Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
TAHUN 2005
Wah, seperti Hulk. Rasanya seperti bukan perempuan.
Ya. Kalau Letnan Chu ikut Olimpiade,
mungkin dia yang mendapat medali emas, bukan Jang Mi-ran.
Benar juga.
Bulan lalu, waktu menangkap perampok toko emas di Myeongdong,
perampok itu langsung pingsan terkena pukulannya dan sampai sekarang masih koma.
Serius? Kalau nanti Letnan Chu menikah, suaminya pasti babak belur.
Mana mungkin? Justru tidak akan kejadian.
Siapa juga yang berani menikah dengannya?
Benar, Sersan Noh?
Hei, kalian sudah cuci muka? Kenapa wajah kalian kotor sekali?
Mandi dulu, sana!
Hei, kalian sedang apa?
Berkas kasus yang tadi kusuruh urus sudah selesai?
Hampir selesai, Bu!
Kenapa kalian selalu bilang "hampir selesai"?
Selesaikan sekarang juga dan laporkan. Laksanakan!
- Siap, Bu! - Siap, Bu!
- Hei, Sersan Noh. - Ya, Bu.
Ikut aku sebentar.
- Hei, Noh Kang-sik! - Ya, Senior!
- Ya, Senior? - Ya?
- Kau masih belum sadar juga, ya? - Belum, Bu.
Sepertinya kau perlu diajari.
Sayang, aku sudah bilang kalau cuma berdua, bicaranya santai saja.
Sayang, maksudku Senior!
Aduh, bagaimana ini? Sayang.
Aku tidak masalah dengan itu, tapi bagaimana kalau ketahuan?
Siapa juga yang lihat? Kita cuma berdua di sini.
Tetap saja, kita akan malu kalau sampai ketahuan.
Letnan Chu! Kepala Kepolisian sedang…
- Ada apa? - Ya.
Kepala minta laporan soal kasus perempuan di Ssangmun-dong.
Katakan padanya aku segera ke sana.
Nah, begini cara memasang borgol yang benar!
- Paham, Noh Kang-sik? - Ya, Bu!
Hei, cepat keluar. Cepat!
Sayang, maafkan aku. Aku juga kaget tadi.
Sayang, lenganku copot.
Tapi kalau kau bisa memasangnya lagi, rasanya pasti bisa sembuh.
Bagaimana kalau aku tiup dulu?
Sayang.
Ya ampun, apa-apaan ini…
Maaf, Bos besar Geng Chilseong yang masuk daftar buronan muncul di Big Scale!
- Noh Kang-sik, ayo! - Siap, Bu.
Senior.
Hei, cepat keluar!
Baik. Tim 2 tetap siaga di luar, Tim 1 masuk bersamaku lebih dulu.
Aku akan masuk ke ruangan lebih dahulu.
Pastikan tak ada orang lain masuk. Jaga dengan baik.
- Baik, dimengerti! - Baik, dimengerti!
Tim 2, siapkan alat tambahan. Kalau ada aba-aba, langsung masuk.
- Siap! - Siap!
Wah, cantik-cantik sekali.
Baik, saatnya memilih! Beri salam dari kiri dulu.
- Kenapa perempuan di sini begini semua? - Baik. Maafkan aku.
Aku akan segera memanggil rombongan berikutnya.
Apa ini? Di tempat ini, koki pun ikut tampil?
Masa disebut koki? Tuan, aku sakit hati, tahu.
Kenapa? Kecewa karena bukan tipemu?
Padahal aku sudah membawakan ini khusus untukmu.
Aku tidak bisa minum alkohol, jadi aku tuangkan soda ini, ya.
Terimalah.
Suruh dia keluar!
Kau tidak suka Chilseong Cider, ya?
Aku akan segera mengusirnya, Bos! Hei, koki. Keluar, sana!
Kau tidak suka Chilseong Cider karena tergabung di geng Chilseong, ya?
Hei, kau siapa sebenarnya?
Aku? Dari Tim Kejahatan Berat 2, Kepolisian Donam, Seoul…
Apa?
Letnan Chu Kyeong-ja.
Hari ini, saatnya pembalasan bagimu.
Sialan!
Bagus!
- Hei, kau memanggil ambulans berapa? - Cuma satu.
Astaga, lihat situasinya! Mana cukup satu? Panggil sebanyak mungkin!
- Panggil lagi? - Cepat panggil, dasar bodoh!
Kau…
Cukup, ayo kita akhiri saja.
- Noh Kang-sik! - Ya, Senior!
Minggir! Sialan!
Minggir, cepat!
Minggir!
Astaga.
Hei, tunggu aku!
Hei, tak ada tempat lagi bagimu untuk lari.
Keluar sekarang.
Ayo turun bersama dengan tenang, sebelum aku kehilangan kesabaran!
Berhenti! Letakkan pisaunya!
Letakkan sekarang juga, dasar bajingan!
Dia sudah mati?
Bagaimana ini?
Sial.
Sayang, aku harus bagaimana sekarang?
Aku yang akan tangani ini. Sersan Noh, turunlah sekarang.
Apa maksudmu? Ada yang tewas. Ini bukan hal sepele.
Sial.
Biarkan aku yang bertanggung jawab. Kau turun saja.
Aku yang menyebabkan ini karena mencoba menyelamatkanmu.
Aku pun ikut bertanggung jawab.
Aku punya banyak prestasi.
Jika aku menjelaskan situasinya, mungkin hukumannya hanya skorsing.
Jadi, pergilah. Sekarang.
Sayang, ini bukan cuma skorsing!
Ini bisa menghancurkan kariermu!
- Kalau kau dipecat, bagaimana jadinya? - Noh Kang-sik.
Kalau begitu, kau saja yang menafkahiku nanti.
Sayang.
Aku yang menembaknya.
