Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aku mau gantung diri.
Aku mau gantung diri.
Aku mau gantung diri.
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Assalamualaikum warahmatullah.
Assalamualaikum warahmatullah.
Halo, ini dengan Mas Ryan,
anaknya Pak Prasetyo?
Maaf, ini dengan siapa, ya?
Saya Karsidi, bapak kamu meninggal dunia.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Nak Ryan bisa datang ke sini?
Nanti alamatnya saya kirim.
Karena ada…
pesan yang harus saya sampaikan, sesuatu dari Bapak.
Pak?
Pak?
Halo, Pak?
- Bu. - Kenapa?
Bapak meninggal, Bu.
Kamu tahu dari mana?
Ada yang telepon Ryan.
Pak Karsidi.
Ibu kenal?
Ibu enggak kenal.
Coba kamu telepon balik.
Kamu enggak salah dengar, 'kan?
Enggak, Bu.
Pak Karsidi Bilang, Bapak menitipkan sesuatu buat Ryan.
Tiba-tiba koneksinya terputus begitu saja.
Kita melayat, Bu?
Enggak perlu.
Kamu tahu alasannya kenapa, 'kan?
Iya.
Karena Bapak tukang judi,
Bapak selingkuh,
dan Ibu gak bisa memaafkan.
Biar bagaimanapun, dia juga masih bapaknya Ryan.
Ryan mau tahu.
Sudah sepuluh tahun Ryan enggak ketemu dia…
Enggak perlu.
Kamu jangan pergi ke sana.
Kirim doa saja, itu sudah cukup.
Ryan.
Ryan.
Bu, maafkan Ryan, ya.
Ryan merasa kalau Ryan harus melihat Bapak.
Ryan.
Kalau kamu bukan saudaraku, aku tidak mau menemanimu.
Lebih baik aku ikut tur dengan klub motorku.
Ya, aku juga enggak enak pergi tanpa seizin Ibu.
Salah memang.
Tapi aku sudah meninggalkan pesan,
jadi seharusnya baik-baik saja.
Lagi pula, kamu jadi orang polos sekali.
Ryan.
Alana sudah kamu apakan saja?
Sembarangan kamu!
- Kamu enggak macam-macam, 'kan? - Enggak.
Serius, enggak.
Masih?
Enggak, sumpah.
Blokir saja.
Halo, Ma.
Iya.
Iya, Ma, sebentar.
Ryan, Mama mau bicara.
Iya, Tante?
Iya, langsung pulang. Iya, Tante.
Oke, alaikum salam, Tante.
Pacarmu manja, ya.
Temanku bukan anak yang manja.
Enggak usah sok kalau enggak kenal.
- Buset, galak banget cewek ini. - Sudah.
Ini ponselmu…
Apa-apaan, Ryan?
Kenapa, sih?
Enggak, gak ada apa-apa.
Ayo jalan saja.
Enggak apa-apa, jalan.
- Pak Karsidi? - Iya.
Ryan, anaknya Prasetyo.
Oh iya.
Maaf, tempo hari teleponnya terputus.
Sinyal di sini buruk.
Iya, tidak apa-apa, Pak.
Perkenalkan ini teman-teman saya. Elsa, Alana, Ben.
Ibumu tidak ikut?
Enggak ikut, Pak.
Ini mohon maaf, ya.
Jasad ayahmu sudah kami kuburkan.
Bapak saya…
meninggal karena apa, ya?
Ayahmu itu meninggal karena gantung diri.
Yang sabar, ya.
Itu kuburan bapakmu.
Papan nisan bapak saya hitam begini, ya?
Ini pertanda
kalau yang meninggal itu
korban Pulung Gantung.
Maaf, bagaimana, Pak?
Memang Pulung Gantung apa sih, Pak?
Pulung Gantung itu makhluk gaib.
Bangsa Iblis.
Bentuknya seperti bola api.
Dua minggu sebelum meninggal,
bapak kamu itu stres…
mengurung diri.
Itu menjadi incaran Pulung Gantung.
Kalau sudah diincar, orang itu hidupnya sengsara
dan sampai matinya gantung diri.
Itu.
Itu makamnya Nining, adik saya.
Dia juga korban Pulung Gantung.
Makanya nisannya berwarna hitam.
Ini kunci rumahnya.
- Silakan. - Iya, Pak.
