Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
- Ini hadiahmu. - Ayo berfoto.
- Cantik sekali. - Senyum!
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Tae-o Selamat ulang tahun
Ayolah.
Bagus...
Cepat tiup lilinnya. Ayo.
Ini ulang tahunku, tapi tak ada kartu ucapan atau hadiah.
Aku kecewa.
Kau punya kartu. Kartu kredit Ayah.
Daripada hadiah, Ayah mau bicara.
Kini usiamu 20 tahun, harus mandiri.
Benarkah?
Tunggu, kalian akan membelikanku rumah?
Hanya apartemen studio kecil.
Kemandirian harus dimulai dari dasar.
Yang benar saja, Ayah mulai dari atas berkat kekayaan Kakek.
Tae-o!
Sial! Astaga!
Aku mau makan, bukan jadi steik!
Maaf.
Astaga, apinya. Enyahlah!
Tak apa-apa.
Kalian harus lebih hati-hati.
Kini steik Ayah terbakar!
Ayah, jadi...
Berikan rumah Kakek kepadaku.
Rumah itu?
Ayah perlu orang untuk membersihkannya.
Rumah yang dirawat bertahan lebih lama.
Lebih baik putra Ayah yang rawat, 'kan?
Lebih baik daripada dibiarkan kosong.
Astaga, dia belum siap mandiri.
Jika dia bawa pulang gadis dan menghamilinya?
Tak boleh. Itu terlalu cepat.
Sial.
Salahku. Ibu tiri kita...
Bukan, maksudku...
Mestinya tak kukatakan karena kau dihamili ayah, lalu dinikahi.
Benarkah?
Aku lahir tak direncanakan?
Aku menghormati tekad kalian.
Astaga! Kenapa kau berbohong?
Cukup!
Ayah akan mampir mendadak tiap pekan.
Harus rumah Kakek, tak mau rumah lain.
Jika ada sehelai saja rambut wanita,
kau tinggal di rumah lagi, paham?
Aku tak akan bawa pulang wanita, sumpah demi nyawaku.
Sial. Kau todongkan pisau ke Ayah?
Ayah, makan udangnya.
Ini, silakan.
Taruh saja.
Ayo, cobalah.
Taruh dan duduk.
Tentu.
Ayah bilang mau mampir tiap pekan.
Tapi sudah bulanan dia tak datang.
Aku tak keberatan, karena itulah yang aku mau.
Pria umur 20 tahun tak boleh hidup kesepian.
Aku mau tinggal bersama...
Maksudku,
andai aku bisa tidur dengan pacar.
21 TAHUN
Kini aku siap menikmati hidup bebas.
Aku hanya butuh gadis cantik.
Kau siapkan semua ini untukku?
Terima kasih banyak.
Kau tahu betapa mahalnya itu?
Kenapa di sini? Sekolahmu bagaimana?
Aku berhenti dan orang tuaku mengusirku.
Karena itu,
boleh aku menemanimu malam ini?
- Sayang. - Jangan begini!
Sayang, ada apa? Ayolah.
Jiwa mudaku,
datang membalas dendam kepadaku.
22 TAHUN
Kau menakutiku!
Do-hyeon, kenapa kemari tanpa memberi kabar?
Dapur kami direnovasi, aku tak bisa konsentrasi.
- Aku juga ujian dua hari lagi. - Pergilah ke ruangan lain.
Keterlaluan.
Kau keterlaluan.
Sial.
Aku ingin gadis cantik,
tapi yang kudapat teman tak berguna.
23 TAHUN
Tapi aku tak mau menyerah.
KENCAN BUTA PUKUL 19.00
Kini, sesaat sebelum kencan buta yang kunantikan,
seorang gadis
muncul di dalam benakku.
PESAN DARI TAE-O
Tiba sepuluh menit lagi di depan.
BARANG SITAAN
TEMAN DEKATโYANG HANYA SEKADAR TEMAN
Tinggalkan pesan setelah nada berikut.
Mau terus menghindari teleponku?
Putri tunggal Ibu tinggal di rumah tanpa air.
Ibu tak cemas?
Aku bahkan memakai toilet di restoran dekat sini.
"Ibu,
maaf, boleh aku menumpang toilet?"
Apa pantas gadis 23 tahun menanyakan itu?
PEMBERITAHUAN PENGUSIRAN
Stiker merahnya tampak mengerikan.