Halo, Semuanya.
Terima kasih atas kerja kerasnya. Ya, terima kasih.
- Untuk apa kau ke sini? - Karena kau tidak menjawab teleponku.
Selamat siang, Senior.
Kami sering mendengar tentangmu.
Merupakan kehormatan bagiku bisa bertemu langsung.
Selamat siang.
Ya ampun. Kehormatan apa? Sudah lama aku pensiun.
Hei. Ayo, keluar. Ayo pergi.
Sampai jumpa lagi, Senior.
Tetap semangat, ya. Terima kasih atas kerja keras kalian.
Kau langsung pulang, kan?
Ya. Nanti malam, aku akan memasak budae-jjigae kesukaanmu.
Sampai nanti, ya.
- Chu Kyeong-ja. - Ya?
Kau tidak menyesal?
Menyesal apa?
Tidak, tidak jadi. Sudahlah, jalan saja.
KEPOLISIAN GWANGJUSEON
Kalau terlalu membebani sendi, nanti menyesal di usia tua.
Kalau tidak mengatur napas, bisa cedera.
Bagus. Sekali lagi.
- Rasanya lega, kan? - Tidak, ini berat sekali.
Berat, ya?
Aku sudah selesai sesi PT gratis hari ini dan rencananya ingin mendaftar.
- Ya. - Tapi bisa mendaftar dengan pelatih lain?
Tentu saja boleh. Tapi aku ini pelatih utama di gym ini.
Mantan peraih medali emas di kejuaraan renang nasional.
Aku tahu apa yang kau pikirkan.
Tapi percayalah, pada akhirnya kau pasti akan kembali kepadaku.
Jadi percayalah, mendaftarlah. Aku jamin tubuhmu akan berubah total.
Tapi sepertinya kau juga perlu membentuk badanmu dulu.
Ini memang aku sengaja kecilkan, biar ototnya kelihatan lebih jelas.
Tubuh pelatih itu bagus sekali, ya.
Kelihatannya agak berlebihan, ya? Itu cuma otot air, bukan otot padat.
Bagaimana bisa mengangkat seberat itu? Gila, hebat sekali.
Itu biasa saja. Pelatih mana pun bisa begitu.
- Kau juga bisa? - Tentu saja bisa.
- Kenapa? - Boleh kau coba?
Ya ampun. Kau ini menggoda saja. Biar aku tunjukkan langsung.
- Chung-gu. - Ya.
- Bergantian. - Itu berat.
Berat apanya? Lihat baik-baik.
Ini namanya barbel.
Pegang selebar satu telapak tangan.
Kalau siku keluar, bisa cedera.
Jaga posisi 90 derajat, lalu satu, dua, tiga.
- Biar aku bantu sedikit, ya. - Lepaskan.
Angkat!
Nah. Lihat, kan? Lihat…
- Pelatih, kau tidak apa-apa? - Daftar saja dengan dia.
Aduh, ya ampun.
Ini, lihat mobil merah menyala ini.
Kalau tak bisa parkir seperti ini, kenapa juga naik mobil impor?
- Astaga. - Ayo kita lihat.
Tidak tahan rasanya. Lagi-lagi, nomor 8279 ini.
- Astaga. - Halo, Bu.
Astaga, yang benar saja.
Apa mobil luar negeri itu semacam status sosial, ya?
Sejak tiga minggu lalu, mobil itu selalu parkir menutupi dua lahan.
Seolah-olah area ini adalah tempat parkir pribadinya.
Wah, ini memang ulah manusia tak beretika.
Siapa yang berani parkir begitu di apartemen kita?
Ternyata apartemen kita juga punya "penjahat parkir".
EPISODE 2 PERANG DENGAN PENJAHAT PARKIR
Pekerjaan paruh waktu untuk ibu rumah tangga.
Kerja dari rumah.
Penghasilan satu juta per bulan dari usaha sampingan.
Penghasilan sesuai pekerjaan.
Wah, ini pekerjaan idaman.
Aduh, gajinya kecil. Padahal, lokasinya dekat. Sayang sekali.
Aduh, ada arwah penasaran yang belum sempat kerja paruh waktu, ya?
Kalau sedang makan, makanlah dengan tenang.
Saat makan, aku makan dengan tenang.
Aku harus segera jalan lagi.
Ini, ke Blok 205, Unit 1002, ya.
- Ji-hyun. - Kalian sudah datang?
- Nah, kalian makanlah ini. - Wah, terima kasih.
- Kalau begitu, aku ambil yang tomat, ya. - Aku makan, ya.
Ya, silakan.
- Enak, kan? - Manis sekali.
Ini buatanku sendiri.
Wah, kalian semua di sini rupanya.
- Kalian sudah di sini? - So-hee.
Pengantaranku untuk hari ini sudah selesai.
- Kerja bagus. - Ini, kau juga ambillah satu.
Pas sekali saat aku sedang membutuhkan gula. Terima kasih banyak.
Tapi tadi waktu aku lewat, aku melihat Bu Ketua Perkumpulan sedang kesal berat.
- Kenapa? - Ada mobil yang parkir seenaknya...
...menutupi dua tempat parkir.
- Mobil BMW merah itu, ya? - Apa?
- Sudah kuduga. - Kau tahu? Kau juga melihatnya?
Duh, jangan tanya. Itu benar-benar biang kerok parkir.
Katanya pindah tiga minggu lalu dan terkenal karena cara parkir buruknya.
- Apa? - Dia pernah parkir di jalan masuk...
...sampai mobil lain tidak bisa lewat.
Lalu seminggu lalu, dia parkir dobel dan menguncinya dengan rem tangan,
sampai satu lingkungan ribut besar.
- Pindahkan mobilnya. - Bagaimana ini?
SEMINGGU LALU
Kenapa dia tak mengangkat teleponnya?
