Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Pernahkah kalian bertanya
kenapa kalian lahir ke dunia?
Untuk apa kalian ada?
Untuk siapa kalian hidup?
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang Tuhan beri,
haruskah kita mensyukurinya?
Atau menyesalinya?
Untuk kami, mata batin yang Tuhan berikan awalnya terasa seperti kutukan.
Namun kini, kami bisa menerimanya sebagai anugerah untuk membantu orang.
Menjadi jembatan antara dua dunia dan membantu jiwa yang belum tenang.
Kami, aku dan adikku, yang memiliki mata batin terbuka,
ada untuk mereka.
Engkau pemegang jiwa ketika hidup.
Engkau pelepas jiwa ketika mati.
Engkau pemilik alam kami dan alam mereka.
Pertemukanlah aku dengannya.
Mirah. Aku mengundangmu ke dalam lingkaran ini.
[Suara menyeret]
[Suara langkah berat]
[Musik menegangkan]
[Pintu dibuka]
[Berteriak]
[Napas terengah-engah]
Abel.
Kakak sedang apa?
Coba komunikasi dengan Mirah.
Untuk apa, Kak?
Untuk mencari tahu kenapa dia masih ada di dunia kita
dan kenapa terus mengikutimu dari sekolah sampai rumah.
Ini sudah satu tahun, Bel. Untuk apa?
Kak Alia berhasil?
Aku sudah coba berbagai macam cara, tetap tidak bisa.
Kata Bu Windu dia mau sesuatu dari kita.
Kau sudah dapat petunjuk?
Aku tidur dahulu, Kak.
[Pintu ditutup kencang]
Air adalah media yang tenang.
Fokuskan mata batin di dalam air untuk melihat masa depan.
CARA: 1. SIAPKAN AIR.
2. BERENDAM 10-20 MENIT.
3. TENANGKAN PIKIRAN.
[Musik menegangkan]
[Suara air]
[Suara gelembung air]
[Musik menegangkan] [Suara gelembung air]
[Musik menegangkan] [Suara gelembung air]
[Suara gelembung air]
[Napas terengah-engah]
[Jam berdentang]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Suara arwah menakuti]
Tolong!
[Batuk tersengal-sengal]
Abel!
Abel!
Abel, buka pintunya! [Pintu diketuk]
[Terengah-engah]
[Suara laci dibuka]
[Kunci dan pintu dibuka]
[Terengah-engah] Abel!
[Isak tangis]
[Musik menegangkan]
[Isak tangis]
Abel!
Abel, bangun. Buka matamu, Bel!
Bel, kau dengar aku? Abel!
[Isak tangis]
Mirah.
Apa yang kau lakukan pada Abel?
[Jeritan Mirah] [Suara kaca pecah]
[Jeritan Mirah] [Suara kaca pecah]
Abel.
[Isak tangis]
Abel.
[Isak tangis]
[Napas terengah-engah]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Suara napas berat]
Abel...
[Isak tangis]
[Suara petir kencang]
[Suara petir kencang]
Yang kau alami itu disebut psikometri.
Kemampuan seseorang bisa membaca sejarah suatu objek dengan menyentuhnya.
Karena memang di setiap objek
ada rekaman kejadian tersimpan.
Berasal dari energi orang atau benda di sekitar objek itu.
Berarti kalung ini pasti berkaitan dengan rumah yang kulihat.
Ya, dan sebaiknya kau berhenti memikirkan ini.
Sudah berbulan-bulan kau cari tahu
tentang kalung dan rumah itu, tetapi tidak ada hasilnya.
Kau juga tidak bisa komunikasi dengan Mirah.
Bu Windu, aku yakin kalung itu,
rumah itu berkaitan dengan Mirah.
Itu bisa mengungkap kematian Abel,
kenapa dia dibunuh.
Alia.
Sudah bagus kau mau melanjutkan hidupmu lagi sekarang.
Bantulah anak-anak panti sambil mencari jati dirimu.
Tetaplah sesuai rencana dan mulailah kehidupan baru, Alia.
Ya, Bu.
Aku akan tetap sesuai rencana hidup.
Karena kini tempat yang cocok untukku adalah panti asuhan.
Tempat seseorang yang tanpa keluarga.
Namun, aku akan tetap cari tahu apa yang terjadi pada Abel.
Alia.
Dengan memiliki mata batin,
kau akan menyelami dunia lain tanpa batas.
Kau harus hati-hati.
Jangan melakukan kebodohan hanya karena dendam
dan amarahmu kepada Mirah.
Selamat siang.
Siang, Pak.
Aku Alia yang mau kerja sosial di sini. Aku sudah bicara dengan Bu Laksmi.
Ya. Bu Laksmi menunggu di belakang.
- Biar kuantar. - Ya.
[Teriakan anak-anak bermain]
[Musik menegangkan]
Alia.
Ini Alia yang menelepon kemarin.
Ya. Selamat datang di panti asuhan kami.
Aku Ibu Laksmi dan ini Pak Fadli suamiku.
Aku mau kembali ke bengkel.
- Ya. - Baik.
Ayo.
- Ya. - Baik.
Rumah ini peninggalan orang tuaku.
Terlalu besar untukku, makanya kami jadikan panti asuhan.
Pendapatan kami murni dari donasi dan gaji Pak Fadli.
Orang tua kami adalah salah satu penyumbang terbesar.
Maaf, aku baru tahu tentang panti asuhan ini
dari berkas orang tuaku.
Tidak apa-apa.
Kami justru bersyukur kau sama mulianya dengan orang tuamu.
Apalagi relawan kami yang terakhir baru saja berhenti kemarin.
Di sini ada 16 anak, semuanya perempuan,
dan semuanya tidur di atas.
Aku dan suami menempati sayap kiri rumah ini. Paham?
- Ya. - Ayo.
[Pintu dibuka]
Di sini ada beberapa ruangan. Mari kutunjukkan lantai bawah.
Ini ruang TV dan ruang santai.
Bu, TV-nya tidak bisa menyala.
Ya, kipas anginnya juga.
Aduh. Besok Pak Fadli perbaiki.
[Yoyo jatuh]
[Musik menegangkan]
[Teriakan terkejut]
Rayya, sini.
