Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kemuliaan bagi Dewi Kali!
Kainnya. Berikan kain itu padaku.
- Apa itu? - Itu seorang anak laki-laki.
Tunggu.
Dia melahirkan anak kembar. Anak lainnya sedang dalam perjalanan.
Guru. Guru.
Itu seorang anak laki-laki.
Tapi... dia melahirkan kembar.
Anak lainnya sedang dalam perjalanan.
Itu anak laki-laki. Terima kasih, Dewi!
Terima kasih, Dewi!
Hanya ini yang tersisa untuk dilihat.
Bagaimana mungkin seorang wanita melakukan ritual itu?
Kau adalah putra kepala desa.
Kau berasal dari garis keturunan kasta tinggi.
Ritual yang begitu bergengsi.
Seharusnya kau yang mendapat kehormatan memimpin ritual suci ini.
Joydev, bagaimana mungkin ayahmu mengizinkan ini?
Ayah tak bisa ikut campur.
Dia mengaku Dewi Kali muncul dalam mimpinya.
Jadi, dia diberi kehormatan melakukan ritual itu.
Ini tradisi.
Itu seorang anak perempuan.
Shuvankar.
Putriku... kasihanilah dia.
Kembalikan putriku padaku.
Putriku... Kembalikan putriku padaku.
Berikan dia... Tidak. Tidak.
Dia adalah putriku.
Dia adalah putrimu. Jangan bawa dia pergi.
Tidak!
Tidak, jangan lakukan itu. Jangan.
Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lepaskan!
Jangan bawa dia pergi.
Ketika Iblis menyebarkan dosa-dosanya,
air mata sang putri akan meresap ke tanah menjadi darah,
darah sang putri akan memusnahkan Iblis.
Pemberdayaan wanita.
Energi feminin diwakili oleh...
tujuh Dewi.
Dan yang memimpin mereka adalah Dewi Kali.
Bu Ambika, siapa itu?
Itu... adalah Raktabij.
Seorang Iblis mitologis,
yang mengalahkan semua dewa dan mengusir mereka dari Surga.
Dewa? Dikalahkan oleh Iblis?
Di awal perang, dia hanya sendirian.
Tapi setiap kali para dewa menjatuhkannya,
dan darahnya jatuh ke bumi...
muncul Iblis baru dari setiap tetes darahnya.
Darah Raktabij terus jatuh ke bumi,
dan Iblis terus bertambah banyak.
Membentuk pasukan.
Lalu apa yang terjadi, Bu?
Lalu para dewa meminta bantuan Dewi Parvati.
Dia seorang ibu. Semua dewa seperti anak-anaknya.
Dan apa yang dilakukan seorang ibu ketika anak-anaknya dalam bahaya?
Dia pun jadi berbahaya.
Tepat sekali.
Maka, dalam amarahnya, Dewi Parvati berubah menjadi Dewi Kali.
Berbahaya. Kuat.
Dan bersama tujuh Dewi lainnya, mengepung Raktabij.
Dewi Kali akan memenggal kepala Raktabij dengan kapaknya
dan meminum darahnya sebelum jatuh ke bumi.
Dengan begitu, satu per satu, dia menghancurkan setiap penjelmaan Raktabij.
Terima kasih banyak.
- Ayo, anak-anak. Ikuti aku. - Terima kasih, Bu.
- Ayo. Lewat sini... - Ayo...
Ayo ke bagian berikutnya...
Presentasi yang sangat mengesankan, harus aku akui.
Terima kasih.
Cara kau menjelaskan semuanya dengan penuh semangat
membuat aku tak ingin melepaskan pandangan darimu.
Ngomong-ngomong, aku Shuvankar Das Gupta.
Senang bertemu denganmu, Tuan Das Gupta.
Tapi bagaimana jika istrimu tahu bahwa kau merayuku?
Nah, kalau begitu, aku akan bilang padanya dia tak bisa menyalahkanku.
Wajahmu cukup mirip dengan istriku.
Itu sangat garing. Benar-benar garing.
Di mana Shweta?
Di sana.
Ayah...
Liburan Diwali sebentar lagi.
Dan guru sastraku telah memberi tahu kami
untuk pergi ke desa masing-masing dan mencari kisah lama.
Yang terbaik akan diadaptasi menjadi drama sekolah tahun ini.
Kau baru saja mengarang itu, kan?
Kau bisa hubungi guruku.
Bagaimana kalau kita liburan ke Shimla tahun ini?
Ide bagus!
Lembah bersalju. Pemandangan menawan.
Bagaimana menurutmu, sayang?
Lupakan saja, Ayah.
Kau mencoba mengalihkan topik lagi.
Kau tahu ke mana hatiku ingin pergi.
Chandarpur masih terjebak di zaman batu seperti aku, sayang.
Tak ada jaringan atau internet.
- Tepat sekali. - Ya. Kau akan bosan dalam dua hari.
Pilih kota lain saja, sayang, kita akan ke sana.
Aku hanya tak mengerti apa salahnya Chandarpur.
Kenapa aku tak boleh ke sana?
Kita harus memberitahunya cepat atau lambat.
Dia baru 12 tahun.
Dia tak akan mengerti.
Dia akan mengerti.
Dan lebih cepat lebih baik.
Kurasa, kau benar.
Mungkin untuk pertama kalinya.
Sekarang, berhentilah merokok dan masuklah.
- Ayo. Tolong! - Ya, ya.
Masuklah duluan.
Ya, Bikash. Ada apa?
Apa yang terjadi? Semuanya baik-baik saja?
Aku mendapat telepon dari Chandarpur.
Ayah meninggal.
Aku...
Aku turut berduka.
Aku harus segera berangkat, Ambi.
Chandarpur?
Ya.
Kenapa dia tak memberitahuku?
Aku tahu alasannya.
Dia tak memberitahuku karena aku pasti akan memaksa ikut.
Itu keadaan darurat, sayang. Dan kau sedang tidur.
Apa keadaan daruratnya, Mom?
Dia setidaknya bisa berpamitan.
Sebenarnya...
kakekmu... Dia sudah meninggal.
Kakekku?
- Maksudmu ayahnya Dad. - Ya.
Kakekku masih hidup selama ini,
dan kalian tak pernah memberitahuku.
Itu berarti Kakek juga tak tahu tentang aku.
Benar, Mom?
Aku bertahan untuk bertemu denganmu, Joydev da.
Begitukah?
Belum waktunya ayahmu pergi.