Ketua Perkumpulan sampai terlambat ke pernikahan anak sulungnya,
sampai tidak bisa ikut prosesi masuk keluarga dan penyalaan lilin.
Ya ampun.
Truk sayur milik Pak Tua dari Blok 1 No. 103 tidak bisa keluar,
akhirnya tidak berjualan sama sekali hari itu.
Anak dari keluarga di Blok 2 No. 101 sakit dan harus ke rumah sakit,
tapi si tukang parkir ngawur itu tidak mau mengangkat telepon,
sampai-sampai harus memanggil ambulans.
Ya ampun. Jadi, ambulans yang datang waktu itu gara-gara itu?
- Itu keterlaluan sekali. - Benar-benar tak masuk akal.
Saat mengantar makanan, aku sempat melihat pemilik mobil itu.
Dia mengenakan cardigan bermerek yang ketat sekali sampai tak enak dilihat,
penuh aksesori emas di tangan dan leher, dan membawa tas khas penagih utang.
Ada tato juga di badannya. Benar-benar seperti preman.
Tunggu, apa dia preman atau gangster?
Semoga aku bisa menghadapinya, biar dia kapok.
- Di rumah ada makanan? - Ada. Apa kau lapar?
Lapar sekali.
Ayo kita masuk.
Sial. Siapa yang parkir di tempat khususku ini?
Sayang, kau datangnya telat. Parkir di tempat lain saja.
Masa aku harus parkir di tempat lain?
Ukuran tempat ini pas sekali untuk mobil kesayanganku.
Jauh dari pohon, jadi tidak kejatuhan kotoran burung.
Dekat pintu masuk juga, jadi praktis.
Sial, ini membuatku kesal saja.
- Sayang. - Kenapa?
Kau pasti MBTI-nya J. Terencana sekali.
- Keren sekali, kan? - Keren sekali.
Di mana aku harus parkir sekarang? Membuatku stres saja.
Ya ampun.
Ya sudah, parkir di mana saja. Ayo cepat jalan.
Ya, baik.
- Lewat sini saja. - Ya, lewat situ.
Apa? Astaga, apa ini?
Wow.
Dasar gila.
Siapa bajingan yang berani-beraninya melakukan ini ke mobilku?
Ya ampun, dia benar-benar berniat jahat.
Siapa yang melakukan ini?
- Sayang, aku lapar. - Kenapa ini?
- Mau makan apa? - Siapa mereka ini?
Malatang?
Kau ini, makan malatang terus.
Wah, ada yang menempelkan permen karet di mobilmu, ya?
Bu, jangan-jangan ada yang menyimpan dendam denganmu?
Hei, kau tahu orangnya?
Makanya, jangan suka mencari masalah.
Kenapa kau malah memperumit masalah?
Sial. Ayo masuk.
- Hei, kau! - Kau cantik sekali hari ini.
Apa-apaan ini? Lihat mereka.
Gila. Bagaimana aku bisa menghadapi manusia tanpa etika seperti gini?
Wah, tempat ini bahkan tidak ada CCTV-nya.
- Tunggu dulu. - Kyeong-ja, aku rasa aku tahu pelakunya.
PERMEN KARET
Permen karet ini laris, ya?
Tidak juga. Lihat, sudah berdebu begitu. Jarang ada yang mencarinya.
Tapi kalau tak salah, beberapa hari lalu, ada seseorang yang membeli beberapa.
Apakah orang itu bertubuh besar, berperut buncit,
tidak punya leher, dan punya tato seperti ini?
Bagaimana kau tahu?
Si bajingan gendut itu. Benar-benar kurang ajar.
Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang seperti itu.
Astaga.
Tapi bagaimana kau bisa tahu itu permen yang sama?
Warna permen karet yang menempel di mobil Kyeong-ja agak merah menyala.
Itu artinya bukan permen biasa,
melainkan jenis permen karet dengan banyak pewarna sintetis seperti cat manis.
Lalu, aku melihat lidah pria itu merah sekali.
Saat itu, aku langsung yakin.
Sekarang kita sudah tahu pelakunya. Lalu, apa rencanamu?
Apa lagi? Tinggal kita balas saja.
Jangan khawatir. Aku sudah punya rencana.
Wah, kenapa jokbalnya ada banyak begini?
- Kau suka jokbal, kan? - Apa? Ini ada acara apa?
Tidak ada acara apa-apa.
Tadi aku lewat depan Blok 3 dan ada truk jokbal yang baru masak.
Aku langsung membungkuskan yang ukuran besar.
Masih hangat.
Ini aneh.
- Ini mencurigakan. Pasti ada sesuatu. - Ya ampun. Ini cuma jokbal.
Baiklah, katakan sebenarnya.
Yah, instingmu memang tajam.
Jadi, begini.
Tadi ada bajingan yang menempelkan permen karet di mobilku.
Tidak perlu jauh-jauh mencari kriminal. Dia ada di sekitar kita.
Makanya aku mau meminta tolong.
Aku tahu plat nomornya.
Bagaimana kalau kau membantu menilang orang itu?
Sudah kuduga. Kau lagi-lagi membuat masalah.
Aku ini sedang pusing dengan tumpukan kasus di kantor.
Lagipula zaman sekarang, kau pikir itu gampang?
Jorok sekali.
Kadang-kadang kau itu lebih menyebalkan dari orang asing.
Bahkan Mi-ri yang baru pindah pun langsung menawarkan bantuan buat balas dendam.
Mi-ri? Yang dari Blok 213 nomor 1004 itu? - Ya.
Aku bisa. Satu kali lagi.
Ya ampun, baunya. Kau minum sampai sebanyak itu?
Bersama anggota.
Dengan anggota.
Anggota, anggota terus.
Astaga.
Bangun.
Aduh.
Kau membayar sopir pengganti?
