Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aku berniat menutupi badan
yang berlubang.
Mati, yang mengganggu jiwaku.
Atas kehendak Tuhan
yang berkuasa.
Mbak.
- Mbak. - Lepas!
Silakan dibeli ayamnya.
- Terima kasih, Bu. Permisi. - Ya.
- Permisi, Bu. - Silakan.
- Silakan, Pak. - Silakan.
- Mbah, mari. - Silakan.
- Silakan Pak. - Baik.
- Juragan. - Ya.
Sedang belanja, Juragan?
Pakde.
Belanja untuk orang rumah.
- Sekalian yang ini. - Benar-benar ini Juragan.
Sangat menyayangi istri.
Cuma sup saja kok, Pakde.
- Permisi, ya. - Ya.
- Juragan. - Ya.
- Ya, hati-hati. - Siap, Juragan.
Silakan.
Mari. Hati-hati, Juragan.
HIDUP APA YANG DIKEJAR, PADAHAL KITA DIKEJAR MAUT
Sepertinya belum lama lahan ini ditanami.
- Sekarang sudah menghasilkan. - Ya, Pak Budi.
- Mari, Pak. - Ya, mari, Bu.
Pak Mul tidak ke sini?
Biasanya jam segini sudah sampai sini, Pak.
- Itu, Pak. - Kebetulan.
Ternyata ada Pak Budi.
Juragan.
Sudah lama, Pak Budi?
Tidak, baru saja.
- Cuma mampir. - Baik.
Ya, siapa tahu, sekarang Pak Mul sudah berubah pikiran.
Sudah mau berbagi rahasia
pembibitan karet yang bagus untuk petani kami.
Ya, Pak Mul tahu sendiri. Banyak yang punya lahan, tapi…
Tidak bisa diapa-apakan.
Lahan yang lainnya juga rata-rata itu hasilnya sangat sedikit.
Ya, nanti kita bicarakan lagi, Pak Budi.
Kebetulan aku buru-buru.
Nuri mau wisuda.
Baik.
Aku duluan ya, Pak Budi.
Silakan, Pak Mul.
Ya.
Hei!
Pecicilan!
- Pak, tolong dibantu. - Ya.
Maaf, aku bukakan, Pak.
Agak macet, ya. Besok diperbaiki.
Baik, Pak. Siap.
- Silakan, Pak. - Ya.
Hei.
Dys?
Gladys?
Apa tidak gerah pakai jaket, Pak?
Bapak malah kedinginan.
Kedinginan?
Bapak kenapa? Sakit?
Tidak apa-apa. Sudah tua.
Ini, diambilkan.
Yanda.
Kau jangan mengurus kebun terus.
Kuliahmu bagaimana?
Kenapa dibahas terus, Pak?
Ya, namanya Bapak. Cuma tanya.
Yanda sudah bilang berkali-kali kepada Bapak.
Yanda tidak mau lanjut kuliah.
Nanti kalau Yanda lanjut kuliah, kebunnya siapa yang urus?
Gampanglah. Bapak ini juragan.
Tinggal panggil orang saja.
Dys?
Sudahlah, Pak.
Jangan dibahas terus kuliahnya.
Yah, kalau kau tidak mau kuliah, tidak apa-apa.
Masuk Akpol.
Jadi komandan.
Bapak senang kalau kau jadi komandan.
Bagaimana, Jeng?
Hei, keponakanku ini memang rajin.
Pakde.
Baru selesai pasang pemanas air.
Besok perbaiki yang bocor.
- Ya. - Lalu, baru buat tempat untuk Gladys.
Ya.
Dys.
Makan terus. Nanti kau kegemukan.
Ayo jalan-jalan dulu.
Mau bagaimana lagi, Pak?
Anaknya memang tidak mau.
Jangan dipaksa.
Daripada Bapak ribut-ribut terus dengan Yanda.
Ya, ampun.
Bapak ini juragan.
Kakak lelaki sukses, kakak perempuan juga sukses.
Masa anak bontotku lulusan SMA?
Bantu-bantu di kebun.
Ya, kurang pantaslah, Bu.
Ya, nanti perkebunan harus Yanda yang mengurus, 'kan, Pak?
Ya, itu nanti.
Kalau aku sudah mati.
Kau itu mendoakan aku cepat mati atau bagaimana?
Hei, Bapak ini bercandanya.
Urusan hidup dan mati itu adalah urusan Allah.
Sudah, tidak usah dipikirkan.
