All language subtitles for Norma.Antara.Mertua.dan.Menantu.2025.1080p.NF.WEB-DL3

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician Download
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese Download
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Seharusnya pernikahan itu terjadi sekali seumur hidup

Tapi sayangnya,

tidak semua kesalahan…

…atau pengkhianatan…

…bisa damai dengan kata "Maaf".

Seperti yang terjadi dalam pernikahan saya.

Pengkhianatan itu…

…justru dilakukan oleh suami saya sendiri.

Bersama orang yang harusnya saya hormati…

dan seharusnya yang paling mencintai saya.

Tema kajian kita pada pagi hari ini adalah…

"Kedudukan Ibu di dalam Islam".

Silakan disiapkan catatannya.

Kita sama-sama belajar, ya?

Mondar-mandir saja.

Karena belum datang, Ambu.

Nanti Norma sudah pisahkan satu untuk Ambu.

Sudah siap, Ibu-Ibu?

Ada pepatah yang mengatakan,

surga itu terletak di bawah telapak kaki…

Ibu.

Ibu adalah sekolah pertama,

dan juga utama bagi anak-anaknya.

Jadi, apabila seorang ibu berhasil

mendidik anaknya menjadi anak-anak yang saleh,

masyarakatnya juga akan menjadi masyarakat yang kuat.

Ambu, Norma keluar dulu.

Karena memang cinta seorang ibu itu selalu murni.

Si Anton ke mana?

Sakit, Pak Bos.

Muntah-muntah!

Tapi sudah kamu suruh berobat?

Sudah, Pak Bos. Sudah beberapa hari ini belum masuk.

- Mungkin kena guna-guna, Pak Bos. - Hei, omonganmu!

Stop!

PENGIRIMAN SEGAR

Makanya kamu belajar menyetir!

Jadi, kalau Anton tidak masuk begini, kamu tak perlu menunggu saya.

Itu orangnya datang, Bos!

Teh, maaf tadi ada kendala. Jadi, agak telat.

Tak apa-apa, yang penting datang.

Sudah semua?

Sudah, ini masih ada satu lagi.

- Teh. - Aduh, berat sekali, ya.

Maaf, jadi agak lama menunggunya.

Tidak apa-apa.

Ini untuk adik-adik TPA dan ibu-ibu pengajian.

Hati-hati jalannya!

- Bos tahu… - Eh! Pelan-pelan!

- Sabar! Antre. - Sini, saya pegangkan.

Adik-Adik.

- Aku, Teh. - Sama-sama.

- Yang sudah boleh lanjut belajar lagi. - Terima kasih, Teh Norma!

- Terima kasih, Teh Norma. - Sama-sama.

- Nah, sudah, ya. - Terima kasih, Teh Norma.

- Terima kasih, Teh Norma. - Iya, dibagi-bagi, ya. Itu.

Teh, sudah semua, 'kan?

Sudah.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Terima kasih juga ini, pada yang menyetir.

Oh, iya. Perkenalkan, ini bos saya, Aa Irfan.

Kalau tak ada bos saya ini, saya bisa bolak-balik naik motor.

Lama pasti!

Irfan.

Oh.

Kita sepertinya pernah ketemu, ya?

Seperti kenal.

Modus.

Tidak, benar! Ketemu di mana, ya?

Teteh namanya siapa tadi?

Maaf, belum sempat sebut nama.

Saya Norma, Aa.

Norma dari SMANDA?

Aa lulusan SMANDA juga?

Irfan Wardana, IPS Tiga!

- Ketua pencak silat, bukan? - Wakil.

Oh!

Ini menunjukkan

betapa pentingnya kedudukan seorang ibu di dalam islam.

Teh, kami harus pamit dulu.

Boleh minta ponselnya?

Tidak boleh, Pak Bos. Masa Bos minta ponsel?

Beli!

Nomor ponsel maksudnya, boleh?

Jangan dulu, ya, Aa. Saya permisi dulu.

Assalamualaikum.

- Waalaikumsalam. - Teh, maaf, itu tertinggal.

Oh, nanti akan diambil marbut sini.

- Namanya Pak Unim. - Oh, ya sudah.

- Assalamualaikum, Aa. - Waalaikumsalam.

Ayo, pulang! Kenapa ini?

- Becak, Pak. - Baik, Bu.

Ambu ingat Rika, teman kampus Norma dulu?

Dia sekarang kerja di SD Tunas Bangsa.

Dia mengajak Norma pindah ke sana, Bu,

untuk menggantikan guru agama di sana.

Guru agama di sana berhenti, karena habis melahirkan.

Bagaimana kalau Norma pindah kerja di sana?

Gajinya lumayan.

Kamu bekerja di TPA saja jarang membantu Ambu buat mi ayam,

apalagi jadi guru SD?

Pasti bisa, Bu. Nanti Norma atur waktunya lagi.

Sayang kalau dilewatkan.

Boleh, ya?

Ada siapa, Bu?

- Assalamualaikum. - Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Abah.

Abah.

- Neng! - Kenapa tidak bilang kalau mau datang?

Kejutan!

Tahu begitu, Neng belikan Apem Bang Cukit.

Nanti saja.

Koh Akin memberi Abah libur?

Saudaranya Koh Akin menikah.

Koh Akin menjadi panitianya. Jadi, tokonya tutup.

Norma bawakan ke kamar, ya.

Sudah, biar Abah saja.

Abah ke kamar belakang.

Bagaimana kabar Ambu?

Ya, seperti biasa, Bah.

- Biasa? - Ya.

Masih suka dagang mi ayam kalau lagi ada pesanan.

Mengurung diri kalau tak ada pesanan.

Abah seperti tak tahu Ambu saja.

Ya, Abah hanya tanya kabarnya.

Ambu.

KRIM TANGAN DAN TUBUH

Ambu, ikut Norma dan Abah ke alun-alun, yuk!

Kita beli Apem Bang Cukit.

Kamu saja.

Ayolah, Ambu. Kita sudah jarang pergi bertiga.

Sekali saja.

Kamu saja.

- Neng. - Ya, Abah?

Sudah, berdua saja tak apa-apa. Yuk.

Ya sudah. Kalau begitu, Norma jalan, ya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Ayo!

Pak.

- Terima kasih, Aa. - Ya.

Bismillah.

Abah…

Abah kenapa tidak mau pindah kerja di sini?

Menemani Neng. Neng lama-lama kesepian.

Ya, rejekinya Abah ada di Jakarta.

Kalau di sini, Abah mau kerja apa?

Gajinya juga tidak seberapa.

Bukan karena Abah mau jauh dari Ambu, 'kan?

Nanti kalau kamu sudah punya pacar, pasti lupa dengan Abah.

Sudah tidak kesepian lagi.

Tidak, Bah!

Nanti kalau Neng dapat pacar, Neng akan tetap clingy dengan Abah!

- Clingy? - Clingy.

Apa itu clingy?

Clingy artinya manja!

Lagi pula, Neng juga belum berpikir untuk punya pacar,

- apalagi soal nikah. - Pesan Abah, Neng.

Cari laki-laki yang rajin salat,

bagus agamanya, enak diajak mengobrol.

Bisa buat kamu tertawa,

bisa clingy denganmu.

Assalamualaikum, Norma.

- Waalaikumsalam. - Waalaikumsalam.

- Assalamualaikum, Pak. - Waalaikumsalam.

Saya Irfan, dulu satu SMA dengan Norma.

Oh.

- Kamu tidak bekerja? - Sudah tadi, sif pagi.

Ini lagi disuruh beli jajanan oleh Mama.

Bapak dan Norma suka jajan di sini?

Apem Cukit, kesukaannya Norma.

- Enak, ya, Pak? - Enak!

Nanti saya coba bungkus untuk mama saya, siapa tahu dia suka.

Saya mau beli mi ayam dulu. Maaf sudah mengganggu.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul.

Ha?