Sini.
Rayya.
Aduh...
[Bersin]
- Dingin, Bu. - Sungguh?
Badanmu hangat.
Jangan main dahulu, istirahat di atas.
[Musik menegangkan]
Kau bermain seperti anak laki-laki. Ayo istirahat.
Bilang, "Permisi, Kak."
Baiklah.
Memang agak dingin di sini.
Aku akan beri tahu Pak Fadli nanti. Ayo.
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Suara napas berat]
[Suara napas]
[Menghela napas]
[Suara langkah]
Kak Nadia memang aneh, Bu.
Nadia?
[Musik menegangkan]
[Suara pintu dibuka lalu ditutup]
Kak Nadia sembunyi di lemari semalam. Katanya ada suara seram.
Suara seram apa?
Aku tidak tahu. Aku tidak dengar apa-apa.
Apa mungkin suara itu berasal dari sesuatu yang tidak bisa kita lihat?
Seperti apa?
Sayang, hal-hal seperti itu tidak ada. Paham?
Tidak ada. Tidak perlu takut.
Ayo kerjakan PR.
Nadia baru dua minggu di sini.
Sikapnya memang agak aneh.
Selalu menyendiri, selalu ketakutan.
Ketakutan?
Mungkin dia masih mengatasi traumanya.
Orang tua dan kakaknya meninggal karena tanah longsor.
Dinas sosial membawanya ke sini.
[Suara barang pecah]
- Hei, hati-hati kalau bermain. - Maaf, Bu.
- Jangan sampai pecah! - Maaf.
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
Apa isi buku itu? Dia tidak izinkan anak-anak lain lihat.
Bukan apa-apa. Hanya gambar biasa.
Baiklah. Kau yang kembalikan ke Nadia.
Sekalian coba dekatkan diri ke anak-anak yang lain, setuju?
[Lampu padam]
[Lampu menyala]
[Lampu menyala]
Memang seperti ini. Tidak apa-apa. Ayo.
Kami di sini satu keluarga, dan kau akan menjadi bagian dari kami.
Kapan kau bisa mulai?
Hari ini?
Bagus.
Setelah kau rapikan barang-barangmu, bantu aku siapkan makan malam.
Lalu tolong siapkan kamar Nadia.
Selama ini dia tidur bersama Rayya dan Malika.
Kasihan dia sudah besar, 'kan?
Ya, Bu.
[Berdesah]
Ini kamarmu.
[Suara derak]
[Musik menegangkan] [Suara derak]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Anak-anak mengobrol]
[Tawa anak-anak]
[Pintu dibuka]
Hai, Nadia. Aku Alia.
Ini nanti akan jadi kamar barumu.
Bu Laksmi bilang kau sudah besar, jadi harus mulai tidur sendiri.
Tadi kau menjatuhkan ini.
Kau banyak menggambar mereka.
Aku juga bisa melihat mereka.
Kau mirip adikku, Abel.
Dia juga punya mata batin yang terbuka sepertimu.
Kemarilah.
Sejak kapan kau bisa lihat mereka?
Sejak kecil.
Lalu setelah menggambar mereka,
apa yang kau lakukan?
[Menghela napas]
Aku menggambar mereka agar tidak teringat terus.
Kau pernah lihat mereka di sini?
Tidak.
Namun, aku mendengar suara.
Suara apa?
Ada di halaman terakhir.
[Musik menegangkan]
Itu yang aku dengar.
Dari dinding rumah ini.
[Musik menegangkan]
[Jam berdentang]
[Jam berdentang]
Sini.
[Suara dipercepat]
Sini.
[Suara dipercepat]
[Suara dentuman]
Nadia.
Aku dengar lagi. Dari dinding.
[Lemari dibuka]
[Lemari ditutup]
Tolong! Tolong aku!
Di belakangmu.
Di sana.
[Suara kaki berlari]
[Pintu dibuka]
Nadia.
Sini.
Sini.
Sini.
[Buku terjatuh]
[Derak rak buku terbuka]
[Musik menegangkan]
[Suara handel pintu]
[Benda terjatuh]
Apa kau yang mengirim pesan lewat suara di dinding rumah ini?
Ketuk sekali jika ya, ketuk dua kali jika tidak.
[Ketukan sekali]
Kau tahu di mana kuncinya?
[Gesekan di dinding]
[Pintu dibuka]
[Musik menegangkan]
Ini kamar siapa?
Aneh.
Ayo.
[Derak lemari ditutup]
[Derak lemari ditutup]
[Buku terjatuh]
Kau pergi dahulu.
DARMAH
[Musik menegangkan]
[Derak pintu ditutup]
[Teriakan anak-anak]
Sampai jumpa!
Sampai jumpa.
Sepertinya kau ketularan Rayya.
Istirahatlah di kamarmu, sudah kurapikan. Aku akan bawakan makanan dan obat.
[Musik menegangkan]
[Pintu dibantingan]
[Teko air mendidih]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Ketukan jendela]
[Musik menegangkan]
Ibu!
[Tawa Rayya]
Rayya.
[Tawa Rayya]
Rayya!
Masuk. Sini. Ayo masuk.
Sini.
[Tawa Rayya] Coba sini.
Badanmu masih panas, tetapi kau main terus.
Bagaimana jika makin parah dan tak bisa sekolah?
Usil memindahkan piring Ibu.
Ya, 'kan?
Aku tidak memindahkan piring Ibu.
Kalau sudah sembuh,
kau akan dihukum membersihkan semua kamar mandi.
[Rayya terkejut]
- Bu, tetapi... - Kau sudah tahu.
Ibu tidak suka anak pembohong. Paham?
Aku tidak bohong, Bu. Aku tidak memindahkan piring-piring.
- Alia. - Ya?
Bisa tolong bawa dia ke kamar?
- Kasih obat demam untuk Malika juga. - Ya, Bu.
Ayo, Sayang.
Kenapa Bu Laksmi tidak percaya padaku?
Malika, tunggu di sana!
[Musik menegangkan]
Sekarang tidur dan jangan keluar kamar, setuju?
Ya, Kak.
[Pintu ditutup]
[Suara memotret]
Siapa?
[Musik menegangkan]
[Suara memotret]
Malika! Sedang apa di sini?
