All language subtitles for Fireworks_Wednesday_aka_Chaharshanbe-soori_2006_HC

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Atas nama Tuhan

Lihatlah dirimu!

Apa ini yang sedang kau lihat?

Tidak bolehkah kupandangi tunanganku sendiri?

Buang saja yang ini, ini memalukan!

Yang ini bagus./ Yang mana?

Yang kita ambil di rumahmu.

Berkelas!

Berkelas!

Kakimu tersangkut?

Tidak, itu chadorku.

Aku sudah bilang ratusan kali!

Pegangi chadormu. Sekarang apa yang harus kulakukan?

Ya...

Hati-hati, kau bisa membuatnya sobek.

Jam segini tak ada seorang pun yang lewat sini.

Kau bersembunyi dari siapa?

Darimu!

Jangan kebut-kebutan.

Baik, aku pergi.

Hai./ Hai, calon pengantin cantik!

Disana ada banyak orang?/ Banyak sekali.

Lewat di jalan itu cukup teduh.

Terutama untuk seorang gadis muda./ Mereka akan menemukannya.

Menemukan dia? Jangan mimipi.

Aku tidak menunggu kedatanganmu.

Saljunya tidak turun terlalu banyak.

Kau butuh uang untuk menikah.

Jika penghasilan kami cukup untuk dipakai menikah,

aku pasti sudah melakukannya 100 kali.

Kau sudah meninggalkan tiga suami!

Aku tak mengambil apapun darimu./ Silakan saja kalau mau!

Baiklah, sampai jumpa.

Cepatlah, aku harus pulang lebih awal.

Duduklah, akan kuusahakan./ Terima kasih.

Aku sudah membawanya untukmu. Kau ingin mencobanya?

Kapan giliran kami?

Jadi yang mana dari kalian berdua yang akan pergi?

Aku mencari pekerjaan untuk dirikku dan istriku.

Hai, Nenek./ Hai.

Kau baik-baik saja?

Tunggu.

Kau di mana?

Selamat.

Kapan acaranya?

Jumat depan.

Kau akan mendapatkannya hari kamis,

dan bayarlah sebisamu.

Terima kasih banyak.

Pilihlah salah satu./ Yang benar saja.

Aku serius. Lakukan saja.

Yang ini.

Tunjukkan padaku. Heravi Square.

Itu terlalu jauh.

Yang satunya lebih buruk./ Tunjukkan padaku.

Pergilah.

Jangan pulang terlambat.

Pastinya. Selamat tinggal./ Selamat tinggal.

Diterjemahkan oleh SANGKUNI

HEDIEH TEHRANI

TARANEH ALIDOOSTI

HAMID FAROKH-NEJAD

CHAHARSYANBI SURI

Skenario: A. FARHADI dan M. HAGHIGHI

Penata Gambar: HOSSEIN JAFARIAN

Produser: SEYED JAMAL SADATIAN

Sebuah film oleh ASGHAR FARHADI

Siapa ini?

Permisi, Nyonya,

tetangga Anda tidak menjawab.

Apakah Anda tahu mereka ke mana?

Bel mereka rusak. Kau siapa?

Aku ke sini untuk bekerja pada mereka. Bisakah Anda membiarkan aku masuk?

Aku akan menelepon mereka, mereka yang akan membiarkanmu masuk.

Berikan ikan itu padaku!/ Ibu!

Baik-baik di sana. Cepatlah.

Hati-hati, kau bisa jatuh.

Kau mau ke mana?

Kau mencari seseorang?/ Apartemen 17.

Hubungi mereka, mereka akan membuka gerbangnya.

Ini sudah terbuka.

Aku tak tahu apa yang kau lakukan di sini. Ayo, keluarlah.

Keluar.

Sebentar.

Salam./ Salam. Silakan masuk.

Sumpah, aku sudah punya tiket.

Kau tak tahu sudah berapa lama aku ingin pergi dengan keluargaku.

Yang benar saja... Jangan ganggu aku!

Baiklah.

Lima menit? Aku tahu itu akan sampai tengah malam.

Baik. Sampai jumpa.

Nona?

Ya.

Mulailah dari ruangan ini.

Istriku akan memberitahu apa yang harus kau lakukan setelahnya.

Berantakan sekali.

Tunggu sebentar.

Pakailah sandal ini.

Ada banyak pecahan kaca, kau bisa terluka.

Kenapa kau bawa ponselku?

Kenapa kau mengambilnya?

Ada yang harus kulakukan. Aku harus pergi.

Aku sudah mencarimu selama satu jam.

Kapan kau pulang?/ Tuan?

Halo? Ya?

Di mana sapu dan pengkinya?/ Sebentar.

Di sana.

Siapa?

Pembantu rumah tangga. Aku tadi memanggilnya.

Agensi spesialis yang mengirim mereka.

Jadi mereka akan bekerja sama.

Dia parkir mobil di depan pintu gerbang lagi.

Kau seharusnya tidak memanggil dia.

Mana ponselku?/ Petugas yang akan membantuku.

Ini sudah berantakan selama 3 hari.

Petugas, petugas ...

Mana ponselku?

Kau mau pergi ke mana?

Berikan padaku, aku buru-buru.

Buru-buru ke mana?

Ke tempat kerja. Kau pikir ke mana?

Hari ini?

Mahmud tadi meneleponku. Mereka mendapatkan masalah.

Kita seharusnya bicara.

Aku pasti pulang, aku tidak melarikan diri.

Kau sudah bilang mau bicara hari ini.

Aku tahu, tapi Mahmud sekarang membutuhkanku.

Jangan khawatir, aku akan pulang jam 5 dan kita akan selesaikan semuanya.

Kau bilang pagi ini.

Ya, aku memang bilang begitu. Kau benar.

Tapi mereka membutuhkanku.

Selalu begitu! Kau selalu punya waktu untuk Mahmud!

Amir-Ali sedang tidak di rumah.

Terus kenapa?

Aku tak ingin kita bicara di depannya.

Memangnya kenapa kalau kita bicara di depannya?

Kita harus membuat keputusan.

Putuskan saja sendiri. Toh, aku sudah tahu apa itu.

Kalau begitu, besok aku tidak jadi pergi.

Apa maksudmu?

Mojdeh?

Dengar. Aku sudah beli tiket. Aku bukan bonekamu.

Kau sudah janji. Jangan jadi pengecut.

Yang kujanjikan hanyalah perjalanan ke Dubai.

Sudah kutepati janji itu, kaulah yang penuh omong kosong!

Hati-hati kalau bicara! / Kau yang harus hati-hati!

Ada orang memohon padaku untuk datang membantunya.

Ini mendesak, dan kau malah ingin aku tetap di sini.

Aku tidak bilang apa-apa./ Kemarin, kau bilang cukup.

Kaulah yang sering mengatakannya.

Kau sangat mudah emosi!

Bodoh.

Tunggu.

Aku sedang bicara padamu.

Kalau kau pergi, akan kujemput Amir-Ali lalu pergi.

Kau memalukan!

Memalukan? Aku tidak mau pergi.

Tunggu!