Anaknya sopan.

Ganteng juga!

- Abah, bukan! - Nanti bisa "clingy" dengannya.

Kalau sudah selesai, baca hamdalah seperti apa?

Alhamdulillah!

Hati-hati, ya, pulangnya.

Pakai sepatu.

- Aduh! - Jangan

berebut pakai sepatunya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Kita sudah beberapa kali bertemu.

Mungkin ini pertanda kalau aku sudah boleh minta nomor ponsel kamu?

Seharusnya kalau sudah sering ketemu, tak perlu minta nomor ponsel lagi.

Oh, belum ternyata.

Ya sudah, besok aku ke sini lagi, ya?

Siapa tahu besok kamu mau memberi nomor ponsel kamu.

Assalamualaikum.

Waalaikumsalam.

Norma, boleh aku antar pulang?

- Tidak. - Kalau besok?

Kalau besoknya lagi? Besoknya setelah besok?

Besoknya setelah besoknya lagi?

- Tidak! - Cie!

- Hayo! - Bude, seperti Abah saja.

Aku ini kakaknya abahmu. Ya, pasti sama.

Duluan, ya.

Umi tanya Pak Unim. Siapa tahu bisa antar Neng pulang.

Tak usah, Umi. Neng jalan duluan saja.

Tapi, Neng, ini sudah malam. Aman atau tidak pulang sendirian?

Aman, Umi!

- Eh, Irfan! - Saya izin antar Norma pulang, Umi.

Aduh. Bukan mahram, Umi.

Begini saja, ini darurat.

Irfan, Umi titip Norma demi keamanannya.

Tapi Umi minta tolong,

- kamu jangan macam-macam. - Siap, Umi!

Benar, ya. Ini amanah, kamu tidak boleh macam-macam.

Iya, Umi.

Aku beruntung, dapat amanah dari Umi Pia

untuk mengantarmu pulang.

Jangan dikecewakan, amanahnya.

Jalan kaki tidak apa-apa, 'kan?

Kalau tidak salah, ini motor kamu waktu SMA, ya?

Aku ingat dulu kamu sering kebut-kebutan pakai motor itu.

Aduh, yang diingat yang jeleknya saja.

Dulu banyak yang menaksir kamu.

Kamu juga?

Tidak!

Pelan-pelan!

Sudah sampai, Irfan.

- Terima kasih, Irfan. - Sama-sama.

Norma, sebentar.

Ini untuk kamu.

Terima kasih.

Aku boleh pamit pada bapakmu?

Abah tidak ada, lagi kerja di Jakarta.

Kalau Ibu?

Ambu jam segini sudah tidur.

Masuk, Norma!

Irfan!

Assalamualaikum, Ibu.

- Saya Irfan. - Norma!

Maaf, ya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Perempuan jam segini diantar laki-laki,

malu dengan tetangga.

Kenapa Ambu tak pernah izinkan Norma punya teman laki-laki?

Baru didekati laki-laki sebentar, sudah berani melawan.

Norma bukan melawan, Ambu.

Norma cuma bertanya.

Kenapa Ambu tak pernah suka pada teman laki-laki Norma?

Apa tak ada satu pun yang baik?

Ambu yang mengandungmu, melahirkan kamu,

membesarkanmu.

Ambu lebih tahu!

Kenapa pesan aku tak dibalas?

Aku datang ke masjid, kamu sudah pulang.

Ada apa?

Tak apa-apa, sedang ingin pulang sendiri.

Kamu dimarahi Ambu?

Benar? Bohong masuk neraka.

Ambu tidak suka. Jadi, sudahlah.

Kamu tak usah temui aku lagi.

Aku tidak mau kamu dimarahi Ambu.

Eh.

Tunggu, Norma!

Mungkin Ambu tidak suka karena belum kenal.

Siapa tahu nanti kalau sudah kenal, Ambu jadi suka padaku.

Aku ini calon menantu yang baik.

- Sembarangan. Calon menantu apa? - Aku serius!

Aku sedih kamu bicara begitu.

Aku kira kamu akan memberiku kesempatan.

Tapi kita belum terlalu kenal.

Bagaimana mau kenal, kalau pesan saja tidak dibalas?

Norma…

Jadikan hubungan kita serius, ya?

Mau, ya?

Sungguh?

Alhamdulillah, ya Allah! Terima kasih doaku dijawab!

Kenapa?

Kamu serius bisa menghadapi Ambu?

Aduh. Ternyata begini rasanya dikhawatirkan calon istri?

Aku serius!

Harus siap, Neng. Bismillah, ya?

Kita jalani bersama.

Aku bantu, ya, Bu?

Sabar!

Ambu.

Ambu, ini ada titipan.

Dari Irfan, untuk Ambu.

Diterima, ya.

- Bibi! - Ya, Den.

- Duduk dulu, Neng. - Aduh.

Aduh.

Ma.

Aa Irfan!

Firza, kamu lihat akta kelahiran kakak kamu di mana?

Tidak!

Main gim terus.

- Assalamualaikum, Tante. - Waalaikumsalam.

Kamu sedang menunggu…

Irfan, Tante.

Oh. Temannya Irfan?

- Calon Istri! - Ha?

Calon istri? Serius?

Alhamdulillah,

ada yang mau dengan kamu.

Bercanda, Neng.

Maaf, namamu siapa?

Assalamualaikum, Teh Mira.

Sebentar, ya. Irfan lagi ada tamu.

Maaf, Neng.

Ini Mira, tetehnya Irfan, lagi mencari akta kelahiran, tapi belum ketemu.

Sebentar, ya? Di mana, ya? Mama lupa.

Firza, kamu sudah makan?

Mama sudah belikan kamu batagor. Jangan lupa dimakan, Nak.

- Lupa taruhnya di mana. - Ma.

Aduh, berat sekali!

- Ma… - Aduh. Apa, Irfan?

Temui sebentar, Ma.

Nanti dulu, ini teteh kamu.

Assalamualaikum, Teh?

Aa minta maaf soal yang tadi, ya.

Cara orang tua menyayangi anaknya itu berbeda-beda, Aa.

Kalau kata Abah begitu.

Berarti, Ambu itu sayang pada kamu.

Makanya beliau ingin memastikan kalau aku benar berjuang untuk kamu.

- Assalamualaikum, Bu. - Waalaikumsalam.

Kalau boleh, ada yang ingin saya sampaikan.

Saya mohon, Bu.

Saya serius dengan Norma. Saya sayang pada Norma.

Saya janji akan membahagiakan Norma,

menjaga Norma, tak akan menyakiti Norma.

Siapa yang izinkan kamu masuk?

Norma, Bu.

- Kalau begitu, sekarang keluar. - Ambu.

Ini rumah saya.

Ambu!

Ambu tidak mau bahas lagi.

Kamu pilih Ambu atau dia?

Kenapa harus memilih, Ambu?

Norma sayang pada Ambu.

Tapi Norma juga ingin serius dengan dia.

Ambu tidak suka!

Ambu tidak suka dia, atau tidak suka Norma serius dengan dia?

Ingat apa kata Umi Pia kemarin?

"Ibumu, ibumu, ibumu."

Kalau ibumu bilang tidak, artinya tidak!

Tapi Umi Pia juga pernah bilang,

Rasulullah kalau melarang itu pasti ada alasannya.

Norma tidak mengerti alasan Ambu.

Ambu tak perlu alasan!

Jadi, mau putus?

Aku tak ingin durhaka.

Kamu masih mau usaha untuk kita?

Kita ke Jakarta, ya? Ketemu Abah.

Nanti Abah yang akan jadi wali nikah kita.

Assalamualaikum.

Abah.

Waalaikumsalam.

Waktu di alun-alun,

Abah masih khawatir kamu hanya mempermainkan Norma.

Tapi kamu niat mengajak Norma ke sini.

Abah yakin kamu serius.

