All language subtitles for Almarhum 2025 idcp

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Aku berniat menutupi badan

yang berlubang.

Mati, yang mengganggu jiwaku.

Atas kehendak Tuhan

yang berkuasa.

Mbak.

- Mbak. - Lepas!

Silakan dibeli ayamnya.

- Terima kasih, Bu. Permisi. - Ya.

- Permisi, Bu. - Silakan.

- Silakan, Pak. - Silakan.

- Mbah, mari. - Silakan.

- Silakan Pak. - Baik.

- Juragan. - Ya.

Sedang belanja, Juragan?

Pakde.

Belanja untuk orang rumah.

- Sekalian yang ini. - Benar-benar ini Juragan.

Sangat menyayangi istri.

Cuma sup saja kok, Pakde.

- Permisi, ya. - Ya.

- Juragan. - Ya.

- Ya, hati-hati. - Siap, Juragan.

Silakan.

Mari. Hati-hati, Juragan.

HIDUP APA YANG DIKEJAR, PADAHAL KITA DIKEJAR MAUT

Sepertinya belum lama lahan ini ditanami.

- Sekarang sudah menghasilkan. - Ya, Pak Budi.

- Mari, Pak. - Ya, mari, Bu.

Pak Mul tidak ke sini?

Biasanya jam segini sudah sampai sini, Pak.

- Itu, Pak. - Kebetulan.

Ternyata ada Pak Budi.

Juragan.

Sudah lama, Pak Budi?

Tidak, baru saja.

- Cuma mampir. - Baik.

Ya, siapa tahu, sekarang Pak Mul sudah berubah pikiran.

Sudah mau berbagi rahasia

pembibitan karet yang bagus untuk petani kami.

Ya, Pak Mul tahu sendiri. Banyak yang punya lahan, tapi…

Tidak bisa diapa-apakan.

Lahan yang lainnya juga rata-rata itu hasilnya sangat sedikit.

Ya, nanti kita bicarakan lagi, Pak Budi.

Kebetulan aku buru-buru.

Nuri mau wisuda.

Baik.

Aku duluan ya, Pak Budi.

Silakan, Pak Mul.

Ya.

Hei!

Pecicilan!

- Pak, tolong dibantu. - Ya.

Maaf, aku bukakan, Pak.

Agak macet, ya. Besok diperbaiki.

Baik, Pak. Siap.

- Silakan, Pak. - Ya.

Hei.

Dys?

Gladys?

Apa tidak gerah pakai jaket, Pak?

Bapak malah kedinginan.

Kedinginan?

Bapak kenapa? Sakit?

Tidak apa-apa. Sudah tua.

Ini, diambilkan.

Yanda.

Kau jangan mengurus kebun terus.

Kuliahmu bagaimana?

Kenapa dibahas terus, Pak?

Ya, namanya Bapak. Cuma tanya.

Yanda sudah bilang berkali-kali kepada Bapak.

Yanda tidak mau lanjut kuliah.

Nanti kalau Yanda lanjut kuliah, kebunnya siapa yang urus?

Gampanglah. Bapak ini juragan.

Tinggal panggil orang saja.

Dys?

Sudahlah, Pak.

Jangan dibahas terus kuliahnya.

Yah, kalau kau tidak mau kuliah, tidak apa-apa.

Masuk Akpol.

Jadi komandan.

Bapak senang kalau kau jadi komandan.

Bagaimana, Jeng?

Hei, keponakanku ini memang rajin.

Pakde.

Baru selesai pasang pemanas air.

Besok perbaiki yang bocor.

- Ya. - Lalu, baru buat tempat untuk Gladys.

Ya.

Dys.

Makan terus. Nanti kau kegemukan.

Ayo jalan-jalan dulu.

Mau bagaimana lagi, Pak?

Anaknya memang tidak mau.

Jangan dipaksa.

Daripada Bapak ribut-ribut terus dengan Yanda.

Ya, ampun.

Bapak ini juragan.

Kakak lelaki sukses, kakak perempuan juga sukses.

Masa anak bontotku lulusan SMA?

Bantu-bantu di kebun.

Ya, kurang pantaslah, Bu.

Ya, nanti perkebunan harus Yanda yang mengurus, 'kan, Pak?

Ya, itu nanti.

Kalau aku sudah mati.

Kau itu mendoakan aku cepat mati atau bagaimana?

Hei, Bapak ini bercandanya.

Urusan hidup dan mati itu adalah urusan Allah.