Aku bersumpah, aku akan membawanya pergi. Kenapa kau tidak juga mengerti?

Nyonya Sabri?

Nyonya Sabri?/ Ya.

Salam, Nyonya./ Salam. Panggilkan istrimu.

Dia akan segera kembali.

Dia seharusnya membantuku.

Dia sedang pergi belanja untuk keluarga Razavi.

Katakan padanya untuk menemuiku.

Manajemen apartemen tidak akan mengijinkan istriku bekerja.

Ini bukan urusan mereka.

Ketika dia bekerja, aku yang mengurus anak-anak.

Mereka bilang itu membuat aku tidak pergi kerja.

Suruh saja dia datang. Aku yang akan tanggung jawab.

Salam.

Ibimu di rumah?/ Ya, masuklah.

Bu, ada Nyonya Samii.

Mojdeh, masuklah.

Terima kasih. Sabri ada di sini?

Tidak. Memangnya kenapa?

Dia seharusnya membantuku hari ini.

Manajemen tidak ingin dia bekerja.

Suruh dia menemuiku setelah dia selesai belanja untukmu .

Bisa kita berdua rahasiakan hal ini?/ Baiklah.

Mereka membicarakan dia saat rapat.

Lalu bagaimana?

Mereka akan meminta pemilik apartemen untuk mengurus masalah itu.

Jangan khawatir. Kita tidak tahu apa-apa. Silakan masuk.

Aku buru-buru. Suruh dia datang./ Sampai jumpa.

Salam, Nyonya.

Aku mencari pemutih.

Ikut aku.

Aku tidak menemukannya di dapur.

Aku mau mencuci piring di bak mandi.

Dengan begitu, akan lebih lega di sini.

Tidak apa-apa. Terima kasih banyak.

Berapa yang harus kubayar?/ Apa?

Aku bahkan belum mulai!

Aku tahu. Seseorang akan datang membantuku.

Lalu kenapa kau menghubungi agensi?

Suamiku yang melakukannya,

Apa bedanya, kau dan suamimu?

Aku tidak berhutang penjelasan padamu.

Aku minta maaf./ Aku sudah berubah pikiran.

Aku tidak mengobrak-abrik lacimu.

Aku tadi bersih-bersih di dalam kamar dan jatuh.

Apa 5000 Toman cukup?

5000? Tapi kenapa? Aku sudah terlanjur ke sini!

Masih kurang? Kalau begitu berapa?

Aku tidak bisa menerima uang ini kalau belum melakukan apa-apa.

Ambillah.

Seseorang akan datang menyelesaikannya.

Apa aku melakukan kesalahan? Apa yang terjadi?

Tidak. Kau mau menerimanya atau tidak?

Dia punya waktu 3 hari kerja di sini.

Aku tak peduli./ Aku akan membantu.

Kau tak mau menerima ini? Terserah kau saja.

Jangan lupa tutup lagi pintunya.

Ada apa?

Kenapa tidak ada yang menjawab?

Belnya rusak.

Perbaikilah. Kau membuang-buang waktu orang.

Ya?/ Ada seorang pria mencarimu.

Siapa?/ Tukang potong kaca.

Katakan padanya aku akan ke sana.

Kau parkir mobil di depan pintu gerbang lagi!

Apa maksudmu? Mereka mau memarkir truk?

Siapa yang mengempesi ban mobilku?

Aku tidak tahu.

Bagaimana kau bisa tahu? Berikan kuncinya.

Aku akan melakukannya. Aku ingin tahu apa ini ulah wanita gila itu!

Aku tadi melihat dia masuk.

Bel mereka rusak.

Lupakan saja. Kau mau cari masalah?

Dia tidak membuatku takut.

Jangan lupa bonus Tahun Baru kami.

Nyonya Samii?

Nona?

Nona?/ Seseorang memanggilmu.

Ada apa sih?

Apakah ada yang menelepon pagi ini?

Tidak, tidak ada.

Saat suamiku ada di sana?

Saat aku tiba,

dia sedang bicara di telepon.

Siapa itu?

Maksudnya?

Apa yang dia katakan?

Aku tidak tahu, Nyonya.

Maaf.

Dengar!

Kemarilah.

Ayo, kemarilah.

Siapa ini?/ Halo, Nyonya.

Halo. Ada yang bisa kubantu?

Aku ingin membuat janji di salon.

Siapa namamu?/ Ruhangiz Barati.

Ini pertama kalinya untukmu?

Ya.

Siapa yang merekomendasikan padamu?

Nyonya Rahimi.

Aku sekarang sibuk. Kau bisa ke sini nanti sore?

Jam berapa?

Jam 5.

Kalau tidak bisa, pergilah sebentar lalu kembalilah 30 menit lagi.

Bagaimana kalau antara jam 2 dan jam 5?

Tidak bisa. Aku mau keluar.

Baiklah, aku akan ke sana 30 menit lagi.

Terima kasih atas kebaikannya./ Sama-sama.

Bagus?

Ya, terima kasih.

Syukurlah.

Yang satunya juga kempes.

Kenapa mahal sekali?

Kalau saja kau tahu seberapa jauh aku datang dalam cuaca dingin begini.

Kau masih belum membawa sampahnya ke bawah?

Kau tinggal jauh dari sini.

Aku sibuk, aku akan melakukannya.

Jangan lupa bonus Tahun Baru kami.

Haruskah kita gantung tirainya?/ Kita tidak bisa melakukannya sendiri.

Kenapa kau tidak menghubungi suamimu?

Dia bahkan tidak bisa menggapai pinggangku.

Ada apa?/ Bonus Tahun Baru untuk anak-anak.

Aku membayar dua kali lipat dan kau masih ingin dapat bonus?

Kenapa kran airnya menyala?

Embernya masih kotor./ Aku akan mencucinya.

Kau mau gadis itu datang dan membantu?

Gadis yang mana?

Selamat tinggal.

Gadis yang mana?/ Yang tadi ke sini.

Gadis pembantu itu?

Kenapa dia masih di sini?

Dia memiliki janji untuk ke salon.

Salon?

Dia akan segera menikah.

Dia ingin mempercantik alisnya.

Di luar dingin, suruh dia ke sini.

Kau tahu berapa dia akan membayarmu?

Aku benar-benar tak tahu. Pagi ini dia memberiku...

5000 Toman lalu menyuruhku pergi.

Mereka aneh. Apa mereka sedang bertengkar?

Kami sudah tidak tahan lagi.

Tadi malam, suaminya marah-marah dan memecahkan jendela.

Aku tadi lihat jendela yang pecah itu.

Selau begitu setiap hari.

Apakah kau takut dengan calon suamimu?

Tidak, dia sama sekali tidak begitu.

Jangan salah paham.

Apakah suamimu seperti itu?

Amit-amit! Aku tak akan mengatakannya.

Calon suamiku jatuh cinta setengah mati padaku.

Nasser, sepupuku, juga jatuh cinta padaku.

Itu untuk kapan?/ Satu bulan lagi.

Apakah mahal?

Apa?

Penata rambutnya.

Simin sangat murah hati.

