Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Penerjemah: RIELNEXTDOOR
RIELNEXTDOOR
Dilarang Hapus Credit!
Apaan nih?
- Apaan?
Hah!
Kak Young-geori, aduh, gimana nih!
Bos, eh, terima kasih.
- Bangsat, sialan.
Sial, dia ngatain adiknya bangsat.
- Dia gila kali, ya... - Aduh, sialan kau.
Sumbangan receh begitu nggak bakal kami hargai.
- Aduh, sialan.
- Anjing lo, brengsek!
- Kubilang bukan aku, sialan! - Aduh, bang, bang.
- Kubilang bukan aku! - Bang, ah...
Abang-abang, sang pendekar keadilan, Oryungu, akhirnya...
berhasil menangkap Kim Han-seong, pelaku bully bajingan itu...
- Eh, tuh dia keluar.
- Woi, ikutin, ikutin!
- Come on, come on! - Woi, apa ini? Dia keluar.
- Eh, beneran keluar!
- Nah, teman-teman! - Kelihatan? Kelihatan?
Dia ini Kim Han-seong, pelaku bully bajingan itu.
- Nggak punya ibu-bapak. - Woi, bajingan!
Lihat ini, mukanya saja sudah muka kriminal.
Bullying itu merusak jiwa.
Penegakan keadilan akan dimulai.
- Sini lo, bajingan!
- Kak, Kak, Kak! - Woi, brengsek!
- Eh, eh, bukan! - Kak, katanya bukan, bukan!
- Hah? - Ah, bukan, tolol...
- Yang tersembunyi di dalam dunia...
Saya Woosang, sang pemburu kejahatan yang menemukan para iblis.
Topik hari ini.
'Pembunuh Pemotong Ujung Pakaian'.
Alias 'Pembunuh Ujung Pakaian'. Banyak sekali yang ingin saya bahas.
Tapi sebelumnya,
untuk WAEGGER Melly yang meninggal secara tragis,
saya ucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya.
Ah...
Ck ck ck ck ck.
Ini adalah tragedi yang seharusnya tidak terjadi lagi.
Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?
Karena Melly mengusik orang yang salah.
Melly menyebut orang itu hanyalah pecundang penakut,
dan menghinanya secara terang-terangan.
Lalu si pembunuh, di lokasi kejahatannya,
meninggalkan boneka kucing yang menjadi simbol Melly.
Orang-orang yang melihatnya,
menuduh Melly memprovokasi si pembunuh,
dan memicu kejahatan itu. Mereka menyalahkan Melly.
Dan Melly, karena tak tahan dengan tuduhan itu...
...mengakhiri hidupnya sendiri.
Semuanya,
analisis dan pendekatan terhadap pembunuh berantai...
bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang.
Hanya orang seperti saya, Woosang,
yang menganalisis secara mendalam, berpikir, belajar, dan meneliti...
seorang profiler-lah yang mampu melakukannya.
Bagi Melly, orang itu adalah lawan yang terlalu berat.
Dia bukan pembunuh biasa.
Sangat istimewa.
Teliti dan jenius.
Seperti Steve Jobs.
- Woi, barusan bagus tuh.
'Seperti Steve Jobs'.
Nanti bagian ini di-zoom, biar keren, ya?
Baik, saya mengerti.
- Hanya saya...
yang bisa menghadapinya.
Hm, baik, semuanya. Sekarang kita mulai yang sesungguhnya.
Tombol 'Amati' di bawah, silakan ditekan.
Pelaku baru-baru ini melakukan pembunuhan kelimanya di Hongdae.
Hmm, sepertinya Anda harus melihat foto yang cukup sadis.
Bagi yang lemah jantung,
harap berhati-hati saat menonton.
- Hah...
7 Mei 2024.
- Han Ji-woo...
setelah bersenang-senang dengan teman-temannya di sebuah klub di Hongdae,
keluar sendirian sekitar pukul 01:45 dini hari.
Dan sekitar empat jam kemudian, pukul 05:50 pagi,
di bawah jalan layang dekat Yanghwajin,
- ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.
Penyebab kematiannya adalah asfiksia akibat tekanan pada leher.
Nah, semuanya, lihat.
Ini bekas ikatan.
Dia mengikatnya dengan sangat rapi, dengan waktu yang cukup.
Selalu dengan cara yang sama.
Apa artinya ini?
Memotong sebagian pakaian korban.
- Ini ciri khasnya.
Setiap kali, muncul pertanyaan.
Kenapa dia memotongnya?
Bukan, menurut analisis saya,
meski dia pembunuh berantai,
dia tidak termotivasi oleh hasrat seksual.
Dari pakaian mendiang Han Ji-woo,
ditemukan rambut sintetis sepanjang 3 cm yang biasa digunakan untuk wig.
- Polisi sedang menyelidiki
pabrik produksi dan distributornya,
- tapi sampai sekarang belum ada hasil.
Pelaku mengendalikan semuanya dengan sangat teliti, seperti seniman perfeksionis.
Baik, dari jam 01:45 sampai 05:50.
Empat jam.
Selama perjalanan dari klub ke Yanghwajin,
pelaku sama sekali tidak meninggalkan jejak apa pun.
Termasuk di CCTV.
Itu pun di Hongdae.
Dashcam, kami sedang mencarinya.
Tapi mengingat karakteristik gang-gang Hongdae,
sulit menemukan mobil yang terparkir dalam waktu lama.
Karena itu,
saya secara pribadi...
mencari rute dari klub ke Yanghwajin
yang tidak terekam CCTV.
Dan butuh setengah bulan.
Tepat setengah bulan.
Selama setengah bulan, rute di jalanan Hongdae itu,
berhasil saya selesaikan.
Pelaku ada di dalam garis ini.
- Tapi,
kenapa dia memamerkan mayatnya?
Kalau dibuang begitu saja, pasti tidak akan ada yang tahu.
Pelaku menganggap lokasi itu sebagai panggungnya,
dan memajang mayatnya.
Hasrat untuk pamer, ingin dipuji.
'Lihat ini, aku yang melakukannya.'
'Aku keren banget, kan? Aku hebat banget, kan?'
Dia pamer, dia sutradarai, dia nikmati.
Seperti seniman instalasi.
Ya, gila, memang gila.
Tapi sekali lagi, dia sangat teliti.
Melawan orang seperti ini,
apakah metode investigasi konvensional masih berguna?
Tidak, tidak ada gunanya.
Saya akan menggunakan pendekatan yang berbeda.
FBI Amerika.
Tim khusus kasus lama yang menangani cold case,
untuk memecahkan kasus-kasus buntu,
agen mereka akan menjadi aktor dan merekonstruksi kasus tersebut.
- Para penyelidik...
berperan sebagai pelaku dan korban,
dan mencoba masuk ke dalam pikiran mereka.
Hm, sangat tidak ilmiah, kan?
Tapi seorang penyelidik FBI tujuh hari sebelum pensiun,
benar-benar berhasil memecahkan cold case berusia 40 tahun dengan metode ini.
Dia berhasil.
Itulah kekuatan inspirasi dan intuisi.
Semuanya,
saya juga akan mencoba melakukannya seperti mereka.
"Cara baru, pendekatan baru, investigasi baru."
"Mastermind"
"Pemburu Kejahatan"
Sekarang.
Nah, semuanya, lihatlah.
Topi bucket, dan postur tubuh yang agak ramping.
Pelaku? Apakah dia pelakunya?