Pak Karsidi sama bapak saya dekat sekali, ya?
Saya 'kan kerja dengan Pak Prasetyo,
kadang bantu mengurus ladang.
Kalau butuh apa-apa,
rumah saya dekat, di sebelah sana.
Oh, siap, Pak, terima kasih.
Ryan.
Kita cari penginapan saja, bagaimana?
Baiknya di sini saja.
Karena penginapan dari sini jauh.
Saya permisi.
Iya, silakan, Pak.
Ryan.
Memang titipannya apa?
Pak Karsidi hanya bilang,
titipannya itu di dalam…
kotak kayu berukiran.
Ya sudah, kalau sudah ketemu, langsung jalan, ya.
Kamu kepikiran cerita Pulung Gantung?
Sudah manja, penakut lagi.
Ayo kita masuk.
Bagaimana?
Sudah ketemu belum?
Belum.
Sudah dua jam masih belum ketemu?
Belum ketemu, Ben.
Elsa.
Aku takut.
Kamu masuk saja temani aku.
Aku tunggu di luar saja, ya?
Enggak apa-apa, 'kan?
Ya sudah, aku gak kunci pintunya. Kamu tunggu di situ, ya.
Iya.
Cepat mandinya.
Aku tunggu.
- Al. - Elsa.
Kenapa, Al?
Elsa!
Al.
Kenapa sih?
Kamu lihat apa?
Al?
Ayo. Kita keluar saja, ya. Ayo.
Aku mau pulang sekarang, Ryan.
Tapi masalahnya,
titipan Bapak belum ketemu.
Kamu masih memikirkan kepentingan sendiri, Ryan?
Kamu enggak kasihan sama Alana?
Dia enggak pernah mengalami hal seperti ini.
Aku sih bebas, ya.
Pergi boleh,
mau tinggal juga boleh,
tapi aku tidak mau menyetir.
Kamu mau ke mana?
Aku…
ingin bercumbu
di tengah dinginnya malam.
Pret!
Apaan sih?
Badan kamu makin panas, Alana.
Lalu ini bagaimana, Ryan?
Ada obat di mobil.
Sebentar.
Hei, Ryan.
Ibumu telepon aku.
Mungkin khawatir sama kamu.
Telepon sana.
Nanti aku telepon.
Anjing! Apaan itu?
Itu Pulung Gantung.
Anjing, itu meteor, Ryan.
Ben. Kasih ini ke Alana.
- Dia pacar kamu, Ryan. - Buruan! Cepat!
Kenapa ikut aku?
Kamu kenapa mengikuti meteor?
Itu bukan meteor, itu Pulung Gantung.
Iya, itu lah. Kenapa?
Pak Karsidi bilang bapakku meninggal karena Pulung Gantung. Iya, 'kan?
Iya.
Ini kesempatanku untuk membuktikannya.
- Ben. - Aku mau gantung diri.
Aku mau gantung diri.
Aku mau gantung diri.
Aku mau gantung diri.
Mas, tolong istri saya!
- Aku mau gantung diri. - Ben!
Tolong! Bu!
Bu!
Sadar, Bu!
Sadar, Bu.
Tolong.
Ryan, tunggu aku!
Astaghfirullahaladzim!
Pak, saya berusaha menolong tadi.
Enggak apa-apa.
Memang benar ini kerasukan Pulung Gantung, Pak?
Iya.
Bu.
Kenapa jadi seperti ini, Bu?
Kenapa begini, Bu?
Ayo bantu turunkan.
Kenapa bisa seperti ini, Pak?
Ini artinya di arah sana,
akan ada korban Pulung Gantung yang berikutnya.
Tapi entah siapa.
Bismillahirrahmanirrahim.
Yasin.
Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,
sungguh, engkau adalah salah seorang dari rasul-rasul,
di atas jalan yang lurus.
Arwah korban Pulung Gantung itu
masih bergentayangan.
Meluapkan amarahnya kepada orang yang masih hidup.
Karena nyawa mereka
tercabut sebelum ajalnya.
Ben dan Ryan permisi dulu, ya.
Silakan.
Hei.
Kamu anaknya Prasetyo?
Kamu harus pergi!
Pergi kamu!
Pergi kamu!
Mereka kenapa sih, Yan?
Al!
Al. Astaghfirullahaladzim.
Alana!
Ryan!
- Al. - Elsa, Alana kenapa?