Siapa tahu nanti Yanda berubah pikiran, Pak.
Ya.
Kau masak apa, Bu?
Ini sup sayur kesukaan Bapak.
Mengerti saja.
Zaman sekarang,
kalau tidak punya gelar, nanti diinjak-injak orang.
Lo, Pak?
Bapak! Astagfirullahaladzim!
Pak? Ya Allah.
Pak? Istigfar, Pak.
Astagfirullahaladzim. Pak, tenang.
Badanku tidak enak, sejak siang tadi.
Besok Nuri wisuda.
Sudah, istirahat dulu.
Duduk dulu. Ayo, Pak.
Bisa? Pelan-pelan, Pak.
Ayo.
Duduk, Pak. Duduk.
Bapak, aduh.
Astagfirullahaladzim.
Pak, istigfar.
Bapak istirahat dulu, ya.
Besok sebelum subuh, Bapak mandi pakai air hangat.
Itu, pemanas air yang diberikan oleh Mas Sesa.
Sudah bisa dipakai.
- Ya? - Ya.
Sebentar, kuambilkan air minum hangat.
Alhamdulillah.
Bangun.
Subuh.
Yanda.
Bangun, Nak. Sudah subuh.
Yanda.
Ayo kita ke wisuda Nuri, Yanda.
Pak, air panasnya bisa?
Ya, bisa.
Bapak!
Bapak!
Nuri! Sayangnya Bapak!
Selamat Tahun Baru!
- Bapak mau berikan hadiah apa? - Topi insinyur!
Topi insinyur!
Ya.
- Sekarang panggil Ibu. - Oke.
Selamat Tahun Baru!
Ibu!
- Selamat Tahun Baru! - Ibu!
Aku tadi dapat hadiah dari bapak!
- Mas Sesa! Aku dapat hadiah dari Bapak! - Ada apa?
- Bilang apa hadiahnya? - Kok teriak-teriak?
- Ada apa? - Ini, aku dapat hadiah dari Bapak.
- Hadiah apa namanya? - Alhamdulillah.
Topi insinyur!
Selamat!
Bagus, coba pakai.
Bagusnya!
Sesa, Bapak tidak mau tahu.
Kau anak pertama.
Harus jadi orang.
Harus punya gelar.
Itu sebabnya Bapak ingin kau menjadi dokter.
Pintar, dipandang, bermartabat.
Ya, Pak.
Jadi orang ya, Nak.
Yang tangguh, anak pertama.
- Ayo. - Pamit dulu ya, Bu.
Ini…
Ini Ibu bawakan.
Gladys mandi, ya.
Mandi dulu, ya.
- Pak. - Hei, dicium.
Bu.
Ibu yang pegang video.
Senyum, Semua!
- Senyum! - Itu video!
Dia suka digosok, agak dipijat juga.
Dia mandi berapa kali sehari, Pak?
Seperti kau.
Pak, aku turut berbelasungkawa.
Ya.
Ada yang bisa aku bantu, Pak?
Boleh minta tolong ini disebar saja, Pak?
- Ya, baik, Pak. - Di beberapa titik.
Baik.
- Aku permisi. - Terima kasih.
Maaf, Mas Sesa, sepertinya ada ritual yang harus kita lakukan.
Maaf, maksudnya bagaimana?
- Untuk pencegahan, Mas. - Ibu.
Kita sudah siapkan piring-piringnya.
Silakan Mas Sesa, Nuri, Yanda, dan Ibu
akan memecahkan piring-piring itu ketika jalan ke makam.
Ada apa ini, Mas?
Begini, Nur.
Ini Bapak meninggalnya hari Selasa
Kliwon.
Itu bukan hari yang bagus.
Untuk mencegah supaya jangan sampai ada anggota keluarga
yang diajak ikut Bapak,
aku sarankan keluarga untuk melakukan sebuah ritual.
Kalau tidak, Almarhum akan menjemput keluarganya dalam lima hari.
Kalau Mas Sesa dan Mbak Nuri tidak mau,
tidak apa-apa.
Biar aku dan Ibu saja.
Ibu sedang seperti ini.
Ada-ada saja kau.
Tidak.
Tidak.
Maaf, Pak. Tidak.
Mas Sesa.
Mohon maaf, Mas.
Ritual ini harus dilakukan oleh semua anggota keluarga.
Mas.
Mas, sudahlah.
Kita lakukan saja. Tidak ada ruginya, 'kan?
Bapak baru saja meninggal lo.
