Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Apa itu kebahagiaan menurutmu?
Definisiku (tentang kebahagiaan) itu (adalah) apakah (kamu) merasa iri dengan hidup orang lain atau tidak. Terima kasih, kamu udah sangat membantu. Aku benar-benar senang bisa dibantu sama kamu. Ah, syukurlah. Aku tadinya bingung harus gimana ngelola uang sisa 3 miliar yen yang gak kepake ini.
Emang bener, ahlinya yang lebih ngerti.
Begitu sampai kantor, aku langsung kirim okonomiyaki buat kamu.
Oke, ditunggu ya, Chihaya.
Baik, permisi dulu.
Maaf, ya. Udah jauh-jauh ke sini buat bantuin aku.
Gak masalah, kok.
Agak gak enak juga kalau tetangga lihat mobil perusahaan sekuritas parkir di depan rumah mereka.
Dulu aku kiraโฆ pekerjaan ini bakal lebih bagus. Sebelum masuk kerja, aku membayangkannya begini:
Aku akan mengelola uang dari orang kaya, menggerakkan roda ekonomi, memberikan keuntungan kembali ke klien,
dan dari biaya jasanya, aku bisa hidup dengan cukup layak.
Pekerjaan yang bisa memuaskan rasa idealismeku sekaligus ambisiku. Begitu pikirku dulu.
Tapi nyatanya? Begitu lulus, aku malah ditempatkan di daerah yang bukan kota besar, tapi juga bukan desa.
Kerjaanku cuma menyenangkan hati orang tua, dan di jam istirahat, makan onigiri buru-buru di mobil kantor.
Begini aja hidupku di umur 29 tahun?
Sekarang aku sering dapat undangan pernikahan teman-teman seangkatan.
Sementara aku sibuk menatap layar memantau harga pasar, orang lain sudah menemukan arti hidup di tempat yang jauh dari sekadar angka.
Pantas saja kisah โterlahir kembali di dunia lainโ lagi ngetren. Bukan berarti aku mau memulai hidup dari nol, tapiโฆ
aku jadi berharap ada sesuatu, kejadian besar, yang bisa mengubah hidupkuโฆ sesuatu yang dramatis.
Ah, sial. Aku salah jalanโฆ
Aduh, kenapa tadi bengong banget.
Apa aku masih bisa sampai kantor tepat waktu? Jangan sampai gara-gara beginian mood Pak Kepala bagian jadi jelek.
Sial, nggak bisa putar balik!
Ehโฆ di kota ini ternyata ada tempat kayak gini?
Hah? Gereja?
(Seorang biarawati yang mendambakan pernikahan ingin kehilangan keperawanannya.) (Pikirannya dipenuhi dengan hasrat seksual.)
(Dengan pakaian dalam seksinya, Seorang suster biara yang menahan nafsu seksual mendekati seorang pria.) (Sang biarawati menggaet seorang pria dan kehilangan keperawanannya melalui orgasme 'creampie'.)
(Himari Kinoshita) (RKI-717)
Ada bunyi loncengโฆ Apa mereka juga punya sekolah di sini?
Hebat juga, lokasi kayak gini tapi bisa dapet banyak umatโฆ
Halo...
Halo...
Anda bukan wali murid, kan?
Eh, bukan, memangnya kenapa, ya?
Ada perlu ya sama akademi ini?
Kalau iya, lobby-nya ada di...
Ah!
A-anda gak apa-apa? Gak apa-apa?
Hah!!!
Kamu tadi jatuh, kan? Kenapa sekarang malah jadi pamerin pantat kamu ke aku?
Ehm, aku gak apa-apa.
Jadi, aku... begini, aku ini...
Oh jadi kamu kesini lagi dihukum?
Dihukum? Maksudnya?
Ah, bukan, bukan gitu. Sebenarnya, aku ini bolos dan lagi pengen gabut.
Bolos dan gabut? Sama kayak aku, dong.
Di sini, di akademi ini, kita kasih kelas bimbingan untuk calon pengantin baru.
Kenalin, nama aku Nora Erie.
Nama belakangku Erie.