- Elsa, kenapa? - Aku enggak tahu, Ryan.
Al.
- Istighfar, Al. - Al.
Al.
Al.
Al? Alana.
Al.
Astaghfirullahaladzim.
Aku mau gantung diri.
- Al. - Al.
- Al, stop! - Sudah, Alana!
- Al, sudah, Al! - Bismillahirrahmanirrahim!
Sudah!
Astaghfirullahaladzim!
Alana.
- Al? - Al!
Al.
- Bangun. Al. - Alana, bangun.
Baringkan dia.
Halo, Ryan, kamu ke mana saja? Ibu telepon tidak diangkat-angkat.
Iya, Bu, Maaf.
Ibu khawatir sama kamu. Kamu di mana sekarang?
Bu, banyak orang meninggal di desa ini
karena kerasukan Pulung Gantung,
termasuk Bapak.
Bapak mati karena gantung diri.
Tapi Ryan enggak apa-apa, 'kan?
Iya, Ryan enggak apa-apa, tapi Alana…
Alana kenapa?
Alana jadi aneh.
Lalu dia pernah mengatakan "aku arep ngendhat."
Ryan, dengarkan Ibu.
Sekarang juga kamu harus pergi dari desa itu.
Itu artinya "aku mau gantung diri."
Nanti Ibu jelaskan. Sekarang kamu pergi dari desa itu.
Ibu tahu soal Pulung Gantung?
Bu?
Halo, Ryan?
Ryan?
Ben, cepat!
Ben, buka mobilnya.
Masuk.
Cepat, Ben.
Sudah, ayo.
Sialan.
- Kenapa? - Bannya bocor.
Ryan.
Kenapa?
Bannya bocor, depan belakang lagi.
Ben.
Ini tertancap pisau.
Ini pasti ada yang menjahili!
Jangan berprasangka buruk dulu.
Coba kamu pikirkan,
kalau yang tertancap paku masih masuk akal.
Ini pisau.
Benar kata Ben.
Ini disengaja, Ryan.
Enggak, kita harus pulang malam ini.
- Kita enggak bisa seperti ini… - Ya, kita harus pulang malam ini.
Kita harus cari kendaraan lain.
Lalu mobilku bagaimana?
Bapakku lusa mau pakai mobil ini ke luar kota.
Ben, kamu telepon saja bapakmu,
jelaskan tentang situasi ini, dia pasti mengerti. Ya?
Aku enggak akan pulang sebelum mobil ini diperbaiki.
Tapi kalau kalian tetap memaksa,
duluan saja sana!
Ben.
Aku juga mengerti kalau di posisi kamu,
pasti akan terpikirkan mobil.
Kamu merasa ada yang aneh tidak, dengan warga desa ini?
Aneh bagaimana?
Dari cara mereka memandangmu seperti marah, kesal,
seperti kamu punya dosa yang besar di mata mereka.
Memangnya aku salah apa?
Mungkin perasaanku saja, ya?
Aku pasang ban dulu, ya.
Kamu kebiasaan, ya.
Minum sembunyi-sembunyi.
Nanti akan aku beri tahu Ryan.
Ryan akan marah kalau tahu aku minum-minum.
Yah, jangan dilanjutkan.
Bannya bagaimana?
Ini, sudah aku ganti.
Yang belakang belum.
Belum, ban serepnya cuma satu.
Sepertinya benar desa ini.
Ben.
Lihat ini.
Kenapa?
Gila, ya.
Kasus gantung diri paling tinggi dalam lima tahun itu di desa Kidul ini.
Dan penyebabnya itu Pulung Gantung, Ben.
Desa ini parah.
Ya sudah, aku coba cari tempat tambal ban dulu.
Alana.
Al.
Alana.
Kamu kenapa?
Enggak.
Tadi aku melihat…
ada orang yang mendekati Alana.
Maksudnya?
Al.
- Al. - Al.
Alana.
Al.
Letakkan! Al, letakkan!
- Enggak! - Letakkan itu, Al.
Alana!
Al!
Al! Sudah, Al.
Al, sudah, stop!
Al.
- Al! - Al!
Al!
Al.
Al.
Al, sadar. Ini aku, Ryan.
Al, kamu mau apa? Al?
Al, kembali, jangan lompat.
Ben, bantu aku!
Potong talinya, Ben!