Sudah, tidak usah dipikirkan.

Siapa tahu nanti Yanda berubah pikiran, Pak.

Ya.

Kau masak apa, Bu?

Ini sup sayur kesukaan Bapak.

Mengerti saja.

Zaman sekarang,

kalau tidak punya gelar, nanti diinjak-injak orang.

Lo, Pak?

Bapak! Astagfirullahaladzim!

Pak? Ya Allah.

Pak? Istigfar, Pak.

Astagfirullahaladzim. Pak, tenang.

Badanku tidak enak, sejak siang tadi.

Besok Nuri wisuda.

Sudah, istirahat dulu.

Duduk dulu. Ayo, Pak.

Bisa? Pelan-pelan, Pak.

Ayo.

Duduk, Pak. Duduk.

Bapak, aduh.

Astagfirullahaladzim.

Pak, istigfar.

Bapak istirahat dulu, ya.

Besok sebelum subuh, Bapak mandi pakai air hangat.

Itu, pemanas air yang diberikan oleh Mas Sesa.

Sudah bisa dipakai.

- Ya? - Ya.

Sebentar, kuambilkan air minum hangat.

Alhamdulillah.

Bangun.

Subuh.

Yanda.

Bangun, Nak. Sudah subuh.

Yanda.

Ayo kita ke wisuda Nuri, Yanda.

Pak, air panasnya bisa?

Ya, bisa.

Bapak!

Bapak!

Nuri! Sayangnya Bapak!

Selamat Tahun Baru!

- Bapak mau berikan hadiah apa? - Topi insinyur!

Topi insinyur!

Ya.

- Sekarang panggil Ibu. - Oke.

Selamat Tahun Baru!

Ibu!

- Selamat Tahun Baru! - Ibu!

Aku tadi dapat hadiah dari bapak!

- Mas Sesa! Aku dapat hadiah dari Bapak! - Ada apa?

- Bilang apa hadiahnya? - Kok teriak-teriak?

- Ada apa? - Ini, aku dapat hadiah dari Bapak.

- Hadiah apa namanya? - Alhamdulillah.

Topi insinyur!

Selamat!

Bagus, coba pakai.

Bagusnya!

Sesa, Bapak tidak mau tahu.

Kau anak pertama.

Harus jadi orang.

Harus punya gelar.

Itu sebabnya Bapak ingin kau menjadi dokter.

Pintar, dipandang, bermartabat.

Ya, Pak.

Jadi orang ya, Nak.

Yang tangguh, anak pertama.

- Ayo. - Pamit dulu ya, Bu.

Ini…

Ini Ibu bawakan.

Gladys mandi, ya.

Mandi dulu, ya.

- Pak. - Hei, dicium.

Bu.

Ibu yang pegang video.

Senyum, Semua!

- Senyum! - Itu video!

Dia suka digosok, agak dipijat juga.

Dia mandi berapa kali sehari, Pak?

Seperti kau.

Pak, aku turut berbelasungkawa.

Ya.

Ada yang bisa aku bantu, Pak?

Boleh minta tolong ini disebar saja, Pak?

- Ya, baik, Pak. - Di beberapa titik.

Baik.

- Aku permisi. - Terima kasih.

Maaf, Mas Sesa, sepertinya ada ritual yang harus kita lakukan.

Maaf, maksudnya bagaimana?

- Untuk pencegahan, Mas. - Ibu.

Kita sudah siapkan piring-piringnya.

Silakan Mas Sesa, Nuri, Yanda, dan Ibu

akan memecahkan piring-piring itu ketika jalan ke makam.

Ada apa ini, Mas?

Begini, Nur.

Ini Bapak meninggalnya hari Selasa

Kliwon.

Itu bukan hari yang bagus.

Untuk mencegah supaya jangan sampai ada anggota keluarga

yang diajak ikut Bapak,

aku sarankan keluarga untuk melakukan sebuah ritual.

Kalau tidak, Almarhum akan menjemput keluarganya dalam lima hari.

Kalau Mas Sesa dan Mbak Nuri tidak mau,

tidak apa-apa.

Biar aku dan Ibu saja.

Ibu sedang seperti ini.

Ada-ada saja kau.

Tidak.

Tidak.

Maaf, Pak. Tidak.

Mas Sesa.

Mohon maaf, Mas.

Ritual ini harus dilakukan oleh semua anggota keluarga.

Mas.

Mas, sudahlah.

Kita lakukan saja. Tidak ada ruginya, 'kan?