Aku sangat terpukul saat dia wafat.
Joydev da,...
bisakah kau sarankan broker yang bagus?
Broker? Untuk apa?
Aku ingin menjual rumah besar ini.
Tapi kenapa?
Ini bukan sekadar rumah besar, ini warisanmu.
Warisan kita sudah jadi kutukan.
Dan aku tak berminat merawat warisan semacam itu.
Apalagi, di desa yang penuh setan.
Ah, itu sekarang tinggal sejarah!
Tidak ada yang percaya lagi.
Anak-anak menertawakan cerita daitya itu.
Baiklah.
Aku sarankan kau broker yang bagus.
Tapi kau harus pikirkan lagi ini.
Bukankah akan lebih baik
kalau keluargamu bisa melihat warisanmu?
Istrimu, anakmu.
Aku tidak punya anak perempuan. Aku punya anak laki-laki.
Tak usah menyimpan rahasia dariku.
Ayahmu yang cerita soal anak perempuanmu.
Tapi jangan khawatir.
Tidak ada seorang pun di desa ini yang tahu selain aku.
Ya, Ambi. Katakan.
Ya, Shuv. Kau baik-baik saja?
Ya, aku akan berangkat satu jam lagi.
Kau sudah nyetir berjam-jam.
- Kenapa tidak bermalam saja di sana? - Tidak, Ambi.
Aku tak ingin tinggal di sini sedetik pun.
Aku merasa sesak.
Dan kita juga akan jual rumah besar ini, Ambi.
Aku tidak mau ada ikatan dengan tempat ini.
Dada...
Ambi, kunci ada padaku. Jadi kau bisa tidur tenang.
Kita akan segera bertemu.
Baiklah, sampai jumpa.
- Bikash. - Dada...
- Jaga Vimal da baik-baik. - Tentu.
- Dan telepon aku kalau butuh apa saja. - Baiklah.
Dada!
Dada...
Ya Tuhan.
- Kau terluka? - Tak apa.
HATI-HATI DATANGLAH...
- Halo? - Halo, Ambi.
Ya, Shuv. Kau lihat gambar itu?
Ya. Dari mana Shweta lihat wajah ini?
- Dari mana... dia... lihat wajah ini... - Halo.
Halo. Ambi, kau dengar aku?
- Ambi. - Ya, Shuv.
Halo, Ambi. Kau dengar aku?
Dari mana Shweta lihat wajah ini?
Dari mana Shweta pernah lihat wajah ini?
Halo, Ambi. Kau dengar aku?
Aku tak bisa dengar kau. Shuv...
Kau masih di sana?
Halo.
Halo, Ambi.
Kau dengar aku?
Halo, Ambi. Halo, Ambi. Kau dengar aku?
Ambi. Ambi.
Halo. Halo.
Ambi... Kau dengar aku?
Halo. Ambi, kau dengar aku?
Sial!
Sial!
Dia kelelahan.
Dia berhenti di pinggir jalan untuk istirahat.
Mungkin rokoknya yang memicu api.
Salam, menantu.
Aku Joydev Bandhopadhyay.
Kepala desa Chandarpur.
Kalau butuh apa saja, jangan sungkan panggil aku.
Aku ada untukmu.
Kau didukung seluruh Chandarpur.
Ya.
Jaga dirimu.
Sampai jumpa.
Sayang,
makanlah sesuatu.
Sejak pagi kau belum makan.
Dalam keadaan begini, itu...
- perlu. - Kau juga belum makan.
Kemari. Kemari.
Tak apa.
Aku rindu dia, Mom.
Aku juga rindu dia.
Ambi.
Ambi.
Ambika.
Mom, ada telepon untukmu.
Halo.
Halo, Shweta sayang.
Ini kepala desa Chandarpur yang bicara.
Di mana ibumu? Katakan aku perlu bicara segera dengannya.
Siapa itu?
Dari Chandarpur.
Halo.
Halo, menantu. Bagaimana kabarmu?
Semua baik?
Ya, semua baik.
Katakan, ada hal mendesak?
Ya, nak.
Sudah tiga bulan sejak Shuvankar meninggal.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.
Shuvankar bilang dia ingin menjual rumah besar itu.
Ya, aku tahu. Dia sudah bilang padaku.
Bagus. Setengah pekerjaan sudah selesai.
Seorang broker akan datang lusa untuk lihat rumah besar itu.
Kalau kau bisa datang, kita bisa selesaikan dokumennya.
Lusa agak sulit.
Kenapa tidak kau saja yang urus?
Aku siap bayar berapa pun komisi yang kau mau.
Tolonglah, menantu.
Kau salah paham denganku.
Aku hanya ingin keinginan terakhir Shuvankar terpenuhi,
supaya jiwanya bisa tenang.
Itu saja yang kuinginkan. Tak lebih.
Aku akan coba.
Baiklah. Sampai ketemu.
Apakah kita akan ke Chandarpur?
Aku yang akan pergi.
Kau akan tinggal dengan Bibi Riti.
Tidak, Mom. Aku juga ikut.
- Kau tak bisa ikut, sayang. - Kenapa tidak?
- Kau tidak mengerti, ini... - Kau yang tidak mengerti, Mom.
Aku tak bisa biarkan kau pergi sendirian.
- Hanya dua hari saja. - Bahkan Dad juga pergi sendirian.
Kau tak mengerti?
Bagaimana kalau kau juga...
Aku sangat rindu dia, Mom.
Aku bahkan tak sempat ucapkan selamat tinggal dengan baik ke Dad.
Tolong biarkan aku ikut.
Dan aku janji tak akan pernah menyebut Chandarpur lagi setelah ini.
Baiklah.
Saat kau ada di sisiku di setiap persimpangan jalan.
Aku tak khawatir dengan jalan yang kulalui.
Aku terima semua naik turunnya.
Saat kau jadi temanku.
Kau adalah alasanku untuk tersenyum.
Kehadiranmu bagai detak jantungku.
Wahai penolongku.
Wahai penolongku, aku ada ketika kau ada.
Katakan padaku bagaimana aku bisa hidup tanpamu.
Wahai penolongku, aku ada ketika kau ada.
Katakan padaku bagaimana aku bisa hidup tanpamu.
Ibu!
Sepanjang hari selalu berbuat nakal.
- Kau tidak lihat ada mobil lewat? - Tidak, tidak...
Jangan marahi dia. Itu salahku. Aku benar-benar minta maaf.
Apa kau baik-baik saja?