Kau bayar berapa?
Aku tidak tahu... tidak tahu...
Jangan-jangan kamu berikan semua uang di dompet, ya?
- Sial. - Tidak.
Sudah kuduga! Dasar!
Astaga.
Tidak, tidak.
- Kartu? Mana kartunya? - Entahlah, mungkin di suatu tempat.
- Di suatu tempat itu di mana? - Tidak tahu.
Astaga, kau tidak bisa hidup seperti ini!
Dasar manusia ini! Sadar sedikitlah!
Ya ampun!
- Sakit... - Astaga!
Tuan, itu sakit...
Aduh, ya ampun. Di mana jatuhnya?
Jangan-jangan hilang di tempat lain?
Aduh, jangan sampai.
Aku bisa benar-benar gila.
Sialan, gila. Ini siapa lagi yang parkir di tempatku?
Oke.
Oke.
- Halo? - Hei, bantu aku sebentar.
- Apa? - Lihat mobil butut di sebelah kiri?
Ketemu juga.
Park Seungho, kau harus kena batunya biar bisa tobat!
Astaga, membuatku stres aja!
Apa ini? Siapa yang parkir seburuk ini?
Astaga!
Aduh, bagaimana ini?
Ya ampun, mereka sudah gila, ya?
Aduh, ponsel juga ketinggalan.
Tidak mungkin aku menendang atap mobil juga.
Apa-apaan ini?
Kenapa mati?
Baterainya habis? Jangan sampai habis.
Ya ampun.
Aku terjebak? Aku benar-benar terjebak?
Park Seung-ho…
Permisi.
Ada orang terjebak di dalam mobil.
Ada orang di luar tidak, ya?
Aduh, maaf ya.
Halo. Ada orang di sini.
Pak. Terima kasih banyak.
Kau sedang apa di dalam mobil? Ini sudah larut malam.
Aku terjebak di dalam mobil dan baterainya habis.
Mobil di sebelah sini dan yang di depan, semuanya menghalangi.
Bisa tolong bantu dorong mobil di depan, Pak?
Tunggu sebentar.
Ya, terima kasih.
Wah, sepertinya rem tangannya dipasang.
- Apa? - Ya, mereka memang sering begitu.
Kalau begitu, boleh bantu meneleponnya?
- Duh, sepertinya ditolak. - Apa?
Dia tak mengangkat teleponnya.
Kalau begitu, bisa bantu telepon ke mobil sebelah, Pak?
- Tidak ada nomor yang ditempel. - Apa?
Yang ini ada nomornya. Aku coba, ya.
Ini sepertinya nomor toko.
Kumohon, tolong diangkat.
Aduh.
Tidak dijawab juga. Bagaimana ini?
Tidak dijawab?
Pak,
boleh pinjam ponsel sebentar saja untuk menelepon rumah?
Tentu saja.
Park Seung-ho, sungguh keterlaluan.
- Nomor yang Anda hubungi… - Park Hyun-ji.
Sungguh, keluarga Park ini semua sama saja.
Aduh, Mi-ri.
- Astaga. - Ji-hyun.
Sempit sekali, astaga. Apa-apaan ini?
Belum pernah aku seperti ini. Dingin sekali.
Mi-ri, bertahanlah sedikit lagi. Pak Kim sedang naik ke rumahmu.
- Ya. - Preman itu benar-benar keterlaluan.
Maksudnya, jangan disentuh, ya?
Aku sudah naik ke atas dan terus menekan bel, tapi tidak ada jawaban.
Kalau begitu, tolong panggilkan mobil derek saja.
Ini wilayah milik pribadi, Bu.
- Tidak bisa dilakukan penderekan. - Apa?
Kalau parkir ilegal di properti pribadi, polisi pun tidak bisa berbuat banyak.
Ya ampun, hukum harusnya diperbarui.
Aku akan coba cek dulu apakah bisa disiarkan lewat pengeras suara.
- Terima kasih banyak. - Terima kasih banyak.
Ya.
Kyeong-ja, sepertinya aku dalam bahaya.
- Dia bilang dia dalam bahaya. - Kenapa?
- Aku tidak bisa menahannya lagi. - Dia tak tahan lagi, katanya.
- Aku bisa meledak. - Meledak… Apa?
Mi-ri. Di belakang. Lihat belakangmu.
Bagaimana caranya pakai ini?
Tolong carikan yang lebih baik.
Cepat.
- Kau masih bisa menahannya? - Ini sudah level siaga satu.
- Tahan, tahan, tahan. - Ya ampun, Kyeong-ja.
- Oke, oke, oke. - Ke sini.
Ini takkan bisa masuk.
- Memang tidak bisa masuk. - Tidak bisa.
Coba tarik sedikit, tarik sedikit.
Ya Tuhan.
- Tunggu, aku cari lagi. - Cepat, ya.
Tolonglah, siapa pun. Selamatkan aku.
Aduh, aku lupa. Masih ada ini. Nah, pakai kantong ini.
- Apa ini satu-satunya cara? - Mau bagaimana lagi?
Lebih baik ini daripada di celana, kan?
Ini bisa masuk, cepat.
Kantong dari toko kami kuat.
Astaga, sial. Aku sungguh minta maaf.
- Sudah datang. - Ini bisa dipakai.
- Nah, terimalah. - Ini yang terbaik. Cobalah.
Kau bisa.
- Kau pasti bisa. Ayo! - Cepat.
- Kalian berbaliklah. - Kita cuma bertiga.
- Berbaliklah. - Berbalik.
- Ji-hyun. - Ya.
Mi-ri mungkin malu. Jadi, kita menyanyikan lagu saja.
Oke, aku yang menyanyi, ya?
♪ Rok merah muda terbang ♪
♪ Tertiup angin musim semi. ♪
Dia ini kenapa, ya?