Aku bukan staf akademi ini, tapi biarawati yang sedang magang di gereja.
Kadang kalau kerjaan lagi malesin dan aku pengen cari suasana baru, aku suka mampir ke akademi.
Emangnya kerjaan di gereja itu ngapain?
Singkatnya, itu semacam kegiatan amal untuk bikin orang bahagia.
Mengelola akademi ini juga salah satu bagiannya.
Oh begitu...
Ini ruang meditasi?
Bukan, ini ruang hukuman. Kamu harusnya menyesal udah bolos.
Tapi, kalau kamu gak punya tempat untuk ngeluh, tugas aku itu ngasih kebebasan pada jiwa-jiwa yang tersesat di ruangan kecil ini.
Ya udah deh.
Di Jepang ada cadangan emas lebih dari 1 kuadriliun yen.
Itu jumlah total uang tunai dan tabungan yang dimiliki orang-orang Jepang.
Uang lebih dari 10 kali lipat anggaran negara itu cuma tidur di rekening bank dan laci-laci, gak beredar di pasar.
Di satu sisi, ada uang yang gak dipake. Tapi di sisi lain, banyak orang yang butuh uang.
Misalnya, hampir 15 juta pelajar yang pinjem uang buat biaya kuliah.
Jumlah totalnya 24 triliun yen.
Uang yang disimpan terlalu banyak itu, kalau bisa ngalir ke pasar lewat produk keuangan...
Terus nyampe ke orang-orang yang membutuhkan. Itu bagus banget.
Aku pengen berkontribusi ke masyarakat dalam skala yang lebih besar, gak cuma bantuan langsung.
Tapi yang kulakukan cuma...
Maksa orang kaya atau orang yang buta soal keuangan...
...buat beli produk yang aku sendiri gak bakal beli.
Erie-san, aku gak yakin apa yang aku lakuin ini bener atau gak.
Apa sebaiknya aku berhenti aja dari pekerjaan ini?
Chihaya-san, kamu ini orang baik, ya?
Kelihatan kayak gitu?
Mungkin definisi orang baik itu beda buat kita berdua.
Seseorang bakal kehilangan rasa empati begitu dia yakin dirinya berada di pihak yang benar.
Kalau Chihaya-san masih ragu soal kebenaran yang kamu yakini...
Itu justru bukti kalau kamu itu orang baik.
Meskipun orang baik, kalau gak melakukan hal baik ya gak ada gunanya.
Chihaya-san, gimana kalau kamu coba pikirin masalahmu dalam skala yang lebih kecil?
Jangan mikirin soal masyarakat atau kebenaran. Pikirin aja soal kebahagiaanmu sendiri.
Kebahagiaanku sendiri?
Aku juga lagi mikir, apa aku harus berhenti jadi biarawati?
Sekte Saintess percaya sama ajaran Saintess, yang intinya, membagi kebahagiaan sendiri ke orang lain,
dengan tujuan mencapai perdamaian dunia.
Tapi, masalah yang dihadapi gereja ini, seperti masyarakat dan dunia, itu terlalu besar.
Aku jadi merasa apa pun yang kulakuin itu gak ada artinya.
Aku jadi mikir, apa sepadan mengabdikan seumur hidupku buat ini?
Aku udah mengikrarkan janji suci ke Saintess dan udah 5 tahun jadi biarawati.
Selama 5 tahun ini, 4 temanku udah nikah dan punya anak.
Di saat aku mengikrarkan janji suci ke Saintess, mereka justru membesarkan kehidupan baru.
Aku udah menjaga kesucianku selama 29 tahun. Siapa yang udah kuselamatkan?
Dibandingkan aku yang cuma ngikutin gereja...
Teman-temanku yang mengejar kebahagiaan mereka sendiri, justru nyebarin kebahagiaan lebih banyak.
Chihaya-san dan aku, kita berdua harusnya ngebahagiain diri kita sendiri dulu.
Kontribusi buat masyarakat dan perdamaian dunia itu bakal datang setelahnya.
Jadi, gimana kalau kita saling dukung?
(? Apaan nih? Ada yang gak beres, nih.)
