All language subtitles for Rana.Naidu.S02E04.HINDI.NF.WEB.h264-EDITH.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

...pastikan mereka dapat mendongkrak citra merek kita

dan ikut memajukan merek yang masih kita bangun ini...

Maaf. Permisi sebentar.

Ada masalah apa?

Si kaptennya, Zayed!

Kukira proses akuisisi tim paling ribet, ternyata dia lebih memusingkan!

Apa masalahnya?

Dia tak mau meneken kontrak baru. Dia juga melarang timnya.

Kenapa? Minta honor naik?

Jika hanya itu, pasti kuberikan.

Masalahnya, tuntutannya banyak dan tidak wajar.

Mustahil ada pemilik tim setuju.

Pasti dia dapat tawaran lebih bagus. Jangan sampai dia hengkang, Rana.

Sponsor pasti lari. Kita bakal rugi besar.

Dia sadar betul itu.

Rana Naidu yang legendaris!

Ada keperluan apa?

Ayo bicara, Zayed.

Kenapa kau ke sini?

Aku sudah menjaga sikap. Kuikuti arahanmu.

Kau menolongku dari skandal besar.

Aku sungguh berutang budi.

Serius, aku tidak macam-macam.

Teken kontrak itu.

Kini kau jadi orangnya Oberoi?

Gila! Sejak kapan?

Mau teken atau tidak?

Aku menyayangimu. Sungguh.

Aku rela melakukan apa saja.

Selain teken kontrak.

Mau teken atau tidak?

Kontrak!

Maksudmu mau?

Tidak!

Mau atau tidak?

RANA NAIDU

STUDIO FILM OBEROI

AREA PARKIR KHUSUS

Coba jelaskan sekali lagi, Ayah.

Ayah masuk ke Studio Oberoi,

langsung ke kantor Chirag Oberoi,

bobol lokernya, curi uangnya,

lalu keluar dengan lagak tidak bersalah.

Bagaimana cara Ayah masuk?

Lewat gerbanglah! Mana lagi?

Akan kualihkan perhatian penjaganya,

lalu kita tinggal menyusup.

Bagaimana mengalihkannya? Dengan mengikat mercon di ekor anjing?

- Ada mercon di sini? - Yang seriuslah, Ayah!

Benar. Kita alihkan perhatian mereka. Akan kupikirkan caranya.

Lalu, bagaimana cara membobol lokernya?

Tak kubobol. Buka kunci saja.

Aku melihat Chirag mengetik kodenya.

Sekali masuk ke kepalaku, mustahil aku lupa.

Karena ini aku dijuluki Otak Tajam di Hyderabad.

Ingatanku sekuat ingatan gajah.

- Masa? - Ya.

Siapa nama asli Jaffa?

Nama asli Jaffa...

Jaffa? Siapa namanya, ya?

Hei, jangan tiba-tiba mengujiku! Tanyakan hal yang layak diingat.

Uang, barang berharga, emas.

Aku ingat masing-masing perhiasan ibumu dijual di mana.

- Berapa kode lokernya? - Dasar...

Lima,

tujuh, dua, satu, tiga,

terus...

Sembilan!

Satu hal lagi.

Bagaimana keluarnya nanti?

Kau ini minta disuapi terus.

Tak usah dipikirkan. Siap-siap saja.

Malam ini, kita beraksi.

Aku jadi ragu.

Keren sekali gayamu!

"Pedang"-mu sudah siap.

Kurang "sarung"-nya saja untuk bertempur.

Biar kusiapkan pengamannya.

Bicara apa kau? Aku tidak butuh.

Hei, dengar dulu! Jaffa!

Ada kotoran di gigimu. Jangan pergi dulu!

Hei, Tasneem!

- Mau ke mana bawa-bawa tanaman? - Sebenarnya, aku...

Ini untukmu.

Apa kesannya aku suka bunga?

Aku sudah bilang begitu, tapi dia memaksa. Bawakan!

Kenapa kemari? Janjiannya di Hanging Garden, 'kan?

Ya, aku bosan dan malas keluar.

Karena Pak Tej meliburkan, kukira hanya ada kita berdua di sini.

Aku baru mau pergi.

Nitya, kau sedang apa?

Tidak sedang apa-apa. Kenapa?

- Kemarikan ponselmu. - Kenapa?

Jangan berulah. Awas kalau kau kirim foto ke cowok itu.

Aduh, Bu! Itu privasi.

Ibu tahu dan mau membahasnya.

Aku tidak mau bahas.

- Mau ke mana? - Bukan urusan Ibu!

Nitya!

Ni...

Aku baru bercinta!