Sabar. Tahan, Ryan!
Ben!
Ayo, Ben.
Sudah, Yan.
Turun.
Sadar, Al.
Ayo, Al.
Al.
Al.
Alana enggak pernah sama sekali mengalami hal seperti…
- Ibu. - Al.
Tante.
Alana bagaimana?
- Dia baru saja gantung diri. - Sini, baringkan.
- Hati-hati. - Ayo. Pelan-pelan.
Ada kertas putih polos?
Alana.
Embuskan napas tiga kali ya, Nak.
Ayo.
Ayo.
Pulung Gantung masih menguasai raga Alana.
Sekarang kalian tolong bawa Alana ke kamar.
Ibu mau apa?
Ibu mau ambil daun bidara.
Ayo, bawa.
Bismillahirrahmanirrahim.
Elsa, tolong.
Jadi, Ibu sudah tahu
soal Pulung Gantung di desa ini?
Sejak kamu kecil…
Pulung Gantung sudah ada di desa Kidul,
tapi Ibu tidak pernah mau bilang sama kamu.
Al.
Kalau ada…
pikiran yang membuat kamu tidak tenang,
atau yang membuat kamu gelisah,
ceritakan saja ke aku, tidak apa-apa.
Aku…
pernah melakukan itu sama mantanku sampai aku hamil, Elsa.
Melakukan…
Ferdy?
Siapa lagi, Sa?
Sebelum sama Ryan, aku cuma sama Ferdy.
Aku meminta tanggung jawab,
tapi dia malah memutuskan aku.
Sebelum janin itu satu bulan…
aku aborsi, Sa.
Ryan tahu?
Enggak, Sa.
Itu yang mengganggu pikiranku setiap hari.
Aku sayang banget sama Ryan.
Aku minta maaf.
Kenapa kamu bohong sama aku?
Tidak semua cewek berani terus terang soal masalah seperti itu, Ryan.
Kamu ragu sama kesetiaan aku?
- Begitu? - Enggak, Yan.
Aku cuma takut kamu enggak siap dengar keburukan aku.
Aku sayang banget sama kamu, Yan.
Aku minta maaf.
Tapi sekarang terserah kamu.
Alana!
Alana.
Al?
Al.
Al!
- Alana! - Alana!
- Al! - Alana!
Alana. Al…
Ryan!
Al!
Alana. Astaghhfirullahaladzim.
- Alana! - Sudah, Al!
Astaghfirullahaladzim!
Istighfar, Alana.
- Ambil talinya! - Istighfar, Alana!
Alana.
Istighfar, Alana.
Ryan, bawa ke gudang.
Cepat!
Alana!
Ikat dari belakang.
- Astaghfirullahaladzim. - Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Istighfar, Alana.
Istighfar, Alana.
Keluar kamu!
Keluar!
Keluar kamu!
Keluar kamu!
Berhenti menyiksa dia!
Keluar!
Keluar!
Tante?
Aku Nyi Darsih,
penjagamu.
Pulung Gantung…
bisa menyerang orang yang kamu cintai.
Kamu jangan bermulut besar!
Aku tahu kamu siapa,
Iblis Banaspati.
Aku tahu perbuatanmu,
suka menyesatkan
dan menyengsarakan manusia.
Urusanku adalah urusanku.
Bukan urusanmu.
Mundur kamu, Orang Tua!
Atau kamu mau
terbakar bersama jasadmu?
Seribu iblis sekalipun di belakangmu,
aku tidak akan gentar!
Kamu belum tahu aku siapa.
Urusan manusia
adalah urusanku juga!
Buat pagar pembatas dari bambu kuning.
Letakkan dia di tengah.
Ben.
Gali kuburan Ki Sangkut dan ambil cincin saktinya.
Bapak tahu di mana kuburan Ki Sangkut?
Di Gua Blarong, adanya di hutan selatan.
Jauh dari sini.
- Maksudnya apa, Ryan? - Dengarkan dulu saja, Ben.
Pasangkan cincin di jari perempuan ini.
Kita butuh cincin Ki Sangkut.
Ki Sangkut itu siapa?
Dia itu dukun ilmu hitam,
dia menguasai semua makhluk halus yang ada di sana.
Tapi dia sudah mati lima tahun lalu
karena dia lalai menyajikan tumbal dua belas ekor celeng
setiap hari Jumat Kliwon.