Apalagi, Abah juga sudah tahu

banyak teman laki-laki Norma yang tidak kuat menghadapi Ambu.

Saya sungguh mencintai Norma, Bah.

Neng juga mencintai Irfan, Bah.

Insyaallah, Neng mau serius.

Ya, alhamdulillah kalau sudah saling cinta.

Kalau kalian sudah yakin,

kita segerakan.

Kalian urus pernikahannya, nanti Abah yang urus Ambu.

Alhamdulillah.

Abah sudah setuju?

Mau melangkahi Ambu?

Ambu, Abah tidak mau ribut.

Tidak mau ribut.

Norma itu sudah cukup umur.

Kalau ada jodohnya, tidak baik kalau dihalangi.

Tahu dari mana itu jodohnya?

- Yakin itu akan seumur hidup? - Siapa yang tahu seumur hidup atau tidak?

Tapi kalau sudah sama-sama cinta, masa kita halangi?

Masa tidak kita dukung?

Kita menikah tanpa cinta juga baik-baik saja.

Baik-baik bagaimana?

Hubungan seperti ini kamu bilang baik-baik saja?

Kamu menentang seperti ini karena peduli pada Norma?

Atau karena kamu tak mau lihat dia bahagia?

Bahagia? Tahu apa dia soal bahagia?

Dia lebih tahu soal itu dibanding kamu.

Pokoknya aku tidak setuju!

Baik!

Abah akan tetap menikahkan mereka,

dengan atau tanpa persetujuan Ambu!

Irfan Wardhana bin Agus Wardana,

saya nikahkan engkau dengan anak saya,

Norma Risma binti Abdul Mahmud,

dengan maskawin uang 1.312.203 rupiah

dan emas sepuluh gram, dibayar tunai.

Saya terima nikah dan kawinnya Norma Risma binti Abdul Mahmud

dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.

Sah.

Alhamdulillah! Ya Tuhan kami, berikanlah kami

kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat,

serta lindungilah kami dari siksa api neraka.

Abah minta tolong, jaga Norma dan Ambu, ya?

Semuga kalian selalu bahagia.

Ambu…

Abah…

Terima kasih sudah menjaga Neng dari kecil.

Mohon doanya, ya, Abah.

Semoga Neng selalu bahagia, ya.

Ambu…

Ambu orang terpenting dalam hidup Neng.

Neng sayang Ambu.

Mohon doanya, Ambu.

Neng sudah menyakiti Ambu…

…tapi Ambu sudah maafkan Neng.

Semoga pilihan Neng itu tepat.

Satu, dua, tiga!

Hai, Istri.

Hai, Suami.

Lucu. Baru kali ini, sikat gigi saja membuatku sangat bahagia.

Untuk uang muka umrah.

Neng ingin mengajak Ambu.

Lolipop dari Aa dipajang juga, Neng?

Iya.

Aku tak menyangka kita bisa menikah.

Alhamdulillah, akhirnya Ambu merestui.

Kita tidak mau pindah ke kontrakan saja?

Agar Aa juga nyaman.

Sepertinya tidak usah, Neng.

Nanti Ambu malah makin tak suka padaku.

Lagi pula, aku sudah janji pada Abah, akan menjaga Ambu.

Ibu kamu sekarang ibu Aa juga.

Percaya padaku.

Insyaallah, pelan-pelan Ambu bisa menerima aku.

Kita jaga Ambu bersama, ya?

Aku malu!

Aa!

Maaf, Neng, Aa tinggal pagi-pagi.

Maklum, pegawai sif.

Malu.

- Aku berangkat, ya? - Ya.

Hati-hati, ya.

Ayo, nanti telat!

Hati-hati, ya. Nanti barang di sana tolong dinaikkan juga.

Siap, Pak Irfan!

- Fajri. - Iya, Pak Bos?

- Barang yang tadi siang sudah sampai? - Sudah, Pak Bos.

Semuanya, ayo kumpul di tengah!

Teman-Teman, karena kita akan ganti sif, tolong semua dicek agar rapi. Ya?

Ingat moto supermarket kita, "Jujur dan amanah."

Oke, Semuanya. Selamat kembali bekerja.

Ayo kerja lagi, semangat!

Ada pengantin baru.

Kamu makin kekar, Fan. Rajin olahraga, ya?

- Jangan bercanda begitu. - Bercanda apa? Aku serius. Kekar!

Fan, bagaimana? Lebih enak dia atau aku?

- Jawab, aku bertanya. - Aku boleh minta laporan minggu ini?

Iya, nanti aku berikan. Aku tanya, lebih enak dia atau aku?

Assalamualaikum.

Waalaikumsalam. Neng, kok sudah sampai?

Kita janji ketemu pukul tiga.

Oh, iya!

Perkenalkan, Neng. Ini Etni, tim aku.

- Hai, aku Etni. - Norma.

Selamat atas pernikahannya. Maaf, kemarin tidak datang.

Irfan begitu, tidak mengundang mantannya.

Ya sudah. Aku ke sana dulu, ya.

Mau pergi sekarang, Neng?

Ayo.

Mau ikut ke dalam? Aku beres-beres sebentar.

Aku di sini saja.

Ya sudah. Sebentar, ya.

Aa sudah berapa lama putus dari Etni?

Wah. Kapan, ya?

Tidak ingat, Neng. Sudah lama.

Ya sudah.

Hati-hati, ya? Kalian masih satu lingkup kerja.

Namanya juga mantan, pasti pernah ada perasaan.

Senangnya diperhatikan istri.

Bagaimana, Neng? Tawaran Rika sudah kamu jawab?

Rika sudah bertanya terus.

Tapi Ambu belum mengizinkan. Tidak tahu kenapa.

Kenapa, ya? Tawarannya lebih besar, 'kan?

Kalau menurut Neng, itu karena Ambu takut tak ada yang bantu membuat mi ayam lagi.

Biasanya Neng yang bantu setiap siang habis mengajar TPA.

Nanti kalau misalnya Neng jadi guru SD, pulang pukul empat atau lima sore.

Aa.

Mi ayam ini memang enak, ya?

Tapi kalau menurut Neng, tak ada yang mengalahkan mi ayam Ambu!

Mi ayam Ambu itu kecil-kecil, legit, gurih.

Iya, Neng.

Aa, bagaimana kalau kita buatkan warung mi ayam untuk Ambu?

Nanti modal usahanya dari uang tabungan umrah Neng dulu.

Kalau misalnya Neng sudah kerja dengan Rika, baru Neng menabung lagi.

- Bagaimana? - Ide bagus, Neng.

Coba, Bu. Percaya kata Norma.

Masih lebih enak mi ayam Ambu.

Bagaimana? Benar, 'kan? Lebih enak punya Ambu.

Yang begini saja ramai, Bu. Bagaimana kalau Ambu yang dagang?

Jadi begini, Bu. Norma dan Irfan punya ide.

Bagaimana kalau Ambu buka warung mi ayam?

Pasti ramai.

- Modalnya dari mana? - Dari Norma.

Norma punya tabungan.

Ayolah, Ambu.

Norma ingin semua orang bisa merasakan mi ayam buatan Ambu.

Nanti kita beri nama, namanya "Mie Rina".

Aa Irfan jago mengecat! Cocok!

Aa Yahya.

Irfan, saya disuruh Bude Fitri ke sini untuk membantumu. Ada yang bisa dibantu?

Mungkin bereskan bagian dalam dulu. Tidak apa-apa?

- Merepotkan, tidak? - Tidak apa-apa!

- Hasan dan Akang, ikut saya! - Iya.

- Terima kasih, Aa! - Sama-sama.

- Assalamualaikum, Neng. - Waalaikumsalam, Aa.

Ambu di mana?

Di dapur.

Pak Bos!

Hei!

Hei, Pak Bos!

- Ini sudah semua? - Beres, Pak Bos.

- Ini yang terakhir. - Hei!

- Sini! - Hei, bantu!