Jelaskan saja keadaanmu dan dia akan mengerti.

Kenapa kau tidak menghubungi Ibu...

Ini berdering. Halo, halo Ibu? Apa kabar?

Ini Mahdi./ Apa dia bicara padaku?

Buka!

Apa yang kau tunggu?

Kau tahu aku tidak akan ikut naik.

Cepatlah, banyak yang harus kita lakukan.

Kau harus bertemu dengannya hari ini.

Baiklah. Hati-hati.

Masih belum selesai.

Tidak perlu melepas sepatu.

Aku bisa menjemputmu./ Ahmad ada di bawah.

Siapa itu?/ Dia membantuku.

Ahmad tetap di bawah seperti biasa.

Jika itu mengganggumu, susul dia./ Aku?

Sudah waktunya. Sudah setahun!

Dia marah-marah sendiri. Nanti juga akan reda sendiri.

Sama seperti anak-anak.

Berantakan sekali.

Masih belum selesai?

Panaskan itu, kita akan memakannya.

Kaulah anak-anak itu. Kau tak pernah menanggapi sesuatu dengan serius.

Dan bagaimana denganmu, Nyonya Serius?

Kau sudah lihat dirimu di cermin? Ada salon di sebelah!

Permisi.

Aku mau minta izin pada calon suamiku.

Izin?

Untuk ke salon.

Tidak perlu.

Dia mau menikah. Dia ingin mempercantik alisnya.

Jangan beritahu segala hal padanya.

Tidak perlu membuatkan teh.

Beri dia kejutan.

Lakukan saja apa yang kau sukai.

Aku tidak beli buah-buahan.

Kau sangat sibuk!

Apakah kau siap ke Dubai, dengan semua kekacauan ini?

Nyonya?

Jadi, aku tak perlu meneleponnya?

Terserah, dia calon suamimu.

Kau seharusnya memilih negara tujuan yang lebih baik.

Dia bahkan tidak ingin ke Dubai./ Kenapa harus Dubai?

Pikirkan tentang Amir-Ali.

Amir-Ali akan tumbuh tumbuh seperti anak-anak lain.

Lagipula, aku tidak yakin kami akan berangkat.

Apa maksudmu tidak berangkat?

Entahlah. Kita lihat saja nanti. Bawa ini saat kau pergi.

Nona!

Aku tahu betapa keras kepalanya dirimu./ Apa maksudmu?

Kau tidak melihat saat Amir-Ali tidur.

Kenapa?

Kau akan terlambat.

Dia sangat ketakutan.

Aku bertanya ada apa, dia bilang dia mimpi tentang neraka.

Di sekolah mereka menjelaskan tentang neraka kepada anak-anak selama satu jam.

Dia bahkan tak bisa bermain tanpa aku mengawasinya.

Aku harus menemaninya ke sekolah.

Akan kumatikan itu, pegangannya terbakar.

Satu jendela lagi, lalu aku akan pergi.

Kau akan melewatkan janjimu.

Ada bahaya di mana-mana.

Aku selalu khawatir ketika meninggalkan rumah.

Bahkan, suatu malam salah satu rekan kerjaku menghilang.

Jangan bilang padanya kau habis dari mana.

Kenapa?

Ny. Rahimi yang merekomendasikan padamu./ Oh, aku lupa.

Kau tak perlu itu. Tempatnya tepat berada di situ.

Sampai jumpa, Nyonya./ Sampai jumpa.

Kenapa kau tak menjawab?

Jangan bohong. Apa yang kau lakukan?

Oh ya?

Aku bisa melihatmu dari sini.

Dengar.

Hai, Nyonya.

Kemarilah sebentar saja.

Kapan kau mau berdamai?

Mereka akan berangkat besok.

Apa yang kau lakukan?

Aku datang.

Baik.

Ada apa?

Apa yang terjadi kali ini?

Kau menyembunyikan sesuatu dariku?

Lihat aku.

Morteza menghubungimu?

Pria malang, dia sangat sedih.

Kenapa kau bersikap seperti ini?

Kau merusak hidupmu.

Nyonya Sabri?

Ya.

Bersihkan dulu jendela di depan.

Lupakan itu.

Kemarilah.

Mojdeh,

kau menjalaninya dengan baik beberapa bulan terakhir ini.

Apakah terjadi sesuatu?

Aku tidak tahu apa yang dia lakukan.

Kau bicara apa?

Dia bekerja keras siang malam demi kau dan Amir Ali.

Dia pikir aku ini bodoh.

Dia tidak bodoh. Kenapa dia harus meninggalkanmu?

Dan untuk siapa?

Mojdeh, kesabaran memiliki batas.

Suatu hari, dia akan meninggalkanmu dengan anakmu.

Biarkan saja dia pergi!

Ayo. Berdamailah dengan Ahmad.

Kau akan perlu tempat tinggal kalau kau masih marah padanya.

Kau tak punya siapapun selain kami.

Kaulah yang bodoh! Dia suami yang baik dan lembut.

Jangan membelanya tanpa tahu siapa dia! Aku kenal siapa suamiku!

Kalau saja Ayah masih ada.

Apakah kau mengetahui sesuatu akhir-akhir ini?

Aku sudah dengar beberapa hal./ Dari siapa?

Apa bedanya?

Kau mau merusak hidupmu karena gosip?

Salah satu tetangga kami yang bilang.

Dia mendengar suara Morteza pada mesin penjawab perempuan jalang itu.

Mungkin dia salah dengar.

Aku yakin itu.

Bagaimana kau yakin?

Ada bau parfum wanita itu.

Itu sudah cukup.

Dengan seseorang di sini! Di balik dinding ini, di depan hidungku.

Cobalah untuk berpikir tentang perjalananmu besok.

Tinggalkan semua masalah ini sampai setelah liburan.

Sayang, jangan marah-marah.

Aku harus menenangkan diri malam ini.

Apa yang akan kau lakukan?

Saudara iparmu terus membunyikan klakson.

Pergilah. Dia menunggumu./ Aku tak bisa meninggalkanmu seperti ini.

Pergilah.

Jangan terus marah-marah.

Tidak apa-apa.

Beri aku ciuman.

Dan Selamat Tahun Baru.

Terima kasih.

Kau ini kenapa sih?

Aku sudah menunggumu selama satu jam!

Kau punya selera yang bagus. Dia terlihat nakal.

Ya 'kan?

Butuh dua tahun sampai ayahku mau menerima pernikahan ini.

Dia sangat gigih, sampai akhirnya ayahku mau menerima.

Mau diwarnai rambutmu?

Tidak. Akan terlalu banyak kejutan untuknya.

Apakah dia mencintaimu?

Biar kulihat.

Kau suka?

Terima kasih banyak.

Mau teh?/ Aku akan membuat sendiri.

Sejak kapan pelanggan yang membuat teh?

Nyonya?

Ya. / Apa parfummu?

Aku mau mencari yang sama, tetapi untuk pria.

Aku diberi orang. Itu, botol biru yang ada di depanmu.

Jangan hamil terlalu cepat!

