Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik menegangkan mengalun]
Maaf,
keluarga harus urus administrasi.
- Kami akan menangani dengan baik. - Baik.
Iya, Nak.
Papa segera ke sana.
Pasien pendarahan cukup parah, Dok.
[dokter] Bu Mirna, apa kabar?
Saya akan lakukan ini sekali lagi dengan baik.
Sabar dan ikhlas, ya, Bu.
[bip mesin rekam medis]
[denting piano mengalun]
[bip mesin rekam medis]
[ceplak alat medis dimasukkan]
[ceplak alat medis ditarik keluar]
[musik menegangkan mengalun]
[musik menegangkan mengeras]
[gonggongan anjing di kejauhan]
[musik menegangkan mengalun perlahan]
[musik menegangkan mengeras]
[tersengal-sengal]
- [Mirna mengesah] - [bip mesin rekam medis]
Sepertinya…
kita tidak bisa punya anak laki-laki.
Kenapa?
Kenapa aku keguguran terus?
[terisak]
[hela napas]
Sayang.
Sabar, ya,
dan ikhlaskan.
Mungkin Tuhan belum berikan kita kesempatan lagi untuk punya anak.
Tapi ini ketiga kalinya.
Dulu dokter pernah kasih tahu ke kamu,
sebelum kamu hamil Tari…
bahwa kandungan kamu itu lemah, Mirna.
[terisak]
Dan pada akhirnya, kamu terus berusaha.
[Mirna terisak]
Sampai akhirnya, kita punya Tari.
Sekarang usia kamu sudah kepala empat.
[Mirna menghela napas]
Itu dia. [terkekeh]
Kamu sudah ditunggu Mama dari tadi.
Sini.
[Anwar tertawa pelan]
[Tari] Ma?
Mama cepat sembuh, ya?
[bergumam]
[Marni mengesah]
[gonggongan anjing di kejauhan]
- Pagi, Pa. - Pagi, Sayang.
[Anwar mengemu]
[Anwar dan Tari tertawa kecil]
Mama enggak ikut sarapan?
- Mama masih belum fit. - [kertak kursi digeser]
Papa sudah buatkan kamu sarapan.
Tari mau lihat Mama dulu ke kamar, ya?
Iya, Sayang.
Ma, sarapan, yuk?
Mama memikirkan apa?
[Anwar mengesah]
Sayang?
Mungkin Mama lagi enggak mau diganggu. Ya?
Biar Tini yang temani Mama sarapan.
Ya, Ma? Mama sarapan di kamar saja, ya?
Selamat pagi.
Ayo.
[Tini] Selamat pagi, Bu.
Saya bawakan sarapan untuk Ibu.
Ini susunya diminum dulu, Bu.
[musik sendu mengalun]
Pagi!
Maaf, aku lapar.
Pagi, Om.
Kamu kenapa pagi-pagi ke sini, Bhan?
Soal rumah warisan.
Ada hak saya juga, 'kan?
Saya lagi butuh uang.
Rumah itu tidak akan pernah dijual.
[Subhan mengecap]
Mas pernah kasih bagian buat kamu,
tapi kamu menolak.
Saya mau ambil bagian saya, kalau rumah itu sudah terjual.
Saya ke sini bukan mau pinjam uang, Mas.
Subhan.
Mas tidak akan pernah jual rumah itu.
Rumah itu peninggalan sejarah yang penting buat Mas.
Dan bagaimana Mas menghormati Bapak dan Ibu
ketika mereka membangun rumah itu dulu
dengan jerih payah mereka, dengan keringat mereka.
Sebelum meninggal, Ibu menyuruh jual rumah itu.
Ya sudah.
Jadi, kamu tunggu yang sabar.
Sampai rumah itu benar-benar laku terjual.
Oke, saya tunggu.
Tapi saya tetap cari pembeli.
Saya butuh uang.
Iya.
[musik sendu mengalun]
[Anwar] Kamu hari ini enggak kuliah?
Hari ini libur.
Libur?
Tapi Tari mau ke kantor.
Ada proyek baru.
Serius kamu?
- [Tari menggumam] - [Anwar tertawa]
Aku sudah siapkan templat dengan beberapa desain untuk papan iklan.
Oke, setelah foto model baru kita,
nanti kita coba diskusikan dan matangkan lagi, ya?
[bahasa Inggris] Oke, terima kasih.
