Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
BERDASARKAN FILM PENDEK "SINGSOT"
Dik,
akhirnya burungnya ditangkap!
- Yang benar, Mas? - Iya.
- Ya udah, cepat pulang. - Iya, Dik!
Pokoknya, cepat kamu siapkan tempat, ya.
- Siap, bakal aku siapkan. - Iya.
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Aku duluan, Pung!
Minggir!
Mau ke mana?
Pelan-pelan.
Didit!
Terbang ke sana.
Benangnya di sana, tuh!
Ayo!
- Aku duluan! - Aku duluan!
Aku duluan!
- Aku yang lihat duluan. - Aku!
Awas, Lik.
Itu dia, Pung!
Pung! Dit! Jangan masuk ke sana!
Layangannya ada di sini.
Setop, hei!
Oalah, kok malah masuk ke sana? Sialan…
Hei, enggak mungkin kan kita kejar layangan sampai ke dalam sana?
Lihat dulu aja! Siapa tau ternyata dekat.
Pung! Jangan!
Kenapa?
Hei, kamu tahu, enggak?
Kemarin pas Lik Sutar lewat sini,
dia dengar suara aneh-aneh.
Kayak diikuti dari belakang begitu!
Masa? Paling Lik Sutar cuma bohong!
Iya! Ayo kita lihat aja.
Buat apa? Ini kan jatahku. Kenapa ikut-ikut?
Kok bisa? Enggak, lah. Siapa cepat, dia dapat!
Enak aja! Masa semua mau kamu ambil?
Enggak bisa!
Udah! Enggak usah berantem!
Kamu tahu, enggak?
Semenjak Lik Pete ditemukan di sini,
ini jadi daerah enggak aman!
Lihat kirimu, kananmu…
gelap kayak begitu!
Aku udah diwanti-wanti sama bapakku,
jangan pulang Magrib.
Memangnya kalian enggak?
Iya, sih. Aku juga.
Ya udah. Sana, Pung! Ambil sendiri!
Aku yang ajak,
kok malah kamu duluan, Dit?
Pung…
Ayo pulang aja!
Besok kita kejar layangan putus lain, Pung.
Nih! Ambil aja layanganku.
Tapi robek dikit enggak apa-apa, kan?
Ini.
Pung! Ayo pulang! Udah Magrib!
- Sebentar! - Udah, ayo!
Cepat! Nanti kamu dimarahi mbahmu!
- Duluan, ya! - Duluan, Lis!
Duluan, ya.
Udah jam berapa ini kok baru pada pulang?
- Duluan, ya. - Iya.
Permisi, Pak.
Dari mana?
Lho?
- Kok jam segini baru dimandiin, Mbah? - Nak.
Iya. Baru sempat.
Terus, besok yang bertanding di lomba siapa, Mbah?
- Petruk lagikah? - Kayaknya enggak, Nak.
Biar gantian, enggak Petruk terus yang menang.
- Terus, siapa, Mbah? - Enggak tahu!
Besok aku bertapa dulu biar dapat pencerahan.
Gaya banget pakai bertapa dulu!
Ya udah. Aku pulang dulu, Mbah.
Iya. Mumpung belum Magrib.
- Sana pulang, terus mandi. - Iya, Mbah.
Aku tunggu hasil bertapanya, ya.
Iya.
Mbah Manto.
Sudah dari tadi di sini?
Ya, lumayan.
Mampir sebentar
minta daun saga buat jamu perkutut.
Oalah.
Ya udah.
Mbah pulang dulu ya, Nak.
Ya, Mbah. Hati-hati.
- Lagi ngapain, Mbah? - Ini…
Oh, ya, Mbah.
Tumben Mbah Manto cuma sebentar di sini?
Iya, tadi buru-buru katanya ada urusan.
Mbah.
Aku tadi dikasih tahu Mbah Darmo kalau
Petruk besok enggak turun lomba.
- Yang benar? - Iya.
Kalau begitu, jelas Arjuna enggak akan ada tandingannya.
Top.
Itu jelas.
- Aku coba ya, Mbah. - Ya.
- Ajari, ya? - Ya.
Langsung diberi jamu ini.
Bukan begitu. Jangan langsung dikasih.
Ini kepalanya dielus dan dipijat dulu.
Terus pelan-pelan disuapi.
