Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[guntur bergemuruh]
[bahasa Indonesia] Selamat malam. Teteh namanya siapa?
Aku Riri.
Teh, perkenalkan, ini Mbak Asih.
[pria] Mbak Asih siapa?
Riri pulang dahulu, Mbak.
[wanita] Kalian menyebutnya "kuntilanak".
-Aku mengenalnya sebagai... -[guntur bergemuruh]
Mbak Asih.
[guntur bergemuruh]
[wanita bernyanyi lembut] ♪ Indung, indung, kepala lindung ♪
[suara lembut bayi]
♪ Hujan di udik, di sini mendung ♪
♪ Anak siapa pakai kerudung ♪
♪ Mata melirik, kaki tersandung ♪
♪ Aduh, aduh ♪
♪ Si anak manis ♪
♪ Mandi di kali ♪
♪ Rambutnya basah ♪
♪ Tidak sembahyang, tidak puasa ♪
♪ Di dalam kubur mendapat siksa ♪
-[guntur bergemuruh] -[suara air menggelembung]
[isak tangis perlahan]
[suara petir]
[isak tangis berlanjut]
[bersenandung]
[terus bersenandung]
[memutar kunci]
[bunyi mainan gantung]
[suara musik di radio]
-Wah. Sudah dipasang. -[keduanya tertawa kecil]
Masih bulan depan cucu Ibu lahirnya, 'kan?
Ya, Bu.
Aa sudah tidak sabar.
Supaya cepat keluar katanya.
Ada-ada saja Aa. [tertawa kecil]
Ita!
Nah! [tertawa kecil]
Dari siapa ini, Aa?
Dari teman kantorku. [tertawa kecil]
Bagaimana?
Kelihatannya kereta ini lebih tua dari Ibu, ya?
[tertawa] Ibu bisa saja.
Ya, sementara yang ada dahulu, ya?
-Sesudah aku gajian, kita beli yang baru. -Ya.
[Andi] Bu!
Aduh, Ibu.
Jangan dikerjakan sendiri atuh.
Bilang kepadaku, biar aku yang pompa airnya.
Ya?
Sudah.
Ayo, Bu.
Bu.
Mandinya tidak bawa handuk?
[keduanya tertawa kecil]
Terima kasih.
[guntur bergemuruh]
[suara petir]
[Andi] Ita.
Aduh, jangan angkat yang berat dahulu.
-Bilang kepadaku, ya? -Ya.
Ya Allah, Ibu lupa meneruskan angkat jemuran tadi.
-Tidak apa-apa, Bu. -Mari.
Ita, nanti malam aku meronda dahulu, ya?
Kurang enak rasanya. Sudah dua kali aku menolak.
Bawa payung, Aa.
Ya, ini cuacanya aneh.
Gerah, tetapi di luar hujan.
Seperti ini dibilangnya hujan orang mati.
[mencemooh] Ibu, tiap hari juga ada orang mati.
-Tiap hari ada yang lahir juga. -[tertawa kecil]
Ini.
Terima kasih.
[suara musik lembut di radio]
-[suara radio berhenti] -[guntur bergemuruh]
[derit pintu terbuka di kejauhan]
[suara hujan deras]
Aa?
Aa?
[pintu berderit]
Ibu?
[suara kunci pintu]
Bu?
Ibu?
[suara air menetes]
-[berteriak] -[Sekar] Bagus.
Tarik napas. Sedikit lagi, ya?
-[terus berteriak] -[Ibu Andi] Tarik napas.
[Puspita terengah-engah]
Tahan. Tarik napas.
Tarik napas lagi.
[Sekar] Tarik napas sekarang.
[menarik napas dalam]
[Andi] Kuat lagi, Ta. Sedikit lagi.
-Ayo, Ta. Kamu bisa. -[berteriak]
Sedikit lagi. Allah, beri dia kekuatan.
[Sekar] Sudah kelihatan. Terus, Ta.
Terus.
Sedikit lagi!
[berteriak]
[Amelia menangis]
-Ita, aku berangkat dahulu, ya? -[Amelia merengek]
Amelia, dah.