- [bahasa Indonesia] Gimana? - Kalau begitu, aku cek
persiapannya di studio, kali, ya?
Oh, ya. Sekalian cek perlengkapannya,
dan dipastikan lagi, ya,
- sudah pada siap atau belum. - Oke.
Oke.
[berseru senang]
Hai, Tari. Hai!
Hai, Vida.
Ya ampun, aku kangen banget. Tahu, tidak?
Kamu apa kabarnya?
Aku baik, kamu gimana?
Aku juga baik.
Kamu harusnya di rumah saja.
Urusan pekerjaan bisa aku tangani.
Enggak apa-apa.
Gimana kondisi ibumu?
Sori banget, aku enggak bisa jenguk. Maaf banget, ya.
Ibuku…
sudah lebih baik.
[bahasa Inggris] Omong-omong…
[bahasa Indonesia] Proyek ini sudah sepakat semua?
Ya, sudah tanda tangan perjanjian.
Nah, dan juga, aku sudah siapkan modelnya.
Mereka sudah oke.
Sini, aku kenalkan.
- Halo! - Hai! Halo!
Hai, Tari! Gimana kabarmu? Sehat?
- Sehat. - Navi. Sini.
Ini Tari. CEO kita.
[bergumam] Hai!
Mba Vida, maaf. Untuk perlengkapannya sudah siap.
Oh, oke.
- Ayo, Navi. Sudah siap? - Siap banget.
[Navi tertawa]
Silakan mengepas baju, nanti kita mengobrol lagi.
- [bahasa Inggris] Oke, terima kasih. - [bahasa Indonesia] Ya.
- Yuk, Bro. - Sukses, ya.
- Permisi. - Silakan.
Robert, mungkin bisa dijelaskan?
Pasti. Kenapa enggak? Yuk.
Oke. Ini dia.
[Robert] Klien kita ini adalah seorang kaya raya.
Perusahaannya, PT Loro Joyo Buwono.
Awalnya, mereka bergerak di bisnis baja.
Setelah itu kuliner.
Dan yang terakhir, bisnis kecantikan.
Dalam lima tahun ini, bisnis kecantikan mereka jadi fokus utama.
Nah, ini pemiliknya.
Namanya, Nona Gendis Puspoyo Kusumo.
PROFIL DIREKTUR PT LORO JOYO BUWONO
Orangnya cukup familier.
[bahasa Inggris] Tentu saja. Dia kaya raya.
[bahasa Indonesia] Mukanya sudah wira-wiri di media sosial.
Eh, apalagi, kalau bikin acara, selalu mengundang anak yatim.
[tertawa kecil]
[keletak papan ketik]
Pendapatan total kuartal sebesar 35 miliar.
Dan dari perawatan kulit telah menyumbangkan sekitar 70 persen.
Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini
untuk perusahaan ini.
Tapi kita butuh lebih besar lagi.
Pendapatan pada setiap kuartalnya. Kita boleh saja merayakan ini,
tapi ini belum cukup.
Belum cukup.
Kita tidak hanya akan menguasai pasar lokal saja.
[Anwar] Tapi kita harus menguasai pasar dunia.
Dan khususnya untuk tahun depan.
Tahun depan, tidak ada lagi kita menerima impor dari Tiongkok.
Tidak ada.
Justru kita harus masuk ke dalam pasar mereka.
Perusahaan kita ini, harus dikenal di seluruh dunia.
Dengan penghasilan triliunan.
Jadi, ini belum cukup.
Belum cukup.
[musik sendu mengalun]
Bu, bangun.
Makan siang, yuk, Bu.
Bu?
Tari…
Bu, bangun. Ini Tini, Bu.
Tari.
[menghela napas]
Tari.
Ini Tini, Bu.
Tari.
[deru mesin motor]
Mba Tari kenapa?
- [Navi berdeham] - Kunci aku hilang.
Kayaknya ketinggalan di atas.
Harus buru-buru pulang lagi.
Aku antarkan pulang, gimana?
[bergumam] Boleh.
[Navi] Sebentar, ya.
[ketukan pintu]
Masuk.
Pak, jam tiga ada rapat sama Wali Kota.
Halo, Pak Tri?
Saya akan kirim orang saya untuk bertemu Bapak.
Besok siang, Pak.
Baik, Pak
[kertak pintu menutup]
Santai dulu, ya. Aku ke kamar Mama.