Nah, kayak begitu. Kamu harus sering latihan biar luwes.
Siap!
Kalau begini doang gampang, Mbah.
Latihan dulu.
Pung, jangan kayak begitu!
Ada iramanya.
Gimana?
Nih.
Nah, begitu iramanya.
Ipung!
Berhenti siulnya.
Ini udah Magrib.
Sampai rumah bukannya langsung ganti baju,
malah datang ke sini!
Iya, iya.
Habis ini aku ganti sekalian mandi.
Mandi harusnya tadi sore.
Magrib kok mandi!
Mbah Lanang juga!
Malah diam aja, bukannya ingatkan cucunya!
Pung.
Cepat.
Daripada dimarahi mbahmu lagi.
Iya…
Ipung! Harus berapa kali dikasih tahu?
Iya, iya, Mbah.
Mas.
Mas.
Siapa?
Siapa, ya?
Siapa, ya?
Mas.
Mas, udah bisa balik?
- Pak. - Ya.
- Nasihati cucumu. - Apa?
Makin lama kok makin kayak kamu.
Ya…
Namanya juga anak kecil, Bu.
Biasa.
Nanti kalau besar juga tahu sendiri.
Justru itu. Mumpung masih kecil,
jangan diajari yang aneh-aneh.
- Memang aku ajari apa? - Itu…
Sekarang sebentar-sebentar urus burung melulu.
Jangan sampai kebablasan.
Ya.
Ya.
Ini pasti karena Ibu…
kepikiran Agus Pete.
Iya kan, Bu?
Bu.
Ibu lupa?
Kejadian yang dulu, orang-orang hilang.
Enggak ada jejaknya.
Sekarang udah enggak ada yang begitu.
Udah aman.
Kalau aman, kenapa masih begini?
Kayak begini gimana?
Agus Pete?
Orangnya masih ada, kan?
Masih segar bugar.
Tuh! Anaknya siul-siul lagi.
Aku beri tahu habis ini.
Aku berangkat dulu.
Tolong jaketnya.
Pung.
Kenapa, Mbah?
Mbah mau ngomong. Disimak, ya.
Kalau sudah Magrib…
seperti yang sudah diingatkan sama Mbah Wedok,
jangan siul-siul lagi.
- Bahaya. - Halah!
Apa sih, Mbah?
Cuma siul doang!
Mbah Lanang aja boleh.
- Kenapa aku enggak boleh? - Udah!
Pokoknya, nurut sama Mbah Wedok!
Ya? Pung.
Kalau kamu nurut,
nanti boleh ikut Mbah ke lomba.
Lomba.
- Yang benar, Mbah? - Iya.
Asyik!
Ini, Pung.
Mbah punya barang bagus, nih!
Ini mainan Mbah waktu Mbah masih kecil.
Aku coba ya, Mbah.
- Terima kasih, Mbah. - Iya. Sekarang…
Mbah berangkat ronda.
Ya.
- Nurut ya. - Iya, Mbah.
Tolong!
Tolong!
- Mbah. - Apa?
Mbah Darmo gimana ini?
- Tadi, saya datang ke sini… - Ya?
…niatnya jemput Mbah Darmo buat ngajak ronda.
- Ya. - Saya panggil dari luar enggak menyahut.
Terus saya masuk, di dalam enggak ada siapa-siapa.
Tahunya Mbah Darmo sudah terkapar.
Mbah Darmo sudah di lantai, Mbah.
Sekarang kita harus gimana, Mbah?
Mbah Darmo gimana?
- Ayo kita gotong keluar aja. - Ayo!
- Di mana? - Itu! Di dalam. Itu dia!
Kabar duka cita.
Innalillahi wainnailaihirojiun…
Pemberitahuan kepada warga Kertorangking,
telah meninggal dunia,
Bapak Darmo…
Makan dulu ya, Mas.
Abis itu minum jamu.
Mas?
Mas?
Mas?
Mas.
Mas.
Mbah?
Mbah?
Mbah?
Mbah?
Mbah?
Mbah, kenapa?
Kok burungnya lepas semua?
Mbah?
Mbah.
Mbah.
Mbah.
Mbah.
Mbah?
Pung.
Tolong bantu Mbah Wedok.
Mbah?
Pung.
Ipung.