Bapak baru saja meninggal lo.

Masa kita melakukan hal seperti ini?

Mas, tapi ini cuma untuk…

Pokoknya Mas tidak mau.

Hal-hal seperti ini buat jadi masalah.

Banyak pasien Mas melakukan cara-cara seperti ini.

Ujung-ujungnya juga tidak bagus.

Tapi tidak ada ruginya juga kalau kita lakukan, Mas.

Tidak ada ruginya juga kalau kita tidak lakukan, 'kan?

Ya sudah.

Kalau Mas tidak mau, tidak apa-apa.

Tapi biarkan Ibu ikut.

Aku tahu Ibu juga pasti mau kok.

Terserah kau.

Mas mau siap-siap ke musala.

Mau menyalati Bapak.

Piring-piring yang pernah dipakai oleh Almarhum Bapak ini

harus dipecahkan semuanya.

Ya, kita mulai dari sini.

Lagi. Maju lagi sedikit.

Stop.

- Jeng, kau tolong pegang piringnya. - Ya.

Nanti kau berikan kepada Ibu, Nuri, dan Yanda.

Ya, pegang semua.

Sudah, siap-siap?

- Bu… - Ibu! Pegang, Pak.

- Kenapa, Bu? - Bu.

Bu.

Ibu tidak apa-apa? Ibu kenapa?

Kalau tidak kuat, Ibu tidak usah ikut. Tidak apa-apa.

Ini cuma tradisi, Bu.

Ibu di belakang saja.

Tidak usah ikut pecahkan piring. Ayo.

Sama Mas saja, ayo.

Ayo, Bu.

Ayo.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Begitu piring-piringnya habis,

dilanjutkan dengan menyebarkan koin.

Terus sampai ke liang kuburan bapak.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Itu sudah, ya?

Tiada Tuhan selain Allah.

Cepat, cepat.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Satu lagi, ya.

Siap. Ya, dapat.

Pelan-pelan saja.

Letakkan dulu.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Pelan-pelan.

Tiada Tuhan selain Allah.

Tiada Tuhan selain Allah.

Bapak…

Bapak… Pak!

Tiada Tuhan selain Allah.

Pak!

- Ibu ikut… - Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ibu ikut!

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad

- adalah utusan Allah. - Bapak…

- Ibu ikut, Pak… - Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad

adalah utusan Allah.

- Marilah salat. - Bapak, Nur…

Marilah salat.

Marilah menuju kepada kejayaan.

Marilah menuju kepada kejayaan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Tiada Tuhan selain Allah.

Ya Sin.

Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,

sesungguhnya engkau Nabi Muhammad benar-benar salah seorang dari rasul-rasul

yang berada di atas jalan yang lurus,

sebagai wahyu yang diturunkan

oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang,

agar engkau Nabi Muhammad memberi peringatan kepada suatu kaum

yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai.

Bu…

Sungguh, benar-benar berlaku perkataan terhadap kebanyakan mereka,

maka mereka tidak akan beriman.

Ibu…

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka,

lalu tangan mereka yang terbelenggu diangkat ke dagu,

karena itu mereka tertengadah.

Bapak?

Pak?

Bapak?

Pak?

Pak, jemput aku.

- Bapak di mana? - Bu…

Pak? Bapak!

Pak, jemput aku.

Pak!

Pak…

Bapak!

Jangan tinggalkan aku, Pak.

Bapak!

Bapak!

Jangan tinggalkan aku, Pak!

Bapak!

Pak!

Ajak aku, Pak!

Bapak di mana?

Aku tidak mau sendiri, Pak.

Ya Allah…

Pak…

Pak, ajak aku.

- Ibu… - Pak.

Bapak.

Pak?

Pak… Bapak.

Ibu. Ibu kenapa?

- Kenapa? - Bapak, Nur…

Bapak ada di sini.

Tidak, Bu. Tidak ada Bapak, Bu.

- Nur… - Istigfar, Bu.

- Bantu Ibu cari Bapak. - Tidak.

- Bapak sudah tidak ada, Bu. - Ada, Nur!

Pasti Ibu cari Bapak!

Istigfar, Bu.

Maaf… Bapak-Bapak, mohon maaf.

Ibuku mungkin sedang sedih, tapi ada adikku yang sudah menemani.

Silakan dilanjutkan kembali.

Mas…

Sudah, lanjutkan. Mari.

Mereka berkata, "Kemalanganmu itu akibat perbuatanmu sendiri."

- Bapak, Nur. - Istigfar.

