Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Kutinggalkan semua kenangan masa lalu♪
♪Siapakah aku di balik topeng ini?♪
♪Lepaskan, maka dunia akan terbuka lebih luas♪
♪Cinta membingungkan, hujan tercurah deras♪
♪Bersilangan lalu terjatuh♪
♪Dari reruntuhan, cahaya mulai menyala♪
♪Merobek penghalang tebal di malam panjang♪
♪Hati yang bersinar, menerangi setiap kesepian♪
♪Biarlah layar waktu tersesat dan terombang-ambing♪
♪Keluar dari kepompong dan terlahir kembali♪
♪Bulan bagai nyanyian, hidup bagai api♪
♪Meski tanpa nama, hati tetap setia pada tujuannya♪
♪Biarkan aku menyusuri sungai deras berikutnya♪
♪Bulan muncul, salju pun turun♪
♪Menapaki jalan terjal dan bertemu kembali♪
♪Tangan tergenggam erat, selamanya hidup karena cinta♪
♪Bayangan seperti tombak yang membara♪
=Legenda Jenderal Wanita=
(Diadaptasi dari "Jenderal Wanita Terlahir Kembali")
(Kisah ini murni fiksi)
=Episode 24=
Katanya, Wutuo menyerang Huayuan.
Benarkah?
Wutuo baru saja mengalami kekalahan di Jiyang,
tapi masih punya niat untuk mengerahkan pasukan lagi.
Tentu saja benar.
Tadi, ada yang melapor kepada Pelatih Shen
dan aku kebetulan mendengarnya.
(Wutuo menyerang Huayuan.)
(Sebelumnya Jiyang dan sekarang Huayuan.)
(Tindakan Wutuo ini seperti sedang menguji)
(seberapa kuat persenjataan prajurit kami.)
(Kelihatannya, mereka berniat memulai perang lagi.)
Kali ini, yang memimpin pasukan ke Huayuan adalah Jenderal Feihong.
Dia pasti akan menghabisi Wutuo tanpa ada yang tersisa.
Itu sudah pasti.
(He Rufei pergi menjaga Huayuan?)
Pasukannya banyak sekali.
Apakah kau tahu siapa yang sedang disambut?
Sudahlah.
Begitu dia sampai, kau akan mengetahuinya.
Selama bertahun-tahun bertugas di militer,
kau pasti sudah pernah mendengar nama Yan He, 'kan?
Dia teman sekelasku dan Huaijin.
Lihatlah, sekarang penampilannya sangat berwibawa.
(Akademi Xianchang, Ketiga; Murid, He Rufei)
Kenapa peringkat kedua dari belakang lagi?
Kenapa masih di peringkat terakhir?
(Akademi Xianchang, Keempat; Murid, Cheng Lisu)
Bukankah sebelumnya kau sudah sepakat akan mengalah satu kali kepadaku?
Pertama, aku tidak menyetujui itu sebelumnya.
Kedua, memangnya posisi terakhir lebih baik daripada posisi terbawah?
Ini...
Aku...
Lihatlah, tulisan ini...
Kau...
- Selamanya peringkat dua. - Orang yang kalah darimu.
Aku Yan He.
Pada ujian berikutnya,
aku pasti akan mendapat peringkat pertama.
Dari mana datangnya rasa percaya diri itu?
Xiao Huaijin,
ingatlah itu.
Aku akan menantikannya.
Yang benar saja.
(Yan He, Jenderal Dinasti Wei)
Lama tidak bertemu, semoga kau baik-baik saja,
Jenderal Fengyun.
Sama-sama.
Sudah berapa tahun berlalu, tapi masih saja tidak akur.
Chu Zhao?
Jangan-jangan dia datang lagi untuk memberi penghargaan?
Benar juga.
Melindungi Jiyang adalah prestasi yang besar.
Hee Yan, dengarkan titah.
Hari ini, Hee Yan dari Garda Yezhou sangat setia dan penuh keberanian,
menunjukkan prestasi luar biasa dalam melawan Wutuo.
Aku merasa sangat puas
dan secara khusus menganugerahkan gelar Pejabat Keamanan Militer
sebagai lambang penghargaan.
Pejabat Keamanan Militer?