Oke.
- Non? - Ya.
Ibu mengigau, memanggil nama Non terus.
[Tari menghela]
Ya sudah. Tini buatkan minum untuk tamu saya, ya.
Baik, Non.
[Tini mengesah]
[musik menegangkan mengalun]
[kertak pintu dibuka]
[bergumam]
Subhan.
Subhan.
Ma, ini Tari.
Subhan.
[menghela napas]
Subhan.
[mengesah]
Subhan.
[musik menegangkan mengalun]
[berembus]
[mengesah]
[menggeram kesal]
Terima kasih, ya.
Yang penting ibunya Mbak aman.
Panggil Tari saja, kita seumuran.
Sampai ketemu, Tari.
Oke.
[musik mencekam mengalun]
[denting pintu lift membuka]
[dentuman]
[Anwar terkesiap]
[gerantang]
[lift berderit]
[dering tombol darurat lift]
[debam dinding digedor]
- [dering tombol darurat lift] - [terkesiap]
[mengesah takut]
[gerantang]
[gerantang]
[dentuman keras]
[lift berderit]
[mengesah takut]
[ketukan keras]
[tersengal ketakutan]
Tolong!
Keamanan!
Keamanan! Tolong saya!
[terkesiap]
Tolong!
[lift terus berderit]
- [dentuman keras] - [Anwar tersengal]
- [bayi menangis keras] - [tersengal-sengal]
[ketukan keras]
[berteriak keras]
Mas!
Kamu ganti kunci rumah?
Iya. Mau ngapain kamu?
Ada orang yang mau beli.
Kenapa kamu ganti kuncinya?
[mendengus]
Mas sudah pernah bilang sama kamu
Mas tidak akan pernah jual rumah itu.
Apa kurang jelas?
Tari?
- Papa. - Iya?
Kayaknya kita mesti bawa Mama ke dokter.
Mama mengigau terus dari siang.
Terus, waktu Tari datang,
Mama sebut namanya Om Subhan.
[musik menegangkan mengalun]
Jangan-jangan…
Om Subhan guna-guna Mama.
Sayang, kamu enggak boleh begitu.
Anak Papa nggak boleh asal menuduh.
- Ya? - Bisa saja mau mengerjai kita, Pa.
Sekarang Mama di mana?
- Mama lagi tidur. - Ayo.
Ma.
Ma.
Ayo.
Ma.
Mama istirahat, ya?
Pa, lihat ini.
Rambut Mama rontok.
Nanti kita bawa Mama ke dokter, ya?
Sekarang Mama istirahat saja.
[berbisik] Jangan-jangan, ini santet,
atau guna-guna, atau apalah itu.
Tari, kamu tenang.
Ya?
Biar Papa yang cari solusinya.
Sialan itu si Subhan.
Sut…
Kamu enggak boleh omong begitu.
Itu om kamu.
Nah!
Yang penting, selama Papa enggak ada di rumah,
kamu jagain Mama.
Ya, Nak, ya?
Dan tolong jangan ceritakan ini kepada siapa pun.
Ya?
Iya, Pa.
[musik mencekam mengalun]
Halo, Vida?
Sudah cek hasil desain, belum?
Sori, Vida. Hari ini aku sibuk banget.
Aku cek sekarang, ya.
[denting laptop menyala]
[derit kursi]
- [musik menegangkan mengalun] - [kertak jendela membuka]
Sebentar, Vida. Aku tutup jendela sebentar.
Ma? Mama kenapa di luar?
[berembus]
Tari? Kenapa, Nak?
Tadi, Mama di luar rumah.
Terus, waktu Tari hampiri…
Mungkin Mama sudah ke kamar lagi.
Tapi kenapa, ya, Mama malam-malam begini ke luar?
Tari.
Mama dari tadi di kamar.
Lagi tidur.
Papa mau ke mana?
Mau ke bandara. Mau jemput investor dari Singapura.
Papa berangkat dulu, ya?
Tari jaga Mama, ya, Nak?
[musik menegangkan mengalun]
Subhan.
[Eyang berbahasa Jawa] Semoga
Yang Maha Esa
Mengabulkan
Bukan saudara, bukan kerabat
Bisa bersatu
[bahasa Indonesia] Jadi, ini benar
foto dan rambut laki-laki yang kamu inginkan?
Benar, Eyang.
[Eyang] Baik.