Semuanya,
apa yang sedang dipikirkan oleh bajingan ini sekarang?
Saya akan mencoba masuk ke dalam pikirannya.
Ayo keluar, keluar.
Huft~
Matilda lumayan juga, ya?
Ehem, oke. Sekarang kita keluar dan bahas lagi.
Eh, soal perasaan Han Ji-woo, atau...
bagaimana dia menghindari CCTV.
- Fokus ke hal-hal semacam itu, oke? - Hmm.
- Ya, oke.
Oke, mari kita bahas.
[Berdeham] Nah.
Bagaimana rasanya di dalam tadi?
Sejujurnya, saya...
agak pusing karena banyak yang datang dan mengajak bicara.
Begitu ya, sepertinya memang begitu.
Nah, teman-teman, Han Ji-woo...
Bagaimana perasaan Han Ji-woo saat itu?
Sepertinya dia senang sekali.
Banyak pria mendekat, menggodanya, dan berbisik-bisik.
Tentu ada juga wanita yang tidak suka.
Tapi kalau Han Ji-woo, sepertinya dia akan sangat senang.
Ya, bagus.
Ah, Matilda, kita jalan sedikit, yuk?
Iya.
Nah, teman-teman, saat itu Han Ji-woo...
bertemu dengan pria yang disukainya...
bertemu dengan pria yang disukainya.
Pria yang sangat menarik.
Sangat menarik sampai dia rela meninggalkan teman-temannya.
- Cukup... - Maksudnya, tampan.
- Menurut tebakan saya... - Itu terlalu...
- sederhana. - Pelaku punya wajah tampan...
Bukan hanya wajah, tapi juga suara, cara bicara,
humor, gaya, dan suasana malam itu.
Pria yang sangat menarik.
Nah, bagaimana pelaku bisa tahu semua letak CCTV...
- di dalam klub... - Bagaimana pelaku...
bisa tahu semua letak CCTV di klub?
- Tunggu, tunggu... - Jangan-jangan dia bukan tamu?
Matilda, Matilda? Tunggu sebentar.
Stop.
Saya sudah bertemu langsung dengan MD, DJ, dan semua staf klub.
- Setelah mewawancarai mereka... - Mungkin pelaku...
mengetahui tentang klub ini dengan cara yang lain?
Tunggu sebentar.
Bang.
Baterainya habis.
Sialan, kan sudah kubilang dua kali, siapkan baterainya!
Karena baterainya sekarang habis...
Pelaku membawa korban dari klub ke rumahnya,
mengikuti rute yang tidak terekam kamera.
Pelaku seperti ini selalu punya tempat persembunyian sendiri.
Ya, markas.
Baru di sanalah dia merasa aman,
dan menikmati perbuatannya.
Markas, kan saya sudah bilang ada markas.
- Nah, mulai sekarang... - Tebakan saya...
kita akan mengikuti rute pelaku,
dan merekonstruksi proses kejahatannya.
Baik, semuanya, rute yang akan kami ikuti ini,
- ingat baik-baik.
Bang, mati total.
Kan sudah kubilang, baterai...
Baterai, sial!
Sudah kubilang siapkan baterainya! Brengsek...
"Pemenang WAEG Award Terbaik 2023"
- Anggur? - Atau...
Anggur?
Anggur saja.
Anggurnya dari Italia? Atau Perancis?
Hmm, Italia?
Oh, Italia, ya.
Seleramu begini?
Kak, kenapa begini?
- Ah!
Nggak apa-apa?
Nggak apa-apa, ikat lebih kencang lagi.
Sekarang gimana?
Hah, tunggu sebentar.
Kalau kamu terus-terusan mengkhawatirkanku, penghayatanku jadi buyar.
Jangan jadi pengecut begitu.
Lakukan saja dengan kuat, seperti yang dilakukan pelaku.
Semuanya, kalian harus tahu situasi ini tidak mudah.
Tolong jangan memancing keributan.
Ah...
Kak, sakit tahu.
Pelan-pelan dong.
- Ak!
Tiba-tiba kenapa begini?
Jangan jadi pengecut, fokus, dasar jalang!
Aargh!
Sudah, hentikan.
Hentikan, ya?
- Uh, hentikan! - Ugh, sialan!
Ah!
Kamu siapa?
Diam kau, bangsat.
Mata itu, mata itu!
Mata yang ketakutan, hehehe.
- Ah, sialan!
- Jalang!
- Sialan. - Ah! Uh...
Aduh, sialan!
- Ngapain lo? Sial. - Jangan mendekat.
Jangan mendekat!
- Jalang, sialan!
- Sial, ah, sial! - Ah!
Sst, sst, sst...
Tolong...
Oh, 'tolong'.
Tolong...
'Tolong'.
'Tolong'.
Tolong...
- Ah... - Bang.
Bang!
- Sudah cukup, Bang.
- Hah!
Oh...
Aha, aduh...
Ah, teman-teman, ah ah...
Saya, tunggu sebentar. Kita istirahat sebentar, ya.
Ah, sss...
Woi, ah, bukan.
Para penonton sekalian,
dalam situasi begini, bercanda itu nggak pantas rasanya.
Kalian nggak berpikir begitu?
Kami, sialan, memangnya kalian pikir melakukan ini gampang?
Kalian nggak tahu kan, polisi bisa gila saat menangkap penjahat?
Huh...
Ah, oke!
- Kita lanjut lagi. - Tahu nggak apa
yang paling menakutkan?
Orang ini jadi semakin rahasia dan teliti.
- Dia terus berevolusi. - Ya.
- Pelaku sekarang sedang istirahat... - Saat ini,
dia mungkin sedang menikmati sensasi kejahatan terakhirnya, tapi...
kalau ingatan atau sensasi itu memudar, gejala sakau akan muncul.
Lalu dia akan memulai kejahatan berikutnya.
Oke, jadi si bajingan mesum ini...
- Saya akan! - Sialan! Sungguh, sial.
- ...membuat profilnya.
Usianya antara 27 hingga 33 tahun.
Tidak ikut wamil atau dibebaskan.
Cenderung suka memamerkan pengetahuannya.
Wajah tampan, suara bagus.
Logat Seoul.
Suka pamer kepada orang lain.
Biasanya dia akrab dengan orang, tapi kesenangan sejatinya...
adalah saat menghabisi nyawa wanita,
di saat itu.
Dengan memamerkannya seolah bangga, aksinya menjadi sempurna.
Bagi dia, ini mungkin hanya permainan dan hiburan,
tapi bagi wanita yang sekarat, ini neraka.
Air? Air?
Kau pikir kau hebat?
Kalau kau bisa menguasai dan membunuh seseorang seperti itu,
kau pasti merasa seperti Tuhan.
Tapi ingat ini.
Di dunia nyata, kau bukan apa-apa.
Kau hanya seorang psikopat gila.
Tunggu saja.
Aku pasti akan menemukanmu dan membunuhmu.
Aish.
Yah...
Wah, teman-teman, Matilda kita pintar bicara, ya?
Aduh, pura-pura gugup, tapi bicaranya lancar.
Minum dulu.
Baiklah, semuanya.
Baik, kita istirahat sebentar...
Teman-teman, sisa ceritanya...
akan saya ungkap di channel saya.
Hei, tiba-tiba...
Woi, woi, woi, woi!
Ah, baiklah, teman-teman!
Konten yang kami siapkan sudah selesai sampai di sini.