Apa, Mbah? Butuh dibantu apa?
Ini…
Cuma butuh masukkan ini?
Mbah Lanang mana? Tadi manggil aku, lho.
Ya, ampun.
Diajak ngobrol kok malah pergi.
Itu bukan Mbah. Sini cepat!
Ipung.
Ipung.
Mbah.
Itu siapa, Mbah?
Ipung.
Ipung.
Mbah?
Mbah!
Letakkan di sini saja.
Tolong ambilkan dua kursi. Taruh sini. Ayo cepat.
Udah, tinggal aja.
- Taruh mana, Mbah? - Sini. Sandarin di situ.
Kasihan nasibnya Mbah Darmo.
Omong-omong, Mbah Darmo meninggalnya kenapa? Gimana?
Tadi malam itu, Mas Seteng mau jemput untuk ronda.
Taunya sudah jatuh di dapur.
Lalu siangnya sudah meninggal.
Ya, ampun. Padahal banyak orang yang bilang
kalau Mbah Darmo itu punya pegangan.
Harusnya orang yang punya pegangan itu susah meninggalnya.
Ini meninggalnya kok cuma kepeleset?
Ngawur kamu.
Memangnya dia punya pegangan?
Tahu dari mana?
Sudah banyak yang bilang, ya. Kamu, tuh.
Di sini itu banyak orang yang hilang.
Katanya
dimakan hantu!
Jangan cerita yang aneh-aneh!
Kamu enggak percaya?
Makanya orang tua di sini itu banyak yang punya pegangan biar aman.
Tapi zaman sekarang apa iya
masih ada yang begituan?
Yang penting kita itu hidupnya lurus,
rajin ibadah.
Terus kamu harus cepat-cepat bertobat.
Kenapa aku? Kamu dulu.
Baru nanti aku mengikuti kamu.
Begitu, kan?
Enggak mau, aku sibuk.
Nanti Mbah Darmo bangun!
Kalau suaminya si Wiwik gimana?
Masih kayak mayat hidup?
Ya, jelas masih.
Orang Si Pete itu sakit atau sehat sama aja, kan?
Enggak bisa ngapa-ngapain. Iya, enggak?
Yang kebangetan ya Wiwik itu!
Bisa-bisanya mau nikah sama Pete!
Iya! Hidupnya enggak jelas.
Apa kubilang.
Ada yang bisa aku bantu, Mbak?
Wiwik.
Ini udah. Taruh sana aja. Nanti tamunya keburu pulang.
Wik.
Dengar-dengar, kamu mau bikin acara selametan, ya?
Ya, buat Mas Pete.
Wiwik.
Seduh teh lagi, ya?
Baik.
Wik, udah pernah ngecek belum?
Cek apa ya, Mbak?
Katanya suamimu, si Pete itu, baru aja pelihara burung.
Siapa tahu sakitnya itu karena…
Sudah kubawa ke klinik kok, Mbak.
Katanya Mas Pete sakit strok.
- Silakan minumnya, Mbah. - Ya.
Ini mainanmu, Pung?
Ya, Bulik.
Ini kayaknya jatuh pas aku ambil hape, deh.
- Terima kasih ya, Bulik. - Ya.
Mari, Mbah.
- Cepat! - Ya.
Mbah, kenapa?
Mbah?
Enggak usah kebanyakan tanya! Cepat! Jangan lelet!
- Udah ngerepotin, lelet banget! - Maksudmu apa?
- Berani jawab lagi! - Pak, langsung lempar aja!
- Rasakan itu! - Rasakan!
Tolong!
Tolong!
Iya!
Mbah, kenapa
gedor pintu kenceng banget?
Gedor pintu gimana?
Mbah dari tadi di sini.
Kenapa, Nak?
Aku dihantui di mimpi, Mbah.
Aku minta maaf ya, Mbah. Aku takut.
Di mimpiku, Mbah bukan Mbah.
Aku mati dikubur hidup-hidup, Mbah!
Makanya, jadi anak itu yang nurut.
Kalau enggak nurut, mimpi buruk kayak begitu!
Makanya…
jangan siul-siul terus.
Untung aja kamu cuma didatengin di mimpi.
Kalau didatengin sungguhan gimana?
Mbah!
Aku benar dimaafkan, Mbah?