Hah?
Kita berdua lagi mikir buat berhenti kerja.
(Kita berdua lagi deeptalk, kenapa jari-jari kamu pegang-pegang jari aku..?)
Daripada kita cuma bolos, mending kita langgar aja kepercayaan atau kebenaran kita masing-masing.
(Ada apa sih... Kamu tuh mau bilang apa sih sebenernya?)
(Kenapa napasmu terengah-engah? Pembicaraannya juga jadi aneh...)
Biar kita bisa jadiin itu alasan buat berhenti kerja.
Ehm, Erie-san, kayaknya obrolan ini muter-muter deh. Maksudku... kamu muter-muter.
Tolong langsung aja ke intinya, bisa gak?
Kamu mau nyobain sama aku gak, sekali aja?
Maksud kamu bukan nyobain yang itu, kan? Hah? 'nyobain sekali', maksudmu 'nyobain' yang itu?!
Iyaa, sekali aja.
Hei, kamu biarawati, kan? Emang boleh ngomong yang kayak gitu-gitu?
Menurutku masih boleh lah, ya kan?
Jelas gak boleh, lah!
Banyak omong...
Temen-temenku udah ngelakuin terus sama suami mereka.
Aku doang yang hidup suci. Rasanya bodoh banget, tau gak!
Itu mah kamu stres aja kali! Terus, soal kebahagiaan-kebahagiaan tadi apaan?
Lagian, jangan dekat-dekat! Karaktermu gak cocok sama penampilanmu!
Kok kamu bisa ngomong gitu sama orang yang baru ketemu?
Gak waras apa, mau begituan sama cowok yang baru ketemu 20 menit?
Karena... muka kamu lumayan juga.
Jangan bilang muka aku lumayan!
Kamu nolak perawan tua biarawati yang telat nikah, ya?
Ini yang terjadi setelah mengikrarkan janji suci ke Saintess?
Hidupku udah tamat kayaknya.
Kamu menaruh prinsip hidupmu di mana sih? Berhenti nunjuk-nunjuk!
Jangan pergi! Aku kira kamu bakal ngomong sesuatu yang bagus, ternyata malah sebaliknya!
Topik obrolannya terlalu jauh!
(Hei, hei, hei, apa yang kamu pikirkan?! Kalau ketahuan, bagaimana?!")
(Atau jangan-jangan... waktu ngobrol sama aku, kamu terus-terusan ngelakuin ini?)
(Mau nge-seks 'sekali'? Kamu benar-benar sudah gila...)
(Cewe ini... bener-bener gila...)
(Kemana perginya suasana serius yang tadi?!)
(Brengsek, dia bener-bener diluar kendali)
(Lagian, kamu payah banget! Sakit, sakit! Bisa lecet! Jangan terlalu kenceng genggamnya woy!)
Permisi.
(Gawat, bakalan nge-crot nih kalau gini...)
(Hei! Berhenti! Kalau sampai ketahuan, kita mau ngomong apa coba?!)
Itu tadi ada orang, udah pergi kan ya?
Apa yang kamu pikirkan, Erie-san?
Pikiranku udah gak karuan.
Ini yang kamu sebut kebahagiaan?
Nge-seks sama cowok sembarangan di sini, itu kebahagiaanmu?
Buatku ini masalah serius.
Bisa gak kamu bayangin apa yang kurasain, jadi perawan yang mau masuk usia 30, lihat temen-temenku satu per satu nikah dan punya anak?
Setiap kali aku liat gaun pengantin, wajah temen-temenku gak bisa hilang dari pikiranku.
Anak-anak mereka yang ada di kartu pos tahunan, makin lama makin gede.
Aku udah gak tahan lagi kalau harus mengabaikan kebahagiaanku sendiri.
Kamu mungkin bisa berhenti kerja dengan mudah karena rasa bersalah melanggar ajaran.
Tapi aku, bolos sehari aja gak cukup buat dijadiin alasan berhenti.
Lagipula, mau kerja apa setelah ini?
Jadi kamu mau lanjut kerja?
Kamu mau terus-terusan nyari gaun pengantin aja?
