All language subtitles for A.Brother.and.7.Siblings.2024.1080p.NF.WEB-DL.DDP5.1.H264-TeamSyndicate

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American) Download
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[ketukan pintu]

- [Woko] Kak? - [Moko] Ya?

- [Woko] Berapa lama? - [Moko] Bentar lagi.

[Moko] Kakak habis keramas, mau keramas.

[Woko] Kenapa mandi sampai lupa?

- [Woko] Kakak sedang apa? - [Moko] Sedang keramas, Wo.

[Woko] Jangan lama. Maaf.

[suara langkah kaki]

[Moko] Ya. [ketukan pintu]

[Nina] Tolong cepat, please.

[Nina] Antrenya di sini.

[Woko] Abis Kak Woko.

[Ano] Kak, aku sudah kebelet!

- [Ano] Kak! - [Woko] Antre! Antre.

[Moko] Ya, sebentar. Sedikit lagi.

[pintu dibuka] [Moko] Ya, aku keluar.

- [Nina] Ayo, dong. - [Moko] Sudah.

- Aku yang pertama. - Tadi aku mau ketuk.

Baru mau, tanya saja pintu siapa yang pertama ketuk.

Kalau niatnya sudah di sini, Tuhan yang tahu.

- No? - Ano!

[suara ketukan pintu]

[Ano] Sebentar!

[musik dan Nina menghela napas]

[Nina] Ano, tidak sopan.

[Ano] Lebih tidak sopan kalau buang air di celana.

[Woko] Ya ampun.

[musik]

Aku ada ujian!

Tadi kalau aku yang pertama pasti cepat selesai.

Selesai lebih cepat apanya? Kau mandi biasanya dua jam.

Tak mungkin dua jam.

Serius, sampai aku bisa cat ulang temboknya

[Moko tertawa]

…tunggu kau mandi.

Caramu mengecat tidak benar.

- Sudah. - Hanya bercanda.

Bukan itu maksudnya, kau mandinya lama.

- Sudah… - Tak sampai dua jam.

Aku dari dahulu selalu mengalah.

Tak pernah minta mandi pertama.

Hari ini saja, aku ada ujian, Kak.

Serius, aku belum belajar.

[Nina] Kenapa belum belajar?

Tak ada yang suruh, hanya mau belajar saja.

Ya sudah, mandi sebagian dahulu seperti aku. Ayo.

Hampir selesai. Ayo.

- Masih pakai sabun. - Mana?

Mau cepat, kan? Di sini saja.

- Aku mau di sini. - Sebentar.

[Agnes tertawa]

[langkah kaki terburu-buru]

[Agnes] Apa sih, Dek? [suara gesekan bungkus obat]

Jam tangan Kakak. [suara helaan napas Moko]

[musik mengalun]

Ini.

Ini, minum obatnya.

Kak, tolong, rapikan dasiku.

Yang sudah mau lulus kuliah.

Nanti yang tenang ya.

Fokus, pasti bisa.

Kakak bangga sama kamu.

[musik]

[Atmo] Itu diapain?

Sebentar, ini belum selesai.

Ini simpulnya ketebalan.

Enggak, ini kan dua, kiri, kanan.

[Atmo] Nggak, nggak gini loh, gini loh…

[Atmo] …dua kiri kanan…

[Atmo] …itu buat bapak-bapak.

Ini masih mahasiswa…

…nanti dikiranya dosen, ah.

[Agnes] Moko tuh kan mukanya saja muda…

…dalamnya kaya dosen.

[Atmo tertawa] Bukan kayak dosen.

- [Agnes] Apa? - [Atmo] Tua saja.

[semua tertawa]

- Nih, kamu lihat nih. - Halah…

Itu tuh, bagus punya Ibu…

…karena lebih rapi gitu loh Pak, formal.

Kan Ibu juga biasanya bikin simpul Bapak kayak begitu.

Hmm, ya itu kan karena Bapak.

Nih tinggal masukin.

- [Woko] Kak Moko? - [Moko] Iya.

[suara langkah kaki Moko] [Agnes] Sudah, itu sudah.

[Atmo] Pelan-pelan, jangan lari. Pelan-pelan.

[langkah kaki Moko]

Berangkat ya, Kak.

[musik mengalun]

Dadah, Ima.

- Semangat, Om Moko. - Kak Moko.

Iya deh, Kakak. Maunya dipanggil "kakak".

[Moko] Mas, berangkat, ya.

[Woko] Bu, Pak, berangkat ya.

- Hati-hati ya, Mas. - Dadah.

Om, Tan, duluan.

[musik mengalun]

Dadah!

- Dah! - Dah!

[musik mengalun]

- [Woko] Awas robek lagi… - [Moko] Dadah!

…kasihan Kak Nina jahitnya.

[musik mengalun]

Bocah segede itu, coba…

[Agnes dan Atmo tertawa]

[musik mengalun]

[Moko] Dadah!

[suara Nina tertawa]

[Woko] Ayo!

[musik mengalun]

[suara mesin kendaraan]

[musik mengalun]

[Atmo] Dia nendang nggak?

[Atmo berseru senang, Agnes tertawa]

[musik mengalun]

[motor melintas]

[ketukan kaki]

[bising keramaian kampus]

[ketukan kaki]

- Hai. - [Maurin] Hai.

- [Maurin] Sudah siap? - Sudah. Kamu?

[Maurin menurunkan tasnya]

[Maurin] Eh, cobain deh, Mo.

- Cobain apa? - [Maurin] Cobain dulu.

Benar nggak ya, size-nya?

Maurin?

Sudah, nggak apa-apa, sekali-kali kan, Mo.

Yuk, coba!

[Maurin] Ayo dipakai!

Merepotkan kalau kayak gini.

Enggak! Enggak apa-apa.

- Rin. - Ayo, dipakai.

[gesekan sepatu]

[gesekan barang-barang]

- Pas nggak? - Pas.

[Moko menghela napas]

Terima kasih, ya!

[Moko menghela napas]

Kamu tuh, nggak valid tahu, takut sidang.

Orang paling pintar kok, seangkatan.

Ini mau S2, beasiswa.

Tapi, kalau ngomong…

Sudah, kamu tuh, nggak pantas takut sidang.

Kalau dosen penguji tanya…

Mo, kalau kamu saja takut, gimana yang lain coba?

[Maurin] Sudah, ya?

[Moko mengembuskan napas]

[Moko berdehem]

[Moko berdecak dan mengembuskan napas]

Kamu takut, ya?

[Maurin mengembuskan napas]

Lumayan.

[Moko dan Maurin tertawa pelan]

Gimana S2 nanti ya, Mo?

[Moko] Lebih sulit kayaknya.

[Maurin] Katanya sih iya…

[Maurin] Karena nge-challenge dari yang kita pelajari sekarang.

[Moko] Oh, ya?

[Maurin] Ya, tapi seru sih.

[musik lembut]

Kelar S2…

…buka biro sendiri.

- Kerja dulu! - [Moko tertawa]

Iya, maksud aku juga kerja dulu.

Setahun, dua tahun…

…terus kalau sudah dapat ilmunya…

…baru deh, buka biro sendiri.

[musik lembut]

Ya, nggak mudah, sih, Mo.

Setuju sama kamu.

Tapi kalau bayangkan jalaninya sama kamu…

…aku mau.

[musik lembut]

Aku juga.

[musik lembut]

[ponsel bergetar]

Halo, Kak Agnes?

[Agnes] Halo, Maurin.

[Agnes] Moko masih sidang?

Iya, Kak?

[Agnes] Tolong kasih tahu Moko, Mas Atmo serangan jantung.

[Agnes] Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit.

[Agnes terisak]

[musik syahdu]

[gerakan mulut] Mas Atmo.

[musik syahdu]

[gerakan mulut] Kakak masuk, ya.

[musik sedih]

[Moko terisak]

[Moko] Kak.

[Agnes menenangkan Moko]

[Moko] Kak?

Kak, kenapa Kak?

[Agnes merintih]

Kak?

- [Agnes] Nggak apa-apa. - Kak Agnes?

- [Agnes] Duh, nggak apa-apa. - [Moko] Kak?

Sus? Sus?

- [Woko] Kenapa? Bu? - [Moko] Suster…

[Moko] Wo, No, panggilkan suster, buruan. Kak?

[Agnes] Nggak apa-apa. Pecah ketuban, nggak apa-apa.

- Terima kasih. - Ya.

[gesekan pulpen dan kertas]

[Moko mengembuskan napas]

[Suster] Permisi, selamat siang.

- Siang, Sus. - [Suster] Ini adeknya, ya.

Adeknya harus belajar menyusu.

Bu Agnesnya boleh saya bangunkan?

Boleh.

Permisi, Bu Agnes? Ibu?

- Kak? - Bu Agnes, belajar nyusu.

- Sus? - Mas, maaf.

Tolong pegangin dulu, ya.

- Saya mau cek dulu. Permisi. - Oh, iya.

Bu?

- Kak? - Bu?

- [Suster] Bu Agnes? - Bu?

Bu Agnes? Ibu? Bu Agnes?

[Dokter] Kenapa, sus?

[Suster] HPP, Dok. Atonia uteri.

[Dokter] Bu?

[musik sedih]

Bawa ke ruang tindakan, Sus!

Dok, kakak saya kenapa, Dok?

[Dokter] Permisi, nanti kami jelaskan.

- [Nina] Bu? - [Moko] Ada apa?

- [Moko] Kakak kenapa? - [Dokter] Permisi.

[musik syahdu]

[Moko tersengal-sengal]

[kipas berputar]

[burung berkicau]

[langkah kaki]

[Ano] Duluan ya, Kak.

- [Moko] Hati-hati, ya. - [Woko] Dah, Ima.

[derum kendaraan]

[Osa] Hai Mo, kamu lagi apa?

Habis tidurin Ima, Kakak lagi apa di sana?

[Osa] Aku kayak biasalah, beres-beres.

[Osa] Eh, Ima apa kabar, sehat?

[Ima menangis]

[Ima menangis]

[Osa] Anak-anak yang lain, gimana? Nina, Woko, Ano?

[Moko] Sehat kok, baik mereka.

[Ima menangis]

[Osa] Kalau kamu apa kabar?

[Moko] Baik Kak, baik.

[Osa] Kamu kelihatannya capek banget, loh.

[Moko] Hmm, enggak kok.

[musik syahdu]

[gemericik air]

[Osa] Aku ada up date.

[Osa] Mas Eka ternyata benar-benar nggak bisa…

…tinggalin kerjaannya di sini.

[Osa] Jadi nggak bisa pulang.

[Osa] Maaf, ya.

[musik syahdu]

Iya, Kak, nggak apa-apa.

[kipas berputar]

[gesekan kertas]

[Maurin bergumam]

[suara gesekan kertas]

[Maurin] Dari sini, jadi nanti antar fakultas…

…akan terintegrasi di studio ini.

Soalnya kan, katanya proyeknya harus networking.

Rin.

Maafkan aku, ya.

Gara-gara aku nggak jadi kuliah…

…kamu berangkatnya jadi sendiri.

[Ima menangis]

Aku kalau jadi kamu, Mo…

…pasti melakukan hal yang sama.

[jangkrik mengerik]

[derum kendaraan lewat]

Kasihan kamunya, Rin.

Emang kamunya sendiri nggak kasihan?

Malah mikirin aku.

[Ima menangis]

[Ima menangis lebih keras]

[Woko] Kak, permisi dulu. Ima nangis mulu, Kak.

[Woko] Harus ganti popok.

[Ima menangis]

Ya, nggak apa-apa.

Aku juga sekalian mau balik, sudah malam.

[Ima menangis]

[Nina] Kak Moko maaf, Imanya nggak berhenti nangis dari tadi.

[Nina] Kita sudah bingung mau diapakan lagi.

Ya sudah, nggak apa-apa.