[bahasa Jawa] Niat hamba,
memelet hati dan pikirannya
seorang bernama Anwar Subarjo.
Yang lahir di bumi ini
hari Selasa Kliwon.
Semoga Yang Maha Kuasa
mengabulkan.
Dalam pikiran dan hatinya
ada Sonia Saraswati.
[meniup]
[bahasa Indonesia] Minumkan dua kali sehari.
Baik, Eyang.
Energimu dan Anwar sangat cocok.
Terima kasih banyak atas bantuannya, Eyang.
Iya, kalian akan abadi, selamanya.
Sekali lagi, terima kasih, Eyang.
Sama-sama.
[musik sendu mengalun]
[Marni menjeluak]
[Marni terus menjeluak]
[menjeluak]
- Ma? - [menjeluak]
Ma?
Mama kenapa?
Tari ambilkan air, ya?
[terkesiap]
[Marni berteriak tertahan]
Ma!
- Ma. - [tersedak]
Ma.
[Marni tercekat]
Ma!
Ma!
Ma!
Ma? Ma!
Ma?
Ma!
- Tari. - Papa.
[Tari terisak]
Mama gimana?
Tadi Mama muntah.
[Anwar mengesah]
Terus?
Terus…
[tergagap]
Ada rambut keluar menggumpal.
Iya. Sekarang kamu tenang.
[Tari terisak]
Kita masuk lihat Mama.
Kamu jangan menangis, ya?
Biar Mama punya semangat buat sembuh.
Ya, Nak?
Ayo.
Anak Papa harus kuat.
[bip mesin rekam medis]
Dok, bagaimana dengan kondisi istri saya?
Kondisi sudah mulai membaik.
Dan kadar oksigen juga sudah mulai meningkat.
Namun, belum stabil.
Ma?
Ma?
Kami akan melakukan satu tindakan untuk merangsang kerja paru-paru.
Jadi, kami meminta untuk Bapak menunggu di ruang depan.
Baik, Dok.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Tari.
Kita tunggu di luar saja.
Iya, ayo.
[Tari] Halo, Tini?
Tolong siapkan baju dan perlengkapan Mama, ya.
Baik, Non.
Saya siapkan sekarang, Non.
Sekalian baju rajut buat Mama.
Masukkan dalam satu tas saja.
Bagaimana kondisi Ibu, Non?
[Tari] Sudah membaik.
Terima kasih, Tini.
[Tini] Baik.
[bip telepon ditutup]
[bayi menangis keras]
[musik mencekam mengalun]
[bayi menangis]
[bayi terus menangis]
- [bayi menangis keras] - [berteriak kencang]
- [bayi menangis] - [Tini terus berteriak kencang]
[bayi menangis]
- [bayi terus menangis] - [menjeluak]
- [musik mencekam mengalun] - [pintu berderit membuka]
[menjeluak dan tersengal]
[Tini berteriak kencang]
[terengah-engah]
[kaca digedor]
[Tini terengah-engah]
[berteriak kencang]
[terengah-engah]
[kaca digedor di kejauhan]
- [terengah-engah] - [kaca digedor di kejauhan]
[mengesah]
- [Navi] Hai! - Hai.
Oh, aku habis menengok saudara, lagi dirawat.
Kamu?
- Mama, ya? - Iya.
Mamaku lagi dirawat di sini dari semalam.
Aku boleh jenguk mama kamu?
[mengemu] Iya. Boleh.
Aku ikuti orang itu dulu.
[Navi menggumam]
- Kamu bawa motor? - Bawa.
[menggumam]
- Bantu aku ikuti orang itu, ya? - Oke.
[deru mesin motor]
Itu rumah warisan Nenek yang diributkan.
Sedang apa, ya, dia?
Siapa dia?
Om aku.
Adiknya Papa.
Mau masuk, memergoki?
Enggak usah.
Nanti aku lapor Papa saja.
Ayo.
Kita ke rumah sakit lagi.
Oke.
Terima kasih, Pak Agung.
[ketukan pintu]
Masuk.
Saya akan selalu memberikan yang terbaik
untuk semua distributor kami.
Baik, Pak.
Terima kasih, Pak.
Sonia.
Saya harus langsung ke rumah sakit.
Kasih tahu ke Yanto,
saya tunggu di lobi, sekarang.
[musik menegangkan mengalun]
Pa?
Tari.