Dia sangat terburu-buru, aku yakin aku akan dapat bayi kembar saat pesta pernikahan!

Kau punya anak?

Salam alaikum./ Alaikum salam, silakan masuk.

Aku hanya ingin mengunjungi apartemen ini sebentar.

Sekarang?

Aku akan menjelaskannya. Silakan masuk.

Maaf kalau mengganggumu.

Ini adalah dapurnya. Ada teras di belakang.

Kau sudah menemukan sesuatu?

Menemukan apa?

Bisakah kau pergi sekarang,

atau masih mau mencari?

Aku tidak tinggal di sini.

Di sni cukup terang, Bu.

Kau mau menaikkan biaya sewa?

Ini tak ada hubungannya dengan itu./ Lalu apa?

Aku punya beberapa masalah. Aku butuh uang.

Terima kasih banyak, Tn. Razaghi.

Kami akan menghubungimu.

Silakan tunggu di garasi, aku akan ke sana.

Ayo, anak-anak.

Terima kasih, Nyonya.

Selamat tinggal.

Kau tidak akan menjualnya!/ Aku sedang melakukannya.

Aku sudah bilang. Aku khawatir. Aku butuh uang.

Aku sudah lelah dengan semua keluhan tentang dirimu.

Siapa yang mengeluh?

Para tetangga.

Kenapa mereka tidak bilang padaku?

Ini adalah apartemen./ Terus?

Kau membuka salon rambut.

Aku akan segera ke sana.

Maaf sudah mengganggumu.

Apakah ada masalah dengan salonku? Aku tak mengganggu siapapun!

Di mana masalahnya?

Para tetangga mengeluh.

Terlalu banyak orang asing. Pengantin wanita itu...

Mereka tak berani mengatakannya padamu. Mereka mengatakannya padaku.

Beberapa radio mobil dicuri minggu lalu.

Oleh pelangganku?

Kau tidak mengenal semua pelangganmu.

Misalnya, kau kenal gadis ini?

Dia keponakanku.

Maaf, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.

Maksudku biasanya...

Mau kubuatkan teh, Bibi?/ Ya, sayang.

Aku bahkan lupa untuk menawarimu teh.

Terima kasih, mereka sudah menungguku./ Tunggu sebentar.

Katakan padaku siapa yang mengeluh.

Karena aku wanita yang tinggal sendirian,

bagiku ini adalah fitnah. Kita harus luruskan ini.

Aku tidak membuat kegaduhan apapun di tempat ini.

Baiklah, aku tak akan bohong, minggu lalu ada pelanggan seorang pengantin wanita...

dan mereka sedikit memutar musik.

Tidak sampai sepuluh menit.

Ketika tetanggaku mengadakan pesta, aku tak pernah mengeluh.

Kita akan bicara besok.

Besok, semua orang akan berlibur.

Penghuni lantai atas, mereka mau pergi ke Yazd. Tepat di seberangnya, mereka berangkat jam 4 pagi.

Semuanya mau pergi. Mari kita selesaikan sekarang.

Koreknya tidak mau menyala.

Lain kali kau akan kuhubungi.

Seolah-olah masalah tak pernah berhenti mendatangiku.

Nyonya, koreknya tidak bisa.

Mana?

Kalau kau tidak keberatan, aku harus pergi.

Minum teh dulu./ Tidak, terima kasih.

Jangan lupa fotomu.

Tidak akan. Tapi katakan padaku...

berapa banyak yang harus kubayar?

Simpan saja uangmu.

Tidak bisa.

Kita akan mencemasakan hal itu

saat hari pernikahanmu tiba.

Aku tidak akan berani datang lagi.

Kau pernah lihat keponakan membayar bibinya?

Ini tidak biasa.

Kalau begitu, ini adalah hadiah Tahun Baru dariku.

Tapi aku benar-benar merasa tidak enak.

Tapi terima kasih banyak.

Nyonya?

Kau lupa sesuatu? / Tidak.

Pria yang tadi ke sini memintamu untuk pergi...

Maaf, aku tadi menguping.

Kurasa tetangga sebelahmu terlibat.

Yang mana?/ Yang di sebelahmu.

Kau kenal mereka?

Pagi ini aku ke sini untuk bekerja di rumahnya.

Kau yang tadi membunyikan bel ke sini?/ Ya.

Dia yang memintamu ke sini?/ Tidak, ini kemauanku sendiri.

Bukankah Ny. Rahimi yang merekomendasikan padamu?

Ya, memang.

Pagi ini aku bertemu dengannya saat dia mengganti ban.

Dia sangat marah.

Aku yakin itu ulah wanita itu.

Aku tidak kenal mereka.

Kelihatannya, mereka bukanlah orang yang seperti itu.

Aku jarang bertemu dengannya.

Aku pernah berpapasan dengan suaminya. Dia terihat serius.

Wanita itu agak aneh.

Aku baru saja tiba di rumahnya, tiba-tiba dia memecat dan membayarku.

Kenapa?

Dia tidak percaya padaku. Dia takut aku mencuri darinya.

Aku tak berteman dengan siapapun di sini.

Aku cuma kenal dengan mereka.

Tapi wanita ini tidak percaya pada siapapun.

Saat kau kembali, usahakan tidak membuatnya tersinggung.

Aku tidak mau mencari masalah. Jangan khawatir.

Sabri, ambil anakmu, dia terus menangis.

Bawa dia turun.

Salam.

Sekarang kau benar-benar terlihat seperti pengantin.

Aku berubah?/ Ya, kau terlihat lebih cantik.

Di mana chadorku?/ Di sana.

Kau benar-benar terlihat berbeda, selamat.

Aku mau pergi untuk makan siang, membawanya turun lalu kembali.

Tidak usah repot-repot. Gadis itu akan melakukan sisanya.

Selamat tinggal.

Anak itu membuatku gila. Ambilkan gelas.

Jika aku tetap di sini, mari kita lakukan saja.

Kau masih punya waktu. Kau bisa datang lagi besok. Aku sudah lelah.

Tapi kau akan pergi!

Besok, sebelum kami pergi.

Kau pergi jam 4 pagi.

Bagaimana kau tahu itu?

Siapa yang bilang?

Simin.

Dia tahu?

Ini tidak ada pengaitnya.

Tunggu, bagaimana dia bisa tahu?

Kemari.

Duduklah.

Dia tahu kami berangkat jam 4 pagi?

Kurasa iya.

Bagaimana dia mengatakannya?

Aku tidak ingat.

Bagaimana?

Kami berbicara tentang banyak hal.

Kenapa kau menyebutkan perjalanan kami?

Kami bicara tentang liburan dan perjalanan.

Dia mengatakan bahwa banyak yang akan pergi liburan ke Dubai.

Dia bilang kau akan pergi besok pagi-pagi.

Kau tadi bilang jam 4.

Aku mengatakan pagi-pagi./ Kau mengatakan jam 4!

Maksudku pagi-pagi. Sebelum jam 4, bagiku masih malam.

Dan apa lagi?

Dia ingin tahu berapa usiamu dan profesi suamimu.

Itu saja?

Dia tidak banyak bicara.