Makasih informasinya.
Hutan larangan itu berbahaya, banyak makhluk halusnya.
Ben, jam berapa sekarang?
Cocok. Kita jalan dari sekarang saja, ya.
Tahu cincin itu dari mana?
Mereka tak akan berhasil mendapatkan cincin Ki Sangkut.
Walaupun kalian menahanku di sini…
setan-setan pengikutnya pasti akan tetap mendengarkan perintahku,
- melakukan apa pun yang aku minta. - Enggak. Kamu jangan percaya itu.
Dia cuma menakut-nakuti.
Minta minum, ya. Haus.
Cepat minumnya, kita harus cepat.
Ben!
Ryan!
Ryan.
Bapakku, Yan.
Bukan.
Ingat,
jangan menoleh
jika mendengar apa pun di dalam hutan.
- Enggak mungkin. - Bapakku, Yan!
Kalian mau ke mana?
Mau apa kalian ke sana?
Ayo, ikut Bapak pulang.
Yan. Itu Bapakku, Yan.
Ben, jangan.
Ben.
Pocong!
Ben.
Apa ini yang memegangiku?
Ben!
Ben!
Temukan mayat pembisik watu ireng.
Gali kuburan itu
dengan tangan berdarah.
Ben.
Kamu tidak apa-apa?
Hutan ini memang benar-benar sarang setan, Yan!
Oke, kita harus cepat, waktu tinggal lima jam lagi.
- Ayo. - Ayo.
Tante.
Semoga Ryan dan Ben berhasil ya, Tante.
Nyi Darsih sudah mempermainkan kalian.
Cincin itu sudah hancur lebur.
Jangan didengar.
Pulung Gantung sudah menguasai pikiran dan raga Alana.
Apa yang kita lihat sekarang itu bukan Alana.
Cabut pagar itu, Elsa!
Tante.
Tante, tolong!
Jangan! Jangan, Elsa!
Jangan cabut, Elsa!
Elsa, stop! Jangan, Elsa!
Jangan!
Elsa, jangan!
Ben.
Gua Blarong.
Ya sudah, ayo. Tunggu apa lagi?
Ayo.
Gila.
Ini pasti kuburan Ki Sangkut, Yan.
Enggak.
Enggak.
Sepertinya bukan.
Sepertinya kuburannya masih di dalam.
Pocong!
- Kamu aman? - Aman.
Lewat sini. Ayo, Ben.
Oke, ayo.
Ryan.
- Itu bukan kuburannya? - Apa?
- Iya, ayo. - Ayo.
Paculnya?
- Kamu yakin yang ini? - Iya, yang itu.
Ayo.
- Ini batu, Yan, bukan tanah. - Aduh.
Enggak, Ben.
Dengarkan aku.
Aku tadi bertemu tengkorak kepala manusia
dan dia kasih aku petunjuk.
- Kamu serius? - Iya, serius.
Oke, jadi,
kita harus basahi tangan dengan darah sendiri.
- Anjing! - Iya, galinya juga harus pakai tangan.
- Galinya pakai tangan? - Iya.
Ini konyol, Ryan.
- Sumpah, ini konyol! - Oke, enggak apa-apa.
Kamu enggak mau, biar aku saja.
Jangan macam-macam, Ryan.
- Jangan macam… - Sudah!
Tahan saja sakitnya. Ya.
Ayo.
Oke.
Selesai.
- Satu, dua, tiga. - Satu, dua, tiga.
- Ambil, Ryan. - Oke. Iya.
Cincinnya.
Ayo, Ryan.
Ayo cepat, Ryan.
Astaga, ini keras banget.
Anjing!
- Anjing! Dia bangun. Cepat, Ryan! - Ben! Tolong aku!
Akan aku pacul dia!
Aku pacul saja, ya!
- Cepat! - Ben! Tolong, Ben!
Ben. Cincinnya sudah lepas belum, Ben?
- Ben! Cincinnya sudah lepas? - Sabar, Ryan!
- Mayatnya bangun! - Sabar, Ryan!
- Oke. Ayo! - Ayo!
- Awas, hati-hati. - Iya.
Ben, kita harus cepat, tinggal tiga jam lagi, ayo!
- Iya. - Ayo, Ben.
Iya, Ryan.
Maaf, ya.
Saya sudah membuat kamu pingsan.
Tante.