Saya, kami...
Kami akan istirahat sebentar.
"Top 10 WAEG Misteri"
Halo, yang mengupas tuntas segalanya tentang WAEG,
analis mingguan.
Nah, hari ini kita akan menganalisis Pemburu Kejahatan yang akhirnya turun dari peringkat 1,
Woosang.
Baik, ayo mulai! Ayo mulai!
Woosang, yang tadinya berjaya sebagai WAEGGER misteri terbaik,
karena kolaborasinya dengan streamer gurem Matilda,
- karier siarannya jadi tercoreng.
Pelaku? Apakah dia pelakunya?
Nah.
Bertemu pria yang disukainya...
bertemu dengan pria yang disukainya.
Menurut tebakan saya...
Itu ungkapan yang terlalu sederhana.
Bagaimana pelaku bisa tahu semua letak CCTV di klub...
Bagaimana pelaku bisa tahu letak CCTV di klub?
...bisa tahu semuanya?
- Stop.
Eh, malah dia sendiri yang kena batunya.
Kami akan istirahat sebentar.
Kariernya yang telah dia bangun selama ini,
akan saya ungkap di channel saya.
menyerahkan semuanya pada streamer gurem...
bisa dibilang sebagai blunder terbesar dalam sejarah WAEG.
Sebenarnya, ada banyak kontroversi tentang Woosang.
Dia jadi korban bully selama 12 tahun di SD, SMP, dan SMA.
Dia mencoba jadi polisi,
tapi setelah 6 kali gagal, ada info dia menyerah.
Tolong aku, aku ingin masuk.
Bukan sembarang orang bisa melakukannya.
Dasar pecundang hidupnya hancur,
tapi gayanya selangit, kan sekarang.
Pembunuh zaman sekarang tidak punya ciri khas. Harus ada yang spesial, dong.
Omong kosong macam apa ini!
Nah, kembali lagi jadi streamer gurem,
coba rasakan lagi penderitaannya.
- Satu, ooh~ - Ugh, ah, ugh, ah, huaa!
- Wah, hebat. - Semuanya, tolong!
Woosang, amati!
Ah, kenapa tanya saya?
Sejak itu saya tidak menghubunginya lagi.
Hah, aduh, teman-teman.
Kalau begitu, saya seharusnya sudah mati dong?
Apanya yang pengecut?
KJ5385, Tuan KJ5385.
Apanya dari saya yang pengecut? Coba katakan.
Oke.
Oke, saya akan coba telepon.
Lagipula, kemungkinan besar tidak akan ada apa-apa, 99%.
Tapi karena kalian suruh, saya telepon.
- Nah, sudah tersambung kan?
Ah, kalau diangkat mau bilang apa lagi, sial, ck.
Oke, oke.
Teman-teman, saya akan pergi mencari Matilda, ya?
Saya cari Matilda, nyalakan siaran,
dan kita hadapi dia bertiga dengan kalian.
Gimana? Oke kan?
Ehm, saya akan bertemu Matilda dan semua yang terjadi selama ini,
akan saya jelaskan semuanya.
Alright?
Woi, Hyungsik, jaket.
Ah, ya.
Baju apa itu?
Ah, ini mahal.
Woi, ini siaran luar, siapkan semuanya dengan baik dan ikuti aku.
Ya, baik.
Bateraimu, awas kau.
- Ya.
Semuanya.
Tetap di channel ini.
- Pesan 100 kali, - Vacuum cleaner...
Gayu.
Aplikasi pesan antar Gayu.
100 kali Gayu.
Vacuum cleaner Gayu~
Aku cinta kamu.
Ck.
Aah~
Semuanya.
Hah, aku sungguh...
aku sungguh tidak mau membicarakan hal ini, tapi...
Matilda yang lebih dulu menghubungi, ya?
Aku, sih, cuma kasih saran siaran? Semacam itulah.
Membantu atur peralatan siarannya.
Ah, dan karena dia terus memohon, aku sampai kolaborasi dengannya, kan?
Tapi apa yang terjadi?
Habis manis sepah dibuang, kan?
Itulah faktanya, kalian mengerti?
Aku yang bantu atur peralatan siarannya.
Ck.
Matilda, Matilda.
Nah, kita sudah sampai.
Kita temui dia dan bicarakan semuanya...
- Eh, sial, kaget aku, sialan.
Apaan sih?
Nggak boleh parkir, pindahin mobilnya, pindahin! Di sini nggak boleh parkir, nggak boleh!
Ah, apaan sih, sialan.
Di sini nggak boleh parkir, pindahin mobilnya, cepat!
Ah, sungguh, hari ini bikin gila saja, sial, ck.
Pak, saya mau ke gedung ini.
Sebentar saja, nanti saya pindahkan, ya?
Woi, kau, kau, kau, temannya cewek yang tinggal di basement, kan?
Kau, kau kan yang datang waktu itu?
Sudah kebiasaan, nih.
Woi, pindahin mobilnya.
Eh, pindahin, pindahin!
Pak, saya datang ke rumah teman, sebentar lagi saya pindahkan.
- Nggak lama kok... - Sebentar atau apalah,
tidak lama atau apalah, cepat pindahin mobilnya, bangsat.
Sudah berapa kali kubilang, hah?
Pindahin mobilnya, nggak boleh, nggak boleh, pindahin, pindahin!
- Woi, kau rekam siapa?
- Kau rekam aku, hah? Woi! - Ah, ya, maaf, maaf...
- Woi, mobil... - Ah, jangan, jangan.
- Singkirkan itu, singkirkan! - Sial, woi!
- Diam di situ, diam kau. - Singkirkan!
Singkirkan!
- Akan kuurus. - Ya.
- Singkirkan, brengsek. - Aish.
Hah?
Pak.
- Nggak akan lama. - Ah, kami benar-benar...
- kami benar-benar sudah sabar. - Jangan mendekat, jangan mendekat.
- Ah, woi, brengsek! - Jangan, sungguh!
Pergi sana! Pergi sana, brengsek, hah?
Woi, rekam, rekam! Rekam!
Rekam, rekam!
- Aduh, sial. - Rekam, rekam saja, rekam.
- Woi, rekam saja. - Ah, aish.
Woi, turunkan! Turunkan!
- Turunkan kubilang! - Ah!
Jangan buka celana!
Woi, sudah nyala? Nyala?
Semuanya.
Ah, akhir-akhir ini banyak sekali orang yang bermasalah dengan kepribadiannya, ya?
Huh, baiklah, kita fokus lagi ke siaran.
Ini rumah Matilda, ayo kita temui dia.
Matilda.
Matilda.
Eh? Sepertinya ada yang merusaknya.
Woi, sialan.
Perasaanku nggak enak.
Saya akan masuk.
Matilda.
Masuk sini.
- Kau masuk duluan. - Hah? Saya? Saya...
Aneh.
Rumahnya sangat berantakan sekarang.
Matilda tidak ada.
Seperti habis kemalingan.
- Ah! - Aduh, sempit.
- Kau rekam dari sana saja. - Ah, ya.
Hah, ah...
Sini.
"Matilda"
- Password-nya, en...
- Oh.
Settingannya masih sama seperti yang kuatur.
Sepertinya Matilda sedang bersiap-siap untuk siaran.
- Nah.
Ini layarnya sekarang.
- Di belakang... - Ak!
- Sialan, apa ini?
Tunggu, biar aku berpikir dulu.