Akhirnya aku bercinta hari ini!

Kalau cengar-cengir terus, nanti gigimu kering.

Biar saja kering.

Aku baru bercinta!

Tak kusangka rasanya seperti ini.

Kau kira rasanya seperti apa?

Entah, ini baru pertama.

Belum pernah bercinta sekali pun?

Maksudku...

Waktu aku kecil...

ada yang berbuat tidak...

Apa maksudmu, Jaffa?

Kau memercayaiku, 'kan?

Tumpahkan saja supaya kau lega.

Lega?

Waktu aku kecil,

ada seorang guru spiritual, Maharaj, atau apalah namanya.

Dia berbuat tidak...

Dia...

Dia memerkosamu?

Hingga kini, tiap kali kucoba...

saat mataku terbuka atau terpejam...

wajahnya selalu terbayang.

Hei, Re, sedang ada festival?

Ini pesta untuk Bung Rauf.

Siapa?

RAJA WORLI BUNG RAUF

Hei, Gagah!

Bung Rauf!

Hei!

Datang juga jagoan kami!

Aku bukan apa-apa di depan Bung Rauf.

Siapa yang membelikanku laptop pertama dan peralatan audio?

- Bung Rauf. - Hei...

Berkat siapa bocah Koliwada ini jadi rapper?

Bung Rauf.

Hei, kemarilah.

Contohlah dia.

Dia bilang apa tadi?

Orang yang tulus tidak akan melupakan jasa orang yang membantunya sukses.

- Dia benar, Bung. - Ya.

Siapa yang membantumu sukses?

- Bung Rauf. - Aku?

Saat aku dibui, apa yang kau katakan?

Beri tahu dia. Ayo.

Ayo sampaikan. Jangan malu-malu.

Ayo.

Kau bilang, "Tamat sudah Bung Rauf!"

Hei, Bung Sachin!

Ini Sachin Shetty. Sutradara terhebat di India.

Pasti tahu, 'kan?

- Ya, 'kan? - Ya.

Dia ingin menemuimu.

- Silakan mengobrol. - Ayo.

Kau pacarnya?

Benar?

- Kau Nitya Naidu, ya? - Ya.

Aku kenal ayahmu.

Sungguh?

Bung Rauf.

Anak buah Bibi sudah menunggu.

Jadi, kapan kita bertemu?

TAK LAMA LAGI

Rasanya sudah berhari-hari tidak melihatmu.

Ibu di mana?

NAVEEN SEDANG AKTIF

Bagaimana tadi?

Bung Rauf, pokoknya gila!

Dia mau memfilmkan kisah hidupku. Aku diminta membintangi!

Tidak heran. Kau punya aura bintang.

Sachin Shetty akan memfilmkan biografimu yang akan kau perankan langsung?

Gila!

Dia persis ayahnya.

Ya.

Duduklah di sini.

Silakan.

Minumlah.

Maaf, Paman. Aku tak minum.

Hei, aku bukan pamanmu!

Anggap aku abang. Ini, minumlah.

Dengarkan.

Begini.

Kini aku bebas.

Jika ada yang menemuimu

untuk mengajakmu rekaman atau memanggung,

jawab saja

kini Bung Rauf manajermu.

Begini...

Kujamin untung dua kali lipat.

Separuh untukmu,

separuh untukku.

Baik, Bung.

Ada apa? Sampaikan.

Kurang?

Bukan itu, Bung.

Lantas?

Bung, sebenarnya...

Toofan.

Dengar.

Hanya aku yang boleh mengatur hidupmu sekarang.

Tapi jika si pendek itu keberatan,

bilang saja...

"Persetan denganmu!"

Dia pikir bisa merebut Rehaan dariku?

Dia kira bisa seenaknya begitu?

- Kapan bilangnya? - Tadi!

Rehaan malah sudah berkemas!

- Katanya terpaksa. - Keputusannya benar.

Apa?

Relakan Rehaan.

Relakan?

Rana, kau lupa nama dia Rehaan Jasbeer Singh.

Dia itu putraku.

Dia kuajak ke kampungku, Pehowa.

Menganggap ibuku sebagai ibunya.

Bisa-bisanya kau suruh aku merelakan putraku?

Ya, relakan.

Walaupun jauh darimu, dia tetaplah putramu.

Rauf itu pembunuh.

Dia amat berbahaya.

Jangan dilawan.

Oh! Begitu?

- Hei! - Astaga, Rana!

- Bikin kaget saja! - Apa yang lucu? Siapa itu?

Biasa, Riya yang humornya garing.

Tebak apa yang kupikirkan pagi ini.