Tante.
Tante, Elsa minta maaf. Elsa tidak tahu apa-apa.
- Elsa minta maaf, Tante. - Iya.
- Elsa minta maaf, Tante. - Enggak.
Marlina.
Saya Karsidi.
Kamu yang telepon anak saya?
Ya, betul.
Ibu tahu Ryan dan temannya mencari cincin Ki Sangkut?
Dan itu sangat berbahaya, Bu.
Tolong susul Ryan dan Ben.
Saya dengan warga akan mencari mereka.
Permisi, Bu.
Setan peliharaanku sudah datang.
Ayo pelan-pelan, Tante.
Pelan-pelan, Tante.
Maafkan Elsa ya, Tante.
Elsa benar-benar enggak tahu apa-apa, Tante.
Elsa enggak tahu akan jadi seperti ini. Maafkan Elsa, Tante.
- Cepat, Ben. - Ayo.
Mbak enggak apa-apa?
Saya bantu, ya?
Terima kasih, ya.
Sudah azan.
Kamu salat dulu, ya.
Sebentar ya, Tante.
Allahu Akbar.
Ben, jejak…
Ben?
Ben?
Ben!
Ben!
Ben!
Al.
- Alana. - Elsa.
Sa, tolong aku.
Sa, tolong aku. Dadaku sakit.
Badanku panas, Sa. Tolong.
Al.
Al.
Alana.
Al.
Aku tidak akan pergi sampai perempuan ini mati gantung diri.
Alana!
Alana!
Aku pinjam tanganmu. Tanganku akan sakit menyentuh bambu itu.
Enggak!
Cabut satu per satu!
Enggak!
Rumahnya masih jauh, Mbak?
Kau takkan bisa keluar dari sini!
Ambil batu itu,
pukul kepalamu!
Pukul lebih keras!
Ben!
Ben.
Jangan seperti ini! Apa yang kamu lakukan, Ben?
Hajar dia!
Ben!
- Pukul dia! - Bismillahirrahmanirrahim.
Pukul!
Ben.
Ben.
Ben, bangun.
Maafkan aku, Ryan.
Aku benar-benar enggak tahu apa-apa.
Enggak apa-apa, Ben.
Kamu juga terpengaruh oleh setan wanita itu.
Aku mengerti.
Pak Karsidi.
Ibu kamu meminta saya bersama warga mencari kalian.
Bagaimana?
Dapat cincin dari Ki Sangkut?
- Iya. - Bisa lihat?
Iya, Pak.
Iya, dapat.
Ya sudah, saya mau bertemu Alana dulu, Pak.
Iya.
Ben.
Apa-apaan ini, Pak?
Pegang dia!
Jangan macam-macam!
Kamu ikut dengan saya
atau teman kamu saya bunuh.
Pak, tolong, saya enggak ada waktu lagi, saya harus bertemu sama Alana.
Ben!
Ikuti saya.
Saya tidak segan-segan membunuh kamu.
Jalan.
Jalan terus.
Kamu pasti tersiksa ya, Al.
Kamu harus selamat.
Iblis itu tidak boleh menyengsarakanmu terus.
Pulung Gantung adalah makhluk gaib
berkekuatan nyaris tanpa batas.
Belum diketahui cara menghentikannya.
Namun, ada asumsi…
yang menghentikan kutukan Pulung Gantung harus yang memulainya.
Pak.
Masuk.
- Masuk! - Saya enggak mau!
Bapak.
Cuma ini
satu-satunya kenangan yang masih Bapak simpan.
Sepuluh tahun
bukanlah waktu yang sebentar.
Kamu sekarang sudah besar ya, Nak.
Kenapa?
Kamu bingung?
Iya?
Jadi, itu kuburannya siapa?
Itu tidak ada isinya.
Kuburan kosong.
Pastikan kerjanya yang rapi, ya.
- Habis itu kamu telepon… - Bapakmu meninggal dunia.
Sudah ditelepon, matikan teleponnya.
Nak Ryan bisa datang ke sini?
- Halo? - Pak? Halo, Pak?
Kasih lokasinya sama dia.
Sudah, selesai, jangan lupa, ya.
Mana?
Kamu berhasil mendapatkan cincin Ki Sangkut?
Ryan.
Berikan cincin itu kepada bapakmu.
Mana cincinnya?
Ryan.
Hei.