- Ibu mau cari Bapak. - Astagfirullahaladzim.

- Bu, tidak ada lagi… - Bantu Ibu cari Bapak, Nur.

Ayo istirahat ya, Bu.

Bapak…

- Ibu tahu ada Bapak di sana. - Tidak, Bu. Tidak ada, sudah ya.

Ibu istirahat saja, ya.

Bapak…

Ibu…

Sudah, Bu.

Sabar, Bu.

Bapak sudah tidak ada.

Kita ikhlas ya, Bu.

Pelan-pelan, Bu.

Sudah, Bu. Istirahat. Ibu pasti lelah.

Ya?

- Nur! - Ya, Bu?

Kenapa, Bu?

- Kenapa, Bu? - Kau di sini saja.

Nuri di sini temani Ibu.

- Nuri di sini. - Ibu takut.

Ya, Bu. Nuri di sini, Bu.

Peluk Ibu.

Ibu takut.

Ya, Bu.

Astagfirullahaladzim.

Kenapa, Mbak?

Ibu bagaimana?

Sudah tidur?

Sudah.

Tadi Ibu teriak-teriak.

Katanya ada Bapak.

Lalu,

Ibu minta dijemput, Nda.

Kayaknya Ibu sangat terpukul.

Seharusnya, Mbak, ritual tadi kita lakukan bersama Ibu

dan Mas Sesa juga.

Tidak bisa kalau kita saja. Jadi begini, 'kan?

Ini tidak ada hubungannya, Nda.

Ya jelas ada, Mbak.

Bapak meninggal di hari sial.

Yanda benar, Nur.

Seharusnya semua anak-anak Bapak ikut.

Aku lebih khawatir dengan kondisi Ibu.

Kau mengkhawatirkan Ibu, memangnya Ibu kenapa?

Tidak ada itu hari sial.

Kita semua sedang berduka sekarang.

Jangan dikaitkan dengan hal-hal seperti ini lagi.

Ibu hanya sedang sedih, dan itu wajar.

Mas juga tidak bisa lama-lama di sini.

Rumah sakit lagi banyak sekali pasien.

Segitunya, Mas

sama duniawi?

Maksudmu apa?

Hei.

Mas. Sudah, Mas.

Kenapa dia?

Tidak punya tanggung jawab. Terbiasa bergantung terus.

Sudahlah, Mas.

Bu, sudah sarapan?

Bu? Ibu?

Bu? Ibu?

Aku belum bisa bekerja lagi.

- Mas? - Ya?

Lihat Ibu tidak?

- Aku tahu pasien lagi banyak… - Bu!

Ibu!

Bu?

Jeng?

Ajeng?

Kenapa, Nur?

Kau lihat Ibu tidak?

Aku tidak tahu.

Bu?

Bu?

- Ibu! - Bude?

- Bu? - Ke mana ya Bude?

Bu!

- Ibu sedang apa? - Bude!

Kok, ini tidak bisa, Nur? Bu!

Mas Sesa! Ibu, Mas!

- Ya, nanti aku telepon lagi. - Ibu!

Mas!

- Ya! - Bu!

Apa?

Itu Ibu!

- Astagfirullah. - Bisa?

Tersangkut, Nut.

Bu!

Bu!

Bu, mobil!

Bu, awas!

Bu, awas!

Bu!

Ibu

Ibu kenapa?

- Ibu. - Ibu sedang apa di sini?

- Sudah, ayo. - Orang gila!

Hati-hati, Mas.

Maaf, Pak.

Yanda.

Ya, Pak?

Percaya atau tidak,

ini masih ada kaitannya dengan kematian almarhum bapak kemarin.

Tutup semua, Jeng.

Ya, Bude.

Ibu, masih dingin ya?

Jendelanya sudah ditutup?

Sudah kok, Bude.

Nur, aku siapkan untuk tahlilan, ya.

Ya.

Nur, Jeng.

Kenapa, Bu?

Ibu punya kabar buruk.

Kabar buruk apa, Bu?

Ibu akan pergi sebentar lagi.

Tapi Ibu juga punya kabar baiknya.

Ibu akan ajak kalian.

Ya, itu namanya Ibu depresi, Nur.

Wajar dengan kondisi seperti ini.

Depresi apa, Mas?

Pak Lurah sudah bilang.

Ini masih efek dari kematian Bapak di hari Selasa Kliwon.

Lalu, apa?

Kau tahu dari dulu Pak Lurah itu sangat iri dengan Bapak.