Apa aku tidak boleh di sini?
Bukankah kau mau dikasih obat oleh Kak Alia?
Tidak mau. Aku sembunyi saja.
Dari mana kau dapat kamera itu?
Dari salah satu kardus yang Kak Alia bawa ke sini.
Curang, aku hanya dapat yoyo.
Malika, ayo minum obatnya.
Malika?
Ayo keluar dan minum obatnya.
Obatnya enak, rasa jeruk.
Malika, kalau kau minum obat nanti Kak Alia beri hadiah.
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Teriakan Alia]
[Teriak ketakutan]
[Terengah-engah]
Malika, lepaskan!
Malika!
Malika!
Malika!
[Tawa kecil]
[Tawa kecil]
[Bernapas berat] [Tawa kecil]
[Tawa kecil]
[Bernapas berat]
Hei!
[Musik menegangkan]
[Jeritan Rayya]
[Lari terengah-engah]
[Terengah-engah]
[Derak kayu] [Terengah-engah]
[Musik menegangkan]
[Tawa kecil]
[Suara kamera polaroid]
[Tawa kecil]
[Suara kamera polaroid] [Tawa kecil]
[Burung berdecit]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Suara kamera polaroid]
[Derak pintu terbuka]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Suara kamera polaroid]
[Musik mengagetkan]
[Musik menegangkan]
[Teriakan Malika]
[Lari terengah-engah]
[Pintu diketuk]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Pintu dibuka]
[Pintu ditutup]
[Terkejut]
[Musik menegangkan]
[Suara arwah]
[Jeritan arwah]
[Terengah-engah]
Tolong! Tolong jangan ganggu aku!
Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi!
[Terengah-engah] [Ayunan papan]
[Musik menegangkan]
[Teriakan Nadia]
[Terengah-engah]
- Ada apa, Bu? - Nadia. Ayo!
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Terengah-engah]
[Isak tangis]
Nadia?
Kenapa diberantakkan?
[Terengah-engah]
Bukan aku, Bu. Bukan aku.
Lalu siapa lagi?
Nadia, kau tahu peraturan di rumah ini. Kalau berbuat salah, akui.
Jangan bohong.
- Alia. - Aku tidak memberantakkan kamar!
- Kita keluar. Ayo. - Bu!
Bu! Buka pintunya, Bu!
Rapikan dahulu kamarnya.
Bu, tolong buka pintunya.
Kasihan Nadia, masih sakit.
Ini cara aku mendidik. Ada sanksi jika berbohong.
Dia tetap dapat makan dan obat,
tetapi akan kukunci lagi kamarnya.
Biar dia di dalam sampai pagi. Jangan beri makan malam.
[Menghela napas]
Nadia?
Kak, tolong percaya. Bukan aku yang memberantakkan kamar.
Ya, ceritalah padaku. Siapa yang memberantakkan?
[Isak tangis]
Anak kecil.
Perempuan.
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
[Suara berlari]
[Pintu dibuka dan ditutup]
[Bernapas berat]
[Jeritan Rayya dan Malika]
Hei. Kalian kenapa?
[Terengah-engah]
Tenang.
Tadi siapa yang masuk ke kamar? Malika?
Lalu kalian kenapa ketakutan seperti ini?
Tadi aku tidak sengaja memotret ini.
[Bernapas berat]
[Musik menegangkan]
Kak Alia?
Nadia? Kau belum tidur?
Aku takut, Kak.
Jangan takut dan jangan khawatir.
Kakak akan coba berkomunikasi dengan anak itu.
Supaya kita tahu keinginannya.
Aku ikut, Kak!
Kau sedang sakit. Istirahat saja dahulu.
Aku tidak bisa tidur. Mungkin aku bisa bantu Kakak.
Menurut buku guruku, kita bisa komunikasi dengan dunia lain menggunakan cermin.
Aku butuh bantuan energi sesama pemilik mata batin.
Jangan takut, Nadia.
Kita lebih kuat dari mereka.
[Musik menegangkan]
Pejamkan matamu, tetapi jangan kosongkan pikiran.
Ingat, jangan pernah melihat ke cermin sampai ritual ini selesai.
Engkau pemegang jiwa ketika hidup.
Engkau pelepas jiwa ketika mati.
Engkau pemilik alam kami dan alam mereka.
Izinkanlah kami untuk berbicara dengan dia yang ada di sini.
Melalui cermin ini.
Tanpa batasan.
Kau panggil aku?
Apa kau yang kami bebaskan semalam?
- Ya. - Siapa kau?
Apa kau pernah tinggal di sini?
Ya.
Siapa namamu?
Darmah.
Darmah. Kami sudah membebaskanmu.
Kau bisa kembali ke alammu.
Kenapa kau masih ada di sini?
Kenapa masih mengganggu kami?
Untuk tahu.
Untuk tahu apa?
Aku ada, dan kalian bisa bantu aku.
Apa yang bisa kami bantu?
- Darmah? - Kebenaran.
Kebenaran? Kebenaran apa?
Darmah, kebenaran apa?
Kebenaran apa maksudnya?
[Cermin retak] [Teriakan terkejut]
[Musik menegangkan]
[Cermin retak] [Musik menegangkan]
[Ketukan pintu]
[Mendesah]
[Pintu diketuk]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan]
- Fadli. Fadli! - Kenapa, Laksmi?
- Kenapa Rayya belum tidur? - Apa?
Biar kulihat. [Berdeham menyahut]
Rayya.
Ayo tidur lagi.
Rayya?
[Menghela napas] Sayang.
Ayo tidur. Ini sudah malam.
Nanti sakit lagi.
Rayya?
[Musik menegangkan]
[Teriak terkejut]
[Bernapas cepat]
[Musik menegangkan]
[Teriak terkejut]
Tidak. [Terengah-engah ketakutan]
[Berdesah ketakutan]
- Fadli! - Kenapa?
Ada Darmah!
[Teriak terkejut] [Napas cepat]
- Mustahil. - Ada Darmah.
[Teriak terkejut]
[Musik menegangkan]
[Teriak kesakitan]
[Melenguh kesakitan] [Bernapas cepat]
Keluar. Keluar, cepat! [Berdesah takut]
[Berdesah takut]
[Teriak ketakutan]
[Pintu diketuk]
- Buka! - Fadli!