-[bahasa Arab] Assalamualaikum. -Wa'alaikumussalam.
-[bahasa Indonesia] Bu, pamit. -Hati-hati, ya?
Ibu bawa Amelia keluar, ya?
Biar kena sinar matahari pagi. Sehat.
-Oh, Sayang. -Terima kasih, Ibu.
Jangan terlalu lama.
Sayang.
[suara mesin di kejauhan]
Bu?
Ibu?
Bu?
Ibu?
Bu?
Bu?
Sudah siang. Amelia kenapa masih di luar?
[Amelia merengek]
Mataharinya sudah terlalu panas untuk Amelia, Bu.
Perasaan tadi sudah Ibu bawa ke sini.
Ibu pasti lupa.
[senandung mengerikan]
Ita?
Ita?
Ya, Bu?
Ada apa?
Tadi Ibu mendengar senandung. Bukan Ita?
Ibu sudah minum obat?
-Sudah atau belum, ya? -Kenapa tidak yakin, Bu?
Ayo, Ita lihat buku catatannya.
Terima kasih, Bu, jadi merepotkan.
Tidak repot.
Putri saya sudah terlalu besar untuk main boneka.
[tertawa kecil]
Bu, apa tidak bahaya Amelia lahir sebulan lebih awal?
Jangan khawatir.
Menurut penafsiran ayat, masa mengandung
sampai menyapih itu 30 bulan.
Jadi, yang penting kamu harus menyusui Amelia sampai dua tahun penuh.
Oh, ya,
sebaiknya jangan taruh ranjang bayi di dekat jendela.
Kenapa, Bu?
Soalnya arwah bisa mengintip.
Sebelum 40 hari, masih rawan.
Jangan dibawa pergi ke luar rumah lama-lama.
Apalagi sewaktu magrib.
Kemarin itu waktu saya bantu kelahiran di kampung sebelah,
ada kabar ada perempuan mati bunuh diri.
Seram, ya?
Apa lagi, jasadnya tak tahu ada di mana.
Dengar-dengar sebelum bunuh diri,
dia bunuh bayinya sendiri.
Bu, tidak usah dilanjutkan ceritanya.
Yang penting, jangan pernah lupa taruh gunting di bawah bantal
supaya setan tidak berani dekat-dekat.
Kau pernah dengar, 'kan? Suara ketukan tiang listrik di malam hari?
Itu tandanya orang pintar sedang lewat.
Tidak ada yang tahu siapa namanya, tidak ada yang tahu berapa umurnya.
Tidak ada yang tahu dari mana asalnya.
Orang-orang kampung sebelah memanggilnya "Abah".
Abah?
Katanya si Abah pasti tahu ke mana perginya perempuan yang bunuh diri itu.
Nah, kalau tiang listrik diketuk satu kali lebih dari angka jam saat itu,
berarti lagi ada sesuatu.
Saya jadi merinding.
[tertawa kecil]
[Andi] Aduh.
Anak cantik, apa kabar hari ini?
Bagaimana Amelia, Bu?
Alhamdulillah, dia sangat anteng seharian.
[tertawa kecil] Pintar, ya? Anak sayang.
[suara musik di radio]
[bunyi statis di radio]
[wanita bernyanyi seram di radio] ♪ Indung, indung ♪
♪ Kepala lindung ♪
♪ Hujan di udik, di sini mendung ♪
♪ Anak siapa pakai kerudung ♪
[bunyi statis di radio]
♪ Mata melirik, kaki tersandung ♪
♪ Aduh, aduh, si anak manis... ♪
[suara tumpang tindih di radio]
[nyanyian seram berlanjut] ♪ Tidak sembahyang, tidak puasa ♪
♪ Di dalam kubur ♪
♪ Mendapat siksa ♪
[radio dimatikan]
[jam berdentang keras]
Ibu, masuk!
Sudah magrib, Amelia masih di luar rumah.
Ini juga Ibu sudah mau masuk.
