Mereka itu tidak butuh kau.

Mereka cuma memikirkan diri mereka sendiri.

Kau juga sudah tidak butuh dia lagi.

Kenapa, Salma?

Tolong, Bu…

Tolong, Bu…

Bu, tolong…

Tolong, Bu.

Bu, tolong.

Tolong aku. Itu ada… hantu…

Kau siapa?

Kau siapa?

Kau lihat apa, Salma?

Ibu!

Mas Arman!

Ibu!

Mas Arman!

Ibu!

Mas Arman!

Bu!

Ibu!

Mas!

Kau… Kau yang menghancurkan keluargaku!

Astagfirullah!

Astagfirullahaladzim.

Allah pelindung orang-orang yang beriman.

Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.

Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan…

Allahu Akbar!

Ya!

- Ndri… - Sal?

Indri, tolong sekali.

Indri, tolong antar aku ke pesantren sekarang.

Aku harus ketemu Pakde sekarang, tolong sekali.

Mas Arman tidak tahu di mana Ndri.

Tenang, sini.

Ndri, tolong antar aku ya. Aku harus ketemu Pakde.

Mas Arman tidak tahu di mana.

Aku yakin rumah tanggaku diganggu sama sesuatu.

Tapi aku tidak bisa menghadapi ini sendirian.

- Tolong ya, Ndri. - Sut…

- Tolong sekali, Ndri. - Ya ampun, Sal, duduk dulu.

Kau bisa sakit kalau basah begini.

Tenang. Minum dulu.

- Tolong sekali. - Ya, aku ambilkan sesuatu buat kau.

Astagfirullahaladzim.

Sal.

Mas?

Salma.

Salma!

- Jadi, kalian… - Tidak! Aku tidak mau kau salah paham.

Aku menemukan Ibu pingsan di rumah dan aku langsung bawa ke rumah sakit.

Di lobi rumah sakit, aku ketemu Indri.

- Kau yang ke mana? - Mas! Sudah cukup!

Ini yang kau bilang "lembur"? Ya, Mas?

- Salma, kau tenang dulu. - Kau diam!

Kau itu jahat sekali, Ndri, sama aku!

Aku sahabatmu, Ndri! Aku cerita semua kepadamu!

- Kok kau jahat sekali? - Ini tidak seperti yang kau pikirkan.

Diam!

Aku lihat semua, Ndri! Ini buktinya, 'kan?

Memang kau pikir aku bodoh? Aku tidak bodoh!

Salma!

Dengar aku dulu! Kau memang tidak bodoh!

Kau cuma kurang mengerti Arman saja!

Semua maumu dia turuti, Sal!

Mau pindah, mau rumah sendiri, mau resain, mau bisnis, semua!

Kau tidak sadar untuk dapat itu semua, dia butuh kerja keras?

Jangan seperti ini balasannya!

Malah terus-menerus curiga sama Arman.

Bukannya bersyukur!

Tidak semua di hidup ini tentangmu, Sal!

Salma!

Salma.

Kau percaya aku, 'kan?

Kalau memang aku seegois itu, Mas…

Ceraikan aku.

Aku minta cerai!

Sal…

Salma!

Maaf.

Salma!

Salma!

Salma!

Sialan!

Salma!

- Salma! - Ayo jalan sekarang, Pak.

- Sekarang, Pak! - Salma!

Salma!

Salma!

Salma!

Salma!

Salma.

Selama ini ada yang mengganggu rumah tanggamu dan Arman.

Sosok jin yang memiliki kemampuan untuk mengganggu rumah tangga

dan merusak hubungan antarmanusia.

Jin Dasim namanya.

Buat apa dia melakukan itu, Kiai?

Dia akan mendapat ganjaran yang lebih dari Iblis.

Maksudnya, Bu?

Tugasnya untuk melakukan apa pun

agar hubungan harmonis antarmanusia menjadi rusak.

Salma, ibunya tidak apa-apa?

Barang-barangnya jadi kena hujan.

Teh Diah sudah pernah menikah?

Jin bisa menghasut, memfitnah,

dan mengadu domba agar hubungan antarmanusia rusak.