[Ima menangis]

Ya sudah, aku ke Ima dulu.

[Ima menangis]

[Maurin] Aku pamit dulu, ya.

[Nina] Maaf.

[Maurin] Nggak apa-apa.

[Nina] Maaf, Kak Maurin.

- Hati-hati, Kak Maurin. - Iya, terima kasih.

[Ima menangis]

[langkah kaki Maurin]

[Woko dan Ano menenangkan Ima]

[Ano] Hai!

[Ima menangis]

[Ano] Halo, Ima!

[Ima menangis]

[musik lembut]

[Woko dan Ano menghibur Ima]

[samar Woko, Ano menenangkan Ima]

[Nina tertawa]

[musik lembut]

[goresan pulpen]

[musik syahdu]

[gesekan sampah]

[gesekan buku]

[gesekan plastik]

[gesekan buku]

[musik lembut]

[Bayu] Kita coba 2,5 juta dulu.

Kalau oke, naik pelan-pelan.

Mentok-mentok 3,5 juta.

Gimana, nggak apa-apa?

Nggak apa-apa, Pak.

Tapi kalau saya boleh tanya, Pak…

…proyeknya dalam sebulan, rata-rata berapa, ya Pak?

Tiga sampai lima sih, paling banyak itu.

[Ima mengoceh]

Saya izin sebentar, ya, Mas.

Oh, iya. Silakan.

[Moko] Oh, iya…

[Ima merengek dan Moko menenangkan]

[musik lembut]

[Moko] Ya, apa itu, Sayang?

Apa, Ima?

[Maurin] Orang-orang di sini pintar semua, aku merasa paling bodoh

[bidan] Atas nama Ima.

- Ima, ya? - [bidan] Ya, Ima.

[Moko berdehem]

[Maurin] I wish you were here.

[bidan] Maaf ya, beratnya 7,5 kg. [pesan ini dihapus]

[Moko] Iya, ini.

[bidan] Sebentar, sayangku.

[Moko menghibur Ima]

[jangkrik mengerik]

- [Ima menangis] - [Moko] Berapa?

39,2, Kak.

Ya sudah, kamu pegang Ima dulu.

[Ima menangis]

Iya-iya, sebentar ya, Ima.

Sebentar ya, sebentar.

[Ima menangis] [Moko] Maaf, ya.

[Ima menangis] [Moko] Iya, iya.

Awas.

[Ima menangis] Iya, iya.

[Nina] Bisa nggak?

Iya, iya? Kenapa? Kenapa?

[Ima menangis]

[dengkuran]

[Bayu] Nggak bisa dong, Mo.

[Bayu] Sorry, yang antre jadi drafter banyak, Mo.

[Bayu] Kalau lo delivery-nya telat gini, gue yang kena nanti.

Maaf, kemarin keponakan saya sakit.

[Bayu] Iya, gue paham kondisi lo, Mo.

[Bayu] Tapi gue nggak bisa bilang alasan lo ke klien.

[Bayu] Lo udah commit, bilang on time, kan?

Pak, kasih saya satu kesempatan lagi.

Saya janji nggak ulangi.

Sorry, gue harus ganti lo.

Sorry, Mo.

Saya mengerti, Pak.

Sekali lagi saya minta maaf ya, Pak.

Saya izin pamit.

Iya.

[Moko bangkit]

[Moko] Yuk.

[Nina] Jadi, Kak Moko dipecat?

[derit kursi]

[Woko] Yah, apes.

[Moko] No?

[Ano] Ini es tehnya 40.000 loh, Kak.

[Moko] Ya, iya, sudah. Nggak apa-apa, No.

- [Moko] Yuk, jalan. - [Woko] Ayo.

[Ima menangis]

[Maurin] Kalau nanti kita buka studio sendiri…

…orientasinya ini juga, ya.

Jadi kita nggak usah…

…sok-sok futuristik minimalis, gitu.

Nanti kita lihat dulu saja.

Maurin? Maurin?

Iya?

Ya, Mo?

Rin, kita jalan sendiri-sendiri dulu, ya.

Sorry, Mo, maksudnya gimana, Mo?

Ya, aku mau kita putus.

Mo, sebentar deh.

Rin, kalau misalnya sama aku, kamu…

…sudah punya empat anak, Rin.

Dan itu nggak akan bisa.

Ya, aku nggak apa-apa, Mo.

[Moko] Sama aku, itu nggak bakal kejadian.

- Aku nggak apa-apa. - Nggak bisa.

Kamu nggak ngerti keadaan aku di sini gimana.

Ya sudah, kamu cerita dong, Mo.

Kamu nggak pernah cerita sama aku.

Ya, aku cerita saja nggak bisa, Rin.

Nggak ada waktunya. Gimana kita mau kerja bareng?

[Moko] Masih banyak yang bisa kamu capai di hidup kamu, Rin.

Tapi itu semua nggak kejadian kalau kamu masih sama aku.

Kamu harus realistis, Rin.

Ya sudah, ya sudah, ayo, Mo, kita realistis.

Kita pikirkan dong bareng-bareng, kita obrolin.

Rin, aku drafting saja nggak bisa, Rin.

Aku nge-draft saja nggak bisa.

[Moko] Dan aku harus cari kerjaan lain…

…yang nggak ada hubungannya sama arsitektur.

Ya sudah, aku mau, aku mau mandikan Ima dulu…

…biar dia…

Aku matikan.

[klik kursor]

[derit kursi]

[panci jatuh]

[Moko] Aw! Aw!

Mo?

[Moko berteriak]

[Maurin] Mo?

[Moko berteriak]

[Ima menangis]

[Moko berteriak]

[Ima dan Maurin menangis]

[Ima menangis]

[Ima menangis]

[tangisan Ima bertambah keras]

♪ Dan, sementara ♪

♪ Kita mesra-mesraannya ♪

[Moko] Iya, ini dilap dulu, ya.

- ♪ Kecil-kecilan dulu, ya ♪ - [Moko] Pintar.

♪ Tunggu sampai semua mereda ♪

- [Moko] Enak, ya? - [Nina tertawa]

♪ Kan kukenalkan ♪

♪ Penampilan hujan di tempat lain ♪

[Ano] Ke Kuta kita nih.

♪ Pemandangan bagus di tempat yang jauh ♪

♪ Bukan yang di dekat rumah saja ♪

- ♪ Kita kan… ♪ - [Moko] Permisi, Pak.

♪ Tangkap… ♪

♪ Banyak kejadian ♪

♪ Yang menarik ♪

[Guru 1] Saya ingin menyampaikan bahwa Nina ini

[Guru 1] …anak yang sangat berprestasi di kelas.

[Moko] Terima kasih.

[Guru 2] Sebenarnya Woko cukup cerdas…

[Guru 2] …cuma lebih banyak main-mainnya saja.

[Guru 3] Kalau dilihat dari nilainya…

sangat mengkhawatirkan.

[Guru 3] Saya harap

keluarga bisa memperhatikan cara Rivano

ini untuk belajarnya

lebih ditingkatkan lagi.

[musik]

[musik]

[Ima menangis]

[Ima menangis]

♪ Sementara ♪ [Ima menangis]

♪ Kita mesra-mesraannya ♪ [Ima menangis]

♪ Kecil-kecilan dulu ♪ [Ima menangis]

♪ Tunggu sampai semua mereda ♪

♪ Baju pergimu… ♪

[Moko] Awas, nanti kena.

♪ Jangan kekecilan dulu ♪

[suara perasan air]

♪ Kalau iya, nanti beli baru ♪

[Moko] Tuh, itu apa tuh?

Terakhir kita liburan kapan?

[Ano] Gimana mau liburan, Kak?

Token listrik tadi saja bunyi.

[musik]

Kak Nina lem beneran nih, mulutnya.

Kak Nina lem beneran.

[Ano bergumam]

Kalau dilem kamu nggak bisa makan bebek.

Jangan gitu dong.

[musik]

Kita pulang, kita pulang coba ya, abis liburan.

Bisa? Bisa lihat rumah kita dari situ?

Bisa dong.

[musik]

[Moko] Tuh, itu apa?

♪ Meski mesranya kecil-kecilan ♪

Coba, Wo.

[musik]

[suara gesekan mainan di atas batu]

Yang mana mainannya?

Kuning? Ini, ya?

Ini Kakak ambilkan, ini, ayo coba.

Pak?

Tolong diterima, Dek Moko.

[gesekan kertas]

[Nanang] Saya mohon.

Pak, nggak perlu begini, Pak.

[Nanang] Percaya sama saya, Dek Moko.

[Nanang] Setelah sebulan, setelah semuanya siap…

…saya akan menjemput kembali Gadis ke sini.

[Nanang] Ya?

[gesekan kertas]

Pak, saya bukannya nggak mau bantu, Pak…

…tapi di sini juga saya mengurus empat keponakan saya.

[Nanang] Tolong saya, tolong Dek Moko.

Maaf, saya nggak bisa bantu.

[Nanang] Saya mohon, Dek Moko.

Pak Nanang, saya bukannya nggak mau bantu, Pak.

Tolong saya, Dek Moko, tolong saya.

Saya janji saya akan jemput Gadis lagi.

Saya janji.

Iya, Pak, iya, saya bukannya nggak mau bantu.

[Ais] Ais janji Ais nggak akan merepotkan, Kak.

[musik]

[tawa canggung Ais]

Ya, Ais…

Ais bisa masak, Kak.

[Ais] Cuci juga bisa.

[suara napas Ais]

Pokoknya Ais janji akan jadi anak baik…

…dan nggak merepotkan.

Sama sekali.

[suara napas Ais]

[suara napas Nanang]

Dari tadi Ais ada di luar, Pak?

[isakan Nanang]

[Nanang] Iya.

[Ais] Kak?

[isakan Nanang]

[Ais] Boleh, ya?

[Ais] Nanti Ais bantu-bantu.

Iya, Ais masuk saja dulu, sini.

[langkah kaki Moko]

[Moko] Masuk dulu saja, sini, Kakak bantu.

[gesekan barang]

[Moko] Sudah, masuk dulu.

- [Moko] Duduk saja dulu, Is. - [Ais] Iya…

[suara debum tas]

[Moko] Ayo masuk. Duduk.

[suara napas Moko]

[Nanang] Terima kasih, Dek Moko.

[suara napas Moko]

Ini Ima.

[Ais] Oh, iya, halo. Halo, Ima.

[Moko] Ini Kak Ais.

[Ais] Hai.

[Woko] Kak Moko yakin, Kak?

[suara debum pelan]

- [Moko] Enggak. - [Woko] Lah?

[Woko] Terus kenapa Kak Moko bilang iya?

[Moko] Nggak ada pilihan, Wo.

[gesekan alat masak]

[Woko] Sebenarnya bisa saja Kak, tolak baik-baik.

[gesekan alat masak]

[Moko] Tapi kita sanggup kan, Wo?

[gesekan alat masak, desisan masakan]

[Woko] Apa karena duit, Kak?

[gesekan alat masak dan desisan masakan]

[Moko] Warisan udah mau habis.

[desisan masakan]

[Moko] Kak Moko kerja seadanya.

Dua tahun terakhir, kerja lepas.

Jadi ini bisa bantu bayar sekolah.

[gesekan alat masak dan desisan masakan]

Kak Moko harus cari kerjaan lagi…

…biar bisa biayain rumah…

…biar kamu juga bisa kuliah. Soalnya, Kak Moko mau…

[Woko] Aku sih kuliah gampang, Kak.

[Woko] Nanti dulu juga nggak apa-apa.

[gesekan alat masak]

[Woko] Nih lagian ya…

…kalau aku kuliah, Kak Moko kerja…

…yang jaga Ima siapa?

Ano? [Moko tertawa]

[gesekan alat masak]

[suara debum]

[Moko] Tahun depan, ya Wo… [suara aliran air]

[Moko] Kak Moko usahakan kamu bisa kuliah.

