Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Di mana Do-hyeon? Kapan perginya?
- Belum lama. - Pasti melelahkan
kerja malam di toserba.
Aku tak bersikap memalukan, 'kan?
Ada seseorang yang aku suka.
Kau bilang ada yang kau sukai.
- Apa? - Kau tak ingat?
Do-hyeon mendengarnya juga?
Ada seseorang yang aku suka.
Tapi...
itu rahasia.
Aku baru mau membuangnya.
Aku dengar hari itu.
Apa?
Di hari pot ini pecah,
aku dengar ucapanmu di telepon.
Aku tahu. Katamu kau dengar tentang magang itu.
- Song-i. - Masalahnya,
pria yang aku sukai sebenarnya...
Kau tahu...
aku peduli kepadamu, 'kan?
Ya, aku tahu.
Kau tahu aku sering memikirkan itu.
Karena itu kupikir ini yang terbaik.
Kita harus...
hanya menjadi...
Mari menjadi teman saja.
Baik.
Apa?
Aku sangat peduli kepadamu.
Aku menyukaimu.
Maksudku, aku menyukaimu sebagai teman. Benar, itu maksudku.
Kau gadis hebat. Aku tak meragukannya.
Aku akui, kadang kau tampak cantik.
Tapi...
Maksudku, bayangan kau jadi pacarku... Terlihat...
Agak aneh, 'kan?
Kita sudah seperti keluarga, bukan?
Terserah. Wajar tertawa dalam situasi ini.
Silakan tertawa.
Tapi tidak perlu berlebihan. Aku tetap serius.
Tae-o.
- Bukan kau. - Apa?
Pria yang aku maksud di atas atap bukan kau.
Tapi katamu dia membantu mengatasi masalahmu,
hingga akhirnya kau jatuh cinta kepadanya.
Kau akan terus berbuat bodoh?
Jika bukan aku, lalu siapa? Katakan.
Sebaiknya jujur saja jika ditolak. Itu cara terbaik.
Jujur tentang perasaanmu,
dan melupakannya.
Sungguh bukan kau.
Dia teman kerjaku.
Teman kerja?
Entah bagaimana dia tahu tentang situasiku,
jadi, aku agak merepotkan dia.
Dia punya cara menghiburku dan itu sangat membantuku.
Hingga aku mulai suka dia.
Mendadak suka. Aku sudah bilang, 'kan?
Lalu bagaimana denganku?
Aku menghiburmu juga, ya?
Ada perbedaan besar antara pacar dan teman yang menghiburku.
Ini pertama kalinya aku menyukai orang.
Aku tak bisa menarik ucapanku, tapi juga tak mau cerita lagi.
Jadi, jangan tanya lagi.
Sebentar.
Jadi, aku baru saja kau tolak?
Wah.
Aku ditolak, padahal aku tak suka kau.
Ini pengalaman baru. Terima kasih.
Astaga.
Ini yang terbaik.
Bisa saja jadi lebih kikuk.
Ini yang terbaik.
Pria yang aku maksud di atas atap bukan kau.
Pria yang aku sukai sebenarnya bukan kau.
Kenapa kau bisa begitu bodoh, Tae-o?
Sejujurnya, aku takut persahabatan abadi kita
akan berakhir.
Aku berharap Song-i tak bilang,
bahwa dia menyukaiku.
Tapi...
Ada perbedaan antara pacar dan teman yang menghiburku.
Astaga.
Jadi, siapa pria itu?
MENYATAKAN AKU MENYUKAIMU
Aku suka suasananya. Dari mana kau tahu tempat ini?
Aku sering lewat sini.
Aku ingin mengajak pacarku ke tempat ini nanti.
Makan lagi.
Baik.
Kau tak minum bir?
Biasanya minum, tapi kini bersamamu. Salah satu tak boleh mabuk.
Aku cuma minum sedikit.
Terakhir kali,
minum sedikit saja kau sudah mabuk.
Ada seseorang yang aku suka.