Kitab Syamsul Ma'arif ini

disegel agar tak ada orang yang bisa menyalahgunakannya.

Tapi sudah ada yang mencurinya.

Siapa pun dia, yang pasti dia menggunakan jin Dasim

untuk mengganggu rumah tanggamu dan Arman pada setiap kesempatan.

Tapi akan selalu ada cara

untuk menyelamatkan rumah tangga kalian.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

La ilaha illallah.

Astagfirullahaladzim.

Kiai…

Sakit…

Mas Arman, tolong.

Salma.

Salma.

Salma.

- Salma! - Salma!

Astagfirullahaladzim! Kiai!

Salma. Sadar, Salma!

Salma, sadar.

Salma, kau sadar!

Istigfar.

Salma!

Salma, istigfar!

Salma!

Astagfirullah!

Kau masih cinta sama perempuan itu, 'kan?

Ini aku, Sal.

Astagfirullahaladzim.

Salma. Salma!

Bangun. Sayang.

Salma.

Bangun, Salma.

Sal!

Maafkan aku.

Bangun, Sal!

Salma.

Salma. Salma bangun!

Salma.

Maaf, Sayang.

Ya Allah. Sayang.

Kau kuat, Sayang, aku yakin kau bisa.

Ya Allah.

Salma, sadar.

Sadar. Ada aku, Sayang.

Salma!

Kau yang kuat.

Kau bisa.

Bapak tunggu di sini ya.

Mas Arman.

Alhamdulillah.

Mas…

Ikhlas.

Sabar, masih belum rezeki.

Masih belum milik kita.

Anak kita sudah kembali ke penciptanya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Ikhlas ya.

Ini benar-benar rumah arsitek ya.

Masyaallah. Silakan.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Ibu sehat?

- Alhamdulillah. - Salma.

Kiai.

- Silakan. - Silakan, Kiai.

- Terima kasih sudah datang. - Subhanallah.

Masyaallah.

Bagaimana? Makanannya sudah lengkap?

- Sudah. - Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Sal.

Ma…

Ndri, Mas Arman sudah cerita semuanya sama aku.

Maaf ya, kalau aku perlu waktu buat mengerti.

Maafkan aku juga ya, Sal.

Izinkan aku untuk menyampaikan cerita atau kisah

tentang bagaimana cara kita menjaga rumah tangga dengan baik.

Keutuhan rumah tangga itu harus dari keinginan dua orang,

suami dan istri.

Kalau salah satu saja tidak berkeinginan,

maka rumah tangga itu tidak akan bisa bertahan.

Karena rumah tangga banyak sekali mendapatkan cobaan dan godaan.

Bagaimana cara mempertahankan dan menjaga keinginan itu?

Yaitu kita harus saling mengingatkan

untuk terus-menerus menjaga hubungan kita kepada Allah SWT

dengan cara melakukan ibadah salat berjemaah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Mari kita bersama-sama membaca surat Al-Fatihah.

Audzubillahi minassyaitan nirrajim.

- Bismillahirrahmanirrahim… - Sal.

Kayaknya aku haid. Boleh pinjam pembalut?

Kau ambil saja di kamar mandi di dalam kamar aku, di atas.

- Atas? Terima kasih ya. - Ya.

…Yang menguasai Hari Pembalasan.

Hanya kepada Engkau kami menyembah dan memohon pertolongan.

Tunjukkan kami jalan yang lurus.

Pakde dari tadi mencari teman dekatmu yang sering sama kau itu.

Siapa namanya?

- Indri? - Ya, Indri.

Kok tidak ada? Kau tidak undang?

Undang, Kiai.

Tapi dia tidak bisa datang.

Katanya dia sakit.

Indri sudah janji sama Pakde mau main ke pesantren,

tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya.

Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa,

tapi kalau kau lagi ingin cerita, ada aku ya.

Tapi makan jangan ditunda. Nanti malah sakit.

Kasihan bekal dari Salma malah diabaikan.

Permisi.

Diinterupsi mesra-mesraannya.

Tante mengajak makan katanya.

Akan kuhancurkan keluargamu.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.