Dia melakukan pekerjaan yang baik. Dia memiliki bakat.

Dia tidak mau kubayar.

Kau tidak bilang kalau kau tadi di sini?

Aku tidak bilang apa-apa.

Haruskah kupasang tirainya?

Kembalilah bekerja.

Dengar,

Nona...

Aku merasa tidak enak badan. Aku akan mandi dan istirahat

Aku mau kau melakukan sesuatu.

Tepat jam 2 siang nanti, turunlah ke jalan depan ini,

dan pergilah ke boulevard,

dan kau akan melihat sekolah dasar Paknejad.

Kau bisa mengingatnya?/ Paknejad.

Kau akan menjemput anakku di sekolah.

Kau harus berada di sana jam 2 siang.

Kuncinya ada di atas rak sepatu.

Jangan menjawab telepon, dan jangan membuka pintu.

Siapa nama anakmu?

Amir-Ali Samii, dia di kelas satu.

Saat kau kembali, jika aku sedang tidur,

buatlah sandwich sendiri.

Tinggalkan yang itu.

Urus saja yang di balkon.

Kumpulkan semua itu di pojokan, lalu mulailah yang di dapur.

Jika seseorang mengetuk pintu, jangan bangunkan aku.

Aku ingin berbicara dengan Abdul Reza.

Aku istrinya, maksudku, sepupunya...

Kapan dia kembali?

Baiklah, katakan padanya Rouhi menelepon.

Aku akan kerja lebih lama. Aku akan pulang sendiri.

Mojdeh!

Mojdeh Sayang?

Kau tidak ada? Aku menghubungi ke apartemen.

Nyonya?

Nyonya?

Ny. Simin?

Hai, Ny. Simin.

Kau melihat chadorku?

Kau punya chador?

Aku tidak bisa menemukannya.

Kau tadi tidak memakainya.

Di rumah mereka juga tidak ada.

Ny. Samii tak mungkin mencurinya!

Dia tidak ada.

Dia ingin istirahat, tapi dia malah pergi.

Dia mungkin masih belum jauh. Tunggu sebentar.

Aku harus menjemput anaknya di sekolah.

Aku sudah terlambat. Selamat tinggal.

Tunggu, aku akan mengantarmu.

Tidak usah, aku bisa./ Kita satu arah.

Aku tak bisa membayangkan,

bagaimana mereka akan siap untuk besok.

Untuk ziarah ke Qom, kita harus siap-siap dua hari sebelumnya,

dan kita masih belum punya tiket bus.

Pakai sabuk pengamanmu, ada polisi.

Jam 4 pagi sangatlah awal.

Kemudian, mereka akan melakukannya.

Jam 4? / Kau tadi mengatakannya.

Aku mendengarnya dari salah satu tetangga.

Kurasa aku turun di sini, Pak.

Turunkan dia di depan sekolah.

Terima kasih banyak, Nyonya.

Itu cukup jauh.

Kenapa mereka tidak menjemput sendiri anak mereka seperti orang lain?

Kadang yang menjemput bibinya, atau sepupunya,

atau mereka lupa.

Ibunya sedang sibuk.

Sibuk? Para orang tua lain itu bukanlah pengangguran!

Aku tidak tahu kenapa aku harus percaya padamu untuk membawa anak itu.

Kau kenal wanita ini?

Telepon ibumu.

Tidak ada orang di rumah!

Ibuku ada di rumah.

Dia tidak ada di rumah./ Tadi pagi ada.

Itu tadi pagi.

Periksa berkas anak ini, kita akan hubungi ayahnya.

Katakan padanya, ada seorang wanita datang menjemput anaknya.

Akan kulakukan.

Apa yang akan kulakukan pada kalian berdua?

Bukankah sudah kubilang jangan membawanya ke sekolah.

Ya atau tidak?

Petasan itu bukan milik kami.

Petasan itu ada di dalam tas kalian!

Teman-temanku yang menaruhnya.

Petasan harganya 600 Toman. Itu tidak sedikit!

Mereka akan memberikannya padamu?

Itu harganya cuma 400 Toman!

Yang 600 Toman berbeda.

Keluar dari sini.

Akan kuurus kalian berdua nanti.

Ayo, pergi!

Beri aku korek api, mari kita mengujinya.

Anak-anak ini, sumpah!

Bagaimana?

Tak ada yang bisa kulakukan, kau bisa melihat rambutnya.

Lupakan saja.

Kau punya korek?/ Tidak.

Tn. Nikbakht?

Tn. Nikbakht?/ Ya.

Keluar dan belilah korek api, kita kehabisan korek api.

Mahmud, itu tidak bisa. Apa yang harus kita lakukan?

Gadis ini baru 7 tahun, tapi mereka ingin menyembunyikan rambutnya.

Aku sangat sibuk. Apa yang harus kulakukan?

Tutup pintu itu.

Kenapa tidak setelah liburan saja?

Sadeghpour bersikeras.

Dia melecehkanku. Dia ingin menampilkannya saat malam tahun baru.

Katakan padanya tak ada yang bisa dilakukan. Biar dia bicara pada direktur.

Kenapa dia tak memakai nenekku saja, bukannya seorang gadis kecil?

Apa yang bisa kulakukan!

Kau tahu siapa dia. Dia akan merusak liburan kita.

Mungkin kita bisa melakukan sesuatu dengan Photoshop.

Terlalu lama. Ini tanggung jawab mereka.

Dia tidak tahu bagaimana melakukannya!

Mr. Morteza, ada telepon.

Ya?

Ya, ini aku.

Ah, halo, bagaimana kabarmu?

Siapa?

Tidak apa-apa, tapi aku ingin bicara dengannya.

Dia memintaku untuk menjemputnya.

Dia keluar.

Aku tidak tahu. Dia pergi tanpa bilang apa-apa.

Anakmu ingin bicara denganmu.

Halo Ayah.

Apa kabar?

Aku baik-baik saja. Kita jadi pergi malam ini?

Ya, Ayah akan membeli kembang api.

Ya, Ayah juga akan membelinya. Kau pulang dengan wanita itu, ya?

Janji?

Sampai jumpa, nak.

Tambahkan sedikit lagi.

Aku dua kali melewatimu dan kau masih berdiri di trotoar.

Tidak semua pria pengecut.

Tapi banyak yang gila.

Biarkan aku pergi. Itu bukan urusanmu.

Semuanya keluar!

Kau tak bisa mengurungnya. Dia bisa keluar kapanpun dia mau.

Semua keluar!

Aku tak mau./ Ayolah, ini akan membuatmu lebih tenang.

Apa masalahnya?

Dia membuatku gila!

Dia telah mengacaukan hidupku dan dia terus melakukannya!

Dia datang untuk memata-mataiku dengan memakai chador

di tengah-tengah Tahun Baru yang gila ini!

Dan kau memukulinya?

Tak pernah kubayangkan kau akan melakukan itu!

Dia selalu membuatku malu, di apartemen dan sekarang di tempat kerja.

Kau bisa menyuruhnya pulang tanpa melakukan itu.

Dan mencuci pakaian kotormu di rumah.