Apa kau terluka?
Siapa namamu?
Deepika.
Deepika,
ini Shweta.
Sapa dia.
Aku Bikash. Ini istriku Nandini.
Ayo.
Ini cokelat favoritku.
Wah.
Aku suka tempat ini, Bu.
Itu Kakek?
Ya.
Dia kakekmu.
Kak, kau tahu,
ada tiga puluh kamar di rumah besar ini?
Itu bohong.
Kenapa aku harus bohong?
Mari kita hitung. Ayo.
- Dengar. - Ya.
Apa dia anaknya Shuvankar da?
- Tapi... - Diam. Diam.
Diamlah.
Pergi buat teh.
- Tapi... - Aku bilang pergi buat teh.
Dan itu kamar nomor delapan dan sembilan.
Kamar nomor sepuluh.
Kamar nomor sebelas.
Kamar nomor dua belas.
- Bikash da. - Ya?
Kenapa kuilnya terkunci?
Kamar nomor empat belas.
- Sekarang, mari naik ke atas. - Ya, ayo.
Itu sudah terkunci empat puluh tahun, kak.
Dewi Kali tidak muncul di mimpi siapa pun.
Maksudmu?
Itu tradisi, kak.
Ketika Dewi Kali muncul di mimpi seseorang,
barulah pintu kuil dibuka.
Dan hanya yang melihat Dewi di mimpinya
yang mendapat kehormatan untuk memimpin ritual.
Begitulah permainan ilahi Dewi Kali.
Dia tak muncul di mimpi siapa pun selama empat puluh tahun.
Sudah berapa lama kau bekerja di sini?
Kami sudah bekerja di sini turun-temurun.
Ayahku mengabdi pada keluarga ini lima puluh tahun.
Ketika beliau sakit beberapa tahun lalu,
aku dan Nandini menggantikannya.
Lima puluh tahun!
Bolehkah aku bertemu ayahmu?
Ayahku? Tapi untuk apa?
Dia tidak bisa mengerti sepatah kata pun.
Dia hanya berbaring saja.
Baiklah.
Karena kau memaksa, aku akan membawamu padanya.
Ayah.
Kamar nomor dua puluh tujuh, dua puluh delapan.
Kamar nomor dua puluh sembilan dan itu tiga puluh.
Salam.
Aku Ambika.
Istri Shuvankar.
Kau sudah mengabdi pada keluarga kami begitu lama
dan aku ingin berterima kasih atas itu.
Kakek. Lihat siapa yang datang.
Dia temanku. Lihatlah.
Lihat.
Lihatlah.
Lihat, itu temanku.
Lihat...
Apa kau sudah hilang akal?
Apa semuanya baik-baik saja?
Ya, kak. Semuanya baik-baik saja.
Ayo, akan kuperlihatkan rumahnya.
Sepertinya kau cepat sekali akrab dengan Deepika.
Ya, tapi kurasa ibunya tidak begitu menyukaiku.
- Kau butuh sesuatu lagi, kak? - Tidak. Terima kasih.
Apakah makanannya cocok, kak?
Ya, enak.
Nandini pandai memasak.
Bagaimana menurutmu makanannya?
Enak.
Bikash da, broker akan datang besok pagi.
Kabari aku begitu dia datang.
Baik, kak.
Selamat malam.
Kita celaka.
- Ibu. - Semuanya akan hancur.
Semua akan salah.
Tak seorang pun bisa lolos dari kutukan ini.
Semua orang akan mati.
- Ayah, ayo. - Semua orang akan mati.
- Semuanya akan jatuh. - Ayah.
Maafkan dia, kak. Dia sudah bertahun-tahun tidak bicara.
Dan sekarang tiba-tiba...
- Semua, pergi. - Ayah, ayo...
- Kita semua akan mati. - Ayah...
Ibu, apa yang dia katakan?
Tidak ada, nak. Dia sedang sakit.
Aku tahu itu, Bu.
Tapi apa maksud dari kata-katanya?
Itu... Shweta, ini tempat yang asing.
Jadi jangan pergi tanpa bilang pada ibumu, ya?
Lucu sekali.
- Halo. Halo. - Halo, menantu.
Ini Satya Babu. Agennya.
- Maksudku... - Broker.
- Broker. - Halo.
Kalau bisa segera urus penjualannya...
Kalau ada tawaran bagus, aku siap cepat deal.
Apa itu? Seekor langur.
Tidak. Seekor monyet.
Sekarang, tunjukkan salah satu gambarmu.
- Yang ini... - Baiklah...
Kapan aku membuat ini?
Tunjukkan padaku.
Apa kau pergi dekat reruntuhan?
Reruntuhan? Tidak.
Lalu bagaimana kau buat ini?
Pohon ini ada di sana.
Kemungkinan mendapat tawaran bagus cukup kecil, kak.
- Maksudmu? - Menjual rumah di desa ini itu sulit.
- Kau mengerti? - Hei! Apa yang kau katakan?
Kau bilang hal lain padaku.
Dan sekarang kau bilang cerita berbeda pada menantu.
Kepala, ini bukan aku,
orang-orang dari semua desa yang bilang begitu.
Mereka bilang apa?
Mereka bilang rumah besar ini terkutuk.
Diam kau.
Orang-orang itu bahkan bilang
ada penyihir di desa kau yang memangsa anak-anak.
- Benarkah? - Ya.
Diam. Jangan bicara omong kosong.
Bisa kau tunjukkan tempat itu?
Tidak, kak. Aku akan dimarahi. Tidak ada yang pergi ke sana.
Kenapa?
Semua orang bilang itu tempat tinggal Daitya.
- Siapa? - Daitya. Iblis!
Menantu, semua itu omong kosong.
Jangan percaya semua itu.
- Tapi, Kepala... - Diam.
Aku tahu semua ini hanya sandiwara untuk menurunkan harga.
- Sama sekali tidak. Bukan begitu, kak. - Pergi. Pergilah sekarang.
- Aku bilang pergi. Sekarang juga. Ayo. - Kak...
Jangan khawatir, menantu. Aku kepala desa.
Desa ini adalah tanggung jawabku.
Akan kuurus. Aku akan cari makelar lain.
Siapa orang-orang itu?
Hei...
Mereka belum pernah melihat keluarga Shuvankar sebelumnya.
Akan kuurus.
Apa? Apa yang kalian lihat? Pergi.
Daitya hanya ada di cerita, bukan di kehidupan nyata.