Mana lagi, Neng?

Ini miring, tidak?

Neng malah bengong.

Ditanya, ini miring atau tidak?

Bismillah!

Bagus, ya?

- Keren, Bos! - Sukses, ya, Rina!

Aku ikut senang! Ya?

Selamat, Ambu! Lancar terus usahanya!

- Terima kasih, ya. - Ya.

Terima kasih, ya, Aa. Sama-sama.

Silakan.

- Permisi, Pak, Bu. - Terima kasih.

- Dimakan, ya, Mbak. - Silakan dinikmati.

- Ma? - Ya, Sayang?

Assalamualaikum. Terima kasih sudah datang.

Waalaikumsalam. Sama-sama.

Ambu!

Assalamualaikum, Besan!

- Selamat. - Terima kasih.

Wah!

Ramai sekali! Semoga laris manis, ya.

Silakan duduk dulu. Nanti diantar minya, cicipi.

Dibungkus saja, ya?

Karena si Mira, kakaknya Irfan, baru pulang dari Jakarta.

- Lain kali saja, ya? - Tidak makan di sini saja, Ma?

Kakak kamu itu belum makan. Kalau sakit maag dia kambuh, bagaimana?

- Tidak apa, ya, Ambu? Lain kali. - Ambu!

- Selagi libur, aku bantu Ambu. - Menantu rajin.

Neng besok ada rapat pagi.

Aa masih lama?

Ya sudah, Aa antar saja. Sebentar lagi selesai.

Neng pamit duluan saja ke dalam.

Ambu, Neng pulang duluan tak apa-apa, ya?

Mau menyiapkan berkas untuk rapat guru besok.

Ya, tak apa-apa.

- Bude, pulang dulu. - Ya, hati-hati!

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Tunggu di motor, ya, Neng.

Bude.

Ambu, aku antar Norma dulu, ya? Nanti ke sini lagi, jemput Ambu.

Tidak usah, Ambu pulang bersama Bude saja.

Tak apa-apa, bersama aku saja. Cuma mengantar sebentar.

Tangan Ambu wangi, padahal seharian memegang mi ayam.

Alah, paling wangi daun bawang.

Benar, Bude. Wangi enak. Masa wangi daun bawang?

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Neng! Tunggu Aa, Sayang!

Astagfirullah!

Ya Allah!

Ambu tak apa-apa?

Maaf, Ambu. Lubangnya tak terlihat.

Ya Allah!

Pegang yang kencang, Ambu.

- Ambu, Irfan bantu, ya. - Tidak usah!

Tidak apa-apa, Ambu. Ambu sudah buka sejak pagi, pasti lelah.

Wah, lipstik dari aku dipakai, Ambu?

Bagus, Ambu. Cantik. Bersinar.

Lapar.

Sama, dari tadi.

Wah! Pak Bos kita memang sangat baik.

Ditraktir, dilayani!

Terima kasih, Pak Bos!

- Terima kasih. - Pindah.

Pindah, duduk di situ yang kosong. Biar Irfan di sini, jadi cepat.

- Sini, duduk sini. - Pak Bos.

Sini. Duduk sini.

Fan. Sudah lama, ya, tidak duduk bersebelahan?

Etni.

Jangan digoda. Suami orang itu!

Biar saja, Fajri. Dianya saja masih mau digoda.

Di depan mertuanya saja dia sok kalem.

Ya, tidak? Kalau lagi berdua dengan aku?

- Sudah, makan. Berisik. - Kamu juga makan!

Enak, tidak?

- Ini enak sekali! - Jelas enak!

ETNI

Sedang apa, Sayang?

Tidak.

Kamu cek ponsel Aa?

Tidak!

Bohong itu dosa.

Kata Ambu…

…Aa bermesraan dengan Etni.

Ha? Kapan?

Tadi, di warung.

Ya Allah, Sayang! Ambu pasti salah lihat.

Lagi pula, Etni memang begitu, genit ke semua laki-laki, bukan cuma Aa.

Benar? Kalau bohong, dosa!

Benar. Kamu tak percaya pada Aa?

Neng cuma mau mengingatkan, Ambu itu perhatian pada kamu

Ya. Istirahat lagi, ya?

Ambu?

Ya, Fan?

Norma sudah tidur. Aku tak bisa tidur.

Aku boleh ikut menonton?

Ambu, soal tadi siang,

aku sungguh tak ada apa-apa dengan temanku itu.

Begitu, ya?

Benar, Ambu. Aku cuma mau buktikan kalau aku adalah menantu yang baik,

tak mungkin macam-macam.

Aku tak mungkin menyakiti hati Ambu.

Iya.

Dibuktikan saja.

Duluan, ya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

- Bagaimana, Teh? Sudah tidak telat, 'kan? - Aa Fajri memang hebat.

- Mau Neng bantu? - Tidak usah!

Biar saya saja.

Perlu dibantu ke dalam?

Tak usah. Pak Unim sudah ke sini. Biar Pak Unim yang masukkan ke dalam.

- Saya jalan, ya, Teh. - Aa!

Saya punya ongkos.

Bukan, Karena saya bingung mau tanya ke siapa.

Pas sekali ada Aa Fajri.

Silakan.

Irfan kalau ke…

Etni itu bagaimana? Kalau di tempat kerja.

Sama saja. Maksudnya, dengan yang lain juga biasa saja.

Aa Irfan atau Etni yang lebih dulu kerja di situ?

Irfan! Aa Irfan!

Iya.

Berarti, Etni direkrut Aa Irfan?

Iya, Teh.

Ya sudah, terima kasih.

Maaf, tolong jangan bilang ke Aa Irfan saya bertanya ini ke Aa Fajri.

- Iya, Teh. Saya pamit, ya. - Iya.

Ya ampun, panas.

Permisi.

Astagfirullah. Permisi, Teh.

Maaf, Teh. Baru belajar menyetir!

- Hati-hati! - Ya.

UNGGAHAN - DISUKAI OLEH

ETNI PUSPITA

UNGGAHAN - DISUKAI OLEH

Assalamualaikum.

- Waalaikumsalam. - Neng? Belum tidur, Sayang?

Neng siapkan handuk dan air hangat, ya?

Aa langsung mandi.

Sudah makan atau belum?

Eh, Ambu. Mau ke kamar mandi?

Iya.

Silakan.

Aa.

Hmm?

Bisa jelaskan ini?

Tak ada yang Aa balas, 'kan? Etni memang seperti ini.

- Bukan cuma kirim ke Aa. - Tapi Aa sudah punya istri!

Harusnya kalau melihat pesan seperti ini, jangan didiamkan! Harus lebih tegas!

Kita bisa tak usah bahas ini dulu? Aa lelah.

- Kalau tak dibahas sekarang, kapan? - Aa lelah!

Neng tahu kenapa Aa pulang telat?

Motor Aa mogok, Aa dorong, kehujanan, basah!

Besok mesti berangkat lebih pagi, karena motor mau dimasukkan bengkel.

Ini malah dicecar pertanyaan tidak penting begini.

Ini penting bagi Neng.

Neng takkan begini kalau Aa jujur sejak awal, cerita semuanya.

Aa tidak membohongi Neng!

Tapi Aa tidak bilang kalau Etni mantan Aa.

Aa yang merekrut Etni. Neng tidak bisa kalau ada rahasia begini.

Siapa yang bicara begini padamu? Fajri?

Kalau masalah rekrut, ada banyak yang Aa rekrut, bukan cuma Etni.

Ya sudah.

Kalau banyak yang mau kerja, kenapa harus Etni yang Aa rekrut?

Sudah, Neng. Kita tak usah bahas ini sekarang. Percuma

Kamu sedang kekanak-kanakan. Aku akan selalu salah. Pusing, tahu?

Kamu kenapa?

Maaf, Ambu. Berisik, ya?

Sakit?

Masuk angin, sepertinya.

Minum minuman hangat, ya?

