Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
UGD RUMAH SAKIT BR PATIL TITIK ANTAR
Ayo! Bawa mereka!
- Dokter bedah ke ruang operasi! - Minggir! Beri jalan.
Dokter bedah ke ruang operasi!
- Isap. - Tambah kasa.
Jepit.
- Tensi menurun! - Darah... Tahan!
Spons kasa!
Cepat ambil forsep.
- Napasnya? - Aman. Tutup lukanya.
Rana, dokternya datang.
Untungnya, organ vital Tej aman.
Peluru menembus tubuhnya.
Perdarahannya hebat, tapi setelah transfusi, kondisinya stabil.
Kalau Tasneem?
Beberapa jam ke depan akan jadi masa kritisnya.
Kenapa, Dokter?
Pelurunya bersarang di tulang punggung bawah.
Ada risiko cedera saraf tulang belakang dan potensi komplikasi saraf.
Pelurunya sudah diangkat, tapi...
Bayi dia... Bayi kami?
Saat ini belum bisa disimpulkan.
- Baik. - Terima kasih.
- Hei! - Jaffa!
- Aku tak apa. - Tenang.
Jaffa!
Halo, Bung.
Setelah ini apa, Bung Rauf?
Aku siap menembaknya. Perintahkan saja. Bukan cuma dia, tapi seluruh keluarganya.
Apa-apaan ini?
Kau ketakutan naik pesawat?
Apa untungnya naik bus dua hari?
Sudah tahu kejadian kemarin?
Soal Farukh dan Abdul?
Sudah.
Andai kau sudah di sini,
mereka pasti masih hidup.
Rana Naidu sialan itu tak akan tinggal diam soal Toofan.
Kini dia sadar aku tahu putrinya melihatku malam itu.
Anak itu berhasil lolos dari sergapan kami.
Sekarang tugasmu membunuhnya.
Mengerti?
Ini alasanku tidak naik pesawat.
Habisi mereka semua.
Anak itu dulu, lalu keluarganya.
RANA NAIDU
RUMAH SAKIT BR PATIL
- Dilaporkan? - Atas pembunuhan Paritosh.
Hubungi aku jika ada perkembangan di sana.
Baik.
Itu tadi polisi? Mereka mau memberikan perlindungan, 'kan?
Naina, jangan melibatkan polisi.
Yang benar saja.
Kau bilang Rauf bisa saja menyerang lagi.
Kita butuh polisi di sini.
Mereka tak bisa dipercaya.
Aku dilaporkan polisi.
Viraj dan Naveen menuduhku membunuh.
- Apa? - Aku bukan pembunuh, Naina.
Justru karena itu, Rana.
Mana bisa kita aman tanpa melibatkan polisi?
Pasti bisa kutangani. Percayalah.
Percaya padamu?
Kau berjanji tinggal satu tugas terakhir.
Lalu kau bebas.
Mana buktinya? Kau bisa berhenti?
Apa kau berhenti? Tidak!
Kau berjanji menjaga keluarga ini.
Berjanji menjaga Nitya.
Nyatanya, dia ditembaki!
Kita hari ini di rumah sakit
karena dua kerabat kita kritis.
Mereka nyaris mati, Rana!
Kau tak mampu menjaga keluarga ini sendirian.
Cobalah sadar diri!
Naina, tunggu...
- Ya, Pak? - Siap menggerebek rumah Rana?
Ya, Pak.
Sudah ada surat perintah. Kami baru mau jalan.
Kami yakin ada barang bukti di sana.
Senjata pembunuhnya ada di sana.
Pedang Sultan.
Itu info dari informan kredibel, Pak?
Ya.
Mau namanya? Alamatnya?
Atau sekalian horoskopnya?
Kerjakan saja, Ekambe. Amankan bukti.
Rana harus sudah masuk sel dalam 12 jam!
Baik, Pak.
Sejauh ini aman, Bos.
Polisi mengendus kita. Senjatanya harus kita amankan.
Pedang itu? Akan kuamankan.
Dari mana Rauf tahu soal Nitya?
SAMBUTLAH ZAYED MIRZA
TOKO BARANG ANTIK SULEIMAN
Pedangnya sudah tak ada.