Awas!
- Maaf. - Minum perlahan. Mau tambah?
Tidak. Ini cukup untukku.
- Permisi. - Sungguh, tak perlu.
Maaf.
Tak apa-apa.
Kini waktunya.
Minta aku jadi pacarmu. Cepat.
Bisa dibantu?
- Bisa minta segelas bir lagi? - Tentu.
Ini hari pertama kami jadi kekasih.
Ini momen semacam itu.
Ada apa?
Tak apa-apa.
Sudah. Cobalah.
Bagaimana?
Ternyata ada banyak makanan lezat di dunia!
Makan perlahan. Awas tersedak.
Di mana Hun?
Katanya tak mau makan.
Dia di kamarnya seharian.
Dia mestinya tak boleh terlalu berharap.
Kalian makanlah.
Kau juga? Kenapa?
Aku tak berselera.
Kenapa semua orang di rumah ini jadi depresi?
Biar aku bantu.
Kau ditolak?
Kau yang menolakku.
Berhentilah meledekku.
Kenapa? Dia bilang tak tertarik?
Bukan begitu.
Dia juga menyukaimu?
Dia tak perlu mengatakannya. Aku tahu dari yang aku rasakan.
Lalu apa yang kau rasakan?
Kurasa kami sedang pacaran.
Apa? Kedengarannya kau tak terlalu yakin.
Bukan semacam "ayo pura-pura kencan"?
Kau tak menjelaskan
perasaanmu dengan kata-kata. Karena itu kau tak yakin.
Astaga, berhentilah mengomel.
Apa aku kurang menarik bagi kaum pria?
Kenapa bilang begitu?
Aku memang bercanda bahwa kau menolakku.
Tapi faktanya aku memang ditolak.
Secara terang-terangan.
Dengar, bagaimana masalah itu disamakan dengan ini?
Alasanku "menolakmu" karena aku tak mau kehilangan teman.
Astaga.
Song-i, kau sungguh orang hebat.
Mengerti? Kau cerdas, cerdik, dan lucu.
Mayoritas orang akan berpikir kau di atas rata-rata.
Jadi, jangan pernah kehilangan kepercayaan diri. Mengerti?
Baiklah, lihat.
Dekati dia dengan percaya diri, tangan di saku.
Katakan kepadanya...
"Apa hakmu...
"Apa hakmu...
membuatku ragu?"
Tepat. Angkat dagu, tatap dia dengan pandangan merendahkan.
Jangan ragu dan jangan mau direndahkan.
Tapi entah apa ini akan berhasil.
Karena kau jelek.
- Hoi! - Kaulah yang harus menolak dia.
Tapi aku punya nasihat.
Pria baik-baik tak akan membuat
wanita yang dia cintai merasa ragu.
Keren sekali.
Tapi dia memang pria baik-baik.
Kenapa membuatku merasa ragu?
Kenapa serius sekali?
Tugasmu?
Sebentar.
Kau menanyakan ini?
Bisa dibilang tugas.
Tugas cinta.
Terserah.
Omong-omong, bagaimana dengan gadis itu?
Yang kau pikirkan.
Kami sesekali bertemu.
Jadi, kalian berkencan?
Bukan begitu.
Kami bertemu tiap ada kesempatan.
Kami ke bioskop juga.
Lancar.
Cuma sesaat, ya? Dia tak masalah dengan situasi ini?
Haruskah aku tanyakan dia?
Kau tipe pemuda nakal, ya? Tak kuduga.
Aku?
Dia mungkin berpikir kau cuma main-main.
Pura-pura kencan, tapi bertindak selayaknya kekasih.
Tunggu, rasanya aku pernah mengatakan ini.
Benar. Song-i.
Ingat ocehan Song-i saat mabuk
tentang pemuda yang dia sukai?
Kenapa?
Dia pergi makan dan ke bioskop bersamanya.
Tapi tampaknya tak banyak kemajuan.
Mereka baru jumpa beberapa kali, 'kan?