Cincin ini yang bisa menyelamatkan warga desa Kidul
dari kutukan Pulung Gantung.
Dengan cincin ini,
Bapak harus menghentikan penderitaan dan kesengsaraan warga.
Mas.
Ayo.
Bagaimana ini?
Mar.
Aku itu sudah ngomong, ya.
Itu tanah keramat.
Kita tidak bisa menanam di sana.
- Kita bisa celaka. - Halah.
Kamu tidak usah percaya takhayul seperti itu, Mas.
Tanah itu 'kan untuk kita.
Kamu lupa tiga bulan kita tidak ada penghasilan?
Ingat Ryan.
Satu desa bisa celaka, Mar.
Lihat, Bu.
Apa aku bilang?
Benar terjadi, 'kan?
Ini semua gara-gara kamu.
Itu cuma takhayul.
Kamu itu keras kepala kalau dikasih tahu.
Sebentar, kamu pergi lebih dulu.
Ada yang tertinggal.
Bawa Ryan.
Ayo.
Prasetyo!
- Prasetyo! - Prasetyo!
- Prasetyo! - Keluar!
- Keluar kau! - Ada apa?
- Ke sini. - Apa?
Sudah aku kasih tahu, 'kan?
Itu tanah keramat.
Tanah keramat. Jangan ditanami!
Itu tanah warisanku. Kenapa?
Kamu keras kepala. Karena kamu,
banyak warga yang terkena Pulung Gantung.
Mengerti, tidak?
Bukan urusanku!
Marlina, tolong!
Marlina!
Mar!
Berhenti, Semuanya!
Bubar!
Biarkan, ini urusan saya.
Prasetyo dan kalian semuanya
sudah cukup lama mengenal saya, 'kan?
Iya, Ki.
Aku bisa menghentikan Pulung Gantung itu
dengan cincin sakti milikku ini.
Ucapan Ki Sangkut itu benar-benar terjadi.
Kutukan itu berhenti.
Tapi sayangnya, Ki Sangkut mati.
Cincinnya ikut masuk ke dalam liang lahad.
Dan…
Pulung Gantung pun semakin menggila.
Bapak sudah berusaha untuk menggali kuburan itu.
Namun, selalu gagal.
Hanya orang
yang wetonnya 23 Kliwon di bulan Suro
yang bisa menggali kuburan Ki Sangkut.
Dan itu adalah kamu.
Jadi ini semua pancingan?
Begitu?
Karena Ryan yang terpilih, begitu?
Iya.
Karena kalau Bapak bilang…
Bapak minta kamu ketemu sama Bapak, ibu kamu tidak akan mengizinkan.
Tapi, ya…
Pak, saya butuh cincin itu sekarang.
Cincin ini akan tetap di tangan Bapak.
Tolong mengerti situasi saya. Ya?
- Itu pacar saya! - Kamu yang harus mengerti situasi Bapak.
Cincin ini tetap di sini.
Ryan.
Ryan!
Bangsat!
Ryan!
Ryan!
- Elsa. - Ben.
Ryan mana?
Aku enggak tahu, Sa.
Kamu itu bagaimana, Ben?
Kamu sebenarnya mengerti atau tidak, sih?
Hidup dan matinya Alana tergantung sama cincin itu, Ben.
Kamu pikir mudah mendapatkan cincin itu?
Kamu enak di sini, sedangkan aku sama Ryan…
Aku sama Ryan harus melihat setan-setan yang menyeramkan, aku babak belur.
Kamu bilang aku enak-enakan?
Aku…
Aku hampir membunuh ibunya Ryan, Ben.
Kamu gila, ya?
- Untung saja tadi ada Pak Karsidi. - Ben.
Ryan ke mana?
Dapat cincinnya?
Aduh.
Aduh.
Perhatikan kalau lagi jalan! Jangan sembarangan!
- Maaf, Pak. - Sembarangan!
Maaf, maaf!
Selepas waktu magrib,
pagar pembatas sudah tidak bisa lagi digunakan.
Al.
Berhenti, dasar setan!
Kamu menantangku?
Al!
Al!
Jangan bunuh temanku!
Alana!
- Jangan bunuh temanku! - Al!
- Alana! - Al!
- Turun, Alana! - Alana!
Al?
Alana!
Alana.
Alana.
Al.
Al.
Minggir.
Alana, bangun.