[Ketuk pintu] Buka.
[Tarik paksa handel]
Fadli!
[Teriak kesakitan] [Napas terengah-engah]
Fadli! [Pintu diketuk]
[Pintu diketuk]
Fadli! [Napas cepat]
Fadli!
Fadli! [Terengah-engah]
[Musik menegangkan]
[Menggeram ketakutan]
[Musik menegangkan]
[Menggeram ketakutan]
[Pintu diketuk]
Fadli! Buka, Fadli!
[Lantai berkertak]
[Menggeram takut]
[Lantai berkertak]
[Lantai berkertak] [Histeris ketakutan]
[Terengah-engah]
[Musik menegangkan]
Fadli! [Tarik handel pintu]
[Pintu diketuk]
Buka! Fadli!
Kalian tunggu di tangga!
- Bu, ada apa? - Ambil sesuatu untuk buka ini.
Apa pun!
[Tarik paksa handel pintu] [Mendesah ketakutan]
- Fadli! - Permisi, Bu!
[Histeris ketakutan]
Fadli! [Terengah-engah]
- Fadli... - Pak!
[Terengah-engah]
Fadli, kau baik-baik saja?
- Kau tak apa? - Bu, apa yang terjadi?
[Terengah-engah] [Benda digeser]
[Suara benda digeser dan jatuh] [Teriak ketakutan]
Ayo kita keluar! Ayo!
[Suara benda terjatuh] [Desah ketakutan]
[Teriakan ketakutan] Ayo cepat!
Ayo! Ayo cepat! Naik!
Ayo! [Histeris]
[Korsleting] [Histeris]
[Terengah-engah]
Ayo!
[Histeris]
[Musik menegangkan]
Jangan keluar dari sini tanpa izin.
- Alia, jaga mereka. Jaga! - Ya, Bu!
[Terengah-engah] Kalian tenanglah.
- Kak, ada apa? - Tidak ada apa apa, tenang.
Ayo semua duduk, duduk.
[Terengah-engah] [Menggeser kursi]
[Terengah-engah] [Menggeser kursi]
[Musik menegangkan] [Terengah-engah]
[Musik menegangkan]
[Histeris] [Derik lampu]
Semua ke sini! [Histeris]
[Histeris]
[Suara lampu terjatuh kencang] [Histeris]
[Histeris]
Semuanya ke sini!
[Suara benda pecah dan terjatuh] [Histeris]
[Suara benda pecah dan terjatuh] [Histeris]
Ayo, Semuanya. Ayo! [Histeris]
Ayo, cepat! [Histeris]
Dengarkan Kak Alia. Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!
Van, tolong bantu jaga semua! [Teriak histeris]
[Musik menegangkan] [Desah ketakutan]
[Musik menegangkan]
[Musik menegangkan] Fadli!
[Musik menegangkan]
Sejatinya aku meyakini kekuatanku berada dalam genggamanku.
[Terengah-engah]
- Kak. - Tenanglah.
- Ada yang buka pintunya. - Tidak mungkin.
Tidak sembarang orang bisa masuk.
[Suara kaki berlari mendekat]
[Terengah-engah]
Aku tahu yang terjadi di sini tidak normal.
[Terengah-engah]
Ada sesuatu di rumah ini.
Aku yakin Bapak dan Ibu tahu itu. [Terengah-engah]
[Terengah-engah]
Malika tidak sengaja memotret ini.
[Terengah-engah]
Kami juga sudah komunikasi dengan anak itu.
[Terengah-engah]
Kalian buka pintu itu?
Dengarkan.
Hanya orang yang mata batinnya terbuka
bisa berkomunikasi dengannya.
Dan bisa buka pintu itu.
Kalian melakukan kesalahan besar.
Namun, kenapa Bapak harus menguncinya?
Selama ini dia tersiksa di dalam sana.
Dia tidak bisa ke alamnya.
[Terengah-engah]
Darmah...
[Menelan ludah]
Darmah adalah keponakanku.
[Mengembuskan napas]
Anaknya adikku.
Darmah sudah seperti anakku sendiri.
Dia juga tinggal di sini.
[Bernapas berat]
Tiga tahun yang lalu saat aku dan Pak Fadli pulang ke rumah...
[Terisak]
Kami menemukan mereka mati terbunuh.
Perampokan.
[Bernapas berat] [Terisak]
Hidup kami tidak pernah tenang lagi.
[Terisak]
Karena arwah Darmah dan ibunya selalu ganggu kami.
Pak Fadli punya mata batin terbuka.
Dia berusaha agar mereka pergi dari sini, tetapi tidak bisa.
Akhirnya Pak Fadli kunci kamar itu.
Namun, ibunya bisa lolos.
Pak Fadli juga memagari semua rumah ini.
Supaya makhluk apa pun tidak bisa masuk ke sini, termasuk ibunya.
Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu kenapa mereka mengganggu kami terus. Apa salah kita?
Kalau begitu...
Kita harus kunci pintu itu kembali.
Dan bawa dia kembali masuk. Harus.
Pak, mengunci Darmah tidak akan menyelesaikan ini.
Kalau kini dia sudah keluar, tetapi masih mengganggu kita,
berarti ada hal lain yang ingin dia sampaikan.
Kemarin dia beri tahu kami soal kebenaran.
Kebenaran apa?
Sebaiknya kita harus cari tahu maksud Darmah.
Dengan begitu urusan Darmah bisa selesai.
Dan pergi dengan tenang ke alamnya.
Bagaimana caranya?
Psikometri.
[Musik menegangkan]
[Bernapas cepat]
[Dentingan xylophone]
[Dentingan xylophone]
[Dentingan xylophone]
[Dentingan xylophone] [Twinkle-twinkle little star]
[Dentingan xylophone] [Twinkle-twinkle little star]
[Dentingan xylophone] [Twinkle-twinkle little star]
[Dentingan xylophone] [Twinkle-twinkle little star]
Entah bagaimana lagi aku harus menyampaikan ini.
Sangatlah sulit untuk kita bicara berdua.
Maafkan aku yang tidak lagi bisa menyimpan rahasia ini.