Aku rasa, kita harus lebih nurutin naluri kita.
Kita hidup, dan kita menjangkau orang-orang yang ada di jalan kita.
Itu bukan berarti kita salah jalan, kan?
Kalau kamu nurutin nalurimu, kamu bisa dapat kepuasan.
Sebagai gantinya, kamu dapat kebahagiaan.
Kamu bener-bener egois, ya.
Kamu mungkin mau kasih keuntungan ke aku. Tapi...
Keinginanku gak dihormatin sama sekali.
Kalau udah diprovokasi begini, aku gak bisa nolak.
Aku ini cowok. Naluri punya batasannya.
Alasanmu itu bukan didorong naluri.
Bukan gitu, aku...
Aku suka seseorang...
Malu banget.
Heeeeeeeeh!
Ngakunya pemula, tapi... sentuhannya... kok aneh...?"
Pake kondom?
Pake.
Mau nyemprot di dalem?
Heeeh...
Aku... belum siap...
Berdiri.
Eh... tunggu...
Kenapa kamu pasang di dalem celana?
Kamu mesum ya?
Ini liburanku dari kehidupan suci.
Aah~
Kamu berlebihan.
Malu...
Udah, gak kuat...
Aku gak bisa berdiri lagi...
Jangan ngedesah kenceng-kenceng.
Kamu gak apa-apa?
Puting kamu sensitif banget...
Kamu bisa pegang sendiri gak?
Kamu gak apa-apa?
Ayo, keluarin pantat kamu...
Iya, kayak gitu...
Hei, plis jangan ngomong kenceng-kenceng.
Gimana kalau ada yang denger?
Udah gak kuat, malu...
Kamu gak apa-apa?
Aku pelan-pelan masukin jari dulu, biar gak sakit kalau langsung masuk.
Sakit, sakit, sakit!
Aku masukin lagi ya.
Masuk dua jari, ya.
Jangan ngedesah kenceng-kenceng!
Kenapa sensitif banget sih?
Ngeri...
Kamu gak apa-apa?
Sakit!
Duduk di sini.
Kamu gak apa-apa?
Malu...
Kamu gak apa-apa?
Sakit, sakit, sakit!
Ayo, jangan mundur! Sekarang waktunya.
Aku lagi masa aman.
Kalau gitu, baringan ya di lantai.
Cepat masukin!
Aku masukin pelan-pelan dulu.
Sakit!
Kamu gak apa-apa?
Gak sakit kan?
Udah mau keluar.
Kayaknya gak masalah kalau lebih kenceng.
Kamu gak apa-apa?
Lihat nih, penisku bisa masuk dengan lancar.
Lihat yang bener.
Kamu gak apa-apa?
Itu dia!
Itu dia!
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Gimana? Keinginan yang kamu idamkan?
Gimana?
Keinginan yang kamu idamkan.
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Kamu gak apa-apa?
Ngedesahnya jorok banget.
Kamu gak apa-apa?
Erie-san, sadar!
Gak apa-apa?
Penisnya keliatan capek.
Erie-san, jangan berlebihan.
Ini kan pertama kali kamu.
Kamu baik banget.
Tapi, kayaknya kamu yang lebih maksa, kan?
Cowok itu...
Kalau belum keluar,
gak bakal lega, kan?
Iya sih.
Kalau kamu mainnya gak karuan gitu, sampe besok juga gak bakal keluar.
Aduh!
Jangan ngedesah kenceng-kenceng!
Gimana kalau ada yang denger lagi?
Kalau kamu pengen keluar...
...kasih tau dong gimana caranya biar enak.
Kenapa kamu jadi kayak ngatur gini?
Oke, pertama...
Pegang ini.
Bagian pangkalnya.
Terus, masukin ujungnya ke mulutmu.
Gini?
Iya.
Terus, putar-putar ujungnya pake lidahmu.
Bagian yang cekung itu.
Kamu tau kan?
Rasanya enak kalau dijilat di situ.
Masukin ke mulutmu.
Terus gerakin di dalem mulutmu.
Coba sedot.
Sambil gerakin kepalamu pelan-pelan.
