All language subtitles for Legend of the Female General Episode 3 English Sub - KissAsian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian Download
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian Download
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian Download
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese Download
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish Download
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu Download
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

♪Kutinggalkan semua kenangan masa lalu♪

♪Siapakah aku di balik topeng ini?♪

♪Lepaskan, maka dunia akan terbuka lebih luas♪

♪Cinta membingungkan, hujan tercurah deras♪

♪Bersilangan lalu terjatuh♪

♪Dari reruntuhan, cahaya mulai menyala♪

♪Merobek penghalang tebal di malam panjang♪

♪Hati yang bersinar, menerangi setiap kesepian♪

♪Biarlah layar waktu tersesat dan terombang-ambing♪

♪Keluar dari kepompong dan terlahir kembali♪

♪Bulan bagai nyanyian, hidup bagai api♪

♪Meski tanpa nama, hati tetap setia pada tujuannya♪

♪Biarkan aku menyusuri sungai deras berikutnya♪

♪Bulan muncul, salju pun turun♪

♪Menapaki jalan terjal dan bertemu kembali♪

♪Tangan tergenggam erat, selamanya hidup karena cinta♪

♪Bayangan seperti tombak yang membara♪

=Legenda Jenderal Wanita=

(Diadaptasi dari "Jenderal Wanita Terlahir Kembali")

(Kisah ini murni fiksi)

Hari ini sampai di sini saja.

Setelah pulang, kalian harus mengulang pelajaran dengan tekun.

Besok, aku akan menguji kalian secara langsung.

- Baik. - Baik.

Orang itu seharian begitu tertutup. Apakah dia punya masalah?

Lihat aku.

Kembalikan kepadaku.

Kalau mau, ambil saja.

Ayo, Bocah.

Ayo, Bocah.

Ayo, raihlah. Kau tidak bisa menjangkaunya.

Kau tidak bisa menjangkaunya.

Kembalikan kepadaku.

Kembalikan kepadaku.

Ayo, pergi.

Terima kasih banyak.

Sudah pendek, bodoh pula.

Entah bagaimana kau bisa masuk ke Akademi Xianchang.

Makanlah lebih banyak nasi malam ini.

Akademi Xianchang memilih orang juga bukan berdasarkan tinggi badan.

Lagi pula, aku tidak bodoh.

=Episode 3=

Terima kasih sudah mengalah, Panglima Xiao.

Lagi-lagi kau.

Hari ini ada kemajuan. Tidak tertinggal sedikit pun.

Saat bertarung denganku kemarin, dia sama sekali tidak lemah.

Sudah jelas bahwa selama ini, dia hanya berpura-pura.

Sepertinya, aku harus memasang umpan lagi.

Kita lihat kapan dia akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.

Jika Panglima sudah menyadari bahwa identitas Hee Yan tidak biasa,

kenapa masih tidak bertindak?

Saat bertarung dengannya,

aku bisa merasakan bahwa kekuatan fisiknya kurang seimbang,

tapi gerakan jurusnya sangat lancar.

Jelas sekali bahwa dia bukanlah seorang pemula.

Orang ini sangat licik.

Tanpa bukti yang nyata, dia tidak akan mengaku.

Yang perlu kita lakukan

adalah membuatnya berbuat kesalahan di depan mata.

Shen Han,

bantulah aku melakukan satu hal.

Baik.

- Biar aku bantu. - Ayo, sini.

(Barak Sembilan Bendera)

Sungguh gagah.

Jika kelak aku bisa menjadi gagah seperti mereka,

itu akan bagus sekali.

Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka begitu gagah?

Mereka dari Barak Sembilan Bendera.

Barak Sembilan Bendera?

Apa itu Barak Sembilan Bendera?

Kau bahkan tidak tahu tentang Barak Sembilan Bendera?

Barak itu didirikan oleh Jenderal Tua Xiao.