Pengadilan terus mengirim surel.
Tentang lelang dan jumlah transfer.
Tapi aku tak mengerti.
Aku ketakutan di sini, Bu.
Jadi, tolong jawab teleponnya!
Aku tak tuli, tahu?
Astaga.
Bisa keringkan rambutmu? Kau seperti hantu.
Aku sangat ingin menjadi hantu.
Song-i, dengar baik-baik.
Ini hari terakhirku memberi tumpangan di belakang skuterku.
Kenapa?
Karena hari ini...
- Hari ini... - Kenapa aku tak bisa naik skutermu lagi?
Kau yang menjemputku setiap pagi.
Aku akan naik skutermu sampai aku lulus.
Kita tak berangkat?
Baik, berangkat.
BERISTIRAHAT DENGAN TENANG
SEDANG BERDUKA
- Astaga. - Song-i.
- Apa yang terjadi? - Song-i!
Astaga.
Apa yang terjadi?
Aku harus bagaimana?
Saat itulah aku sadar
aku harus temani Song-i.
PANDUAN PROGRAM PERTUKARAN BUDAYA
Guru memintaku menyerahkannya untuk berjaga-jaga.
Pendaftaran sudah ditutup,
tapi mereka menunggu jika kau tertarik.
Bagaimana aku bisa pergi saat ibuku kini sendiri?
Tak perlu.
Aku memang tak mau pergi.
Song-i...
Aku tak tahu
cara menghiburmu...
Tak perlu repot.
Ada orang
yang kehilangan ayahnya dahulu.
Tampaknya hujan, Song-i.
Astaga, sama sekali tak bagus.
Kenapa harus hujan sekarang?
Bisa berhenti bicara? Suaramu bising.
Lihat, tanganmu basah semua.
Hujan menetesi matamu juga.
Kenapa hujan hanya menetesimu?
Song-i.
Dahulu Ibuku juga wafat di musim ini.
Kau bilang dia wafat saat kau kecil, 'kan?
Kau bahkan tak ingat.
Benar.
Lebih baik tak ingat.
Kenangan menyulitkan.
Aku lebih baik amnesia saat ini.
Jika kenangan dicuri juga tak bagus.
Walau tak punya kenangan,
tak punya ibu menyakitkan.
Seolah aku tak pernah punya ibu.
Tapi tetap aneh dan pedih.
Tapi aku sudah terbiasa tanpa dia.
Kau juga akan terbiasa.
Tanpa ayah, maksudku.
Selain itu,
kau bisa cepat melupakannya karena ada aku.
Menyebalkan.
Bodoh.
Kau cantik saat tersenyum.
Yun Tae-o!
Kau beli roti sosis?
Tidak?
Ini!
Cepat, naik!
Hujan.
- Tae-o, kau punya payung? - Ya. Biar kuambil!
Ini uangnya.
Siapa?
Yun Tae-o?
Mau bilang Tae-o bahwa kau suka dia?
Kenapa butuh izinku?
Kau yakin kalian tak ada sesuatu?
Apa ada sesuatu?
Kalian biasanya sangat akrab.
Semua orang berdebat apa kalian pacaran.
Kami tak pacaran. Kalian tak percaya?
Tae-o sangat tampan.
Bagaimana kau bisa tak menyukai wajah seperti itu?
Hei.
Karena kalian tak melihat dia saat kecil.
Nilainya nol sampai rata-rata.
Kau tak pernah punya perasaan kepadanya?
Tidak.
Benarkah?
Dia manis, tampan, dan baik,
tapi bukan tipeku.
Tidak. Pasti ada sesuatu di antara kalian.
Aku setuju. Pasti ada sesuatu.
Bagus. Ayo berbagi payung.
Aku tak mau.
Apa?
Hujan-hujanan saja.
Hei, Yun Tae-o!
Astaga, kenapa kau?
Ayolah, berbagi denganku!
- Di sana! - Hei!
Sial!
Hei!
Dasar kau...
Ayolah. Hei!
Rasakan ini!
Ayolah. Berikan.
- Dah. - Hei!
Berhenti!
Berikan!
Hei!
Aku selalu bersyukur atas tumpangan ini. Tak sabar menumpang lagi.
Hei, Han Song-i.
Seperti kubilang,
ini terakhir kuberi kau tumpangan.
Kenapa?
Aku...
Aku akan segera kencan.