Di zaman ini, kecepatan sangat penting.
Bertemu beberapa kali, tapi tak ada perkembangan.
Jelas pria itu hanya mempermainkannya.
Bagaimana kau bisa yakin?
Pikiran semua orang tak sama.
Kenapa jadi tersinggung?
Intinya, maksudku,
dia merasa agak frustrasi.
Gadis yang kau kencani mungkin merasa sama.
Mungkin kesal tapi tidak ditunjukkan.
Apakah Song-i kesal?
Entahlah. Nanti dia akan sadar
tak semua pria sepertiku, saat dia patah hati.
Pria yang mempermainkan wanita bukan orang baik-baik.
- Mari aku bantu. - Terima kasih.
Ayo, kau sungguh butuh bantuan.
Astaga.
Selamat datang...
Kenapa kemari?
Aku hanya lewat dan ada yang mau kukatakan.
Kami boleh memesan?
- Ya. - Tentu.
Aku saja.
Ya.
- Dia? - Apa?
Pria yang kau sukai, dia?
- Dia sudah lulus SMU? - Hoi.
Jangan sok tahu. Mau bilang apa?
Datanglah ke toko Do-hyeon sepulang kerja.
Aku kirim alamatnya.
Tentu. Tapi kenapa?
Aku benci lihat Hun depresi, aku mau belikan dia minuman.
Jika bukan dia, lalu siapa?
- Mungkin di dapur? - Hoi!
Song-i, bisa bantu di dapur?
Segera!
- Jadi, dia... - Pergi.
- Orang tua itu? - Aku harus kerja.
Astaga.
Apa hebatnya pria itu hingga dirahasiakan?
Lihat!
Kau belum makan apa pun seharian.
Cicipi, ya?
Cicipi, Hun.
Separah itu?
Kau bilang aku bisa lolos.
Kau bilang aku pasti lolos.
Gara-gara kau, aku sangat berharap!
Semua salahmu!
Tapi, mereka belum mengabarimu.
Tunggu sebentar lagi.
Kau bercanda? Tak akan dihubungi jika tak lolos!
Bagaimana bisa makan? Ini terlalu asin. Astaga!
Kenapa kau lampiaskan amarahmu kepada Ga-rin?
Makanan apa yang tampak tak enak itu?
Ini kali pertama aku memasaknya. Mau cicipi?
Begitu.
Bagus.
Kalau begitu, sekarang semua berdiri!
Ayolah.
Mari makan malam di luar,
- Makan malam? - dan buang perasaan kesal. Ayo.
- Jangan ganggu. - Ayo.
- Kau pasti mau. Berdiri. - Astaga...
Aku traktir makanan yang enak.
Kau mau bakpao apa?
Kimchi dan daging.
Aku mau udon!
BAKPAO BUATAN RUMAH SEOGA
Tunggu di sini.
Kau tak beri tahu dahulu. Ini mendadak.
Apa maksudmu mendadak?
Sejak tahun lalu sudah kuberi petunjuk bahwa harga pasar naik.
Kenapa?
Apa? Ayo makan di tempat lain.
- Apa? - Itu Do-hyeon.
Hai.
Maaf aku terlambat.
Kau tak merasa keterlaluan?
Aku beri keringanan karena kau memintaku
menunggu Do-hyeon kuliah.
Kini kau memintaku menunggu sampai dia dapat kerja?
Aku datang terakhir?
Kenapa di luar? Penuh?
Song-i, kurasa...
Kau naikkan sewanya sangat banyak.
Harga sewa sudah lama naik, aku yang terakhir menaikkan.
Aku rugi membiarkan tempat bagus ini...
Apa? "Rugi"?
Aku bisa dapat tiga kali lipat dari yang kau bayar.
Kau tahu kenaikan harga tanah sekian tahun ini?
Aku kasihan karena kau temanku.
Aku harus menyembahmu, ya?
Jangan hidup seperti itu. Semua orang memfitnahmu.