Jilat uratnya.
Uratnya?
Bagian bawahnya?
Bawahnya?
Iya, di situ.
gitu bener...
Enak ya?
Lumayan. Not bad lah..
Terus, turunin lagi.
Terus, elus kantung penisnya.
Itu seperti ditelusurin pake ujung lidah kamu...
Terus, masukin ke mulut lagi. Coba sedot pelan-pelan.
Jangan kuat-kuat nyedotnya.
Suara sedotannya bikin aku sange.
Terus, hisap lagi.
Hisap kenceng kayak tadi.
Makin lama makin cepet.
Ayo kita bikin nge-crot ..
Erie-san, lepas aja.
Aku udah mau keluar.
Ah, sebentar.
Erie-san...
Sebentar!
Bentar lagi ngr-crot!
Bakalan Nge-crot...
Mau keluar! Mau keluar!
Ah, aku keluar.
Masih ada?
Minum aja.
Kan udah kubilang jangan dipaksa.
Tapi enak, kan?
Kalau gitu, aku permisi ya.
Hah?
Hah?
Tunggu! Hah?
Tu-tunggu dulu!
Hah?
Aku permisi. Tunggu bentar!
Aku permisi, ya.
Hah, tunggu dulu.
Permisi? Aku kan baru aja keluar.
Emang ada hubungannya?
Ada, lah!
Kalau udah keluar sekali, gak bisa langsung lagi.
Cowok emang gitu, ya?
Kalau gitu, aku permisi ya.
Jangan pergi!
Setidaknya biarin aku istirahat dulu!
Lagian, lantainya keras. Punggungku sakit!
Berantakan dan berisik banget!
Hah?
Ini semua salahmu, Chihaya-san.
Hah?
Kamu bolos kerja dan dateng ke tempat ini.
Kamu punya masalah yang sama kayak aku.
Kamu punya penis yang gede.
Kamu ajarin aku hal-hal yang enak.
Selama ini aku pura-pura gak tau.
Aku pura-pura jadi orang lain.
Tapi Chihaya-san ngeluarin semuanya.
Chihaya-san, enak?
Enak banget.
Enak.
Penis...
bagian yang cekung itu...
digesek...
Setiap kali bergerak naik turun...
rasanya...
berubah...
bentuknya...
Aku harus ngeluarin semua...
air kencing...
sama kotoran lain...
semuanya...
dari penis...
Aaah... Aku keluar...
Jangan ngedesah jorok! Ngewe aja!
Balik ke sini.
Udah
Di mana yang enak?
Aku mau kamu ngeluarin sperma.
Keluariin dong sperma.
Aku...
Belum berakhir, ya.
Taro tanganmu di situ.
Naikin pantatmu lagi.
Sampai mana?
Kacamata aku di mana?
Kamu taruh kacamata di mana?
Kayaknya di kursi deh.
Erie-san gerak-gerak terus, makanya kacamatanya mental.
Kalau gitu, ini salahmu dong, Chihaya-san!
Kamu yang kasar!
Siapa yang nyerang duluan?
Kamu kan, Chihaya-san.
Ini di gereja.
Kamu harus lebih berhati-hati sama apa yang kamu katakan.
Akhirnya ketemu kacamatanya.
Syukurlah.
Ini hadiah pas aku mulai kerja.
Aku panik, gimana kalau hilang.
Gak ada goresan, kan?
Lho?
Ini gak ada lensa?
Ini perisai?
Ah, ini lensa kontak, kok.
Kalau pakai lensa, wajahku jadi kelihatan aneh.
Gak bagus.
Tapi kamu tetap pakai kacamata.
Aku udah pakai dari kecil.
Rasanya ada yang kurang kalau gak pakai.
Oh, gitu.
Para murid udah gak ada ya.
Udah lewat jam tutup akademi?
Kamu beneran mau berhenti kerja?
Berkat Chihaya-san, aku jadi mantap.
Makasih, ya.
Terus, kamu gimana, Chihaya-san?
Aku udah bilang tadi.
Bolos sehari gak cukup buat dijadiin alasan buat berhenti.