Kau mendengus?
Kau sangat serius karena itu?
Kau punya pacar?
Nanti, setelah kencan buta, temanku bilang dia sangat seksi.
Gadis seksi itu mau mengencanimu?
Song-i, bagi pria sepertiku,
kencan buta akan sukses seratus persen.
Jika semua lancar, aku tak mengantarmu lagi.
Mimpi saja.
- Gadis seksi jarang ikut kencan buta. - Maksudmu?
Gadis seksi tak butuh kencan buta.
Mereka sudah punya pacar.
Begitu.
Karena itu kau tak pernah punya pacar.
Tak ada pria mengencanimu.
Semoga kencan butamu sukses. Jangan bicara. Itu akan membantumu.
Asal tahu saja, wanita suka suara beratku.
Song-i!
Orang bilang kita harus bermimpi besar.
Sampai jumpa.
Baiklah, terserah.
Kenapa aku selalu kekanakan-kanakan di dekatnya?
Dia tampan, seperti biasa.
Ketampanannya abadi.
Aku setuju.
Astaga, jangan itu lagi.
Kau tak menyukainya?
Dia pacar hebat.
Kalian sudah 20 tahun berteman.
Sudah selama itu?
Aku muak dan bosan kepadanya.
Kau tak sadar karena dia selalu bersamamu.
Lihat saja.
Kau akan tersadar saat gadis lain menyambarnya.
Dia benar. Tae-o terkenal di fakultasnya.
- Benar. - Dia itu Tn. Cinta Pertama. Kau tahu?
Cinta Pertama?
Dia?
Mengenai cinta pertama,
yang penting, pria bisa didekati.
Saat melihatnya,
kau berpikir, "Aku bersama pria sepertinya?"
Tapi tak terduga, dia seperti pria biasa.
- Tae-o. - Apa kabar?
Perutku sakit.
Tembak!
- Astaga! - Kau mabuk kemarin?
Aku bukan kau.
Kau tampak cantik saat bengkak.
Bodoh!
- Dia tampan tapi bisa didekati. - Tae-o.
Tae-o datang.
Karena itu semua gadis membayangkan dirinya
sudah mengencaninya.
Lihat saja. Begitu dia punya pacar,
para gadis lainnya akan mabuk-mabukan.
Aku setuju.
Tapi aku suka Tn. Cinta Terakhir.
Benar. Aku lupa tentangnya.
Ada Tn. Cinta Terakhir?
Awalnya sulit menebaknya. Dia bahkan agak menakutkan.
Dia tak ramah hampir ke semua orang.
Do-hyeon...
Bisa bicara sebentar?
Ada yang mau kukatakan.
Katakan di sini.
Di sini? Ini agak...
- Kau mau bilang kau suka aku? - Bagaimana kau tahu?
Sudah beberapa hari kau mencoba bicara kepadaku.
Itu sangat jelas.
Aku merasa begini sejak orientasi mahasiswa baru.
- Aku akan menolaknya. - Kenapa?
Aku pacar yang hebat, tahu?
Aku tak punya waktu mengenalmu.
Mungkin kejam, tapi bagiku
lebih sopan langsung menolak jika aku tak suka.
Kau tak perlu sopan kepadaku.
Aku pergi dahulu, ada kelas.
Tapi kita tahu rasanya.
Ada pria yang ingin kita percayai dan ikuti.
Dia memiliki getaran itu.
Dia tipe orang yang akan
selalu bersama kita sampai akhir.
Apa perlunya julukan itu?
Tapi aku mau tahu.
Benar, 'kan?
Kau mau menemuinya?
- Tak perlu. - Kenapa tidak? Ayo.
- Tak perlu. - Kita saja, ayo.
Selamat makan.
Dia cantik.
Kau cepat.
Itu terjadi secara alami, aku mengikuti pandanganku.
PROGRAM MENGAJAR SESAMA
Kau mendaftar untuk itu?
Ya.
Yang mana? Ada beberapa.
Pegawai negeri.
Pegawai negeri?
Itu cocok untukmu.
Kaku, membosankan, tapi jujur dan bisa dipercaya.
Aku akan percaya kepada pemerintah di tangan orang sepertimu.
Tapi aku benar, memang membosankan.
Bekerja tak harus seru.
Justru jika seru, kita bisa bekerja keras.
Aku tak butuh itu.
Aku suka kepastian, apa pun itu.