Aku tak tahu apa yang kulakukan.

Aku akan gila!

Selain itu, kami akan pergi berlibur besok.

Biarkan aku pergi!

Kau hanya akan membuat semuanya semakin memburuk.

Dia menyuruh pembantu untuk menjemput anak kami. Kau percaya itu!

Omong kosong!/ Apa yang telah kau lakukan?

Tidak ada!

Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali dia memasak!

Kapan terakhir kali tetangga mencium aroma masakan yang dia masak?

Kau mungkin pernah melakukan kesalahan.

Dia pasti punya alasan untuk melakukan hal itu.

Apa maksudmu? Kau sudah kenal aku selama 11 tahun!

Dia mencurigai sesuatu darimu!

Sumpah, aku tidak tahu.

Dia terus-terusan mengungkit-ungkit tentang perjalan ke Dubai.

Tak pernah berhenti: "Kapan kita berangkat?"

"Ayo kita pergi ke Dubai!"

Kupikir ini akan baik bagi kami semua.

Dan pagi ini, dia bilang dia tidak ikut!

Dia ingin mengecat apartemen kami. Aku bilang baiklah.

Lalu telepon berdering: "Berapa harga apartemen Anda?"

Dia telah memasang iklan tanpa meminta pendapatku.

Kalau saja kau tahu bagaimana dia bicara padaku.

Menurutku...

Aku kasihan padanya!

Kau lihat tadi bagaimana orang memandangnya di jalan?

Seharusnya dia berdiri di sana seperti itu!

Dia itu sensitif. Dia membutuhkan perhatian.

Ya, ya.

Dia juga punya masalah dengan keluarganya!

"Aku tak ingin bertemu wanita ini, aku tak suka pria itu..."

Urus saja dirimu! Lihatlah di sekitarmu!

18...

19, aku datang!

Salam, Nyonya.

Amir-Ali, Ibu sudah datang.

Keluarlah, ibumu sudah pulang.

Berikan padaku, Nyonya!

Aku sudah cari di kamarnya. Dia akan muncul.

Amir-Ali, keluarlah, sudah selesai!

Jangan takut, kami hanya bermain.

Keluarlah, Ibu serius!

Keluar!

Kenapa Ibu ke sini? Apa yang Ibu lakukan?

Lepaskan tanganku.

Ayo, berhentilah merengek!

Ayo!

Pakai sepatumu./ Kita mau ke mana?

Kita mau ke mana?

Ibu akan beritahu nanti.

Aku mau melihat kembang api dengan Ayah.

Pakai sepatumu dan diamlah!

Ibu yang diam!

Pakai sepatumu!

Tenanglah, Nyonya.

Aku tidak ikut!

Diam!

Apa yang terjadi?

Salam. Apa yang terjadi?

Kemasi barangmu. Kita akan pergi.

Kurasa aku datang di saat yang tidak tepat. Kau mau pergi?

Mojdeh, aku datang mau minta maaf.

Kita lupakan saja semua itu.

Mahshid ada di rumah?

Kau mau ke rumahku?

Satu atau dua malam.

Morteza tahu?

Aku tidak ikut.

Aku akan bilang padanya.

Biarkan aku menenangkan dia, agar dia mau ikut.

Seorang pria tidak pernah menangis!

Apa yang terjadi?/ Salam, Paman.

Nyonya?

Apa yang terjadi?

Kau bilang padanya?

Aku? Aumpah, aku tidak bilang.

Pihak sekolah yang melakukannya. Mereka tak mau aku membawa Amir-Ali.

Kau tidak ada di rumah.

Kau ingin segelas air?

Kau boleh pergi.

Sialan.

Salam, Tuan./ Apa yang kau lakukan di sini?

Chadorku masih di atas. Tapi, aku tidak berani naik.

Mojdeh ada?/ Siapa?

Istriku?/ Ya, tapi mereka mau pergi.

Lebih baik aku tidak ikut naik.

Ayo...

Ibu bilang ada nomor tak dikenal yang selalu menghubungi telepon kami.

Dia tidak tahu nomor siapa itu.

Tadi malam, saat aku sedang tidur,

aku mendengar kaca jendela pecah, kukira itu adalah pencuri.

Aku melihat Ayah dan Ibu bertengkar.

Ayah memukul kaca jendela dengan tangannya.

Dia berdarah, lalu pergi ke rumah sakit.

Dia pulang sangat larut.

Kau tahu kenapa mereka bertengkar?

Ibu mengatakan ada orang lain.

Itu yang selalu dia katakan padaku.

Sekarang kamu cuci muka. Kita akan pergi ke rumah Paman.

Aku mau pergi melihat kembang api dengan Ayah.

Kamu tidak boleh nakal begitu.

Ayah akan sedih kalau aku tidak ada di sini.

Dia ayahku!

Kenapa kau menangis, Sayang?

Bagaimana kabarmu, Ahmad?/ Bisa lebih baik.

Ada apa dengan istrimu?

Dia mau pergi ke mana?

Aku tidak tahu, dia cuma ingin pergi.

Kurasa ke rumah kami.

Kamu di sini saja dengan Paman Ahmad, Ayah mau bicara dengan Ibu,

dan setelah itu kita berangkat.

Jangan menangis.

Morteza?

Aku tidak akan menyakitinya.

Tolong tetap bersama dia.

Sayang, dengarkan aku, setelah itu lakukan apa saja sesukamu.

Jangan pergi membawa anak itu. Dengarkan aku sebentar.

Tenanglah.

Mari kita semua pergi ke rumahku./ Kau sudah lihat situasi kami.

Jangan pergi!

Aku mau bicara denganmu./ Jangan sentuh aku, brengsek!

Mojdeh... / Jangan ikut campur, Ahmad!

Kendalikan dirimu! Dia kemari ingin berdamai denganmu.

Dia di bawah tekanan dari istrinya!

Aku minta maaf, Ahmad. Aku minta maaf.

Tolong maafkan aku.

Pergi ke kamar.

Tolong, aku ingin taksi. Untuk Samii.

Kita tak butuh itu.

Dengar, ku minta maaf. Dengarkan aku sebentar.

Sampai hari ini aku tidak pernah memukul siapa pun!

Tapi kau membuatku terpaksa melakukannya...

Itu salahku?/ Ya, salahmu.

Bajingan! Kau tidak malu memukul istrimu di pinggir jalan?

Itu salahmu!/ Salahku?

Katakan yang sebenarnya!/ Yang sebenarnya apa?

Nomor siapa ini?

Mana kutahu?

Kenepa dia menelepon segera setelah aku pergi?

Apa maksudmu... Ya Tuhan!

Katakan yang sebenarnya./ Yang sebenarnya apa?

Apa yang kau takutkan?

Kemarilah sebentar!

Amir-Ali, kembali ke kamarmu.

Ayo, kemari.

Cepatlah.

Perhatikan aku sebentar saja.

Apartemen siapa yang kau bel tadi pagi?

Bel apartemenmu rusak. Jadi kubunyikan bel tetanggamu.

Dia meneleponmu agar membukakan gerbang untukku.