Mbak Laksmi harus tahu.
Darmah juga harus tahu
bahwa kau adalah ayah Darmah.
Bahwa aku tak dihamili pacarku yang kabur.
Tolong, aku minta kesediaanmu, Mas Fadli.
Ibu nulis apa?
[Mendesah]
Bukan apa-apa, Nak.
Ayo, Ibu akan menemani Darmah bermain.
- Sungguh? - Ya.
- Boleh kita bermain ke taman, Bu? - Ayo, Sayang.
[Laci dibuka]
[Laci ditutup]
Ibu, aku akan bawa bonekaku.
[Sakelar]
[Laci dibuka]
Alia?
[Isak tangis]
[Isak tangis]
Ada apa, Laksmi?
[Isak tangis]
Itu tulisan adikku. Mirah.
[Isak tangis]
Laksmi. Laksmi...
Laksmi. Laksmi!
[Pintu dibuka]
Nadia?
Kenapa belum tidur?
Apa urusan Darmah sudah selesai?
Kebenarannya sudah terungkap.
Sudah semuanya?
Kak.
Adikku meninggal
karena dibunuh arwah perempuan bernama Mirah.
Dan...
Aku menemukan kalung ini di kantong adikku.
Aku tidak tahu ini milik siapa.
Namun, dari penglihatanku
kalung ini ada kaitan dengan perempuan bernama Mirah itu.
Dan rumah ini.
Sekarang kita tahu kalau Mirah adalah adik Bu Laksmi.
Namun, aku masih tidak mengerti.
Kenapa Mirah harus membunuh adikku?
Kak, Bu Laksmi bilang rumah ini Pak Fadli pagari
agar ibunya Darmah tidak bisa ke sini lagi.
Berarti Kak Alia tidak mungkin bisa bertemu Mirah
atau berkomunikasi di sini.
Kalau Kak Alia ingin mengungkap kematian adikmu.
Namun, mungkin anaknya, Darmah,
bisa bantu Kak Alia mengungkap kematian adikmu.
Kak.
Apa mungkin ada lebih dari satu kebenaran?
Bagaimana jika semua belum terungkap?
Apa Darmah akan terus ganggu kita?
AKU TIDAK BISA SIMPAN RAHASIA INI LAGI
Ayah!
[mengerang takut]
Ayah!
[arwah menggeram]
[arwah menyapa]
[pintu garasi menutup]
Ayah... [arwah tertawa]
[menarik badan]
[pintu menutup, teriak]
- Siapa? - Seperti Pak Fadli, Bu.
Apa?
[membuka pintu]
[musik makin tegang]
Pak?
Pak Fadli?
[terengah-engah]
[meringis ketakutan]
Darmah. Darmah masih di sini.
Fadli. Kita semua sudah tahu yang sebenarnya.
Apa lagi yang kau sembunyikan? Apa lagi?
[mati listrik, kaget]
[meracau, beranjak bangun]
Laksmi?
- Alia? Nadia? Laksmi... - Kak Lia.
Fadli!
[lari, pintu menutup]
Alia?
- Laksmi? - Di sini, Fadli. Di sini!
Alia? Alia!
- Alia? - Di sini, Pak.
Nadia? Nadia!
Nadia tidak apa-apa? Nadia. [musik tegang]
Ada apa, Nadia? Ada apa? [arwah menggeram]
[geraman makin keras]
[teriak]
Nadia! Nadia?
- Fadli? Fadli. - Tangan di depan.
Bu!
- Fadli? - Bu Laksmi.
Fadli?
Pak Fadli.
[terengah-engah ketakutan]
- Pak Fadli? - Fadli.
- Pak Fadli? - Fadli?
[tawa jahat]
Ayah akan rasakan sakitnya ini.
[tertusuk, teriak]
[tawa jahat]
Ayo.
[berebut]
[jatuh]
Nadia, tolong pegang!
[berontak]
Fadli!
[teriak berontak]
[Laksmi mengaduh]
Bu Laksmi!
Tolong ambil tali! Cepat!
[menggeram]
[berusaha menahan]
[tawa jahat]
Ayah akan merasakan sakitnya dibunuh.
[tawa jahat]
- Membunuhmu! - Bu.
Pak Fadli kerasukan Darmah, Bu.
Tindakan apa yang sudah kau lakukan?
[tutup pintu]
Baru aku ikat. Energinya besar, Bu. Energi kemarahan.
Sepertinya dia marah ke Fadli karena sampai meninggal,
dia tidak diakui sebagai anaknya.
Dia merasuki Pak Fadli untuk membunuhnya. Melampiaskan amarahnya.
Aku segera ke sana. Begitu sampai, aku akan buka portal ke dunia gaib.
Dan kita akan usir paksa Darmah ke sana.
Aku masih harus komunikasi ke Darmah.
- Ada kebenaran lain... - Jangan mendekat ke Fadli.
Sangat berbahaya.
Kalo mau ungkap kebenaran itu, pakai cara lain.
Ingat apa yang aku ajarkan.
Menggunakan mata batin juga bisa lewat lukisan tangan, dan jangan lupa,
jika situasi menjadi tambah parah, pakai kalung yang kuberikan padamu.
- Itu sudah diberi mantra perlindungan. - Baik, Bu.
Bu Windu akan ke sini bantu kita.
[mengangguk gelisah]
Tetapi aku butuh bantuanmu, Nadia.
Orang yang punya mata batin dengan kemampuan menggambar,
tidak semata-mata menggambar untuk menuangkan apa yang mereka lihat.
Dan membebaskan pikiran dari sosok gaib yang dilihatnya.
Tetapi juga bisa digunakan untuk melihat lebih dalam dari sosok gaib itu.
Gali mata batinmu, ya. Jangan takut.
Fokus.
Aku berlindung kepada-Mu.
Yang memelihara dan menguasai dua dunia.
Tunjukkanlah luasnya dimensi ciptaan-Mu.
Perlihatkanlah kepada kami
yang tak pernah kami lihat sebelumnya.
[musik tegang]
[waswas]
[pintu terbuka]
[suara lari kecil]
[membuka dan menutup laci]
[membuka buku]
[mengambil dan membuka surat]
[mengarsir]
[mengarsir gambar seseorang]
[terus mengarsir]
[menuruni tangga]
[Nadia mengikuti]
Kau gila, ya? Bicara apa kau?