Masa kita melakukan hal seperti ini?
Mas, tapi ini cuma untuk…
Pokoknya Mas tidak mau.
Hal-hal seperti ini buat jadi masalah.
Banyak pasien Mas melakukan cara-cara seperti ini.
Ujung-ujungnya juga tidak bagus.
Tapi tidak ada ruginya juga kalau kita lakukan, Mas.
Tidak ada ruginya juga kalau kita tidak lakukan, 'kan?
Ya sudah.
Kalau Mas tidak mau, tidak apa-apa.
Tapi biarkan Ibu ikut.
Aku tahu Ibu juga pasti mau kok.
Terserah kau.
Mas mau siap-siap ke musala.
Mau menyalati Bapak.
Piring-piring yang pernah dipakai oleh Almarhum Bapak ini
harus dipecahkan semuanya.
Ya, kita mulai dari sini.
Lagi. Maju lagi sedikit.
Stop.
- Jeng, kau tolong pegang piringnya. - Ya.
Nanti kau berikan kepada Ibu, Nuri, dan Yanda.
Ya, pegang semua.
Sudah, siap-siap?
- Bu… - Ibu! Pegang, Pak.
- Kenapa, Bu? - Bu.
Bu.
Ibu tidak apa-apa? Ibu kenapa?
Kalau tidak kuat, Ibu tidak usah ikut. Tidak apa-apa.
Ini cuma tradisi, Bu.
Ibu di belakang saja.
Tidak usah ikut pecahkan piring. Ayo.
Sama Mas saja, ayo.
Ayo, Bu.
Ayo.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Begitu piring-piringnya habis,
dilanjutkan dengan menyebarkan koin.
Terus sampai ke liang kuburan bapak.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Itu sudah, ya?
Tiada Tuhan selain Allah.
Cepat, cepat.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Satu lagi, ya.
Siap. Ya, dapat.
Pelan-pelan saja.
Letakkan dulu.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Pelan-pelan.
Tiada Tuhan selain Allah.
Tiada Tuhan selain Allah.
Bapak…
Bapak… Pak!
Tiada Tuhan selain Allah.
Pak!
- Ibu ikut… - Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Ibu ikut!
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad
- adalah utusan Allah. - Bapak…
- Ibu ikut, Pak… - Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad
adalah utusan Allah.
- Marilah salat. - Bapak, Nur…
Marilah salat.
Marilah menuju kepada kejayaan.
Marilah menuju kepada kejayaan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Tiada Tuhan selain Allah.
Ya Sin.
Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,
sesungguhnya engkau Nabi Muhammad benar-benar salah seorang dari rasul-rasul
yang berada di atas jalan yang lurus,
sebagai wahyu yang diturunkan
oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang,
agar engkau Nabi Muhammad memberi peringatan kepada suatu kaum
yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai.
Bu…
Sungguh, benar-benar berlaku perkataan terhadap kebanyakan mereka,
maka mereka tidak akan beriman.
Ibu…
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka,
lalu tangan mereka yang terbelenggu diangkat ke dagu,
karena itu mereka tertengadah.
Bapak?
Pak?
Bapak?
Pak?
Pak, jemput aku.
- Bapak di mana? - Bu…
Pak? Bapak!
Pak, jemput aku.
Pak!
Pak…
Bapak!
Jangan tinggalkan aku, Pak.
Bapak!
Bapak!
Jangan tinggalkan aku, Pak!
Bapak!
Pak!
Ajak aku, Pak!
Bapak di mana?
Aku tidak mau sendiri, Pak.
Ya Allah…
Pak…
Pak, ajak aku.
- Ibu… - Pak.
Bapak.
Pak?
Pak… Bapak.
Ibu. Ibu kenapa?
- Kenapa? - Bapak, Nur…
Bapak ada di sini.
Tidak, Bu. Tidak ada Bapak, Bu.
- Nur… - Istigfar, Bu.
- Bantu Ibu cari Bapak. - Tidak.
- Bapak sudah tidak ada, Bu. - Ada, Nur!
Pasti Ibu cari Bapak!
Istigfar, Bu.
Maaf… Bapak-Bapak, mohon maaf.
Ibuku mungkin sedang sedih, tapi ada adikku yang sudah menemani.
Silakan dilanjutkan kembali.
Mas…
Sudah, lanjutkan. Mari.
Mereka berkata, "Kemalanganmu itu akibat perbuatanmu sendiri."
- Bapak, Nur. - Istigfar.