Saya, Hee Yan, berterima kasih kepada Kaisar.
Meskipun berjasa dalam mempertahankan Jiyang,
Xiao Jue tidak menaati perintah militer dan meninggalkan garda tanpa izin.
Hari ini, Kaisar menurunkan titah
untuk menjatuhkan pukulan militer sebanyak 20 kali
sebagai tanda peringatan.
(Dua orang dengan jasa yang setara,)
(tapi aku diberi penghargaan, sedangkan Xiao Jue diberi hukuman.)
(Ini jelas-jelas ingin memecah belah hubungan antara aku dan Xiao Jue.)
Jelas-jelas Panglima telah memenangkan perang,
tapi kenapa dia harus dihukum?
- Benar. - Benar, bukankah ini tidak adil?
Menyuruh Jenderal menerima hukuman?
- Atas dasar apa? - Benar.
Bukan hanya dia saja yang menyelamatkan Jiyang.
- Ya. - Benar.
Diam!
Jika yang melanggar perintah militer tidak dihukum,
orang-orang seterusnya pun akan meniru. Bagaimana nanti bisa mengatur pasukan?
Saya
memohon ampun.
Bagus, Xiao Huaijin.
Kau tidak mencemarkan nama baik Keluarga Xiao.
Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan.
Kepala Biro Kementerian Militer, Chu Zhao, bertanggung jawab mengawasi.
Apakah kau tidak salah?
Dua puluh pukulan militer itu bisa menghilangkan nyawa.
Mundur.
- Dua puluh pukulan militer. - Benar.
Atas dasar apa dia dihukum?
Yan Nanguang ini
sama sekali tidak mengingat hubungan lama.
Jangan-jangan dia memanfaatkan jabatannya
untuk membalas dendam pribadi?
Xiao Jue, kali ini jasa dan kesalahanmu dianggap impas.
Jangan sampai terulang lagi. Ingatlah baik-baik.
Saya
akan menaati titah.
Huaijin.
Selamat, Saudara Hee.
Kau yang memohonkan gelar untukku?
Benar.
Kau telah bertindak dengan sangat baik. Penghargaan ini sangat pantas untukmu.
Aku juga meninggalkan Garda Yezhou tanpa izin.
Jika bicara soal melanggar aturan militer, aku juga bersalah.
Tuan Perdana Menteri yang meminta di hadapan Kaisar
dengan maksud agar penghargaan dan hukuman ditegakkan dengan jelas.
Panglima Xiao
sebagai pemimpin pasukan seharusnya menjadi teladan
dan bertanggung jawab untuk memimpin dengan memberi contoh.
Oleh karena itu, diberikan hukuman kecil sebagai peringatan keras.
(Ternyata siasat memecah belah ini memang ulah Xu Jingfu.)
Jika begitu,
tolong sampaikan terima kasihku kepada Perdana Menteri Xu.
Huaijin, bagaimanapun juga, aku adalah seorang pria.
Gerakanku kasar.
Jika aku tidak sengaja menyakitimu, harap dimaklumi.
Kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak senang denganku?
Bagaimana
kalau aku carikan seseorang yang bisa membuatmu senang
untuk mengoles obat padamu?
Misalnya, Hee Yan?
Tutup mulutmu.
Orang baik tidak selalu mendapat balasan baik.
Tunggu sebentar.
Aku akan memeriksa obat dalam untuk kau minum
sudah selesai direbus atau belum.
Kemarin, kau dipukul di depan banyak orang.
Ini pasti sudah mencoreng harga dirimu.
Perdana Menteri Xu yang licik itu
sengaja memakai cara memecah belah dengan penghargaan dan hukuman
untuk membuatmu marah.
Jangan sampai kau menyimpan dendam pada Adik Hee.
Soal Adik Hee menyamar sebagai pria jelas adalah risiko tersembunyi.
Begitu rahasia ini terbongkar,
ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan kepada Kaisar.
Sekarang, dia mendapat gelar Pejabat Keamanan Militer.
Entah itu hal baik atau buruk.
Dasar kau, Yan Nanguang.
Kau masih berani datang? Kau memukulnya dengan cukup keras.
Bagaimanapun, ada banyak orang yang melihat.
