Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Setelah itu?
Aku dapat notifikasi dari bank.
Kukira itu pesan spam, tapi jumlah transaksinya besar.
Paritosh meludeskan rekening bersama kami.
Aku tahu dia pelit, tapi tak kusangka dia bisa berbuat sehina ini.
Masalahnya,
Alia menggugat cerai dia dua hari lalu.
Mungkin Paritosh kesal, lalu karena panik...
Panik?
Ayah bisa berhenti membelanya?
Nak, Ayah tak membelanya. Ayah ada di pihakmu.
Entah apa nama kebodohan ini.
- Ayah... - Pencurian!
Ini namanya pencurian. Itu faktanya!
Sudah 48 jam,
Paritosh menghilang. Uangnya lenyap!
Dia harus segera ditangkap.
Maaf terlambat.
Hai, Rana.
Ini Inspektur...
Naveen.
Naveen Joshi.
RANA NAIDU
- Terima kasih. - Ini tugas saya.
Terima kasih.
Ya ampun!
Paritosh ke mana, Ayah?
Nanti pasti kita temukan.
- Bagaimana? - Ganteng.
Coba bergaya.
Hei.
Aku juga membeli dasi,
tapi tak bisa pakainya.
Ujung kanan ke dalam, masuk ke kiri, lalu...
Setelah menikah, kau bahkan bisa melamar kerja di bank.
- Ayo. - Ya.
Tasneem, aku sampai pangling.
Jaffa, ini pertama kali aku melihatmu pakai setelan.
Kau senecis Rana.
Mau ke mana?
- Minum teh. - Menikah.
Menikah dulu, baru minum teh.
Kalian bercanda atau ini serius?
Kakak, kami serius.
Dia menerima lamaranku, lalu kusarankan menikah hari ini.
Aku ingin mengabari yang lain,
tapi mengingat masalah keluarga kita, mana bisa?
Bicara apa kau?
Kalian sudah gila?
Tak kuizinkan.
Kakak, tolong restui kami. Aku mencintainya.
Apa menikah itu salah?
Kapan aku bilang menikah itu salah?
Aku tak ingin mencegah kalian,
tapi kalian melakukannya diam-diam.
Kau akan menikah, Jaffa. Harus dirayakan.
Butuh katering, alkohol, gedung. Bagaimana menyiapkannya?
Apa maksudmu?
Makanan dan alkohol, kupesankan. Gedung, kau tak lihat aula sebesar ini?
Ayo!
Jangan pergi. Akan ada pesta pernikahan.
Kau bisa bercinta. Kenapa harus menikah?
Itu Ayah.
Tej, kau dipenjara gara-gara aku. Aku menyesal.
Aku lega kau sudah bebas.
Maafkan aku.
Tapi kau akan menikah dengan perawat itu.
Di mana gedungnya? Biar aku urus.
Putraku, Tej, akan menikah!
Aku yang menikah, bukan Kakak.
Aku yang menikah.
- Kau akan menikah? - Ya.
Bercanda, ya?
Tidak, aku akan menikah. Aku mencintainya.
Jaff...
Hei, Jaffa!
Jaffa akan menikah!
Jaffa-ku, Pawan-ku!
Akhirnya, ada yang mau menjadi pawang "ular"-mu.
Aku mau ke catatan sipil. Butuh pencatat pernikahan.
Semuanya!
- Dekorasi ruangannya. - Kotak alat di mana?
Ini, Ayah.
Jangan begitu. Nanti terluka.
Tidak akan sesakit cobaan hidupku.
Tiba-tiba jadi pujangga.
Nanti aku kembali.
Pasti kembali?
Dulu Ayah juga janji kembali saat ulang tahunku, tapi ingkar.
Ibu bilang Ayah takkan pulang, tapi aku menunggu.
Aku juara tiga lari kelereng di sekolah.
Cuma Ayah orang tua yang tak datang.
Hari ini Ayah harus kembali.
Bukan cuma hari ini. Kalau kau menikah, aku pasti datang.
