All language subtitles for My.First.First.Love.E03.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

SERIAL NETFLIX ORIGINAL

Tae-o.

Ayo bicara di luar.

Kau walinya?

Do-hyeon.

Kenapa kau di sini?

Itu...

Dia bersamaku tadi.

- Bersamamu? - Kami bertemu

di toserba tempatnya bekerja tanpa disengaja.

Jadi, kami mengobrol sebentar.

Lalu,

ibuku menelepon.

Ibumu menelepon?

Bisa diisi dahulu?

Ya, tentu.

Aku harus kembali bekerja.

Silakan. Aku telepon nanti.

Baik.

Sampai jumpa.

Kenapa tak menjawab telepon?

Kusenyapkan teleponku seharian.

Syukurlah kau datang.

Polisi mau menghubungi waliku. Hanya kau yang terpikir olehku.

Kau hanya mengingatku setelah semua terjadi?

Pemilik baru rumahmu sudah cerita semua.

Saat kau diusir dan tak bisa menelepon ibumu,

kau mengingatku juga?

Apa kau...

mencoba bunuh diri?

Buat apa aku lakukan?

Apakah aku tipe orang

yang akan bunuh diri dengan cara itu?

Aku hanya...

Itu terjadi begitu saja.

Kau hanya kebetulan di jembatan dan dibawa polisi?

Kau mau aku percaya?

Saat polisi meneleponku dan menyebut namamu...

Kau tahu perasaanku?

Kupikir terjadi hal terburuk...

Begitu sulitkah memercayaiku? Apa karena itu...

Aku tak mau tampak menyedihkan!

Sejak kapan itu jadi masalah?

Sejauh yang kuingat, aku selalu menyedihkan!

Apa salahnya?

Aku selalu bergantung kepadamu sehingga membuatku tak nyaman.

Tapi sebenarnya kupikir

aku bisa menahan penghinaan darimu.

Jadi aku berniat cerita semuanya dan pindah ke rumahmu,

tapi aku tak bisa.

Teman-temanmu memohon diizinkan tinggal.

Bagaimana aku bisa memohon saat itu?

Bagaimana aku bisa memohon saat kau tampak stres?

Kau berbeda dari mereka.

Karena itu aku tak cerita.

Aku tak mau jadi beban bagimu.

Baik, aku akui. Aku mementingkan harga diriku.

Aku mau urus sendiri tanpa bantuan siapa pun.

Apa salahnya?

Kenapa menyalahkanku atas semuanya?

Hei.

Ayolah, ini tak adil.

Maafkan aku yang begitu bodoh.

Andai aku menyadari ada yang tak beres.

Kenapa kau justru meminta maaf?

Bukan salahmu keluargaku bangkrut.

Tetap saja, kita bersahabat.

Seharusnya aku lebih perhatian kepadamu.

Jangan begitu.

Kau berutang maaf juga.

Untuk apa?

Karena merahasiakannya dariku.

Karena tak memberiku kesempatan

membantumu melewati masa sulit.

Kau tahu itu menyakitkan?

Maaf.

Jangan biarkan harga dirimu menghalangi.

Jangan tak nyaman di dekatku.

Baik.

Hei. Jaketku...

Untukmu saja.

MENGKHAWATIRKAN SESEORANG

Wah!

Saat wanita pakai baju pria,

ukurannya biasanya terlalu besar.

Tapi kau berbeda. Baju itu pas untukmu.

Karena bahumu lebar.

Sudah larut. Kau harus tidur.

Aku bisa tidur di sofa.

Hanya hari ini.

Omong-omong, apa kata ibumu? Kapan dia bilang akan kembali?

Aku ceritakan nanti.

Baik.

Kau harus tidur sekarang.

Selamat tidur.

Kau sudah di rumah?

Aku pulang cepat.

Aku mau tidur karena dia sudah tidur.

Baik.

Aku tak bisa bertanya kepadamu karena situasinya rumit.

Kenapa kau tadi di kantor polisi?

Banyak insiden terjadi saat malam. Itu bukan kali pertamaku.

Kejadian tadi sudah biasa dan aku kebetulan bertemu dia.

Begitu.

Aku harus pergi. Istirahatlah.

Baik. Sampai nanti.

Dah.