Sial! Pasti diambil Naveen.
Naina?
Aku butuh bantuanmu, Naveen.
Rana mengecewakanku.
Kau berhak bahagia.
Tinggalkan dia.
Bawa anakmu, hiduplah bersamaku.
Tapi...
Lalu Rana?
Rana takkan bisa mengganggumu.
- Ada aku di sisimu. - Aku tahu, Naveen.
Tapi kau tak paham perangainya.
Dia akan mengincar kita. Mengincarmu!
Tidak akan bisa.
Karena aku sudah mendahuluinya.
- Maksudmu? - Kau tak perlu mengerti.
Dia membunuh seseorang.
Dia akan ditangkap
dan enyah dari hidup kita.
Naveen, tolong jangan anggap remeh dia.
Dia selalu menemukan celah untuk lolos.
Kali ini mustahil.
Aku jamin.
Tapi...
kenapa kau bisa seyakin itu?
Sayang.
Kau sungguh ingin tahu caraku menghancurkan suamimu?
Untuk apa Rana membunuhnya?
Dia telanjur gelap mata.
Dia sinting.
- Dia akan ditangkap? - Semoga.
Kesaksianmu dibutuhkan untuk memproses Rana.
Kesaksianku? Kenapa?
Mereka masih menghimpun bukti.
Suamimu dibunuh. Wajar kau diperiksa.
Tapi aku tak melihat kejadiannya, Yah!
Lantas kenapa?
Tidak penting.
Kau sendiri ingin cerai, 'kan?
Pura-pura berkabung saja. Apa susahnya?
Bersaksilah jika itu mempercepat penyelesaian kasus.
Ungkap namanya. Singkirkan dia.
Dia itu pembunuh!
Ayah muak, Alia. Muak!
Ayah sudah lelah.
Tolong cepat akhiri.
Ayah ingin pensiun di London.
Teruskan perusahaan ini.
Ayah serius?
Mulai besok, kau pemiliknya.
Tidak usah heran. Itu hakmu, Alia.
Ayah siapkan siaran pers dulu.
Ayah akan mengabari Komisaris Polisi bahwa kau siap bersaksi.
Buka! Kami bawa surat perintah!
Nitya dan Ani tidur di sini setelah kau pindah nanti.
Pindah?
Sebentar.
- Ya? - Pak, tidak ketemu.
Maksudmu?
Senjata pembunuhnya. Sudah kami cari.
Tidak masuk akal! Pasti ada. Cari yang teliti.
Sudah, Pak. Tidak ada.
Di mana pedangnya?
Pak, mungkin ada yang membocorkan penggerebekan ini ke Rana.
Mana ponselmu?
Naina, ponselmu.
- Ada apa? - Kemarikan ponselmu.
Pedangnya di rumah, Rana.
- Naveen... - Dasar jalang!
Maafkan aku. Naina!
Aku tak sengaja, Naina.
Maafkan aku.
- Sial! Kau terluka? - Naveen!
- Naina, aku mencintaimu. - Jangan!
Tidak! Kenapa kau begini?
Kenapa?
Kenapa? Demi dia?
Maaf menembaknya di depanmu.
Kau tak apa?
Aku tak apa.
Apa-apaan...
Kau sudah kelewatan! Kurang ajar!
Bajingan!
Kau benar.
Aku memberi tahu Rana. Ini rencana kami.
PANGGILAN KE IPHONE GANESH
- Ya, Ganesh? - Ada perkembangan lagi.
Alia Oberoi akan menemui Komisaris Polisi.
Apa?
Untuk bersaksi bahwa Anda membunuh Paritosh.
Itu saja.
Rana...
Semua ini gara-gara aku.
Aku salah.
Bukan.
Aku yang salah.
Aku gagal menjaga kalian.
Baru pertama aku menghadapi situasi ini.
Pertama Naveen, sekarang Oberoi, ditambah Rauf.
Kini aku terpojok.
Jika sesuatu menimpaku...
Kau akan baik-baik saja.
Aku mencintaimu.
Aku dan Alia tak punya hubungan khusus.
- Tolong mengerti itu. - Aku mengerti.