Diminum agar lebih enak.

Terima kasih, Ambu.

- Tak usah, Ambu. Tak apa-apa. - Jangan sampai sakit. Diminum.

Kenapa tidur di luar?

Lagi ribut?

Soal Etni, Bu. Si Norma salah paham.

Aku tak mengerti harus jelaskan bagaimana lagi.

Salah aku di mana, ya?

Memang harus sabar menghadapi Norma, terlalu dimanja oleh bapaknya.

Mau muntah? Dikerok, ya?

Tidak usah, Ambu. Tak apa-apa.

Atau dibalur saja. Boleh, Bu?

- Panggil Norma, ya? - Tidak usah, Bu.

Tak usah, tak apa-apa.

Sini, dibuka kausnya.

Sudah.

Enak sekali, Bu. Terima kasih.

Sudah lebih enak?

Lebih enak karena lihat Ambu senyum.

Cantik.

- Maaf, Ambu, maksud aku… - Terima kasih.

Sudah lama tak ada yang bilang Ambu cantik.

Sudah berkeringat?

Berarti sudah lebih enak?

Maaf, Ambu.

Rina, Teteh pulang dulu, ya?

Pulangnya tidak nanti saja, menunggu hujan reda?

Tidak, nanti tambah deras hujannya.

Lagi pula, motorku masih di bengkel.

- Ya sudah, hati-hati, Teh. - Iya.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Aduh, hujannya deras sekali.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Kenapa hujan begini ke sini? Minya sudah habis.

NORMA - TELEPON MASUK

Kamu tidak pulang saja? Nanti Norma mencarimu.

Dia sudah sejak tadi di rumah.

Nanti saja, Ambu. Di rumah sedang tidak enak.

Ambu percaya padaku, tidak? Aku sudah berusaha untuk berubah.

Demi Norma, demi Ambu.

Tapi kalau Ambu saja tak percaya padaku…

Ambu percaya pada kamu.

Untuk aku sekarang, yang terpenting Ambu percaya padaku.

Karena lebih sulit meyakinkan Ambu, daripada meyakinkan Norma.

Aku kagum pada Ambu.

Ambu itu perempuan kuat, tegas.

Sama sekali tidak plin-plan.

Aku tak mengerti kenapa Abah menyia-nyiakan Ambu.

Kamu cantik pakai lipstik warna ini.

Maaf, Ambu.

Aku tak bisa bohong… Ambu merasakannya juga, 'kan?

Pulang!

Pulang sekarang!

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam. Aa.

- Neng buatkan teh, ya? - Duduk dulu, Neng.

Aa?

Aa memang salah, tidak cerita tentang Etni.

Tapi Aa sama sekali tak ada niat jahat.

Aa cuma tak mau Neng sakit hati, karena memikirkan hal yang tak perlu.

Sekarang Aa mau mengaku sekalian…

Bahwa mantan Aa bukan hanya Etni, ada beberapa lagi.

Tapi itu masa lalu, Neng. Masa lalu.

Aa menikahi Neng, karena Aa serius ingin berubah.

Aa ingin jadi saleh seperti Neng.

Aa tak bisa mengubah masa lalu, tapi boleh, ya…

…kita ulang semuanya dari awal, tanpa ada curiga lagi, ya?

Sudah.

Maafkan Neng juga, ya.

Cuma Neng di hati Aa. Cuma Neng.

Aa?

Aa?

Kenapa, Aa?

Maafkan Aa, Neng.

Sudah, istigfar.

Maafkan Aa, Neng. Aa banyak salah pada Neng.

Awas, hati-hati.

Awas, ada tangga.

- Pelan-pelan. - Pelan-pelan!

Pelan-pelan. Ya.

Siap-siap, ya.

Satu, dua, tiga!

Eh? Apa ini, Neng?

Sekarang Aa tak perlu mendorong motor lagi.

Ini benar untuk Aa?

Iya!

Neng, ini mahal.

Tenang. Neng ada cicilannya.

Alhamdulillah, Neng diterima di SD Nusa Indah.

Benar, Neng?

- Alhamdulillah! Selamat! - Aa!

Masyaallah, Neng! Selamat, Neng!

Nanti motor yang lama Aa masukkan bengkel, lumayan untuk Neng sehari-hari.

Eh! Tapi maaf.

Ini masih atas nama Neng, karena kemarin pakai KTP Neng.

- Tak apa-apa, Neng. Peluk! - Coba dulu.

Naik, Neng!

Ayo.

- Mau ke mana kita? - Pegangan!

Hore, motor baru!

Aa juga punya kejutan untuk kamu.

Sebelum kamu masuk kerja, kita bulan madu, ya.

Beli camilan dulu, Neng.

Aa. Ini Abah.

Angkat.

Assalamualaikum, Bah.

Lagi apa?

Ambu?

Sudah selesai, Neng?

Ayo.

Kenapa?

Bukan apa-apa.

- Kita makan siang dulu, ya? - Ayo.

Neng cantik sekali!

Kenapa, Aa?

Bukan apa-apa, Neng.

Kenapa?

Aa?

Kita istirahat saja, Neng. Sepertinya Aa tidak enak badan.

- Assalamualaikum. - Assalamualaikum.

Waalaikumsalam. Wah, pas waktunya.

Pas Abah mau pamit.

Besok saja, Bah. Kalau pulang sekarang, nanti sampai Jakarta terlalu malam.

Tak apa-apa, karena besok banyak barang yang datang.

Koh Akin suka bingung kalau Abah tidak ada.

Biar Irfan antar, Bah?

Tak usah, Abah sudah pesan mobil travel.

Ambu.

Sepertinya itu mobil travel-nya. Oh, iya!

- Abah ambil tas dulu, ya. - Aku saja, Bah.

Iya.

- Bagaimana pelesirannya? - Abah ini.

Ambu…

Besok-besok kalau pelesiran lagi, Abah diajak, ya?

Sudah, Bah!

Aa, ayo. Ditunggu.

Iya, Neng.

Ternyata mobil travel-nya kecil.

Abah.

Iya. Terima kasih, Irfan.

Abah titip Norma, ya? Satu-satunya kesayangan Abah.

Insyaallah, Bah.

Abah tidak mau pamit pada Ambu dulu?

Abah titip. Sampaikan Abah pamit, ya.

Wah, Abah kira mobil travel-nya besar.

- Apa Abah muat? - Muat, Abah kecil.

Ya, beri tahu tukang plafonnya, bagian mana yang mau dibetulkan!

Begitu saja tidak bisa?

Rin.

Teteh pulang dulu. Mau menunggu tukang plafon.

Yahya tak bisa diandalkan!

Kalau menguntit orang jago, seperti intel.

- Tapi menunggu tukang saja tidak bisa. - Sudah semua, Bu?

- Terima kasih, ya. Sama-sama. - Pas, ya?

Pesananku sudah siap, Bu?

Teman-temanku rindu mi ayam Ambu.

Aku juga rindu.

Kemarin kenapa? Cerita padaku.

Harusnya kita tak melakukan itu.

Kenapa menghindar terus?

Apa cuma aku yang merasakan ini?

Istri kamu itu anakku!

Jangan buat kacau pikiranku!

Kalau disuruh memilih, aku juga tak mau merasakan ini.

Astaga!

Gara-gara Yahya, dompetku jadi ketinggalan.

Bodoh sekali!

Istirahat?

Ditutup?

Pesanannya sudah, 'kan?

Rin?

Rina?

Terus aku harus bagaimana sekarang? Ha?

Ha?

Jawab!

Kenapa ribut sekali?

Kenapa ini? Kok ribut?

Aduh! Aku kejepit!

Rin? Ada apa?

- Ada tikus! - Ha? Tikus?

- Ada tikus, Bude! - Di mana, Rin?

- Tikusnya besar, Bude. - Rin! Aku takut, Rin!

- Ini tikusnya, Bude. Mau lihat? - Irfan! Tidak!