Cepat maafkan aku! Maafkan, Mbah!
Iya… Iya, udah.
Jadi ikut Mbah Lanang, enggak?
Jadi.
Tuh, Mbah udah siap-siap.
Cepat mandi sana.
Kembalikan suamiku.
Kembalikan suamiku sekarang.
- Hei. - Hei.
- Siap? - Ya.
- Dapat nomor berapa? - Belum.
Aku belum dapat nomor.
Pung!
- Ya, Mbah? - Tolong Mbah dicarikan nomor dulu, ya.
- Ini duitnya. Itu, di sana. - Ya.
Ini, Pak.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Atas nama siapa? - Ini, Pak.
- Sakti, Pak? - Ya, Sakti.
Ya. Silakan diterima.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Wah, kerennya Ipung!
- Udah siap jadi penerus mbahmu? - Iya, Lik.
- Udah punya burung sendiri? - Belum.
Minta mbahmu! Burungnya banyak.
Terus daftar di sini pakai namamu sendiri.
Aku udah minta, tapi masih belum dikasih sama Mbah.
Namamu Ipung. Ya, kamu harus bilang.
Yang semangat ya, Pung.
Jangan menyerah, Pung.
- Ini siapa? Arjuna? - Arjuna.
Oke, sip.
- Ini. - Ya, silakan.
- Terima kasih, Ipung. - Terima kasih!
Sama-sama.
Kang.
Apa benar?
Karena Petruk mati, Darmo jadi ikut juga?
Iya.
Karena itu, Darmo enggak ada yang jaga.
Kan pegangannya dia masukkan ke burung itu.
Ya.
Tapi sepertinya
ada sangkut pautnya dengan Agus Pete.
Nah, ini, Kang. Di kejadian-kejadian yang dulu,
orang-orangnya juga ikut hilang, ikut ke alam sana.
Kalau benar Agus Pete pelakunya,
kenapa dia enggak hilang?
Sebenarnya ada apa? Apa pantangan yang dia langgar?
Itu yang aku pikirkan dari tadi.
- Ini, Mbah. - Ya, Pung.
- Nomor 16. - Ya.
- Di mana ini nomor 16? - Di sini.
Itu? Ayo, tolong bawa sana burungnya.
Hati-hati, pelan-pelan.
Kenapa, Bu?
Mbah kenapa?
Mbah?
Pak.
Ini udah enggak benar.
Jangan kebanyakan alasan lagi!
Aku udah janji sama Kang Manto buat beresi ini semua.
Mana yang katamu aman? Aku udah hampir mati, Pak!
Udahlah, Bu. Manut aja!
To?
Tirto.
To?
Tirto.
Jangan datang, jangan ganggu.
Jangan datang, jangan ganggu.
Pete!
Pete!
Keluarlah, Pete!
Keluarlah, Pete!
Aku pengin ngomong.
Pete!
Pete!
Kenapa…
kamu mengincar
orang-orang kampung?
Karena aku harus bertukar tempat.
Biar aku bisa keluar!
Kamu kenapa?
Apa yang terjadi padamu?
Pete!
Apa yang kamu mau?
Caramu salah, Pete.
Kalau caramu begini,
kamu hidup di sini saja.
Bicaralah, Pete.
Jawab aku!
Ini ulah Ganda Rumbing.
Agus Pete yang buka portalnya lagi.
Jadi, benar, Kang?
Agus Pete yang cari mangsa orang-orang kampung?
Iya.
Karena dia ditahan.
Dia diberi syarat.
Dia boleh keluar jika berhasil mencari penggantinya.
Kalau dalam 40 hari, dia tidak dapat pengganti,
dia yang akan lenyap.
Kurang ajar.
Yang mengambil Darmo adalah Agus Pete.
Tapi Darmo ternyata mati duluan.
Wiwik.
Setelah…
yang kemarin…
belum ada tanda-tanda suamimu akan kembali, ya?
Belum, Mas.
Padahal waktunya tinggal enam hari.
Aku harus gimana, Mas?
Kalau begitu…
kamu harus beri jamunya
ke orang yang bakal bisa nolongin kamu.
Siapa saja orangnya, Mas?
Ada satu yang harus kamu cari.
Darah hangat.
Nanti suamimu yang akan kasih tandanya.