Ah, diam dulu dong!
Hah, oke.
- Hm, oke.
Mulai sekarang, kita siarkan langsung situasi ini.
Pertama, saya akan coba dapatkan lebih banyak data dari komputer Matilda.
Bukan apa-apa.
Dasol...
Dia paling banyak bercakap-cakap dengan Dasol.
Saya akan coba kirim pesan ke Dasol.
- Aish, kaget aku.
Apaan nih?
Eh? Oh, Kak Woosang, wah!
Ya, teman-teman! Saya sekarang sama Kak Woosang...
- Aish, gila, sial, ck.
Hah, baiklah, teman-teman.
Kalau kalian lihat sekarang, sepertinya Melly dan Matilda cukup dekat.
- Bang, jendelanya tertutup. - Kalian...
Harusnya bilang dari tadi, sialan.
Ya, sudah sampai di rumah Matilda.
Eh, lampunya mati? Tunggu sebentar.
Ah, nyalakan lampu...
Wah! Wah, halo.
Oh, aneh banget.
Ini Kak Woosang, Kak Woosang.
Oh~ Tunggu sebentar.
Eh, halo. Saya Dasol, yang biasa siaran musik...
Dasol, Mbak Dasol.
- Wah. - Kita bahas Matilda dulu.
Ah, ya, ya. Katanya Matilda hilang?
Eh~ Bercanda, kan?
Kelihatannya bercanda, sekarang?
Beneran?
- Gila, sial, ck. - Beneran?
Nah, nah, nah, Mbak Dasol.
Belakangan ini, ada yang aneh nggak sama Matilda?
Yang aneh...
Ah, si bajingan itu.
- Siapa si bajingan itu? - Ah, si brengsek...
Ah, namanya Lee Jin-seong.
Akhir-akhir ini ada cowok yang terobsesi sama Matilda.
Katanya suka Matilda sejak dia masih streamer kecil, terus promosiin dia.
Tiba-tiba berubah, malah ngejelekin dia.
- Terus ngajak balikan, gila... - Ah, jadi, jadi...
dia itu bajingan mesum yang sangat rumit, ya?
- Ya. - Oke.
Kalau begitu, pasti ada pesannya di sini.
Biar saya carikan.
Ini dia.
Lihat, kan. Bikin jijik banget, ih!
Saya menemukannya.
Teman-teman, jadi orang ini,
si, si, si, si Jin-seong ini?
Ya, ya, Lee Jin-seong.
Waktu Tuan Jin-seong berhenti menghubunginya,
bertepatan dengan waktu menghilangnya Matilda.
Hah, k-keren.
Bagi yang baru-baru ini melihat Tuan Jin-seong di Hongdae, harap lapor.
Harap lapor.
Mmm~ Parfum kakak wangi, ya?
Dia nonton.
Benar, mana mungkin kau tidak nonton, dasar bajingan mesum.
Woi, Jin-seong, kau nonton ini, kan? Jawab.
- Woi, woi! Sial. - Ah, minggir, jangan berisik...
- Diam dong, hah... - Ya.
Jin-seong menjawab.
Benar, mana mungkin dia balas.
Tidak mungkin dia balas.
- Jin-seong, Jin-seong... - Nggak ada balasan, kan?
- Dia takut sama Kakak. - Jin-seong, Jin-seong...
Jin-seong.
Jikppang-i!
Oh, Jikppang-i, k-keren!
Jikppang-i.
Oke, lokasinya di mana?
Jikppang-i, mulai hari ini kau jadi VIP.
Nah, teman-teman, sekarang, berdasarkan situasinya, tersangka paling...
Tersangka paling kuat adalah Tuan Lee Jin-seong.
Saya akan mencarinya sekarang.
Saya juga akan ikut mencarinya.
Dan kolaborasi dengan Mbak Dasol akan saya akhiri di sini.
- Sudah? Kenapa?
Hiya!
Iya!
'Agen Pembunuh, Jun'
Serial sedang tayang.
Woi, sial, woi, di sini benar?
Jikppang-i, benar di sini?
Di bawah sini? Basement?
- Ah, sial.
Wah, lihat pemandangannya, lihat.
Suram banget.
Eh, apa ini? Gambar apaan?
Ah! Aish, sungguh, sialan.
Bikin kesal saja, sungguh.
Ah, aku sungguh, sialan.
Ah, hari ini sungguh spektakuler, spektakuler.
Aduh, tapi benar-benar bikin malas masuk.
Woi, lihat, lihat, lihat.
- Aduh, sial.
Hah...
Semuanya.
Katanya rumah Jin-seong ada di basement ini.
Saya akan masuk.
- Aduh, sial.
Aduh, kaget aku, sialan.
Ah, hah, woi, dia ini, ck.
Ah, ngapain tinggal di tempat begini, sungguh.
Walaupun dia temanku, tapi sungguh...
Ah, halo.
Woi, ada dua pintu.
Kamar paling ujung? Paling ujung?
Ehem!
Permisi?
Permisi, Tuan Lee Jin-seong?
Sini.
Aduh, ngapain sih. Jangan rekam, putar kameranya.
- Ah, sial.
Ah, sudahlah.
- Hah, sial...
- Ah, sialan.
- Ngapain lo, nggak masuk? - Ah, sudah masuk.
- Ah, sial.
Hah...
Hah...
Semuanya, orang-orang yang hidup bersembunyi seperti ini,
banyak yang mesum.
Wah, sial.
Perhatian, perhatian yang berlebihan akan menjadi obsesi.
Sini kameranya.
Nah, semuanya.
Siapa pun bisa lihat, ini gambar Matilda.
Di dalam kamar yang gelap ini,
sendirian, Jin-seong...
apa yang dia pikirkan sambil menggambar Matilda?
Hah, bajingan.
Hah, semuanya.
Kelihatan, kan?
Obsesi, ini obsesi.
Bang, sepertinya harus lihat ini.
Apaan?
Oryungu, Lolipak.
Apaan nih, sialan.
Woi, bajingan! Itu punya kami, brengsek!
Bajingan, cepat banget.
- Ah, capek, sialan.
- Ah, celana, sialan.
- Woi, bajingan!
Wah, ah, capek banget.
Woi, woi, woi, woi...
Woi, cepat tangkap! Ah, si tolol itu.
- Woi, brengsek...
- Eh, eh, capek banget. - Kak, lari lebih cepat!
- Wah, sial. - Jin-seong!
- Apaan tuh?
Ah, minggir, minggir, minggir.
- Woi, kenapa nyerobot! - Sialan kau!
Aduh, sialan.
- Woi, sial!
- Sini, sini, sini! - Ugh!
- Ryungu, tangkap, tangkap!
Minggir, dasar bajingan murahan!
Aih, sialan!
Aduh.
- Butuh uang, anak muda? - Eh, eh?
Hehe, hmm. Siapa saja bisa dengan mudah, jreng!
Yahoo!
Very Good Money, 5252-7979
Zoom lebih dekat.
Dekat, dekat, lagi, lagi, lagi.
Lagi, lebih dekat lagi, oke, cukup.
- Baik, Tuan Jin-seong, Tuan Jin-seong.
- Nah, lihat kamera di depan? - Ya.
Bicara sambil lihat lensa kamera ini.
- Ya. - Tuan Jin-seong.
Ah...
Tahu WAEGGER Matilda menghilang?
Apa mungkin Anda yang menculiknya?