- Ibu mau cari Bapak. - Astagfirullahaladzim.
- Bu, tidak ada lagi… - Bantu Ibu cari Bapak, Nur.
Ayo istirahat ya, Bu.
Bapak…
- Ibu tahu ada Bapak di sana. - Tidak, Bu. Tidak ada, sudah ya.
Ibu istirahat saja, ya.
Bapak…
Ibu…
Sudah, Bu.
Sabar, Bu.
Bapak sudah tidak ada.
Kita ikhlas ya, Bu.
Pelan-pelan, Bu.
Sudah, Bu. Istirahat. Ibu pasti lelah.
Ya?
- Nur! - Ya, Bu?
Kenapa, Bu?
- Kenapa, Bu? - Kau di sini saja.
Nuri di sini temani Ibu.
- Nuri di sini. - Ibu takut.
Ya, Bu. Nuri di sini, Bu.
Peluk Ibu.
Ibu takut.
Ya, Bu.
Astagfirullahaladzim.
Kenapa, Mbak?
Ibu bagaimana?
Sudah tidur?
Sudah.
Tadi Ibu teriak-teriak.
Katanya ada Bapak.
Lalu,
Ibu minta dijemput, Nda.
Kayaknya Ibu sangat terpukul.
Seharusnya, Mbak, ritual tadi kita lakukan bersama Ibu
dan Mas Sesa juga.
Tidak bisa kalau kita saja. Jadi begini, 'kan?
Ini tidak ada hubungannya, Nda.
Ya jelas ada, Mbak.
Bapak meninggal di hari sial.
Yanda benar, Nur.
Seharusnya semua anak-anak Bapak ikut.
Aku lebih khawatir dengan kondisi Ibu.
Kau mengkhawatirkan Ibu, memangnya Ibu kenapa?
Tidak ada itu hari sial.
Kita semua sedang berduka sekarang.
Jangan dikaitkan dengan hal-hal seperti ini lagi.
Ibu hanya sedang sedih, dan itu wajar.
Mas juga tidak bisa lama-lama di sini.
Rumah sakit lagi banyak sekali pasien.
Segitunya, Mas
sama duniawi?
Maksudmu apa?
Hei.
Mas. Sudah, Mas.
Kenapa dia?
Tidak punya tanggung jawab. Terbiasa bergantung terus.
Sudahlah, Mas.
Bu, sudah sarapan?
Bu? Ibu?
Bu? Ibu?
Aku belum bisa bekerja lagi.
- Mas? - Ya?
Lihat Ibu tidak?
- Aku tahu pasien lagi banyak… - Bu!
Ibu!
Bu?
Jeng?
Ajeng?
Kenapa, Nur?
Kau lihat Ibu tidak?
Aku tidak tahu.
Bu?
Bu?
- Ibu! - Bude?
- Bu? - Ke mana ya Bude?
Bu!
- Ibu sedang apa? - Bude!
Kok, ini tidak bisa, Nur? Bu!
Mas Sesa! Ibu, Mas!
- Ya, nanti aku telepon lagi. - Ibu!
Mas!
- Ya! - Bu!
Apa?
Itu Ibu!
- Astagfirullah. - Bisa?
Tersangkut, Nut.
Bu!
Bu!
Bu, mobil!
Bu, awas!
Bu, awas!
Bu!
Ibu
Ibu kenapa?
- Ibu. - Ibu sedang apa di sini?
- Sudah, ayo. - Orang gila!
Hati-hati, Mas.
Maaf, Pak.
Yanda.
Ya, Pak?
Percaya atau tidak,
ini masih ada kaitannya dengan kematian almarhum bapak kemarin.
Tutup semua, Jeng.
Ya, Bude.
Ibu, masih dingin ya?
Jendelanya sudah ditutup?
Sudah kok, Bude.
Nur, aku siapkan untuk tahlilan, ya.
Ya.
Nur, Jeng.
Kenapa, Bu?
Ibu punya kabar buruk.
Kabar buruk apa, Bu?
Ibu akan pergi sebentar lagi.
Tapi Ibu juga punya kabar baiknya.
Ibu akan ajak kalian.
Ya, itu namanya Ibu depresi, Nur.
Wajar dengan kondisi seperti ini.
Depresi apa, Mas?
Pak Lurah sudah bilang.
Ini masih efek dari kematian Bapak di hari Selasa Kliwon.
Lalu, apa?
Kau tahu dari dulu Pak Lurah itu sangat iri dengan Bapak.