Pergilah ke rumah sakit.
Jaga anak-anak, Tej, dan Tasneem.
Akan kusudahi sandiwara Alia dan ayahnya ini.
Kau tidak lapar?
Itu milik Nitya.
Di mana dia?
Tidak tahu.
Astaga!
Lihat cukuranmu. Tidak dipedulikan ibumu, ya?
Serius, Naga?
Mau membunuh dengan sabun?
PEREMPUAN
Ada yang berak segede gaban sampai pipanya pampat.
Istriku ke lantai dua.
Kalau kau kebelet, pakai toilet di sana.
PERHATIAN TIDAK DAPAT DIGUNAKAN
Wah, wah!
Keren juga kemunculanmu!
Kau pembunuh, tapi tak kehilangan gaya.
Takkan pernah.
Kau tahu bukan aku pembunuhnya.
Ya.
Tapi aku tidak peduli.
Ayahmu berjanji menyerahkan perusahaannya kepadamu
jika kau bersaksi aku pembunuhnya
dan membenarkan kebohongannya?
Benar begitu?
Kenapa tegang, Rana? Senyum, dong.
Kau pikir kau seperti ayahmu.
Bengis, tajam, dan mampu mengatasi semuanya.
Aku memang mampu.
Tidak juga.
Kau takkan dapat apa pun.
Ayahmu tak menganggapmu setara.
Raja hanya melepaskan takhtanya
ketika ada pengganti lebih hebat yang siap merebutnya.
Ayahmu tak melihat kehebatanmu.
Tapi aku melihatnya.
Enyah saja kau, Rana!
Alia.
Kau selalu menjaga baik-baik semua yang menjadi hakmu.
Ayahmu pasti akan mengkhianatimu lagi.
Jika kau membantuku,
kau akan memperoleh seluruh warisan keluarga
sekaligus utang budiku.
Mau kau membantuku atau tidak,
Viraj Oberoi tetap akan kuhancurkan.
POLISI
Semua itu terjadi di depan mata begitu saya tiba.
Anda lihat mereka?
Ya, Pak, dan mereka berdua berlumuran darah.
RUMAH SAKIT BR PATIL
Kondisi Tasneem?
Masih tidak stabil.
Kenapa kau gelisah? Dia pasti akan baik-baik saja.
Paman.
Maaf.
Ini gara-gara aku.
Hei, pamanmu ini Superman.
Alia, mau minum?
Baik. Sudah bersaksi?
Sudah. Sesuai arahan Ayah.
Bagus!
Itu sudah benar, Alia.
Ayah bangga.
Bersulang!
Tahu apa yang paling melegakan?
Akhirnya, Rana tersingkir.
Dia itu pembawa bencana. Ya, 'kan?
Ayah...
Tak perlu memusingkan masalah ini lagi.
Fokuslah pada kesehatan Ayah.
Ya.
Jangan banyak pikiran di London nanti, ya?
Ada aku yang akan mengurus perusahaan.
Aku akan melanjutkan kejayaan Oberoi.
Itu pasti.
Semuanya akan menjadi milikmu.
Setelah kau benar-benar siap.
Mungkin beberapa tahun lagi.
Baik, Ayah.
Ayah tahu aku sayang Ayah, 'kan?
Selamat tinggal, Yah.
Semua itu terjadi di depan mata begitu saya tiba.
Anda lihat mereka?
Ya, Pak, dan mereka berdua berlumuran darah.
Maksud Anda, Viraj Oberoi pembunuhnya?
Ya, ayah saya membunuh Paritosh.
Tunggu dulu. Apa maksudmu Komisaris sibuk?
Aku ini Viraj Oberoi.
Kenapa Ayah Anda ingin membunuh suami Anda?
Paritosh memang ambisius.
Dia mengincar takhta di Oberoi.
Usai diceraikan, kesempatannya hangus.
Berhubung dia tahu aib keluarga,
dia menemui ayah saya untuk menekannya.
Tapi ayah saya dikenal temperamental.
Dia lepas kendali.
Rajesh?
Ayah Anda...
Saya tahu di mana dia membuang jasad dan senjata pembunuhnya.