[gesekan alat masak]

[Moko] Soal Ima, nanti Kakak pikirkan.

[gesekan alat masak]

[Woko] Semoga, Kak, ya.

[gesekan alat masak]

[Woko] Coba, cobain.

[gesekan alat masak]

[Moko] Cobain.

[kunyahan Woko]

[gesekan alat masak]

[gesekan alat masak]

[Moko] Awas, kena.

[gesekan alat masak]

[Woko] Biar kebagian semua, Kak?

[Moko] Ayo, makan!

Kayaknya lagi pada asik sendiri, tuh.

[musik]

[Moko dan Woko tertawa]

[Woko] Sudah jadi tuh tempe orek.

[Ano] Iya.

[musik]

[Moko] Jago ya, Ais ya.

[Moko dan Ais tertawa]

[Moko] Yey. Lagi dong.

[tepuk tangan dan Ais bergumam]

[Ais] Apa? Lagunya maunya?

[Moko] Ais tahu "Jangan Risaukan"?

[Woko] Yang gini…

[Woko bersiul]

[Moko] Nah itu bener.

- [Ais] Oh, yang intronya… - [Moko] Coba.

[Moko bersenandung dan suara piano]

- [Woko] Nah, itu dia tuh. - [Nina] Nah, bener.

- [Moko] Coba. - [Ais] Oke.

[tuts piano]

[Moko, Woko, Ano] Jangan risaukan

[Moko, Woko, Ano] Awan hitam

[Moko, Woko, Ano] Petir atau banjir

[Nina, Ais] Masih ada pepohonan

[Moko, Woko, Ano] Yang ditanam sebelum kamu lahir

[Ais] Oh, ingat.

[tuts piano]

[Moko] Jangan cemaskan masa depan

[tertawa]

[Moko, Woko, Ano] Kini atau nanti

Pak Nanang nggak ada kabar.

Terus, kita gimana ngomong ke Aisnya?

Ya, Ais biar nanti Kakak yang urus.

Ini Kakak mau wawancara dulu, kamu doain saja.

Pasti, Kak.

[Moko] Ya sudah, nih Wo.

Seretinak. Serah Terima Anak.

[Woko tertawa]

Sama Kak Woko dulu, yah. Dengar-dengaran kak Woko.

- [Moko] Baik-baik, ya. - [Nina] Dadah, Ima!

[Moko, Nina, Ano, Ais] Dadah!

[langkah kaki]

[Moko] Tuh, dadah lagi tuh.

Dadah! Lagi, lagi.

[Ais] Dadah.

Masih? Ini sampai mana?

- [Nina] Dadah, Ima! - [Woko] Dadah!

[Moko] Dadah, Kakak Woko.

Dah!

[Woko tertawa]

[Moko] Dadah!

Dadah!

[musik]

[langkah kaki]

[musik]

[musik]

[Alif] Saya penasaran ini ada gap

antara masa lulus dan masa kerja tuh

beberapa tahun, kenapa itu, Mas?

[musik]

Kebetulan saya punya keponakan yang masih bayi, Pak.

[Alif] Oke.

Jadi, di masa itu saya sedang mengurus dia.

- [Alif] Oh, oke. - [Woko] Ya.

- [Bayu] Rin, sudah? - [Maurin] Ya.

- Sebentar. - [Bayu] Ya.

[Maurin bergumam]

Oke. [Bayu berdeham]

[langkah kaki]

[suara klik]

[suara klik]

[langkah kaki]

- Ini mas. - [Bayu] Iya.

[Maurin menghela napas]

Mas, ini yang di bawah lagi wawancara, ya…

…untuk jadi drafter baru?

[Bayu] Oh, iya itu.

- Eh, terima kasih, ya. - Iya, Mas.

[langkah kaki]

- [karyawan] Tapi… - [Sam] Tidak!

[Sam] Saya tahu kamu punya pengalaman sebelumnya.

[Sam] Tapi, kan di sini sudah ada sistemnya, ada peraturannya.

[Sam] Sekarang klien komplain, gimana saya bisa bela kamu…

…kalau kamu keluar dari SOP?

Pak, maaf.

Maurin, tunggu sebentar, saya lagi rapat.

Ya? Kamu tahu kan, maksud saya?

Iya, tapi maaf ini penting sekali.

Coba sekarang run-through kerjaannya udah sampai mana…

…saya pengen lihat. Ayo! Dibuka dong laptopnya.

Pak, Bapak lagi cari junior arsitek lagi, kan, Pak?

Iya.

Drafter Mas Bayu lagi melamar kerja…

…jadi pegawai tetap, dan saya kenal banget orangnya.

Dan menurut saya…

…sayang sekali kalau dia diterima cuma sebagai drafter.

Boleh nanti saja nggak ngobrolnya? Saya lagi rapat!

Bapak, dia junior arsitek yang Bapak cari.

[suara napas Maurin]

Maaf, Pak.

[suara napas Maurin]

[Alif] Jadi, sekarang sudah bisa untuk fokus kerja?

Fulltime, bisa.

[Alif] Nice. Oke.

[gesekan kertas]

[Alif bergumam]

[langkah kaki]

- [Maurin] Pak Alif, maaf. - [Alif] Ya?

[Maurin] Kata Pak Sam, Pak Moko boleh dites…

sebagai junior arsitek.

[Alif] Oh…

[Alif] Oke, tapi saya harus interview ulang.

[Alif] Mas Moko bisa?

Bisa, Pak.

- [Alif] Terima kasih. - Iya.

- Permisi, Pak. - Iya.

[langkah kaki]

[Sheila] Eh, maaf, kita udah sepakat, kan…

…belum kasih tahu Pak Sam dulu?

Iya Mbak, cuma Mas Bayu bilang…

…saya bisa langsung ngomong ke Pak Sam.

[Sheila] Sebenarnya maksud gua, ini kalau kejadian terus, kedepannya…

…yang susah lo juga.

Iya, sih. Paham sih Mbak, saya minta maaf.

[Sheila] Nggak apa-apa.

[Sheila] Lain waktu tolong kasih tahu gue ya. Terima kasih.

[langkah kaki]

Kamu kerja di sini?

Iya.

[suara tarikan napas]

Hmm.

Mau lihat-lihat?

Mau.

Pak Sam itu dosen, Mo.

Jadi, dia senang…

…kalau kita semua di sini belajar lagi.

[Maurin] Dikasih PR sama Pak Alif?

[gemericik air]

[Moko] Iya.

[Moko] Tapi tumben tes begini boleh dibawa pulang.

[Maurin menarik napas dan bergumam]

Jadi tuh sebenarnya itu jebakannya Pak Sam.

[aliran air]

Pokoknya dia paling tahu kalau yang mengerjakan…

…orang lain waktu persentasi nanti.

Oh?

[aliran air dan maurin bergumam]

[Maurin] Dulu waktu aku mau dites jadi junior arsitek…

…juga pakai desain itu.

[aliran air]

Soalnya itu desain proyek pertamanya Pak Sam.

[Moko] Oh, iya?

[aliran air dan maurin bergumam]

Mo, kamu tuh masih pakai laptop yang dulu nggak sih?

Yang kamu pakai waktu kuliah?

[aliran air]

Masih.

[aliran air]

[Maurin bergumam dan menarik napas]

Enggak, soalnya Rhino versi sekarang itu berat banget.

[aliran air]

Kamu kalau mau aku pinjamkan, nggak apa-apa.

[Moko] Enggak kok, aku emang nanti sore…

…udah rencana mau beli.

- Benar? - [Moko] Iya, benar.

- Keburu? - Keburu kok.

[Moko] Emang aku sudah rencana soalnya kan aku harus…

[Maurin] Enggak-enggak, soalnya kalau kamu nggak selesai…

…nanti aku habis sama Pak Sam.

[Maurin menarik napas]

- Tapi nggak apa-apa. - [Moko] Sebentar, habis?

[Maurin menarik napas]

Enggak, nggak apa-apa.

[aliran air]

[Maurin] Anak-anak gimana kabarnya?

[aliran air]

[gesekan bola plastik]

[gesekan bola plastik]

[Moko menghela napas]

[musik]

[Moko] Ima sudah bisa main sendiri.

[musik mengalun]

Sudah dua tahun.

Hmm.

Terrible two.

Lagi masa transisi, Rin.

[Maurin] Masa transisi?

[Moko berseru dan Ima merengek]

[Moko] Dari yang tadinya bergantung sama aku,

sekarang sudah punya keinginannya sendiri.

[Moko] Makanya, jadi sering tantrum, frustrasi.

[musik]

Kalau Nina?

[musik]

Nina?

[Woko bernyanyi dan suara gitar]

[Woko] Dari mana? Dari mana? Dari mana?

- [Nina] Berisik! - [Woko] Ini ditanya loh, Na!

[Woko] Ini kita khawatir loh, Na.

[Moko] Kamu dari mana?

[pintu terbuka]

[musik]

[Moko] Na, kamu dari mana, Na? Kabarin dong, Na.

[Moko] Na? Kakak sudah teleponin

tapi kamu nggak angkat! Kamu dari…

Nggak usah banyak atur, Kak Moko bukan Bapak!

[Moko] Baru-baru ini aku berantem sama Nina…

…karena dia pulangnya telat, terus aku tegur.

[gemericik air]

[musik]

[Woko] Diputusin? Nina?

[Woko] Pakai direkam segala lagi, gila banget sih!

[Moko] Kok tega, ya?

Ternyata dia abis diputusin…

…terus direkam gitu, Rin.

- Oh, iya? - Iya, tega banget, ya?

Kak Moko minta maaf, ya.

[Moko] Kak Moko baru mengerti keadaannya Nina kemarin.

Kak Moko juga minta maaf…

…karena Nina merasa diatur-atur sama Kak Moko.

Harusnya Nina yang minta maaf, Kak.

[Moko] Enggak.

Kak Moko yang kurang mengerti Nina.

Mereka jahat banget Kak.

[Nina] Mereka janjian buat tipu Nina.

[musik]

[Moko] Sebenarnya juga, aku

bisa jadi orang yang dicurhatin perasaanya sama Nina

aja itu sudah senang, kan pasti sulit ya, jadi dia.

[musik]

Kalau Woko gimana kabarnya?

Woko yang paling banyak berkorban, Rin.

[musik]

[cuitan mainan bebek]

[Moko] Dia ngojek sekarang, biar Nina bisa kuliah.

Dia mau banget kuliah,

kuliah hukum katanya.

Tapi, ya demi adik-adiknya dia rela nggak kuliah.

Kalau Ano?

[Moko dan Maurin tertawa]

Ano bilang dia mau jadi arsitek.

Karena terinspirasi dari Mas Atmo.

- Wow. Beneran? - Beneran.

[Moko tertawa]

Oh, ada satu cerita lagi, Rin.

Guru pianoku pas kecil

datang ke rumah.

Dia titipkan anaknya.

- Beneran? - Beneran.

Ya, katanya cuma sebentar.

Sebulan katanya, karena dia mau siap-siap buat…

…siapkan biar Ais bisa nyusul.

Oh, namanya Gadis, dipanggilnya Ais.

Anaknya baik sekali, Rin.

[pintu dibuka]

- Jadi… - [Staf] Mas, ini flashdisknya.

Sama Maurin, dipanggil sama Pak Sam.

Oh iya, nanti aku ke sana. Terima kasih, ya.

[pintu ditutup]

Ya sudah, semangat ya.

Nanti kalau ada apa-apa, kabari saja.

Iya.

- Duluan, ya. - Iya.

[Moko] Emm…

Mbak, permisi Mbak, jalan keluarnya ke mana, ya?

[Staf] Ke sana.

[Moko] Oh iya Pak, betul. Saya memang tertarik membeli laptop Bapak,

karena saya tahu Bapak arsitek. Iya.