Tapi aku harus pergi. Ada urusan penting.
POLISI
KEANGGUNAN TERSEMBUNYI: MENGINTIP KEDIAMAN OBEROI
- Pak. - Kau menemukan sesuatu?
Ya, Pak. Ini transaksi kartu kredit Paritosh 24 jam terakhir.
Ini, Pak. Dia menyewa mobil di Delhi
dan mengisi bensin di Banbasa, dekat perbatasan India dan Nepal.
Tapi tak ada hasil.
Saya juga minta rekaman CCTV,
tapi sosok Paritosh tidak terekam.
Satu hal lagi.
Lihat ini.
Dia selalu sadar kamera dan bisa menghindarinya.
Dia cerdik, Pak.
Untungnya, kita lebih cerdik.
Lihat ini, Pak.
PUSAT TEH
Itu Srini, anak buah Rana.
Tamat sudah kau, Rana.
Kenapa langsung menikah? Kalian baru mulai pacaran.
Yakin sudah kenal betul?
Yang kini kutahu sudah cukup.
Yang tak kuketahui, tak penting.
Tak penting? Kau sudah gila?
Jaffa, aku tak menentang pernikahanmu,
tapi aku perlu menyelidiki Tasneem dan keluarganya.
Itu butuh waktu.
Jangan ngebut. Ini bukan berkuda!
Saat menikah pun, ada prosesi berkuda, 'kan?
Ini bukan pekerjaan Kakak.
Kau kakakku.
Cukup doakan aku, istriku, dan anakku nanti.
Anak?
Tasneem hamil.
Karena itu kau menikah? Kenapa tak bilang?
Biar kuatasi.
Apa aku minta bantuan Kakak?
Jawab. Memang aku minta itu?
Aku mencintainya.
Aku ingin berkeluarga dengannya.
Keluarga Jaffa Naidu.
Kalau Kakak masih juga tak paham,
tak usah datang sekalian.
Oke! Aku tak datang!
Ya, tak usah datang.
Kau tak apa, Sayang?
Tidak bisa tidur, Bu.
Wajah Rehaan terus terbayang.
Ibu paham.
Tapi kau harus keluar rumah, Nitya.
Kalau berdiam begini, kau bakal dihantui pikiran buruk.
Begini.
Ibu dapat kabar.
Jaffa akan menikah.
Hari ini.
Sebaiknya kau juga hadir.
Dengar, Sayang.
Di saat-saat seperti ini, dekat bersama keluarga
akan menenangkanmu.
Dalam kontestasi pemilihan antara Rauf Mirza dan OB Mahajan,
Mirza unggul telak.
Pemilih antipetahana dan pergeseran peta elektoral
benar-benar menyulitkan Mahajan.
Perubahan sentimen pemilih ini menunjukkan Rauf Mirza di atas angin.
- Dia tak ada! - Siapa?
Kau pikir rumahku stasiun yang bebas kau masuki?
- Kalau lagi ada cewek, bagaimana? - Dia takkan sanggup menolakku.
Dengar. Seharian ada yang membuntutiku.
- Pasti Dewa Kematian mau menghukummu! - Enak saja.
Musuhku memang banyak.
Jadi, entah yang mana.
Bisa jaga dua menit di luar? Pastikan tak ada orang.
- Aku butuh istirahat sejenak. - Oke.
Tak ada orang.
Hei!
Kenapa kau menyerangku?
Cucuku ada di video itu.
Cucuku yang manis.
Tak akan kubiarkan kau membocorkan videonya.
- Bung. - Astaga...
Tak heran nasibnya begini.
Tukang judi, pemabuk, sering ribut soal recehan.
Paling dia ribut dengan pemabuk lain.
Kalau minum, secukupnya saja.
Tapi bedebah ini memang bebal.
Aku akan merindukanmu.
TOKO BARANG ANTIK SULEIMAN
TOKO PERKAKAS RAJKUMAR PIPA DAN ELEKTRONIK
HOTEL MEENAKSHI
Hei, jangan dilepas.