POLISI
- Viraj Oberoi? - Ya?
Mohon turun.
- Keluar, Pak. - Kenapa?
- Periksa bagasi. - Baik.
Geledah mobilnya.
- Kenapa? - Tiap sudut.
Pak!
Buka.
Itu...
Pak.
Tangkap dia.
- Tunggu. "Tangkap"? - Ayo!
- Kenapa? - Ada jasad!
- Ayo! - Ada jasad!
- Aku tak terlibat! - Tolong kooperatif, Pak.
- Ayo. - Itu bukan mobilku!
Bawa dia!
Kenapa tidak segera melapor?
Karena dia ayah saya, Pak. Saya butuh waktu memikirkannya.
Kini Anda mau dia dipidana?
Saya sayang Ayah saya, tapi...
Ayah membunuh mantan suami saya.
Tak kusangka aku bisa setenang ini setelah memenjarakan ayahku.
Kita semua terlalu mengagungkan ayah.
Lagi-lagi kau benar, Rana Naidu.
Pengurus Masalah Nomor Satu.
Selalu unggul.
Jangan lupa utang budimu, Rana.
Tasneem?
Tasneem?
Astaga, akhirnya kau siuman!
Kau mau teh?
Sebentar, kupanggilkan dokter. Sebentar, ya.
Tasneem, lihat, semua datang.
Tasneem!
Ada apa ini, Jaffa?
Mana setelan dan dasimu?
Mau melucu, ya?
Aku takut sekali.
Jangan begini lagi.
Di India, ini namanya akhir bahagia.
Dokter, dia sudah boleh pulang? Dia sehat, 'kan?
Bisa, setelah dipantau beberapa hari lagi.
Jaffa! Bayiku?
Dokter?
- Pasien darurat! Kamar 44! - Kau...
Itu Tej!
Pak Tej?
- Tengok saja Pak Tej. - Kau tak apa?
- Ya. Sana. - Sebentar.
Ayolah!
- Ambil defibrilator. - Kakak!
- Baik. - Kakak!
- Kakak! - Awas!
- Kakak! - Kak Tej!
Kakak!
- Persiapan operasi. Panggil dr. Shah! - Baik.
- Hei! - Kakak!
- Kakak! - Tej!
- Bangunkan dia! - Tej!
Kakak, tidak!
Waktu kematian...
- Hei! - Kak Tej!
- Nanti pasti dia bangun! - Paman!
- Tej! - Tadi dia baik-baik saja. Sungguh!
- Dia tidak kritis! - Ayah!
- Bisa cek sekali lagi? - Rana!
Kak Tej!
- Kakak? - Kakak!
Hei, Kak!
Kakak!
Kakak!
Srini, belakang!
Sialan...
- Rana Naidu telah hadir! - Keparat!
Hei!
Sudah kubilang, 'kan?
Jangan mengumpat di sini.
Kau memang senang merepet, ya?
Di antara keduanya, siapa dulu yang mati?
- Si pendek atau si besar? - Hei!
Berani menyentuh mereka...
Apa? Memang kau mau apa?
Mereka akan mati, Rana.
Mati perlahan dan menyakitkan.
Yang mana? Aku setuju wanita didahulukan.
Kuhitung sampai tiga. Satu,
dua...
Siapa yang menembak?
Biar kulihat.
Siapa itu?
Naga, bawa Srini ke rumah sakit.
- Rauf bagaimana? - Biar kuhadapi.
Bawa dia.
- Biar kutangani ini. Sana! - Baik.
Mulai sekarang, kau jadi anjing piaraanku di sini!
Lidah menjulur,
gigi rontok,
dan leher dicekik rantai!
Seluruh keluarga Naidu terobsesi sekali denganku.
Semua ingin kemari.
Pertama, putramu,
lalu putrimu,
lalu ayahmu yang tolol!
Bajingan itu kemari dengan bom di tubuhnya.
Sekarang kau!
Berapa anak buahku yang kau bunuh, Rana? Selusin?
Lebih dari itu.
Aku ingat tiap nyawa yang gugur, hingga siapa yang terakhir dikafani.
Mereka itu saudaraku.