Oh, mau COD? Boleh Pak, boleh.

Kalau gitu, kirimi saya saja lokasi sama waktunya ke saya.

Iya, terima kasih, Pak.

[ponsel ditaruh]

[suara sikatan]

[Woko] Kak! Kak!

Katanya si Ano sakit tuh, perutnya.

Kenapa?

[Woko] Rasanya kayak ditusuk-tusuk katanya.

Tusuk-tusuk?

[Dokter] Ini dari hasil tes darah dan hasil USGnya…

…sebenarnya sudah bisa rawat jalan.

Tapi, kita pantau dulu sampai itu selesai, ya.

- Terima kasih, dok. - [Dokter] Sama-sama.

- [Ano] Ih, banyak, ya? - [Moko berdeham]

[Staf] Pak?

Untuk BPJSnya ternyata ada penunggakan bayar

selama dua tahun.

Jadi untuk saat ini tidak bisa kami proses.

Oh, iya. Mbak, kalau boleh tahu kalau enggak pakai BPJS

berapa ya, biayanya?

Totalnya Rp2.852.000.

Bapak mau transfer atau debit?

Saya pikir-pikir dulu ya, sebentar.

- Iya. Ini, Pak, silakan. - Terima kasih.

[Moko] Mas.

[Moko] Mas.

Maaf, kayaknya saya nggak jadi beli laptopnya Mas deh.

Kenapa? Jarang-jarang loh ada Macbook harga bagus kayak gini.

Ini sudah M1. Mas mau install aplikasi apa saja, saya tunggu.

Bisa dicoba, pasti lancar banget. Baterainya juga masih 90 persen lebih.

Jadi kalau Mas pakai seharian, masih aman banget.

Dia enteng banget, cuma 1,29 kg loh.

Mas boleh ambil timbangan. Ini nggak bohong. Mas bisa cek sekarang statusnya.

- Mas. - Aman.

Enggak, sebenarnya alasan saya cancel…

…itu, soalnya saya…

…adik saya sakit, Mas.

[Moko] Radang usus, ini lagi urus obatnya.

Oh. Ya, semoga cepat sembuh, sih Mas.

Tapi kalau rumah sakit ini, aman lah.

Jadi ingat pengalaman saya pernah dirawat di sini.

Ini rumah sakitnya maksimal sih. Semua dipikirkan banget.

Ruang IGD-nya itu layout-nya efisien banget.

Spesifikasi mesinnya juga nggak main-main.

Kalau wi-fi tadi saya nggak cek tapi Mas boleh cek nanti.

Kemarin di HP saya keluar 5G, loh.

Jadi kalau pilih rumah sakit ini sudah paling benar. Mas nggak perlu takut.

Puas banget.

Saya juga tahu rumah sakitnya bagus, Mas. Makanya mahal.

[Penjual] Ya, mahal murah relatif, sih.

Yang penting sembuh. Dulu saya sampai lupa, ya.

Saya soalnya pakai BPJS. Saya sampai lupa tagihannya berapa.

Worth it sih, BPJS cuma setor

sebulan paling Rp100.000.

Saya dirawat di sini sekitar 3-4 hari, tapi invoice-nya…

Pakai radang usus segala No, No.

[Moko] Woko…

Ini kebanyakan gorengan, Kak. Pasti minyak sama kriukannya mengendap.

[Moko] Sudah, ah.

- [Ais] Ini, Kak. - Terima kasih, Ais.

[Woko] Ini diminum obatnya, diminum sesudah makan.

[Ano] Iya.

[Woko] Tapi jangan makan gorengan lagi.

[Ano] Siap.

- [Ais] Ais ikut lihat. - [Moko] Boleh.

[Woko] Emangnya masih bisa, Kak, pakai laptop lama?

[Moko] Bisa, tapi software-nya harus pakai yang lain. Yang lebih enteng.

- [Woko] Masih aman tapi? - [Moko] Bisa.

[Moko] Kak Moko jadi bisa mulai.

[Ais, Nina, Woko] Yah!

[Moko] Ya sudah, deh. Kak Moko mau ke toilet.

- No, obatnya diminum. - Iya, Kak.

[getar ponsel]

[Nina] Siapa tuh, Is?

- [Ais] Maurin. - [Nina] Oh, Kak Maurin.

Nggak apa-apa, aku saja yang angkat.

- Nggak mau dipanggil? - Nggak usah.

Halo, Kak Maurin? Masih nge-lag ya, Kak?

[Woko] Memang dari dulu selama ini? [Moko] Iya.

[Ais] Kak.

Iya, terima kasih.

Ais bikin kopinya lebih cepat daripada pindahkan satu pilar.

- Kenapa emang? - Woko…

[Moko] Biar pelan, tapi kalau misalnya kita telaten…

[Nina] Kok gitu dia?

- Kak? - Nah loh.

[Ais, Nina] Yah!

- Ais. - Hm?

Panasin air. Buatkan kopi lagi buat Kak Moko.

Kayaknya bakal panjang.

Tapi harus dibeli lagi kopinya, ini yang terakhir.

Yang tadi saja, ampasnya kita pakai.

Itu sih kelar enggak, asam lambung iya.

Wah.

[gemerisik plastik]

[laptop menyala]

[seruan kagum Woko, Ais, Nina]

[Woko] Benar, kan, suaranya beda, kan?

Suaranya kayak kasih tahu gitu.

[Maurin] Sudah, No? [tawa ais, nina, Woko]

[Maurin] Coba lihat.

Lumayan panas loh.

Hangat nggak?

Iya, hangat.

Sudah, kamu makan dulu buburnya.

Nanti habis itu minum obat.

[Ano] Terima kasih, Kak,

sudah datang bantu Kak Moko.

Iya, No.

[Maurin] Ini ada kacangnya, jangan dimakan.

Kamu makan yang lembut-lembut dulu pokoknya.

Tapi, kalau sudah dikunyah jadi lembut, Kak.

Nggak gitu dong, Ano.

[Ano] Ano nggak kebayang sih.

Kalau misalnya tadi Kak Maurin nggak datang.

Kasihan Kak Moko.

Dari tadi laptopnya…

…restart mulu.

Sudah bapuk!

[Ano] Lain kali…

…kalau Ano sakit…

…Ano tahan saja ya, Kak.

[Ano] Tahan yang selama Ano bisa.

Biar nggak nyusahin Kak Moko lagi.

Kasihan Kak Moko.

[derit kursi]

[denting gelas dan piring]

[derum mobil]

Kayak zaman kuliah ya, Mo.

Mengerjakan tugas sampai pagi…

…belum mandi sudah harus ke kampus.

Maaf ya, Rin, kamu jadi mengurus Ano.

Nggak apa-apa dong, Mo.

Enggak, aku nggak suka saja kalau aku jadi merepotkan kamu.

Nggak apa-apa.

Sudah.

Mending sekarang kamu pikirkan presentasi nanti gimana ke Pak Sam.

Tapi, Pak Sam itu orang gimana, sih?

Yang ditanya lebih teknikal atau kayak filosofis sih?

Kok malah senyum, sih? Rin, aku serius, Rin.

[Moko] Maurin?

[Moko] Rin?

[pintu mobil dibuka dan ditutup]

Tapi ini lucu ya.

Kayaknya Ima suka deh.

- [Nina] Ini, Ais… - [Ais] Lucu, ya.

[Woko] Ini tolong bantu, ya.

Ini baju Kak Moko, takutnya salah.

[Moko berdehem]

Kakak keterima kerja.

[Woko] Keren!

Gila, nggak sia-sia kita bikin kopi seliter.

[Woko] Ais sampai pegal mengaduknya.

Sampai asam lambung!

[Ais] Karena kebanyakan bikin kopi.

Kak Osa?

Moko!

- [Osa tertawa] - Kak.

Maaf ya, aku baru bisa pulang sekarang.

Nggak apa-apa, Kak. Kakak tiba kapan?

Tadi sore. Eh, kamu gimana kabarnya? Keterima kerja?

Selamat, ya.

- [Eka] Sa? - [Osa] Iya, Mas?

[Eka] Makananku sudah dipanaskan?

Oh iya, sebentar ya, Mas.

- [Eka] Itu Moko, ya? - Iya.

Kak,

panasin kan gampang, ya?

Ano panas nggak panas nggak masalah, sih.

Apalagi kalau sudah dibelikan.

Ha?

Oh, ini maksudnya.

[Moko] Kakak kan beli ini buat merayakan Kakak diterima kerja.

Pakai nasi boleh, ya? Sekalian jadi lauk.

Eh, itu…

Selamat, ya, Kak.

Terima kasih, Nin.

Moko?

- [Moko] Mas? - Waduh…

Lama nggak ketemu, nih.

- Sehat kamu? - Sehat, Mas.

Kamu kurusan loh ini.

Tadi Mas Eka dengar katanya kamu baru keterima kerja?

Nah, gitu dong, kerjaan tuh harus yang pasti.

Nggak usah lah freelance gitu.

[Eka] Gaji berapa, Mo?

- Hah? - Gaji, kamu berapa gajinya?

Kalau kamu nggak nyaman nggak apa-apa, nggak usah disebutkan.

[Eka] Tapi kan, kalau kamu awal-awal kerja…

…berapa sih paling? Berapa Mo?

Delapan juta, Mas.

Delapan juta? Ya, lumayan lah, ya.

[Eka] Dulu juga Mas Eka awal-awal kerja juga segitu.

Tapi itu 10 tahun yang lalu.

Kalau 10 tahun yang lalu itu gede.

Kalau sekarang ya, lumayan lah, ya.

Good start lah, ya.

Terus kamu kenapa mukanya bingung gitu?

Soalnya proyeknya ada di Anyer, Mas.

[Eka] Terus?

Jadi jauh sama…

Oh, iya, iya. Mas Eka paham.

Ya, sekarang kan ada Mas Eka.

[Eka] Kak Osa juga udah pulang.

Jadi kamu nggak usah pikirkan rumah.

Puyeng gitu, nggak usah.

Nanti Mas Eka yang bisa atur.

Kamu fokus saja sama kerjaan.

[Moko] Yah, cuma…

Ya?

Aku mau bikin telur, kamu mau ceplok apa dadar?

Dadar lah. Aku kan nggak pernah suka ceplok.

- Eh, ini sekalian nih, ya? - Kamu mau nggak sekalian?

[Osa] Mau ceplok apa dadar?

- Aku sudah… - [Osa] Nggak apa-apa.

Sudah, dadar saja, suka kok dia.

- Aku sudah makan. - [Eka] Dadar saja, kan?

- Ceplok? - Dadar, dadar.

Ya sudah, dadar, sekalian sama yang lain, ya, oke.

Ya sudah kalau gitu, ya…

…saran dari Mas Eka kerjaan Anyer ini ambil.

[Eka] Ambil, ya.

Kamu santai dulu, kamu istirahat.

Duduk-duduk.

Itu Mas Eka banyak bawa tuh. Ayo, nih, ya.

- Tuh, kasih tahu Om Moko, ya. - Iya.

- [Moko] Terima kasih, Mas. - [Eka] Ya.

[Moko] Ano?

Kenapa, Kak?

Itu red velvet, No.

Iya, kan biasanya rejeki warna merah, Kak.

Hah?

Enak.

[musik riang]

Kenapa? Mau juga? Ada di belakang, masih banyak.

Ah, terserah lah.

Mango sticky rice.

Sticky rice, sih, No?

Dari Thailand ini.

[Maurin] Itu jadi benar dimakan, Mo?

[Moko] Iya, dan dimakan bener.

[Moko] Itu red velvet lagi.

[Maurin] Ano, Ano…

[Maurin] Rumah ramai ya sekarang, Mo?

[Moko] Terus, Mas Eka sama Kak Osa

tidur di kamar Mas Atmo.