Aku tahu sejak awal.

Tak sulit menebak saat dia datang membawa koper besar.

Kalian lihat kopernya?

- Kau tak lihat? Kau lihat? - Ya.

- Hanya aku yang tak lihat? - Berarti

tiga orang menumpang di sini.

Tiga apa?

Jika harus memilih, aku jelas pilih Song-i.

Kalian pacaran?

- Hei! - Hei!

Jadi apa alasannya?

Kenapa dia boleh dan aku tidak?

Karena dia...

Astaga.

Ibuku minggat di tengah malam.

Katanya tak berniat mau kembali ke Seoul

meski dia tahu aku tak punya rumah.

Kurasa karena hidupnya lebih penting.

Rumahku dilelang dan kini sudah dihuni pemilik baru.

Aku belum dapat gaji,

jadi tak punya uang. Asal tahu saja.

Aku lanjutkan jika kalian mau dengar.

Tidak usah, cukup.

- Baik, terima kasih. - Ya.

- Kalian tak punya tujuan, 'kan? - Benar.

Bagaimana kalau begini?

Mungkin tidak tiga kali sehari, tapi biar aku yang memasak.

- Kalian bersihkan rumah. - Aku?

- Dia? - Apa maksud kalian?

Kau mau mengusir mereka?

Aku tak bisa jawab sekarang, tapi...

Sebagai manusia berhati nurani, kita tak mau menumpang gratis, 'kan?

- Tentu. - Kau benar.

Kalian serius soal tinggal di rumahku?

Jangan jadi beban bagi Tae-o.

- Baik. - Baik.

Semoga kita berempat akur.

Siapa yang datang sepagi ini?

Di sini saja. Aku yang periksa.

Siapa?

Do-hyeon.

Seo Do-hyeon? Datang sepagi ini?

Kurasa dia membawakan koperku. Biar aku buka pintunya.

Do-hyeon.

- Tidurmu nyenyak? - Ya.

Kau kemari membawakan ini.

Mudah diperbaiki.

Terima kasih.

Aku berutang banyak kepadamu.

Omong-omong, kenapa kau di kantor polisi semalam?

Kau sendiri kenapa di sana?

Ada sedikit salah paham.

Memalukan, jangan tanya.

Kau sendiri kenapa?

Karena kau tak kembali.

Aku menelepon polsek terdekat, begitulah caraku menemukanmu.

Aku bilang pada Tae-o, aku ke sana karena urusan kerja

dan kebetulan menemuimu di sana.

Aku bohong agar kau tak dapat masalah.

Terima kasih. Ayo sarapan bersama kami.

Tidak usah, aku harus pergi.

Baik, sampai jumpa di kampus.

Biar aku saja.

Sampai nanti.

Jantungku tadi berdebar-debar?

Jangan sekarang, tekan saat kau mau turun.

Maaf, aku baru pertama kali naik bus.

Kau pasti sangat kaya karena tak pernah naik bus.

Ayo berteman.

Kita mau ke mana?

- Cari uang? - Uang?

Aku cemas meninggalkanmu di rumah karena kau ceroboh,

jadi aku ajak.

Ada pekerjaan paruh waktu, katanya aku boleh mengajak orang.

Kerja paruh waktu?

Aku akan lakukan sebisaku.

- Kerja semacam apa? - Kerja di belakang. Lihat saja.

Kerja di belakang?

Yang ini, dan yang ini.

Yang ini?

Bisa beli satu dari setiap varian?

- Tentu. - Satu dari setiap varian?

Aku tak tahu kesukaannya.

Temanmu memutuskan tinggal sementara di rumahmu?

Teman-teman, bukan teman.

Aku terpaksa menampung mereka bertiga.

Jika kau bertengkar dengan ayahmu, jangan ke rumahku.

Tak ada kamar lagi.

Kau akrab dengannya?

Song-i?

Bagai keluarga. Kami sudah lama kenal.

Tapi dia merepotkan.

Semoga dia punya pacar. Siapa pun itu.

Aku pun akan segera pacaran, jadi tak bisa terus menjaganya.

Makanan penutup sudah siap.

Terima kasih.

Kenapa kau memperhatikannya jika tak akrab?

Kau tak lihat aku begini agar mengenalnya lebih baik?