Pakai suruh orang pintar. Berpikirlah.

Tidak ada hubungannya dengan itu, Mas.

Sudahlah.

Atau begini, Mas.

Maaf ya, Mas.

Mas ini pintar. Dokter.

Ya, 'kan?

Bisa tidak Mas jelaskan

kenapa kondisi Ibu bisa menggigil, padahal suhu badannya normal?

- Maksudmu apa? - Sudah.

Sudah ya, Mas Sesa. Yanda. Sudah.

Tolong jangan ribut.

Nanti kalau Ibu dengar bagaimana?

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Maaf ya, Mas, telat, soalnya hujan.

Di klinik hanya ada ini.

Ya, tidak apa-apa. Terima kasih, Jeng.

Mas kepala keluarga di sini sekarang.

Kita selesaikan dengan cara Mas.

Suka atau tidak.

Bapak sudah semangat mau datang ke wisudamu, Nur.

Sudah beli batik baru.

Sudah bicara ke mana-mana.

Anak perempuan satu-satunya sebentar lagi menjadi insinyur.

Ya ampun.

Bagaimana? Tembok sudah beres?

Sudah, Mas.

Pak Bejo, habis perbaiki genteng, langsung perbaiki ini ya, Pak.

Ventilasi, Pak.

- Ini penting sekali, Pak. - Baik.

- Biar tidak ada yang mengintip. - Baik, Mas.

Ya, Mas.

Tukang sudah kau kasih tahu soal korslet?

Sudah.

Aku sudah jelaskan. Hari ini beres.

Kau sampai kapan di sini, Nur?

Sampai tujuh harian Bapak, ya?

Ibu takut kalau sampai terjadi apa-apa.

Bu.

Memangnya bakal ada apa, Bu?

Ibu jangan bicara yang aneh-aneh.

Di sini dulu, Nak.

Bu.

Sudah enakan?

Ya, beginilah, Mas.

Alhamdulillah, sudah lebih baik.

Bu.

Nanti malam Mas balik ke Jogja, ya.

Rumah sakit tidak bisa ditinggal lama-lama.

Ibu tidak apa-apa?

Tidak apa-apa, Mas.

Tidak apa-apa.

Sudah menjadi tugasmu,

tanggung jawabmu melayani masyarakat.

Tidak apa-apa.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

- Pak Slamet. - Ya, Mas.

Bagian ini semua sudah selesai?

Belum, Mas. Tinggal sedikit.

- Dilanjut besok saja ya, Pak. - Baik.

Soalnya mau ada tahlilan.

Baik.

Pak Bejo, dilanjut besok saja,

- Sudah, Mas. - Baik.

Yanda.

Nak?

Kipas ini rusak, ya?

Kok, tidak mau mati?

Mas, permisi ya.

Ya, silakan.

Bapak dan Ibu cepat sekali meninggalkan kita.

Di saat aku sudah gelar insinyur,

Bapak dan Ibu malah pergi.

Kita harus kuat.

Ya?

Kau harus kuat.

Kau tahu Kampung Wiroatus?

Yang di sebelah bukit itu.

Ini.

Orang pintar yang aku bilang kemarin itu.

Sebaiknya kau segera ke sana.

Aku khawatir dengan Mas-mu.

Ya?

Terima kasih ya, Pak.

Mas.

Kalau dibilang kecelakaan,

ini tidak wajar, Mas.

Kau jangan seperti Yanda.

Ini murni kecelakaan.

Tapi Ibu bilang sendiri ke aku

kalau Ibu sudah punya firasat akan pergi, Mas.

Dan Ibu bilang,

"Mau ajak kalian," itu kita, Mas.

Sudah terbukti, 'kan, Mas?

Mbak.

Lalu, sekarang tunggu apa lagi?

Kita tidak bisa diam saja.

Lalu, kau mau apa?

Kau merasa bangga

melakukan sesuatu

seakan-akan kematian itu adalah hal yang bisa dicegah?

Mas ini seumur-umur menjadi dokter

tidak pernah bisa menjamin umur-umur semua pasien Mas.

Karena semua itu sudah di tangan Allah.

- Kau istigfar. - Mas, sudah.

Sudah, tolong.

Sudahlah.

Bisakah tidak ribut di sini?

Jenazah Ibu masih di dalam lo, Mas.

Nak…

Sesa…

Ibu kesepian.

Sini, ikut Bapak, Nak.

Ikut Ibu, Nak.