Tempat aku biasa tidur pas jaga Ima.

[Maurin] Terus, kamu tidurnya balik di depan, dong?

- [Moko] Iya. - [Maurin] Sama Ima?

[Moko] Enggak, Ima sama Nina tidur di kamar Nina,

- sama Ais juga. - [Maurin] Oh.

[Moko] Bisa pas saja gitu.

Mas Eka sama Kak Osa pulang.

[Moko] Apa benar ini jalannya?

Jalan supaya aku bisa punya hidupku sendiri.

[Moko] Kok rasanya aneh ya, Rin?

Berpikir bisa punya hidupku sendiri tuh…

…salah gitu rasanya.

Enggak aneh kok, Mo.

Iya, aku mengerti rasanya.

[Maurin] Tahu rasanya gimana waktu pikirkan diri sendiri…

…kok jadi merasa bersalah, ya?

Waktu kamu tiba-tiba jadi bapak…

Bapaknya anak-anak.

Terus…

…kamu nggak jadi kuliah.

[Maurin] Waktu kamu habis juga buat anak-anak.

Aku tuh sempat…

…benci banget, Mo, sama diri aku sendiri.

[Maurin] Benci tuh, karena merasa…

…yang tadinya prioritas kamu itu kita…

…tapi kok sekarang keganti yah, sama anak-anak.

Aku benci banget setiap kali berpikir gitu, Mo.

[Maurin] Merasa…

…jahat.

Merasa…

…egois.

Terus kamu…

Kita putus.

Maaf ya, Rin.

[musik mengalun]

[siraman air]

[Maurin] Oh iya.

Pak Albert…

…dia tuh sempat bagi-bagi voucer gitu, Mo.

…untuk menginap di resort-nya.

Kita ajak anak-anak, ya.

Hah?

Ayo, ramai-ramai.

Cottage-nya muat kok Mo, benar.

Kan kita juga harus evaluasi resornya dia yang lama.

Jadi, nanti waktu kita bangun yang baru…

…ya, kita tahu harus gimana.

Ya, nggak?

Kata kamu, bagus buat Ima.

Buat sensoriknya dia.

Kalau dia jalan di pasir, main di laut.

Kamu pernah bilang soal tekstur.

Supaya dia nggak jadi picky eater.

Anak-anak kan juga sudah lama, Mo nggak liburan.

Mau, ya?

Terima kasih, ya, Rin.

[musik]

♪ Ayo, ayo, ayo besok kita pergi makan ♪

♪ Hadiah tak seberapa dariku ♪

♪ Karena kamu super membanggakan ♪

♪ Ayo pergi ke tempat langganan ♪

♪ Disajikannya menu-menu andalan ♪

♪ Untukmu yang juara satu idolaku selalu ♪

♪ Di mata, hati, telingaku ♪

♪ Ayo, ayo, ayo besok kita pergi makan ♪

♪ Hadiah tak seberapa dariku ♪

♪ Karena kamu super membanggakan ♪

♪ Setelah perjalanan panjangmu ♪

♪ Yang pasti melelahkan itu ♪

♪ Letakkan sebentar kalau ada beban ♪

♪ Kita senang-senang makan-makan ♪

[Nina] Terima kasih sudah ngajak liburan ke sini.

Terima kasihnya sama Kak Maurin.

Terima kasih juga, Kak Maurin.

Terima kasih, Kak.

Terima kasih, Kak.

Terima kasih, Kak Maurin.

Iya, sama-sama.

Jadi, nanti Kak Moko kerja di sini?

Enggak, No, bukan di sini.

Nanti Kakak bakal bangun cottage di sana.

Berapa lama tuh, Kak?

Nggak tahu, Wo.

Kakak juga minta maaf, ya, bakal meninggalkan rumah lama.

Jangan minta maaf lah, Kak.

Harusnya kita yang berterima kasih.

Kakak kan kerja buat kita.

Terima kasih, ya, Kak.

Sudah, nggak usah terima kasih.

…itu kan sudah tugas Kakak.

[Ano] Terima kasih, Kak.

[Moko] Ano!

- [Woko] Terima kasih, ya, Kak. - [Moko] Woko!

[suara tawa]

[Ais] Terima kasih, ya, Kak.

[Moko] Kamu kok jadi ikut-ikutan juga?

[musik mengalun]

♪ Sisakan untuk kami ♪

♪ Sisa berapa pun juga tak apa ♪

[Erna] Permisi, ini kelapanya.

- [Eka] Terima kasih. - [Moko] Terima kasih.

[riuh Woko, Nina, Ais dan Ano bermain]

Ais?

Ais!

Punten, Ais itu saudara saya.

[Moko] Oh…

Kak, saya Moko, muridnya Pak Nanang.

Oh iya, sudah pernah diceritakan sama A' Nanang.

Halo Kang, saya Erna, saudaranya A' Nanang.

- [Moko] Salam kenal. - [Erna] Iya.

Kang, hatur nuhun nya, sudah mau jaga si Ais.

Aduh, Kang, kalau anak itu bandel…

…sudah, pulangkan saja ke rumah saya.

[Erna] Dulu tuh saya sama suami sudah tawarkan…

…untuk jaga Ais.

[Erna] Tapi…

A' Nanang kayaknya punya pemahaman sendiri.

Punten Kang, mari.

- Iya, iya. - [Moko] Iya, Kak.

[riuh Woko, Nina, Ais dan Ano bermain]

[Eka] Ini yang punya resor ini yang bakal jadi…

- …klien kamu nantinya? - [Moko] Iya, Mas.

[Eka] Kesempatan bagus ini Moko, kamu harus kerja keras…

…nggak ada kerja cuma cari nyaman.

[Eka] Atau jangan-jangan kamu mau bilang itu

kamu mau ikut work-ife balance

[Eka] Ah, itu sih cuma omong kosong orang malas saja.

[Osa] Iya Mo, waktu kami di Melbourne juga…

…Mas Eka tuh kerja keras banget.

- [Eka] Oh, iya. - Pagi, siang, malam.

Semua orang begitu.

[Osa] Kadang ramai penumpang, kadang enggak.

- [Moko] Penumpang? - Numpang!

[Eka] Klien, Mo, maksudnya, ya kan bisnis emang gitu.

Kadang ramai, kadang enggak.

[Eka] Kadang satu, dua orang numpang tinggal di rumah kami, gitu.

Oh, numpang tinggal.

Saya kira Mas Eka jadi Uber driver.

Oh, ya enggak lah.

Ngapain merantau jauh-jauh cuma buat jadi begitu.

[Moko] Nggak apa-apa juga Mas.

Ya. Cuma, ini pertimbangan kamu apa lagi?

Kita udah survei sampai jauh-jauh ke sini…

…tapi kerjaannya kamu ambil, kan?

Iya, pasti saya ambil, Mas.

[Eka] Ah, bagus dong.

Sebenarnya saya masih kepikiran anak-anak, Mas.

- Hah? - [Moko] Kepikiran Ima.

[Moko] Kan saya proyeknya di Anyer

sementara mereka di rumah, terus.

[Eka] Ya, ya, Mas Eka tahu lah itu.

[Eka] Gini Mo,

Mas Eka sama Kak Osa tahu persis kamu berjuangnya kayak gimana.

Kamu udah berjuang dua tahun…

…sampai kamu batalkan S2 kamu.

Mas Eka tahu selama ini kamu jadi freelance,

pemasukan kadang ada, kadang enggak.

Besarkan Ima jadi kayak anak kamu sendiri.

Belum lagi kamu bantu…

…anak-anak biayain sekolahnya juga, kan, keponakan itu semua?

[Eka] Kan, luar biasa, kamu luar biasa.

[Eka] Kamu tuh langka Mo…

nggak ada orang yang suka rela

mengorbankan hidup demi keponakan.

Itu nggak ada, kamu doang.

[Osa] Dan kamu itu sudah berkorban banyak, Mo.

[Eka berdeham]

Tapi, Kak, kalau bicara soal berkorban…

…Woko juga berkorban, Kak. Woko mengorbankan kuliahnya.

Woko sih emang senangnya begitu dia.

Kan tiap pagi Mas Eka lihat.

[Eka] Gonjrang-gonjreng, dia tiap pagi gitar-gitaran doang.

Emang dia maunya gitu.

Kalau kamu kuliahkan dia juga paling, nggak lama juga DO.

Belum lagi Ano.

Kalau Woko, Nina, Ima, Mas Eka paham, keponakan kandung kamu. Kalau Ano?

Ano kan keponakannya Mas Atmo, Mas.

Jadi keponakan saya juga.

Ya, tapi tolong, dong.

Kamu kasih tahu dia.

Makannya tuh banyak banget dua kali porsi anak-anak loh.

[Eka] Bahkan sama saya juga banyakan dia.

Mas, jangan gitu juga ngomongnya, Mas.

[Eka] Loh, tapi kamu lihat sendiri, kan?

Makannya banyak banget.

Kalau dibiarin, habis itu semua.

[Osa] Iya sih, Mo, emang Ano tuh makannya banyak banget.

[Eka] Tuh.

Gini loh, justru ini harus dibahas. Kenapa?

Karena Mas Eka peduli sama kamu, saya tuh peduli sama kamu.

Kita semua yang di sini peduli sama kamu.

[Eka] Iya. Iya, kan, Maurin?

[Eka] Anak ini hebat loh.

Mengorbankan masa mudanya buat keponakan-keponakannya.

[Eka] Kalau di Australia namanya Generasi Kejepit.

Ya? Kalau di sini apa namanya?

- [Eka] Sama, yah? - Sama.

[Eka] Iya, itu. Ada orang yang diapit sama tanggungan yang harusnya nggak ditanggung.

[Eka] Generasi Kejepit namanya.

[Eka] Kan, kasihan pacar kamu, ya?

[Eka] Ya?

[Eka] Tuh, Maurin saja setuju, sampai diam begitu.

[Osa] Gini, urusan anak-anak,

biar aku sama Mas Eka yang handel.

[Osa] Toh bagus juga, kan, buat mereka,

bisa punya sosok orang tua lagi.

[Eka] Nah.

[Eka] Sama satu lagi itu siapa? Siapa? Yang…

…bukan keluarga tapi ikut numpang?

[Moko] Mas, nggak usah dibahas.

- [Osa] Ais? - [Eka] Nah iya, itu.

[Osa] Iya Mo, itu gimana, ya?

Tadi ternyata ada keluarganya.

Aku tuh kaget loh.

[Eka] Kan tadi kamu dengar sendiri…

…ada keluarganya yang mau menampung dia.

Kenapa malah dititipkan ke kamu yang bukan keluarga?

Kamu nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan.

Sebaik apa pun kamu…

…nggak bisa kamu tolong semua orang.

Prinsip Mas Eka,

orang sungkan itu selalu dipertemukan sama orang yang nggak tahu diri.

Kamu tahu kamu yang mana.

[Eka] Sudah, gini, Mas Eka paham beban pikiran kamu ini…

…banyak banget.

Sudah, biar Mas Eka. Mas Eka nanti bantu buat ngomong sama keluarganya.

[Eka] Biar Mas Eka saja.

Ya? Mas Eka tahu lah cara ngomong baik-baik gimana…

…Mas Eka sudah dewasa.

Kan, dia ada di sini?

Nanti biar Mas Eka yang ngomong.

Kamu fokus saja sama apa yang kamu mau lakukan nanti.

[Eka] Ya?

[Eka] Sa…

[musik sendu]

Nggak apa-apa, Kak.

Oh, iya.

Berkabar ya, Is.

Kamu juga, ya.

Ais pamit, ya.

- Eh? - [Woko] Eh, hati-hati.

- Duluan ya, Kak Woko. - [Woko] Iya.

Dah, No!

- [Woko] Jaga diri, yah. - [Ais] Ya.