Biar aku beri tahu caranya...

CAMPUS NAEIL RYU SE-HYEON

Itu dia.

"Nama.

Ryu Se-hyeon.

Fakultas Seni. Masuk tahun 2013.

Dia mahasiswi Korea pertama yang ikut magang

desain grafis di studio luar negeri".

Kau memang hebat.

Kau pernah ke Amerika?

Inggris. Perusahaan produksinya di London.

Kapan kau kemari?

Baru saja.

"Dia pergi ke seluruh dunia bersama ayahnya, juru foto.

Dia fasih bahasa Inggris dan Spanyol, bisa bicara tiga bahasa".

Kau luar biasa.

Apa?

Aku tak mau memakai panggilan hormat.

Bukannya tak sopan,

tapi aku mau kau menganggapku pria.

Kau tertawa? Kupanggil namamu saja, ya?

Kau tak bisa masuk klub.

Kenapa?

Butuh banyak komitmen untuk masuk klub ini.

- Mengabdikan waktu. - Aku punya banyak waktu.

Impianmu membuat film?

Impianku?

Aku belum...

Belum punya impian.

Lihat? Kau belum siap untuk ini.

Ini tak akan berhasil.

Aku harus menawari sogokan.

Sogokan?

Aku beli saat kemari.

- Tampak enak, ya? - Ya.

Mau yang mana?

Yang ini?

Ya.

Silakan.

Cantik sekali.

TOSERBA

Do-hyeon.

Kau belum makan siang?

Menyebalkan giliran kerja kita berbarengan waktu makan siang.

Benar.

Ayo makan siang bersama.

Tampaknya mereka masih lama selesai makan.

Kita bisa makan siang di suatu tempat. Kau mau coba?

Pemandangannya menakjubkan.

Aku tak tahu ada tempat ini di kampus kita.

Kita boleh kemari?

Tentu tidak.

Ini.

KOTAK MAKAN SIANG BULGOGI

- Kenapa tanganmu? - Tanganku?

Ini? Kebanyakan mahasiswa arsitektur punya bekas luka.

Terjadi saat membuat tugas.

Tugas?

Harus memotong, menempel, dan pekerjaan kasar lainnya.

Memikirkan fakultas arsitektur,

mereka mengingat romansa karena film Architecture 101.

Padahal berbeda.

Mahasiswa arsitektur membuat lelucon

bahwa kami fakultas kerja kasar.

Maaf aku membuatmu bosan.

Menurutku apa pun ucapanmu menarik.

Kau pernah mengajak orang lain kemari?

Ya.

Kau bohong, 'kan?

Ya.

Menurutku kau lucu.

Benarkah? Belum ada yang bilang begitu.

Aku pasti yang pertama menyadarinya.

Kurasa begitu.

- Ayo makan. - Ya.

Kau tinggal di mana? Aku antar pulang.

Punya mobil?

Tentu saja.

Aku belum pernah naik itu.

Sangat seru. Aku akan pelan-pelan jika kau takut.

Kenapa sia-siakan yang seru?

Ayo.

Wah.

Kalian bisa ke sana.

- Halo. - Kau bisa duduk di sini.

Kalian, coba lihat...

Duduk di sini.

Di sini?

Duduk di sana.

Para aktor, silakan bersiap.

- Baik. - Ya.

Jangan gugup. Mengobrol biasa saja.

Jika semuanya siap, ayo merekam!

Tidak sulit.

Saat sutradara bilang, "Siap, action!"

kita makan seperti biasa saja.

Seperti biasa?

Ya, seperti kau biasa makan.

Baik, aku bisa.

Adegan 27, bagian 24, pengambilan pertama.

Baiklah. Siap, beraksi!

Saat bilang mau putus, kau serius?

Aku serius.

Aku tak bisa melupakan penghinaan ibumu kepadaku.

Aku sudah berulang kali meminta maaf.

Kau hanya bisa meminta maaf, ya?

Cut!

Kenapa ada serbet di situ?

Maaf!

Astaga. Padahal tadi akting yang bagus.

- Maaf. - Astaga.

Maafkan aku.

- Padahal yang tadi bagus. - Maaf.

Kubilang biasa saja, 'kan?