Sekarang tunjukkan di mana pohon itu.
Tidak, kak, kau tidak mengerti.
Tidak apa, kita lihat dari jauh saja.
- Kita tidak akan mendekat. - Tidak, tidak...
Deepu, cepat sini.
Harus lewat sini?
Reruntuhan ada tepat di belakang rumah besar.
Dari sana bisa terlihat hutan.
Apa ini pasar malam?
Pulanglah, semuanya.
Ayo pergi. Tidak ada apa-apa di sini.
Hei, pergi. Ayo.
Ayo, cepat.
Ayo pergi. Ayo.
Di sana. Itu pohonnya.
Ayo.
Kenapa?
Kenapa kau takut?
Kita hanya akan lihat sebentar.
Tidak, kak. Kita tidak bisa lebih jauh.
Daitya akan melihat kita.
Ayo.
Kau saja yang lihat. Aku merasa lebih aman di sini.
Aku sudah memperingatkanmu.
Aku juga. Tapi dia tidak mau dengar.
Aku hanya datang untuk lihat pohon itu.
Ayo pergi dari sini. Ayo.
- Bu, ayo pergi. - Kau duluan, aku menyusul.
Aku sudah cari kau ke seluruh desa.
Kenapa kau ke sini?
Biasanya, seharian kau selalu lengket denganku.
Kenapa hari ini beda?
Kebiasaan kota itu sudah merasuk ke kepalamu.
- Ayo. - Perutku sakit, Bu.
Berhenti cari alasan, Deepu.
- Ayo pulang. - Nandini.
Putrimu kini mulai beranjak dewasa.
Selamat, ya.
Lindungi kami, Dewi Kali.
Lindungi kami, Dewi Kali. Oh, Dewi Kali...
Deepika sudah dapat haid, Bu?
Ya.
Lalu kenapa ibunya begitu marah?
Sudahlah, lupakan saja.
Kita akan merayakan saat kau dapat haid nanti.
Siapa yang merayakan haid?
Ada beberapa negara di dunia yang melakukannya.
Dan itu juga tradisi lama di negeri kita.
Kapan aku akan dapat haid?
Kau sudah berusia 12 tahun sekarang.
Jadi... sebentar lagi.
Salam hormat pada Dewi Kali.
Lindungi kami, Dewi.
Salam hormat pada Dewi Kali. Lindungi kami, Dewi.
- Bu, mataku perih. - Lindungi kami...
Tutup matamu.
Jangan sekali-kali buka jendela!
Duduk diam. Aku segera kembali.
Lindungi kami, Dewi Kali. Lindungi kami...
Bu.
Bu.
Bu!
Deepu!
Deepu.
Deepu.
Deepu.
Deepu!
Deepu!
Deepu!
Deepu.
Deepu!
- Deepu! - Ada apa, Bikash da?
Deepika tidak ada di kamarnya, kak.
Pasti ada di salah satu kamar lain.
Daitya membawanya.
Amsaja mengambil Deepuku.
Apa-apaan, Nandini!
Cari baik-baik. Coba lihat di kamar sebelah.
- Ada begitu banyak kamar... - Kak,
Deepu tidak pernah pergi ke mana pun tanpa bilang dulu pada kita.
Dia sudah membawanya.
Putri kita...
Putri kita.
Ini salahmu.
Ini salah Shuvankar da.
Kenapa kalian datang ke sini?
- Apa maksudmu? - Diam! Tutup mulut!
Deepu tidak pernah berani mendekati reruntuhan.
Dialah yang membawanya ke sana.
Dan Daitya sudah melihat Deepuku.
Deepuku.
Dia pasti sudah melihatmu juga.
Dia akan datang menjemputmu juga. Tunggu saja.
- Dia akan mengambilmu juga... - Cukup, Nandini.
Bikash da, tenangkan dia. Dia bicara ngawur.
Diam. Diam.
- Masuk saja. Masuk. - Sejak kalian datang,
hal-hal buruk terus terjadi.
Aku heran...
- Kita akan menemukannya. Ayo. - ...apa yang Daitya lakukan pada Deepuku!
Rumah besar ini terkutuk. Kalian sudah merusak segalanya.
Ayo.
Menantu, kenalkan Shekhar.
Kepala polisi Chandarpur.
Dia yang akan menangani penyelidikan.
- Halo. - Dan ini menantuku.
Ambika Das Gupta.
Istri Shuvankar.
Aku sangat berduka atas kehilanganmu.
- Terima kasih. - Aku baru menjabat sepuluh hari lalu.
Baiklah.
Nama putri mereka adalah Deepika.
Dan dia sudah hilang selama satu jam.
Bisakah kau ceritakan dari awal?
Jangan khawatir. Kami akan berusaha sebaik mungkin.
Siapapun yang masuk lewat jendela...
dan membawa pergi anak itu.
Tapi seharusnya dia meninggalkan jejak di tanah,
yang ternyata tidak ada.
Daitya tidak punya jejak kaki.
Daitya?
Raksasa.
Raksasa?
Apakah ada raksasa masuk ke desa?
- Ya! Ya! - Ya!
Aku tidak berbohong.
Deepu bukan gadis pertama yang hilang.
Di desa ini, setiap gadis yang mengalami menstruasi pertama,
Daitya membawanya ke hutan.
- Kepala Desa. - Ya.
Apakah kau tahu tentang ini?
Sebenarnya...
Sudah berapa lama hal ini terjadi?
Menantu,
gadis-gadis sudah menghilang selama tiga sampai empat bulan terakhir.
- Tapi... - Tunggu sebentar.
Tidak ada satu pun laporan yang tercatat di kantor polisi tentang ini.
Bagaimana bisa dilaporkan?
Gadis-gadis menghilang,
tapi mereka pulang dengan selamat setelah beberapa hari.
Bagaimana kami bisa melaporkannya?
Tidak ada masalah.
Ada masalah, Kepala Desa.
Putrinya adalah masalahnya!
- Apa maksudmu? - Bahkan kau tahu ini.
Apakah kalian semua sudah kehilangan akal?
Semua diam.
Joydev.
Tiga bulan lalu, kedua pria di keluarganya meninggal.
Sejak itu, Amsaja datang ke sini
dan mengganggu gadis-gadis di desa ini.
- Ya, benar. Benar. - Apa yang kalian katakan?
- Ya, benar. - Semua diam.
Kalian semua tidak bisa melindungi putri kalian,
jadi kalian dengan mudah menyalahkan putriku.