- [Nina] Hati-hati, Ais. - [Moko] Dadah!

- [Woko, Nina] Dah, Ais! - Dadah!

- [Ais] Dadah! - [Moko] Dadah!

Hati-hati.

Dadah! Dah!

[Woko] Hati-hati, Ais.

- [Moko] Dadah! - Dadah!

- [Woko] Dadah! - Dah!

[Nina] Sering telepon, ya.

[Ais] Iya, dadah!

[Osa] Kamu tuh sadar nggak sih?

Di antara kita bertiga,

Kak Agnes, aku, kamu.

Kamu yang paling pintar.

[Osa] Paling rajin.

Paling nurut lagi sama orang tua.

Harusnya tuh kamu lagi yang hidupnya paling bahagia.

[Ima menangis]

[Eka] Itu kamu ajak jalan-jalan dulu gitu supaya…

[Eka] Kan, kasian juga.

Ima, sama aku, yah.

[Ima menangis]

Pegang, mau pegang?

[Bayu] Rin, ini cottage-nya nggak kegedean, ya?

Ini kebesaran, Mas?

Ya iya, Pak Albert kan minta 20.

Ini kalau kita tambahkan di sini dua,

pasti mepet banget satu sama lain.

Sebenarnya aku sama Moko sudah sempat omongkan itu, Mas.

[Maurin] Kalau misalnya…

- Gimana, Mo? - [Moko] Iya, Mas.

Mohon maaf, ya, Mas, sebelumnya.

Apa sebaiknya memang dibikin gede saja, ya, Mas?

Kenapa?

Soalnya kan, Pak Sam sempat bilang…

…kalau cottage ini orientasi interiornya itu…

…mengarah ke fungsi, Mas.

Oh iya, oke, oke.

Tapi ini harus disesuaikan lagi, sih.

Iya.

[Bayu] Ya, ya, ya, oke.

Ya, tapi sebenarnya

masih ada yang bisa dialokasikan, Mas.

[ponsel bergetar]

Itu telepon.

Angkat dulu, nggak apa-apa.

Gue juga mau bikin kopi. Angkat.

Terima kasih, Mas.

Tapi, ini pasti ada yang dikurangi.

- Iya, iya. Coba, ya. - Cek dulu.

Halo, Mas?

[Eka] Halo, Moko.

Iya Mas, kenapa, Mas?

[Eka] Gimana kamu di sana? Kerjaan lancar?

Hmm, lancar, Mas.

[Eka] Sehat kan, kamu?

Sehat, Mas.

[Eka] Ah, nggak, Mas Eka telpon tuh mau ini kasih tahu…

…kondisi di rumah, semua baik-baik saja, semua sehat.

Cuman ini Mo, ini kebetulan…

…ada masalah atap bocor.

Mungkin kan karena memang sudah lama.

[Moko] Oh, ya sudah, Mas, saya transfer sekarang…

[Moko] …biayanya berapa ya, Mas?

[Eka] Iya, kebetulan rinciannya sudah Mas Eka pegang.

[Eka] Langsung Mas Eka kirim, ya.

Ya. Terima kasih, Mas.

- [Eka] Dah, Moko. - [Moko] Dah, Mas!

Total: 2.300.000

[musik]

- [Eka] Ini… - [Moko] Ya, Mas.

[Eka] Kak Osa 'kan lagi mau reuni sama teman-temannya karena baru balik.

Nah, Mas Eka kepikiran buat kasih dia apa gitu.

Biar dia senang, 'kan dia capai urus anak-anak.

Mas Eka mau beli tas, ngumpulin semuanya. Kamu ikut bantu menyumbang nggak?

- [Eka] Bisa? - [Moko] Ya, bisa kok.

Ya udah kalau begitu, Mas Eka mau cabutnya sebentar lagi…

…kalau bisa transfer sekarang atau…

[Moko] Oh, ada, Mas, ada, iya. Ada kok. Saya transfer sekarang, ya, Mas.

[Eka] Oke, terima kasih ya, Mo.

- [Bayu] Eh, Mo. - [Moko] Iya?

[Bayu] Ini coba tolong bilang ke Pak Naryo ini gimana jadinya.

[Eka] Halo, Mo?

[Moko] Iya, kenapa, Mas?

[Eka] Ini, pompa air jebol di rumah.

[Moko] Aduh, kok bisa, ya?

[Eka] Sudah tiga harian ini, sih.

Tadi sudah ada yang benarin

tapi pakai duitnya Mas Eka dulu.

Nggak apa-apa.

[Moko] Saya ganti, saya transfer.

[Eka] Eh, nggak usah.

[Moko] Jangan gitu, Mas. Saya ganti saja.

[Eka] Oke.

[musik]

[Operator] Nomor yang Anda tuju sibuk.

Silakan tinggalkan pesan suara,

dengan cara telepon bintang nomor tujuan.

Biaya Rp400 per menit.

[Eka] Mo, kamu lagi sibuk?

[Moko] Nggak, Mas. Kenapa, Mas?

- [Eka] Kerjaan lancar? - [Moko] Lancar kok, Mas.

[Eka] Ah, syukurlah kalau gitu.

Ini Mas Eka tuh ngelihat

anak-anak kayaknya lagi bosan makan di rumah.

Kayaknya harus makan di luar, deh, nih.

Biasanya anak-anak suka makan apa, Mo?

Boleh sih Mas, boleh makan ke luar.

[Eka] Oh, gitu. Ya sesekali lah Mas Eka ajak ke luar.

Tapi gini, Mo.

Mas Eka kartu kreditnya kenapa, ya.

Ini kan banknya masih di Australia.

Mas Eka belum urus bank di sini.

- [Eka] Kamu ada… - [Moko] Ada, Mas. Eh, iya.

Bisa buat anak-anak.

[Eka] Ya, paling kirimin buat anak-anak aja, Mo.

Paling berapa? Dua juta kali, ya?

- [Moko] Hah? - [Eka] Ya. Terima kasih ya, Mo.

[Operator] Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.

Silakan tinggalkan pesan suara…

…dengan cara telepon bintang…

[musik mengalun]

[suara deburan ombak]

Mo?

Ya, Rin?

Kamu tuh bukannya sudah kirim bulanan, ya?

Sudah.

Nggak apa-apa Rin.

Aku tuh malah kepikiran.

Anak-anak kok susah sekali, ya, dihubungi.

Maksudnya kamu nggak apa-apa itu gimana sih, Mo?

Ya nggak apa-apa Rin, itu kan emang sudah tugas aku.

Iya.

Tapi kan kamu sudah nge-set…

…per bulannya mau kirim mereka berapa.

Kalau kamu gini terus, ya, Mo…

…nggak bagus juga buat anak-anak.

Ya, tapi ini untuk kebutuhan mereka, Rin.

Terus, kebutuhan kamu gimana?

Mesti pisahkan biaya hidup sama gaya hidup, Mo.

Maksud gue, yang lo tanggung itu…

…biaya hidup keluarga lo, bukan gaya hidupnya.

Biaya kebutuhan dasar untuk hidup.

Uang makan, tempat tinggal

untuk sekolah, itu yang harus lo kejar.

Tapi kalau…

…gaya hidup, buat beli handphone baru,

buat nongkrong di coffee shop,

yang nggak jelas, nggak usah lo pusingkan.

Biaya hidup itu bisa dihitung, Mo.

Tapi kalau gaya hidup, ya,

kalau kita ikuti terus tuh nggak ada habisnya.

Percaya sama gue.

Gue juga Sandwich, bukan lo doang.

Isi chat gue sama bokap gue tuh

kayak rekening koran.

Ah, ya gitu deh.

Empat hari lalu bokap gue minta transfer 4 juta untuk beli gigi palsu.

Dua hari lalu minta uang, untuk beli listrik, uang makan dan lainnya.

Ya, gitu sih, kayak rekening koran.

Untungnya gue cuma menanggung bokap,

anak sama istri gue. Lo, berapa keponakan lo? Lima, ya?

- Lima, Mas. - Tujuh.

Mas Eka, Kak Osa?

Lo menanggung…

…tujuh orang? Tujuh keponakan?

Hmm.

Ramai sih itu

Banyak banget.

Eh, hmm…

Pak Sam senang banget sama ide lo.

- [Moko] Ha? - Iya.

Dan dia minta besok yang presentasi itu lo.

[Moko] Ah? Nggak apa-apa ya, Mas?

[Bayu] Ya, nggak apa-apa lah.

Harus cobain, Mo.

Ya, gue ikut senang lah.

Pak Sam gitu, kalau lihat orang

yang punya potensi, dia akan respons.

Ya, cuma gue besok jadi gabut saja, maaf, ya.

[Moko] Terima kasih.

[musik]

[Moko] Terima kasih, ya, Rin.

Sama-sama, Mo.

Terima kasih juga, ya.

Hmm? Aku nggak ngapa-ngapain.

Hmm, kenapa?

Cie, yang besok presentasi.

Rin jangan kayak gitu, aku tuh…

Oh, iya nanti gimana ya kalau misalnya aku salah…

Ceburin nih, boleh nggak?

Enggak, beneran, kalau misalnya besok Pak…

Serius.

[Pak Albert] Yang kanan naik dikit.

Ya, kamu naik lagi, kamu naik, dikit.

Pelan saja, kamu turunkan dikit. Ya.

[OB] Permisi, Pak.

[Pak Albert] Yuk, kita mulai meeting-nya.

Maaf, tunggu ya tadi, ya?

[Sam] Oke, kalau gitu, ya, selamat pagi, Semuanya.

Terima kasih Pak Albert atas kesempatannya.

Hari ini kita akan presentasi desainnya…

…nanti Pak Bayu yang akan…

Oh Sam, saya ada catatan untuk interior.

Kita harus desain interiornya…

…jauh lebih unik dari yang sekarang.

Oke, kalau gitu kita langsung ke interior saja, ya.

[Sam] Seperti yang kemarin kita diskusi, Pak Albert…

…hari ini yang akan presentasi namanya Moko.

- Oke. - [Sam] Ya.

Ya, selamat pagi.

Seperti yang Pak Albert sampaikan kemarin…

…bahwa resor ini akan menjadi resor keluarga.

Maka dari itu, orientasi interior…

…yang saya desain itu melanjutkan dari visi tersebut.

Maaf, hal yang paling simpel saja.

Masalah pemilihan furnitur yang di restoran.

[Pak Albert] Ya, itu.

Look kursi tanpa armrest…

…saya pikir akan kelihatan downgrade, Sam.

Sebenarnya ada alasannya Pak, sebentar.

Maurin, pinjam.

Pada saat seorang ibu makan, Pak…

dan dia menggendong bayi

tak mungkin gendongannya ada di depan.

[Moko] …pasti ada di pinggir.

[Moko] Karena pada saat makan nanti bisa ketumpahan makanan.

Lebar meja?

[Pak Albert] Kebesaran menurut saya.

Baik, Pak.

[Moko] Lebar meja memang harus cukup lebar, Pak.

Ini akan mengurangi jumlah meja yang ada di ruangan.

Tapi, pada saat sebuah keluarga duduk bersama…

makan dan ada balita

harus ada barang yang dijauhkan

…dari jangkauan anak-anak, Pak.

Karena bisa membahayakan seperti pisau, garpu, gelas.

[Pak Albert] Ruang keluarga buat apa?

Kita bikin resor ya, bukan mall.

Ya, tapi ini resor untuk keluarga kan, Pak, ya?

[Moko] Soalnya nggak semua yang mengganti popok…

…dan mengantarkan anak ke toilet itu…

…seorang ibu, Pak.

[Moko] Bapak-bapak juga banyak.

Dan kalau anaknya perempuan

akan menjadi sulit.

[Moko] Kalau di ruang menyusui…

itu akan bercampur

dengan ibu-ibu yang sedang menyusui.