Ini yang biasa kulakukan.

Apa?

Ji-eun.

Kim Ji-eun.

Lepaskan. Tak ada lagi yang perlu kukatakan.

Kau mau meninggalkanku?

Jika kau pergi,

kita putus.

Cut!

Kenapa dia lagi kali ini?

Aku sungguh minta maaf!

Maafkan aku.

Kenapa kau ini?

Kau semestinya berjalan seperti biasa.

Aku tak ingat bagaimana berjalan biasa.

Apa?

Kau sengaja begini?

- Kau mau mengganggu kami? - Tidak.

Apa sulitnya makan? Apa sulitnya berjalan?

Mudah.

Sangat mudah, sebenarnya.

Ada banyak orang, tapi kau ajak orang bodoh.

Ayolah.

Ayolah. Kasihani kami.

Semua orang merasa kikuk saat pertama.

Apa? "Kikuk"?

Hei.

Apa aku temanmu?

- Bukan, Pak. - Aku temanmu?

- Bukan, Pak. - Pak!

Kenapa kau memukulinya...

Hentikan!

Maaf.

Aku tak akan ambil bayaran hari ini.

Dan...

Jika ada yang mendesak dan butuh bantuanku,

biar aku lakukan gratis!

Astaga.

Bagaimana aku bisa bertemu dua orang bodoh ini?

Kalian pergi saja.

Baik, Pak. Maafkan aku. Jaga dirimu.

Maaf.

Kau baik-baik saja?

Maaf.

- Aku sangat bodoh. - Tak apa-apa.

- Kau pertama... - Aku bodoh!

Astaga.

Aku mengira kau semacam Ratu Elizabeth.

Bagaimana bisa kau berpose begini?

- Astaga. - Entahlah.

Kenapa juga aku begitu?

Jangan cemas.

Lupakan saja, ya? Berdiri.

Bagaimana kau bisa sangat tenang?

- Maksudmu? - Tadi.

Saat pria itu membentakmu

dan mendorong dadamu, kau tak marah kepadanya.

Karena marah kepadanya tak ada gunanya bagiku.

Dalam situasi begini,

lebih baik merendah dan minta maaf.

Jangan biarkan ego mengendalikanmu.

Kita lebih rugi jika marah.

Inilah yang aku butuhkan.

Aku harus bisa memutuskan

dalam segala situasi. Aku butuh keahlian memutuskan.

Mulai sekarang, aku akan terus mengikutimu.

Apa?

Kurasa aku akan belajar banyak darimu dengan berada di dekatmu.

Kau tak keberatan, 'kan?

Itu...

Tak ada yang pernah bilang mereka bisa belajar dariku.

Hidup memang penuh keajaiban.

Tentu, kenapa tidak?

Aku agak lapar. Mau beli makanan?

Aku lupa bawa uang

- karena tergesa-gesa. - Jangan cemas!

Astaga!

Aku dibayar per jam di muka.

Kita dibayar saat tak melakukan apa pun?

Hidup memang indah.

Kau luar biasa.

Kabur, sebelum mereka tahu!

Kabur. Aku mengerti.

Hei, tunggu!

Turunkan aku di sini.

Di mana rumahmu? Kuturunkan di depannya.

Kita belum cukup akrab untuk kuberi tahu.

Tak masalah. Kita bisa jalani pelan-pelan.

Tadi menyenangkan.

Kuberi tahu tanggal wawancara nanti.

Sampai jumpa.

Baik.

Kawan. Kau sudah pulang.

Kau sungguh tahu cara menganggap rumah ini seperti rumahmu sendiri.

Kau bicara seolah kita orang asing, padahal keluarga.

Tae-o, boleh kutulis nomor teleponmu untuk pendaftaran audisi?

Apa?

Aku tak punya ponsel.

Aku akan memberi nomormu agar mereka bisa mengirim hasil audisinya.

Yang benar saja!

Tolong bantu aku.

Kau harus sering periksa pesan singkatmu. Aku menyayangimu, Kawan.

- Aku menyayangimu. - Kau sungguh menyebalkan.

Kau hebat. Bagus.

Hai.

Kita jadi teman sekamar, semoga kau tak masalah.

Aku yang semestinya bilang begitu.

Aku belum pernah sekamar dengan orang lain.