Buang yang jauh, Fan. Aku takut.

Aduh!

Norma tidur, aku cuma mau bicara dengan kamu…

Setelah ini, kamu mau lupakan semua itu, terserah. Tolong, sebentar.

Aku tak bisa melupakan yang kemarin.

Lalu apa?

Kita bagaimana?

Aku tak bisa begini terus.

Tak ada yang minta kamu begini terus.

Keluar!

Lihat aku.

Katakan padaku kamu tak merasakan apa yang aku rasakan.

Terus kita mesti apa?

Jujur pada perasaan kita.

Ambu?

Ambu?

Norma masuk, ya?

Ambu tak apa-apa?

Tak apa-apa.

Cuma lelah saja.

Pasti lelah, Ambu. Warung lagi ramai.

Ambu belum sempat istirahat.

Mau Norma pijat? Selagi Aa Irfan lembur?

Tidak usah. Sudah, kamu tidur saja.

Besok hari pertama mengajar, 'kan?

Sudah sana, balik.

Ya sudah.

Kalau ada apa-apa, bilang Norma.

Assalamualaikum, Neng. Aa pulang.

- Waalaikumsalam. - Neng, kamu belum tidur?

Menunggu Aa?

Sini, peluk dulu.

Aa lelah? Sudah makan, belum?

Kebetulan belum makan.

Kamu mau masak? Aa temani kamu masak, ya?

Aa.

Makan dulu, yuk. Neng masak satai bandeng.

Untuk bekal saja, Neng. Kesiangan.

- Ambu mana, Neng? - Sudah pergi, pagi-pagi.

Subuh sudah mandi.

Katanya mau ke pasar dulu sebelum ke kios.

Segini nasinya?

Spesial untuk Aa.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Aa?

Neng rasa sudah saatnya kita punya momongan, Aa.

Malam ini libur dulu, ya, Neng?

Besok Aa harus berangkat pagi.

Neng…

Tak apa-apa, 'kan?

Kenapa pulang siang?

Apa?

Sudah, nanti dia pulang.

Baru pukul dua. Masih ada dua jam lagi, 'kan?

- Ini, Neng! - Terima kasih, Bu.

Terima kasih, sama-sama.

- Assalamualaikum. - Eh? Waalaikumsalam.

- Dari mana, Fan? - Dari kantor, Bude.

Aku mau mi ayamnya satu, lapar sekali!

Iya.

Itu rambut kenapa basah? Kehujanan di mana?

Biasa, Bude. Habis wudu, anak saleh.

Memang anak saleh. Pasti banyak wudu, ya?

Itu dia!

Di sana!

Di mana?

Ayo!

- Ini! - Tenang.

- Ini kamarnya? - Iya!

Pelan-pelan.

- Tidak kelihatan! - Ya?

Tidak mau!

- Biar kelihatan! - Apa kau ini?

Ayo, cepat!

- Sudah kelihatan? - Sut! Diam.

Ayo!

- Ada suara perempuan. - Bagaimana suaranya?

- Yang benar? - Iya.

Rekam!

Beri tahu aku, ya.

Cepat!

Nah, jatuh!

Bagaimana, ya?

Waduh!

Kalian sedang apa?

Rin.

Ini, mandikan… membersihkan…

Ponselnya kotor. Layarnya, tadi disuruh Bude.

Disuruh Bude, apa?

Begini, Rin. Di dalam kamarnya Irfan, ada suara perempuan. Benar.

Bagaimana tadi?

Ayo kita gerebek!

- Bude! - Ayo kita gerebek!

Ini pasti dengan si Etni itu!

Firasatku selalu kuat, tak pernah meleset!

Di mana kamarnya Irfan?

- Itu kamarnya? - Iya.

Fan, keluar kamu!

- Fan? - Keluar!

Kalau kau tak keluar, aku dobrak pintu ini!

Dobrak, ya!

Fan!

Ada apa?

- Ada siapa di sini? - Ada siapa?

Ada aku.

Tadi si Yahya dengar ada suara perempuan di sini. Ya, 'kan, Yahya?

- Perempuan, Bude? - Cari!

Buka semua lemari!

Bawah kolong.

Ada apa ini, Bude?

Bude.

Irfan, kenapa kamu setiap siang pulang?

Istirahatnya satu jam, Bude. Memang salah istirahat di rumah?

Pasti ada yang kamu sembunyikan.

Yahya mendengar di sini ada suara perempuan.

Samar-samar, sepertinya…

Kita cari di luar!

Ayo!

Awas, ya. Pokoknya aku cari.

Kalau sampai ketemu, tak akan kuampuni! Ayo cari!

- Ayo cari ke belakang. - Ya.

Bude, aku cari ke kamar mandi.

Ya. Cari!

Di mana, ya?

- Tak ada. - Ha?

Terus dia di mana?

Sudah, mendingan sekarang kita masuk, minta maaf. Ayo.

Hei, malah diseret-seret!

Maaf mengganggu istirahat.

Bude minta maaf, ternyata kami salah dengar.

Bagaimana ini? Seperti anak kecil!

Maaf sudah ganggu istirahatnya. Tidur saja.

- Ayo, Bude. Ayo. - Seperti anak kecil!

Seprai dan selimutnya sudah aku ganti.

Aku yakin Irfan itu bohong! Firasatku ini kuat!

Bude, mana buktinya? Kita tak ada bukti, Bude!

Kamu sendiri mendengar suara perempuan di dalam!

Iya, kalau itu perempuan asli. Kalau perempuan jadi-jadian, bagaimana?

- Jangan menakutiku! - Sini, Bude.

Anggap saja firasat Bude benar. Kita berdua bicara ke Norma.

Norma dan Irfan cerai karena firasat Bude. Apa Bude mau menanggung dosanya?

Sebaiknya Bude fokus pada ponsel Yahya. Ini mati total.

Bude mau belikan, 'kan? Menggantinya?

Stop!

- Menurut firasat Yahya, bisa diperbaiki. - Perbaiki sana!

Permisi.

- Rumah digeledah? - Iya, Neng!

"Mengaku kamu! Ada siapa di sini?"

"Yahya, periksa lemari, periksa kolong!"

Terus Bude sampai bilang, "Kamu kenapa setiap siang pulang ke rumah?"

Aku jawab saja, "Istirahatnya satu jam, Bude.

Memang salah istirahat di rumah?" Iya, 'kan?

- Mau Neng buatkan teh? - Boleh. Terima kasih, Neng.

- Kenapa, Neng? - Tak apa-apa.

- Yang meninggal siapa? - Putri.

Putri? Yang seumuran anak saya?

Iya, anak Haji Maleh.

Rasulullah mendapatkan gelar Al-Amin, yang artinya?

- Dapat dipercaya. - Pintar.

Nah, yang ada di papan tulis ini

adalah sifat-sifat nabi yang harus kita pelajari dan juga kita teladani, ya?

- Abah. - Baik.

Alhamdulillah.

Selesai juga hari ini. Rapi-rapi, ya.

Ya, Bu.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Halo, Abah. Assalamualaikum.

Waalaikumsalam, Neng. Kamu di sana bagaimana?

Alhamdulillah. Neng aman, Bah.

Dengan Irfan baik-baik saja?

Baik-baik saja. Kenapa, Abah?

Tidak apa-apa, Abah cuma tanya kabar.

Ya sudah, kalau begitu.

- Umi. - Ya Allah, Neng. Lama tidak bertemu.

- Umi rindu. - Umi. Sehat, Umi?

Alhamdulillah, sehat!

- Aku bersama Ambu. - Ambu.

Umi, Neng pulang duluan, ya?

Tapi nanti main lagi ke sini, ya?

Jangan gara-gara mengajar, tak bertemu Umi.

Iya, kapan-kapan Neng ke sini lagi.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam. Mari. Waalaikumsalam.

Kalau menurut Ambu, Aa Irfan berbohong pada Norma, tidak?