Aku juga tidak boleh bersikap pilih kasih di depan umum, 'kan?
Kau...
Jangan memukul wajahku.
Xiao si Dingin, maafkanlah aku.
Tidak perlu begitu.
Kau hanya menjalankan tugasmu.
Apa salahnya?
Tunggu dulu. Kau datang dengan tangan kosong?
Sebenarnya, aku ingin membawa obat.
Namun, setelah dipikir-pikir, bukankah ada Tabib Sakti Cheng di sini?
Untuk apa aku bersikap seakan-akan lebih tahu?
Saat di Akademi Xianchang, kalian berdua sering tidak akur.
Sekarang, justru cukup kompak.
Saat itu, kita masih muda dan hanya memikirkan harga diri.
Sekarang, kita semua adalah saudara. Benar, tidak?
Apalagi, aku juga sudah berkeluarga. Tentu harus lebih dewasa.
Jika tidak, Chengxiu pasti akan menegurku lagi.
Kalau kau tahu istrimu sedang hamil,
jangan lagi mencari keributan di mana-mana.
Aku justru ingin mengumumkan ke seluruh dunia
bahwa aku dan Chengxiu sudah punya anak.
Kalau begitu, saat maju ke medan perang kelak,
kau jangan lagi bertindak sesuka hati.
Pikirkanlah istri dan anakmu.
Tentu saja.
Lagi pula,
dalam pertempuran Huayuan ini, Kaisar juga tidak menunjukku.
Yang ditunjuk itu He Rufei.
Apa? Kenapa bisa He Rufei?
Aku sedikit lelah.
Kalian keluar dulu.
Kalau begitu, ingatlah untuk meminum obatmu.
Biar kuberi tahu. Kau terlalu keras memukulnya.
Itu 20 pukulan militer.
- Kau tidak bisa meminta keringanan? - Ada banyak orang yang melihat.
Apakah pesan dari Feinu sudah kembali?
Lapor, Panglima.
Setelah Pertempuran Mingshui, Chu Zhao pernah pergi ke Kota Que.
Menurut kabar yang diterima orang kita, dia pernah berhubungan dengan Chai Anxi.
Bagaimana dengan sebelum Pertempuran Mingshui?
Sebelumnya, kami sama sekali tidak mendapatkan kabar
mengenai Chu Zhao.
Tampaknya, Pertempuran Mingshui tidak ada hubungannya dengan dia.
Bagaimana dengan He Rufei?
Mengenai He Rufei,
dia sama sekali tidak ada hubungan dengan Xu Jingfu
sebelum Pertempuran Mingshui.
Namun, setelah Pertempuran Mingshui terjadi,
mereka berdua justru menjadi dekat.
Selain itu, sebelum Pertempuran Mingshui terjadi,
Perdana Menteri Xu pernah pergi ke Kuil Yuhua
dan bertemu Nona Pertama Keluarga He, yakni adik dari He Rufei.
Entah apa niat dari pria tua licik itu.
Sekarang, He Rufei diutus ke Huayuan.
Sulit untuk memastikan tragedi Pertempuran Mingshui
tidak akan terjadi lagi.
Kau kirimkan pesan lewat merpati kepada Feinu.
Suruh dia jangan lengah.
Terus awasi He Rufei secara ketat.
Baik.
Kenapa kau bisa menemukanku di sini?
Sebelumnya, kita terburu-buru berpisah.
Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.
Setelah bertanya sepanjang jalan, aku baru tahu bahwa kau ada di sini.
Berterima kasih untuk apa?
Budi baikmu saat menyelamatkanku di Jiyang tidak akan kulupakan.
Itu bukan jasa yang besar. Aku tidak pantas menerimanya.
Sekarang, di kalangan pejabat istana, banyak yang takut dan membenci Xiao Jue.
Masa depannya tidak jelas.
Begitu terjadi masalah, kau mungkin juga akan terseret.
Pejabat Keamanan Militer bukan jabatan tinggi,
tapi bisa memiliki wewenang untuk mengerahkan orang.
Mulai sekarang, kau bisa bertindak sendiri
dan punya lebih banyak pilihan. Bukankah itu bagus?
Naik pangkat tentu hal yang baik. Aku tentu senang.