Semua orang yang dipilih adalah prajurit terbaik.

Mereka semua berpakaian hitam dan berzirah gelap.

Pasukan dari Barak Sembilan Bendera tidak terkalahkan di medan perang.

Mereka adalah inti kekuatan pasukan Keluarga Xiao.

Musuh pun takut menghadapi mereka.

Kenapa tiba-tiba

semua orang membicarakan Barak Sembilan Bendera?

Entah siapa yang pertama kali menyebutnya.

Lagi pula, setiap orang ingin bergabung dengan Barak Sembilan Bendera, 'kan?

(Semua orang membicarakan Barak Sembilan Bendera.)

(Jangan-jangan ada yang sengaja diam-diam menghasut.)

(Kelihatannya, saat bertarung di pemandian air panas tadi malam,)

(Xiao Jue tetap menyadari sesuatu.)

(Itu sebabnya, dia sengaja melempar umpan untuk memancingku.)

(Mau memancingku?)

(Kalau begitu, aku akan membalikkan rencananya)

(dan bergabung dengan Barak Sembilan Bendera.)

(Selain itu, aku harus bergabung dengan cara yang benar-benar sah,)

(tanpa celah sedikit pun.)

(Siapa yang umpan dan siapa yang mangsa,)

(itu masih belum pasti.)

Pelatih Shen.

Pelatih Shen.

Apa yang kau pikirkan?

Pelatih Shen.

Berusahalah lebih keras.

Kau juga akan bisa bergabung dengan Barak Sembilan Bendera.

Barak Sembilan Bendera begitu hebat.

Tentu saja aku harus bergabung dengannya.

Jangan hanya karena melihat Barak Sembilan Bendera hebat,

kau langsung ingin bergabung.

Barak Sembilan Bendera sering menjadi pasukan terdepan.

Risiko tewasnya juga sangat tinggi.

Bukankah itu kebetulan?

Barak Sembilan Bendera membutuhkan pasukan tambahan,

sementara aku memerlukan prestasi militer.

Jika aku bergabung dengan Barak Sembilan Bendera,

bukankah itu akan menguntungkan kedua belah pihak?

Setiap tahun, kami memang akan memilih seorang prajurit baru.

Namun, orang itu haruslah yang paling unggul.

Kalau begitu, tahun ini kalian tidak perlu repot-repot

karena orang yang paling unggul itu sedang berdiri di depanmu.

Baiklah.

Kalau begitu, aku akan menantikannya.

Kak Hee, lekaslah kemari. Hari ini ada kue isi daging.

Kue di tanganmu ini adalah milikku.

Milikmu?

Apakah ia menyahut saat kau memanggilnya?

Siapa yang bisa membuktikan bahwa kue ini milikmu?

Aku sudah memakannya. Apa yang bisa kau lakukan kepadaku?

Apa yang bisa aku lakukan kepadamu?

Kau!

Kau...

Aku?

Aku yang melakukannya? Siapa yang bisa membuktikannya?

Apa yang bisa kau lakukan kepadaku?

Kau...

Apa yang ingin kau lakukan?

Baiklah.

Lihat saja bagaimana aku membunuhmu setelah selesai latihan nanti!

Sudahlah, Kak Hee.

Jangan pedulikan orang-orang seperti mereka.

Dia sudah merebutnya dariku sekali, pasti akan ada yang kedua kalinya.

Jika setiap hari dia merebut dariku satu kali,

apakah aku harus menahan lapar setiap hari?

Di dunia ini, tidak ada hal yang begitu tidak adil.

Kau bicara tentang keadilan denganku?

Dengan kemampuanmu ini,

kau tidak akan bertahan hidup di sini lebih dari sebulan.

Tidak perlu sebulan, juga tidak perlu menunggu sampai lain kali.

Sepuluh hari lagi, di lapangan latihan militer,

kita bertanding di bidang yang paling kau kuasai, yaitu memanah.