- Kenalkan, Navi, teman Tari. - Om.
- Saya sekalian pamit. - Ya.
- Terima kasih, ya. - [menggumam]
[bip mesin rekam medis]
Bagaimana dengan keadaannya Mama?
Pa?
Kayaknya penyakit Mama nonmedis.
Tari.
Kamu jangan aneh-aneh.
Tari lihat sendiri, Pa.
Dari mulut Mama,
keluar gumpalan rambut dan darah.
Rambut Mama rontok.
[menghela napas]
Dan Mama mengigau memanggil namanya Om Subhan.
Enggak wajar, Pa.
[Tari mengesah]
Tari yakin
ini pemicunya dari rumah warisan itu.
Tari yakin, ini nonmedis.
Kita harus segera bawa Mama ke orang pintar.
[mengesah]
Papa enggak pernah kelihatan serius untuk kesembuhan Mama.
Papa hanya menyembunyikan kejahatan Om Subhan dari keluarga kita.
Dulu, katanya Om Subhan itu santri.
Kok sekarang malah begitu?
Tari.
Papa paham betul…
Om Subhan enggak mungkin sampai berbuat sejahat itu.
[musik menegangkan mengalun]
[klotak laci-laci dibuka dan ditutup]
- [Subhan] Tini! - [terkesiap]
[terengah]
[kicau burung di kejauhan]
[gonggongan anjing di kejauhan]
[musik menegangkan mengalun]
[bip mesin rekam medis]
[tersengal-sengal]
[mendengus]
[musik menegangkan mengeras]
[bayi menangis]
[bayi menangis kencang]
[musik berubah mencekam]
[mengesah]
[jangkrik mengerik]
[musik misterius mengalun]
[nyanyian bersuara rendah mengalun]
Ini yang Nyi minta.
Kafan janin dan rambut istri Anwar.
Untuk kekayaan dan kejayaan.
Malam ini, Anwar yang malang harus merelakan kematian istrinya.
[terkikih]
Kamu memang seorang genius dan pemberani, Navi.
[musik misterius mengalun]
[bip mesin rekam medis]
[musik berubah menegangkan]
[bip mesin rekam medis]
[terkesiap]
Berdoalah untuk kematianmu.
[menghela napas]
[mengesah]
[tersengal-sengal]
Apa pun akan saya lakukan
demi kekayaan dan kejayaan kita, Nyi.
[musik misterius mengalun]
[menarik napas panjang]
[bergumam]
[bahasa Jawa] Leluhurku!
Leluhurku, Loro!
Loro Joyo Buwono!
[bahasa Indonesia] Terimalah!
[menghela napas]
Terimalah persembahanku!
Bangkitlah!
Bangkitlah!
[mengesah]
Bangkitlah, Loro!
Loro Joyo Buwono!
Terimalah persembahanku.
Bangkitlah dari kegelapan!
Loro!
[nyanyian bersuara rendah mengalun]
[nyanyian bersuara rendah berlanjut]
- [musik misterius mengalun] - [bip mesin rekam medis]
[terkesiap]
[mengesah takut]
[berteriak tertahan]
[berteriak]
[berteriak keras]
- [kertak tulang patah] - [berteriak kesakitan]
- [kertak tulang patah] - [merintih kesakitan]
[decur darah mengalir]
Loro!
[merintih]
- [Tari terkesiap] Ma? Ma! - [bip berkepanjangan]
Ma!
[berteriak] Ma!
Ma!
[berteriak] Ma!
[Tari menangis]
Terima kasih, Loro.
Kupersembahkan kematian perempuan itu.
Untuk keabadianmu.
Yang akan selalu mengabulkan keinginanku.
[nyanyian bersuara rendah mengalun]
Kami sudah cek kondisi jenazah Ibu Mirna.
Maaf, Dok.
RUANG JAGA PERAWAT
Kami dari pihak keluarga,
akan langsung memakamkan istri saya, malam ini juga.
Karena saya tidak ingin, Dok…
Saya enggak ingin anak saya semakin berduka.
Dan kami juga enggak mau semakin larut dalam kesedihan ini.
Jadi, saya pikir,
tidak perlu ada investigasi tentang kematian istri saya.
Baik, Pak Anwar. Kami akan coba diskusikan.
Baik, Dok.
- Selamat malam, Pak Anwar. - Malam.
Mari, Dokter.