Norma kepikiran terus,

kenapa tiap siang dia pulang ke rumah, tapi tidak mengabari Norma?

Kenapa kamu tidak tanya pada dia?

Takut, Ambu. Nanti Norma malah dibilang curiga terus.

Ambu sudah bilang,

Ambu tak setuju kamu menikah dengan dia.

Terbukti, 'kan?

Curiga, 'kan, kamu?

Assalamualaikum.

Aku tahu tempat kos kamu dari Fajri.

Siapa yang kuat tidak jatuh cinta pada Irfan?

Dia bisa bicara gombal, tapi rasanya bukan gombal.

Kita merasa dia tulus. Benar, 'kan?

Aku pikir dia anak baik-baik.

Sampai akhirnya, aku temukan pesannya.

Sakit sekali saat membacanya.

Karena perempuan itu sama sekali tidak seperti pelakor.

Dia malah mirip denganmu.

Pakai kerudung panjang, lemah lembut, punya sifat keibuan.

Makanya waktu Irfan menikah denganmu, aku tidak kaget.

Karena kau perempuan idamannya, Norma.

Cuma yang membuatku makin kaget,

ternyata dia masih ada satu wanita lain.

Dan ya, penampilannya sama sepertimu.

Kau seharusnya jangan tidak percaya diri, Norma.

Kamu maunya apa?

Karena akhirnya Irfan mendapatkan apa yang dia mau.

Maunya kamu.

Aduh, yang lagi bahagia.

- Jadi mau beri kejutan? - Jadi!

Aku menelepon Ambu, dari tadi tidak diangkat.

Mungkin warung sedang ramai.

Sebaiknya kamu cepat ke sana.

Ya sudah. Aku duluan, ya. Agar tidak kesiangan.

Salam untuk Irfan, sampaikan "selamat ulang tahun".

Siap, nanti disampaikan.

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

- Mari, Pak. - Silakan.

Firasatku benar, 'kan?

- Aa. - Teh Norma?

- Cari Aa Irfan? - He-eh.

Sudah pulang.

Sudah pulang?

- Dari pukul berapa? - Setengah jam yang lalu.

Oh.

- Wah, bawa kue! - Ya sudah, saya pamit.

- Ya, silakan. - Ya.

Astagfirullah!

Bismillah.

Kamu tahu, tidak? Aku baru sekarang merasakan jatuh cinta.

Waduh, Gusti!

Ini perbuatan apa?

Aduh, Gusti!

Keluar, Irfan!

- Keluar! - Ayo!

Keluar, Irfan!

- Hei! - Keluar, Mesum!

Keluar!

- Keluar! - Buka!

Irfan, keluar!

Ini masih siang! Keluar!

Irfan, keluar!

Keluar!

Sabar, ya. Kuatkan hatimu.

Kuatkan hatimu, Nak!

Fan, keluar!

Aa Irfan?

Aa Irfan?

Aa Irfan!

Aa Irfan!

Aa Irfan!

Aa Irfan?

Buka, Fan!

Aa Irfan?

Sudah.

Neng.

Bu…

Neng!

Aa minta maaf, Neng.

Neng, Aa minta maaf.

Maafkan Aa, Neng. Aa khilaf…

Sejak kapan?

Sejak kapan? Jawab!

Ambu…

Sejak kapan, Ambu?

Sejak buka warung?

Sejak Norma pindah kerja?

Astagfirullah!

Sejak pakai lipstik itu?

Iya, sejak pakai lipstik itu?

Jawab, Ambu!

Jawab, Ambu! Sejak kapan?

Sabar, Nak.

- Sejak kapan? - Sabar.

Sejak kapan?

Sabar.

Ya Allah, salah aku apa?

Ya Allah. Salah apa aku, ya Allah?

Norma!

Perempuan laknat!

Iblis!

Norma!

Masuk!

Berdiri!

Kalian tidak punya hati, ya?

Kalian ini! Aib direkam

seperti itu! Kalian edan, ya?

Edan semuanya!

Bude?

Jijik aku lihat kamu!

Aku tak akan biarkan kamu bertemu Norma.

Jangan pernah kamu telepon, dan jangan lagi kamu menginjak rumah ini!

Pergi!

Begitulah dia.

Aku pergi dulu.

Abah?

Neng salah apa?

Neng salah apa pada Ambu, Bah?

Kenapa Ambu tega pada Neng?

Kenapa Ambu tega pada Neng?

Kenapa, Abah?

Salah Neng apa?

Irfan?

Apa?

Yang kamu sakiti itu anakmu, Rina!

Norma itu anakmu!

Kamu itu ibunya

atau bukan?

Lepas!

Dua puluh lima tahun aku terpenjara di sini.

Aku kerja keras mengurus rumah kamu,

- mengurus anak kamu. - Itu anakmu juga, Rina!

Anakmu!

Aku tak pernah minta anak itu. Keluarga kamu yang memaksa.

Aku tak pernah minta anak itu!

Aku melahirkan anak itu, aku membesarkan dia sendiri.

Kamu ke mana?

Jangan cari-cari kesalahan!

Tidak ada ibu yang waras

yang selingkuh dengan menantunya sendiri!

Perempuan lacur!

Kamu yang membuatku jadi pelacur.

Kamu dan orang tua kamu!

Aku masih 17 tahun.

Orang tuamu memaksa aku, anak 17 tahun, tidur denganmu.

Kamu sudah mengambil masa mudaku.

Separuh hidup aku habis untuk mengurus kamu dan anak kamu.

Beraninya Ambu bicara begitu pada Abah?

Begitu bencinya Ambu pada Abah?

Pada Norma? Sampai tega melakukan hal seperti ini?

Jadi, Ambu menyesal menikah dengan Abah?

Ambu menyesal melahirkan Norma?

Kasihan sekali Ambu.

Hidupnya tak pernah bahagia.

Kami berdua hanya jadi beban bagi Ambu.

Terima kasih, Ambu.

Teirma kasih.

Ambu sudah membuktikan ke Norma,

bahwa Ambu cuma melahirkan Norma, tapi bukan ibu untuk Norma.

Ayo, Abah. Katakan.

Rina Suwanti binti Rudi Darmawan.

Saya ceraikan kamu,

talak tiga!

Penjahat!

Pelacur!

Pelakor!

Mesum!

- Kenapa bisa, ya? - Iya, heran.

Jijik.

Aku tak menyangka kelakuannya.

Geli punya bos begitu.

Iya, amit-amit.

Sama sekali tak disangka.

Jadi orang menjijikkan sekali. Amit-amit.

Terima kasih, Abah,

sudah menemani Neng.

Mungkin kalau tidak ada Abah di sini…

Neng sendirian.

Neng bisa gila.

- Maafkan Abah. - Abah tidak salah.

Kamu tak pernah benar-benar merasakan punya ibu, Neng.

- Ya Allah. Abah. - Maafkan Abah.

Bukan Abah yang salah, Bah. Bukan Abah.

Abah sudah gagal menjaga kalian.

- Abah tak bisa menjaga Ambu. - Tidak!

- Abah tak bisa menjaga Neng. - Tidak!

Harusnya Abah tetap di sini, Neng. Agar semua ini tidak terjadi.

Abah, tidak boleh bicara begitu.

Ibu yang baik tidak akan selingkuh, Bah.

Dia tidak akan berkhianat! Tidak akan!

Sekalipun suaminya tidak di rumah.

Jadi, Abah tidak boleh minta maaf. Bukan Abah yang salah.

Neng tahu…

kenapa Abah merasa sangat bersalah pada Neng?

Sebenarnya, Abah sudah curiga Ambu punya perasaan pada Irfan.

Tapi Abah tidak tega cerita pada Neng.

Abah juga tidak menyangka

suami kamu juga punya perasaan yang sama dengan Ambu.

- Ini salah Abah, Neng. - Cukup, Bah.