Jika aku salah, tolong segera beri tahu.

Aku juga sama.

Kau punya kebiasaan tidur? Aku sangat mudah terbangun.

Tidak. Kau tak perlu cemas.

Kenapa di situ?

Mengungsi.

Ga-rin mendengkur keras. Aku akan masuk setelah dia diam.

Kau harus rekam untuk meledeknya nanti.

Itu yang terpikir olehmu? Kau sangat tak dewasa.

Omong-omong, bagaimana kencan butamu?

- Kau bertemu dia lagi? - Bertemu dia?

Ya, kami bertemu. Itu seperti takdir.

Apa?

Aneh sekali. Dia merusak kencan buta orang lain.

Jangan kasar, jangan menyebutnya aneh.

Faktanya,

aku yang keliru. Dia tak menghancurkan kencan butaku.

Kau membelanya? Aneh.

Kau sungguh bergabung dengan klubnya?

Ya. Faktanya, dia pendiri klub itu.

Dia banyak memenangi lomba.

Aku juga banyak memenangi lomba.

Menariknya, dia tinggal di lingkungan ini.

Benarkah?

Cukup menarik.

Sudah jadi impianku

bertemu gadis yang sangat cantik.

Tak hanya cantik, dia juga sangat keren.

Jika semua lancar, perkenalkan aku.

Aku mau lihat seberapa buruk seleramu.

Aku kasihan kepadamu.

Kenapa?

Standarmu soal pria pasti tinggi

karena temanmu sempurna sepertiku.

Aku merasa ikut bersalah kau melajang

seumur hidupmu.

Aku bertanggung jawab atas semuanya. Minumlah.

Terserah kau saja.

Kudengarkan omong kosongmu karena aku tak perlu bayar sewa.

Tae-o.

Terima kasih banyak.

Jika dipikir, aku belum berterima kasih sepantasnya kepadamu.

Jika tahu, kau harus baik kepadaku.

Kau besok pulang larut? Biar kumasak makanan enak untukmu.

Aku mau makan malam di rumah orang tuaku besok.

Kau harus lebih hati-hati.

"Biar kumasak makanan enak untukmu".

Orang lain bisa menganggap kita kekasih.

Ya, aku akan lebih hati-hati.

Aku juga mau menikah nanti.

Song-i.

Apa kau berpeluang menikah nanti?

Aku terharu dengan perhatian tulusmu.

Hei!

Kemari, kau.

Kuhajar kau.

Rasakan!

- Sakit! - Kau tak apa-apa?

Tidak, sakit.

Maaf...

Ujian tengah semester.

UTS akan digantikan dengan tugas kelompok.

Temanya perubahan pemukiman di masa depan.

Presentasinya sekitar sepuluh menit.

Ketua setiap kelompok

mengirim topik dan kesimpulan sebelum pekan depan.

Poin tambahan diberikan kepada ketua kelompok.

Pelajaran selesai. Silakan bubar.

- Terima kasih. - Terima kasih.

Kita butuh lebih dari tiga orang untuk satu tim.

Aku kenal mahasiswi fakultas seni.

- Dia jago membuat presentasi. - Aku suka seni.

Hai!

Ini minumannya.

- Terima kasih. - Aku traktir.

Terima kasih.

Ayo bertukar nomor telepon dan putuskan

kapan akan bertemu pekan ini.

Aku akan membuat obrolan kelompok

untuk memilih ketua tim dan topiknya.

- Baik. - Ya.

Siapa namamu?

Han Song-i.

Han Song-i.

Ryu Se-hyeon.

Ryu Se-hyeon.

Aku baru tahu kita mengambil kelas yang sama.

Kini tinggal di mana?

Di rumah teman.

Kau menumpang temanmu?

Bisa dibilang begitu.

Se-hyeon.

Aku punya rencana lain, permisi.

Aku harus pergi sekarang.

Dia punya mobil bagus. Dia pacarnya?

Hanya salah satunya.

Se-hyeon tak suka hubungan serius.

Song-i.

Ya?

Bisa ambil buku di daftar ini?

Untuk dibuang.

Tentu.

Do-hyeon.

Buku yang ini?

Ya. Itu juga.

- Semua itu? - Ya.