Jadi kalau ada orang dewasa lain masuk…

…itu akan menjadi tidak nyaman, Pak, ruangannya.

Pak, tapi saya mengerti kita harus merespons…

…bentuk pasar media sosial sekarang…

…di resor itu harus banyak tempat foto-foto.

Tapi sebenarnya, kita bisa branding secara spesifik…

…bahwa resor keluarga ini…

…sangat peduli terhadap kenyamanan sebuah keluarga.

Kalau begitu, gini deh.

Space cottage…

…menurut saya kebesaran.

[Pak Albert] Saya kan mintanya yang minimalis saja.

Jadi kita bisa buat 30 cottage.

Baik, Pak.

[Moko] Sebenarnya, Pak,

pada saat keluarga itu berlibur,

mereka hanya butuh kebersamaan, Pak.

Banyak sekali anak-anak yang tidak punya waktu…

…dengan orang tuanya karena orang tuanya sibuk bekerja.

Maka dari itu, cottage yang saya desain…

…itu menjadi lebih luas, Pak, agar mereka bisa berkumpul.

[Moko] Plus, kita juga menyediakan extra bed.

Sam, jangan tersinggung, ya.

Desain yang kamu bikin…

…nggak seperti yang saya minta.

Saya bisa batalkan.

[Pak Albert] Next draft

saya minta kamu buat space cottage yang lebih kecil.

[Pak Albert] Bisa kapan?

- Nggak bisa. - [Pak Albert] Bisa kapan?

Nggak bisa, Pak.

Kalau Bapak mau ganti…

…ya ganti visinya, Pak, jangan jadi resor keluarga.

[Moko] Pada saat keluarga berlibur…

mereka hanya ingin bersama.

[Moko] Sesimpel itu tujuan liburan.

Yang harus berkesan bukan cottage kita

…bukan resor kita, Pak.

Tapi memori bahwa mereka itu menghabiskan waktu bersama-sama.

[Pak Albert] Kamu keluar.

Saya nggak mau dengar lagi dari kamu.

Baik, Pak.

[Moko] Oh.

Mohon maaf, satu lagi, Pak…

…lukisan Bapak terbalik.

[Sam] Semua poin-poin yang barusan kita bahas…

…saya sendiri nanti yang akan bikin.

[Pak Albert] Oke, oke.

- [Sam] Terima kasih, Bert. - [Pak Albert] Terima kasih, Sam.

[Moko] Pak Albert, saya minta maaf, Pak.

Kalau bisa ulang…

…bakal jawab apa ke Pak Albert?

[Moko] Sama, Pak.

Tapi mungkin lebih sopan.

Kamu ingat proyek waktu kamu tes masuk?

Ingat, Pak.

Itu proyek pertama saya.

Gagal.

Karena saya presentasinya kayak kamu barusan.

Sekali lagi kamu kayak gitu…

…saya pecat beneran.

Hmm?

[Moko] Iya, Pak.

[suara tepukan]

Terima kasih Pak, saya juga minta maaf, Pak.

- Mas, maafkan saya, Mas. - Nggak apa-apa.

Maafin aku, Rin.

Kangen ya sama anak-anak?

[musik]

Loh, Kak Moko?

Ais, jualan sekarang?

[Ais] Iya Kak, bantu Bi Erna.

Nggak sekolah?

Kan hari Sabtu, Kak, lagi libur.

[Ais] Kak duduk saja dulu.

Ais panggilkan Bi Ernanya, ya.

[Moko] Nanti saja.

[Ais] Nanti saja?

[ketukan pada es batu]

- Ais. - [Ais] Iya?

[Moko] Kangen main piano?

Oh.

[Ais] Iya, Kak.

Sebenarnya lebih ke kangen Bapak, sih.

Soalnya, nggak tahu sih, Kak, kayak…

…setiap Ais main piano gitu, yah…

Berasanya kayak Bapak ada, gitu.

Sama Ais.

[Ais] Hmm, aneh, ya?

[Ais] Tapi kakak pernah gitu nggak?

Kayak melakukan sesuatu biar berasa orang tetap ada?

Ais.

[Ais] Hmm?

Bapak pernah kabari Ais nggak?

[desing blender]

Kak Moko tuh sebenarnya sering coba hubungi Bapak…

…cuman, nggak ada respons.

Kayak emang Bapak nggak bakal balik lagi sih, Kak.

[Moko] Ini Kak Ais.

[Ais] Hai, salam kenal.

[Moko] Ais mau minum apa?

[Ais] Oh, bebas, Kak, apa saja.

[Moko] Oke.

[Ais] Dari waktu pertama kali…

…Bapak antar Ais ke rumah Kakak…

Dari situ Ais sudah tahu kalau Bapak nggak bakalan…

…balik lagi buat jemput Ais.

Ais tahu tuh soalnya Ais juga pernah, Kak…

…dengar Bapak sama Ibu berantem.

[Ais] Mereka kayak oper-operan, gitu.

…siapa yang bakal bawa Ais kalau mereka cerai.

[Ais] Tapi, Ais tuh juga sempat bingung Kak, waktu itu.

Pas Bapak suruh Ais pilih mau tinggal di sini…

…sama Bi Erna atau sama Kakak di Jakarta.

Tapi sih, kalau dari Ais sendiri…

…kasihan Kak, sama Bi Erna sudah susah di sini.

Cuman, ternyata Kakak di Jakarta nggak kalah susah.

Kayak,

kayak Kakak sudah punya empat anak

yang harus diurus.

Sudah banyak gitu tanggungannya.

Eh terus, tiba-tiba kedatangan lagi sama Ais.

Maaf ya, Kak.

Ya, nggak Bapak…

Terus, Ibu.

Kak Moko kemarin juga, sama sekarang Bi Erna.

Ais merasa…

Ke mana pun Ais pergi, Ais selalu nyusahin orang, sih, Kak.

Ais.

Iya?

Kalau ini dipencet…

…Ais bisa dengar nggak?

Pencet?

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[musik]

[Ais] Terima kasih, sudah main ke sini,

Ais janji Ais bakal kerja lebih baik lagi.

Biar nggak merepotkan Bi Erna…

…biar nggak merepotkan siapa-siapa lagi, Kak.

[Moko] Ais nggak pernah nyusahin.

- [Ais] Selalu, tahu Kak. - [Moko] Enggak.

- [Ais] Iya. - [Moko] Enggak.

[Ais] Kemarin saja di rumah Kakak, nyusahin, kan?

- [Moko] Enggak. - [Ais] Iya.

- Enggak. - Ih….

Iya tahu, Kak, nyusahin.

Makanya Ais, terus Nina, Kak Woko, Ano…

…itu kami semua tuh kerja, kami kerja yang keras.

Biar kami nggak nyusahin Kakak lagi.

Maksudnya gimana, Ais?

[Maurin] Mo, kamu tenang dulu, dong.

Sudah, aku nggak bisa tenang kalau kayak gini.

[Maurin] Kamu kan nggak bisa. Kamu bisa dengar aku dulu nggak? Tolong!

- Mas Eka sudah parah. - Aku tahu.

Aku nggak bisa diam saja di sini.

Mo? Moko!

Mo!

[Moko] Apa, Rin?

Nih, sudah, kamu pakai dulu saja.

Nanti aku nyusul.

Kamu mau tunggu travel sampai jam berapa di sana?

Anak-anak butuh kamu, Mo. Ayo!

[Maurin] Ayo!

[Moko] Yang lain kerja di mana, Ais tahu nggak?

Kalau Kak Woko…

[Ais] …katanya kerja di fotokopian, Kak.

Tapi dia senang soalnya dekat ini.

Sebelahnya malah, sebelah kampus Trisakti.

Kan itu kampus impiannya dia, Kak.

…jadi katanya sih…

…ya, bisa sekalian intip-intip tugas mahasiswanya.

Sekalian belajar.

Terus kalau Nina…

Itu Ais juga kurang tahu Kak, sebenarnya.

Soalnya katanya dia tuh kayak…

…kerja di restoran marah-marah gitu.

[Ais] Atau apa gitu ya.

Nggak tahu Ais juga, nggak paham.

Nah kalau Ano…

…nguli, Kak.

Sekalian mau menguruskan badan gitu, nggak paham.

Padahal sih sebenarnya bahaya ya, Kak.

[Osa] Eh, Mo? Kok pulang nggak bilang-bilang?

Mas Eka mana, Kak?

Kerja, keluar kota. Kamu kenapa?

Kenapa anak-anak disuruh kerja, Kak?

Tenang dulu, Mo.

Uang yang saya kirim kurang, Kak?

Mo, tenang dulu, Mo.

Kak, tolong dijawab saja, Kak.

Uangnya cukup.

Tapi emang lagi dipakai dulu sama Mas Eka.

- …buat investasi biar… - Dipakai, Kak, uangnya?

Iya, tapi nanti baliknya kan lebih gede.

Dan uang kamu pasti balik kok, sudah terbukti.

Terbukti? Itu anak-anak kerja, Kak.

Mas Eka pintar banget invest.

Kakak, anak-anak kerja semua!

Yang penting kamu sabar.

Kamu pernah dengar nggak sama yang namanya binary option?

Itu tuh milyaran loh, Mo.

Nanti kalau sudah berkembang

…jangankan anak-anak…

…kamu juga bisa, Mo, berhenti kerja.

Sudah berapa lama Mas Eka pergi?

Dua bulanan.

Itu investasi bodong, Kak.

Uangnya nggak akan balik.

Tahu dari mana kalau itu bodong?

Mo? Moko?

Mo?

Halo Ima, halo.

Maafkan Kakak ya, sudah meninggalkan kamu.

Kakak jemput ya, kakak-kakak yang lain?

Mau?

Hmm?

Mau, ya?

[Tukang] Ayo, No.

[suara obrolan para kuli]

[Tukang] Ayo, No.

[Moko] Permisi, Pak.

[Ano] Panas-panas gini enaknya minum es doger kali, ya?

Ano?

Kak Moko?

[Moko] Ayo pulang.

Sebentar Kak, belum selesai.

[Moko] Mas, Mas, saya boleh pinjam nggak…

…buat saya bantu keponakan saya?

[Tukang] Bantu?

[Moko] Iya, Mas, saya tahu kok caranya.

- [Tukang] Biar cepat. - [Moko] Iya.

- Terima kasih. - Ya.

[Moko] Mas Eka ya, No…

…yang bilang kamu nyusahin?

[suara debum]

Kamu ingat nggak, No, pas kamu sakit…

…terus Kak Moko nggak jadi beli laptop?

Itu Kak Moko bersyukur banget loh, No.

Bersyukur kamu baik-baik saja, No.

[Ano] Tapi kan, waktu itu Kak Moko…

…hampir nggak diterima kerja gara-gara Ano.

[Ano] Gara-gara Kak Moko nggak jadi beli laptop.

Ya emang, tapi kan, kerjaan bisa dicari, No.

[Moko] Uang juga bisa dicari lagi, No.

Tapi yang penting, buat Kak Moko…

…kesehatan kamu, No.

[Moko] Kak Moko juga kerja kan buat kamu.

Kalau kamu kenapa-kenapa, No…

…nanti yang habiskan nasi di rumah, siapa?

[Moko] Woko!

[Woko] Kapan sampainya, Kak?

Wo.

Omongan Kak Eka jangan kamu dengar, ya.

[Woko] Enggak lah, geblek itu orang.

- [Moko] Woko? - Aku dari awal emang nggak suka sama dia.

[Woko] Dia kalau ngomong tuh, sembarangan.

Masa dia bilang di hidup ini

nggak ada yang gratis, maka kita harus kerja.

[Woko] Kan, kasihan anak-anak.

Nguli kan? Ih, hebat, nguli!

Sudah dibilangin, susah banget.

Ya sudah, Nina di mana, Wo?

Itu lagi tuh, susah juga dibilanginnya.