Mas, aku tidak sanggup jika harus terus menutupi ini!
Kau dengar, ya.
Aku tidak mau rumah tanggaku dengan Laksmi hancur.
Aku tidak mau Laksmi tersakiti.
- Mengerti tidak! - Tetapi bagaimana?
Darmah terus menanyakan siapa ayah kandungnya, Mas.
Aku minta kau
rahasiakan ini semua, mengerti tidak?
Kalau kau tidak mau memikirkanku,
aku juga tidak akan peduli padamu.
Darmah dan Laksmi
harus tahu!
[mengambil pisau]
[teriak, menusuk]
[menusuk dalam, kesakitan]
Ibu!
[menarik pisau]
[mendorong pintu]
Kenapa kau ada di sini?
[teriak]
[sabetan benda tajam]
[menarik kalung]
[terkesiap dan berdebar-debar]
[kaleng, buku dan bantal dilempar]
[mengubrak-abrik kamar]
[mengambil kotak perhiasan]
[mengambil dan memindahkan perhiasan]
[mengambil kalung dari saku]
[menggali tanah]
[membuat lubang]
[mengambil dan memasukkan kotak ke lubang]
Udang juga boleh.
[menaiki tangga]
[terperanjat]
[musik horor]
Mirah! Darmah!
Siapa yang lakukan ini?
[menangis]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[menarik dan mengangkat buku gambar]
[membalik-balik halaman]
[musik horor]
[terkejut]
[musik horor]
Tidak mungkin. Tidak mungkin Fadli sejahat ini.
Dia tidak mau kehilangan ibu.
[terisak-isak]
[musik tegang]
[meronta-ronta]
[tali putus]
[musik tegang]
Ayah akan mati seperti aku dan Ibu.
Jangan!
[menusuk perut]
Jangan!
[semua mendorong ke lemari]
[menarik dan terlempar]
[mendorong]
[menusuk Nadia]
Nadia!
[merintih dan terjatuh]
Apa yang kau lakukan ke Nadia?
Kenapa kau lakukan itu ke Nadia!
[Laksmi mengangkat Nadia]
[didorong ke kap mobil]
Jangan pernah coba memengaruhi aku membunuh Ayah.
Atau akan ada nyawa yang aku habisi.
Darmah, kau sudah termakan kebencian dan dendam!
Kau harus sudahi ini semua!
[mendorong melawan]
Kita dendam dengan orang yang sama! Pembunuh Abel.
Ibumu yang sudah bunuh Abel. Ibumu sudah bunuh adikku.
Bukan ibuku. Bukan ibuku yang bunuh.
Yang membunuh adalah...
Ayah!
[Windu mencegah]
[Windu menarik, Fadli berontak]
Alia! Kalung!
Alia.
[menggeram berontak]
[mantra Jawa]
Alia.
Kita bawa dia ke dalam.
Ke tempat kita bisa kendalikan Darmah, bukan sebaliknya.
[terengah-engah]
Shifa. Shifa!
- Bu Laksmi! - Nadia! Bu Laksmi!
Nadia!
- Shifa. Telepon ambulans sekarang. - Nadia!
- Sini, kalian tahan ya. - Nadia!
Kau terlalu kasih ruang Darmah menyerang dan kendalikan situasi, Alia.
Pembunuh Abel.
Pembunuh Abel.
[tawa jahat]
Jangan percaya arwah yang dendam. Mereka pintar mengecoh pikiran kita.
[menyalakan dupa]
Pembunuh Abel.
Pembunuh Abel.
- Pembunuh Abel. - Alia, fokus!
Aku akan buka portal.
Aku tidak bohong. Aku berkata benar.
Kalo Ayah bisa membunuh anak dan ibu dari anak yang dibunuh,
Ayah juga mungkin bisa membunuh Abel,
karena Abel tau siapa yang membunuh.
Ayah takut rahasianya terbongkar.
Alia, jangan lengah!
[mantra Jawa]
[kilat]
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
Alia, jangan lihat matanya.
[rintihan sakit dan pecutan cambuk]
[lolongan menyeramkan]
[rintihan sakit dan pecutan cambuk] [lolongan menyeramkan]
[memperjelas penglihatan]
[Fadli merintih]
[rintihan Fadli dan cambukan berlanjut]
[lolongan menyeramkan]
[suara memanggil]
[Alia kaget dan berontak]
[Alia berusaha melawan]
[Alia menjerit]
[terengah-engah]
[musik misterius]
[musik misterius berlanjut]
Mirah, apa yang kau inginkan?
[langkah kaki]
Mirah, apa yang kau inginkan?
[geser tangan di papan Ouija dan menulis]
[menggali tanah]
[mengeluarkan sesuatu dari lubang]
Sebaiknya bebaskan anaknya dan serahkan diri ke polisi.
Berani-beraninya kau datang ke rumahku.
Dan jangan bilang siapa-siapa perihal ini.
Jangan kembali ke sini lagi.
[musik optimis]
[musik menyeramkan dan lolongan aneh]
[membuka lemari]
[menggeram]
[menjerit]
[menggeram]
[meringis]
Kau mau tolong dia? Jangan berani-berani!
[Abel menggigit]
[barang-barang pecah]
[menusuk]
[kesakitan]
[mendorong pisau dan menariknya]
Kembali ke alammu.
Kalau tidak, Darmah akan kubuat menderita seperti dia!
[menusuk]
[terperanjat]
[teriak menyeramkan]
Abel buka pintunya bel! [pintu digedor]
[menarik pisau]
Bel? Abel! Abel...
Abel? Abel! Abel.
Abel, buka matamu.
Kau masih mau cegah aku?
Kau masih mau cegah aku untuk habisi Ayah?
Ayah akan aku bawa bersamaku. Akan aku siksa.
Ayah akan ikut bersamaku.
[rantai putus dan Fadli mengaduh]
Ya, kau pantas marah. Kau berhak marah, Alia.
Ikutlah denganku. Kita akan habisi Ayah.