- Kepastian? - Tak akan dipecat,
ada pensiun, pekerjaan stabil.
Cocok untukku.
Harapan hidup rata-rata seratus tahun. Jangan pastikan cara kita hidup.
- Keadaan akan berubah. - Tak ada waktu untuk berubah.
Itu hanya untuk orang kaya.
Mayoritas pria mencari pacar begitu keluar dari militer.
Tapi kau mau jadi mentor.
Aku kencan buta hari ini.
Biar kucarikan kau pacar.
Tak perlu.
Dia seksi. Mau lihat fotonya?
Aku bercanda. Tak ada fotonya.
Kau bahkan tak tahu wajahnya?
Biar seru.
Makanannya siap?
Ya.
Ada sendok hilang.
- Cek fotonya. - Ya.
Ayo cepat, Semuanya.
- Cek mikrofon. - Ya.
- Ayo mulai latihannya. - Baik.
FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS JEONGHAN DOSEN KEPALA CHOE SEOK-HWAN
Ya, lewat sini.
Do, do, re, mi, fa, sol, sol, do, re, mi, fa, sol.
Sol, la, si, do, do, re, mi...
Tunggu, namanya harus kelihatan.
DOSEN KEPALA CHOE SEOK-HWAN
Begini lebih bagus.
Dosen Choe.
Astaga, Pak. Kalian datang.
- Selamat. - Selamat.
Kau datang cepat sekali.
Tentu aku harus datang cepat.
Ini acara keluargamu.
Kami tersanjung kalian memberi selamat.
Bagaimana rasanya?
Di fotonya, putra kalian sangat tampan.
Ada suka dan dukanya.
Tunggu. Nama putramu Hun, benar?
Ya, belajar untuk ujian masuk kampus lagi.
Dia keras kepala, mau kuliah di kampusku.
Dia serakah sepertimu.
Astaga, Pak.
Bahkan melalui getaran terhalus pun
Kau bagai gelombang pasang bagiku
Menyerupai demam
- Di sana... - Tiap saat pada tiap hari
Dia di sana.
Aku menyusuri duniamu
Bukankah itu putramu?
Semua ini
Tiap saat, di mana saja Aku akan menyertaimu
Tersenyumlah seperti dirimu sedia kala
Tiap saat...
Posisi push up!
Kau hadir meskipun tahu itu pernikahan putra bos Ayah?
Apa kau begitu bodoh?
Sejujurnya, aku tak tahu.
Siapa yang peduli jika aku hadir untuk kerja?
Angkat kakimu.
Kau masih
tak berhenti bermain musik, ya?
Astaga, Sayang!
Hentikan!
Ayah muak denganmu!
Keluar!
Baiklah.
- Sekarang! - Baik.
Tinggalkan yang kau beli dengan uang ayah!
Baik.
Choe Hun!
Ayah bilang "semua".
Astaga.
Aku akan pergi.
Baiklah, aku akan pergi.
Aku akan kembali setelah terkenal.
Jadi, jaga kesehatanmu sampai saat itu tiba.
Anak lancang!
- Sayang, hentikan! - Bodoh!
- Belum cukup dipukuli? - Sayang, hentikan, kumohon!
Dasar bodoh!
Hun!
- Hun! - Anak bodoh tak tahu terima kasih!
Kembali kemari!
Bajingan tak tahu terima kasih!
Apa? Kenapa? Astaga.
Aku bukan pria semacam itu.
- Menjauh! - Tolong, ini salah paham.
Astaga.
- Apa? Tolong jangan teriak. - Dasar mesum! Enyahlah!
- Apa katamu? - Menjauh!
- Menjauh! - Kalian...
Aku akan kembali, awas kalian!
Enyahlah!
Diam!
Bukan begitu. Aku bukan pria semacam itu!
Tolong dengarkan!
Pendaftaran asrama sekolah beres.
Tak ada yang perlu dicemaskan.
Akhir pekan, kau dan ibumu menginap di hotel.
Tiap akhir pekan?
Kau tahu ibumu sangat cemas.
BANDARA INCHEON
Aku akan ganti pakaian di toilet.
Ini tak nyaman untuk penerbangan 12 jam.
Tentu.
Biar kubawakan.
Aku mau ke toilet.
Benar.
Jika Ibu baca catatan ini,
berarti rencanaku berhasil, 'kan?