Kau sadar kurang meluangkan waktu untuk keluarga?

Bukan. Maksudku, itu juga,

tapi aku membayangkan apartemen dengan pemandangan Menara Eiffel.

Ingat balkon waktu itu?

Memang indah.

Jalan-jalan, minum anggur.

Ada rencana liburan?

Tidak, aku ingin sesuatu yang sifatnya jangka panjang.

Ada apa, Rana?

Ceritakan.

Berdandanlah. Sejam lagi, kita berangkat.

NAVEEN ADA APA? TELEPONNYA KAU MATIKAN.

- Mau apa kau? - Aku ingin berpamitan.

Ya, pergi saja.

Ini mantap, Bung Toofan.

Jangan panggil ayahmu "Bung".

Kau suka lagunya?

Ya?

Ayo. Duduk.

Dulu hidup tanpa masa depan Sendirian tanpa kawan

RK.

Mulai dari awal.

Ya!

Sob, kau benar Nyaliku memang besar

Dulu banting tulang di Dharavi Kini di Bandra menikmati

Dikubur malah nyanyi, itu gayaku

Setiap aku tumbang Justru senang-senang

Dulu hidup tanpa masa depan Sendirian tanpa kawan

Selalu dikecewakan Itu rasanya besar di pinggiran

Gara-gara cibiran, kandaslah impian

Siang malam tertekan, emosi berantakan

Cuma berharap ada uluran tangan

Saat takdir melawan Dia bakal pasang badan

Kucoba percaya, malah dipatahkan

Aku jadi berantakan

Lalu Tuhan tunjukkan jalan

Datanglah Toofan, ubah semua kesulitan

Kita berdua punya ikatan

Yang seperti utang, harus dibayar

Kini kusadar

Kau malaikat tak bersayapku

Malaikat tak bersayapku

- Wow! - Hebat, Sob!

Kau adalah musikku, Rehaan.

Musikku tidak boleh direbut.

Aku tak takut lagi pada Rauf.

Biarkan dia mau apa. Kau tak perlu pergi. Mengerti?

Aku pun tak mau pergi.

Yang kumau ada di sini. Jalanku, tujuan hidupku, semuanya.

"Jalan, tujuan hidup..."

Dasar anak kecil sok dewasa!

STUDIO FILM OBEROI

Ayah, apa-apaan?

Kenapa bawa pistol? Sudah dibilang jangan!

Kita ini bukan mau kondangan.

Santai sedikit.

"Santai"? Bagaimana kalau ada korban?

Cepat keluarkan pelurunya!

Apa gunanya pistol tanpa peluru?

- Seperti penisnya Jaffa. - Ini bukan waktunya bercanda.

Keluarkan pelurunya!

Tolonglah!

Sudah. Dasar, sangat amatir!

- Minggir. - Oke.

Hei, siapa itu?

Syutingnya beres, 'kan?

Kurang satu adegan.

Masa bodoh.

Aku mau pindah ke Netflix.

Sama.

Kenapa kita kemari?

Tn. Naidu...

- Sabar, Ny. Naidu. - Apa...

TRIBUNE PEMILIK

- Hei! Kau tepat waktu. - Hai.

Hai.

Hai, aku Alia.

- Naina. Salam kenal. - Sama-sama.

Ayo ke depan.

Hadirin, langit malam ini menjadi saksi lahirnya era baru dalam kriket.

Dengan bangga, kami umumkan pemilik baru Mumbai Monarchs.

Lima miliar.

Apa?

Aku memegang 5% saham tim Mumbai Monarchs.

Ini milik kita.

Sesuai janji, 'kan? Satu tugas terakhir.

Tn. Naidu.

Padahal aku sudah ragu denganmu, tapi kau penuh kejutan.

Kau berhasil.

Kita berhasil dan kita bebas.

Lima, empat, tiga, dua, satu!

MUMBAI MONARCHS X GRUP OBEROI

Mari kita sambut penggerak baru masa depan kriket.

The Oberoi Group.

Walau berganti pemilik, timnya tetap sama,

dengan semangat, jiwa, dan sang kapten,

Zayed Mirza!

- Bersulang! - Wah!

Tej, pegang senter di tangan dominanmu.

Oh, iya, maaf.

Ada apa? Kenapa berhenti?

Kenapa bersenandung? Memanggil roh?

Jangan melantur!

Coba kuingat-ingat.

"Ingat-ingat"?

Ayah bilang melihatnya mengetik kodenya!

Memang.

Cuma lima angka pertama. Angka terakhir cuma dengar bunyinya.

Sudah kuduga Ayah tidak akan becus.

Aku ingat. Dua.