[kunci terbuka]
[rintihan orang dan suara cambukan berulang-ulang]
[mencambuk]
[mencambuk]
[suara cipratan darah]
[suara pintu jeruji terbuka]
[rintihan orang dan suara cambukan berulang-ulang]
Alia! Kau mendengarku?
Alia!
Alia! Kembali! Jangan dengarkan Darmah!
Alia.
Alia. Alia, kau mendengarku?
Alia.
- Nadia, Nadia, tahan. Tahan. - Kakak, tahan.
Nadia. Nadia!
Kak Nadia! Tahan, Kak!
- Masih napas. Shifa! - Kakak tak boleh pergi!
Ambulans di jalan!
- Sini, temani. Temani. - Bangun, Kak!
- Kak Nadia. Kak Nadia! - Ya Tuhan!
- Kak Nadia, bertahan! - Bertahan.
[terkejut] Alia.
Fadli?
Fadli? [terhenyak]
Aku Windu. Guru mata batin Alia.
Darmah telah pergi membawa Alia dan Fadli ke dunianya.
Mereka dalam kondisi tidak sadar.
Jika dibiarkan terlalu lama, mereka akan mati.
Kita harus bagaimana?
Membawa mereka kembali. Menjemputnya.
Dengan masuk ke dunia lain. Astral projection. Merogoh sukmo.
- Caranya? - Aku akan buka portal ke dunia lain.
Aku harus di sini menjaganya agar tak ada yang masuk dari alam jahat ke dunia kita.
Tetapi aku perlu orang yang punya mata batin terbuka untuk menjemput.
Nadia. Nadia bisa, tetapi dia terluka.
Tidak bisa untuk yang fisiknya sedang lemah.
Jika bersedia, aku bisa buka mata batinmu. Dan kau pergi menjemput Alia dan Fadli.
Aku tidak punya kemampuan itu. Ibu cari orang lain.
Tak ada waktu, kau satu-satunya yang bisa selamatkan suamimu dan Alia.
[terengah-engah, berpikir]
Dan kau tidak bisa pergi sendirian. Harus ada yang mendampingi.
Yang energinya sama dengan entitas dunia lain,
yang masih di dunia ini.
Siapa?
Aku bisa undang mereka untuk datang dan coba meminta bantuan.
Tetapi ada sesuatu yang menahan mereka tidak bisa masuk ke rumah ini.
Fadli.
Fadli pagari rumah ini.
Sepanjang rumah ini, mengelilingi tanpa putus.
[menarik tali]
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
[gunting tali, petir]
[kilat dan petir bergemuruh]
Aku sudah pindahkan anak-anak panti ke tempat yang aman.
Kau akan merasakan kehadiran mereka.
Mencium aroma dan mendengar suara mereka.
Tangkupkan dua tangan di dada.
Pejamkan mata.
Tarik napas perlahan dan fokuskan kepada titik tengah kening.
[menarik napas]
[mantra jawa]
[mantra jawa]
[mantra jawa]
[mantra jawa]
[mantra jawa]
Buka matamu.
[musik menyeramkan]
[pintu dibuka]
[pintu dibuka]
[napas terengah-engah]
[suara kaki berlari]
Siapa itu?
[tersentak, bingung]
[menggeram]
[ketakutan]
[menjerit]
[menutup pintu]
[suara-suara arwah]
[ketakutan, terengah-engah]
[mengerang takut]
[suara orang menangis]
[tangisan makin jelas]
[derit pintu terbuka]
[tangisan makin jelas] [napas Laksmi makin cepat]
Kau siapa?
Bu...
Nadia? Nadia!
Nadia!
[terbata-bata]
Kau, kau kenapa di sini?
Kenapa?
Kak Nadia. Bangun, Kak.
Kak Nadia. Bangun, Kak.
Kak, bangun! Kak, Nadia?
[ketakutan]
Nadia!
[lari menuruni tangga]
[kaget]
[semua menangisi Nadia]
Kak, bangun! Kak Nadia!
Kak Nadia.
Kak Nadia! Bangun, Kak!
[lari menaiki tangga]
[terisak-isak]
Maafkan Ibu ya.
Aku tahu ini tidak mudah.
Tetapi Alia dan Pak Fadli harus segera diselamatkan.
Aku sudah coba berbicara dengan mereka.
Namun tak ada yang mau menemanimu ke dunia lain.
Hanya Nadia yang bisa membantumu.
Tidak, jangan. Jangan, Nak.
- Jangan, Nadia. - Bu.
Mungkin ini sudah takdirku. Aku ikhlas.
Yang penting Kak Alia dan Pak Fadli selamat.
[menyalakan dupa]
Kalian harus saling berpegangan tangan agar tetap jadi satu energi.
Jangan sampai lepas, atau mereka akan mengenali Bu Laksmi di sana.
Dan kau, tidak akan kembali ke dunia ini.
Jangan sampai lepas.
Tidak apa-apa, Bu.
Fokus.
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
[suara-suara arwah menyeramkan]
Laksmi, nanti kembalilah ke titik ini.
Nadia, nanti kau bisa pergi ke alam baik yang ada di depanmu.
Di situ alam jahat untuk arwah jahat yang gentayangan. Di situ mereka berada.
[suara cambuk dan orang-orang kesakitan]
[arwah menggeram] [Laksmi menjerit]
Bu. Ayo, Bu.
[suara cambuk]
[Fadli teriak]
Fadli. F-Fadli.
Alia. Alia!
- Kak Alia? - Kau tidak apa-apa?
Alia, kau tidak apa-apa?
Fadli!
[terperanjat]
Biarkan dia dipasung di sini.
Dia sudah membunuh adikku.
Dia harus menderita.
Dia harus disiksa di sini selamanya!
[petir]
Kak Alia.
Abel?
Abel!
Kau kenapa ada di sini, Bel? Kau seharusnya tidak di sini.
Yang ada di alam baik bisa datang ke alam jahat.
Tetapi yang di alam jahat tak akan bisa ke alam baik.
Aku ke sini karena kakak.
Maafkan Pak Fadli dan ikhlaskan kematianku.
Kak, dendam itu di lingkaran setan.
Sekali balas dendam akan muncul keburukan lain.
Dengki, hawa nafsu, keserakahan. Dan hidup tidak akan pernah tenang.
Bel.