Aku percaya

ini semua karena Bapak meninggal di hari sial.

Ibu sudah meninggal, Mbak.

Aku malah bingung kalau Mbak tidak percaya.

Mbak.

Kampung Wiroatus.

Aku diberi tahu oleh Pak Lurah

supaya kita cepat ke sana.

- Mas Sesa tidak akan mau, Nda. - Tidak apa-apa, Mbak.

Tidak apa-apa kalau Mas Sesa tidak mau.

Biar aku dan Mbak Nuri saja.

Mbak.

Aku yakin Bapak tidak mungkin berhenti di Ibu.

Apalagi Mas Sesa tidak melakukan ritual, Mbak.

Siapa tahu

setidaknya kita bisa mencegah sesuatu yang akan terjadi kepada Mas Sesa.

Nak.

Ayo sini.

Nak.

Sesa.

Ibu kesepian, Nak.

Sesa.

Halo, Pak. Ajeng sudah taruh sesuai yang Bapak pesan, ya.

Tapi kok belum kelihatan, ya? Apa tidak bisa dipercepat saja, Pak?

Jeng.

Ya, Mas?

Itu kapan diperbaiki?

Itu tadi siang, Mas.

Mas Sesa tidur nyenyak sekali.

Ini dingin sekali, ya.

Kau tidak kedinginan?

Tidak, Mas.

Ajeng malah kepanasan.

Mas Sesa sakit?

Mau Ajeng antar ke puskesmas?

Tidak usah.

Nanti biar Yanda saja yang antar.

Yanda dan Nuri sedang keluar, Mas.

Dari siang belum pulang juga.

Tidak tahu ke mana.

Mas, Ajeng siapkan untuk tahlilan dulu, ya.

- Nda. - Ya?

Kau yakin ini rumahnya?

Yakin, Mbak.

Satu-satunya rumah di tengah hutan.

Ayo, Mbak.

Nda.

Kau yakin?

Kita tidak ada pilihan lain, Mbak.

Malam, Mbah.

Apa yang membawa kalian jauh-jauh ke sini?

- Pamit dulu, Mas. - Baik, Pak.

- Pamit dulu ya, Mas. Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Mari, Mas. - Mari, Pak. Terima kasih, Pak.

- Mas Sesa, aku pamit. - Ya.

Nanti kalau ada perlu sesuatu, urusan perkebunan,

Mas Sesa hubungi aku saja.

Permisi, Mas.

Jeng?

Ajeng.

Ajeng.

- Jeng. - Ya, Mas?

Yanda dan Nuri kok belum kembali juga?

Kau ada kabar dari mereka?

Belum ada, Mas.

Jeng.

Pak Budi masih suka ikut campur urusan keluarga ini?

Ya, Mas. Masih.

Apalagi

Yanda tambah dekat

dan menurut sekali kepada Pak Budi.

Aku lebih takut

Yanda

kena pengaruh dari Pak Budi.

Kalau Mas Sesa dan Mbak Nuri tidak mau,

tidak apa-apa.

Biar aku dan Ibu saja.

Yanda.

Ya, Pak?

Percaya atau tidak,

ini masih ada kaitannya dengan kematian almarhum Bapak kemarin.

Kau tahu Kampung Wiroatus?

Ini.

Orang pintar yang aku bilang kemarin itu.

Sebaiknya kau segera ke sana.

Aku khawatir dengan Mas-mu.

Ya sudah.

Aku beres-beres ke belakang dulu ya, Mas.

Permisi.

Manusia sering sibuk dengan urusannya sendiri.

Sibuk dengan urusan dunianya sendiri.

Sampai sering kali lupa mempersiapkan diri

untuk menyandang gelar yang sesungguhnya.

Gelar semua umat.

Almarhum.

Pada akhirnya,

tidak ada yang bisa lari dari kematian.

Bapak!

Pak!

- Pak! - Ayo, Nak.

Ikut Bapak.

Pak!

Pak!

Mas?

Mas Sesa?

Mas Sesa?

Mas?

Jadi, kematian di hari sial itu sungguh ada?

Dan seluruh anggota keluarganya akan diajak?

Ya.

Untuk mereka yang tidak melakukan ritual, Mbak.

Mbah, permisi sebentar ya.

Halo? Jeng?

Kenapa, Jeng?

Ya, sebentar. Aku dan Yanda pulang.

- Kenapa, Mbak? - Ayo kita pulang.

Mbah, permisi pulang ya.

Ayo kita pulang. Mas Sesa hilang.