- Maaf. - Yang lurus.
Yang lurus! Jangan begitu.
- Lurus. - Halo, Pengantin Pria.
Selamat, Jaffa!
Terima kasih.
Dia baru mengundangmu, 'kan?
Kak Tej sudah meminta dari tadi.
Diam kau! Kau yang paling tak membantu.
- Selamat, Paman. - Terima kasih.
Apa kabarmu?
- Terima kasih. - Hai, selamat.
Aku mau duduk di dalam.
Bagaimana kabarnya?
Maaf, aku baru menelepon.
Kupikir Nitya saat ini lebih membutuhkanmu.
Aku tahu persis rasanya
menghadapi situasi sulit saat kecil tanpa orang tua.
Kau perhatian sekali, Jaffa. Tak apa.
Kalau kau senang, kami semua senang.
Alah! Tak semua senang!
Rana, ya?
Dia tak mau datang. Kau tak tahu?
TOKO BARANG ANTIK SULEIMAN
Ayah.
Ayah baik-baik saja?
Kau cepat sekali dewasa.
Aku terkejut dan bahagia melihat Jaffa-ku menikah.
Kalau kau penasaran
soal "urusan di balik selimut", tanya ayahmu ini.
Soal seks, aku jagonya.
Tasneem hamil, Ayah.
Jagoan!
Ayah dan anak mirip. Kau memang nomor wahid!
Pria-pria Hyderabad memang subur!
Aku ingin tanya sesuatu.
Aku ingin menjadi ayah terbaik di dunia.
Tapi aku tak tahu caranya.
Jangan ikuti cara-cara ayahmu ini,
maka kau akan jadi ayah terbaik sedunia.
Mana yang lebih cantik?
Sama-sama cantik.
Pilih satu.
Yang ini.
Pasti cocok untukmu.
Kau yang akan memakai.
Wah, studio kita indah sekali!
Ya, 'kan?
Hei, Nitya.
Mau minum cokelat hangat?
Paman paham, Nitya.
Ditinggal orang terkasih...
rasanya pedih sekali.
Semuanya terasa hampa.
Begitulah kehidupan.
Paman boleh jujur?
Begitu kau tinggalkan rasa pedih dan marah itu...
cinta itu akan kembali.
Dia mungkin telah pergi, tapi cintanya ada dalam diri kita.
Letakkan tanganmu di sini dan rasakan.
Kau akan lebih lega.
Sudah, sudah, tak apa.
Sudah.
Apa kata orang kalau melihatmu begini?
Bersiap-siaplah.
Anak pintar.
Sana.
Inspektur?
Pedang Sultan. Cocok sekali di ruangan ini. Ya, 'kan?
Silakan isi formulir ini.
Di sini,
di sini,
dan di sini.
- Oke. - Calon istrinya mana?
Saya panggilkan dulu.
Harus mulai biasa menunggu, Jaffa.
Tasneem, berapa lama lagi...
Tasneem tidak ada.
- Apa dia keluar? - Tasneem!
Coba telepon dia.
- Pasti di toilet. - Biar kucek.
Akan kutelepon.
- Oh, ya... - Ditutup.
- Tadi dia keluar. - Kenapa baru bilang?
Kukira dia mau merokok.
Bodoh, memang kau pernah melihatnya merokok?
- Dia kabur? - Hei!
Ngawur kau. Dia pasti tidak jauh.
Tasneem?
- Cek di kantor. Cari dia. - Di mana dia?
Tasneem?
Tasneem?
- Ditutup. - Kenapa?
- Dia menutupnya. - Coba lagi.
Tenang dulu.
PANGGILAN DARI JAFFA
Katamu akan terima ceknya, lalu pergi.
Kau butuh berapa lagi? Bilang saja.
Kenapa menentang kami menikah?
Karenamu.
Kenapa?
Kau takut tak bisa lagi mengatur adikmu?
Tak usah mengoceh.