Dia sudah membunuhmu, Bel. Dia sudah jahat padamu!
Pak Fadli. Aku maafkan bapak.
Kak, tolong jangan jadikan diri kita sama seperti mereka yang jahat.
Apa bedanya kita sama mereka?
Semua kejahatan bermulai dari dendam.
Terima kasih.
Bu!
Kalian semua akan mati!
Darmah!
Hentikan, Nak. Sini ikut Ibu.
Mirah.
Kalian harus cepat kembali.
Kau juga. Kau masih punya kesempatan kedua.
Kau punya keberanian besar menggunakan mata batinmu sampai sejauh ini.
Banyak yang butuh kau.
Dunia butuh orang yang bermata batin
untuk membantu menghadapi arwah jahat gentayangan.
[menangis]
Aku selalu sayang padamu, Bel.
Aku juga selalu sayang kakak. Selamanya.
Kalau tak ada amarah dan dendam, kita bisa pergi ke alam baik.
Kita bisa berkumpul bersama lagi seperti dahulu.
Mereka sudah tahu kebenarannya.
Semua sudah selesai, Nak.
Laksmi, buka cepat. Tekan. Cepat, Laksmi. Buka.
[merintih]
Kau tidak apa-apa?
- Ayo cepat. - Ayo!
Ayah!
- Ayo, Kak. - Tidak!
- Darmah! - Ayah!
Ayah!
- Darmah! - Ayah!
Ayah!
Darmah!
[berlari menghindar]
Ayah, jangan pergi!
Ayah! Ayah, jangan pergi!
[arwah-arwah menggeram, mengejar]
[mengaduh] Pak Fadli!
Keluar cepat!
- Ayo, Bu! - Fadli!
Pak, ayo.
- Ayah! - Pak Fadli, ayo!
Ayah! Ayah jangan lari!
Jangan lari!
[terengah-engah]
[jarum berhenti berputar]
[menarik napas panjang]
Kak Nadia! Kak Nadia bangun!
- Kak. - Kakak.
Kak, bertahan. Ambulans segera datang.
Kakak masih bisa, 'kan?
[sesak]
Fadli? Fadli.
Fadli.
[batuk]
Laksmi.
Terima kasih, Laksmi.
Alia. Alia!
Alia!
[menggeram]
[ketakutan]
Alia!
[terhantam lemari buku] [teriakan]
Ayah.
Ayah!
[menggeram]
[pintu terbuka dan tertutup]
[memalang pintu dengan bambu]
[pintu roboh]
Ayah, jangan lari.
[Fadli ketakutan] [Darmah menggeram]
Bu Windu!
[berlari]
Bu.
Bu?
[batuk]
[berusaha mengangkat]
Baiklah.
[teriak ketakutan]
[membuka dan menutup pintu dengan panik]
[mengunci]
[lari terburu-buru]
[menusuk]
[tawa jahat]
Ingat, saat Ayah bunuh aku pakai ini?
[tawa jahat]
[menggeram]
[mobil terdorong] [Fadli terhantam]
[teriak kesakitan]
Fadli!
Alia!
Fadli?
Alia!
[tawa jahat]
Ayah.
Alia!
Alia!
- Tunggu di sini. - Alia, kau sedang apa?
[tawa jahat]
[kesakitan] Maaf.
Maafkan Ayah.
Minta maaf?
Ayah menyesal. Maafkan Ayah!
Ayah minta maaf karena Ayah menyesal?
Atau karena Ayah tahu Ayah akan mati?
Maafkan Ayah.
[mengambil gergaji mesin]
[menggeram]
[teriak ketakutan]
Apa Ayah menyesal sudah bunuh Ibu?
Menyesal sudah bunuh Darmah?
Ayah tahu rasanya dibunuh?
Rasanya mati?
[menyalakan gergaji mesin]
Alia.
Alia!
[Fadli teriak]
[suara mesin dan cipratan darah]
[kepala menyentuh lantai]
[tawa jahat] Alia.
- Alia. - Tunggu sebentar.
[Laksmi histeris]
[menggeram]
Bu Laksmi, bantu!
[berontak menggeram]
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
[mantra Jawa]
[teriak panjang]
[terengah-engah]
Alia.
Alia.
Hei.
Mati kalian semua!
Kau selalu memiliki pilihan dengan apa yang kau alami.
Tetapi kau lebih memilih kebencian dan dendam.
Tempatmu bukan di dunia ini lagi.
Tetapi di neraka seperti yang jahat!
Pergi ke alammu!
Iblis sepertimu lebih pantas menderita selama-lamanya di neraka!
[menggeram ketakutan]
Jangan! Lepaskan!
Jangan!
[teriakan panjang]
Alia.
Alia.
- Alia. - Sayang? Sayang.
[Alia] Rahasia busuk yang disembunyikan
pastilah akan tercium dan terbuka juga.
Maafkan aku, Kak.
Kebenaran akan selalu terungkap entah bagaimana caranya.
Kejahatan tidak akan tumbang dengan kejahatan juga, tetapi dengan kebaikan.
Perlu kebesaran hati untuk memaafkan kebohongan dan pengkhianatan.
Amarah dan dendam juga tidak akan berakhir jika tidak ada maaf.
[suara mengetuk pintu]
Masuk.
- Ini ada kiriman, Bu. - Ya, terima kasih.
Alia, Ibu sudah resmi adopsi Nadia. Ibu tinggal tunggu suratnya.
Nadia pasti senang sekali, Bu.
Nadia!
Baca.
Ya.
Alia.
Bu.
Aku undang Bu Windu agar ibu dan Nadia bisa belajar mata batin lebih banyak.
Baik. Ya sudah, aku buatkan minum, ya.
- Terima kasih. - Sebentar.
Ayo.
Alia, ada yang ingin aku bicarakan.
Malam itu ketika Darmah merasukimu, aku terpaksa tutup portalnya.
Tetapi saya terlambat.
Maksud ibu?
Ada yang ke dunia kita dari alam jahat.
Kalau tahu ada portal ke dunia terbuka, mereka akan coba memasukinya.
Ayo, main yuk. Ayo!
[musik horor]
[suara bola menggelinding]
Siapa di situ?
[meletakkan nampan]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.