Pamali anak bayi di luar rumah saat magrib.
[Andi menenangkan]
Ta...
lain kali, jangan lagi kau teriak ke Ibu seperti tadi.
Ya, maaf, Aa.
Tadi aku mencemaskan Amelia.
-[Amelia menangis] -[Andi menenangkan]
[Andi] Sayang.
Ta.
Kenapa kau taruh gunting di situ?
Kata Ibu Sekar, jika ada gunting, makhluk halus tak berani mendekat.
[mencemooh] Kau berpikir yang tidak-tidak saja.
Bukan berpikir yang tidak-tidak, tetapi perasaanku hari ini tidak enak.
Aa sudah mengubur ari-ari Amelia?
Belum. Tadi pagi aku tidak sempat.
Yang begitu jangan ditunda.
Bahaya.
-Kubur sekarang, ya? -[Amelia merengek]
Ta, Amelia badannya panas.
[Amelia menangis]
[Ibu Andi] Cuma sedikit hangat.
Nanti kalau ini ditaruh di keningnya pasti hilang.
Kau kubur ari-arinya sekarang, ya?
Aku makin mencemaskan Amelia.
Belum dikubur, ya?
Ya. Aku kuburkan sekarang.
Masa badan Amelia panas karena aku belum kubur ari-arinya?
Jangan lupa dibacakan adzan.
Ya, Bu.
[Andi mengumandangkan adzan]
Kau belum tidur, Ita?
ASI Ita tidak lancar, Bu.
Kau sudah makan daun katuk yang Ibu rebus kemarin?
Kau jangan terlalu banyak pikiran.
Bu...
Ita minta maaf tadi sore Ita teriak ke Ibu.
Tidak apa-apa.
Tak usah terlalu khawatir, ya?
Ibu mau ambil air wudu dahulu.
[wanita bersenandung]
Ita?
Ita...
kau tadi ke dapur?
Tidak. Ini baru mau ke kamar.
Tadi sepertinya Ibu melihatmu lewat.
Ibu kira kau ke dapur.
Tidak, Bu. Ita di sini.
Ita ke kamar dahulu, ya?
Ibu jangan lupa minum obat.
Ta, boneka dari Bu Sekar ini aku simpan di lemari saja, ya?
Amelia belum butuh. Masih terlalu kecil.
Ya.
[Andi menghela napas]
-Aa. -Ya?
Ibu sepertinya makin parah pikunnya.
Ya...
Namanya juga sudah berumur. Sudah punya cucu.
Kita maklum saja, ya?
[menarik napas dalam] Ayo.
Jangan-jangan Ibu...
[bunyi ketukan di tiang listrik]
[ketukan berlanjut]
[ketukan berlanjut]
[bunyi dentang]
[berdoa dengan suara samar]
[wanita berbisik] Amin...
[terus berdoa dengan suara samar]
[wanita berbisik] Amin...
[berdoa tanpa henti]
Amin!
Astaga.
[wanita bernyanyi] ♪ Indung, indung, kepala lindung ♪
♪ Hujan di udik ♪
♪ Di sini mendung ♪
♪ Anak siapa pakai kerudung ♪
♪ Mata melirik ♪
♪ Kaki tersandung ♪
[Amelia menangis]
[Puspita menenangkan]
[bunyi statis di TV]
[menghela napas]
[Puspita menenangkan]
[suara kursi berderit]
[suara derit berhenti]
-Anak saya! -[menjerit]
Aku serius. Semalam aku melihat perempuan.
Kau harus minta tolong Pak Ustad.
Ibu pernah bilang seperti lihat Ita lewat di belakang.
-Kapan, ya? -Masa Ibu lupa?
Ita, kau jangan berlebihan.
Itu hanya ketakutanmu saja.
Aku berangkat, ya?
Amelia, jaga Ibu, ya?
Bu, Aa pamit. Titip, ya?
[suara tawa]
[suara tawa berlanjut]
[pintu lemari berderit]
[menjerit]
-Ita! -[Puspita menjerit]
Bu!
Kau kenapa, Ita?