Aku pasti akan mengalahkanmu.

Kau kelaparan sampai menjadi bodoh, ya?

Kau tahu apa yang kau katakan?

Kata apa yang tidak kau dengar dengan jelas?

Kalau begitu, kukatakan satu kali lagi.

Sepuluh hari lagi,

aku pasti akan mengalahkanmu.

Bocah,

bualanmu cukup besar.

Baiklah.

- Taruhannya cukup besar, ya. - Benar.

Baik. Jika kalah,

kau harus jadi juru masak militer.

Baiklah.

Jika kau yang kalah,

panggil aku dengan sebutan "Ketua".

Mencari malu sendiri.

Sepuluh hari lagi,

aku juga menantangmu dalam teknik penggunaan tombak.

Beranikah kau menerima tantangan itu?

Jika kau begitu tidak tahu diri, aku akan menemanimu bermain.

Baik.

Sepuluh hari lagi,

kita akan beradu kemampuan.

Dasar lancang!

- Panglima. - Panglima.

Baru saja masuk ke barak sudah berani membuat tantangan.

Apakah kalian masih peduli dengan peraturan militer?

Tidak masalah.

Bukankah dia ingin bergabung dengan Barak Sembilan Bendera?

Kebetulan, aku bisa melihat apakah dia benar-benar layak.

♪Pernah melihat gunung dan sungai♪

♪Pernah melangkahi embun beku♪

♪Hari demi hari, berjuang sendirian♪

♪Misi adalah kepercayaan♪

♪Impian yang diam-diam bergejolak♪

♪Menyalakan api di tengah badai♪

♪Harapan yang enggan dilepaskan♪

♪Memandang jauh dari jalan yang berlumpur♪

♪Siapa yang akan peduli dengan kehampaan ini?♪

♪Terus berjuang dengan penuh semangat♪

♪Keras kepala sampai akhir♪

♪Terbang di dunia ini♪

♪Tentu harus memiliki keinginan♪

♪Menyingkirkan luka-luka untuk menemukan cahaya♪

♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪

♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪

♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪

♪Mengejar cahaya yang menuju ke lautan hati♪

♪Mengubur kerapuhan, kekuatan untuk bangkit dari kematian♪

♪Kau akan bertemu tatapan angin dan awan yang berembus kencang♪

♪Cinta sejati yang berharga, kau menemani petualanganku♪

Begitu keras berusaha, tapi masih begitu mudah dikalahkan.

Orang mencurigakan di pemandian air panas hari itu

adalah kau, 'kan?

Beberapa waktu lalu, aku memang pergi ke pemandian air panas

untuk menyegarkan tubuh karena lelah berlatih.

Ternyata, orang yang berendam bersama pada malam itu adalah Panglima?

Namun, malam itu

aku sempat terkejut hingga panik dan berlari tanpa arah.

Mohon Panglima tidak menyalahkanku.

Panik dan berlari tanpa arah?

Aku sungguh merasa sangat panik.

Gerak-gerikmu mencurigakan, ucapanmu penuh dengan dusta.

Apa niatmu sebenarnya?

Berguru.

Apa?

Aku memberanikan diri

untuk meminta Panglima memberikan arahan.

Atas dasar apa kau merasa bahwa aku akan mengajarimu?

Jika tidak, tengah malam begini, Panglima tidak akan membuang waktu

dengan keluar untuk menyerang diam-diam seorang prajurit baru, 'kan?

Aku tahu.

Panglima pasti peduli

dan merasa bahwa aku adalah orang berbakat yang layak dibina.

Berlatih tombak memerlukan lawan.

Jika aku berlatih sendirian,

hasilnya tidak akan sebanding dengan usahanya.

Jika Panglima berkenan memberi arahan,

aku yakin hasilnya akan jauh lebih besar.

Kau sungguh tidak tahu malu.