Saudara Hee, pernahkah kau berpikir jika ingin meraih prestasi besar,
tidak selalu harus di tempat yang sulit seperti Yezhou ini?
Apakah kau ingin mengikutiku
untuk melihat dunia luar dan mencoba peruntungan?
Terima kasih atas niat baik Saudara Chu.
Mungkin suatu hari, aku akan meninggalkan Garda Yezhou.
Namun, itu karena
aku harus melakukan hal yang memang harus kulakukan
dan bukan karena Yezhou adalah tempat yang sulit.
Apakah hanya itu alasannya
dan bukan karena seseorang?
Segala hal di dunia ini
berubah dengan sangat cepat.
Tidak ada yang bisa terus bertahan di sisi seseorang.
Aku hanya mengikuti kata hati dan melakukan hal yang kuinginkan.
Saudara Chu, hari mulai gelap.
Sampai jumpa lagi.
- Panglima. - Ada apa?
Jenderal Feihong menang dalam Pertempuran Huayuan.
Mengirim begitu banyak pasukan kepada He Rufei,
bahkan seorang pecundang yang menjadi komandan pun
tetap bisa menang.
Apakah ada kabar lain?
Pertempuran memang berhasil dimenangkan,
tapi tujuh jenderal besar di bawah komando Jenderal Feihong
semuanya gugur.
Itu berarti,
Pertempuran Huayuan memang dimenangkan, tapi itu kemenangan yang menyedihkan.
Ada begitu banyak yang gugur.
Namun, apakah perlu sampai harus mengorbankan tujuh wakil jenderal?
Apakah kau tidak merasa familier?
Pertempuran Huayuan
jelas sedang mengulangi kesalahan yang sama seperti Pertempuran Mingshui.
Terlihat sempurna tanpa cela, tapi sebenarnya penuh tanda tanya.
Benar.
Meskipun aku belum pernah bertemu mereka,
Tujuh Jenderal Harimau Pasukan Fuyue punya nama yang besar.
Masing-masing dari mereka mampu memimpin secara mandiri.
Sekarang, semuanya tewas dalam pertempuran.
Di dunia ini, tidak ada yang lebih kebetulan daripada ini.
Jangan-jangan He Rufei sedang membungkam dengan membunuh?
Jika memang begitu, apa alasannya dia membungkam mereka?
Membungkam mereka dengan membunuh
tentu saja untuk menutupi
hal-hal yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
(Kalau begitu, He Rufei sekarang ini adalah orang yang sama)
(dengan yang mengacaukan Pertempuran Mingshui itu.)
Di mana Hee Yan?
(Ma Ningbu, Perdana Menteri Wutuo)
Perdana Menteri sudah datang terlambat,
harus minum tiga cangkir sebagai hukuman.
Aku tidak leluasa menonjolkan diri.
Jadi, dalam bertindak tentu harus lebih berhati-hati.
Itu sebabnya, aku datang terlambat. Mohon ampuni aku.
Tidak apa-apa. Duduklah.
Mari.
Aku dengar, pada Pertempuran Huayuan,
Kaisar kalian mengutus Tuan untuk menghadapinya.
Cepat sekali Tuan mendapatkan kabar itu.
Tuan sengaja mengundangku kemari
tentu bukan hanya untuk minum arak, 'kan?
Aku dan Tuan Ma Ningbu sudah lama saling mengenal.
Aku tidak akan berbasa-basi lagi.
Aku harus
memenangkan Pertempuran Huayuan.
Beberapa waktu lalu, kami baru kalah dari Jiyang.
Kami masih ingin mengandalkan Pertempuran Huayuan
untuk menyemangati pasukan.
Aku bahkan ingin memohon kepada Jenderal He
untuk mengalah satu kali.
Jika sampai kalah di Huayuan,
aku sungguh tidak bisa memberi penjelasan kepada Raja kami.
Kalau begitu, jadikan ini kesempatan untuk menebus kesalahan.
Menukar Huayuan dengan Kota Run.
Bagaimana?
Kota Run?
Kota Run adalah tempat strategis penting yang langsung mengancam Kota Yaojing,
bahkan lebih penting daripada Huayuan.
Apakah Tuan rela mengorbankannya?
Ini...