Pakai suruh orang pintar. Berpikirlah.
Tidak ada hubungannya dengan itu, Mas.
Sudahlah.
Atau begini, Mas.
Maaf ya, Mas.
Mas ini pintar. Dokter.
Ya, 'kan?
Bisa tidak Mas jelaskan
kenapa kondisi Ibu bisa menggigil, padahal suhu badannya normal?
- Maksudmu apa? - Sudah.
Sudah ya, Mas Sesa. Yanda. Sudah.
Tolong jangan ribut.
Nanti kalau Ibu dengar bagaimana?
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Maaf ya, Mas, telat, soalnya hujan.
Di klinik hanya ada ini.
Ya, tidak apa-apa. Terima kasih, Jeng.
Mas kepala keluarga di sini sekarang.
Kita selesaikan dengan cara Mas.
Suka atau tidak.
Bapak sudah semangat mau datang ke wisudamu, Nur.
Sudah beli batik baru.
Sudah bicara ke mana-mana.
Anak perempuan satu-satunya sebentar lagi menjadi insinyur.
Ya ampun.
Bagaimana? Tembok sudah beres?
Sudah, Mas.
Pak Bejo, habis perbaiki genteng, langsung perbaiki ini ya, Pak.
Ventilasi, Pak.
- Ini penting sekali, Pak. - Baik.
- Biar tidak ada yang mengintip. - Baik, Mas.
Ya, Mas.
Tukang sudah kau kasih tahu soal korslet?
Sudah.
Aku sudah jelaskan. Hari ini beres.
Kau sampai kapan di sini, Nur?
Sampai tujuh harian Bapak, ya?
Ibu takut kalau sampai terjadi apa-apa.
Bu.
Memangnya bakal ada apa, Bu?
Ibu jangan bicara yang aneh-aneh.
Di sini dulu, Nak.
Bu.
Sudah enakan?
Ya, beginilah, Mas.
Alhamdulillah, sudah lebih baik.
Bu.
Nanti malam Mas balik ke Jogja, ya.
Rumah sakit tidak bisa ditinggal lama-lama.
Ibu tidak apa-apa?
Tidak apa-apa, Mas.
Tidak apa-apa.
Sudah menjadi tugasmu,
tanggung jawabmu melayani masyarakat.
Tidak apa-apa.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
- Pak Slamet. - Ya, Mas.
Bagian ini semua sudah selesai?
Belum, Mas. Tinggal sedikit.
- Dilanjut besok saja ya, Pak. - Baik.
Soalnya mau ada tahlilan.
Baik.
Pak Bejo, dilanjut besok saja,
- Sudah, Mas. - Baik.
Yanda.
Nak?
Kipas ini rusak, ya?
Kok, tidak mau mati?
Mas, permisi ya.
Ya, silakan.
Bapak dan Ibu cepat sekali meninggalkan kita.
Di saat aku sudah gelar insinyur,
Bapak dan Ibu malah pergi.
Kita harus kuat.
Ya?
Kau harus kuat.
Kau tahu Kampung Wiroatus?
Yang di sebelah bukit itu.
Ini.
Orang pintar yang aku bilang kemarin itu.
Sebaiknya kau segera ke sana.
Aku khawatir dengan Mas-mu.
Ya?
Terima kasih ya, Pak.
Mas.
Kalau dibilang kecelakaan,
ini tidak wajar, Mas.
Kau jangan seperti Yanda.
Ini murni kecelakaan.
Tapi Ibu bilang sendiri ke aku
kalau Ibu sudah punya firasat akan pergi, Mas.
Dan Ibu bilang,
"Mau ajak kalian," itu kita, Mas.
Sudah terbukti, 'kan, Mas?
Mbak.
Lalu, sekarang tunggu apa lagi?
Kita tidak bisa diam saja.
Lalu, kau mau apa?
Kau merasa bangga
melakukan sesuatu
seakan-akan kematian itu adalah hal yang bisa dicegah?
Mas ini seumur-umur menjadi dokter
tidak pernah bisa menjamin umur-umur semua pasien Mas.
Karena semua itu sudah di tangan Allah.
- Kau istigfar. - Mas, sudah.
Sudah, tolong.
Sudahlah.
Bisakah tidak ribut di sini?
Jenazah Ibu masih di dalam lo, Mas.
Nak…
Sesa…
Ibu kesepian.
Sini, ikut Bapak, Nak.
Ikut Ibu, Nak.
Aku percaya
ini semua karena Bapak meninggal di hari sial.