- Siapa? - Katanya kau eksploitasi
penyewa yang kesulitan membayar.
Mereka harus pergi jika kesal! Kau juga sama!
Apa? Apa katamu?
Kau harus jaga ucapanmu.
Kau selalu ambil bakpaoku tanpa bayar.
Baik, kubayar sekarang. Berapa semuanya?
Ini cukup? Ambil!
Hanya uang yang kau pedulikan.
Aku menyesal menganggapmu teman.
Kau harus pergi.
Pergi sebelum aku mengukusmu!
Sial! Astaga.
Waktumu sampai bulan ini.
Aku sangat toleran karena kau temanku.
Bakpaomu tak seenak dahulu.
Apa yang kalian lakukan di sini?
Halo, Pak.
Hai.
Lama tak bertemu.
Sudah lama di sini?
Menurut Ayah bagaimana?
Ini urusan orang dewasa, tak perlu kalian pedulikan.
Tunggu.
Bukankah kau Song-i?
Halo.
- Mau apa dengannya? - Belum ada kabar dari ibumu?
Belum.
Kenapa mendadak menanyakan ibunya?
Ibumu tutup toko.
Sewanya tak dibayar sampai uang tabungannya habis.
Ayah!
Aku berusaha memahaminya karena kau teman Tae-o.
Tapi terlalu memalukan.
Jumlahnya tak sedikit, tapi kirim pesan minta maaf pun tidak.
Maaf. Aku tak tahu.
Hentikan.
Hentikan apa? Ayah tak boleh tanya?
Ayah baik, tapi dikhianati orang.
Lupakan saja. Semua orang pikir Ayah jahat.
Sial!
Kami kembali lain kali.
Ayahmu pasti sedang banyak pikiran.
Aku ambil bolanya.
Sudah! Permainan sudah berakhir.
Do-hyeon pemenangnya. Ya?
Kalian tak lapar? Ayo beli makanan.
Aku kelaparan.
Kalian pergilah, aku pulang.
Enak, 'kan? Seharusnya aku beli sundae juga.
Ini cukup. Terima kasih.
Kau sudah merasa lebih baik?
Ya.
Ayah Tae-o
memang agak pemarah.
Jangan ditanggapi serius.
Aku tahu ibuku tak bayar sewa tepat waktu.
Tapi aku baru tahu separah itu.
Menyedihkan jika tak punya rumah atau toko sendiri, 'kan?
Tak perlu...
bahas itu sekarang.
Selamat datang.
Aku bereskan nanti.
Sedang apa?
Semalam anginnya pasti sangat kuat,
banyak batu masuk ke bawah tenda. Punggungnya sakit jika tidur.
Andai kau begitu perhatian pada ranjangku...
Kau gila?
Sudah larut. Kenapa dia belum kembali?
Kau harus hentikan itu.
Apa maksudmu?
Seolah-olah Song-i putrimu.
Kadang kau sangat berlebihan.
Kenapa kau mencemaskan segala hal?
Dia temanku. Aku tak boleh cemas?
Tingkat kecemasanmu terlalu tinggi.
Kalian berdua harus santai sedikit.
Song-i bilang ada pria yang dia suka. Kau juga menyukai wanita.
Saatnya saling mengurangi perhatian.
Itu yang terbaik.
Kau mengerti ucapanku?
Kau tak punya teman wanita. Kau tahu apa?
Apa?
Kawan.
Kata siapa aku tak punya?
Temanku Song-i dan Ga-rin.
Situasi kita tak sama.
Aku dan Song-i sudah...
Sudah apa?
Kami sudah...
saling kenal jauh lebih lama.
Kau baik-baik saja?
Ini bukan kali pertama kau gagal audisi. Lupakanlah.
Aku tahu.
Tapi yang ini melukai hatiku lebih dalam.
Udaranya dingin.
Terima kasih, Sobat.
Hangat sekali.
Maaf tak bisa mengantarmu.
Sudah sampai di rumah?
Hampir sampai.