Kenapa selalu menyanyikan lagu itu?
Park Seung-ho, aku takkan mengampunimu.
♪ Di jalan Sangsungdang ♪
♪ tempat burung layang-layang hidup bebas ♪
♪ Bunga mekar ♪
- ♪ Tertawa bersama ♪ - ♪ Tertawa bersama ♪
♪ Bunga berguguran ♪
♪ Bunga berguguran ♪
♪ - Menangis bersama ♪ ♪ - Menangis bersama ♪
♪ Dalam janji penuh makna itu ♪
♪ Hari musim semi pun berlalu ♪
- Sudah selesai? - Kau baik-baik saja?
Aku takkan membiarkannya berlalu begitu saja.
Aku akan membalas dendam pada bajingan itu.
Oke, aku siap.
- Kau, si gendut bertato. - Hari ini kau akan mati.
Siap? Satu, dua, tiga.
Kenapa ini? Sialan.
Cuma sandiwara.
Apa? Itu mobilmu? Apa perempuan itu sudah gila?
Lihat saja, ini cuma akting. Mereka hanya berbohong.
Kalau benar, dia bisa kena tuduhan perusakan properti.
Ditangkap polisi.
Masih belum ada respons?
Sepertinya sudah dibaca, tapi tidak dibalas.
Mi-ri, sekarang bagaimana?
Kita harus kirim sesuatu yang panas dan menggigit,
yang pasti membuatnya kesal.
- Oke. - Ya.
- Tunggu sebentar. Terima kasih. - Ya.
- Ji-hyun, potret yang bagus, ya. - Oke.
Satu,
dua, tiga.
Perempuan gila macam apa ini? Sialan.
Sayang, mengapa kau tiba-tiba mengenakan ini?
Astaga.
Nyonya, kau sudah gila? Mengapa mengangkat mobil orang lain, ya?
Aku cuma pemanasan saja.
Aku dulu pernah berolahraga, jadi ototku masih kuat.
Kalau mobilku sampai tergores sedikit saja,
aku takkan membiarkanmu lolos begitu saja.
Mobilmu?
Daripada mobil, lebih penting manusia.
Karena kau, ada orang yang terjebak di mobil semalaman.
Perempuan-perempuan ini sungguh menjengkelkan.
Apa? Kalau mau dipindahkan, ya bilang saja.
Mi-ri.
Apa?
Kau tidak mau minta maaf padaku?
Minta maaf? Apa itu?
Aku paling benci buah apel.
Kalau jenisnya anggur Shine Muscat itu lain soal.
Sayang, kau lucu sekali.
Memang lucu, kan? Sialan.
Sungguh menyebalkan, sialan.
Aduh, bising sekali.
Tidak mau minta maaf, ya?
Selamat datang. Ah, sangat menyenangkan.
Silakan masuk. Ya, ini bazar. Ya.
BAZAR IBU-IBU KOMUNITAS GWANGSEON JUGONG
Ayo. Kami mengadakan bazar. Ayo, masuklah.
Kami menerima barang dukungan untuk bazar.
Ya, kami menerima barang dukungan.
Terima kasih. Buku-buku ini sangat berharga.
Terima kasih. Ya.
Ini Ibu-Ibu Komunitas Gwangseon Jugong.
Sial.
Apa-apaan ini?
Cepat cari tahu, ya.
Mobil dari luar tidak boleh parkir di sini, kan?
Aku harus pergi. Mereka harus segera memindahkan mobilnya.
Kami tidak punya kontak pemiliknya. Akan segera kami urus.
Cepatlah cari tahu.
Aduh, bagaimana dengan janji malam ini? Aku harus pergi.
Apa kau lihat-lihat, sialan?
Sungguh bajingan paling berengsek, bukan?
Bagaimana kita harus menindak orang cabul dan menyebalkan itu?
Aku benar-benar tidak tahan melihat mereka berdua,
si pria bertato dan pacarnya yang seperti dua sejoli.
Waktu aku mengantar barang, aku lihat dia benar-benar sampah manusia.
Hei, mau ke mana? Bukan ke arah sana.
- Astaga. - ♪ Kau bodoh, sungguh bukan aku. ♪
Benar-benar gila. Menjijikkan.
♪ Kau bodoh, sungguh bukan aku. ♪
Mulai lagi.
Kenapa dia selalu begitu?
Apa? Ada uang hari ini. Sialan.
- Mau makan es krim? - Ya.
Jangan ke toko. Ke tempat yang aku bilang saja.
Aku sudah bilang semua.
Ayo pakai masker, cepat. Pakai masker.
Sudah ada antrean panjang, kan? Ini saja di sini.
Omsetnya sudah tiga ratus juta.
Ayo, kau juga datang dan bantu melayani.
Aku yang bayar.
- Hei, tolong pilah sampahnya. - Sial, aku sibuk sekali.
Ya ampun.
Pak, biar kubantu. Tolong berikan kepadaku.
- Terima kasih banyak. - Ya.
Daging hitam yang enak dari Jeju?
- Daging hitam yang enak dari Jeju? - Ya.
Itu restoran daging besar yang baru buka di persimpangan jalan utama, kan?
Aku melihatnya dari luar.
Jam makan siang selalu penuh sampai tidak ada tempat duduk.
Mau pesan satu lagi menu spesial makan siang?
Kalau pesan kimchi jjigae sebagai menu spesial makan siang,
dapat gratis satu porsi galbi.
Katanya, banyak selebaran yang dibagikan.
Wah, pasti dapat untung besar.
Enak sekali.
Makanya dia bisa naik mobil mewah dan pakai barang bermerek.
Sebanyak apa pun uangnya,
apakah masuk akal orang yang cari makan di lingkungan ini berbuat seperti itu?
Mendengar ceritanya saja bisa membuatku pingsan.