- Ah, bukan. - Lalu kenapa kabur?
Orang-orang itu kan mengejar saya, seperti berburu.
Saya yang dikejar.
Sejak kecil saya sering mengalami hal seperti ini, jadi saya sensitif.
Jadi, saya kabur bukan karena melakukan kesalahan.
Ah, jangan nangis, jangan nangis.
Sudah, sudah, jangan nangis, jangan nangis.
Sudah, ya. Oke, oke, anggap saja begitu.
Nah, tapi...
gambar-gambar ini,
dan...
pesan ini,
ini bukan obsesi?
Ingat ini? Perlu kubacakan?
- 'Matilda, kemarin aku...' - Sudah, hentikan.
Makanya, jelaskan soal ini.
Saya sudah memperhatikannya sejak dia masih streamer kecil.
Saya beda dengan orang-orang yang mendekat karena dia populer.
Woi, karena sikapmu itu kau jadi dicurigai.
Menyukai WAEGGER dan terobsesi bukanlah suatu kesalahan, kan?
Brengsek ini.
Karena terobsesi, kau jadi mencurigakan.
Nah, waktu kau berhenti menghubunginya
dan waktu Matilda menghilang itu bertepatan.
- Bagaimana kau akan menjelaskan ini? - Saya tidak tahu.
- Tidak tahu? - Tidak tahu.
Bukan, kau tahu.
Makanya, meski Matilda tidak siaran,
kau tidak mengirim pesan, kenapa?
Karena kau sudah tahu Matilda tidak bisa siaran...
Bukan begitu!
Kalau begitu, jelaskan situasi ini secara logis, sialan!
Baik, jujur saja.
Aku tidak berpikir kau menculik Matilda.
Semua orang di sini berpikir begitu...
Semua orang yang nonton siaran ini pasti berpikir begitu!
Kau sangat berbeda dari gambaran pelaku
yang kami bayangkan.
Tapi,
tapi ya,
aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa kau tahu sesuatu.
Woi, kau tahu sesuatu, kan?
Katakan itu.
Ugh! Sst.
Nah, Tuan Jin-seong, Tuan Jin-seong, Tuan Jin-seong!
Tidak apa-apa, katakan saja.
Saya, saya tidak tahu apa boleh mengatakan ini...
Boleh, boleh, katakan, katakan!
- Woi, zoom lebih dekat. - Ya.
Di sanggar seni, saya bertemu seseorang.
Gaya gambar kami mirip, jadi kami jadi akrab.
Saat saya menyinggung soal Matilda,
dia jadi tertarik dan penasaran.
Dia menanyakan hal-hal sepele,
dan mulai terobsesi.
Lalu suatu hari, dia tiba-tiba marah seperti orang gila.
- Tiba-tiba? - Ya.
- Kenapa? - Karena kolaborasi itu.
Kolaborasi?
Ya, dia bilang tidak bisa memaafkan kata-kata yang diucapkan di sana.
- Kata-kata apa? - Eh...
Dia bilang, dia telah dikhianati dan dihina.
Katanya, drama murahan itu menghina kebenaran.
Lalu, ada wanita berbaju merah lewat di luar jendela.
- Baju merah? - Ya.
Tapi saat sedang marah,
dia menatap wanita itu lama sekali.
Seolah tidak terjadi apa-apa, seperti terhipnotis.
Siapa bajingan itu? Di mana dia?
Tidak tahu. Tapi saya tahu dia tinggal di sekitar Hongdae.
Hongdae di mana?
Di arah dari Hongdae ke Hapjeong.
Ada nomor telepon atau semacamnya?
Ah, saya tidak tahu. Kami hanya bicara di sanggar.
Hah... Bagaimana tampangnya?
Tampangnya biasa saja.
Nah, lihat, bajingan ini?
Dari sini saya tidak tahu.
Sepertinya iya, tapi sepertinya juga bukan.
Tidak adakah petunjuk yang bisa kita temukan?
Ada kafe sanggar, dan saya tahu ID orang itu.
Tapi tadi di jendela obrolan, saya melihat ID orang itu.
- Hah?
Ya?
Eh, di mana?
Di siaran ini?
Ya.
Bajingan ini lucu juga.
Dasar bajingan!
- Kenapa baru bilang sekarang? - Bukan...
Hah, cari, cari, sialan!
Cari, cari, sialan!
ID-nya apa? ID-nya apa, sialan!
K, KJ5385.
- KJ5385, sialan!
- KJ5385, KJ5385, KJ...
Woi, kau ada di ruangan ini, kan?
Kau yang membawa Matilda?
Kau siapa?
Dengar suaraku?
Kau, sialan, kau pembunuh ujung pakaian itu?
Aih, asal bicara lagi.
Itulah masalah kalian.
Bicara sembarangan tanpa batasan, memprovokasi.
Hanya pemikiran pribadi yang belum disaring,
tapi kalian bicarakan seolah-olah itu adalah kebenaran.
Kali ini, coba analisis lagi.
Bagaimana psikologiku sekarang?
Bukan.
Kau, akan kutangkap dan kubuat mulutmu sendiri yang bicara.
Nah, begitu seharusnya.
Tapi waktunya tidak banyak.
Aku sudah sangat bosan sekarang.
Semua yang ingin kulakukan pada Matilda sudah kulakukan.
Sepertinya harus segera diakhiri.
Baik.
Temukan Matilda dalam satu jam.
Kalau tidak, Matilda akan mati.
Hah!
Kau ini psikopat gila, ya?
Memangnya aku terlihat waras?
Baik, kita mulai sekarang juga.
Jangan pasang muka pengecut, fokus, dasar bajingan.
Hahahaha.
- Mata itu, mata itu. - Sialan...
Hentikan, bajingan!
Haha, kalau siaran mati, Matilda juga mati.
Tunjukkan kemampuanmu.
Apakah kemampuanmu sebagus mulutmu.
- Waktu berjalan
Sialan, ah...
Bang, sudah cukup, Bang.
Ini kan bukan konsep kita, tidak perlu sampai begini, Bang.
Aduh, apa hubungannya kematian Matilda dengan kita?
Ah, Bang.
- Bang. - Diam.
Woi, KJ.
Ayo bertarung, bajingan.
Woi, kau punya foto bajingan itu, kan?
Tidak punya.
Pikir dulu sebelum bicara, sialan!
Matilda yang kau suka itu akan mati.
Mati!
Saya tidak punya foto, tapi ada gambar yang saya buat.
- Di mana? - Harus dicari dulu.
Kalau begitu cepat cari! Sialan.
Bukan settingan, bajingan!
Sialan, kau Squidward sialan.
Aku serius.
Untuk sementara, donasi ditutup.
Hah, sial...
Woosang kita cari apa, ya?
Vacuum cleaner di belakangmu.
Apa?
Hadiah untuk pelanggan yang menggunakan aplikasi pengiriman Gayu 100 kali.
- Benar, kan?
Kau sering sekali pesan, ya?
100 kali itu banyak sekali, lho.
Mau coba kutemui?
- Permisi, Bang. - Apa! Sialan!
Woi, woi, woi.
- Ini kau, kan? - Hehehe...
Kau kalau kehabisan kata-kata, tertawa, ya?
- Hah, baik.
Apakah para kurir akan ingat wajahmu, atau tidak?
- Apa iya?
Suaramu gemetar? Takut, ya?
Karena bosan.
- Masih ada waktu. - Wah!
Apa aku bisa menahannya?