Jika kau sanggup menahan sepuluh seranganku

tanpa keluar dari lingkaran,

aku akan setuju untuk mengajarimu.

Sepakat.

Menggenggam senjata saja tidak bisa, tapi masih memintaku untuk mengajarimu.

Aku...

Panglima,

sudah sepuluh serangan.

Aku masih di dalam lingkaran.

Aku telah lalai

sehingga

tidak sengaja menyinggung Panglima.

Namun, Panglima.

Perkataan yang telah diucapkan tidak bisa ditarik kembali.

Panglima tidak boleh ingkar janji.

Mengingkari janji adalah perbuatan orang hina.

Panglima.

Setiap hari pukul tujuh malam.

Terima kasih, Pang...

Terima kasih, Guru.

Ini adalah kelas pertama.

Ingatlah kata-katamu.

Jika tidak bisa menang,

kau harus keluar dari Garda Yezhou.

Berhubung kau menggunakan Barak Sembilan Bendera sebagai umpan,

aku tentu tidak akan menyia-nyiakan niat baikmu.

Aku pasti akan memanfaatkan kekuatanmu

untuk naik pangkat dengan cepat.

Kau memang cepat belajar.

(Namun, Panglima.)

(Perkataan yang telah diucapkan tidak bisa ditarik kembali.)

(Panglima tidak boleh ingkar janji.)

(Mengingkari janji adalah perbuatan orang hina.)

Aku tidak berjanji apa pun.

Aku telah menguasai teknik tombak, tapi Panglima sama sekali tidak peduli.

Tidak bisa.

Aku harus membuatnya melihat sendiri hasil latihanku.

Panglima, apakah kau ada di dalam?

Qinglang.

Sudah lama tidak bertemu.

Dulu, aku pernah meminta ahli penempa pedang

untuk menempakan dua bilah pedang pusaka bagiku.

Satu bilah pedang bernama Yinqiu.

Saat Huaijin beranjak dewasa, aku memberikan pedang itu kepadanya.

Pedang ini bernama Qinglang.

Hari ini,

kuberikan kepadamu.

Ayah,

kenapa Ayah memberikan Qinglang kepadanya?

Pedang ini terlalu berharga.

Saya tidak bisa menerimanya.

Tali gergaji dapat memotong kayu. Tetesan air juga dapat melubangi batu.

Suatu hari nanti,

kalian berdua pasti akan menjadi dua tokoh hebat Dinasti Wei.

Dengan menggabungkan kelembutan dan ketegasan,

kalian menggenggam pedang

untuk melindungi negeri dan menjaga rakyat.

Terimalah.

Saya pasti tidak akan mengecewakan amanat Jenderal.

Kau tidak pantas menerima Pedang Qinglang yang diberikan Ayah.

Pedang ini begitu tajam dan berkilau, sangat jarang ditemukan.

Aku benar-benar penasaran sehingga tidak tahan untuk menyentuhnya.

Panglima, kau adalah orang yang berhati lapang.

Kau tidak akan mempermasalahkannya denganku, 'kan?

Pedang milik Panglima ini juga sangat bagus.

Untuk apa kau datang ke tenda militerku?

Aku sudah berlatih dengan giat

dan telah menguasai semua jurus yang Panglima ajarkan.

Namun, Panglima bahkan tidak menanyakan keadaanku.

Aku sibuk dengan urusan resmi.

Mari.

Aku tahu bahwa Panglima

paling berdedikasi dan bertanggung jawab.

Bertaruh untuk Wang Ba.

Cepat, katakan. Mau bertaruh untuk siapa?

- Satu untuk Wang Ba! - Satu untuk Wang Ba.

Dua untuk Wang Ba.

- Kau bertaruh untuk siapa? - Aku bertaruh untuk Jiang Jiao.

Jiang Jiao. Dua untuk Jiang Jiao, ya?

- Tiga kue, ya? - Aku pertaruhkan semuanya.