(Peta Pertahanan Militer Kota Run)
Peta pertahanan militer Kota Run?
Jenderal penjaga Kota Run, Li Kuang,
adalah salah satu dari Jenderal Delapan Harimau Pasukan Fuyue.
Begitu Wutuo menyerang Kota Run,
dia pasti akan meminta bantuan Pasukan Fuyue
saat tidak mampu bertahan sendirian.
Sementara itu, aku pasti tidak akan memberikan bantuan.
Untuk menunjukkan ketulusan,
begitu Pertempuran Huayuan terjadi, aku rela menyerahkan
nyawa tujuh jenderal lain di bawah komandoku.
Nyawa Jenderal Delapan Harimau ditambah Kota Run
akan ditukar dengan Huayuan.
Ini cukup menguntungkan, 'kan?
Berhubung Jenderal He begitu tulus, aku tentu saja harus membantu.
Baik.
Kau tidak menyangkanya, 'kan?
He Yan, ketujuh bawahanmu itu semuanya mati di Huayuan.
Tenang saja.
Li Kuang yang masih tersisa itu juga tidak akan bisa terluput.
Begitu dia mati, kau akan menjadi tikus got
yang tidak akan pernah melihat cahaya lagi.
Saat tidur semalam, kau diam-diam makan lagi, ya?
Jelas-jelas Wang Ba yang makan, tidak mungkin aku yang makan.
Omong-omong, Jenderal Feihong itu benar-benar tidak bisa diandalkan.
- Kak Hee. - Hee Yan.
Selamat, Kak Hee.
Kak Hee-mu ini tidak akan berhenti di sini saja.
Pejabat Keamanan Militer berani dan cerdas.
Menurutku, dia berbakat menjadi panglima.
Jiang Jiao.
Tadi, kau bilang, ada apa dengan Jenderal Feihong?
Jenderal Feihong itu sungguh payah.
Tujuh orang yang dia pimpin, semuanya mati di medan pertempuran.
Memimpin pasukan seperti apa itu?
Tujuh Jenderal Harimau,
semuanya mati dalam pertempuran?
Kita ikuti rencana Jenderal Feihong
dengan memaksa mundur mereka di sepanjang lembah.
Melihat mereka kabur ketakutan akan sangat memuaskan!
- Benar! - Benar!
Seluruh pasukan, dengarkan perintah!
- Siap! - Siap!
Pertempuran hari ini
adalah demi Dinasti Wei, juga demi perdamaian negeri.
Janganlah takut mati.
Pantang pulang sebelum menang!
Jangan sampai
mencoreng reputasi Pasukan Fuyue!
- Tidak takut mati! - Tidak takut mati!
- Pantang pulang sebelum menang! - Pantang pulang sebelum menang!
- Tidak takut mati! - Tidak takut mati!
- Pantang pulang sebelum menang! - Pantang pulang sebelum menang!
- Tidak takut mati! - Tidak takut mati!
- Pantang pulang sebelum menang! - Pantang pulang sebelum menang!
Aku tahu
bahwa Tujuh Jenderal Harimau adalah tangan kananmu.
Sekarang, mereka telah dibunuh. Bagaimana kau tidak merasa sakit?
Namun, yang pantas dihukum bukanlah kau, melainkan He Rufei.
He Rufei.
Utang darah ini
akan kuingat.
Biar aku saja.
Ketujuh saudaraku telah mati.
Aku tidak bisa membalas dengan tanganku sendiri,
juga tidak bisa menghormati mereka dengan layak.
Aku sama sekali tidak bisa menangis.
Jika tidak ada aku, mereka bahkan tidak akan mati.
Rasa sakit ini
selalu mengingatkanku,
dendam ini
harus kubalas.
Ayah dan ibuku meninggal satu demi satu.
Aku tidak punya waktu untuk berkabung.
Semua orang menyalahkanku.
Mereka menyebutku dingin dan tidak berperasaan.
Namun, setiap kali mengenakan zirah,
setiap kali mengikat kantong kecil yang disulam Ibu,
aku tahu
bahwa mereka selalu ada
di dalam hatiku.
Kita berdua
selalu memiliki pengalaman yang sangat mirip.