Ibu sudah meninggal, Mbak.
Aku malah bingung kalau Mbak tidak percaya.
Mbak.
Kampung Wiroatus.
Aku diberi tahu oleh Pak Lurah
supaya kita cepat ke sana.
- Mas Sesa tidak akan mau, Nda. - Tidak apa-apa, Mbak.
Tidak apa-apa kalau Mas Sesa tidak mau.
Biar aku dan Mbak Nuri saja.
Mbak.
Aku yakin Bapak tidak mungkin berhenti di Ibu.
Apalagi Mas Sesa tidak melakukan ritual, Mbak.
Siapa tahu
setidaknya kita bisa mencegah sesuatu yang akan terjadi kepada Mas Sesa.
Nak.
Ayo sini.
Nak.
Sesa.
Ibu kesepian, Nak.
Sesa.
Halo, Pak. Ajeng sudah taruh sesuai yang Bapak pesan, ya.
Tapi kok belum kelihatan, ya? Apa tidak bisa dipercepat saja, Pak?
Jeng.
Ya, Mas?
Itu kapan diperbaiki?
Itu tadi siang, Mas.
Mas Sesa tidur nyenyak sekali.
Ini dingin sekali, ya.
Kau tidak kedinginan?
Tidak, Mas.
Ajeng malah kepanasan.
Mas Sesa sakit?
Mau Ajeng antar ke puskesmas?
Tidak usah.
Nanti biar Yanda saja yang antar.
Yanda dan Nuri sedang keluar, Mas.
Dari siang belum pulang juga.
Tidak tahu ke mana.
Mas, Ajeng siapkan untuk tahlilan dulu, ya.
- Nda. - Ya?
Kau yakin ini rumahnya?
Yakin, Mbak.
Satu-satunya rumah di tengah hutan.
Ayo, Mbak.
Nda.
Kau yakin?
Kita tidak ada pilihan lain, Mbak.
Malam, Mbah.
Apa yang membawa kalian jauh-jauh ke sini?
- Pamit dulu, Mas. - Baik, Pak.
- Pamit dulu ya, Mas. Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Mari, Mas. - Mari, Pak. Terima kasih, Pak.
- Mas Sesa, aku pamit. - Ya.
Nanti kalau ada perlu sesuatu, urusan perkebunan,
Mas Sesa hubungi aku saja.
Permisi, Mas.
Jeng?
Ajeng.
Ajeng.
- Jeng. - Ya, Mas?
Yanda dan Nuri kok belum kembali juga?
Kau ada kabar dari mereka?
Belum ada, Mas.
Jeng.
Pak Budi masih suka ikut campur urusan keluarga ini?
Ya, Mas. Masih.
Apalagi
Yanda tambah dekat
dan menurut sekali kepada Pak Budi.
Aku lebih takut
Yanda
kena pengaruh dari Pak Budi.
Kalau Mas Sesa dan Mbak Nuri tidak mau,
tidak apa-apa.
Biar aku dan Ibu saja.
Yanda.
Ya, Pak?
Percaya atau tidak,
ini masih ada kaitannya dengan kematian almarhum Bapak kemarin.
Kau tahu Kampung Wiroatus?
Ini.
Orang pintar yang aku bilang kemarin itu.
Sebaiknya kau segera ke sana.
Aku khawatir dengan Mas-mu.
Ya sudah.
Aku beres-beres ke belakang dulu ya, Mas.
Permisi.
Manusia sering sibuk dengan urusannya sendiri.
Sibuk dengan urusan dunianya sendiri.
Sampai sering kali lupa mempersiapkan diri
untuk menyandang gelar yang sesungguhnya.
Gelar semua umat.
Almarhum.
Pada akhirnya,
tidak ada yang bisa lari dari kematian.
Bapak!
Pak!
- Pak! - Ayo, Nak.
Ikut Bapak.
Pak!
Pak!
Mas?
Mas Sesa?
Mas Sesa?
Mas?
Jadi, kematian di hari sial itu sungguh ada?
Dan seluruh anggota keluarganya akan diajak?
Ya.
Untuk mereka yang tidak melakukan ritual, Mbak.
Mbah, permisi sebentar ya.
Halo? Jeng?
Kenapa, Jeng?
Ya, sebentar. Aku dan Yanda pulang.
- Kenapa, Mbak? - Ayo kita pulang.
Mbah, permisi pulang ya.
Ayo kita pulang. Mas Sesa hilang.
Pak!
Pak!