- Aku bertaruh untuk Wang Ba. - Baiklah.

- Wang Ba. - Satu untuk Wang Ba.

- Jiang Jiao. - Enam.

Jiang Jiao!

Jiang Jiao. Lima untuk Jiang Jiao.

Siapa yang punya kue? Siapa yang masih punya?

Enam untuk Wang Ba.

- Kau bertaruh untuk siapa? - Jiang Jiao.

- Apakah kau sudah mencatatnya? - Sudah.

(Hee Yan)

(Ternyata, ada yang lebih awal bertaruh untuk Hee Yan daripada aku.)

Semuanya,

aku akan bertaruh sepuluh kue ini

untuk Hee Yan.

(Jiang Jiao, Hee Yan, Wang Ba)

Tuan Muda Cheng, kau yakin ingin bertaruh untuk Hee Yan?

Yakin.

Tuan Muda Cheng memang hebat, tidak pernah kekurangan kue.

Pasang taruhannya, cepat!

- Wang Ba! - Wang Ba!

- Semangat, Wang Ba! - Semangat!

- Wang Ba pasti menang! - Wang Ba pasti menang!

- Pasti bisa menang! - Pasti menang!

Wang Ba pasti bisa menang!

Kak Hee! Semangat!

Tunjukkan kemampuanmu!

Ayo, Wang Ba!

- Wang Ba! - Wang Ba!

Wang Ba pasti menang!

Wang Ba, biarkan dia melihat kemampuanmu!

- Pasti menang! - Wang Ba!

Kak Hee, semangat!

- Wang Ba! - Wang Ba!

Kak Hee, semangat!

Kak Hee!

- Wang Ba! - Wang Ba!

Kak Hee, semangat!

Pasti menang.

Lei Hou, apakah kau bertaruh untukku?

Aku tidak bertaruh untuk siapa pun.

Bocah,

masih belum terlambat jika kau berubah pikiran.

Benar.

Cepatlah menyerah.

Kebetulan sekali.

Aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu.

Dasar tidak tahu diri.

- Wang Ba! - Wang Ba!

- Pasti menang! - Wang Ba pasti menang!

Wang Ba pasti menang!

Wang Ba menang!

Dia cukup hebat.

Wang Ba menang!

Luar biasa, hebat sekali!

Wang Ba hebat!

Hebat!

Menyerahlah.

Menyerahlah.

Cepatlah menyerah.

- Menyerahlah. - Jangan berisik.

Memalukan.

- Benar. - Itu benar.

- Cepatlah menyerah. - Menyerahlah.

- Lihatlah dia. - Sudah kubilang, dia tidak bisa.

Sudah pasti tidak bisa.

Menyerahlah.

Menyerahlah.

Menyerahlah.

Pergilah.

Ini...

Anak panahnya tembus.

- Sekuat itu tenaganya? - Apakah dia sehebat itu?

- Itu... - Akurasinya tepat, tenaganya pun besar.

Ini bukan tenaga biasa.

Selamat, Huaijin.

Di antara para prajurit baru ini benar-benar ada sosok hebat tersembunyi.

Oh, tidak.

Potensi mereka perlu digali.

Wang Ba dan Hee Yan ini memang sama-sama hebat.

Itu karena Pelatih Shen telah mengajari mereka dengan baik.

Tidak, Tuan Muda Cheng. Aku tidak berani mengakui jasa itu.

Itu semua berkat Panglima yang pandai melatih pasukan.

Kedua mata tajamku ini sangat tepat dalam menilai orang.

Masih ingat dengan taruhan kita, 'kan? Nanti, jangan coba-coba mengingkarinya.

Pelatih Shen, menurutmu, siapa yang akan menang?

Wang Ba tidak perlu diragukan lagi.

Dulu, dia adalah perampok di gunung. Sifatnya liar dan sulit dikendalikan.

Dalam hal memanah, dia memang sangat mahir.