Bu, ini apa?
Aku dan Ibu mendengar lirik itu dinyanyikan perempuan,
dan Ibu menulisnya di buku catatan obatnya.
Jadi, Ibu juga merasa ada yang aneh?
Kau percaya, 'kan?
[ketukan berirama]
[bicara dalam bahasa Sunda]
[mengeluh] Sepi sekali jualan. Bagaimana bisa untung?
Masuk angin saja malam ini.
Pulang-pulang harus dikerok.
Bisa kurus seperti tengkorak.
-[bunyi menciap] -Suara apa itu?
Suara itu tak biasa.
Mana sepi sekali...
[terkesiap]
Kau membuat terkejut!
[bahasa Indonesia] Kenapa mukamu pucat seperti itu?
Hei.
Kau melihat hantu?
Coba lihat, bulu kudukku berdiri.
[mencemooh] Malas lihat bulu kuduk seperti bagong. Tidak, terima kasih.
[bicara bahasa Sunda] Kang, maksudnya tadi sebelum kau datang,
aku mendengar suara yang aneh.
[bahasa Indonesia] Suara tangisan bayi?
Istri Pak Andi baru melahirkan.
Maksudku, suara ciap anak ayam.
Ciap... ciap... ciap...
[bicara bahasa Sunda] Pak Andi pasti kuburkan ari-ari bayinya di halaman rumah.
Tentu saja. Mengubur ari-ari pasti di halaman rumahnya.
-Masa di lapangan voli? -[mengeluh]
Kau malah mengejek.
Kalau terdengar suara ciap ayam
di kuburan ari-ari...
itu biasanya berarti hantu perempuan datang!
[berteriak]
[pintu menutup]
[suara ayam menciap]
[suara ayam menciap berlanjut]
[suara mengunyah]
[bahasa Indonesia] Astaghfirullah hal adzim!
[Andi berteriak]
Ya, Allah!
-Astaghfirullah hal adzim. -Kau kenapa, Andi?
[terengah-engah] Andi lihat perempuan yang ganggu Ita, Bu.
Andi percaya sekarang, Bu.
Perempuan itu juga yang ganggu Ibu?
Astaga.
Kenapa dia ganggu keluarga kita, Bu?
Ibu juga tidak tahu.
Sebaiknya besok pagi kau ke masjid,
tanya sama Pak Ustad.
[bunyi air menetes]
[Amelia bersuara]
[pintu berderit]
[pintu terus berderit]
Amelia!
Amelia! Amel!
Amelia!
[menjerit]
Aa sudah melapor kepada Pak Sarwono.
Pak Sarwono sekarang sedang melapor ke polisi.
Bayi kita bukan diculik manusia!
[terisak-isak]
Apa kata Pak Ustad?
Kata Bu Sekar, ada satu orang yang paham hal begini di kampung sebelah.
[tersedu] Kau harus menemui orang itu.
[suara tak terdengar]
Abah?
[suara tak terdengar]
Namanya Kasih.
Nama yang indah untuk wujud yang kalian lihat.
Entah kapan...
nama Asih tersematkan kepadanya.
Mungkin...
waktu dia pergi merantau ke kota bekerja sebagai pengasuh.
Hanya untuk kembali dalam keadaan hamil, tanpa suami.
[bayi menangis]
-Asih tak diakui oleh kedua orang tuanya. -[suara tak terdengar]
[bayi terus menangis]
Warga desa pun mengusirnya.
Perempuan malang itu
bunuh diri
setelah membunuh bayinya sendiri.
Malam ini...
malam ketujuh...
semenjak kematian anaknya.
Namun, dia sudah ke sini...
sejak malam kelahiran bayimu.
Bu?
[guntur bergemuruh]
[suara air menetes]
[berteriak]
[terisak-isak] Namun, kita masih bisa menemukan anak saya, 'kan?
Kau!
Kau menyimpan barang miliknya.
Sisir.
[pintu terbuka]
[terengah-engah] Ini.
Sekarang saya butuh lilin.
Tolong jangan bersuara.