Ini apa, ya? Kenapa ada di dalam roti?
Wah, lucu sekali.
- Apa itu? - Stiker.
Aku harus punya.
- Aku sudah beri bintang 5, ya? - Bintang 5? Benarkah?
- Tentu saja. - Serius?
Sayang, siapa yang menempel stiker di mobilmu?
Apa ini?
Apa-apaan ini?
Siapa yang berani berbuat begini?
Aku bisa gila kalau begini. Bagaimana bisa begini?
Lihat. Cepat lepaskan. Jangan cuma diam saja.
Duh, kenapa kau menyuruhku? Kukuku nanti rusak.
Omong kosong. Cepat lepas!
Ayo cepat. Kenapa susah dilepaskan?
Dasar kumpulan wanita gila.
Bos sudah datang. Tapi mobilnya diparkir di mana?
Jangan banyak tanya. Aku benar-benar kesal.
Baik.
- Omong-omong, Bos. - Apa?
Tapi kapan kami bisa mendapat gaji bulan lalu?
Kau ini…
Apakah sudah sebulan? Setahun juga belum, kan?
Baru terlambat seminggu saja.
- Ya. - Kata siapa kau takkan digaji?
Bukan begitu,
- tapi… - Apa?
Kau bilang tiga bulan lagi nanti, gajinya sesuai upah minimum, kan?
Omong-omong, Beberapa hari ini, kau keluar lima menit lebih awal dari jam kerja.
Itu namanya mangkir kerja.
Bekerjalah dengan benar.
Siap.
Terima kasih.
Mangkir? Bukannya mangkir kerja?
Dasar bodoh.
Aduh, apa-apaan ini?
Aku tak tahan lagi. Aduh, aduh.
Aduh, ini kacau sekali.
Ayo kita bereskan ini. Aku benar-benar marah.
Mobilnya mewah, tapi pemiliknya murahan sekali.
Aduh, bodoh dan tidak tahu aturan.
Serius, ini tidak bisa dibiarkan lagi.
DAGING HITAM YANG ENAK DARI JEJU
Enak, kan? Ya, kan?
Ini daging yang kami datangkan langsung dari Jeju.
Silakan masuk.
Ayo. Bayar dulu.
Soju! Hei, Pak. Mau soju lagi?
Oh, kau datang lagi. Maaf, maaf.
Hei, kenapa kau membuang itu?
Itu sudah lewat tanggal kadaluwarsa.
Dasar bodoh, masa tidak menyayangi toko sendiri?
Ini baru kadaluwarsa seminggu.
Jangan, Bos.
Itu baunya menyengat.
Tidak apa-apa. Memang begini caranya.
Pergi sana, keluar!
Dasar cerewet. Kenapa tak ada rasa ikut memiliki tempat ini?
- Tolong tambah lauknya, ya. - Ya, tunggu sebentar.
Lauk rumahan kami enak sekali.
Makanannya bersih dan penyajiannya rapi.
Ya, memang bersih. Kalau ada yang kurang, bilang saja.
Begitu rupanya.
Ya ampun.
Dasar ibu-ibu gila.
Dari semua tempat yang ada, kalian malah datang ke sini.
Hei, ibu-ibu. Kalian mau meminta maaf karena telah menjahili mobilku?
Enak saja. Aku sudah melaporkan semuanya ke kantor polisi...
...atas tuduhan perusakan properti.
Bagus. Kami juga ingin melapor ke polisi.
Aku tidak salah apa-apa. Apa yang dilaporkan?
Salah kalian banyak sekali.
- Bagaimana ini? Perlu aku mulai duluan? - Ya.
DAGING HITAM YANG ENAK DARI JEJU
Daging hitam yang enak dari Jeju?
Apa-apaan ini?
DAGING ASAL DENMARK
Wah, orang yang benar-benar menarik.
Ada buktinya? Memangnya ada?
Kalau kau mau bukti, ini dia.
Ini dia.
ASAL JEJU
Dari mana kau mendapat ini? Ini fitnah.
Kalau kau mau berpura-pura tidak tahu, bagaimana dengan ini?
Tapi kapan kami bisa mendapat gaji bulan lalu?
Kau ini…
Apakah sudah sebulan berlalu? Setahun juga belum, kan?
Baru terlambat seminggu saja.
Baik. Terima kasih.
Selamat siang.
Omong-omong, Beberapa hari ini, kau keluar lima menit lebih awal dari jam kerja.
Astaga, itu maksudnya…
Itu namanya mangkir kerja…
Itu pelanggaran upah minimum dan penunggakan gaji.
Tapi aku bukannya tidak mau membayar.
Hei, Karyawan.
Hei, aku bilang aku mau bayar!
Dan menghemat itu boleh,
tapi kalau sampai menggunakan kembali lauk sisa, itu sudah keterlaluan.
Bicara apa kau?
Itu tidak benar. Omong kosong!
Tidak ada yang tersisa, tetapi kenapa lauk sisa digunakan lagi?
Nyonya, apa yang kau bicarakan? Tidak, bukan begitu. Ini bohong.
Ini baru kadaluwarsa seminggu.
- Itu baunya menyengat. - Tidak apa-apa. Memang begini caranya.
Kapan ini direkam?
Aku baru saja…
Kau melakukannya diam-diam, jadi kami juga diam-diam merekam.
Siapa yang merekam ini? Siapa?
Bukan aku. Dia.
Gajinya juga belum dibayar dua bulan.
Andai gaji mereka dibayar tepat waktu, kami takkan tahu sampai seperti ini.
Kami semua hidup dari upah per jam.
Maju kalian semua!
Aku akan menuntut kalian semua yang merekam tanpa izin.
Apakah pemilik tokonya ada di sini?
- Siapa kau? - Kami dari tim pengawasan.
Tim pengawasan?
Ya.