Berusahalah lebih keras.
- Bajingan.
- Woi, Jin-seong. - Ya.
Ikut aku.
Woi, kau ikuti dengan baik.
Setiap kali donasi melebihi target...
- Uh, ah! - akan kupotong satu per satu.
Nah, untuk awal, target ringan 100 juta.
Mari kita mulai.
Saya sudah menemukan toko Gayu terdekat.
- Permisi, sebentar. - Apaan, sialan.
Ah, permisi, sebentar.
Ah, makanya, sialan, kenapa rekam-rekam.
Woi, woi, Hyun-soo.
Ah, jangan marah-marah dulu.
Kau kan pengendara motor, kenapa begitu?
Anak motor itu harusnya punya jiwa romantis dan peduli, sialan.
- Oh, ya.
- Masuklah. - Ya.
Sialan...
Permisi...
Saya sedang mencari seseorang.
- Coba lihat. - Ya, ini.
Di antara orang yang sering pesan, ada orang seperti ini tidak?
Oh, cari bajingan ini?
Ya.
- Ngapain, cepat. - Ya.
Katakan semua yang kau tahu, cepat.
Ya, sangat...
tampangnya biasa saja.
Tunggu sebentar.
- Pasti ada yang kenal. - Ah, ya.
Bang, kalau begitu saya permisi...
Woi, tapi aneh juga ya, kamera apa ini?
Ah, ya, begitulah.
Anda tahu banyak tentang kamera?
Bukan, aku juga tertarik dengan WAEG.
- Oh, begitu? - Ya.
Ah, kalau begitu, mari bertemu setelah kasus ini selesai.
- Beneran? - Ya.
- Oke. - Woi, Hyungsik.
Nanti kasih nomor kontakmu ke bos ini.
Oh, oh, ada yang kenal, nih.
- Ada yang kenal? - Sudah ketemu.
Ketemu, ketemu.
Ayo, sepertinya mendesak.
Akan kuantar.
Benarkah?
Ah...
Woi, KJ, kau pasti takut setengah mati, kan?
Saya permisi dulu...
Di tempat yang didatangi Woosang, apakah aku akan ada di sana, atau tidak?
Hmm, tensi siaran tidak boleh turun.
Tidak boleh membosankan.
Woosang, jangan mengecewakan, hehe.
Oh! Hahahahaha!
Iya, yes!
Donasinya akhirnya tembus 100 juta!
Hahahahahaha!
Baiklah, janji harus ditepati, kan?
Nah, bagian mana yang akan kupotong?
Mana, mana mana, mana, mana?
Di depan sana, kanan, kanan, bata merah keempat.
Bata merah itu, bata merah?
Rich Villa, basement 102.
- Basement 102, basement 102. - Basement 102.
- Oh, helm, helm, helm! - Ah, itu...
Terima kasih.
Woi, kasih nomormu.
- Hubungi aku, ya? Harus! - Nah, lihat, benar kan?
Dia ada di atas rute yang kugambar.
Sialan.
Matilda.
Matilda.
- Oh! Ah, sialan!
Ah, sial, ah!
Ibu, ibu!
Woi, woi, woi! Mau ke mana kau, bajingan!
- Sialan, aku berhenti! - Woi!
- Ya? - Kau pegang kamera.
- Saya?
- Pegang kamera, kubilang! - Ya, ya.
- Bang, tapi bagaimana ini... - Diam dan pegang.
Ya.
Ah, Woosang ketakutan, ya kan?
Aduh, padahal mulutnya besar sekali.
Ternyata cuma pecundang.
Tapi aku ini nyata.
Nah, berikutnya target 1 miliar.
Woosang, kau lihat?
Inilah konten yang sesungguhnya .
Seru, ya?
- Woi, sadar! - Ya?
Eh...
- Rekam aku saja. - Ah, ya, ya.
Aish, uh!
- Uaak! - Sial.
Bajingan, ngapain lo?
Saya benar-benar tidak sanggup.
- Ya? - Sialan.
Woi, kau bisa terus pegang kamera?
- Ya. - Ah, Bang.
Hah... cari apa, memangnya?
Pergi sana.
Aish, sialan.
Hati-hati.
Hah, sial...
'Sinsa-dong 1-163', 'Sinsa-dong 1-163'.
Loket tiket, loket tiket, loket tiket.
Loket tiket, tiket, hah, loket tiket.
Loket tiket, ah! Loket tiket!
163, loket tiket...
Loket tiket.
'Eunpyeong-gu Sinsa-dong 1-163'.
Di sini, kafe di lantai 1 apartemen tempat Melly tinggal.
Benar, kan?
Nah, teman-teman, perhatikan baik-baik.
- Tagihan ini.
Bagian yang sobek.
'Eunpyeong-gu Sinsa-dong 1-163, nomor 1709'.
Woi, kau tinggal di sebelah apartemen Melly?
- Kau ada di sini sekarang.
Saat Melly jatuh dan mati pun,
kau tertawa di apartemen sebelah, kan? Bajingan.
Kau ini bajingan macam apa?
Nah, semuanya.
Sekarang kita mulai yang sesungguhnya.
- Kau pikir aku akan pergi?
Woi, kau pikir aku ini pecundang bodoh?
Hah, menculik Matilda di Hongdae dan membawanya ke Eunpyeong-gu?
Woi, tapi gimana ini?
Cat darah yang kau sebarkan,
masih basah, ya?
Kau ada di sekitar sini, kan?
KJ mulai panik.
- Tidak ada jawaban...
- [Bip! - video] - Pak.
Hei, jangan menghalangi jalan orang lewat.
[Bip! - video]
Sayang, ayo pergi saja.
Woi.
- Kau ada di sini, ya?
Hore!
Oke.
Kalau begitu, rumah yang mungkin adalah satu, dua, tiga,
empat, lima, enam.
Kau ada di antara ini?
Huh...
Woi!
Waktunya masih banyak sekali, kan?
Kenapa, kenapa, kenapa?
Kenapa kau tidak bicara?
Tertawalah.
Tertawalah, tertawalah, tertawalah tertawalah, tertawalah, bajingan!
Woi.
Woi, kau sekarang pasti gemetaran, kan?
Aku sudah menunggumu dari tadi?
Oh, ditutupi tirai, ya?
Tirai, kalau tirai...
Kau di rumah ini?
Satu rumah ada berapa jendela, ya?
Paling-paling cuma lima atau enam vila.
Tunggu, bajingan.
Terima kasih.
Mijeong, Mijeong!
Mijeong!
Siapa ya? Kenapa?
- Maaf, woi, sini. - Eh!
Sini kameranya, kasih ke aku kameranya!
Woi, gedung ini bukan.
Struktur ruangannya beda.
Ah, sial.
Ah!
Uh, sial, berat banget!
Ah, Hyungsik bajingan!
Uh, aduh, dari sini.
- Eh? - Apaan?
- Sujin! - Orang gila, ya!
- Woi! Sayang! - Sujin, Sujin!
- Sayang! Ada orang mesum masuk! - Sujin! Eh, eh?
- Apaan? - Pergi!
- Pak, Pak. - Pergi!
- Sebentar, sebentar... - Ngapain rekam-rekam? Dasar brengsek.
Woi, bajingan.
- Gila nih orang. - Ambil kameranya.
Ambil kameranya.
- Woi, sakit jiwa... - Lihat, kan? Dia rekam aku.