Baik di masa lalu
maupun sekarang,
aku selalu bisa merasakan
rasa sakitmu.
Karena dirimu.
Hanya karena dirimu,
aku bersedia percaya.
Jenderal Fengyun, Xiao Jue,
segeralah menuju ibu kota pendamping untuk menghadap Kaisar.
Panglima, jagalah dirimu.
Kau tidak pergi bersamaku?
Aku tidak pergi.
Kalau begitu, tunggulah aku di Garda Yezhou.
Setelah aku kembali,
masih ada yang ingin kusampaikan kepadamu.
Kain ini penuh dengan darah Panglima Xiao.
Aku sudah mencucinya seharian.
Jenderal Yan He itu benar-benar kejam.
Namun, dia tergolong cukup tampan.
Bisa dibilang masih muda dan berprestasi.
Setampan apa pun, dia sudah memiliki istri.
Kau jangan memikirkannya lagi.
Siapa yang memikirkannya? Keinginanku masih belum tercapai.
Aku tidak punya waktu luang untuk memikirkan pria.
Aku tidak sebaik dirimu. Aku sedang memikirkan seorang wanita.
Wanita yang mana?
Dia sangat berambisi, temperamennya juga agak keras.
Siapa yang kau bicarakan?
Namun, dia sangat cerdas
dan memiliki hati tabib yang tulus menolong orang.
Hanya itu saja?
Dia tidak pernah berpura-pura dan selalu tulus kepada orang lain
sehingga membuatku jatuh hati kepadanya.
(Istana Sementara Dinasti Wei, Istana Cheng'an)
Pejabat Xiao,
kau begitu ragu-ragu.
Tidak seperti gaya bertindakmu biasanya.
Kaisar begitu pandai menyusun strategi,
saya jadi lebih berhati-hati dan waspada dalam bertindak.
Ucapanmu ini sungguh membuatku malu.
Jika aku
memang pandai mengatur strategi, perbatasan juga tidak akan sekacau ini
dan rakyat tidak akan sulit merasakan kedamaian.
Saya sudah lancang.
Harap Kaisar menghukum saya.
Aku hanya sedang mengintrospeksi diri. Apa urusannya denganmu?
Duduklah. Permainan ini masih belum selesai.
Setelah menanggung 20 kali pukulan militer,
lukamu cukup parah, 'kan?
Luka saya sudah hampir sembuh. Terima kasih atas kepedulian Kaisar.
Sudah menghukummu dengan 20 kali pukulan militer
di depan bawahanmu,
apakah kau merasa
aku bertindak tidak adil?
Saya tidak berani.
Saya memang meninggalkan garda tanpa izin.
Saya rela menerima hukuman.
Dari sisi kepentingan negara, sebagai panglima,
kau malah menjadi yang pertama melanggar aturan militer.
Kau sudah seharusnya dihukum untuk menegakkan ketertiban militer.
Namun, dari sisi pribadi,
kau mengabaikan bahaya dan meraih jasa besar,
tapi aku malah harus menghukummu.
Jadi, aku juga merasa berutang kepadamu dan ingin menebusnya dengan cara lain.
Kaisar terlalu berlebihan. Saya merasa tidak pantas menerimanya.
Namun, memang ada satu hal yang ingin saya sampaikan.
(Paviliun Lanhui)
Kasim,
apakah Kaisar sudah beristirahat?
Masih belum.
Kaisar dan Jenderal Xiao sedang bermain catur.
Kalau begitu, tolong sampaikan
bahwa aku datang terlambat dan ingin memohon ampun kepada Kaisar.
Kaisar meninggalkan pesan
bahwa sebelum permainan catur selesai, tidak boleh ada yang mengganggunya.
Kalau begitu, aku akan menunggu saja.
Ternyata begitu.
Memang di luar dugaanku.
Perkara ini bukan hanya sekadar rumit,
disebut mencengangkan orang juga tidak berlebihan.
Kaisar.
Tenang saja.
Seorang Kaisar tidak akan asal bicara.
Berhubung sudah mengabulkan permintaanmu,
aku tidak akan menariknya kembali.
Saya berterima kasih kepada Kaisar.
(Paviliun Lanhui)
Jenderal He,
lama tidak berjumpa.