Tidak, menantu...
Tidak ada bedanya antara Shweta dan Deepika.
Dan jika kau pikir Deepika dibawa Daitya,
maka aku siap pergi ke hutan untuk membawanya kembali.
Ya, Nandini, maukah kau ikut denganku?
Menantu.
Tidak akan bijak pergi ke hutan.
Putra Das Babu pergi ke sana mencari putrinya.
Putrinya kembali ke rumah,
tapi dia belum pernah kembali hingga hari ini.
Jangan ke hutan, menantu.
Menantu, dengarkan aku.
Hutan dipenuhi hewan buas pada malam hari.
Jangan ke sana.
Menantu, aku akan hubungi dinas kehutanan besok.
Ini sudah jadi urusan polisi sekarang, Kepala.
Aku yang akan berurusan dengan Daityamu.
- Tapi... - Kepala,
kalau kau takut, maka tetaplah di sini.
Baiklah.
Deepika.
Deepika.
Ke arah sana.
Deepika.
Deepika.
Deepika?
Deepika.
Nyonya Ambika.
Apakah kau baik-baik saja?
Maaf, aku tersesat.
Apakah kau dengar suara anak-anak menangis?
Di sini sunyi sekali.
Kita sebaiknya pergi, Nyonya Ambika.
Aku rasa Deepika tidak ada di sini.
Ayo.
Shweta.
Syukurlah kau selamat, Bu.
Tenanglah, Nak.
Aku baik-baik saja.
Apakah kau menemukan Deepika?
Tidak, tapi dia akan ditemukan.
Apakah kau tahu...
orang-orang bilang semua ini salah Ayah.
Bahwa raksasa itu datang untukku
tapi malah mengambil Deepika.
Raksasa itu bernama Amsaja.
Benar?
Amsaja hanyalah cerita.
Mitos yang ditakuti orang-orang Chandarpur.
Jangan percaya pada mereka.
Aku tidak akan, Bu.
Katakan saja kenapa kau dan Ayah selalu berdalih
setiap kali topik Chandarpur muncul.
Kenapa kalian berdua selalu berbohong?
Apa yang kau sembunyikan dariku, Bu?
Aku sangat menyesal, Nak.
Hari ini aku tidak akan menyembunyikan apapun.
Bahkan ayahmu ingin...
kau tahu semuanya.
Apa itu?
Apakah kau ingat lukisan tujuh Dewi itu?
Lukisan Dewi Kali dan Raktabij?
Ya, aku ingat.
Orang-orang Chandarpur percaya...
kisah Raktabij tidak berakhir di sana.
Raktabij memang terbunuh di medan perang,
tapi setetes darahnya jatuh ke bumi.
Dan lahirlah raksasa baru.
Amsaja.
Tempat di mana setetes darah itu jatuh
adalah ini.
Chandarpur.
Amsaja tidak bisa melahirkan raksasa baru dari darahnya sendiri.
Dan dia tidak bisa mengalahkan Dewi Kali sendirian.
Jadi untuk memenuhi niatnya,
dia mengincar manusia.
Dia mulai menculik putri-putri Chandarpur,...
karena dia ingin menciptakan raksasa baru.
Tapi tidak ada satu pun gadis yang bisa bertahan darinya.
Banyak putri desa yang menjadi korban Amsaja.
Desa pun diliputi duka.
Lalu...
salah satu pemuja Dewi Kali berdo'a meminta pertolongan.
Beliau menurunkan rahmat sucinya.
Dan setetes darah jatuh dari patung Dewi Kali ke mata sang pemuja.
Ia diberkahi dengan kekuatan tanpa batas.
Ia bisa mengalahkan Amsaja sekarang.
Tapi Amsaja tiba-tiba menghilang.
Semua orang mengira kita sudah menang.
Tapi kenyataannya tidak begitu.
Dia hanya sedang menunggu.
Menunggu apa?
Amsaja tahu sang pemuja diberkahi dengan kekuatan Dewi Kali.
Ketika dia punya seorang putri,
kekuatan itu berpindah kepadanya.
Sekarang Amsaja bisa memenuhi tujuannya.
Dia tahu...
bahwa hanya gadis itu yang bisa melanjutkan warisannya.
Ketika dia berusia 12 tahun,
Amsaja kembali dan menculiknya.
Saat dia ditemukan, dia sedang mengandung anak Iblis itu.
Amsaja telah menempatkan ayah gadis itu dalam dilema yang aneh.
Jika anak itu lahir,
Amsaja akan menang.
Untuk menghentikan itu terjadi,
ayah gadis itu melakukan hal yang tak seorang ayah pun bisa bayangkan.
Apa yang dia lakukan?
Dia mengorbankan putrinya sendiri.
Itu cerita yang benar-benar mengerikan, Bu.
Tapi apa hubungannya dengan kita?
Semua orang di Chandarpur percaya...
bahwa keluarga Shuvankar adalah keturunan dari pemuja sakti itu.
Keluarga kita.
Kau serius?
Dan karena ketakutan ini,
setiap kali lahir seorang putri di keluarga ini,
mereka dikorbankan pada kali puja pertama.
Bahkan aku... juga seorang putri dari keluarga ini.
Ayahmu tak pernah percaya pada cerita seperti itu.
Bahkan, ketika dia datang ke Kolkata untuk belajar,
dia memutuskan untuk tak pernah kembali ke Chandarpur.
Jauh dari kakekmu dan desa ini,
kita membangun dunia kecil kita sendiri yang aman.
Shweta.
Ayah, masuklah.
Ini anak laki-laki.
Kemuliaan bagi Dewi Kali.
Terima kasih banyak.
Kita telah memutus sebuah tradisi pengorbanan yang dijalankan berabad-abad.
Jadi, artinya...
Iblis imajiner itu tak bisa menyakitiku.
Benar, Bu?
Selama ibumu bersamamu,
tak seorang pun bisa menyakitimu.
Hei, Batul da.
- Kepala Desa. Halo. - Halo.
- Ada keperluan apa? - Semua baik?
Ya.
- Apakah putrimu di rumah? - Ya, dia ada.
Inspektur perlu menanyakan beberapa hal padanya.
Begitu ya.
Kau ingat di mana kau dibawa, Nak?
Apakah kau mendengar sesuatu yang aneh?
Bicara lah.
Apakah kau melihat sesuatu?
Tidak.
Kau ingat siapa yang membawamu ke sana?
Tak ada satupun gadis yang mengingat apapun.