Dan di hari sebelumnya?

Dia ingin tahu kenapa ada keluhan mengenai dirinya.

Aku bilang padanya aku tak ada masalah dengannya.

Kau membelanya saat di pertemuan!

Mereka ingin aku untuk mengajukan keluhan.

Aku menolaknya./ Suaramu ada di mesin penjawabnya.

Siapa yang bilang begitu? Katakan siapa yang bilang agar semuanya terbuka!

Kau pergi keluar dengan dia!

Tak ada siapapun! Aku tak akan pernah melakukan kesalahan dengan membawa...

Apa?

Kenapa kau malah pergi saat kita seharusnya bicara?

Tanyakan saja sendiri pada bajingan yang tadi menelepon aku!

Wanita itu menelepon untuk membatalkan kencanmu! Kau pikir aku bodoh?

Kita akan pergi./ Tidak!

Kau harusnya malu, mojdeh!

Kau mengambil chadornya untuk memata-mataiku. Itu memalukan!

Buka! Aku mau pergi!

Kau sudah merendakan martabatku!

Pergilah ke kamarmu, Sayang.

Itu salahku?

Kau tidak jadi kencan dengannya antara jam 2 dan jam 5, ya kan?

Tenanglah dan kemarilah.

Pergi tanyakan pada tetangga kami tentang mesin penjawabnya.

Diam!

Wanita itulah yang harus datang sini!

Bagaimana harus kubuktikan bahwa kau sudah gila, bahwa kau cuma mengada-ada!

Ya Tuhan!

Aku yang gila?

Aku bahkan tidak tahu kita akan berangkat jam 4 pagi..

Tapi wanita itu tahu!

Apa maksudmu dia tahu?

Bagaimana mungkin?

Kau bertanya padaku?

Aku bersumpah aku tidak mengatakan apapun padanya.

Jangan libatkan dia!

Dia takut.

Akulah yang mendapatkan tiketnya!

Aku yang gila?/ Tak ada yang terjadi di antara kami.

Jangan bersumpah, urus saja martabatmu!

Kau benar, biarkan aku pergi.

Simin yang memberiku tiket.

Dia memintaku untuk memberikannya kepadamu. Kau tadi sedang pergi.

Kenapa dia membawa tiket kami?

Bel kalian tidak berfungsi. Mereka menaruhnya di depan tempat Simin.

Dia memberikannya kepadaku. Aku menaruhnya di atas meja.

Dia sempat melihatnya saat memberikannya padaku.

Tenanglah, Sayang.

Kenapa kau tidak memberitahu aku?

Itu bukan urusanku.

Aku tidak mau merepotkanmu.

Pakaikan jaket anak ini.

Aku pria yang jahat.

Aku bahkan tidak berani melihatmu.

Aku tidak punya hak untuk memukulmu.

Kau tidak bisa membayangkan betapa aku merasa sangat bersalah.

Maaf.

Sayang...

Ku mohon lihat aku.

Bersumpahlah atas hidup anakmu.

Aku tidak pernah bersumpah atas Amir-Ali, tapi aku bersumpah bahwa aku mencintaimu.

Aku mencintai kehidupan kita, aku mencintaimu, aku mencintai anak kita.

Mari kita lupakan saja semua ini.

Kami sudah siap, Ayah. Ayo pergi.

Kenapa tidak ikut saja dengan kami?

Tidak. Pergilah. Kau yang berjanji padanya.

Ayo, Ayah!

Kita berangkat.

Kita berankat?/ Ya.

Tuan, ini punyamu.

Ayo, aku akan mengantarmu pulang.

Terima kasih, aku akan naik bus saja.

Kau akan terlambat. Kita akan selesaikan sisanya.

Rumahku sangat jauh, Tuan.

Aku akan mengantarmu ke tempat taksi.

Ikutlah dengan kami melihat kembang api!

Maaf, aku bisa terlambat.

Maaf, Nyonya, bisa kuminta kembali chadorku?

Aku akan menggantinya.

Selamat tinggal, Nyonya.

Aku akan melihat kembang api!

Aku akan melihat kembang api!

Kau tinggal di mana?

Dekat makam Imam Davoud.

Kau bisa menunggu sedikit lebih lama?

Aku akan mengantarmu pulang saat sudah selesai.

Tidak bisa. Tunanganku sudah menungguku.

Bagaimana caramu bisa pulang?

Kau akan pulang lewat tengah malam.

Kau akan menghabiskan banyak uang dengan naik taksi.

Aku tidak mau merepotkanmu.

Tidak akan. Berbahaya pulang malam hari.

Sebenarnya, salah satu rekan kerjaku

kerja hingga larut malam lalu dia menghilang.

Ini masih dalam pencarian.

Orang-orang di kantor menduga ini adalah ulah "Si Kelelawar".

Siapa?

"Si Kelelawar".

Dia sudah ditangkap.

Dia bukan satu-satunya, ada banyak yang seperti dia.

Amir-Ali, hati-hati!

Bisakah kau bermain dengan dia selama setengah jam? Aku akan segera kembali.

Jangan setengah jam, satu jam!

Baiklah.

Jangan lebih dari satu jam!

Aku akan mengantarmu. Jangan khawatir.

Aku hanya mau berbelanja.

Kemarilah, Nak.

Dengarkan apapun yang dikatakan Nona ini.

Jangan terlalu dekat dengan api atau petasan. Karena semua itu...

Dilarang!

Siapa anak kesayangan Ayah?

Amir-Ali. Ayo!

Jangan pergi terlalu jauh. Di sekitar sini saja.

Tolong ambilkan satu pak korek api.

Satu pak Marlboro.

Sejak kapan kau merokok?

Hai, Tuan Samii.

Aku tidak merokok.

Apa yang kau takutkan?/ Ibuku sangat serius.

Pergilah, aku tak mau melihatmu!

Ayo pergi, siapa orang norak ini?

Kau sedang tidur?

Kau terlambat?

Aku tidak bisa lama-lama./ Kenapa?

Ada yang harus kulakukan.

Kukira aku tak akan bisa melihatmu sampai setelah liburan.

Itu berat sekali./ Tidak...

Aku senang kau datang.

Apa yang terjadi di rumahmu?

Tidak ada.

Sekarang sudah baikan./ Kalian tadi bertengkar.

Itu sudah selesai, mari kita tidak membicarakannya.

Lalu kenapa kau terlihat murung sekali?

Simpan saja sebagai hadiah.

Jadi, ada apa?

Tidak ada, sudah kubilang lupakan saja!

Apa yang kau lakukan saat liburan?

Tidak ada.

Tapi kau berusaha untuk bersenang-senang.

Jagalah dirimu, kau terlihat kurang sehat.

Bersenang-senang? Yang benar saja!

Aku akan jadi gila jika tak melihatmu satu hari saja.

Bagaimana aku bisa bersenang-senang?

Bukan ini yang kita sepakati.

Hentikan, aku serius.

Aku juga serius.

Situasi ini tak ada hubungannya dengan janji-janji lama.

Istrimu terluka. Aku mengerti.

Aku tahu.