Memang sudah lama tidak berjumpa.
Jenderal Xiao,
kudengar beberapa waktu lalu, kau mendapatkan hukuman.
Apakah kau baik-baik saja sekarang?
Lebih baik daripada Jenderal He.
Bagaimanapun,
Jenderal He terburu-buru datang untuk meminta jasa,
tapi justru terkena angin dingin semalaman di luar istana.
Saat pulang, takutnya akan sakit.
Jenderal Xiao,
leluconmu ini sama sekali tidak lucu.
Memang tidak sekonyol Jenderal He dalam Pertempuran Huayuan.
Xiao Jue,
istana Kaisar bukan tempatmu bicara sembarangan.
Kudengar, dalam Pertempuran Huayuan,
Jenderal He entah kenapa terlambat memberikan bantuan.
Hal ini membuat orang teringat saat Pertempuran Mingshui,
Jenderal He juga terlambat memberikan bantuan.
Apakah gelar Jenderal Feihong ini
tidak sesuai kenyataan
atau
ada alasan tersembunyi lainnya?
Xiao Jue!
Saya menyampaikan titah Kaisar.
Dalam Pertempuran Huayuan, pasukan Wutuo dikalahkan telak
dan pasukan kembali ke ibu kota.
Jenderal Feihong, He Rufei, telah berjasa besar.
Aku merasa sangat senang.
Namun, mengingat Pejabat He telah bekerja keras tanpa kenal lelah
dan menempuh perjalanan panjang, maka dihapuskan segala upacara resmi
agar dapat segera kembali ke barak untuk beristirahat
dan mengatur kembali pasukan.
Saya ingin menghadap Kaisar.
Kaisar sudah beristirahat.
Saya
menerima titah.
Kaisar benar-benar memedulikan Jenderal He.
Semoga Jenderal He tidak mengecewakan kehendak Kaisar.
Segera kembali ke barak
dan jangan menundanya lagi.
Li Kuang adalah satu-satunya bawahan yang tersisa.
He Rufei pasti tidak akan melepaskannya.
Jika Kota Run dalam kesulitan,
He Rufei pasti tidak akan memberi bantuan.
Pada saat itu, semuanya akan terlambat.
Kota Run dijaga oleh Li Kuang,
sekaligus kota militer yang sangat penting.
Tampaknya, aku harus pergi ke sana.
(Aku tidak akan membiarkan Li Kuang mengorbankan nyawa,)
(juga tidak akan membiarkan Kota Run jatuh.)
(Situasi di Kota Run mendesak, aku ingin pergi membantu,)
(jadi meminjam pedang.)
♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪
♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪
♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪
♪Pernah melihat gunung dan sungai♪
♪Pernah melangkahi embun beku♪
♪Hari demi hari, berjuang sendirian♪
♪Misi adalah kepercayaan♪
♪Impian yang diam-diam bergejolak♪
♪Menyalakan api di tengah badai♪
♪Harapan yang enggan dilepaskan♪
♪Memandang jauh dari jalan yang berlumpur♪
♪Siapa yang akan peduli dengan kehampaan ini?♪
♪Terus berjuang dengan penuh semangat♪
♪Melawan sekuat tenaga tanpa menyerah♪
♪Terbang di dunia ini♪
♪Tentu harus memiliki keinginan♪
♪Menyingkirkan luka-luka untuk menemukan cahaya♪
♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪
♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪
♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪
♪Mengejar cahaya yang menuju ke lautan hati♪
♪Mengubur kerapuhan, kekuatan untuk bangkit dari kematian♪
♪Kau akan menyaksikan tatapan tajam di tengah riuhnya badai kehidupan♪
♪Cinta sejati yang berharga, kau menemani petualanganku♪
♪Terbang di dunia ini♪
♪Tentu harus memiliki keinginan♪
♪Menyingkirkan luka-luka untuk menemukan cahaya♪
♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪
♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪
♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪
♪Mengejar cahaya yang menuju ke lautan hati♪
♪Mengubur kerapuhan, kekuatan untuk bangkit dari kematian♪
♪Kau akan menyaksikan tatapan tajam di tengah riuhnya badai kehidupan♪
♪Cinta sejati yang berharga, kau menemani petualanganku♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.