Bangun, Al.
Al, bangun!
- Bu. - Tante.
Tante.
Tante.
Sukma temanmu…
tertahan di alam gaib kekuasaan Pulung Gantung.
Pasangkan cincin Ki Sangkut di jari perempuan ini.
Ingat…
dia cuma punya waktu dua jam.
- Tante. - Bu.
- Tante. - Ibu.
- Ibu. - Tante.
Alana.
- Cepat, Ryan. - Ya.
Iya.
Ini aku, Marlina.
Kamu…
Kembalikan cincinnya!
Diam kau!
Anakmu sudah cerita semuanya?
Iya.
Dan kamu berhasil
membuat Ryan datang ke sini.
Kamu yang mulai.
Kamu penyebab semuanya.
Pengkhianat!
Dan apa pun yang terjadi,
aku rela berkorban nyawa untuk anakku.
Kembalikan cincinnya!
Pak.
Alana masih ada kesempatan untuk hidup lagi.
Jadi, tolong.
Kasih cincinnya.
- Diam kamu! - Mas!
Kejar, Ryan!
Bapak.
Bagaimana?
- Kita jadi ke hutan selatan? - Iya.
Kita harus segera hentikan Pulung Gantung.
Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan cincin itu?
Aku tidak akan menyia-nyiakan cincin ini.
Cincin sakti Ki Sangkut ini
bisa menguasai
makhluk gaib, perewangan,
setan.
Dan aku akan sakti seperti Ki Sangkut.
Kamu tahu konsekuensinya?
Kamu tidak perlu mengajariku, Karsidi.
Aku tahu.
Mereka gak ada, Ben.
Ke mana si anjing itu?
Anakku itu rupanya pantang menyerah.
Kita berangkat sekarang?
Sebentar.
Aku akan memanggil
mereka yang tidak bernyawa.
Oke. Kita kembali saja. Ya?
Itu…
- Anjing! - Ben!
- Ryan! - Kita harus pergi!
- Kita harus keluar. Ayo, Yan! - Ayo, Ben!
Tolong!
Pak, tolong.
Nyawa Alana masih terancam.
Tolong, Om.
Kami pinjam dulu cincinnya,
kami selamatkan Alana, setelah itu kami kembalikan lagi.
Apa yang sudah terpasang
pantang dicabut lagi.
- Lepaskan! - Jangan ikut campur kamu!
Anak setan!
Lepaskan!
Dasar tua, lepaskan!
Maafkan aku, Pak.
Ayo kembali, Yan!
Ayo, Ben.
Ayo cepat.
Ryan!
Ryan!
Kamu harus kembali.
Kamu…
Kamu harus kembali, Al.
Elsa!
Elsa, kamu di mana?
Tolong.
Kembali, Al.
Bu, ini cincinnya.
Cincinnya.
Al.
Al, bangun.
Al!
Bangun, Al.
Al, bangun.
Al.
Bangun, Al.
Al, bangun.
Inna lillahi
wa inna ilaihi raji'un.
Bangun, Alana.
Al, bangun.
Alana.
Kamu enggak apa-apa?
Ryan.
- Alhamdulillah. - Alhamdulillah, ya, Allah!
Alhamdulillah.
Ryan!
Kasih cincinnya ke Bapak sekarang!
Jangan mimpi kamu.
Memang benar dulu kamu berteman dengan Ki Sangkut,
tapi kamu enggak akan pernah bisa memiliki kesaktian seperti Ki Sangkut.
Marlina.
Kamu yang menyebabkan aku seperti sekarang ini.
Aku memang egois,
tapi aku enggak bodoh seperti kamu.
- Bangsat kamu! - Tante!
- Tante! - Bajingan!
Ben.
Berhenti.
"Wa la taqtulu anfusakum."
Dan janganlah kamu membunuh dirimu.
Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.
Tapi, Pak,
orang-orang yang di Desa Kidul,
yang bunuh diri karena kerasukan Pulung Gantung…
itu bagaimana, Pak?
Bunuh diri termasuk dosa yang sangat besar.
Dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang rapuh imannya,
sehingga setan sangat mudah sekali untuk mengajak mereka
ke jalan yang sesat.
Sudah, Mas Ryan, diikhlaskan saja Bapak Mas Ryan.
Ridho.
Assalamualaikum, Bu.
Pakde, aku menemukan ini.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.