Kau kira kami bodoh dan hanya keluargamu yang berhak hidup?
Kalau saja otak tumpulmu itu jalan,
kau jabat tanganku saat itu.
Sudah kuulurkan, 'kan?
Padahal, kita bisa jadi saudara.
Sekarang, mati kau!
Mayatmu akan menjadi santapan babi di Koliwada.
Lalu aku akan menggorok leher istrimu,
leher putrimu,
dan akhirnya leher putramu yang busuk itu.
Semua yang membawa nama Naidu akan mati.
Akan kulenyapkan semua keluargamu tanpa bekas.
Keturunanmu akan habis
dan dendam keluargaku akan terbalaskan!
Cukup sudah kau menyusahkanku.
Akan kuakhiri!
Rana!
Ini untuk Tej.
Pukulan favoritmu straight drive, 'kan?
Favoritku, pukulan helikopter!
Siapa yang memberi tahu soal Nitya?
Jawab!
Ayahmu!
Hei, Rana!
Itu bohong.
Dia membual!
Mereka cucu yang kusayangi...
Tak akan kubiarkan disakiti.
Kau pikir aku sejahat itu?
Bagiku, kau tetaplah putraku,
meski kau tak menganggapku ayahmu.
Ingat yang kau katakan saat kita pertama kali kemari?
Di Mumbai,
percayalah kepada diri sendiri...
- Atau... - Keluarga sendiri.
Sebelum mati, Rauf bilang dia tahu soal Nitya dari ayahku.
Ayahku!
Naga berdiri di depanku,
diacungi pistol yang siap meledak bersama amarahku selama 35 tahun ini.
Tapi maksud Rauf bukanlah Naga, OB.
Bagi Rauf,
bagi Mumbai,
bagi semua orang,
sosok ayahku cuma seorang,
yaitu OB Mahajan!
Padahal, kau keluargaku, OB. Kenapa kau setega itu?
Sekarang kita impas, Anjali.
Dasar bajingan tak punya otak.
Impas bagaimana? Utangmu belum lunas.
Ya sudah, kuberi tambahan waktu.
Mulai hari ini, Koliwada jadi wilayahku.
Apa katanya?
- Kalian harus mengikuti aturanku. - Kalau kami tak mau?
- Ya. - Ya, bagaimana?
Abang Rauf!
Bung Rauf!
Itu Bung Rauf!
Tak ada pilihan lain.
Setelah kisah Kavya diungkap ke publik,
tamatlah kehidupan dan karier politikku.
Suatu hari, Shakeel menelepon.
Aku seperti orang tenggelam yang berhasil meraih tali.
Video itu kubeli dengan harga mahal.
Untuk memeras Rauf?
Nitya ditembaki, OB.
Tej tak selamat.
Aku salah, Rana.
Maafkan aku.
Apa tak ada cara lain, Rana?
Aku selalu menganggapmu keluarga, OB.
Karena itu aku tak akan menembakmu.
- Ayah! Ayah tak apa. - Tenanglah.
- Sudah usai. - Ayah!
Kita aman.
Kalian tak apa?
Hei!
Sudah selesai, Naina.
Rauf sudah tiada.
OB juga.
Kini kita aman.
Kita baik saja.
Aku menyesal kalian terkena imbasnya gara-gara aku.
Demi meraih sesuatu,
aku lupa aku bisa kehilangan segalanya.
Maaf.
Mari. Ayo.
POLISI
Rana Naidu, Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan tak berencana
terhadap Rauf Mirza.
Naina, tak apa-apa.
Rana!
Aku melakukan banyak hal yang kusesali dalam hidup,
tapi hari ini tak kusesali.
Jaga ibu kalian.
Jangan nakal.
Aku melakukan semua ini demi mempertahankan keluarga.
Aku tak menduga akan dipenjara.
- Rana! - Jangan.
Jangan. Semua akan baik saja.
Jauhi hal yang tak akan Ayah lakukan.
Ngomong apa si bodoh itu?
"Jauhi hal yang tak akan dia lakukan?" Baiklah, akan kuturuti.
Akan kubebaskan dia dari penjara.
DIADAPTASI DARI "RAY DONOVAN"
Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.