Yakin?

Tadi pagi, katanya sembilan.

Tunggu sebentar.

Biar kucoba sembilan.

572139 KODE GALAT

Ayah...

Brankasnya terkunci jika salah kode tiga kali.

Aku tahu. Masih ada dua percobaan lagi.

Diamlah. Biar kupikirkan.

Boleh minta perhatiannya?

Terima kasih atas kehadirannya.

Membangun tim Mumbai TSL itu impian besar Oberoi.

Namun, ada satu sosok yang tak hanya bermimpi,

tapi juga berhasil mewujudkannya!

Saya persembahkan...

Tn. Viraj Oberoi.

Terima kasih!

Terima kasih!

Bunyi tombol di telepon dan brankas berbeda!

572137 KODE GALAT

Keliru lagi.

Kau bawa sial.

Tutup mulutmu.

Tiga, lima, empat...

572134 KODE GALAT

Coba lagi setelah 12 jam.

Disuruh tunggu 12 jam!

Siapkan mobil.

- Kau menelepon siapa? - Arjun.

Berengsek kau.

Kau sudah yakin lokernya akan gagal dibuka?

Begitulah.

Aku juga tahu Ayah tak punya rencana cadangan.

Orang tuamu pasti bangga.

Yakin mau bicara dengannya?

Yakin. Aku hanya ingin bicara.

Akan kujelaskan dengan tenang. Dia pasti paham.

Rauf tidak bodoh.

Tunggu di mobil.

- Aku segera kembali. - Bung...

Jika bawa pistol, bisa runyam nanti.

Simpan di sini saja.

Kalian, tunggu di sini.

Aku segera kembali.

Si putri diabaikan sang ayah, ya?

Kasihan sekali.

Chirag.

Turut prihatin rencanamu gagal.

Selain soal perfilman, aku tak punya keahlian lain.

Tapi tak apa. Hidup kadang di atas, kadang di bawah.

Yang penting, aku berusaha.

Kau panik. Terlihat dari gelagatmu.

Dasar.

Aku punya ide.

Mau berusaha bersama?

Tim ini butuh pasangan pembuka yang solid.

Oke. Itu benar-benar menggelikan.

Mentang-mentang punya tim kriket sendiri,

jangan asal lempar jargon kriket di depanku.

Tapi kau tahu? Baiklah, ayo lakukan!

Siap melayani, Skipper.

- Kita ketemu di kantor besok? - Jangan!

Minum-minum dulu,

liburan yang sangat panjang, baru aku berangkat ke kantor.

- Boleh. - Kita minum?

Langsung habiskan!

NAIDU FILM STUNTS AKU SENDIRI YANG BERAKSI

Hati-hati.

Ayah, tarik!

Pelan-pelan. Turunkan.

ARAH KE AREA PARKIR ATAS

Apa kabar, Toofan?

Semua aman?

Ada urusan apa?

Kenapa berdiri? Duduklah.

Jadi, ada apa?

Bung Rauf,

aku dikenal dunia sebagai penyanyi, rapper, artis, semacam itu.

Tapi jujur saja, itu menyesatkan.

Ibarat menggenggam air, airnya pasti jatuh.

Begitulah perasaanku.

Terasa palsu.

Dan pertama kalinya aku merasakan emosi mendalam itu

saat Rehaan menjadi putraku atas seizin Tuhan.

Tapi bocah itu masih saja memanggilku "Bung".

Sudah kuminta memanggilku "Ayah", tapi dia tak menurut.

Kami sudah bahagia bersama, Bung Rauf.

Bukannya aku melarang Rehaan ikut denganmu.

Bukan begitu.

Tapi tolong izinkan Rehaan

ikut aku untuk setahun atau dua tahun lagi.

Setelah itu, Rehaan milikmu.

Kau bisa mengatur segalanya, kontrak, TV, film, dan acara-acaranya.

Kau bisa menjadikannya bintang.

Biarkan aku membimbingnya menjadi orang baik, Bung Rauf.

Itu keinginan kami berdua.

Ya!

Sob, kau benar Nyaliku memang besar

Berhasil!

- Berhasil! - Berhasil?

Hore!

...rencana besarku.

- Masih ingin ke Paris? - Rana.

Pak.

- Apa kabar, Naina? - Baik. Selamat.

Terima kasih.

Boleh aku cerita soal rahasia suamimu?

Bolehkah?

Dia...

punya bos yang hebat.

Dan dia punya partner yang sangat hebat.

Tentu saja.

Tunggu. Partner apa maksudnya?

Begitulah. Partner.

Tanpa Rana, akuisisi tim pasti gagal.