- Ada apa ini? - Kami dari tim pengawasan.
Ada laporan bahwa toko ini menampilkan informasi asal produk yang palsu...
...dan menggunakan bahan makanan yang sudah melewati tanggal kadaluwarsa.
Tidak, itu tidak benar. Tidak, tunggu sebentar.
- Ada apa dengan kedai ini? - Katanya penipuan tentang asal produk.
Jual daging busuk yang sudah lewat tanggal kadaluwarsa?
Berbisnislah dengan benar.
Aku takkan ke sini lagi.
SURAT PEMBERITAHUAN PENUTUPAN USAHA SELAMA 30 HARI
SURAT PEMBERITAHUAN PENUTUPAN USAHA SELAMA 30 HARI
Sial! Benar-benar sial!
Para perempuan gila ini benar-benar membuatku marah.
Aku tak akan diam saja.
Hei, kalian di mana?
Bawa semua mobil kalian ke kompleks apartemen sekarang juga.
Sekarang juga!
Siap, nama operasi terakhir, "Tikus di dalam perangkap."
Operasi dimulai.
Baiklah, hari ini kita selesaikan sekali dan untuk selamanya.
Dasar ibu-ibu gila.
Aku sudah hampir sampai.
Apa ini?
Pak Satpam, suruh mereka geser mobil ini.
Bannya bocor, jadi belum bisa dipindahkan sekarang.
Harus menunggu perusahaan asuransi datang.
Aduh, sialan. Pergi lewat pintu belakang saja.
Pintu masuk sudah terblokir.
Kena kau!
Apa-apaan ini?
Hei! Apa-apaan ini, Nyonya?
Apa-apaan ini?
Geser mobil kalian.
Kubilang, geser!
Dasar ibu-ibu gila.
Aku harus bagaimana?
Aku tidak tahu kunci mobilnya di mana. Pakaianku juga tidak ada kantongnya.
Aku takkan tinggal diam…
Apa? Dasar sialan.
Kalau kalian tidak mau mobil jelek ini rusak total hari ini,
cepat pindahkan mobilnya.
Temanku akan datang dan kami akan menghancurkan mobil kalian semua.
PENGUNJUNG - PENGHUNI
Apa-apaan ini? Pak, kalian mengerjakan apa malam-malam begini?
Kalian tidak bisa melihatnya? Kami sedang mengecat.
Panggil.
Bagus.
Ya sudah, mobilku juga sudah waktunya diganti.
Sekalian mendapat kompensasi, beli mobil baru saja.
Ya, hancurkan saja mobilku.
Bumperku juga lecet parah.
Kenapa kalian begitu kepadaku?
Serius. Apa ada orang yang terluka? Atau bahkan meninggal?
Kau masih belum sadar juga?
Teman-Teman, bagaimana kalau kita pergi minum bir saja?
- Bagus juga. - Setuju.
Mau ke mana?
Ibu-Ibu, pindahkan mobil kalian, baru boleh pergi.
♪ - Jika bunga bermekaran… ♪ - Ibu-Ibu!
♪ Jika bunga bermekaran… ♪
Sialan.
Aduh, aku mau ke kamar kecil.
Ini benar-benar menyebalkan.
- Halo? - Kenapa kalian belum datang?
Sialan. Karena kalian belum datang, aku…
Pokoknya cepat datang, ya.
Di pintu utama ada mobil antar-jemput TK yang menghalangi.
Mobil antar-jemput TK?
Ban mobilnya bocor.
Aku benar-benar sial.
Hei, lewat pintu belakang saja.
Tapi mobilku juga tidak bisa masuk lewat pintu belakang.
Dan aku harus menutup toko sebentar.
Hei, Bung. Makanya jangan usil terus.
Hei!
Jangan pergi begitu saja!
- Sayang. - Cepat katakan.
Kau bisa jemput aku, tidak? Aku ada di tempat parkir Gwangseon Jugong.
Gwangseon? Siapa ini, ya?
Ini benar-benar mendesak. Tolong datang kemari, ya?
- Tunggu sebentar, ya? - Santai saja.
Kau sedang bersama siapa?
Di sini sinyalnya jelek. Tadi kau bilang apa?
Apa-apaan ini? Halo?
- Tidak kedengaran apa-apa. - Kau pergi dengan siapa? Halo…
Apa-apaan…
Kenapa ini?
Aku tidak bisa telepon asuransi? Sialan!
Oh, tidak!
Sial.
Aduh, dingin.
Mana bensinnya juga habis.
Baterainya pun habis.
Sial.
Astaga, dingin sekali.
Aduh, mana boleh begini?
Hei, ada orang?
Pak Satpam! Tolong!
Astaga!
Kena kau.
Aduh, maafkan aku.
Aku berjanji takkan mengulanginya lagi.
Kumohon, tolong biarkan mobilku keluar.
Orang yang tak bisa diberitahu baik-baik, harus mengalami langsung supaya sadar.
- Sudah cukup menyesal, kan? - Ya.
Jangan menyusahkan orang lain, ya. Kami akan mengawasimu.
Ya, aku akan mengingatnya. Tolong, cepat pindahkan mobilnya.
Ayo pindahkan. Sepertinya memang mendesak.
Terima kasih.
Wah, datang lebih pagi hari ini. Terus maju, ya.
Terima kasih bantuannya.
Baik.
Di depan Blok 212, ada tempat kosong untuk satu mobil.
Oke. Ayo. Ayo.
Pelan-pelan saja. Santai!
Pelan-pelan, oke!
Ibu-Ibu, sudah sampai, ya?
- Kau tetap bekerja keras ya. - Bekerja keras apanya?
Kalian turunlah. Biar aku yang memarkirkannya.
- Tidak usah repot-repot. - Turunlah.
Ya, kau serius?
Hei, Pak. Jangan parkir ganda seperti itu.