Bukannya fokus kuliah.

Maaf ya, Kak.

Terima kasih ya, Wo.

Ayo! Jemput Nina.

Beres-beres sebentar.

[Moko] Apa senyum-senyum?

- [Woko] Sebentar, ya! - Iya.

[Manajer] Ya saran saya sih, kamu cari tempat kerja lain.

[Nina] Tapi, Pak…

[Manajer] Kamu udah sebulan loh di sini…

…dan aku nggak lihat kamu cocok juga.

[Nina] Saya pelajari, pasti bisa.

[Manajer] Nggak bisa begitu dong, Nina.

[Manajer] Ya sudah gini, itu ada pelanggan,

kamu layani, kita lihat, ya.

Aku juga nggak yakin kamu bisa, sih tapi.

[Nina] Saya coba. Pasti bisa.

[Manajer] Tunggu apa lagi?

[Ano] Hai, Kak.

Na, ayo pulang.

[Nina] Baca sendiri mau pesan apa!

Gue lihat-lihat dari mukanya pada bokek nih!

[Nina] Jangan sampai pesan satu menu buat dibagi tiga, yah!

No, Kak Nina emang kerjanya begini, marah-marah di sini.

Oh! Kalau kerja yang benar, dong!

Yang marah dia saja, kita sih biasa saja.

[Ano] Oh…

[Moko] Na.

Sudah ya, berhenti kerja.

Omongannya Mas Eka nggak usah didengar.

[Moko] Nina nggak pernah sekali pun…

[Moko] …nyusahin Kak Moko. Yang lain juga…

Nyusahin saja ya, lo semua!

[Nina] Lama banget pilih menu

pada bisa baca nggak sih?

Lu berdua nggak usah pesan deh…

…yang bayar pasti kakak lo, kan?

[Nina] Lu nggak lihat tuh mukanya, masih muda…

…masih punya harapan, masih punya masa depan.

Tapi malah kalian glendotin

lo porotin, bikin hidupnya berhenti

…cuman buat mengurus lo pada. Tahu nggak sih?

Lagian, Kak Mokonya sendiri bego, sih.

Kok mau saja digelendotin sama adek-adeknya?

[Nina] Sudah, Kak Moko tuh pergi saja, keluar, kerja…

…punya hidup sendiri.

Yang bertanggung jawab sama hidup kita

cuma kita sendiri, nggak usah mengurus orang lain.

Buat apa, sih?

Mau sok jadi pahlawan?

Nina?

Nina…

Nina nggak mau nyusahin Kak Moko lagi.

Nina sudah cukup jadi beban Kak Moko…

…Nina bisa kok hidup sendiri.

- [Moko] Nina! - [Woko] Na!

[Moko] Na, Na, Na, Nina!

[Moko] Nina!

[Moko] Nina!

[Moko] Nina!

[Moko] Mas Eka kabur, Na!

[Moko] Mas Eka kabur bawa semua uang!

[derum kendaraan lewat]

[Nina menangis]

Mas Eka ngomong kayak gitu…

…supaya dia bisa bawa kabur uangnya!

Na!

Mas Eka kabur.

[Moko menangis]

Kalian semua itu disuruh kerja…

…itu emang sudah tujuannya Mas Eka.

Supaya dia bisa bawa lari uangnya.

Kalian…Kalian nggak beban, kok.

Nina nggak beban.

[Moko] Nggak.

Ayo pulang.

[Nina menangis]

[musik]

[Moko] Nina.

[Moko] Ano, Woko.

Berhenti kerja, ya.

[Moko] Kenapa kayak gitu? Kan Kakak sudah jelaskan.

Kalaupun duitnya nggak dipakai sama Mas Eka juga…

[Nina] …emang kami nyusahin, Kak.

Nggak nyusahin, Na.

Nyusahin lah, Kak.

[Moko] Enggak, namanya keluarga, Na.

[Maurin] Aku mau ngomong sama kamu.

[Woko] Aku mau ngomong juga, Kak.

Kami sudah nyusahin Kak Moko.

[Moko] Sebentar, apa sih?

Tadi kan kamu dukung Kakak.

[Woko] Iya, iya.

- Nina ada benarnya juga. - [Moko] Benar gimana, sih?

[Ano] Nina benar kok Kak, kalau misalkan duit dipakai

- [Ano] beli laptop, Kakak. - [Nina] Nyusahin lah Kak…

[Moko] Sebentar. Ngomongnya satu-satu.

Aku setuju anak-anak emang nyusahin.

Apaan sih, Rin? Kok jadi kayak gitu?

Loh, iya dong, Mo.

- [Moko] Nggak. Apa? - Nggak.

[Moko] Nggak pernah di batin sekali pun

mereka itu nyusahin aku.

[perdebatan Moko, Maurin, Woko, Nina, Ano]

Gini deh, biar semuanya kebagian ngomong.

Setiap yang mau ngomong, angkat tangan.

Ya? Terus siapa pun yang ngomong

kita dengar sampai selesai.

[Woko] Apa?

Jadi, waktu itu Kak Moko jemput Ano nguli…

…Kak Moko tuh bilang ke Ano…

…kalau kita tuh nggak pernah membebani Kak Moko…

[Ano] …jauh dari lubuk hati Kak Moko.

[Ano] Kak Moko tuh pengin jaga kita semua.

[Ano] Kak Moko tuh sudah kayak bapak Ano sendiri.

Kamu rasa nggak nyusahin Kak Moko?

Enggak.

Kamu sudah nggak mau kerja?

Masih mau, sih.

[Woko] Kenapa?

Katakan Kak Eka bilang begitu ke kita

supaya dia bisa pakai uang Kak Moko

yang harusnya buat kita.

Jangan sembarang, ya, kalau ngomong.

Emang kenyataannya begitu.

Itu investasi, butuh waktu.

[Osa] Kamu tahu nggak, sih?

Kakak bisa bilang begitu nggak soal sekolah saya?

Bisa bilang kalau itu investasi nggak sekolahnya Ano?

[Nina] Nggak bisa, kan?

Emang duitnya dipakai

…dan nggak akan balik, kan?

Sudah, sudah!

[Woko] Kak Osa kalau mau ikutan ngobrol, di sini saja, Kak.

Sudah, sudah, lanjut.

Ya sudah, katakan lah Kak Eka nggak pernah pakai duitnya itu.

Tapi fakta Kak Moko kerja keras banting tulang

buat kita semua, siang malam

itu nggak hilang, kan?

[Nina] Emang menyusahkan, kan?

[Nina] Emang kami beban!

Nina!

Bukan beban.

Kalau nyusahin, keluarga mana yang nggak nyusahin, Nina?

Ya, oke deh, nyusahin.

Tapi, emang Kak Moko nggak pernah nyusahin?

Enggak!

No, Kak Moko pernah pinjam sendalnya Ano

padahal Ano mau pakai. Nyusahin, dong?

Enggak, Ano ada sendal lain.

Woko.

[Moko] Kamu nggak jadi kuliah loh gara-gara jaga Ima…

…pas kakak awal-awal kerja. Nyusahin, dong?

Seru, Kak, main sama Ima, nggak nyusahin.

Nina.

[Moko] Kamu setiap hari masak buat semuanya…

[Moko] …buat yang ada di rumah ini.

[Moko] Nyusahin, dong?

Kami tuh nggak pernah merasa disulitkan sama Kak Moko.

Karena Kak Moko baik banget sama kami.

Ya, itu dia.

Emang kalian pikir Kak Moko nggak merasa…

…kalian baik sama Kak Moko?

[Moko] Sayang sama Kak Moko?

[Moko] Kita tuh keluarga…

[Moko] …nggak ada yang namanya nyusahin apalagi beban.

Sudah, kalian semua berhenti kerja, ya?

[Moko] Kakak kerja pagi, siang, malam

nggak pernah sekali pun berpikir…

…untuk kalian kembalikan.

[Moko] Kalian mau gede jadi orang kayak apa?

Kalau pikirnya punya utang sama rumah.

[Moko] Hah?

Oke.

Aku setuju sama Kak Moko.

Kalau di sini nggak ada yang jadi beban.

Tapi aku nggak setuju, Mo…

…kalau anak-anak nggak boleh kerja.

Rin apaan sih? Kok jadi dukung mereka kerja gitu?

[Maurin] Ya kecuali kerjaannya nguli, yah? Ano.

[Maurin] Kamu belum cukup umur, bahaya.

Iya.

Kamu cari kerjaan lain, ya.

[Ano] Iya, Kak.

Tapi, ya nggak apa-apa, Mo…

…nggak apa-apa anak-anak ini kerja.

Tapi, bukan karena mereka merasa utang.

[Moko] Kamu nggak tahu kondisinya.

Apa, Mo? Mau putusin aku lagi?

[Maurin] Nggak bisa kan, kamu?

[Maurin] Kita nggak pacaran kok.

Waw.

Mau sampai kapan, Mo?

Sampai kapan kamu larang aku perjuangkan kamu?Sampai kapan?

Aku mau hidup sama kamu, Mo.

Anak-anak juga.

Kita semua di sini saling memperjuangkan, boleh dong, Mo?

Oke.

[musik]

Mo?

Mo?

Hei.

Tanggungnya sama-sama, ya.

[suara tangis]

[Ano menangis]

[Ano] Ikutan dong.

[Woko] Yah, lengket.

[Moko] Sudah, yuk.

[Nina menangis]

[derum kendaraan lewat]

[Nina menangis]

[musik]

[Maurin] Mau, yah?

[Ais] Tapi, Kakak juga pernah kayak gitu nggak?

Kayak melakukan sesuatu…

…biar berasa orangnya tetap ada?

[Dosen] Apa sejujurnya alasan dari saudara Moko

memilih konsep rumah terbuka?

Bukan alasan akademik yang saya minta

tapi secara personal, dari hati.

[Atmo] Yok, ayo!

[Agnes] Sini, Dek. Mau dibantu, nggak?

♪ Dari depan kan tampak sederhana ♪

♪ Tapi kebunnya luas, tanamannya mewah, megah ♪

[musik]

♪ Kita usahakan rumah itu ♪

♪ Dari depan akan tampak sederhana ♪

♪ Tapi dibuat kuat dirancang muat, lega ♪

[Atmo] Ini nanti kalau temboknya dijebol…

…kita jadi punya ruangan yang lebih luas.

[Atmo] Bisa buat kumpul-kumpul.

♪ Yang kuserahkan pada seleramu yang lebih maju ♪

♪ Tapi tata ruang ♪

♪ Aku ikut pertimbangkan karena kalau nanti ♪

♪ Kita punya kesibukan, malam tetap kumpul di meja ♪

Kakak pulang.

♪ panjang, ruang makan, kita berbincang ♪

♪ Tentang hari yang panjang ♪

- [Nina] Ais? - Kakak Ais?

[Moko] Mas Eka ada kabar?

♪ Kita usahakan rumah itu ♪

♪ Dari depan akan tampak sederhana ♪

Maaf, ya.

Sudah.

♪ Tapi penerangannya diracik begitu romantis ♪

Maaf.

[Moko] Ya.

[musik]

[Nina] Kak Osa?

♪ Wangi-wangian kuserahkan pada seleramu yang lebih maju ♪

Kenapa?

Nggak apa-apa. Rambutnya bagus.

Masa?

Makan bareng yuk, Kak.

♪ Tetap kumpul di meja panjang ♪

Jadi mirip rambutnya Nina.

♪ Kita berbincang tentang hari yang panjang ♪

♪ Boleh kamu keliling dunia ♪

♪ Dan temukan banyak tempat-tempat untuk singgah ♪

♪ Sementara ♪

♪ Kamu boleh namai itu rumah ♪

♪ Selama ada mereka yang kamu cinta ♪

♪ Di dalamnya ♪

♪ Kita usahakan rumah itu ♪

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.