[derap langkah]
[jangkrik mengerik]
[mengesah]
[musik mencekam mengalun]
[terengah]
[tutup keranda berderit dan berdentang]
[musik mencekam mengalun]
[terkesiap]
[derit pintu terbuka]
[musik berhenti]
[gemeletap langkah kaki]
[musik menegangkan mengalun]
[derit pintu mengeras]
[berteriak]
[terengah]
[mengesah]
[denting suara piano]
[terisak]
Ma.
[terisak]
Ma…
[musik berubah menegangkan]
[gonggongan anjing di kejauhan]
[musik menegangkan mengalun]
[terisak]
[deru mesin motor]
[tersengal-sengal]
[jangkrik mengerik]
[musik semakin menegangkan]
[mendengus]
[keletuk]
[menahan napas]
[mendengus]
[batuk kecil]
[musik menegangkan berlanjut]
[menghela napas]
[berembus]
- [bayi menangis] - [terkesiap]
[mendengus]
[melenguh]
[musik menegangkan terus mengalun]
[menghela napas]
- [Tari mendengus] - [Subhan mengerang]
[musik menegangkan mengeras]
[mendengus]
Kamu guna-guna mamaku.
Dasar biadab!
Cuma karena warisan, kamu gelap mata?
Tari.
Sekarang terbukti semua.
Di kamar itu,
kamu melakukan ritual ilmu hitam!
[tersengal]
Tari.
Tolong. Tolong lepaskan ikatannya, Tari.
Aku bisa jelaskan semuanya.
[Subhan mendengus]
Enggak perlu dijelaskan. Saya pernah lihat kamu ke sini.
Kamu bukan om saya!
Perselisihan saya dan papa kamu dalam lima tahun ini
ikut menyeret hubungan saya dan kamu jadi kurang baik.
Tapi saya ke sini memeriksa rumah karena ada calon pembeli.
Saya sedang butuh uang.
Jangan bohong.
Papa menawarkan uang, kamu tolak.
Karena saya curiga papamu melakukan hal musyrik di sini!
Saya curiga dengan kekayaan papa kamu!
Kamu jangan fitnah papa saya.
Papa saya kerja keras
untuk mendapatkan semua itu.
Kamu lihat pintu itu?
Kamu lihat!
Cuma papamu yang bisa masuk ke sini!
Papamu itu gila uang!
Gila harta!
Nyi Gendis!
Kenapa kamu membunuh Mirna?
Itu konsekuensinya dari ambisimu.
Tidak ada keserakahan yang mendatangkan kedamaian.
[nyanyian bersuara rendah mengalun]
Patung laknat!
[Nyi Gendis] Seseorang yang sudah kaya pasti lupa akan pemberi berkatnya.
Saya sudah tak peduli sama patung itu!
Kenapa dia menginginkan kematian istri saya?
[musik menegangkan mengalun]
[musik menegangkan berlanjut]
[dering ponsel]
Halo, Tari. Kenapa?
[Tari] Vida, sori ganggu tengah malam.
Bisa kirim berkas PT Loro Joyo Buwono?
Oke. Kebetulan,
berkas perjanjian kerja samanya ada di tas aku.
[Tari berbahasa Inggris] Oke. Terima kasih, Vida.
[bahasa Indonesia] Nanti aku cari, ya.
[Nyi Gendis] Jika si ibu janin tidak dikorbankan,
ritual ini tidak akan sempurna.
Tidak perlu sempurna!
Sampai di titik sekarang saja,
itu sudah cukup buat saya.
Ambisimu bilang sebaliknya.
Kamu selalu bilang, ingin untung besar, saham naik,
ingin menguasai pasar dunia.
Ingin menjadi konglomerat yang terpandang di antara konglomerat lainnya.
[menghela napas]
Tapi jangan keluarga saya!
Kamu ingat, empat tahun lalu?
Ingat pada kemiskinanmu.
Hanya aku yang peduli dengan kemiskinanmu.
[Tari] Uang sekolah menunggak lima bulan.
Tari enggak bisa ikut ujian kalau belum bayar.
Pasti Papa bayar.
Yang penting, Tari tetap sekolah.
Ketika miskin, tidak ada satu orang pun yang bisa menolong kamu, Anwar.
Cuma aku yang bisa membuat kamu kaya raya.
Tapi tentu ada konsekuensinya.