Jangan cemaskan aku.
Tae-o bilang...
kau bingung karena tak tahu
perasaan pria yang kau suka.
Aku tahu pria macam apa dia.
Dia mungkin sangat bangga, sekaligus takut.
Tak biasa diperhatikan gadis yang dia suka.
Dia tak bisa...
5.000 won.
berbuat banyak baginya.
Terima kasih.
Dia mungkin membenci dirinya.
Dia mungkin seperti itu.
Lihat kotak di depan kalian?
Ya, Pak!
Buka.
HAN SONG-I
Astaga.
Aku yakin kalian tahu bahwa Better Than Home
adalah organisasi nirlaba penyedia rumah bagi keluarga berpendapatan rendah.
Kalian harus kerja keras untuk membangun fondasi,
demi kehidupan dan impian mereka yang tinggal di rumah baru.
Aku berharap kalian sadar akan kewajiban masing-masing.
Aku akhiri pidatoku di sini.
Semuanya, selamat datang di Better Than Home!
Ayo pakai.
- Mau dibantu? - Ya.
CHOE MIN-AH
Ini pas untukmu.
Tidak, bukan di situ. Di sini.
Keluarkan ini dulu.
Harus dilewatkan di sini agar bersilangan.
Terima kasih.
Sepertinya enak.
Song-i?
Dae-geon!
Memang kau. Awalnya aku tak yakin.
Astaga. Lama tak berjumpa.
Kau Choe Min-ah, 'kan?
Ya, apa yang kau lakukan di sini?
Aku...
Aku akan mengawasi kalian.
- Aneh berjumpa di luar kampus. - Ya.
Aku tahu.
Nona-nona.
Aku akan menjaga kalian dengan baik.
Dengar.
Ayo pergi minum nanti.
Tentu.
Karena aku sudah lulus,
kalian bisa memanggilku lebih santai kalau bertemu di luar.
Sampai nanti.
Sampai jumpa.
Makanlah.
Aku tak tahan lihat perayu itu.
Tapi kegigihannya menakjubkan.
Gigih merayu.
Rasanya kesal tiap ingat
tukang rayu itu mengecewakan adik kelasku.
Apa yang wanita kagumi dari pria tak berguna begitu?
Tapi dia masuk perusahaan yang bagus.
Firma Arsitektur Donggwang. Aku juga ingin kerja di sana.
Kau harus hati-hati.
Kau ingat perayu itu sering mengajakmu minum,
saat masih kuliah?
Bagaimana hari pertamamu bekerja?
Menyenangkan.
Aku di bus perjalanan pulang.
Kau turun di halte mana?
Aku akan jemput.
Beli dua churro?
Tentu.
Sampai jumpa 30 menit lagi di halte dekat rumahku...
Tunggu.
Do-hyeon kerja paruh waktu.
Aku tak boleh mengganggunya.
Aku hampir sampai, tak perlu datang.
Kenapa?
Mau bicara sesuatu?
Aku harus turun di sini,
atau di depan rumahku?
Aku jelas harus menurunkanmu di depan rumahmu.
Kau harus menyanjungku lebih dari itu.
Sebentar.
Halo?
Apa?
Ini bukan ponsel Choe Hun.
Baik.
Maaf.
Kenapa? Ada apa?
Halo? Kau benar. Ini ponsel Choe Hun.
Benar. Choe Hun.
Maaf, kau dari mana?
Baik.
Kau bisa kirim pesan singkat ke nomor ini.
Astaga, sulit dipercaya.
Se-hyeon.
Kurasa sanjungannya harus ditunda.
Ada urusan mendesak.
Kau sering dapat telepon mendesak?
Pergilah.
Baik.
Maaf. Nanti kutelepon lagi, ya?
TAE-O
Hai, Tae-o.
Hai.
Ini tentang Hun.
Dia lolos audisi!
Apa?
Rumah produksi menelepon.
Minta maaf terlambat membalas. Katanya dia lolos.
Benarkah?