Hee Yan itu tekun dan jujur, serta punya sifat yang lembut.

Setelah berkembang selama beberapa tahun lagi,

dia pasti akan menjadi

yang terbaik di antara para prajurit baru ini.

Pelatih Shen telah salah menilai.

Yang bersifat liar dan sulit dikendalikan

bukanlah Wang Ba.

Namun, Hee Yan ini

makin lama makin menarik.

Setelah kau beristirahat, kita akan...

Aku sudah selesai beristirahat. Mari kita langsung mulai.

- Semangat! - Semangat!

Jiang Jiao, semangat!

Semangat!

- Semangat! - Bagus!

Bagus!

Bagus!

Semangat!

Semangat!

Kemampuan yang bagus!

Semangat!

- Bagus! - Bagus!

Bagus!

Siapa yang menang?

(Dia sekuat itu, tapi hanya seorang prajurit baru?)

Kenapa Kak Hee hanya bertahan dan tidak menyerang?

Cepat, lebih cepat lagi.

Tinggal sedikit lagi, dia akan bisa dikalahkan.

(Dia sedang mengujiku.)

Saat dia mengelak tadi, benar-benar bagus.

Panglima,

gerakan mengelak Hee Yan barusan sangat mirip dengan gerakan...

Namun, bukankah dia tetap tidak bisa menghindari kerikil Panglima?

Dia itu sengaja tidak menghindar.

Menggunakan berbagai senjata

untuk berhadapan dengan tombak pasti akan langsung kalah.

- Hee Yan! - Bagus!

Manusia hanya belum melihat tombak sejati.

Begitu memperoleh tombak sejati,

senjata lain akan tampak seperti permainan anak-anak.

Bagus.

Jiang Jiao ini juga tidak ada gunanya.

Benar.

Bocah.

Ada hal lain?

Aku terima kekalahan.

Ketua.

Ternyata, masalah itu.

Jika kau tidak mengatakannya, aku hampir saja melupakannya.

Sepertinya,

masih ada satu orang yang harus mengucapkannya.

Wang Ba, sekarang giliranmu, 'kan?

Jangan-jangan kau mau mengingkari janji, ya?

Minggir.

Ke...

- Kalau kau tidak mau... - Ketua!

Aku sudah mengucapkannya.

Aku sudah mendengarnya.

Aku hanya tidak menyangka kau benar-benar akan mengucapkannya.

Ucapan pria sejati harus...

Sudahlah, begitu saja.

Aku sudah mengucapkannya. Apa yang kalian lihat?

Pergi sana!

Apa yang kalian lihat? Ayo, pergi!

- Ayo, pergi. - Ayo.

Kita juga kembali berlatih dengan baik.

Meskipun kalah, taruhan tadi itu sangat seru.

- Puas menontonnya. - Pasti bisa.

Ayo, pergi.

Panglima, mohon tunggu sebentar.

Panglima

melupakan sesuatu.

Kau sudah bekerja keras. Ini untukmu saja.

Aku pasti akan mengingat dengan baik

dan tidak akan melupakan budi besar Panglima.

Makanannya datang.

Kuenya datang.

Semuanya,

berkat Saudara Hee,

aku meraih kemenangan besar dalam taruhan kali ini.

Malam ini, aku yang mentraktir kalian. Kalian tidak perlu sungkan, ya.

Tunggu, kenapa kalian diam saja?

Ayo, segera berterima kasih kepada Tuan Muda Cheng.

Terima kasih banyak, Tuan Muda Cheng.

- Terima kasih banyak, Tuan Muda Cheng. - Terima kasih banyak, Tuan Muda Cheng.

Ayo, mari makan.

- Makanlah. - Mari makan

Enak sekali.

Meskipun aku sedikit tampan,

Saudara Hee menatapku tanpa sungkan seperti ini

malah membuatku menjadi salah tingkah.

Tuan Muda Cheng, kau berpikir terlalu jauh.