Seumur hidupku,
aku belum pernah liburan sungguhan.
Aku akan menginap di rumah teman sebentar
dan menikmati liburan yang sudah lama tertunda.
Jangan terlalu cemas.
Aku akan menelepon Ibu.
Ke mana, Nona?
YUN TAE-O, YEONHA-RO 121, MAPO-GU, SEOUL
Seoul, tolong.
Antar aku ke Yeonha-dong.
Ya, tentu.
Halo?
Ya, ini aku. Lama tak jumpa.
Aku sedang bekerja.
Di rumahku? Sekarang?
Apa yang kalian lakukan?
Siapa kau?
Aku tinggal di sini.
Aneh. Kami bertemu pemiliknya di dalam.
Hati-hati membawanya. Pelan-pelan.
Ya, benar.
Kau sungguh tinggal di sini sampai tadi pagi?
Menakutkan, ya?
Semuanya ada stiker merahnya.
Aku tak punya tempat lain.
Orang tuamu di mana?
Ayahku sudah wafat.
Aku mencoba menghubungi ibuku.
Tapi tak pernah bisa.
Aku mengerti situasimu.
Tapi kami beli rumah ini lewat lelang sesuai prosedur legal.
Tapi, ini rumahku.
Aku mengerti situasimu...
Ayahku yang membangunnya.
Dia memilih keramiknya dan memberikan sentuhan terakhir.
Cari tas yang muat untuk barangmu.
Bawa sebisamu dan kemasi sisanya nanti,
saat kau siap.
Hanya ini yang bisa kuberi, ya?
Biar aku saja.
SONG-I MASUK SEKOLAH DASAR
KERETA LUNCUR
SONG-I MASUK SMP
SONG-I LULUS SMP
Terima kasih mau membantu mendadak.
Jangan sungkan.
Kenapa rumah ini dikosongkan?
Pemiliknya mengabaikan pemberitahuan pengusiran.
Banyak orang begitu.
Da-eun.
Ibu!
Astaga, kau senang?
Dah.
- Dah! - Pasti lapar.
- Dah. - Kau lapar?
- Sampai nanti, Da-eun. - Ayo pulang dan makan,
- Ini. Terima kasih, mampir lagi. - Terima kasih.
Ayah.
- Ayah sehat? - Ya.
Maaf karena hanya bisa memberimu pekerjaan itu.
Tak apa-apa.
- Urusan kedai lancar? - Ya, beres.
- Aku pergi setelah ambil barangku. - Tentu. Sampai nanti.
CONTOH PERTANYAAN UJIAN PEGAWAI NEGERI
Biar aku saja.
Hei, Tae-o.
Tae-o!
Hei, Yun Tae-o!
Hei, Tae-o!
Tae-o!
Yun Tae...
Sial...
Astaga, di mana dia?
Dia tak pernah di rumah saat kubutuhkan.
Sial.
Berarti...
Aku akan memulai pertandingan Olimpiade satu orang.
Choe Hun melangkah ke lapangan dengan percaya diri.
Lihat, Choe Hun melempar hadiah kepada para penggemarnya.
Begitulah caranya memperlakukan penggemar.
Choe Hun pemanasan.
Dia siap untuk menyengat seperti lebah.
Dia berlari!
Dia tak menyerah sampai terakhir.
Itu yang membuatnya...
Menakjubkan!
Nilai maksimal sepuluh. Ya!
Dia mencetak rekor baru Olimpiade!
Tae-o. Yun Tae-o!
Suara gadis?
Siapa?
Ini aku, Ga-rin.
O Ga-rin.
O Ga-rin?
Siapa kau?
Yun Tae-o tinggal di sini, 'kan?
- Ya, tapi, siapa kau? - Aku temannya Tae-o.
Apa? Aku juga temannya.
Ini...
Aku dalam kesulitan, begini...
Aku bukan pria macam itu, mengerti?
Han Song-i?
Choe Hun?
Apa yang kau pakai?
Kau sendiri?
Kau baru dari restoran?
Kalian punya urusan di sini?
Kami mau menemui Tae-o.
Yun Tae-o?
Dia temanku.
Temannya?
Aku juga temannya.
Aku juga teman Yun Tae-o.
Sial. Aku harus tiba 30 menit sebelum dia.
Astaga...
Itu tipe gadis yang mau kutemui di kencan buta.
Terjemahan subtitle oleh Sulaiman
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.