Terima kasih banyak, Rana.

Sama-sama.

Sampai nanti.

- Hei. - Hai.

- Ada yang ingin kubahas. - Boleh.

Permisi.

- Mari kita rayakan. - Baiklah.

- Minum-minum? - Ya.

Maaf.

Berhenti meneleponku!

Aku sedang...

Jangan sekarang. Nanti kuhubungi. Dah.

- Hei, stop! - Aduh!

- Sial! - Siapa itu? Sialan!

Turun, atau kupanggil polisi!

- Chirag yang memanggilku. - Turun!

- Chirag yang memanggilku. - Sedang apa kau?

Kakak! Ayah!

Lepaskan aku!

Gawat!

Apa yang Ayah...

Ini minumnya.

Hei!

Terima kasih.

Kau senang?

Ini...

kemajuan besar bagi keluarga kecil kita.

Terima kasih.

Lima persen?

Kau minta lima persen saham timku?

Lima persen dari tim termahal di dunia?

Kau kira aku tak akan tahu?

Apa-apaan kau ini?

Aku pantas menerimanya.

"Pantas"?

Coba jelaskan.

Kenapa kau pantas menerimanya?

Alasan selain

kau meniduri putriku.

Wah, maaf.

Kau belum tahu, ya?

- Putriku dimanipulasi agar membujukku. - Naina...

Dia mengabarimu tiap menemui anakku?

- Kau pikir ini wajar? - Viraj...

Karena untungnya besar?

Tentu saja dia mengabariku.

Komunikasi itu kunci supaya pernikahan langgeng, 'kan?

Enyah kalian dari sini.

Naina!

Naina, kau tahu dia berbohong.

Dia kesal karena Alia tak cerita soal sahamku.

Bisa dengarkan dulu?

Alia dan aku tak punya hubungan. Tanya saja. Jangan pergi.

Untuk apa seorang ayah berbohong soal putrinya?

Tak mungkin dia memfitnah putrinya.

Kau berkhayal punya masa depan cerah dengan keluargamu

dengan cara meniduri perempuan lain!

Aku muak, Rana.

Aku tak meniduri siapa pun. Ini murni negosiasi!

Sialan!

Hei!

Kenapa ditembak, Ayah?

Biarkan saja, Tej. Kita pergi saja!

Arjun, bawa dia ke mobil.

Angkat dia.

- Dengar itu? - Apa?

Ayah, cukup. Dia bisa mati!

Bawa dia ke mobil.

Kalau dia mati, bagaimana? Aku tak mau dipenjara 20 tahun!

- Kita harus bawa dia ke RS. - Dasar bebal!

- Arjun, naik! - Jangan!

- Bantu aku! - Jangan! Ayo, naik.

- Ayo. - Lepaskan!

Hei, Tej!

Diam, atau Ayah juga akan terluka.

Dulu Ayah membunuh Maharaj.

Tak ada lagi yang mati di depanku. Itu janjiku ke Ana.

Ayo, berdiri.

- Kau akan selamat. - Ayah!

Bertahanlah.

Tej, kita bisa ditahan!

- Ayo kabur! - Silakan kabur sendiri.

Tenang saja. Aku ada di sini.

- Kau akan selamat. - Ayah, ayo!

- Tetap sadar. - Kau...

Buka matamu.

Jangan tertidur.

Rana, senang melihatmu.

Alia, kita harus bicara.

Masuklah.

Kau yakin, Rekan?

Lima persenmu itu

dipotong dari bagianku.

Ayah memang cuma bisa marah-marah,

tapi mau bagaimana lagi?

Dia tidak suka kekalahan.

Dia harus mulai terbiasa.

Persetan dengannya.

Hidupnya penuh dengan drama.

Dia tak bisa dipercaya.

Jujur saja,

aku lebih memercayaimu

daripada Ayah.

Kau andal.

Kuat.

Dominan.

Tim Mumbai itu baru permulaan.

Kita akan menguasai dunia ini.

Ya.

Kau ikut?

Aku suka lagu ini.

Tidak boleh, Sayang.

- Gantian isapnya. - Ini, Bung.

Sudah kubilang, panggil aku "Ayah".

Aku mencintaimu.

Aku juga mencintaimu.

Sembunyi!

Bung Rauf, maafkan aku.

Aku salah.

Aku akan menurut.

Kau boleh miliki semuanya.

Laguku. Aku juga.

Semua milikmu.

Semua laguku...

Bajingan...

Kalau kau memang menyayanginya,

panggil dia "Ayah".

Bukan begitu?

DIADAPTASI DARI "RAY DONOVAN"

Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.