Yang penting,
kamu harus bisa baca tanda itu. Dan…
beri jamu itu kepadanya.
Jangan sampai kehabisan waktu.
Jika kamu kehabisan waktu…
suamimu akan lenyap.
Satu, dua, tiga,
empat, lima, enam,
tujuh, delapan.
Sekarang tarik tangan kanan kalian ke sebelah kiri.
Satu,
- dua… - Pung.
Katanya kamu punya peluit burung.
Dan peluitmu itu katanya ampuh.
Masa sih, Pung?
Emangnya karena peluit itu
burungnya bisa jadi kayak ular kobra?
Enggak, lah!
Paling berubah jadi lumba-lumba.
- Emang ada peluit kayak begitu? - Ada, lah! Punya mbahku.
Halah! Itu mbahku juga punya.
Tapi mbahku enggak punya. Lihat dong, Pung.
Tujuh, delapan.
Sekarang pegang dagu.
Bagus!
Hadapkan ke sebelah kanan.
Apik, Pung.
Halah.
Begini ini di pasar burung banyak!
Enak aja! Ini enggak sembarang orang punya.
Kata mbahku, barang ini udah langka. Enggak ada di pasar!
- Halah! Mbahmu lebay. - Hei! Jangan sembarangan.
- Emang ada kok! - Enggak ada.
- Ada! - Enggak ada!
- Ngeyel! Ada! - Enggak ada.
- Enggak ada. - Tangan ke depan.
Terserah.
Hei, Pung.
Mulutmu kenapa?
Delapan.
Tangannya di bawah.
Satu, dua, tiga, empat,
lima, enam, tujuh, delapan.
Hei! Ipung!
Perhatikan!
Pung!
Salah satunya adalah dengan adanya predasi.
Kenapa, Ipung?
Pelakunya kita sebut apa?
- Predator. - Predator.
Ya, predator.
Ipung?
Ipung?
Kamu kenapa, Pung?
Enggak apa-apa!
Oh, iya.
Ini peluit perkututmu.
- Kok ada di kamu? - Tadi kan kamu pinjemin ke aku.
Oh, ya.
Terima kasih, ya.
Mau ke mana, Pung?
Kayak dikejar setan.
Bu, gimana badannya?
Rasanya mual kayak masuk angin.
Lho…
Yang di sini kamu ambil, Bu?
Iya, aku larung.
Lho?
Gimana sih, Bu?
Ini enggak boleh sembarangan, Bu!
Harusnya, karena aku yang masang,
aku juga yang harus lepas.
Terus sekarang gimana?
Jangan-jangan kamu sakit karena ini!
Aku beresin sekarang aja!
Nak.
Rumahnya Mbah Mirkun itu mana, ya?
Di sana, Lik.
Itu rumah mbahku.
Oalah.
Mbah Mirkun itu mbahmu?
Ya.
Ajak bareng saja.
Kebetulan, aku mau ke sana!
- Ya udah, ayo bareng. - Iya, Lik.
- Ayo, naik. Cepat. - Ya.
- Naik aja, Nak. - Terima kasih, Lik.
Ya, silakan naik.
Ayo naik, Dek.
Sini, sini.
Ayo.
- Duduk situ aja. - Iya, situ aja.
- Ayo jalan. - Ayo.
- Kamu kenapa, Nak? - Enggak apa-apa, Lik.
- Kok mukamu pucat? - Enggak apa-apa, Lik.
- Benar enggak apa-apa? - Iya, Lik.
Ini mau ke rumah Mbah ngapain?
Mau melayat.
Waduh! Udah kesasar di sini kamu, Nak?
Wah, kalau udah kesasar, baliknya susah.
Mending di sini aja. Ya?
Tawari dulu dia mau pulang atau di sini.
Halah! Ini buat hiburan kita.
Udah di sini aja, Nak!
- Temani aku, Nak. - Enggak usah pulang.
Di sini saja.
Mbah!
Mbah!
Kenapa, Nak?
Ada apa, Nak? Kenapa kamu berantakan begini?
Aku diikuti hantu, Mbah. Tolong aku, Mbah.
Udah, sini.
Udah, enggak usah takut. Ada Mbah di sini.
Hantunya udah enggak ada. Ada si Mbah.
Udah, sini.
Hantunya sudah hilang.