- Ini. - Terima kasih.

Kurasa kau membutuhkannya.

Terima kasih.

Bagian ini sudah selesai.

Aku bawakan bukunya.

Selamat datang, Tae-o!

Ya.

Bagaimana kabar Ibu?

Ini salah satu wine terbaik dari Prancis. Hanya 500 botol diproduksi tiap tahun.

Seruput perlahan dan nikmati.

Aku naik skuter, jadi tak bisa minum banyak.

Bukan motor, tapi skuter kecil? Dewasalah.

Aku akan terima, jika Ayah belikan mobil.

Boleh minta segelas juga?

Nanti setelah kau kuliah.

Bukankah terlalu mengkhayal jika mengingat nilai sekolahnya?

Nilaiku semakin merosot lagi.

Benarkah?

Kenapa mencubitku?

Wajahmu kurus.

Kau banyak minum bir?

Minum bir? Tak mungkin.

Aku sibuk belajar sampai larut malam.

Belajar tentang wanita?

Apa maksud Ibu?

Kau punya teman akrab bernama Song-i, 'kan?

Ada apa dengan Song-i?

Ibunya minggat di tengah malam, 'kan?

Bagaimana Ibu tahu dia minggat?

Bagaimana aku tahu?

Ibunya menyewa tempat berjualan gimbap di gedung ayahmu.

Dia sudah bulanan tak bayar sewa.

Jangan dibahas, aku hilang selera.

Bukan cuma kami yang ditipu.

Sehari sebelum minggat,

dia meminjam uang dari tetangganya.

Dia bahkan punya pacar.

Benarkah?

Ibu tak boleh bicara begitu,

jika belum tahu pasti.

Tae-o.

Buat apa aku mengarang ini?

Banyak saksi melihatnya bersama pria.

Entah siapa atau apa pekerjaan pria itu,

orang bilang dia tergila-gila kepada pria itu.

Tolong hati-hati, jangan katakan apa pun kepada Song-i.

Usianya 23 tahun, dia sudah dewasa.

Itu takdirnya. Orang bilang karma pun diwariskan.

Dia harus tahu ibunya punya utang.

Tapi sungguh,

apa tak ada cara menagihnya?

Ayah.

Ayah seperti lintah darat.

Jangan bicara soal uang kepada Song-i.

- Nanti kubereskan. - Kau bilang ayah seperti lintah darat?

Karena itu jangan pinjami uang kepada yang kesulitan keuangan.

Ayah yang dimarahi, padahal jadi korban.

MIN-AH

Min-ah.

Sedang apa, Song-i?

Aku?

Sedang mengerjakan tugas.

Sulit sekali.

Aku menelepon untuk bertanya apa kau mau ikut kencan buta.

Kencan buta?

Dia dari Fakultas Pendidikan Jasmani dan anggota tim hoki es.

Terdengar keren, 'kan?

Anggota tim hoki es? Keren sekali.

Bagaimana? Kau mau?

Aku mau tahu seperti apa rasanya kencan dengan pemain hoki es.

Beri tahu saja seluruh dunia.

Aku harus menolaknya.

Aku yang ikut kencan buta ini jika tak sedang punya pacar.

Kau menolak kesempatan besar ini?

Aku sedang tertarik dengan seorang pemuda.

Apa? Serius? Kau belum cerita kepadaku.

Belakangan ini, aku kesulitan

dan dia banyak membantuku.

Aku menyukainya tanpa menyadarinya.

Begitu mendadak.

Astaga, kau dimabuk asmara.

Ya. Aku sangat menyukainya.

Aku terus memikirkannya.

Saat kami bersama,

aku jadi gugup.

Astaga. Ayolah, katakan siapa dia.

Aku beri tahu nanti.

Ada kabar dari tempat kau mendaftar magang?

Jangan mengubah topik pembicaraan. Katakan siapa yang kau sukai.

Biar kuberi tahu saat semuanya...

Sebentar.

Pengeras suara ini aktif dari tadi?

Sambungan ponsel terputus.

Lanjutkan, aku mendengarkan.

Halo?

Song-i?

Nanti aku telepon lagi.

Tae-o.

Ya?

Kau dengar semuanya?

Terjemahan subtitle oleh Sulaiman

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.