Siapa yang membawa mereka, ke mana mereka dibawa,
apa yang terjadi pada mereka...
Ada seorang anak yang melihat seorang perempuan tua.
Menantuku, aku sangat curiga dengan perempuan tua itu.
Dia tahu ilmu hitam.
Itulah sebabnya dia diasingkan dari desa empat puluh tahun lalu.
Beberapa orang pernah melihatnya di desa.
Dan kejadian ini dimulai setelah itu.
Artinya dialah dalangnya, bukan?
Shweta.
Shweta.
Shweta.
Dia pergi. Suamimu meninggalkan semua orang.
Dia pergi.
Shuvankar baru saja meninggalkan kita semua.
Ayahmu. Dia meninggalkan segalanya.
Dia... Tepat di sini...
Dia biasa duduk di sini
dan mendengar kisah Daitya.
Kisah Daitya.
Dia akan ketakutan.
Bu, dia bercerita padaku tentang Ayah.
Ayo.
Ambil ini.
Ini milik Shuvankar.
Ini memuat titah Sang Dewi.
โKetika Iblis
akan menebar dosanya,
air mata sang putri akan
meresap ke tanah sebagai darah,
tongkat Sang Dewi akan menjadi anugerah terbesar,
darah sang putri akan
โmelenyapkan Iblis itu.โ
Ketika Iblis akan menebar dosanya,
air mata sang putri akan meresap ke tanah sebagai darah,
tongkat Sang Dewi akan menjadi anugerah terbesar,
darah sang putri akan melenyapkan Iblis itu.
Ketika Iblis akan menebar dosanya, darah sang putri...
akan melenyapkan Iblis itu.
Kakak.
Bikash da, kau bilang...
kuil akan dibuka...
ketika seseorang melihat Sang Dewi dalam mimpinya.
Ya, Kakak. Betul sekali.
Di mana kunci kuilnya?
Kunci itu selalu ada di tempat yang sama selama empat puluh tahun.
Di kaki Sang Dewi.
Sebuah keajaiban terjadi setelah empat puluh tahun.
Sang Dewi datang dalam mimpi Kakak.
Kau serius?
Ya.
Pujaan bagi-Nya!
- Pujaan bagi-Nya! - Kemuliaan bagi Dewi Kali.
Kemuliaan bagi Dewi Kali! Dewi...
Kemuliaan bagi Dewi Kali!
Kemuliaan bagi Dewi Kali!
Kemuliaan bagi Dewi Kali!
- Deepu! - Deepu!
- Deepu, Deepu... - Di mana kau?
Deepu, bagaimana keadaanmu?
Apakah kau terluka? Katakan.
Deepu.
Deepika.
Apakah kau baik-baik saja?
Syukurlah. Ini sebuah keajaiban.
Kau lihat, menantuku,
sebuah keajaiban terjadi tepat setelah pintu kuil dibuka.
Wah! Kemuliaan bagi Dewi Kali.
Kemuliaan bagi Dewi Kali.
Tolong suruh dia menunggu di luar. Aku segera ke sana.
Baiklah, hasil pemeriksaan fisik jelas menunjukkan
bahwa tak ada satupun gadis yang mengalami pelanggaran seksual.
Syukur pada Tuhan.
Tapi...
haid mereka terhenti.
Apakah mereka hamil?
Tidak, mereka tidak hamil.
Lalu bagaimana bisa menstruasi mereka berhenti?
Apa bisa karena syok, Dokter?
Begini, tubuh bisa berhenti bekerja sebagai respon terhadap trauma.
Tapi kalau itu terjadi pada beberapa gadis,
aku masih bisa mengerti.
Tapi semua gadis mengalami gejala yang sama,
menstruasi mereka tiba-tiba berhenti...
Sejujurnya, itu di luar pemahamanku.
Ayo, Nak, mari kita makan.
Aku tidak lapar, Bu. Kau saja yang makan.
Kenapa? Ada apa?
Perutku sakit.
Di mana?
Sejak pagi tidak ada. Mulainya setengah jam yang lalu.
Tidak apa-apa. Nanti juga akan membaik.
Deepu, kau mau ke mana?
Hei, dengar! Kau sedang apa?
Dengar aku. Kenapa kau naik ke kamar atas?
Turunlah.
Nak, berhenti, dengar aku, jangan naik ke atas...
Dengar kakekmu. Lewat sini. Jangan naik. Sini.
Turun, ayo.
Kau sedang apa? Dengar aku.
Jangan pergi ke sana, atau kita semua akan celaka.
Kakek, lihat.
- Dengar kakekmu. - Kakek.
- Kakek, lihat. Lihatlah. - Katakan, Nak.
Kakek.
Ayo, kita main.
Ayo.
Dia tidak akan biarkan kita pergi.
Ayo.
Shweta?
Shweta.
Shweta.
Shweta.
- Ay... Ayah? - Ayah?
- Ayah? - Shweta.
- Ada apa, Ayah? - Shweta.
- Ayah, bangun. - Ayah.
- Ayah. - Ayah, bangunlah.
- Ayah. - Ayah! Kau baik-baik saja, Ayah?
- Ayah. - Shweta.
Ayah, bangunlah.
- Ayah. - Ayah.
Shweta.
Shweta.
Ibu!
Shweta! Shweta!
Shweta!
Shweta.
Shweta.
Lepaskan dia.
Lepaskan dia. Shweta!
Lepaskan dia. Jangan pegang dia.
Dengar. Putrimu berikutnya.
Dia akan berdarah.
Puja Kali pertamanya masih menunggu.
Duduk. Duduklah.
Ini sudah keterlaluan. Kita harus pergi dari sini.
Kau mau pergi, menantu?
Kalau kau pergi, siapa yang akan melakukan puja Dewi Kali besok?
Shuvankar benar.
Ini desa para Iblis. Tidak ada tempat untuk manusia di sini.
Sejak hari pertama semua orang sudah membohongiku.
Seluruh desa bersekongkol.
Kapan aku berbohong padamu?
Kau membuat kami tetap tinggal dengan alasan Puja Kali.
Kau berniat menjadikan putriku sebagai kurban untuk mematahkan kutukan Chandarpur?
Ibu...
Pergilah.
Ada apa?
Aku rasa... aku...
baru saja...
menstruasi.
Masuklah. Masuk ke dalam.
Tolong pergi. Pergilah.
Ibu.
Perutku sakit.
Ini pertama kalinya, Nak.