Tapi apa yang kamu lakukan,
itu tanpa persetujuan saya, Nyi Gendis.
[mendengus]
Saya sudah menyiapkan rencana.
Tapi bukan istri saya yang ditumbalkan!
Itu bukan keinginanku.
Aku hanya perantara.
Saya sudah menyiapkan janin lain.
Janin darah daging saya sendiri.
[terengah-engah]
Aduh…
- [bayi menangis] - [berteriak]
[tersengal-sengal]
[menjeluak]
[terengah-engah]
Itu buku apa?
Ilmu perdukunan?
[Subhan berembus]
Tanya papamu.
Cuma dia yang bisa masuk rumah ini.
[mengesah]
Saya minta hak rumah ini,
karena saya butuh uang untuk perbaikan pesantren.
Kamu tahunya saya ini cuma pengangguran yang tiap hari minta uang sama papamu.
Karena untuk pesantren,
saya enggak mau dari hasil pesugihan.
Papamu itu kaya raya karena pesugihan!
Bersekutu dengan iblis!
[mengesah gemetar]
Mamamu juga curiga, dan akhirnya dia jadi korban!
Tari.
Buka ikatan ini, Tari. Buka!
Kita harus hentikan perbuatan papamu!
Buka ikatan ini, Tari.
Buka!
Kalau kamu masih enggak percaya,
tadi saya menemukan janin yang sudah berbau busuk di samping rumah.
Kamu lihat. Kamu lihat!
[denting notifikasi ponsel]
[musik misterius mengalun]
[melenguh]
[musik berubah mencekam]
[mendengus]
[terengah-engah]
[bayi menangis]
[wanita] Tini…
- [terkesiap] - [musik mencekam mengalun]
[berteriak kencang]
[berteriak dan terengah]
[Tini terengah-engah]
[kersak rambut merayap turun]
[berteriak keras]
[tercekat]
[berteriak tercekat]
[kipas angin berderit]
[decur darah menyembur]
Saya menemukan janin sudah tanpa kafan.
Ini ada hubungannya dengan Tini.
Tini sedang hamil.
Hamil?
[berembus]
[mengesah]
[tergagap] Saya hamil.
[mengesah]
Anwar!
[Subhan terisak]
Tini butuh uang untuk melunasi utang keluarganya.
Jadi, dia melakukan ritual bersama Mas Anwar.
Dan sepertinya,
papamu juga butuh janin untuk media pesugihannya.
[musik menegangkan mengalun]
[mengesah]
[nada sambungan telepon]
Saya pernah mendengar soal pesugihan
yang menumbalkan janin untuk mendapat kekayaan.
Tapi saya enggak sangka,
kakak saya sendiri yang melakukannya.
[nada sambungan telepon]
[mengesah] Astagfirullah…
[berdecak]
Kemiskinan dan kerakusan memperbudak manusia.
[tertawa kecil] Mereka memilih jalan pintas.
Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin.
Terhina, dan dianggap sampah.
Yang sewaktu-waktu bisa hilang ditiup angin.
Kemelaratan itu seperti ujung pisau di tenggorokanmu,
hanya kamu yang bisa mencabutnya.
Aku tidak mau hidup menderita dan miskin.
Aku yang menentukan takdirku sendiri!
Tidak mau lagi bergantung pada dongeng "Takdir Tuhan".
Apa pun akan kulakukan.
Meskipun harus membunuh anakku sendiri.
[musik menegangkan mengalun]
Kalian berengsek!
[Navi mendengus]
[Anwar mendengus]
[Anwar mengerang]
[mengesah]
Nyi.
Kafan Mirna dan rambut Tari.
[mengerang]
Sayang banget, ya, Om, pertemuan kita cuma sebentar.
Harusnya aku ingin banget menikahi putri Om.
Putri Om yang cantik.
[mendengus]
Cantik, tapi bodoh.
Kebodohannya yang terlalu percaya sama bapaknya yang pembohong.
Pertemuan kita di rumah sakit, rasanya aku ingin membunuh Om.
Tapi, aku masih ada tugas dari Nyi Gendis.
Untuk mengambil rambut Tari.
[Anwar mengerang]
Kalian akan saya bunuh,
jika sakiti putri saya.
[berseru pelan] Kita tidak akan menyakiti Tari, Om.
Tapi Ki Loro membutuhkan darah Tari,
untuk keabadian setelah bangkit dari alam kegelapan.