Pak!
Pak.
Bapak?
Pak?
Bapak?
Bapak!
- Mas Sesa! - Wisesa!
Mbak, di sini.
- Mas Sesa! - Wisesa!
Mas Sesa!
- Wisesa! - Mas Sesa!
Mas Sesa!
Mas Sesa!
Kenapa, Mas?
Pak, tolong.
Tolong antar aku ke klinik terdekat, Pak.
Baik, Mas. Tapi, maaf, di belakang ya, Mas.
Ya.
- Mas! - Mas!
Mas Sesa!
- Mas! - Agak jauh!
- Wisesa! - Mas Sesa!
Di sana kali, Mbak.
Mas Sesa!
Mas Sesa!
- Wisesa! - Mas Sesa!
Pak Bambang.
Pak Bambang sudah cari ke mana tadi?
Yanda. Ini Yanda.
Bagaimana, Jeng?
Kita masih mau sama-sama cari, Nur.
Kita harus cari sampai Mas Sesa ditemukan.
- Maaf, sebentar. - Bagaimana?
- Halo? Ya? - Pak, Bu. Minta tolong, ya.
- Pak, Bu. - Tolong carikan. Maaf, ya.
- Minta tolong, ya. - Tadi Mas Sesa ada di kamar Yanda.
Tapi waktu aku ke sana lagi, sudah tidak ada, Nur.
Kok bisa, Jeng?
Aku dapat telepon dari klinik.
Mas Sesa ada di sana.
- Ya sudah, berangkat sekarang. - Ayo, Pak.
- Pak, temani ya. - Temani kami, Pak.
- Ya, ayo. - Ayo.
Pak!
Pasien meninggal dunia karena kehilangan banyak darah.
Kami sudah berusaha melakukan transfusi dan menyumbat aliran darahnya.
Tapi Tuhan berkata lain.
Kenapa?
Kenapa?
Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Dan jauhkanlah kami dari siksa api Neraka.
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.
Bersabarlah, Nak.
Pakde turut mendoakan yang terbaik.
Kalau memang semua ini benar…
Sudah, Mbak. Sudah.
Kita…
Kita sudah gagal menolong Mas Sesa, Mbak.
Tadi…
Semua orang melihat kita seperti aneh sekali.
Mereka seperti melihat orang yang sudah dekat ajalnya.
Nur…
Jangan bicara begitu.
Ya?
Sabar, ya.
Sekarang Mbak percaya, 'kan?
Almarhum Bapak
memang datang untuk jemput kita.
Sabar ya, Nur.
Kau jangan mengurus kebun terus.
Kuliahmu bagaimana?
Nanti kalau Yanda lanjut kuliah, kebunnya siapa yang urus?
Gampanglah. Bapak ini juragan.
Tinggal paling orang saja.
Aku menyesal, Mbak.
Seharusnya kita bisa selamatkan Mas Sesa, Mbak.
Tidak ada yang bisa selamat dari kematian, Nda.
Tapi aku yakin Mas Sesa bisa diselamatkan kalau dia dengarkan omongan aku, Mbak.
Sudah, Nda.
Dan juga kalau dia dengarkan omongan Pak Lurah, Mbak,
dia bisa kita selamatkan.
Sudah…
Sudah, ya.
Dia tidak harus meninggal, Mbak.
- Sudah. - Aku yakin dia masih di sini, Mbak.
Yanda, sudah.
Semua ini sudah terjadi.
Aku tidak kuat.
Aku sayang sama dia, Mbak
Sudah, ya.
Kita bisa lalui ini berdua. Bisa.
Aku tidak tahu apakah bisa.
Bisa.
Sudah, ya.
Kau sekarang masuk, istirahat ya.
Sudah.
Sudah, masuk.
Dingin.
Bu, masih dingin, ya?
Ibu ada kabar buruk.
Ibu akan pergi sebentar lagi.
Tapi Ibu juga punya kabar baiknya.
Ibu akan ajak kalian.
Nda.
Ada itu di setiap kamar di rumahku, Mbah.
Lalu, kenapa Mbakku jadi seperti ini?
Kami sudah melakukan ritual, Mbah.
Sejak kapan benda ini ada di rumahmu?
Aku tidak tahu, Mbah.
Tanah kuburan bukan pertanda baik.
Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Mbah?
Aku benar-benar tidak mengerti.
Hanya ada satu cara untuk menghentikan ini.
Ya sudah, Mbah. Apa pun itu, akan…
Tapi…
Kalian harus merelakan darah kalian.