Adik…
Ini mainanmu, Pung?
Ya, Bulik.
Bulik.
Ipung.
Mbah Wedok ada, Nak?
Itu lagi tiduran di kamar, Bulik.
Silakan, Bulik.
- Aku panggilin dulu, ya. - Enggak usah, Nak.
Ini, Bulik mau kembalikan rantang punya Mbah.
Ya, Bulik.
Kamu lagi enggak enak badan, Nak?
Ya, Bulik.
- Ketularan si Mbah Wedok? - Ya, kayaknya Bulik.
Ini, Bulik habis beli jamu di langganan Bulik.
Biasanya Bulik kalau enggak enak badan, minum ini langsung sembuh.
Nih, langsung diminum. Biar cepat sembuh.
Pasti habis itu enak badannya.
- Ini, Bulik. - Pintar.
- Bulik pulang dulu ya, Nak. - Ya, Bulik.
Nanti bilang Mbah Wedok kalau Bulik ke sini, ya.
Ya, Bulik.
Terima kasih, Bulik.
Sama-sama ya, Nak.
Ya.
Mbah! Tolong aku di sini, Mbah! Tolong!
Mbah! Tolong, Mbah!
Tirto!
- Ada apa, Mbah? - Enggak usah basa-basi!
Apa hubunganmu sama Pete?
Apa maksudnya?
Apa yang kamu lakukan pada Pete dan Wiwik?
Aku cuma bantu orang-orang tersesat.
Apa yang kamu tahu tentang Pete?
Pete!
Hei!
Kamu apakan cucuku?
Kamu apakan cucuku?
Pete!
- Jawab aku sekarang! - Mbah!
Mbah ngapain?
Kalian berdua emang orang enggak benar!
Kalian apakan istri dan cucuku?
Apa maksud Anda?
Enggak usah berlagak enggak tahu. Aku sudah tahu semuanya!
Suamimu jadi begini karena kalian pengin kaya!
Harusnya kalian mikir!
Kalau hidup udah sengsara, jangan malah minta tolong setan!
Jangan sembarangan ngomong!
Kamu pikir suamimu bakal bisa sembuh? Enggak akan!
Sampai mati dia bakal kayak begini. Aku sumpahin!
- Mbah! - Enggak punya tata krama!
- Mbah! - Masuk rumah orang, menuduh tanpa bukti!
- Apa maksud Anda? - Nak? Di mana kamu?
- Mbah! - Nak?
Jangan karena kami miskin, kamu bisa seenaknya sendiri!
- Mbah! - Di mana kamu, Nak?
Minggat sana yang jauh!
Mbah!
Mbah, tolong!
Mbah!
Mbah, tolong!
Tolong, Mbah!
Mbah, aku di sini!
Mbah!
Mbah, tolong aku!
Mbah!
Kang Manto.
Aku benar-benar minta tolong. Cucuku harus balik.
Ya.
- Ini diusahakan. - Iya. Terima kasih, Kang.
Bawa ini.
Benda ini bisa menolongmu.
Pung.
Mbah?
Sini, Pung.
Mbah?
Mbah?
Mbah?
Pung.
Mbah?
Mbah!
Mbah!
Pung.
Mbah?
Sini, Pung.
Pung.
Ayo.
Pung, ayo ikut Mbah!
Ayo!
Mbah.
Mbah.
Ipung?
Pung.
Ipung.
Pung?
Ipung!
Ipung!
Mbah!
Ipung!
Pung!
Mbah!
Ipung!
Mbah!
Ipung!
Mbah!
Mbah!
Ipung!
Mbah!
Mbah? Mbah!
Ayo, Ipung! Ayo!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
- Ipung! Ayo ikut Mbah! - Mbahku masih di sana!
Ayo!
- Permisi, Pak! Ke pasar. - Mau ke mana?
- Oh, ya. - Pagi.
Hei.
- Udah sembuh, Te? - Iya, Pak.
Terus kapan selametan makan-makannya?
Ayo! Kapan aja aku siap.
- Benar ya, Te? - Iya!
- Aku tunggu. Mari, Wik! - Iya.
Ya!
- Dik, tadi jadi beli kencur? - Jadi, aku taruh di meja.
Ya.
Jangan lupa teh untuk Mbah Lanang, Nak.
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.