Pak!

Pak!

Pak!

Pak.

Bapak?

Pak?

Bapak?

Bapak!

- Mas Sesa! - Wisesa!

Mbak, di sini.

- Mas Sesa! - Wisesa!

Mas Sesa!

- Wisesa! - Mas Sesa!

Mas Sesa!

Mas Sesa!

Kenapa, Mas?

Pak, tolong.

Tolong antar aku ke klinik terdekat, Pak.

Baik, Mas. Tapi, maaf, di belakang ya, Mas.

Ya.

- Mas! - Mas!

Mas Sesa!

- Mas! - Agak jauh!

- Wisesa! - Mas Sesa!

Di sana kali, Mbak.

Mas Sesa!

Mas Sesa!

- Wisesa! - Mas Sesa!

Pak Bambang.

Pak Bambang sudah cari ke mana tadi?

Yanda. Ini Yanda.

Bagaimana, Jeng?

Kita masih mau sama-sama cari, Nur.

Kita harus cari sampai Mas Sesa ditemukan.

- Maaf, sebentar. - Bagaimana?

- Halo? Ya? - Pak, Bu. Minta tolong, ya.

- Pak, Bu. - Tolong carikan. Maaf, ya.

- Minta tolong, ya. - Tadi Mas Sesa ada di kamar Yanda.

Tapi waktu aku ke sana lagi, sudah tidak ada, Nur.

Kok bisa, Jeng?

Aku dapat telepon dari klinik.

Mas Sesa ada di sana.

- Ya sudah, berangkat sekarang. - Ayo, Pak.

- Pak, temani ya. - Temani kami, Pak.

- Ya, ayo. - Ayo.

Pak!

Pasien meninggal dunia karena kehilangan banyak darah.

Kami sudah berusaha melakukan transfusi dan menyumbat aliran darahnya.

Tapi Tuhan berkata lain.

Kenapa?

Kenapa?

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Dan jauhkanlah kami dari siksa api Neraka.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Bersabarlah, Nak.

Pakde turut mendoakan yang terbaik.

Kalau memang semua ini benar…

Sudah, Mbak. Sudah.

Kita…

Kita sudah gagal menolong Mas Sesa, Mbak.

Tadi…

Semua orang melihat kita seperti aneh sekali.

Mereka seperti melihat orang yang sudah dekat ajalnya.

Nur…

Jangan bicara begitu.

Ya?

Sabar, ya.

Sekarang Mbak percaya, 'kan?

Almarhum Bapak

memang datang untuk jemput kita.

Sabar ya, Nur.

Kau jangan mengurus kebun terus.

Kuliahmu bagaimana?

Nanti kalau Yanda lanjut kuliah, kebunnya siapa yang urus?

Gampanglah. Bapak ini juragan.

Tinggal paling orang saja.

Aku menyesal, Mbak.

Seharusnya kita bisa selamatkan Mas Sesa, Mbak.

Tidak ada yang bisa selamat dari kematian, Nda.

Tapi aku yakin Mas Sesa bisa diselamatkan kalau dia dengarkan omongan aku, Mbak.

Sudah, Nda.

Dan juga kalau dia dengarkan omongan Pak Lurah, Mbak,

dia bisa kita selamatkan.

Sudah…

Sudah, ya.

Dia tidak harus meninggal, Mbak.

- Sudah. - Aku yakin dia masih di sini, Mbak.

Yanda, sudah.

Semua ini sudah terjadi.

Aku tidak kuat.

Aku sayang sama dia, Mbak

Sudah, ya.

Kita bisa lalui ini berdua. Bisa.

Aku tidak tahu apakah bisa.

Bisa.

Sudah, ya.

Kau sekarang masuk, istirahat ya.

Sudah.

Sudah, masuk.

Dingin.

Bu, masih dingin, ya?

Ibu ada kabar buruk.

Ibu akan pergi sebentar lagi.

Tapi Ibu juga punya kabar baiknya.

Ibu akan ajak kalian.

Nda.

Ada itu di setiap kamar di rumahku, Mbah.

Lalu, kenapa Mbakku jadi seperti ini?

Kami sudah melakukan ritual, Mbah.

Sejak kapan benda ini ada di rumahmu?

Aku tidak tahu, Mbah.

Tanah kuburan bukan pertanda baik.

Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Mbah?

Aku benar-benar tidak mengerti.

Hanya ada satu cara untuk menghentikan ini.

Ya sudah, Mbah. Apa pun itu, akan…

Tapi…

Kalian harus merelakan darah kalian.