Pindahkan mobilnya. Ya, tolong pindahkan.
Silakan masuk. Nanti aku antar kuncinya ke rumah.
- Oke, terima kasih. - Baik.
Kelihatannya dia sudah sadar.
Ya, tapi anehnya, ada sisi lucunya juga.
Aku mau jemput anakku dulu.
- Hati-hati, ya. - Ya.
Selamat siang.
Kau penghuni di 1004, ya?
Terima kasih banyak atas bantuannya kemarin.
- Sama-sama. Kita saling membantu saja. - Ya ampun.
Aku permisi masuk dulu.
- Silakan masuk. - Ya.
Ya ampun, orangnya ramah sekali.
Apa dia orang baru yang pindah ke rumah itu?
Ya, benar.
Beruntung sekali ada orang baik yang pindah.
Aku rasa dia tidak tahu soal kejadian itu, ya?
Entahlah, sepertinya begitu.
- Sudah kubilang, itu tidak benar. - Memang benar.
Mau makan ttteokbokki?
Tteokbokki? Tidak, aku ada ujian dan les sudah dimulai.
Cuacanya sangat bagus.
- Apa-apaan ini? - Apa?
Apa-apaan kau?
- Hei, jangan lari. - Mi-ri.
Hei, jangan lari. Dasar orang gila. Berhenti!
Berhenti. Hei…
- Aduh, sialan. - Jangan lari!
- Kejar dia! - Berhenti.
Tunggu!
Jangan lari!
Hei!
Berhenti mengikutiku! Aduh, sialan.
Kejar dia!
PABRIK LOGAM
Mi-ri.
- Mi-ri. - Pak, di sini.
- Ayo, ikut. - Kejar pelaku.
Aduh, kami sibuk sekali. Ada apa ini?
Kami sudah mengumpulkan kalian, tapi yakin dia masuk ke sini?
Siapa yang masuk? Kami sedang bekerja.
Kami harus mengirim barang sampai malam ini.
Kami tidak punya waktu untuk ini.
Apa yang kalian lihat?
Yang mana orangnya?
Pak polisi…
- Anak itu dari mana? - Astaga.
Sudah yakin, kan?
Ayo semuanya, kita bicara di dalam.
Apa yang mau dibicarakan?
Ayo masuk dan cepat bicara.
- Baik, baik, cepat masuk. - Yang benar saja.
- Apa maksudnya ini? - Ya, kenapa jadi begini.
Ya ampun.
Itu barangmu, bukan?
Maaf, tolong maafkan aku.
Apa yang sudah kau lakukan?
Maafkan aku. Aku mungkin sedikit gila, tolong maafkan aku.
Ayo ikut ke kantor.
Hei, Kim Kyung-hee, dia pelakunya? Gila.
Wah, kau hebat sekali, Mi-ri. Bagaimana kau tahu?
Aku lihat ukuran si pria bertopeng itu sebesar MP3 ini,
jadi aku minta polisi...
...mencari yang ukurannya sebesar itu.
Tapi aku agak lapar. Ayo kita makan sesuatu.
Mi-ri, mau makan tteokbokki di rumahku?
- Tteokbokki? - Ya.
- Mau sekali! - Ayo!
Ta-da! Makan yang banyak, ya?
Terima kasih.
Sama-sama.
Ayo makan.
Bagaimana rasanya?
Wah, enak sekali. Kau juga harus mencobanya.
Ibumu pandai memasak.
Ya, kan? Kalau buka warung jajanan, pasti laris.
Ya, betul.
Setelah ini, kita jalan-jalan, yuk?
Mau ke mana, Ji-eun?
Ji-eun?
Ji-eun, kenapa kau diam? Ji-eun.
Ji-eun, lihat aku!
Apa ada orang di sini?
Ji-eun, kenapa kau? Ji-eun.
GARIS POLISI - DILARANG MASUK
TIGA BULAN LALU
Kalau ada hal yang aneh, segera laporkan.
Siap, kami akan bekerja dengan baik.
HANYA UNTUK TRUK PEMADAM KEBAKARAN
OBAT KERAS HANYA DENGAN RESEP DOKTER
- Coba periksa obat ini. - Ya.
Ini Zolofut, obat yang digunakan di bagian psikiatri.
- Psikiatri? - Ya.
Anak perempuannya dua? Aduh, bagaimana nasib mereka?
Luas sekali.
Benarkah harga rumah ini semurah itu?
Pemilik rumah sedang dalam keadaan darurat, jadi dijual cepat.
Aku asumsikan tidak ada masalah tersembunyi, kan?
Tak ada masalah apa pun, pemilik sangat rapi,
jadi rumahnya seperti baru.
Ini memang sangat bersih.
Indah sekali pemandangannya.
Ini lantai favorit, jadi unit seperti ini sangat langka.
Yang cepat mendapatkannya, dia yang beruntung.
HANYA UNTUK TRUK PEMADAM KEBAKARAN
Aku ambil unit ini.
TERIMA KASIH ATAS PENAMPILAN SPESIAL DARI KIM MIN-HO, KIM JUN-HYUN, MOON-HEE
Kau tidak boleh mengabaikan kebaikan temanmu.
- Dia mungkin dirundung di sekolah. - Apa?
Aku takut kau merasa kesepian dipukuli sendirian.
Aku sengaja panggil dia biar kalian kuhajar bersama.
Tolong hentikan!
- Serang! - Ternyata preman sialan berkumpul semua.
Kami akan membantumu.
Tolong jangan lakukan apa-apa.
Itu lantai atas.
Kupikir tidak ada yang menangkap di gerbang depan.
Ada dua laporan masuk tentang keberadaan orang cabul di lingkungan ini.
Kami masih di bawah umur, apa pun yang kami lakukan, tidak akan dihukum.
Setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.