Jelaskan!
Kenapa kau merasa terganggu?
Karena kau memanfaatkan Jaffa dan keluarga kami.
Memanfaatkan? Memanfaatkan bagaimana?
Kau pikir aku menikahi Jaffa demi rumahnya?
Coba ke kampungku dan lihat rumahku.
Tiga lantai.
Lokasi, tanah, hati
lebih besar daripada milikmu.
Memang aku memanfaatkan apa? Coba jelaskan.
Memanfaatkanmu?
Seantero Mumbai tahu pekerjaanmu.
Aku dapat apa darimu?
Apa yang bisa kumanfaatkan dari keluargamu? Jelaskan.
Ayahmu?
Memang benar,
kami bisa saja menunda nikah.
Mungkin kelak kami menyesal karena terburu-buru.
Namun, itu urusanku dan Jaffa.
Aku mencintainya.
Sangat.
Mungkin tak sedalam dirimu...
tapi bisa kutandingi.
Akan kucintai dia selamanya.
Saat bertemu Naina,
kupikir pria pilihannya tak mungkin seberengsek ini.
Makanya, aku mau menemuimu.
Mau datang atau tidak ke pernikahan kami,
terserah dirimu.
Teganya dia meninggalkanku.
Aku jadi janda sebelum menikah.
- Jaffa... - Bukan janda.
Duda.
Kau ini stres, ya?
Dia tak bisa dihubungi, Yah.
- Jika dia tak kembali, bagaimana? - Mana mungkin?
- Kurasa dia... - Maaf.
Aku di sini.
- Tuh, 'kan? - Tasneem!
- Maaf, ya. - Kenapa?
Kupikir kau...
Ada urusan yang harus kubereskan.
Baiklah.
Maafkan aku.
- Bu... - Ayo. Mari kita mulai.
- Harusnya mengabari. - Maaf.
- Aku panik. - Butuh tanda tangan dua saksi.
- Siapa? - Kak Tej?
- Boleh. - Satu lagi...
Aku.
Kenapa dia dibiarkan menikah begini?
Hei, Rana.
- Jangan rusuh, Rana. - Tidak.
Dia tak boleh menikah seperti ini. Maaf.
Rana, aku sudah menjelaskan.
- Aku cinta Tasneem... - Diam!
Mana panchey-mu? Dia ini menikah.
- Dia harus pakai dhoti. - Dasar...
Kau ini mengagetkan saja!
Ayo ke kantor. Kak, ayo.
Ayo. Kami nanti kembali.
POLISI
Belakangan, Paritosh itu agak aneh kelakuannya.
Setelah Alia meminta cerai, Paritosh...
terguncang. Dia kalap.
Dia sempat datang
dalam keadaan mabuk, lalu mengancamku dan Alia.
Jadi, untuk menengahi...
saya menelepon Rana.
Rana?
Rana Naidu?
Ya. Rana Naidu.
Dia bekerja untuk saya.
Lalu?
Tak ada kabar. Saya minta dia bicara ke Paritosh.
Paritosh sudah saya anggap anak.
Saya menyaksikan saat-saat bahagia mereka. Dia baik...
Dia pria yang baik.
Saya minta Rana bicara dengannya.
Jika dia mempermasalahkan uang dan itu maunya,
silakan diatur.
Rana dan Paritosh berbicara di ruang kerja.
Lalu,
saya mendengar keributan,
disusul dentum keras.
Saya gemetar dan mendekati mereka...
lalu saya melihat...
Saya melihat mayat Paritosh.
Dan Rana berdiri di sana,
memegang pedang berlumuran darah.
Pedang?
Ya. Pedang Sultan.
Salah satu harta berharga saya.
Senjata pembunuh yang cukup mahal.
Anda tak menyentuh pedangnya?
Tidak.
Rana mengambilnya...
Ini demi dirimu, Naina.
...lalu disembunyikan.
Saya ingin tanya, Pak.
Saya paham. Anda ingin tahu alasan saya tak segera melapor?