Saya perlu mendengarnya.
Sebetulnya...
tidak perlu memegang tangan saya.
Terima kasih.
Asih...
saya buka lebar pintu gerbang dialog untukmu.
Kembalilah, Asih!
♪ Indung, indung, kepala lindung ♪
♪ Hujan di udik, di sini mendung ♪
[Pak Marwan] Kalian tetap di sini.
Silakan berdoa.
Tanpa suara.
♪ Mata melirik, kaki tersandung ♪
[Asih bersenandung samar]
[Asih terus bersenandung]
Asih, jangan kau main-main!
Bapaknya ikut saya sekarang!
Sekarang!
[Ibu Andi] Kau terus berzikir, ya?
Silakan kau adzan sekarang.
[Andi mengumandangkan adzan]
[Andi berlanjut mengumandangkan adzan]
[Andi berlanjut mengumandangkan adzan]
-[suara tangis di kejauhan] -Kau dengar itu?
Dengar apa, Pak?
Anakmu.
Anakmu ada di balik pohon itu.
Alhamdulillah, ya Allah.
Bu, aku dan Abah berhasil menemukan Amelia.
Ita di mana, Bu?
Ita?
Ita? Amelia sudah ketemu.
Kau dan Amelia istirahat dahulu. Aku antar Abah pulang.
[mencium]
[menenangkan]
Bu, biar Ita dan Amelia istirahat dahulu.
[bernyanyi] ♪ Indung, indung ♪
♪ Kepala lindung ♪
♪ Hujan di udik, di sini mendung ♪
Ini bau danur.
Asih!
[nyanyian berlanjut] ♪ Anak siapa... ♪
♪ Pakai kerudung ♪
♪ Mata melirik... ♪
♪ Kaki kesandung ♪
Ini anak saya!
Bukan, Asih! Anakmu sudah tenang di alamnya.
Kembalikan anak saya!
Anakmu tidak ada di sini, Asih.
Kasihanilah dia.
Perempuan ini tidak punya salah kepadamu.
Dengarkan saya, Asih.
Saya mau anak saya!
[Andi] Astaghfirullah hal adzim! Ya Allah!
-Ya Allah! -Ya Allah!
-Ita? Amelia! -[Ibu Andi] Ya Allah. Ita!
-Abah! -[Pak Marwan] Ikuti saya!
Ya Allah, Ita!
-Asih! Ampuni mereka. -[mendengus]
Maafkanlah masa lalumu.
Istighfar, Ita.
Maafkanlah dirimu. Pergilah dengan tenang, Asih. Pergilah!
Ikhlaskanlah semua. Ikhlaskanlah anakmu.
Ikhlaskanlah dirimu! Maafkan dirimu. Pergilah dengan tenang.
[berteriak]
Cukup! Jangan kau ganggu lagi perempuan itu!
-Tinggalkan raganya dan dirinya! -[Andi] Kau sayang Amelia, Ita.
-Istighfar, Ita! -[Pak Marwan] Keluar, kau!
[bahasa Arab] La ilaha illallah. Allahu Akbar.
[bahasa Indonesia] Istighfar, Ita! Kau sayang Amelia!
La ilaha illallah. Allahu Akbar.
La ilaha illallah. Allahu Akbar.
-Kuat, Ita. -[Pak Marwan] Keluar!
[tersedak]
-Ya Allah. -Allahu Akbar.
[Puspita bernapas gemetar]
[Ibu Andi] Terima kasih, Abah.
Kami sekeluarga berutang budi selamanya.
Yang penting kalian harus bisa memaafkan Asih.
Lalu, sisir ini?
Tancapkan di bawah pohon besar, di sana.
Saya pamit.
-[bahasa Arab] Assalamualaikum. -Wa'alaikumussalam.
[bahasa Indonesia] Beristirahatlah dengan tenang.
[berdoa]
[anak perempuan tertawa]
Ayo kita main.
[tertawa kecil]
Ada apa itu?
Sebentar, ya?
[lagu "Bilur" dimainkan]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.