Kalian harus melakukan Tapa Pendem.

Dan itu harus dilakukan sekarang.

Sebelum kematian yang dikirim datang menjemput.

Ritual itu akan menukar takdir kematian kalian kepada pengirimnya.

Aku berniat menutupi badan

yang berlubang.

Mati, yang mengganggu jiwaku.

Seseorang telah mengirim kematian kepada kalian.

Atas kehendak Tuhan

yang berkuasa.

Kalian sudah dikejar kematian.

Seseorang telah mengirimkannya.

Semua ini karena ketamakan manusia.

Mereka mengejar gelar dan status tanpa pandang bulu.

Mbak, sudah. Tenang, Mbak.

Jika waktunya telah tiba,

santetnya pun akan berbalik.

Yang tenang ya, Istriku.

Aku akan membahagiakan Ajeng.

Tenang ragaku.

Berserah raganya.

Berserah jiwanya.

Siapa kau?

Siapa kau?

Pergi!

Aku tidak bisa dikalahkan.

Mbak, tenang. Tidak apa-apa.

- Percaya, Mbak. - Lepas!

- Lepas! - Mbak!

Mbak, tenang. Mbak, jangan keluar!

Mbak!

Ajeng anak yang pintar, Mas.

Kujamin tidak akan merepotkan Mas Mul dan Mbak Rahmi.

Ya sudah, kau tidak usah khawatir.

Nanti Ajeng kujadikan sarjana bersama anak-anakku.

Perkebunan ini juga tidak usah kau pikirkan.

Kita urus semuanya.

Ya, bagaimanapun, kau pernah jadi bagian dari perkebunan ini.

Ya, Mas.

Walaupun Isma sudah tiada,

kita tetap keluarga, 'kan?

Yah…

Ya, begitu.

Ya.

Terima kasih banyak, Mas.

Adikku itu keras kepala.

Sebenarnya keluarga itu tidak ada yang setuju

Isma menikahinya.

Laki-laki malas.

Kau jangan mengurus kebun terus.

Kuliahmu bagaimana?

Nanti kalau Yanda lanjut kuliah, kebunnya siapa yang urus?

Gampanglah. Bapak ini juragan.

Tinggal panggil orang saja.

Pakde itu bohong, Pak.

Sampai kapan pun, Ajeng tidak akan dikuliahkan.

Anak-anaknya sudah jadi dokter.

Jadi insinyur.

Ajeng cuma jadi tukang urus kuda.

Kuda, Pak.

Kuda.

Sengsara, raganya.

Kematian menjemputnya.

Kau taruh di kamar mereka.

Tapi jangan sampai mereka tahu. Ya?

Ya, Pak.

Pak… Bapak…

Jadi, ini semua bukan tentang kematian Bapak di hari sial.

Gladys.

Ayo masuk.

Ayo masuk.

Ayo, Dys. Tidak masuk?

Ayo, Dys!

Mbak.

Mbak.

Mbak, bangun!

Mbak jangan tinggalkan Yan…

Mbak.

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Dan jauhkanlah kami dari siksa api Neraka.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

Yanda.

Nuri.

Bersabarlah.

Ayo, Nda.

Mbak mau balik jam berapa?

Jadi kuantar?

Balik ke mana?

Katanya Mbak ini mau balik ke Jogja, 'kan?

Melanjutkan program profesi insinyur.

Nda.

Mbak sudah sepakat dengan Pak Lurah.

Mau bantu bangun desa ini.

Merapikan.

Anggap saja ini proyek pertamanya Mbak.

Pak Lurah tidak seburuk itu, 'kan, Mbak?

Beliau mendekatiku

supaya bisa bicara ke Bapak

untuk bagi-bagi pembibitan ke petani lokal yang lain.

Tapi Bapak tidak pernah mau.

Selalu merasa kalau Pak Lurah itu saingan.

Padahal tidak.

Dia orang baik.

Berarti Mbak tidak jadi meneruskan kuliah?

Jadi.

Tapi tidak sekarang, Nda.

Lalu?

Nda.

Mbak mau di sini dulu.

Sama kau.

Mbak cuma punya kau sekarang, Nda.

Terima kasih ya, Mbak.

Ya, sama-sama.

Sudah. Ayo, pulang.

Mbak.

Kenapa lagi, Nda?

Kita masih hidup

karena ritual pecah piringnya sudah dipercaya turun-temurun

atau karena Tapa Pendem?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.