- Abah minta maaf, Neng. - Cukup, Bah. Sudah…

Neng…

Neng ingat yang Umi ajarkan?

La yukallifullahu nafsan illa wus'aha.

Allah tak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.

Umi tahu…

Neng sekarang sedang sedih.

Tapi, Neng…

…Neng harus ingat, Neng tidak sendirian.

Innallaha ma'ashobirin.

Allah tak akan pernah meninggalkan Neng.

Ya, Neng?

Yang Neng rasakan sekarang ini cuma benci…

Marah. Marah pada diri Neng sendiri.

Kenapa Neng bisa bodoh sekali, Umi?

Neng sudah tidak kuat bertemu Ambu.

Neng tidak tahu bagaimana caranya bisa melihat Ambu lagi.

Neng boleh benci perilakunya,

tapi tolong, Neng, jangan benci orangnya.

Yang penting sekarang, Neng mohon pada Allah.

Neng minta pada Allah.

Agar Neng tidak membenci diri Neng sendiri.

KRIM TANGAN DAN TUBUH

Ambu!

Ambu.

Aku lihat ada motor Irfan di luar.

Di mana dia, Ambu?

Di mana dia, Ambu? Jawab!

Jawab, Ambu! Di mana dia?

Gila kalian!

Irfan!

Iblis!

Apa itu?

Apa itu?

Jangan lari!

Jangan lari!

Irfan, lari! Irfan…

Itu motor aku!

Maling!

Maling!

Iblis!

- Norma, jangan! - Baju-baju najis!

Baju-baju najis!

Pelaku maksiat!

Sudah!

Sudah!

Ini…

Ini yang membuat Ambu merasa pantas menghancurkan hidup Norma?

Istigfar kamu!

Kamu yang istigfar!

Astagfirullah…

Neng!

Neng! Ya Allah! Kenapa?

Kenapa kamu, Neng? Ha?

Kenapa, Nak?

Neng, bilang pada Abah. Kenapa?

Bilang pada Abah!

Neng kira, Neng bisa maafkan Ambu.

Tapi ternyata Ambu melakukan hal itu lagi, Bah.

Astagfirullah. Ya Allah.

Ya Allah!

Ya Allah!

Abah?

Abah!

Bangun, Abah! Abah!

Abah!

Tolong!

Bangun, Abah!

Abah…

Abah yang sehat, ya?

Kalau tidak ada Abah, Neng bersama siapa?

Neng bersama siapa, Abah?

Abah harus sembuh, Bah.

Jangan tinggalkan Neng.

Kita harus kuat, Bah.

Abah sembuh, ya?

Abah?

Abah?

Neng di sini. Neng di sini, Bah. Abah sembuh, ya?

Abah harus kuat, ya, Bah?

Mereka sudah menzalimi kamu…

Abah sembuh, ya?

…mencuri dari kamu,

berbohong padamu,

dan juga menyakiti kamu.

Kalau kamu ingin melawan mereka,

Umi akan dukung kamu sepenuhnya.

Kalau perlu, Umi temani kamu, ya?

Ya Tuhan,

kami telah menzalimi

diri kami sendiri,

dan jika Engkau tidak mengampuni kami

serta memberi rahmat kepada kami,

pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Ya Allah, astagfirullah.

Ampuni aku, ya Allah.

Kuatkanlah hamba-Mu ini, ya Allah.

Tolong jawab pertanyaan saya, Pak Irfan.

Tenang. Semua diharap tenang.

Dasar tidak tahu diri!

Kalau bukan karena aku, tak ada yang mau menikah dengan kamu.

Kalau kamu mengerti agama, suami itu dimaafkan, bukan dilaporkan.

Tenang! Maaf, Pak. Mau lewat.

Kalau suatu hari kamu menikah lagi,

berdoa saja supaya anakmu tidak merasakan apa yang anak saya rasakan.

Dan kamu, sebagai bapak,

tidak merasakan apa yang saya rasakan.

Sudah, Abah. Sudah.

Cukup, jalan!

Lepas dulu rompinya.

Ya.

Silakan duduk di sebelah kanan.

Hari ini adalah pengucapan putusan.

Sebelum putusan diucapkan, adakah yang hendak disampaikan di persidangan ini?

Yang Mulia?

Mohon izin.

Bisa saya berbicara dengan terdakwa?

Silakan saudari maju ke depan.

Ambu…

Bagaimanapun…

…Norma lahir dari rahim Ambu.

Norma minta maaf, Ambu.

Kalau dengan kehadiran Norma, ini jadi beban yang berat bagi Ambu…

Semoga kita sama-sama bisa menghadapi ujian ini.

Hanya anak durhaka…

yang tega menjebloskan ibunya sendiri ke penjara.

Saya rasa cukup. Saudari, silakan kembali ke tempat duduk.

Persidangan dilanjutkan.

Kepada para terdakwa, harap perhatikan segala sesuatu

dalam pengucapan putusan berikut ini.

Putusan?

Putusan, demi keadilan, berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

Mengadili, menyatakan para terdakwa,

Irfan Wardana dan Rina Siswanti,

tersebut di atas, terbukti, secara sah dan meyakinkan, bersalah.

Ya Allah!

Rina Siswanti.

Rina Siswanti, ada tamu.

Mari, Bu. Silakan.

Sebagian uang sudah Norma sisihkan di sini, Ambu,

untuk kita umrah.

Norma sayang Ambu.

Tapi Norma cuma mau tanya satu hal.

Norma salah apa pada Ambu?

Ya sudah.

Mungkin ini terakhir kalinya Norma ke sini untuk bawa keperluan Ambu.

Ambu baik-baik di dalam, ya?

Assalamualaikum.

Kamu tidak salah apa-apa.

Ambu juga sudah berusaha sayang kamu semampu Ambu.

Tapi memang Ambu tidak bisa.

Tidak tahu kenapa.

Ayo, Bu. Balik ke ruangan.

♪ Setelah sekian lama ♪

♪ Baru ku menyadari ♪

Aku dinamai Norma,

supaya hidupku indah menurut kaidah masyarakat.

Hingga hari ini, aku tidak pernah membenci ibuku.

Bahkan, membayangkan apa yang ada di hati dan benaknya pun…

aku tidak berani.

Tapi sungguh…

bukan aku yang seharusnya kalian kasihani.

Rahim beberapa perempuan memang ditakdirkan untuk melahirkan,

tapi bukan berarti mereka dianugerahi hati yang penuh kerahiman.

Doaku kini hanya satu.

Ketika suatu hari nanti aku dianugerahi kesempatan menjadi ibu,

aku ingin diberi kemampuan menyayangi anakku

tanpa batas.

♪ Di saat kau mulai menyadari ♪

♪ Semua kesalahanmu padaku ♪

♪ Tapi ku tak sanggup lagi ♪

♪ Kuakui sekarang ♪

♪ Engkau mulai berubah ♪

♪ Namun, rasa sakitku ♪

♪ Terlalu dalam tuk terobati ♪

♪ Ingin kuhapus saja semua ♪

♪ Semua dendam ini ♪

♪ Tapi rasa tak mungkin ♪

♪ Lagi, biarkan ku pergi ♪

♪ Karena aku tak sanggup lagi ♪

♪ Mengingat ♪

♪ Semua kenangan dulu ♪

♪ Di saat engkau menyakitiku ♪

♪ Mengapa semua terjadi ♪

♪ Di saat kau mulai menyadari ♪

♪ Semua kesalahanmu padaku ♪

♪ Tapi ku tak sanggup lagi ♪

♪ Biarkan diriku yang pergi ♪

♪ Karena ku tak sanggup ♪

♪ Lagi ♪

♪ Semua kenangan dulu ♪

♪ Di saat engkau menyakitiku ♪

♪ Mengapa semua terjadi ♪

♪ Di saat kau mulai menyadari ♪

♪ Semua ♪

♪ Kesalahanmu padaku ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.