Tapi, keraguanku soal kerjaan ini gak berubah, sih.
Aku bakal coba cari tau apa yang bener-bener aku mau.
Kayaknya aku bakal mulai cari kerjaan lain akhir tahun ini.
Kalau gitu, kalau gitu!
Apa?
Kamu bakal berhenti kalau udah nemu yang kamu mau, kan?
Hah?
Ya, gitu sih.
Kalau gitu...
Buat aku...
...aku punya rencana bagus
(1 tahun kemudian)
Berhenti kerja? Mau bikin usaha sendiri?
Bukan.
Aku mau bantu usaha istriku.
Istrimu?
Usaha platform belajar buat siswanya.
Penggunanya makin banyak,
jadi aku mau bantu dia buat kembangin usahanya.
Kamu gak mutusin ini sebulan dua bulan ini, kan?
Udah berapa lama kamu pikirin ini?
Setahun.
Apa? Sebelum nikah, dong.
Jadi kamu udah mau berhenti pas minta aku pidato di pernikahanmu?
Ternyata sifatmu gitu, ya.
Aku berutang banyak sama manajer.
Sialan. Balikin semua yang udah aku kasih ke kamu.
Maaf.
Ya udah.
Aku yang bakal ngomong sama manajer cabang.
Loh, udah selesai?
Ada hal lain?
Aku kira bakal ditahan-tahan.
Kalau bisa sih aku mau.
Tapi kamu udah mutusin.
Gak ada gunanya nahan orang yang udah mantap.
Lagian, manajer cabang merekomendasikan kamu jadi manajer, lho.
Manajer...
Hm?
Apa kerjaan ini...
apa yang udah aku lakukan ini...
punya kebenaran?
Gak ada.
Kita cuma mindahin uang dari kanan ke kiri,
demi pelanggan,
demi keluarga,
demi diri kita sendiri.
Itu aja.
Tomoharu.
Aku doain yang terbaik buat rencana barumu.
(Rookies... Rencana bisnis yang diserahkan Nora waktu itu, dibuat dengan sangat baik.)
(Ada kesan bahwa idealisme mendahului segalanya, tapi konsistensi angka-angkanya sudah pas.)
(Proposal Bisnis)
(Setelah aku melakukan beberapa perbaikan kecil, dan melalui beberapa kali negosiasi dengan bank, kami berhasil mendapatkan pinjaman)
(Nora, tidak sia-sia dia pernah dipercayakan mengurus keuangan di gereja.)
Loh?
Lupa bawa kunci?
Enggak, aku bawa.
Eh, aku udah masak, lho.
Maaf, maaf.
Tadi aku lihat pintunya kebuka...
Aku berharap Nora ada di dalem.
Apaan, sih. Alasanmu lucu banget.
Aku udah ngasihin surat pengunduran diri.
Serah terima jabatan sampai pertengahan bulan depan.
Setelah itu, aku mau ambil cuti.
Selamat ya!
Selamat datang kembali.
01:27:57,590 Lagian, manajer cabang merekomendasikan kamu jadi manajer, lho.
Manajer...
Hm?
Apa kerjaan ini...
apa yang udah aku lakukan ini...
punya kebenaran?
Gak ada.
Kita cuma mindahin uang dari kanan ke kiri,
demi pelanggan,
demi keluarga,
demi diri kita sendiri.
Itu aja.
Tomoharu.
Aku doain yang terbaik buat rencana barumu.
Loh?
Lupa bawa kunci?
Enggak, aku bawa.
Eh, aku udah masak, lho.
Maaf, maaf.
Tadi aku lihat pintunya kebuka...
Aku berharap Nora ada di dalem.
Apaan, sih. Alasanmu lucu banget.
Aku udah ngasihin surat pengunduran diri.
Serah terima jabatan sampai pertengahan bulan depan.
Setelah itu, aku mau ambil cuti.
Selamat ya!
Selamat datang kembali.
(Rookies, menurutmu apa itu kebahagiaan?)
(Definisiku adalah...)
(...Ketika kamu tidak merasa iri dengan hidup orang lain.)
(c) Torii Yoshituna
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.