- Woi. - Aduh, aduh, aduh, ak!
Dasar cewek! Masuk sana, masuk, aduh!
Jangan rekam lagi, sialan.
Permisi, Bang, Bang. Waktunya tidak banyak.
Aduh, dibilangin! Dasar cewek, masuk sana.
Bajingan!
- Sayang! Apa itu pecah? - Aish.
Sayang!
- Minggir! Sialan. - Aak!
Woi! Sayang, nggak apa-apa?
Ah, ah, woi!
Woi, bajingan!
Tangkap dia!
- Woi! - Uaah, sial!
- Ngapain! - Cepat keluar!
Keluar, keluar, keluar! Keluar! Keluar!
Awas kau kalau tertangkap!
- Aduh, wah, oh! - Woi!
Woi, bajingan! Apa ini, apa ini?
- Sayang, nggak ada HP? - Ah, ah, ah, ah!
- Aish! - Nyangkut? Coba lakukan sesuatu.
Bukan, bukan, bukan, bukan, aish.
Ada yang aneh.
Easel, easel, easel?
- Easel!
Hah! Sanggar seni, sialan.
'Seni Ceria'
Lihat ke dalam jendela.
Tirai.
Bajingan ini 100% ada di sini.
Di sini, sialan.
Buka pintunya!
Buka pintunya, sialan!
Aish, sialan!
Sial, bajingan!
Sialan!
Sialan!
Bajingan!
- Jangan mendekat, sialan!
Oke, oke.
Hah, 1,5 miliar.
Potong lehernya?
Atau potong beha-nya?
Aku sudah menemukanmu, bajingan, hentikan!
Beha-nya tidak akan kupotong.
- Hentikan, bajingan!
Oh, sial.
Bajingan!
Matikan kameranya.
- Seru, ya.
Manusia itu lucu sekali .
- Jangan matikan siarannya.
Ugh, sialan.
Seenaknya saja mematikan kamera?
Kau ini apa-apaan?
Apa yang kau lakukan sekarang?
Woi.
Sialan.
Ah, sialan.
Kau ini apa?
Hek!
Woi, woi.
Coba bunuh.
- Si, si...
Matilda.
Coba bunuh dia.
Apa yang kau lakukan?
Bunuh, bunuh.
- Sialan.
Woi, bajingan.
Kau tadi begitu percaya diri, kan.
- Bunuh, ayo. - Hentikan.
- Bunuh, bunuh. - Hentikan kubilang!
Coba bunuh! Sial, tidak bisa?
Kenapa? Kenapa tidak bisa?
Kenapa tidak bisa? Kalau begitu, biar aku saja? Sialan.
Jangan mendekat, jangan! Dasar psikopat gila!
Jangan, jangan.
Aku minta maaf.
Aku minta maaf.
- Sialan! - Ak!
Aku tidak akan melakukannya lagi, kumohon...
Tidak melakukan apa?
Apa?
Kau barusan bilang, minta maaf.
Tidak akan melakukannya lagi.
Apa yang salah?
- Ah, itu... - Woi.
Diam saja.
Sialan!
- Matilda. - Oh, ya.
Dengar, aku ini,
datang ke sini hanya untuk menyelamatkanmu.
- Iya, aku tahu. - Aku cuma mau cari perhatian penonton.
- Teman-teman, bukan begitu. - Trik murahan, omong kosong.
Aku sudah coba semuanya, tahu? Tapi kali ini,
- Woi. - kali ini...
Oke, tenang, ya?
- Aku datang ke sini untuk menyelamatkanmu. - Tenang dulu, oke.
Oke, kan sudah diselamatkan.
- Ya, ya, ya. - Hah? Sudah cukup, kan?
- Ah! - Nah, nah, nah.
- Oke. - Sst.
- Ya, oke, tarik napas. - Sst, oke, oke, oke.
- Cepat, ya. - Oke, nah, nah, nah.
Tarik napas, bagus.
Ya, oke.
Akan kuberikan kesempatan.
Kesempatan apa?
Kesempatan untuk menjelaskan dengan mulutmu sendiri.
Kesempatan untuk meminta maaf dengan mulutmu sendiri.
Menjelaskan apa, hah? Semuanya sudah selesai, kan, tapi...
Ugh! Matilda, kenapa kau?
Kenapa? Matilda...
Haruskah aku yang mengatakannya?
- Kalau ini semua settingan yang kau buat?
Hah, sialan.
Apa, settingan?
Hah, ck.
Teman-teman, kalian tahu kan ini bohong?
Woosang sekarang sedang bicara omong kosong...
Kenapa KJ tidak bisa membunuhmu?
Padahal 10 menit yang lalu dia sangat ingin membunuhmu.
Itu karena,
skenariomu hanya sampai di situ.
- Bukan. - Skenariomu hanya sampai lepas tali
dan menghajar bajingan itu, hanya sampai di situ, kan?
Bukan. Kenapa bajingan ini mau bekerja sama denganku?
- Tidak masuk akal, kan? - Matilda~
Kau benar-benar keterlaluan.
Apa?
Apa yang kau lakukan?
Sini, sini.
Lihat kamera, lihat kamera kubilang.
Nah, siaran kali ini mendapat donasi 1,5 miliar, 1,5 miliar.
1,5 miliar, besar juga, ya?
Woi, kau janji kasih berapa persen ke bajingan ini?
20%? 10%?
Woi, itu juga besar, kan?
Bicara fakta saja, jangan berbelit-belit!
Inilah faktanya, dasar jalang!
1,5 miliar masuk ke rekeningmu.
Kenapa di channel-mu? Kenapa?
Kenapa? Kenapa milikmu? Kenapa?
- Jangan omong kosong! - Sial.
Bagaimana kau bisa melepas tali itu
dengan begitu cepat dan mudah?
Aku juga terus bergerak, aku terus berusaha.
Oh, begitu?
Tapi pergelangan tanganmu tidak ada bekas lecet sama sekali?
- Benar, kan? - Bukan!
Dasar licik.
Ah, aku sungguh, sialan.
Selain kita di sini, ada satu orang lagi, kan?
- Jin-seong. - Ya?
- Woi, Lee Jin-seong! Dengarkan aku.
Dengarkan aku, kubilang.
Jin-seong.
- Apa yang Matilda lakukan padamu? - Hah, sial...
Coba katakan itu.
- Diam, dengarkan aku, sialan.
Hah... Jin-seong.
Matilda yang kau sukai dengan tulus itu,
coba katakan apa yang dia lakukan padamu.
Ah, bukan begitu.
Bukan? Jin-seong.
Aku kenal kau, aku tahu kau.
Kau bukan orang jahat, kau orang baik.
- Hah... - Jin-seong, kau...
- kau dimanfaatkan oleh wanita jalang itu, kenapa? - Ah...
Karena kau itu pecundang yang nurut saja
- disuruh apa pun olehnya! - Hentikan.
Matilda, tolong katakan sesuatu, kumohon.
Teman-teman, hah...
Kalian tahu Woosang itu bajingan seperti apa?
Akan saya ungkap semuanya di channel saya.
Aku sudah memberimu kesempatan.
Kau yang membuat situasi ini.
Teman-teman!
Ah, sial.
Apa aku terlihat seperti orang seperti itu?
Apa aku terlihat seperti orang yang akan melakukan settingan?
Aku benar-benar bukan.
Aku bukan orang seperti itu.
Aku benar-benar bukan.
Saya minta maaf.