Rana mengancam membunuh saya.
Itu sejujur-jujurnya.
Harusnya Anda langsung melapor.
Saya paham.
Saya manusia biasa.
Saya takut.
Takut saya dan Alia celaka.
Saya mencemaskan keluarga saya.
Anda bilang putri Anda juga di sana saat kejadian ini.
Benar.
Kami butuh keterangannya.
Tentu saja.
Akan saya pastikan dia besok kemari.
Jika keterangannya cocok, Rana Naidu akan kami tahan.
Itu yang saya harapkan.
- Kau mau apa? - Pegang baik-baik.
Saat Ugadi, kalian selalu merengek.
Minta diikatkan dothi-nya.
Sekarang juga masih.
- Tak perlu. - Sini, Kak.
- Ayo, minggir. - Pegangi.
- Lihat cara Kak Tej mengikat. - Lepas.
- Sudah? - Pas.
Wah! Sempurna.
Ini untuk Kakak.
Seharusnya kuserahkan lebih awal. Maaf.
Momentummu selalu saja pas.
Aku sudah tak akan ke mana-mana.
- Kau tahu itu, 'kan? - Ya.
Kau tahu yang kupikirkan?
Aku paham yang Kakak mau.
Jaffa! Ini kado pernikahan dariku dan Rana.
Aku butuh microwave.
Tasneem suka berondong jagung,
dan aku malas membuatnya di panci presto.
- Jadi, aku butuh microwave. - Ini.
Apa ini? Kartu ucapan?
Studio ini milikmu.
Untuk keluarga Jaffa Naidu.
Aku juga akan mengado microwave.
Ya. Itu penting.
Sini!
Jangan mendramatisasi.
Sana menikah. Aku lapar, mau makan-makan.
Tapi aku tetap butuh microwave.
Dasar!
Apa lagi?
Anjali terus mengusikku.
Dia mengejarku ke mana-mana.
Bantu aku, Rana.
Kucoba segala cara, tapi tetap sia-sia.
Sudah coba bunuh diri?
Jangan terus mengabaikanku, Rana.
Kita harus bicara.
Kita harus bicara agar kita bisa melupakannya.
Aku tak akan bisa melupakannya.
Apa maksudmu?
Pak Tej, Jaffa dan aku... Kami berdua
ingin kau tinggal bersama kami setelah pernikahan ini.
Jadi...
Kalian sinting?
Memang kenapa?
Kau sudah menjaga Jaffa sejak dulu.
Kini giliran Jaffa.
- Tidak, tapi... - Tak ada tapi-tapian.
Bukan "Pak Tej", kini kau kakak iparku.
Jadi, kau harus dengarkan aku.
Rana!
Menunduk! Semua menunduk!
Srini, hubungi Inspektur Ganesh!
Kak, pistol di mana?
Di kantor. Cek di sana!
Berlindung!
Inspektur!
Cukup.
Ruangannya dipoles, ya.
Apa kabar, Rana? Baik? Kenapa tak mengundangku?
Tapi aku datang membawa orkes, kembang api, dan segala kemeriahan.
Hai.
Kau dari pihak mempelai pria atau wanita?
Pria.
Sial!
Di mana putrimu bersembunyi?
Dia nakal.
Sini.
Kau dari pihak mana?
- Mempelai pria atau wanita? - Wanita.
Anakmu melihatku bersama Toofan dan Rehaan,
tapi tidak menyapaku sedikit pun.
Ya, 'kan, Nitya?
Ayahmu tak mengajarimu sopan santun?
Aku tak bisa membiarkanmu hidup untuk bersaksi. Ya, 'kan?
Hai, Nitya.
Hei!
Bung, polisi datang! Ayo kabur!
Urusan kita belum selesai, Rana.
- Ayo! - Ayo, Bung!
Kakak!
- Kakak! - Kakak!
Kakak!
Kakak!
Jaffa!
Tasneem...
Hei...
DIADAPTASI DARI "RAY DONOVAN"
Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.