Apa yang bisa kulakukan?

Aku merasa sangat kehilangan.

Aku jijik pada diri sendiri.

Ini tidak bisa kita lanjutkan.

Hari ini aku memukulnya di pinggir jalan.

Di depan banyak orang.

Dia curiga?

Tidak.

Tak ada alasan lagi untuk curiga.

Jadi, inilah saat yang paling tepat.

Untuk apa?

Untuk kita berhenti saling bertemu.

Berhenti bertemu, ketika semua sudah diatur?

Diatur?

Seperti itu.

Ini tidak bisa diteruskan.

Tidak ada gunanya.

Mari kita berhenti membicarakan hal itu. Kita jalan-jalan saja.

Ada yang harus kulakukan.

Kalau begitu, kita cuma bertemu beberapa menit, mari tidak usah bicara.

Aku ke sini untuk mengatakan itu padamu.

Mengatakan apa? Mengatakan bahwa...

Kau terus-terusan menghubungiku,

dan sekarang kau malah mengatakan bahwa ini sudah berakhir.

Begitu saja!

Terima kasih, Simine.

Ini tidak bisa dilanjutkan.

Tapi kau tidak mau mengerti.

Kau mengacaukan hidupmu, keluargamu...

Ini hanya hubungan gelap...

Morteza!

Kau menangis? Coba kulihat, konyol sekali.

Ini hanya alergi.

Apa yang terjadi dengan tanganmu?

Kau tinggal di Teheran?

Lupakan saja.

Kita bukanlah anak-anak lagi.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.

Istrimu lebih suka melihatmu dengan pelacur

daripada dengan wanita lain.

Aku akan meneleponmu dari sana.

Aku tidak akan menjawab teleponmu.

Kenapa kau tak mau mengerti? Aku akan meneleponmu.

Kau akan terbiasa, Sayang.

Suamiku dulu juga mencintaiku.

Lalu suatu hari dia meninggalkanku.

Kumohon hentikan...

Cukup.

Anggap saja sebagai memori indah yang telah berlalu.

Kau akan pergi ke Dubai.

Bahkan mungkin akan tinggal di sana untuk sementara waktu. Semua ini akan berlalu.

Lupakan aku, aku tidak layak untuk itu.

Tinggallah sedikit lebih lama.

Jangan sentuh aku.

Tidak bisa. Aku harus pergi.

Aku punya janji./ Dengan siapa?

Aku akan meneleponmu.

Jangan marah jika aku tidak menjawab.

Jaga dirimu baik-baik.

Ini sudah berakhir.

Permisi Tuan.

Apakah kau tetangganya Simin?

Ya, aku tetangganya.

Aku membawa putri kami. Dia tidak ada di sini.

Bagaimana kabarmu?

Aku bisa mengenalimu.

Dia harus bertemu Ibunnya sebelum liburan.

Dia sudah minta bertemu selama seminggu.

Aku Samii, tetangganya. Aku baru saja tiba.

Silakan masuk./ Aku tak mau merepotkanmu.

Aku akan membuka gerbangnya./ Tidak usah.

Kau baik sekali.

Terima kasih banyak. Ayo, masuklah.

Putriku ada di dalam mobil. Selamat Tahun Baru.

Untukmu dan keluargamu.

Sama-sama.

Dia sedang tidur. Kau bisa turun?

Tolong, bisa bawakan ini?

Cepat, sebelum gerbangnya tutup.

Taruh di sini.

Tidak perlu ikut naik. Tunggu aku.

Aku akan membaringkan Amir-Ali sebentar lalu turun lagi.

Tekan tombol 6.

Ibu!

Halo, Saynag. Hati-hati, jangan sampai jatuh.

Siapa yang memberimu ini, Sayang?

Ayah!

Ayah baik sekali!

Mau bawa tas Ibu?

Apa kabar?/ Baik. Kau?

Baik. Terima kasih.

Kau juga sudah beli rumput untuk liburan?

Kami akan pasang pita merah di atasnya.

Kau masih di sini?

Bisa kau ucapkan salam padanya, Sayang.

Salam.

Ada apa?/ Tidak ada apa-apa.

Selamat malam.

Kau masih di sini?

Suamimu... / Dia tidak mengantarmu?

Morteza, kenapa kau tidak mencarikan taksi untuknya?

Dia sedang membaringkan Amir-Ali. Dia segera ke sini.

Nyonya...

Ya?

Hari ini aku...

Hari ini kenapa?/ Diamlah, dia sedang tidur.

Tidak ada.

Bisakah kau persiapkan kopermu?

Kau mau mengatakan apa?/ Tidak ada, Nyonya.

Jika kau butuh bantuan, minta tolonglah pada petugas.

Kenapa kau ke sini? Aku sudah mau turun.

Ayo.

Cepatlah pulang.

Kau tidak akan bisa pulang sendirian.

Kau melakukan hal yang baik hari ini. Kau telah membantuku keluar dari masalah.

Aku tidak mengerti kenapa kau ikut naik.

Apa yang akan kau katakan padanya?

Tidak ada.

Kau ingin mengatakan sesuatu padanya.

Apa tentang tiket itu?

Tidak.

Kau mengatakan Simin memberimu tiket itu. Kau berbohong?

Ya.

Kenapa?

Tiba-tiba saja.

Kau tidak mungkin tiba-tiba saja berbohong.

Nyonya Simin sangat baik padaku hari ini.

Terus?

Kau seharusnya tidak datang.

Dia tahu?

Turunkan aku di sini.

Akan kuantar sampai rumahmu, ini larut sekali.

Terima kasih, tapi aku turun di sini.

Kenapa?

Abdolreza ada di sana. Aku akan jalan sendiri.

Dia pasti sangat mencintaimu, mau menunggumu sangat lama.

Berhenti di sini./ Baiklah.

Selamat tinggal.

Aku bisa putar balik di depan?

Kau lama sekali!

Aku sudah menelepon agar memberitahu kamu bahwa aku akan pulang terlambat.

Orang itu tidak menjawabku.

Aku menelepon sekitar jam setengah 3 atau jam 3.

Dimana chadormu?

Ayo pergi. Akan kujelaskan nanti.

Ayo.

Apa?

Apa yang sudah kau lakukan? Kau terlihat semakin cantik.

Aku pergi ke salon.

Di rumah pria itulah aku bekerja.

Orang yang mengantarmu sampai ke sini?

Bagaimana aku bisa berterima kasih padamu?/ Tidak apa-apa.

Istriku bersikeras menyuruhku mengantarnya.

Chador calon istrimu tertinggal di rumahku.

Simpan saja, tidak apa-apa.

Selamat Tahun Baru.

Terima kasih banya.

Dingin sekali.

Dingin.

Semua baik-baik saja?/ Ya, terima kasih.

Kau benar-benar tidak ingin naik?

Terima kasih.

Di luar sini dingin, jangan sungkan-sungkan.

Tidak usah.

Mojdeh?

Sayang, kenapa kau tidur di sini?

Kembalilah ke tempat tidurmu.

Diterjemahkan oleh SANGKUNI

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.