[Anwar merintih]
Jahanam!
[mengerang]
Om.
Maafkan Tari, ya.
Aku akan memulai ritual pemungkas.
Sekali lagi aku bilang,
ini keinginan Ki Loro Joyo Buwono.
Leluhurku yang memberikan kita kejayaan dan kemakmuran.
Bukan keinginanku.
[mengerang]
Persetan dengan iblis itu.
[mengerang]
Saya tidak akan menumbalkan anak saya sendiri.
Teteskan darahmu.
Aku belum membunuhmu karena aku masih membutuhkan darahmu untuk ritual ini.
[merintih]
[musik menegangkan mengalun]
Satu langkah lagi,
hidup kamu akan seperti orang kaya raya yang lainnya.
Bergelimang harta.
Memiliki gedung pencakar langit adalah mimpimu.
Semua orang akan mati.
Begitu juga dengan anakmu.
Tujuan hidupmu tidak akan pernah mati bersamaku dan Ki Loro.
[mengerang]
Keabadian ada dalam diri kita hingga kiamat.
[berembus]
Loro!
Loro Joyo Buwono!
Terimalah persembahan dari kami!
Untuk kekayaan dan kemakmuran yang kami inginkan.
Darah mereka untuk keabadianmu.
Bangkit dari alam kegelapan!
[denting lampu gantung]
Terimalah persembahan terbaikku untukmu!
Aku sudah merasakan kedatanganmu!
Terimalah darah ini!
[musik misterius mengalun]
[Nyi Gendis mendengus]
- [Anwar menggeram] - [Nyi Gendis merintih]
[Anwar menggeram]
[Nyi Gendis merintih]
[Nyi Gendis mengerang]
[Anwar terengah]
Perempuan jahanam!
- [Nyi Gendis merintih] - [Anwar mengerang]
[mengerang]
[kertak pintu dibuka]
[menggeram]
[musik berubah mencekam]
[Nyi Gendis bersuara berat] Anwar!
Darahmu yang aku inginkan!
Untuk kebangkitanku!
[Nyi Gendis menggeram]
[Anwar terkesiap]
[berteriak]
[terengah]
[merintih]
- [menggeram] - [tercekat]
[berteriak]
[Nyi Gendis menggeram]
- [menggeram] - [tercekat]
Anwar!
[Nyi Gendis menggeram]
[menjeluak]
Aku sudah memberikan segalanya padamu!
Harta dan kekayaan!
Kamu tidak bisa pergi begitu saja dariku!
[Nyi Gendis menggeram]
[Nyi Gendis menggeram]
[Anwar berteriak]
[kernyau]
[Anwar merintih]
[tercekat]
[Nyi Gendis menggeram]
[tercekat]
[Anwar mengerang]
[merintih]
[Anwar mengerang]
Pa?
[Nyi Gendis menggeram]
- [menggeram] - [tercekat]
[merintih]
[Nyi Gendis berteriak]
[menggeram]
[Tari] Papa!
[Subhan mengerang]
Papa.
[lirih] Papa…
Pa!
[lirih] …minta maaf.
Pa!
- [tercekat] - [Tari terisak] Papa!
Papa!
[berembus]
[Tari] Pa!
Pa!
[menangis]
Aku Tuhanmu!
Memohonlah padaku!
- [merintih] - [Nyi Gendis menggeram]
Iblis tidak akan pernah menang melawan kami.
Tempatmu di neraka!
[berteriak]
[dentang kapak di lantai]
[Nyi Gendis menggeram]
Anak buahku.
Aku Tuhanmu!
[menggeram]
Kamu siapa sebenarnya?
Mungkin kamu butuh itu nanti.
[Nyi Gendis menggeram]
Berengsek!
- [Nyi Gendis menggeram] - [kernyau]
[mendengus]
[terkesiap]
[menggeram]
[mengerang]
[mengerang]
Om Subhan!
[mengerang]
[Nyi Gendis mengerang]
- [berteriak] - [dentam kapak menghujam]
[musik sendu mengalun]
[menangis]
[berteriak]
[berteriak]
[nyanyian bersuara rendah mengalun]
[mengesah]
[klotak]
[bahasa Jawa] Permisi, Mbah.
[nyanyian merdu wanita]
[bahasa Indonesia] Ada yang bisa saya bantu?
[nyanyian bersuara rendah mengalun]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.