Kita akan berhenti nanti kalau ketemu hotel di depan, ya?
Tunggu sebentar lagi saja.
- Ibu. - Ya.
Masih lama?
Sedikit lagi, Sayang.
Ibu!
Ibu.
Ibu.
- Shweta. - Ibu.
Ibu.
Ibu.
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu.
Ibu.
Ibu.
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu.
Ibu.
Ibu.
Ibu!
Ibu.
Ibu.
Ibu!
Ibu!
Ibu.
Shweta.
Ibu.
- Shweta. - Ibu.
- Ibu! - Shweta.
Ibu!
Ibu.
Shweta.
- Shweta. - Ibu.
Ibu!
Ibu.
Ibu.
- Ibu. - Shweta.
Ibu.
Deepika?
- Ibu. - Lepaskan dia.
- Ibu! - Shweta.
- Shweta. - Ibu!
Ibu.
- Ibu. - Shweta.
Ibu.
- Ibu! - Shweta. Shweta.
Shweta.
Shweta.
Shweta.
Ada apa, Bikash?
Inspektur, Tuan.
Daitya membunuh ayahku semalam,...
dan juga membawa pergi Deepuku.
Semua gadis lain juga hilang.
Suster Ambika pergi...
tanpa melakukan puja.
Semuanya jadi hancur.
Daitya membawa semua gadis ke hutan...
Tidak ada Daitya, Bikash.
Ada orang lain yang melakukan ini dengan menyamar sebagai Daitya.
Di mana kepala desa?
Tak seorang pun melihat kepala desa sejak semalam.
Bahkan teleponnya tak bisa dihubungi, jadi kami memanggilmu.
Kepala desa juga hilang?
Dia paman polisi, Nak.
Kau harus menjawab pertanyaannya.
Kau ingat di mana kau dibawa, Nak?
Katakanlah.
Jangan takut.
Apa kau mendengar sesuatu yang aneh? Apa kau melihat sesuatu?
Tidak.
Ada satu anak yang melihat seorang wanita tua.
Benar! Aku sangat curiga pada wanita tua itu.
Tak akan baik kalau kita pergi ke hutan.
Shweta.
Di mana putriku?
- Dengarkan aku. - Di mana putriku?
- Dengarkan, kau salah paham padaku. - Di mana Shweta?
Kau ada di sana. Kau berpihak pada mereka.
Aku bukan musuhmu.
Aku pergi ke sana untuk menyelamatkan putrimu.
Tapi putrimu sudah tak ada saat aku tiba di sana.
Joydev membawa putrimu.
Joydev!
Hei, Joydev.
Ya?
Apa kau baik-baik saja, Inspektur?
Dari kepala desa ke Joydev?
Itu karena ulahmu.
Apa maksudmu?
Kami polisi juga punya mata ketiga.
Dan selalu ada yang janggal darimu.
Hentikan sandiwara ini dan katakan di mana para gadis itu.
Wah.
Kau punya tiga mata.
Namun, kau buta.
Kau bertanya padaku tentang para gadis...
tapi lupa menanyakan siapa aku.
Iblis. Dia selalu Iblis.
Empat puluh tahun lalu,
Dewi Kali datang ke mimpiku, sama seperti Dia datang ke mimpimu.
Aku diberi kehormatan untuk melakukan puja Dewi Kali.
Tapi bersama kehormatan itu datang tanggung jawab besar.
Ketika Iblis menyebarkan dosanya,
air mata sang putri akan meresap ke tanah sebagai darah,
darah sang putri akan memusnahkan Iblis.
Pendeta wanita, kenapa kau berhenti?
Ikuti perintah Dewi.
Ini tak mungkin perintah Dewi.
Apa?
Apa yang kau katakan?
Kita membuat kesalahan besar dalam memahami perintah Dewi.
Bagaimana mungkin seorang Ibu menuntut pengorbanan anaknya?
Hebat.
Lihat itu.
Dia mengklaim bahwa
nenek moyang kita tak tahu makna sejati dari perintah itu.
Aku tahu dia seorang penipu.
Kalau Dewi Kali benar-benar memerintahkannya,...
dia tak akan berbohong.
Dewi Kali memberi perintah itu untuk memusnahkan Amsaja.
Tapi makna yang ditafsirkan oleh para lelaki keluargamu...
selalu terasa salah bagiku.
Apa makna sejati dari perintah itu?
Katakanlah.
Kita salah memberi tanggung jawab sebesar itu pada seorang wanita.
Kau lemah, pendeta wanita.
Singkir dari jalan.
Ini tugas seorang pria...
bukan kau.
Aku melanggar tradisi turun-temurun.
Ketika Joydev tak puas meski sudah membuktikan aku pembohong...
dia... memperkosaku...
dan mengusirku dari desa dengan menyebutku penyihir.
Aku menyelamatkan Chandarpur dengan mengorbankan anak itu.
Semua orang sangat senang padaku.
Aku memenangkan kepercayaan semua orang dan menjadi kepala desa.
Tapi aku membuat kesalahan.
Aku tak seharusnya membunuh anak itu.
Daitya Utama.
Kau nyata?
Kau membunuh anak itu.
Bodoh. Sekarang kau akan mati.
Tidak, tidak...
Aku hanya melakukannya untuk menunjukkan tempat pendeta wanita itu.
Aku melakukan dosa besar.
Tapi kau Daitya utama.
Ampuni aku.
Kau tak pantas mendapat ampunanku.
Tapi hatimu sudah busuk.
Kau bisa berguna bagiku.
Ya, ya, apa perintahmu, tuan?
Aku akan lakukan semua yang kau katakan.
Putri berikutnya yang lahir di keluarga itu
tak akan dikorbankan.
Ya, ya.
Saat dia cukup dewasa untuk melanjutkan warisanku,
kau akan membawanya padaku.
Ya, tuan. Aku akan membawanya.
Aku akan lakukan apa pun.
Aku ingin memenuhi perintahmu.
Beri aku kekuatan, tuan.
Beri aku kekuatan.
Beri aku kekuatan, tuan.
Beri aku kekuatan.
Dia memilihku...
dan aku memilihnya.
Atas perintahnya,
aku mengawasi keluarga Shuvankar selama empat puluh tahun.
Pertama, aku membunuh ayahnya...
lalu dia.
Supaya Ambika bisa membawa putrinya ke sini untuk memenuhi wasiat terakhirnya.
Sekarang kau mengerti?
Tuanku adalah kekuatan tertinggi.