Aku lega akhirnya dia lolos. Aku sempat cemas.
Kenapa?
Temanku berhasil.
Kau sudah kabari Hun?
Belum.
Aku punya rencana bagus. Kita bicarakan saat kau sampai.
Di mana kau sekarang?
- Song-i! - Kau mengagetkanku.
- Kau serius? - Hebat, 'kan?
Aku ikut bahagia.
Ayo buat pesta untuknya.
- Ayo. - Benar?
Kau yang bawa.
Bagaimana cara memberi tahu dia?
- Punya ide? - Menurutmu?
Tae-o!
Terlalu memalukan semua orang di rumah ini tahu
aku gagal audisi.
Haruskah aku pulang?
Tidak boleh.
Jo In-sung pun sering gagal sebelum debutnya.
Aku baru ikut sekitar 20 audisi.
Tapi aku tak setampan Jo In-sung.
Kenapa ini?
Listrik padam?
Tunggu, Ga-rin.
O Ga-rin.
Ga-rin.
Ga-rin, kau tak perlu takut. Hanya pemadaman saja.
Dari mana asal musik ini?
Siapa?
Ga-rin.
Sedang apa di situ? Sudah menyala?
Astaga. Kau mengejutkanku.
Sedang apa kau?
Apa ini?
Hoi.
Bisa beri tahu perasaanmu?
Apa?
Apa maksudmu?
Beri tahu kami rasanya lolos audisi untuk pertama kali.
Apa katamu?
Kau lolos.
- Lolos apa? - Lolos audisi, Bodoh.
Tadi Tae-o ditelepon.
Mereka menanyakanmu dan bilang kau lolos audisi drama.
Selamat!
Aku benar, 'kan?
Sudah kubilang kau akan lolos.
Kalian serius?
Kenapa kau begitu ragu?
Ini.
Lihat sendiri.
TUAN CHOE HUN, KAU LOLOS AUDISI DREAM SCHOOL
Apa? Ini nyata?
Ya.
Hebat! Aku lolos audisi!
Aku sungguh lolos!
Astaga!
- Aku tiup lilinnya? - Silakan.
Satu, dua, tiga!
Hoi, Tae-o!
Semua berkat kau! Kemari, kau!
Aduh.
Aku lolos!
- Ayo. - Benar?
Kau yang bawa.
Do-hyeon.
Kau dahulu saja.
- Song-i. - Kau tak baca pesanku?
Maaf, aku tak tahu kau kirim pesan.
Kau mau makan siang, 'kan? Aku traktir.
Ayo makan setelah kuliah. Aku belikan yang enak.
Baik.
Ayo.
- Audisi? - Ya.
Kami pikir dia tak lolos karena tak ada kabar.
Tae-o ditelepon kemarin, katanya dia lolos.
Kami buat pesta kejutan untuknya. Hun suka.
Hebat.
Aku harus baik kepadanya sebelum dia tenar.
Aku mau memberitahumu sejak kemarin.
Kabar baik harus dibagikan dengan teman.
Kau bisa telepon untuk memberitahuku.
Semalam?
Sudah larut dan kau bekerja.
Kau tahu aku sedang santai selarut itu.
Kau bisa telepon, kirim pesan, atau datang kapan pun.
Aku tahu kau sedang santai,
tapi aku tak mau ganggu belajarmu, aku lihat buku di meja.
Aku tahu rasanya belajar diganggu.
Sulit melanjutkan setelah konsentrasi hilang.
Entah apa hanya perasaanku,
kurasa kau terlalu perhatian kepadaku.
Apa salahnya?
Aku tak mau terus diperhatikan, aku mau jadi yang memperhatikan.
Rasanya Tae-o yang menjalani peran itu.
Aku tak akan bisa.
Aku mau bertanya.
Bertanya apa?
Tentang kau dan Tae-o.
Kalian tak pernah...
memiliki perasaan satu sama lain?
Terjemahan subtitle oleh Sulaiman
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.