Kalian harus melakukan Tapa Pendem.
Dan itu harus dilakukan sekarang.
Sebelum kematian yang dikirim datang menjemput.
Ritual itu akan menukar takdir kematian kalian kepada pengirimnya.
Aku berniat menutupi badan
yang berlubang.
Mati, yang mengganggu jiwaku.
Seseorang telah mengirim kematian kepada kalian.
Atas kehendak Tuhan
yang berkuasa.
Kalian sudah dikejar kematian.
Seseorang telah mengirimkannya.
Semua ini karena ketamakan manusia.
Mereka mengejar gelar dan status tanpa pandang bulu.
Mbak, sudah. Tenang, Mbak.
Jika waktunya telah tiba,
santetnya pun akan berbalik.
Yang tenang ya, Istriku.
Aku akan membahagiakan Ajeng.
Tenang ragaku.
Berserah raganya.
Berserah jiwanya.
Siapa kau?
Siapa kau?
Pergi!
Aku tidak bisa dikalahkan.
Mbak, tenang. Tidak apa-apa.
- Percaya, Mbak. - Lepas!
- Lepas! - Mbak!
Mbak, tenang. Mbak, jangan keluar!
Mbak!
Ajeng anak yang pintar, Mas.
Kujamin tidak akan merepotkan Mas Mul dan Mbak Rahmi.
Ya sudah, kau tidak usah khawatir.
Nanti Ajeng kujadikan sarjana bersama anak-anakku.
Perkebunan ini juga tidak usah kau pikirkan.
Kita urus semuanya.
Ya, bagaimanapun, kau pernah jadi bagian dari perkebunan ini.
Ya, Mas.
Walaupun Isma sudah tiada,
kita tetap keluarga, 'kan?
Yah…
Ya, begitu.
Ya.
Terima kasih banyak, Mas.
Adikku itu keras kepala.
Sebenarnya keluarga itu tidak ada yang setuju
Isma menikahinya.
Laki-laki malas.
Kau jangan mengurus kebun terus.
Kuliahmu bagaimana?
Nanti kalau Yanda lanjut kuliah, kebunnya siapa yang urus?
Gampanglah. Bapak ini juragan.
Tinggal panggil orang saja.
Pakde itu bohong, Pak.
Sampai kapan pun, Ajeng tidak akan dikuliahkan.
Anak-anaknya sudah jadi dokter.
Jadi insinyur.
Ajeng cuma jadi tukang urus kuda.
Kuda, Pak.
Kuda.
Sengsara, raganya.
Kematian menjemputnya.
Kau taruh di kamar mereka.
Tapi jangan sampai mereka tahu. Ya?
Ya, Pak.
Pak… Bapak…
Jadi, ini semua bukan tentang kematian Bapak di hari sial.
Gladys.
Ayo masuk.
Ayo masuk.
Ayo, Dys. Tidak masuk?
Ayo, Dys!
Mbak.
Mbak.
Mbak, bangun!
Mbak jangan tinggalkan Yan…
Mbak.
Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Dan jauhkanlah kami dari siksa api Neraka.
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.
Yanda.
Nuri.
Bersabarlah.
Ayo, Nda.
Mbak mau balik jam berapa?
Jadi kuantar?
Balik ke mana?
Katanya Mbak ini mau balik ke Jogja, 'kan?
Melanjutkan program profesi insinyur.
Nda.
Mbak sudah sepakat dengan Pak Lurah.
Mau bantu bangun desa ini.
Merapikan.
Anggap saja ini proyek pertamanya Mbak.
Pak Lurah tidak seburuk itu, 'kan, Mbak?
Beliau mendekatiku
supaya bisa bicara ke Bapak
untuk bagi-bagi pembibitan ke petani lokal yang lain.
Tapi Bapak tidak pernah mau.
Selalu merasa kalau Pak Lurah itu saingan.
Padahal tidak.
Dia orang baik.
Berarti Mbak tidak jadi meneruskan kuliah?
Jadi.
Tapi tidak sekarang, Nda.
Lalu?
Nda.
Mbak mau di sini dulu.
Sama kau.
Mbak cuma punya kau sekarang, Nda.
Terima kasih ya, Mbak.
Ya, sama-sama.
Sudah. Ayo, pulang.
Mbak.
Kenapa lagi, Nda?
Kita masih hidup
karena ritual pecah piringnya sudah dipercaya turun-temurun
atau karena Tapa Pendem?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.