Nah, teman-teman, hah...
Matilda sudah mengakuinya, hmm.
Teman-teman, akhir dari sebuah settingan...
sangat menyedihkan.
Apalagi untuk WAEGGER misteri yang hidup dari logika dan fakta, settingan itu...
berarti kematian.
Baiklah, sampai di sini.
Saya Woosang, WAEGGER misteri terbaik.
Apa kalian ingin aku mati?
Keadaan Matilda sekarang...
bisa dibilang seperti orang yang baru putus dari kekasih yang dicintai.
Rasa manis dicintai itu,
dia tidak bisa melupakan rasa manis itu dan terus mendambakannya, ck.
Sangat disayangkan.
Tapi semakin didambakan,
semakin kejam pula hinaan yang akan dihadapinya.
Ironis.
Sebuah kontradiksi.
Kontradiksi, alias ironi.
Matilda benar-benar membutuhkan perawatan serius.
Siaran hari ini saya akhiri di sini.
Jin-seong.
- Hari ini kau sudah bekerja keras, ya. - Ya, Bang.
Ucapkan salam pada para penonton kita.
- Terima kasih atas kerja kerasnya. - Hmm.
Ck.
Anak ini.
Baiklah, berusahalah lebih keras lagi.
- Abang akan lebih memperhatikanmu. - Tidak apa-apa.
Abang sudah sangat baik padaku sampai sekarang.
Ck. Anak ini.
Bicaranya manis sekali, apa kau kursus?
Ck.
Saya ingin terus berada di sisi Abang.
Ah, jangan begitu, ah, sial.
Karena saya selalu sendirian.
Ah, jangan.
Ah, kalau dengar kata-kata seperti itu, hatiku jadi luluh, ck.
Terima kasih.
Aish, ck.
Hah, sial, pergilah.
- Aku pergi, Bang, ya. - Pergi, ya.
- Pergi.
Ya.
- Tidur yang nyenyak. - Abang juga.
- Ya.
Sial, ah, pergi, kau ini.
Wah, anak ini, sial.
Ah, anak ini.
Ah, ck, sial .
Aduh, waktu pertama kali lihat, kukira dia anak aneh.
Ah...
Lucu, anaknya, ck, sial.
Sudut pandangnya bagus, editingnya juga bagus.
Ah, itu, anaknya punya selera seni.
Karena dia pernah melukis, hah, sial.
Matanya saja sudah menarik?
Punya pesona yang aneh.
Apa karena dia melukis?
Apaan?
Itu aku? Jangan.
Tapi, wanita ini siapa?
Bukan pembunuh biasa.
Hei!
- Teliti dan... - Aku benar-benar tidak akan bicara.
Ah, tolong selamatkan aku...
- Omong kosong! - ...jenius.
Aduh, berisik.
Bukan, ah, sungguh.
Hehehe!
Hihihi.
Setiap kali, muncul pertanyaan. Kenapa dia memotongnya?
Pembunuh zaman sekarang tidak punya ciri khas. Harus ada yang spesial, dong.
Hah...
Ak!
Aah! Ah, sialan!
- Teliti dan...
Aku benar-benar tidak akan bicara.
Ah, tolong selamatkan aku.
- Uaah, oh?
Sialan.
Aish, sialan!
Sakit?
Pasti sakit sekali.
Bagus hasilnya.
Bagaimana di sini?
Kalau nanti Abang menemukanku,
aku membuatnya khusus untuk kutunjukkan pada Abang.
Suka?
Kau, sialan, kau si Pembunuh Ujung Pakaian itu?
Sial...
Bang.
Aku ingin dapat penilaian yang lebih baik dari Abang,
jadi setiap kali membunuh, aku sangat memperhatikan detailnya, tahu?
Aku bekerja untuk Abang,
dan Abang memberiku simbol dan makna.
Jadi orang-orang memperhatikan kita,
kita dulu sangat serasi.
Omong kosong, sialan!
- Uaah! - Bicara, bicara, bicara!
Jangan potong pembicaraan.
Jangan potong pembicaraan, kumohon.
Aku benar-benar sangat kesal.
Waktu itu, Abang, bukan, waktu itu kau.
Kau tiba-tiba menyeret Matilda dan menghinaku dengan drama murahan.
Seperti bajingan yang memprovokasi untuk cari perhatian penonton.
Rendahan dan tidak dewasa.
Aku tidak tahan.
Jadi, aku mendatangi wanita jalang itu, Matilda.
Matilda bisa melampaui Woosang.
Sepertinya dia bisa menghancurkan Woosang.
Maaf, apa aku terlalu lancang?
Aku hanya demi Matilda.
Memikirkan Matilda.
Lucu sekali.
Ya, aku tahu Abang pasti akan membongkar identitas wanita itu.
Jadi, saat dia dihina orang-orang
dan mati seperti Melly,
itulah seni yang sesungguhnya.
Karya agung terakhir kita, kan?
Hah?
Uuugh.
Ah, maaf. Sungguh, sungguh minta maaf.
Sungguh minta maaf.
Kau ini gila, benar-benar gila, kau.
Abang tidak?
Woi, kenapa kau memotong pakaiannya?
Katanya harus jadi spesial? Jadi kucoba saja.
Aku hebat, kan?
Sialan...
Woi, ini semua sedang disiarkan langsung?
Omong kosong seperti itu, katakan saja pada polisi, sialan...
Kenapa aku yang terekam CCTV tidak tertangkap?
Woi, Lee Jin-seong.
Lee Jin-seong.
Siapa?
Aku ini siapa?
Aku tidak akan tertangkap.
Bajingan, sialan!
Siapa, uaaah!
Tanpa Abang, apa lagi yang bisa kunikmati?
Sayang sekali.
- Sial...
Sialan...
Iya! Sial...
Ah! Aish.
Mati, mati!
Mati, bajingan!
Uuuh, uh!
Ini, ini, ini, bela, bela diri.
Ah, sialan.
Ah, ini bela diri, bela...
Ak! Ah, sakit, sakit.
Ini bela diri, bela diri.
Bajingan itu.
Teman-teman, Woosang berhasil.
Sesuatu yang tak bisa dilakukan siapa pun!
Sesuatu yang tak bisa dilakukan siapa pun, Woosang berhasil melakukannya.
Di dalam ruangan ini, semuanya...
semuanya adalah barang bukti, barang bukti.
USB itu, USB.
Bukti telak.
Kenapa panggil polisi? Sialan, aku korbannya!
Siaran belum berakhir.
Aduh.
Ya, benar.
Mungkin saya pembunuhnya.
- Mungkin saya pembunuhnya...
- Sialan.
Ak! Sialan.
Kenapa aku pembunuhnya?
Kalian, para bajingan,
kalian lihat semua yang kulakukan hari ini, kenapa aku disebut pembunuh, sialan!
Diam semua!
Siapa yang menangkap Pembunuh Ujung Pakaian?
Aku yang menangkap Pembunuh Ujung Pakaian.
Aku yang menangkapnya, Pembunuh Ujung Pakaian.
Ada yang sedekat ini dengannya?
Tidak ada, kan?
Ah.
Topik hari ini, Lee Jin-seong.
Siapakah dia sebenarnya?
Saya Woosang, WAEGGER misteri terbaik.
Menyelami jurang kegelapan monster.
Itu akan saya lakukan.
Hanya saya yang bisa melakukannya.
Sekarang kita mulai yang sesungguhnya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.