Dia adalah kebenaran mutlak.
Cukup omong kosongmu.
Di mana para gadis itu?
Bodoh.
Kau masih belum paham?
Aku adalah hutan itu.
Gadis-gadisku ada di sini bersamaku.
Selama berabad-abad Daitya menunggu hari ini.
Menstruasi putrimu sudah dimulai.
Benar?
Malam ini, Daitya akan mencoba membuahi putrimu.
Putrimu akan melanjutkan warisannya.
Dia akan menjadi alasan kehancuran.
Joydev pasti sudah membawa Shweta ke hutan.
- Aku harus pergi. - Dia adalah Daitya.
Tanah hutan itu telah berubah merah.
Bahkan setelah menelan darah gadis-gadis kecil selama berabad-abad,...
hutan itu tetap kelaparan.
Jika kau pergi ke sana sendirian, hutan itu akan memangsa kau juga.
Kalau begitu biarlah.
Aku tidak bisa hanya duduk dan menunggu keajaiban terjadi.
Hanya Dewi Kali yang bisa mengalahkan Daitya itu.
Jika puja Dewi Kali tidak dilakukan,
maka Amsaja akan menang.
Empat puluh tahun kemudian, Dewi Kali datang dalam mimpimu.
Itu adalah sebuah keajaiban.
Kehadiranmu di sini adalah kehendak Dewi.
Kau harus mencari restu Dewi.
Kau harus melakukan puja Kali, Ambika.
Dewi Kali, sang penghancur yang berkulit gelap.
Penghancur para klan Iblis Dia penghancur, dia penghancur.
Dewi Kali, sang penghancur yang berkulit gelap.
Penghancur para klan Iblis Dia penghancur, dia penghancur.
Saat nasib buruk datang dan aku menderita.
Waktu membeku, dunia terhenti...
Seorang ibu memohon Hanya Dewi Ibu yang mau mendengar.
Dewi Kali, kau bersemayam Dalam pikiran dan jiwaku.
Semoga aku menaklukkan rasa takut akan hidup dan mati.
Semoga kekuatanmu mengalir di nadiku.
Dengan Chanda dan Munda, Datanglah, wahai Chandike...
Hanya kau satu-satunya perlindunganku.
Awan hitam pekat.
Kegelapan di segala arah.
Badai bertiup.
Dan kekacauan meledak.
Hancurkan ketidakbenaran.
Bunuh Iblis.
Angkat pedang, busur, dan tombak.
Dengan tameng tantra dan mantra.
Segeralah datang menolongku.
Dewi Ibu, bebaskan aku.
Raktabij bangkit lagi.
Minumlah darahnya hari ini.
Minumlah hari ini...
Kali yang mengirimmu?
Dia tidak datang sendiri?
Aku datang untuk putriku.
Jika kau ikut campur,
kau akan bernasib sama seperti Raktabij.
Raktabij itu lemah.
Aku bukan Raktabij, dan kau bukan Kali.
Aku adalah Amsaja.
Dan kau hanya wanita biasa.
Kau bahkan takkan bisa menyentuhku.
Jayalah Dewi Kali!
Jayalah Dewi Kali!
Menjadi seorang ibu adalah kelemahan terbesar di dunia.
Itu bukan kelemahan.
Itu adalah kekuatan.
Bumi.
Langit.
Neraka.
Dewi!
Kau, Kalimu, dan waktu itu sendiri...
akan tunduk padaku.
Putrimu akan meneruskan warisanku.
Kekaisaran jahatku akan menyebar ke tiga alam.
Dewi!
Kau akan lihat!
Akhirnya, kau memang datang.
Siapa yang kau tantang?
Dewi Kali?
Eksistensimu hanyalah setetes,
dan kau ingin menelan samudra.
Lihatlah di sekelilingmu.
Kali ada di mana-mana.
Dia ada dalam dirimu, dalam diriku, dan dalam tanah ini.
Dari alam semesta luas hingga kedalaman neraka.
Dia tak terikat oleh waktu.
Jika Dia mau Dia bisa menghentikan waktu.
Mengubah alam semesta jadi debu.
Kali adalah kehancuran.
Dia adalah kekuatan yang tak terbendung.
Dalam keadaan tenang, Dia adalah ibu penuh kasih.
Dan saat Dia marah, Dia adalah maut itu sendiri.
Jika kau keturunan Raktabij,
maka aku pun adalah inkarnasi Kali.
Aku Chamunda!
Aku Durga.
Aku Ambika!
Ayah.
- Ayah. - Ayah.
- Ayah. - Ayah.
- Ayah. - Ayah.
Ayah.
- Ibu. - Ayah.
Ayah.
Putrimu...
...mengandung benih Amsaja.
Bagaimana mungkin Dewi Kali menuntut pengorbanan putri yang lain?
Jika ini adalah ujianku...
...maka ini juga ujianmu.
Saat Iblis menyebarkan dosanya,...
air mata sang putri akan meresap ke tanah menjadi darah,...
tongkat Dewi akan menjadi anugerah terbesar,...
darah sang putri akan memusnahkan Iblis itu.
Ambika!
Dewi Kali, ampunilah kami.
Kau telah memberkati kami.
Kau telah membebaskan kami dari Daitya.
Kau begitu pengasih, Dewi.
Sangat pengasih.
Kali telah menganugerahi kami kapak ini untuk melawan Amsaja.
Namun para lelaki pengecut di desa ini
menggunakannya untuk mengorbankan putri-putri kecil.
Hari ini, seorang ibu menjelaskan makna sejati perintah Kali kepada kami.
Keturunan Amsaja telah dimusnahkan.
Kau menang, Ambika.
Putrimu telah disucikan.
Ibu.
Ibu.
Shweta.
- Jayalah Dewi Kali! - Jayalah Dewi Kali!
Jayalah Dewi Kali!
Dari bumi dan langit, hingga tujuh lautan.
Seluruh alam semesta ada dalam diriku.
Dengan gerak isyaratku, aku kendalikan bintang-bintang...
Aku adalah jiwa... Sang Maha.
Tahukah kau, apa kebodohan terbesar manusia?
Kau pikir kau telah membunuh kejahatan
dengan membunuh yang jahat.
Membunuh aku!
Namun selama manusia masih hidup di alam semesta ini...
...selama itu pula Iblis di dalam dirinya akan tetap hidup.
Iblis!
Iblis!
Bahkan kematian pun berlutut di hadapanku...
Akulah satu-satunya...
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.