Maksudku, kau hanya memenangkan kue sebanyak itu,

apakah cukup untuk dimakan oleh orang sebanyak ini?

Bukankah ini untuk membalas jasamu?

Kalau begitu, ini lebih banyak ruginya daripada untungnya.

Ini sebanding.

Sup kambingnya kalau sudah matang, bawa masuk saja.

- Bagus! - Bagus!

Aromanya harum sekali.

Harum sekali.

- Benar. Di mana mangkuknya? - Berikan mangkuknya kepadaku.

Terima kasih banyak, Tuan Muda Cheng.

Sup kambingnya sudah datang.

Gelar nomor satu di Garda Yezhou milikmu sepertinya tidak akan bertahan.

Saudara Hee sudah tekun belajar dan berlatih selama sebulan ini,

makanya ada kejutan besar hari ini.

Kita berdua sebaiknya jangan saling menyindir.

Saudara Hee.

Selamat, ya.

Terima kasih banyak, Saudara Lei.

Panglima,

saat di lapangan latihan militer siang tadi,

Anda bilang,

dia tidak ingin menghindar. Apa maksudnya itu?

Aku menjadikan Barak Sembilan Bendera sebagai umpan

untuk memancingnya naik ke arena bertarung.

Saat dia kewalahan, aku menyerang secara diam-diam.

Maksudku adalah memaksanya memperlihatkan kesalahannya.

Tidak disangka,

dia justru menyadari bahwa aku sedang mengujinya.

Itu sebabnya, dia sengaja tidak menghindar.

Dia tidak hanya tangguh, tapi juga cerdas.

Benar-benar lawan yang sulit dihadapi.

Bagaimanapun, Hee Yan itu pasti bukan orang baik.

Bagaimana kalau saya menangkapnya dulu?

Tidak perlu terburu-buru.

Lalu, apakah Panglima sudah ada rencana?

Para prajurit baru itu telah berlatih selama sebulan penuh.

Kini saatnya mereka memperebutkan bendera.

Pada saat itu,

semuanya akan terlihat jelas.

♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪

♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪

♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪

♪Pernah melihat gunung dan sungai♪

♪Pernah melangkahi embun beku♪

♪Hari demi hari, berjuang sendirian♪

♪Misi adalah kepercayaan♪

♪Impian yang diam-diam bergejolak♪

♪Menyalakan api di tengah badai♪

♪Harapan yang enggan dilepaskan♪

♪Memandang jauh dari jalan yang berlumpur♪

♪Siapa yang akan peduli dengan kehampaan ini?♪

♪Terus berjuang dengan penuh semangat♪

♪Melawan sekuat tenaga tanpa menyerah♪

♪Terbang di dunia ini♪

♪Tentu harus memiliki keinginan♪

♪Menyingkirkan luka-luka untuk menemukan cahaya♪

♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪

♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪

♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪

♪Mengejar cahaya yang menuju ke lautan hati♪

♪Mengubur kerapuhan, kekuatan untuk bangkit dari kematian♪

♪Kau akan menyaksikan tatapan tajam di tengah riuhnya badai kehidupan♪

♪Cinta sejati yang berharga, kau menemani petualanganku♪

♪Terbang di dunia ini♪

♪Tentu harus memiliki keinginan♪

♪Menyingkirkan luka-luka untuk menemukan cahaya♪

♪Cahaya yang jatuh ke lautan hati♪

♪Mengungkapkan bekas luka, aku hanya ingin berjuang melawan arus♪

♪Suara keberanian yang bergema adalah keberanian untuk hidup♪

♪Mengejar cahaya yang menuju ke lautan hati♪

♪Mengubur kerapuhan, kekuatan untuk bangkit dari kematian♪

♪Kau akan menyaksikan tatapan tajam di tengah riuhnya badai kehidupan♪

♪Cinta sejati yang berharga, kau menemani petualanganku♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.